Title : My Bestttt

-teenhood 1-

AUTHOR : pikapikabyun (aquariusbaby06)

Cast : Baekhyun and Chanyeol

Length : Chapter

WARNING : PENUH DENGAN KEKONYOLAN DAN FLUFF GAK JELAS. JANGAN DIBACA KALAU ANEH YAAA

Btw di sini Chanyeol lebih tua beberapa bulan dari Baek, tapi tahun lahirnya beda, seperti Chanyeol sama Kyungsoo gitu beda satu bulan beberapa hari tapi beda tahun. Anggep aja Chan lahir tahun 92 Baek lahir 93 okeh sip.

.

May 2009

.

"Di mana anakmu itu hm? Lama sekali bersiapnya, mirip sepertimu saat aku menjemputmu untuk berkencan dulu." Ucap seorang lelaki paruh baya yang sedang meniup cangkir berisi teh yang amat panas buatan istrinya.

Wanita paruh baya itu mencibir mendengar perkataan suaminya yang terkesan sekali sedang mengejek kaum wanita.

"Mana ku tahu, lagipula itu wajar saja karena semua wanita akan bersiap diri sangat lama untuk kencan mereka."

Pria paruh baya itu hanya tertawa kecil mendengar ucapan istrinya.

"Ya itu wajar saja, tetapi tidak wajar jika anakmu itu yang meniru kelakuanmu saat muda dulu." Ucapnya.

Ny. Byun hanya mengedikkan bahunya acuh. "Baekhyun itu dulu akan menjadi seorang perempuan, namun saat aku melahirkan malah keluar laki-laki." Ucapnya sembari menata bekal untuk Baekhyun.

"Aku mengerti, terlihat jelas pada wajahnya." Balas suaminya.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki menuruni tangga yang terdengar seperti langkah kaki seseorang yang sedang lari marathon. Tn. Byun hanya melirik kedatangan anak manisnya yang terburu-buru, terlihat jelas dari rambutnya yang belum tersisir rapi dan kancing seragam yang sangat berantakan.

"Pagi Appaku yang sangat tampan!" Baekhyun berlari kecil menuju sang ayah sebelum mengecup pipi kanan lelaki paruh baya itu.

Tn. Byun tersenyum begitu mencium bau anaknya yang sangat manis itu.

"Berapa liter kau menuangkan parfum bayimu nak?"

"Hihi hanya 4 kali semprot, Appa." Jawabnya seraya mengacungkan keempat jarinya yang lentik.

"Itu memang 'hanya' empat kali semprot." Canda Tn. Byun dengan menekankan kata empat. "oh ya, kau serius untuk mengambil jurusan vocal? Kenapa tidak mengambil jurusan yang sama seperti Chanyeol?" Tanya Tn. Byun.

"Tidak mau Appa, aku hanya bisa bernyanyi, tidak dengan memainkan alat music atau berakting."

"Ya terserah padamu." Tn. Byun meminum tehnya yang sudah hangat. "ngomong-ngomong di mana dasimu Baekhyunie?" lanjutnya.

Baekhyun yang tersadar segera meraba dadanya dan dengan cepat melesat menuju kamarnya untuk mengambil dasi yang sempat ia lupakan.

Kemudian ia kembali dan menghampiri sang ibu yang sibuk membuat sarapan dengan tangan kanan terjulur memberikan dasinya.

Ny. Byun mengernyit heran.

"Pasangkan dasiku Eomma~" seakan tahu apa yang ibunya pikirkan, Baekhyun menjawabnya dengan nada merajuk.

Ny. Byun mengehela nafas sebelum membersihkan tangannya dengan kain lap dan memasangkan dasi anaknya yang manja itu.

"Kau ini sudah besar Baek, dua hari yang lalu usiamu sudah enam belas tahun dan kau harus mulai mandiri." Ny. Byun memutar tubuh anaknya untuk melihat apakah dasinya sudah rapi atau tidak. "Kau harus meniru Chanyeol, dia saja selalu bisa melakukan apapun sendiri, sudah tidak pernah menangis sejak lulus sekolah dasar.." lanjut wanita itu.

Ny. Byun kemudian mendorong bahu Baekhyun pelan setelah selesai memakaikan dasinya, "Sudah sana cepat habiskan sarapanmu."

Baekhyun merengut, "kenapa Eomma selalu saja membandingkan aku dengan Chanyeol? Anak Eomma sebenarnya aku atau dia?"

Tn. Byun terkekeh di balik koran yang dibacanya, "Chanyeol juga anak Eommamu Baek, apa kau lupa?" Baekhyun mencibir mendengarnya. Kenapa ayahnya itu suka sekali menggodanya?

"Aku tak mau punya Hyung sepertinya, dia sok sekali Appa~ dia selalu mengejekku."

Tn. Byun tertawa dan mengacak rambut anaknya gemas. "Mungkin dia gemas kepadamu Baekkie, seperti Appa yang suka mengejekmu." Baekhyun memutar bola matanya malas.

"Appa tidak mengantarku hari ini?" Tanya Baekhyun sambil sesekali meneguk susu vanilanya.

"Maafkan Appa sayang, hari ini Appa ada rapat kusus ketua kepolisian di Gangnam. Sebenarnya Appa ingin sekali mengantarmu sekolah karena hari ini kau pertama kali masuk sekolah menengah, tapi kondisi tidak mendukung." Tn. Byun terlihat menyesal mengatakan itu. "Lagipula masih ada Chanyeol yang dapat Appa percayakan, bukan?"

Baekhyun cemberut. "U-uh! Kenapa selalu Chanyeol sih? Appa dan Eomma tidak tahu bagaimana usilnya Park Chanyeol itu jika hanya ada kami berdua."

"Dia hanya bercanda Baek, Chanyeol itu sebenarnya sangat menyayangimu. Sudah cepat habiskan sarapanmu, hari ini kau berangkat bersama Chanyeol." Ucapan ibunya barusan membuat mood Baekhyun buruk sekali.

"Bela saja terus Park Chanyeol itu." Gerutunya pelan.

.

Baekhyun membuka gerbang rumah keluarga Park yang tepat berada di samping kiri rumahnya. Ia mulai memasuki halaman rumah yang sangat luas itu.

"Pagi Baekhyunie!" sapa seorang lelaki paruh baya yang Baekhyun kenal sebagai tukang kebun di rumah Chanyeol.

"Ya, selamat pagi juga Kim Ahjussi! Hari ini aku akan masuk sekolah yang sama dengan Chanyeol! Aku sudah menjadi murid Senior high school!." Ucap Baaekhyun dengan riang. Saking riangnya sampai melompat-lompat kecil di tempatnya.

"Aku tahu, nak. Terlihat jelas pada dirimu. Kau nampak semangat sekali?" lelaki itu tersenyum melihat tingkah Baekhyun yang mirip seorang bocah yang akan bersekolah untuk yang pertama kalinya.

"Tentu saja Ahjussi, itu berarti aku sudah dewasa karena sudah lulus sekolah menengah."

Lelaki paruh baya itu mengangguk.

"Apa Chanyeol ada di dalam? Kau menyirami tumbuhan apa itu Ahjussi?" Tanya Baekhyun seraya mendekat ke arah lelaki itu.

"Ya Chanyeol ada di dalam, dan ini tumbuhan baru yang kemarin baru ayah Chanyeol beli, katanya tumbuhan ini mudah sekali mati maka dari itu setiap pagi harus diberi pupuk baru dan disirami." Jelas lelaki itu.

Baekhyun hanya memandangnya takjub.

"Wahh Abeoji memang senang sekali mengoleksi tumbuhan." Jawabnya. "kalau begitu aku masuk dulu ya Ahjussi!"

Baekhyun melambaikan tangannya sebentar sebelum berlari kecil memasuki rumah keduanya itu. Memang bagi Baekhyun rumah Chanyeol adalah rumah keduanya begitu juga sebaliknya.

Baekhyun memencet bel rumah itu dan beberapa detik kemudian muncul seorang maid yang masih lumayan muda.

"Wah Baekhyunie, kau tampak manis dengan seragam barumu." Ucap maid yang berusia sekitar 30 tahunan dan memberi Baekhyun jalan untuk masuk.

"Terima kasih Noona."

"Chanyeol masih sarapan kau masuk saja."

"Baiklah aku masuk dulu ya Noona."

Baekhyun berjalan masuk menuju ruang makan yang sangat dia hafal dimana letaknya.

"Pagi!" lelaki mungil itu langsung berlari kecil begitu melihat keluarga Park, ia menempatkan diri untuk duduk di samping Chanyeol.

"Pagi Baekkie, kau siap sekali sepertinya untuk hari ini." Ucap Ny. Park seraya tersenyum.

Baekhyun mengangguk antusias mendengarnya, "Tentu Eommanim. Apa aku keren dengan seragam seperti milik Chanyeol ini?"

"Lebih dari itu, kau tampak manis sekali."

"Hehe terima kasih Eommanim."

"Baekhyunie, berhubung kau baru saja masuk sekolah yang sama dengan Chanyeol, jadi agar kau tidak tersesat kau harus bersama Chanyeol sampai kau hafal bagian sekolah itu ne? Abeoji tidak ingin kau tersesat." Jelas Tn. Park dengan senyuman hangatnya.

"Appa! Baekhyun bisa sendiri. Dia sudah besar, lagipula memangnya aku babysitternya?" gerutu Chanyeol.

Baekhyun cemberut mendengar penuturan Chanyeol.

"Ughh! Chanyeol! Jangan membuat Baekhyunie sedih pagi ini! Lagipula Baekhyun memang harus berada di sampingmu agar dia aman."

Perkataan Yoora membuat Baekhyun tersenyum lebar. "Ah Noona cantik sekali pagi ini."

Yoora mengibaskan rambutnya dan mencubit pipi Baekhyun. "Terima kasih Baekhyunie, kau manis sekali pagi ini."

Chanyeol memutar bola matanya malas. Baekhyun itu pintar sekali mencari muka pada keluarganya.

Baru saja Baekhyun akan memungut sebuah cerry merah di tengah meja makan, tangannya ditarik oleh Chanyeol hingga ia berdiri.

"Aku sudah selesai, ayo berangkat Baek!"

"Yak Chan aku-"

"Daahh Eomma, Appa, Noona!" Chanyeol menarik tangan Baekhyun membuat lelaki mungil itu sedikit oleng ke dapan.

"Abeoji, Eommanim, Noona! Baekhyun berangkat dulu dadahh~"

"Ne hati-hati Chanyeol! Jaga Baekhyunie yaa." Ucap Ny. Park dari ruang makan. Chanyeol hanya mengacungkan ibu jarinya.

Baekhyun hanya pasrah saat Chanyeol terus menarik tangannya. Baru sampai di depan mobil sport putih miliknya, Chanyeol melepaskan genggaman tangannya pada Baekhyun.

Baekhyun memandang mobil sport itu dengan antusias. "Wah Chanyeol, ku kira mobilmu tetap yang hitam dulu."

Chanyeol menggandeng Baekhyun menuju kursi di samping kemudi, membukakan pintu untuk Baekhyun. "Panggil aku Hyung. Aku ini lebih tua darimu." Baekhyun cemberut mendengar perkataan Chanyeol. Menurut Baekhyun, Chanyeol itu begitu gila hormat.

"Ayolah jangan bercanda. Kita hanya berbeda beberapa bulan Chanyeol."

Chanyeol memasangkan Baekhyun sabuk pengaman sebelum memasangkan untuk dirinya sendiri. Chanyeol melakukan itu karena memang sudah terbiasa. Lagipula, Baekhyun itu anak manja. Apapun harus dibantu atau diingatkan. Ini juga untuk keselamatan Baekhyun, karena bagaimanapun jika Baekhyun celaka saat bersamanya, tidak akan ada yang dapat dijadikan tersangka oleh Ibunya dan Ibu Baekhyun kecuali dirinya.

Chanyeol menghela nafas. "Keras kepala sekali. Memangnya kau lahir tahun berapa?!"

"1993.."

"Dan aku 1992, itu artinya aku lebih tua satu tahun darimu. Panggil aku Hyung, Baek." Chanyeol mulai melajukan mobilnya keluar halaman rumah.

"Tidak-"

"Kau akan aku turunkan di tengah jalan.."

"Oh astaga! Baiklah baik! Aku akan memanggilmu Hyung. Puas Chanyeol Hyung?" Baekhyun sangat tidak suka memanggil Chanyeol dengan sebutan itu.

Chanyeol tersenyum senang dan mengusap puncak kepala Baekhyun gemas. "Begitu kau akan terdengar lebih manis, aku suka."

Seperti tidak sadar dengan apa yang diucapkannya, Chanyeol tersenyum lembut sambil menatap sesekali Baekhyun di sebelahnya yang tetap mengerucutkan bibirnya. "Aku akan membelikan cupcake stroberi nanti sepulang sekolah."

Seketika mata Baekhyun bersinar mendengarnya. "Untukku?"

"Tidak, kata siapa? Percaya diri sekali kau." Chanyeol terkikik dalam hati karena berhasil menggoda Baekhyun. Lihatlah wajah cemberut Baekhyun, bagi Chanyeol itu sangat imut.

"Aku akan mengadukanmu pada Appa dan Eomma ."

"Adukan saja. Aku yakin Eommanim dan Abeoji akan membelaku."

"Ish! Aku akan mengadukanmu pada Abeoji dan Eommanim. Aku yakin mereka akan membelaku." Baekhyun berucap dengan percaya diri.

"Aku yakin orang tuaku akan membelaku juga." Chanyeol tersenyum jahil.

"Chanyeol pabo! Aku benci Chanyeol!"

"Ya sudah. Jika kau membenciku mengapa sekarang kau ada di dalam mobilku ha?! Sebenarnya siapa yang lebih pabo di sini?" Chanyeol senang sekali menggoda Baekhyun. Namun sepertinya Chanyeol tak pernah mau belajar dari pengalaman. Mata Baekhyun saat ini tengah berkaca-kaca hendak menangis.

Baekhyun itu cengeng, sekali kena damprat seseorang pasti matanya akan berkaca-kaca. Pernah saat itu sang ayah menasehatinya karena nilai bahasa inggrisnya yang jelek, Baekhyun menangis di pelukan ibunya sambil berkata 'Aku orang Korea, aku bukan orang Inggris' dan membuat sang ketua inspektur kepolisian Byun menghela nafas bingung dengan cara apa menasehati anak manisnya. Padahal ia tak membentak Baekhyun sama sekali. Dan semua itu berakhir dengan sang ayah yang membujuk Baekhyun dengan membelikan es krim stroberi.

Kembali kepada Chanyeol yang heran tak mendengar respon dari Baekhyun. Ia melirik lelaki mungil di sampingnya dan mendapati Baekhyun tengah mencebikkan bibirnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"C-chanyeol jahat.." lirihnya sambil tetap mencebikkan bibirnya menahan tangis. Chanyeol menghela nafas dan perlahan menepikan mobilnya.

"Baek, aku hanya bercanda. Aku tidak serius kok dengan perkataanku. Sungguh! Aku bersumpah aku hanya bercanda." Chanyeol menggenggam tangan kiri Baekhyun lembut. "Maaf karena telah mengataimu pabo tadi. Maaf, Baekhyunie tidak pabo, Baekhyunie pintar. Maafkan Chanyeolie ya?"

Chanyeol itu pintar sekali mengambil hati sahabat kecilnya. Maka Baekhyun mengangguk meskipun samar-samar.

"Baekhyunie memaafkan aku?!" Tanya Chanyeol sekali lagi seakan memastikan. Dan Baekhyun kembali mengangguk dengan bibir mengerucut.

"Baekhyunie jangan cemberut." Kali ini Baekhyun menggeleng. Seakan tak kehabisan akal mengambil hati Baekhyun, Chanyeol berucap lagi. "Begini saja, sekarang Baekhyunie pukul Chanyeolie yang jahat ini, tapi nanti jangan cemberut lagi nde?"

Dan berhasil. Baekhyun terkekeh kecil dan memukul lengan Chanyeol main-main. "Ishh Chanyeol pabo! Pabo! Pabo! Cepat jalankan mobilnya! Nanti kita terlambat!"

Chanyeol tersenyum gemas, menyentuh hidung mungil Baekhyun dengan hidungnya dan menggesek-geseknya gemas. Mereka tertawa bersama menyadari sikap mereka yang begitu konyol.

"Jangan ngambek lagi ya?" Baekhyun mengangguk.

"Janji pinky swear?" Chanyeol mengacungkan jari kelingkingnya dan disambut tautan oleh jari kelingking yang lebih mungil. "Anak pintar."

Setelah mengusap pucuk rambut Baekhyun, Chanyeol mulai menjalankan mobilnya lagi menuju sekolah.

.

"Wah ini menajubkan Chanyeol! Dari dulu aku memimpikan bersekolah di sini dan sekarang itu menjadi kenyataan! Ini benar-benar membuatku senang!" Baekhyun terus berucap tentang betapa bahagianya dia karena mulai bersekolah di sekolah elite itu. Baekhyun menatap kagum sekelilingnya di saat Chanyeol sibuk mencari tempat parkir untuk mobilnya.

"Karena kau masih baru, aku akan menemanimu kemanapun kau pergi. Jangan jalan-jalan sendirian tanpaku." Ucap Chanyeol seakan melupakan perkataannya tadi saat sarapan bersama keluarganya.

Chanyeol membuka sabuk pengamannya sesaat setelah mendapatkan tempat parkir untuk mobilnya. Tak lupa ia juga membukakan pintu untuk Baekhyun namun setelah lelaki mungil itu bangkit, Baekhyun justru kembali terduduk karena tubuhnya yang tertahan oleh sabuk pengaman.

"Aish! Baek, sabuk pengamanmu." Chanyeol membungkuk dan melepaskan sabuk pengaman Baekhyun, sedangkan lelaki itu justru terkekeh jahil.

"Terima kasih! Kau perhatian sekali uhm?" Dengan jahil Baekhyun menoel dagu Chanyeol dan dibalas oleh tatapan datar oleh lelaki jangkung itu. "Terserah."

Baekhyun dengan riang melompat-lompat kecil menatap takjub pemandangan taman sekolah barunya. "Apakah kisah cintaku akan dimulai di sekolah ini?" gumamnya pada diri sendiri. Chanyeol yang sedang mengobrak-abrik tasnya terhenti ketika mendengar apa yang diucapkan sahabat kecilnya. "Apa yang kau ucapkan?"

Baekhyun menoleh dengan mata yang berbinar-binar. "Apakah kisah cintaku akan dimulai di sekolah ini? Kau tahu kan Chanyeol? Seperti di drama-drama, pasti –"

"Tidak ada cinta-cintaan atau apapun itu Baek! Kau tidak boleh tertipu dengan bualan orang lain!"

"Kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Baekhyun heran. Chanyeol itu aneh sekali menurutnya. Dia berlagak seperti seorang ibu yang berpesan kepada anak gadisnya.

Chanyeol menutup resleting tasnya dan menggandeng tangan kiri Baekhyun sambil berjalan. "Kau ini anak manis dan aku yakin sekali pasti banyak yang mengincarmu dan aku tak mau itu terjadi."

Baekhyun membulatkan matanya juga bibirnya.

Seakan sadar apa yang ia ucapkan, Chanyeol berhenti berjalan dan menatap Baekhyun lembut. "Aku tidak mau sahabatku tersakiti karena cinta. Kau mengerti adik kecil?" sebuah senyum jahil mengakhiri kalimat Chanyeol. Baekhyun cemberut dibuatnya.

"Ish kau tidak perlu khawatir dan aku bukan adik kecil! Kau selalu berkata seolah aku ini adik kecil yang harus kau jaga padahal kita kan hanya berbeda enam bulan saja!" Baekhyun melepaskan genggaman tangan Chanyeol. E ntah mengapa Baekhyun sangat tidak menyukai penjelasan Chanyeol barusan. Entah bagian mana yang tidak ia sukai.

"Chanyeol hanya sahabatku bukan lebih! Jadi jangan berusaha mengaturku! Jangan berlaku selayaknya seorang kekasih karena kau selalu memerhatikan aku setiap waktu.." Baekhyun menunduk. Ia tak mengerti dengan tujuan apa ia berucap seperti itu pada Chanyeol. Padahal selama ini ia tak pernah mempermasalahkan segala perlakuan Chanyeol terhadapnya, namun entahlah. Baekhyun merasa dirinya sedikit sensitif pagi ini.

".. Chanyeol hanya sahabat dan tetangga. Tidak lebih." Lirih Baekhyun sebelum ia berlari meninggalkan Chanyeol yang berdiri mematung di tempat parkir sekolah, memikirkan segala ucapan Baekhyun untuknya.

"Baekhyun, kau bukan sekedar sahabat. Kau berarti untukku.."

.

Baekhyun berhenti di depan gedung kantin sekolah. Gurat kebingungan terlihat di raut wajahnya. Kyungsoo dan Minseok –teman barunya –tidak mau menemaninya makan siang di kantin karena kelelahan usai acara penyambutan siswa baru dan itu sebabnya kedua temannya itu memilih istirahat di kelas ketimbang makan di kantin. Awalnya Baekhyun juga memilih begitu, namun mengingat bekal dari ibunya yang telah ia makan sebelum acara penyambutan dan sekarang ia kembali kelaparan. Baekhyun memang memiliki napsu makan yang besar dan beruntung ia tidak memiliki tubuh yang gemuk.

Suasana kantin yang ramai dan didominasi oleh para sunbae membuat ia gugup dan merasa kecil. Ia belum mengenal seorang pun di sekolah itu kecuali Kyungsoo, Minseok, dan Jimin si ketua kelasnya. Dan tentu saja Chanyeol..

Baekhyun jadi sedikit menyesal ia meninggalkan lelaki itu.

"Chanyeolie.." aku merindukanmu.. tambahnya dalam hati setelah ia menggumamkan nama lelaki tinggi itu.

Kaki-kakinya dengan ragu melangkah memasuki kantin dan ikut mengantri di sebuah stand kantin yang terlihat lumayan sepi. Tepat di depannya adalah murid tingkat akhir dan Baekhyun mengetahuinya melalui pita yang disematkan gadis itu pada dasinya. Pitanya berwarna biru dan itu berarti tingkat akhir. Tiba-tiba saja seorang lelaki menghampiri gadis di depannya dan merangkul pundak gadis itu mesra. Baekhyun langsung mengerti bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

Pin yang digunakan lelaki itu pada dasinya berwarna sama dengan pita gadis itu. Mereka satu angkatan.

"Bisakah kau mundur adik kecil?" ucap lelaki itu padanya dan Baekhyun hanya menurut seperti anak anjing yang tersesat.

Baru saja Baekhyun akan maju karena antriannya mulai memendek, seorang gadis dengan rambut merah di bagian ujungnya menyela Baekhyun dengan cepat.

"Eitts, kau tidak keberatan jika aku di sini?" tanyanya sambil tersenyum licik. Baekhyun melirik pita gadis itu dan warnanya sama dengan pin yang digunakan Chanyeol yaitu warna kuning. Gadis ini satu tingkat di atasnya.

"Maaf sunbae, tapi aku mengantri lebih dulu. Sunbae lebih baik mengantri di belakangku."

Gadis itu memutar bola matanya malas. "Kau menurut saja. Seorang hoobae harus menuruti sunbaenya, benarkan?"

Baekhyun menggertakkan giginya kesal. Sungguh gadis ini sangat menjengkelkan dan jika dia seorang lelaki, Baekhyun akan menghajarnya saat itu juga.

"Apakah kau tak pernah diajari cara mengantri Sunbae?! Aku sudah berbicara baik padamu, jadi lebih baik kau mengantri." Baekhyun menarik paksa tangan gadis itu dengan lumayan keras membuatnya memekik kesakitan dan secara tak sadar Baekhyun juga mendorongnya hingga terjatuh.

"Aakh- sakit!"

"Baekhyun!"

Mendengar namanya disebut oleh sebuah suara yang sangat ia kenal membuat Baekhyun menoleh. Baekhyun mendapati Chanyeol yang berjalan ke arahnya. Lelaki tinggi itu mencengkram lengannya kasar dan membuatnya memekik kecil.

"Apa yang kau lakukan?! Kau tidak boleh berlaku kasar pada seorang gadis terlebih kakak kelasmu! Di mana sopan santunmu Byun Baekhyun?!" Chanyeol membentaknya tepat di depan wajah Baekhyun. Oh tak tahukah kau Chanyeol, Baekhyun adalah manusia paling cengeng di dunia dank au baru saja membentaknya. Lihat bagaimana mata Baekhyun mulai memerah.

"C-Chan dia yang memulai, aku –"

"Kau tidak boleh berlaku kasar Baekhyun. Siapa yang mengajarimu?!" Chanyeol tak sadar bahwa cengkramannya pada Baekhyun semakin mengerat hingga membuat lelaki kecil itu mengerang.

"Chan akh! Sakit –"

"Chanyeol tanganku sakit. Bisakah kau melihatnya?" Baru saja Baekhyun berbicara dan gadis bernama Seulgi itu memotongnya dengan keluhannya yang sangat dibuat-buat. Chanyeol melepaskan tangan Baekhyun dan menuju ke gadis itu untuk melihat keadaannya. Baekhyun mengerucutkan bibirnya menahan air mata menatap memar di lengannya.

"Kau tidak apa Seulgi? Mana yang sakit?" Tanya Chanyeol.

"Lenganku sakit sekali. Dia menarikku sangat keras." Seulgi adalah gadis yang licik. Dia sangat menyukai Chanyeol dan akan menghalalkan segala cara agar Chanyeol memerhatikan dan menyukainya.

Chanyeol mengelus lengan gadis itu sebelum membantunya berdiri dan kembali menatap Baekhyun yang menunduk dengan wajah kacau penuh air mata. Ia sungguh tak bisa menahan air matanya melihat perhatian Chanyeol pada gadis itu.

"Kenapa Baek? Kenapa kau menariknya terlalu keras? Kau tahu dia perempuan kan? Kau tidak boleh kasar pada perempuan."

"A-aku tidak s-sengaja hiks.. a-ku tidak sengaja s-sungguh.." Baekhyun menangis sesenggukan tak peduli saat ini ia menjadi tontonan gratis di kantin itu.

"Bohong Chanyeol! Mana ada orang salah yang mengaku salah?" Seakan tak puas melihat Baekhyun menangis, Seulgi semakin memojokkan Baekhyun.

Baekhyun menggeleng. Lelaki tinggi itu memegang erat kedua bahu Baekhyun. "Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kau lakukan itu? Jawab Baek!" Chanyeol mengguncang bahu Baekhyun.

"Aku.. aku s-sudah bilang hiks.. aku tidak sengaja! T-tidak sengaja hiks.. hiks.. C-chanyeol percaya padaku kan?"

"Jangan percaya Chanyeol! Dia juga menyela antrianku. Dasar hoobae yang tidak sopan." Seulgi terus saja memojokkan situasi dan membuat Chanyeol bingun harus percaya pada siapa.

Chanyeol memegang dagu Baekhyun dan membuatnya mendongak untuk menatap matanya. Mata puppy itu terlihat merah berurai air mata.

"Benarkah itu? Kau menyela antrian? Tak bisakah kau mengantri? Memang selapar apa dirimu hingga tega menyela antriannya?" lirih Chanyeol pelan di depan wajah Baekhyun. Mata mereka bertatapan lama. Baekhyun menggeleng sekali lagi.

"T-tidak! Dia bohong Chanyeolie, d-dia hiks.. dia bohong. Chanyeolie percaya padaku?"

"Aku akan memaafkanmu jika kau mengaku melakukan itu Baek, sungguh!"

Baekhyun membulatkan matanya tak percaya. Jadi Chanyeol tidak percaya padanya dan lebih percaya pada gadis itu?

"Kau percaya pada gadis itu?" Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol di dagunya dan tersenyum miris. "Berapa lama kau mengenalnya? Apa lebih dari lima belas tahun?"

Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol menjauh darinya. "Kau jahat Park Chanyeol! Jangan anggap aku sahabat atau apapun itu! Kau sangat jahat!" Dan Baekhyun berlari setelah mengucapkan itu di depan Chanyeol. Namun baru beberapa langkah pergi, Chanyeol menarik tangannya.

"Kau mau kemana Baekhyun?! Aku sedang berbicara padamu dan sangat tidak sopan kau tidak mengucapkan maaf pada Seulgi?! Kenapa kau kekanak-kanakan seperti ini?!" Secara reflek Chanyeol membentak Baekhyun dan apa yang didapatnya dari Baekhyun sungguh mengejutkan.

Chanyeol memegangi pipi kanannya yang telah ditampar oleh Baekhyun. "Baekhyun!"

"Apa?! Jangan urusi aku Chanyeol! Jangan temui aku! Jangan peduli padaku! Jangan berbicara lagi padaku! Jangan anggap aku sahabat kecilmu atau apapun itu jika kau tak pernah percaya padaku! Sejak dulu jangan berpura-pura baik padaku jika pada akhirnya kau selalu menganggapku anak kecil yang selalu kau ganggu! Aku membencimu dan aku berharap kita tak akan pernah bertemu! Aku menyesal mempunyai sahabat sepertimu!"

Hampir semua murid yang ada di kantin menyaksikan adegan dramatis dimana saat selesai mengungkapkan segala emosinya pada Chanyeol, Baekhyun berlalu meninggalkan Chanyeol yang terdiam kaku memikirkan segala ucapan Baekhyun barusan.

"Apa aku begitu keterlaluan padanya?" gumamnya sembari menatap punggung Baekhyun yang hilang di balik koridor.

Ini adalah hari pertamanya di sekolah namun Chanyeol menghancurkan segalanya.

"Aku membenci Chanyeolie. Aku ingin membencinya tapi tidak bisa.."

.

Baekhyun berjalan menuju halte dekat sekolahnya untuk menunggu paman Jung yang akan menjemputnya seusai pulang sekolah. Ia memang menelfon supir pribadi keluarganya untuk menjemputnya saat pulang sekolah dan memintanya untuk dijemput di halte dekat sekolah.

Baekhyun sangat tidak mau pulang bersama Chanyeol.

Saat duduk di kursi halte, ponselnya bergetar dan bunyi pemberitahuan bahwa ada pesan line terdengar dari sakunya. Baekhyun mengernyit tak suka saat nama seseorang terlihat dalam pemberitahuan aplikasi chatting itu.

5 pesan dari Chanyeol.

"Untuk apa dia mengirimiku pesan?"

Karena penasaran, Baekhyun membuka ruang obrolannya dengan seseorang ber-username 'Chanyeolie pabo' di aplikasi chat itu.

Chanyeolie Pabo (6 massage)

'Baekhyunie… Mian … '

'/stiker brown yang menangis/'

Baekhyun terkekeh tanpa sadar saat melihat pesan Chanyeol. Menurutnya, Chanyeol itu sangat imut dan manis saat sedang chatting dengannya.

'Baekkie ku.. '

'Maaf ne? Chanyeolie memang salah tidak percaya pada Baekkie..'

'Nanti pulang tunggu Chanyeolie dalam mobil ne? Kita pulang bersama. Nanti mampir ke supermarket membeli es krim?'

'/stiker brown dan cony yang berpelukan/'

Baekhyun terdiam menatap pesan-pesan Chanyeol. Matanya perih dan air mata menggenangi pelupuk matanya.

"Chanyeolie jahat." Gumamnya sambil menghapus air mata di pipinya. "Lebih memilih gadis jelek itu, dia kan seperti nenek sihir. Tapi Chanyeol percaya."

Belum selesai mengeluhkan sikap Chanyeol, tiba-tiba sebuah pesan dari lelaki yang sama muncul di saat Baekhyun bahkan belum keluar dari ruang obrolannya dengan Chanyeol.

'Kenapa hanya dibaca? :c '

Pesan itu hanya dibaca olehnya tanpa berniat membalas. Pesan kedua muncul kembali dari Chanyeol dan Baekhyun belum keluar dari ruang obrolan itu menyebabkan Chanyeol tahu bahwa Baekhyun di sana sedang aktif dan sedang membaca pesannya.

'Balas pesan Chanyeolie ya? Baekkie..'

Pesan ketiga muncul kembali beberapa detik kemudian. Baekhyun yakin di sana Chanyeol pasti khawatir padanya karena Baekhyun hanya membaca tanpa mau membalas pesannya.

'Baekkie masih marah? ;;( maaf …'

'Baekkie di mana? Chanyeolie sudah di mobil, ayo pulang.. ;)'

Baekhyun tersenyum kecil. Saat Baekhyun ngambek, Chanyeol pasti akan berlaku sangat imut hingga menyebut dirinya sendiri dengan nama 'Chanyeolie'. Andai Baekhyun tidak sedang dalam keadaan ngambek, dia pasti akan menggigit telunjuknya karena gemas pada Chanyeol.

Chanyeol dalam mode imut itu sangat jarang terjadi.

"Tidak mau pulang bersama Chanyeol. Chanyeol kan jahat." Ucapnya.

Beberapa menit kemudian sebuah mobil mercedez hitam berhenti di depannya dan paman Jung keluar dari pintu kemudi. Lelaki kepala empat itu tersenyum hangat pada Baekhyun.

"Ayo pulang." Paman Jung mengambil tas punggung Baekhyun sedangkan si pemilik tas hanya diam tanpa mau beranjak dari duduknya. Paman Jung mengelus puncak kepala Baekhyun lembut.

"Ada apa? Kenapa si pangeran imut ini cemberut?" Tanya Paman Jung.

Baekhyun mendongak. "Chanyeolie jahat, paman."

"Jahat? Jahat bagaimana?"

"Ya pokoknya jahat. Aku tidak mau bertemu dengannya."

Paman Jung menuntun Baekhyun berdiri dan memeluknya erat. "Baiklah jangan sedih begitu. Chanyeol pasti akan menyesal karena berbuat jahat. Sekarang ayo pulang. Bibi Jung membuat cookies green tea ala Jepang kesukaanmu."

Lelaki mungil itu mengangguk dan berjalan menuju mobilnya sebelum suara klakson mobil menghentikannya.

Dari mobilnya saja Baekhyun sudah paham bahwa di balik kaca mobil itu ada Chanyeol. Lelaki tinggi itu sedikit berlari menuju Baekhyun setelah menutup pintu mobilnya. Ia menggenggam tangan kiri Baekhyun lembut dan tak lupa memasang senyum terbaiknya.

"Kenapa pulang duluan dan tidak menunggu ku?" Chanyeol beralih menatap paman Jung dan tersenyum. "Maafkan aku Paman, Baekhyun akan pulang bersamaku. Maaf sudah merepotkanmu."

"Tidak apa Chanyeol. Paman bisa membawa tas Baekhyun." Paman Jung menjinjing tas Baekhyun dan menggantungnya di bahu. "Selesaikan masalah kalian baik-baik oke? Kalian terlihat aneh saat sedang bertengkar."

"Pasti. Sekali lagi maaf sudah merepotkanmu paman."

"Tak apa. Baiklah, paman pulang dulu ya. Chanyeol hati-hati dan pulang sebelum makan malam jika kalian ingin jalan-jalan dulu setelah ini." Paman Jung mengelus puncak kepala Baekhyun. "Paman akan bilang pada eomma jika kau pulang terlambat bersama Chanyeol."

Baekhyun mengangguk imut dengan bibirnya yang mengerucut. Oh ayolah, dia masih dalam mode ngambek kepada si telinga lebar ini.

Setelah mobil yang dibawa Paman Jung berlalu, Chanyeol segera menggandeng Baekhyun agar mengikutinya masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan, hanya diisi oleh Chanyeol yang berusaha membuka pembicaraan namun Baekhyun hanya membalasnya dengan gumaman atau kata 'ya' dan 'tidak' secara singkat.

"Jadi membeli es krim?"

Baekhyun mengedikkan bahunya dengan pandangannya yang ia jatuhkan pada pemandangan di luar kaca mobil. Chanyeol menghela nafas lelah untuk membujuk Baekhyun. Sungguh ia menyesal membuat Baekhyun marah dan tak mau menyapanya. Menurutnya, lebih baik Chanyeol satu hari tanpa ponsel ketimbang setengah hari tanpa Baekhyun yang berbicara dengannya.

"Baek.." Ia raih tangan kiri Baekhyun dan menggenggamnya lembut. Chanyeol menyadari reaksi Baekhyun yang sempat terkejut oleh perlakuannya barusan. "Maafkan aku.."

Lelaki mungil itu hanya diam masih menatap pemandangan di luar kaca.

Chanyeol menepikan mobilnya dan membuat Baekhyun menoleh dengan heran. "Kenapa berhenti?"

Genggaman tangannya pada tangan kiri Baekhyun semakin mengerat dan ia tatap Baekhyun lembut.

"Baekhyun sungguh aku menyesal atas kejadian di kantin tadi. Maaf karena telah membentakmu. Maaf karena tidak percaya padamu. Maaf karena aku tidak membelamu."

Baekhyun kembali memalingkan wajahnya tanpa mau berniat menatap Chanyeol sedikitpun. Ia masih marah dan kecewa dengan Chanyeol, oke?

"Baekkie.."

"…"

"Baekhyunie.."

"…"

"Baekhyunie nya Chanyeolie.."

"Ish! Aku bukan milikmu!" bentak Baekhyun dan menatap tajam Chanyeol. Namun Chanyeol tidak merasa takut justru ia gemas pada Baekhyun karena menurutnya tidak ada yang paling menggemaskan kecuali Baekhyun saat sedang malu atau ngambek.

"Oh benarkah? Tapi menurutku, sejak lahir pun kau sudah menjadi milikku, tentu saja setelah milik orang tuamu tentu saja." Chanyeol senang sekali menggoda lelaki itu. Lihatlah pipinya yang merah. Sungguh imut sekali.

Baekhyun membuang mukanya. "Tidak! Aku tidak mau! Chanyeol kan jahat padaku!"

"Aku tidak jahat."

"Jahat."

"Tidak."

"Iya jahat."

"Aku tidak."

"Iya jahat! Chanyeol jahat! Dari kecil memang Chanyeol sudah jahat padaku."

"Itu tidak jahat sayang. Itu karena aku gemas sekali padamu." Chanyeol tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Baekhyun. Dan lelaki mungil itu menangkisnya dengan muka jengkel.

"Sama saja itu namanya jahat. Aku benci orang jahat! Dan juga jangan panggil aku sayang, itu menggelikan."

Tangan Chanyeol mengacak rambut Baekhyun. "Tidak sayang~ aku tidak jahat. Percayalah."

"Jahat! Sekali orang jahat akan tetap jahat! Buktinya saja Chanyeolie percaya pada nenek lampir itu." Chanyeol terkekeh dengan keimutan Baekhyun. Di saat marah saja dia masih memanggilnya dengan panggilan imut itu.

"..Kenapa Appa tidak menembakmu saja dulu." Lanjutnya.

Dengan senyum jahil di wajahnya, Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada tubuh Baekhyun seraya berbisik. "Mau tahu kenapa Aboeji tidak menembakku?"

"…"

"Karena.." Chanyeol sengaja menggantung ucapannya agar Baekhyun penasaran. Dan itu berhasil! Lihat bagaimana wajah penasaran Baekhyun yang sangat menggemaskan. Rasanya Chanyeol ingin sekali menggigit, mencakar, dan menciumi wajah Baekhyun yang seperti bayi. Imut sekali.

"..Karena jika Aboeji menembakku, lantas siapa yang akan menikahi anaknya kalau sudah besar nanti. Hhm?"

Wajah imut Baekhyun merona parah tapi tetap menampilkan wajahnya yang sedang marah. Sontak saja ia memukuli lengan Chanyeol dengan brutal. Ukh! Ia benar-benar malu sekarang.

"Jahat! Jahat! Jahat! Mesum! Chanyeol mesum! Aku tidak mau menikah dengan orang jahat dan mesum! Aku tidak mau!"

Chanyeol tertawa dengan reaksi Baekhyun yang sangat menggemaskan. Ia menahan kedua tangan Baekhyun yang memukulinya dan menggenggamnya lembut. Sorotan mata yang tajam namun hangat mampu membuat Baekhyun diam mati kutu dan menelan ludahnya susah karena gugup.

Ayolah, Kau sudah bersama Chanyeol hampir seumur hidupmu tapi kenapa masih saja gugup saat lelaki tinggi itu menatapnya intens seperti ini?

"Baiklah, aku janji tak akan jahat. Jadi.."

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya.

"..Kau bisa menikah denganku. Bagaimana?"

"Tidak mau! Nikahi saja nenek lampir itu."

"Aku tidak mau menikahinya. Kan aku tidak cinta dengannya. Aku hanya mencintaimu Baekkie sayang.."

Pipi Baekhyun semakin merona saja mendengar perkataan cheesy lelaki itu.

"Aku sahabatmu. Tidak seharusnya kau mencintaiku dobi!" Chanyeol terkekeh dan mendekat kepada wajah Baekhyun. "Kata siapa tidak boleh? Aku yakin orang tua kita akan setuju seribu persen jika kita menikah nanti."

"Aku yang keberatan."

"Tidak tentu saja. Kau akan mau menikah denganku." Kedua alis Chanyeol naik turun menggodanya.

"Aku tidak mau."

"Kau mau."

"Tidak."

"Iya."

"Aku tidak mau dobi!"

"Kau akan mau sayang."

"Tidak mau."

"Mau."

"Tidak mau."

"Mau."

"Tidak mau."

"Tidak mau."

"Mau!" Baekhyun menutup mulutnya dengan mata melebar. Apa yang ia ucapkan barusan? Chanyeol benar-benar licik dan curang.

"Aha! Kau mau! Kau akan menikah denganku! Chanyeollie akan menikah dengan Bekhyunnie.."

Chanyeol segera mengecup bibir Baekhyun karena sungguh demi apapun ia sangat gemas dan tak dapat menahan diri untuk tidak mengecup makhluk menggemaskan di depannya.

"Satu."

Cup.

"Dua."

Cup.

"Tiga."

Cup.

"Empat."

Cup.

"Li –"

"Tunggu! Kenapa sambil berhitung?" Tanya Baekhyun heran.

"Karena aku ingin mencium Baekkie sampai seratus kali bahkan kalau bisa seribu kali."

"Apa –uhm!" Chanyeol sungguh tak dapat menahannya dan tidak mengijinkan Baekhyun berbicara banyak dengan cara mengecupi seluruh wajahnya dengan gemas. Baekhyun menutup matanya erat sambil tertawa-tawa karena geli dengan perlakuan Chanyeol pada wajahnya.

"U-uh aku gemas sekali padamu! Ayo kita menikah saja Baek."

"Ahaha~ Chanyeol geli! Cukup!" Baekhyun menahan tubuh Chanyeol agar tidak mendekatinya lagi. Mata mereka menatap satu sama lain dengan pandangan yang berbeda. Jika Baekhyun memandang Chanyeol dengan gugup maka lelaki tinggi itu memandang Baekhyun dengan pandangan sayang.

"Aku akan mengatakannya Baek, aku sungguh mencintai dan menyayangimu. Waktu selama hidupku kuhabiskan bersamamu. Saat kita baru lahir, saat kita masih memakai popok, saat kita berangkat ke taman bermain bersama, saat kita masih selalu mandi bersama.." Mendengar itu sontak wajah Baekhyun kembali merona malu mengingat dulu mereka memang selalu mandi bersama saat sore hari.

"..saat kau baru masuk sekolah dasar dan aku mengenalkanmu pada teman-teman, saat kita beranjak remaja hingga saat ini kita tak pernah lagi mandi bersama. Semua yang kulakukan adalah yang kau lakukan juga. Aku sudah menganal dirimu begitu juga denganmu. Dan kurasa, aku sudah jatuh cinta padamu bahkan saat kita masih sering mengompol di celana." Chanyeol terkekeh di akhir kalimatnya.

"Apakah kau merasakan hal yang sama denganku?"

Baekhyun mengangguk dengan wajah malu-malu.

"Astaga imutnya.. kemari Baek, aku ingin memelukmu erat sekali." Baekhyun tertawa kecil mendengar pengakuan Chanyeol. Ia penasaran, seimut apa dirinya di mata Chanyeol hingga membuat lelaki tinggi itu gemas sekali padanya.

Ia rentangkan tangannya agar Chanyeol dapat memeluknya. Chanyeol menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri dengan Baekhyun di pelukannya. "Tapi aku juga masih ingin menjadi sahabatmu, jadi kurasa kita akan tetap menjadi sahabat. Maksudku, sahabat yang saling mencintai. Bagaimana?"

Lelaki di pelukannya mengangguk. "Ya Chanyeolie masih sahabatku. Kita masih berstatus sahabat dan lebih baik seperti ini daripada kita berstatus sebagai kekasih. Menurutku, status kekasih atau sahabat tidak ada pengaruhnya untuk kita kan?"

"Kau benar. Tapi beda lagi jika kita sudah menikah. Karena status menikah akan berbeda dengan sahabat. Mau kuberitahu perbedaannya?" Tanya Chanyeol.

Sontak Baekhyun melepaskan pelukan mereka dan menatap datar Chanyeol. "Tidak perlu. Aku tahu apa yang ada di dalam otak udangmu Park Dobi jelek! Cepat belikan aku es krim! Aku belum memaafkanmu karena kejadian tadi!." Baekhyun menampar wajah Chanyeol main-main yang aman dibalas kekehan dari lelaki tinggi itu.

"Ay ay Kapten!"

.

.

.

Tobecontinue.

.

Sorry for typo ._.v

a/n : ini teenhood bagian pertama. Nanti akan ada teenhood bagian kedua dan kemudian adulthood yey!

Terakhir , Review please, I need your opinion