FREAK
Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.
Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.
Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?
.
.
this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.
.
.
Siang itu dengan takut Jiwon memasuki kediaman Choi. Kemarin malam Ia mendapat pesan dari Junhoe untuk menemui dokter Kim di rumah ini. Jangan tanya bagaimana Junhoe bisa mendapatkan nomor handphone itu.
Sebelum tangannya menyentuh bel, seseorang telah membukanya dengan raut wajah cantik.
" masuklah..,Jinwoo ada di dalam. Jinwooyaa..Jiwon datang!"
.
Jiwon dengan tenang duduk sambil menunggu dokter itu datang. Namun yang tiba bukannya orang itu melainkan suaminya yang berdiri tegap dengan wajah sangar.
" MAU APA KAU MENCARI ISTRIKU HA?!"
Jinwoo berlari cepat menyusul Mino sebelum suaminya itu membanting Jiwon.
" Mino-yaa.. aku yang memintanya kemari. Hanbin bilang dia ingin bertemu Jiwon, kau jangan salah paham"
Mino menarik nafas lega, setelah mencuri ciuman singkat di bibir istrinya ia kabur begitu saja.
" m-mianhae Jiwon-ah. M-mino memang seperti itu, tunggu sebentar." Jinwoo ikut kabur ke belakang, untuk memukuli Mino mungkin.
Jiwon sempat tersenyum, namun setelahnya wajahnya kembali tegang. Orang yang membukakan pintu untuknya tadi sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum ,sedangkan ada seseorang lagi di sampingnya dengan wajah yang super seram ikut menemani.
" kau Kim Jiwon. Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Kau mengenal anakku, Kwon Hanbin?"
Jiwon menelan ludahnya kasar, jadi..mereka ini. Orang tua Hanbin?
.
Pemuda itu masih duduk di pinggiran bed yang digunakan Hanbin berbaring. Ia belum berani mendekat, Choi Seunghyun mengawasinya dengan sangat baik.
" katakan sesuatu, aku tidak mau kau mendiamkan anakku."
Jiwon menggigit pipi bagian dalamnya, bagaimana mau bicara kalau Hanbin tak mengingat apapun. Dan lagi, Jiwon tidak mau kembali berurusan dengan orang yang bernama Hanbin. Ia trauma, sudah cukup semua yang Ia dapat selama ini.
" hyung? Aku ingin bertanya beberapa hal.."
Jiyong menarik suaminya untuk meninggalkan keduanya, meski tubuh bongsor itu terlihat sama sekali tak bergeming dari tempatnya.
" ayo hyung~ mereka butuh privasi. Aku jamin mereka tidak akan macam-macam"
Setelah berbagai hasutan manis Jiyong keluar, akhirnya Seunghyun pun mau meninggalkan kamar Hanbin.
.
" Jiwon hyung, kau satu-satunya orang yang kukenal. Tolong jelaskan padaku semuanya, tentang diriku, sekolahku, teman-temanku, keluargaku, dan terutama kau sendiri. Jebal.."
Jiwon menunduk, justru Ia tidak tau apapun tentang Kwon Hanbin. Dia hanya mengenal Kim Hanbin, dengan sangat baik.
" Jiwon hyung, kenapa diam saja. Apakah aku terlalu memaksamu? Apa kau tak menyukaiku?"
Matanya membelalak, Hanbin mengatakan sesuatu yang pernah dikatakannya dulu. Ingin mengatakan beberapa hal, tapi Ia tak cukup berani.
" Jiwon hyung. Katakan yang sebenarnya, kau ini siapa? Ini membuatku takut. Aku tak mengenal diriku sendiri. Aku hanya ingat kau menolongku malam itu di gang dekat supermarket. Tak lama juga kau yang menemukanku setengah sadar di sekitar distrik Gangnam, lalu kau membawaku ke rumah sakit, tapi kau menampiknya. Aku bingung dengan ini semua.."
" a-aku hanya menolongmu. Tidak lebih,"
" tapi aku seperti telah lama mengenalmu hyung, aku begitu bahagia bila bersamamu. Entah kenapa semua terasa berbeda. Saat aku bersama keluargaku aku masih bertanya siapa aku, tapi denganmu.. aku merasa yakin bahwa aku adalah Hanbin. Aku percaya padamu hyung"
Jiwon menarik senyum tipis, " sebaiknya kau bertanya pada hyung-mu. Dia begitu menyayangimu.. aku tak tahu apa-apa tentangmu. Mianhae"
Hanbin meremas selimut yang membungkus tubuhnya. Air mata tanpa sadar telah mengaliri pipi putihnya, Ia merasa sangat terpukul saat Jiwon mengatakan bahwa Ia tak mengenal Hanbin.
" hiks..begitukah?"
Jiwon menatap ragu pada Hanbin yang memandangnya sendu, Ia benci air mata yang sering dilihatnya membasahi wajah Hanbin. Sedetik kemudian Ia beralih untuk menghapus benda cair itu.
" mianhae.."
Hanbin tambah menangis sampai- sampai semua orang di rumah itu datang karena suara isakkan itu bertambah keras. " hyuung~ hiks! Bolehkah aku mengenalmu? Bisakah kau membantuku mengingat semuanya? A-aku.. takut. Kau meninggalkanku..hiks!"
Jiwon terperangah mendengar suara bergetar Hanbin, pemuda itu menatap Jiwon dengan mata beningnya yang berair.
" geure..,aku akan membantumu Hanbin-ah. Tapi aku tidak berjanji untuk-"
" kumohon Jiwon-ah, jika dia meminta begitu. Tetaplah bersamanya, penuhi semua permintaannya. Yang kini menjadi permintaan kami juga, sembuhkanlah dia"
Jiwon menghentikan perkataannya, Seunghyun berucap dengan tulus. Ditambah dengan tatapan memohon Jiyong, Mino dan juga Jinwoo. Kelihatannya Jiwon akan kembali berurusan dengan nama Hanbin, Kwon Hanbin.
.
.
Di rumah Kimbab :D
Bobby mengelus dagunya, Ia juga berpikir bagaimana mengatasi masalah baru ini. Kalau menjelaskannya tentang Kwon Hanbin Ia tak akan bisa. Kalau mengatakannya tentang Kim Hanbin Ia sama saja membohongi keluarga Choi.
" kita pindah rumah saja, aku tidak kuat menerima keadaan Hanbin sekarang. Dia tidak mengingat apapun tentang Jiwon atau Bobby"
" KAU GILA! AKU TIDAK MAU"
Jiwon memutar bola matanya malas, Bobby di sampingnya masih berusaha memforsir otaknya.
" kita harus berusaha, buktinya kau bisa ingat memorimu sebagai aku. Kenapa Hanbin tidak?"
" tapi Bobby-ah, aku takut gagal lagi. Aku sudah berkali-kali mengalaminya, aku tidak mau"
" setelah yang kita perjuangkan selama ini, kau akan menyerah begitu saja?"
Jiwon menunduk dan menghela nafas berat. Jujur, Ia tidak ingin semua perjuangannya sia-sia. Tapi semua kejadian ini membuatnya takut. Lebih baik menghindar dan semua perasaannya terhadap Hanbin pasti berangsur hilang nanti.
" jangan berpikir bodoh, aku tidak mau menyesal Jiwon-ah."
Bobby mengepalkan tangannya erat, raut wajahnya berubah serius dan tegang.
" apapun yang terjadi, kau harus mengembalikan ingatan Hanbin dan miliki dia kembali. Aku tahu kau bisa Kim Jiwon"
" kenapa bukan kau saja yang melakukannya.., kau tahu aku takut- yah.."
" aku hanya bisa menasihatimu, karena aku tak bisa berlaku selayaknya manusia seperti yang kau bayangkan"
" dan aku berani bertaruh kaulah yang membawa Hanbin ke rumah sakit. Mengaku saja.."
Bobby meringis lebar, tangannya menggaruk belakang kepalanya yang entah kenapa memaksa untuk gatal.
" ehehe..kau benar. Aku telah mengetahui bahwa ada seseorang yang mirip dengan Hanbin lalu aku mengekorinya. Maaf kalau aku keluar dari tubuhmu semauku, itu sebabnya kau sering mengalami kondisimu menurun dengan tiba-tiba padahal keadaanmu sedang sangat baik"
Jiwon mengernyit, " itu, kau bisa menjadi manusia dan membawa Hanbin kemari"
Ia mengomeli Bobby panjang lebar dilengkapi dengan umpatan gratis terbaiknya.
" ya.. hanya sekali itu. Termasuk saat aku mengejar Yifan dan memintanya menemuimu"
" oh.., tapi aku tetap tidak mau"
Giliran Bobby yang mengernyit, " kau tahu? Kwon Hanbin sepenuhnya sudah meninggal. Yang ada di dalam raga itu adalah Kim Hanbin."
" iya.., aku tahu"
" dan lagi, kalau aku tidak salah dengar dulu…, Kwon Hanbin sudah akan dijodohkan. Kau tak tertarik untuk mengacau acara itu?"
" MWO?!"
" heh, sudah kuduga. Aku yakin kau masih menginginkan Hanbin-ku Jiwon-ah.."
" jangan mengatakannya seolah dia hanya milikmu, dia milikku juga"
" ahaha… konyol. Siapa kau? Aku yang bertemu Hanbin lebih dulu"
" ahaha.., sebelum aku memperkenalkan diriku lebih baik kalau kau tahu bahwa Bobby Kim adalah masa lalu Kim Hanbin. Dan aku Kim Jiwon, adalah masa depan Kim Hanbin"
" whoa~ bicaramu bijak sekali nak. KALAU BEGITU CEPAT LAKUKAN SESUATU UNTUK MENDAPATKAN HANBIN KITA KEMBALI. JANGAN HANYA BERDEBAT DENGAN DIRIMU SENDIRI BODOH!"
Jiwon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap kosong sofa di sampingnya. Di sana tidak ada siapa-siapa sebenarnya. Bobby hanya ada di pikirannya, dan hanya dia yang bisa melihatnya. Nama yang lain dari dirinya..
.
Pagi itu di rumah keluarga Choi,
Hanbin tersenyum senang saat Jiwon kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia seperti tengah bermimpi, apa yang membuat Jiwon merubah pikirannya dan bisa bersikap sebaik ini padanya.
" hungg..,angu hahiya~ uhuk!" (hyung.., aku bahagia)
Jiwon segera mengambil segelas air putih dan meminumkannya pada Hanbin, " jangan bicara saat makan, kau bisa tersedak. Aigoo"
Hanbin menelan susah makanannya, setelahnya Ia tersenyum manis. Dan Jiwon terpaksa mengalihkan pandangannya, Ia masih belum terbiasa dengan Hanbin yang berwujud manusia. Manusia yang sebenarnya.
" hyung kenyang, aku mau jalan-jalan"
" andwae! Kau tidak boleh jalan-jalan, keadaanmu masih sangat lemah Hanbin-ah. Appa tidak menijinkanmu"
" appa~ aku mau jalan-jalan sebentar saja.. aku bosan di kamar terus! Jiwon hyung akan menemaniku, otteo?"
Seunghyun menatap anak bungsunya was-was. Hanbin yang tersenyum sangat manis dan bersikap manja padanya? Ucapannya barusan juga sangat halus dan sopan. Seperti bukan Kwon Hanbin saja.
" appa~ jeball.. "
" baiklah, hanya disekitar rumah. Tidak lebih. Dan kau Kim Jiwon, pastikan Hanbin baik-baik saja. Kalau terjadi apa-apa dengannya kau yang menerima akibatnya. Mengerti?"
Jiwon menelan ludahnya lalu mengangguk mantap. Ia menaruh mangkuk yang tersisa bubur beberapa sendok itu lalu menarik sebuah kursi roda. " kaja.. Hanbin-ah"
Hati Hanbin berdesir saat Jiwon memanggil namanya dengan lembut dan mengangkat tubuhnya untuk di dudukkan di kursi roda. Rona merah mewarnai hampir seluruh wajahnya dan hal itu membuat Jiwon menahan tawanya. Benar-benar seorang Kim Hanbin.
.
" hyung..,aku masih penasaran dengan bocah Kim itu. Jujur aku sedikit khawatir pada Hanbin, kau tahu Hanbin kita itu sangat-sangat polos dan juga cantik, meski yah~ kelakuannya buruk. Tapi aku takut pemuda itu bukan orang baik-baik"
Seunghyun tersenyum tipis, Ia mengelus surai lembut istrinya sambil mengintip anak mereka yang asik tertawa bersama Jiwon.
" itu sama dengan yang dikatakan eomma saat aku mendekatimu dulu. Aku tahu Jiwon adalah pemuda yang baik, kalau tidak.. mana mau dia kusuruh untuk.."
Flashback
Seunghyun tersenyum puas melihat pekarangan rumahnya yang bersih. Terimakasih atas bantuan paksaan dari Jiwon. " kau yakin hanya berteman dengan anakku? Kurasa ada hal lebih yang kau sembuyikan. Katakan"
" e- itu. tidak ada"
" hah~ kalau kau tak ingin mengatakannya sekarang juga tak apa. Mungkin beberapa hal akan membuatmu berpikir untuk mengatakannya"
Seunghyun tertawa ringan melihat keterdiaman bocah di hadapannya. Ia sangat tahu dan berpengalaman mengenai hal seperti ini. " istirahatlah, kau pasti lelah. Terimakasih kau mau membersihkan tamanku, aku mudah lelah."
Jiwon ingin sekali mencibir bahwa Ia telah diancam, atau tepatnya dipaksa, tapi Ia tak berani. Bagaimana bisa lelah, jika pekerjaannya hanya nongkrong sambil minum kopi? Camer macam apa ini?
" oh iya, jangan sungkan-sungkan datang kemari. Hanbin butuh teman, "
.
" MWO?! Jadi- mmpp!"
Seunghyun segera membekap mulut manis istrinya. Ia tak mau tertangkap basah sedang mengintip kegiatan orang lain.
" sshh.., yeobo. Jangan keras-keras!"
Jiyong mendengus sesaat setelah tangan suaminya berhenti membungkamnya.
" kita awasi mereka dari sini, aku juga penasaran dengan bocah itu. Menurutku dia misterius"
Jiwon menatap Hanbin dengan senyuman manisnya. Sudah lama Ia tak melihat sosok yang begitu dipujanya ada di depan matanya. Sinar mentari yang cerah dan udara segar ikut memperindah paras Hanbin di pagi itu.
" hyung~ jangan duduk di bawah. Nanti kau sakit!"
" biar, aku tidak akan sakit. Dari sini aku bisa melihatmu, lebih cantik. Berkali-kali lebih cantik dari biasanya"
Hanbin mengerjab " apa yang kau katakan hyung?"
" aniya, kau duduk saja yang tenang. Nikmati udara segar ini, aku akan mengawasimu"
Setelah beberapa menit terdiam, Hanbin memberanikan diri untuk memulai percakapan.
" hyung, seberapa dekat aku denganmu? Aku sungguh penasaran"
Jiwon mendongak, Hanbin yang menatapnya teduh sangatlah cantik. Entah bagaimana Jiwon mengungkapkannya,
" hyung?"
" a-ah! Kita… eum, berteman?"
" berteman? Kenapa nada bicaramu seperti itu hyung? Aku bertanya padamu, jangan kembali bertanya"
" eung.., kita pernah tinggal serumah. Selama-"
" MWO?! APA KATAMU? KEMARI KAU BOCAH SIALAN!"
Seunghyun sudah melompat dari jendela berniat menghajar Jiwon yang sudah lari menghindar. Hanbin yang melihatnya hanya tertawa riang, Ia telah mendapatkan sedikit bukti kedekatannya dengan Jiwon.
" jwesongeyo.., s-saya hanya. Seunghyun-ssi.., saya tidak melakukan apapun sungguh!"
" jelaskan padaku sekarang juga!"
Jiwon memandang punggung tegap appa dari Hanbin yang melangkah menuju rumah. Pemuda itu hanya bisa memijit pelipisnya bingung.
" ekh.., ayo Hanbin-ah kita masuk. Hari sudah mulai siang, matahari terlalu terik untukmu"
Hanbin menggangguk, setelahnya Jiwon mendorong kursi itu meninggalkan taman di halaman rumah Hanbin.
" katakan padaku yang sebenarnya. Jangan berani berbohong atau menyembunyikan apapun dariku. Kau tahu aku tidak akan melepaskanmu kalau kau berani macam-macam"
Jiwon menggertakkan giginya, hal inilah yang Ia takutkan. Apa yang harus disampaikannya? Tentang masa lalunya yang sudah terlewat hampir 9 tahun silam, atau tentang kedekatannya dengan Hanbin sebagai hantu. Jiwon yakin keduanya pasti membuat semua orang di sini serangan jantung mendadak.
".. jwesonghamnida. Sebenarnya aku.."
Hanbin menggigit bibirnya, Ia bingung kenapa semua keluarganya menangis pilu. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka dan Jiwon hyung-nya tadi.
" Hanbin-aa.."
Hanbin menengok pada ummanya yang sudah memeluknya erat. Jiyong menangis sesegukan sambil menyebut nama anaknya berulang kali. Tak berbeda jauh dengan Seunghyun, Mino dan Jinwoo. Mereka juga menangis sedih melihat Hanbin. Apakah ada yang salah dengannya?
" eomma?"
Jiyong diam, Ia segera melepas pelukannya dan menatap intens pada Hanbin.
" eomma gwenchana? Apakah terjadi sesuatu yang buruk?"
Wajah cemas Hanbin membuat Jiyong kembali menangis dan semakin erat memeluk tubuh Hanbin. " iya sayang..,eo- eomma disini. Eomma baik-baik saja"
Jiwon mengusap air matanya, Ia lega karena semua bebannya sudah terangkat dan mereka mempercayai apa yang dikatakannya. " maaf mengganggu, saya harus pulang sekarang. Saya ada jadwal kuliah sebentar lagi"
" Mino, tolong antarkan Jiwon."
" esok aku akan mengajak semua keluargaku datang kemari. Pastikan rumahmu sudah bersih, arra?"
" nde?! Besok?"
" wae~, ada sesuatu yang kau sembuyikan lagi? Tuan ajaib?"
" aish, jangan menyebutku begitu Mino hyung. Baiklah besok, kapanpun aku akan ada di rumah"
" pukul 8 pagi. Ah satu lagi, ajak adikmu juga. Siapa? E… Junhoe? Pokoknya itu"
Jiwon mengangguk malas, " geure,"
" aku pulang, terimakasih sudah menyelamatkan adikku Jiwon-ah. Sekali lagi aku berhutang banyak padamu"
" aniya.., aku yang berterimakasih. Kalian mengijinkanku untuk kembali dekat dengan Hanbin"
" ani, kalau bukan Hanbin yang meminta.. mungkin kau masih menangis sendirian di kamarmu"
Brommm..!
Jiwon menatap kepergian Mino dengan tertawa miring, " sebegitu cengengnya aku?"
" Donghyuk-ah!"
Jiwon menyingkirkan Yunhyeong yang duduk di samping Donghyuk, setelahnya Ia mengklaim tempat itu tanpa peduli aura gelap dari korbannya. Donghyuk hanya mengernyit, apakah Jiwon baik-baik saja?
" hyung? Kau sudah bersekolah lagi. Lukamu ini bagaimana?"
Jiwon tersenyum lebar saat Donghyuk menyentuh pelan perban di kepalanya. " Donghyuk-ah, aku bahagia sekalii!"
Donghyuk membeku, Jiwon memeluknya tiba-tiba dengan wajah yang begitu senang. Ada apa memangnya?
" aku.. sudah bertemu Hanbin!"
Donghyuk dan Yunhyeong saling menatap " Hanbin?"
Pagi itu Jinhwan duduk berselimut sambil menonton televisi, di bawahnya Junhoe dan Jiwon sedang mengelap lantai. Jangan tanya mana alat pel yang bisa mengurangi beban mereka itu. " June-yaa.. yang sebelah sana masih kotor. Sinikan!"
" shireo! Kau duduk saja, kau tidak boleh kelelahan. Biar aku dan dia"
" dia? Kau belum tahu namaku, bocah?!"
" mwo.. memang aku peduli siapa kau. Jjinja "
Jinhwan memijit pelipisnya pelan, kalau mereka bertemu pasti tidak jauh dari kata bertengkar. Sekalipun itu hanya masalah kecil, seperti saling menghina.
" aigooo.. cepatlah. Sudah hampir pukul 8! Jiwon-ah, ambilkan aku air."
" ya hyung~ kenapa aku? Suruh suamimu sana!"
" aku ingin Junhoe di sini. Kau saja yang pergi, sana!"
Jiwon mencibir sambil berlalu, tak lupa kakinya yang menyempatkan diri untuk menendang Junhoe sampai terjengkang. " AHAHA! RASAKAN"
" sialann.., INGATKAN AKU UNTUK MENGHAJARNYA NANTI HYUNG"
Jiwon menahan lengan Junhoe yang hendak menghantamnya, kuat juga bocah ini. Sementara Jinhwan sudah lelah mengingatkan dua pria berjiwa playgroup di hadapannya. Sehingga sampai mereka bergulungan di lantai Jinhwan sudah tidak peduli.
Ting nong..(?)
Jinhwan diam, mencoba menajamkan pendengarannya. Apakah tamu mereka sudah datang?
" Jiwon June! Diamlahh"
Namun kelihatannya dua manusia itu tidak mau berhenti gaduh. Yah, biasa.. anak muda. Akhirnya Jinhwan memutuskan untuk turun dan membukakan pintu rumah Jiwon.
" ANNYEOONG!"
Jinhwan berjengit kaget, banyak sekali yang datang? Suaranya salamnya saja seperti accapela.
" eumh.., apakah.. Anda tuan Choi?"
TBC
N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.
Thanks to : Park Rinhyun-Uchiha, jiminjae, LayChen Love Love, EunhyukJinyoung02.
mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.
