FREAK
Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.
Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.
Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?
.
.
this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.
.
.
Jiwon tertawa dalam mimpinya, entah apa tapi dia begitu gembira. Padahal Ia ingat betul dengan kejadian yang menimpanya 2 hari yang lalu. Ia kehilangan lagi Hanbin-nya.
Jiwon mengalirkan air mata. Tidurnya sangat nyenyak, namun hatinya menangis. Ia sebenarnya sedih, otaknya yang selalu menutupi hal itu dengan tertawa.
' Bobby-ah..,apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tak mau lagi hidup. Dulu, aku mengatakan kalau kau bodoh karena bunuh diri hanya demi Hanbin. Tapi sekarang aku tahu bagaimana sakitnya hatimu. Aku tahu bagaimana yang kau rasakan.. karena aku merasakannya sekarang'
' kalau memang aku benar, katakan padaku. Bahwa ini semua memang sudah berakhir'
Jinwoo menaikkan selimut Jiwon, Ia tersenyum manis sambil mengusap air mata yang mengalir dari mata pasien kesayangannya.
" mianhae, jika aku tahu bagaimana harus membantumu? Kau pasti tidak akan semenderita ini. Cepatlah kembali Jiwon-ah, kasihan adikmu Junhoe.. kasihan juga keluargamu nanti"
Jinwoo menarik nafasnya dalam, Jiwon kembali membuatnya panik tadi. Nafasnya sempat berhenti selama 5 menit, dan itu sukses membuatnya kalang kabut. Ia juga tidak sempat mengabari Junhoe, Ia terlalu panik tadi.
" beraninya kau mempermainkanku Jiwon-ah, kau ini benar-benar."
Pagi itu, Junhoe menggandeng tangan Jinhwan menuju sebuah rumah sakit. Ia berkali-kali menghela nafas, menghilangkan kekhawatirannya. Bagaimana reaksi Jinhwan kalau tahu Ia berbohong tentang keadaan Jiwon nanti? Ia tidak siap, benar-benar tidak siap.
" kenapa ke rumah sakit? Kita akan cek kandungan ya?"
" eung, Jinan hyung mianhae.. aku menyembunyikan hal ini darimu beberapa hari yang lalu. Tapi aku melakukannya demi kebaikanmu, sekali lagi aku minta maaf atas apa yang akan kau lihat nanti"
Jinhwan menahan nafasnya saat Junhoe menghentikan langkah mereka di depan ruang ICU. Otaknya sudah memikirkan hal-hal buruk tentang Jiwon. Apalagi perkataan Junhoe tadi membuatnya semakin takut.
" mianhae hyung.."
Pintu itu terbuka perlahan, menampakkan sesosok yang berbaring dalam diam di atas ranjang. Mata Jinhwan membelalak lebar..
" annyeong.., kiyeowo~"
Sosok itu duduk bersandar kepala ranjang dengan santai, tangannya mengamit sebuah majalah. Ia dengan tenang membaca majalah itu.
Junhoe mengernyit bingung, bukannya Jiwon masih tak sadarkan diri kemarin? Terlebih kalau dia sudah sadar kenapa Jinwoo tak memberi tahunya?
" kenapa kau diam di sana? Kalau yang kau pikirkan adalah dokter yang menanganiku, dia ada di sana"
Pandangan Junhoe teralihkan pada sofa di sudut ruangan tempat Ia biasa tidur sambil menunggui Jiwon. ' kenapa Jiwon hyung bisa membaca pikiranku?'
Bocah itu mendelik tak suka dengan apa yang dilihatnya. Jinwoo yang tidur di pelukan seorang namja dengan selimut menghangatkan keduanya. Hm, pantas saja.
Jinhwan berjalan cepat ke arah namja itu dan merebut majalahnya. Ia menghantamkan buku itu tepat ke kepala Jiwon.
" AW! YAKK siapa kau? Kenapa memukulku.." Jiwon berusaha melindungi kepala mahalnya.
Junhoe dan Jinhwan sama-sama membeku, apa yang barusan dikatakan Jiwon? Apa dia sungguhan?
Isak pelan menyadarkan Junhoe untuk segera memeluk istrinya. Ia juga terkejut dengan yang didengarnya barusan.
" april mop! Ahaha"
Junhoe mendelik tajam, A-P-A?
" sial kau hyung! Jantungku hampir saja lepas dan kau hanya bercanda saja?!"
Jiwon tertawa keras, Jinhwan sudah tersenyum meski sesekali terisak. Syukurlah jika Jiwon baik-baik saja.
" kau harus mendapat pelajaran Jiwon bodoh!"
Bocah yang diteriaki berusaha melindungi kepalanya yang masih terbalut perban dari hantaman kaki Junhoe. Sedangkan Jinhwan terus menahan Junhoe yang ingin memukuli Jiwon.
" June-ah! Kepalanya terluka, kau jangan memukulnya.. kasihan Jiwon!"
Junhoe mengatur nafas memburunya, Jinhwan memastikan Junhoe tak lagi mengamuk segera memeluk Jiwon pelan. Tangan kecilnya meraba halus perban di kepala Jiwon.
" apa yang terjadi padamu Jiwon-ah? Hyung khawatir.. apalagi ini yang ada di kepalamu,ha?"
Jiwon tersenyum canggung. Junhoe menyungut, baiklah. Kali ini kau menang Kim Jiwon.
Tapp tapp
Seseorang tiba-tiba masuk tanpa permisi dan mengguncang pemuda yang tertidur di sofa.
" yak! Mino hyung, kembalikan mobilku. Dan- AISH! Pulanglah sekarang! Jangan membuatku malu!"
Sementara yang dibangunkan hanya mengerang pelan, matanya sulit terbuka. Jinwoo yang tersadar segera bangkit dan membantu membangunkan Mino, suaminya.
" Aish..,lupakan"
Bocah itu bertemu pandang dengan Junhoe yang membeku di samping ranjang Jiwon. Mata Junhoe membola melihat rupa dari orang itu.
" sam-samcheon? SAMCHEON!"
Sosok itu hanya melengos lalu melenggang pergi, yang sebelumnya sempat mengumpati Junhoe orang gila.
Jinhwan buru-buru menggeplak suaminya " yak! Samcheon kepalamu! Dia itu terlihat seusia denganmu, apalagi dia kan adik orang itu"
Sementara Jiwon masih berusaha melihat dari celah sempit antara Jinhwan dan Junhoe. Dua orang itu menghalangi pandangannya.
" samcheon? Kau yakin June-ah?" Jiwon bertanya lirih, namun kemudian menggeleng pelan. Tidak mungkin, Ia melihat sendiri bagaimana Hanbin menghilang dari hadapannya. Itu kembali membuka luka hatinya.
" a-aku pulang sekarang Jinwoo-ya. Mianhae..jwesongeyo yeorobun"
Sosok yang diketahui bernama Mino itu berlari keluar ruangan sambil memanggil adiknya. Jinwoo tersenyum canggung sambil meminta maaf atas kericuhan yang disebabkan olehnya.
" aku minta maaf, karena aku kalian jadi terganggu. Dan Jiwon- JIWON-AH?! Kau sudah sadar..kapan?!"
" haha, tadi pagi. Pukul 3, kau sedang tidur. Jadi aku tak mau mengganggumu dan eum suamimu?" Jiwon meringis, Ia tahu benar apa yang coba disembunyikan oleh dokter itu.
" tak usah malu, uisa-nim. Dan juga, aku baik-baik saja. Lihat?"
Jinwoo akhirnya mengangguk, Ia melangkah ke arah Jiwon dan mengecek kondisinya.
" heum, kau hebat. Seminggu lagi jika lukamu mengering, kau boleh pulang"
Jinhwan hanya terbengong, Ia tak tahu menahu soal Jiwon dan lukanya dan dokter ini. Junhoe menatap kagum pada Jiwon, cepat sekali orang ini pulih.
" setelah Jiwon-ssi dipindah ke ruang rawat biasa, kalian bisa mengobrol. Aku permisi dulu"
" ne, kamsahamnida"
Jinhwan mengangguk imut mendengar penuturan dari Jiwon, Ia sungguh tak mengerti bagaimana orang yang bernama Yifan itu bisa sampai memburu Jiwon. Bukannya Ia adalah saingan bisnis Junhoe?
" yeobo~ kau tak mau mendengar ceritaku? Aku bisa menjelaskannya lebih detil"
" ani. Kau pembohong"
Junhoe mencebik, Jiwon tersenyum remeh. " ani, Junhoe benar. Bahkan dia yang menyelamatkanku dengan memukuli orang itu sampai mati dan kemudian membawaku ke sini"
Diam, semua tidak ada yang bersuara.
Jiwon yang masih menatap sepasang suami istri dihadapannya bergantian. Junhoe yang terbengong karena Jiwon yang mengetahui semuanya sampai akhir, termasuk saat- bukannya Jiwon sekarat waktu itu? kenapa Ia bisa tahu dengan jelas bahwa Junhoe datang dan seterusnya? Dan Jinhwan yang menyadari bahwa Junhoe membohonginya tentang kecelakaan dekat perumahan beserta polisi dan urusan mendadak lainnya.
" jadi kau benar-benar menbohongiku! Dasar-"
" dia menyayangimu, maka dari itu dia menyembunyikan kejadian ini sampai waktunya tepat"
Junhoe mengangguk cepat mengiyakan perkataan Jiwon, kali ini Ia setuju dengan Jiwon.
" benar hyung, aku khawatir kalau sampai kau tahu keadaan Jiwon hyung saat itu. Dan juga uri aegi hyung, aku tak mau sampai ada apa-apa terhadap kalian"
Jinhwan tersenyum manis, selanjutnya Ia memeluk Junhoe penuh cinta. Ia sangat bahagia karena begitu disayangi dan dilindungi oleh Junhoe.
" kalian pulang dan beristirahatlah, aku sudah baik-baik saja."
" ani. Kami akan menungguimu di sini"
" gwenchana, kandunganmu sudah mulai membesar hyung. Jaga kesehatanmu,ok? Aku janji akan cepat sembuh dan segera pulang."
Junhoe mengangguk, Ia meyakinkan Jinhwan dengan tatapan lembutnya.
" baiklah..,tapi kalau ada apa-apa hubungilah kami!"
" geure, sekarang pulanglah. Aku mau tidur"
Junhoe menatap tak suka, sifat dinginnya kembali lagi. Dasar Kim Jiwon.
Jinwoo berkali-kali menahan Mino supaya tak menghajar Jiwon. Bocah itu semakin hari semakin mengganggu kemesraannya dengan Jinwoo. Bagaimana Mino akan tenang bila sedikit-sedikit bocah itu mengeluh ke istrinya kalau kepalanya sakit. Seperti..
" akh! Kepalaku uisa-nimm.., kelihatanya jahitan itu robek. Aku terlalu memikirkan tugas kuliahku tadi.." Mino menghirup nafas dalam. ' tenang Mino, dia sedang sakit. Biarkanlah saja'
Atau yang seperti ini..
" uisa-nim! Kepalaku berdarah, tolong ambilkan aku air.. Aku haus!"
Mino sudah memasang wajah datarnya, luntur sudah kepanikannya barusan. Bocah sialan.
" BISAKAH KAU TAK MENGGANGGUKU SEBENTAR SAJA, HA?! "
Ia bersumpah akan menguliti bocah itu kalau sampai membuat masalah dengannya di kemudian hari.
Jiwon menghirup udara di rumahnya dengan senang, matanya menangkap beberapa roh baru yang bebas berkeliaran. Ia tak ambil pusing, kakinya terus melangkah menuju kamarnya, kamar Hanbin.
Rumah itu sudah sebersih sebelumnya, Junhoe telah menyuruh beberapa orang untuk membersihkan dan meminta ijin kepada kepolisian untuk bisa kembali menggunakan rumah itu. Karena Ia tak ingin Jiwon tinggal bersamanya atau menggelandang di jalanan Seoul.
Sementara Yifan, orang itu sudah meninggal dunia tak lama setelah Jiwon dilarikan ke rumah sakit. Tapi Jiwon tak mempermasalahkan perbuatan buruk Yifan, Ia menganggap semuanya adalah musibah. Tak perlu disesali..Iya, tak perlu.
" Jiwon-hyung gwenchana? Aku sungguh minta maaf karena tak bisa membantumu saat itu."
Jiwon sedang berbaring di sofa ruang tamu, Ia agak trauma dengan kamar bergambar Mickey di lantai atas. Di sampingnya bersiri sosok hantu yang menunduk sedih.
" gwenchana Chanwoo-ya, jangan bahas hal itu lagi"
Tubuh itu bangkit dan pergi meninggalkan ruang tamu. Kakinya melangkah menuju ujung lantai atas.
'ruang apa ini..? Aku tak pernah masuk sebelumnya'
Sekarang Jiwon sudah berdiri di pintu masuk dengan mata yang sembab. Tangannya memutar kenop pelan, dan sungguh Ia tak mengira sebelumnya. Di hadapannya berdiri almari besar yang bertempelkan banyak foto Hanbin di masa lalunya. Dengan ragu Ia melangkah dan terus memfokuskan pandangannya. Tangannya menyentuh rupa cantik Hanbin pelan, bersamaan dengan matanya yang kembali menangis.
Memorinya berputar pada saat Ia hidup sebagai Bobby, banyak sekali yang dituliskan Hanbin di almari ini. Tentang hari-harinya, tentang.. cinta pertamanya, Bobby Kim.
Tingkat 1 SHS :Bobby hyung menyebalkan, aku mencintaimu. Dasar tidak peka, aish!
Jiwon menangis setelah membaca salah satu note itu, Ia bahkan tidak tahu kalau Hanbin sudah menyukainya sejak kelas satu SMA. Masih banyak lagi yang ingin diketahui Jiwon di sini. Yang mengejutkan, di dalam almari itu ada beberapa tumpuk kertas dan potongan baju yang dikenali Jiwon. Banyak juga barang yang tak asing baginya.
" ini.., bukankah semua skripsi, baju dan benda-benda milikku yang dihilangkan Hanbin?"
Seharian itu akhirnya dilewati Jiwon dengan menangisi Hanbin di dalam gudang. Ingatannya sebagai Bobby kembali sepenuhnya. Sebelumnya Ia yakin bisa menghilangkan kepedihan hatinya itu, tapi sekarang? Kenyataannya Jiwon bahkan tak bisa tak mengingat Hanbin barang sedetik pun.
Jiwon memukuli tubuhnya dengan brutal, dadanya begitu sesak kala mengingat Hanbin. Ia tak bisa hidup tanpa pemuda itu. " HANBINAA! Kenapa kau lakukan ini padakuu..,ha?! Huks.."
" mianhae..,Bin-ah. Aku ini pemuda yang bodoh, aku tak bisa di andalkan. Seharusnya aku tak melepasmu.. seharusnya aku tak membiarkanmu pergi! Kembalilah padaku Hanbinaa..huks,jeball..kembalilah kumohonn"
Hari-hari dijalani Jiwon dengan linglung. Ia mencoba segala cara untuk menarik Hanbin kembali. Meski otaknya mengetahui dengan nyata bahwa Hanbin benar-benar menghilang.
Dimulai dengan menaruh skripsinya diam-diam di kamar tidur dan menunggu Hanbin datang menyelinap untuk menyembunyikannya. Ia harap seperti itu, namun sampai pagi datang sosok itu tak juga muncul. Dan hal itu terus berulang sampai Jiwon akhirnya bosan, dan berpikir untuk menyerah.
Jiwon berdiam diri di kamarnya, Ia selalu menangis dan mengutuk dirinya sendiri. Apa istimewanya kekuatan anehnya, kalau menahan Hanbin saja Ia tak bisa..
Jiwon menekan dadanya kuat, rasa sesak dan penyesalan dalam hatinya tak kunjung hilang.
"..h-Hanbinaa..,bin-ah..appayo. hiks.."
Chanwoo mengintip melalui pintu, Ia meneteskan air matanya lagi karena Hanbin pergi meninggalkannya. Tapi Ia tak tahu kenapa Jiwon bisa menangis sepilu itu untuk Hanbin. Manusia aneh itu terus memanggil nama Hanbin dengan menyedihkan. Entah itu pagi,siang, malam, atau bahkan dalam tidurnya. Apakah hatinya terasa begitu sakit karena kehilangan Hanbin? Apa Jiwon juga menyukai Hanbin?
Tengah malam Ia nekat keluar rumah, perutnya keroncongan dan Ia sama sekali tak mempunyai persediaan makanan di rumah. How troublesome..
Usia kandungan Jinhwan sudah menginjak 4 bulan. Ia harus mengecek kandungannya. Tapi Junhoe sedang ada rapat, siapa lagi yang bisa mengantarnya?
Jinhwan memberengut, " ah! Sekalian mengajak Jiwon cek up saja, kan luka di kepalanya juga sudah waktunya untuk di cek"
Jiwon mematut dirinya pada cermin, Ia meraba perban yang dengan rapi melingkari kepalanya.
" Bobby-ah, katakan padaku apa yang akan terjadi setelah aku kehilangan Hanbin? Aku tidak bisa mengakhiri hidupku seperti yang kumau begitu saja. Karena aku sudah terlanjur berjanji padamu dan juga Hanbin… YAK! KENAPA KAU TAK SEGERA MUNCUL HAH?! PABBOYA"
"j-Jiwon..?"
Jinhwan mengintip dari pintu, sejurus kemudian Ia memasuki kamar Jiwon dengan ragu. Ia agak takut, Jiwon barusaja berteriak di depan cermin.
Bocah itu menoleh, mendapati Jinhwan menatapnya takut. Tangan itu segera menghapus jejak air matanya. " ah hyung, aku tak tahu kau datang secepat ini. Kita berangkat sekarang?"
Jiwon berjalan malas mengelilingi rumah sakit. Jinhwan masih mengantre dan Ia tak suka menunggu. Akhirnya Ia meninggalkan Jinhwan dan berjalan-jalan sampai di depan kamar inapnya dulu, Ia tertawa. Jadi begini akhir dari perjuangannya untuk Hanbin?
" ANDWAE! TOLONG SELAMATKAN ADIKKU.. TOLONG DIA JEBALL! ..hiks, Hanbin-aa"
Jiwon membeku di tempatnya, Ia memutar tubuhnya mencari asal suara itu. Bukannya itu Song Mino?
Jiwon terdiam di tempatnya saat Mino dan perawat lainnya melarikan sesosok tubuh yang berbaring di ranjang.
Jiwon terguncang, Ia sangat mengenali rupa itu. Bibirnya gemetar menahan tangis, dan matanya perlahan berkaca-kaca.
" Hanbin-ah..? HANBIN-AH!"
Jiwon berlari menyusul, namun Ia dan Mino tidak boleh masuk. Ia berdiri pada dinding di samping pintu. Di seberangnya ada Mino yang juga berpose sama dengannya.
" kenapa kau ada di sini, bocah"
Mino menatap tak suka, "dan kenapa kau bisa tahu nama adikku. Aku tak pernah melihatmu bersama Hanbin sebelumnya, kau Jiwon kan? Pasien Jinwoo beberapa bulan yang lalu"
Jiwon tetap diam, Ia hanya memikirkan bagaimana keadaan Hanbin di dalam sana. Bahunya terluka lebar, dan di tubuhnya banyak sekali luka lebam.
Tunggu, bukannya Hanbin sudah menghilang?
TBC
N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.
Thanks to : LayChen Love Love, Double BobB.I, riani98, EunhyukJinyoung02, Githa AF.
mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.
