FREAK

Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.

Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.

Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?

.

.

this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.

.

.

"…Bobby?"

Dengan tersenyum, perlahan bayangan itu keluar dari cermin dan membentuk sebuah raga yang sempurna. Raga Kim Jiwon, dengan pakaian yang pernah dilihatnya pada waktu 16 Desember 8 tahun lalu.

" jangan takut, aku tidak akan membunuhmu karena kau menyukai Hanbin-ku"

" kau..,kau membaca pikiranku? Tapi semua hantu tidak bisa melakukannya padaku, dan kau-"

" aku hadir dari pikiranmu, Kim Jiwon. Dan aku bukan hantu. Duduklah dengan tenang, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu."

Dengan berusaha menghilangkan rasa takutnya, Jiwon menyamankan duduknya. Ia terus memandangi Bobby yang duduk tenang di sebelahnya.

" kau benar-benar mirip denganku, ani. A-aku yang mirip denganmu"

" haha, aku sudah tahu bahkan sebelum kau lahir"

" Hanbin eodiya?"

Jiwon menunduk, " ..molla, aku menyuruhnya pergi. Tapi mungkin dia tidak akan pergi, ini adalah rumahnya"

" lalu?"

" aku akan pergi, tentu saja. Dan kebetulan sekali kau sudah ada di sini, Hanbin merindukanmu"

" ani, dia merindukanmu"

Jiwon menatap curiga pada Bobby, " kau tidak berbohong padaku?"

" aku serius, untuk apa berbohong. Aku adalah kau"

Mata Jiwon membola, Ia meremat kepalanya kuat-kuat. Tangannya menjambak rambutnya kasar.

' tidak,aku pasti mengigau. Demamku tinggi sekali, bahkan mencapai 40 derajat ' batin Jiwon.

" kau sepenuhnya sadar, jangan mengubah topik"

Dan Jiwon sekali lagi dibuat melotot oleh perkataan Bobby.

" sebenarnya Hanbin sudah menyukaimu sejak kau datang dan menyerap roh-nya, itu bukan karena wajahmu yang mirip denganku. Tapi karena dirimu yang lain, yang berbeda dariku"

" cukup Bobby, kau jangan menambah beban pikiranku! Aku sudah membolos kuliah 5 hari!"

" Ini bukan waktunya bercanda. Kau bisa melewatinya, tolong jangan buat Hanbin bersedih. Berjanjilah padaku"

" AISH! Kau saja yang membahagiakannya, kau juga hantu kan?! Ini mudah, kau tinggalah di sini dan aku pergi. Selesai!"

" bukan itu yang di inginkan Hanbin, kukatakan sekali lagi.. Aku adalah kau"

Jiwon menggertakkan giginya, Ia tidak suka dipermainkan seperti ini.

" kita adalah orang yang sama, menyukai orang yang sama, sifatku ada dalam dirimu Jiwon-ah. Aku adalah dirimu, namun kita memiliki waktu yang berbeda"

" kau lebih beruntung karena memiliki waktu lebih lama dibandingkan aku, kau bisa bersama Hanbin lebih lama dari pada aku"

" dan sekarang aku ingin kau mengerti, Hanbin mencintaimu. Mencintai kita"

" jangan kecewakan dia lagi, jangan lukai hatinya lagi. Kecerobohanku di masa lalu, kuharap kau bisa memperbaikinya Jiwon-ah"

Bobby menyerahkan kotak kecil berwarna merah pada Jiwon, lalu mengusap air matanya.

" bahagiakan Hanbin, seperti kau membahagiakannya di masa lalu kumohon. Dan berikanlah cincin ini padanya,"

" tapi aku tidak-..aku sudah mengatakan hal buruk padanya, aku tidak yakin aku bisa"

" kau bisa, aku tahu itu. Hanbin selalu menunggumu..sambutlah cintanya, Ia tidak akan berbelit seperti dulu. Aku yakin"

Jiwon menunduk, bagaimana Ia menjelaskan semua ini pada Hanbin. Sebelumnya Ia selalu berkoar bahwa dirinya bukanlah Bobby, atau mungkin Ia memaksa Hanbin untuk pergi.

Jiwon merasakan pelukan Bobby padanya, " jangan kecewakan aku Jiwon-ah, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jangan lukai Hanbin seperti di masa lalu kita, kejar Hanbin Jiwon-ah.., cintailah dia seperti dulu kau mencintainya."

Bobby menyentuh kening Jiwon dengan telunjuknya," Aku akan selalu membantumu dari sini"

Sekejap bayangan Bobby menghilang.

Tanpa menunggu lagi, Jiwon bangkit sambil menggenggam erat kotak cincin itu. Kakinya berlari secepat yang Ia bisa, matanya berkeliling mencari sosok Hanbin.

" KIM HANBIN! KIM HANBIINNNN! HANBIN-AH EODIYAAAA?!"

Jiwon berlari memutari rumahnya, keringat dingin membasahi tubuhnya. Namun Ia belum juga mendapati Hanbin.

Cklek

Jiwon berdiri dan menatap tepat ke pintu, pasti Hanbin baru saja keluar membeli obat untuknya.

" HANBIN!-ah?"

Sosok itu memasuki rumah dengan angkuh, aura dingin dan pekat menguar dari tubuhnya.

" halo, Kim Jiwon yang terhormat"

Jiwon berjalan mundur, ".. Wu Yifan?"

" ah! Senangnya kau masih mengingatku. Kebetulan sekali, aku kira Goo Junhoe masih tinggal di sini. Dan ternyata aku mendapatkan yang lebih bagus dari bocah itu"

" Kim Jiwon si manusia mistis, aku ingin menawarkan hal-hal menarik untukmu"

Pemuda itu berjalan pasti ke arah Jiwon, Jiwon yang mulai tidak tahan dengan aura Yifan sudah terbatuk keras sambil menahan tubuhnya pada dinding.

" kau sedang sakit? Aigooo..padahal aku ingin mengajakmu bekerjasama hari ini"

" ..mwonde? Apa maumu?!" Jiwon berteriak dengan suara seraknya, sial. Orang itu datang di saat keadaannya memburuk.

" wow, bersemangat sekali"

Yifan tersenyum sinis, Ia memainkan bola kristal berwarna hitam yang ada di tangannya.

" kalau aku tidak bisa mendapatkan uang bocah Goo itu, maka rumah ini akan jadi gantinya. Ditambah sesuatu yang lebih menjanjikan lagi, yaitu nyawamu."

Jiwon membelalak kaget, apa-apaan manusia dihadapannya ini?!

" hah..aku akan mengingatkanmu. Kau masih ingat kekasihku? Dia sedang berkeliaran di rumah sakit, saat itu aku melihatmu bisa berkomunikasi dengan hantu."

Jiwon menekan dadanya, nafasnya semakin memendek. Entah apa yang terjadi padanya, Ia tak pernah sakit separah ini sebelumnya.

" dan aku meminta pertolonganmu untuk menghidupkan kekasihku, Tao. Tapi kenapa kau menolaknya,hm?"

Yifan berjalan santai dan berhenti tepat di hadapan Jiwon, matanya nyalang menatap pemuda itu.

Bugh!

" argg..,kumohon pergilah. Sudah kubilang dia tidak mau hidup kembali, aku tak bisa memaksanya"

Yifan melepaskan kakinya setelah menendang bocah itu, Ia tertawa remeh.

" benar sekali, dan sebagai gantinya..aku akan mengambil rohmu dan mengendalikannya untuk menghidupkan Tao kembali. Akan kulakukan apapun demi dia"

Jiwon berdiri perlahan, Ia menatap tak suka pada Yifan. Apakah ini salahnya?

" kenapa? Aku tidak bisa menyerahkan nyawaku begitu saja..kau fikir kau bisa menyuruh roh-ku semaumu?!"

" tentu, dengan kristal ini. Rohmu akan terkunci dan kukendalikan. Lebih baik kau menyerahkan dirimu dan roh-mu akan terhisap dengan sangat menyenangkan. Bagaimana?"

" heh, bodoh. Kau pikir kau siapa? Jangan meremehkanku!"

Tendangan telak menghantam perut Yifan, pemuda itu tersungkur pelan dan kembali bangkit.

" lumayan untuk keadaanmu sekarang, ayo lakukan terus sampai kau lelah. Dengan begitu akan lebih mudah untuk membunuhmu"

Jiwon mengepalkan tangannya, cincin itu Ia simpan di saku celananya. Ia tidak akan menyerah dengan orang ini. Orang menyebalkan dan tahu tahu sopan santun.

Jiwon berkonsentrasi, Ia tak boleh gegabah. Atau nyawanya menjadi taruhannya.

Bugh! Duaggh

Yifan kembali tersungkur, bibirnya sobek dan mengeluarkan sedikit darah. Senyum mengerikan terpancar di sudut bibirnya. Namun tanpa Jiwon duga sebelumnya, Yifan bangkit dengan marah dan menggeram keras.

" KIM JIWON!"

Bragg!

Jiwon mengerang pelan, jujur Ia sudah sangat lelah. Yifan yang berkali-kali dipukulnya masih dapat bangkit, sementara dirinya sendiri sangat lemah.

Ia menyentuh kepalanya yang mengalirkan darah segar, tembok di belakangnya runtuh sebagian karena Yifan menghantamkannya di tembok itu.

Sungguh, kepalanya semakin berkunang-kunang. Ini bukan keadaan yang baik, Ia bisa saja mati.

Lalu bagaimana dengan Hanbin? Ia belum bertemu dan bahkan menyampaikan perasaannya dengan benar. Ia tidak mau mati sekarang, setidaknya setelah urusannya dengan Hanbin selesai.

" kau memiliki kekasih atau tidak? Bagaimana rasanya bila kau ditinggalkan oleh kekasihmu padahal kau sangat mencintainya? HA?! KATAKAN!"

Jiwon tetap berdiri, tubuhnya bersandar pada tembok itu. Ia tersenyum, jelas saja Ia pernah merasakan kepedihan itu.

" hh..aniiih, aku sendirian selama ini-Agh!" Yifan tersenyum remeh sambil menjambak rambut Jiwon.

" sayang sekali.."

Jiwon meringis pelan, rambutnya yang mulai basah oleh darah ditarik paksa tangan Yifan.

" ARGHH! Lepaskan tangan kotormu..hh!"

Jiwon menggertak, namun Ia tak bisa bergerak sedikitpun. Darah terus merembes dari kepala belakangnya.

" andai kau punya kekasih, aku akan membuatmu merasakan hal yang sama denganku"

" kau seperti anjing kelaparan yang akan mati, sudahlah Kim Jiwon..kau sudah tamat."

Degg

Jantung Jiwon mendebum keras, kesadarannya kembali sepenuhnya. Tapi Ia merasa tubuhnya dikendalikan.

' aku akan membantumu Jiwon-ah'

Jiwon merasakan bisikan itu di dalam hatinya, Bobby..mengambil alih tubuhnya.

DUAGH!

Bobby menatap murka pada Yifan, beraninya orang ini mengganggu rencananya.

" kau, sudah meminta padaku. Dan aku sudah menurutinya. Kalau itu tidak berhasil, jadi itu bukan salahku"

Jiwon bangkit, tubuhnya terasa begitu ringan. Ia sangat berterimakasih pada Bobby.

Sementara itu Yifan terbatuk keras dan memuntahkan banyak darah, kenapa tiba-tiba bocah itu kembali kuat?! Yifan yakin Jiwon sedang sakit tadi, tidak sehat bugar seperti sekarang.

" pergilah sebelum aku membunuhmu, dan jangan berani kau mengganggu kehidupanku lagi"

DUGGH!

Bobby kembali melayangkan tendangannya pada Yifan, Ia tak suka dengan orang ini.

Yifan tergeletak, nafasnya terdengar begitu pelan. Bobby masih menatap nyalang, inilah kebiasaan buruknya terhadap apa yang tak Ia sukai. Dan hal ini merupakan kebiasaan buruk Jiwon juga.

Setelah memastikan Yifan tak lagi bergerak, Bobby mundur dan mendudukkan diri menyender pada tembok. Ia melepas kendalinya akan Jiwon, Ia sudah puas menghajar Yifan.

" hh..gomawo, Bobby-ah"

' ani, aku dan kau sama saja. Saat kau sehat pukulanmu juga sekuat tadi kok,haha'

" hh..jangan bercanda, aku sedang sekarat"

' jaga mulutmu! Kau masih punya hutang padaku, tetaplah hidup.'

" hh~ kau itu menyemangati dirimu sendiri, tapi kelihatannya tidak begitu"

' jangan banyak bicara, kau sedang sekarat. Aku akan pergi, sisanya kuserahkan padamu'

' aku juga sudah bilang kalau aku sekarat tadi, dasar Bobby'

Jiwon tersenyum, benar. Bobby adalah dirinya sendiri, sifatnya begitu mirip.

Hanbin mengumpat di perjalanan, Ia terpaksa membeli di apotek yang jauh ditambah mengantri juga karena banyaknya pelanggan.

" kenapa di hari ini apotek yang dekat itu tutup! Kenapa juga banyak orang yang membeli obat!"

Hanbin menghirup nafas, tangannya memutar gagang pintu rumahnya dengan gugup.

Pintu membuka perlahan, bau anyir langsung menyengat di seluruh ruangan itu. Obat yang dipegang terlepas begitu saja, nafas Hanbin memburu dan matanya berair menemukan Jiwon terduduk dengan darah di sekujur tubuhnya.

" HYUNGG! JIWON HYUNG! Jebal~ hiks! APA YANG TERJADI?! Hiks..hyuunggg~ hiks! Jiwon hyuungg..IREONAAA!"

Pluk

Sebuah tangan mendarat di puncak kepala Hanbin. Hanbin membuka matanya dan mendapati Jiwon tersenyum padanya, " aku masih hidup"

Hanbin langsung menubrukkan tubuhnya pada Jiwon, Ia berharap Jiwon baik-baik saja.

" aku baik-baik saja, jangan khawatir"

Hanbin terus menangis dan sesekali memukuli punggung Jiwon, Ia sangat khawatir.

" JANGAN BERTINDAK BODOH! Hiks..,kau jahat. saranghae hyung."

" h..hh, nah-do"

Hanbin melotot lucu, apakah tadi Jiwon menjawabnya. Telinganya benarkan?

Jiwon tersenyum senang, Ia merogoh saku celananya berniat mengambil cincin tadi.

" Han-uhuk! Ah...sulit-sekal li, bicara"

Hanbin berusaha menyamannkan Bobby dalam pangkuannya. Ia mengusap pelan dada pemuda itu, berharap akan menenangkan.

" aku- Bobby"

Jiwon bernafas lega, Ia sudah mengatakan salah satu pesan Bobby. Hanbin masih memasang wajah bingung, tapi Ia tidak perduli. Ia mengangguk senang lalu memeluk Jiwon dengan kencang.

" akh! Appo~"

" m-mianhae..,"

.

Tangan itu bergerak sangat pelan, " aku akan membalas sakit hatiku..,Kim Jiwon"

Hanbin masih memeluk Jiwon yang terpejam, rasanya lega. Ia begitu bahagia.

" AKH! SAKITT! Lepaskan aku!"

Hanbin medorong Jiwon menjauh, Ia merasakan sakit teramat sangat di tubuhnya. Sama seperti sebelum roh-nya diserap Jiwon.

Jiwon menatap tidak percaya pada Hanbin, apa yang terjadi dengannya?!

" Hanbin-ah?! Wae-"

" bukannya sudah kubilang aku ingin kau merasakan hal yang sama denganku Kim Jiwon?"

Jiwon membuka lebih lebar matanya yang berat, Yifan..dan kristalnya yang sedikit memutih.

" ss-siaalll…, Hanbinn-tidak ada sangkuthh pautnya dengan-muh! Keparat"

Yifan tertawa sinis, Ia senang bisa membalas Jiwon. Ia puas, apalagi bocah itu kelihatanya juga akan mati.

" bin-ah? Dengarkan aku, hh-bertahanlah!"

Jiwon hanya bisa meraih-raih Hanbin tanpa dapat menyentuhnya, Ia tak bisa bergerak.

Jiwon mengalirkan air matanya, Hanbinnya terhisap kristal hitam itu!

" Yifan keparatt! Kau tidak bisa melakukannya padaku seperti ini..!"

" Hanbinn! Kumohon.., kemarilah! Aku akan mencoba menahanmu"

Hanbin juga menangis antara kesakitan dan bahagia. Ia merasa dibutuhkan oleh Jiwon, Ia juga bahagia Jiwon membalas perasaannya. Tapi terhisap oleh kristal itu rasanya sangatlah sakit.

" KIM HANBINN..!"

Hanbin mendekat lemah dan menarik Jiwon ke dalam pelukannya. Ia menangis semakin keras, Ia tidak perduli dengan sakit yang menyengat di sekujur tubuhnya.

" hyung..,kupikir aku sudah bahagia. Aku mendapatkan cinta darimu, dan juga Bobby hyung. Aku dapat hidup bersamamu dan juga Bobby hyung..aku sangat bahagia"

" hiks..,tapi bagaimana denganku Hanbin-ah? Aku belum merasakan kebahagiaanku!"

" gwenchana, hyung akan menemukannya nanti. Yang lebih baik dari pada aku"

" apa maksudmu..hh! aku hanya mau kau!"

" hyungg..,takdir kita berbeda. Meski kita saling mencintai pun tapi tak selamanya kau bisa hidup dengan hantu sepertiku. Itu aneh hyung, mustahil! Jadi lepaskanlah aku saja..,jebal"

Jiwon menggelengkan kepalanya, Ia sudah lelah bicara. Bobby bilang waktunya dengan Hanbin lebih lama kan? Tapi apa? Lihat apa yang terjadi sekarang Bobby-ah! Pembohong.

" kau pikir bagaimana perasaanku kalau kau meninggalkanku! Aku sudah berjuang selama ini untuk mendapatkanmu kembali, tapi kau?"

" hiks..,apa selama ini belum cukup? Cintaku yang ku limpahkan seluruhnya padamu itu tak cukup?! Hiks..,jangan egois hyung. Kau menyiksaku.."

Jiwon menunduk, Hanbin benar..Ia terlalu memaksa Hanbin. Manusia dan hantu tidak dapat hidup berdampingan selamanya.

" tapi aku tidak mau! Sebentar saja, biarkan aku egois terhadapmu Hanbin-ah! Aku hanya ingin bersamamu.."

" aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, aku akan takut kalau kau menghantuiku, aku tidak akan dekat dekat dengan Donghyuk lagi, aku berjanji!"

Hanbin juga menangis, Ia bimbang. Jiwon selalu menggoyahkan keputusannya. Jiwon begitu egois, dan Hanbin senang akan itu. Tapi ini bukan saat yang tepat, keegoisan itu membawa petaka untuk mereka.

" lepaskan saja aku hyung..,percuma kau mempertahankanku! Aku sudah terhisap kristal itu.. aku akan hilang! Aku tahu kau memang egois, sangat egois. Terimakasih sudah mencintaiku dan egois kepadaku. Hiks..gomawo, tapi aku akan mengambil kembali sebagian rohku. Saranghaeyo..hyung"

" shirreo! Aku tidak mau!"

Hanbin tetap mendekat, dengan sedikit rasa takut Ia mencium bibir Jiwon. Jiwon memberontak dalam hatinya, namun tubuhnya membatu. Ia begitu lemah, hanya untuk menghentikan Hanbin saja Ia tak mampu.

' Hanbin jebal, kalau kau mengambil rohmu dariku kau akan benar-benar terhisap! Biarkan aku memegangmu Hanbin-ah..,biarkan aku menjagamu'

Cahaya itu memenuhi tubuh Hanbin. Jiwon terbatuk, darah ikut keluar dari mulutnya. Tubuhnya sangat lelah, Ia tidak bisa bergerak barang sedikitpun.

" Hanbin-ah..aku pusing"

Ia menangis lagi, melihat roh Hanbin yang terus mengabur dihadapannya. Semakin menambah luka pedih di hatinya.

Jiwon merasa gagal, Ia begitu terlambat. Ia tidak bisa mempertahankan Hanbin, Ia tidak bisa melindungi orang yang Ia cintai. Dan Jiwon melakukan kesalahan yang sama dua kali.

Tangan Hanbin menahan kepala Jiwon yang terkulai. Hanbin menggerakkan bibirnya dengan takut, Ia ingin mencurahkan seluruh cintanya pada Jiwon.

Tangan Jiwon terlepas sendirinya dari pinggang Hanbin, nafasnya juga tidak dapat Hanbin rasakan. Jiwon tidak dapat merasakan apapun sampai kegelapan menghampirinya.

Dengan terburu Hanbin melepas ciumannya dan mengusap darah di bibir Jiwon. Selanjutnya Ia menunduk, menangis pilu. Ia tidak suka keadaan ini, sebenarnya Ia juga ingin bersama Jiwon lebih lama.

" hikss! Hyung saranghae..,hiks! nan mianhae…, aku senang kau mencintaiku hyung. Terimakasih atas semuanya, kasih sayangmu dan perhatianmu.., choco cone juga. Hikss! Tapi kumohon tetaplah hidup, carilah penggantiku dan jangan ceroboh lagi! Hiks.., jangan mencoba bunuh diri lagi, demi aku.."

Hanbin menangis dihadapan Jiwon, pemuda itu sudah terpejam dengan air mata yang masih mengalir. Darah di kepalanya juga tak berhenti keluar. Hanbin begitu panik, namun Ia juga tidak dapat melakukan apapun.

Tubuhnya perlahan mengabur, hilang bersamaan cahaya di kristal yang hampir memutih seluruhnya.

" selamat tinggal..Bobby hyung"

.

Yifan tersenyum puas, Ia berdiri dengan tertatih. Tangannya mengambil kembali kristal putih bening itu, roh Hanbin sudah sepenuhnya terhisap.

Matanya menemukan tongkat baseball di belakang pintu, senyum kembali terbentuk di sudut bibirnya.

" aku akan memastikan kau mati, Kim Jiwon."

Tongkat itu sudah terangkat tinggi, sedetik berikutnya tangannya mengayun keras..

BRAKKK!

Bugh!

.

" terlalu cepat bertindak, dasar tidak waras."

Tubuh itu tergeletak, kepalanya merembeskan darah merah. Seorang lagi di belakangnya segera membuang kayu yang tadi digunakannya memukul,lalu menendang tubuh itu jauh-jauh.

" JIWON HYUNG! Aish..,"

Tangannya meraih handphone dan mendial sebuah nomor dengan cepat.

" Rumah Sakit International Seoul, ada kecelakaan di jalan xx"

Setelah menutup sambungan itu, Ia menerima sebuah panggilan.

" yeoboseo?!"

' June-ah, bagaimana?'

" AISH! Jinan hyung panggilkan polisi cepat, suruh datang ke alamat rumahku yang lama!"

' MWO?! Kenapa polisi? Wae geure?!'

" nanti kuceritakan, sekarang aku butuh polisi secepatnya!"

' arraseo..'

" maaf membentakmu baby..,gomawo. Berbaik-baiklah di rumah"

' hm, gwenchana. Hati-hati June-ah'

Junhoe menyimpan handphone-nya dengan cepat, matanya kemudian menatap pada Jiwon yang bersandar dinding. Tangannya segera mengecek nadi di pergelangan tangan kakak ipar nya.

Tidak menemukan sesuatu yang diharapkannya, Ia kemudian mendekatkan telinganya untuk mendengar nafas Jiwon.

Tidak ada, tidak ada hembusan nafas atau pun denyut nadi. Bahkan kulitnya pun mendingin.

" AISSHH! YAAA! PUNYA MASALAH APA KAU SAMPAI MENYAKITI HYUNG-KU HA?!"

Kakinya yang panjang menginjak dan menendang tubuh lemah Yifan, Ia terus melakukannya sampai amarahnya mereda.., kalau mungkin.

Ia menatap panik pada Jiwon, Ia harap pemeriksaannya terhadap Jiwon tadi salah. Matanya perlahan berkaca-kaca, Ia kembali mendekat dan memeluk erat hyung-nya.

" hyung maafkan aku, aku datang terlambat! Orang ini, maksudku dia! Aku bersumpah akan membalasnya! Hyung kau mendengarku?! Aish jangan membuatku takuutt.."

Junhoe mengusap air matanya, selama ini Ia tidak pernah berlaku baik pada Jiwon. Padahal Jiwon sudah banyak membantu kesulitannya. Dan juga membeli rumah berhantunya, meski dengan harga murah.

Junhoe mundur perlahan, sreet..DUG! " ADAW!"

Tubuhnya terjengkang, sesuatu membuat kakinya terpeleset dan pantatnya sukses mencium lantai.

Ia meraih benda itu, " woahh..kristal putih yang indah! Apakah milik orang ini atau Jiwon hyung?"

… kriik kriik

" aish! Aku tak perduli, barang ini akan jadi milik Jiwon hyung!"

" hyung bertahanlah, kumohon.."

TBC

N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.

Thanks to : riani98, Kkeynonymous, EunhyukJinyoung02, LayChen Love Love. hutang lunas ya? tungguin seminggu lagi ne, biar ujiannya selesai semua dulu. ada yang mau NC?#kedipkedipalaChanwoo. mau DoubleB Moment again? silahkan mampir ke FF sebelah ya#promosi(feel the different chap 6)

mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.