Author Note :
Halo. Saya selo banget ternyata. Tugas kuliah masih belum banyak, jadi saya bisa internetan lewat laptop. Oiya, maaf banget kalau chapter sebelumnya banyak typo. Sudah saya edit kok, tapi ngga tau juga kalau masih ada typo. Untuk chapter ini bakal full EXPLICIT LEMON YAOI. Jadi ya ... siap-siap ya. Selamat membaca!
.
.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Eren to Levi © Begundal Busuk
|AU|Mature Content|Bad Language|OneShoot|maybe OOC|maybe typo(s)|LevixEren|slight JeanxEren|for #FID_8
.
.
FULL LEMON YAOI
.
.
Enjoy
.
.
"Levi, cumbui aku".
Eren tidak pernah berpikir untuk mengucapkan kalimat itu. Bibirnya bergerak sendiri. Suaranya keluar dengan sendirinya. Aura Levi begitu mengikat. Eren ingin Levi. Eren membutuhkan Levi. Setelah Eren mengatakan apa yang diinginkan, Levi bergerak melumat bibir itu. Melumat rakus daging kenyal. Menghisap keras sampai Eren mengerang nikmat. Tangan saling merengkuh. Tangan kanan Levi menekan tengkuk Eren, menambah dalam ciuman panas di antara mereka. Sedangkan tangan kiri Levi bertengger dengan manis di punggung Eren, sesekali mengelus punggung bocah itu. Lain dengan Eren, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Levi. Mengusap leher pria dewasa di hadapannya, bermaksud menggoda. Keduanya diselimuti gairah yang kuat.
Eren membuka matanya, sayu, menatap manik gelap keabuan Levi yang tengah memandangnya. Levi menggeram. Lidah menyusup masuk ke mulut Eren. Menari di dalam dan menggoda lidah Eren yang malu. Liur menetes dari celah bibir mereka. Levi menghisap liur itu, menelan rasa manis mulut Eren.
"Ngghhmmpp—" Eren mengerang di tengah ciuman. Rasanya sangat nikmat saat langit-langit atasnya digesek oleh lidah Levi yang panjang. Ciuman terlepas. Benang saliva menyambung dari bibir ke bibir. Napas Eren putus-putus. Baru pertama kali merasakan ciuman yang sangat panas. Bahkan Jean tidak pernah menciumnya seperti itu.
"Jangan ingat dia".
Eren berkedip tiga kali. Menatap Levi tidak mengerti.
"Jangan ingat dia," bisik Levi dengan suara serak tepat di telinga Eren. Kedua tangan meraba tubuh atas Eren. Keduanya berhenti tepat diujung kaus putih Eren. Mata gelap menatap Eren bergairah, bersamaan dengan tangan Levi yang mengangkat kaus Eren, melepas kain terakhir.
Wajah Eren memerah. Gugup saat pandangan bergairah Levi menjilati tubuh polosnya. Levi meraba. Diluar dugaan, kulit Eren yang kecokelatan terasa sangat lembut dan kenyal di tangan Levi. Kulit remaja lima belas tahun. Tidak ada bekas luka di tubuhnya. Benar-benar mulus tanpa cacat. Eren menggigil saat jemari kasar Levi meraba dadanya. Mengusap puting yang sudah keras.
"Dia pernah mengulum putingmu," bisik Levi serak. Eren menatap sayu. Mengerti siapa orang yang Levi maksud. Merasa tidak ingin mengecewakan, Eren raih tangan kanan Levi lalu dikecupnya telapak tangan itu. Lidah keluar menjilati sela-sela jari. Mata hijau menatap Levi erotis. Eren menghisap tiga jari Levi di dalam mulutnya. Menggerakkan kepalanya maju mundur dengan tatapan nakal. Kedua tangan bocah tidak diam. Keduanya bergerak meraba dada bidang Levi yang penuh otot. Merasakan lekukan otot itu di tangannya. Eren mengerling nakal, bersamaan dengan kedua tangannya yang bergerak masuk ke dalam kaus hitam Levi. Meraba perut kotak-kotak pria itu dengan gerakan sensual. Levi menggeram.
Hisapan berhenti. Eren membuka mulutnya lebar, meninggalkan jejak saliva di tiga jari Levi. Tidak ada rasa jijik saat Levi melihat jarinya basah. Rabaan Eren turun menuju celana pendek Levi. Tangannya bermain-main di pinggiran celana. Eren menjilat bibir bawahnya saat melihat gundukan besar di area selangkangan Levi. Tergesa-gesa, Eren tarik celana pendek dan celana dalam hitam Levi. Mata hijau membola. Eren terpana. Penis Levi sangat besar. Tidak hanya panjang, tapi juga tebal. Kepala penisnya yang seperti jamur menonjol, menambah keperkasaan. Yang membuat Eren menelan ludah adalah urat-urat disekeliling penis itu. Sangat jantan dan seksi. Sadar, Eren tarik lepas semua celana Levi.
Penasaran, Eren usap penis Levi dengan tangan kanannya. Merasakan benda itu berdenyut, menyambut sentuhannya. Usapannya terarah, dimulai dari ujung sampai ke testis Levi yang bengkak. Eren mengigit bibir, menatap Levi nakal. "Boleh kuhisap?"
"Apapun yang kau mau, nak".
Eren tersenyum. Ia dekatkan wajahnya tepat ke depan penis Levi. Aroma jantan menguar menusuk hidungnya. Awalnya hanya sebuah jilatan-jilatan kecil yang cukup geli bagi Levi. Jilatan berubah menjadi kecupan-kecupan nakal disetiap titik. Kecupan berubah menjadi hisapan. Levi menggeram. Kedua tangannya mengelus rambut cokelat Eren, menyemangati bocah itu. Eren tersenyum kecil. Mulutnya terbuka lebar. Penis masuk ke dalam.
"Fuck!"
Levi mengumpat saat rasa hangat dan basah menyelimuti penisnya. Eren mengulum ujung penisnya, menggoda lubang urinalnya dengan lidah. Kuluman lembut berubah menjadi hisapan. Levi meremas helai rambut Eren saat bocah itu menghisap dengan kuat. Menggoda batang Levi dengan lidahnya dari dalam. Setelah terbiasa dengan ukuran Levi yang jelas di atas Jean, Eren mulai menggerakan kepalanya. Maju dan mundur. Memberi sensasi lebih pada Levi.
"Ghhh".
Levi menggeram. Eren semakin bersemangat. Napas pria dewasa itu mulai memburu. Nikmat tiada tara ia rasakan saat Eren menghisap maju dan mundur. Tangan kanan Eren meremas dua testis Levi dengan gemas. Menambah sensasi nikmat bagi Levi. Kabut napsu mulai menutupi kewarasan Levi. Remasan lembut pada helai cokelat berubah menjadi remasan menuntut. Hisapan Eren semakin kuat. Levi tidak tahan. Kedua tangan yang tadinya meremas, kini menahan kepala Eren untuk tidak bergerak. Sebagai gantinya, Levi gerakkan pinggulnya. Menghajar mulut Eren dengan kekuatannya sendiri.
"Nggmpphh!—mmpphh!—nggmmphh!"
Mata Eren berkaca-kaca. Sesak luar biasa saat Levi merojok mulutnya dengan kuat dan cepat. Levi menunduk menatapnya. Manik gelap keabuan itu dipenuhi oleh napsu. Eren bahagia. Aneh memang. Namun, baru pertama ini ia merasa ingin dimiliki, seperti saat Levi menatapnya. Pria yang sedang menusuk mulutnya ini sangat menginginkan Eren.
"FUCK! Ghh!" Levi mengumpat, irama pinggulnya mulai cepat. Matanya terpejam merasakan hisapan Eren semakin menguat, seperti sedang memerah penisnya. Ia sodok mulut Eren semakin cepat. Mata terbuka, Levi menatap Eren dengan seringai. "Na, Eren. Aku ingin merasakan kerongkonganmu".
Mata Eren membulat. Ia meronta. Seumur-umur, Eren belum pernah memasukkan penis sampai ke kerongkongannya. Ia dorong perut kotak-kotak Levi, berusaha menghindar dari tusukan penis. Namun, kedua tangan Levi menahan kepalanya. Mata berkaca-kaca, Eren memohon untuk dilepas.
"Bersiaplah, Eren. Longgarkan kerongkonganmu dalam hitungan ketiga".
Eren menggeleng, memberi gerakan tambahan untuk kenikmatan Levi tanpa sadar. "Ngghpp!—mmngghh!—nhhppp!" Eren meronta.
"Satu".
Pinggul Levi semakin cepat. Mulut Eren terasa kebas.
"Dua".
Eren memejamkan mata. Memersiapkan diri. Berusaha merilekskan otot kerongkongannya. Saat ia siap, manik hijau nya kembali terlihat. Menatap Levi dengan kabut napsu yang sama. Levi menyeringai.
"Tiga!"
Levi menusuk lebih dalam dengan gerakan cepat. Manik hijau Eren membola. Mual melilit perutnya. Penis Levi masuk sangat dalam ke kerongkongannya. Refleks, Eren mengetatkan otot kerongkongan, efek dari rasa mual yang ia rasakan. Namun, gerakan itu justru membuat Levi mengerang nikmat.
"Aaghh! Fucking good!Biarkan seperti itu sebentar, Eren. Tahan," erang Levi dengan keringat membanjiri keningnya. Eren menatap Levi sayu, air mata menggenangi pelupuk mata. Mual dan sesak. Levi menggenjot mulut Eren cepat, merasakan himpitan luar biasa saat kerongkongan Eren berkontraksi, menolak kehadiran penisnya. Eren tidak kuat. Genjotan Levi semakin cepat. Liur menetes tidak karuan, membasahi sofa Levi.
"Sebentar lagi, Eren—hhh—kau telan spermaku—ghhh". Gerakan Levi semakin tidak terkendali. Penis membesar, memenuhi kerongkongan Eren. Napas Eren hampir habis. Kepalanya di tahan. Levi memejamkan mata, menikmati saat-saat dirinya akan muncrat di dalam mulut Eren. "FUCK! CUMMING! AAGHH!" Tubuh Levi bergetar. Penis tertanam di dalam kerongkongan Eren. Sperma yang menyembur keluar, langsung masuk ke dalam tubuh Eren. Napas Eren sudah diujung batas. Tubuhnya menggelepar antara sakit dan nikmat. Setelah sperma keluar semua, Levi menarik penisnya keluar.
"Ghh—haaahh—haaaahh—haaahh".
Eren terkulai lemas. Liur dan sperma bercampur menjadi satu. Ia tatap Levi yang berkeringat dengan senyum nakal. Levi tersenyum tipis. Ia tarik Eren ke dalam ciuman lembut. Merasakan spermanya sendiri. Eren mengalungkan kedua tangannya manja. Menikmati ciuman lembut Levi yang memabukkan. Saat keduanya berhenti untuk mengambil napas, Levi mengecup telinga Eren.
"Ke kamarku".
.
-Eren to Levi-
.
Mereka berciuman sejak dari ruang tamu. Eren mengalungkan lengannya di leher Levi, kedua kakinya mendekap pinggul pria itu dengan posesif. Levi sendiri menahan bobot tubuh Eren dengan memegang bongkahan pantatnya. Meskipun Eren lebih tinggi beberapa senti, tapi kekuatan Levi jelas tidak sebanding dengan bocah lima belas tahun itu. Keduanya berciuman panas. Eren mengerang saat penisnya bergesekan dengan penis Levi yang masih tegang. Gairah semakin membara di sekitar mereka berdua. Menaiki tangga dengan sedikit godaan-godaan manja dari Eren, akhirnya mereka tiba di lantai dua, kamar Levi.
Levi membawa Eren ke tengah kamar, menuju ranjang king size-nya. Eren di lempar pelan. Bocah itu langsung mundur semakin ke tengah ranjang sambil menatap Levi, menggoda prianya. Levi tersenyum miring sambil melepas kaus hitamnya. Melempar sembarang ke arah lantai.
"Dasar kau bocah binal".
Eren terkekeh. "Aku hanya binal padamu, Sir".
Alis Levi terangkat. Sangsi dengan ucapan Eren.
"Hoo. Lalu yang kulihat Minggu malam itu apa, hm?"
Eren memerah. Matanya beralih ke arah lain, tidak berani memandang Levi.
"I-itu ..."
Tiba-tiba ranjang bergerak. Levi naik ke atas. Memanjat dan memerangkap Eren di antara lengannya yang kekar. Jantung Eren berdegup kancang. Ia gugup. Baru pertama kali ini ia merasa gugup saat bercumbu. Ketika bersama Jean, yang ada dipikiran Eren hanya memuaskan gairahnya dan gairah Jean saja.
"Itu apa, hm?" Levi berbisik dengan suara rendah, tepat di telinga Eren. Tubuh bocah itu merinding.
"Aku dan Jean tidak seperti ini," aku Eren, melirik malu-malu ke arah Levi.
"Bukankah Jean melakukan hal yang sama? Menyodok mulut atas dan bawahmu," ucap Levi sambil menjilati telinga Eren. Mengulum cuping bocah itu.
"Ahh—itu benar. T-tapi, itu hanya sebatas saling memuaskan," Eren memejamkan mata, menikmati jilatan nakal Levi di bagian lehernya.
"Kita juga saling memuaskan. Apa bedanya?" Lidah Levi beralih turun ke dada Eren. Mengecup lembut, mengirim getar nikmat bagi bocah di bawahnya ini. Mata Eren terbuka. Sayu, menatap Levi yang matanya tidak pernah lepas memandang Eren.
"Kau tahu bedanya saat mendengarnya, Sir," jawab Eren pelan sambil tersenyum. Mengusap kepala Levi yang basah, menggiringnya untuk berhenti tepat di dada bagian kanan. Levi terdiam. Jantung Eren berdegup sangat cepat. Bukan degupan normal. Efek gairah? Mungkin saja. Seingat Levi, degup jantung itu tidak segila ini saat di lantai bawah. "aku tidak pernah seperti ini saat bersama dengan Jean. A-aku juga tidak mengerti mengapa jantungku seperti ini ... saat bersama Sir Levi".
Levi masih diam. Eren menatapnya dalam. Tangan bocah itu mengusap pipi dan rahang Levi.
"Sir. Bagaimana kalau aku ... jatuh cinta kepadamu?"
Levi meraih tangan Eren yang berada di wajahnya. Ia kecup pelan telapak itu. Ciuman menjalar dari ujung jari menuju pundak polos Eren. Wajah mereka sangat dekat. Saling berbagi napas yang penuh gairah. Levi mengusap helai rambut Eren yang sama basah karena keringat. Matanya menatap hijau Eren tanpa berkedip. Kecupan singkat, Levi jatuhkan pada bibir kenyal Eren yang sudah bengkak.
"Panggil namaku".
"L-levi ..."
"Lagi".
Eren mengigit bibirnya. Menatap sayu pada Levi. "Levi".
"Bagus. Panggil namaku saat kita sedang berdua," ucap Levi lalu mengecup seluruh wajah Eren. Membiarkan Eren membeku mendengar ucapannya. Sadar bahwa hubungannya dengan Levi tidak akan sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, Eren merengkuh Levi. Menarik kepala pria itu dan melumat bibirnya.
"Ngghh ...," Eren mengerang saat ciuman berubah menjadi panas. Levi menyusupkan lidahnya. Membelai rongga mulutnya lagi. Beberapa menit mereka berciuman seolah tiada hari esok. Sampai akhirnya, Levi melepas ciumannya. Bibir tipisnya bergerak mengecupi dagu dan rahang Eren, menggoda dengan lidahnya. Perlahan, ciuman semakin turun. Levi berhenti sebentar untuk mengecupi dada Eren. Memberikan beberapa tanda di sana.
"Uhhh ...," Eren mendesah saat puting kanannya dihisap oleh Levi. Matanya terpejam, menikmati hisapan-hisapan Levi pada kedua putingnya secara bergantian. Levi menatap Eren, menyaksikan ekspresi Eren yang terlihat menggoda.
"Kau sangat basah," komentar Levi setelah membuka lebar kedua kaki Eren. Matanya menatap penis Eren yang masih tegang dengan cairan. Tangan besar Levi mengusap penis yang jauh lebih kecil darinya. Mengusap pelan lalu mengocoknya.
"Ahh!—nghh!"
Levi menyeringai. Wajah mendekat ke selangkangan Eren. Mencium aroma kuat dari bocah itu. Jilatan kecil, penis Eren berdenyut keras. Menggemaskan. Jilatan kecil berubah menjadi hisapan saat Levi membuka mulut.
"Ohhh!—Levi!—Ahhh!"
Kedua kaki Eren terbuka semakin lebar. Tangan kanan meremas helai gelap Levi pelan. Eren menengadah, matanya terbelalak merasakan nikmat yang belum pernah ia rasakan. Napasnya tersengal-sengal. Penisnya dihisap kuat oleh Levi. Eren menunduk, menatap Levi yang tengah menghisap penisnya, maju dan mundur. Mata gelap keabuan Levi memandangnya lekat. Pria dewasa yang membuat jantungnya berdegup cepat itu tengah menikmati penisnya. Menghisap rakus dan menatapnya lekat. Tiba-tiba gelombang itu datang. Perut bagian bawah Eren mengejang. Kedua tangan Eren meremas rambut Levi, erat.
"Aaaaahh!—Fuck!—I'm gonna 'cum! Oohhhh!" Eren menjerit keras. Hisapan Levi semakin kuat dan cepat. Penis Eren berdenyut-denyut. Lalu tubuh kecokelatan Eren mengejang. "LEVI! AAAAHHHH!"
Remaja lima belas tahun itu bergetar hebat. Pinggulnya menghentak-hentak saat spermanya menyembur ke dalam mulut Levi. Wajah Eren merah. Gairahnya terbakar. Hisapan Levi menguat, menghisap habis sperma Eren dan menelannya dalam sekali teguk.
GLUK
Penis di keluarkan. Eren terengah-engah. Menyambut kecupan mesra Levi. Mereka berpelukan sejenak. Levi mengusap kening Eren yang berkeringat. Tersenyum kecil saat melihat wajah Eren yang kewalahan.
"Lelah?"
Eren menggeleng. Ia tenggelamkan wajahnya pada cerukan leher Levi yang entah mengapa sangat wangi. Menggesekkan hidung mancungnya pada aroma wangi itu. Levi mendengus. Ia tarik tubuh Eren agar berbaring beralas bantal. Ia ingin membuat bocah itu sedikit nyaman.
"Aku kaget kau mau menghisap milikku," ucap Eren polos, terkekeh dengan napas yang masih tidak beraturan. Levi yang berada di atasnya hanya mengangkat sebelah alis.
"Jean tidak menghisapmu?"
"Jean tidak doyan batang". Levi mendengus.
"Tapi dia naksir lubangmu".
Eren mengulumg senyum. Mengusap tengkuk Levi mesra. "Jean tidak pernah menyiapkanku. Entahlah, dia selalu terburu-buru".
Levi diam. Menatap bocah laki-laki lima belas tahun yang terlihat lebih manis dibanding gadis remaja. Levi sadar bahwa sejak melihat skandal kecil pada Minggu malam itu, ia menjadi tertarik pada Eren. Ada perasaan aneh yang mengatakan bahwa ia telah menemukan sosok yang tepat untuknya. Levi tidaklah muda lagi. Sudah sekian banyak wanita dan pria yang memuaskannya, tapi tidak pernah ada yang membuat Levi seperti sekarang. Berdebar dan terlihat sabar. Dalam sejarah pergulatannya di atas ranjang, Levi tidak pernah memuaskan lawannya. Levi hanya ingin dipuaskan. Menusuk dan menggenjot lubang sampai ia muncrat. Namun, bersama dengan Eren, Levi merasakan hal yang berbeda.
Sadar dari pikirannya, Levi merubah posisi. Ia berbaring di sebelah Eren. Memberi waktu bocah itu istirahat sebentar. Levi tidur menyamping, tangan kanan menyangga kepala. Eren tersenyum. Ia bergerak lebih rapat ke arah Levi, bergulung dengan kedua tangan bermain-main di dada bidang. Hangat tubuh keduanya berbaur menjadi satu. Aroma khas Levi tercium, membuat Eren semakin nyaman. Helai rambut Eren bergerak. Tangan kiri Levi yang besar merapikan poni basah bocah itu ke samping. Jari telunjuk meraba alis tebal Eren.
"Ceritakan tentangmu". Levi bersuara. Eren mengangkat wajahnya dari dada bidang.
"Cerita apa?"
Mata gelap keabuan Levi bergerak, meneliti wajah Eren. "Apapun".
Eren terdiam sejenak. Kening mengerut, alis tertekuk. Berpikir keras dengan ekspresi wajah seperti marah. Levi mendengus. Telunjuknya masih meraba alis Eren. Hampir dua menit, Eren masih belum mulai bercerita.
"Jean tidak menghubungimu?" Levi kembali bersuara. Lelah menunggu bocah labil seperti Eren berpikir.
"Tidak. Dia tidak mungkin menghubungiku lagi setelah apa yang ia katakan terakhir kali".
"Dia bilang apa?" Jari telunjuk Levi mengurut kening Eren, berusaha membuat bocah itu tidak menampilkan ekspresi marah. Eren tiba-tiba diam. Levi minim kesabaran. "Dia akan memberitahu teman-temanmu bahwa kau penyuka sesama?"
Manik hijau menatap Levi. Ada kesenduan di dalam mata itu. Eren tersenyum miring, lalu menggeleng pelan. "Dia tidak mungkin memberitahui teman-temanku. Mikasa pasti akan tahu dan membencinya. Aku berbohong pada Armin saat di cafe".
"Lalu?"
Eren diam beberapa detik. Kesenduan kini tidak hanya terlihat di sinar matanya, tapi juga di garis senyumnya. "Dia bilang, 'Dasar kau gay menjijikkan. Kau tidak tahu betapa ngerinya aku saat memasukkan penisku ke dalam anusmu yang kotor'".
Jari telunjuk Levi berhenti mengusap kening Eren. Rahangnya mengeras. Tidak menyangka Jean akan mengeluarkan kata-kata yang sangat kasar kepada Eren.
"Aku masih ingat saat dia berteriak padaku," lanjut Eren. "cih! Kotor katanya. Mungkin dia lupa pernah mendesah keras saat anus kotorku menggencet penis kecilnya".
Levi terdiam. Eren yang emosi karena mengingat skandal kecilnya dengan Jean, terus berbicara tanpa jeda. Umpatan kasar ia keluarkan. Caci dan maki terlontar sangat mudah untuk Jean. Bahkan Eren sempat mengutuk Jean, mendoakan bermacam-macam mulai dari penis Jean yang akan selamanya mengerut sampai mengutuk Jean menjadi gay.
"Bajingan kuda itu akan tahu rasa saat ia menjadi gay. Kudoakan lubangnya longgar dimasuki penis om-om gendut. Sialan kau, Jean. Semoga kau hidup sengsara dengan lubang menganga dan—
"Sejak kapan kau suka sesama?" Levi memotong kutukan Eren yang penuh kata-kata vulgar. Pria dua puluh sembilan itu menatap Eren dengan tenang.
"Sejak menengah pertama".
"Bagaimana kau tahu kalau kau suka sesama?"
Eren kembali mengerutkan keningnya, berpikir. Telunjuk Levi kembali bekerja, mengurut, berusaha melemaskan otot-otot di wajah Eren. "Ceritanya panjang".
"Ceritakan". Levi memberi perintah. Mutlak dan harus Eren lakukan. Kedua tangan Eren bergerak gelisah di dada Levi. Saling meremas.
"Waktu itu aku kelas satu menengah pertama. Siang hari, saat makan siang, si botak Conny—temanku—membawa dvd porno ke sekolah. Semua teman laki-laki di kelasku heboh. Conny mengajak kami untuk mampir ke rumahnya, kebetulan orangtuanya sedang pergi ke luar kota. Singkat cerita, kami datang. Ada aku, Armin—dia kupaksa ikut, Jean, Conny, Marco, dan Reiner.
"Kami langsung menuju kamar Conny. Si botak itu ke dapur sebentar mengambil minuman dingin dan stok tisu dari lemari penyimpanan. Kami duduk di lantai, berjejer sambil bersandar pada ranjang. Dvd diputar. Kami fokus melihat ke arah tv. Wanita seksi berbikini muncul, mendatangi pria kekar yang sedang berjemur di pinggir kolam renang. Wanita itu menggoda si pria. Singkat cerita mereka akhirnya bercumbu. Suasana kamar Conny menjadi sangat panas. Armin gelisah di samping kiriku.
"Adegan semakin panas. Conny sudah mengeluarkan penisnya, beronani tanpa segan dengan keberadaan kami. Desahan wanita terdengar keras di kamar. Teman-temanku sudah mengocok, kecuali aku".
Eren diam sebentar. Manik hijau melirik Levi, memastikan apakah pria itu tertidur atau tidak saat mendengarkan ceritanya yang membosankan. Nyatanya, Levi masih segar. Mata hitam memandangnya lekat. Serius mendengarkan. "Teruskan".
"Aku menghiraukan teman-temanku. Pandanganku fokus pada wanita seksi yang sedang menungging. Pria berotot bergerak heboh—entahlah, gerakannya kasar sekali. Lalu tiba-tiba penis besar itu dikeluarkan. Mataku melotot saat melihat pria itu beralih pada anus si wanita. Tubuhku menjadi panas. Aku mulai bergairah. Napasku tersengal-sengal saat melihat anus wanita itu ditusuk. Aku merinding.
"Tiga puluh menit kemudian, dvd selesai ditonton. Semua temanku, termasuk Armin menghabiskan banyak tisu. Hanya aku yang tidak klimaks, lebih tepatnya belum. Semua berkomentar mengenai betapa beruntungnya si pria yang mendapatkan anus wanita itu atau membayangkan bagaimana jika mereka melakukan itu pada wanita lain. Aku hanya diam. Apa yang kupikirkan tidak sama seperti mereka. Saat mereka bertanya padaku, aku memberi jawaban yang sama, pura-pura setuju dengan komentar mereka".
"Apa yang kau pikirkan saat itu?" Belaian Levi turun ke pipi Eren. Mengusap pelan dengan ibu jarinya. Eren diam beberapa detik lalu memandang Levi sambil tersenyum miring.
"Aku membayangkan diriku sebagai wanita itu," jawab Eren. Levi tidak berekspresi. Wajahnya masih datar saat Eren kembali bersuara. "Aku membayangkan ada sesuatu, penis seseorang, yang menusuk anusku. Membuatku menjerit-jerit, sama seperti yang dilakukan wanita itu. Imajinasiku semakin liar. Lalu muncul skandal itu".
Cerita selesai. Hening menyelimuti keduanya. Levi masih betah mengelus wajah Eren, sedangkan bocah itu menunduk, menghindari tatapan Levi. Entah kenapa, Eren merasa malu. Kedua tangan kembali saling meremas dengan gelisah. "K-kalau Levi ... bagaimana?"
"Perjakaku hilang setelah mimpi basahku yang pertama," ucap Levi. Eren mendongak, terkejut. "orangtua asuhku adalah gigolo. Ia punya banyak pelacur. Suatu hari, salah satu pelacur datang ke rumah. Mabuk. Ia ingin bertemu dengan orangtua asuhku, tapi salah kamar. Ia ke kamarku".
"L-lalu?"
"Pelacur itu mengabil perjakaku. Setelah itu aku banyak tidur dengan wanita. Pakai pengaman tentu saja. Bosan dengan lubang basah mereka, aku tertarik dengan lubang yang lebih sempit. Wanita selalu saja cengeng, aku risih mendengar mereka menjerit kesakitan saat lubang sempit kupaksa melebar".
Eren terkekeh pelan. "Itu memang sakit, Levi". Levi mendengus, tak berminat untuk berkomentar.
"Lalu aku bertemu dengan para gay. Meminjam lubang sempit mereka untuk memuaskanku. Itu dulu. Kebanyakan dari mereka akan meminta balik lubangku dan aku benci. Jadi, sejak itu aku hanya mau melakukan seks dengan satu orang dalam satu malam. Jika ada yang meminta lubangku, akan kugilas penisnya".
Eren meringis. Ngilu membayangkan ada penis yang benar-benar digilas. Uh, Eren tidak tahan.
"Jadi ... kau masih melakukan seks?"
Levi tersenyum tipis. Ibu jarinya bergerak mengelus bibir Eren yang masih terlihat bengkak. Mata gelap keabuan menatap dalam. "Tidak. Semenjak orangtuamu datang ke sebelah rumah".
Eren tersenyum nakal. Kedua tangan bergerak mengelus dada bidang Levi. Jemari menemukan tonjolan. Dua puting dimainkan. Eren berusaha membakar gairah Levi lagi. Pria itu mendengus.
"Katakan apa yang kau mau ... Eren".
Eren menatap sayu. Lidahnya menjilat ibu jari Levi sekilas.
"Aku mau kau, Levi," desah Eren. "di lubangku. Sekarang".
.
-Eren to Levi-
.
Eren telentang dengan wajah gugup dan jantung berdebar. Gairahnya kembali naik. Manik hijaunya memandang Levi yang sedang membuka tutup botol pelumas. Ia gigit bibir bawahnya saat telunjuk panjang Levi mengelus kerutan lubangnya. Dingin. Efek dari pelumas yang membasahi bukaan pintunya. Telunjuk mendorong masuk dengan perlahan. Kening Eren mengernyit. Merasa sedikit tidak nyaman dengan kehadiran jari panjang Levi. Telunjuk masuk semakin dalam lalu tanpa sengaja menyentuh titik nikmat Eren.
"AH!" Penis Eren kembali menegang. Rangsangan di prostat membuat penis Eren yang setengah tegang, menjadi tegak. Mengacung, menantang Levi.
"Baru satu jari, tapi lubangmu menghimpit dengan binalnya," dengus Levi. Merasakan telunjuknya diremas oleh otot bawah Eren. Jemari mulai bergerak. Keluar perlahan, lalu menusuk dengan cepat. Menubruk titik Eren sekali lagi. Eren mendesah. Nikmat saat telunjuk Levi mulai bergerak sedikit cepat. Berkali-kali menubruk prostatnya.
"Tahan". Satu jari bergabung ke dalam lubang sempit. Eren meringis. Meski sudah berkali-kali melakukan hubungan seks dengan Jean, lubangnya masih akan terasa sakit bila pertama dimasuki. Otot rektum mengetat efek penolakan benda asing yang masuk. Levi mendecih, merasakan lubang Eren yang sangat ketat. Bayangan penisnya berada di dalam sana menggantikan dua jarinya, membuat Levi sedikit tidak sabar.
"A-aaaahh! Ngh!" Jari ketiga masuk tanpa menunggu Eren terbiasa dengan dua jari. Kesabaran Levi mulai menipis. Penisnya sudah berkedut, berteriak meminta untuk segera dipuaskan oleh lubang Eren. Tiga jari bergerak seirama. Masuk. Keluar. Masuk. Keluar. Semakin lama semakin cepat. Lubang Eren mulai sedikit melonggar. Jemari ditarik keluar, membuat Eren mendesis.
Levi bergerak meraih kondom dan botol pelumas. Mata gelapnya terus menatap Eren saat kedua tangan sibuk memasangkan kondom dan melumasinya dengan pelumas dingin. Eren menggigit bibir. Wajahnya merah saat melihat penis Levi yang gagah, berdiri berselimut kondom. Levi meyeringai. Ia menunduk, mengecup bibir Eren singkat. "Apa-apaan wajahmu itu, hm?"
"M-memangnya wajahku kenapa?" Tanya Eren polos. Jantungnya berdegup kencang saat kedua kakinya dilebarkan oleh Levi.
"Lupakan. Ada sesuatu yang lebih penting," jawab Levi lalu memberi kecupan singkat sekali lagi. Kedua tangan bergerak membuka kaki Eren semakin lebar. Lubang sempit kemerahan yang mengkilat karena pelumas, terlihat menggoda di mata Levi. Ia bergerak mendekat. Menggesek penisnya pada lubang sempit Eren.
"Mmm ..." Eren mengigit bibir. Mata gelap keabuan memandang lekat.
"Tahan," ucap Levi singkat lalu menekan masuk.
"Mmmngh!" Tubuh Eren menegang. Matanya terpejam merasakan benda yang jauh lebih besar dari tiga jari Levi, masuk ke dalam rektumnya dengan perlahan. Jelas penis Levi lebih besar dari Jean. Baru masuk bagian kepalanya saja, Eren sudah merasa penuh. Refleks, otot rektum Eren mengetat. Menghimpit kepala penis Levi.
"Ghh! Rileks Eren," geram Levi. Sakit dan nikmat saat penisnya dihimpit begitu ketat. "longgarkan ototmu".
"Nngh!—aku sedang menco—AAHHH!" Mata hijau terbelalak. Punggung melengkung erotis. Tidak sabar menunggu Eren untuk rileks, Levi menghentakkan pinggulnya dengan keras. Penis masuk dengan sempurna. Otot rektum mengetat kuat. Meremas penis Levi. Kedua tangan Levi mencengkram pinggul Eren dengan kuat. Pria itu memejamkan mata, menikmati remasan otot Eren pada penisnya yang berkedut senang.
"Fuck! Kau—ghh—sempit sekali, Eren".
Eren mengambil napas cepat. Lubangnya sakit dan nyeri. Sesak dan penuh. Eren tidak pernah merasakan sepenuh ini sebelumnya. Terengah-engah, ia menatap Levi. Gemuruh rasa senang tiba-tiba datang saat melihat Levi sedang mengerutkan kening. Pria itu menahan nikmat. Berkaca-kaca, Eren raih sosok Levi. Mendekap tubuh kekar pria itu dengan erat. Menghirup aroma khas yang menenangkan dari Levi.
"Sakit?" Levi mengusap kepala Eren, pelan. Bocah itu menggeleng. Levi tidak percaya. Isak tangis terdengar lirih. Jantung Levi tiba-tiba nyeri. Ia raih pundak Eren, sedikit mendorong agar dapat melihat wajah putra tetangganya itu. Mata gelap keabuan Levi membulat. Eren menangis. Kedua mata indah itu basah.
"Kenapa?Apa sakit sekali?" Eren menggeleng lagi. "lalu kenapa kau menangis?"
Eren mengigit bibir bawahnya. Kedua tangan mengusap matanya kasar. Kening mengerut, alis tertekuk dalam. Mata hijau yang basah menatap Levi bersama dengan rona merah yang hadir di wajah. "A-aku ... merasa senang".
Levi diam mendengarkan. "Melihat ekspresi wajahmu. Caramu memandangku. Entahlah, aku tidak pernah dipandang seperti itu".
Tangan besar mengusap pipi Eren. "Seperti apa?"
Eren tersenyum. Bukan senyum miring. Tidak ada kesenduan. Eren tersenyum lembut. Matanya berkaca-kaca. Levi tertegun. "Seperti kau sangat menginginkanku".
Levi terdiam. Gejolak perasaan aneh hadir di dalam hatinya. Ia hanya memandang Eren yang seperti menunggu sebuah jawaban. Namun, Levi masih diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Romantis bukanlah sifatnya. Kata-kata yang ia keluarkan adalah kata-kata kasar. Levi tidak pernah berkata hal-hal yang romantis. Lama menunggu jawaban, Eren mulai berpikir negatif. Mata diusap dengan kasar sekali lagi. Eren terlihat gelisah dan ... kecewa.
"Anu ... maafkan aku," bisik Eren. Mata hijau beralih menatap ke arah lain. "mungkin aku hanya terbawa perasaan jadi—nggh!"
Eren menoleh cepat. Menatap Levi yang tiba-tiba bergerak. Mata gelap tertutup kabut gairah. Levi menegakkan punggung. Kedua tangan kembali mencengkram pinggul Eren. Wajahnya datar memandang Eren yang terperangah.
"L-lev—AAAHHH!" Eren menjerit keras. Levi menghujam rektumnya dengan keras. Nikmat dan sakit menyengat ke ubun-ubun. Prostatnya ditumbuk dengan tepat dan keras. Levi menggertakkan gigi. Penisnya diremas nakal. Ketagihan dengan remasan lubang sempit Eren, Levi mulai bergerak.
"Aahhhh—t-tunggu—uhhhh—Levi!" Tubuh Eren menghentak-hentak sesuai irama gerakan Levi. Kedua tangannya bergetar, menyentuh tangan Levi yang masih mencengkram pinggulnya. Gerakan Levi mulai cepat dan keras. Prostat Eren ditumbuk berkali-kali. "NGHHH!—Levi!—t-tunggu sebentar—aku—OOOHHH!"
Levi menggeram. Penis keluar masuk semakin cepat. Pinggulnya bergerak menusuk lubang sempit Eren yang becek. Sesekali matanya terpejam, merasakan nikmat saat penisnya diremas oleh otot rektum Eren. Napas mulai memburu. Levi membungkuk, merengkuh kepala Eren. Mata gelap menatap dalam, sedalam tusukan penisnya.
"Diamlah—hhh—kau hanya boleh mendesah".
Eren terdiam. Ia terhipnotis. Tanpa berniat untuk menjawab, Eren langsung mendesah. Melupakan niat untuk mengajak Levi bicara. Faktanya, pria yang empat belas tahun lebih tua darinya itu, sama sekali tidak bisa diajak untuk bicara saat ini. Sebagai gantinya, kedua tangan Eren meraih leher Levi. Mendesahkan nama pria itu dengan erotis. Levi mendengus senang. Pinggul menghentak keras.
"Ya. Begitu Eren. Mendesahlah. Sebut namaku".
Levi menerkam leher Eren yang berkeringat. Menyesap cairan asin itu. Menggigit gemas. Sesekali pria itu menggeram, melampiaskan rasa nikmat yang ia rasakan. Kedua tangan lebar Levi bergerak turun, melebarkan kaki Eren agar memermudah penisnya untuk menusuk.
"Aaahh! Aahhh! Levih! Unghh! N-nikmat!" Eren mendesah. Penis panjang menghujam lebih dalam. Prostat tidak henti ditubruk. Kepala menengadah, memberi akses lebih kepada Levi untuk memberi tanda sebanyak-banyaknya. Mata gelap mengawasi wajah erotis Eren. Menyaksikan mulut bocah itu terbuka, mengeluarkan desah manis yang membakar gairah. Liur mengalir dari mulut yang menganga. Levi bergerak menghisap liur itu. Mengulum bibir bawah Eren lalu beralih mengecupi telinga bocah itu.
"Kau menggairahkan, Eren—ghh—lubangmu sempit".
Eren mendesah lebih keras. Kedua tangan mencengkram rambut Levi erat. Desah napas Levi yang berat membuat telinganya panas. Sesekali pria itu menjilat lubang telinga Eren, mengulum cupingnya. Levi menggeram untuk kesekian kalinya. Pinggul semakin menghentak-hentak tidak terkendali. Nikmat mengalir hingga membuat tubuh Eren bergetar.
"AAAHH! LEVI! Mnggghh! Nikmat! Nikmat! Ohhh!" Eren menjerit. Tidak peduli apabila tetangga sebelah kiri Levi mendengar suaranya. Ia hanya ingin melampiaskan rasa nikmatnya. Otot rektum mengetat, memberi tanda bahwa klimaks akan segera datang. Eren semakin memeluk Levi dengan erat.
"FUCK! Aagh—kau menyempit!" Levi menggeram. Hentakan-hentakan kuat menghujam semakin dalam. Tubuh Eren menegang. Klimaks di depan mata. Teriakan-teriakan berisik memenuhi kamar. Pelukan semakin erat. Dua hujaman keras dari Levi, klimaks datang menggetarkan tubuh Eren.
"AAAAAHHHH! LEVI!" Punggung Eren melengkung. Penis berdenyut menyemburkan cairan panas. Levi mengigit pundak Eren, menahan geraman saat penisnya diremas sangat kuat. Otot rektum Eren mengetat, menghisap penis Levi yang berdenyut. Tubuh Eren masih bergetar, sisa-sisa dari klimaksnya. Napas terengah-engah. Keringat bercucuran. Kedua tangan yang memeluk Levi terkulai lemas. Levi bangkit, tangan menyangga tubuh.
Eren membuka matanya, sayu menatap Levi dengan berkaca-kaca. Klimaksnya yang barusan adalah klimaks paling hebat yang pernah ia rasakan. Tersenyum lemah, Eren mengecup bibir Levi.
"Kau—hhh—hebat—hhh—Levi," ucap Eren dengan terengah-engah. Levi bergerak melumat bibir Eren lembut. Mata gelap keabuan masih diselimuti gairah. Penisnya masih keras di dalam lubang Eren. Perlahan, ia tarik keluar penisnya dari lubang Eren. Desisan terdengar dari kedua bibir.
"Berbalik".
Masih sedikit lemas, Eren bangkit. Meringis saat pantatnya menyentuh ranjang. Ia bersiap untuk berbalik sebelum matanya melihat ke arah selangkangan Levi. Mata hijau terperangah.
"L-levi ...," panggil Eren pelan. Levi mendecak tidak sabar.
"Ck. Cepat berbalik".
Eren tidak menghiraukan. Telunjuknya bergerak menunjuk ke arah selangkangan Levi. Geram diacuhkan, Levi menunduk mengikuti arah telunjuk Eren. Wajah Levi tiba-tiba berubah sedatar dinding. Kondomnya robek. Ujungnya terbuka sampai hampir ke pangkal penis Levi. Eren melongo. Ia lirik bungkus kotak kondom yang duduk tenang di atas meja dekat ranjang. Trajan Supra(*). Merk kondom yang terkenal tipis, tapi sangat kuat. Eren melongo. Kondom yang Levi pakai adalah kondom mahal yang memang terkenal kuat walaupun sangat tipis. Namun, tagline 'tipis tapi kuat' itu dipatahkan oleh Levi.
"A-anu ..."
Levi mendecak. Ia lepas kondom mahal tak berguna itu lalu dilempar ke lantai. Mata gelapnya memandang Eren. "Berbalik".
Mata hijau Eren terbelalak. "T-tapi ... kondomnya—
"Berisik," potong Levi tidak sabaran. "berbalik".
Sedikit ragu, Eren berbalik. Menungging memamerkan bongkahan pantatnya yang kenyal. Levi menatap pantat bulat Eren dalam diam. Tangannya mengelus halusnya permukaan kulit Eren. Sesakali tangan itu meremas bongkahan itu, gemas dengan kekenyalannya. Eren mengigit bibir. Merinding saat kerutan lubangnya diusap dengan jempol Levi. Jempol menghilang. Eren bingung tidak merasakan apa-apa lagi sampai sebuah daging tak bertulang mendesak masuk ke dalam lubangnya.
"Aaaahnn!" Lidah Levi bergerak di dalam rektum Eren. Menggeliat nakal, menggoda Eren. "L-levi—uhhh". Decapan dan hisapan terdengar menemani desahan pelan Eren. Beberapa menit kemudian, lidah panas Levi menghilang. Eren menungging dengan napas putus-putus. Ranjang bergoyang. Eren berpikir Levi sedang memasang kondom lagi.
Eren menggigit bibir. Pinggulnya dicengkram erat oleh kedua tangan besar Levi. Puncak penis menggesek lubang. Kening Eren mengerut, merasa ada yang aneh dan kurang. Belum sempat ia bertanya, pinggul Levi sudah bergerak maju dengan cepat. Penis tertanam dalam. Eren terbelalak kaget.
"Ngggh! Levi—kondomnya—mmhh". Kondom. Levi tidak memakai kondom. Kulit bertemu otot dalam. Eren merasa lebih nikmat. Ia menoleh ke samping, melirik Levi yang sedang menatapnya datar.
"Aku tidak mau kondomnya tertinggal di lubangmu," jawab Levi kalem lalu mulai bergerak. Gesekan tanpa kondom memberikan sensasi yang lebih untuk keduanya. Eren mendesah panjang. Nikmat saat prostatnya kembali ditumbuk dengan ujung penis Levi yang keras. Sebaliknya, pria dua puluh sembilan itu memejamkan mata, merasakan otot lembut Eren memijat penisnya lembut.
"Hngghh—AHHHHH!" Satu hujaman yang lebih dalam, membuat penis Eren yang tadinya lemas, kembali menegang. Hujaman mulai cepat. Levi menggeram.
"Aaahh! Ahhh! Nikmat, Levi! Uhhh—fuck!" Posisi menungging, membuat penis Levi semakin mudah menyentuh titik nikmat Eren. Kedua tangan meremas seprei ranjang dengan erat. Menyalurkan nikmat saat lubangnya digempur tiada henti oleh Levi. Otot mengetat, respon dari kenikmatan.
"BANGSAT!" Levi mengumpat. Mencengkram pinggul Eren lebih erat, lalu menghujam lebih keras. Suara becek dan riuhnya kulit bertemu kulit, memeriahkan suasana di dalam kamar. Eren menjerit nikmat. Mulutnya terbuka mendesahkan nama Levi. Liur kembali menetes, jatuh membasahi seprei abu-abu. Levi memejamkan mata. Hujaman semakin cepat.
"AAAAHHH! LEVI! LEBIH CEPAT! LEBIH CEPAT! HNNNGGHH!"
Menuruti keinginan Eren, kedua tangan Levi bergerak melingkari perut Eren yang sedikit menggembung karena keberadaan penisnya. Ia tarik tubuh Eren, membuat Eren melenguh dan meraih leher Levi. Eren berlutut. Tubuhnya di dekap erat oleh Levi. Leher basah dikecup, bersamaan dengan gerakan pinggul Levi yang semakin dalam. Mata hijau melotot nikmat.
"NGAAAAAAHHH!" Eren berteriak. Posisinya yang sedang berlutut dan bersandar pada Levi, membuat penis panjang Levi semakin dalam menghujam rektumnya. Otot mengetat lebih keras. Levi menggeram dan menghujam lebih cepat dan dalam.
"FUCK! Ketatkan lagi, Eren. Remas penisku dengan otot anusmu yang nakal itu," bisik Levi tepat di telinga kiri Eren. Tubuh bocah itu menegang. Gairahnya semakin tinggi mendengar kalimat-kalimat kotor dari Levi. Otot rektumnya lebih mengetat tanpa sadar. Levi mendesah berat. "Aaagh—yeah—terus seperti itu, Eren. Pijat penisku".
Hujaman semakin cepat. Suara becek menambah panas gairah. Eren yang semakin panas tiba-tiba berinisiatif menggerakkan pinggulnya, berlawanan dengan hujaman Levi. Dua pinggul menghentak berlawanan arah, membuat penis besar Levi menusuk makin dalam. Eren menengadah. Matanya terbelalak merasakan nikmat tiada tara.
"LEVI! Ahh! Ahh! Ahh! Nikmat! Ohhh! Anusku nikmat!" Eren mulai meracau. Pinggulnya terus menghentak ke belakang dengan irama yang cepat, mengimbangi irama hujaman pinggul Levi.
Levi mendengus. Tersenyum miring di belakang Eren. "Yeah—terus Eren. Gerakkan bokong kenyalmu itu. Ketatkan ototmu. Agh—bajingan".
Eren patuh. Pinggulnya menghentak ke belakang lebih cepat. Ototnya diketatkan dengan gerakan menghisap yang membuat Levi menggeram nikmat. "Fuck! Lubangmu nikmat, Eren. Kau suka penisku, hm?"
Eren mengangguk tak sadar. Ototnya terus menghisap penis Levi dengan kuat. "Aaaangghh! Yeah! Aku suka!—hhh—penismu—luar biasa—ooohh!"
Levi hampir mencapai klimaks. Sedikit kasar, ia dorong tubuh Eren untuk kembali menungging. Kedua tangan kekar mendekap tubuh Eren sambil terus menggenjot. Gerakan semakin tidak terkendali dan keras. Eren mengerang, menjerit ricuh membakar gairah Levi. Otot rektum berkontraksi. Meremas dan menghisap penis Levi tidak terkendali.
"Agh! Eren. Eren. Eren," erang Levi sambi mengecupi punggung telanjang Eren. Tangan kirinya meraba ke atas, memilin puting Eren yang mengeras. Sementara, tangan kanan besar Levi bergerak ke bawah, mengocok penis Eren yang sudah sangat basah.
Eren meremas kain seprei makin kuat. Tubuhnya bergetar merasakan tiga titik nikmatnya disentuh oleh Levi. Perutnya yang sedikit berotot mengejang. Klimaks akan segera datang. Desahan Eren semakin nyaring. Levi menghujam makin cepat. Menumbuk prostat Eren berkali-kali dengan tenaga luar biasa. Penis berdenyut diremas otot basah.
"AAAHH! I'M GONNA 'CUM! LEVI! OOHH! OOHH!" Eren menjerit nyaring. Tubuhnya mengejang. Kedua tangan yang menyangga tubuh, bergetar hebat, tidak tahan menerima rangsangan yang luar biasa. Levi menggeram.
"Keluarkan, Eren. Ketatkan lagi otot brengsekmu itu—gghh!"
Gerakan semakin menggila. Keduanya terengah-engah. Bergerak seperti binatang untuk memuaskan gairah yang membara. Klimaks Eren datang pertama. Tubuhnya mengejang lalu menghentak-hentak ke belakang. Sperma muncrat ke sepresi abu-abu. Otot rektum spontan mengetat luar biasa, membungkus penis Levi yang berdenyut. Hujaman Levi semakin brutal.
"AAAAARGGHH! LEVI! FUCK!" Sperma Eren terus menyembur. Dua hujaman keras menumbuk prostatnya tanpa henti. Tubuh Levi bergetar. Klimaks datang pada hujaman penisnya yang ketiga. Bahu basah Eren digigit kuat hingga berdarah. "GGHHH!" Geraman bak pemangsa terdengar seksi di telinga Eren. Kedua tubuh polos berkeringat itu bergetar. Sperma menyembur dengan melimpah ke dalam lubang basah Eren. Cairan mengalir ke luar dari sela-sela penis Levi yang masih tertancap. Aroma seks menguar sangat tajam dipenjuru kamar. Keduanya terengah-engah. Terbuai dengan kenikmatan yang baru saja mereka alami.
"Nnghh ..." Eren mendesah pelan saat Levi menarik penisnya. Tubuh ambruk saling tindih. Sperma merembes keluar dari lubang merah menganga, mengalir pelan dan menetes di atas seprei. Levi segera bergeser ke samping, tidak ingin menimpa Eren yang kelelahan. Ia rengkuh Eren ke dalam pelukan. Tubuh keduanya masih panas.
Merasakan kehangatan yang sangat nyaman, Eren bergelung di dekapan Levi. Membenamkan wajahnya di dada bidang Levi. Mata Eren terpejam, bibirnya tersenyum tipis saat mendengar jantung Levi berdebar cepat, sama seperti miliknya. Tubuh lengket berpelukan. Levi mengecup puncak kepala Eren. Kepala bersurai cokelat mendongak, menatap Levi dengan mata hijau zamrud yang berbinar. Eren nampak sangat menawan di mata Levi.
"Tadi itu hebat sekali—hhh," desah Eren dengan suara serak. Bibirnya bergerak mengecup bibir tipis Levi. Pria itu hanya tersenyum tipis.
"Hoo. Bagaimana dengan Jean?"
Eren mendengus. Bibirnya mengerucut, tanda bahwa ia sebal nama Jean disebut. "Jangan sebut si muka kuda itu, Levi. Kau jelas lebih hebat dibanding dia". Levi mengecup puncak hidung Eren. Perutnya merasa geli melihat ekspresi Eren yang lucu. Wajah cemberut langsung sirna. Eren berbunga-bunga.
"Na, Levi," bisik Eren, mesem-mesem dengan mata berbinar. Levi diam mendengarkan. "aku mencintaimu".
.
-Eren to Levi-
.
Sisa waktu libur musim panas, Eren menjadi sangat dekat dengan Levi. Grisha dan Carla yang baru pulang dari liburan, merasa terkejut dan senang di saat yang bersamaan. Pasangan itu berpikir bahwa putranya sudah bisa terbuka dengan Levi. Eren menghabiskan sisa liburannya bersama Levi ke berbagai tempat. Mulai dari nonton film di bioskop, jalan-jalan di taman, atau bahkan ke kolam renang bersama. Keduanya memiliki perasaan yang sama. Eren menginginkan Levi. Sedangkan Levi sendiri telah mengklaim di dalam hati bahwa Eren hanyalah untuknya.
Hari demi hari terlewati, tahun berganti tahun. Kedekatan Eren dan Levi terus berlanjut sampai Eren lulus dari menengah atas. Levi berencana untuk pindah rumah. Tinggal bersebelahan dengan Eren membuatnya merasa tidak enak dengan Grisha dan Carla. Jelas, kedua orangtua Eren tidak mengetahui hubungan mereka. Eren tidak ingin mereka tahu, sedangkan Levi merasa tidak perlu untuk memberitahu mereka. Yang tahu kedekatan dan kemesraan kedua pria beda usia itu, hanya mereka sendiri. Dunia hanya milik mereka berdua.
Setelah Eren lulus, ia memilih universitas tempat Levi mengajar. Grisha dan Carla awalnya menolak dengan alasan universitas itu terlalu jauh dari rumah. Namun, bukan Eren namanya kalau tidak keras kepala. Grisha sempat marah besar kepada Eren. Rumah keluarga Jeager yang biasanya tenang, berubah menjadi penuh teriakan semalam penuh. Levi duduk diam di pekarangan rumah belakang. Mendengarkan teriakan keras dari Grisha dan juga Eren. Esok harinya, Carla datang berkunjung ke rumah Levi. Bercerita tentang pertengkaran hebat antara suami dengan anaknya. Levi hanya diam. Bagaimanapun juga, ia sudah tahu permasalahannya.
"Kapan kau pindah, Levi?" Tanya Carla tiba-tiba, menyimpang dari cerita yang baru saja selesai. Levi menatap kalem. Otaknya berputar, mengira-ngira apa maksud kedatangan Carla yang sebenarnya.
" Minggu depan."
Carla mengangguk. "Rumah atau apartemen?"
"Apartemen. Rumah terlalu besar untuk seorang diri".
"Apa apartemenmu cukup untuk dua orang?"
Levi terdiam. Carla tersenyum lembut.
"Bila kau tidak keberatan, aku ingin menitipkan Eren padamu. Dia sangat dekat denganmu. Kami pun juga percaya denganmu".
Levi diam beberapa detik, lalu kembali bersuara. "Kau yakin?"
Senyum hangat Carla mengembang di wajah. "Tolong jaga Eren. Kami sangat menyayanginya".
.
.
Hampir tiga tahun, Eren tinggal bersama dengan Levi di sebuah apartemen yang jaraknya tidak begitu jauh dari universitas. Grisha akhirnya setuju dengan kampus pilihan Eren, setelah mendengar Levi setuju untuk menjaga putranya. Eren sangat bahagia. Tidak hanya satu kampus dengan kekasihnya, ia bahkan akan tinggal satu atap! Levi dan Eren adalah dua pria yang saling membutuhkan. Eren butuh Levi. Untuk membantunya belajar, untuk memberinya kuliah singkat, untuk meyakinkan orangtuanya bahwa ia baik-baik saja. Eren, yang dulunya hanya mencari pelampiasan atas gairahnya, kini memiliki belahan jiwa yang selalu berada di sampingnya.
Beberapa tahun mengenal Eren, Levi sudah tahu tabiat bocah itu. Keburukannya, kebiasaannya, keketatannya, semua sudah Levi ketahui. Pun, dengan perasaan bocah itu padanya. Eren jelas sangat mencintai Eren. Meski Levi jarang—atau bahkan tidak pernah—memerlihatkan perasaannya, tapi Levi juga sangat mencintai Eren. Sebab-akibat seorang Levi Ackerman memang sangat simpel. Hanya dari kedekatannya dengan keluarga Jeager dan ketidaksengajaannya melihat skandal antara Eren dengan Jean, Levi akhirnya dapat menemukan sosok yang tepat untuk dirinya. Levi bahagia, jelas. Kekasih pertamanya adalah bocah berbokong kenyal dengan segala semangatnya yang berapi-api. Levi suka melihat Eren tersenyum lebar. Levi suka melihat mata hijau zamrud itu berbinar senang. Levi pun senang saat melihat kekasihnya itu menatapnya sayu dengan liur menetes. Levi suka Eren.
Sebab-akibat yang terjadi di kehidupan Levi memang terlihat simpel. Awalnya. Ya, karena pada akhirnya, kemesraannya dengan Eren, berakibat fatal. Levi dan Eren harus berhadapan dengan Grisha dan Carla. Entah kapan itu, mereka tidak tahu. Fakta bahwa Eren adalah anak yang sangat berharga bagi Grisha dan Carla memang tidak bisa dihapuskan. Namun, fakta bahwa Eren adalah kekasih yang berharga bagi Levi Ackerman juga tidak bisa diacuhkan begitu saja.
Sekali lagi. Namanya Eren.
Eren Jeager.
Pria baru beranjak dewasa yang sangat mencintai kedua orangtuanya. Pria berbokong kenyal yang juga sangat mencintai seorang Levi Ackerman. Entah bagaimana caranya, Eren hanya ingin orang-orang yang sangat ia cintai bisa terus bersamanya. Baik itu orangtuanya, Mikasa, Armin, maupun Levi. Karena Eren tahu bahwa ia sangat berharga. Untuk kedua orangtuanya. Untuk Mikasa yang terus bermimpi bersanding dengannya sampai detik ini. Untuk Armin yang selalu menjadi tempat curahan hatinya. Dan untuk Levi yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Untuk Levi. Untuk Levi. Hanya untuk Levi Ackerman.
.
-Eren to Levi-
.
Author Note II :
Fiksi ini sengaja dibagi dua chapter karena pada akhirnya saya membuat terlalu panjang jika dijadikan Oneshoot. Lemon eksplisit parah dan saya tidak tahu apa pembaca suka. Bahasa vulgar memang kesukaan saya. Ah, untuk merk kondom yang dipakai Levi, nama aslinya Trojan Supra. Kalau di internet sih katanya bahannya tipis tapi kuat gitu. Benar atau tidaknya, saya tidak tahu juga. Anggap saja seperti itu ya, jangan terlalu dibawa serius dengan merk nya.
Akhirnya. Seminggu saya ngetik ini disela-sela fiksi yang lain. Chapter dua ceritanya akan saya publish tanggal delapan atau sembilan, tapi ternyata saya selo banget tidak ada kerjaan. Jadi saya mulai edit-edit lagi sedikit. Terimakasih untuk pembaca yang sudah membaca fiksi ini. Semoga kalian terhibur. Sekali lagi, Happy Fujoshi/Fudanshi Independence Day #8 ya! Sampai jumpa di fiksi saya selanjutnya. Bye bye.
