Benar. Rahasia besar yang selama ini tersimpan rapat dalam lisan. Akashi mengetahuinya sejak awal. Sejak ia mengatakan, "…. Tetsuna adalah gadis yang kesepian.". Itu menjadi bukti mendasar dari atensi setipis kabut. Kenapa hanya Aomine, bukan lelaki lain maupun sang absolut. Kenapa terus-menerus menghindar. Enggan mempercayai orang lain, teman. Semua akan segera terjawab. Tinggal waktu menindak tegas.
"Ceritakan semuanya, tanpa sedikitpun bumbu kebohongan." Lagi Akashi mendesak. Tetsuna semakin bingung harus bagaimana. Dia sulit melawan, seakan hetekronom itu mengendalikan segala pergerakan. Setiap ucapan.
"Akashi-kun. Kupikir kau berlebihan. Tet-chan bukankah kau absen hari ini? Seharusnya…."
"Seharusnya apa?! Beristirahat di rumah? Menunggu sampai dilupakan semua orang? Dicari oleh ibu dan ayah? Terlanjur menghilang bagai debu ditiup angin? Tidak Momoi-san. Kau salah! Kau tahu apa?!" Kalap hati. Tetsuna gagal mengendalikan emosi.
"Ma-maaf Tet-chan. Aku tidak bermaksud jahat."
"Sebelum mengatakannya pun kau sudah bertindak jahat. Dasar pengkhianat! Mustahil mempercayai siapa pun. Keberadaanku tidak pernah diinginkan. Semua orang hanya bisa mengejek. Berbicara di belakang!"
"Hoi Tetsu. Aku tahu kau marah. Tapi bukankah berlebihan? Tolong maafkan dia." Meski Aomine yang bilang. Hatinya sudah terbakar benci. Malah disiram dengan permintaan maaf membuat api kian berkobar. Marah merajalela menggulingkan akal sehat.
"Berlebihan kata Aomine-kun? Apakah penderitaanku selama sembilan tahun masih kurang?! Terlupakan, dimanfaatkan, diejek, terhina. Aku memendam seluruh kebencian itu sampai menumpuk. Rasanya memuakkan!"
"Asal kalian tahu. Aku sudah meninggal akibat kecelakaan mobil. Berita yang sempat memenuhi koran tahun lalu."
Giliran Momoi tergugu. Tidak sedikitpun berkedip, lebih-lebih bertanya, "bagaimana bisa". Dia paling tahu berita tersebut, begitupun Aomine yang termasuk bagian hidupnya. Dialah kunci utama dari permintaan itu. Ketika malaikat datang merengkuh seluruh bumi. Menjemput warna-warni pelangi lewat tewasnya gadis malang di jalan raya. Dialah Kuroko Tetsuna. Wanita kesepian penuh sejuta pertanyaan.
"Percaya atau tidak. Itulah faktanya." Menutup pengakuan. Kini ia bisa berlapang dada. Berhenti menyalahkan Momoi yang masih terdiam.
"Siapa sangka kau adalah gadis itu. Lalu apa? Mati suri? Jelas-jelas polisi menemukan jasadmu dan dikuburkan. Ayah Satsuki menyaksikannya sendiri." Tak dapat dipungkiri Akashi terkejut. Mungkin ini termasuk keajaiban nomor delapan.
"Yang kalian lihat hanya jiwaku saja. Usai kecelakaan itu ayah dan ibu stres berat. Mereka tidak heran ketika aku kembali. Justru bergembira tanpa bertanya apa-apa."
"Pasti berat untuk keluargamu." Sikap acuhnya lenyap ditelan iba. Aomine turut berduka cita lewat dark blue yang berkilat sedih.
"Kemudian malaikat datang, bahkan salah satunya berbaik hati mengabulkan permohonanku. Namun terbatas, waktu dua minggu sebelum aku dijemput ke surga. Sudah cukup. Sampai jumpa." Bercerita lebih banyak tidak mengubah keadaan. Faktanya Tetsuna harus balik. Belajar arti ikhlas.
"Apa permohonanmu?" Mana boleh begini! Akashi bersikukuh menahannya. Sebentar saja. Satu menit…. Tidak, sedetik!
"Mencintai dan dicintai seorang lelaki. Saat SMP banyak sekali yang pamer, mereka punya pacar, seminggu sekali kencan, bahkan beberapa mengaku berciuman. Sedangkan untukku itu mustahil, tetapi dia datang, dua tahun lalu…."
Flashback….
Namanya Kagami Taiga. Murid pindahan dari Amerika. Kami bertemu kelas dua SMP. Dia duduk di sampingku, dengan tatapan yang terbilang kasar bagi orang Jepang.
Jam istirahat seisi kelas asyik mengerumuni. Bertanya-tanya kenapa Kagami-kun pindah. Bagaimana bentang Amerika dari ujung ke ujung. Apakah patung liberti benar-benar tinggi. Ternyata dia fasih berbahasa Jepang. Membuat bahasa Inggris yang acak kadut digantikan tawa riang, " tau-tau orang asli sini.". Aku jarang menyapanya kecuali punya urusan. Kami benar-benar tidak mengenal. Namaku pun jadi rahasia.
Dia mengubah keadaan itu. Berbanding seratus delapan puluh derajat untukku.
"Siapa namamu? Kita sekelompok bukan di tugas biologi?" Kami berpapasan di koridor. Ketika bel istirahat tersisa lima menit lagi.
"Kuroko Tetsuna. Salam kenal, Kagami-kun."
"E-eh. Kau tahu namaku dan aku tidak mengenalmu. Curang!" Tingkahnya memang kekanak-kanakan. Namun itulah bagian yang paling kusuka, selalu.
"Kalau begitu ayo masuk kelas. Bel mau berbunyi."
"Omong-omong kau sendirian terus. Malahan sering memperhatikanku tiap pelajaran. Kenapa?"
"Hobiku adalah memperhatikan orang lain. Kuharap Kagami-kun maklum. Jika resah akan kuhentikan sekarang juga. Kita bisa berpura-pura tidak mengenal. Permisi."
"Bu-bukan itu maksudku! Ayo berteman. Mana enak hanya memperhatikan murid lain."
Wajah Kagami-kun tersipu malu. Aku malu-malu menerima jabat tangan itu. Rasanya amat spesial. Bukan dengan orangtua melainkan teman pertamaku. Awal-awal kami canggung. Lebih sering terdiam setelah mengucapkan sepatah atau dua kata. Dalam sebulan tembok itu retak melebur. Setiap pembicaraan begitu menyenangkan, tidak lagi terkesan dipaksakan. Tanpa sadar pula, perasaan tersebut tumbuh.
Gosip demi gosip juga tersebar luas. Aku dibully lagi meskipun punya Kagami-kun. Mereka berkata, "seorang kutu tidak pantas bersama bintang besar". Selain baik hati dia pandai bermain basket. Saentro sekolah mengakui fakta itu, termasuk kepala sekolah yang bermulut pedas, suka sekali memujinya.
"Kau harus sadar diri, dasar kutu air!" Puncaknya hari itu. Kenaikan kelas di musim semi. Sakura boleh bermekaran indah. Namun hatiku dipenuhi benci, semakin mendalam tiap mengingat wajah mereka.
"Rasakan ini!"
Habis-habisan disiram. Rambut acak-acakan. Dijambak berulang-ulang. Aku hampir melupakan bayang buruk itu, dan mereka membawanya kembali, sangat lengkap. Kesabaranku habis meski takut-takut melawan. Padahal kami sesama manusia. Kenapa ada saja yang tega menyakiti?
"Hentikan…. AKU MUAK DIPERLAKUKAN BEGINI!" Teriakanku keluar untuk pertama kali. Setelah berdiam diri selama dua tahun. Pasran menerima nasib. Sesaat mereka kaget. Kesempatan itu kupakai sebaik mungkin, balas menghajar.
"Jika rambutmu dijambak sakitnya seperti ini. Ingat baik-baik!" Anak perempuan yang memimpin pembullyan itu langsung menangis. Dia benar-benar lemah. Payah.
"Jika tubuhmu kena hujaman batu sakitnya seperti itu. Ingat baik-baik!" Selama mereka termasuk anggota. Siapa pun akan kubalas tanpa pandang bulu.
Namun Kagami-kun datang. Menghentikan aksiku yang semakin keterlaluan. Mereka bertiga sampai menangis keras.
"Berhenti Kuroko! Jangan membalas luka dengan luka. Dinginkan kepalamu!" Gigiku bergemeletuk saat itu. Menolak mentah-mentah ucapannya yang tidak membelaku. Justru menolong mereka hingga diantar ke UKS.
"Tunggu apalagi? Lukamu harus diobati nanti infeksi."
"Untuk apa Kagami-kun? Aku tidak masalah kalau fisik terluka, tetapi hatiku…. Sulit menyembuhkannya!"
"Kembalilah kemari. Kuroko!"
Pikiranku kalang kabut. Pandangan orang. Seringai jahat mereka. Ditertawai dengan penampilan macam anak jalanan. Aku tidak peduli dan berlari sejauh mungkin. Yang penting Kagami-kun gagal menyusul. Tempat sepi untuk merenung sendirian. Menangis tanpa diketahui siapa pun.
Jam dua belas taman kota sepi. Aku menemukannya. Pohon tua yang akan ditebang dua tahun lagi. Tengah memekarkan ribuan bunga sakura pada puluhan ranting, baik kecil maupun besar. Hendak berjalan ke sana. Sebuah mobil melesat dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam. Andaikata Kagami-kun terlambat semenit saja. Nyawaku pasti melayang tanpa sempat dibawa ke rumah sakit.
"Ada yang terluka? Kau baik-baik saja?!" Melihat Kagami-kun aku merasa bersalah. Ingin minta maaf dia malah memelukku, erat.
"Maaf. Aku tidak bermaksud mengguruimu. Apa luka dibalas luka berguna? Kau hanya perlu melapor pada guru. Bersabar."
"Para guru tidak mau mendengarku. Pemimpin kelompoknya anak pejabat. Mustahil. Terlebih mereka teman-temanku dulu. Tapi semua berubah. Sudah berakhir."
"Kau tidak butuh pengkhianat. Semua berhak mendapat teman terbaik. Buang mereka jauh-jauh. Anggaplah hanya angin lalu."
"Jangan takut, Kuroko."
Perasaanku berkumul sesak dalam dada. Ucapan Kagami-kun membuatku ingin berdamai sekali lagi. Membiarkan semuanya berlalu seakan tidak terjadi apa-apa. Hubungan kami semakin erat dan memutuskan pacaran. Mengabaikan berbagai gosip yang beredar di sekolah.
Namun setahun kemudian, bertepatan dengan hari kelulusan, Kagami-kun membawa kabar buruk. Dia harus pindah ke Amerika. Ayahnya mendapat pekerjaan di sana. Kami berpisah di musim semi. Bertemu di musim panas. "Mereka" saling berdekatan satu sama lain. Aku menerima walau tidak ikhlas, terutama ketika mengantar ke bandara. Lagi-lagi terasa menyakitkan. Sesak.
Sepulang dari bandara. Hendak balik ke rumah menyebrangi zebra cross, di perempatan lampu lalu lintas. Aku ditabrak mobil sedan berwarna hitam, seperti kendaraan yang nyaris menghantamku setahun lalu. Siapa sangka, itu benar-benar pertemuan terakhir kami. Selama-lamanya.
End flashback….
Halaman belakang lengang sejenak. Mereka bertiga larut dalam pikiran masing-masing. Sesudah asyik menyimak cerita Tetsuna. Kepingan teka-teki lengkap hingga akhir. Cerita ini harus ditutup dengan perpisahan. Suka-benci. Terima-tolak. Senang-sedih. Terutama Akashi yang termenung sedari tadi. Dia keberatan. Rasa tenangnya lenyap ditiup penyesalan. Kenapa tidak dari dulu? Kenapa sampai menunggu lama? Membuang banyak waktu?
"Terima kasih atas semuanya. Aomine-kun, Akashi-kun, Momoi-san. Tolong sampaikan juga untuk anggota tim basket."
HUG!
"Biar aku yang mengabulkan permohonanmu! Kau tidak perlu balas mencintaiku. Cukup begini!"
"Akashi…. –kun? Karena itulah aku menjauhimu. Kau mirip dengan Kagami-kun. Kalian hanya beda orang dan watak. Namun rasa cintanya sama besar."
"Anggap pelukan ini sebagai hukuman. Salahmu mengabaikan Akashi Seijuuro."
"Itu hukuman yang menyenangkan, Akashi-kun. Aku mengucapkan terima kasih, sangat spesial. Maaf tidak bisa membalasnya, perasaanmu."
Tetsuna lenyap ditelan ribuan cahaya, dengan senyum tertulus sepanjang ia menghabiskan dua minggu di SMA, bersama teman baru. Hanya menyisakan udara yang terasa sesak baginya, mereka bertiga. Ternyata begini rasa kehilangan. Baik Aomine, Momoi maupun Akashi sama-sama menyesal.
Andaikata waktu dapat diputar. Mereka pasti menyambutnya dengan lebih baik.
Tamat.
A/N : Maaf kalau cerita ini masih ada abal-abal, typo juga hahaha. Selanjutnya aku akan balik dengan cerita yang lebih bagus. Hanya fokus ke fanfic itu tanpa perlu membuat cerita lain. Ya, membuat cerita di beda fandom sulit memang. Spesial thanks buat Mari yang setia~
Balasan review :
Natsu no Yuuki Bx 666 : Selamat. Anda mendapat hadiah dipotong pajak 100%. Gak nyangka bakal ada yang tau hahaha. Oke deh pasti kok sampe tamat. Udah tamat malah.
mari : Maaf kalo banyak typo, untuk minimalisir sekarang aku mengetik pelan-pelan, tidak lagi cepat-cepat hahaha (ketahuan males cek). Dan ini untuk balasan di chapter 5: Lagi gak ada ide buat gombalannya. Jadi tak pikir seadanya saja, hahaha. Hmmm yang kurang ya? Gak ada kok. Semua udah lengkap di chapter ini. Maaf Mar aku gak bisa nunggu. Hutang fandom Fairy Tail menunggu buat dilunasi. Thx y udah review sejauh ini.
