Persona 3: Petualangan Sang Kakak
Disclaimer: Persona 3 milik Atlus, Gundam milik Sunrise, Kamen Rider milik Toei dan Ishinomori Productions, Ultraman milik Tsuburaya production, Final Fantasy milik Square Enix.
Warning: OC, OOC dan kemungkinan ada character's dead*Author dibunuh* penuh dengan CrossHover dan GAJE.
Summary: Reizato keluar mencari perkerjaan tetap tapi sayangnya gagal. Disaat itu, dirinya tak sengaja bertemu Fuuka di Naganaki Shrine dan mencicipi masakannya. Karena masakan Fuuka tak enak, akhirnya Reizato memutuskan untuk mengajari Fuuka memasak. Berhasilkah usaha Reizato?
Cyuur
Di depan Asrama, Reizato tengah menyiram tanaman di pinggir jalan sambil bersiul. Beberapa menit kemudian dia selesai dan mematikan keran air. "Akhirnya selesai juga menyiramnya." Reizato lalu mengganti bajunya untuk pergi keluar. "Sekalian keluar, mungkin aku harus menemukan pekerjaan..." pikirnya.
Beberapa jam dia berjalan dan memasuki toko-toko pasar Iwatodai sampai sore, namun tidak ada satupun yang membutuhkan tenaga kerja. Keadaan itu membuat Reizato menuju ke kuil Naganaki untuk merasakan angin sore yang sejuk di sana dan duduk dengan santainya.
"...kota ini sepertinya tidak membutuhkan tenaga kerja..." menghelah napas sambil menatap langit sore yang ada di sana. "Mungkin besok aku harus cari kerja ke Tatsumi Port Island." Pikirnya. Reizato kini terdiam menatap langit sore yang ada di sana.
~Chapter 33: Memasak, awas Slime Mesum! (Bagian 1)~
Di sisi lain, Fuuka sedang berdoa di sana tanpa di sadari oleh Reizato. "Semoga masakanku rasanya enak kali ini, amin." doa gadis itu dengan pelan dan kusuk. Setelah selesai berdoa, Fuuka pergi dari sana namun pandangannya tak sengaja menangkap sosok Reizato yang duduk dengan santainya di salah satu tempat duduk yang ada di sana. "Takeba-san?" gadis itu sedikit terkejut. "Kebetulan, apakah dia mau memakan masakanku ini ya?" pikirnya. Akhirnya Fuuka menghampiri Reizato dan memanggil namanya.
Reizato kemudian menoleh ke arah gadis yang memanggil namanya."Yamaghisi-san?"
"Maaf Takeba-san, apakah kau tidak ada kegiatan?" tanya Fuuka dengan malu-malu.
Reizato menggelengkan kepala, "tidak ada, memang ada apa?".
"Mmm... bisakah kau... mau mencicipi masakanku?" Fuuka kemudian menyodorkan kotak bekalnya dengan malu-malau tapi maksa. #Plak
"Ah!" Reizato dengan senang mengambil kotak bekal yang ada di hadapannya tanpa rasa curiga sedikitpun karena rasa lapar yang menyiksanya karena belum makan siang, "Kebetulan aku lagi lapar, baiklah akan ku cicipi sampai habis." membuka kotak bekalnya yang berisi 2 buah benda bulat berwarna merah kecoklatan. "Wah enak nih, bismilahirohmanirohim. ITADAKIMASU!" setelah selesai berdoa dan mengucapkan salam makan, dia memasukan benda bulat tersebut kedalam mulutnya dan hanya dalam satu gigitan tersebut.
Tek!
Dua buah batang sumpit di tangannya jatuh ke lantai. Tubuhnya menegang, keringat keluar dari dalam kulitnya. Terlihat warna kulit wajahnya menjadi hijau. Tak lama kemudian,
Bruk!
Tubuhnya jatuh tersungkur ke tanah dengan di ikuti busa ungu yang keluar dari mulutnya. Terasa jantungnya kini tidak berdetak lagi dan sesak napas. Tubuhnya mulai terbujur kaku di atas tanah, bersama kotak bekal yang jatuh di sampingnya.
Fuuka yang melihat hal itu segera memanggil ambulan tapi terlambat, laki-laki itu kini benar-benar pergi dari dunia ini. Meninggalkan dunia yang dulu pernah di tempatinya, bersama kasih yang sekarang tak lagi bisa di temuinya.
~Tamat~
"WOY CERITANYA MASIH LANJUT WOY!" teriak Reizato dari dunia lain. *Author di lempar ke dunia lain*
-Ralat-
"UHUK! UHUK! UHUK!" Reizato berusaha mengeluarkan benda bulat yang hampir membunuhnya dan berhasil keluar.
"Untung ada aku di sini, kalau makan itu hati-hati" ucap Yoshino yang kebetulan lewat dan tak sengaja bertemu dengan Reizato yang hampir mati.
"Ano... maafkan aku, maafkan aku yang telah memaksa Takeba-san untuk memakan masakanku..." ucap Fuuka yang penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa... Yamaghisi, sebenarnya yang salah itu adalah benda bulat ini yang tidak terasa enak di mulutku dan mencoba untuk membunuhku!" teriak Reizato sambil menunjuk bekal yang jatuh tersebut.
"Hoi, benda bulat itu siapa yang masak?" tanya Yoshino.
"Ya-Yamaghisi..." ucap Reizato dengan polos.
"Berarti kau sama saja menyalahkan Yamaghisi, Baka!" jelas Yoshino.
Fuuka yang mendengar hal tersebut langsung mojok di pojokan sambil bergumam "Aku memang tidak bisa memasak... aku memang tidak bisa memasak... aku memang tidak bisa memasak...", dengan nada kecewa.
"Jangan sedih, Nanti akan aku ajari kau memasak" hibur Yoshino.
"Sungguh, memangnya Hiroshi-san bisa memasak?" tanya Fuuka sambil menyeka air matanya.
"Bisa, buktinya aku bisa masak air." Kata Yoshino polos yang membuat Fuuka dan Reizato sweatdrop.
"Semua orang juga bisa masak air bego!" teriak Fuuka dan Reizato bersamaan pada Yoshino. Kini giliran Yoshino yang pudung di pojokan.
"Jadi... semua orang juga bisa masak air?" gumam Yoshino di pojokan dengan nada kecewa.
Reizato kemudian berdiri dan membersihkan topi bundarnya. "Sudah-sudah, lebih baik kita pulang. Apalagi aku belum masak buat makan malam nanti" jelas Reizato.
Fuuka yang mendengar Reizato bisa memasak terkejut. "Hah? Takeba-san bisa memasak?" tanyaknya.
"Bisa, memangnya kau pikir siapa yang setiap hari memasakan makanan untuk kalian?" tanya Reizato.
"Aku kira Sayu-nee-san, Yukari-chan atau Minako-chan yang memasak..." ucap Fuuka.
"Yukari mungkin bisa masak, adik Minato juga mungkin. Tapi kalau Sayu... sepertinya." pikir Reizato. "Tapi nanti di saat hari libur atau pulang sekolah aku akan mengajarimu memasak" lanjutnya.
"Be-benarkah? thanks" Fuuka kemudian merasa senang dengan apa yang di janjikan Reizato.
Tiba-tiba Waktu di sekitar Reizato berhenti, lalu terdengar suara kaca pecah , kemudian mobil ke tabrak, lalu pesawat meledak, di ikuti dengan suara So Imah yang cetar membahan *Di gebukin pemain OVJ(?)*. Tak lama setelah itu Sebuah kartu Tarot Arcana Priestess muncul di hadapan Reizato Tapi dengan gambar So Imah yang lagi nyinden. "Social link Arcana Priestess? Kok gambarnya So Imah? Ku kira wajahnya Yamaghisi. Jangan-jangan, Yamaghisi adalah anaknya So Imah?"
Selamat! Anda telah berhasil membuka Social Link Arcana Priestess,
Persona Gear Arcana Priestess dapat di pakai.
Setelah itu, cahaya kartu tersebut masuk ke dalam tubuh Reizato dan waktu kembali berjalan Normal kembali. Mereka bertiga selanjutnya pulang karena hari ini sore.
Malam Harinya di Asrama, Reizato meminta izin kepada Mitsuru untuk pergi ke Tartarus lagi hari ini. Namun Mitsuru tidak mengizinkannya karena kemarin sudah pergi ke Tartarus dan jika pergi ke Tartarus lagi maka akan mengakibatkan sebagian anggota menjadi sakit.
Reizato akhirnya pergi ke atap. "Kalau begitu di sini saja." Dia kemudian menunggu Dark Hour datang untuk mencoba Persona Gear barunya sambil melihat pemandangan kota di atas asrama.
Beberapa jam kemudian Dark Hour terjadi.
Reizato memanggil Personanya yaitu Joker, setelah itu memakaikan Joker Persona Gear Arcana Priestess. Cahaya dari Persona Gear Arcana Priestes menyelimuti tangan kanan Joker dan membentuk sebuah Lembing besar, Lembing besar yang bisa berubah menjadi parabola untuk menganalisis musuh tanpa bantuan Fuuka dan bisa menjadi sebuah senjata untuk bertahan. Tidak hanya itu, Reizato kini juga dapat merasakan Tempat-tempat keberadaan Shadow karena Persona Gear yang di pakaikan Reizato pada Joker.
Reizato yang melihat hal tersebut merasa kagum. Dia lalu berpikir untuk menggunakan Persona Gear Arcana Priestess kepada dirinya. Akhirnya dia menarik kembali Persona Gearnya yang berada di tubuh Joker lalu meremas kartu tersebut. Sebuah cahaya dari pecahan Persona Gearnya membentuk sebuah Helm antena di hadapannya. Hal tersebut membuat Reizato terkejut.
"Kok yang muncul helm beginian?" Reizato kemudian membalik-balik helm tersebut dan tak sengaja menemukan sebuah tulisan di belakangnya yang bertuliskan 'Helm Kesadaran'. "Helm kesadaran?" Reizato langsung memakai helm tersebut tapi tidak terjadi apapun. Beberapa detik dia menunggu masih tetap tidak terjadi apapun.
Karena hal tersebut, Reizato menyudahi mencoba Persona Gear dan dia lalu pergi ke kamarnya untuk tidur. Tapi sebelum dirinya masuk ke kamarnya, "Rei-kun!" suara seorang gadis memanggilnya dari jauh hingga membuat dirinya menoleh ke arahnya.
"Sayu? Kenapa kau tidak tidur?" tanya Reizato dengan nada dingin.
Sayu berjalan mendekati Reizato. "Aku mau bertanya satu hal padamu Rei-kun, bolehkan?" dengan nada gelisah yang terdengar seperti di paksakan. Mereka akhirnya duduk di sofa lantai 2 tersebut dekat tangga dan minuman kaleng berada.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Reizato yang langsung bertanya pada itinya karena waktu ini adalah Dark Hour.
Sayu menundukan kepalanya kebawah, "I-Itu..." dan tak lama kemudian memandang Reizato kembali. "Ini tentang ingatan Rei-kun 10 tahun yang lalu di sini. Apakah kau sudah mengingat semuanya dan juga mengingat pertemuan pertama kita?" tanyanya.
Reizato mengalihkan pandangannya. "Mengenai masalah itu... aku sebenarnya masih belum mengingat dengan jelas, tapi satu hal yang sekarang ku ingat adalah aku pernah bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Sayu Hiroshi" Jelas Reizato.
"Ja-jadi, Rei-kun hanya mengingat pertemuan pertama kita?" tanya Sayu.
"Ya, begitulah" Jawab Reizato. "Hey Sayu, sepertinya kau tahu mengenaiku 10 tahun yang lalu, Bisakah kau ceritakan apa yang terjadi 10 tahun yang lalu pada kita?" tanya Reizato.
"Eh? Untuk hal itu... sebenarnya ingatanku juga menghilang Rei-kun." Ucap Sayu yang tersenyum dengan lidah yang dia julurkan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Reizato yang melihat hal tersebut menjadi sweatdrop. Mereka akhirnya kembali ke kamar masing-masing setelah saling memberi ucapan selamat malam.
("Maafkan aku, Rei-kun.")
[Menyembunyikan kejujuran? Itu lah salah satu ciri khas manusia.] ucap Reito dari dunia lain, namun tidak ada yang mendengar. [Aku di sini terjebak dan tidak bisa melakukan hal apapun.] lanjutnya dengan menatap langit biru berawan di sana. [Namun, ini saatnya waktuku untuk bertemu dengannya hanya untuk memperingatinya tentang 'Kerabat' Hie dan Lov. Saa, Show Time! My body] Tubuh Reito kemudian perlahan menghilang.
Di kamar Minato. Pharos, seorang bocah misterius yang tinggal di dalam kamar Minato tengah duduk di kursi belajar Minato. "Hey Minato-nii, kau masih bangun?" tanyak Pharos.
Minato kemudian bangkit dari kasurnya dalam posisi duduk. "Masih, ada apa?" tanya Minato balik dengan wajah melas.
"Aku ingin bertanya sesuatu, apakah orang-orang itu selalu tidur di malam hari?" tanya Pharos.
"Benar, mereka selalu tidur di malam hari karena di malam hari tidak ada matahari yang menyemangati mereka untuk beraktivitas" jelas Minato.
"Jika begitu, kenapa kau malah tidur di kelas setiap hari guru menjelaskan sampai bel sekolah berbunyi?" tanya Pharos lagi.
"Itu... hm? Bagaimana kau tahu aku tidur di kelas?" tanya Minato yang terkejut dengan pertanyaan Pharos.
"Itu karena aku selalu memperhatikanmu" ucap Pharos.
"Oh begitu..." ucap Minato dengan lemas dan lesu.
"Jadi, kenapa kau tidur di kelasmu?" Pharos mengulang pertanyaannya. Akhirnya Minato mencari jawaban yang tepat dan logis untuk menjawab pertanyaan Pharos.
Tapi di sisi lain di kamar Reizato, Reito keluar dari tubuh Reizato dalam wujud kupu-kupu hitam dan kembali kewujud manusianya. Dia kemudian tak sengaja mencium aroma wangi Sayu. "Wangi Sayu, sepertinya ini adalah bekas kamar yang di pakai Sayu." Pikirnya. Reito kemudian memandang Reizato. "Jadi, kau kini tidur di sini sendirian?" ucapnya lemas, tapi tak lama kemudian dia tersenyum "Benar-benar bagus! Aku salut karena kau masih Pejaka! Tapi, apakah kau bisa menghadapi kekuatan 'Kerabat' Hie dan Lov dengan cara begini akibat ulah dariku?" tanyak Reito pada Reizato yang masih tidur dengan lelapnya. Tiba-tiba raut wajahnya menjadi dingin lagi "Cih, ngomong sama orang tidur ya begini nih ngeselin gue, orang bertanya eh malah nggak di dengar" Ujarnya pada dirinya sediri yang merasa kesal karena tidak di hiraukan oleh Reizato.
Tiba-tiba Parto sang dalang OVJ mendekati Reito dari belakang dan memukul kepalanya dengan menggunakan lembar naskah Author.
PLAK!
"Aduh" desah Reito kesakitan dan memegang kepala bagian belakangnya lalu memperhatikan Dalang yang ada di belakangnya.
"Orang gimana bisa dengar wong orangnya aja belom loe bangunin" ucap Parto. "Cepet bangunin, entar keburu Subuh terus nggak bisa Sahur nih" pinta Parto sambil menunjukan jam tangannya yang menunjukan angka 04.30 karena kehabisan batery, setelah itu kembali ke tempat Dalangnya.
"Iye dalang, gimana bisa subuh orang masih Dark Hour" ucap Reito pada Dalang Parto dari jauh dan dia akhirnya membangunkan Reizato, "Mas-mas bangun, udah Sahur" dengan cara yang Gaje.
"Ini Persona 3: Petualangan Sang Kakak atau Persona 3 OVJ sih?" teriak Author dengan keras karena Frustasi melihat kegajean ceritanya. "ULANG WOY! ULANG!"
Reito langsung membalik kasur yang di tiduri Reizato dengan kerasnya hingga membuat Reizato jatuh dan mendesah kesakitan. "Aw... Siapa sih yang gangguin orang tidur? kok sepertinya aku merasa De Javu?" tanyak Reizato, lalu berdiri dan melihat sekitar. Tapi tidak ada siapapun di sana, "Benar-benar De javu" ucapnya dingin.
"Halo, bagaimana kabarmu dengan Sayu?" tanya Reito tiba-tiba di belakang Reizato.
"Kau... Reito, kan? Masih seperti bia-tunggu, bagaimana bisa kau tahu namanya adalah Sayu?" tanya Reizato karena mendengar nama Sayu dipanggil oleh Reito.
"Aku sudah kenal dia lebih lama darimu. Sepertinya kulihat keadaan kalian baik-baik saja" ucap Reito.
"Jadi kau ke sini hanya untuk bertanya hal itu saja?" tanya Reizato.
"Tidak, aku hanya ingin memperingatkanmu hati-hati tentang ilusi dari 'Kerabat' yang akan datang, jika kau bisa mengalahkan mereka, tolong segel mereka" ucap Reito.
Reizato memegang dagunya untuk berpikir sambil memandang lantai kayu di bawahnya. "Hm... baiklah, tapi ngomong-ngomong siapa nama kerabatmu? Dan apa maksudnya untuk menyegel mereka?" tanya Reizato, namun yang di tanya sudah tidak ada. "Ke-kemana dia?"
~To Be Continue~
Maaf semua yang telah menunggu cerita saya yang gaje ini karena saya itu lagi mengerjakan banyak tugas dari sekolah. Sekali lagi saya minta maaf.
Yak, ini adalah gaya penulisan saya yang baru, bagaimana menurut kalian? Saya harap kalian suka.
Untuk Chapter berikutnya, akan saya percepat, saya berjanji. Thanks to Read this my Fanfict
