Author : KekeMato2560
.
Title : Only Tears
.
Genre : Yaoi/Angst
.
Main Cast :
Choi Junhong
Jung Daehyun
Yoo Youngjae
.
Other Cast :
B.A.P's Members
"Kau tahu youngjae hyung, rasanya sangat sakit saat melihat orang yang kau cintai ternyata akan menikah dengan orang lain"
"Junhong ah..."
"haha.. aku merasa seperti orang bodoh"
"Kau tidak bodoh! Kau harus mendapatkan orang itu! Rebut dia dari tunangannya"
Junhong terdiam, menatap wajah youngjae yang sedang tersenyum kearahnya. Andai saja pria dihadapannya ini tahu siapa orang yang ia maksud.
Warning : This is yaoi fanfiction. Typo! OOC! NO PLAGIARISM!
.
~Only Tears~
.
Suara dentang jam menggema disebuah ruangan yang didominasi oleh warna kuning ini membuat seseorang dibalik selimut tebalnya menggeliat resah.
Tepat tengah malam. Perlahan selimut itu tersingkap. Memperlihatkan sosok pria manis yang sejak tadi belum memejamkan matanya. Terdengar suara erangan dan gerutuan sebal. Pria itu melirik ponselnya.
7 panggilan tidak terjawab dan 12 pesan.
Ia menghela nafas. Ia tahu betul siapa yang sejak tadi berusaha menelponnya. Jung Daehyun. Tunangannya pasti sedang khawatir. Pasalnya sejak tadi sore ia mengabaikan seluruh panggilan dan pesan dari tunangannya itu.
Perlahan tangannya terulur mengambil ponselnya. Ia membuka pesan yang paling baru dan tersenyum.
"Yoo Youngjae! Angkat teleponku ais! Aku sangat khawatir. Kau baik-baik saja? Apa ada masalah?"
Sebenarnya ia ingin sekali membalas pesan Daehyun. Tapi.. Ia ragu.. Entahlah..
"Bagaimana kalau aku merebut Daehyun darimu hyung?"
Ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. Youngjae meremas selimut tebalnya. Bagaimana bisa Junhong berkata seperti itu?
Ia menggeleng. Tidak. Tidak mungkin Junhong akan melakukan hal seperti itu.
Matanya memanas. Mengeluarkan sisa-sisa air mata yang masih tertinggal didalam sana. kepalanya berdenyut nyeri begitu juga hatinya. Ini benar-benar menyakitkan. Sungguh..
.
~Only Tears~
.
"Choi Junhong. Kenapa kau melamun disaat pelajaran ku?"
Junhong tersentak dari lamunannya saat mendengar suara . Ia meringis. guru Bahasa Inggrisnya itu sedang menatapnya tajam. "Maaf .." Ucapnya pelan.
"Keluar dari kelasku sekarang juga!"
Junhong mengangguk pasrah. Ia segera keluar ruangan sebelum gurunya itu mengamuk. Kaki jenjangnya terus melangkah dan berhenti saat ia sudah sampai pada taman belakang sekolah.
Ia menghirup udara segar sambil memejamkan matanya. Bibirnya mengulas senyuman miris. Pikirannya melayang pada sosok pria yang sangat ia cintai. Entah mengapa Junhong tidak bisa membenci Daehyun, padahal sudah sangat jelas kalau pria itu sudah menyakitinya.
Air mata mulai merembes keluar dari sudut matanya. Ia tahu, sangat bodoh rasanya kalau ia masih mengharapkan sosok yang bahkan tidak perduli akan perasaannya. Berulang kali ia berusaha melupakan perasaan itu, tapi ia selalu gagal. Cintanya begitu besar.
Besar? Tapi kenapa Daehyun tidak bisa melihatnya? Atau Daehyun melihat tapi berpura-pura buta?
Mata itu masih tertutup. Tangannya mulai memegangi dadanya yang lagi-lagi terasa sesak. Sudah beberapa hari ini Junhong selalu merasa sakit didadanya.
Junhong membuka matanya dan menoleh saat dirasakan sebuah tangan mengusap air matanya. "Jongup hyung.."
Jongup tersenyum. Ia menarik tangan Junhong menuju kursi taman dan menyuruh pria tinggi itu untuk duduk. "Jangan menangis.. Kau tahu, hatiku merasa sakit saat melihat mu menangis Junhong-ah.."
Junhong menunduk. Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya. Bagaimana bisa Jongup masih saja memperdulikannya? Padahal ia sudah menyakiti hati pria itu.
"Seharusnya kau beristirahat dirumah Junhong.." Jongup mengelus wajah Junhong yang masih basah karna air mata. Seharusnya Junhong masih beristirahat dirumahnya, tapi pria manis itu memaksa untuk datang kesekolah. Ia tersenyum miris. "Wajahmu pucat"
"Aku baik-baik saja hyung, tidak usah khawatir" Junhong berusaha tersenyum agar sahabatnya itu tidak khawatir padanya. Namun senyuman itu terlihat sangat dipaksakan, membuat Jongup semakin sakit.
Grep
"Apa benar-benar sudah tidak ada tempat untukku Junhong?" Jongup memeluk tubuh kurus itu. Ia menghirup aroma tubuh Junhong.
"Maaf.."
Jongup semakin mengeratkan pelukannya. Ia merasakan tangis Junhong semakin keras. Tubuh itu bergetar dalam pelukannya. Jongup mengelus punggung sahabatnya itu, berusaha menenangkan Junhong.
Namun tanpa Junhong sadari. Air mata Jongup juga ikut tumpah disana. Ia menangis dalam diam.
'Kenapa semuanya begitu rumit..' Jongup memejamkan matanya.
.
~Only Tears~
.
Langit malam Seoul yang bertabur bintang begitu indah. Membuat sosok pria berkulit tan itu terpesona. Mata tajamnya masih setia memandangi pemandangan alam itu dijendela apartemennya.
Ia bisa melihat ada satu bintang yang begitu terang disana. Dan bintang itulah yang menjadi pusat perhatiannya. Entah mengapa saat melihat bintang itu ia teringat Junhong..
Choi Junhong..
Nama itu terus berputar dalam benaknya bahkan tercetak jelas dihatinya. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada cangkir yang sudah tidak ada isinya. Junhong. Ia mencintai pria manis itu..
PRANG!
Cangkir itu menabrak dinding dengan keras dan pecah menjadi beberapa keping.
"ARRGHH! BRENGSEK!"
Bruk
Tubuh tegap itu jatuh. Lututnya ia jadikan tumpuan. Matanya masih tetap fokus memandang bintang yang semakin terang. Matanya mulai berembun.
"Kenapa aku begitu bodoh.."
Ia merasa ada palu besar yang menghantam kepalanya. Tangannya terulur untuk menjambak rambut yang memang sudah berantakan itu. Air matanya mulai keluar.
"Junhong.."
Tangisnya semakin keras.
BUGH!
Dinding itu retak. Tangannya mulai mengeluarkan banyak darah. Ia tidak perduli. Bahkan rasa sakit ditangannya masih kalah dengan rasa sakit pada hatinya. Apa ini sebuah balasan untuknya?
"Choi Junhong.. Aku mencintaimu.. Maafkan aku.."
Tumpuan pada lututnya mulai melemas. Ia jatuh terduduk. Kepalanya menunduk dalam memperhatikan tangannya yang terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Ia terkekeh pelan. Jung Daehyun, kau benar-benar orang yang bodoh. Baru menyadari perasaanmu saat semuanya sudah terlambat. Ia yakin Junhong tidak mau bertemu dengannya lagi. Bahkan ia sangat yakin kalau Junhong sudah membencinya.
BUGH!
Sekali lagi dinding itu dihantam. Tapi kali ini tidak begitu keras. "Bodoh.."
.
~Only Tears~
.
Acara makan malam keluarga Choi begitu tenang. Suara denting sendok yang beradu dengan piring mengiringi suasana itu.
Tiba-tiba sang kepala keluarga menghentikan acara makannya. Membuat semua menoleh kearahnya, namun tidak dengan satu sosok yang masih setia memandangi makanannya, hanya memandang, tidak berminat untuk memakannya.
"Tiga hari lagi acara pernikahanmu Youngjae, apa semua persiapan sudah siap?"
Youngjae melirik Junhong sekilas. Ia mengangguk menjawab pertanyaan dari sang ayah. "Sudah siap appa.."
"Bagus kalau semuanya sudah siap. Appa senang kau akan segera menikah Youngjae, semoga kau dan Daehyun berbahagia" Ayahnya tersenyum dan kembali melanjutkan acara makannya. Tidak menyadari mimik wajah Junhong yang berubah.
"Aku selesai" Junhong segera berdiri dari duduknya dan berjalan dengan tergesa menuju kamarnya.
"Junhong-ah! Kau baik-baik saja?" Ibu Junhong terlihat khawatir. Ia sadar kalau anaknya tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia hendak berdiri namun Youngjae buru-buru menahan ibunya itu.
Youngjae tersenyum pada ibunya. "Biar aku yang menyusulnya, eomma selesaikan dulu makannya" Ia meninggalkan meja makan.
Youngjae berhenti saat ia sudah berada didepan pintu kamar milik Junhong. Ia terdiam. Matanya memandang kosong kedepan. Ia menghela nafasnya berulang lagi. Tangannya mulai terulur akan mengetuk pintu, namun terhenti saat pendengarannya mendengar suara tangis didalam sana.
"Junhong.." Lirih Youngjae. Hatinya berdesir mendengar tangisan itu. Begitu pilu dan terdengar menyakitkan.
"Youngjae hyung~ Apa hyung akan pindah ke Amerika?" Junhong kecil merengek. Ia memegang baju kakaknya dengan sangat erat. Takut kalau jika dilepas kakaknya itu akan pergi jauh darinya.
Youngjae yang saat itu masih berumur 16 tahun manatap adiknya dengan pandangan bersalah. Ia mengusap air mata adik kecil yang sangat ia sayangi itu dan mengecup pucuk kepalanya pelan. "Jangan menangis, Hyung tidak suka melihat Junhong menangis seperti itu.."
Junhong masih saja menangis. Ia menatap wajah kakaknya dengan pandangan nanar. "Nanti Junhongie main dengan siapa? Hyung jangan pergi!"
Youngjae menghela nafas. Ia pasti akan merindukan sosok Junhong yang selalu menempel padanya, akan merindukan kelakuan adiknya yang menggemaskan itu, akan merindukan semuanya.
Tapi keputusannya sudah bulat. Ia harus bersekolah di Amerika dan berkuliah disana. Ia ingin menjadi orang yang sukses kelak dimasa depan. Sangat sadar bahwa ia bukan dari bagian keluarga Choi, jadi ia harus mulai hidup mandiri dari sekarang. Dan mau tidak mau ia harus meninggalkan Junhong.
"Hanya sebentar.. Hyung akan kembali dan bermain dengan Junhongie lagi"
Junhong yang mendengar itu terlihat senang. Matanya yang masih mengeluarkan air mata itu mengerjab-ngerjab lucu. Membuat Youngjae gemas. "Hyung janji akan kembali?"
Youngjae mencubit pipi adiknya. Ia tertawa. "Tentu saja! Kau kira hyung akan pergi selamanya? Aigoo Junhongie bodoh~" Ejeknya. Ia semakin mencubit pipi adiknya yang lucu itu.
"Sakit Hyung~ Junhongie tidak bodoh!" Junhong melepaskan tangan kakaknya dan mundur selangkah. Ia mengusap pipinya yang memanas. "Ish hyung! Lihat, pipiku semakin besar saja!" Omel Junhong.
"Hey! Pipimu besar itu sudah dari lahir! Kenapa menyalahkan hyung?"
"Pokoknya semua salah hyung!"
"Tidak!"
"Iya!"
"Baiklah hyung mengalah! Aiss aku pasti akan merindukan saat-saat adik kecilku ini merengek" Youngjae mencibir. Ia selalu kalah jika berdebat dengan adiknya itu.
"Kapan hyung berangkat?" Junhong merubah ekspresinya menjadi sendu lagi. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Besok. Sshtt sudah-sudah jangan menangis. Hyung tidak mau melihatmu menangis Junhong.." Youngjae memeluk Junhong erat.
Junhong menghentikan tangisannya. Ia membalas pelukan dari Youngjae. "Junhong akan merindukan hyung.. Cepat kembali"
"Hyung juga. Aku janji akan cepat kembali. Hyung menyayangi mu Junhong.."
"Junhong juga menyayangi hyung. Sangat.."
Youngjae menutup mulutnya. Menahan isakan yang keluar. Ia teringat kejadian sebelum ia pergi ke Amerika. Adiknya menangis dan merengek padanya agar ia tidak pergi. Kenapa ia bisa melupakan kejadian itu?
Junhong sangat menyayanginya.. Tapi.. Apa yang ia berikan pada adiknya itu? Ia malah membalas rasa sayang Junhong dengan balasan yang amat menyakitkan. Kenapa ia bisa begitu tega?
Cinta membutakan segalanya. Youngjae sudah dibutakan oleh cinta. Ia merebut kekasih adiknya sendiri. Ia tahu, ia sudah sangat jahat..
"Tuhan.. Hukum saja aku.. Hiks"
.
~Only Tears~
.
"Heh bodoh! Kemana otakmu? Tanganmu ini bisa remuk kalau kau adukan dengan dinding. Haiss"
Daehyun meringis. Ia menatap tangannya yang kini sedang diobati oleh Himchan. Saat ini ia sedang berada diapartemen milik sahabatnya -Yongguk. "Argh sakit hyung" Rintihnya pelan.
Yongguk mendengus sebal. Ia tadi hampir mati terkejut karna sahabatnya datang dengan tangan yang penuh darah. Sempat ia mengira kalau Daehyun baru saja membunuh orang. Untung saja perkiraannya itu salah. "Sakit kan? Nah rasakan itu!"
"Bbang! Berhenti mengomel dan bantu aku obati luka Daehyun" Himchan mulai merasa telinganya memanas. Sejak tadi kekasihnya itu tidak berhenti berbicara, membuat suasana semakin mencekam saja.
"Mulutmu bisa mengeluarkan busa jika terus mengoceh"
Yongguk hendak melempar vas bunga yang ada didekatnya pada Daehyun namun ia urungkan saat melihat Jongup datang dan menghampiri mereka. Ia menatap Jongup dengan pandangan bertanya, tapi yang ditatap hanya diam saja.
Daehyun melirik Jongup. "Ada apa?"
Jongup menghempaskan tubuhnya pada sofa. Ia menatap langit-langit ruang tamu dengan pandangan kosong.
"Jongupie, ada apa eoh?" Himchan yang baru selesai mengobati luka Daehyun segera menghampiri adiknya itu. "Jongup?"
"Bisakah kalian tidak membawa orang itu kesini? Membuat mataku sakit saja"
"Kau tidak boleh bicara seperti itu!" Himchan segera menarik adiknya untuk masuk kedalam kamar, tapi Jongup tidak bergeming sama sekali, ia tetap pada tempatnya.
"Jauhi Junhong brengsek!"
Yongguk buru-buru menahan tubuh Jongup yang siap menerjang Daehyun. Ia dengan paksa menyeret Jongup kedalam kamarnya. Sesampainya didalam kamar ia melepaskan Jongup, tubuh itu tiba-tiba jatuh.
Tangis Jongup pecah saat itu juga. Melihat wajah Daehyun membuat dirinya muak, ia sangat membenci Daehyun.
Daehyun hanya diam ditempatnya. Ia sudah pasrah jika Jongup akan memukulinya sampai babak belur. Ia akui ia salah, dan wajar kalau Jongup benar-benar membencinya.
"Daehyun.. maafkan adikku" Himchan terlihat sangat bersalah.
Daehyun tersenyum menenangkan pada Himchan. "Tidak apa-apa hyung, terimakasih sudah mengobati lukaku. Aku pamit pulang dulu" Tanpa menunggu jawaban dari Himchan ia langsung pergi.
.
~Only Tears~
.
"Tendang bolanya! Ya! Junhong jangan melamun"
Junhong merutuki kebodohannya saat bola yang sudah susah payah ia rebut dengan mudahnya direbut kembali. Ia mengelap keringat pada dahinya. Nafasnya naik turun.
"Hosh.. Hosh.."
Junhong meraup sebanyak-banyaknya udara. Dadanya tiba-tiba sangat sakit. Nafasnya tersengal. Ia berdiri ditengah lapangan.
Jongup yang sejak tadi memperhatikan Junhong dari pinggir lapangan segera berlari menghampiri sahabatnya itu. Tangannya segera memegang tubuh Junhong yang tiba-tiba terjatuh.
Permainan itu terhenti. Guru olahraga segera menghampiri Junhong dan Jongup. "Apa dia baik-baik saja?" Tanyanya panik. Ia menatap Junhong khawatir.
Jongup menggeleng. Ia tidak tahu. Tadi Junhong terlihat sehat-sehat saja. Tapi kenapa tiba-tiba keadaan Junhong berubah.
"H-Hyung.. Dadaku.. S-sakit" Junhong mencengkram baju Jongup dengan erat. Matanya tiba-tiba menjadi buram. Dan ia jatuh pingsan.
Jongup terkejut. Ia segera menggendong Junhong diatas Punggungnya. "Aku akan bawa dia ke UKS!" Jongup akan melangkah tapi langkahnya terhenti saat guru olahraga menahannya.
"Langsung kerumah sakit saja! Entah kenapa aku merasakan firasat buruk. Aku antar pakai mobil"
Tanpa fikir panjang Jongup segera mengikuti gurunya itu. Murid-murid yang lain sibuk membantunya membawa Junhong. Perasaannya tidak enak. Ia sungguh khawatir.
"Bertahanlah Junhong.."
.
~Only Tears~
.
Daehyun melirik ponselnya yang bergetar. Matanya kembali fokus pada jalanan. Ia sedang dalam perjalanan menuju perusahaan Yongguk. Namun getaran ponsel yang sejak tadi mengusik ketenangannya membuat ia dengan terpaksa meminggirkan mobilnya.
Yoo Youngjae.
"Yeoboseo Younjae-ah.. Ada apa?" Daehyun terlihat sedang malas berbicara. Ia menutup matanyanya yang lelah.
Terdengar isakan disana. Membuat Daehyun mengerutkan dahinya bingung. "Kau kenapa? Apa ada masalah?"
Tidak ada jawaban. Daehyun menggenggam ponselnya dengan erat. Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. "Youngjae, sebenarnya ada-"
"Junhong.. Hiks.. Dia masuk rumah sakit.."
Jantung Daehyun hampir saja melompat keluar. Ia membuka matanya. Tangannya tiba-tiba gemetar.
"Junhong.."
.
.
.
TBC
/Nyengir/ maaf kalau TBC lagi~ dan maaf karna lamaaaa sekali updatenya :'( saya kehilangan ide.. Jadi saya berusaha sambil bertapa di goa supaya bisa mendapat pencerahan. Saya harus memikirkan semuanya dengan matang.
Mungkin Only Tears akan END dichapter depan, tapi itu baru kemungkinan, saya takut kalau otak saya tiba-tiba koslet dan malah makin memperumit keadaan. Banyak sekali tangisan di chap ini, semuanya saya bikin nangis, kan sesuai judul kkk..
Saya membuat ff DaeLo yg lainnya ^^ silahkan baca ya.. selama pembuatan ff Only Tears, saya meluangkan waktu untuk membuat ff baru.
Balasan Review :
Destyrahmasari : Youngjae gak jawab apa-apa wkwk dia cuma takut kalau Junhong mau ngerebut Daehyun. Ini udah lanjut~ makasihhh bgt udah review :D muah jugaaa~
Yongchan : Jaga Jongup dengan baik nak~ ibu menitipkannya padamu /? /abaikan/ di chap ini Yongjae Daehyun mulai nyesel tuh mwahaha /ketawa setan/ Ini udah lanjut~ Makasih udah review~ moaahh :D
Bunbunchan : Kamu udah review aja saya udah berterimakasih banget :') Jgn ngebut bacanya ya, nanti nabrak /? Harus dihayati biar dpt feelnya hehe.. Tau tuh daehyun serakah, mending dia sama saya /dicekek/ ini udah lanjut~
meyminimin : kasian uri Junhongie kalau ketabrak :" maaf ya kalau pendek, saya emang gak jago bikin ff yang panjang W(;A;W) maafkan sayaaaa /sungkem/ Noh Junhong udah banyak toh, setiap orang mikirin dia wkwk Ini udah lanjut~ makasihhh udah review dan makasih juga buat lampunya wkwk
NavyDilla : Akhirnya DaeLo gak yaaa.. Wkwk ada deh /? /digebukin/ Konfliknya kayak sinetron ya? -_-v hehe.. Makasih udah review~
Jaeri : Hoooo apa yang kamu fikirin? XD Daehyun emang mesum, tp kalau sama Junhong dia bisa nahan lah wkwk Ini udah lanjut~ makasih udah review~ :D
oneshootbunny : Usul kamu serem ya wkwk -_- Daehyun sama saya aja udah /plak/ Boleh kok kamu masuk cerita, tp kasih saya kolor punya daehyun dulu /? Wkwk. Jangan pergi wooyy tagihan listrik ini W(;A;W) /kejar/
Ichizenkaze : Youngjae gak salah, yang salah itu Daehyun /Santet/ Saya juga kesel sama dia -,- sewot kalau liat dia di ff ini. Bawaannya pengen nyiksa. Dan tadaaaa di chap ini saya berhasil nyiksa dia mwahahaha /ketawa bareng Junhong/ Saya baca ff ini malah cengengesan kayak orang gila, entahlah~ mungkin otak saya error.. Makasiiihh /tjipok/ terharu bacanya, padahal tulisan saya ini masih sangat buruk dan butuh banyak belajar lagi.. Pokoknya makasih /Bow/ Ini udah lanjut~ maaf ya lama :(
Kim Rae Sun : Mereka berdua emang tega dan kejam :" daehyun emang udah gila~ gila karna cinta saya buat dia /dijambak junhong/ Konfliknya kayak sinetron ya? -_-v ampuni otak saya yg sudah mulai koslet ini /nangis/ Ini udah saya panjangin ;_; semoga suka~ makasih udah review yaaa~ /cium/
RaHae Angelfishy : Makasih udah nungguin ff saya bahkan sampe nge PM saya terharu banget.. Makasih makasihhh~ /bow/ saya akan berusaha update cepet setelah ini :') Oh iya saya 97L~ gabeda jauh lah sama Junhong, cocok B)
Fangyurl : Gapapa :') kamu udah review aja saya udah seneng bgt. Jan nangis /sodorin kotak tisu/ Akhirnya siapa ya~ itu masih rahasia /plak/ Ini udah lanjut ^^
riri : Kamu nangis pas lagi puasa? Huwaaaa /histeris/ maaf.. saya dosa udah buat anak orang nangis ;A; Jangan dong, jgn bunuh Youngjae, kasian dia :'( Ini udah lanjut~ maaaff bgt telat updatenya.. Makasih udah review~
Nurfadillah : gapapa :') kamu udah review aja saya udah sangaaattt bahagia. Terimakasih. Itu saya udah bikin ff yg happy ending kok, silahkan dibaca /? Wkwk
BloodyN14 : maaf saya lama updatenya /bow/ entah kenapa, di ff ini saya gak bisa bikin panjang ;A; maafkan daku kakanda /? Ini jari udah kriting ting ting -_-") makasih udah review :')
Next chap doakan semoga saya gak kehabisan ide lagi ^^ Untuk Silent readers, saya harap kalian mulai mau meninggalkan jejak. Hehe. Tp trimakasih sudah membaca /bow/
Akhir kata..
Review Please? ^^
