"Rupanya Aomine-kun. Ada keberatan?" Menyembunyikan gurat terkejut, Tetsuna memandang datar seperti biasa. Ini titik darah penghabisan. Dia bersumpah selesai bersandiwara. Menunjukkan 'taring' di balik bibir yang tertutup senyum.

"Kebohonganmu memuakkan. Kau tinggal berkata jujur, apa sulitnya?" Desak Aomine naik satu oktaf. Meski lawan di mata adalah Tetsuna, dia membenci kata mundur.

"Perhatikan baik-baik. Di bagian mana aku berbohong?" Semudah menutup luka di wajah. Tetsuna menabur tebal-tebal 'bedak' yang memudarkan dustanya. Meski hati remuk redam oleh memar, bekas pukulan Momoi dan perhatian Akashi.

"Kali ini firasatku yang bermain. Tidak mungkin salah."

"Hoh…. Kau yakin sekali? Kita lanjutkan kapan-kapan. Aku mau pulang." Ace tim basket sekalipun bisa apa? Bola dan pikiran manusia jelas berbeda. Sulit menebak apalagi mengendalikan, malah memainkan firasat, dasar bodoh.

"Ayo pulang bersama-sama. Kau hutang maaf, Satsuki."

Mereka pergi meninggalkan daun pintu. Sekolah yang sudah sepi dengan empat murid menonton, berbisik heboh sepanjang perjalanan. Perdebatan selalu menyenangkan jika Akashi ikut serta, terlebih ini konflik antar klub basket, santapan hangat untuk seminggu ke depan atau bisa disebut, cinta persegi panjang, huh? Judul topik yang pasti menyita seluruh perhatian. Pihak jurnalistik akan mendapat keuntungan dua kali lipat.

Sementara para penonton asyik sendiri. Tetsuna dan Akashi lebih memilih sunyi yang dibungkus langit malam. Bintang-gemintang tumpah ruah. Langit tak bersapu awan menjadikan pemandangan amat indah.

"Sesekali lihatlah ke atas. Langitnya indah." Menyindir Tetsuna yang terus menunduk. Dia langsung memicingkan mata, apa pedulimu?

"Oh. Ada bintang jatuh." Benar saja. Perhatiannya tersedot menatap hamparan hitam itu. Memejamkan mata erat, sambil melempar permohonan yang tergantung-gantung menerobos langit. Melewati bukit menuju tempat para malaikat berkumpul.

"Jadi, apa doamu Tetsuna?" Kembali membuka mata. Akashi sudah mendekatkan wajahnya duluan. Membuat mati kutu.

"Menjauhlah. Aku meminta pada malaikat, bukan kau."

"Ya. Daripada membahas itu, bukankah kau berhutang penjelasan padaku?" Pantofel senada cokelat valentine sontak terhenti. Tetsuna mengernyitkan dahi heran, permainan teka-teki lain, kah?

"Tidak. Jangan mengada-ada. Akashi-kun pikir aku anak kecil yang mudah ditipu?"

"Belum mengerti, ya? Apa maksudmu, 'hanya Aomine-kun yang bisa menyelamatkaku, bukan kamu atau siapa pun'? Masih ingin mengelak?"

"Rahasia. Memang kamu tau apa? Hubungan kita sebatas teman, camkan itu." Semakin diusir Akashi justru tambah penasaran. Namun apalah artinya jika Tetsuna menolak. Mereka berpisah di depan gerbang rumah.

Perpisahan itu benar-benar dipaksakan. Ruang makan dipenuhi suara sumpit yang beradu dengan mangkuk. Sesekali disemprotkan cerita garing ayah atau pertanyaan, seputar sekolah, Akashi Seijuuro, pelajaran dan lain-lain. Tetsuna mengutuk nama tersebut. Bolehlah dia jadi Ibu Malin, supaya dapat mengutuk menjadi batu lalu dibuang ke laut. Sayang seribu kali sayang. Sejauh ini belum ada catatan kesalahan.

Gara-gara Akashi membuktikan terang-terang, Momoi yang sebenarnya menanggung.

"Tet-chan terlihat galau." Tanya Ibu berhenti menyuap sayur ke mulut. Pikiran beliau melayang-layang ke negeri antah berantah, semacam konflik anak muda di masa pacaran, ketika buah kasmaran bersemi di musim sakura. Ah, entahlah, siapa tahu?

"Maaf aku duluan. Ada PR."

Bagai pembohong ulung, lidah Tetsuna berhenti bergetar tiap mengarang alasan. Ia menaiki tangga perlahan, ditemani keriat-keriut sepanjang menoreh langkah. Gerendel pintu dibuka ke kiri. Nampaklah kama yang tertata rapi dari berbagai sudut. Pertama kali tangannya meraih handphone di meja. Jam digital bertuliskan 18:30 dan satu pesan sebagai permulaan, siapa lagi kalau bukan Akashi.

From : Akashi-kun

Selamat malam, Tetsuna. Kau belum mau, menyerahkan permohonanmu pada malaikat merah ini?

To : Akashi-kun

Sampai meninggal pun tidak akan kubocorkan. Ini rahasia antar aku dan malaikat.

From : Akashi-kun

Baiklah, baiklah. Setidaknya bersikaplah lebih lembut padaku.

To : Akashi-kun

Ditolak. Maaf aku sibuk.

Berhenti. Terlihat jelas Akashi menghormati apa pun perkataannya. Dia hanya bercanda, meskipun tau Tetsuna bukan tipikal yang mudah diajak tertawa. Tersenyum juga dapat dihitung menggunakan jari tangan tambah dua di kaki. Bingung mengakali bosan. Sepasang netra musim panas itu lamat-lamat memperhatikan lembar kalender. Sekarang bulan April. Seminggu telah berlalu dengan benang suka-duka.

"Berapa banyak waktu yang sudah kuhabiskan?" Gerutunya menopang dagu malas. Tinggal tiga hari lagi dan genap dua minggu. Benar-benar menguras setiap menit bergilir detik.

"Aku tidak akan 'pulang' tanpa membawa apa-apa."

Kesempatan terakhir demi meraihnya.

Sementara Aomine dan Momoi….

Mereka menetap di taman kota sesaat. Berlindung di bawah pohon sakura bermandikan cahaya rembulan, seindah mentari siang memancarkan hangatnya kasih sayang. Angin melewati sela-sela telinga. Lembut. Momoi sendiri melingkarkan ujung surai. Berusaha mengusir bosan terutama gundah. Siapa sangka Akashi menyadari hal tersebut. Bahwa ia memang membenci mereka jika bersama. Menolak kenyataan sang absolut menyukai Tetsuna.

"Hoi Satsuki. Sampai kapan kau terus keras kepala?" Memecah sunyi yang melingkup. Aomine memutuskan buka mulut.

"Besok aku pasti minta maaf, Dai-chan tenang saja."

"Lalu kenapa kita di sini? Ayo pulang. Aku kelaparan."

"Menurutmu Akashi-kun akan membenciku?"

"Siapa tahu? Dia orang baik walaupun menyebalkan. Pantas saja kau menyukainya." Ya. Semua orang mencintai Akashi. Itu lebih dari cukup menggambarkan perhatian mereka. Aomine sebatas dipandang pemain terbaik, berbeda.

"Dai-chan cemburu?"

"Ti-tidak. Kata siapa?! Aku lebih suka Mai-chan." Salah…. Dia terlalu pengecut untuk mengakuinya. Selama Momoi mencintai sosok Akashi. Bayangan Aomine hanyalah samar-samar tanpa sorot lampu. Tak berarti.

"Hahaha…. Dai-chan mesum! Ayo pulang."

"Satsuki boleh mencintai Akashi, tapi dia tetap milikku sampai kapan pun."

Benar. Mustahil terelakan olehnya.

Esok hari….

Kriing… kriing… kriing….

CKLEK!

Jam weker dan bulatan merah kalender yang pertama kali menyambutnya, disusul kicauan burung gereja bertengger kokoh di batang pohon. Tetsuna mengusap mata lelah. Dia tertidur sangat lama. Berulang kali jatuh dalam mimpi yang membangkitkan nostalgia. Musim semi dinyatakan berlalu usai membawa warna merah muda di bumi. Bunga sakura telah rontok mengering sejak kemarin, digantikan panas yang mencucurkan keringat.

Tap… tap… tap….

"Berita hari ini : terjadi kebakaran di…." Ayah menonton televisi di ruang tamu, sambil melahap sepotong roti panggang setengah gosong. Tetsuna memutuskan ke ruang makan.

Biasanya ibu menyapa selamat pagi, kemungkinan beliau asyik memoles selai variasi terbaru : stroberi bertimpakan kacang almond. Tetsuna tak banyak komentar maupun bertanya. Dia tidak peduli seakan tau yang terjadi selanjutnya. Ya, bertanya kemana putri semata wayang mereka menghilang. Sepasang selop pink berlari menaiki tangga. Mencari-cari keberadaannya yang lenyap ditelan angin. Tanpa menyisakan setapak pun jejak.

Tetsuna sadar betul.

"Aneh. Tet-chan kemana, ya?"

"Ayah. Ibu. Aku berangkat dulu ke sekolah." Sia-sia. Hanya terdengar desahan khawatir yang memenuhi langit-langit. Tetsuna berhenti mendapatkan restu.

TAP… TAP… TAP… TAP….

"Selamat pagi, Tetsuna." Tercegat di tempatnya, ia terdiam. Seperti biasa Akashi menyapa. Tersenyum kecil dan mereka berangkat bersama. Mungkin ini termasuk keajaiban dunia. Ketika beberapa mulai melupakan. Justru seseorang mengingatnya.

"Kau bisa melihatku?"

"Candaan terbaru? Kamu berada di sebelahku. Jangan membuatnya terdengar aneh."

"Tapi Akashi-kun, aku…. Lupakan. Ayo bergegas."

Bukankah gawat untuknya? Tetsuna berani menanggung segala konsekuensi, kecuali dilupakan Aomine sebelum perasaan itu sampai. Perlahan tapi pasti mereka mulai lupa. Guru, Momoi dan anggota tim basket, seakan mimpi buruk datang menghampiri. Bulatan merah di kalender semakin dekat. Tanggal 15 April, ketika mereka berpisah di taman kota, mirip dengan Akashi yang menyapa sekaligus menjadi teman pertama.

Perpisahan dan pertemuan silih berganti.

"Waktuku tinggal tiga hari lagi." Parahnya Aomine lupa duluan. Tetsuna berharap malaikat memberi sedikit bantuan. Tidak perlu mengabulkan permohonan, cukup memperpanjang saja….

"Eto…. Dai-chan kau melihat Tet-chan? Aku tidak menemukannya di mana-mana."

"Entahlah. Kurasa dia semacam menghilang? Sulit dijelaskan. Terkadang ada namun lebih sering lenyap. Tetsu memang aneh sejak awal bertemu. Tidakkah kau rasa…."

"Atensi setipis kabutnya membawa tanda tanya besar? Kemudian sekarang makin menebal?"

"Ini buruk…. Aku belum mau mengibarkan bendera putih." Mengepalkan tangan kesal. Tetsuna tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengembalikan hawa keberadaannya di sini.

"Sekarang ceritakan padaku, satu-satunya orang yang bisa melihatmu, Kuroko Tetsuna."

Meski benci mengakuinya, perkataan Akashi benar.

"Ditolak, Akashi-kun. Masih ingat perkataanku? Hanya Aomine yang bisa." Lewat sorot matanya. Bocah merah itu enggan mengalah sekarang. Biar kali ini saja ia melawan. Semua demi kebaikan Tetsuna.

"Perkataanmu ganjil. Daiki mulai melupakanmu. Bagaimana mau menyelamatkan? Ini tidak masuk akal."

"Karena kau bukan dia, melainkan Akashi-kun." Seakan berisyarat, 'jika bukan Aomine maka mustahil'. Koridor lengang sejenak. Momoi masih sibuk mencari Tetsuna yang berjarak dua meter darinya, dekat.

"Apa aku harus menjadi Daiki agar engkau mencintaiku?" Mereka berbeda. Posisi tim basket. Tinggi badan. Warna kulit. Akashi menolak berpura-pura. Tetsuna harus dicintai oleh dirinya yang asli, bukan kloning.

"Tidak perlu. Cukup jauhi aku dan biarkan sisa kehidupan bekerja."

Berbalik badan, Tetsuna membelakangi Akashi yang terdiam, sibuk mencerna ucapannya. Jam istirahat berakhir. Tersisa satu kesempatan yakni pulang sekolah. Tiga hari akan melesat cepat bagai peluru, sama sekali tidak berarti jika perpanjangan dibatalkan. Malahan besok atau besok lagi dia keburu lenyap tanpa jejak. Di kelas ia asyik sendiri memperhatikan Aomine. Seperti biasa, sesekali menguap, menidurkan kepala bosan, mengkorek telinga.

Tetsuna selalu menyukainya.

KSEK… KSEK… KSEK….

PLUNG!

"Hoi siapa yang melemparnya?!" Ala komandan mendidik para pejuang. Bariton Aomine terdengar menggelegar di langit-langit kelas. Sejenak mereka terdiam. Kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Pulang sekolah temui aku di halaman belakang.

"Surat kaleng? Padahal aku ada latihan. Biarlah. Kelihatannya tidak bahaya."

"Kuharap Aomine-kun mau datang."

"Hnn…. Suara Tetsu? Benar kata Satsuki, aku kurang tidur sampai berkhayal."

Tak ada bedanya dengan awal masuk. Penyelamatan di tangga. Awal bertemu. Foto di hari Minggu. Semua hanya mimpi indah sekarang.

Pulang sekolah….

Beberapa waktu terakhir sebelum mengurus surat kaleng. Aomine menemui teman-temannya meminta pendapat, termasuk Akashi dan Momoi yang datang tidak diundang. Sebagian berpendapat, "lebih baik diabaikan". Kise beda sendiri dengan berpesan, "temui saja, ssu". Jika dia menjadi pemuda tan, pasti diterima walau mengancam nyawa sekalipun. Lagi pula ini lingkungan sekolah. Mana mungkin ada teror?

"Baiklah. Aku minta waktu lima menit."

"Menurutku kita harus mengikutinya. Ayo Satsuki." Asalkan sang raja berkehendak, maka Momoi bersedia menjelajahi amazon sekalipun.

Diekori sepasang muda-mudi. Aomine yang kurang peka terus berjalan maju. Kali ini terkaget-kaget melihat Tetsuna berdiri di sana, tengah menunggu seseorang tidak lain dirinya. Akashi bersembunyi di balik tembok, diikuti Momoi walau dia tidak tau ada apa di depan. Angin berhembus kencang. Kelopak sakura yang tersisa berguguran berkelana. Hanya menyisakan senyap tak berujung.

"Kau benar-benar Tetsu? Bukankah…."

"Lupakan masalah aku pergi kemana." Aomine mengangguk paham. Dia gagal memahami apa yang terjadi, selain Tetsuna berwajah serius entah gara-gara apa.

"Aku menyukaimu, Aomine-kun."

Tik… tok… tik… tok….

"H-hah….?! Ka-kau menyukaiku? Tapi bagaimana bisa? Kita baru berteman seminggu. Tiba-tiba kau…."

"Itulah kenyataannya. Waktuku sedikit untuk mengenalmu. Namun perasaan ini jelas, tidak keliru. Jadi, apakah Aomine-kun…."

"Maaf. Sejujurnya aku menyukai Satsuki." Untuk terakhir kali. Tetsuna kembali merasakan sesak dalam dada. Dia gagal mewujudkan harapan terakhir. Dia 'pulang' tanpa membawa apa-apa. Malaikat tidak mau memperpanjang waktu.

"Jelaskan pada kami berempat, Tetsuna. Berhentilah menyembunyikan semuanya."

Pada akhirnya, hetekronom Akashi yang selalu tepat menangkap keberadaan Tetsuna.

Bersambung….

Balasan review :

Mari : Hihihi gak apa-apa kok, meski aku kangen sih sama review kamu. Sepi jadinya ini fanfic. Maaf Mar penyakit lama, lupa mulu mau dikasih pembatas yang kayak garis panjang itu lho. Bukan cuma pembatas pendek. Thx ya udah review.