*Hati hati! TYPO dan kata2 tak senonoh betebaran dimana mana*
.
.
"Memangnya kau ini vampire yang kenyang hanya minum darah?" wonwoo menyentil pelan dahi mingyu.
Mingyu mematikan kompor yang sedang memasak ramen tersebut, dan membalikkan tubuh wonwoo agar menghadapnya. Ia memegang tengkuk wonwoo, dan langsung melumat bibir wonwoo. wonwoo memukul mukul dada berisi mingyu karena mingyu menciumnya secara tiba tiba, bahkan melumatnya langsung, menelusupkan lidahnya kedalam mulut wonwoo. memainkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, menggigit menghisap lidah wonwoo. Dan saliva pun keluar dari sudut bibir wonwoo.
"Ahh" Mingyu memutus ciumannya, benang saliva mereka juga terputus dan bersisa di dagu wonwoo.
"Aku ingin memakanmu sekarang, Jeon wonwoo"
.
Mingyu kembali melumat bibir wonwoo yang mulai merah membengkak, menghisap lidah nya dan sesekali menghisap lidah wonwoo. Kedua tangan wonwoo mencoba mendorong kedua sisi dada bidang mingyu, tapi mingyu semakin merapatkan tubuh kurus wonwoo dengan tubuhnya dengan tangan kanan besarnya mengalung di pinggang wonwoo dan satu tangannya lagi menekan tengkuk wonwoo.
-Tingtong~
Suara bel rumah mingyu berbunyi, mata wonwoo yang terpejam sontak langsung melotot. Ia kembali mendorong tubuh mingyu, berharap mingyu menghentikan aksi bejadnya walau sebentar saja. Tentu saja wonwoo takut jikalau pembantu dirumah mingyu yang akan membuka pintu rumah harus melewati dapur terlebih dahulu, dan melihat tuan rumahnya sedang berciuman panas dengannya.
Mingyu masih betah dengan posisinya. Tak berniat sedikit pun untuk melepas ciumannya. Wonwoo terus berdoa dalam hatinya semoga setan dalam diri mingyu cepat lenyap.
Bel terus berbunyi beberapa kali, mingyu dengan amat berat hati membuka kedua matanya, menarik bibirnya dari bibir wonwoo yang merah sempurna. Memegang dagu wonwoo. Mengecup bibir tersebut beberapa kali sebelum benar benar menjauhkan wajahnya dari wonwoo. Wonwoo mendorong tubuh mingyu. Menjauhkannya beberapa langkah dari tubuh wonwoo.
"Kau gila! Sudah tahu ada tamu, bagaimana kalau ajumma melihat kita, huh?!" dengus wonwoo kesal dengan nafasnya yang masih terengah engah. Kedua mata sipitnya melotot lucu. Mingyu menonjok telapak tangan kirinya sendiri.
"Sial. Mengganggu saja" geramnya pelan.
"Ajumma! Ajumma!" mingyu sedikit berteriak memanggil pembantu rumahnya. Dan tak ada jawaban dari yang dipanggilnya.
"Mungkin dia belanja, stok untuk membuat makanan di kulkasmu juga kosong. Pantas saja kau memintaku untuk membuatkan ramen. Sudah sana buka kan pintunya" ujar wonwoo.
Mingyu menatap wonwoo dengan malas, nada perintah wonwoo padanya membuatnya malas. Ditambah kondisi mingyu saat ini benar benar sudah 50% terangsang karena mencium wonwoo-nya tadi.
"Aku tunggu disini, aku lanjutkan masak ramen-mu" tambah wonwoo dan membelakangi mingyu, menyalakan kembali kompor yang sedang memasak ramen.
"Kenapa dalam keadaan yang seperti ini selalu saja ada pengganggu!" mingyu terus mengumpat sambil mengacak rambutnya dan berjalan kearah pintu.
"Yaa tunggu sebentar" teriak mingyu saat bel rumahnya terus berbunyi. Ia tepat didepan pintu, membuka pintu tersebut dan..
"Mingyu.."
"Kau, darimana kau tahu rumahku?"
.
Wonwoo tersenyum manis, melihat ramen buatannya untuk mingyu sudah selesai. Ia menaburkan bawang daun diatas ramen itu.
"Yup! Selesai" wonwoo membawa mangkuk berisi ramen tersebut ke meja makan, menyimpan nya disitu.
"Mingyu kemana? Siapa tamunya? Lama sekali" wonwoo pun berniat melihat siapa tamu yang datang. Berjalan ke ruangan untuk tamu, dan kosong. Tidak ada siapapun di ruang tamu yang luas tersebut.
Wonwoo meneruskan jalannya kearah pintu depan, dan langkahnya terhenti saat melihat mingyu berdiri didepan pintu yang ia buka dengan seorang wanita yang memeluk erat tubuhnya.
"Terimalah aku kim mingyu, aku benar benar mencintaimu" ucap wanita tersebut, kepalanya yang berawal ia sandarkan didada mingyu, ia menarik kepalanya pelan, mendongak ke wajah mingyu.
"Pinky?!" wonwoo refleks langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya saat mulutnya tersebut mengucap nama wanita yang sedang bersama kekasihnya tersebut.
"Maaf, tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu" jawab mingyu lembut. Entah kenapa wonwoo merasa lega dan cemburu disaat bersamaan. Lega karena mingyu menolaknya, cemburu karena suara tolakan mingyu begitu lembut padanya.
"Kenapa? Apa karena kau sudah memiliki orang yang kau sukai?"
"Bukan begitu, aku—"
"Kalau begitu, kalau kita sudah lulus maukah kau mempertimbangkannya?" potong pinky dengan suaranya yang memelas. Mingyu melepas kedua tangan pingky yang melingkar pada pinggangnya.
"Ya, baiklah" jawaban mingyu membuat hati wonwoo terasa seakan dihantam puluhan ribu bola basket.
"Sungguh?" wajahnya tersenyum sumringah seketika itu juga. Mingyu mengangguk.
"Sekarang kau pulang dulu saja, aku sedang beristirhat" pinky pun mengangguk antusias.
'Kenapa? Kenapa mingyu memberikan harapan padanya? Kenapa..' batin wonwoo lirih seraya berjalan pelan menaiki tangga menuju kamar mingyu.
"Sampai bertemu besok, mingyu" ujar pinky sembari melambaikan tangan kanannya, dibalas anggukan pelan dari mingyu.
Mingyu menutup pintunya, saat ia berbalik dilihatnya wonwoo memasuki kamarnya. Kedua alisnya berkerut, ia sudah menduga kalau wonwoo melihatnya bersama pinky barusan. Mingyu berlari kecil menaiki tangga, menyusul wonwoo masuk kedalam kamarnya.
Dan mingyu mendapati wonwoo sudah menggandeng tas nya. Berbalik kearah pintu. Tangan mingyu menahan kedua sisi lengan wonwoo.
"Mau kemana, hyung?" tahan mingyu dan wonwoo menepis kedua tangan mingyu dengan sedikit kasar. Menatap mingyu dengan wajah tak berekspresinya.
"Pulang" jawabnya singkat dan berjalan melewati mingyu.
"Hey jangan seperti itu" tangan mingyu kembali menahan pergelangan tangan wonwoo yang kurus dengan kuat, menarik wonwoo ke atas ranjang, mengukung tubuh wonwoo dibawah badannya. Wonwoo menatapnya tak suka.
"Kenapa? Kenapa kau memberinya harapan?" ujar wonwoo lirih sambil membuang muka nya kearah lain.
"Hm? Cemburu? Sesudah lulus juga dia pasti lupa" jelas mingyu dengan sedikit seringaian dibibirnya. Wonwoo kembali menatap mingyu.
"Bukan seperti itu! Mingyu kau bilang-"
"Tidak ada gunanya membuat dia sakit hati" mingyu memotong ucapan wonwoo, membuatnya terdiam.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Dia mengganggu kita tadi, kita belum selesai"
"Nngg!" mingyu sudah kembali mengulum bibir wonwoo tanpa seizin pemiliknya.
'Kenapa kau mengelak saat wanita itu bertanya apa kau mempunyai orang yang kau sukai? Kau menganggapku apa? Bagimu aku ini apa? Katakan saja kau sudah mempunyai kekasih!' hati wonwoo terus berbicara.
Kedua tangan wonwoo mendorong tubuh mingyu yang menindihnya dengan kuat, tubuh mingyu terguling kesamping wonwoo. Wonwoo bangkit dari ranjang, mengambil tas nya dengan terburu buru.
"Dasar bocah! Bodoh! Kau bodoh!" teriak wonwoo, keluar dari kamar mingyu dan membanting keras pintu kamar tersebut.
.
21.00 PM KST
Wonwoo meneguk minuman beralkohol 'Soju' diatas meja bar panjang sendirian, semenjak kejadian tadi dirumah mingyu. Mingyu pun tak menyusulnya ataupun mengirim pesan dan menelponnya.
"Mingyu bodoh! Padahal seharusnya malam ini aku sedang melepas rindu bersamanya" rancau nya yang sudah mulai tak sadarkan diri. Beruntunglah bar tersebut tidak terlalu ramai pengunjung, mungkin dengan keadaannya yang seperti ini wonwoo bisa jatuh dalam pelukan bahkan jatuh diatas ranjang bersama wanita yang menggodanya.
"Wonwoo seonsaeng!" suara wanita yang memanggilnya terlihat samar samar berdiri disamping kirinya. Ia memicingkan kedua mata sipitnya, berusaha untuk memperjelas penglihatannya.
"Oh?! Pinky sshi? Apa yang kau lakukan disini?" wonwoo tersenyum paksa khas orang mabuk pada wanita disampingnya.
"Anak sekolah dilarang masuk bar, kau tahu!" ujar wonwoo sambil mengacungkan jari telunjuknya pada pinky seolah olah sedang menasehati muridnya.
"Kenapa kau tersenyum? Apa kau puas melihatku menderita, huh?" kesal pinky tiba tiba.
"Hah? Apa yang kau bicarakan?" wonwoo berdiri dari tempat duduknya, menghadap pinky.
"Kau tahu? Kim mingyu, sore tadi dia datang kerumahku, dia menolakku mentah mentah! Mingyu bilang dia tidak bisa menerimaku, berpacaran denganku, karena dia sudah mempunyai kekasih, dan itu kau! Bahkan dengan terang terangan dia bilang kalau dia sangat mencintaimu!" bentak pinky dengan wajahnya yang penuh kemarahan pada wonwoo. Beruntunglah sepinya pengunjung bar, mereka tidak menjadi tontonan saat ini. Mereka seperti ada di dunia nya masing masing. Pelayan pun acuh. Mungkin hal seperti ini sudah biasa terjadi di bar. Dan wonwoo masih terdiam.
"Mingyu, berkata seperti itu?" ujar wonwoo amat pelan. Pinky semakin terlihat geram, ia menarik pergelangan tangan wonwoo, menariknya ke sudut dinding bar yang kosong. Wonwoo sedikit meringis sakit saat punggungnya menyentuh keras pada dinding bar.
"Jeon wonwoo dan Kim mingyu, kalian adalah seorang guru dengan murid, apa kalian tidak tahu bahwa diperaturan sekolah itu tidak boleh? Itu sangat dilarang! Dan apa lagi ini, kalian berdua laki laki! Itu menjijikan-" lanjut pinky dan terpotong oleh wonwoo.
"Aku tahu!" suara berat wonwoo balas membentak wanita didepannya.
"Aku juga sangat mencintainya, apapun yang terjadi aku akan menghadapinya. Jadi apapun yang kau lakukan untuk memisahkan kami, itu percuma saja. Walau kau seorang wanitapun aku tidak segan untuk menghadapimu" entah wonwoo sadar atau tidak dengan apa yang ia ucapkan, yang jelas wonwoo pun sudah tak kuat menahan emosinya pada wanita di hadapannya tersebut.
"Dan apa yang salah dengan gender kami yang sama? Kami saling mencintai. Cinta kami murni dari hati, semua rasa benci, suka dan cinta itu hati yang rasa, semua sama" tambah wonwoo. Tak jauh dari tempat wonwoo dan pinky berdiri, tanpa mereka sadari sudah ada orang yang memperhatikan mereka sedari tadi, diam menyandarkan badannya di dinding bar dengan kedua tangannya yang menyilang diatas perut.
Amarah pinky semakin meninggi, ia mengambil sesuatu dari tas selempangnya. Orang yang sedari tadi memperhatikan mereka, ia berjalan gelisah mendekati wonwoo dan pinky.
"Pinky sshi, apa yang akan kau lakukan? Apa kau sudah gila?"
"Tch, aku akan memberikanmu peringatan pertama, Seonsaengnim Jalang!" ujar pinky pelan diikuti seringaian menjijikan di wajahnya dan siap menghempaskan pisau kecil ditangannya kearah perut wonwoo. Badan wonwoo masih lemas pengaruh alcohol, badannya pun berat untuk ia gerakkan. Tangan kiri pinky mencengkram leher wonwoo, kepala wonwoo pun terbentur cukup keras ke dinding karenanya. Wonwoo pun pasrah dengan kepalanya yang berdenyut hebat, ia mulai tak sadarkan diri.
"Akh!" belum sempat pinky menggoreskan pisau tersebut ke perut wonwoo, tangannya sudah dicengkram seseorang dibelakangnya dengan sangat kuat.
"Mi-mingyu?" pinky tercengang melihat siapa orang yang mencengkram tangannya tersebut beralih kesamping tubuhnya.
"Kau seorang pelajar yang mencoba ingin membunuh gurumu sendiri. Itu lebih hina dari pada seorang murid yang berpacaran dengan gurunya. Dan itu berarti kau lebih hina dari pada aku dan wonwoo" ujar mingyu penuh tekanan di setiap kata katanya dan menajamkan tatapannya kepada pinky. Kedua mata pinky yang membelo seketika mulai berlinangan air mata.
"Dan ini tentu saja sudah termasuk kedalam tindakan criminal, dan lihat? Aku merekam apa yang kau lakukan pada wonwoo dari tadi" lanjut mingyu seraya memperlihatkan ponselnya yang sedang memutar video rekaman kejadiaan mulai dari wonwoo diseret oleh pinky. Tubuh pinky pun mulai bergemetar, air matanya tumpah. Tentu wanita itu ketakutan.
"Dan kalau kau berani menyakiti wonwoo, aku akan jauh lebih menyakitimu, Joo Kyeol Kyung sshi" ancam mingyu.
"Min-gyu mingyu maafkan aku, maafkan aku" pinky menangis. Mingyu mendecih.
"Jauhi aku dan wonwoo sejauh jauhnya. Jangan berani tangan kotormu itu menyentuhnya lagi, atau aku benar benar akan menyeretmu ke Polisi" geram mingyu, menghempaskan tangan pinky dengan kasar. Pinky pun yang masih menangis mulai berjalan mundur dengan pelan, sebelum ia benar benar lari keluar bar.
Dilihatnya wonwoo yang sudah terduduk dilantai tak sadarkan diri. Mingyu panik, ia berjongkok, meraih kedua sisi pipi wonwoo, dan menepuk nepuk pipi wonwoo dengan pelan.
"Wonu hyung.. wonu hyung" panggil mingyu berulang ulang sembari masih menepuk nepuk pipi wonwoo lembut, tetap taka da respon dari yang dipanggil. Mingyu mengusap rambut kecoklatan wonwoo yang acak acakan.
Mingyu menggendong tubuh kurus wonwoo, beberapa pasang mata yang melihatnya ia acuhkan. Ia berjalan keluar bar dan membawa wonwoo kedalam mobil sedannya yang terparkir tepat didepan bar.
.
Sesampainya dirumah, mingyu kembali menggendong wonwoo di pangkuannya, membawanya kedalam kamar, membaringkan wonwoo diatas ranjang besarnya. Mingyu duduk disamping ranjang, menatap wonwoo-nya. Masih belum ada tanda tanda wonwoo akan sadar. Mengelus lembut pipi wonwoo. Mingyu membuka kancing blazer kebiruan wonwoo dan membuka blazer tersebut, disimpannya rapih di atas nakas.
Ia kembali memandangi wajah kekasihnya. Mengusap rambut wonwoo. Mencondongkan tubuhnya untuk mengecup lembut kening wonwoo, lanjut mengecup hidungnya, kedua pipinya, dan terakhir bibirnya. Wajahnya beralih mendekati telinga kiri wonwoo.
"Aku sangat mencintaimu, Jeon wonwoo. Maaf selalu merepotkanmu, aku memang ceroboh dan ke kanak-kanakkan, jadi tolong bertahanlah, tetaplah disampingku, aku tidak tahu akan jadi seperti apa aku kalau tanpamu" bisik mingyu tepat ditelinga wonwoo.
Mingyu menaiki ranjang, berbaring disamping wonwoo. Menyampingkan badannya, membawa kepala wonwoo untuk menjadikan lengan kanannya sebagai bantalnya, tangan kirinya melingkar di pinggang wonwoo, ia merapatkan tubuhnya ke tubuh wonwoo. Mengecup sayang kepala wonwoo sebelum ia ikut terlelap tidur.
.
"Ngh" wonwoo siuman. Ia tersadar, meringis pelan saat kepalanya masih terasa berdenyut sakit. Wonwoo menoleh ke samping kirinya, mendapati orang yang dicintainya masih tertidur pulas, ia tersenyum kecil melihat wajah kekasihnya yang tertidur lucu dengan mulutnya yang menganga. Kedua mata rubahnya melihat kearah jam dinding yang menunjukan pukul 4 pagi.
Wonwoo mengingat sekilas kejadian semalam, ia tahu mingyu semalam datang dan ia pun mendengar jelas perkataan mingyu kepada pinky. Hanya saja benturan dikepalanya menambah pening kepalanya karena mabuk, dan lagi tubuhnya yang lemas ia tak kuat menahannya dan hanya bisa memejamkan kedua matanya dan terperosot dilantai. Iapun mendengar jelas panggilan gelisah dari mingyu, mingyu membawanya kedalam mobil, mingyu menidurkannya diatas ranjang, mingyu yang membuka blazernya, kecupan mingyu dan juga pernyataan mingyu.
Wonwoo merubah posisi badannya, menyamping menyamai mingyu yang juga menyamping kearahnya. Jemari kurus wonwoo mengelus lembut pipi mingyu, ibu jarinya berpindah ke bibir mingyu, menutup pelan bibirnya yang terbuka, wonwoo mendekatkan wajahnya, bibirnya meraih lembut bibir mingyu. Cukup lama wonwoo menempelkan bibirnya itu.
Mingyu mengernyit merasakan hembusan nafas tepat di depan hidungnya, dan juga sesuatu yang kenyal dan lembut menempel dibibirnya. Dengan perlahan mingyu membuka kedua matanya, mendapati wonwoo yang sedang memejamkan kedua matanya, tangannya memegang pipinya, dan sedang menikmati bibirnya dengan melumatnya halus.
Mingyu tersenyum, dan mulai membalas lumatan wonwoo. Wonwoo membuka kedua matanya saat dirasakan ada balasan dari mingyu. Wonwoo berniat mengakhiri ciuman itu dengan menarik kepalanya, tapi tangan kiri mingyu dengan sigap menarik tengkuk wonwoo, membawanya kembali kedalam ciuman. Tempo ciuman yang di dominasi oleh mingyu tersebut semakin tak beraturan, bahkan kini mingyu telah menelusupkan lidah panjangnya kemulut wonwoo, membelit lidah wonwoo dan menariknya keluar, membuat saliva yang sudah tercampur mengucur kedagu wonwoo.
Kedua tangan wonwoo mendorong keras dada mingyu, dan sukses ciuman itupun terlepas membuat suara kecipak bibir dan saliva saat ciuman itu berakhir paksa. Wonwoo mendudukan badannya, mata sipitnya menatap tajam mingyu.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa membawaku kemari? Bukankah kau lebih memilih wanita itu?" kesal wonwoo berbohong. Tentu saja ia pura pura tak tahu dengan kejadian semalam. Ya… Tsundere. Tsundere tetaplah tsundere.
Mingyu cemberut lucu, dan kemudian kedua tangannya melingkar dipinggang wonwoo, menempelkan kepalanya manja di perut wonwoo. Wonwoo berusaha melepas kedua tangan mingyu dari pinggangnya dengan badannya yang bergerak tak nyaman.
"Diamlah, dengarkan aku dulu" ujar mingyu sambil mengeratkan pegangannya di pinggang wonwoo. Wonwoo pun terdiam, pasrah saat mingyu secara perlahan membaringkan tubuhnya kembali di ranjang. Tubuh wonwoo terlentang dan badan mingyu yang masih menyamping menghadapnya. Wajah mingyu tepat menghadap wajah wonwoo yang menatapnya datar. Tangan kirinya mengelus sayang pipi wonwoo.
"Aku sudah menolaknya. Aku bilang padanya kalau aku sudah memiliki kekasih yang sangat pencemburu dan aku sangat mencintainya" wonwoo tak bisa menahan senyumannya. Senyuman kecil diwajahnya mengatakan kalau ia lega dan senang dengan ucapan mingyu tersebut, mingyu pun ikut tersenyum dan mengecup lembut bibir wonwoo. Wonwoo memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut itu.
Hanya sebentar, dan mingyu kembali menarik kepalanya. Kedua tangan wonwoo mengusap lembut pipi mingyu, bola matanya terarah kebibir mingyu dan kedua ibu jarinya mengelus bibir tersebut. Dan wonwoo mendapatkan tatapan intens dari mingyu.
"Masih sangat pagi, kita masih punya waktu" ujar mingyu dan menyeringai.
"Waktu untuk apa?" Tanya wonwoo pura pura.
"Melanjutkan yang kemarin sore. Sudah lama kita tak melakukannya semenjak seks pertama kita, karena kau yang sibuk dengan mengajar dan laporan ke kampusmu—" mingyu menggantungkan kata katanya, mendekatkan wajahnya ke telinga wonwoo.
"-Dan sekarang aku ingin Seks keduaku" bisiknya menggoda.
Wonwoo tersenyum lebar sambil memejamkan kedua matanya, geli saat hembusan nafas mingyu masuk kedalam telinganya. Wonwoo membawa wajah mingyu tepat didepan wajahnya, ia menariknya mendekat, dan bibir keduanya pun saling meraup satu sama lain. Tangan kiri mingyu membelai paha wonwoo, beralih ke resleting celananya, membukanya, menurunkan celana jeans wonwoo secara perlahan. Mingyu melepas ciumannya untuk melepas celana wonwoo. Dan kini wonwoo hanya memakai kemeja dan celana dalam putihnya saja. Dan mingyu kembali ke posisinya, melumat bibir wonwoo dengan wonwoo yang hanya terbaring pasrah.
Mingyu menarik kedua sisi lengan wonwoo tanpa melepas ciumannya, mingyu menempatkan tubuh wonwoo diatas tubuhnya. Tangan kanannya memeluk pinggang wonwoo, tangan kirinya memegangi tengkuk wonwoo. Kedua tangan wonwoo meremas rambut hitam mingyu. Tubuh saling berhadapan itu menempel tanpa celah, membuat kejantanan mereka saling bergesekkan. Kedua tangan mingyu meraik kedua sisi paha kurus wonwoo, melebarkan paha tersebut, kedua dengkul kakinya bertumpu ke ranjang untuk menahan tubuhnya, membuat posisinya menjadi menungging.
"Hheu-nghh" wonwoo melenguh, merasakan geli saat jari jari mingyu berpindah ke kedua pantatnya, menelusup kedalam celana dalamnya, satu jarinya tengah mengelus elus sisi belahan pantatnya, dan terakhir jari tersebut mendarat mengelus hole pintu masuk wonwoo yang bisa membuat mingyu muncrat mengeluarkan cairannya sebanyak mungkin.
.
.
To be continue~ maap yak gw cut sampe sini karena gw ngetik ini sambil ngantor/_\ tadinya chap ini mau di End tapi gw gabisa ngetik part ikeh ikeh dikantor hahahaha. Chap depan final nya ^^ review kalian sangat di butuhkan bagi para Authors~ Menentukan semangat mengetik bagi Authors~ jadi tolong jangan malas untuk review nya yaaa
