Baekhyun dengan sedikit mendobrak pintu ruang kepala sekolah itu masuk dan mendudukan dirinya ke sofa dengan gaya yang bar-bar karena perasaan kesalnya yang tak terbendung lagi. Wajahnya benar-benar merah dan rambut magentanya kusut terkena jambakannya sendiri.

Kepala sekolah Kim –bibinya sangat terkejut saat mendapati keponakan paling manis dan disayanginya tiba-tiba muncul dengan raut wajah kesal. Ia menduga pasti sebentar lagi ia akan mengadu tentang apa yang membuatnya bisa sekesal ini.

Kepala sekolah Kim melepas kacamatanya dan menatap Baekhyun yang telah duduk di sofa sambil menggerakkan kedua kakinya resah.

"Ada apa Baekhyunie? Mengapa kau kemari?" Tanyanya lembut.

Baekhyun tidak langsung menjawab melainkan ia kembali merajuk dengan cara menggerak-gerakkan tubuhnya di atas sofa seperti cacing kepanasan yang mana membuat bibinya bingung.

"Ahjumma~ Aku ingin melaporkan sesuatu. Tapi ahjumma harus janji jangan mengatakan ini pada siapapun terutama eomma." Baekhyun mulai membuka suaranya. Ia menegakkan tubuhnya sebelum berdiri dan duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan bibinya.

"Tentu sayang, ada apa?"

"Ahjumma tau Park Chanyeol kan?"

"Park Chanyeol siswa peringkat satu?"

Baekhyun mengangguk, "Dia telah melakukan pelecehan seksual padaku ahjumma."

Wanita empat puluhan itu membulatkan matanya terkejut. Keponakannya dilecehkan? Oleh Park Chanyeol si siswa peringkat satu itu? Yang benar saja?

"Apa kau serius Baekhyunie? Maksud ahjumma, apa Park Chanyeol benar-benar melakukan pelecehan? Jika iya, pelecehan seperti apa yang dia lakukan?"

Baekhyun beberapa kali menatap ke arah kiri dan kanan dengan gugup, "Ya pokoknya dia melakukan pelecehan padaku ahjumma. Aku tidak ingin mengatakan pelecehan seperti apa tapi yang jelas dia melakukan itu padaku." Baekhyun benar-benar ingin meyakinkan bibinya. "Aku ingin bibi memberinya skors selama satu minggu. Kalau perlu dua minggu sekalian karena ini masalah serius."

Bibinya tampak tidak yakin dengan permintaan Baekhyun karena menurutnya Chanyeol mustahil melakukan itu. Lantas apa yang harus ia perbuat sekarang?

Melihat bibinya yang tampak ragu, membuat Baekhyun kembali melancarkan rajukan mautnya.

"Ayolah ahjumma, apa ahjumma tidak menyayangiku lagi? Bagaimana perasaan ahjumma jika Taehyungie berada di posisiku? Ahjumma mau menuruti kemauanku bukan?"

Wanita itu mengangguk meskipun masih ragu dengan keputusannya, "Ahjumma akan menanyakan pada Chanyeol terlebih dahulu. Jika ia mengaku maka ahjumma akan memberi skors untuknya. Kau tenang saja ne?"

Baekhyun mengangguk dengan wajah yang dibuat memelas. Namun siapa sangka di balik itu Baekhyun menyeringai puas.

Jangan pernah bermain denganku Park Chanyeol.

Eomma Jinjjayo!

Cast : Chanyeol and Baekhyun

Other cast : Exo's member, Tiffany Hwang, Choi Sooyoung.

Genre : romance, drama, little bit humor(?)

Don't like don't read

Happy Reading

..

.

.

Chanyeol memejamkan matanya begitupun dengan Baekhyun. Chanyeol tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia sangat suka sesuatu yang lembut sedang bersentuhan dengan bibirnya saat ini.

Apa?!

Sesuatu yang lembut?

Chanyeol mengerutkan keningnya. Tiba-tiba semua kilasan tentang kejadian yang baru beberapa menit lalu berputar di otaknya.

Dia bertengkar dengan Baekhyun. Baekhyun memukulnya. Baekhyun ingin memukulnya lagi tapi ia cegah dengan cepat. Ia membisikkan sesuatu pada Baekhyun. Bibirnya mencium bibir Baekhyun.

Tunggu,

Bibir Baekhyun?!

Dengan bibirnya?

Chanyeol benar-benar merutuki dirinya yang dengan sembarangan mencium si sombong ini. Dapat keberanian darimana ia? Masalahnya jika ia mencium pipinya mungkin masih bisa dimaafkan. Tapi ini, di bibir?

Tapi, ASTAGA Chanyeol bersumpah bahwa ia sulit untuk menjauhkan bibirnya yang menyentuh bibir Baekhyun. Bibirnya si sombong itu ternyata sangat lembut dan manis. Chanyeol sangat suka. Chanyeol benar-benar tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Dengan arti bahwa berciuman dengan Baekhyun dengan sepihak seperti ini membuat otaknya yang terkenal cerdas itu mendadak blank.

Kemana perginya si peringkat satu Park Chanyeol? Hanya dengan bibir Byun Baekhyun saja langsung membuatmu tak berdaya.

Tapi tak dipungkiri juga jika ia sedikit menyesal melakukan ini. Bagaimana jika setelah ini Baekhyun akan mengadukan perbuatan tak senonohnya? Bagaimana jika ia mengadu pada ibunya dan ibunya Baekhyun mengadu pada ibu atau ayahnya?

Matilah kau Park!

Penyesalan memang selalu datang di akhir. Karena jika diawal disebut dengan pendaftaran.

Tapi kenapa Baekhyun tidak juga mendorong tubuhnya saat ini?

Eh, jadi selama ia berpikir, bibirnya sama sekali tidak menjauh sesenti pun dari bibir Baekhyun?!

Chanyeol juga jadi bingung bagaimana cara mengakhiri sesi ciuman pertama mereka setelah ini.

Pertama, apakah ia harus menjauh dari wajah Baekhyun dan mengeluarkan seringai?

Kedua, apakah ia harus menjauh dari wajah Baekhyun dan langsung berlari?

Ketiga, apakah ia harus menjauh dari wajah Baekhyun dan menatapnya dengan pandangan dingin?

Keempat, apakah ia harus menjauh dari wajah Baekhyun dan langsung tertawa terbahak?

"Emhh.."

Desahan kecil yang keluar dari Baekhyun membuat Chanyeol membulatkan kedua matanya.

Apa yang telah kau lakukan Park Chanyeol? Cepat jauhkan bibirmu dari bibirnya! Sekarang!

Dengan perlahan Chanyeol menjauh dari wajah Baekhyun dan menatap lelaki mungil itu dengan intens. Wajahnya tampak merah. Mungkin wajahnya sendiri juga sama merahnya. Dan degupan jantungnya semakin cepat saat Baekhyun ikut membuka matanya perlahan dan membuat mata mereka bertemu pandang. Chanyeol menelan ludahnya. Menebak-nebak bagaimana reaksi Baekhyun setelah ini.

Tangan kanan Baekhyun yang semula berada di lengan kirinya mulai bergerak untuk mendorong tubuh Chanyeol menjauh darinya. Baekhyun menunduk dengan telinga yang memerah.

"Pabo!" Baekhyun berucap pelan sambil tetap menunduk sebelum langkah kakinya membawanya pergi dari rooftop itu tanpa membawa kembali kunci lokernya.

"Haishh bodohnya kau Park Chanyeol!"

.

Chanyeol mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan segera masuk saat sebuah suara menyuruhnya masuk. Chanyeol membungkuk hormat kepada kepala sekolah Kim sebelum duduk di depan wanita itu.

"Ada apa kepala sekolah Kim memanggil saya?"

Wanita itu menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja dan menatap Chanyeol serius, "Apakah kau merasa melakukan sesuatu kepada Byun Baekhyun?"

Chanyeol sempat merasa terkejut, namun dengan cepat ia merubah ekspresinya dengan tenang dan mengangguk, "Kami terlibat perkelahian kecil, Kepala sekolah Kim."

"Hanya itu?" Tanya wanita itu dengan raut wajah tak yakin. Dan Chanyeol mengangguk dengan tak yakin juga, "Sebenarnya, ada satu hal lagi. Tapi rasanya sangat tidak pantas apabila saya mengatakan hal ini kepada Anda."

"Katakan dan aku tidak akan menceramahi dirimu Park Chanyeol."

Chanyeol menelan ludahnya gugup, "Saya- saya mencium Byun Baekhyun."

Tak dipungkiri kepala sekolah Kim terkejut mendengar penuturan Chanyeol.

"M-mencium? Mencium bibir maksudmu?"

Chanyeol mengangguk dengan wajah merahnya.

"Astaga! Aku tidak percaya kau melakukan ini Park Chanyeol. Aku mengerti jika kau dan Baekhyunie akan segera bertunangan tapi kau tidak juga melakukan tindakan seperti itu terlebih di sekolah."

"Tapi saya melakukan itu di rooftop, Kepala sekolah Kim."

"Sama saja! Itu masih kawasan sekolah. Bagaimana jika ada yang melihatnya?! Kalian tidak seharusnya melakukan seperti itu di kawasan sekolah. Aishh! Sepertinya saran Baekhyunie harus kulakukan."

Chanyeol merasa ada tanda-tanda tidak beres di sini.

"Maaf, apa maksud Anda?"

"Aku harus memberi skors untukmu. Di satu sisi aku tidak bisa mengabaikan begitu saja permintaan Baekhyunie dan di satu sisi perbuatanmu sungguh harus dipertanggung jawabkan. Aku harap kau tidak keberatan Park Chanyeol."

Dengan perasaan yang sangat kesal, Chanyeol terpaksa menyetujui keputusan kepala sekolah Kim. Chanyeol benar-benar kesal pada Baekhyun.

Awas kau Byun Baekhyun. Kau harus membayar lebih untuk ini!

Kenapa juga ia harus mencium makhluk sombong itu?

.

Di Minggu pagi, Baekhyun berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan tangan yang dilengkapi infus. Kemarin Baekhyun masuk ke rumah sakit setelah dinyatakan terkena sakit apendisitis, gangguan pada ususnya. Setelah menjalani operasi dan terbangun satu jam setelahnya, Baekhyun merengek kepada ibunya agar memindahkannya ke ruangan VVIP yang dilengkapi dengan televisi slim, kamar mandi dengan bathup kecil, sofa, dan lemari es. Tiffany yang awalnya tidak setuju terpaksa menuruti kemauan anaknya karena Baekhyun merajuk dan berkata bahwa ia sedang sakit dan perlu perawatan yang terjaga betul.

Baekhyun menerima telfon dari ayahnya. Sebenarnya Baekhyun sangat ingin ayahnya berada di sini menemaninya karena ayahnya selalu memanjakannya apabila dirinya sakit. Tidak seperti ibunya. Namun mengingat bahwa ayahnya telah bercerai dari ibunya satu tahun yang lalu, rasanya sangat tidak mungkin ayahnya kemari di saat ada ibnya yang menjaganya setiap waktu.

"Ne appa, aku janji tidak akan makan sembarangan."

Tiffany diam-diam mendengar apa yang diucapkan anaknya saat berbicara dengan mantan suaminya, meskipun ia berpura-pura sedang membaca majalah.

"Eomma masih menjagaku. Ku rasa aku tidak masuk sekolah besok. Apakah appa tidak ingin menjengukku?"

Baekhyun menarik selimutnya dengan wajah cemberut, "Aku mengerti. Baiklah sampai jumpa appa."

Setelah meletakkan ponselnya, Baekhyun menatap ibunya yang sedang duduk di sofa.

"Eomma tahu? Kata appa setelah aku sembuh aku akan diajak jalan-jalan ke Eropa berdua dengan appa. Katanya eomma tidak perlu diajak. Jadi nanti eomma sendirian. Nanti aku akan membeli parfume baru di Paris dan pasti semua orang di sekolah takjub karena aku punya parfume asli dari Paris." Baekhyun tertawa kecil dan sesekali memegangi bagian perutnya. Jahitan bekas operasinya belum kering omong-omong.

"Jinjja?! Lalu eomma harus iri begitu? Tidak sama sekali." Ucap Tiffany. Namun dalam hatinya ia benar-benar merutuki mantan suaminya yang sudah mencuci otak anak mereka.

Tok Tok Tok

Ketukan di pintu ruangan VVIP itu terdengar dan Tiffany dengan segera membuka pintu untuk melihat siapa pengetuk itu.

"Ah Sooyoungie, ayo masuk."

Seorang wanita dengan postur tubuh tinggi memasuki ruangan Baekhyun dan tersenyum manis, "Baekhyunie bagimana kabarmu? Ah ahjumma mengajak Chanyeol kemari loh."

Dan baru saja Baekhyun terkejut dengan kalimat yang dilontarkan teman ibunya, seorang lelaki tinggi yang begitu menjengkelkan di matanya memasuki ruangannya dengan membawa sebuket bunga dan keranjang buah stroberi di masing-masing tangannya.

"Hai Baekhyunie ku. Aku merindukanmu." Chanyeol berucap dengan seringai di wajahnya. Tak dipungkiri sejak tiga hari yang lalu ia kena skors dan tidak bertemu dengan Baekhyun, membuatnya rindu untuk menjahili lelaki mungil itu.

Ayo kita bermain lagi Byun Baekhyun.

.

.

.

Tobecontinue

Well aku update cepet karena efek galau exoluxion INA T.T aku gak edit lagi jadi maaf jika ada typo dan maaf chapter ini masih pendek. chap depan aku usahain bakal lebih panjang

.