Di tengah ramainya pusat perkotaa. Di tengah ratus ribu manusia dengan dunia masing-masing. Di tengah hilir mudik orang-orang. Tetsuna berhasil menemukan rasa itu, cinta. Dengan seorang pemuda tan yang menemukannya di antara "lautan". Melihat kulit bak porselen itu memucat. Aomine membawa dia keluar dari sana. Duduk di bangku taman dekat tiang lampu. Giliran mereka yang menonton dalam sunyi. Tidak lagi terlibat atau merasakan perpisahan.

"Mau kubawa ke klinik?" Tawar Aomine berbaik hati. Menunjukkan setitik kepeduliannya yang biasa acuh. Ya, dia tetap orang baik dan punya simpati.

"Terima kasih. Tapi tidak perlu, Aomine-kun. Selanjutnya kau mau kemana?" Basa-basi untuk mencairkan suasana. Tetsuna mendadak disergap penasaran.

"Makan di kedai ramen. Aku lapar! Oh kau mau ikut. Tapi bayar masing-masing."

"Baiklah. Kebetulan aku lapar."

Lagi pula segelas milkshake tidak cukup menunda lapar. Awalnya dia berniat menolak dan pulang, namun itu dulu, ketika Aomine berada di luar lingkaran. Sekarang berbeda, cara pandangnya berubah 180 derajat. Lebih penuh hormat juga kagum. Kapan terakhir kali ia merangkul perasaan itu? Mungkin saat Ayah memutuskan tidak meninggalkan mereka ke luar kota. Mendadak beliau hangat, terasa menyenangkan. Tindakan mengubah cara pandang seseorang.

"Pak. Ramen porsi jumbo satu!" Lima menit disuruh menunggu. Aomine menidurkan kepala di atas meja. Angin musim semi begitu bersahabat.

"Katanya lapar. Tidak pesan?" Terkaget-kaget Tetsuna membaca menu. Asal menunjuk apa pun itu agar tidak ketahuan, bhwa ia memperhatikan Aomine.

"Nafsu makanmu besar juga." Entah apa maksudnya. Tetsuna mengidikkan bahu, tidak masalah.

"Omong-omong siapa yang mengajakmu?"

"Akashi-kun. Tangannya lepas dan kami terpisah."

"Hehh…. Dia melepas pegangannya darimu? Itu aneh. Setauku Akashi paling menghormati wanita."

"Aku tidak mengerti kenapa dia melakukannya. Syukurlah ada Aomine-kun."

"Pasti tidak sengaja. Meski galak Akashi lelaki yang baik. Percayalah." Dua mangkuk ramen diletakkan bersebelahan. Sekarang Tetsuna mengerti kenapa Aomine berkata begitu. Porsi sedang dengan banyak irisan daging.

"Kenapa Aomine-kun yakin Akashi-kun baik?" Sumpit bambunya Tetsuna taruh merapat. Menghentikan gerakan makan Aomine yang mendengar takzim.

"Karena dia selalu memperhatikanmu, bahkan di awal tahun ajaran Akashi memintaku menjagamu."

Kedai lenggang sejenak. Hanya kepulan asap di tengah udara sejuk. Mereka lanjut makan dalam sunyi. Tetsuna berhenti menjawab, begitupun Aomine fokus mengisi perut. Lima belas menit berjalan lambat. Pembeli terus berdatangan menyadari jam makan siang tiba. Satu menjadi dua dan seterusnya, hingga obrolan memenuhi langit-langit kayu di musim semi. Hanya mereka yang setia dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Ini untukmu." Tiga iris daging besar dimasukkan ke mangkuk Aomine. Tak bersisa apa-apa selain wadahnya dan kolam kecil di tengah, sisa kuah dingin.

"Kau kenyang?"

"Anggaplah ucapan terima kasih telah menolongku."

"Baiklah. Lagi pula tidak baik menolak rejeki." Melihat senyumnya yang bersinar. Tetsuna menyadari sisi manis Aomine, begitu menggemaskan ternyata.

Selesai wisata kuliner. Mereka memutuskan pulang ke rumah. Ah, lagi-lgi begini suasananya, canggung tanpa sepercik air yang menyegarkan, kering macam padang gurun di Mesir, membosankan. Atensi Tetsuna justru tertuju pada taman kota. Di mana keluarga menghabiskan waktu dengan berpiknik atau bermain layang-layang. Pohon raksasa berdiri kokoh di tengah sana. Membuat iris biru mudanya melebar takjub sekaligus bahagia.

"Pohon yang tidak jadi ditebang itu, ya?" Komentar Aomine malas, diseling menguap pendek, berisyarat, "ayo segera pulang". Namun melihat keantusiasan Tetsuna, dia sedikit mengerti.

"Mau foto? Biar kutemani. Maksimal tiga kali jepret saja. Aku tau wanita paling suka mengulang sampai lima kali." Pengalaman Aomine ketika mengajak Satsuki jalan-jalan ke kebun binatang. Mungkin hampir setiap kandang hewan diabadikan.

Tanpa panjang lebar lagi, Tetsuna berlari menghampiri "sahabat" karibnya. Mereka terakhir bertemu seminggu lalu. Ini menjadi yang pertama setelah berpisah. Aomine tidak mengerti kenapa, padahal hanya pohon tua, kenapa begitu diperhatikan? Mungkin itulah yang dimaksud berharga, sama seperti dia menyukai basket. Sesuatu amat bernilat ketika kau menyukainya, bukan?

"Kubantu foto. Mana ponselmu?"

"Anoo…. Aomine-kun. Bolehkah aku berfoto bersamamu?" Awalnya Tetsuna takut ditolak. Tak disangka ia langsung meminta seseorang memotret mereka berdua.

"Satu… dua… tiga…." Ragu namun ingin, Tetsuna menyambar jari telunjuk Aomine, dipegang erat seakan takut lepas. Sengaja memalingkan muka pura-pura bodoh agar tidak dicurigai.

"CISS!"

GREP!

CKREK, CKEREK!

"Tunggu sebentar. Aku saja yang ambil fotonya."

"Aomine-kun. Aku ik…." Ucapan itu otomatis terhenti. Seseorang entah siapa menarik tubuh mungilnya agar terdorong ke belakang, hendak dipeluk.

Tergugu di tempat, perlahan tapi pasti Tetsuna menoleh sekilas ke belakang, kaget. Bau mint itu familiar. Bergambarkan sesosok pemuda yang memeluknya erat, takut kehilangan di tengah keramaian tempat perpisahan melerai. Akashi dengan surai merah ditiup angin sendu. Akashi dengan perasaan bersalah amat dalam, bagai ditikan sebatang tombak di ulu hati. Aomine menjadi saksi bisu dari kejadian tersebut, bersama Momoi yang terisak-isak, sakit hati.

"Ayo pulang. Anginnya semakin kencang." Ajak Aomine merangkul lembut bahu Momoi. Sengaja menutupi kepala itu mengenakan jaket hitam yang biasa ia pakai.

"Saat menangis pun kau terlihat cantik, meski seharusnya kau tersenyum seperti biasa, dasar bodoh! Jangan takut. Kita pulang dan lupakan kejadian hari ini, oke?" Sayang Momoi tidak sependapat. Dia belum mau merelakan.

WHUSHHH!

GREP!

"Aomine-kun…." Bukan masalah ponselnya dibawa pergi. Tetsuna bisa minta dikembalikan saat jam sekolah tiba. Ia terdiam ikut merasa sesak. Entah bagaimana detak jantung Akashi ikut terdengar : mengalir bak menghantam bebatuan, penuh riak.

Satu jam lalu….

Ibarat terjebak di hutan belantara, mengikuti kata hati Akashi mencari tanpa petunjuk pasti. Dia sudah menghampiri toko buku. Berputar ke Majiba Burger dan berkunjung ke rumah Tetsuna. Ibunya berkata, "belum pulang kemari", balas dilempar berbagai pertanyaan juga pukulan kecewa, bahkan sang ayah angkat bicara, langsung memarahi pemuda yang biasa mereka puji di meja makan. Ia berakhir di tempat serupa, yaitu pusat kota.

"Selamat siang. Mencari siapa?" Kebetulan Akashi bertemu Momoi di depan toko buku. Mungkin dengan bantuannya dia bisa menemukan Tetsuna.

"Bantu aku cari Tetsuna?"

"Eh? Kau bilang apa? Mau ke taman kota tidak? Ada festival di sana." Berpura-pura tuli Momoi memanfatkannya untuk modus. Dia ingin agar Akashi melupakan Tetsuna sejenak, sehingga mereka bisa bersama lebih lama.

"Boleh."

Benar juga, taman kota! Mereka bertemu di sana. Ketika hetekronom-nya menemukan wanita kesepian dengan atensi setipis kabut. Ekspresi Tetsuna yang menyiratkan kesedihan, datar namun menitihkan air mata tertulus selain milik malaikat keluarga mereka. Saat berangkat dan berkenalan di tengah perjalanan, disikapi dengan acuh sekaligus dingin. Bab terakhir, ketika dia meminta Aomine untuk menjaganya. Bagaimana mungkin dilupakan?

Namun sayang, Tetsuna tidak berada di sana.

"Ayo berteduh di belakang pohon!" Bergelayut manja, Momoi memeluk tangan Akashi mesra bak sepasang kekasih. Dia tidak peduli. Rasa bersalah membuat inderanya menumpul dratis. Mendadak tuli, bisu dan buta.

"Sejuk, ya? Aku paling suka musim semi."

"Memang kenapa?" Tak enak hati mengacuhkan. Akashi berusaha menggeser sedikit ruang hatinya yang dipenuhi Tetsuna, demi obrolan ringan ini.

"Tidak ada alasan khusus. Aku menyukainya, itu saja. Musim favorit-mu apa?"

"Sama sepertimu."

"Benarkah? Punya alasan khusus?"

"Saat itulah aku menemukannya. Dia yang memeluk pohon, mengucap salam perpisahan dan menangis sedih. Berbicara dengan nada ketus. Berwajah datar, 'semua baik-baik saja'. Tuan puteri yang kehilangan sepatu kaca bertemu pangeran tak berkuda. Semua terukir di musim itu."

"Anoo…. Aomine-kun. Bolehkah aku berfoto bersamamu?"

Suara itu…. Tetsuna! Tanpa sadar Akashi menarik tangannya, pelan. Membuat foto itu rusak, dengan jemari yang ditangkap samar oleh lensa kamera. Dia boleh menjadi orang ketiga, dilupakan sesaat bagai daun dibawa angin, namun tetap pria pertama untuk memeluknya. Di mana pun berpisah, bertemu lagi, menantang takdir sekalipun bukan perkara besar. Asal langit biru muda tempat lelaki itu jatuh cinta tidak menghilang.

HUG!

"Maaf aku meninggalkanmu, Tetsuna."

PLAKKK!

"Kau keterlaluan, Akashi-kun."

"Tamparlah aku sesukamu."

"Untuk apa? Aku pulang dulu, bye!"

Haruskah kisah seumur jagung ini berakhir tragis?

Bersambung….