Chapter 2
Previous
Kris menyentak lengan Seulgi yang bergelayut ditubuhnya dan bangkit dengan gusar. Ia segera mengambil alih Jaekyung dari pelukan Jongin dan mengangkatnya ala bridal dengan hati-hati. Bersiap membawa Jaekyung meninggalkan tempat itu sebelum melempar tatapan dinginnya pada Seulgi.
"Jangan mencari masalah denganku. Aku tidak main-main." Ancamnya dingin, dan segera beranjak meninggalkan tempat itu diikuti Sehun, Luhan dan Jongin.
"Ayo, Kyu." Donghae menepuk bahu Kyuhyun yang masih menatap Seulgi dengan aura penuh kebencian. Sedangkan yang ditatap hanya bersikap tak peduli.
Strength Love
.
.
.
.
.
Oh Pheonix Present
.
.
.
"Omo!" Ryeowook memekik tiba-tiba, membuat Baekhyun dan Sungmin menoleh kearah gadis itu.
"Kena-"
"Lihat kesana!" Ryeowook dengan segera menyorong pipi kedua temannya dan langsung mengarah pada meja 'anak populer' itu. Disuguhi pemandangan dimana Kris menggendong Jaekyung dan membawanya keluar kantin, diikuti dengan satu persatu pria tampan itu.
"Sepertinya Jaekyung pingsan. Taruhan, salah satu diantara mereka pasti tidak kembali ke kelas." Ujar Baekhyun, menatap simpati pada Jaekyung.
"Kupikir Kris dan Jongin." Sahut Ryeowook, Baekhyun mengangguk setuju. Sementara Sungmin masih setia melihat pemandangan didepannya sampai semua pria itu menghilang dari kantin.
.
.
.
"Apa yang terjadi?" Ahn uisa, dokter yang memang disediakan disekolah itu bertanya pada Kris dan Jongin yang berada didalam uks menemani Jaekyung. Sementara yang lain menunggu diluar.
"Asma nya kambuh," Jongin menjawab.
"Dia harus dibawa kerumah sakit, kupikir ada yang tidak beres." Dokter muda itu terlihat menghela nafas, sementara Jongin dan Kris tidak menyahut lagi dan lebih memandang sendu kearah Jaekyung.
"Terima kasih, uisanim. Kami akan membawanya pulang sekarang."
Dokter itu mengangguk, dan berbenah diri sebelum keluar dari ruangan itu. Disusul Kyuhyun dan Donghae yang masuk kedalam.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Donghae langsung,
"Kita harus kerumah sakit," terang Kris, Kyuhyun dan Donghae mengernyit.
"Rumah sakit? Separah itu?"
"Kris," Jongin menepuk pelan bahu pria berambut cepak yang menawan disebelahnya, "Aku tahu kau tidak menaruh perasaan apapun pada Seulgi, tapi bisakah kau mengurusnya agar dia tidak dekat-dekat lagi denganmu? Aku yakin jantung Jaekyung menegang karena menahan emosinya," ucapnya dengan nada sendu.
Rahang Kris mengeras tanpa sadar, ia mengepalkan tangannya penuh amarah saat mengingat Jaekyung dan sifat centil Seulgi.
"Aku akan mengurusnya." Gumamnya pelan, "Kita harus segera membawanya kerumah sakit."
"Aku akan meminta Sehun dan Luhan menjemput Raejin dibandara dan menyusul ke rumah sakit."
"Biar Sehun membawa mobilku, aku akan membawa motor Sehun." Usul Kyuhyun.
"Ya, bawa Jaekyung kemobil Kris. Aku akan membawakan tasmu dan meminta izin pada songsaenim." Ujar Donghae, Kris mengangguk.
"Bawakan tas ku juga, Hae. Aku harus kekelas Jaekyung sekalian memberi tahu Luhan."
"Ya, kita bertemu diparkiran. Kyu, kajja."
.
.
.
"Apa yang terjadi anakku?" Kim Jongwoon, pemilik Seoul International Hospital terlihat memandang gusar kearah ranjang, tempat dimana putri bungsunya terbaring.
"Maaf ayah.." cicit Jongin pelan,
"Kim Kwajangnim," seorang suster terlihat memasuki ruangan VVIP itu dan membungkuk sopan. "Nona Kim Jaekyung dijadwalkan akan cuci darah besok, jam 9 pagi. Jadi dokter menyarankan agar pasien dirawat inap."
"Lakukan apapun untuk anakku, dan apakah hasil pemeriksaan sudah keluar?" tanya Jongwoon,
Suster bername tag Krystal Jung itu tersenyum, "Hwang uisa akan memberikan penjelasannya besok kepada Anda, Kwajangnim." Ujarnya sopan.
"Baiklah, terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi.."
"Engghhh~"
"Oh, sayang.. kau sudah sadar?" Kyuhyun, Kris, Jongin, Donghae dan Jongwoon sendiri menoleh kearah ranjang saat melihat pergerakan dari Jaekyung. Gadis itu mengerjap mencoba menyesuaikan retina matanya dengan keadaan sekitar.
"Ayah.." panggil Jaekyung sengau,
"Jangan banyak bergerak sayang, ibumu akan segera datang.."
"Baby, maafkan oppa heum.." Jongin maju selangkah dan menggenggam erat jemari adiknya, Jaekyung tersenyum samar, kemudian memandang Kris yang sedang memandang lurus kearahnya dengan ekspresi yang tak terbaca.
Jongin yang paham akan situasi langsung bangkit dan mengisyaratkan ayah beserta kedua temannya untuk keluar, memberikan privasi untuk dua sejoli itu.
Selepas kepergian Jongin, keadaan hening tercipta diantara Kris dan Jaekyung. Masih dengan Kris yang menatap kekasihnya penuh arti, membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan bingung.
Perlahan, Kris mendekati ranjang Jaekyung dan duduk dikursi yang tadi diduduki Jongin, menggapai jemari lembut kekasihnya yang terpasang selang infus.
"Kau menyedihkan," Kris berujar pelan, membuat Jaekyung terkekeh.
"Aku tahu itu,"
"Aku menyesal membuatmu berakhir disini, maafkan aku.."
"Bukan salahmu," ucap Jaekyung tulus, mengelus sayang pipi kekasihnya sambil tersenyum, "Ini takdirku."
"Bukankah kau kambuh saat kau bilang kau ada diatap sekolah? Jangan menyembunyikannya dariku."
"Aku mencoba untuk tidak menyusahkan kalian."
"Kalau begitu bantu aku menyingkirkannya."
"Siapa?"
"Nenek sihir kesayangan Luhan," Jaekyung kembali terkekeh mendengar Kris menyebut Seulgi 'Nenek sihir', apalagi menyebut sebagai kesayangan Luhan. Oh ayolah yang dimaksud Kris adalah karena Luhan suka sekali mengumpat gadis centil itu.
"Dia seperti pot bunga, dan kau bunganya." Komentar Jaekyung, namun Kris menggeleng dan makin mengeratkan genggamannya.
"Bunga tidak selalu ditanam didalam pot. Dan aku lebih suka ditanam didalam tanah pijakanmu."
"Gombal."
Kris tersenyum dan mengecup kening gadis itu cukup lama sebelum akhirnya membawa gadis itu kedalam pelukannya.
"Dengarkan mantra ku," ujarnya parau, Jaekyung mengangguk dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu, dan kau hanya milikku. Karena kau adalah nafasku."
.
.
.
.
Kyuhyun menghembuskan nafasnya tanpa sadar kala melihat pemandangan yang cukup membuatnya termakan api cemburu. Didalam sana, ia melihat orang yang dicintainya tenggelam dalam pelukan seorang pria, dan mirisnya pria itu adalah sepupunya sendiri.
.
.
.
Seminggu sudah berlalu, Sungmin terlihat keluar dari mobilnya diparkiran, berpamitan pada supirnya. Niatnya yang ingin memasuki pekarangan sekolah tertunda saat 4 mobil sport beriringan memasuki parkiran sekolah diikuti 1 motor besar yang dikenali Sungmin sebagai motor Donghae. 4 mobil sport itu memarkir berjejer diikuti pemiliknya yang keluar satu persatu dari mobil itu.
Sungmin mengerjap, selama seminggu ini formasi 'anak populer' itu tidak lengkap, terkadang salah satu atau dua diantara mereka absen secara bergantian, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dari seluruh penghuni sekolah. Dan yang Sungmin sadari, Jaekyung tidak masuk selama seminggu setelah kejadian dimana ia melihat gadis itu digendong keluar kantin. Namun sekarang Sungmin –mungkin- adalah orang pertama yang melihat formasi mereka kembali lengkap, bahkan bertambah satu orang gadis berwajah mungil dengan mata bulat didalam rangkulan Jongin.
Sungmin bisa melihat dengan jelas jika sekarang mereka semua sedang berkumpul didepan mobil sport berwarna merah, dalam hati Sungmin berpikir apakah mereka membeli mobil bersamaan? Entahlah. Bisik-bisik dan pekikan tertahan dari para yeoja yang kebetulan lewat dihalaman parkiran itu menyadarkan Sungmin bahwa ia masih berada disana, mendengar dengan jelas perbincangan anak-anak kaya itu, meskipun Sungmin tak kalah kaya. Namun ia kembali sadar dan segera bergegas masuk menuju kelasnya, yang otomatis harus melewati kumpulan mereka. Gadis itu berusaha cuek namun sepertinya Tuhan sedang tidak baik padanya.
"Sungmin sunbae." Sungmin mendesis dalam hati, ia sebenarnya tidak mau berurusan dengan para anak populer itu, walaupun gadis bermata kelinci itu tahu bahwa mereka tidak seburuk pikirannya. Namun tetap saja..
"Sunbae?" Sungmin kembali tersadar dari lamunannya, mulai menghembuskan nafasnya dan berbalik menghadap mereka dengan senyuman manis.
"Ya?" tanyanya ramah, lengkap dengan deretan gigi kelincinya yang putih dan wajah aegyo alami.
Jaekyung tersenyum samar, "Sunbae mau kekelas kan?"
Walau dengan kebingungan akan pertanyaan Jaekyung, Sungmin tetap mengangguk, "Ya, memangnya ada apa?"
"Kenapa tidak berjalan bersama kami saja? Kita kan sekelas." Donghae langsung menyerobot jawaban Jaekyung dan dengan lancangnya merangkul bahu Sungmin, mengabaikan teriakan histeris para gadis dan membawa nya berjalan menuju kelas. Diikuti HunHan, JaeRis, JongSoo dan Kyuhyun dibelakangnya.
"KYAAAA DONGHAE OPPAAAA~ SIAPAA DIAA!?"
"KYUHYUN OPPAA SARANGHAEE~"
"OUH HUNHAN MANIS SEKALIII"
Sungmin benar-benar risih saat mendengar teriakan dan erangan kekesalan dari para gadis-gadis dikoridor itu, namun Donghae terlihat biasa saja. Begitu juga sisa anak populer yang mengekor dibelakang Sungmin, berjalan dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa.
'Apa begini rasanya menjadi anak populer?' batinnya.
Gadis itu mau tak mau berhenti saat Donghae tiba-tiba menghentikan langkahnya dipertigaan koridor. Menoleh kebelakang, tepat kearah teman-temannya yang ikut berhenti.
"Sampai bertemu dikantin, Deer." Itu Sehun, Sungmin mengenalinya karena ia satu-satunya pria kelas 1.
Luhan tersenyum manis dan mengecup singkat pipi Sehun, Sungmin mengerjap kaget. "Ne, Sehunnie~"
"Honey, aku bisa menitipkan baby Jae padamu kan?" Jongin berujar lirih pada gadis yang belum Sungmin kenal, anggota baru, gadis dengan mata bulat itu. Sungmin melihat Jaekyung mendengus.
"Nde, oppa."
"Jangan dengarkan dia, eonni." Selanya dingin.
Gadis yang sedari tadi dirangkul Jongin menatap Jaekyung dan tersenyum, mengusak dengan sayang surai karamel anak itu.
"Aku akan menjemputmu dikelas nanti," mengabaikan fakta bahwa mereka semua sedang berkumpul, Kris mengecup singkat bibir mungil Jaekyung yang sedang mengerucut. Membuat Sungmin –yang notabene nya orang asing- terpekik kaget.
Jaekyung mengangguk dan mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih dirangkul oleh Donghae, tersenyum tipis. "Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan secara resmi dengannya bukan?" tanyanya, semua mata sekarang tertuju pada Sungmin.
Oh bagus! Umpat Sungmin dalam hati, sekarang mereka memandangnya dengan tatapan yang errrr cukup membuat dia menegang.
"Aku Lee Donghae." Sungmin menoleh kesamping, tepat kearah Donghae yang sedang tersenyum padanya. Oh Sungmin merasa akan meleleh saat itu juga.
"Namaku Kim Jongin. Dan ini pacarku," ujar Jongin bangga pada gadis disebelahnya.
"Do Kyungsoo imnida~" sapanya halus, senyumnya manis sekali.
"Aku Oh Sehun, noona. Ini pacarku, Oh Luhan. Aww!"
Satu cubitan dipinggangnya membuat Sehun meringis tiba-tiba, Sungmin hanya tersenyum manis melihatnya.
"Aku belum jadi istrimu." Sembur Luhan, Sehun terkekeh.
Sungmin mengalihkan tatapannya pada pria yang Sungmin kenali sebagai Kris, hanya saja saat ini rambut Kris berubah menjadi pirang yang membuatnya semakin mempesona.
Kris yang merasa ditatap hanya mengangguk sekilas sambil tersenyum samar, "Kris Wu."
"Lee Sungmin imnida~ senang bisa mengenal kalian semua.." Sungmin tersenyum polos, menampakkan pipi gembilnya yang merona alami dan sukses membuat mereka terpana sesaat.
"Benar kau anak dari Lee Kangin?" satu suara baritone menginterupsinya, Sungmin menoleh. Manik matanya langsung bertubrukan dengan sepasang obsidian tajam milik pria berambut coklat disebelah Luhan, membuatnya kaku seketika.
Tanpa sadar Sungmin mengangguk dan ia melihat pria itu tersenyum miring sebelum akhirnya menoleh pada Kris dan Jaekyung.
"Kau benar, Jae. Dia anak Lee Ahjussi."
.
.
.
"Aku masih tak mengerti.." Ryeowook memutar bola matanya saat mendengar –yang kesekian kalinya, ocehan Baekhyun, dan nyatanya gadis itu terus melafalkannya berulang-ulang, seakan kata itu menjadi sebuah mantra.
"Demi Tuhan, Baek! Bisa tidak kau mengucapkan hal lain?" kesalnya, Sungmin hanya memandang maklum kedua temannya dan lebih memilih menghabiskan makanannya. Mengabaikan tatapan iri bercampur benci dari para gadis disekelilingnya gara-gara kejadian yang menggemparkan tadi pagi. Dia. Sungmin, murid baru, berjalan dengan sekumpulan anak populer! Hell. Ini sesuatu yang langka! Amat langka! Catat itu.
"Aku memang benar-benar tidak mengerti, Wookie! Bagaimana bisa Sungmin berkumpul, ah! Ani. Tapi datang bersama anak-anak populer itu!?" ujar Baekhyun, setengah gemas setengah iri. Ia menatap Sungmin, "Kau pakai mantra apa, Min?" tanyanya langsung.
Sungmin mendongak dan mengerjap polos, kepalanya dimiringkan dengan raut wajah bingung sembari memandang Baekhyun yang menganga dengan keimutan alami Sungmin.
"Maksudmu?"
"Oh, ya Tuhan! Min! Kau baru saja mengalami kejadian besar."
"Jangan berlebihan, Baek." Tukas Ryeowook, "Mungkin saja mereka hanya iseng." Gadis itu menggedikkan kepalanya kearah pintu kantin dan mendapati para anak populer itu datang dan menempati meja mereka.
"Apa mereka semua mempunyai pacar?" tanya Sungmin polos. Baekhyun dan Ryeowook menoleh.
"Yahh, hanya Kyuhyun dan Donghae yang sampai saat ini masih menyandang status single, selebihnya kau bisa lihat sendiri." Jawab Ryeowook, terdengar putus asa. Sungmin menoleh.
"Kau menyukai salah satu diantara mereka ya?" tembaknya langsung yang langsung dihadiahi tatapan horror gadis itu.
"Apa!? Ti-tidak! Aku tidak menyukai siapapun diantara mereka." Suara Ryeowook berubah pelan, membuat Baekhyun memandangnya dan mencibir.
"Ayolah, Wookie. Aku tahu kau menyukai Donghae."
Glek!
Ryeowook menelan ludahnya dengan susah payah, ekspresi gugup yang selalu ia keluarkan secara alamiah, membuat Baekhyun dan Sungmin mengulum senyum.
"Diantara 3 pasangan disana, siapa yang menurutmu paling romantis, Min?"
"Eh?" senyuman Sungmin pudar, berganti menjadi tatapan bingung yang kentara saat mendengar pertanyaan Baekhyun.
"Tebak saja," Ryeowook ikut menyahut, kali ini ia harus berterima kasih pada Baekhyun yang mengalihkan pembicaraannya tanpa gadis eyeliner itu sadari.
"Emm.." Sungmin sedikit mengernyit dan menatap meja anak populer yang hanya berjarak 4 meja dari mejanya sendiri. Sedikit memperhatikan dengan seksama bagaimana 3 pasangan itu bercengkrama. "Kupikir Kris,"
"Wae?"
"Aku melihatnya mencium Jaekyung tadi pagi, tepat dibibir." Jawabnya, terkesan polos dan sangat jujur. Baekhyun bertepuk tangan heboh.
"Woahh, daebak! Kris memang benar-benar manly. Aku tidak menyangka dia seberani itu, bahkan didepan calon kakak iparnya sendiri? Woahh.."
"Tidak heran, mereka berpacaran sejak Junior High School."
"Sejak JHS? Benarkah?" tanya Sungmin kagum.
"Tapi pasangan HunHan juga tidak kalah romantis." Baekhyun kembali menjelaskan tanpa diminta. "Kudengar, Sehun jatuh cinta pada Luhan saat bertemu dimasa orientasi. Saat itu Luhan adalah seniornya. Dan yahh, mereka jadian."
"Kalau Jongin?"
"Dia bertemu Kyungsoo disemester 2 saat Kyungsoo kelas 1."
.
.
.
"Eommaaa~ aku pulang..." Sungmin melangkahkan kakinya besar-besar saat memasuki mansion mewahnya, melemparkan senyum pada para maid yang kebetulan lewat.
"Sayang, sudah pulang? Cepat ganti baju, eomma sudah menyiapkannya ditempat tidurmu." Leeteuk datang dari arah ruang tengah sambil tersenyum manis, Sungmin mengernyit.
"Memangnya ada apa eomma? Tumben sekali eomma menyiapkan baju ganti untukku.."
"Hari ini, eomma dan appa akan makan malam bersama teman-teman sekolah kami, dan kau harus ikut."
"Kenapa aku harus ikut?" tanya Sungmin bingung.
"Yaaa, kami berencana mengenalkanmu pada anak teman-teman eomma, jadi cepat ganti baju dan appa sebentar lagi menjemput kita. Arraseo?"
Sungmin mengangguk mengerti, "Arraseo, eomma."
.
.
.
"Teuki-ya!" Leeteuk dan Kangin menoleh kearah sebuah meja dimana seorang wanita melambai padanya.
"Minnie, kajja. Disana teman-teman eomma dan appa," Leeteuk segera menarik tangan Sungmin dengan antusias, diikuti Kangin yang mengekor dibelakang.
Dimeja yang dihampiri Leeteuk, Kangin dan Sungmin terlihat beberapa pria dan wanita yang seumur dengan orang tuanya.
"Ini anakku," Kangin merangkul pinggang Sungmin, mengenalkannya pada teman-temannya.
"Lee Sungmin imnida.." Sungmin membungkuk sambil tersenyum manis.
"Oh, cantik sekali. Kenapa dia tidak pernah ikut saat kita berkumpul?" tanya Heechul.
"Dia sangat suka berada dikamarnya," ujar Leeteuk setengah mencibir.
"Duduklah, Sungmin-ah. Atau kau mau bergabung bersama mereka?" Hangeng menunjuk sebelah meja mereka, memperlihatkan sekumpulan anak remaja yang sedang bercanda.
Sungmin tertegun, ia kenal. Sangat kenal. Siapa mereka semua.
"Ayah, maaf aku baru datang." Leeteuk, Kangin dan Sungmin yang belum sepenuhnya duduk menoleh kebelakang saat ada sebuah suara menyapu indera pendengaran mereka.
"Maaf aboeji, ayahku tidak bisa datang.." seorang yeoja tersenyum manis sambil membungkuk sopan.
"Tidak apa-apa, aku tahu ayahmu sibuk dengan urusan kedutaannya. Orang itu memang gila kerja." Sungmin tidak mengenal pria paruh baya itu, namun ia mengenal dua orang dibelakangnya, dan juga sekumpulan remaja dimeja yang ditunjuk Hangeng tadi.
"Kami permisi dulu Ayah, maaf paman, bibi.." sepertinya dua orang itu tidak menyadari Sungmin, Sungmin memandangnya sampai mereka duduk dimeja bergabung dengan remaja-remaja itu.
"Apa Sungmin mau bergabung dengan mereka?" seorang wanita cantik bertanya pada Sungmin saat menyadari tatapan mata Sungmin tertuju pada meja anak-anak mereka.
Sungmin tersentak dari lamunannya, ia dengan segera menggeleng dan tersenyum manis, "Tidak, aku disini saja bersama eomma.."
"Manja sekali, sesekali bergaullah dengan anak-anak teman eomma sayang, mereka itu seumuran denganmu."
'Satu kelas malah, eomma.' Batin Sungmin menyahut, namun Sungmin kembali menggeleng dan duduk dengan tenang bersama para orang tua sambil sesekali memperhatikan mereka.
"Si Jang Hyun itu tidak datang ya?"
"Dia ada di Hongkong, dan berhentilah memanggil suamiku dengan embel-embel 'si', Kibum-ah." Cibir wanita cantik dengan mantel biru, Sungmin terhenyak kaget saat melihatnya. Dia Moon Se Ra, aktris terkenal itu. "Dan aku Moon Se Ra, kau pasti kenal denganku bukan, Sungmin-ah?" lanjutnya sembari menatap Sungmin yang terkejut karena diajak bicara oleh artis terkenal. Gadis kelinci itu mengangguk polos.
"Anakku disana, yang memakai kemeja putih itu, namanya Lee Donghae." Ujarnya lagi sambil tersenyum manis, menunjuk seorang namja yang sudah Sungmin kenal, lagi-lagi Sungmin mengangguk.
"Ah, aku jadi ingat. Kami belum memperkenalkan teman-teman kami padamu ya? Itu Heechul Ahjumma dan suaminya Hangeng Ahjussi, Cho Kyuhyun itu anak mereka." Kangin menunjuk seorang namja disamping Donghae yang sedang memainkan gelas nya, lagi-lagi Sungmin mengangguk dan tersenyum pada Heechul dan Hangeng.
"Pria yang baru datang tadi nama nya Jongin dan pacarnya, Kyungsoo. Anak Jongwoon Ahjussi dan Taeyeon Ahjumma." Timpal Leeteuk, menunjuk Jongwoon yang sedang tersenyum manis padanya.
"Dan ini Siwon Ahjussi dan Kibum Ahjumma, orang tua Sehun yang sedang bersama gadis rusa itu."
Sungmin hanya bisa mengangguk untuk yang kesekian kalinya, bergantian menatap para remaja dan orang tua mereka. Sedikit heran karena eomma dan appa nya tidak mengenalkan Kris dan Jaekyung juga.
"Ah, aku ketempat anak-anak sebentar." Taeyeon berujar sembari membawa tas tangannya, Sungmin melihat wanita cantik itu menghampiri Jaekyung dan memberikan sesuatu entah apa, karena posisi Taeyeon menghalangi pemandangannya.
.
.
.
"Kenapa baru datang hyung?" gerutu Sehun,
"Macet," tukas Jongin tak mau kalah, "Lanjutkan permainan kalian, aku dan Kyungie bergabung."
Ya, saat ini mereka memang sedang bermain Truth or Dare. Permainan yang selalu mereka mainkan bersama, mereka akrab bukan hanya karena orang tua mereka, tapi mereka memang merasa seperti ada benang merah yang terikat diantara mereka semua. Itulah mengapa mereka selalu bersama kemana-mana, saling terbuka dalam hal apapun, bahkan saling menyayangi satu sama lain.
"Kau yang memutar, Kris."
Kris segera memutar botol anggur yang sudah kosong itu –yang mereka dapat dari meja orang tua mereka- dengan kecepatan biasa, dan pada akhirnya ujung botol itu berhenti didepan Luhan.
"Truth," jawabnya langsung, Kris mencibir.
"Kau tidak asik, Lu. Sesekali pilihlah Dare." Sungutnya, Luhan hanya menjulurkan lidahnya tanpa dosa.
"Well, Lu. Sudah sejauh mana kau berhubungan dengan bocah cadel itu?" tanya Kris kalem, bersedekap dengan angkuh dan mengabaikan wajah memerah Luhan.
"Yang pasti aku belum mencapai tahap seks. Kami hanya sebatas berciuman panas dan bergumul dikasur. Just it." See? Lihat bagaimana frontalnya kata-kata Luhan, walaupun dengan wajah memerah saat mengatakannya. Menjelaskan bahwa tidak ada rahasia yang ditutupi diantara mereka.
"Putar botolnya, Lu."
Luhan langsung memutar botolnya, melihat botol itu berputar beberapa kali sebelum berhenti tepat didepan hidung Jaekyung.
"Dare," ujarnya tanpa minat. Mengabaikan seseruan 'woahh' dari mereka.
Luhan tersenyum, mata rusa nya berbinar ceria, "Aku ingin kau mencium Donghae, tepat didepan Kris." Ujarnya,
Donghae melotot horror kearah Luhan, yang dibalas cengiran oleh gadis itu. Tatapan matanya seolah mengatakan 'kau-mau-mati-ya?'.
Jaekyung menoleh dan menatap Kris, meminta izin. Kris hanya tersenyum dan memberikan gestur tubuh 'silahkan-saja' pada gadisnya itu.
"Ingat mantraku," bisik Kris sebelum Jaekyung mendekat pada Donghae. Jaekyung tersenyum tipis dan mengangguk.
Donghae meneguk ludahnya dengan kasar saat melihat Jaekyung tenang-tenang saja mendekatinya, diiringi tatapan geli teman-temannya.
"Donghae-ya, kau seperti gadis yang akan direnggut kesuciannya." Ledek Jongin yang langsung dihadiahi tatapan tajam namja ikan itu.
"Maaf, oppa." Jaekyung berbisik sebelum mencium Donghae tepat dibibir, diiringi pekikan teman-temannya.
"Omo!" Heechul memekik histeris saat matanya bertubrukan langsung dengan pemandangan aneh.
"Wae Heechul-ah?" tanya Kangin heran.
"Jaekyung mencium Donghae! Lihat!" dengan segera para orang tua itu menoleh ke meja anak-anak mereka dan terkejut. Namun detik selanjutnya mereka hanya menghela nafas maklum.
"Mereka pasti sedang memainkan permainan konyol itu lagi." Ujar Siwon sambil memikit pelipisnya.
"Permainan?" Sungmin mengernyit,
"Mereka selalu memainkan permainan Truth or Dare setiap kali kami berkumpul, dan ada-ada saja tingkah dan tantangan mereka." Keluh Taeyeon,
.
Sesaat setelah melaksanakan tantangannya, Jaekyung segera memutar botol itu dan berakhir di Kyuhyun yang langsung berkata 'Dare', membuat gadis itu tersenyum miring.
"Cium dia oppa dan ajak dia bermain bersama kita." Jaekyung menunjuk Sungmin yang sedang duduk tenang memakan makanannya, "Hanya dipipi." Lanjutnya lagi.
Jongin menoleh kearah Sungmin dengan heran, "Sejak kapan dia ada disana?"
"Lakukan saja tantangannya, hyung." Tukas Sehun tak sabar, membuat Kyuhyun mendengus kesal.
"Arra."
Kyuhyun segera bangkit dan berjalan menuju meja orang tuanya, diiringi tatapan penasaran dari remaja-remaja itu. Detik selanjutnya mereka terpekik kagum sekaligus geli melihat Keterkejutan orang tua mereka melihat Kyuhyun mencium Sungmin tiba-tiba.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Holaa, sebelumnya pheo minta maaf nd terima kasih yg udh ngritik dan ngasih saran, makasih banyak yaaa ^^ ff ini memang masih banyak kekurangannya..
Di ff ini, memang lebih banyak KrisJae moment, karena,, dari awal pheo udh bilang kalau ff ini itu sebenernya komsumsi pribadi pheo, makanya pheo masukin nama korean pheo nd jadiin pheo cast utama, mohon maaf sekali lagi kalau ada yg gak suka. Bisa diklik tombol closenya, pheo gak maksa^^
Udh kayanya yah? Yg mau review, monggooo .. sekali lagi terima kasih yg udh ngritik, ngasih saran, nge-review, follow, favorite, nd ngikutin pheo juga .. makasih .. lafyuuuuuuuuu :*
.
Big thank's
Anisa Jung ; kyumin203101 ; abihikmah ; orange girls ; seira minkyu ; cho minhyun137 ; Guest ; hunexohan ; nurindaKyumin ; Girls in awesome world
.
.
Oh Pheonix 2016..
