Previous..

"APA YANG KALIAN LAKUKAN!?"

Strength Love

.

.

.

Cast: Kris Wu, Kim Jaekyung, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin (GS), Oh Sehun, Xi Luhan (GS), Kim Jongin, Lee Donghae, Do Kyungsoo (GS).

Genre : Hurt/Romance

a/n : ff ini ber-cast utama Kris Wu dan juga Kim Jaekyung, jika anda tidak suka dengan jalan cerita maupun cast utama yang ditampilkan, jangan memaksa diri anda untuk membaca fanfic ini, sekian, terima kasih ^^ (Oh Pheonix)

.

.

Oh Pheonix Present

.

.

.

Suara Kyuhyun menggelegar dikoridor kosong itu. Kris, Jongin, Kyungsoo, Sehun, Luhan, Donghae, Ryeowook dan Baekhyun datang tepat disaat Seulgi menampar Sungmin.

Seohyun dan Seulgi terkejut, sesegera mungkin dua gadis itu melepas Sungmin yang langsung jatuh tersungkur sambil memegang pipinya dan kabur dari sana.

"JANGAN KABUR KALIAN!" teriak Donghae murka, mereka semua segera menghampiri Jaekyung, sedangkan Ryeowook dan Baekhyun menghampiri Sungmin.

"Kau tidak apa-apa, Min?" tanya Ryeowook khawatir, Sungmin mengangguk namun matanya berkaca-kaca berusaha menahan tangis.

"Luhan, ambil tas nya!" Suara Jongin menyadarkan mereka bertiga bahwa ada seorang lagi yang butuh pertolongan.

Menjadi penonton, ketiga gadis itu melihat Luhan berlari mengambil tas sekolah Jaekyung dan langsung mengeluarkan isi tasnya dengan kasar.

Tiga gadis itu yang tak mengetahui apa-apa tercengang. Buku, dompet, tempat pensil, botol air, charger berhamburan. Namun bukan itu yang membuat mereka tertegun. Sebuah inhaler dan beberapa botol kapsul dan obat ikut keluar. Kyungsoo dengan cekatan mengambil botol air dan membukanya, sementara Kris mengambil inhaler dan segera menyemprot kedalam mulut Jaekyung. Detik selanjutnya mereka melihat Jongin membuka botol-botol kapsul itu dan mengeluarkan beberapa pil yang tak sedikit jumlahnya, menyodorkannya pada Kris.

"Telan sayang, kau masih mendengarku?" Sungmin menyadari suara Kris bergetar, namun pria itu masih berusaha tetap tenang.

Jaekyung menelan pil-pil itu dengan susah payah, dan meminum air yang disodorkan Kyungsoo padanya. Ia masih kesusahan bernafas.

Tanpa membuang waktu lagi Kris segera mendekap Jaekyung dan membawanya pergi, disusul satu persatu mereka.

"Kau tidak apa-apa?" Ryeowook, Baekhyun dan Sungmin terhenyak dari lamunannya saat mendengar sapaan seseorang, ketiganya mendongak dan mendapati Jongin berdiri menatapnya khawatir.

"Y-ya.." cicit Sungmin pelan, Jongin berjongkok dan mengusap pipi kiri Sungmin yang memar,

"Apa sakit?" tanyanya gusar.

"Tidak apa-apa.. adikmu lebih penting." Sungmin berusaha tersenyum walaupun nyeri terasa dipipinya.

"Bisakah kalian bertiga ikut kami kerumah sakit?" tanya Sehun, "Kita tidak punya banyak waktu, Jaekyung harus segera dibawa kerumah sakit."

.

.

.

"Otot jantungnya menyempit dan asma nya kambuh dalam waktu bersamaan, bukankah sudah kubilang kondisi dan emosinya harus dijaga?" dokter yang menangani Jaekyung terlihat mengusap wajahnya dengan kasar, dokter itu memang sudah menangani Jaekyung sejak lama, termasuk kedalam dokter keluarga Kim juga.

"Ini diluar kendali kami," ujar Kris parau, sedangkan Jongin sendiri sudah merosot di dinding dan menjambak rambutnya dengan frustasi.

Kyuhyun mengepalkan tangannya penuh amarah, Sungmin menyadari itu. Ia juga melihat Luhan dan Kyungsoo duduk didepan ruang IGD dengan saling berpelukan.

Baekhyun, Ryeowook dan Sungmin sendiri tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiam diri, mereka belum terlalu mengerti dengan keadaan Jaekyung dan permasalahan sebenarnya. Sungmin bahkan lupa rasa sakit dipipinya.

"Dia akan dipindahkan keruang ICU." Ucapan dokter itu sontak mengejutkan semua remaja yang ada disana.

"Hwang uisa.." Jongin putus asa, air matanya sudah jatuh membasahi pipinya, Sehun menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu dengan sendu. Ia, ah tidak. Mereka sangat tahu apa arti ICU untuk Jaekyung.

"Lee Sungmin," Sungmin mendongak saat mendengar namanya dipanggil, ia menatap Kyuhyun yang sudah berdiri didepannya. Ekspresi nya sulit dibaca.

"Bu-bukan aku.." sebisa mungkin gadis itu menahan isakannya, ia sangat takut disalahkan oleh Kyuhyun seperti waktu itu. "Sungguh bukan aku.." desahnya putus asa.

"Aku tahu," sela namja itu, sedikit meringis saat melihat memar dipipi Sungmin. Tanpa sadar, tangan kanannya tergerak mengelus pipi kiri gadis itu. "Aku minta maaf atas perlakuan ku waktu itu.." ujar Kyuhyun tulus, membuat Sungmin tertegun.

"Bisakah kalian menceritakan kronologisnya kepada kami?" tanya Donghae tiba-tiba, menatap Ryeowook, Sungmin dan Baekhyun bergantian.

Ketiga gadis itu saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Baekhyun berdehem, memutuskan dia yang menjelaskan.

"Kami baru keluar dari toilet saat itu," akunya, "Dan saat kami berjalan, kami mendengar teriakan Seohyun, semacam umpatan kasar."

"Lalu?"

"Yaa, kami penasaran dan mencari tahu, dan saat itu kami melihat Seulgi dan Seohyun sedang... Yah, kalian tahu apa yang sedang mereka lakukan."

"Kami membagi tugas dengan memanggil kalian, sementara Sungmin menolong Jaekyung." Tambah Ryeowook, menunduk dalam saat Donghae beralih menatapnya.

"Benarkah?" Kyuhyun, yang notabene nya masih mengusap pipi kiri Sungmin bertanya dengan lembut, membuat semburat merah muncul dikedua pipi gembilnya. Tanpa sadar Kyuhyun tersenyum.

"Aku akan membicarakan ini dengan Jongin nanti. Apa sebaiknya kita melaporkan ini ke polisi dan sekolah?" tanya Donghae gusar.

"A-aku punya rekamannya, Donghae-ssi." Cicit Ryeowook, membuat Donghae dan Kyuhyun terkejut. "Baekhyun juga mengambil beberapa gambarnya,"

"Kau serius?"

Ryeowook mengangguk pelan dan semakin menundukkan kepalanya, tak kuat menatap wajah Donghae.

"Maaf, tapi kami harus pulang.." Baekhyun memecah keheningan, ia sebenarnya ingin sekali tertawa melihat kegugupan Ryeowook, namun dia masih tahu diri disaat genting seperti ini. Jadi lebih baik dia pulang.

"Ah, benar. Kami minta maaf menahan kalian disini." Ujar Sehun tiba-tiba, Ryeowook dan Baekhyun mengangguk. "Aku akan mengantar kalian pulang."

"Tidak usah, Sehun-ssi.." tolak Ryeowook halus, "Kami bisa pulang naik taksi atau bus, tidak perlu repot-"

"Tidak repot." Potong Sehun hangat, "Toh aku juga harus pulang dan memberi tahu orang tua ku kalau kami semua ada disini, kurasa Jongin hyung juga belum memberitahu Jongwoon ahjussi." Sehun melirik sekilas kearah Jongin yang masih duduk dilantai dengan keadaan menyedihkan. "Jadi, mau kan kuantar pulang?" tawarnya ramah.

Ryeowook dan Baekhyun tak punya pilihan lain selain mengangguk, Sehun tersenyum tipis.

"Bagus. Hyung, tolong sampaikan pada Luhan noona kalau aku mengantar gadis-gadis ini pulang." Ujarnya pada Donghae, Donghae mengangguk dan menatap ketiga gadis itu.

"Terima kasih sudah menolong Jaekyung, dan kuharap kejadian ini hanya kita yang tahu." Donghae tersenyum hangat, membuat semburat merah muncul dikedua pipi Ryeowook. Baekhyun tersenyum dan mengangguk.

"Kami mengerti, dan semoga Jaekyung lekas sembuh. Kami pergi, ayo Min." Sungmin mengangguk, niat ingin menyusul Ryeowook dan Baekhyun yang sudah berjalan terlebih dahulu harus tertunda saat sebuah tangan kekar mencekal lengannya.

"Sehun-ah, aku yang mengantar gadis ini pulang." Ujar Kyuhyun, masih menahan lengan Sungmin yang sekarang mengerutkan dahi padanya. Sehun menoleh.

"Kau mau mengantar Sungmin noona pulang?" tanyanya heran, Kyuhyun mengangguk. "Baiklah. Kajja nona-nona.

.

.

.

"Terima kasih," Sungmin membungkuk sopan sebelum ia melepas seatbeltnya, menghadiahi Kyuhyun dengan senyuman manis sebelum ia keluar dari mobil namja itu.

"Aku yang seharusnya beterima kasih.." ucap Kyuhyun tulus,

Sungmin mengerjap polos, jantungnya kembali berdetak heboh saat melihat senyuman tipis Kyuhyun. Sepertinya ia memang menyukai namja ini.

"A-aku permisi dulu.." Sungmin segera melepas seatbeltnya dan buru-buru keluar dari mobil Kyuhyun sebelum detak jantung nya didengar oleh namja ini.

Sungmin tersenyum sekali lagi sebagai bentuk ucapan terima kasihnya dan segera keluar dari mobil Kyuhyun, masuk menuju mansionnya, tak menyadari Kyuhyun yang masih memandanginya dengan senyum penuh arti yang tercetak jelas diwajah tampannya.

.

.

.

.

.

.

"Halo, Luhannie~" Sungmin tersenyum hangat dengan sebuah parsel buah dipelukannya, tersenyum pada Luhan yang kebetulan berpapasan dengannya dilobi rumah sakit.

"Oh! Eonni," pekik Luhan riang, gadis itu memang baru saja kembali dari parkiran saat mengambil barang yang tertinggal dimobil, dan kebetulan sekali bertemu Sungmin. "Eonni mau melihat Jae ya?"

Sebuah anggukan kecil diterimanya sebagai jawaban. Sejak insiden seminggu lalu, Sungmin memang selalu datang kerumah sakit, niat ingin melihat keadaan Jaekyung dan juga bertemu dengan... –ehm- Kyuhyun. Namja yang sudah berhasil mencuri hatinya walaupun dengan cara yang kasar.

"Jaekyung pasti senang sekali," gumam Luhan,

Sungmin hanya tersenyum, walaupun sampai saat ini ia masih belum tahu tentang keadaan Jaekyung yang sebenarnya. 7 remaja itu membungkam erat mulut mereka tentang kondisi Jaekyung dan Sungmin tidak bisa memaksa mereka menceritakannya, ia sadar bukan siapa-siapa. 3 hari Jaekyung menginap diruang ICU sebelum akhirnya dipindahkan keruang rawat inap kelas VVIP, dan Sungmin tidak heran karena rumah sakit ini adalah milik ayah gadis itu.

"Oppa~" suara manja Luhan menyadarkannya dari lamunannya yang tanpa sadar sudah membawanya kekamar rawat Jaekyung. Dilihatnya Donghae yang tertidur disofa dan Kris yang tertidur disamping tempat tidur Jaekyung didalam kamar rawat, Luhan yang mengatakannya. Kamar rawat Jaekyung memang terhalang oleh sebuah pintu. Jika pertama kali masuk baru disuguhkan sebuah ruangan yang menyerupai ruang tamu, dan ada sebuah pintu yang notabenenya adalah ruang rawat Jaekyung. Ruang VVIP memang memisahkan ruang rawat dan ruang untuk tamu yang mengunjungi pasien. Namun masih berada disatu kamar.

"Ouh, Lu. Hai noona.." Sungmin tersadar dari lamunannya dan menatap Sehun yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah dan handuk yang bertengger dibahunya, tersenyum pada Sungmin dan Luhan.

Luhan menyodorkan paperbag yang dibawanya sejak tadi pada Sehun yang sedang tersenyum sumringah menerimanya.

"Makan dulu, aku bangunkan Donghae oppa dan Kris oppa." Katanya.

"Oh iya, Lu. Aku membawa ini untuk kalian.." Sungmin menyorongkan parsel buahnya pada Luhan.

"Tidak perlu repot-repot eonni, tapi terima kasih.." Luhan tersenyum dan menaruh parsel pemberian Sungmin dinakas, dan mengguncang lengan Donghae dengan lembut setelahnya.

"Oppa.. bangun, makan dulu.."

Donghae menggeliat pelan dan menguap, mengusap kedua matanya, Luhan meninggalkannya dan menghampiri Kris yang ada didalam ruang rawat Jaekyung.

"Ge, bangun.. makan dulu.." ujar Luhan lembut, Kris bangun perlahan dan mengusap kedua matanya sembari mengerutkan kening, mencoba beradaptasi dengan cahaya ruangan itu.

Sungmin duduk disofa –setelah Luhan mempersilahkannya- dengan tenang, mengamati Donghae yang duduk dengan mata setengah terpejam sementara Sehun dengan polosnya memakan sarapannya. Kris menyusul kemudian, keluar dari kamar rawat, duduk disofa tepat disebelah Sungmin dan menerima kotak makan pemberian Luhan.

"Eonni sudah makan?" tanya Luhan, Sungmin mengangguk.

"Sudah."

"Noona tidak mau makan lagi? Masakan Luhan enak sekali." Sehun bercanda sembari memanas-manasi Sungmin yang sekarang sedang tertawa melihatnya.

Sedikit banyak, Sungmin terkagum sekaligus iri dengan persahabatan yang terjalin diantara mereka semua, Luhan juga mengatakan, 'Kami lebih dari sekedar sahabat eonni, kami seperti saudara.' waktu itu. Dan sungmin kagum, mereka berdelapan memang terlihat seperti saudara yang saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Dan Sungmin sedikit bangga bisa berada diantara mereka dan melihat langsung moment-moment yang tak mungkin dilihat oleh orang lain.

Sekilas, gadis itu menatap pintu kamar rawat Jaekyung cukup lama, ada gurat sedih diwajah manisnya saat mengingat insiden seminggu lalu.

"Kau boleh melihatnya jika kau mau,"

Suara berat Kris membuyarkan lamunan Sungmin, dengan mata berbinar gadis penyuka kelinci itu menatap pria disampingnya, "Benarkah?" tanyanya antusias. Kris mengangguk dan tersenyum tipis.

Sungmin segera bangkit dan menggeser pintu rawat Jaekyung, gadis itu langsung disuguhkan pemandangan dimana Jaekyung terbaring masih tak sadarkan diri.

Sungmin sejenak memperhatikan keadaan Jaekyung, keadaannya masih tak jauh beda dengan hari-hari sebelumnya. Alat bantu pernafasan yang masih bertengger manis menutupi hidung dan mulutnya, sebuah selang infus yang mengalir ditangan kanannya dan sebuah infus yang menjepit jari telunjuknya. Oh, jangan lupakan beberapa alat yang menempel didadanya dan sebuah alat deteksi jantung disamping tempat tidurnya.

"Hai, aku datang.." lirih Sungmin, menggenggam jemari Jaekyung dan tersenyum lemah. Sedikit meringis melihat keadaan Jaekyung.

"Kau tahu? Aku minta maaf karena waktu itu tidak menolongmu saat kau terjatuh kekolam," isaknya pelan, "Aku benar-benar minta maaf.."

Jaekyung tak merespon, kedua matanya masih senantiasa tertutup, hanya deru nafas samar dan tarikan tak kasat mata didadanya.

Sungmin menangis tanpa suara, membayangkan bagaimana Jaekyung kesusahan bernafas saat itu. Ia hanya bisa menyimpulkan bahwa Jaekyung mempunyai asma, mengingat inhaler yang ditemuinya ditas gadis itu, dan Sungmin kembali menyimpulkan bahwa Jaekyung tidak diizinkan berenang karena mempunyai penyakit itu. Walaupun ia masih tidak mengerti akan obat-obatan yang diberikan Jongin saat dilorong dan ucapan uisa yang mengatakan bahwa otot jantung gadis itu menyempit dan asmanya kambuh dalam waktu yang bersamaan.

"Bangunlah, semua menunggumu.." isak Sungmin lagi, tak kuasa menahan tangis saat melihat Jaekyung tak kunjung merespon. "Aku mohon.."

Sebuah tepukan halus mendarat dibahu sempitnya. Sungmin mendongak, masih dengan air mata yang bercucuran, ia melihat Kyuhyun berdiri dibelakangnya dengan pandangan sendu kearah Jaekyung.

"K-kyuhyun-ssi.." gumamnya, masih sedikit terisak.

"Dia pasti bangun.." lirih Kyuhyun, lebih kepada dirinya sendiri untuk meyakinkannya.

"Hiks~" gadis itu tak kuat lagi untuk tak menahan isakannya, air matanya terus mengalir deras dikedua pipi gembilnya.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dan menatap Sungmin, perlahan pria itu menunduk dan menghapus air mata yang mengalir dipipi Sungmin, "Jangan menangis.."

Bukannya mereda, Sungmin malah semakin terisak dengan perlakuan Kyuhyun, setengah bahagia melihat orang yang disukainya memberi perhatian padanya.

Entah kenapa, Kyuhyun merasakan dadanya berdenyut nyeri saat melihat Sungmin menangis. Dan tanpa rencana, seakan otak jeniusnya itu sedang blank, Kyuhyun menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sungmin, mengamati setiap lekuk ciptaan Tuhan itu.

Mata kelinci yang selalu meredup setiap kali memandangnya, mungkin Sungmin takut karena waktu itu ia membentak gadis itu. Hidung bangir, bibir plum yang berwarna pink alami, kedua pipi gembil yang selalu merona dan jangan lupakan sebuah senyuman manis yang tanpa sadar menyedot Kyuhyun dalam pesonanya.

Detik selanjutnya, Sungmin membelalak saat sebuah benda kenyal dan sedikit kering menempel di bibirnya. Otaknya yang memang terkadang load memaksanya untuk berpikir keras. Hell!? Kyuhyun sedang menciumnya saat ini.

"Oh! Ya Tuhan!"

Kyuhyun dengan segera melepas ciumannya saat mendengar pekikan tertahan dari Donghae didepan pintu, kesadarannya seperti dihujam saat itu juga ketubuhnya. Dalam hati ia merutuk kelancangannya dan juga tindakannya yang tidak terkendali.

Sungmin sendiri tak jauh beda, belum lagi syoknya hilang karena Kyuhyun menciumnya tiba-tiba, sekarang dikejutkan dengan seseorang yang memergoki mereka. Wajahnya menunduk dalam dan pipinya memerah tanpa diperintah.

"Lakukan ditempat lain Tuan dan Nona, aishh.." Donghae mengusap wajahnya dengan kasar, wajahnya tak jauh berbeda dengan keadaan Kyuhyun dan Sungmin sekarang, memerah.

"Ma-maaf.." cicit Sungmin, ia ingin segera bangkit dan keluar dari ruangan itu. Malu sekali. Namun gerakan tangannya terhenti saat menyadari sesuatu.

Sungmin menoleh, menatap tangannya yang sedang menggenggam jemari Jaekyung sedari tadi. Jemari Jaekyung... bergerak.

"D-dia bangun.." gumam Sungmin tak percaya, menatap Jaekyung yang sekarang sedang berusaha membuka matanya dengan perlahan.

Kyuhyun dan Donghae menatap tak percaya kearah tempat tidur Jaekyung. Sungmin benar, gadis itu bangun.

"Astaga! Astaga! Dia bangun!" teriak Donghae kalut, menatap Jaekyung yang sekarang sedang menatap sayu langit-langit kamar rumah sakit.

Kyuhyun dengan segera menekan tombol yang ada diatas tempat tidur gadis itu, tombol yang langsung menghubungkan dengan ruang kerja dokter.

"Oppa? Ada apa?" Luhan, Sehun dan Kris datang dengan tergesa-gesa saat mendengar teriakan Donghae. Menatap Donghae yang sekarang sedang tersenyum idiot.

"Dia bangun, Kris. Dia bangun!"

Mata elang Kris membola tak percaya, dengan segera ia menghampiri tempat tidur Jaekyung. Detik selanjutnya, wajah bahagia terpampang di air mukanya saat melihat Jaekyung menatap dengan pandangan sayu padanya.

.

.

.

.

"Kau harus makan yang banyak sayang, ibu tak suka melihatmu pucat seperti itu."

"Saat kau sembuh nanti, aku akan mengajak mu kekedai bubble tea, Jae."

"Ya! Rusa! Dia belum boleh mengkonsumsi minuman seperti itu."

"Bubble tea itu bagus untuk kesehatan, hyung."

"Bagus darimana, huh?"

"Evil oppa, jangan menghina bubble tea-ku."

"Aish, jinjja? Dasar pasangan bubble tea aneh!"

"Berhenti bertengkar kalian bertiga!"

"Jae, tutup telingamu. Jangan dengarkan mereka."

"Anak muda zaman sekarang,"

"Apanya yang zaman sekarang, Ayah?"

"Jelas saja, paman kan anak muda dizaman dahulu."

"Ya! Ikan tengik! Berani menghinaku, eoh?"

Jaekyung memutar bola matanya dengan jengah mendengar keributan yang tercipta diruang kamarnya. Ayah, Ibu, Jongin, Donghae, Sehun, Luhan dan Kyuhyun berdebat dengan hal yang tidak penting yang membuat telinganya panas. Sungmin dan Kyungsoo hanya tersenyum maklum dan menggelengkan kepalanya saat melihat itu semua.

"Biasakan ya, eonni.." bisik Kyungsoo yang duduk disamping Sungmin, Sungmin terkekeh geli dan mengangguk.

Kris hanya menggeleng pelan dan mengusap pipi tirus gadis yang sekarang ada didalam dekapannya, "Mau makan sesuatu?" tanyanya lembut.

"Aku mau anggur, ge." Pintanya lemah, Kris mengangguk dan mengambilkan setangkai anggur.

Gadis itu hanya menyenderkan kepalanya didada bidang Kris yang sekarang duduk ditepi kasur Jaekyung dengan tubuh memeluk gadis itu. Jaekyung yang memintanya tetap disampingnya, tanpa menyadari raut wajah sendu seseorang.

Ibu dan ayahnya hanya tersenyum maklum, mereka sudah tahu se'intim' apa dua sejoli itu dan tidak heran lagi saat melihat Jaekyung lebih memilih bersandar dipelukan Kris daripada orang tuanya.

"Ayah dan ibu harus pulang.. dan besok ayah akan mengantar ibu ke Busan untuk mengecek toko disana.. tidak apa-apa kan kalau ayah tinggal, baby?" tanya Jongwoon lembut sambil mengusap surai hitam Jaekyung dengan sayang.

Jaekyung mengangguk lemah sambil berusaha tersenyum, tubuhnya masih terasa sangat lemas pasca sadar dua hari lalu.

"Sayang, kau harus menjaga adikmu." Ujar Taeyeon, sedikit tegas.

"Iya, ibu.." jawab Jongin patuh.

"Ibu akan bawakan bakso ikan panggang kesukaanmu saat pulang nanti, hanya dua hari.. cepat sembuh sayang.."

"Kalian semua juga harus menjaga anakku, dan jangan lupa makan. Jangan begadang dan ja-"

"Paman, kapan berangkatnya kalau ceramah terus?" keluh Sehun. Kyungsoo, Sungmin dan Luhan menutup mulutnya berusaha menahan tawa.

"Dasar anak zaman sekarang." Desis Jongwoon, ia segera mengecup singkat pucuk kepala anak bungsunya dan menepuk pelan bahu Kris. Tak membuang waktu lagi pria paruh baya itu segera meninggalkan ruangan diikuti istrinya yang mengecup pipi kedua anaknya terlebih dahulu. Tak lupa juga mengecup pipi mereka semua yang ada disana, termasuk Sungmin juga yang tersentak kaget.

"Kan sudah ku bilang biasakan, eonni.." Kyungsoo terkikik geli saat melihat wajah syok Sungmin pasca dicium oleh ibu Jongin.

"Ak-aku hanya kaget saja.." kilah Sungmin, wajahnya kembali merona.

"Nanti juga terbiasa, eonni." Luhan langsung merangkul bahu Sungmin dan tersenyum ceria padanya.

"Baby Jae, jangan makan buah terus. Kau harus makan nasi juga.." Donghae menyorongkan semangkuk bubur pada Kris, menyuruhnya menyuapi Jaekyung.

"Kau seperti perawat pribadi, Hae." Sindir Kyuhyun, Donghae mendelik.

Sungmin menolehkan wajahnya menatap Kyuhyun yang masih tertawa setelah berhasil mengejek Donghae. Tampan, batinnya.

Tanpa diduga, Kyuhyun mengalihkan pandangannya dan menatap gadis yang sedari tadi meliriknya. Pandangannya langsung bertubrukan dengan binar foxy Sungmin. Sungmin terkejut dan segera menunduk dalam-dalam, tak menyadari Kyuhyun terkekeh pelan melihat tingkahnya.

Suasana hangat masih terjalin didalam ruangan itu, mereka memang sekarang berada diruangan Jaekyung, ruangan itu masih mempunyai sofa dan cukup luas, sehingga tak salah mereka berkumpul disana, bukan diruang depan.

"Sudah," Jaekyung mendorong pelan sendok yang dipegang Kris, Kris mengangguk. Menaruh kembali mangkuk bubur itu dinakas dan membantu gadisnya meminum air.

Jaekyung makin mengeratkan pelukannya dipinggang Kris, menyamankan kepalanya didada pria China itu. Kris sendiri hanya mengusap pelan punggung sempit perempuan itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengelus lengan Jaekyung yang melingkar diperutnya.

"Sebegitu rindu denganku ya?" goda Kris, pria itu mendengar Jaekyung berdecih pelan dan tertawa.

"Oh iya, sebentar lagi kita libur kan?" tanya Luhan semangat, "Kemana rencana liburan kita kali ini?"

"Itali," jawab Donghae cuek, Sungmin terkejut sementara Jongin mencibir.

"Kita sudah ke Itali saat libur natal tahun lalu, kau lupa?"

"Kalian berlibur sejauh itu?" tanya Sungmin tanpa sadar, semua menatapnya heran.

"Ya, kami memang selalu pergi saat liburan. Kenapa?" tanya Donghae heran, ia merasa tak ada yang salah dengan mereka semua, terutama jawabannya.

"A-ani.." Sungmin tergugu, "M-maksudku, kalian suka berlibur keluar negeri setiap liburan?" tanyanya,

"Tidak selalu," kali ini Kris yang menjawab. "Terkadang didalam negeri juga."

"Kau harus ikut kami liburan, eonni. Pasti menyenangkan!" pekik Luhan antusias, Kyungsoo ikut mengangguk dengan semangat.

"E-eh?"

"Tidak ada salahnya," Sungmin langsung menunduk dalam-dalam menyembunyikan rona wajahnya saat mendengar Kyuhyun menyahut, ia selalu gugup saat melihat atau mendengar suara pria ini. Jantungnya berdetak tak karuan, apalagi setelah insiden –ciuman-yang-katanya-tak-sengaja itu.

"Punya usul, Min?" tanya Kyuhyun.

"O-oh?" Sungmin memasang tampang bodoh tanpa sadar saat mereka semua menatapnya. "Ti-tidak.."

"Kita ke Jeju saja bagaimana? Tidak terlalu jauh. Saat liburan kenaikan kelas nanti baru kita pikirkan liburan keluar negeri." Celetuk Sehun sambil mengunyah apelnya.

"Itu berarti kita kepantai? Yeaayyy!" pekik Luhan,

"Ssstt~" Donghae menaruh jari telunjuknya tepat didepan bibir, menyuruh Luhan diam dan mengangkat dagunya sekilas kearah Kris.

Kris mengernyit heran saat semua mata tertuju padanya, "Apa?" tanyanya bingung.

"Adikku tidur, bodoh!" ujar Jongin pelan, menunjuk Jaekyung dengan dagunya.

Kris menunduk dan sedikit mencondongkan kepalanya menatap Jaekyung. Benar saja, gadis itu tertidur dipelukan Kris dengan pelukannya yang mulai mengendur, tanda ia mulai terlelap dibawah kesadarannya.

"Sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan ini diruang depan saja, biarkan Jae istirahat." Kata Kyuhyun, beranjak dari sana dan menggeser pelan pintu kamar, disusul Luhan, Donghae, Jongin, Kyungsoo, Sehun dan Sungmin.

Kris tersenyum melihat raut wajah polos Jaekyung saat tertidur, dengan hati-hati ia melepaskan pelukan Jaekyung dipinggangnya dan merebahkan gadis itu perlahan dikasur.

Pria itu merapihkan poni yang menutupi mata indah kekasihnya dan membenarkan letak selimutnya sambil mengelus pelan pipi tirus Jaekyung.

"Aku mencintaimu~" ucapnya pelan dan mengecup kening Jaekyung cukup lama sebelum keluar bergabung dengan teman-temannya.

.

.

.

.

"Kalau begitu kita ke Jeju libur semester nanti, kudengar appa juga ingin pergi ke Beijing.."

"Kyu, Heechul ahjumma akan ikut kan?" tanya Jongin, Kyuhyun yang sedang bermain PSP hanya mengangguk pelan.

"Kupikir orang tua tidak akan ikut," celetuk Sungmin polos, ia sudah mulai terbiasa dengan kebersamaan mereka dan bisa mulai bergabung. Walaupun masih takut untuk menatap Kyuhyun.

Luhan tersenyum, "Diantara kami masih ada yang dibawah umur, eonni. Lagipula, kami tidak mau ambil resiko Jaekyung berlibur tanpa pengawasan orang dewasa." Jelasnya.

Sungmin mengernyit pelan, "Jika boleh ku tahu, sebenarnya Jaekyung kenapa?"

Keheningan menyelimuti suasana ruang tamu itu setelah mendengar pertanyaan Sungmin. Saling melempar pandang gelisah dan dan tersenyum kaku.

"Aku tidak memaksa kalian untuk bercerita.." Sungmin buru-buru menambahkan, "Aku hanya penasaran."

"Maaf, Min. Kami belum bisa cerita.." jawab Jongin sambil tersenyum kecil.

"AH! Bagaimana dengan Seohyun dan Seulgi?" tanya Sehun, mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai terasa canggung.

"Aku sudah meminta bukti foto dan rekamannya pada Baekhyun dan Ryeowook, hasil visum Sungmin dan Jaekyung juga sudah keluar." Papar Donghae.

"Lalu?"

"Ada kemungkinan kau akan dipanggil sebagai korban atas kekerasan, Min. Jadi bersiap-siaplah. Dua temanmu juga akan dipanggil menjadi saksi."

"Apa harus sampai masuk kedalam catatan polisi? Mereka masih sekolah.."

"Oh, ya Tuhan.." Sehun mendesah, "Noona, mereka berdua membuat Jaekyung masuk ICU dan membuat pipi mu memar! Setelah semua itu kau masih membela dua nenek sihir itu!?" lanjutnya dengan nada geram.

"Ak-aku tidak membelanya.." kilah Sungmin, sedikit takut dengan tatapan tajam Sehun, "Aku hanya berpikir dengan perasaan orang tua mereka.."

"Kau juga seharusnya melihat dari sudut pandang kami." Ujar Kris datar, memasukkan ponsel yang sedari tadi dipegangnya kedalam saku dan menatap Sungmin, "Jika kau jadi kami, kau tidak akan sempat melihat dari sudut pandang orang tua mereka."

"Mereka pantas mendapatkannya, ini sudah diluar batas wajar." Imbuh Kyungsoo dengan nada berapi-api.

"Tap-tapi tetap saja.." Sungmin masih berusaha mengemukakan pendapatnya, "Mereka akan kehilangan masa depan jika kalian melakukan itu,"

"Kau temannya?" suara dingin dan menusuk masuk kedalam indera pendengaran Sungmin, membuatnya bergidik dan segera menunduk dalam-dalam.

Kyuhyun menatapnya dengan tatapan tajam mengintimidasi, tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu yang masih sempat-sempatnya membela seorang penjahat.

"Bu-bukan.." cicit Sungmin pelan.

"Kalau begitu diam saja jika kau tidak tahu apa-apa."

Sungguh, rasanya Sungmin ingin menangis saja mendengar suara Kyuhyun. Dia memang tidak membentak Sungmin, namun nada bicaranya sangat menyakitkan, belum lagi perkataannya yang seakan menusuk hati hingga membuatnya berdenyut nyeri. Sesakit inikah menyukai Kyuhyun?

"Iya.. ma-maafkan aku.." lirihnya, hampir seperti terdengar bisikan. Luhan dan Kyungsoo yang berada disamping kanan dan kirinya segera menggamit lengan gadis itu dan tersenyum ramah.

"Tidak apa-apa, eonni. Jangan dengarkan Kyuhyun oppa.." ujar Luhan memberi semangat, diikuti anggukan Kyungsoo.

"Kau terlalu kaku, bung." Jongin berkomentar dengan kalem. Kyuhyun mendengus dan menyalakan lagi PSP nya.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

Dipikir2 si empil marah2 mulu ya? :O otthe?

Diberitahu sekali lagi kalau ini cast utamanya kris dan jaekyung, feat kyuhyun dan sungmin. Oke?

Buat siscomel12, maaf yaa. Pheo baru bisa update sekarang , hehe {}

Review aja lah, boleh?

Anyyeoooongg~

.

Big thank's

Chillo ; Girls in awesome world ; Anisa Jung ; orange girls ; hunexohan ; PumpkinEvil137 ; Guest ; choi hyuna ; nurindaKyumin ; abihikmah ; ; siscomel12

.

.

Oh Pheonix 2016