"Kencan? Maksudmu cewek-cowok yang jalan berdua ke tempat romantis?" tanya Tetsuna memiringkan kepala polos. Dia sering mendengar istilah tersebut di internet, bahkan ibu mengungkit makan malam kemarin
"Benar. Baru pertama kali kencan, huh?" ejek Akashi menyeringai kecil. Iris hetekronom-nya menatap lekat kelereng yang memicing sebal. Tetsuna enggan mengakui pernyataan itu benar. Lagi pula dia siapa, seenak jidat bertanya asmara orang lain?
"Sampai jumpa, Akashi-kun. Aku belum menyetujui atau menolak. Jangan terlalu berharap" ceritanya jual mahal? Ya, siapa peduli, dia bisa mendapatkan apa pun bagaimanapun caranya. Begitulah seorang Seijuuro bertekad
Sejak tadi, diam-diam di balik semak Momoi memperhatikan intens, meski dia tidak bisa mendengar percakapan mereka. Tetap saja sepasang telinganya memaksa, lebih dekat, dekat dan dekat hingga tertangkap basah oleh Aomine, syukurlah bukan Tetsuna terlebih Akashi. Apa yang kau lakukan di sini, Satsuki? Dark blue-nya memutar malas, bertanya, tapi diabaikan total dengan menggembukan pipi, kesal dipergok.
Inilah pemandangan terindah yang Aomine lihat pagi itu.
"Halo, Aomine-kun, Momoi-san. Kalian sedang apa?" seperti biasa, masih bersikap malu-malu kucing. Mereka berdua saling tatap sejenak. Berdiskusi lewat pandangan mata yang mendadak cerah. Jelas membingungkan, memang bisa ya?
"Ber…. Kencan" dengan sengaja Aomine menggantung ucapannya. Mereka sudah sepakat, tetap saja rona kemerahan tersebut sulit dihilangkan
"Apakah ini tempat favorite untuk berkencan?"
"Te-tenang saja Tetsuna! Aku akan melindungi kepolosanmu dari Dai-chan yang mesum. Ayo masuk kelas, kita tinggalkan dia"
Jangan lupa traktir es krim di minimarket, terakhir kalinya Aomine menyiratkan kode, sebelum Momoi menjulurkan lidah kesal, iya! Sepanjang perjalanan, ia curi-curi pandang menatap pipi tirus Tetsuna. Ketika diperhatikan ia memalingkan wajah ke samping, terus begitu sampai mereka tiba di depan pintu. Baiklah, hanya terdapat dua pilihan yaitu bertanya langsung atau memperpanjang kesempatan, sebelum bel masuk berbunyi.
"Tanyakanlah, Momoi-san. Aku lihat kau gelisah" ternyata Tetsuna peka juga. Ya, dengan begini proses interogasi lebih mudah dilaksanakan
"Tadi kamu dan Akashi membicarakan apa? Kelihatannya seru sekali"
"Akashi-kun mengajakku kencan. Itu saja" singkat, padat, jelas. Namun terdengar dalam bagi Momoi yang serasa ditusuk panah imajiner. Tiga hari baru terlalui bukan? Gerangan apa hingga kapten basket Teiko terbuka pada perempuan?
"Lalu bagaimana? Kamu menerimanya?"
"Entahlah, aku masih bingung. Hari Minggu jadwalku ke toko buku, terlebih ada novel best seller yang harus segera diincar" maniak novel, mungkin itu julukan selain wajah pantat panci, datar. Asli buatan Momoi Satsuki
"Kesempatan langka, lho. Tidak semua siswi bisa kencan dengan Akashi" seakan berkata, hanya orang-orang tertentu, yang pantas disandangkan bersama pangeran kuda putih. Tetsuna mengidikkan bahu, kurang tertarik
"Di mataku dia tak lebih dari lelaki tampan berotak miring. Kalau Momoi-san mau boleh menggantikanku" hatinya tengah bersorak-sorai penuh kemenangan. Jika Kise disusul Murasakibara tidak menyela kebahagiaan tersebut
"Mana boleh begitu, ssu? Nanti Akashicchi marah, lalu mengeluarkan gunting dan memangkas habis rambutmu, ssu!" ancaman yang tidak membuat Tetsuna gentar, justru heran mendengarnya. Memang dia tukang pangkas apa?
"Abaikan saja, Kuro-chin. Kise-chin dari dulu tidak jelas dan aneh, kraus… kraus…."
"Jahat, ssu! Perutmu juga misteri dunia ke delapan. Sebesar apa sih, sampai muat makan keripik setelah menghabiskan nasi empat mangkuk, ssu?! Lambung kapal?"
"Lho, sejak kapan kapal punya lambung? Aku tidak pernah mendengarnya"
"Terserah Murasakibaracchi! Tau rasa jika gendut, nanti kuteriaki, 'titan doraemon ungu', ssu! Tapi Kurokocchi, kurasa tidak sopan kalau menolaknya, apa lagi minta digantikan, ssu"
"Tumben Kise-kun bijak. Nanti kupertimbangkan" pisau bermata dua, pujian sekaligus ejekan yang memohok, hati model pirang itu. Tetsuna pamit duluan masuk kelas, disusul Momoi dengan masam
Berlebihan sekali, padahal hanya kencan biasa. Ia menatap langit-langit kelas bingung. Seumur hidup mengambil keputusan, baru pertama kali Tetsuna kesulitan. Bukan tipenya untuk berdiskusi terlebih dahulu. Mengobrol dengan ayah dan ibu juga jarang dilakukan, kecuali makan malam atau kumpul di ruang tamu. Terbiasa dalam kesendirian, mendadak dikerumuni suasana ramai yang terasa asing.
Kemampuan adaptasi-nya belum membaik sejak lima tahun berlalu.
"Hoi Tetsu. Kau sedang melamun?" sapaan 'akrab' yang membuatnya menoleh ke samping. Aomine duduk sambil memasukkan tangan ke saku, menggoyangkan kursi santai. Mirip ketika mereka 'mengobrol' resmi kemarin
"A-ah, tidak kok. Ano…. Aomine-kun, boleh aku minta pendapat?"
"Akan kubantu sebisa mungkin. Asal jangan menyuruhku mengerjakan matematika" dia tidak mendengar pertanyaannya baik-baik
"Kalau diajak kencan sama lelaki, apa yang sebaiknya perempuan lakukan?"
"Antara menolak atau menerima meski terpaksa. Kalau aku mengajak Satsuki kencan dan dia berkata tidak bisa, tentu rasanya menyedihkan" sesaat ia yakin, Aomine sempat menyinggung manajer tim basket Teiko. Mungkin mereka saling menyukai
"Terima kasih atas saranmu, Aomine-kun. Sangat menolong"
Sebutlah demi sopan santun semata. Pelajaran pertama dimulai, para murid langsung dijejalkan rumus matematika yang membuat kepala berkeliling, tujuh ronde. Tetsuna kalem menyalin, sedangkan Aomine malas-malasan memainkan sebatang pensil , bosan mendengar penjelasan empat paragraf. Harapannya berangan dua jam ke depan kosong. Sayang Tuhan belum mengabulkan doa cowok berkulit tan ini. Justru dia habis-habisan dihukum.
Ding… dong… ding… dong….
"Sampai di sini dulu pertemuan kita. Jangan lupa kerjakan PR yang bapak berikan" pelajaran sejarah berakhir. Tetsuna sibuk membenahi bukunya bersiap makan siang di kelas. Tidak naik ke atap
"Aomine-kun tidak makan?" kini ia fokus memperhatikan teman sebangkunya. Tidur beralaskan meja cokelat sambil menghela nafas ringan. Terasa kembali hidup setelah disiksa neraka guru killer
"Menghirup angin pun kenyang"
"Mau satu?" sepasang sumpitnya mengapit telur gulung. Memang itu salah satu lauk kesukaan Tetsuna, tapi melihat Aomine-kun menggerakkan rasa peduli yang terpendam. Tanpa banyak komentar, ia menyambar cepat bak ikan memangsa umpan
"Enak?"
"Uhm! Jauh lebih baik dibanding buatan Satsuki, atau mungkin ibumu yang membuatnya?"
"Aku menyiapkan bekal sendiri, sedangkan ibu memasak sarapan di pagi hari. Aomine-kun suka? Kapan-kapan kubuatkan satu lagi" berarti makan gratis? Pucuk navy-nya mengangguk patuh, meski dia menggaruk kepala tidak enak hati
"Lagi pula aku tidak keberatan. Aomine-kun bisa makan dengan tenang"
Tap… tap… tap….
"Yo, Tetsuna. Sudah kuduga kau tidak akan bergabung" interupsi suara bariton itu familiar. Percakapan mereka terhenti, sama-sama memperhatikan Akashi yang berjalan menghampiri Tetsuna, angkuh. Tatapannya benar-benar minta dihajar, batin Aomine
"Halo, Akashi-kun. Aku ingin makan di kelas, tidak lebih"
"Bukan menikmati waktu berdua hanya dengan Daiki?" godaan yang Tetsuna indahkan total. Dia tidak mempunyai niat tersebut. Akashi saja terlalu melebih-lebihkan. Padahal sebatas mengobrol ringan
"Entah mengapa udara mendadak pengap" sindir Aomine menyeringai kecil. Dia berani melawan Akashi, kalau bocah pendek itu sudah bertindak keterlaluan. Di luar urusan basket mereka adalah musuh
"Jadi, kau menerima ajakanku?"
"Kapan dan di mana kita bertemu? Aku menantikannya" sekadar basa-basi. Akashi tersenyum sumringah walau ditutupi. Terlebih, ucapan terakhir yang membuat bunga-bunga cinta merekah sempurna
"Jam sebelas siang di depan rumahmu. Biar kujemput"
Surai lautnya Aomine acak-acak gemas. Greget menyaksikan pemandangan ala drama murahan. Di sini satu hal dapat dibuktikan, Akasih jatuh cinta pada Tetsuna, sedangkan perasaan si maniak buku belum jelas, tetapi Momoi menyukai bahkan menguntitnya sewaktu mereka bicara. Maka jangan tanyakan perasaan dia, setelah mengungkit manajer Teiko di sela percakapan. Dibilang cinta segitiga tidak, habis melibatkan empat orang.
"Jangan bilang aku mengalami cinta segi empat, seperti novel murahan yang Midorima beli di toko buku!"
Apa pun asal jangan itu.
Hari Minggu, jam 11.00
Mengenakan pakaian terbaik dibantu ibu tercinta, Tetsuna siap menyambut kencan pertama. Ia nampak apik dengan kemeja putih berpadu celana bahan hitam, sederhana tetapi berhasil memancarkan seribu pesona. Entah kenapa seluruh cowok– sejelek apa pun wajah mereka, akan sangat tampan kalau memakainya. Mereka berjalan kaki tanpa tujuan jelas. Akashi masih bungkam sembari diam-diam mencuri pandang.
"Tetsuna mau kemana?"
"Majin Burger. Aku ingin membeli vanilla milkshake lalu ke toko buku" jadwal hariannya hancur berantakan. Kalau Kise berkata, 'tidak sopan' ditambah ucapan Aomine. Tetsuna pasti minta Momoi menggantikan
"Baiklah. Dengan senang hati, tuan puteri"
Menit demi menit terasa lambat. Akashi setia memaut iris dwi warnanya pada kelereng biru muda, yang berpura-pura acuh melirik ke arah lain. Tetsuna dan vanilla milkshake merupakan perpaduan terbaik, sama-sama manis membuatmu diabetes, jika diminum atau dipandang berlama-lama. Ah entahlah, gaya bahasa seseorang berubah jika mereka jatuh cinta. Ia terus melantukan puisi, mengenai rasa cinta yang sulit diungkapkan.
"Ano Akashi-kun…. Apa ada yang aneh di wajahku?" merasa risih akhirnya Tetsuna bertanya. Hanya gelengan pelan tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian dari sang objek
"Boleh kucoba vanilla milkshake-nya?"
"Tentu, silakan"
"Kau tau apa yang barusan kita lakukan?"
"Tidak. Setauku Akashi-kun minta sedikit dan tiba-tiba bertanya begitu"
"Rasanya enak meski aku tidak terlalu haus. Melihatmu pun perutku kenyang" gombal terselubung? Tetsuna beranjak bangkit hendak meninggalkan Akashi. Meski dia tau mustahil dilakukan karena mereka berkencan, belum bertengkar saja
Tujuan selanjutnya ialah toko buku. Tetsuna asyik mengitari rak bagian novel, membeli dua sekaligus sesuai daftar incaran. Sesekali ia memaksa berjinjit, dicoba sebanyak apapun tetap saja terasa tinggi. Sampai seseorang memberi bantuan cuma-cuma, mengumbar wangi papermint yang disukainya, selalu. Ucapan terima kasih justru tersekat di kerongkongan. Menyadari si penolong adalah Akashi Seijuuro, teman kencan.
"O-oh. Rupanya Akashi-kun"
"Novel cinta segi empat sedang laris manis ya? Kurasa kita terjebak di dalamnya"
"Maksud Akashi-kun?" kita itu mengacu pada siapa? Dia balas mengindahkan, berjalan ke arah mesin kasir yang sepi sejak lima menit lalu, kehabisan pembeli. Sementara orang semakin ramai berlalu-lalang mencuci mata
Mereka keluar toko buku. Berbaur di tengah keramaian yang bisa memisahkan siapa pun. Terang-terangan Akashi menggengam erat tangan Tetsuna. Selanjutnya pergi ke taman kota, kali ini dia yang memutuskan setelah dua tempat ditentukan sepihak. Bukan tanpa alasan, ada pemandangan terbaik yang wajib ditonton, setahun sekali.
Namun seseorang melepas paksa. Masing-masing bingung kemana temannya pergi.
"Tetsuna. Tetsuna!" nihil. Tubuh mungil itu menghilang ditelan lautan manusia. Akashi berlari melawan arah, tapi yang dicari tak kunjung ditemukan
"Akashi-kun aku di sini. Akashi…. –kun" mereka berpapasan sesaat. Namun iris hetekronomnya mendadak buta. Keadaan sekitar hanyalah angin lalu, kecuali arah di depan mata
Gaun putihnya terjatuh mengenai permukaan aspal. Tetsuna berlutut sambil menutup kedua telinga takut. Dia paling membenci keramaian, terlebih tak ada seorang pun yang dikenal. Sekejap semua itu sirna. Seseorang menepuk pelan bahunya pelan, menarik tubuh mungil itu agar bangkit berdiri, tidak berbaur dengan debu di jalanan. Bau yang berbeda 180 derajat dari milik Akashi, bercampur keringat dan tatapan cuek yang alami.
"Hoi Tetsu. Kau sedang apa?"
"Aomine-kun?"
Seumur hidupnya, Tetsuna baru menemukan perasaan bernama cinta.
Bersambung….
Balasan review :
Guest : Maaf porsi chapter-nya udah segini kok. Mungkin chapter ini bakal jadi yang terpanjang atau entahlah, soalnya update fic ini bentrok sama fanfic di fandom Fairy Tail. Ya ada sesuatu di masa lalu Tetsuna, kalo penasaran ikutin terus aja, tapi ya... maaf kalo agak lama, auhtor anti bikin cerita terburu-buru. Oke deh thx ya udah review. Jangan lupa mampir lagi
