FREAK

Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.

Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.

Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?

.

.

this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.

.

.

.

Seungyoon berdiam diri di ruang tamu rumahnya. Tidak ada Taehyun istri tercinta, dan justru temannya yang menemani, Seunghoon.

Menyebalkan sekali, sebulan yang lalu Ia menikahi Taehyun dan kemarin Ia baru saja pulang bekerja. Bukannya menghabiskan malam manis dengan Taehyun, Ia justru ditinggal sendirian. Junhoe menggagalkan semuanya rencananya.

Taehyun diminta untuk menemani Jinhwan, sementara bocah itu sendiri entah kemana.

" sudahlah Yoon. Ikhlaskanlah istrimu.."

" tapi Hoon, aku belum menyentuhnya sama sekali. Tega benar Junhoe melakukan ini padaku?"

" hah~ kau ini berpikir dewasalah sedikit. Junhoe pasti ada alasan melakukan ini. Lagipula tak mungkin Ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil itu."

Seungyoon mengangguk, " haha, padahal mereka baru menikah seminggu setelah aku. Tapi Jinhwan sudah hamil aja. Cepat bertindak rupanya, Goo Junhoe"

" kau jangan mau kalah dengan bocah itu, aku juga ingin cepat-cepat dipanggil paman"

Seungyoon memasang ekspresi tak senang pada Seunghoon, " kau pikir bagaimana caranya? Taehyunnie-ku sedang tak di sini"

Seunghoon tersenyum bodoh, " mian, aku hanya mencoba menghiburmu"

" AKU PULAANNGGGG..!"

Seungyoon berdiri dan berlari cepat menuju suara itu, Seunghoon hanya tersenyum maklum.

" CHAGIYAAA~ akhirnya kau pulang. Tapi apakah kau pulang sendirian, kenapa tak memberitahuku? Aku bisa menjemput-"

Cup

" June dan Jinhwan hyung mengantarku, kau jangan khawatir hyung"

Sempat terdiam, akhirnya Seungyoon tersenyum lebar. Selebar-lebarnya.

" geure, ayo kita.."

" aku tahu, tapi bagaimana dengan Seunghoon hyung?"

Pandangan mereka teralihkan pada Seunghoon yang pasang muka bahagia.

" aku di sini aja gapapa kok, hehe"

Seungyoon udah ngerti arah pembicaraan temen yadongnya ini, " jangan harap kau mau mengintip"

" PULANG SANA! UDAH GAK BUTUH"

Taehyun tertawa cantik, Seunghoon berjalan lemas sampai dekat pintu dan berhenti sambil menyodorkan tangannya. " ongkosnya?"

" sialan"

.

" June-ah, sebenarnya Jiwon itu sedang apa sih? Sejak kemarin aku menghubunginya tetap saja tidak bisa"

Pemuda yang ditanyai tetap berkonsentrasi menyetir, sesekali Ia menguap. Jinhwan menunduk, apakah June marah padanya?

" kenapa kau menipuku hyung? Aku sedang sibuk tadi.."

" hiks.., apakah kau marah? Kenapa kau tetap tak menyukai Jiwon dari dulu. Hiks..dia hanya teman baikku.."

Junhoe melirik Jinhwan yang menggigit bibir tipisnya menahan tangis, Ia sebenarnya tak tega. Tapi bukan itu masalahnya, Ia tidak marah. Apalagi karena Jiwon,..Ia memang tidak suka orang itu, tapi tetap saja Jiwon itu pemuda yang baik.

" ani, aku tidak marah karena hal itu. Ini tidak ada sangkut pautnya denganmu hyung"

" tapi aku hanya bertanya keadaan Jiwon padamu..,hiks! Dan kau mendiamkanku.."

Mobil itu menepi dengan tajam, Jinhwan mengerjab panik. Jalanan ini sangat sepi dan gelap.

" June-ah?! Apa yang kau lakukan?"

Kedua tangan Jinhwan sudah terkunci dibelakang tubuhnya, Junhoe menyudutkan istrinya dengan cepat.

" eungg..h, umpp!"

.

Junhoe menatap Jinhwan sayang, Ia tersenyum manis setelahnya.

" Jiwon hyung baik-baik saja, kita akan mengunjunginya lusa"

Jinhwan masih menutupi bibirnya yang basah, Ia malu. Junhoe dengan berani menciumnya di tempat umum. Bagaimana jika ada yang melihat? Bisa dikira pemerkosaan. Haha

" jangan ditutupi, bibirmu sexy lho~ hehe. AW!"

Junhoe mengusap lengannya yang memerah akibat cubitan Jinhwan. Tapi akhirnya Ia tersenyum, Jinhwan-nya tak lagi menangis.

" kau lebih cantik bila tertawa, jangan menangis lagi ne?"

Jinhwan mengangguk antusias, senang karena ternyata Junhoe tak marah dan juga keadaan Jiwon yang baik-baik saja.

" kenapa lusa June-ah? Kita biasanya seminggu sekali ke rumah Jiwon.."

Jinhwan merengek sambil menggelayuti lengan Junhoe, sedangkan pemuda itu hanya meringis panik.

" kapan-kapan saja, aku dan dia sama-sama sibuk belakangan ini."

Jinhwan kembali memberengut, matanya sudah berkaca-kaca dan Ia melepas tangannya dari Junhoe.

Panik, Junhoe segera menarik dan memeluk Jinhwan erat. Sudah cukup seharian ini istrinya menangis, dan Ia sungguh tak suka itu.

" Ok! Ok! Besok. Kita mengungjungi Jiwon hyung besok, arra? Atau kau mau apa lagi sebelum kita pulang?"

Junhoe mengusap pipi halus istrinya sambil menunggu Jinhwan berpikir, " samgyetang 2 porsi, dan burung gereja 2 ekor. Ah! Dan juga boneka tiger yang sedang tengkurap!"

Junhoe mau tak mau tersenyum mengiyakan permintaan istrinya, toh nanti di perjalanan pasti Jinhwan akan tertidur.

.

.

Jiwon tertawa dalam mimpinya, entah apa tapi dia begitu gembira. Padahal Ia ingat betul dengan kejadian yang menimpanya 2 hari yang lalu. Ia kehilangan lagi Hanbin-nya.

Jiwon mengalirkan air mata. Tidurnya sangat nyenyak, namun hatinya menangis. Ia sebenarnya sedih, hanya otaknya saja yang selalu menutupi hal itu dengan tertawa.

' Bobby-ah..,apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tak mau lagi hidup. Dulu, aku mengatakan kalau kau bodoh karena bunuh diri hanya demi Hanbin. Tapi sekarang aku tahu bagaimana sakitnya hatimu. Aku tahu bagaimana yang kau rasakan.. karena aku merasakannya sekarang'

' kalau memang aku benar, katakan padaku. Bahwa ini semua memang sudah berakhir'

Jinwoo menaikkan selimut Jiwon, Ia tersenyum manis sambil mengusap air mata yang mengalir dari mata pasien kesayangannya.

" mianhae, jika aku tahu bagaimana harus membantumu? Kau pasti tidak akan semenderita ini. Cepatlah kembali Jiwon-ah, kasihan adikmu Junhoe.. kasihan juga keluargamu nanti"

Jinwoo menarik nafasnya dalam, Jiwon kembali membuatnya panik tadi. Nafasnya sempat berhenti selama 5 menit, dan itu sukses membuatnya kalang kabut. Ia juga tidak sempat mengabari Junhoe, Ia terlalu panik tadi.

" beraninya kau mempermainkanku Jiwon-ah, kau ini benar-benar."

.

Pagi itu, Junhoe menggandeng tangan Jinhwan menuju sebuah rumah sakit. Ia berkali-kali menghela nafas, menghilangkan kekhawatirannya. Bagaimana reaksi Jinhwan kalau tahu Ia berbohong tentang keadaan Jiwon nanti? Ia tidak siap, benar-benar tidak siap.

" kenapa ke rumah sakit? Kita akan cek kandungan ya?"

" eung, Jinan hyung mianhae.. aku menyembunyikan hal ini darimu beberapa hari yang lalu. Tapi aku melakukannya demi kebaikanmu, sekali lagi aku minta maaf atas apa yang akan kau lihat nanti" jujur, perkataan Junhoe membuatnya khawatir.

Jinhwan menahan nafasnya saat akhirnya Junhoe menghentikan langkah mereka di depan ruang ICU. Otaknya sudah memikirkan hal-hal buruk tentang Jiwon. Apalagi perkataan Junhoe tadi membuatnya semakin takut.

" mianhae hyung.."

Pintu itu terbuka perlahan, menampakkan sesosok yang berbaring dalam diam di atas ranjang. Mata Jinhwan membelalak lebar..

" annyeong.., kiyeowo~"

Sosok itu duduk bersandar kepala ranjang dengan santai, tangannya mengamit sebuah majalah. Ia dengan tenang membaca majalah itu.

Junhoe mengernyit bingung, bukannya Jiwon masih tak sadarkan diri kemarin? Terlebih kalau dia sudah sadar kenapa Jinwoo tak memberi tahunya?

" kenapa kau diam di sana? Kalau yang kau pikirkan adalah dokter yang menanganiku, dia ada di sana"

Pandangan Junhoe teralihkan pada sofa di sudut ruangan tempat Ia biasa tidur sambil menunggui Jiwon. ' kenapa Jiwon hyung bisa membaca pikiranku?'

Bocah itu mendelik tak suka dengan apa yang dilihatnya. Jinwoo yang tidur di pelukan seorang namja dengan selimut menghangatkan keduanya. Hm, pantas saja.

Jinhwan berjalan cepat ke arah namja itu dan merebut majalahnya. Ia menghantamkan buku itu tepat ke kepala Jiwon.

" AW! YAKK siapa kau? Kenapa memukulku.." Jiwon berusaha melindungi kepala mahalnya.

Junhoe dan Jinhwan sama-sama membeku, apa yang barusan dikatakan Jiwon? Apa dia bersungguh - sungguh?

Isak pelan menyadarkan Junhoe untuk segera memeluk istrinya. Ia juga terkejut dengan yang didengarnya barusan.

" april mop! Ahahahaha…! Dasar Jinan hyung bodoh, apalagi kekasihnya-eh, maksudku suaminya! Buahahaaa"

Junhoe mendelik tajam, A-P-A?

" sial kau hyung! Jantungku hampir saja lepas dan kau hanya bercanda saja?!"

Jiwon tertawa keras, Jinhwan sudah tersenyum meski sesekali terisak. Syukurlah jika Jiwon baik-baik saja.

" kau harus mendapat pelajaran Jiwon bodoh!"

Bocah yang diteriaki berusaha melindungi kepalanya yang masih terbalut perban dari hantaman kaki Junhoe. Sedangkan Jinhwan terus menahan Junhoe yang ingin memukuli Jiwon.

" June-ah! Kepalanya terluka, kau jangan memukulnya.. kasihan Jiwon!"

Junhoe mengatur nafas memburunya, Jinhwan memastikan Junhoe tak lagi mengamuk segera memeluk Jiwon pelan. Tangan kecilnya meraba halus perban di kepala Jiwon.

" apa yang terjadi padamu Jiwon-ah? Hyung khawatir.. apalagi ini yang ada di kepalamu,ha?"

Jiwon tersenyum canggung. Junhoe menyungut, baiklah. Kali ini kau menang Kim Jiwon.

Tapp tapp

Seseorang tiba-tiba masuk tanpa permisi dan mengguncang pemuda yang tertidur di sofa.

" yak! Mino hyung, kembalikan mobilku. Dan- AISH! Pulanglah sekarang! Jangan membuatku malu!"

Sementara yang dibangunkan hanya mengerang pelan, matanya sulit terbuka. Jinwoo yang tersadar segera bangkit dan membantu membangunkan Mino, suaminya.

" Aish..,lupakan" ungkap bocah itu malas.

Kedua bola mata itu bertemu pandang dengan Junhoe yang membeku di samping ranjang Jiwon. Mata Junhoe membola melihat rupa dari orang itu.

" sam-samcheon? SAMCHEON!"

Sosok itu hanya melengos lalu melenggang pergi, sempat sebelumnya sosok itu mengumpati Junhoe orang gila.

Jinhwan buru-buru menggeplak suaminya " yak! Samcheon kepalamu! Dia itu terlihat seusia denganmu, apalagi dia kan adik orang itu"

Sementara Jiwon masih berusaha melihat dari celah sempit antara Jinhwan dan Junhoe. Dua orang itu menghalangi pandangannya.

" samcheon? Kau yakin June-ah?" Jiwon bertanya lirih, namun akhirnya Ia menggeleng pelan. Tidak mungkin, Ia melihat sendiri bagaimana Hanbin menghilang dari hadapannya. Itu kembali membuka luka hatinya.

" a-aku pulang sekarang Jinwoo-ya. Mianhae..jwesongeyo yeorobun"

Sosok yang diketahui bernama Mino itu berlari keluar ruangan sambil memanggil adiknya. Jinwoo tersenyum canggung sambil meminta maaf atas kericuhan yang disebabkan olehnya.

" aku minta maaf, karena aku kalian jadi terganggu. Dan Jiwon- JIWON-AH?! Kau sudah sadar..sejak kapan?!"

" haha, tadi pagi. Pukul 3, kau sedang tidur. Jadi aku tak mau mengganggumu dan eum suamimu mungkin?" Jiwon meringis, Ia tahu benar apa yang coba disembunyikan oleh dokter itu.

" tak usah malu, uisa-nim. Dan juga, aku baik-baik saja. Lihat?"

Jinwoo akhirnya mengangguk, Ia melangkah ke arah Jiwon dan mengecek kondisinya.

" heum, kau hebat. Seminggu lagi jika lukamu mengering, kau boleh pulang"

Jinhwan hanya terbengong, Ia tak tahu menahu soal Jiwon, lukanya dan dokter ini. Junhoe menatap kagum pada Jiwon, cepat sekali orang ini pulih.

" setelah Jiwon-ssi dipindah ke ruang rawat biasa, kalian bisa mengobrol. Aku permisi dulu"

" ne, kamsahamnida"

.

Jinhwan mengangguk imut mendengar penuturan dari Jiwon, Ia sungguh tak mengerti bagaimana orang yang bernama Yifan itu bisa sampai memburu Jiwon. Bukannya Ia adalah saingan bisnis Junhoe?

" yeobo~ kau tak mau mendengar ceritaku? Aku bisa menjelaskannya lebih detil"

" ani. Kau pembohong"

Junhoe mencebik, Jiwon tersenyum remeh. " ani, Junhoe benar. Bahkan dia yang menyelamatkanku dengan memukuli orang itu sampai mati dan kemudian membawaku ke sini"

Diam, semua tidak ada yang bersuara.

Jiwon yang masih menatap sepasang suami istri dihadapannya bergantian. Junhoe yang terbengong karena Jiwon yang mengetahui semuanya sampai akhir, termasuk saat- bukannya Jiwon sekarat waktu itu? kenapa Ia bisa tahu dengan jelas bahwa Junhoe datang dan seterusnya? Dan Jinhwan yang menyadari bahwa Junhoe membohonginya tentang kecelakaan dekat perumahan beserta polisi dan urusan mendadak lainnya.

" jadi kau benar-benar menbohongiku! Dasar-"

" dia menyayangimu, maka dari itu dia menyembunyikan kejadian ini sampai waktunya tepat"

Junhoe mengangguk cepat mengiyakan perkataan Jiwon, kali ini Ia setuju dengan Jiwon.

" benar hyung, aku khawatir kalau sampai kau tahu keadaan Jiwon hyung saat itu. Dan juga uri aegi hyung, aku tak mau terjadi ada apa-apa terhadap kalian"

Jinhwan lambat laun tersenyum manis, selanjutnya Ia memeluk Junhoe penuh cinta. Ia sangat bahagia karena begitu disayangi dan dilindungi oleh Junhoe.

" kalian pulang dan beristirahatlah, aku sudah baik-baik saja."

" ani. Kami akan menungguimu di sini"

" gwenchana, kandunganmu sudah mulai membesar hyung. Jaga kesehatanmu,ok? Aku janji akan cepat sembuh dan segera pulang."

Junhoe mengangguk, Ia meyakinkan Jinhwan dengan tatapan lembutnya.

" baiklah..,tapi kalau ada apa-apa hubungilah kami!"

" geure, sekarang pulanglah. Aku mau tidur" putus Jiwon.

Junhoe menatap tak suka, sifat dinginnya kembali lagi. Dasar Kim Jiwon.

.

.

Jinwoo berkali-kali menahan Mino supaya tak menghajar Jiwon. Bocah itu semakin hari semakin mengganggu kemesraannya dengan Jinwoo. Bagaimana Mino akan tenang bila sedikit-sedikit bocah itu mengeluh ke istrinya kalau kepalanya sakit. Seperti..

" akh! Kepalaku uisa-nimm.., kelihatanya jahitan itu robek. Aku terlalu memikirkan tugas kuliahku tadi.." Mino menghirup nafas dalam. ' tenang Mino, dia sedang sakit. Biarkanlah saja'

Atau yang seperti ini..

" uisa-nim! Kepalaku berdarah, tolong ambilkan aku air.. Aku haus!"

Mino sudah memasang wajah datarnya, luntur sudah kepanikannya barusan. Bocah sialan.

" BISAKAH KAU TAK MENGGANGGUKU SEBENTAR SAJA, HA?! "

Ia bersumpah akan menguliti bocah itu kalau sampai membuat masalah dengannya di kemudian hari.

.

Jiwon menghirup udara di rumahnya dengan senang, matanya menangkap beberapa roh baru yang bebas berkeliaran. Ia tak ambil pusing, kakinya terus melangkah menuju kamarnya, kamar Hanbin.

Rumah itu sudah sebersih sebelumnya, Junhoe telah menyuruh beberapa orang untuk membersihkan dan meminta ijin kepada kepolisian untuk bisa kembali menggunakan rumah itu. Karena Ia tak ingin Jiwon tinggal bersamanya atau menggelandang di jalanan Seoul.

Sementara Yifan, orang itu sudah meninggal dunia tak lama setelah Jiwon dilarikan ke rumah sakit. Tapi Jiwon tak mempermasalahkan perbuatan buruk Yifan, Ia menganggap semuanya adalah musibah. Tak perlu disesali..Iya, tak perlu.

.

" Jiwon-hyung gwenchana? Aku sungguh minta maaf karena tak bisa membantumu saat itu."

Jiwon sedang berbaring di sofa ruang tamu, Ia agak trauma dengan kamar bergambar Mickey di lantai atas. Di sampingnya bersiri sosok hantu yang menunduk sedih.

" gwenchana Chanwoo-ya, jangan bahas hal itu lagi"

Tubuh itu bangkit dan pergi meninggalkan ruang tamu. Kakinya melangkah menuju ujung lantai atas. Ia berhenti, menatap penasaran pada sebuah pintu.

'ruang apa ini..? Aku tak pernah masuk sebelumnya'

Sekarang Jiwon sudah berdiri di pintu masuk dengan mata yang sembab. Tangannya memutar kenop pelan, dan sungguh Ia tak mengira sebelumnya. Di hadapannya berdiri almari besar yang bertempelkan banyak foto Hanbin di masa lalunya. Dengan ragu Ia melangkah dan terus memfokuskan pandangannya. Tangannya menyentuh rupa cantik Hanbin pelan, bersamaan dengan matanya yang kembali menangis.

Memorinya berputar pada saat Ia hidup sebagai Bobby, banyak sekali yang dituliskan Hanbin di almari ini. Tentang hari-harinya, tentang.. cinta pertamanya, Bobby Kim.

Tingkat 1 SHS :Bobby hyung menyebalkan, aku mencintaimu. Dasar tidak peka, aish!

Jiwon menangis setelah membaca salah satu note itu, Ia bahkan tidak tahu kalau Hanbin sudah menyukainya sejak kelas satu SMA. Masih banyak lagi yang ingin diketahui Jiwon di sini. Yang mengejutkan, di dalam almari itu ada beberapa tumpuk kertas dan potongan baju yang dikenali Jiwon. Banyak juga barang yang tak asing baginya.

" ini.., bukankah semua skripsi, baju dan benda-benda milikku yang dihilangkan Hanbin?"

.

Seharian itu akhirnya dilewati Jiwon dengan menangisi Hanbin di dalam gudang. Ingatannya sebagai Bobby kembali sepenuhnya. Sebelumnya Ia yakin bisa menghilangkan kepedihan hatinya itu, tapi sekarang? Kenyataannya Jiwon bahkan tak bisa tak mengingat Hanbin barang sedetik pun.

Jiwon memukuli tubuhnya dengan brutal, dadanya begitu sesak kala mengingat Hanbin. Ia tak bisa hidup tanpa pemuda itu. " HANBINAA! Kenapa kau lakukan ini padakuu..,ha?! Huks.."

" mianhae..,Bin-ah. Aku ini pemuda yang bodoh, aku tak bisa di andalkan. Seharusnya aku tak melepasmu.. seharusnya aku tak membiarkanmu pergi! Kembalilah padaku Hanbinaa..hiks,jeball..kembalilah kumohonn"

.

.

Hari-hari dijalani Jiwon dengan linglung. Ia mencoba segala cara untuk menarik Hanbin kembali. Meski otaknya mengetahui dengan nyata bahwa Hanbin benar-benar menghilang.

Dimulai dengan menaruh skripsinya diam-diam di kamar tidur dan menunggu Hanbin datang menyelinap untuk menyembunyikannya. Ia harap seperti itu, namun sampai pagi datang sosok itu tak juga muncul. Dan hal itu terus berulang sampai Jiwon akhirnya bosan, dan berpikir untuk menyerah.

Jiwon berdiam diri di kamarnya, Ia selalu menangis dan mengutuk dirinya sendiri. Apa istimewanya kekuatan anehnya, kalau menahan Hanbin saja Ia tak bisa..

Jiwon menekan dadanya kuat, rasa sesak dan penyesalan dalam hatinya tak kunjung hilang.

"..h-Hanbinaa..,bin-ah..appayo. hiks.."

Chanwoo mengintip melalui pintu, Ia meneteskan air matanya lagi karena Hanbin pergi meninggalkannya. Tapi Ia tak tahu kenapa Jiwon bisa menangis sepilu itu untuk Hanbin. Manusia aneh itu terus memanggil nama Hanbin dengan menyedihkan. Entah itu pagi,siang, malam, atau bahkan dalam tidurnya. Apakah hatinya terasa begitu sakit karena kehilangan Hanbin? Apa Jiwon juga menyukai Hanbin?

.

.

Tengah malam Jiwon nekat keluar rumah, perutnya keroncongan dan Ia sama sekali tak mempunyai persediaan makanan di rumah. How troublesome..

Jiwon mengambil barang belanjaannya lalu berlajan keluar. Ia menangkap beberapa suara dari gang sempit di samping supermarket itu. Penasaran, Ia mengintip. Seseorang dengan dagunya yang dicengkeram beberapa orang di hadapannya.

" lepass..,kubilang LEPAS! KALIAN TULI, HAH?!"

Plakk!

Seorang pemuda itu memiliki banyak luka di wajahnya, dan ada segerombol orang yang menyudutkannya. Jiwon curiga, jangan-jangan mereka akan..

" ya! Hentikan tanganmu,"

Suara itu akhirnya keluar dari bibir tipis Jiwon," dia terlalu cantik untuk orang seperti kalian. Lagipula dia bilang, tidak mau. Kan?"

Orang yang terluka itu segera memakai topi dan membenahi baju dan jaket berantakannya dengan tangan gemetar.

" mencari masalah ya? Kau sudah bosan hidup?! Bocah! Ini bukan urusanmu"

Jiwon terkekeh, gertakan orang-orang itu sama sekali tak membuatnya tersentuh.

" jelas ini bukan urusanku, lagipula..aku memang sudah cukup bosan hidup. Apalagi ditambah melihat wajah-wajah paman menyedihkan ini. Aigoo..semakin membuat mataku sakit"

Degg

Beberapa orang itu membeku, pemuda itu juga semakin takut di tempatnya. Jiwon tidak sadar kalau matanya perlahan berubah warna, tangannya juga tergerak sendiri untuk meraih bocah yang tersudut di gang itu.

" sekarang dia milikku. Silahkan pergi paman-paman, kuberi waktu 5 detik dari sekarang. Satu.."

Secepat kilat orang-orang tadi sudah berlari pontang-panting menghindari tatapan Jiwon. Selanjutnya Jiwon tersenyum lembut, Ia mencoba mengenali wajah di hadapannya. Namun sedikitnya cahaya dan karena topi yang digunakan bocah itu mengahalangi pandangannya, Ia kesulitan.

" gwenchana?" tanya Jiwon perhatian.

Dengan cepat tangan itu melepaskan pelukan Jiwon dan berlari pergi. Jiwon hanya menggeleng heran, sedikit berteriak" apakah begitu caramu berterimakasih?"

Orang itu berhenti agak jauh, namun Jiwon masih bisa melihat punggungnya. " gomawo, tapi kukatakan satu hal. Aku tak memintamu menolongku"

Jiwon hanya diam sampai bocah itu kembali melanjutkan langkahnya, Ia berbisik pelan untuk sosok itu " hati-hati.."

TBC

N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.

Thanks to : riani98, LayChen Love Love, EunhyukJinyoung02, Soyu567, bananona.

mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.