FREAK
Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.
Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.
Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?
.
.
this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.
.
.
Selalu seperti itu, Jiwon merasa sangat frustasi dan lelah.
Bagaimana lagi Ia akan mengatasi Hanbin? Hantu itu semakin lama semakin berani padanya.
Apakah harus memberinya pelajaran? Heh,ide yang bagus. Kim Jiwon..
Ting nong [anggap aja ini suara bel rumah]
Jiwon bangkit dari tidurnya dan berjalan malas ke depan. Hanbin diam-diam mengintip dan mengikutinya di belakang.
Cklek
Pintu itu terbuka, menampilkan dua pemuda dengan tas punggungnya.
" Jiwon-ah! Aku dan Donghyuk datang. Kita ada tugas kelompok,kau ingat?"
Splashh
Mendadak pandangan Jiwon kosong, Ia menoleh pada Donghyuk tak senang. Donghyuk yang ditatap hanya diam kebingungan, kenapa dengan dirinya?
" pergi.."
Donghyuk dan Yunhyeong menatap tak percaya pada Jiwon.
" kau tak salah makan kan Jiwon?"
" Jiwon hyung..,gwenchana?"
" kubilang pergi!"
" Jiwon-ah?"
" KAA!"
Yunhyeong segera berbalik dan berlari ketakutan, tangannya menarik Donghyuk yang masih menatap pada Jiwon. Setelah memastikan keduanya pergi , tubuh Jiwon mendadak kehilangan keseimbangan.
Brugh..
Tubuh itu tersungkur di lantai yang dingin, perlahan sosok Hanbin keluar dari raga itu.
.
.
Jiwon menatap Hanbin yang menundukkan kepalanya, hari ini Jiwon benar-benar dibuat kesal oleh perbuatan Hanbin.
" Hanbin-ah, aku masih bisa memaafkanmu atas kejahilanmu yang sebelumnya. Tapi ini sudah keterlaluan"
"…"
" disamping tugas kelompokku yang tidak bisa selesai, mereka juga pasti menjudge-ku orang aneh!"
"…"
" Ok, ini memang rumahmu. Tapi tak bisakah kau memberiku sedikit kelonggaran?"
" APA MAKSUDMU MELAKUKAN SEMUA INI PADAKU?!"
Nada bicara Jiwon yang semakin meninggi di setiap kalimatnya membuat Hanbin merasa dibenci. Merasa tak disenangi oleh Jiwon, dan Ia tak bermaksud melakukannya.
.
" hiks.."
Jiwon diam, Ia menjilat bibirnya yang kering. Ia tidak tahu kenapa Ia jadi pemarah seperti ini?
" hiks..,mianhae~. Huks..,mianheee"
Jiwon berjalan cepat kearah Hanbin, hantu itu sudah menutup erat matanya. Tangan itu sedah terangkat di hadapannya. Ia takut , Jiwon pasti melakukan sesuatu yang buruk padanya.
" Hanbin-ah mianhae"
Tangan itu memeluk Hanbin sangat erat, Ia menaruh kepala Hanbin di ceruk lehernya. Bibirnya mengatakan kata-kata halus yang menenangkan, " mianhae.."
Hanbin membuka matanya perlahan, Jiwon memeluknya. Ia tak memukulnya atau yang lainnya.
" aku..terlalu kasar padamu,mianhae"
Dengan ragu Hanbin melingkarkan lengannya pada Jiwon. Ia mencoba meresapi Jiwon, perasaan hangat saat Jiwon menciumnya dulu. Kini hadir kembali.
Jiwon tersenyum merasakan pelukan itu, Hanbin-nya telah kembali seperti sebelumnya. Manis dan lembut.
.
Jiwon menarik Hanbin untuk duduk di pangkuannya. Sambil bersandar, Jiwon mengambil handphone-nya [yang ujungnya sudah pecah berlubang]. Ia menghubungi seseorang sambil menahan Hanbin tetap pada kungkungan hangatnya.
" eoh, Donghyuk-ah? Bagaimana tugasnya?"
" eopseo~ sudah selesai kok hyung."
" mianhae.., aku tak ikut mengerjakan tadi. Dan- aku juga minta maaf karena mengusirmu dan Yunhyeong tadi."
"gwenchana..,aku tahu hyung sedang banyak pikiran. Yunhyeong hyung juga sudah memaafkanmu kok hyung"
Jiwon mengeratkan cengkeramannya pada Hanbin, kelihatan sekali kalau Hanbin tak suka dengan Donghyuk. Buktinya setiap kali Donghyuk bersuara, Hanbin pasti memberontak dalam pelukkannya.
" hahh..,syukurlah. Gomawo"
" cheonma.."
.
Hanbin melipat tangannya di dada, Ia sebal dengan Jiwon. Baru saja berbaikan, sekarang sudah membuatnya mood-down lagi.
" wae..,hmm?"
" ani. Eopseo"
Jiwon terkekeh, Hanbin benar-benar manis saat merajuk begini.
" mwo? Malhaebwa.."
" aku tak suka kau dekat-dekat dengan bocah bernama Donghyuk itu"
" ha? Kenapa..dia hanya temanku"
" pokoknya tidak boleh!"
" ne..arraseo-arraseo. Dasar pemarah"
Takk!
" aw! Sakitt"
Hanbin mengusap dahinya yang barusaja disentil Jiwon. Ia tak suka Jiwon bersikap sok manis padanya seperti ini.
Selama beberapa menit hanya keheningan yang melanda, Hanbin tetap diam di pangkuan Jiwon. Sementara Jiwon sendiri masih berfikir akan berbicara apa pada Hanbin.
" Hanbin-ah/Jiwon-ah"
Hanbin menunduk, Ia berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Entah kenapa Jiwon selama ini selalu memperlakukannya seperti kekasihnya sendiri.
Ini terlalu dekat, atau bahkan terlalu intim kalau mereka hanya teman satu atap, iya kan?
" kau duluan.."
" ani, kau saja.."
"…baiklah"
.
" kemana saja selama ini?"
" aku?"
" tidak, Yooin halmoni. Tentu saja kau bodoh!" Jiwon mengucapkan hal kasar itu dengan sikap yang manis. Hidungnya berkeliaran di tengkuk Hanbin dan hantu itu hanya bisa pasrah.
Hanbin tersenyum senang, " kau mengkhawatirkanku?"
" …t-tentu saja. Aku begitu memperhatikanmu,kau saja yang terlalu acuh"
Jiwon menggerakkan bola matanya tak tentu arah, Ia gugup kalau berbicara jujur tentang perasaannya.
" hehe, kau saja yang terlalu menyebalkan. Dasar!"
" jangan mengalihkan pembicaraan, cepat jawab"
Hanbin mengerucutkan bibirnya, mulai lagi.
" molla, aku selalu menghilang di hari-"
" Selasa dan Sabtu. Dan kau tak tahu kenapa?"
Mata Hanbin membola kaget, Jiwon benar-benar memperhatikannya. Selanjutnya Ia mengangguk pelan, Ia sungguh tak ingat apa yang terjadi padanya selama itu.
" lalu soal skripsi dan barang-barangku. Terutama celana dalamku, dimana kau menyembunyikannya?"
Hanbin terbelalak, bagaimana ini? Ia sungguh tak ingat menaruh semua benda itu di mana?
" a-aku tak ingat, tapi kenapa kau tahu aku yang mengambilnya?"
" hah~ kau kira Yooin halmoni akan mengambil celana dalamku? Konyol"
Jiwon kembali diam, sebenarnya Ia ingin menanyakan tentang Bobby siapa-lah itu. Tapi hubungannya dengan Hanbin barusaja membaik, Ia tak mau cari masalah.
" Hanbin-ah"
" hmm?"
" jangan menghindariku lagi.."
Hanbin perlahan melepas pelukan Jiwon dan berbalik untuk menatapnya.
" aku tidak berjanji-"
" jebal. Aku tahu kau menyukaiku."
" ani! Aku sama sekali tak menyukaimu-"
" tatap mataku, bicaralah dengan jujur"
Hanbin diam, ia tak bisa. Jiwon mencengkeram bahunya erat, bocah itu memandangnya tajam.
" latih matamu sebelum berbohong, meski aku baru mengenalmu beberapa minggu. Aku justru lebih mengetahui dirimu daripada kau sendiri"
" apa ucapanku benar?"
" ..geure, aku tidak menyukaimu. Dan kalau memang aku menyukaimu, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi"
" ..wae? Sebegitu buruknya-kah aku dimatamu?"
" ani, alasannya adalah dirimu sendiri."
" mwo..,apa maksudmu?"
" kita berbeda Jiwon-ah..,kau masih hidup! Dan aku-"
" aku tidak perduli! Selama kita masih bersama, ..aku tidak perduli"
" Kim Jiwon-"
" KIM HANBIN! Dengar..,aku sungguh menyukaimu. Biarlah aku meraih kebahagiaanku barang sebentar saja.."
Hanbin menunduk, air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Jiwon. Bocah ini terlalu memaksanya, Jiwon membuat semua keyakinannya goyah.
" baiklah..,anggap saja pembicaraan tadi tak terjadi. Biarlah semuanya berjalan apa adanya"
Hanbin mendongak, menahan air mataya kembali jatuh. Jiwon begitu membuatnya kebingungan dengan dirinya sendiri.
Jiwon kembali menarik Hanbin untuk dipeluknya, " hiks..,sebentar saja. Aku meminjam bahumu ne?"
Hanbin hanya bisa diam saat Jiwon menangis, bocah itu memeluknya erat. Suaranya parau sambil bernafas pendek. Ia merasa begitu kacau, Ia bahkan belum memulai apa-apa dengan Hanbin.
.
Tangisan itu berlanjut sampai Hanbin merasakan tubuh Jiwon memberat. Hati-hati tangannya menarik Jiwon menjauh dan membaringkannya yang tertidur di ranjang.
Ia merasa bersalah, juga sedikit menyesal sebenarnya. Andai saja Ia mengatakan kalau Ia menyukai Jiwon. Apa yang mungkin terjadi sekarang?
Hanbin ikut berbaring disamping Jiwon, Ia meraih lengan Jiwon dan melingkarkannya di pinggangnya sendiri. Sementara itu ia mengusap pipi Jiwon yang sembab.
" mianhae hyung.."
.
Jiwon terbangun dengan mata yang berat,Ia tak mau masuk sekolah. Ia tak enak badan.
Hanbin mengusap lembut kepala Jiwon, Ia tersenyum.." selamat pagi~"
Jiwon juga membalas dengan senyuman tampannya, Ia senang. Sesuatu yang diimpikannya sebelum ini telah terwujud. Hanbin berada di ranjang yang sama dengannya, menyambut paginya.
" pagi~, oh! Kau mau jalan-jalan?"
Hanbin mengerutkan dahinya, kenapa jalan-jalan? Tidak sekolah kah?
" aish..,jangan terlalu lama berfikir. Bersiaplah, pukul 8 kita berangkat"
Hanbin menunduk, Jiwon bertingkah seolah kejadian semalam memang tidak pernah terjadi.
" wae? Jangan memasang wajah sedih seperti itu. Aku berjanji kau bisa menikmati makanan kesukaanmu nanti. Hmm?" Jiwon mengangkat dagu Hanbin dan menaik turunkan alisnya sambil tersenyum jahil.
Mau tak mau Hanbin tersenyum, Ia akan menghargai apa yang dilakukan Jiwon padanya.
.
.
Perjalanan mereka berakhir di taman kota. Setelah seharian berkeliling di Lotte World, kini mereka memilih untuk memakan burger dan chococone kesukaan Hanbin.
" otte?"
" apanya?"
" kau bisa makan,minum dan terlihat oleh manusia lain, bukankah itu menyenangkan?"
Hanbin tertawa gembira, Ia tanpa sadar mencium pipi kanan Jiwon dan segera membuang muka. Jiwon yang menerima ciuman itu hanya bisa berkedip bodoh. Oh my..Hanbin menciumnya.
Jiwon diam-diam tersenyum, cuph..
Giliran Hanbin yang berkedip imut, Jiwon balik mencium pipinya. Ice cream yang belum sempat dimakannya justru meluber di sela bibirnya.
" iribwa.."
Bibir itu mengecup dan melumat bersih krim manis di bibir Hanbin. " I'm done"
Hanbin masih diam dan menatap Jiwon kaget, ini di tempat umum Kim f*ck Jiwon!
" YAK! Kim Jiwon!"
Jiwon berlari kencang yang sebelumnya sempat kembali mencuri kecupan dari bibir Hanbin. Kau tahu bagaimana lucunya wajah Hanbin saat kebingungan, dan Jiwon begitu menyukainya.
" ayo kejar kalau bisa!"
.
Hanbin menumpukan tangannya di lutut, bagaimana Jiwon bisa berlari sangat cepat. Meskipun ini sudah menjelang pukul 6 sore, Ia tidak mungkin terbang untuk menyusul Jiwon kan? Gila.
" Hyunggg~aku lelah,"
Jiwon berhenti lari, tubuhnya berputar kebelakang dan terkejut melihat Hanbin menunduk kelelahan. Hantu yang kelelahan? Baru kali ini Ia menemuinya.
Dengan langkah terburu Jiwon menyusul Hanbin, ia berjongkok dihadapan hantu itu dan menepuk bahunya.
"kajja!"
" mwo?"
" kita pulang sekarang. Kugendong.."
Jiwon yang tak merasakan sesuatu di punggungnya menoleh ke belakang, " ya~, palliga!"
Hanbin melingkarkan lengannya pada leher Jiwon, tubuhnya Ia sandarkan pada punggung lebar itu. Malu sebenarnya, karena banyak orang yeng menatap tak enak padanya.
" tak apakan aku memanggilmu hyung?"
" heh, dari awal memang seharusnya begitu. Aku senang kau bisa sedikit sopan padaku"
" huh!" Hanbin mencebik, seharusnya Ia tak bicara begini. Jiwon menyebalkan.
" hyung..,malu~"
Jiwon menolehkan kepalanya kebelakang, " sembunyikan wajah jelekmu itu di bahuku"
Hanbin memukul pelan pundak Jiwon. Namun akhirnya Ia menurut juga. Ia tersenyum manis, Jiwon begitu membuatnya berbunga-bunga hari ini.
.
Sampai di jalan mendekati perumahan, Hanbin meminta turun. Di jalan tadi Jiwon terus-menerus mengeluh tentang berat badan Hanbin. Hei! Ia tidak seberat itu, kau saja yang semakin tua Kim Jiwon-ssi.
" kau senang?"
" hmm?"
" ya..,dengar baik-baik ketika seseorang bicara padamu!"
" hyungg..,aku hanya bercanda. Aku sangat sangaattt senang, gomawoyo~^^"
" ani, aku yang berterimakasih. Kau mau meluangkan waktumu- AWAS!"
Tubuh Hanbin tertahan dipelukan Jiwon, seseorang bersepeda meluncur cepat ke arah mereka. Hanbin menahan nafasnya,beruntung refleks Jiwon yang bagus sehingga Hanbin tidak tertabrak.
" gwenchana? Hanbin-ah!"
" ani, ..nan gwenchana."
Jiwon diam memperhatikan Hanbin, sepertinya ada yang sedang dia pikirkan. Bola matanya bergerak tak tentu arah.
Tiba-tiba Hanbin menubrukkan dirinya pada Jiwon, Ia menangis pelan. Bayangan sosok Bobby kembali muncul di ingatannya. Ia tidak bisa melupakannya meski telah lama waktu itu berlalu.
" hiks..,bantu aku melupakannya~ dia selalu mengahantuiku. Hiks!"
" mwo? Nugu, kau itu hantu. Kenapa bisa dihantui?"
Hanbin mengentikan tangisannya. Saat Ia mendongak, Jiwon menatapnya dengan senyuman jahil.
" lupakan, hiks. Kau sama sekali tak membantu" Hanbin sesegukan, Ia sudah tidak mampu menangis di hadapan wajah konyol Jiwon.
" aih~ kau marah? Manisnya^^ cup cup. Hanbin sayang~ lalu hyung harus apa,hmm?"
" gendong"
Jiwon menyipitkan sebelah matanya, Hanbin merajuk sambil menyodorkan kedua tangannya.
Hap!
" YAK! Hyung~ bukan seperti ini maksudku!"
" AHAHA! Nikmati saja~"
Jiwon berlari sambil menggendong Hanbin brydal style. Beberapa orang memandang mereka iri, " ya~ sudahlah kalau kalian jadi pengantin baru. Tidak usah tebar kemesraan seperti itu"
.
.
Jiwon berbaring di ranjangnya ditemani Hanbin, Ia sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari Hanbin. Padahal sudah 1 jam yang lalu Jiwon melakukan hal yang sama.
" hyung~cepatlah tidur"
" eoh, seharian ini kau memanggilku hyung. Ada apa?"
" aish sudahlah..,tidurlah hyung!"
" arraseo arraseo! Pokonya kau terus di sini. Temani aku"
Hanbin membuang mukanya, namun kemudian Ia menatap Jiwon sambil mengangguk.
" ok, aku akan menemanimu ^^"
.
Jiwon membuka matanya perlahan, Hanbin tidak ada disampingnya pagi ini.
Ia menangkap cahaya yang memancar dari handphone-nya. Barusaja Donghyuk menelfon. Dua puluh tujuh pesan sejak kemarin dan 10 panggilan tidak terjawab.
Hah~
Jiwon hanya menghapus semua pesan itu beserta notifikasinya.
Barusaja handphone itu tergeletak, ada lagi panggilan masuk. June si tampan
' sejak kapan aku menamai nomornya seperti ini?'
" yeoboseo…"
" hyung! Jinhwan hyung terus-terusan muntah selama 5 hari ini, terutama saat pagi. Ada apa hyung?! Aku takut terjadi apa-apa dengannya!"
" huh? Berapa kali kau..tidur dengannya?" Jiwon memelankan suaranya di kata 'tidur'.
" ..berkali-kali hyung! Aku bahkan tak bisa menghitungnya. Bagaimana ini!?"
" hah~ pantas saja akhir-akhir ini dia terlihat pucat. Bawalah Jinan hyung ke dokter kandungan, mungkin dia hamil"
" MWO?!"
" YAKK! TELINGAKU!"
" m-mian, hyung. Gomawo"
" ne-tuut tuut"
" aish.., bocah tengil itu"
.
" hyung?"
Hanbin datang dengan semangkuk bubur dan segelas air putih. Jiwon menatapnya bingung.
" makanlah hyung, kau demam" Jiwon meraba keningnya, tidak panas kok.
" ani, aku baik baik saja"
" tentu saja kau bilang begitu, seluruh tubuhmu panas hyung! Cepat makan dan minum obat!"
.
Jiwon menelan suapan terakhir dengan susah payah, makan dengan situasi Hanbin yang menatapmu tajam bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Setelah meminum obat, Jiwon kembali berbaring. Ia merasa tubuhnya baik-baik saja, tapi selain Hanbin termometer juga menunjukkan bahwa suhu tubuhnya di atas normal.
" aku ingin menanyakan beberapa hal padamu"
" eum, tentu"
" egh~ kenapa kau bisa tertahan di rumah ini? Maksudku-rohmu"
" oh, aku meninggal di kamar ini. Tepat di ranjang yang kau tiduri"
Srakk!
Jiwon buru-buru bangkit, Ia merasa tak enak dengan Hanbin. " mian-hae"
" lalu, rumah ini milik keluarga Goo sebelumnya. Tapi kenapa margamu Kim, bukan Goo?"
" hmm..ceritanya panjang"
Hanbin berdiri menempatkan Jiwon untuk bersandar, selanjutnya Ia menyandar pada dada Jiwon.
" aku adalah putra pertama keluarga Kim, pemilik asli rumah ini. Aku mempunyai adik perempuan yang kini telah menikah dengan Goo Hyunsang. Rumah ini dikelola oleh mereka karena aku sudah meninggal dunia. Dan mereka dikaruniai seorang putra, namanya Goo Junhoe, mungkin hampir seusiamu sekarang"
Jiwon membelalak, ha?! Goo Junhoe?
" jadi. Kau dan bocah tengil itu-"
" hm, dia adalah keponakanku. Dan jangan menyebutnya bocah tengil, atau aku akan membunuhmu"
Jiwon menelan ludahnya kasar, Hanbin memiliki sifat menakutkan ternyata.
.
.
Junhoe meringis senang, Ia memeluk Jinhwan erat sambil berputar-putar.
" June-ah..,a-aku pusing!"
Junhoe buru-buru berhenti dan memegang bahu Jinhwan, " mianhae hyung, kau tahu aku sangat gembira!"
Jinhwan hanya tersenyum, " aku juga! Tapi kau tahu darimana?"
Ekspresi Junhoe langsung berubah datar, " Jiwon hyung, dia memberitahuku kalau hyung selalu terlihat pucat di sekolah. Kenapa tak mengatakannya padaku?"
Jinhwan tersenyum lagi, Junhoe menatapnya khawatir. " aku tak apa-apa"
" tapi aegya kita hyung! Aish, kalau terjadi apa-apa pada kalian-"
" Junhoe ini di rumah sakit!" Junhoe meringis sakit, Jinhwan mencubit perutnya pelan.
" arraseo. Kita pulang sekarang, kita siapkan kamar untuk baby" Junhoe menyeret Jinhwan senang.
TBC
N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.
Thanks to : Jikooki, EunhyukJinyoung02, vchim, depitannabelle. semakin lama kok nurun ya reviewnya? kemana kalian wahai reviewer?#digampar Bobby
mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.
