Chapter 2 : BESTFRIEND?

Main Pair : SasuHina dan NaruSaku

Rate : T semi M

.

.

.

HELL ! TIDAK MUNGKIN SASUKE MENYUKAINYA !

Kejadian kemarin membuat Hinata tidak bisa tidur. Ia masih merasakan sentuhan Sasuke di lehernya yang membuatnya bergidik ngeri, memang sih itu bukan pertama kali Sasuke menyentuhnya, bahkan Sasuke pernah tidur dengannya.

Tidur dalam artian melakukan Sex.

Hinata nggak bohong kok, sumpah, mereka pernah melakukan hubungan intim, saat Hinata masih tinggal di Kyoto. Saat itu keluarga Uchiha dan Hyuuga berkumpul melaksanakan pertunangan resmi Hinata dan Sasuke yang sudah berusia 16 tahun kala itu, acaranya dilangsungkan di salah satu hotel mewah di Kyoto yang hanya di hadiri para keluarga besar Uchiha dan Hyuuga saja. Tentu saja semua biaya di tanggung oleh keluarga Uchiha. Malam setelah pertunangan itu Hinata yang stress karna di paksa bertunangan meneguk minuman ber-alcohol dalam jumlah yang banyak, dan sialnya, dirinya dipergok oleh Sasuke. Paginya Hinata merasa sekujur tubuhnya sakit terutama di bagian selangkangannya, saat ia merasakan pergerakan seseorang di sampingnya, Hinata ingin sekali bunuh diri. Sasuke Uchiha. Naked. Menatapnya dengan santai kemudian menariknya dalam ciuman panas, yang membuat Hinata Blank seketika. Mereka malah mengulangi lagi kejadian yang… brengseknya, Hinata nikmati di pagi hari itu.

Hinata mengacak-acak rambutnya kasar saat bayangan masalalu masuk dalam tidurnya, semalam ia hanya tidur sebentar. Sekarang efeknya mulai ia rasakan, kepalanya berdenyut sakit. Ia butuh aspirin segera.

Hinata kemudian bangun dari tidurnya, matahari masih belum terlihat. Ia membuka gorden jendela kamarnya yang menampilkan jelanan yang masih terlihat sepi, hanya beberapa orang terlihat berlalu-lalang di jalanan sekitar apartement perumahan sederhana itu. Damai itulah yang Hinata rasakan. Hinata memang menolak tawaran keluarga Uchiha untuk tinggal di rumah mereka, alasannya Hinata ingin mandiri. Sasuke awalnya keberatan, tapi Hinata bersikeras tidak ingin tinggal di keluarga Uchiha, ia tidak ingin di manja. Padahal itu hanya alasannya saja, ia hanya tidak ingin di ganggu, ia masih ingin merasakan kehidupan bebasnya sebelum menikah. Akhirnya calon mertua alias Papi Fugaku ngijinin dan mengatakan bahwa Hinata adalah wanita yang hebat karna memiliki kemandirian padahal gadis itu masih berusia 17 tahun saat ini. Hinata sebenarnya merasa bersalah karna sudah berbohong saat itu.

"Naruto…"

Hinata tersenyum kecil, betapa ia merindukan senyuman pria itu. Hinata tidak bisa berbohong jika ia masih mencintai Naruto, cinta pertamanya sampai sekarang. Sasuke juga mengetahui hal itu, dan tidak berkomentar apapun. Lagipula Hinata yakin Sasuke terpaksa melakukan semua pertunangan ini. Hinata memang tidak pernah mengerti dengan pola pikir Sasuke, ia selalu saja dingin dan ketus padanya. Acuhkan pemikiran tentang hubungan intim mereka, itu tidak ada efek sama sekali di hati Hinata, asalkan mereka berdua menikmati, tidak ada masalah bukan? Lagipula tidak ada unsur cinta itu hanya murni nafsu. Tentu saja semua itu menurut Hinata.

Sebenarnya tujuan Hinata ke Tokyo hanya ingin membatalkan pertunangan dirinya dengan Sasuke, tentu saja dengan melibatkan Naruto Uzumaki, cinta pertamanya. Hinata tidak akan sanggup hidup dengan Sasuke, pria yang tidak dia cintai. Kejadian di Kyoto sudah cukup membuatnya truma dengan Uchiha bungsu itu.

Suara gedoran pintu menghentikan lamunan Hinata. Cepat-cepat ia membuka pintunya takut mengganggu tetangga di sebelahnya. Wajah Sasuke yang terlihat lelah menjadi pemandangan pertamanya. sepertinya Sasuke habis berolahraga. Sasuke kemudian masuk begitu saja, mengacuhkan Hinata yang masih terlihat terkejut di depan pintu. Ia kemudian mengambil air di kulkas dan meminumnya dengan cepat.

"Sampai kapan kau mau berdiri di situ?"

Suara dingin Sasuke mengembalikan Hinata ke dunia nyata. Hinata dengan cepat menutup pintunya. Ia menatap Sasuke dengan bingung.

"Ke-kenapa kau ke sini Uchiha-san?"

"Ini bukan di sekolah, jangan panggil aku seperti itu…"

"Jadi… kenapa kau kesini Sa-sasuke-kun?"

Sasuke terlihat acuh, ia mulai melihat-lihat isi kulkas Hinata.

"Buatkan aku makanan, aku lapar…"

Seandainya membunuh itu di perbolehkan, mungkin Hinata akan dengan senang hati menusuk uchiha ini dengan pisau yang baru ia beli beberapa hari yang lalu.

"kenapa kau malah diam, buatkan aku makanan…"

Emang kau kira aku pelayan rumahmu apa!.

"ka-kau ingin makan apa?"

Sayangnya Hinata hanya berani mengatakan itu dalam hati saja.

"Terserah…"

Setelahnya Sasuke pergi ke kamar mandi meninggalkan Hinata yang masih berusaha menata kesabarannya. Jam masih menunjukkan pukul 06.30 masih ada satu setengah jam lagi sebelum mereka masuk sekolah. jam masuk sekolahnya itu jam 08.00. jadi Hinata masih memiliki banyak waktu.

Hinata pasrah, ia kemudian mulai mengambil bahan makanan dan mulai memasak. Selesai memasak, Hinata menyiapkan seragamnya sendiri. Ia juga memanggil Sasuke yang masih asik tiduran di kasurnya setelah pria itu selesai mandi. Hinata menggelung rambutnya ia berencana mandi setelah sarapan, tapi sepertinya ia tidak nafsu makan mengingat Sasuke ada di sini.

"kenapa kau mengikat rambutmu seperti itu?"

"aku mau mandi, makanlah dulu sasuke-kun…"

"kau makan juga…"

"duluan saja Sasuke-kun.."

"Hyuuga…"

Hinata kicep, ciri-ciri Sasuke marah itu pasti manggil nama keluarga. Hinata nyerah, ia kemudian duduk berhadapan dengan Sasuke, mereka tidak makan di meja makan, tapi meja kecil yang ada di ruang tengah, dengan TV yang menyala yang menyiarkan tentang cuaca hari ini. Mereka makan dengan diam, Hinata curi-curi pandang kearah Sasuke yang masih asik makan sesekali matanya menatap kearah TV. Sebenarnya Hinata tau kebiasaan Uchiha bungsu ini kalau makan pasti harus ada Tomat, tapi sayangnya setelah kejadian kemarin Hinata menghabiskan sisa Tomat semalam, sengaja supaya ini Uchiha nggak numpang makan di rumahnya. Sejak kemarin Hinata punya Feeling bahwa Sasuke akan datang lagi, ia harus membuat Sasuke tidak betah disini, ia sudah tidak peduli dengan predikat tunangan yang baik, baginya status itu hanya tinta hitam diatas kertas putih. Ngerti-kan maksudnya?.

"Mana tomatnya?"

"Sudah habis…"

Hinata melanjutkan makannya dengan tenang, padahal hatinya sudah was-was melihat pandangan intimidasi yang Sasuke berikan padanya.

Sasuke menghela nafasnya melihat wajah Hinata yang kalem, padahal harusnya Hinata sudah tau bahwa dirinya tidak bisa makan tanpa tomat. Apakah gadis ini sengaja?. Sasuke menyeringai, sengaja atau tidak tapi dia tau dari mana mendapatkan tomat yang enak. Sasuke diam melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan, Hinata kemudian membereskan semua peralatan makanannya. Agak sedikit canggung lantaran Sasuke terus saja menatapnya. Mencoba tenang Hinata membersihkan piring dan peralatan lainnya sampai ia merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya erat dengan kepala Sasuke yang menyandar di bahunya.

WARNING !

Alarm berbahaya Hinata sudah berteriak di kepalanya dari tadi saat ia mulai merasakan lidah sasuke menyusuri lehernya.

"aku mau tomat, sekarang!"

"hah?"

Dengan cepat Sasuke mengangkat Hinata, tidak peduli dengan tangan Hinata yang basah memeluk lehernya, ia menghiraukan teriakan Hinata yang menyuruhnya melepaskannya. Jangan harap Sasuke akan melepaskannya, dari kemarin wanita ini membuatnya kesal.

Sasuke menutup pintu kamar Hinata dengan kakinya.

Jam masih menunjukkan pukul 07.05.

Suara desahan mulai mengisi apartement Hinata.

Udah di bilangin jangan macem-macem sama Uchiha Sasuke.

Eh, belum bilang ya?

.

.

.

Hinata meringis saat ia mencoba memperbaiki posisi duduknya, selangkangannya masih perih. Salahkan pria brengsek yang duduk disampingnya, yang terlihat acuh dengan keadaan Hinata, ia terlihat hanya menatap kearah jendela di sampingnya.

Suasana kelas juga sudah sepi, jam pelajaran kedua gurunya tidak masuk dan hanya meninggalakan tugas yang harus diantarkan saat jam pelajarannya usai. Itulah kenapa orang-orang yang ada di kelasnya sekarang sudah sepi sebagian besar kekantin, sisanya diam di kelas. Sebenarnya Hinata ingin pergi keperpustakaan saja, tapi mengingat keadaannya sekarang, berjalanpun rasanya sudah susah. Tidak macem-macem Uchiha itu menggagahinya tadi pagi. Hinata jadi kapok, pulang sekolah dia berjanji akan membeli tomat.

"Aish…"

"Sakit?..."

"Menurutmu!"

Sasuke menghela nafasnya untuk kesekian kali. Sebenarnya dari tadi ia menatap pantulan wajah Hinata di jendela, ia sudah sadar Hinata dari tadi merasa tidak nyaman, ia hanya takut menyapa Hinata. Ia tau betul sifat Hinata yang akan cetus jika ada orang yang menyakitinya secara Fisik. Sasuke akui ia keterlaluan tadi pagi. Tapi-kan itu salahnya wanita Hyuuga ini, jika saja ia tidak mengikat rambutnya yang memperlihatkan lehernya yang menggoda, Sasuke tidak akan Khilaf, belum lagi perlakuan Hinata yang membuatnya cemburu kemarin, kan jadi double Khilaf dirinya. Sasuke memang tidak masalah saat mengetahui Hinata menyukai Naruto, bukan-kah ia sudah bilang ia rela jadi yang kedua atau di jadikan pelampiasan oleh wanita Hyuuga ini, tapi bukan berarti ia membiarkan Hinata dekat-dekat dengan Naruto seperti kemarin saat Hinata menerima uluran tangan Naruto.

"Aku antar ke UKS?"

"Tidak perlu!"

"Aku antar ya…"

"Kan aku udah bilang tidak perlu! Kenapa kau cerewet sekali!"

Sasuke berasa jadi ngadepin cewek PMS sekarang. Sensitive. Kemarin dia yang marah, sekarang Hinata. Sasuke jadi serba salah.

"yakin tidak mau di—"

"TEME!"

Suara Naruto yang menggelegar mengalihkan perhatian Hinata dari Sasuke, dengan cepat Hinata menatap Naruto kemudian menunduk saat matanya menatap Sakura. Sasuke mendengus. Biang bahaya datang.

Naruto yang tidak sadar situasi mengambil tempat duduk di hadapan Sasuke, sedangkan Sakura duduk di depan Hinata. Diliat dari manapun ini situasi yang menyesakkan bagi Hinata yang masih canggung.

"Hei, namaku Uzumaki Naruto… salam kenal, ee—"

"Hyuuga Hinata…"

Sakura menyebut nama Hinata saat ia merasa bahwa Naruto lupa akan nama gadis di hadapannya saat ini.

"ah! Hyuuga Hinata, boleh kupanggil Hinata-kan?"

Hinata bersemu, rasanya aneh saat mendengar pujaan hatimu menyebut namamu sendiri. Terasa menyenangkan, buat hati doki-doki. Melupakan sejenak rasa sakitnya, Hinata baru saja ingin menjabat tangan Naruto jika saja tangannya tidak di ditarik dengan paksa oleh Sasuke.

"Kau sakit-kan, ayo ke UKS!"

Sasuke memaksa Hinata berdiri, membuat wanita itu meringis kesakitan.

"Oi Teme, jangan kasar pada wanita!"

Naruto dan Sakura sekarang jadi ikut berdiri.

"Sasuke-kun, biar aku yang mengantar Hinata ke UKS…"

"Diamlah…"

Hinata sekarang rasanya ingin mewek. Sasuke kejam, Sasuke Brengsek. Terkutuklah kau Uchiha. Sekarang Hinata hanya bisa mengumpat dalam hati.

Hinata menatap Naruto dengan pandangan memelas meminta tolong. Namanya juga Naruto, dia itu pembela kebenaran ditambah dengan otaknya yang polos nyerepet bodoh jadi nggak nyadar situasi, di tatap seperti itu membuat dirinya merasa Hinata ketakutan bersama Sasuke.

Sakura bahkan mulai merasa kasihan pada Hinata, sebenarnnya ia tidak membenci Hinata, ia hanya… bingung dan kaget, karna ini pertama kalinya Sasuke memperlakukan wanita seperti ini. Apalagi pandangan Sasuke kearah wanita itu yang Sakura tidak suka. Pandangan mendamba.

Hinata makin meringis saat Sasuke menariknya untuk mengikuti langkahnya. Tetapi itu hanya bertahan beberapa saat, Hinata merasakan tangan sebelah kirinya ditarik oleh seseorang. Hati Hinata jadi cenat-cenut mengetahui Naruto menarik tangannya yang lain. Hinata memang nggak salah pilih pahlawan.

Merasakan Hinata yang mendadak terdiam membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang.

"Lepaskan tanganmu Dobe…"

"Tidak Teme, kau menyakiti Hinata…"

Sasuke diam, Naruto diam, mereka saling tatap-tatapan. Sakura diam dan natap Sasuke dengan bingung. Hinata diam dan natap Naruto dengan wajah bersemu. Mereka ber-empat kini mulai ditatap seisi kelas dengan perasaan Kepo.

Jadi, semuanya sekarang saling menatap.

Oke. Itu tidak penting.

Sasuke yang merasa kesal menarik Hinata dengan paksa, Naruto yang merasa Hinata tersakiti juga ikut menarik, jadinya Hinata sekarang terlihat lebih seperti tali tambang yang di perebutkan oleh dua orang Pria paling diincar seantero sekolah. Sakura yang merasa Hinata kesakitan segera mengambil tindakan.

"Naruto, Lepaskan Hinata!"

Naruto refleks melepaskan Hinata, Sakura gitu loh yang ngomong. Apapun permintaan Sakura akan di kabulkan oleh Naruto, secara gitu Sakura-kan cinta pertamanya.

Hinata yang di lepaskan tiba-tiba langsung di peluk oleh Sasuke dengan erat. Berani benar Dobe itu menarik Hinata-nya, apa perlu Sasuke umumkan Pertunangan mereka disini?!. Sekalian menegaskan siapa yang memiliki gadis Hyuuga ini.

Baru saja Sasuke ingin mengeluarkan suaranya. Hinata sudah keburuan mewek. Sasuke melongo, Naruto jadi merasa bersalah. Sakura langsung melototkan dua pria itu bergantian.

"Hinata biar aku yang bawa ke UKS, dasar kalian berdua bodoh…"

Dengan ucapan dingin dan tegas Nona Haruno, membuat kedua orang itu diam. Sasuke bahkan sudah melepaskan pelukannya, membiarkan Hinata bersama Sakura. Lagi-lagi ia jadi bodoh karna seorang Hyuuga Hinata.

.

.

.

"Hinata kau tidak apa-apa?"

Kini Hinata dan Sakura berada di UKS dengan Sakura yang mengobati tangannya yang memerah akibat cengkraman dua pria tadi. Hinata sudah berhenti mewek, Sakura benar-benar menenangkannya di sepanjang perjalanan ke UKS. Hinata jadi merasa bersalah telah salah paham pada Sakura, ia mengira Sakura membencinya.

"Mereka benar-benar dua pria bodoh…"

Hinata dari tadi tersenyum mendengar gerutuan dari Sakura. Sakura juga begitu telaten mengobati lukanya dengan cekatan, Hinata jadi merasa punya kakak perempuan sekarang. Sakura membuatnya kagum.

"Sa-sakura-san… terima kasih…"

"Kenapa kau berterima kasih padaku? Justru aku harus meminta maaf padamu karna kelakuan dua idiot itu, terutama Sasuke, tidak biasanya ia seperti itu…"

"eeh? Bukannya Sasuke-kun sudah biasa bersikap kasar?!"

Sebenarnya Hinata tadi keceplosan alias asal ngomong. Melihat Sakura yang menatapnya dengan pandangan bingung, membuat Hinata menutup mulutnya rapat-rapat. Sepertinya Hinata salah bicara. Mendadak aura di sekitar mereka jadi canggung.

"Ehm… Sasuke-kun tidak sekasar itu Hinata, walaupun dia dingin, dia tidak pernah memperlakukan wanita dengan kasar…"

Seriusan tuh!?

Rasanya Hinata ingin terjun dari atap sekolah ini mendengar penuturan Sakura, orang yang di kaguminya. Sasuke lembut? Hell!. Itu bahkan tidak pernah ada di pikiran Hinata sedikitpun mengingat betapa kasarnya Sasuke memperlakukannya tadi pagi. Lihat gara-gara siapa Hinata kesulitan berjalan sekarang!?.

Melihat Hinata terdiam, Sakura melanjutkan.

"…Sifat Sasuke itu bagaikan pangeran—"

Kalau wajahnya yang di maksudkan oleh Sakura, Hinata akan mengakui tapi kalau sifatnya, Hinata akan pikir-pikir terlebih dahulu.

"…dia dingin, tapi di saat bersamaan dia juga lembut—"

Aduh, Hinata sakit kepala mendengarnya.

"…dia berkarisma, tegas, juga kuat, Naruto bahkan kalah—"

Hinata tidak terima, Naruto bukan kalah, tapi… mengalah. Mungkin.

"Bagiku Sasuke-kun itu… seperti… Pangeran…"

Sakura jadi ingat pertemuannya dengan Sasuke waktu usianya 10 tahun, pertama kali melihat Sasuke, dia merasa bertemu dengan Soulmate-nya, Sasuke waktu itu memberikan ranting pohon Sakura untuknya. Walaupun Sasuke bilang itu dari Naruto, tapi tetap saja, yang menghampirinya itu Sasuke, jadi Sakura bersikeras ranting pohon Sakura itu dari Sasuke, ia bahkan bersikeras untuk mengawetkannya di rumahnya, jadi pajangan di kamarnya. Mengingatnya sakura jadi—

"Jatuh cinta…"

Perkataan Hinata membuat Sakura salah tingkah. Hinata tertawa, suara tawanya terdengar begitu lembut, membuat Sakura terpesona sejenak.

"Sakura-san… Kau menyukai Sasuke-kun?"

Sepertinya Sakura tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya pada Sasuke di hadapan Hinata.

"Bagaimana denganmu Hinata-san, apa kau menyukai Sasuke-kun?"

Sekarang Hinata yang terdiam. Sejujurnya Sasuke adalah laki-laki pertama yang membuatnya nyaman setelah kakak laki-lakinya yang ada di kyoto. Kehadiran Sasuke membuatnya terbiasa, lagipula mereka juga telah melakukan hubungan… intim. Jika Hinata mengatakan Sasuke teman, apakah seorang teman tidur bersama?. Jika Hinata mengatakan bahwa Sasuke sahabat rasanya itu kurang cocok mereka tidak pernah saling curhat, jika ia mengatakan tunangan, ia yakin Sakura akan membunuhnya. Jadi Sasuke itu siapa untuknya?

"Orang asing?"

"Hah?"

"…Sasuke-kun itu… orang asing… ya, Sasuke-kun itu orang asing…"

Kok Hinata ngerasa hatinya tercubit ya, tadi?.

"Syukurlah, aku kira kau menyukai Sasuke-kun…"

"Ti-tidak, aku me-menyukai orang lain, Sakura-san…"

"Naruto?..."

Melihat wajah Hinata yang bersemu, sepertinya Sakura sudah tau jawabannya. Sakura memang sudah menaruh curiga pada Hinata, beberapa kali Sakura menangkap Hinata yang menatap Naruto.

"Beruntung-lah kau Hinata, aku dan Naruto hanya sahabat saja…"

Kenapa Sakura merasa ada yang salah ya dengan kalimatnya? Hatinya seolah memberontak.

"Jadi, mulai sekarang bagaimana kalau kita bersahabat?"

Hinata tersenyum senang. Tentu saja itu penawaran yang tidak akan dia tolak.

"Baiklah… Sakura-chan…"

"Hinata-chan… panggilan itu tidak buruk juga-kan?"

Mereka kemudian tertawa bersama. Sepertinya hari ini tidak terlalu buruk untuk Hinata.

Lagipula Hinata juga memiliki ide yang bagus untuk kebaikan Sakura juga dirinya.

.

.

.

"Teme, kenapa kau kasar sekali pada Hinata?"

Sasuke diam, memejamkan matanya menikmati similar angin yang menerpa wajahnya. Ia dan Naruto sedang berada di atap sekolah, bersantai, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu disana. Inginnya tadi Sasuke menghampiri Hinata di UKS, tapi Naruto malah menyeretnya ke atap sekolah, dan sekarang mengitrogasinya di sini.

"Sejak kapan kau peduli dengan Hinata?"

"Tentu saja aku peduli—"

Naruto merasa pandangan Sasuke ingin membunuhnya sekarang.

"—karna ia tunanganmu…"

Naruto menghela nafasnya lega saat Sasuke kembali memejamkan matanya.

"Daripada kau mengurusi urusanku, lebih baik kau urus saja Sakura…"

Naruto diam seribu bahasa, Uchiha yang satu ini memang pandai menyulut emosinya. Tanpa di beritahu-pun Naruto juga akan mengurusnya.

Sebenarnya sejak mengetahui bahwa Hinata dan Sasuke bertunangan setahun yang lalu, ia adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Halangan untuk memiliki Sakura sudah tidak ada lagi. Itulah kenapa ia tidak keberatan jika Sakura terang-terangan mencari perhatian Sasuke. Anggap saja Naruto dan Sasuke memiliki situasi yang sama.

Sama-sama tidak di cintai… atau belum?

TO BE CONTINUE…..

Berhubung aku lagi bosan jadi aku memutuskan untuk update...

Chapter selanjutnya akan penuh adegan NaruSaku... gantian... aku rasa Clue hubungan SasuHina udah keliatan... Tinggal NaruSaku...

Btw cerita ini cerita yang santai, konfliknya jadi nggak bakal berat-berat...

Mind To Review?