Kedua bocah lelaki berjaket itu sedang menikmati bekal mereka. Hari ini, keluarga Byun dan keluarga Park pergi bersama untuk piknik di sebuah taman kota. Hari Minggu memang hari yang cocok untuk dijadikan hari berkumpul bersama keluarga.
Baekhyun dan Chanyeol yang saat itu masih berusia delapan tahun duduk bersama menghadap ke sebuah danau buatan. Ada burger di tangan kanan Chanyeol dan pria kecil itu hendak memberikannya pada sang teman yang juga sedang meminum susu stroberinya.
"Ini untuk Baekhyunie saja." Ucap Chanyeol dengan menyerahkan burgernya. Baekhyun menatapnya cengo, "Bukankah itu punya Chanyeolie? Untuk apa diberikan padaku? Aku sudah punya sendiri."
"Tidak apa-apa. Ini untuk Baekhyunie saja." Chanyeol tetap kekeuh dengan pendiriannya.
"Baiklah." Pada akhirnya Baekhyun menerima burger itu dari Chanyeol, "Terima kasih."
"Chanyeol suka pada Baekhyunie. Bagaimana denganmu? Apa kau juga suka padaku?" Tanya Chanyeol kepada temannya. Baekhyun sontak menggeleng dengan raut yang sedih, "Tidak."
"Kenapa tidak?"
"Ya karena tidak saja. Chanyeolie suka sama orang lain saja. Jangan padaku."
Chanyeol menatap sepatunya, "Begitu ya? Baiklah, aku tidak akan suka lagi pada Baekhyunie."
Dengan polosnya Chanyeol kecil berkata seperti itu. Mungkin saat itu ia masih terlalu kecil untuk mengerti tentang perasaan 'suka' nya. Chanyeol berkata bahwa ia tidak akan menyukai Baekhyun lagi. Namun, di seluruh penjuru dunia pun mengerti bahwa sebuah perasaan suka tidak akan hilang begitu saja dan pasti masih tertinggal sedikit meskipun kita menyukai orang yang berbeda.
Seharusnya Chanyeol menyadari itu. Namun ia menghiraukannya dan menganggapnya hanya gurauan anak kecil.
Eomma Jinjjayo!
Cast : Chanyeol and Baekhyun
Other cast : Exo's member, Tiffany Hwang, Choi Sooyoung.
Genre : romance, drama, little bit humor(?)
Don't like don't read
Happy Reading
..
.
.
"Chanyeolie membawakan bunga dan buah stroberi untukmu. Semoga kau cepat sembuh ya Baekhyunie. Uri Chanyeol khawatir padamu lho sampai susah tidur semalam."
Chanyeol yang merasa namanya disebut-sebut segera melotot horror kepada ibunya. bagaimana bisa ibunya mengada-ada seperti itu? Mana mungkin ia mengkhawatirkan Baekhyun? Yang benar saja!
"Wah manis sekali uri Chanyeol mengkhawatirkan uri Baekhyun." Tiffany heboh sendiri dengan kalimatnya. Memang sepertinya kedua wanita di ruangan itu sangat ingin menjodohkan anak mereka.
Baekhyun dan Chanyeol hanya mampu memutar bola mata mereka malas.
"Eomma, aku haus." Baekhyun berbaring dan tangannya melambai-lambai ke arah ibunya untuk meminta air mineral. Namun baru saja Tiffany akan mengambilkan air mineral, Sooyoung mencegahnya.
"Biar Chanyeol saja yang ambilkan untuk Baekhyunie, Fany-ya." Sooyoung tersenyum manis kepada anaknya, "Cepat ambilkan Baekhyunie minum Chanyeol! Dia kehausan!"
Chanyeol yang sebenarnya sangat malas meladeni ibunya untuk mengambilkan air minum untuk anak manja itu, dengan terpaksa mengambil segelas air mineral dan menyerahkannya kepada Baekhyun dengan setengah hati. Baekhyun yang memang pada dasarnya tidak tahu terima kasih hanya berdehem dan meneguk minumnya. Setelah itu kembali menyerahkan gelasnya kepada Chanyeol saat sudah habis.
"Chanyeol, Baekhyun kami akan berbincang-bincang di café depan rumah sakit. Telfon eomma jika kau merasa tidak enak badan ne?" Tiffany mengecup dahi Baekhyun. Sooyoung menghampiri anaknya dan mengelus rambutnya, "Jaga Baekhyunie sampai kami kembali. Jika terjadi sesuatu padanya kau akan eomma beri hukuman." Ancaman Sooyoung tak dapat membuat Chanyeol takut. Lelaki itu justru memutar bola matanya malas. "Arraseo."
"Baiklah sampai jumpa anak-anak."
BLAM
Saat pintu ruangan itu tertutup, Baekhyun menguap, "Ambilkan aku remote televisinya Chanyeol." Ucapnya dengan nada memerintah dan tangannya melambai-lambai seperti sedang mengusir orang.
Chanyeol mendengus dan melipat kedua tangannya di dada, "Kau ini mabuk apa masih dalam efek obat bius? Ambil saja sendiri. Bahkan jarakmu dengan remote itu lebih dekat dari jarakku." Setelah mengucapkan hal itu, Chanyeol melengos dan duduk di sofa yang tadi diduduki oleh Tiffany. Membuka majalah yang tertumpuk di meja dan membuka salah satu majalah otomotif.
"Apa kau tidak mendengar ucapan eomma mu tadi? Kau ingin aku mengambilnya sendiri di saat jahitan perutku belum kering?!" Baekhyun menyeringai saat melihat Chanyeol yang menatapnya dengan pandangan jengah. Aku menang Park, batinnya.
"Apa tanganmu kurang panjang untuk mengambil remote yang terletak di meja sebelah ranjangmu? Dasar bayi. Ambil sendiri!" Chanyeol balas menyeringai saat melihat wajah Baekhyun yang merah padam karena kesal. "Ngomong-ngomong Baekhyunie, berhubung hanya ada kau dan aku di sini, juga aku yang berkuasa atas semua yang terjadi di sini, maka mau tidak mau kau harus menuruti semua yang aku katakan." Chanyeol kembali membuka majalah yang ada di tangannya.
"Yang benar saja? Ini ruanganku jadi kau yang seharusnya melayaniku." Baekhyun tak mau kalah dengan Chanyeol. "Jika kau tak mau menurutiku, aku akan mengadu pada Park ahjumma biar kau dimarahi."
"Dasar tukang pengadu." Gumam Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya pada majalah.
"Oh ya bagaimana hari-harimu? Bagaimana rasanya di skors? Enak bukan? Kau jadi bisa membolos tanpa alasan." Baekhyun tak berhenti untuk mengejek Chanyeol. Ia menodongkan remote yang telah diambilnya ke arah Chanyeol, "Kau tertinggal banyak pelajaran. Aku yakin nilaimu akan turun."
"Aku telah meminta Sehun untuk merekam setiap jam pelajaran." Chanyeol berucap dengan santai.
Baekhyun kesal bukan main. Usahanya untuk membuat Chanyeol kena skors adalah agar lelaki itu tidak masuk sekolah dan tertinggal mata pelajaran. Dengan begitu Chanyeol akan tidak belajar dan nilainya turun sehingga nilainya bisa naik.
"Aku akan berkeliling ke taman. Kau di sini saja dan jangan bertindak macam-macam." Baru saja Chanyeol berdiri dan hampir membuka pintu, Baekhyun mencegahnya. "Hei! Jangan tinggalkan aku! Bagaimana jika aku butuh sesuatu dan kau tidak ada?"
"Hah?!"
"Iya! Bagaimana jika aku butuh ke kamar mandi? Aku tidak bisa berjalan sendiri. Ah! Aku ingin ke kamar mandi sekarang jadi ayo antarkan aku." Baekhyun menjulurkan kedua tangannya manja kepada Chanyeol. "Ayo antar aku. Aku ingin ke kamar mandi."
Chanyeol menghampiri Baekhyun dengan seringai di wajahnya, "Wow ada apa ini? Kau ingin aku menemanimu ke kamar mandi? Sebenarnya apa tujuanmu hm? Kau ingin aku melihatmu membuka celana di hadapanku dan pipis tepat di hadapanku begitu?"
"Ap-APA?! T-tidak! Aku hanya memintamu mengantarku dan kau harus menunggu di luar saat aku sedang pipis. Kau tentu saja tidak usah masuk." Wajah Baekhyun memerah.
"Tidak bisa seperti itu Byun Baekhyun. Jika aku mengantarmu ke kamar mandi, aku juga harus ikut masuk ke dalam. Bagaimana jika tiba-tiba kau terpeleset? Siapa yang akan menolongmu di dalam?" Chanyeol semakin mendekat ke arah Baekhyun yang mana membuat lelaki yang lebih mungil waspada.
"Aku tidak mungkin terpeleset."
"Tidak. Aku harus tetap ikut masuk ke dalam. Ayo aku akan menggendongmu ke kamar mandi."
Dengan tiba-tiba Chanyeol menyelipkan tangan kanannya di bawah lutut Baekhyun dan tangan kirinya menopang punggung kecil itu. Baekhyun memekik terkejut dengan perlakuan Chanyeol. Kakinya yang menggantung berayun dengan cepat. Chanyeol segera membawa tubuh itu ke dalam kamar mandi yang masih berada di ruangan yang sama.
"Yak! Chanyeol! Turunkan aku!"
"Ssstt jangan bergerak nanti kau jatuh sayang." Chanyeol mengeratkan gendongannya dan dengan perlahan menurunkan Baekhyun dan mendudukkan anak itu di closet yang tertutup.
Baekhyun memukuli perut Chanyeol yang berdiri di depannya dengan brutal.
"Pabo! Pabo! Pabo! Bagaimana jika aku jatuh tadi? Bagaimana?! Chanyeol pabo!"
Tangan kecil yang memukul-mukul perutnya itu ia tahan, "Tapi sekarang kau baik-baik saja bukan?"
"Tapi tetap saja Chanyeol! Ishh.."
"Ya sudah, cepat sana pipis. Katanya mau pipis."
Pipi Baekhyun seketika merona mendengarnya. Chanyeol itu polos atau memang pervert sih? Mana bisa ia pipis sedangkan ada orang lain yang jelas-jelas menatap alat kelaminnya mengeluarkan cairan urine. Itu sangat memalukan dan Byun Baekhyun tidak akan pernah mempermalukan dirinya sendiri seperti itu.
"Keluar sana! Biar aku pipis sendiri!"
"Shireo! Aku akan menemanimu di sini. Tenang saja, aku tidak akan mengintip. Toh punyamu itu pasti kecil dan tidak menarik. Yah meskipun nanti saat kita menikah benda itu akan sering terpakai oleh tanganku, oh! Atau mungkin oleh mulutku? Hm, siapa yang tahu." Chanyeol tidak terlalu bodoh untuk tidak menyadari wajah dan telinga Baekhyun yang memerah bukan main saat Ia mengucapkan kata-kata vulgar itu.
Hahaha apa dia menganggap hal itu serius? Lucunya..
Duk!
"Akh- sial!"
Baekhyun tersenyum menang. Dengan sengaja ia menendang selakangan Chanyeol dengan kaki kanannya. Siapa suruh ia menggoda Byun Baekhyun. Lihat sekarang, Chanyeol memegangi daerah sensitive itu dengan kedua tangannya. Baekhyun yakin itu pasti nyeri dan berdenyut-denyut.
"Yak! Apa kau sengaja?!"
"Memang aku sengaja. Kenapa? Tidak suka?" balas Baekhyun kelewat santai.
"Kau! Apa kau tidak punya bagian lain yang bisa ditendang hah?! Bagaimana jika milikku lecet?! Atau mungkin berdarah?! Sakit sekali, astaga masa depanku!" Chanyeol berucap dramatis dengan tangan yang masih menutupi selakangannya. "Jika masa depanku rusak. Kau harus bertanggung jawab! Kau juga yang akan rugi jika milikku rusak Byun! Kau tidak akan bisa merasakan milikku yang masuk ke hole muh!"
"Yak! Yak! Enak saja! Peduli apa aku dengan masa depanmu?! Bahkan jika itu menyebabkan kau tak bisa ereksi lagi, aku akan sangat senang."
Chanyeol menggeram kesal. Ini benar-benar sakit. Tendangan Baekhyun tidak bisa disepelekan begitu saja.
"Lagipula siapa juga yang akan mau menikah denganmu Park?! Memangnya dunia sudah kehabisan stok lelaki tampan sehingga aku harus menikah denganmu."
Shit! Dia benar-benar menyebalkan. Tidak tahu kata maaf. Memangnya dia pikir aku juga mau menikah dengannya. Batin Chanyeol.
Cklek.
Suara pintu ruangan yang terbuka menyadarkan kedua anak adam itu yang sedang berada di kamar mandi.
"Baek- loh Baekhyun? Kau di mana sayang?" suara Tiffany terdengar.
"Chanyeol juga tidak ada." Itu suara Sooyoung.
Chanyeol melirik Baekhyun yang hendak bangkit dengan sebuah seringai di bibirnya. Aku akan membalasmu Byun Baekhyun.
Dengan cepat Chanyeol kembali mendudukkan Baekhyun di atas closet. "Ap-mmh!" telapak tangan kanannya segera membungkam bibir Baekhyun dan tangan kirinya mulai merambat ke perut bawah Baekhyun. Membuat mata sipit itu membulat merasakan sebuah tangan yang berjalan menuju area bawahnya.
"Di mana mereka? Apa Chanyeol membawanya jalan-jalan?" sayup-sayup terdengar Sooyoung yang berbicara.
Tangan kiri Chanyeol sudah berada di depan selakangan Baekhyun. Wajahnya yang hanya berjarak sepuluh senti dengan wajah Baekhyun terlihat menyeringai. "Ayo kita selesaikan babak permainan pertama hm?" Dan tangan kiri itu dengan kecepatan yang tak mampu dihitung Baekhyun menekan dan sedikit meremas penisnya yang masih terbalut celana dalam dan celana rumah sakit yang tipis. Chanyeol segera membuka bungkaman tangannya demi mendengar suara Baekhyun.
"Aaahh Chanhhh.."
Yang ia yakin seratus persen akan terdengar di kedua telinga wanita yang berada di luar kamar mandi.
Tiffany dan Sooyoung membulatkan kedua matanya mendengar desahan Baekhyun.
.
.
.
.
Tobecontinue
.
a/n /: well, kok ini nyerempet ke rate M ya? wkw
