Recommended song : Jin – Gone
..
.
.
December 31st 2014
Pemberitahuan kepada seluruh penumpang Korean Airlines bahwa pesawat akan mendarat sepuluh menit lagi di Los Angeles Internasional Airport. Mohon untuk seluruh penumpang bersiap-siap. Terima kasih.
Baekhyun menguap dan meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku karena menempuh penerbangan yang lumayan lama. Awan putih terlihat dari jendela pesawat di sampingnya. Tangannya bergerak untuk mengusap jendela yang tertutup oleh embun. Telapaknya terasa dingin. Baekhyun hampir lupa jika Amerika pasti lebih dingin daripada di Korea.
Seseorang menepuk bahu kanannya saat Baekhyun sibuk memandangi langit cerah di luar pesawat.
Ibunya tersenyum hangat dan memuat Baekhyun ikut tersenyum karenanya.
"Bagaimana perasaanmu?"
Baekhyun diam tak dapat menjawab. Dirinya bahkan masih belum tahu bagaimana perasaannya saat ini. Jika saja Luhan masih bersamanya, mungkin dirinya akan sangat senang karena dapat mengunjungi Benua Amerika bersama sang saudara.
"Semuanya akan baik-baik saja." Ucapan Ny. Byun seakan menjadi mantra untuk kekuatan hatinya. Baekhyun mengangguk, namun keresahan di wajahnya masih terlihat jelas. "Apa yang kau khawatirkan? Ceritakan pada ibu." Bujuk Ny. Byun.
"Entahlah ibu."
"Apa kau resah karena bingung tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik?" goda wanita paruh baya itu. Baekhyun tertawa kecil.
"Yang benar saja ibu. Aku bahkan jauh lebih pintar bahasa Inggris daripada Kyungsoo." Baekhyun meletakkan kepalanya di bahu sang ibu. "Bagaimana kabar ayah di belakang sana?"
"Dia baik-baik saja. Saat kau tidur, ayahmu bahkan berbicara banyak dengan kakek-kakek dari Thailand itu." Ny. Byun mengusap rambut anaknya sayang.
Baekhyun menatap keluar jendela dengan semangat saat kota Los Angeles telah terlihat di kejauhan. Salju yang turun di akhir bulan di Los Angeles sangat banyak dan membuat kaca jendela pesawat tertutup embun yang tebal.
"Pasti sangat dingin sekali di Los Angeles." Gumamnya. Ny. Byun masih dapat mendengar ucapan sang anak dan memeluk tubuh Baekhyun dengan erat.
"Kau akan terbiasa, nak. Korea juga dingin." Baekhyun membalas pelukan ibunya. "Ibu akan meminta sepupumu mengajakmu berkeliling nanti, bagaimana?" tawarnya.
"Boleh juga. Apa nanti aku sekolah di sekolahnya dengannya juga?"
"Tentu saja."
Tanpa sadar Baekhyun menghela nafas lega. Setidaknya nanti di sekolah baru, Baekhyun tidak merasa asing jika ada sepupunya. Dan setidaknya Baekhyun tidak merasakan masuk sekolah sendirian tanpa kehadiran orang-orang yang dikenalnya.
'Luhan, semoga aku bisa melewati ini semua meski tanpamu.'
.
.
January 1st 2015
"Aku mencintai Baekhyun."
Angin di musim dingin berhembus dan membuat tengkuknya meremang. Chanyeol mengeratkan mantel hitamnya masih tetap menatap tulisan tangan Baekhyun.
"Jika memang dia adalah Baekhyun, mengapa dia tidak menyapa ku saat itu?" Chanyeol tetap berbicara sendiri. Matanya bergulir ke arah makam dihadapannya. "Apa yang ada dipikiran saudaramu Lu?"
"…"
"Apakah menurutmu Baekhyun masih menyukaiku?"
"…"
"Apakah dia tidak membenciku? Lalu di mana dia sekarang? Aku tidak bisa menemui saudaramu Lu.."
Chanyeol menata setiap bunga matahari di atas makam. Pandangannya kosong, pikirannya melayang entah kemana. Mengikuti segala kemungkinan apa yang terjadi kepada Baekhyun.
"Aku akan menemuinya di rumah setelah ini." Chanyeol berdiri. "Aku akan mengunjungimu lagi Luhan, sampai jumpa."
Ia mulai menuruni bukit pemakaman dan memasuki mobilnya. Sudah ia putuskan untuk menemui Baekhyun di rumahnya, menyakan kabarnya, menanyakan mengapa lelaki itu tidak membalas pesannya. Mobil itu mulai berjalan meninggalkan area perbukitan, menuju rumah keluarga Byun.
Suasana di perkotaan sangat ramai dengan perayaan khas tahun baru. Chanyeol mengendarai mobil perlahan karena banyak pejalan kaki yang berlalu-lalang. Tahun baru ini sungguh berbeda dengan tahun lalu. Chanyeol sangat tidak menemui keceriaan dalam dirinya. Chanyeol tidak menikmati momen tahun barunya. Bahkan beberapa ajakan teman-temannya untuk ke pesta perayaan tahun baru ia tolak semuanya.
Entahlah, Chanyeol merasa ada yang kurang. Tidak tahu apakah itu karena kematian Luhan, atau hilangnya kontak antara ia dan Baekhyun. Chanyeol tak tahu pasti.
"Apa yang terjadi padaku?" Kepalan tangannya berkali-kali memukul setir mobil. Kesunyian di dalam mobil menemani perjalanan Chanyeol menuju kediaman Baekhyun.
Setelah berbelok di persimpangan terakhir perumahan besar itu, Chanyeol melihat Tuan Kim keluar dari rumah Baekhyun sendirian. Dengan cepat Chanyeol berhenti dan keluar dari mobilnya untuk mengejar kaki tangan Tuan Byun.
"Tuan Kim!" Chanyeol berlari untuk menyusul lelaki paruh baya itu. Tuan Kim berhenti dan berbalik untuk menemui Chanyeol berlari ke arahnya.
"Chanyeol?"
"Iya Tuan Kim, saya ingin bertanya sesuatu. Apakah Baekhyun ada di rumah? Aku ingin menemuinya karena dia tidak menghubungiku sama sekali. Aku khawatir kepadanya."
Lelaki paruh baya itu terkejut dengan penuturan Chanyeol. "Apa Tuan muda tidak mengatakannya padamu, nak?"
Chanyeol menggeleng dengan heran. Alisnya bertaut tidak mengerti. "Mengatakan apa? Apakah ada sesuatu yang tidak ku mengerti di sini?"
"Keluarga Byun telah pergi ke Los Angeles lusa kemarin Chanyeol, mereka akan menetap di sana."
Tuan Kim menatap prihatin pada Chanyeol. Apakah Tuan muda tidak memberitahu lelaki ini? Pikirnya.
"Apa?! Mereka menetap di Los Angeles?! Mereka tidak kembali maksud Anda?" Tuan Kim mengangguk menjawabnya. Chanyeol mengusap wajahnya kasar. Tidak terasa sudut matanya telah berair. Perasaannya campur aduk antara sedih, terkejut, dan kecewa. Kecewa karena Baekhyun tidak mengatakan apapun padanya, bahkan di saat lelaki mungil itu akan pergi untuk waktu yang lama.
"Apa mereka akan kembali ke Korea?"
"Entahlah Chanyeol. Tapi Tuan Byun menyuruh saya tinggal di rumah ini untuk berjaga-jaga apabila beliau akan pulang ke Korea untuk bisnis. Tuan Byun memutuskan untuk menjalankan bisnis perusahaan milik ayahnya dulu yang sempat dipegang oleh sepupunya. Beliau juga akan membantu adik iparnya yang ada di Los Angeles untuk mengatur perusahaan."
"Apakah di sana ada saudara mereka yang tinggal?" Tanya Chanyeol.
"Adik dari Tuan Byun ada di Los Angeles. Mereka mempunyai anak yang seumuran dengan Tuan Muda, oleh karena itu Keluarga Byun memutuskan untuk memindahkan Tuan Muda kesana agar mempunyai teman."
Chanyeol tidak tahu lagi bagaimana caranya agar bertemu dengan Baekhyun dalam waktu dekat. Lelaki itu sekarang telah berada di benua yang berbeda dengannya. Mereka sangat jauh dan itu membuat Chanyeol menyatukan kedua alisnya bingung. Sepertinya Baekhyun sengaja untuk tidak mengabarinya. Apa Baekhyun sudah tidak menyukainya lagi? Apa dirinya telah terlambat untuk semua salah paham yang membuat semuanya menjadi sangat rumit dari awal.
Rambut hitamnya teracak begitu saja membuat Tuan Kim menampilkan mimik wajah menyesal pada pemuda itu. "Aku sangat menyesal Chanyeol. Mereka berangkat sangat cepat bahkan di hari setelah pemakaman Luhan."
"Tidak masalah, terima kasih telah memberi tahu semuanya." Chanyeol pamit untuk segera pergi. Wajahnya penuh dengan perasaan mengganjal. Hatinya benar-benar sakit mengetahui bahwa sulit untuk bertemu dengan Baekhyun.
Sesaat setelah memasuki mobil, Chanyeol memutuskan untuk pulang dan memikirkan bagaimana caranya dia dapat kembali bertemu dengan lelaki yang ternyata dicintainya. Ini semua terlambat. Waktu telah membuat Chanyeol terlambat mengatakan pada lelaki itu tentang apa perasaannya sesungguhnya.
Mobil itu melaju lirih membelah jalanan kota Seoul yang ramai. Semua keramaian di luar tampak samar-samar terdengar olehnya. Hanya sunyi yang dapat Chanyeol rasakan saat ini.
"Baekhyun-ah mianhae.."
.
Hari pertama sekolah di tahun ini sangat tidak menarik bagi Chanyeol. Sekolah semakin tidak menarik tanpa adanya Luhan maupun saudaranya. Mengingat nama Baekhyun semakin membuat Chanyeol murung di pagi hari.
Chanyeol berencana akan datang ke kelas lama Baekhyun dan bertanya-tanya kepada teman satu bangkunya. Ia merasa kurang dengan penjelasan Tuan Kim kemarin, maka dari itu Chanyeol berniat bertanya kepada teman Baekhyun. Dirinya sangat yakin bahwa Baekhyun pasti mengatakan suatu hal pada teman akrabnya.
"Permisi, siapa teman dekat Baekhyun di kelas?" Chanyeol menghadang seorang gadis berambut pendek yang akan keluar kelas. Gadis itu menunjuk seorang lelaki bermata bulat yang sedang memainkan ponselnya. "Terima kasih."
Saat Chanyeol telah berdiri di depan bangku Baekhyun, lelaki bermata bulat itu mendongak.
"Ada apa?" tanyanya. "Sepertinya aku tahu kau, kekasih Luhan benar?"
Chanyeol mengangguk dengan canggung. "Boleh aku duduk di sini? Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu."
Kyungsoo mengangguk memperbolehkan Chanyeol duduk di kursi lama Baekhyun.
"Kau teman dekat Baekhyun?" Chanyeol memulai dan Kyungsoo mengangguk. "Apakah kau tahu jika Baekhyun pindah ke Amerika?"
Tiba-tiba Kyungsoo menegang mendengar ucapan Chanyeol. Bagaimana lelaki di depannya ini tahu keberadaan Baekhyun? Bukankah hanya dirinya yang mengetahui kemana Baekhyun akan pindah. Reaksi Kyungsoo membuat Chanyeol menaruh curiga pada lelaki di depannya.
"Apa Baekhyun melarangmu mengatakan kepindahannya pada semua orang?" Seakan tahu apa isi pikiran Kyungsoo, Chanyeol menebak apa yang membuat lelaki itu tampak resah. Baekhyun benar-benar sengaja membuat hubungan mereka berdua terputus. Sebenarnya apa motif saudara kembar Luhan itu? Chanyeol benar-benar tidak habis pikir.
"Aku tahu hal itu sendiri, jadi apa benar Baekhyun pindah? Apa kau tahu dia akan kembali ke Korea atau tidak?"
"Entahlah, aku juga tidak yakin. Baekhyun tidak mengatakannya dengan pasti." Kyungsoo berbicara sangat lirih bahkan bibirnya seperti tidak bergerak saat berbicara. Lelaki itu menunduk dengan pandangan sendu. "Dia pergi dengan terburu-buru siang itu, dan aku hanya memiliki waktu singkat untuk mengucapkan salam perpisahan."
Chanyeol menatap dengan sedih kepada Kyungsoo. Dia tidak ingin membalas ucapannya terlebih dahulu seakan tahu bahwa lelaki bermata bulat itu masih ingin melanjutkan kalimatnya.
"Tapi dia telah berjanji akan mengabariku lewat email sesering yang ia bisa." Buku tulis di depannya menjadi sasaran Kyungsoo untuk menulis sesuatu secara acak. "Aku menunggunya mengirim pesan tapi dia belum melakukannya."
"Bolehkah aku meminta alamat emailnya?"
"Tentu saja." Kyungsoo menyobek sebuah kertas kecil dari buku tulisnya dan menulis sesuatu di sana kemudian memberikannya pada Chanyeol. "Ku harap ini sedikit membantumu Chanyeol-ssi. Kalau boleh tahu, mengapa kau ingin mencari keberadaan Baekhyun? Apakah ada sesuatu yang penting?"
Chanyeol memasukkan kertas bertuliskan alamat email Baekhyun ke dalam sakunya dan menatap Kyungsoo. "Terima kasih dan ya, ada sesuatu yang belum sempat aku katakan padanya dan itu sangat penting."
"Semoga kau bisa menyelesaikan masalahmu dengan Baekhyun."
"Terima kasih. Aku harap Baekhyun cepat kembali dari Amerika."
"Aku juga berharap yang sama denganmu."
.
January 2nd 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : Ini Chanyeol
Hai Baekhyun-a, aku mendapatkan email mu dari Kyungsoo. Jangan menegurnya karena aku yang memaksa. Baek, kenapa kau pergi? Bagaimana keadaanmu? Aku tahu kau tidak ingin peduli tapi, aku sedikit buruk saat mengetahui kau pergi meninggalkan Korea. Jangan Tanya bagaimana aku tahu kau pergi. Baek, jika kau membaca pesan ini tolong balaslah.
Sekali lagi Chanyeol membaca ulang pesannya untuk Baekhyun dan kemudian mengirimnya dengan perasaan resah.
.
January 4th 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : -
Baekhyun-a mengapa kau belum membalas pesanku? Apakah kau memang tidak ingin membalasnya? Atau kau belum membaca pesanku? Katakan padaku jika kau baru membaca pesanku.
Sepulangnya dari latihan band di akhir pekan, Chanyeol kembali mengirim sebuah pesan elektronik saat melihat tidak ada balasan pesan dari Baekhyun di emailnya.
.
January 8th 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : Balas pesanku please
Aku yakin kau pasti masih sibuk dengan kepindahanmu. Tolonglah Baek, jika membaca pesan ini balas ya? Apakah kau juga membalas pesan dari temanmu si mata bulat?
Byun baekhyun apa kau baik-baik saja di Los Angeles? Rasanya aku ingin ke Amerika sana untuk bertemu denganmu.
Saat pulang sekolah, Chanyeol berhenti di tengah koridor hanya untuk melihat kembali akun emailnya. Ia sangat berharap Baekhyun membalasnya, namun sebuah harapan hanya sebuah harapan belaka. Baekhyun tidak membalas pesannya untuk kedua kalinya. Maka Chanyeol kembali mengetik sebuah pesan dan dikirimnya untuk si lelaki mungil yang ada di Los Angeles.
.
January 30th 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : -
Ini sudah satu bulan sejak kau meninggalkan Korea. Aku tahu ini aneh tapi.. aku merindukan kehadiranmu. Bukan. Bukan karena aku terbayang oleh Luhan, aku juga merindukannya, tapi aku juga merindukanmu. Merindukan sosok Byun Baekhyun.
Chanyeol meneguk segelas susu hangat pemberian ibunya dan kembali membaca pesannya yang telah terkirim kepada Baekhyun dua menit yang lalu. Susu hangat itu mampu membuatnya sedikit merasa hangat di malam hari yang dingin. Dan Chanyeol tanpa sadar tertawa kecil membaca kalimat terakhir di pesannya.
.
February 8th 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : hai
Selamat hari Minggu Baekhyun.
Setelah selesai menemani ibunya ke gereja, Chanyeol merasa bosan dan menemukan dirinya kembali mengirim sebuah pesan amat singkat kepada si penghuni Los Angeles siang itu. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh siang.
.
February 16th 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : menjelang ujian Baek
Baek, dua minggu lagi aku akan ujian kenaikan kelas. Bagaimana denganmu? Kapan ujian mu berlangsung? Apakah pelajaran Amerika lebih sulit? Apakah kau tidak kesusahan membaca buku penuh alphabet?
Jam kosong guru Cho dan Chanyeol memanfaatkannya untuk mengirim pesan untuk Baekhyun meskipun Chanyeol yakin 102% Baekhyun tidak akan membalasnya. Well, waktunya mendengarkan lagu di ponsel.
.
March 9th 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : semangati aku
Hari pertama ujian dan langsung sukses dalam biologi. Biologi membuatku merasa lebih baik.
Bagaimana denganmu Baek? Apa kau suka biologi? Luhan dulu sangat membenci biologi dan lebih memilih fisika. Yang benar saja? Fisika itu sulit sekali.
Hah! Besok fisika. Aku harus semangat.
Ah aku hampir lupa. Bukankah sekarang Kim Taeyeon SNSD sedang ulang tahun? Bukankah dia idolamu? Luhan mengatakannya padaku lho..
Malam itu, Chanyeol mengirim sebuah pesan lagi. Setelah itu Chanyeol memainkan play station miliknya, tapi hanya tiga menit berlangsung sampai Ny. Park memergoki anaknya bermain PS di malam seharusnya dia belajar fisika untuk ujian besok. Chanyeol hanya tersenyum lebar dengan idiotnya.
.
March 29th 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : -
Ujian telah selesai beberapa hari yang lalu sebenanrnya. Tapi aku terlambat mengirim pesan padamu karena aku harus ikut mengurus perencanaan pesta perpisahan para senior yang diadakan satu bulan lagi. Tebak siapa yang akan menjadi guest star di acara perpisahan? TTS Baek! Kau pasti akan lompat-lompat dengan semangat jika kau masih berada di sini. Aku janji akan membawakan foto dan tanda tangan Taeyeon untukmu. Jadi kau tenang saja. Aku harus tidur Baek, sampai jumpa dan selamat malam ^^
Chanyeol menatap langit-langit kamarnya dengan sebuah senyum lebar di wajah. Dia membayangkan bagaimana jadinya jika Baekhyun mendapatkan tanda tangan dan foto asli idolanya. Pasti lelaki hiperaktif itu akan berteriak sambil mengelilingi lapangan. Ia ingat dulu Luhan pernah bercerita saat Baekhyun dan Luhan menghadiri acara fansign girlband terkenal itu. Saat dalam perjalanan pulang Baekhyun tak berhenti memekik dan saat tiba di rumah ia langsung mencium ayah dan ibunya dengan semangat. Dia bahkan mencium telapak tangannya sendiri karena bekas dari jabat tangannya dengan sang idola.
"Baekhyun itu tingkahnya benar-benar seperti anak kecil."
.
April 8th 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : -
Hei Baek, hari ini pengumuman hasil ujian. Tebak aku peringkat berapa? kau pasti tidak mengiranya. Aku peringkat ke 20! Hebat bukan? Yah aku tahu aku tidak masuk sepuluh besar, tapi setidaknya aku ada peningkatan. Kali ini yang menduduki peringkat ke 100 adalah seorang perempuan! Itu pasti sangat memalukan. Hey Baek, aku merindukanmu..
Di pinggir lapangan basket, Chanyeol duduk dengan sebuah handuk di lehernya. Jongin mengejeknya sedang mabuk cinta saat tiba-tiba Chanyeol berhenti bermain basket dan ijin untuk mengirim pesan ke seseorang. Chanyeol tidak mengelak. Dia hanya tersenyum tipis.
.
May 3rd 2015
Hari ini Chanyeol berniat untuk mengirim sebuah foto yang menunjukkan sebuah snapback bertanda tangan Taeyeon dan foto leader girlband SNSD itu, namun saat ia melihat ada sebuah pesan masuk di emailnya, Chanyeol harus menampar pipinya sebanyak tiga kali untuk memastikan bahwa dirinya sadar 100% saat membaca alamat email milik Baekhyun hadir di kotak masuknya. Hanya ada satu pesan dan Chanyeol sangat takut untuk membukanya. Entah karena apa.
Tapi setelah hampir lima menit dengan rasa antara percaya dan tidak, Chanyeol mulai mengarahkan anak panah di laptopnya dan mengklik pesan dari Baekhyun.
"Demi Tuhan, semoga sesuatu yang baik."
Dan Chanyeol menyadari ada setetes keringat jatuh dari dahinya padahal Air conditioner di kamarnya masih menyala. Chanyeol snagat gugup dan membuatnya begitu berkeringat.
.
April 26th 2015
From : byunbaekhyun06 to : chanyeolpark
Title : biologi
Aku tidak suka biologi. Aku suka fisika. Biologi sangat buruk dan semua penggemarnya adalah buruk. Kenapa kau membenci fisika? Fisika itu asik kau tahu
Kau sudah berjanji akan memberikan foto dan tanda tangan Taeyeon noona! Jangan ingkari atau aku akan membunuhmu!
Dasar si payah peringkat dua puluh
.
Awalnya Chanyeol sedikit heran mengapa judulnya biologi, namun Chanyeol tidak peduli dan terus membaca pesan singkat Baekhyun. Membaca berulang kali. Chanyeol tak bisa menahan senyum lebarnya membaca sederte kalimat lucu dari Baekhyun. Lelaki itu benar-benar seperti anak kecil.
Itu sangat lucu dan Chanyeol menyukainya.
.
May 3rd 2015
To : byunbaekhyun06 from : chanyeolpark
Title : aku janji
Aku janji akan menyukai fisika dan akan mendapatkan nilai 100
Aku janji akan membawakan foto dan tanda tangan Taeyeon noona
Aku janji akan meningkatkan peringkatku semester depan dan seterusnya
Aku janji akan melakukan itu semua asal kau juga berjanji akan kembali menemuiku.
.
Malam itu Chanyeol tidur dengan sangat nyenyak.
.
Sejak hari di mana Baekhyun membalas pesannya walau hanya pesan singkat, Chanyeol tidak pernah lagi mengirim pesan pada Baekhyun. Lelaki itu memilih untuk fokus kepada semua janjinya pada Baekhyun. Dia harus yakin Baekhyun membaca pesan terakhir yang dikirimnya.
Lelaki mungil itu harus berjanji untuk kembali kepadanya apapun yang terjadi. Chanyeol yakin Baekhyun akan berjanji. Dan Chanyeol yakin lelaki itu tidak akan meninggalkannya.
Kalau Baekhyun tidak berjanji untuk menemuinya, maka dialah yang akan menemui lelaki itu.
.
.
Makan siang di hari Minggu memang saat yang tepat untuk Chanyeol menyuarakan keinginannya kepada orang tuanya. Chanyeol sangat yakin akan keputusannya kali ini.
"Ibu, Ayah, ada yang ingin aku katakan dan ini sangat penting." Ucapnya.
Ny. Park dan Tn. Park mengangguk memberi tanda anaknya untuk segera bicara.
"Aku- aku ingin saat lulus nanti berkuliah di Amerika."
Ny. Park membuka sedikit mulutnya sedangkan Tn. Park membulatkan matanya.
"Apa nak? Kau ingin apa?" Tn. Park bertanya untuk memastikan dirinya masih cukup muda untuk mengalami gangguan pendengaran.
Chanyeol meletakkan sumpitnya dan memandang orang tuanya bergantian. "Aku-" ia menunjuk dirinya sendiri. "Ingin berkuliah di Amerika. A.M.E.R.I.K.A. Ayah ibu, bolehkah? Boleh ya?" Chanyeol sengaja mengeja kata Amerika agar orang tuanya merasa jelas.
"Tapi, kenapa?" Jawab Ny. Byun. Wajahnya menunjukkan ekspresi antara ingin menangis dan murung. Chanyeol menghela nafas melihat ekspresi ibunya. Sungguh, ibunya itu seperti Baekhyun versi perempuan. Selalu mengeluarkan emosinya berlebihan.
"Ya umm-" Ia bingung sendiri saat mencari alasan. "Hanya ingin." Lanjutnya dengan tidak yakin pada ucapannya sendiri.
"Kenapa kau tidak ingin berkuliah di sini? Kenapa harus di Amerika?" Ibunya memojokkan posisinya dan Chanyeol sadar itu. Dengan sedikit mengerang, Chanyeol menjawab setelahnya. "Ibu tidak mengerti. Tidakkah ibu berpikir Amerika itu keren?"
Ny. Park mengerutkan dahinya.
Chanyeol menatap ibunya dengan ekspresi nyaris beraegyo.
"Begini, aku akan belajar di Amerika dengan sangat serius sampai aku akan meraih gelar sarjana dengan nilai tinggi. Dan ibu juga bisa membanggakan aku kepada teman-teman ibu seperti 'Anakku yang paling tampan, Chanyeol sekarang ada di Amerika untuk berkuliah', bukankah itu terdengar keren?" Chanyeol menatap sang ayah untuk meminta bantuan.
"Dan kau berjanji akan menjadi direktur di Olympus Group jika sudah kembali dari Amerika?" Ucapan tenang dari sang suami mendapat tatapan tidak percaya dari sang nyonya besar. "Yeobo, apa yang kau katakan?!"
Seakan mendapatkan sebuah jackpot besar, Chanyeol menatap sang ayah dengan berbinar. "Apa itu artinya ayah mengijinkan aku ke Amerika?" tanyanya menggebu-gebu. Sang ayah mengangguk dengan senyuman teduh di wajahnya.
"Yeobo!" Ny. Park tampak sangat kecewa dan sedih dengan keputusan suaminya. Bagaimanapun Chanyeol itu anak tunggal dan sangat disayangi olehnya. Chanyeol itu di matanya tetap menjadi Chanyeol kecil yang masih suka menangis jika ketahuan bangun dengan celana basah di pagi hari. Dan sekarang Chanyeol meminta untuk pergi merantau ke Amerika dengan tujuan belajar.
Chanyeol yang melihat ibunya bersedih langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri sang ibu seraya memeluknya dari belakang.
"Jangan sedih Bu, aku janji akan mengunjungi ibu saat ada hari libur panjang. Aku janji." Chanyeol mengecup pipi ibunya sayang. "Aku juga janji akan membawakan sesuatu yang special nanti saat kuliah ku selesai."
"Spesial?"
Chanyeol mengangguk. "Sangat special. Special bagiku."
.
Tiga bulan menjelang ujian kelulusan dan Chanyeol dibuat pusing dengan semua pelajaran yang akan diujikan. Chanyeol juga telah memilah semua universitas terbaik di Amerika. Dan ia menetapkan untuk memilih Columbia University yang terletak di New York untuk tempatnya berkuliah nanti. Sebenarnya Chanyeol sangat ingin berkuliah di Los Angeles agar kesempatan menemukan keberadaan Baekhyun semakin besar. Namun Tn. Park tidak mengijinkannya dan mengharuskan dirinya tinggal di New York, itulah sebabnya Chanyeol memilih Columbia University untuk tempatnya mencari ilmu –sekaligus mencari keberadaan Baekhyun.
Berat badannya turun tiga kilogram selama menjelang ujian dan menyebabkan pipinya tirus. Namun Chanyeol menikmati apa yang ia kerjakan, semua itu semata-mata untuk tujuannya menemukan Baekhyun. Chanyeol jadi semakin tidak sabar menjalani ujian kelulusan dan segera ke Amerika.
Lebih dari satu tahun Baekhyun pergi meninggalkannya dan Chanyeol begitu penasaran bagaimana Baekhyun sekarang. Apa lelaki itu bertambah tinggi? Apa lelaki itu masih cerewet seperti dulu? Bagaimana dia sekarang? Apakah semakin cantik?
"Hey Chanyeol! Tak kusangka nilai fisikamu mendapat nilai 100! Dapat apa kau sampai-sampai menjadi jenius fisika huh?!" Jongin menepuk bahunya saat lelaki tinggi itu masih menatap pengumuman nilai ujian fisikanya yang mendapat nilai tertinggi bersamaan dengan nama Song Jinri dan Do Kyungsoo. Sebenarnya dirinya sendiri masih belum percaya, but see? Semua usahanya telah membuahkan hasil.
Kini kedua janjinya pada Baekhyun telah terpenuhi dan tak menutup kemungkinan janjinya yang ketiga akan terwujud.
"Kau lihat nama itu?" Jongin menunjuk nama Do Kyungsoo di kertas pengumuman yang tertempel di mading koridor. Beberapa siswa telah meninggalkan tempat itu. Chanyeol bergumam untuk menanggapi sahabatnya. "Dia adalah matahariku Chanyeol! Matahariku! Lihat betapa pintarnya dia! Meskipun kau juga mendapat nilai 100 sama sepertinya, tapi yakinlah bahwa Kyungsoo masih lebih pintar daripada kau." Jongin terkekeh di akhir kalimatnya.
"Ya aku tahu." Chanyeol memutar bola matanya malas. Lantas lelaki itu berjalan menuju kantin. Diam-diam menyunggingkan senyum. Ia merasa bangga akan dirinya sendiri.
'Lihat aku sekarang Byun Baekhyun'
"Yak! Kau mau kemana? Chanyeol besok biologi! Ajari aku!" Jongin berlari mengejar sahabat tingginyanyang masih tersenyum layaknya idiot.
.
Hari ini tepat dua minggu setelah ujian kelulusan selesai diselenggarakan. Banyak dari siswa-siswi bersama keluarganya menghadiri acara perpisahan sekolah. Begitupun dengan Chanyeol yang hadir bersama ayah dan ibunya.
"Ayah sangat bangga padamu, nak. Kau benar-benar berusaha keras." Tn. Park memeluk putranya di hari kelulusan.
"Terima kasih ayah." Chanyeol telah membuktikan kepada seluruh sekolah bahwa ia bisa meraih juara umum meskipun bukan yang pertama, namun cukup baik dalam tiga besar.
Ny. Park yang tadi sedang berbincang-bincang dengan ibu dari teman-teman Chanyeol segera menghampiri anak dan suaminya. "Ayo kita pulang dan merayakan ini."
Dan keluarga Park pamit undur diri dari sekolah setelah acara perpisahan dilaksanakan. Tn. Park telah memesankan tiket pesawat menuju New York lusa lalu dan Chanyeol akan berangkat esok hari dengan ditemani kedua orang tuanya karena Ny. Park ingin membantu sang anak menata perlengkapannya di apartemen barunya nanti, sekaligus untuk berlibur selama satu minggu di New York.
Chanyeol telah memutuskan untuk mengambil jurusan ilmu bisnis di universitas barunya nanti. Bagaimanapun juga ia ingin mewujudkan keinginan sang ayah agar mengambil alih Olympus Group yang saat ini dipegang oleh kakeknya sedangkan Tn. Park menjadi wakil presiden direktur perusahaan keluarga mereka. Chanyeol ingin membuktikan kepada keluarga besar mereka bahwa dirinya layak menjadi pewaris ke empat dari Olympus Group.
"Apa yang kau pikirkan heum?" Tanya Ny. Park pada anaknya. Chanyeol tersenyum, "Aku berpikir untuk mengunjungi Luhan besok sebelum kita berangkat Ibu."
"Itu ide yang bagus. Ngomong-ngomong, bukahkah Baekhyun ada di Amerika? Mungkin nanti kau bisa bertemu dengannya Chanyeol, tapi Amerika sangat luas, pasti sulit juga untuk kalian bertemu."
Chanyeol menegang seketika saat ibunya mengatakan nama Baekhyun. Sudah lama ia tidak berhubungan dengan Baekhyun. Bagaimana kabar lelaki itu?
"Jika Tuhan mengijinkan kami bertemu, lalu apa yang bisa kami lakukan?" gumamnya.
Jika Tuhan ingin kita bertemu, kau tidak akan pernah bisa menghindar dariku Baekhyun.
Dan hari itu Chanyeol habiskan untuk merayakan kelulusannya bersama keluarga dan teman-temannya. Tepat pukul sepuluh malam lebih lima menit, Chanyeol mengunggah sebuah foto di akun instagramnya. Sebuah foto berwarna hitam dengan kalimat berwarna putih di tengahnya. Kalimat bertuliskan 'I LOVE U'.
Chanyeol tersenyum setelahnya.
.
.
"Hai Lu, hari ini aku akan berangkat ke Amerika. Aku akan menetap di sana selama beberapa tahun. Aku akan kembali saat sudah saatnya. Aku akan kembali untuk membawakanmu sesuatu yang sangat berarti di hidupmu."
Chanyeol meletakkan sebuah rangkaian bunga matahari di makam Luhan. Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi dan pesawatnya akan berangkat pukul setengah Sembilan. Orang tuanya masih menunggu di bawah bukit dan Chanyeol masih berdiri di samping makam Luhan dengan sebuah mantel coklat muda membalut tubuh tingginya.
"Aku merindukanmu Luhan.."
Tak terasa setetes air muncul di ujung matanya. Chanyeol dengan cepat menyeka air matanya dan terkekeh. "Baekhyun pasti juga akan merindukanmu."
"Aku harus segera pergi Lu, aku tidak ingin tertinggal pesawat. Aku berjanji akan kembali lagi kemari. Selamat tinggal."
Chanyeol segera berjalan meninggalkan perbukitan itu, menghampiri kedua orang tuanya dan mulai pergi menuju bandara.
.
.
.
June 19th 2016, John F Kennedy International Airport, New York City, USA.
Di pintu utara terlihat seorang lelaki tinggi berbalut mantel coklat muda dengan menggunakan kacamata hitam melangkah bersama sepasang suami istri di sampingnya. Di tangan kirinya terdapat sebuah tas jinjing dan di tangan kanannya menyeret sebuah koper hitam besar. Lelaki itu –Chanyeol melepas kacamata nya demi melihat bagaimana suasana musim gugur di New York Amerika Serikat. Sebelas jam ia habiskan di atas udara dan sekarang pukul satu pagi, dan saat itu Chanyeol sadar bahwa ia lupa me reset jam tangannya. Ponselnya menunjukkan bahwa saat ini pukul enam pagi di New York.
Udara berhebus dan menerbangkan daun-daun yang menguning. Matahari masih belum terlalu tinggi dan menyebabkan hawa dingin masuk ke dalam celah-celah mantelnya. Chanyeol benar-benar harus beradaptasi dengan suasana Amerika yang jauh dengan Korea. Mungkin jika di Korea, pukul enam pagi sinar matahari telah mengusik tidurnya.
Di sini benar-benar berbeda, termasuk orang-orangnya. Berambut pirang dan bermata biru. Berbadan tinggi dan berkulit putih pucat. Percakapan bahasa Inggris –Chanyeol sangat bersyukur ia pernah kursus bahasa inggris saat Junior High School, dan mereka berlalu-lalang dengan kesibukan pagi hari.
"Apakah kita langsung ke apartemen ku?"
"Tentu saja, kau harus melihat bagaimana rupa tempat tinggalmu." Jawab sang ayah. Mereka menunggu sebuah taxi di depan pintu utama.
"Kau bisa mengurus pendaftaran mu dua minggu lagi, jadi kau masih bisa menikmati hari-harimu di New York." Sebuah taxi berwarna kuning berhenti di depan mereka dan keluarga itu memasuki taxi untuk segera menuju apartemen Chanyeol di daerah Manhattan.
Selama perjalanan Chanyeol tak melepaskan pandangannya dari luar kaca taxi. Jalanan di New York begitu tertata apik dan rapi. Banyak orang yang berjalan kaki di sana dan Chanyeol berani bertaruh bahwa mereka adalah pekerja kantor terbukti dari jas hitam yang mereka kenakan.
Chanyeol jadi ingin merasakan berjalan kaki dengan mereka di pagi hari.
Chanyeol juga tidak percaya dirinya berada di sini sekarang. Maksudku hey! Ini New York! Teman di sekolahnya bahkan tidak ada yang berada di sini saat ini. Bagi Chanyeol ini benar-benar sangat keren.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di sebuah gedung tinggi yang akan menjadi tempat tinggal Chanyeol selama di New York.
"Sebenarnya ayah ingin membelikanmu apartemen di Brooklyn, hanya saja pasti akan lebih jauh dari kampus nanti."
Chanyeol bergumam. Menurutnya ini sudah sangat bagus. Lebih dari cukup untuk tempat tinggalnya sementara. Mereka menuju lantai ke enam di mana letak apartemen Chanyeol. Semua interior di Apartemen ini sungguh menarik dan berbeda dengan interior apartemen di Korea. Semuanya sangat elegan.
"Kamarmu nomor 618, ini kuncinya." Tn. Park menyerahkan sebuah kunci berupa kartu mirip seperti kartu atm kepada anaknya. Mereka memberikan Chanyeol kesempatan untuk membuka apartemen itu sendiri. Begitu Chanyeol memasukkan kartunya ke dalam alat khusus di samping pintu, suara seperti dentingan gelas kaca terdengar pelan.
Mereka memasuki apartemen mewah itu dan Chanyeol dibuat terkagum dengan tempat tinggal barunya. "Ini baru yang namanya Amerika."
.
.
Satu minggu telah dilalui Chanyeol dengan berada di Amerika. Semuanya sangat berbeda dengan Korea dan Chanyeol benar-benar harus beradaptasi dengan suasana Amerika. Semua sangat berbeda terlebih dengan sifat penduduk negeri Paman Sam itu. Sesuatu yang dianggap masih tabu di kalangan orang Asia dianggap biasa oleh orang Barat.
Hari ini Chanyeol mengantar kedua orang tuanya untuk ke bandara, mereka akan kembali ke Korea dan meninggalkan Chanyeol sendiri di Amerika. Pesawat akan berangkat lima belas menit lagi dan Ny. Park masih memeluk putranya di ruang tunggu sambil menangis tersedu-sedu.
"Chanyeol harus berjanji akan terus menghubungi ibu kapan pun itu."
Chanyeol tersenyum lembut dan terus berusaha menenangkan ibunya, mengelus punggung wanita yang telah melahirkannya dengan sayang. "Chanyeol berjanji. Pukul kepalaku berkali-kali jika aku melanggar janjiku, Ibu."
"Sudahlah yeobo, Chanyeol sudah berjanji. Ayo kita pergi, pesawatnya akan segera berangkat." Ucap Tn. Park menengahi istrinya. Dengan sangat berat hati, wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya kepada sang anak dan tak lupa meninggalkan kecupan di kedua pipi anaknya.
"Jaga dirimu baik-baik. Ibu sayang padamu."
"Aku juga sayang Ibu, jaga diri Ibu baik-baik."
Chanyeol menatap kepergian kedua orang tuanya dan setelah memastikan mereka telah memasuki lorong menuju pesawat, Chanyeol segera beranjak dari sana.
"Huftt, saatnya berkeliling New York City seorang diri!" Chanyeol segera pergi dengan mengendarai mobil yang empat hari yang lalu dibeli olehnya. Tentu saja dengan uang sang ayah. Ia memutar lagu dari ponselnya sambil sesekali bersenandung. Waktu masih menunjukkan pukul empat sore, matahari masih bersinar dengan bias warna oranye di langit. Chanyeol berencana akan menonton film terbaru di bioskop setelah ini. Oleh karena itu Chanyeol segera menuju bioskop untuk melihat jadwal tayang film yang akan dia tonton.
Sesampainya di sana, Chanyeol bertanya kepada seorang wanita yang berjaga tentang jadwal tayang film. Ia memilih pukul tujuh malam dan Chanyeol memutuskan untuk berjalan-jalan keluar gedung bioskop sambil mengisi perutnya menunggu pukul tujuh datang.
Sebuah kedai es krim menjadi tujuannya saat ini. Tiba-tiba saja ia ingin membeli es krim stroberi. Saat menunggu es krimnya datang, Chanyeol menatap ponselnya dan iseng untuk membuka akun sns miliknya. Banyak pesan yang datang dari teman-temannya. Chanyeol tertawa kecil membaca pesan-pesan mereka. Saat es krimnya datang, Chanyeol memilih mencari tempat duduk untuk segera melahap es krimnya dan membalas semua pesan temannya.
"Hahaha.. Mereka ini seperti tidak pernah melihat New York saja." Chanyeol tertawa membaca pesan yang rata-rata berisi kekaguman teman-temannya dengan kenyataan bahwa Chanyeol akan menetap di New York sekarang.
Bahkan Jongin mengirimnya pesan berupa kekecewaannya kepada Chanyeol karena lelaki itu pergi ke Amerika tanpa mengajaknya. Ia juga bilang bahwa New York adalah kota impiannya.
"Dasar Jongin."
Beberapa menit setelah es krimnya habis, Chanyeol segera kembali ke bioskop untuk filmnya karena waktu telah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Chanyeol sedikit kesulitan mencari letak tempat duduknya karena memang lampu telah dipadamkan, hanya cahaya dari layar yang membantunya mencari tempat duduk.
Chanyeol menempati kursi dengan deret kedua dari belakang. Jarak dua kursi dari sisi kirinya ada seorang perempuan dan jarak satu kursi dari perempuan itu ada seorang lelaki. Sedangkan jarak dua kursi dari sisi kanannya ada dua orang perempuan dan seorang lelaki. Itu jika Chanyeol tidak salah lihat. Barisan paling belakang kosong dan jujur saja Chanyeol sedikit banyak merasa paranoid. Dulu Jongin pernah mencekoki dirinya dengan cerita horror dalam bioskop dan si hantu menempati barisan kursi paling belakang. Chanyeol meringis mengingat cerita itu. Untung saja ia tidak sedang menonton film horror melainkan film action.
Enam puluh menit pertama dilaluinya dengan tenang, namun saat menit ke tujuh puluh Chanyeol mulai merasakan kantuk luar biasa. Ia sangat tidak tahan dan akhirnya tertidur dengan wajah tertunduk dan rambut yang menutupi wajahnya. Ia terbangun tepat setelah ruangan mulai sepi. Pandangannya teralihkan ke barisan tempatnya duduk. Hanya tinggal seorang perempuan yang duduk di samping kirinya sedang memainkan ponsel. Orang-orang telah keluar meninggalkan ruangan. Chanyeol merasa sangat bodoh karena tertidur di dalam bioskop.
Setelahnya Chanyeol memillih untuk segera pulang ke apartemen karena ia ingin melanjutkan tidurnya yang terpotong.
.
"Iya Ibu."
"…"
"Aku mengerti. Ibu sudah mengatakan padaku sebanyak lima kali tadi."
"…"
"Bukunya lengkap."
"…"
"Masih banyak Ibu, aku tidak membeli sesuatu yang tidak berguna."
"…"
"Hmm.."
"…"
"Baiklah Ibu aku ingat. Aku harus tidur, sekarang pukul sepuluh malam. Besok aku harus berkuliah."
"…"
"Aku juga sayang Ibu. Sampaikan salamku untuk Ayah."
Chanyeol merebahkan tubuhnya saat sang Ibu telah menutup telfon mereka. Ibunya menelfonnya berkali-kali sejak kemarin karena mengkhawatirkan dirinya yang akan mulai berkuliah besok. Dua hari yang lalu ia mengunjungi kampusnya untuk menyelesaikan data-data perkuliahan dan mengambil jadwal mata kuliah.
"Pukul tujuh pagi." Gumamnya saat mengatur alarmnya.
Saat hendak tidur, tiba-tiba saja Chanyeol teringat oleh seseorang yang menjadi tujuan utamanya berada di Amerika saat ini. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Bertanya-tanya apakah ia akan menemukan Baekhyun di sini? Di Amerika? Bukankah itu sangat sulit? Terlebih Baekhyun tidak berada di kota yang sama dengannya. Baekhyun ada di Los Angeles dan dirinya ada di New York City.
"Kau sedang apa, Baek?"
Chanyeol bergumam. Tangannya menggapai ponsel yang diletakkan di atas meja nakasnya. Ia ingin membaca kembali pesan terakhir yang dikirim Baekhyun untuknya. Rasanya Chanyeol tak pernah bosan untuk membacanya berulang kali, bahkan telah terhitung lebih dari seratus kali Chanyeol mengulangnya.
"Kau membuatku sulit berpikir. Apa yang harus aku lakukan?" Chanyeol hanya bertanya pada dirinya sendiri tanpa tahu jawabannya. Sesungguhnya Chanyeol nyaris putus asa, tapi mengingat ia telah berada sejauh ini untuk meraih Baekhyun membuatnya semangat kembali.
"Selamat malam Baekhyun."
.
Chanyeol menjalani hari-hari berkuliahnya dengan biasa. Dia telah mendapat banyak teman baru bahkan di hari pertamanya. Semua menyukai Chanyeol karena menurut mereka Chanyeol itu unik terlebih Chanyeol adalah orang Korea namun tidak seperti orang Korea. Katakan saja karena rambut barunya. Chanyeol mengecat rambutnya menjadi warna coklat terang yang membuatnya nampak seperti orang asli Amerika.
Selain teman-temannya, dosen mereka pun sangat menyenangi kerja keras Chanyeol yang berusaha menjadi mahasiswa yang cerdas dan dapat diandalkan. Ilmu bisnis sangat cocok dengan kemampuannya sehingga tak perlu waktu lama bagi Chanyeol untuk mengerti semua materi perkuliahan. Ayahnya telah mengajarkan banyak hal padanya lebih dulu.
Meski ia merasa nyaman dengan suasana barunya, tak dipungkiri Chanyeol masih memikirkan keadaan Baekhyun. Tak sekalipun Chanyeol lupa tujuan utamanya.
"Hai Park Chanyeol! Aku sekarang sedikit mengerti bahasamu. Kemarin aku mencari kamus bahasa Korea di perpustakaan kota dan ketemu," Dia yang berbicara dengan Chanyeol di kantin adalah Michelle. Gadis berusia delapan belas tahun asal Texas. Chanyeol bertemu dengan Michelle di hari pertama masa ospek. Saat itu Chanyeol berada satu team dengan Michelle saat mengunjungi panti anak penderita kanker untuk tugas ospeknya. Menurut Chanyeol, Michelle adalah gadis yang cantik, wajahnya mirip dengan penyanyi Taylor Swift, hanya saja rambutnya berwarna coklat gelap dengan ujung berwarna ungu. Chanyeol menganggapnya unik terlebih dia memang seperti Taylor Swift versi rambut gelap.
"Benarkah? Coba perkenalkan dirimu dengan bahasa Korea." Tantang Chanyeol.
"Baiklah! Hmm, annyeong hesseyo! Juneun Michele McNiven imnida." Anak itu menyertakan juga pose membungkuk layaknya orang Korea asli.
Chanyeol terkekeh mendengarnya. Itu lucu saat bahasa Korea diucapkan dengan logat Amerika.
"Salah Michelle-ssi, seharusnya Haseyo bukan heseyo. Dan juga Joneun bukan Juneun. Logatmu juga terasa aneh."
"Dalam taraf orang Amerika, aku termasuk orang yang cepat tangkap tahu! Kau ini tidak menghargai usahaku. Dasar!" gadis itu cemberut dengan makanannya yang diaduk-aduk.
"Ya aku menghargainya, aku hanya mengoreksi apa yang salah bukan?" Chanyeol membereskan laptop serta buku-bukunya. "Aku harus segera menemui Mr. Bowell, beliau memintaku untuk membantunya mengoreksi tugas. Sampai bertemu di kelas selanjutnya Mrs. McNiven!" Chanyeol segera pergi dari tempat duduknya setelah sebelumnya meminum jus jeruknya.
"Huh! Dasar sok sibuk. Apakah orang Korea seperti itu semua?" gumamnya menggerutu. "Astaga! Aku lupa! Sepuluh menit lagi kelas Mr. John!" setelah melihat memakan kentang gorengnya dnegan cepat, Michelle segera bangkit dari duduknya. Namun baru saja ia berbalik, seorang lelaki menubruknya dan menyebabkan kakinya sakit terkena buku tebal yang terjatuh dari lelaki itu.
"Astaga Nona maafkan saya! Saya benar-benar terburu-buru! Sekali lagi maaf!" lelaki itu membungkuk untuk meraih bukunya dan melesat pergi meninggalkannya.
"Aku benar-benar sial hari ini. Semoga Mr. John belum datang!" Michelle hanya bisa berlari kencang menuju kelasnya.
.
Untuk pertama kalinya, Chanyeol menjalani hari-hari musim gugurnya di negeri orang. Jujur ia sangat merindukan suasana musim gugur di Korea dengan berbagai festival yang diselenggarakan di taman kota. Suhu di sini juga terasa dingin padahal masih menginjak bulan Oktober.
Dua minggu lagi ujian semester pertama dan Chanyeol tidak sabar untuk itu. Sebenarnya bukan ujian yang ia nantikan, melainkan masa liburannya. Tentunya dengan liburan musim dingin. Chanyeol bertekad akan mengambil satu minggu liburannya untuk mengunjungi kota Los Angeles demi menemukan Baekhyun, dan sisa liburan lainnya untuk pulang ke Korea mengunjungi ibunya. Ia begitu berharap satu minggu di Los Angeles dapat menjadi titik terang bertemunya ia dengan Baekhyun. Meskipun itu sangat mustahil, tapi setidaknya Chanyeol telah berusaha.
"Bukankah tadi pagi buku itu masih ada Mrs. Clarence?" Chanyeol bertanya kepada wanita paruh baya penjaga perpustakaan kampusnya.
"Iya Chanyeol, tapi tadi ada seseorang yang meminjamnya. Aku lupa untuk memberi tahu orang itu bahwa kau sudah memesan buku itu. Aku sangat menyesal Park Chanyeol." Wanita itu nampak sangat bersalah. Bagaimana pun itu semua karena keteledorannya.
"Baiklah tidak masalah Mrs. Clarence, aku akan mencari bukunya di perpustakaan kota saja, mungkin ada banyak di sana. Aku harus pergi sekarang." Setelah membungkuk sopan, Chanyeol segera meninggalkan perpustakaan dan keluar kampusnya menuju perpustakaan kota.
Udara yang dingin membuat Chanyeol harus merapatkan mantelnya. Kepulan asap keluar dari mulutnya saat menghembuskan nafas.
"Sungguh merepotkan."
.
Memasuki bulan November, Chanyeol dibuat kesulitan dengan suhu yang sangat dingin. Padahal ia sangat betah dengan udara dingin dan negaranya dulu bukanlah negara tropis melainkan negara yang juga mengalami musim dingin. Hanya saja, sepertinya salju turun lebih cepat di minggu kedua.
Chanyeol sungguh merasa merana dengan kondisinya. Ia harus megikuti ujian dengan hidung tersumbat dan tenggorokan gatal karena batuk. Ia sangat tidak nyaman dan berharap saja kondisinya tidak berpengaruh pada nilai ujiannya. Ia tidak mau mengecewakan orang tuanya yang telah jauh-jauh mengirimnya ke Amerika untuk menuntut ilmu.
Setelah menyelesaikan ujiannya hari itu, Chanyeol memilih berdiam diri di dalam kelas dengan kepala terkulai lemas di atas meja. Ia sangat tidak dalam mood yang baik untuk melakukan apapun. Bahkan ia menolak ajakan David dan Justin untuk meminum cappuccino di café depan kampus sekedar untuk menghangatkan diri dari musim dingin.
Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan memilih untuk menghubungi ibunya di Korea. Sekedar memberi tahu kabarnya yang terbilang buruk selama dua hari yang lalu.
Di dengungan keempat sebuah suara yang sangat dirindukannya terdengar di gendang telinganya.
"Halo ibu.."
"Halo Chanyeol? Kenapa suaramu sangau begitu? Ada apa sayang?"
"Ibu aku sakit. Hidungku tersumbat dan sepertinya aku batuk." Chanyeol berucap dengan nada manja. Setidaknya ia tak perlu malu karena kelas telah sepi dan kalaupun ada banyak orang ia tak perlu khawatir, toh tidak ada yang mengerti apa yang ia ucapkan.
"Ya Tuhan.. Sudah minum obat sayang? Apakah badanmu demam juga?" suara Ny. Park terdengar khawatir. Bagaimana tidak? Chanyeol itu akan jadi sangat manja jika sedang sakit. Tidak mau melakukan apapun dan hanya meminta ibu atau ayahnya untuk menjadikannya pangeran selama ia sakit. Sekarang ia sakit di negeri orang. Lantas siapa yang akan memanjakannya sekarang?
"Tidak ibu, tapi aku merasa gejala-gejala demam sebentar lagi. Apa yang harus aku lakukan?"
"Kau sedang di mana? Kau bisa meminta bantuan bibi Jane dan memintanya jangan pulang untuk satu malam dan merawatmu."
Bibi Jane adalah orang yang dibayar oleh Ny. Park untuk menyediakan makanan untuk anaknya saat di apartemen. Wanita berusia lima puluh tahun itu akan datang ke apartemen Chanyeol saat pagi dan malam hari, terkadang juga siang hari jika jadwal Chanyeol kuliah adalah sore hari dan membuatnya harus makan siang di apartemen. Tempat tinggal bibi Jane ada di lantai dasar apartemen yang sama dengan Chanyeol. Wanita itu dibayar hanya untuk mengurus makan Chanyeol dan tidak lebih. Karena Chanyeol bisa mengurus semua pekerjaan rumahnya sendiri terkecuali untuk memasak. Bibi Jane hanya tinggal dengan anak lelakinya yang lebih muda dua tahun dari Chanyeol. Ia telah bercerai dengan suaminya dan itu sebabnya bibi Jane menerima tawaran Ny. Park untuk memasak makanan Chanyeol dan mendapat bayaran perbulan.
"Aku sedang di kampus, baru saja ujiannya selesai."
"Kenapa tidak cepat pulang?! Cepat pulang dan telfon bibi Jane, Chanyeol. Jangan menolak ucapan ibu jika kau ingin sembuh. Ibu akan memberikan bayaran lebih untuk bibi Jane."
"Iya ibu, aku akan pulang sebentar lagi. Di luar masih turun salju. Dingin."
"Baiklah hati-hati sayang. Pakai mantel dan syalnya. Jangan lupa telfon bibi Jane. Ibu akan menelfonmu nanti lagi. Ibu menyayangimu."
"Aku juga sayang ibu."
Setelah menutup telfonnya, Chanyeol menghela nafas lelah. Udara yang dikeluarkan oleh hidungnya terasa hangat dan itu berarti tubuhnya mulai mengalami demam.
.
Tiket pesawat tujuan Los Angeles berada di tangannya saat ini. Senyuman Chanyeol merekah begitu membayangkan bahwa ia akan semakin dekat untuk menemui Baekhyun. Mengingat nama lelaki mungil itu saja telah membuat jantungnya berdebar-debar karena rindu tidak sabar ingin bertemu. Minimal ia harus mempunyai petunjuk tentang keadaan lelaki mungil itu.
Suara wanita yang menggema di seluruh bandara menunjukkan bahwa pesawat tujuan Los Angeles akan segera berangkat sebentar lagi. Chanyeol segera menuju tempat pemeriksaan tiket setelah tas nya diperiksa. Saat memasuki pesawat, seorang wanita menabraknya dari belakang dan menyebabkan ponsel yang ada di genggamannya terjatuh membuat casingnya terlepas dan baterainya terpisah dari ponselnya/
"Maaf, aku sungguh minta maaf. Saya tidak sengaja." Ucap wanita itu sambil membungkuk berkali-kali. Chanyeol memungut ponsel dan baterainya. Ia tersenyum, "Tidak masalah agashi."
"Apakah ponselnya tidak rusak? Jika rusak aku bisa memberimu uang ganti rugi."
Chanyeol yang masih berjongkok untuk memasang kembali bagian ponselnya yang terlepas menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa. Ini masih bisa menyala. Kau lihat?" Chanyeol menyodorkan ponselnya pada wanita itu bermaksud untuk membuatnya tidak merasa bersalah. "Ponselku adalah ponsel yang kuat." Candanya kemudian.
"Sekali lagi maafkan aku."
"Tidak masalah."
"Kalau begitu saya harus segera mencari tempat duduk saya sekarang."
Setelah wanita itu berlalu, Chanyeol berjalan untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, Chanyeol memakai kacamata dan tudung hoodie nya.
"Dasar wanita. Selalu terburu-buru."
.
Dua hari sejak Chanyeol menginjakkan kakinya ke kota Los Angeles. Suasana di kota itu tidak seramai di New York City, tentu saja. Dan selama dua hari ini, Chanyeol masih tidak menemukan tanda-tanda di mana keberadaan Baekhyun. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa mencari keberadaan seseorang di sebuah kota asing akan sesulit ini. Semuanya terasa asing karena ia baru pertama di Los Angeles. Hampir saja ia putus asa, namun sekali lagi, mengingat ia sudah sejauh ini berjalan, tak mungkin untuk kembali bukan?
Chanyeol menyewa sebuah mobil selama di kota itu. Ia juga menyewa sebuah hotel di pertengahan kota. Dan malam ini, ia berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal seorang diri. Berharap mungkin saja ia bertemu dengan sang pujaan hati. Sejujurnya Chanyeol itu bukan tipe lelaki yang suka berjalan-jalan di pusat perbelanjaan seperti ini, terlebih hanya seorang diri. Itu seperti mengatakan bahwa dirinya adalah lelaki yang kesepian. Walau sebenarnya ia memang kesepian. Tapi demi kemungkinan bertemu Baekhyun di tempat keramaian dan daripada berdiam diri di hotel melihat acara televisi yang membosankan, jadi di sinilah ia sekarang.
"Aku merasa bodoh." Gumamnya.
Chanyeol merasa risih dengan beberapa gadis pirang yang menatapnya lapar dan menggoda. Chanyeol benar-benar tidak tertarik dengan gadis di Amerika. Gadis di negeri sendiri saja tidak suka apalagi dari luar negeri.
Sudah lebih dari lima kali Chanyeol menghela nafas lelah. Ia bingung harus melakukan apa di tempat ramai seperti ini. Namun tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya saat Chanyeol hendak keluar dari mall. Segerombolan anak remaja sedang memainkan lagu secara acapella. Terhitung ada empat orang laki-laki di sana menyanyikan lagu 'Payphone' dari Maroon 5. Satu di antara keempat lelaki itu mengulurkan sebuah topi untuk meminta uang pada orang-orang yang menonton pertunjukkan mereka.
Chanyeol mengobrak-abrik tasnya dmei menemukan selembar uang untuk diberikan kepada lelaki itu.
"Aishh aku yakin tadi ada uang di sini. Kemana perginya uang ku?" gumamnya sambil terus mencari.
"Ah! Ini dia." Chanyeol mengeluarkan uang lima dolar untuk lelaki pengamen itu. "Xie Xie." Ucapnya lelaki bertopi hitam itu kemudian berlalu. Chanyeol tertawa mendengarnya. Mungkin dia adalah satu-satunya orang yang menyadari bahwa ia adalah orang Asia meskipun salah mengira bahwa Chanyeol bukanlah orang China.
"Waktunya pulang. Sudah cukup untuk hari ini."
.
Tinggal satu hari Chanyeol berada di Los Angeles dan selama itu itu pula belum ada tanda-tanda ia bertemu Baekhyun. Chanyeol benar-benar merasa frustasi. Berkali-kali ia membanting tubuhnya di ranjang hotel. Rambutnya sudah kusut karena ulah tangan-tangannya.
"Berpikirlah Park! Apa guna otakmu saat ini jika bukan untuk berpikir di mana kiranya Baekhyun berada." Chanyeol menatap langit-langit kamar hotelnya. Sekarang pukul sepuluh pagi dan ia masih belum mengerti akan kemana hari ini.
Deringan ponselnya membuat Chanyeol terduduk dan segera meraih ponselnya menjawab panggilan. ID dengan nama 'Ibu' terpampang di layar. Chanyeol yakin sekali bahwa ibunya itu menanyakan kapan ia akan pulang ke Korea untuk liburan.
"Halo ibu, ada apa?"
"Kapan kau akan pulang Chanyeolie, ibu merindukanmu. Ibu sudah mempersiapkan segalanya untuk kau tinggal di sini."
"Dua hari lagi aku pastikan akan berada di dekat ibu. Temanku telah memesankan tiket pesawat. Dia akan kembali ke New York setelah liburan kami dan aku akan ke Seoul."
"Aigoo, kenapa waktu terasa lama sekali eoh? Kenapa bertemu anakku saja terasa sulit. Aahh bagaimana Yeol-a."
Chanyeol tertawa kecil mendengar keluhan ibunya. Sungguh, ibunya itu seperti Baekhyun versi wanita. Bagaimana bisa sifat mereka sangat mirip. Begitu kekanakan dan selalu heboh dengan sesuatu.
"Tidak lama Ibu, sebentar lagi aku akan pulang. Ibu saja yang tidak sabar makanya terasa lama."
"Hahh, Ibu benar-benar merindukanmu Yeol-a. pokoknya nanti saat pulang kau harus tidur bersama Ibu ne? Biar ayahmu tidur di kamarmu. Rasanya ibu ingin sekali bertemu denganmu."
"Iya terserah ibu saja."
"Baiklah, telponnya ibu tutup dulu. Di sini sudah malam. Sampai ketemu lusa anakku."
"Sampai jumpa Ibuku sayang."
Chanyeol tersenyum mengingat perkataan ibunya. Namun tiba-tiba ia berdiri dan dengan cepat kembali membuka ponselnya. Ia membuka akun sns miliknya dan mulai mencari akun sns milik Baekhyun. Tidak habis pikir kenapa ia baru ingat sekarang? Bukankah dulu Baekhyun pernah mengupload foto dirinya di akun pribadinya? Dan jika ia tidak salah ingat Baekhyun juga menyertakan lokasi dimana Baekhyun mengambil foto.
"Ini dia! Aku akan ke tempat ini! Semoga aku bisa bertemu denganmu Byun Baekhyun."
.
Chanyeol mendesah frustasi. Satu jam ia mencari alamat itu namun apa yang ia dapati tidak sesuai keinginannya. Memang benar komplek rumah di sana dipenuhi oleh orang Korea. Namun ia sudah bertanya kepada orang di sana apakah ada yang bernama Byun Baekhyun, mereka tidak mengetahuinya.
Hampir saja ia bertemu dengan Baekhyun tapi kenapa selalu gagal. Apakah Baekhyun pindah rumah? Apakah Baekhyun memang sempat tinggal di sana lalu pergi? Lalu di mana ia sekarang tinggal? Apakah masih di Los Angeles? Atau ke kota lain? Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di kepalanya.
Chanyeol duduk di sebuah halte bermaksud untuk menunggu bus yang akan mengantarnya kembali ke hotel. Waktu menunjukkan pukul tiga sore dan ia sungguh telah putus asa mencari keberadaan Baekhyun. Apakah Tuhan sudah tidak mengijinkan ia bertemu dengan Baekhyun? Apakah pertemuan terakhirnya dengan Baekhyun dulu benar-benar akan menjadi pertemuan terakhir selamanya?
"Aishh! Aku bisa gila! Kemana kau sebenarnya Byun Baekhyun.."
Semua memori terakhir dirinya bersama Baekhyun kembali berputar di otaknya. Chanyeol sungguh merasa menjadi orang paling dungu jika mengingatnya. Ia hanya ingin Baekhyun kembali padanya dan ia berjanji akan mengatakan semuanya kepada Baekhyun. Namun kenapa rasanya sangat sulit?
.
.
December 31st 2016, Brooklyn Bridge New York.
Chanyeol berjalan seorang diri menuju jembatan terkenal di negri paman Sam. Mobilnya terparkir satu kilometer sebelumnya dan Chanyeol memutuskan untuk berjalan kaki agar lebih bisa menikmati suasana natal bercampur tahun baru di New York City. Lampu-lampu jalanan yang terang benderan berkelap-kelip membuat perasaannya sedikit lebih baik.
Di acara tahun baru ini, sebenarnya teman-temannya mengajak Chanyeol untuk menghadiri pesta barbeque di rumah Alex –teman kampusnya untuk merayakan tahun baru bersama. Tapi Chanyeol menolak dengan alasan keluarganya datang ke Amerika sejak natal kemarin. Chanyeol hanya ingin menyendiri di saat tahun baru, berbanding terbalik dengan keinginan semua orang.
Dering ponsel menyadarkan Chanyeol dari lamunannya. Ibunya menelfon dari Korea. Chanyeol sangat yakin ibunya ingin mengucapkan selamat tahun baru kepadanya.
"Ya ibu, ada apa?" Chanyeol melanjutkan jalan kakinya yang sebentar lagi akan membawanya menuju jembatan Brooklyn.
"Selamat tahun baru sayang."
Chanyeol terkekeh mendengarnya. Ternyata dugaannya benar, "Masih kurang setengah jam lagi ibu. Jangan mengucapkannya di saat belum pukul dua belas."
"Ahh jinjja?! Ibu terlalu cepat rupanya. Kau ada di mana sekarang?"
"Aku sedang di jembatan Brooklyn, sedang menunggu pertunjukkan kembang api. Aku akan merekamnya dan menunjukkan pada ibu betapa memukaunya kembang api di New York." Chanyeol menatap segerombolan anak kecil yang mengerubungi Santa Clause yang sedang membagikan permen dan coklat. Anak-anak itu terlihat antusias bertemu Santa Clause.
"Baiklah ibu akan menunggunya. Apa kau sendirian? Ibu pikir kau sedang mengadakan pesta dengan temanmu. Bukankah itu yang biasa orang Amerika lakukan saat tahun baru?"
"Tidak, aku tidak ikut. Aku hanya ingin melihat pertunjukan kembang api. Pestanya bisa di lain waktu."
"Ohh anak ibu yang malang. Merayakan tahun baru sendirian. Semalam kami mengadakan makan malam bersama saudara Chanyeol-a. mereka semua menanyakan kabarmu."
"Sayang sekali. " Mata Chanyeol beralih pada kumpulan orang dengan sepeda yang ditumpangi. "Tapi di sini lebih meriah. Mobil-mobil tidak boleh ada di jalanan sehingga kami harus berjalan atau menumpangi sepeda."
Chanyeol menyapukan kembali pandangannya ke jembatan yang ada di hadapannya. Pemandangan di sana begitu memukau. Lampu-lampu ditata sedemikian rupa di sepanjang jembatan.
"Ibu jadi ingin ke sana."
Chanyeol terus bertelefon dengan ibunya. Kaki panjangnya berjalan menuju pinggir sungai Brooklyn yang memantulkan cahaya lampu berkedip-kedip. Chanyeol duduk di salah satu bangku taman di sana. Beberapa remaja sedang membagikan lampion kecil kepada anak-anak yang sedang menunggu pertunjukan kembang api.
Telfon mereka berakhir saat lima menit sebelum pertunjukkan kembang api tahun baru dimulai. Chanyeol mengeratkan coatnya dan berdiri mendekati pagar saat seorang gadis berambut pirang memberikan lampion kepadanya. Chanyeol mengucapkan terima kasih dan segera menuju bibir sungai. Orang-orang di sana telah memegang masing-masing satu lampion seperti miliknya. Matanya memandang berkeliling memastikan bahwa mereka semua sedang menunggu detik-detik menjelang pergantian tahun.
Chanyeol menyalakan lampionnya dengan menggunakan pemantik api milik seorang ibu hamil di sebelahnya. Saat-saat seperti ini, dia jadi ingin menangis. Bukan menangis karena kesedihan karena Chanyeol sangat senang. Namun menangis karena perasaan rindunya yang membuncah. Tangan kanannya terulur mengangkat lampion ke atas saat semua orang di sana menyatukan suara menghitung mundur dari angka sepuluh.
Ia memejamkan kedua matanya menikmati masa-masa indah ini. Membayangkan wajah seseorang yang begitu ia rindukan. Membayangkan wajah itu menampilkan senyum manis yang menghantui hari-harinya selama ini.
Sepuluh!
Bagaimana kabarnya?
Sembilan!
Apakah ia mengingatku?
Delapan!
Apakah ia merindukanku seperti aku merindukannya?
Tujuh!
Di mana ia sekarang?
Enam!
Sedang apa ia sekarang?
Lima!
Apakah ia ingin menemuiku?
Empat!
Bagaimana perasaannya saat ini?
Tiga!
Dapatkah kita bertemu?
Dua!
Aku begitu mencintaimu, Byun Baekhyun. Sampai rasanya ingin mati tanpa kau di sampingku.
Satu!
Chanyeol membuka kedua matanya, tersenyum dan melepaskan lampion di tangannya. Sambil menatap lampion miliknya terbang tinggi menuju langit bertabur bintang dan kembang api, Chanyeol tersenyum, berucap lirih.
"Selamat tahun baru Baekhyun-ah.."
Selamat tahun baru juga..
.
.
Three years later.
Seorang lelaki bersurai platina tengah sibuk di dalam aula kampus untuk mempersiapkan diri di acara wisudanya besok. Kacamata yang bertengger di hidung mancungnya beberapa kali turun saat ia sedang membaca alur acara wisuda. Chanyeol –lelaki bersurai platina itu –berhenti berjalan kesana kemari saat Bill, temannya dari Kanada menghampirinya dengan sebuah surat di tangannya.
"Ada surat untukmu." Chanyeol menerima surat itu dengan kerutan di dahinya.
"Dari siapa?"
Bill mengedikkan bahunya, "Aku tidak tahu. Surat itu diberikan padaku dari seorang anak kecil. Tingginya sekitar seperutku. Dia tidak mengucapkan apapun dan langsung pergi. Dia bahkan tidak mengatakan surat itu untuk siapa, tapi melihat ada tulisan 'untuk Park Chanyeol' di depannya dan aku yakin itu untukmu."
Chanyeol dengan ragu membuka amplopnya dan mengeluarkan suratnya. Hidungnya tergelitik dengan bau khas anak-anak yang berasal dari kertas berwarna hijau muda itu. Ia jadi mengira bahwa surat itu memang dari anak kecil –anak kecil yang menulisnya langsung. Tapi pemikiran itu sirna saat Chanyeol membaca isi surat itu. Tulisan tangannya cukup rapi daripada tulisan tangannya.
Bill menepuk bahunya untuk pamit pergi dan Chanyeol berucap terima kasih sebelum melangkahkan kakinya keluar dari aula dan segera menuju koridor kampus yang cukup sepi mengingat besok adalah acara wisuda, kampus harus steril dari mahasiswa kecuali mahasiswa yang akan melakukan wisuda esok hari.
Chanyeol berjalan dengan pelan dan mulai membaca isi surat itu.
Aku ucapkan selamat atas kelulusanmu. Aku ingin memberikan hadiah untuk mu, tapi aku bingung harus memberi apa? Kurasa aku akan memberikan hadiah untukmu besok.
Brooklyn 2 o'clock Hard rock café.
Happi 6 x 10 / 5 = ChanYeol (5)
Hal pertama yang ada di benak Chanyeol, "Apa orang ini ingin pamer kemampuan matematika?" keningnya berkerut tidak mengerti. Apa mau orang ini? Apa dia ingin memberi tahu dirinya bahwa ia bisa berhitung? Atau ia ingin mengajaknya berkencan di café yang ditulisnya? Lalu, apakah ia tidak bisa berbahasa Inggris? Ia salah menulis kata 'happy'. Dan apa maksudnya Chanyeol dan angka 5? Apa dia mengira umur Chanyeol lima tahun?
Chanyeol sama sekali tidak mengerti apa maksudnya dan ia tidak ingin berpikir untuk saat ini. Jadi Chanyeol memilih untuk kembali ke aula setelah menyimpan surat itu dalam sakunya.
Begitu memasuki aula, Chanyeol mendapati sekumpulan mahasiswa memasuki aula secara bersamaan. "Siapa mereka?" Chanyeol bertanya kepada temannya sambil menunjuk sekumpulan mahasiswa itu.
"Mereka mahasiswa kedokteran yang besok ikut wisuda."
"Begitu.." Pantas saja mereka terlihat seperti kutu buku. Batinnya.
.
Pukul sembilan malam, Chanyeol baru tiba di apartemennya. Tubuhnya terasa sangat kaku dan lelah. Untung saja ia sempat mampir ke sebuah café untuk makan malam, jadi ia hanya tinggal tidur saja.
Saat memasuki kamar, Chanyeol teringat akan surat yang diterimanya siang tadi. Saat lampu kamarnya menyala, Chanyeol segera duduk di kursi belajarnya dan membuka kembali suratnya. Matanya berulang kali membaca isi dari surat itu berharap agar ia mengerti apa maksud si penulis ini.
Hadiah? Dia ingin memberikan hadian untuknya? Hadiah apa?
Chanyeol menyalakan tabletnya dan segera mencari letak café yang dimaksud si penulis di google map. Apa ia ingin mengajaknya bertemu di sana?
"Apakah ia memintaku datang ke café ini pukul dua siang?" gumamnya.
Lalu bagaimana dengan sederet angka matematika itu? Apa ini sebuah teka-teki yang harus dipecahkannya?
Chanyeol mencoba untuk menghitung hasil sederet angka matematika itu.
"Dua belas."
Matanya yang sangat berat membuat Chanyeol urung untuk memecahkan surat teka-teki ini. Dirinya sangat yakin jika si penulis ini pasti ingin dirinya menebak-nebak apa maksudnya. Chanyeol berpikir untuk menanyakan ini pada temannya besok.
.
Pukul tujuh pagi Chanyeol dalam perjalanan menuju kampusnya. Hari ini acara kelulusannya akan dilaksanakan. Chanyeol tidak menyangka jika ia akan lulus satu tahun lebih cepat dari teman-temannya yang lain. Namun bagaimana pun Chanyeol cukup sedih mengingat kedua orang tuanya yang tidak dapat menemaninya meraih gelar sarjana hari ini.
Tadi pagi, saat bangun tidur, Chanyeol mendapat panggilan telepon dari ibunya. Sang ibu mengucapkan selamat atas kelulusan Chanyeol dan meminta maaf karena tidak dapat hadir di sana. Chanyeol bisa saja mengucapkan 'tidak apa-apa' kepada ibunya, tapi Chanyeol tetaplah seorang anak yang ingin ditemani oleh keluarganya saat meraih gelar sarjana.
Saat traffic line menunjukkan warna merah, Chanyeol menghentikan mobilnya. Pandangannya teralih kepada sepucuk surat yang ia letakkan di atas tas ranselnya di kursi samping kemudi.
Chanyeol berencana untuk menanyakan perihal ini kepada salah satu temannya nanti. Sejak semalam, ia dibuat penasaran dengan maksud isi surat itu. Jika saja temannya nanti juga tak mengerti maksud dari surat itu, Chanyeol akan mendatangi café yang tertulis di sana pukul dua siang.
Jalanan Manhattan pagi itu cukup lenggang mengingat hari ini adalah akhir pekan. Chanyeol melajukan mobilnya dengan perlahan. Hard rock café adalah café yang cukup terkenal di New York. Letaknya adalah di Time Square, dan Chanyeol cukup sering datang ke Time Square saat waktu senggang.
Chanyeol sampai di kampusnya tepat pukul setengah delapan pagi. Acara wisuda akan dilaksanakan pukul sebelas siang nanti dan Chanyeol serta teman-temannya yang lain perlu untuk mempersiapkan diri.
Di dalam aula, sudah tertata ratusan kursi untuk para mahasiswa. Chanyeol dapat melihat banyak orang di dalam sana. Chanyeol melambaikan tangannya saat Bill memanggilnya untuk mendekat. Pria Kanada itu menepuk bahunya saat Chanyeol berdiri di sampingnya.
"Selamat atas kelulusanmu dongsaeng." Ucapnya dengan nada main-main. Chanyeol terkekeh mendengarnya.
"Kau juga hyung. Ah! Aku ingin menanyakan suatu hal padamu." Chanyeol dengan cepat mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya. Bill mengerutkan dahinya melihat surat itu, "Bukankah itu surat yang kemarin?"
Chanyeol mengangguk dan mulai membuka surat itu, "Ini, bacalah."
Chanyeol menyerahkan surat itu kepada Bill. Lelaki bersurai coklat itu semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti saat membaca surat itu.
"Apa maksudnya Chanyeol?"
"Itulah yang aku ingin tanyakan kepadamu. Apakah kau tidak mengerti? Maksudku ini.." Chanyeol menunjuk tulisan yang paling bawah, "Ini sangat aneh."
"Mungkin ia mengajakmu bertemu di café ini." Ucap Bill.
"Aku juga berpikir begitu."
"Kalau begitu temui saja dia di café ini." Bill menyerahkan surat itu kepada Chanyeol, "Ayo kita bersiap-siap. Mahasiswa bisnis yang akan diwisuda pertama, baru kemudian mahasiswa kedokteran dan psikologi. Kita pikirkan nanti saja tentang surat itu."
Chanyeol hanya menurut saat Bill menyeretnya untuk segera berkumpul bersama teman-teman mereka yang lain. Well, mungkin benar kata Bill, ia akan memikirkan soal surat ini nanti, setelah wisudanya selesai.
.
Chanyeol keluar dari toilet saat sudah berganti pakaian resmi. Dengan kemeja merah maroon dan dasi bercorak garis, Chanyeol terlihat sangat tampan dan nampak seperti seorang pemimpin perusahaan. Ia terkekeh sendiri saat menyadari penampilannya saat ini mirip dengan Ayahnya sewaktu dulu.
Jessica, gadis asal Florida menghampiri Chanyeol saat di depan pintu aula untuk memberikan baju serta topi toga kepadanya. Chanyeol segera memakai semua perlengkapan itu sebelum memasuki aula. Chanyeol menghampiri Bill yang telah duduk di tempatnya dan mendudukkan dirinya di samping pria Kanada itu.
Aula telah terpenuhi oleh ratusan mahasiswa dengan mengenakan baju serta topi toga yang sama sepertinya. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit saat sang rector memberikan sambutan kepada seluruh tamu dan mahasiswa yang hadir. Suasana yang awalnya hening akibat sambutan sang rector, berubah menjadi sedikit riuh saat sesi wisuda para mahasiswa dilaksanakan.
Satu persatu mahasiswa bisnis menuju panggung untuk diwisuda saat namanya disebut. Chanyeol segera berdiri dan berjalan menuju panggung saat namanya disebut. Dengan gagah, Chanyeol berjalan untuk segera diwisuda. Tali toganya telah berpindah tempat dan Chanyeol membungkuk sebagai tanda hormat kepada sang kepala fakultas. Ia menerima tabung ijazah dari sang rector dan bersalaman serta mengucapkan terima kasih.
Chanyeol tidak langsung turun dari panggung untuk memberikan sambutan sebagai salah satu perwakilan mahasiswa berprestasi. Mengucapkan terima kasih untuk keluarga, teman, serta dosen yang selama ini menemaninya, Chanyeol sedikit menitikkan air mata. Ia tidak menyangka akan berdiri di panggung ini sebagai mahasiswa berprestasi yang meraih nilai cum laude.
Ia menangis karena terharu dan juga sedih karena keluarganya tak mampu menemaninya saat ini. Tidak melihatnya yang berdiri di atas panggung sebagai mahasiswa berprestasi.
"Sekali lagi, Saya ucapkan terima kasih."
Chanyeol membungkuk untuk menutup sambutannya dan segera turun dari panggung setelah sebelumnya mendapat tepuk tangan dari orang yang hadir di aula itu.
Bill memukul bahunya main-main saat Chanyeol telah duduk di sampingnya.
"Kau tampak sangat keren di atas sana dude! Aku jadi iri denganmu."
"Yeah, makanya belajar yang benar. Jangan hanya berkencan dengan Jessica saja." Chanyeol terkekeh setelahnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan segera mengajak Bill dan teman-temannya yang lain untuk berfoto. Chanyeol mengunggah foto-foto itu di akun instagramnya. Sesaat setelah itu, berbagai komentar dari teman-temannya di Korea memenuhi pemberitahuan.
Rata-rata, mereka semua terkejut mengetahui Chanyeol telah meraih gelar sarjana. Tapi ada juga yang mengucapkan selamat kepadanya, seperti Jongin.
Lelaki itu mengucapkan selamat dan menyuruhnya untuk segera kembali ke Korea. Saat hendak membalas komentar Jongin, lelaki itu lebih dulu menghubunginya melalui aplikasi free call LINE.
Chanyeol tertawa dalam hati atas sikap sahabatnya itu.
"Well hai Jongin. Apa kabar?"
"Tidak perlu basa-basi Park! Aku hanya mengingatkanmu untuk segera kembali ke Korea."
"Memangnya ada apa? Kau merindukanku huh?!"
"What the hell! Tidak tentu saja. Aku hanya ingin kau mentraktirku atas kelulusanmu. Kenapa kau lulus lebih cepat? Aku saja baru lulus satu semester lagi."
Chanyeol melirik ke atas panggung saat sang pembawa acara memanggil satu persatu mahasiswa kedokteran untuk segera melakukan sesi wisuda.
"Itu karena otak ku yang terlalu encer atau otakmu yang terlanjur membeku Jong!" Chanyeol tertawa kecil dengan kalimatnya sendiri.
"Yak! Kau jadi semakin berani kepadaku? Apa ini yang diajarkan Amerika kepadamu?"
"Hey Bung! Jangan bawa-bawa Amerika. Aku yakin kau akan betah tinggal di sini. Apalagi jika kau tahu banyak gadis 'polos' di pantai."
"Aku tidak tertarik omong-omong. Aku sudah mempunyai kekasih, tidak sepertimu yang tidak jelas."
"Enak saja tidak jelas. Aku akan mencarinya lagi setelah ini. Baru aku akan pulang ke Korea setelah bertemu dengannya."
"Sampai kapan huh? Sampai kau mempunyai uban? Sadarlah Park! Dia meninggalkanmu.."
Di saat Chanyeol masih mendengarkan Jongin, tiba-tiba sang pembawa acara menyebutkan satu nama yang membuat Chanyeol membulatkan kedua matanya selebar mungkin.
"Selanjutnya, mari kita dengarkan sambutan dari Byun Baekhyun. Mahasiswa berprestasi dengan nilai hampir sempurna."
Suara tepuk tangan yang meriah dan suara Jongin di sebrang telepon sama sekali tidak didengar oleh Chanyeol karena saat ini, fokusnya hanya kepada satu titik. Yaitu kepada lelaki mungil bersurai dark brown yang tertutupi topi toga, sedang berdiri di belakang podium. Tersenyum manis dan melambaikan tangannya kekanakan. Membuat dunianya seakan runtuh saat itu juga.
"Halo? Halo Park Chanyeol? Kau mendengarku? Sudahlah menyerah saja. Kau tidak akan menemukannya. Dia sudah meninggalkanmu.."
"Tidak Jongin. Aku akan segera pulang ke Korea." Lirih Chanyeol tanpa mengalihkan perhatiannya sedetik pun dari makhluk mungil yang berdiri di atas panggung.
"Well, Saya Byun Baekhyun. Mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang selama ini mendukungku. Selalu di sampingku. Dan untuk orang yang kucintai, apakah kau mengerti tentang surat itu?" lelaki di belakang podium itu kemudian terkekeh diikuti oleh suara tertawa yang sebagian besar berasal dari para mahasiswa kedokteran.
Nafas Chanyeol tercekat saat Byun Baekhyun secara tiba-tiba menatapnya secara langsung.
"Aku.. merindukannya dengan sangat. Dan karena dirinya, aku bisa sampai pada tahap ini. Jadi dia adalah orang yang sangat sangat sangat penting bagiku."
Chanyeol hanya bisa menatap Baekhyun dengan pandangan terkejut bak orang idiot.
/backsong I'm saying (Ost The Heirs) – Lee Hong Ki/
.
.
.
Tbc
.
.
Fyi, Jika ada yang minat, aku bakal ceritain kehidupan dari sisi Baekhyun. Kanchap ini dari sisi Chanyeol tuh. Jadi mungkin ff ini tambah satu chapter lagi /nambah terus perasaan/ -_-
Oh ya aku juga mau promote ff ku di cic challenge, judulnya Crazy Little Thing Called Love. Kalau udah baca jangan lupa review sama fav ya kekeke..
Sorry jika ada banyak typo, aku gak ngedit ulang karena males hehehe /slapped/
