FREAK
Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.
Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.
Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?
.
.
this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.
.
.
" Hanbin-ah!"
Sosok itu terbang cepat ke arah Jiwon, dengan kesempatan yang bagus bocah itu menarik Hanbin dan menindihnya.
" akh! Kepalaku~"
" kau bisa bernyanyi?"
Oh,
Itu saja? Hanbin kira Jiwon akan melakukan tindak kekerasan padanya.
" ehm, sedikit.."
" ok! Kita bernyanyi sekarang"
Hanbin terbengong melihat Jiwon mengambil handphone-nya, " aku ingin merekamnya^^"
Hanbin mengangguk kaku, " kau dulu, ucapkan apapun"
Dengan memejamkan mata, Hanbin menautkan kedua tangannya. Mungkin ini akan jadi melody menyedihkan untuk mereka.
"I've been stuck in the same spotI walk the same streets we used to walk together.."
"as the song reaches approaches its ending, my heart starts to crumble… It sounds like my heart screaming after it lost you. Please don't go~"
Jiwon menghentikan nyanyiannya, jarinya menekan stop di layar handphone. " aku tidak mau bernyanyi, tidak menyenangkan"
Hanbin mendongak, Jiwon menggenggam erat handphone-nya. Tatapannya redup, mata itu tidak memancarkan cahayanya. Ia merindukan Jiwon yang suka marah dan sering melucu.
" aku ingin istirahat dulu,"
Seperti sebelumnya, Jiwon pasti merengkuh Hanbin dalam pelukkannya. Ia tidak mau Hanbin tiba-tiba pergi menghilang darinya.
" hah~ kapan demammu sembuh hyung? Aku lelah merawatmu"
Jiwon menyerukkan kepalanya di ceruk leher Hanbin, Ia memejamkan matanya pelan.
" hyung?"
ah, sudah tidur ternyata.
.
.
Drrt drrt..
Hanbin membuka matanya yang barusaja menutup, siapa di jam semalam ini menelfon?
Bola matanya mengintip.
Kim Donghyuk? Pemuda yang selalu bersama Jiwon. Apakah dia orang yang selama ini disukai Jiwon?
Entah karena apa, handphone itu sudah terlempar di sudut ruangan. Hanbin justru kebingungan menemukan Jiwon yang mendekapnya semakin erat, bocah itu sedikit mengerang " hh..,jangan ganggu aku. Handphone sial.."
Hanbin tersenyum, sedikit senang karena Jiwon lebih mengutamakannya daripada Donghyuk. Atau malah mengutamakan tidurnya?
Sekilas bayangan Bobby saat tertawa riang bersama Junghyuk muncul di memorinya, membuat mata beningnya kembali membendung airmata.
" hiks.., kau sama sekali belum berubah hyung. Hiks! Kau bahkan menyukai orang lain setelah mengaku bahwa kau menyukaiku. Hiks..hiks!"
" hyung! Bagaimana tadi? Dihukum Lee saem menyenangkan bukan? Kkk~"
" ya~, sini kau Hanbin!"
Pemuda yang lebih tua menangkap seorang yang berusaha lari. Tangannya menggelitik dengan lihai. Sosok itu tertawa antara geli dan senang, " Bobby hyung! Stoppp…AHAHA!"
Pemuda yang satunya langsung menuruti apa yang dikatakan Hanbin. Ia diam sambil terus memandangi wajah manis dihadapannya. Pemuda itu mendekat dan mengecup sekilas hidung mancung kekasihnya.
" aku ingin segera menikahimu, aish! Kenapa SMA lama sekali~"
Hanbin mendelik malas, " hyung harus lulus SMA, lalu kuliah dan bekerja terlebih dahulu! Aku tidak akan mau menikah denganmu sebelum hal tadi terwujud"
" shirreo! Aku akan menculikmu dan menikahimu malam ini juga!"
" AAH! Bobby hyung turunkan aku! Aku takut! YAK"
Jiwon terduduk kaget, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Pemuda tadi begitu mirip dengannya.
' aku tahu sekarang. Hanbin dan orang tadi.. sama seperti mimpiku sebelumnya, pemuda yang bersama Hanbin bukan aku. Tapi Bobby..kekasihnya'
" hiks! Jebal menjauh dariku~ hiks..hiks"
Jiwon bertambah kaget kala mendapati Hanbin menangis pilu disampingnya, ada apa lagi?! Jiwon merengkuh Hanbin dalam pelukkannya, berharap tangisan itu mereda. Namun yang diterimanya justru hantu itu terus memuluki bahunya brutal. Hanbin terlihat begitu rapuh.
" pergilah! Jangan mengganggu hidupku lagi hyungg! AGH! Kumohon pergi..hiks!"
jiwon terkejut dengan Hanbin yang mengamuk seperti saat ini. Ia masih tidak tahu apa penyebabnya?
" Hanbin-ah..,kenapa kau menangis? Siapa yang kau maksud Hanbin-ah?"
" KAU! JANGAN GANGGU AKU LAGI, SUDAH TERLALU BANYAK LUKA YANG KAU TOREHKAN PADAKU! Aku tidak mau melihatmu lagi..,hiks! Hiks!"
Jiwon menatap Hanbin tidak percaya, matanya perlahan memanas. Ia tidak suka ini.
" tapi kenapa? Apa salahku? Selama ini hubungan kita baik-baik saja! Kenapa kau mengatakan hal ini padaku, huh?!"
" kau tahu kenapa aku selalu memandangmu penuh kebencian dan kesedihan? Karena-"
" Bobby? Kekasihmu? Konyol. Kukatakan sekali ini, aku bukan Bobby. NANEUN BOBBY ANIYA!"
Hanbin terdiam menatap Jiwon yang membentaknya, air matanya kembali mengalir.
" apa? Selama ini kau tak pernah mengatakan semuanya padaku. Padahal aku selalu berkata jujur padamu tentang kehidupanku. Kau membenciku karena wajahku mirip dengan Bobby bukan?"
"…"
" ALASAN BODOH! "
Hanbin mendunduk, Ia sudah berada di puncak kemarahannya. Benar, wajah Jiwon mirip dengan Bobby hyung-nya. Namun alasan itu belum sepenuhnya benar.
" pergilah, aku tak ingin mengungkit lagi masalah kita. Aku menyesal telah bertemu denganmu! Lupakan.. LUPAKAN KITA PERNAH MENGENAL, LUPAKAN NAMA HANBIN, KAU MENGERTI!"
" aku sungguh tidak paham denganmu Hanbin-ah, apa salahku dan apa hakmu menyuruhku pergi,huh?!"
Hanbin tetap diam tak menyahuti Jiwon. Ia hanya terus menangis dan menangis.
" jelaskan padaku, apa salahku dan aku tidak akan menampiknya jika memang itu benar"
" aku akan pergi darimu.., Hanbin-ah"
" salahmu.., adalah kau lahir di dunia ini."
.
Jiwon tersenyum getir.
Kenapa Hanbin-ah? Apa jika Ia mati Hanbin akan bahagia?
" hanya itu? kau tak ingin mengatakan hal yang lain?"
Entah apa yang merasuki Jiwon sehingga pemuda itu nekat menyambar pisau di meja nakas. Tangan itu terayun tanpa ragu, mengarah tepat ke jantungnya.
" BOBBY HYUNG ANDWAEE!"
Jiwon merasakan dingin yang luar biasa, Ia seperti berada di pergeseran angin yang sangat besar. Hanya ada cahaya putih di sekitarnya, matanya tak dapat menangkap warna apapun.
Perlahan muncul cahaya yang lebih terang, matanya menyipit silau. Dengan ragu Ia mengikuti arah cahaya itu. Kakinya berhenti tepat di… depan rumahnya? Rumah yang penuh kenangan dengan Hanbin. Tapi ada yang aneh? Kenapa tidak ada rumah lain disampingnya?
Ia juga masih ingat warna cat rumahnya adalah kuning cerah, bukan putih gading seperti ini. Pintu rumah itu terbuka lebar dengan sendirinya, Jiwon sempat diam beberapa detik. Namun Ia memutuskan untuk masuk, meski hatinya takut.
Ia melangkah pelan, rumah ini sama persis dengan miliknya. Perbedaannya ada pada barang-barang yang tak Ia kenali, selain itu Ia pernah menjumpai di rumahnya.
Jiwon berhenti di ruang keluarga, Ia mendapati beberapa orang berbincang. Ia tak mengenali siapapun di sana, tak satupun. Namun bibirnya tersenyum, Ia mengetahui satu hal. Ada foto Hanbin yang sedang memeluk adiknya.
Jiwon kembali melangkah menaiki tangga menuju letak kamarnya.
Cklek..
Tubuhnya membeku, Hanbin berdiri tepat dihadapannya. Jiwon memberanikan diri untuk menyentuh, namun nihil. Hanbin berlalu begitu saja, bahkan tak melihatnya.
Jiwon tak bisa menyentuh apapun di sini, Ia juga tak terlihat. Apakah ini rohnya atau apa? Ia sudah mati?!
Jiwon mengedikkan bahu acuh, Ia memilih untuk mengikuti Hanbin. Hatinya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi.
Bukan, bukan padanya. Tapi Hanbin..
" Hanbyeol-a..,oppa pergi dulu!"
" nee! Cepat pulang oppa~"
Hanbin mengangguk senang, entah perasaan Jiwon saja atau Hanbin memang terlihat berkali-kali lebih cantik dari biasanya. Bocah itu keluar rumah, Jiwon mengikuti di belakang dengan tenang.
Hanbin berhenti di halte bus terdekat, Jiwon ingat lagi. Ini adalah halte yang sering Ia gunakan untuk tidur sambil menunggu bus datang.
Jiwon melihat Hanbin tersenyum saat membaca sesuatu di layar handphone-nya, Jiwon melirik dari samping. 'datanglah ke taman kota sore ini, hyung menunggumu' #Bobby hyung.
Jiwon membulatkan matanya, Hanbin akan menemui kekasihnya. Ia akan mengikutinya! Jiwon ingin mengetahui banyak hal lagi. Dan kalau Jiwon boleh menyimpulkan, Hanbin begitu bahagia dengan Bobby. Tapi kenapa malah membencinya di kehidupan Jiwon?
.
.
Hanbin melangkah semangat, Ia ingat tempat kesukaan Bobby saat menunggunya di sini. Matanya berkeliling mencari sosok itu di antara bangku-bangku taman.
Senyuman itu terus mengembang. Dan ketika mata itu menemukan apa yang dicarinya, matnya membulat kaget. Jiwon juga ikut berhenti di samping Hanbin.
Jiwon memperhatikan senyuman Hanbin yang memudar, mata bulat pemuda itu mulai berkaca-kaca dan hidungnya juga memerah. Jiwon mengerutkan alisnya, Ia mengikuti arah pandang Hanbin. Dan ekspresi yang ditunjukkannya tak jauh berbeda dengan Hanbin.
Di sana, Jiwon melihat seseorang yang mirip dengannya sedang menyodorkan setangkai bunga lily kuning 'perasaan yang tulus' pada pemuda manis dihadapannya.
Jiwon menajamkan pandangannya, dan…
Oh Tuhan! Bukannya itu Donghyuk? Woah..wajah mereka mirip sekali!
" terimalah aku, kumohon!"
Dan Jiwon tak bisa lagi menutup mulutnya, apa-apaan Bobby itu?! beraninya orang itu berselingkuh di belakang Hanbin. Dan Jiwon lebih terkejut saat Hanbin membalikkan tubuhnya dan berlari kencang entah kemana.
Jiwon kebingungan, Ia tidak tahu harus mengikuti siapa sekarang. Bobby atau Hanbin.
" yah hyung! Kau mau menyatakan perasaanmu atau merampoknya? Hanbin hyung akan ketakutan kalau caramu kaku seperti ini. Pabbo!"
Jiwon kembali menatap pada Bobby dan entah siapa itu yang mirip Donghyuk.
Hah, apa?
Jadi tadi itu hanya latihan menyatakan perasaan begitu? Jadi Hanbin telah salah paham!
" aish! Aku tidak bisa kalau harus romantis dan halus, Junghyuk-ah!"
" sehari-hari saja kau sangat lembut padanya, bagaimana reaksinya coba kalau hyung mengatakannya seperti tadi?"
" benar juga, eh- seharusnya Hanbin sudah sampai kan? Kenapa lama sekali?!"
" entahlah, kalau begitu aku pergi dulu hyung. Ada tugas yang harus kukerjakan"
" hmm, gomawo untuk saranmu"
Jiwon tetap disana memastikan apakah ada hal lain selain Bobby yang duduk gelisah di bangku. Sampai 5 menit berikutnya Ia terlihat mengeluarkan ponsel, dan Jiwon yakin Hanbin-lah yang coba orang itu hubungi.
Oh Tuhan, Ia melupakan Hanbin!
Jiwon buru-buru berlari mencari Hanbin.
.
.
Tiba akhirnya Ia menemui Hanbin yang berlari sambil memasuki kamarnya, Jiwon kembali mengikutinya.
" AGH! kenapa..,hiks! KENAPA TERJADI PADAKU?! Hiks hiks..hyung, aku hanya mendengar saja kalau kalian dekat. Tapi kupikir hal itu wajar karena aku berteman baik dengan Junghyuk, hiks.. aku begitu mempercayai kalian, tapi kenapa? Hiks..AKU MEBENCIMU HYUNG! AKU MEMBENCIMU BOBBY HYUNGGG, hu~ hiks hiks, aku membencimu..hiks"
Hanbin terduduk pilu, tangannya memukuli kakinya sendiri. Ia sungguh kecewa, sia-sia cinta yang selama ini Ia limpahkan pada Bobby.
Jiwon hanya bisa menatap Hanbin, Ia tak bisa melakukan apapun. Pantas saja Hanbin begitu membencinya, dan jika Jiwon tahu lebih awal kejadiannya seperti ini. Ia tak akan berani membuat Hanbin menangis.
" aku begitu mencintaimu hyung, kau tahu? Hiks..aku kecewa padamu"
Jiwon menatap Hanbin dengan iba, tangannya mengepal kuat. Bodohnya seorang yang Ia sebut Bobby itu, kalau ingin berlatih ya lihat-lihat tempat! Dasar tidak perhitungan sama sekali.
Hanbin beranjak mengambil pisau lipat di lokernya, 'tidak! Hanbin! Jangan lakukan sesuatu dengan pisau itu, kumohon! KIM HANBIN!'
Percuma, Hanbin tidak bisa mendengarmu Jiwon-ah.
Pisau itu menyayat nadi di tangan Hanbin dengan perlahan. Bocah itu meringis sedikit, warna merah merembes di kasur yang Hanbin duduki.
Jiwon berteriak panik, Hanbin bisa mati kalau terus menerus seperti ini. Dan kemana lagi adiknya tadi?! Di rumah justru tidak ada seorang pun.
" KIM HANBIN! JEBAL JANGAN TUTUP MATAMU, HANBIN-AH! KIM HANBIN!"
.
.
Jiwon menatap sedih rumah itu, pemakaman Hanbin baru saja usai. Dan Ia tak mendapati Bobby disana. Hanya ada Junghyuk, sahabat dekat Hanbin.
Dan sedetik berikutnya Jiwon sudah tertarik di masa depan, seminggu setelah kematian Hanbin.
Di rumah kecil itu, Jiwon mendapati Bobby sedang duduk dengan pandangan kosong. Tangannya meremat bunga lily yang sudah mulai layu, wajahnya mengeras namun air mata meleleh dari sana.
" Bobby-ah, makanlah dulu. Baru kau bisa pergi ke rumah h-Hanbin,ok?"
Ucapan ibunya bahkan tak sampai di telinga Bobby, " kenapa ma? Aku tidak mau dia pergi…"
Ibunya tampak menghela nafas, sejak hari itu Bobby jadi pemurung. Dan Ia masih ingat bagaimana sulitnya mencegah Bobby supaya tidak datang dan mengamuk di pemakaman.
" ma, biarkan makanannya di situ. Aku akan memakannya nanti"
Sang ibu mengangguk patuh, sebenarnya agak ragu meninggalkan putranya sendirian di kamar. Tapi biarlah, dia butuh waktu sendiri.
Jiwon berdiri di depan pintu kamar Bobby, entah apa yang dilakukan orang itu. Heh, Bobby-Hanbin..pasangan yang bodoh.
Beberapa menit kemudian Ia memutuskan untuk masuk. Ya TUHAN!
Jiwon yakin orang ini baik-baik saja tadi. Tapi lihatlah busa yang keluar dari mulut itu. Apakah Bobby bunuh diri juga? Wow..,Jiwon tak habis fikir. Apa yang ada di otak Bobby,eh?
Jiwon mengusap matanya yang entah mengapa tiba-tiba menangis, Ia sedang tidak sedih kok.
" ya~kalian ini bodoh sekali. Aigoo.."
.
.
" hiks..,hyungg! Ireonaa, aku minta maaf! Cepatlah bangun! hiks hiks.."
Mata itu membuka pelan, cahaya berebut masuk ke dalamnya. Jiwon hanya diam saja melihat Hanbin menangis sambil menggenggam erat tangannya. Ia masih menyesuaikan nafasnya, kepalanya juga begitu pusing. Sepertinya suhu tubuhnya semakin tinggi.
" Hanbin-ah.."
Hanbin menghentikan tangisannya, Jiwon tersenyum damai ke arahnya.
" HYUNG! Pabbonika..,hiks! Jangan melakukan hal bodoh itu hyung!"
" kau pikir aku bodoh karena siapa? Kau juga melakukan hal yang sama saat tahu Bobby selingkuh, kan?"
Hanbin tertegun, bagaimana Jiwon bisa tahu hal ini? Ia yakin tidak pernah menceritakan apapun tentang Bobby.
" kau hanya salah paham, Bobby begitu mencintaimu. Waktu itu dia hanya berlatih untuk menyatakan cintanya padamu, meskipun caranya terlewat bodoh"
Jiwon mengusap kepala dan wajah Hanbin bergantian, Ia tersenyum mendapati Hanbin tidak lagi menangis.
" lagipula kau terburu-buru pergi, sehingga tidak tahu yang sebenarnya terjadi"
" ..kau, kau tahu darimana?"
" hm itu mudah, keanehan-ku adalah kuncinya. Mungkin Bobby yang memberitahuku?"
"…"
" seminggu setelah kau meninggal, Bobby juga bunuh diri"
Hanbin sedikit curiga dengan Jiwon, dengan alasan apa bocah itu bisa tahu masa lalunya?
" aku tahu kau masih tak percaya padaku, maka aku akan menunjukkannya padamu sekarang"
Tangan Hanbin tertarik dan tubuhnya menghantam Jiwon. Ia terpekik pelan dan menatap Jiwon ragu.
" bolehkah? Masih seperti saat aku menyerap rohmu, tapi aku tidak akan menyentuhmu. Yaksok"
" tapi tubuhmu panas sekali!..k-kau demam tinggi"
" lebih baik cepat selesai dan tidak ada yang disembunyikan lagi. Kau ingin bertemu Bobby hyung-mu kan?"
Hanbin berkedip, Ia memang ingin melihat Bobby. Tapi, apakah bisa?
Bibir itu mendekat dan menyesap asap putih dari mulut Hanbin, hantu itu mencengkeram erat lengan Jiwon. Tubuhnya seperti terurai menjadi bulu-bulu halus di udara, sangat ringan..
.
.
Roh itu terbawa ke waktu 8 tahun silam,
Jiwon telah menguasai dirinya, Ia tidak boleh kehabisan tenaga di saat seperti ini.
" lihat Hanbin-ah, itu SMA tempatmu bersekolah dulu. Benar?"
Tak mendapat respon apapun, Jiwon menoleh pada pemuda di sampingnya.
Ia tersenyum lega, Hanbin menatap lurus pada kedua orang yang sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku. Hanbin dan seorang lagi yang menyerupai-nya..Bobby.
" seperti melihat drama dan yang memerankan adalah dirimu sendiri bukan? Ini menyenangkan"
Sama seperti sebelumnya, Hanbin tidak menyahut dan tetap memperhatikan objek yang sama.
.
' bin-ah, kalau aku menyukai seseorang bagaimana?' tanya Bobby.
'hm?...tidak apa'
'apanya yang tidak apa? Kau senang atau tidak'
'…memang siapa orang itu,kalau dia sampai mengganggu waktuku denganmu-'
' kau, kau-lah orang yang kusukai.'
Yang lebih muda berkedip imut, tangannya segera menyambar buku yang semula ditutupnya, pipinya memerah dengan jelas.
Bobby tertawa keras, 'tidak usah sok sibuk begitu, kau juga suka padaku kan?'
' tidak!'
Bobby membuang senyumnya, dasar bocah keras kepala.
' aku tahu kau menyukaiku, ani. Kau mencintaiku meski kau bilang tidak sekalipun'
Hanbin menatap tidak suka, kemudian bibir itu mencebik lucu.
' kau benar, bagaimana kau tahu? Kau seorang peramal, ataukah penyihir? Aku takut!'
' aish,aku manusia biasa. Aku tahu karena dirimu lebih kukenal, daripada diriku sendiri'
'tapi aku hanya sedikit suka padamu, aku tidak mau menjadi kekasihmu!'
Bobby mendekatkan wajahnya pada Hanbin, matanya terfokus pada wajah cantik dehadapannya 'memangnya siapa yang mau jadi pacarmu? Semua orang akan kabur saat mengetahui sifat galakmu,dasar'
' hyung~!'
'AHAHAHA..! mianhae Hanbin-ah, tapi bagiku kau begitu manis dan lembut'
Jiwon meraih tangan Hanbin pelan, Ia menggenggamnya erat. Hanbin tersenyum sedih, air matanya menetes. " Bobby hyung.."
" kau pasti sangat sedih, dan maaf aku hanya bisa memperlihatkanmu sebentar. Tapi aku masih punya satu lagi..,setelah kau melihat kejadian di taman kota dengan tuntas"
.
.
Jiwon sudah berada di waktu itu, Selasa 16 Desember 1996
" lihat baik-baik apa yang sebenarnya direncanakan kekasihmu saat itu, dan jangan berpaling"
Mata itu memperhatikan Bobby dan Junghyuk, 'kumohon, terimalah aku!'
Hanbin sudah menutup telinganya dan berbalik, "kumohon, jangan kecewakan Bobby"
' dan jangan kecewakan aku…, Hanbin-ah' Jiwon membatin sedih.
Jiwon segera menahan bahu Hanbin dan kembali menghadapkannya pada bayangan Bobby.
Junghyuk sudah pergi, kini giliran Bobby yang terdiam sambil memperhatikan kotak kecil di tangannya.
' baiklah sekali lagi!..Hanbin-ah. Bisakah sekali ini kau tidak menolakku lagi? Dihadapan orang lain kau mengaku kekasihku tapi saat denganku kau tidak mau mengakuinya.. Aish!
Begini, aku tidak ragu dengan perasaanmu. Tapi kau-lah yang terlihat ragu dengan dirimu sendiri.. aku di sini akan menghapus keraguanmu. Aku pasti bisa menghapusnya, would you be mine?'
' bagus! Nampaknya harus seperti ini'
Bobby memicingkan mata, Jiwon yang merasa tatapan Bobby mengarah padanya segera menarik Hanbin menyelinap di balik pohon ' aish kenapa bocah itu belum datang jugaa!'
' Hanbin-ah saranghae..,jeongmal saranghae. Aish..! aku bisa gila!'
Hanbin tertawa setelah melihat tingkah Bobby sambil menendang udara tidak jelas. Namun matanya tetap menangis. Ia baru tahu sekarang, Ia sadar sekarang.
Bobby hyung yang konyol dan selalu mencintainya, tidak pernah berubah.
Justru dirinya sendiri yang gegabah, bertindak sembrono dan merugikan.
Ego-nya menghancurkan impian Bobby dan impiannya sendiri.
Apa yang terjadi jika Ia mendengarkan Bobby dari awal?
Apa yang mungkin terjadi kalau Ia langsung menerima perasaan tulus Bobby tanpa harus menundanya?
.
.
Jiwon menekan dadanya kuat, nafasnya tersengal. Ia terlalu banyak membuang tenaganya.
Namun Ia senang, dengan begini Hanbin tidak akan membencinya lagi. Ia mendapati hantu itu masih terpejam dengan senyuman bahagia di wajahnya.
Hanbin terus memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan Jiwon, Ia merasa sedikit lega. Ia tak perlu lagi berbohong pada Jiwon, setidaknya begitu.
Jiwon menarik tangannya menjauh, Ia menunduk. Semuanya sudah jelas sekarang.
" mianhae, aku sudah memaksamu selama ini. Aku sungguh malu pada diriku sendiri, ternyata sikapmu yang terkadang baik itu bukan untukku, haha"
" tapi kau tak perlu khawatir, sekarang Bobby pasti tenang karena kau sudah tau yang sebenarnya. Dan aku tidak akan lagi memaksamu, cintamu pada Bobby terlalu kuat. Aku akan melepasmu, kau akan bebas setelah ini"
Hanbin menatap tak percaya pada Jiwon, kenapa jadi begini?
" tapi, kupikir sekarang aku tidak membencimu atau Bobby hyung. Semua sudah jelas, dan aku justru ingin memperbaikinnya denganmu Jiwon-ah!"
" aku tidak mau, kau pasti menganggapku Bobby. Sama seperti sebelumnya,"
" tidak! Aku mencintaimu-"
Jiwon menatap lurus pada Hanbin yang menutup mulutnya, " pergilah, aku tidak mau kau memaksakan diri untukku"
Kini Jiwon tidak lagi menatap Hanbin, Ia membaringkan tubuhnya yang lemah. Ia bersikap seolah tak mendengar isakan hantu manis yang dipujanya diam-diam itu. Ia tidak bisa.
" aku akan mencarikan obat untukmu! Tunggulah sebentar"
Jiwon menahan tangisnya, tidak. Yang dicintai Hanbin adalah Bobby, bukan kau Kim Jiwon. Kau hanya beruntung karena wajahmu mirip dengan orang itu.
Andai saja dirinya adalah Bobby, atau yang lebih baik lagi Ia tidak bertemu Hanbin di sini.
Ia hanya terlalu cepat sadar dengan kenyataan yang menimpanya. Yang membuatnya yang semula sangat menginginkan Hanbin jadi sedikit tidak percaya diri seperti ini.
.
Ia mendudukkan diri. Di cermin itu memantulkan bayangan dirinya, wajahnya yang pucat dan mata redupnya.
" Kim Jiwon, kau itu tidakkah sudah mengerti..?"
" Kau sudah mengerti"
Jiwon menarik dirinya mundur dengan cepat, bayangannya di cermin..dapat berbicara.
" NUGU?! Pergi kau..,kumohon pergi!"
" kau sudah tahu siapa aku.."
Jiwon diam, matanya memperhatikan dengan seksama. Apakah..
TBC
N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.
Thanks to : parkcheonsafujoshi, Double BobB.I, Jun-yo, Ibob, EunhyukJinyoung02, Phcxxi, vchim, Jun-yo. Hayo yang kangen tunjukin tangannya#siapsiaplaridigampar. mian lama, lagi kena penyakit ujian sama kondisi badan lagi down :D selamat baca, eits jangan protes kependekan ya, besok aku update. ini cuma percobaan(?). ntar diliatin banyak gak yang review :D makasih yang PM :D
mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.
