FREAK
Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.
Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.
Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?
.
.
this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.
.
.
Jiwon memeluk boneka Mickey dan terdiam di kamarnya. Ia mendapatkannya dari almari lama Hanbin.
Mencoba tidur dan melupakan Hanbin, tapi otaknya sungguh sialan. Meski Ia membenturkan kepalanya berkali-kali sekuat mungkin, nama Hanbin tetap ada di kepalanya.. bahkan hatinya.
" ARGH! Aku tidak bisa bertahan lagi!" boneka Mickey itu terlempar ke sudut ruangan.
' hei, bocah payah. Jangan mencoba melakukan hal buruk, aku mengawasimu'
" diam Kim, jangan ganggu aku"
' kau pikir siapa dirimu berani memerintahku, kau hidup karenya nyawaku tertahan di tubuh 11 tahun milikmu'
" aku tidak menyuruhmu, sial! Lebih baik aku mati sambil memeluk boneka pooh-ku dulu dari pada jatuh cinta pada Hanbin-mu"
' ya! Aku menolongmu bodoh. Berbaiklah sedikit, setidaknya biarkan aku mengenang-'
" bisakah kau pergi Bobby-ah? Sekaligus bawa ingatanku denganmu dan carilah tubuh inang baru"
' Kim Jiwon, kupikir kau sudah mengerti..'
" aku belum mengerti, ani. Aku tidak mengerti! Aku tidak mau mengerti! ARGHT! SUDAH CUKUP KAU MENGGUNAKANKU! Hiks.., pergilah"
Jiwon kembali meringkuk dan menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya. Ia menekan kepalanya kuat, berharap tidak mendengar layangan protes dari Bobby. Tapi nampaknya itu percuma, suara yang sama sekali tak berbeda dengan suaranya itu terus mengganggunya.
" DIAMLAH BOBBY! Aku butuh istirahat..hiks, biarkan aku sendiri"
Hanbin terpaku di tempat tidurnya, kenapa tiba-tiba ada Jiwon di kamarnya? Bukannya pemuda itu sudah pergi dari rumahnya tadi?
" Jiwon hyungg.."
Suara Hanbin bergetar takut, Jiwon terus mendekat dan menyentuh pipi Hanbin lembut. Jiwon tersenyum lalu menghirup nafas dalam, " aku akan membantumu mengingat semuanya.."
Chu~
Tidak ada hal lebih, hanya sentuhan lembut pada bibir merah Hanbin. Tangannya meraih pinggang Hanbin dan memeluknya hangat. Bibirnya belum mau lepas, dan terus merasakan Hanbin.
" Bobby hyung?"
Pemuda itu melepas ciumannya dan menatap Hanbin penuh kerinduan, " ne, aku disini"
Namun Hanbin dibuat takut oleh pemuda itu, pasalnya tubuh yang dilihat Hanbin perlahan memudar. Bahkan dia tampak tak merasakan sakit, terus tersenyum menatap Hanbin.
" Bobby hyung!"
Tak mendapat jawaban, Hanbin segera bangun dan berlari.
BRUGH
" Bobby hyung! Hiks..Bobby hyung," Hanbin hanya bisa menatap bayangan itu menghilang perlahan. Tapi Ia tak bisa bangkit, kakinya memilih untuk tetap lumpuh dan nyeri saat Hanbin memaksanya bergerak.
" Bobby hyungg~ hiks! BOBBY HYUNG GIDARIII!"
" Hanbin-ah.., bangun! ada apa sayang?"
" Bobby hyung! Jangan pergi..hiks"
" Hanbin! Bangun, kau mimpi buruk…"
Jiyong menarik Hanbin paksa kedalam pelukkannya. Anak bungsunya itu lalu membuka matanya cepat, yang masih mengalirkan cairan bening.
" eommaa..hiks"
Hati Jiyong teriris mendengar tangisan Hanbin, " iya sayang, ada apa?"
" Bobby hyung..,"
Jiwon merasakan pelukan hangat dalam tidurnya, apalagi aroma apel manis yang sangat Ia hafal. Kim Hanbin..
" aku tidak mau bangunn.."
Suara tawa kecil mengalun indah di telinga Jiwon, " aish! Pokoknya aku tidak mau bangun..tetaplah di sini ne? karena aku hanya bisa menemuimu dan memilikimu di sini. Di mimpiku.. Hanbin-ah"
Jiwon tetap menggumam dengan suara seraknya, kembali tawa itu menghampiri Jiwon.
" siapa bilang kau bermimpi hyung.., aku memang di sini. Bersamamu"
Jiwon membeku dalam tidurnya, Ia mengeratkan pelukkannya dan menajamkan penciumannya.
" akh! Jangan terlalu erat menekanku hyung..,appo~"
Tunggu
Jiwon membuka matanya dengan cepat dan menemukan sesosok tubuh berbaring nyaman dalam pelukkannya. " Hanbin-ah? Bagaimana kau bisa ada di sini, dan… kenapa kau bisa masuk?!"
Jiwon buru-buru melepas pelukkannya dan mundur, Ia takut yang dihadapannya itu bukan Hanbin sungguhan. Melainkan YooIn halmoni, hantu nenek paling jahil di rumahnya.
" tenang hyung, dia Hanbin sungguhan."
Jiwon berbalik dan mendapati Junhoe bersandar di pintu kamarnya dengan wajas malas.
" kau membuatku malu, beraninya memeluk anak orang lain sampai seperti itu"
"t-tapi"
" cepat turun! Banyak orang menunggumu"
Jiwon menunduk, antara malu dan kesal. " baiklah.."
Seunghyun tersenyum lebar melihat Jiwon turun sambil menggendong Hanbin di punggungnya.
" bagaimana tidurmu nak?"
" ah, ituu.. saya tidur dengan nyenyak Seunghyun-ssi AW! Hanbin jangan macam-macam!"
Setelah sampai di bawah, Jiwon menurunkan Hanbin perlahan. Lalu Ia ikut duduk berseberangan sambil mengusap telinganya yang memerah sakit karena gigitan Hanbin.
" kenapa… kalian semua kemari?"
Seunghyun menoleh pada istri dan anaknya. " kami ingin meluruskan sesuatu"
Oh, Jiwon jadi teringat kejadian kemarin. " gwenchana.., itu tidak masalah"
" hoo~, asal Hanbin bahagia kau tak masalah?"
Jiwon mengangguki pertanyaan Mino sambil tersenyum, " aku sangat kesulitan sebenarnya, tapi melihat Hanbin bahagia, aku rasa sakit itu pasti bisa hilang."
" dengan siapapun itu?" giliran Jiyong bertanya. Kali ini Jiwon diam, " …ya, dengan siapapun. Asal dia selalu bahagia"
Hanbin tersenyum lega, namun Jiwon tahu. Senyuman itu bukan karenanya.. bukan untuknya.
" baiklah, aku ingin Hanbin bahagia denganmu Jiwon-ah"
" NE?! AW SAKIT!" Jiwon mengaduh akibat pukulan Jinhwan.
Jinhwan melotot sangar begitu Jiwon akan melayangkan protes. Benar kan kalau dia memukul Jiwon karena bocah itu berteriak di hadapan orang yang lebih tua?
" aku sengaja mengajak Zico untuk menginap di rumah, dan esoknya berencana untuk mengetes seberapa besar perasaanmu pada adikku dengan memanas-manasimu"
" dan yah, kebetulan sekali kau malah sudah datang di rumah. Aku dengan mudah mengetahuinya, kau begitu tulus mencintai Hanbin" Mino berucap yakin dengan senyuman.
" lagipula Hanbin sudah bisa mengingatmu, kami tidak bisa membuatnya tersiksa dengan menahannya supaya tak bertemu denganmu" Seunghyun tersenyum.
" ah iya, sebenarnya namamu itu Bobby atau Jiwon? Dari kemarin Hanbin menyebutmu Bobby"
"a- ahaha" Jiwon tertawa garing sambil menggaruk kepalanya. Jiyong memandang agak takut pada Jiwon yang seperti ini.
" appa~" Hanbin merengek, entah apa yang dimaksud bocah itu.
" geure, Jiwon-ah. Aku tidak akan mempertanyakan ini lagi karena kau sudah mengatakannya kemarin. Tapi aku ingin bertanya hal lainnya, siapkah kau menjadi suami dari anakku Hanbin?"
Tubuh itu menegang, Ia menatap Hanbin yang hanya tersenyum. " a-aku?"
" yah.. aku tak memaksa tapi kalau kau tak mau, itu lebih baik-"
" appa! Katakan dengan benar"
" baby.., biarkan dia yang melamarmu karena dia adalah calon suamimu. Bukan appa!"
Hanbin mencebik lucu, Jiwon tersenyum melihatnya " arraseo, besok saya akan datang ke rumah Anda Seunghyun-ssi"
" tidak! Aku tidak mau"
Mereka menatap pada Jiyong yang berkacak pinggang, " kalau kau terlalu lama aku takut terjadi hal aneh - aneh lagi pada putraku! Sekarang saja, palli!"
Giliran Jiwon yang kebingungan, Ia senang saja melamar sekarang. Tapi apa yang akan dipakai menjadi maharnya?
" CEPAT!"
Jiwon kalang kabut, selanjutnya Ia berlari ke lantai atas dan kembali turun dalam 10 detik.
Jiyong tertawa melihat kecerobohan Jiwon yang hampir terpeleset. Ia sedikit menyesal karena meneriaki bocah itu tadi, tapi Ia juga tak bisa diam saja melihat kelemotan calon menantunya itu.
Jiwon terengah sambil mendekat ke arah Hanbin, Ia mengatur nafasnya lalu menyematkan senyum terbaiknya. " hahh.., Hanbin-ah-"
Hanbin terperangah saat Jiwon berlutut di hadapannya, " Would you.."
Jiwon menutup matanya erat, rasa gugup kembali menerpanya. Sama seperti waktu 8 tahun lalu..
Hanbin ikut panik saat Jiwon menekan sebelah dadanya dengan salah satu tangannya.
" hyung-"
" would you marry me.., h-Hanbin-ah?" senyum itu menghilangkan kekhawatiran Hanbin. Ia tersenyum sendu, Ia merasakan sesuatu dalam hatinya kembali hadir. Hangat menyelimuti hatinya, dan Jiwon yang menatapnya menambah rasa gugupnya.
" aku tidak menerima penolakan"
" t-tentu saja aku mau..hyung bodoh!"
Jiwon sempat melotot mendengar umpatan Hanbin, namun berikutnya Ia tertawa.
" gomawo.., jeongmal gomawo.. Hanbin-ah"
Berikutnya jari manis Hanbin telah terpasang cincin perak dengan ukiran lembut 'Kim Hanbin'. Hanbin juga menemukan tulisan 'Bobby's' dibaliknya.
" eungh.., tapi kenapa namanya Kim Hanbin. Bukan Kwon Hanbin? Lalu aku juga tidak tahu siapa kau. Kim Jiwon atau.. Bobby?"
Jiwon awalnya terkejut, " bukannya margamu berubah menjadi Kim sekarang? Dan, untuk namaku bukannya itu tidak penting?"
" eumh! Aku tidak perduli siapa kau, saranghae hyung.., neomu saranghae!"
Hanbin melompat ke arah Jiwon dan memeluknya erat. " aku ingin memanggilmu Kimbab saja! Aaah! Aku bahagia sekali"
Jiwon tertawa sambil menahan sakit di telinganya, teriakan Hanbin mendengung menyakiti gendang telinganya.
" ahaha.., aku juga bahagia sekali. Gomawo Hanbin-ah..,telah kembali menerimaku"
" hu'um,"
Jiwon diam saat Hanbin mendekatkan wajahnya, berbisik pelan" Bobby hyung, aku tahu ini kau. Kim Jiwon itu.., hanya tubuh inangmu kan? Tapi-bagaimana Jiwon juga bisa hidup bersamaan denganmu"
Jiwon tersenyum, " kau benar, aku Bobby. Kau jadi pintar ya? AW appo!"
Hanbin tersenyum saat Jiwon mengusap kepalanya, tadi Ia memang sengaja memukul Jiwon.
" Hanbina~"
" jangan manja hyung! Cepat lepaskan aku!"
Hanbin berkedip bingung, apakah pernikahannya dilakukan dalam minggu ini? Kalau benar begitu apakah dia akan siap? Menghadapi segala keanehan Jiwon dalam hidupnya..
" bagaimana Jiwon-ah?"
Jiwon yang ditanya melirik ke arah Hanbin. Mendapati wajah ragu itu, akhirnya Jiwon berucap " aku ingin Hanbin sembuh dahulu, lagipula dia perlu mengembalikan ingatannya kan?"
Mino akhirnya mengangguk, "benar eomma! Kalau Hanbin kita tiba-tiba lupa dan kabur dari rumah bagaimana?"
" yak! Jaga bicaramu, aegya.."
Jiyong akhirnya menghela nafas, " baiklah, kuberi waktu 2 minggu. Dan bantulah Hanbin mengingat semuanya Jiwon-ah, jebal "
" tapi Jiyong-ssi aku tidak-"
" jangan membantahku! Dan mulai sekarang panggil aku eomma dan Seunghyun hyung harus kau panggil appa. Aish! Telingaku gatal mendengar panggilan anehmu"
" Ji.., bicaralah yang baik." Nasihat Seunghyun. Sementara Jiyong malah memanyunkan bibirnya sebal.
" kupikir hari ini cukup,.. besok mainlah ke rumah!"
Jiwon terkejut saat Seunghyun menghampirinya dan menepuk pundaknya pelan. " selamat berjuang,nak.."
Ia masih tersenyum saat mengingat ucapan Seunghyun tadi. Ia jadi merindukan sosok appa-nya yang telah meninggal bersama eommanya di sebuah kecelakaan mobil dulu. Saat itu Ia tengah berusia 11 tahun dan memiliki fisik yang lemah.
Tapi entah kenapa Tuhan menyelamatkannya dari kecelakaan itu. Tubuhnya yang hampir hancur kembali utuh dengan cepat, ditambah satu hal lagi. Ia mengenal dirinya bukan lagi sebagai Kim Jiwon, tapi dirinya adalah Bobby.
Tubuhnya menjadi kuat, tidak seperti anak seusianya. Pikiran dan sikapnya juga terlalu dewasa di usianya yang masih kecil. Lambat laun Ia sadar, Kim Jiwon sudah tidak ada sejak kecelakaan itu. Hanya ada Bobby yang bersemayam di tubuh 11 tahun Jiwon sampai sekarang.
Jiwon mengusap wajahnya kasar. Ia kini kebingungan harus menyebut dirinya sebagai siapa.. Kim Jiwon atau Bobby. Dulu Ia memang tidak mempermasalahkan hal itu tapi sekarang?
Karena Hanbin yang bertanya padanya, siapa dirinya? Ia jadi takut, sebenarnya dia itu siapa?
Jinhwan mengelus perut besarnya, hari ini adalah bulan ke tujuh kehamilannya. Esok kandungannya akan menginjak usia 8 bulan. Ah.. dia sudah tidak sabar ingin menyambut kehadiran malaikat kecilnya dengan Junhoe.
" Jinan hyung!"
Jinhwan tersadar dari lamunannya, sepertinya Ia kenal suara itu?
" Jinan hyung buka pintunya!"
Jinhwan mengernyit, lalu Ia melangkah pelan ke arah pintu. Oh, ternyata..
" Jinan hyung! Hyung..,hyung!"
Jinhwan hanya menghela nafasnya,sebenarnya Ia tidak mau mendapat tamu hari ini. Tapi Jiwon dengan cerewet terus memanggilnya. Apalagi dirinya sudah terlihat oleh mata kecil bocah itu.
" pulanglah, aku tidak mengenalmu"
Di luar sana Jiwon tambah brutal menggedor pintu, dan mulutnya tidak berhenti berkata ' Jinan hyung buka pintunya' aish.
" hyung jebal!"
Jinhwan yang memang sudah sebal malah meninggalkan Jiwon yang terus meraung di teras rumahnya. Hari ini Ia memang di rumah sendirian. Suami tercintanya sedang bertugas ke luar kota, dan jelas saja Junhoe tak tega mengajak Jinhwan yang di usia kandungan tua untuk ikut bersamanya.
Jiwon menjambak rambutnya frustasi, Jinhwan-" akh!"
Dan Jiwon benar-benar panik sekarang, Jinhwan hyungnya berteriak kesakitan di dalam rumah itu. Dan entah dari mana Jiwon sudah ada di hadapan Jinhwan lalu membopong tubuhnya keluar rumah. Tangan kirinya merasakan sesuatu yang hangat dan basah, o-ohh.. jangan bilang-
" Jiwon-ah…, hiks appo~ perutku!"
Nah, giliran Jiwon yang takut. Jangan-jangan Jinhwan akan melahirkan? Oh tidak. Ia trauma darah sekarang.
Jinhwan sudah berbaring di ruang persalinan dengan menangis, " JIWON-AH!". " i-iya hyung.. aku di sini. Tenanglah hyung,"
Dokter di sebelah Jinhwan memerintahkan untuk menarik nafas dan menekannya di perut dengan kuat. Dan Jinhwan juga sudah mencobanya berkali-kali namun Ia terlalu takut. Ia kalut, Junhoe tidak ada di sampingnya. Ia ingin Junhoe, bukannya Jiwon!
" tuan, tolong dukunglah istri Anda. Berilah semangat dan kuatkanlah, sebentar lagi bayinya akan keluar. Jangan menyerah! Mari Tuan Kim"
' istri kepalamu! Pabbo uisa, aku bukan suaminya..aish untung Junhoe tidak di sini. Jangan karena namaku Kim kau seenaknya memutuskan, dasar noona jelek' Jiwon memandang dengan wajah dendam.
" mari kuluruskan beberapa hal uisa-nim-"
" itu nanti saja, sekarang bantulah istri Anda!"
Sial
.
Jinhwan mencengkeram erat lengan Jiwon dan mengerang hebat. Peluhnya menetes deras dan wajahnya memerah kesakitan. Jiwon jadi tidak tega, bagaimana kalau Hanbin melahirkan anak-anaknya nanti?
" Jiwon-ahh.., sakitt! Hiks..sakitt"
" a-ayo hyung. Kau bisa! Junhoe pasti datang sebentar lagi, dan baby pasti ingin cepat-cepat melihat dunia kan hyung? Ayo hyung!"
Benar saja, sedetik setelah itu Junhoe dengan terburu memasuki ruang bersalin.
" yak kenapa kau baru datang bodoh!"
" karena kau yang mengabariku barusan bodoh! Kenapa tidak dari kemarin saja?!"
" YA! Mana aku tahu kalau Jinhwan hyung akan melahirkan esoknya bodoh!"
" KALIAN BERHENTI! Ughh.., hiks hiks perutku sakittt!"
" a-akk! Jinan hyung, tangan ku.." Jiwon merengek kesakitan. Dari tadi Jinhwan meremat dan mencakar tangannya, Ia maklum saja sih. Tapi sekarang kan sudah ada Junhoe, kenapa bukan dia saja?
" sshh.., yeobo kau bisa. Ayo kita sambut baby bersama..hm? uljimaa"
Junhoe membisikkan kata-kata halus dan ciuman lembut berulang kali pada Jinhwan. Jiwon yang memandangnya menangis antara haru dan kesakitan. Bagaimana kerasnya perjuangan Jinhwan dan Junhoe yang dengan sabar dan tenang mendampingi. Ia jadi iri, jujur saja.
Dengan satu tarikan nafas, suara tangis yang lantang saling bersahutan. Jinhwan terengah dan Ia sudah tidak mampu membuka matanya. Ia terlihat begitu lelah.
" sayang.., babys sudah lahir. Terimakasih..ayo sekarang beristirahatlah sebentar dan kita akan melihat mereka"
Jinhwan membuka kembali matanya yang terasa berat. Junhoe terus memberinya kecupan dan kata-kata menenangkan. Tapi ".. babbys?"
Jiwon keluar dari ruang perslinan. Ia memberi privasi kepada keluarga kecil Goo. Junhoe dan Jinhwan terlihat begitu bahagia dengan kedua anaknya. Ya, si kembar.
Jiwon menghela nafas sebelum mencari tempat duduk. Orang berlalu lalang membuatnya sakit mata, tapi kelihatannya justru Ia yang menyakiti mata orang lain. Buktinya saja banyak yang memandangnya jijik, baju penuh darah dan luka cakaran di sepanjang lengannya.
" eomma.., paman itu kriminal sekali. Takutt" Jiwon melotot saat anak kecil itu berlindung di balik tubuh ibunya. " sudahlah nak, jangan lihat paman itu ok?"
Ok Jiwon, bersabarlah. Mereka hanya tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Kamu pemuda yang baik hati kok, iya. Yakin deh -_-
" JIWON-AHH!"
Dari kejauhan terlihat Jinwoo yang berlari ke arah Jiwon. Sementara itu keadaan rumah sakit yang lumayan ramai tak membuat suara teriakan Jinwoo terdengar mengganggu.
" ya., kenapa kau ada di sini? Dan apa-apaan penampilanmu ini?! Kau habis membunuh seseorang ya?!"
" yah hyung! Aku tak mungkin melakukannya, ini bukan pembunuhan"
" oh..,hehe. Lalu apa?"
" Jinhwan hyung, dia melahirkan. Aku yang membawanya kemari"
" sampai baju dan lenganmu seperti ini?"
" emm, ya..begitulah. Jinhwan hyung tampak sekali tak ingin melukai Junhoe, sehingga aku yang menjadi pelampiasannya"
" baiklah, kukira ada apa. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
" baik! Mereka punya bayi kembar, tampan-tampan lho.. tapi Junhoe terburu mengusirku keluar"
" syukurlah..,aku ikut bahagia. Tapi sekarang kau ikut aku"
" aku, kenapa?"
" apa kau mau dikira kriminal ha? Ganti baju cepat! Aku tak mau punya adik ipar yang lusuh sepertimu"
Sekali lagi, bersabarlah Kim Jiwon.
Sekarang keadaan Jiwon sudah kembali rapi dan bersih, dia masih bercermin dan menata rambutnya sekeren mungkin.
" sini!" panggil Jinwoo.
Dengan menurut, Jiwon melangkah ke arah Jinwoo. " jongkok"
Lagi-lagi Jiwon menurut, " agak mendongak, aish! Cepat"
Jiwon berusaha bersabar, " akh sakit hyung!"
" makanya diam! Cerewet!"
Jiwon mencebik tak terima, keningnya diganti perban baru oleh Jinwoo. Dan luka di tangannya sudah diobati sekaligus. " hyung, kenapa kau bisa tahu aku ada di sini?"
" mudah saja, wajah jelekmu itu terlalu mencolok di sini"
" hyung aku serius!"
" kau pikir aku bercanda?!"
Jiwon mengatupkan bibirnya erat, kenapa Jinwoo jadi sensitif begini? Meski mereka baru mengenal beberapa bulan tapi ini bukanlah sifat Jinwoo.
" apa Jinwoo hyung hamil? Dulu Jinan hyung juga begitu..ah tidak mungkin" lirih Jiwon.
" kau bicara apa Jiwon-ah?"
" a-ani. Eobso hyung, eng.. Hanbin bagaimana kabarnya?"
" kelihatannya keadaannya belum membaik. Aku heran, padahal kami telah merawatnya dengan sangat baik Jiwon-ah"
Kini Jiwon merenung, apakah ini ada kaitannya dengan penyempurnaan roh Hanbin dalam tubuh barunya?
" hyung.." tatapannya tajam mengintimidasi.
" ne? ada apa? Kenapa? Jangan menatapku seperti itu Jiwon-ah, aku takut!"
Jiwon segera mengubah wajahnya ke mode santai, " bolehkah aku..aish tidak hyung, tidak jadi"
" ayolah.., aku sudah terlanjur penasaran! Kau ini, mau kuadukan pada Mino?!"
" ANDAWE! B-baiklah.. aku ingin mengatakan-"
" cepatlah!"
" kau terus memotong pembicaraanku hyung! Bagaimana aku bisa cepat?!"
" arraseo, mian. Malhaebwa.."
" Hanbin akan sembuh dengan 1 cara. Tapi aku tidak yakin dia mau.."
" ha? Memangnya apa caranya "
".. penyempurnaan roh. Karena saat roh Hanbin kembali masuk, Mino hyung tanpa sengaja menghentikanku. Dengan otomatis pemindahannya belum sempurna"
Jinwoo berkedip polos, Jiwon harap calon hyungnya ini mengerti arah pembicaraannya.
"maksudmu kau ingin mencium Hanbin? AHHAAHAHAH.. lucu sekali adikku yang pemalu.."
Jiwon memejamkan matanya jengah, Ia tidak malu kok sungguh! Hanya takut kalau nanti cara ini tidak disetujui oleh Hanbin dan keluarganya.
" haha..mian, tapi kau tidak bisa mengatakannya pada orang rumah kalau kau masih mau hidup. Aku ada jalan pintas"
"mwo? Hyung aku tidak mau macam-macam kalau-"
" bukan! Maksudku kau bisa melakukannya tanpa sepengetahuan appa umma dan Mino. Bagaimana?"
Jiwon berfikir keras, kali ini Ia agak tertarik. " memangnya cara apa itu hyung?"
" pergilah kencan, aku akan menutupi semua hal yang kau lakukan"
" apa maksudmu hyung? Aku tidak akan melakukan hal yang bukan-bukan!"
" aniya.., meski kalian bergandengan tangan pun jangan sampai Mino tahu. Iya kan?"
Benar juga, Mino adalah satu-satunya yang tidak terlalu suka dengannya.
" baiklah Jinwoo hyung, aku mau. Kapan?"
Hanbin menggeliat malas, sudah seharian Ia berbaring di kamarnya namun tak sedetikpun Ia dapat tidur.
Pikirannya penuh dengan siapa aku dan Jiwon hyung.
" kalau aku adalah Kwon Hanbin.., tapi aku justru tak tahu apa-apa tentang nama ini"
" kalau aku adalah Kim Hanbin.., aku tetap tak ingat apa-apa kecuali Jiwon hyung. Menyebalkan.."
" lalu..., Jiwon hyung itu siapa? Bobby hyung juga.., lama-lama aku jadi takut sendiri. Mereka ini siapa-"
Cklek
Hanbin mengkerut takut, pintu kamarnya terbuka dengan tiba-tiba.
" saengi ayo kita pergi?!"
" Jinwoo hyung? Eodiga?"
TBC
N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.
Thanks to : Park Rinhyun-Uchiha, EunhyukJinyoung02.
mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.
