FREAK

Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.

Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.

Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?

.

.

this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.

.

.

Junhoe berdiri di seberang pintu rawat sambil memijit pelipisnya, apa lagi masalah kali ini.

Ia juga tidak mungkin mengajak Jinhwan kemari, istri imutnya itu sedang hamil. Ia tidak mau Jinhwan terbebani karena kejadian yang menimpa Jiwon.

" yaa…,uisa-nim! Kau sudah berkutat selama 3 jam kenapa belum keluar juga!"

Junhoe berteriak sendiri di hadapan pintu operasi, beberapa orang menatapnya tak suka.

" WAE?! MEMANGNYA KAU TAHU PERASAANKU HA?!"

Orang-orang yang memperhatikan Junhoe menggeleng heran, orang ini sudah tidak waras.

Junhoe kembali memijit pelipisnya, Ia sudah tidak tahu keadaan bila begini.

Cklek

" UISA-NIM!"

" pelankan suara Anda, pasien sedang dalam keadaan kritis"

" m-mianhae! Jiwon hyung-ku eotokhae?"

" selama ini dia koma, tulang tengkoraknya retak sepanjang 3 cm dan luka di kepalanya terus mengeluarkan darah. Kami sudah melakukan yang terbaik tapi semua tergantung dari saudara Jiwon sendiri. Kami mengharapkan yang terbaik"

Junhoe menggigit pipi bagian dalamnya, Ia menunduk menyembunyikan tangisannya. Dokter itu hanya menepuk punggung Junhoe berniat menenangkan.

" tolong segera hubungi saya jika ada perkembangan dari saudara Jiwon"

.

.

Junhoe memasuki ruangan itu dan duduk perlahan di samping ranjang, tangannya meraih tangan Jiwon dan menggenggamnya erat. " hyung, kumohon cepatlah bangun. Apa kau tega melihatku dimarahi Jinan hyung?"

Mengingat Jinhwan, ini sudah begitu malam. Apakah Ia harus pulang untuk mengecek keadaan istrinya atau menunggui Jiwon di sini?

.

[cetak miring = percakapan telefon]

" hyung, mianhanda.. aku akan pulang besok pagi. Aku akan meminta Taehyun hyung menginap di rumah oke?"

'hmm, ok. Tapi kau tidak apa-apa kan?'

" geurom,"

' lalu? Polisi di rumah lamamu untuk apa?'

" ada kecelakaan di sekitar rumah, aku sekarang sedang mengurusnya di rumah sakit"

' mwo? Lalu apakah Jiwon tahu? Apakah kau sudah bertemu dengannya?'

" aniyo. Sebelum aku masuk rumah, kecelakaanya terjadi. Mungkin Jiwon hyung tertidur..,iya dia.. tertidur"

' June-ah.., suaramu parau?'

" ani, aku agak flu akhir-akhir ini yeobo. Aku tutup dulu ne? jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku kalau Taehyun hyung sudah sampai"

' geure, selamat malam'

" aniyo hyung, selamat pagi. Ini sudah pukul 3"

' hehe, saranghaee'

" ani, nan neomu saranghae. Jeongmal saranghae.."

Junhoe menaruh handphone itu di meja, kemudian Ia membaringkan dirinya di sofa.

" cepatlah bangun hyung, aku berjanji akan menuruti perkataanmu. Dan aku akan berlaku sopan padamu, yaksok"

.

Jiwon terbangun saat matahari hampir terbit, pandangannya tajam. Ia turun dari ranjang dan berjalan pasti kearah Junhoe. Tangannya mengambil sebuah kristal putih dari saku Junhoe dan menatapnya teliti.

Shut!

Pranngg!

Kristal itu diremat sampai hancur, bola mata Jiwon juga mulai berwarna keabu-abuan. Pecahan kristal itu jatuh menyapu lantai, warnanya menggelap dan hilang perlahan.

Smirk terpancar di bibir Jiwon, " kau bebas Hanbin-ah, lakukan apapun yang kau suka"

" Jiwon hyung?"

Junhoe terbangun akibat suara berisik di ruang inap, Ia terkejut melihat Jiwon sudah berdiri tegap seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi ada yang aneh, matanya.. dan telapak tangannya yang terluka.

Tubuh Jiwon mendadak ambruk, Junhoe dengan cepat menahannya supaya tak terjatuh.

" Jiwon hyung?! Hyung! Uisa-nim!"

.

.

" saya melihat sendiri Jiwon hyung berdiri sambil menggenggam erat kristal itu sampai hancur dan hilang! Ia sudah sadar tadi, uisa-nim!"

Dokter itu mengerjab bingung, Ia sebenarnya tidak percaya dengan hal bersifat takhayul. Tapi pasiennya ini membuatnya sedikit ragu.

" memang ada luka di tangannya, tapi ini bukan berarti dia bangun dan menghancurkan kristal kan? Bisa saja orang lain melukainya saat Anda tertidur? Lagipula mana pecahan kristalnya?"

" ani! Aku melihatnya, Jiwon hyung memiliki mata berwarna abu-abu dan setelah mendengar suaraku dia kembali ambruk! Kristalnya..hilang, tapi aku tidak berbohong uisa-nim!"

Kim Jinwoo, dokter muda itu mengerjab untuk kesekian kalinya. Apakah bocah dihadapannya ini masih waras?

" saya tidak berani berkomentar apapun, tapi buktinya keadaan Jiwon-ssi masih seperti kemarin. Tidak ada peningkatan sama sekali"

.

Junhoe memasuki rumahnya dengan cemas, apakah Jinhwan masih tertidur ataukah sudah terbangun. Dan jika iya Jinhwan sudah bangun, apa yang akan dikatakannya nanti?

" seabang-nim!"

Junhoe membeku di tempatnya, orang itu mendekat dan memeluknya erat.

" eoh, bajumu penuh darah?! Apa yang terjadi padamu-"

" ssttt…,tenang yeobo. Aku tidak apa-apa"

Jinhwan tetap menatap khawatir pada Junhoe, tangannya menyentuh Junhoe dengan lembut.

" katakan saja.."

" ini, aku menolong korban kecelakaan kemarin. Jadi bajuku kotor seperti ini, hehe"

.

Jinhwan terdiam di kamarnya, Ia seperti merasakan ada yang disembunyikan Junhoe. Ia sudah mengenal sifat suami kaku-nya itu. Tak apalah, mungkin nanti Junhoe akan mengatakannya.

.

" hyung, aku akan keluar sebentar. Beberapa orang sudah menungguku"

" hh.., baiklah. Hati-hati" Jinhwan menyahut malas.

Junhoe tersenyum maklum, Ia seperti sok sibuk dan membiarkan istrinya begitu saja. Tangannya mengusap lembut puncak kepala Jinhwan, lalu mengecupnya lama.

" aku akan segera pulang, makanlah yang banyak dan jangan terlalu membuang tenaga."

Selanjutnya tangan itu mengusap perut Jinhwan yang mulai membuncit, Ia terkekeh pelan.

" aegii.., appa pergi sebentar. Jangan nakal ne? Kasihan umma-mu"

Jinhwan tersenyum, Junhoe semakin dewasa. Apalagi Ia akan menjadi ayah dari anaknya. Haha, rasanya baru kemarin mereka menikah.

" TAE-HYUNG! JAGA JINAN HYUNG-KU NEE?!"

" iya bocah, aku dihadapanmu. Tak perlu berteriak -_-"

" hehe"

.

.

Junhoe berlari menuju rumah lamanya, Ia harus cepat dan segera kembali ke rumah sakit. Ia tentu tidak tega meninggalkan Jiwon sendirian, apalagi dengan kejadian tadi pagi. Membuatnya semakin cemas, apakah Jiwon benar-benar manusia?

Langkahnya berhenti tepat setelah matanya menangkap siluet namja di depan pagar rumahnya. Ia tak pernah melihat orang ini sebelumnya. Orang itu menatap cemas ke arah rumah yang telah di amankan beberapa polisi. Bibirnya kemudian tersenyum manis setelah melihat Junhoe.

" annyeong.."

" ah! Donghyuk-ah, kenapa kau ada di sini? Kau tahu rumah ini?"

" em, aku teman sekelas Jiwon hyung. Dan ngomong-ngomong kenapa dengan rumah ini? Dan Jiwon hyung-"

" kita bicara di tempat lain saja, tunggulah sebentar. Aku akan mengurus beberapa hal terlebih dahulu"

Donghyuk mengangguk dan menatap Junhoe yang berbincang dengan beberapa anggota polisi. Ia juga baru ingat kalau rumah ini sebelumnya milik Junhoe, seperti yang dikatakan Jiwon. Tapi membicarakan Jiwon, kemana saja orang itu selama seminggu ini?

.

.

" seperti yang kau lihat sekarang, Jiwon hyung koma. Ia hampir saja dibunuh oleh seseorang"

Donghyuk menutup mulutnya tidak percaya, matanya berair melihat alat-alat medis yang mengitari tubuh Jiwon. Hidupnya yang tergantung pada alat itu, membuatnya miris.

" siapa yang melakukannya? Orang itu sudah keterlaluan, memangnya apa salah Jiwon hyung?"

" ani, sebenarnya aku yang memiliki masalah dengan pembunuh itu. Ia mengira aku masih tinggal di rumah lamaku. Dan entah bagaimana caranya orang itu justru menghabisi Jiwon hyung. Tapi aku sempat mendengar orang itu ingin membalas dendam akan sakit hatinya"

" ha? Masalah apa sebenarnya.., aku tidak mengerti?"

" hanya masalah bisnis dan uang, tapi untuk sakit hati itu aku juga tidak tahu"

Tiittt tiitt tiitt

Junhoe dan Donghyuk terlonjak kaget mendengar suara itu, indikator denyut jantung Jiwon.

" HYUNG?! Cepat panggil dokter, Donghyuk-ah!"

Donghyuk dengan panik segera keluar ruangan, Junhoe memencet alarm dengan brutal.

" JIWON HYUNG! JANGAN MENAKUTIKUU! KAU INI"

Brak!

Donghyuk masuk sambil menyeret Jinwoo, dokter itu sedikit meringis karena tangannya ditarik kuat.

" UISA-NIM! TOLONG SELAMATKAN JIWON HYUNG-KU!"

" iya, tapi tolong keluarlah sebentar"

Donghyuk dengan cepat menarik Junhoe keluar ruangan, Ia ingin dokter itu segera menangani Jiwon.

Junhoe terduduk di depan pintu, Ia menagis dalam diam. Jangan sampai Ia mendengar sesuatu yang tidak Ia inginkan. Sementara Donghyuk hanya berdiri sambil menggigit bibirnya cemas.

.

Jinwoo memanggil beberapa perawat dan menyiapkan alat kejut jantung elektrik. Tangannya sudah siap untuk mengejut jantung Jiwon. Namun sebelum alat itu menyentuh kulitnya, nafas halus Jiwon kembali terdengar.

"eoh?"

Jinwoo dan beberapa perawat yang ada di sana terkejut, antara heran dan lega. Heran karena pasiennya yang seolah sedang mempermainkannya dan lega karena pasiennya masih hidup.

Setelah menunggu dan memastikan bahwa Jiwon baik-baik saja, Jinwoo kembali merapikan peralatannya dan berjalan keluar ruang inap.

.

" tuan Goo?"

Junhoe mendongak linglung, matanya sembab dan hidungnya memerah. Tak jauh beda dengan Donghyuk yang masih mengusap hidungnya dengan tissue.

" tuan Jiwon baik-baik saja, apalagi dia sudah melewati masa koma. Meski kondisinya masih kritis"

Junhoe refleks berdiri dan melonjak senang, Donghyuk yang mendengar kabar baik itu segera berdiri mengucap terimakasih.

" tuan Goo, ada yang perlu saya sampaikan mengenai kondisi tuan Jiwon"

" hm! Dimana kita harus bicara?" jawab Junhoe semangat. Mood-nya pulih dengan begitu cepat.

" di ruangan saya, mari ikuti saya"

" geure, Donghyuk-ah kau jaga Jiwon hyung ne?"

Donghyuk mengangguk semangat, setelah melihat Junhoe berlalu Ia segera memasuki kamar inap Jiwon.

Ia mengatur nafas, dan mendekat ragu. Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Ia duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam lembut tangan hangat Jiwon.

Bibirnya tersenyum, " aku bersyukur hyung baik-baik saja."

" tapi, kenapa membolos kuliah selama itu? apa saja yang hyung lakukan?"

" tidak pernah mengangkat telfonku, pesanku juga tak kau balas. Kau marah padaku?"

Jiwon tetap bisu, Donghyuk tersenyum maklum. Jiwon memang belum sadar sejak kemarin.

" Jiwon hyung, aku-" wushh!

Donghyuk berjengit, Ia mengusap tengkuknya yang merinding tiba-tiba.

Sesuatu baru saja melintas dibelakangnya, tapi Ia tak tidak mengetahui apa itu.

Tangannya yang masih menggenggam tangan Jiwon terasa menghangat. Jiwon mengeratkan genggamannya pada Donghyuk, matanya menutup erat.

" ..bin-ah"

Air mata meleleh dari matanya yang terpejam, Donghyuk mengerjab. " bin-ah? Nugu?"

Sedetik kemudian genggaman itu melonggar, Donghyuk segera mengusap air mata Jiwon. Setelahnya Ia menekan alarm, Ia harus memberitahukan perkembangan Jiwon pada dokter.

Sementara itu..

" saudara Jiwon mengalami luka yang berat dan kehilangan banyak darah. Tapi saya heran, sel darah merah di tubuhnya memproduksi hb dengan cepat."

Junhoe menajamkan pandangannya, Ia juga merasakan ada yang aneh dengan Jiwon hyung. Apalagi saat dulu Ia pernah menangkap basah Jiwon sedang berbicara dengan tembok.

" sehingga Jiwon-ssi tidak memerlukan donor darah. Dan lagi, lukanya juga sudah berangsur pulih. Lebih cepat dari pasien umumnya."

Junhoe tersenyum lebar, " baguslah, aku tak perlu repot mencarikan donor darah. Dan biaya inapnya yang kujamin pasti lebih murah karena dia akan cepat sembuh!"

Jinwoo tersenyum, bocah dihadapannya terlihat begitu bangga pada Jiwon. Ia jadi teringat suaminya yang sangat menyayangi adiknya. Meski adiknya tak pernah bersikap baik.

" hm, saya yakin juga begitu. Emm, sebenarnya Jiwon-ssi sempat berhenti bernafas sebanyak 3 kali. Namun dengan cepat pula nafas itu kembali stabil dan kondisinya justru membaik"

" ini adalah pengalaman pertama saya akan mukjizat Tuhan! Sebelumnya saya tidak percaya hal itu"

Junhoe tertawa lebar, " saya sering mengalami hal ajaib dengan Jiwon hyung, saya rasa memang ada yang unik darinya"

Pembicaraan mereka terhenti akibat alarm dari ruangan Jiwon berbunyi. Secepatnya mereka berlari ke kamar itu.

.

Setelah beberapa menit Jinwoo berjalan keluar bilik Jiwon menghampiri Junhoe dan Donghyuk, Ia tersenyum.

" saudara Jiwon berhasil melewati masa kritisnya, kita tinggal menunggu waktu sampai Jiwon-ssi siuman."

" sesuai dugaanku, cepat yang melebihi rata-rata" ujar Junhoe bangga.

.

.

" kau pasti tidak percaya kalau Jiwon hyung pernah ,ani. Dia sering berbicara sendiri di rumah!"

Donghyuk mengerjab bingung, Ia sedang mengobrol dengan Junhoe di ruang tunggu.

" mungkin dia sedang berlatih drama?"

" aniya! Dia juga menendang tembok itu dan mengatakan yang aneh-aneh. Seperti saranghae..mianhae, dan sebagainya. Orang gila itu"

Donghyuk tersenyum, " sebenarnya dia juga pernah mengusirku pergi dari rumahnya tanpa alasan, aku juga yakin aku tak berbuat salah sebelumnya"

" ha.., kau benar! Aku juga pernah seperti itu, malah dia menanyakan keadaan ummaku seperti ini.. Kim Hanbyeol, bagaimana kabarnya? Aku sangat merindukannya. Kau kira bagaimana perasaanku?! Ia seperti mengenal umma-ku lebih lama daripada appa-ku! Atau jangan-jangan dia menyukai umma-ku? Maldo andwae!"

Junhoe menirukan gaya Jiwon saat berbicara, Ia kemudian merinding geli. Donghyuk ikut tertawa, Jiwon itu pemuda yang unik.

" eoh, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Kau sudah kenal lama dengan Jiwon hyung kan?"

" hm, sebenarnya istriku lebih dekat dengannya. Tapi tak apa, mungkin aku tahu jawaban atas pertanyaanmu"

Donghyuk mengingat dengan teliti, " apakah kau tahu seseorang bernama Bin-ah? Begitu Jiwon hyung mengatakannya. Ia tak mengucapkan kata sebelumnya dengan jelas"

" mwo? Bin-ah? Seperti pernah mendengar nama itu.. apa nama depannya?"

" aku tak tahu, dia menggumam tak jelas tadi."

Junhoe menajamkan matanya, bin-ah..

" apakah... Wonbin? Kim Wobin? Ani ani. Robin? Aish"

Donghyuk menatap malas pada Junhoe, sifatnya yang ajaib ini belum berubah sejak dulu.

.

Jinwoo tersenyum mendengar suara rengekan suaminya, Ia tidak bisa bertemu dengan suaminyanya sampai esok lusa.

" gwenchana, kau di rumah saja. Aku baik-baik saja di sini"

" tapi aku merindukanmu sayanngg~ aku bosan di rumah"

" jangan seperti anak kecil, kau sudah menjadi suamiku sejak seminggu kemarin"

" tapi Jinwoo-ya, aku ingin bertemu denganmu.."

" aku akan pulang kalau pasien favoritku sudah sembuh"

" hm? Kau punya pasien favorit? Jangan-jangan kau menyukainya?!"

" hah~ aniya, aku hanya senang dengannya. Dia begitu unik, atau boleh kusebut aneh?"

" Jinwoo-ya~ aku menengokmu sebentar saja ne?"

" tidak boleh! Take care of ur little brother Choi Minho-ku sayang"

" aish! Arraseo..pokoknya kau cepat pulang!"

" aku tidak janji, dadah suamiku~"

Pip

Sambungan terputus sepihak oleh Jinwoo, pemuda itu tertawa jahil. Suaminya pasti mengumpat tak jelas di rumah.

.

.

Jinhwan memakan makan malamnya dengan malas, Junhoe belum juga pulang sejak tadi pagi. Menelfon saja tidak, padahal dia sendiri yang bilang hanya keluar sebentar.

" ya.., Jinhwan hyung. Makanlah dengan benar, aku yang bertanggung jawab atas dirimu saat ini. Bagaimana jadinya kalau June memarahiku nanti?"

Jinhwan tersenyum paksa, Ia kembali diam. Apa sebenarnya yang disembunyikan Junhoe darinya?

" hyung, ayo makan. Kasihan bayimu nanti, ok?"

Jinhwan mengangguk, tapi sebelumnya Ia mengambil ponselnya dan mendial seseorang.

.

Jinhwan hyung, calling..

Begitu yang tertera di layar handphone, Junhoe berjalan bolak-balik karena panik.

Seharian ini Ia tak pulang dan bahkan menyempatkan diri menghubungi istrinya. Dan lihatlah sekarang, istrinya justru menelfon Jiwon.

" aigoo..,bagaimana aku harus mengatasi ini?!"

Jinhwan menghela nafas, panggilannya tidak diangkat. Apakah Jiwon baik-baik saja?

Ia begitu khawatir pada adik kelasnya itu, Jiwon begitu baik dan perhatian padanya. Setelah Junhoe pastinya. Makanya Ia menganggap Jiwon seperti adiknya sendiri.

Jinhwan tersadar saat ponselnya bergetar, nama Junhoe ada di sana.

" yeobo-"

" Jinan-hyung mianhae..,aku lupa tak mengabarimu seharian ini. Aku yakin kau sedang marah padaku.."

" ani, aku tidak marah. Tapi, sebenarnya kau ini ada di mana sekarang? Kau tidak pulang?"

"…mianhae hyung."

" jangan menyembunyikan sesuatu dariku June-ah..,jebal"

"…aku tidak bisa hyung. Aku akan memberitahumu saat waktunya tepat"

" apakah kau me-"

" ANIYA! Pokoknya bukan berkencan dengan wanita atau pria lain. Aku hanya mencintaimu, kumohon bersabarlah"

" hah~ kau tidak pulang? Aku..rindu"

" nado..,aku akan pulang secepatnya. Janji"

" geure..hiks!"

" ani- HYUNG! JANGAN MENANGIS AISH!"

" hiks..annyeong"

" HYUNG! CHAKAM-"

Tuut tuut

Jinhwan menutup mulutnya, di depannya Taehyun sudah tertawa terbahak-bahak.

" bagus hyung! Bocah itu harus kau beri pelajaran, ahaha!"

Jinhwan akhirnya tertawa juga, Ia sedikit lega setelah mengerjai suaminya.

" YAAA…!"

Junhoe mengacak rambutnya asal, Ia panik. Ingin pulang dan menemui istri tersayangnya, tapi Jiwon belum juga sadar. Apalagi Donghyuk sudah pulang, temannya ada tugas kuliah esok.

Akhirnya Junhoe bersimpuh di samping ranjang Jiwon, tangannya mengatup sambil memohon.

" Jiwon hyung~ ireonaaa..,jebal. Kau tak kasihan padaku? Ani. Pada Jinan hyung?"

Jiwon tak bergerak, masih diam seperti sebelumnya.

" Jiwon hyung..~ istriku kesepian di rumah, dan dia merindukanku. Kau enak masih ditemani orang tampan sepertiku, tapi istriku?"

Tidak ada reaksi sama sekali dari Jiwon, Junhoe sudah merengek sambil menggigiti bibirnya.

" Jiwon hyung.., kau tidak boleh balas dendam padaku seperti ini! Kau tidak adil!"

Jinwoo diam-diam mengintip di balik pintu ruang inap Jiwon. Bibirnya bergerak lucu menahan tawa, rupanya bukan Jiwon saja yang aneh. Adik iparnya justru lebih parah.

" June-ah, kau pulang saja. Biar aku yang menunggu hyung-mu"

Junhoe menoleh kaku, Ia segera berdiri dan memasang wajah sok nya. Malu lah ketahuan manja sama Jiwon.

" jjeongmalyo? Uisa-nim?"

" hm, jangan panggil aku seperti itu. Jinwoo saja"

" hehe, arraseo Jinwoo hyung. Tapi apakah tak apa kau sendirian?"

" siapa bilang aku sendirian?"

TBC

N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.

Thanks to : riani98, Kkeynonymou, Double BobB.I, EunhyukJinyoung02, Soyu567, Ibob, parkcheonsafujoshi.

mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.