Persona 3: Petualangan Sang Kakak
Hore, sekali lagi update. Terima kasih untuk,
Tapi jangan lupa untuk terus Review...
MasterArkain (Chapter 17): Nggak apa kalau nggak update kilat, yang penting bisa buat cerita dan mengungkapkan imagination kita. Sebenernya waktu itu saya nyari nama lain dari Fusion spell, yaitu Fussion Skill dan Fussion Raids. Jadi maaf ya jika saya rada meniru.
IarIz (Chapter 15): Emang aneh ya ceritanya, tapi sekarang akan di jelaskan di chapter ini.
Miru-kun (Chapter 17): Makasih atas infonya, semoga P3 The Movie bisa kita lihat ya di indonesia.
Blazin'99 (Chapter 17): Makasih juga atas Infonya, kayaknya kita semua nggak sabar nonton Persona 3 The Movie sama True endingnya Persona 4 The Animation.
Disclaimer: Persona 3 milik Atlus, Gundam milik Sunrise, Kamen Rider milik Toei dan Ishinomori Productions, Vocaloid milik Yamaha Corporation dan Krypton.
Warning: OC, OOC dan kemungkinan ada character's dead*Author dibunuh* penuh dengan CrossHover dan GAJE.
Summary: Fuuka Yamaghisi kini bergabung dengan SEES, bisakah persoalan SEES menjadi mudah dalam menghadapi Shadow?
Selasa/09/06/2009, Daytime.
Iwatodai Dorm, Lounge
Reizato bangun seperti biasa di ruang tamu jam 5 pagi. Dia kemudian mandi dan setelah itu Sholat Subuh, tiba-tiba Sayu turun dari tangga sebelum Reizato memulai Sholat Subuhnya.
"Rei-chan!" panggil Sayu dari tangga yang tak sengaja menghentikan Reizato Sholat Subuh.
Reizato menoleh ke arah Sayu yang masih memakai nama palsu yaitu Selena. "Selena? Kau sedang apa?"
"Mau Sholat Subuh, Rei-chan sendiri kok tumben bangun pagi langsung Sholat Subuh? Padahal biasanya kan Rei-chan langsung nyiapin sarapan" sindir Sayu.
"Ya... karena nantinya aku bakal di siksa oleh Mitsuru Kirijou, hiii~... jadinya ya menghadap ke yang maha kuasa dululah agar dilindungi olehnya" jawab Reizato yang ternyata Sholat hanya untuk meminta perlindungan pada Allah SWT.
"Oh~" Sayu hanya bisa sweatdrop mendengar alasan tersebut.
"Kau mau Sholat Subuh juga?" tawar Reizato.
"Ya iyalah, tunggu ya, kita Sholatnya berjamaah" ucap Sayu yang kemudian Wudhu dan berada di samping belakang Reizato setelah memakai mukena. "Rei-chan jadi Imamnya ya!" ucap Sayu.
"Ya iyalah orang aku laki!" sindir Reizato dan Sholat Subuh berjamaahpun dimulai.
Chapter 18: Helo Priestess, Welcome Death and who is Ribborn?
Morning.
Iwatodai Dorm, Lounge.
Pagi harinya semua bangun tidur, mandi dan sarapan. Bersiap berangkat sekolah.
"Mi-Mitsuru, boleh tanyak? Ka-kapan hukumanku dimulai?" tanya Reizato pada Mitsuru dengan gugup bagaikan narapidana yang akan di hukum mati.
Mitsuru yang sedang sarapan menoleh ke arah Reizato. "Besok lusa, soalnya aku dan Akihiko mau menjenguk Yamaghisi di rumah sakit" jawabnya yang membuat hati Reizato sedikit tenang. "Kenapa anda bertanya seperti itu? Apakah anda ingin cepat-cepat ku eksekusi?" tanyanya sambil menodongkan anggarnya pada leher Reizato yang sontak membuat orang merinding.
"Ti-tidak, aku hanya cuma bertanya saja, memang salah ya kalau orang bertanya saja?" tanya Reizato dengan nada tenang walau jantungnya hampir copot karena kaget tiba-tiba saja di todong anggar oleh wanita.
Mitsuru menyimpan kembali anggarnya di bawah roknya. "Baiklah" dan diapun pergi berangkat ke sekolah bareng Akihiko setelah selesai makan.
Reizato langsung jatuh lemas tak berdaya. "Tidak kusangka, kalian punya kakak kelas yang sangat menyeramkan seperti itu, apalagi putri dari Kirijou Group..." ucapnya dengan lemas.
"Yah... begitulah nasib kami Nii-san..." sahut Yukari.
Miku dan Kaito yang bingung dengan keadaan tersebut bertanya pada Minako. "Minako, sebenarnya ada masalah apa?" tanya mereka pada Minako.
Minako berusaha mencari alasan. "Sebenanya kakaknya Yukari itu habis berbuat salah pada Mitsuru, yaitu lupa nyuciin baju kami semua..." dengan berbisik pada mereka supaya tidak kedengaran Reizato, namun Minako tidak sadar bahwa Reizato dapat mendengar bisikan 'setan' tersebut karena memiliki telinga yang tajam.
("Emang loe pikir gue pembantu loe-loe apa?") batin Reizato sambil memasang muka cemberut.
Mitsuru tiba-tiba kembali dan langsung memandang Junpei. "Dan untuk Iori," yang membuat Junpei kaget dan menoleh ke arah Senpainya karena mendengar nada tegas darinya.
"Apa?" tanya Junpei.
"Hukumanmu telah menantimu di sekolah, yaitu membersihkan setiap Toilet sekolah setelah pulang sekolah" ucap Mitsuru dengan tegas.
"Tapi a-apa salahku?" tanya Junpei.
Tiba-tiba wajah Mitsuru Close up di layar. "Kau tak tahu? Baiklah akan ku jelaskan... yaitu, Mencuri kunci sekolahan!" dengan nada tegas dan kembali menuju sekolah.
"Aw..." membuat Junpei lemas.
-00-
Rabu/10/06/2009, Daytime.
Iwatodai Dorm, Lounge.
Reizato sekali lagi Sholat Subuh karena 1 hari lagi dia siap di hukum oleh Mitsuru. Bersama Sayu di sampingnya, dia berdoa agar matinya di terima di sisinya. Setelah itu menyiapkan sarapan pagi, berharap bisa mengurangi beban hukumannya.
Setelah selesai sarapan dan membereskan meja, Reizato mengajak Sayu untuk pergi menjenguk Fuuka Yamaghisi.
Di perjalanan Reizato bertanya pada Sayu. "Selena, aku dari tadi mau tanyak sesuatu tapi kok lupa terus ya?" sambil berjalan sedikit berjauhan dari gadis tersebut.
Sayupun menoleh dan tersenyum pada Reizato. "Tanyak apa Rei-chan?" sambil mejaga jarak Reizato.
"Ituloh, kan kamu ngeluarin Personanya pakai kartu bukan Evoker, kok yang lain aku lihat-lihat nggak bertanya padamu?" tanya Reizato sambil jungkir balik saat melihat tai Ayam.
Sayu berusaha mengingat-ngingat. "Oh itu, sebenarnya mereka sudah bertanya padaku saat pertama kalinya setelah aku memakai Persona dengan kartu Tarot didepan mereka waktu kita di serang Shadow Temperance yang ada di atap Asrama" ucapnya.
Reizato mulai heran. "Terus kamu jawab apa?" tanyanya sambil di kejar anjing.
Sayu menjawab "aku menjawab, 10 tahun yang lalu aku dan keluargaku mengalami kecelakaan yang dapat membuatku bisa memakai Kartu Persona akibat trauma yang mendalam" dengan nada sedih karena mengingat peristiwa dimana kedua orang tuanya yang berkerja pada Kirijou Group mati di Tatsumi Port island dan dirinya gagal di selamatkan oleh Reizato sampai ketemu kakek-kakek Pedhophilia yang bernama Igor.
Reizato merasa bersalah bertanya seperti itu kepada Sayu. "Ma-maafkan aku Selena, telah bertanya hal begitu padamu..." ucapnya dengan nada sedih.
Sayu berusaha tersenyum agar tidak membuat Reizato merasa serba salah. "Ti-tidak kok, ini bukan salah Rei-chan, apalagi aku sudah melupakan masa lalu itu" ucapnya dengan nada lembut.
Reizato kemudian menoleh ke arah Sayu. "yang benar~?" tanyanya.
"Benar!" jawab Sayu.
"Nggak bohong?" goda Reizato.
"Beneran Rei-chan... aku nggak bo'ong" jawab Sayu.
"Kalau bo'ong nanti giginya tinggal satu loh~" goda Reizato yang membuat Sayu mulai tertawa.
"Ih~ Rei-chan bercandanya nggak lucu!" ucap Sayu sambil memukul-mukul pundak Reizato layaknya banci perempatan jalan.
"Ampun!" teriak Reizato sambil tertawa dan terjadilah kejar-kejaran. Tiba-tiba waktu terhenti bagi Reizato dan Sayu, kemudian terlihat kartu Arcana Lover bergambar wajah Sayu yang muncul di depan mereka dan bersinar.
"Weis, gambar ganti nih akhirnya bukan gambar Amingwati" ucap Reizato.
"Ya benar" sahut Sayu.
Kemudian terdengar suara yang mengatakan bahwa kedekatannya dengan Sayu semakin dekat. Kemudian Waktu kembali berjalan dan Reizato juga Sayu melanjutkan kejar-kejaran mereka.
Tanpa mereka sadari, Yoshino mengawasi mereka dari atas gedung. "Sayu, kau memang sudah besar ya sekarang. Apakah kau masih ingat kakakmu? Kuharap iya" ucapnya pada dirinya sendiri yang diam-diam masih mengawasi mereka.
Reizato dan Sayupun sampai ke rumah sakit dan masuk untuk menjenguk Fuuka yang ternyata bersama Mitsuru dan Akihiko yang sedang bertanya kepada Tetsuya mengenai cara memanggil Personanya yang juga beda sendiri. Sorenya mereka pulang. Dan tak sengaja bertemu dengan Miku dan Kaito yang akhirnya mereka mampir sedikit.
Namun tak di sangka hanya bertanya mengenai aktivitas yang dilakukan Miku dan Kaito, Social Link Arcana Moon Reizato naik.
...
Kamis/11/06/2009, Daytime.
Iwatodai Dorm, Lounge.
"Se-Selena..." Reizato memanggil Sayu setelah mereka selesai sholat subuh.
Sayu menoleh ke arah Reizato. "Ya Rei-chan..." sambil tersenyum tipis.
"Sebelum aku mati... maafkan aku, selama aku bersamamu... aku membuatmu sedih dan menangis karena diriku yang bodoh ini..." ucap Reizato sambil memegang tangannya yang membuat badannya merinding gemetaran layaknya Hp bergetar, walau tubuhnya menolaknya tapi hati kecilnya ingin sekali mendekatinya.
Sayu yang mendengar pernyataan dari Reizato hanya bisa sweatdrop, karena pernyataan tersebut seperti pernyataan maaf dari orang yang akan mati saja. "Rei-chan... andakan cuma di hukum, kok malah kayak mau pergi ninggalin aku sih?" tanyanya lemas sambil memegang ke dua tangan Reizato yang sukses membuat Reizato pingsan sambil kejang-kejang layaknya tersetrum listrik 10.000 volt milik Pikacu.
Sayu yang menyadari kelemahan Reizato tersebut langsung melepaskan genggaman tangannya dan pergi mengambil air untuk menyiram tubuh Reizato hingga basah kuyup.
BYUR!
Reizatopun kembali sadar. "Terima kasih" ucap Reizato dengan lemasnya karena di siram dengan air dingin.
Sayu menghelah nafas "...Kalau tubuh Rei-chan nggak mau, jangan di paksakan!".
"Baiklah" jawab Reizato dengan dingin.
...
Morning.
Iwatodai Dorm, Lounge.
Semua orang sarapan lagi di ruang makan. Dengan hati berdegup kencang, Reizato brsiap menerima hukuman yang akan di berikan Mitsuru.
"Takeba-san" ucap Mitsuru dengan biasanya kepada Reizato saat sarapan pagi sampai membuat Reizato kaget.
"A-anda memanggilku?" tanya Reizato.
Mitsuru mulai berbicara lagi "Aku sekarang sudah menentukan hukuman yang cocok dengan anda". Dia langsung memberikan Reizato sebuah kemonceng, sapu dan alat perkakas lainnya. "Selama 3 hari anda harus membersihkan asrama, HAHAHAHA!" ucap Mitsuru sambil tertawa mengerikan yang membuat Reizato berteriak ketakutan. "Jika kau tak mau..." Mitsuru menyiapkan angarnya yang memiliki noda darah dari seseorang di ujungnya.
Reizato lalu menelan ludah dan dengan ketakutan menjawab "Ba-baiklah".
"Tenang Rei-chan... masih ada aku yang akan membantumu..." ucap Sayu yang berusaha menghibur Reizato.
"Tidak, terima kasih... tapi ini adalah hukumanku, apalagi harus aku yang kerjakan" ucap Reizato. Selesai makan, Tim SEES berangkat sekolah, Miku dan Kaito pergi keluar, semenata Sayu dan Reizato menjaga asrama.
-00-
Lunchtime.
Gekkoukan High School, lantai 2 kelas 2-f.
Minato, Minako, Yukari dan Junpei sedang ngegosip bersama. Tiba-tiba Mitsuru langsnung masuk kekelas mereka tanpa permisi, tanpa salam-salaman dan tanpa naik ojek(?). Sebagian kelas juga Minato cs terkejut melihat hal tersebut.
Mitsuru lalu menoleh kearah Minato Cs. "setelah pulang sekolah, kalian langsung kembali ke asrama dan naik ke lantai 4. Akan ada pemberitahuan untuk kalian" katanya dan langsung keluar dari kelas tersebut tanpa permisi lagi.
Minato, Minako, Yukari dan Junpei bingung. "Ada masalah apa ya?" tanya junpei.
Yukari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Entahlah... tapi sepertinya ini mengenai Fuuka Yamaghisi" jawabnya.
Minako berpikir "kayaknya sih...".
-00-
Evening.
Iwatodai Dorm, Lantai 4 Command Room.
Semua orang telah berkumpul termasuk Tetsuya Suou dan Shuji Ikutsuki. Setelah mereka saling berkenalan dan bermaaf-maafan(?), mereka berkumpul untuk menjelaskan kepada Fuuka keadaan sebenarnya. Setelah itu Mitsuru memberi pilihan pada Fuuka untuk membantu mereka atau tidak.
Fuuka berpikir sejenak. "Gabung nggak ya~?" dengan nada centil yang membuat semua orang sweatdrop dan juga membuat Reizato loncat dan bersembunyi di belakang sofa karena takut. "Ma-maaf, saya tadi cuma bercanda" ucap gadis berambut hijau lumut(an) tersebut dengan nada lugunya lagi.
"Baiklah, jadi apa jawabanmu?" tanya Mitsuru.
"A-aku ikut, karena ini menyangkut... ma-masalah keselamatan dunia..." jawab Fuuka dengan gugup.
"Tapi jika kau bergabung dengan kami, kau harus tinggal di sini dan meninggalkan keluargamu" ucap Yukari.
"Ta-tapi itu sudah keputusanku, apalagi mereka sepertinya... baik-baik saja tanpaku" ucap Fuuka.
"Oh baiklah, kalau begitu selamat bergabung di Klub SEES ya, Fuuka-chan" ucap Minako pada Fuuka dengan senangnya.
Tiba-tiba waktu terhenti, lalu munculah Kartu Tarot Arcana Fool dengan gambar wajah-wajah Tim SEES yang sekarang yang berarti Social link Arcana Fool naik untuk Minato, Minako dan Reizato.
Reizato, Minato dan Minako pun kaget dengan kartu Tarot Arcana Fool yang mereka lihat. "Weis... Kartunya baru nih" ucap Reizato tertegun.
Tiba-tiba lagi, Persona Gear milik Minato muncul di hadapannya yang membuat 4 orang termasuk Sayu terkejut.
"I-itu Persona Gear, Tapi milik siapa?" tanya Reizato.
"Milikku" jawab Minato yang langsung mengambil Persona Gearnya yang bercahaya.
"Waow, Nii-san dapet sesuatu, terus Persona Gearku mana?" tanya Minako sambil menjulurkan tangannya.
"Tanya sama Igor, soalnya dapetnya dari sana" jawab Minato dan waktu berjalan lagi.
...
"Terima kasih Yamagishi" sahut Mitsuru, lalu menoleh ke arah Reizato yang masih di hukumnya. "Takeba-san-"
"Panggil Reizato!" sela Reizato.
Mitsuru menghelah nafas . "...Baiklah, Reizato-san tolong kau siapkan kamar Yamaghisi untuk besok" dengan nada yang tegas.
Reizato langsung bertanya. "Baik, tapi mau kamar yang apa? Yang ada A.C-nya? Atau yang tak ada A.C-nya? Atau kamar Umum? VIP? VVIP? VVVIP? Atau kamar Presdir?" godanya dengan senyum iseng yang membuat Fuuka tertawa pelan dan Mitsuru jadi stress, apalagi lawakannya tersebut membuat Ikutsuki pudung di pojokan karena kalah.
Akihikopun juga berbicara. "Ada loh kamar yang dingin tapi nggak pake A.C" ucapnya yang membuat semua orang heran dan Fuuka berhenti tertawa.
"Kamar apa itu senpai?" tanya Junpei.
"Kamar Mandi! WKWKWKWK" ucap Akihiko yang ternyata ikut-ikutan menjahili Mitsuru yang membuat dirinya makin stress dan juga membuat Fuuka kembali tertawa namun kini terbahak-bahak.
Mitsuru lalu berdiri. "Setelah ini, kau juga ku sediakan kamar, Akihiko." ucapnya sambil memandang Akihiko.
Akihiko yang di pandangi menjadi heran "Kamar apa?".
Mitsuru kemudian mengacungkannya anggarnya ke leher Akihiko. "KAMAR MAYAT!" dan mengejar Akihiko yang berlari.
"MITSURU! KENAPA CUMA AKU SAJA YANG DIKEJAR? KAN REIZATO JUGA IKUT-IKUTAN!" teriak Akihiko yang sedang berlari kepada Mitsuru dari depan.
"Entahlah, tapi kau sepertinya yang pantas untuk kukejar!" ucap Mitsuru yang membuat Akihiko semakin berlari kencang karena takut.
Junpei lalu melirik Minato dan Yukari dengan pandangan licik. "Hey Dude, kalian tahu, kamar apa yang cocok buat kalian berdua?" dengan nada licik yang membuat Minato dan Yukari heran.
"Kamar apa?" tanya mereka.
Junpei tertawa licik. "fufufu... kamar pengatin, WKWKWKWKWKWK XD" ucapnya yang membuat pipi Minato dan Yukari merona merah.
"STU-PEI!" Yukari mulai geram sedangkan Minato hanya diam saja memikir sesuatu soal kamar pengantin. Junpei yang menyadari dirinya dalam bahaya, langsung lari. "JANGAN KABUR!" Yukaripun mengejar.
Minako menoleh ke arah Minato. "Nii-san tak apa?" tanyanya.
"Kamar... Pengatin...? a-aku dan... Yukari?" gumamnya dengan pipi yang masih merona merah sambil menelan ludah dan tak sengaja di dengar oleh Minako.
("Nii-san pasti mikir yang nggak-nggak nih...") pikir Minako sambil sweatdrop.
Tiba-tiba Reizato mengeluarkan aura kematian sambil mendeatglare ke arah Minato seperti mau mengatakan 'Jangan mikir macam-macam ya tentang adikku jika kau mau selamat', namun Minato tidak menyadari hal itu tetapi Minako yang menyadari itu semakin sweatdrop. Sedangkan Tetsuya juga sweatdrop karena melihat tingkah laku semua penghuni asrama.
Kejadian itu membuat Fuuka semakin tertawa terbahak-bahak. Tidak lama kemudian Fuuka berpamitan untuk pulang kerumah dan semua meninggalkan Command Room kecuali Ikutsuki yang masih duduk manis di sana.
Dia kemudian mengambil ponsel di saku celananya dan menekan nomor ponselnya tersebut untuk menghubungi seseorang.
-00-
Unknown palace
Dari dalam kegelapan ruangan, seseorang berambut hijau bermata ungu mudah sedang duduk layaknya perempuan di sebuah meja kerja ruangannya sambil memandang keadaan luar jendela yang di sinari oleh cahaya Mentari.
TING TONG
Suara ponsel menyuruhnya untuk menjawabnya.
"Halo..." ucapnya dengan santai.
Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki di ponselnya tersebut "Halo... Ribbon Almark... ini aku Shuji Ikutsuki, prediksimu tepat sekali... karena anak-anak bodoh itu kini mempunyai seorang analiser...". ucap suara laki-laki di ponselnya tersebut yang ternyata suara dari Ikutsuki yang sedang berbicara melalui telepon kepada seseorang yang bernama Ribbon Almark.
Ribbon kemudian tersenyum. "Jangan berterima kasih pada saya tuan Ikutsuki, saya hanya menjalankan keinginan dari Koetsu Kirijou sebagai asisten anda..." ucapnya sambil menengok pemandangan yang ada di luar ruangannya tersebut.
"Ya kau benar, karena akulah yang sekarang memegang rencana orang tua itu yang sudah mati. Jadi apa yang akan selanjutnya terjadi nanti menurutmu?" tanya Ikutsuki melalui teleponnya dengan suara licik.
Ribbon memejamkan matanya, lalu membukanya dan kedua matanya kini menjadi warna pelangi yang di dalam mata tersebut terdapat garis putih "Mereka nantinya akan menghadapi 2 Shadow lagi yang melarikan diri 10 tahun yang lalu di bulan purnama kemudian, jadi tuan hanya memperdayai mereka saja untuk menghancurkan 2 Shadow itu...". lalu memejamkan matanya, kemudian membukanya lagi dan matanya yang tadinya berwarna pelangi dengan garis putih kini berubah menjadi warna ungu mudah lagi.
"Oh... terima kasih atas prediksimu itu... Ribbon, semoga harimu menyenagkan..." ucap Ikutsuki yang mengakhiri pembicaraan melalui Ponsel dan dimatikan oleh Ribbon Almark.
"Hm, hari yang menyenangkan?" Ribbon lalu berdiri dan keluar ruangan. "Tidak ada istilah hari yang menyenangkan untuk aku yang hidup di dunia ini sebagai Innovator" ucapnya dan berjalan menuju keluar.
-00-
jumat/12/06/2009, Night.
Iwatodai Dorm, Lounge.
Reizato loncat ke sofa dan bersiap untuk tidur setelah selesai mempersiapkan kamar untuk Fuuka tinggal. "tidur ah~" ucapnya sambil menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Tiba-tiba Dark Hour datang dan seseorang langsung membalik sofa yang di hinggapi Reizato membuatnya terjatuh.
BRUAK
"Aduh..." Reizato memegang pinggangnya yang sakit, dia langsung menoleh ke arah sekitarnya namun tak menemukan sesuatu. "Siapa sih yang jungkirin sofa, nggak ada siapa-siapa gini, apa jangan-jangan... hiiii~... serem..." ucapnya sambil berpikiran bahwa setan yang melakukannya.
"Aku bukan setan" Reizato langsung menoleh ke asal suara laki-laki tersebut ke arah sofa di sebelah kanannya yang membuat dirinya kaget karena Reito duduk di sofa sambil tetap menutupi wajahnya.
Reizato langsung kaget. "Kau? Kenapa kau harus melakukan hal itu?" tanyanya dengan nada tenang.
"Sudah-sudah, kalau begitu aku minta maaf" ucapnya dengan santai. Kemudian keluarlah aura dingin dari Reito, "Jadi... apakah kau sudah menyegel 'Kerabat' kita?" tanyanya dengan dingin. Tiba-tiba suasana ruangan itu menjadi mengerikan, membuat Reizato merinding.
Namun Reizato menjadi bingun saat mendengar ucapan 'Kerabat'. "Kerabat? Yang aku punya hanya adik perempuan, ibuku dan teman-temanku. Kalau kerabat sih... aku nggak punya" jawabnya.
Reito kemudian menggeleng-gelengkan kepala, lalu menghelah nafas. "Sudahlah, tapi aku punya pertanyaan untukmu" ucapnya sambil berdiri dan menatap Reizato dengan bola mata kuning keemasannya, "Apa artinya hidup?".
Reizato berpikir. "Hidup? entahlah, aku juga tidak tahu arti dari hidup" jawabnya.
"Oh begitu..." ucap Reito dengan lemasnya dan menundukan kepala.
"Tapi," tiba tiba perkataan Reizato membuat Reito kembali memandangnya.
"Tapi apa?" tanya Reito.
"Ada seorang paman yang wajahnya mirip Minato namun memiliki warna rambut seperti Minako pernah mengatakan padaku bahwa, arti hidup dalam Islam ialah Ibadah" jawab Reizato yang membuat Reito heran.
"Maksudnya apa?" tanya Reito.
Reizato kembali melanjutkan. "Keberadaan kita di dunia ini tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Makna Ibadah yang di maksud tentu saja pengertian ibadah yang benar, bukan berarti hanya shalat, puasa, Zakat dan haji saja, tetapi ibadah dalam setiap aspek kehidupan kita. Allah pernah berfirman: 'Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku' (QS Adz Dzaariyaat: 56)" ucapnya bagaikan ustadz.
Reito kembali heran mendengar kata 'Allah'. "Allah itu apa?" tanyanya.
"Kata paman yang wajahnya mirip sama Minato, rambut berwarna merah milik Minako dan berkata layaknya Ustadz Maulana dan juga kata ayahku, Allah itu adalah tuhan kita" jawab Reizato layaknya anak TK baru masuk Islam dan membuat Reito tersenyum.
"Kau sepertinya tahu banyak ya" ucap Reito.
"Sebenarnya kata paman yang wajahnya mirip sama Minato, rambut berwarna merah milik Minako dan berkata layaknya Ustadz Maulana berkata, yang tahu lebih banyak itu Allah, karena Allah maha mengetahui" ucap Reizato yang bener-bener menjadi anak TK baru masuk Islam.
"Sebagai hadiahnya karena telah menjawab pertanyaanku, kau akan kuberi ini" ucap Reito dan tiba-tiba waktu terhenti, Kemudian muncul sebuah aura hitam dari dalam tubuh Reito yang kemudian keluar dan melayang di atas kepala mereka. Aura hitam itupun perlahan-lahan berubah bentuk, lalu terdengar suara mengerikan.
Thou art i... and i... Thou...
I come with death and I go home with life.
Social link Death Arcana was opened, you gets to use Dark Scythe with your soul
Yang menjadikan aura hitam tersebut menjadi sebuah Kartu Tarot Arcana Death bergambar wajahnya yang tersenyum mengerikan dengan noda darah yang menodai matanya dan masuk kedalam tubuh Reizato yang terkejut bahwa telah menerima social Link Arcana Death. Waktu berjalan lagi.
("D-Death?") batinnya yang masih terkejut.
"Ya benar, Death..." ucap Reito yang membuat Reizato terkejut.
"Kau... juga melihatnya dan berinteraksi di waktu yang terhenti?" tanya Reizato.
"Ya dan sampai jumpa..." Reitopun menghilang dalam sekali kedipan mata Reizato yang mau menghentikannya.
...
Dark Hour.
Lantai 2, Kamar Minato.
Minato tidur seperti biasa di atas ranjangnya bukan di atas makam. Tiba-tiba sesosok penampakan anak kecil Misterius berambut biru bermata biru duduk di samping ranjangnya dan memanggil Minato. "Hai..." yang membuat Minato terbangun.
"Kau rupanya ada apa?" tanya Minato.
"Tidak hanya ingin mengobrol" jawab bocah misterius tersebut. "Jadi apa kau punya teman baru?" tanyanya.
"Ya" jawab Minato.
Boca misterius itupun berdiri. "Oh..." ucapnya sambil berjalan ke arah pintu. "Sampai jum-"
"Tunggu!" ucap Minato yang memotong perkataan bocah tersebut dan menghentikan langkahnya. "Sebenarnya kenapa kau selalu datang di kamarku ini, jika kau kesepian... tinggal saja di asrama ini, aku tak keberatan." ucapnya dengan senang dan tersenyum.
Bocah Misterius yang terkejut dengan perkataan Minato itu, tiba-tiba menjadi senang. "Be-benarkah?" tanyanya.
"Ya dan kita bisa menjadi teman" jawab Minato.
"Tinggal di sini? Di kamar ini? Denganmu? Menjadi teman? Benarkah?" tanyanya lagi dengan mata yang berseri-seri yang membuat Minato sweatdrop.
"Sebenarnya sih... di Asrama ini, tapi jika kau mau tidur denganku baiklah, asalkan jangan macam-macam!" ucap Minato dengan nada mengancam namun lembut.
Bocah misterius itupun hormat. "Siap Boss!" katanya dan langsung lompat ke ranjang di samping Minato.
"Sebelum kau tidur, siapa namamu?" tanya Minato pada bocah di sampingnya.
"Namaku Pharos, selamat tidur..." ucap Bocah misterius tersebut dengan wujud mengerikan kemudian kembali ke wujud Bocah bernama Pharos yang membuat Minato kaget. Tiba-tiba waktu berhenti dan terdengar suara kaca pecah.
JTAR!
Dan dilanjutkan dengan munculnya kartu Death Arcana yang melayang keluar di depan Pharos sambil bercahaya terang. Lalu terdengar suara.
Thou art i... and i... Thou...
I come with death and I go home with life.
Social link Death Arcana was opened, With Arcana Death you can use Persona Arcana Death with your soul
Kemudian kartu itu berubah menjadi cahaya dan masuk ke dalam tubuh Minato yang membuat dirinya terkejut. ("D-Death?") pikirnya. Tak lama kemudian Dark hour selesai, dia kemudian menoleh ke arah anak kecil di sebelahnya tersebut, namun wujud anak misterius itu sudah tidak ada lagi di samping Minato saat dirinya menoleh.
"Ke-kemana anak itu?" tanyanya dan sebuah pikiran negatif menghampirinya. "J-jangan-j-jangan... Se-se-se-se-se-se-se-"
"Setan?" tanya Pharos yang tiba-tiba memotong perkataan Minato dan berdiri di ruangan tersebut sambil memegang segelas air putih dan membuat Minato terkejut.
"Ka-kau kemana saja, kok tiba-tiba bisa hilang di sampingku?" tanya Minato.
"oh, tadi aku pake jurusnya Sungoku yang bisa pindah tempat secara tiba-tiba ituloh untuk ambil minum, soalnya aku haus" ucap Pharos sambil meneguk habis segelas air putih alias susu yang dia ambil dari kulkas Minato dan langsung pindah ke samping ranjang Minato. "Selamat tidur..." ucapnya yang langsung tidur.
"Selamat tidur, tapi ngomong-ngomong kayaknya tuh susu yang kau minum milik gue deh?" ucap Minato. "Sudahlah tidur saja..." Minatopun tidur, tidur untuk selama-lamanya karena memakai GREAT SEAL.*Author di lempar ke laut namun di tangkap oleh mulut Hiu putih(?)*
-00-
Sabtu/13/06/2009, Dini hari.
Three Moiare Sister Palace.
Alunan Bethoven terdengar dimainkan oleh Yoshino melalui Piano hitam, menjadikan suasana diruangan tersebut mencekam layaknya kuburan. Tak lama kemudian 3 bersaudari datang.
"Jadi kenapa kita di panggil ke sini?" tanya Kizuka.
Yoshino berhenti memainkan musik tersebut di note terakhir dan menjawab pertanyaan Kizuka "Aku sudah mendapatkan letak keberadaan gadis itu".
"Lalu apa yang akan kami lakukan setelah Boss tahu letak gadis tersebut?" tanya Kizumi.
Yoshino tersenyum dari balik topengnya. "menculiknya" sambil melemparkan foto Asrama Iwatodai kepada 3 saudari tersebut di tambah dengan cetak biru dan pengertian sistem keamanan Asrama yang luar biasa canggih bagaikan keamanan Gedung putih milik Amerika.
Kizumi tersenyum. "Untuk sistem keamanan Asrama itu, biar ku lumpuhkan" dengan nada senang.
"Tapi hati-hati..." ucapan Yoshino membuat 3 saudari memandangnya.
Kizuma lalu mengusulkan sesuatu. "Boss, gimana kalau kita menculik gadis itu waktu dia keluar asrama, kan lebih mudah" ucapnya yang membuat Yoshino kaget dan di setujui 2 saudarinya.
"Aku setuju dengan pendapat Kizuma" ucap Kizuka yang membuat Yoshino down, karena rencananya yang di buat selama seminggu penuh, telah di abaikan.
Tiba-tiba Kizumi mengangkat tangan. "Lebih baik para pembaca yang memutuskan pendapat Kizuma dan Boss, cara menculik gadis tersebut" ucapnya yang membuat Yoshino kembali bersemangat.
"Kau benar, baiklah biar para pembaca yang memutuskan rencana apa yang sebaiknya kita lakukan" ucap Yoshino dengan semangat sambil menatap anda sekalian.
To Be Continue~
General Information:
Ribbon Almark
Rambut: hijau mudah pendek
Mata: ungu mudah.
Umur: ?
Tanggal lahir: ?
Gender: Male
Tinggi: 175 cm.
Berat: 60 cm
Profesi: Innovator versi Persona Series.
Arcana: ?
Persona: ?
Ultimate Persona: ?
Senjata: ?
Kelemahan: ?
Hoby: ?
Suka: ?
Tidak suka: ?
Keahlian: ?
Lulusan: Penghianat Velvet
Ribbon Almark adalah seorang Innovator yang nyasar ke Fandom Persona Series akibat merusak 0 Gundam milik Calestial Being dan juga tidak membayar gaji para A-Law dan rekannya di Studio Sunrise.
Ralat~
Ribbon Almark adalah salah satu makhluk ciptaan Igor yang di jadikannya sebagai Asistennya sama seperti penghuni Velvet Room yang lain. Namun sayangnya dia menghianati perintah Igor.
Ribbon akhirnya dikeluarkan dari Velvet room dan bekerja pada Kirijou groub selama 5 tahun dan menjadi seorang professor di penelitian yang bermarkas di Tatsumi Port Island bersama ayah Yukari dan keluarga Minato. 1 hari sebelum kejadian larinya 13 Shadow dimulai, dia selamat dan setelah itu belum pasti apa rencananya hingga menjadi assisten Ikutsuki.
Innovator: suatu karakter dari Gundam 00 yang bisa berhubungan dengan super komputer. Namun di versi Persona Series, Innovator adalah sebutan manusia ciptaan Igor yang di jadikannya sebagai penghuni Velvet Room dan juga asistennya yang dapat hidup abadi bersamanya.
Oke semua, silahkan pilih rencana jahat para three moiare sister:
A. Menculik Sayu dari dalam Asrama
B. Menculik Sayu yang keluar asrama
C. Melakukan keduanya secara bersamaan *di lempar BMW namun yang kena Minato(?)*
D. Tidak melakukan sama sekali *di Phanta Rei namun dihajar duluan oleh Reader*
E. Pasrah saja *di buang ke jamban bareng Sule dan Andre*
F. Suruh orang lain untuk menculik Sayu *Di kejar Satpol PP*
Saya tunggu jawabannya dan maaf jika kepanjangan ya, jadi...
Review
