Persona 3: Petualangan Sang Kakak
Disclaimer: Persona 3 milik Atlus, Gundam milik Sunrise, Kamen Rider milik Toei dan Ishinomori Productions, Ultraman milik Tsuburaya production, Final Fantasy milik Square Enix.
Warning: OC, OOC dan kemungkinan ada character's dead*Author dibunuh* penuh dengan CrossHover dan GAJE.
Summary: janji pelajaran memasak telah tiba, bisakah Fuuka memasak dan apakah yang akan terjadi malam ini?
Setelah waktunya pulang sekolah, Fuuka pulang ke asrama lebih dulu karena Reizato sudah berjanji untuk mengajari Fuuka masak. "Aku pulang..." tapi tidak ada orang di dalam asrama. "Takeba-san? Dia sepertinya tidak ada di asrama." Ucapnya.
~Chapter 34: Memasak, awas Slime Mesum! (Bagian 2)~
Beberapa menit kemudian, Reizato pulang dengan membawa beberapa kantung belanjaan bersama Sayu . "Kami pulang..." ucap mereka berdua.
"Okaeri, Takeba-san, Sayu-nee-san" jawab Fuuka.
"Oh, Fuuka, kok pulang duluan? apakah kamu tidak ada janji sama teman-temanmu?" tanya Sayu.
"Tidak ada, soalnya aku ada janji pada Takeba-san untuk mengajariku memasak hari ini" ujar Fuuka.
"Eh? Aku juga punya janji dengan Reizato-kun untuk mengajariku memasak." Ucap Sayu.
"Sayu-nee-san juga? Bukannya Sayu-nee-san sudah bisa memasak?" tanya Fuuka yang terkejut.
"Aku memang bisa memasak, tapi masakanku tidak seenak masakan Rei-kun, jadi aku ingin dia mengajariku memasak. Apalagi aku adalah calon istrinya Rei-kun" jelas Sayu dengan malu-malu tapi mau.
"Oh, kalau begitu selamat berjuang ya, Sayu-nee-san" ucap Fuuka.
"Kau juga, selamat berjuang." Ucap Sayu.
"Hoi-hoi, ini kan hanya latihan memasak" Reizato yang melihat semangat Sayu dan Fuuka hanya bisa sweatdrop. Akhirnya persiapan latihan memasak sudah selesai di siapkan Reizato. Mereka bertiga memakai Celemek masing-masing. "Baiklah, pelajaran pertama dariku adalah..." semua orang mulai menengang ketika bersiap mendengar apa pelajaran pertama Reizato, "Masak air".
GUBRAK!
"Kok masak air?" tanya Sayu dengan heran dan kesal.
"Hoi, aku awalnya bisa memasak itu karena masak air dulu" ujar Reizato. "Itulah di saat aku di ajari ibuku memasak" lanjut Reizato. "Meski kini sifatnya telah berubah setelah hal tersebut" lalu galau di pojokan sesaat mengingat sifat ibunya yang telah berubah drastis setelah kematian ayahnya yang tidak bisa dia ingat bagaimana ayahnya mati.
"Baiklah kalau begitu, ayo Sayu-nee-san, kita masak air" ucap Fuuka.
"Ok, masak air" teriak Sayu. Tekoh Pancipun akhirnya di isi dengan air dan setelah itu di masak di atas kompor. "Berapa lama airnya mendidih?" tanya Sayu pada Reizato.
"Itu sesuai besar kecilnya api yang di gunakan untuk memasak air dan hanya tinggal menunggu waktu saja" jelas Reizato.
"Jadi jika aku ingin airnya cepat mendidih, maka aku hanya perlu memperbesar apinya, bukan?" Sayu kemudian mengatur besarnya ukuran api tersebut.
"Ja-JANGAN!" Reizato berusaha menghentikan namun terlambat,
BLAAAR!
Api kompor tersebut langsung membesar dan membakar langit-langit Asrama setelah Sayu mengatur ukuran api tersebut.
"KEBAKARAN!" Reizato berlari kekanan dan kiri ruangan karena panik.
"REI-KUN CEPAT LAKUKAN SESUATU!" teriak Sayu yang juga panik.
"AIR-AIR, BENAR JUGA!" Reizato kemudian sadar. "Pakai Persona!" Reizato kemudian memakai Evokernya. "Joker!" Jokerpun muncul. "Baiklah, sekarang aku harus memadamkannya dengan skill Bufu," tak berapa lama kemudian dia sadar. "GAWAT AKU TAK PUNYA SKILL BUFU!" teriaknya kembali panik. "tenang-tenang, ada Persona Gear" dia akhirnya mencari Persona Gear yang memakai Skill Bufu tapi tidak menemukannya. "GAWAT! TIDAK ADA SATUPUN YANG MEMAKAI SKILL BUFU!" Reizato kembali panik.
"Pakai Skill Garu!" teriak Sayu.
"Benar juga, GARULA!" Reizato menjulurkan tangannya ke arah api kompor tersebut. Namun api tersebut bukannya mengecil malah semakin membesar. "GYAAAAAA!" Reizato teriak karena makin panik.
Tak lama kemudian, sistem pemadam kebakaran yang ada pada asrama otomatis aktif dan turunlah hujan di atas api tersebut yang berasal dari langit-langit ruangan.
"Eh...? Kenapa baru sekarang sistem pemadam kebakarannya aktif?" tanya Reizato dengan lemas dan basah kuyup.
"Jadi... tesku bagaimana?" tanya Sayu.
"Tesmu besok ya." ucap Reizato dengan dingin lalu mengganti bajunya.
"Takeba-san, airnya sudah mendidih!" ucap Fuuka dengan mata tajam yang penuh semangat sambil membuka tutup Tekoh Panci tersebut.
Reizato memeriksa suhu panas air tersebut dengan Termometer setelah mengganti baju. "Ah, panasnya bener-bener pas!" teriaknya, lalu memandang Fuuka. "Sekarang Yamaghisi, pelajaran kedua adalah menyajikan teh, kopi, atau susu hangat dengan air yang telah kau panaskan ini, mengerti?" ucap Reizato.
"Siap! Akanku buat teh" teriak Fuuka dengan penuh semangat. "Tapi... bagaimana cara membuat Teh?" tanya Fuuka.
"Caranya adalah, siapkan 2 buah cangkir teh dan sendok teh, 1 keping kantong teh Sari Wangi dan 1 buah nampan!" jelas Reizato dan di saat bersamaan Fuuka telah menyiapkan hal tersebut di atas meja.
"Selanjutnya apa?" tanya Fuuka.
"Pertama, masukan 1 keping kantong teh Sari wangi ke dalam Tekoh Panci milikmu," Fuuka melakukan apa yang di katakan oleh Reizato. "Kedua, tunggu air dalam Tekoh Pancimu menjadi teh. Kalau perlu kau bisa mengaduknya agar teh yang ada di dalamnya bisa merata" ujar Reizato dan Fuuka melakukannya.
"Setelah itu?" tanya Fuuka.
"Sajikan tehnya ke dalam cangkir tersebut dan selesai." Ucap Reizato dan selesailah ujian masak air dan membuat teh. "Aku coba" Reizato mencium harum dari teh tersebut dan setelah itu dia meminumnya. "Ah~ hangat~ dan Mantap~" ucapnya. "Selamat Yamaghisi! Ujian ke dua kau lulus!" teriaknya.
"Hore!" teriak Fuuka.
"Selamat ya Fuuka..." Sayu memberi selamat kepada Fuuka.
"Sama-sama Sayu-nee-san, aku akan mendoakanmu semoga kau lulus" ucap Fuuka.
"Terimakasih" Sayu tersenyum.
"Baiklah,sekarang ujian ke tiga, yaitu menggoreng telur!" Reizato menyalakan api dan meletakan penggoreng diatasnya. "Ini..." Dia memberikan sebuah telur Ayam untuk Fuuka. "Lakukanlah!" ujarnya.
"Baik, akanku lakukan!" Fuuka memecahkan telur tersebut dan mulai menggoreng telur. "Setelah ini apa selanjutnya?" tanyanya.
"Beri garam secukupnya lalu tunggu beberapa menit agar bagian bawah telur matang" jelas Reizato. Beberapa menit telah berlalu dan ini saatnya untuk membalik telur tersebut. "Ini saatnya, Yamaghisi!" teriak Reizato penuh semangat.
Fuuka mencoba membalik telur tersebut secara perlahan dan berhasil. "Telurnya berhasil aku balik!" teriaknya senang dan di saat itu aroma telur yang sudah di balik tercium sangat sedap.
Tak lama kemudian Yoshino pulang ke Asrama. "Wuh, sepertinya enak nih" Yoshino tak sengaja mencium aroma telur yang di oreng. "Aku pulang, kalian sedang masak apa?" tanyanya.
"Masak telur" jawab Reizato dengan dingin.
"Oh, aku kira masak air" gurau Yoshino.
"Okaeri Onii-chan" sapa Sayu.
"Jadi masak telur nih" Yoshino mendekati dapur untuk melihat kegiatan tersebut.
"Takeba-san, setelah di balik harus di apakan?" tanya Fuuka.
"Ya di hidangkan dan sekarang... adalah waktu untuk menghidangkannya, silahkan..." jelas Reizato selembut mungkin.
Fuuka berusaha memindahkan telur yang matang tersebut secara perlahan ke piring setelah api dari kompor di matikan.
"Begitu, ya pelan-pelan..." bisik Reizato dengan wajah menengang.
Telurnya kini sudah berada dekat dengan piring, suasana saat ini benar-benar menegangkan.
"Woy cepatlah! Aku ini sangat lapar!" teriak Yoshino.
"BISA DIAM NGGAK SIH!" teriak Sayu, Reizato dan Fuuka bersamaan dan saat itu pula Telur tersebut berhasil di letakan di atas piring. "BERHASIL!" mereka bertigapun senang.
"Sekarang aku coba ya, aaa..." Yoshino mencoba rasa telur tersebut.
"Bagaimana rasanya?" tanya Fuuka.
Yoshino menunjukan jempolnya kepada Fuuka setelah menelan telur tersebut, "Very Nice!".
"Akhirnya..." Fuuka menangis karena terharu. "Aku bisa memasak sebuah telur mata sapi..." lanjutnya.
"Selamat! Ujian ke tiga kau lulus!" teriak Reizato sekencang mungkin.
"Terima kasih Takeba-san, kini diriku bisa masak meskipun itu hanya sebuah telur." Ucap Fuuka dengan senang.
"Sama-sama dan kau kini boleh memanggil namaku Reizato, Fuuka." Ujar Reizato.
"Kalau begitu terima kasih Reizato-nii-san" Fuuka menundukan kepala tanda memberi hormat.
"ya-ya" Reizato hanya terus tersenyum.
"Rei-kun, sudah sore. Sebaiknya kita buat makan malam untuk para penghuni asrama" ucap Sayu yang menunjuk ke arah jam dinding.
"Benar juga." Reizato mulai menyiapkan bahan memasak untuk makan malam bersama Sayu.
"Reizato-nii-san, bolehkah aku ikut membantu? Sekalian aku ingin membuat makanan untuk teman-teman" ucap Fuuka.
"Tentu, semakin banyak orang yang membantu, pasti cepat selesai" akhirnya Fuuka ikut membantu setelah Reizato mengijinkan.
Malam harinya, sebuah sup daging berwarna ungu kelam bergelembung dan beraroma kematian sudah berada di tengah meja makan para penghuni Asrama. Semua yang melihat panci tersebut hanya bisa memasang wajah tegang.
"A-apa ini?" tanya Minato.
"Sup daging buatan Yamaghisi" ucap Yoshino.
"Kemana Hatsune-san, Shion-san dan Ikutsuki-san?" tanya Yukari.
"Hatsune-san dan Shion-san tadi menelepon akan pulang terlambat karena lagi konser di ITB," kata Sayu yang menjelaskan. "Tapi kalau Ikutsuki-san, aku tak tahu" lanjutnya.
"Jadi, kita akan makan ini?" tanya Akihiko.
Fuuka tiba-tiba merasakan kesedihan yang mendalam setelah mendengar pertanyaan Akihiko. "Maafkan aku semua..." ucapnya pelan yang tentu saja mau menangis.
"Sudah-sudah, biar luarnya mengerikan yang penting dalamnya rasanya enak" Reizato kemudian berusaha mengambil daging yang ada di sup tersebut dengan menggunakan sumpit, namun ketika ujung sumpit tersebut telah menyentuh daging yang ada di Sup...
Jessss!
Ujung sumpit tersebut meleleh. "Wah, bisa meleleh? HEBAT!" teriak Reizato dengan kagum.
Semua yang melihat hal tersebut semakin menegang.
"A-apa kita harus memakan ini?" tanyak Junpei.
"Harus! Karena ini sepertinya enak!" teriak Reizato yang dengan cepat berusaha mengambil daging tersebut dan berhasil. Namun ketika daging tersebut di telannya. "Ngk..." warna wajahnya membiru dan tubuhnya tersungkur ketanah tak sadarkan diri.
"KYAAAAA! ONII-SAN!" Yukari mencoba membangunkan kakaknya. "AYO SADAR!" dengan cara apapun dan bahkan menginjak *PIIIIIP* milik Reizato dengan keras namun masih tetap tak sadar. "Tak ada cara lain!" Yukari kemudian mengangkat jari telunjuknya dan langsung menusuk bagian titik Tertawa Reizato dengan jarinya tersebut.
"Pffftt... HAHAHAHAHAHA!" Reizato kini bangun dan tertawa tanpa henti.
"Phew... Syukurlah..." Yukari merasa lega.
"Maafkan aku... Reizato-nii-san..." ucap Fuuka yang menyesal.
"I-ini HAHAHAHAHA... bu-bukan HAHAHAHAHA... Salahmu HAHAHAHA..." ucap Reizato yang tengah menahan tawanya.
"Semua, lihat pancinya!" teriak Junpei hingga semua orang melihat panci tersebut. Bagian bawah panci tersebut mulai meleleh karena masakan Fuuka dan sebentar lagi permukaan meja tersebut yang ada di bawahnya juga akan meleleh.
"BOCOR-BOCOR! MEJANYA MAU BOCOR-BOCOR!" teriak Akihiko rempong.
"Cepat, beri No Droop! Cat anti tembus!" teriak Yoshino.
"Terlambat, semua awas!" semua akhirnya menjauhi meja setelah Minato memberi perintah. Daging sup tersebut kini berada di lantai. Namun tiba-tiba, daging sup tersebut bergerak-gerak sendiri dan tak lama kemudian sebagian cairan itu membentuk sebuah tangan dan mata.
"A-apa daging sup itu hidup?" tanya Junpei.
"Dagingnya hidup!" teriak Minako.
"Slime?" tanya Minato.
[GRRRRRRR!] terdengar suara erangan dari makhluk yang di sebut Minato sebagai Slime tersebut.
"Sepertinya ia tidak bersahabat" ucap Yoshino.
Slime kemudian menatap Fuuka. [Ibu...] dan memanggil Fuuka dengan sebutan ibu.
"Hm? A-aku bukan ibumu..." ujar Fuuka yang ketakutan dan berjalan ke belakang berlindung ke arah Junpei.
[Ibu... GRRRRR!] Slime kemudian mendekati Fuuka dengan perlahan.
"Ternyata dia anakmu Fuuka, kapan kau melahirkan? Kok nggak bilang-bilang" tanya Junpei dengan konyolnya.
Bruak!
Sebuah pukulan dari Yukari telah mengenai kepala Plontos Junpei. "JANGAN BERTANYA YANG TIDAK MASUK AKAL! STUPEI!" teriak Yukari dengan kesal.
"AKUKAN HANYA BERCANDA!" bentak Junpei.
"BERCANDA ADA BATASNYA!" bentak Yukari.
Slime tiba-tiba menyemburkan cairannya ke arah Yukari. "YUKARI!" Minato berusaha melindungi Yukari dengan tubuhnya, sehingga cairan dari Slime tersebut mengenai kaosnya.
"Minato-kun! Kau tidak apa?" tanya Yukari.
"A-aku..." tiba-tiba kaos Minato yang terkena cairan dari Slime tersebut meleleh dan terlihatlah tubuh telanjang Minato bagian atas. "Gyaaaa! Kaosku meleleh!" teriak Minato histeris.
Semua perempuan yang melihat hal itu menjadi takut. "Ja-jangan-jangan, itu adalah SLIME MESUM!" teriak Minako.
"TIDAK!" teriak semua perempuan penghuni asrama sambil melindungi bagian tubuhnya. Mereka akhirnya bersembuyi di balik para laki-laki kecuali Junpei.
[GIGIGIGIGIGI... ibu...] Slime mulai menembakan cairannya ke segala arah hingga dinding asrama, atap bahkan lantai di penuhi cairannya.
"Semuanya! Lindungi para gadis!" teriak Minato. Semua laki-laki berusaha melindungi para gadis, tapi sepertinya Junpei malah tidak berniat untuk melindungi mereka.
"HIHIHIHI... Slime mesum... AKU BANGGA DENGANMU!" teriak Junpei. "Sekarang, AYO LUCUTI PARA GADIS! Kita akan melihat bentuk tubuh mereka secara jelas... hihihihihi..." sebuah pikiran mesum telah aktif di pikiran Junpei sambil memerintah Slime. Namun, Junpei langsung di tendang oleh para gadis ke angkasa menembus atap Asrama. "GYAAAAAAA! KENAPA MALAH AKU YANG DI SERANG?!" teriaknya.
"ORANG MESUM MATI SAJA!" teriak para gadis.
[Ibuku...] teriak Slime dan perlahan menuju ke arah Fuuka.
"Itu tidak akan terjadi!" teriak Reizato yang tiba-tiba sudah memakai kostum Kamen Rider Jokernya.
"Selama masih ada kami di sini!" teriak Minato yang juga memakai Kostum Kamen Rider Decadenya.
"Karena kami tidak akan menyerahkan Yamaghisi padamu dan melucuti seluruh GADIS!" teriak Yoshino yang memakai kostum Kamen Rider Kivanya.
"Woy, kenapa kalian malah bercosplay?" teriak Akihiko.
"Biar keren" jawab mereka bertiga.
"Mari ngeGAJE!" teriak Author ikut-ikutan sambil tari rempong dan berakhir dengan tendangan semua orang yang ada di sana.
[GIGIGIGIGI...] Slime hanya tertawa.
"Siapkan Evoker kalian!" pintah Minato dan terdengar lagu Mass Destruction. Mereka berempat menyerang Slime dengan element petir, angin, api dan secara fisik namun Slime masih tetap hidup.
"Nih Slime kayaknya nggak bisa dengan mudah kita kalahkan" ucap Yoshino.
"Fuuka, analisis anakamu(Slime)!" pintah Minato yang kemudian mendapatkan sebuah pukulan tepat di kepala oleh Yukari.
"Jangan bercanda di saat begini!" teriak Yukari pada Minato dengan keras.
"Baik, Lucia!" Fuuka mulai mengeluarkan Lucia dan mulai menganalisis Slime. [Sepertinya aku membutuhkan waktu yang lama untuk menganalisisnya] ucap Fuuka dari dalam rok kaca Lucia.
"Di mengerti," ucap Reizato dan mereka berempat berusaha mengulur waktu untuk Fuuka yang sedang menganalisis Slime.
"Kami juga akan membantu, daripada diam dan melihat benda menjijikan tersebut" ucap Mitsuru dan para gadis kecuali Fuuka yang membantu Minato dan lainnya.
"Baiklah tapi dengan satu syarat, kalian tidak boleh terkena cairan peleleh pakaian tersebut" ucap Reizato yang mendapat anggukan dari para gadis. "Kalau begitu, Minato pakai Fussion Skill Candeza!" pintah Reizato.
"Mari Orpheus-Apasharas, CANDEZA!" Minato memanggil dua persona tersebut yang bisa memakai Fussion skill Candeza. Cahaya dari Candeza menyelimuti tubuh semua orang yang ada di sana.
"Aku merasa tubuhku terasa lebih ringan!" teriak Yoshino bersemangat.
[Maragi!] Slime menembakan bola api berukuran kecil ke semua orang yang ada di sana.
"Hap!" Minato dan lainnya berhasil menghindar. "Kita serang balik semua!" pintahnya yang akhirnya mereka menyerang Slime bersama-sama.
"Joker!" Joker menebas Slime dengan pedang Persona Gear Arcana Foolnya.
"Orpheus!" Orpheus Minato memainkan Harpahnya dengan menggunakan pedang Persona Gear Arcana Foolnya yang di jadikan busur Biola untuk menggunakan Skill Agidyne.
"Icarus-Dynames!" Icarus-Dynames menembaki Slime dengan Snipernya setelah di pakaian Persona Gear Arcana Fortune.
"Titan!" Minako memanggil Titan untuk menebas Slime.
"Polydeuces!" Polyduces menyambar petir ke arah Slime.
"Phentesilea!" Phentesilea menembakan es-es berukuran sedang ke arah Slime.
"Io!" Io menyerang Slime dengan element angin.
"Andromeda!" Andromeda milik Sayu menyerang Slime dengan element angin. Tapi Slime masih tetap hidup.
"Ketika melawan memang lemah, tapi saat diserang nggak mati-mati" ucap Yoshino.
[Teman-teman, aku sudah selesai menganalisisnya...] ucap Fuuka. [Nama makhluk itu adalah Slime Mistery Food X dan kelemahannya adalah bahan-bahan masakan yang menjadikan dia lezat] jelasnya yang membuat semua yang mendengarnya bingung.
"Bahan masakan? Maksudnya apa?" tanya Yukari pada Minato.
"Oh begitu, aku tahu, pada dasarnya Slime ini adalah masakan buatan Fuuka yang tidak lezat." Jelas Reizato yang membuat Fuuka pudung mendengar masakannya tidak lezat.
"Jadi dengan kata lain..." Mitsuru berpikir.
"Kita harus memasukan bahan-bahan yang dapat membuatnya lezat" sahut Minato.
"Tapi sebelum itu, kita harus tahu bahan apa saja itu, bukan?" tanya Yukari.
"Yamaghisi, apa kau tahu bahan apa yang di perlukan oleh Slime agar dia menjadi lezat?" tanya Yoshino.
[Maaf, tapi aku tidak dapat menemukan bahan apa saja itu] ujar Fuuka.
"Serahkan padaku, Persona Gear change, Priestess!" Reizato menarik kembali Persona Gear Arcana Fool dari tangan Joker dan menggantinya dengan Persona Gear Arcana Priestess. Joker kini memegang sebuah lembing besar yang dapat menjadi para bola. "Joker, Data Drain!" tiba-tiba sebuah energi hitam berkumpul di ujung lembing tersebut dan menjadi sebuah bola hitam. Joker kemudian membidik Slime dengan ujung lembingnya. "bidik dan tembak!" teriak Reizato dan energi bola hitam itu di tembakannya ke arah Slime dan kena.
"Woy, itu kalimatku!" bentak Yoshino.
"Saatnya Joker, serap datanya!" lembing yang ada di tangan Joker langsung berubah menjadi para bola dan menghisap kembali energi bola hitam yang dia tembakan ke arah Slime. "Aku tahu bahan apa yang di perlukan," Reizato kemudian memberitahukan bahan-bahan kepada semuanya.
"Oh begitu, tapi sayangnya semua barang tersebut ada di kulkaskan?" tanya Akihiko sambil menunjuk kulkas yang ada di belakang Slime.
"Baiklah, ini saatnya mengatur strategi. Para gadis pancing Slime menjauh dari kulkas," jelas Minato dan para gadis mengangguk. "Aku dan Akihiko akan melindungi para Gadis sebisa mungkin," jelasnya lagi sambil menoleh ke arah Akihiko dan saling mengangguk. "Sedangkan Reizato-san dan Hiroshi-san ambil bahan-bahan tersebut secepat mungkin, lalu kalahkan Slime dengan itu dan selesai" jelasnya lagi sambil mendapat anggukan dari Reizato dan Yoshino. Mereka bersiap menjalankan rencana tersebut. "Operation cooking reset, DI MULAI!" teriak Minato dan di mulailah misi tersebut.
"Hai Slime, ayo sini~" goda Minako yang tiba-tiba memakai High Cut Armor.
"A-apa kita harus pakai ini?" tanya Mitsuru yang memakai juga memakai High Cut Armor.
"I-ini memalukan." ucap Sayu dan Yukari yang memakai High Cut Armor sambil menutupi dadanya dan lain-lain.
Jus
Darah keluar melalui hidung Minato, Yoshino, Reizato dan Akihiko dengan derasnya bagaikan air mancur saat melihat hal tersebut. "MANCING SLIME NGGAK SAMPAI KAYAK GITU JUGA KALI!" teriak mereka bertiga kecuali Reizato yang pingsan karena hal tersebut dengan tubuh gemetaran.
[GIGIGIGIGI...] Slime mendekati para gadis yang memakai High Cut Armor.
"Ini saatnya kalian untuk mengambil bahannya!" pintah Minato dan dia juga Akihiko melindungi para gadis.
"Oke, Ini bukan saatnya pingsan, bocah!" Yoshino menginjak kepala Reizato sampai akhirnya dia bangun.
"Aduh!" teriak Reizato kesakitan sambil mengelus kepalanya dan dia berdiri kesal. "KALAU BANGUNIN ORANG BISA HALUS DIKIT NAPA?" bentaknya.
"Sudah, AYO!" Yoshino langsung menyeret Reizato dan berlari menujuk kulkas tanpa menghiraukan teriakan Reizato. Sesampai di kulkas, mereka mengambil bahan-bahannya dan kembali untuk memberi Slime bahan yang dapat membuatnya lemah. Ketika mereka kembali, mereka melihat pakaian para gadis sebagian ada yang hampir meleleh dan itu membuat mereka-juga Minato dan Akihiko-hampir mimisan dan pingsan untuk Reizato khususnya.
"J-JANGAN LIHAT!" teriak Mitsuru, Minako, Yukari dan Sayu dengan rona merah di wajah mereka dan sambil menutupi tubuh mereka dengan menggunakan kain karena pakaian mereka hampir meleleh.
"Cepat LEMPAR!" teriak Reizato dengan keras dan langsung memasukan bahan tersebut bersama Yoshino ke Slime. Warna Slime tiba-tiba berubah menjadi orange dan harumnya kini menjadi enak.
"Sekarang kita masak, ayo Orpheus! AGIDYNE!" Orpheus memainkan Harpahnya bagaikan Biola dan membakar Slime dengan lagunya.
[AAAARRGHHH!] teriak Slime kesakitan sekali karena kini dia mulai menyusut menjadi kecil.
"Ayo sini masuk! Jika kau tak ingin hancur di depan ibumu!(Fuuka)" ancam Reizato dengan menyuruh Slime yang menyusut untuk masuk ke dalam panci baru dan menutup panci tersebut, "Selesai, Slime sudah ada di dalam sini".
"Apa yang akan kau lakukan pada makhluk itu?" tanya Yoshino.
"Kitakan belum makan malam, jadi aku akan memasak ini ulang untuk kita makan" ujar Reizato yang menaruh panci tersebut di atas kompor dan memasaknya ulang.
"HOOOEEEEKKK! MEMANGNYA SIAPA YANG MAU MEMAKAN MAKHLUK ITU!" teriak seluruh asrama pada Reizato kecuali Fuuka.
"Kalau tidak mau yah sudah, aku akan memakannya sendiri" ucap Reizato yang selesai masak dan menaruhnya di atas meja makan yang berantakan lalu membuka tutup panci tersebut. Terlihat isi di dalam panci tersebut bukanlah Slime, melainkan sebuah sup daging beraroma lezat yang sepertinya enak untuk di makan sampai membuat semua orang mendekatinya dan terkejut.
"A-apakah ini adalah makhluk itu? Kok bisa seperti ini?" tanya Fuuka.
Reizato memandang ke arah Fuuka. "Pada dasarnya Slime Mistery Food X itu adalah masakanmu yang belum sempurna, sehingga masakanmu itu berubah bentuk menjadi Slime Mistery Food X hanya untuk memberitahukanmu agar memasaknya ulang dan di sajikan nikmat seperti ini" jelas Reizato.
"Benarkah?" tanya Fuuka.
"Ya benar, karena Masakkan juga memiliki perasaan yang berasal dari kokinya" Ucap Reizato sekali lagi sambil menuangkan sup daging tersebut ke mangkuk dan memberikannya ke arah Fuuka. Fuuka mencicipi masakannya yang di buat ulang oleh Reizato. "Bagaimana rasanya?" tanya Reizato.
Fuuka mengembalikan sendok tersebut ke mangkuk dengan mata berair. "Jadi... inikah masakanku yang sempurnah? Rasanya begitu lezat." Ucapnya yang tak sanggup menahan rasa tangis yang akan di keluarkannya.
"Benar Fuuka, jika kau lebih giat memasak aku yakin pasti masakanmu selezat ini dan dapat membuat masakanmu juga orang lain yang merasakannya bahagia" ujar Reizato dan memberi Fuuka sebuah topi Koki yang di belinya di pasaran.
"Topi koki? Tapi akukan..." Fuuka menjadi bingung.
"Aku hanya memberikannya untuk membuatmu semangat dalam memasak, mengerti?" ujar Reizato. "Sudah ayo makan, tapi sebelum itu," Reizato menutup matanya saat melihat Sayu, Yukari, Mitsuru dan Minako masih menutupi badannya dengan kain, "Para gadis yang di sana lebih baik ganti baju dulu agar tidak masuk angin" sindirnya yang masih menutup mata. Akhirnya para gadis sadar dan secepat kilat mengganti baju mereka.
"Lebih baik kita juga ganti baju." Ujar Yoshino yang akhirnya Minato, Akihiko dan Reizato mengganti baju. Setelah itu mereka kembali ke meja makan untuk melanjutkan makan malam yang tertunda.
"Padahal itu tadi cuci mata yang menyenangkan." gumam Akihiko yang tak sengaja terdengar oleh Mitsuru di meja makan.
"Akihiko, setelah makan malam kau akanku Execution" ucap Mitsuru dengan menekan kata Execution.
"Ngomong-ngomong, Junpei-kun dimana?" tanya Fuuka.
"Nyangkut di ujung Monas kali" sahut Yukari.
"Kayaknya dia ada di menara Eifel" sahut Minato
"WOY SIAPUN TOLONG AKU!" teriak Junpei dari ujung Menara Eifel.
"Oh ya, ada satu hal yang kupikirkan. Kenapa kok masakan Fuuka itu bisa melelehkan pakaian ya?" tanya Yoshino.
"Itu karena zat-zat yang telah tercampur di dalam masakan Fuuka bisa melakukan hal itu" jelas Reizato.
"Lalu, kenapa makhluk itu jadi mesum?" tanya Yoshino lagi.
"Mungkin perasaannya telah teracuni oleh zat-zat tadi" Jawab Reizato.
"Aku masih bingung" pikir Yoshino.
Dan akhirnya mereka makan malam setelah membereskan kerusuhan di meja makan.
.
"Khukhukhukhu..." Igor tertawa di atas sofa dalam ruang Velvetnya.
"Apa yang anda tertawakan, Igor-sama?" tanya Elizabeth.
Igor langsung menyimpan bola cerminnya. "Apakah kau tahu Eliz jika masakan itu juga memiliki perasaan?" tanya pada Elizabeth.
"Saya tidak mengerti maksud anda, Igor-sama" jawab Elizabeth.
"Biarku jelaskan, Eliz. Yang di maksud Igor-sama adalah masakan itu juga memiliki perasaan yang berasal dari pembuatnya untuk di tunjukan pada orang yang di tuju" ucap Tieria yang tiba-tiba masuk ke Velvet Room tanpa salam.
"Benarkah? Bagaimana caranya?" tanya Elizabeth dengan heran.
Tieria membenarkan kacamatanya. "Entahlah, tapi seseorang yang dulu kukenal pernah menceritakannya" raut mukanya terlihat sedang menahan rasa rindu kepada sesuatu.
"Mungkin aku harus mencoba membuat masakan dengan perasaan untuknya" ucap Elizabeth.
"Siapa?" tanya igor.
"Minato-sama" jawab Eliza yang membuat para pendengar berwajah kusut.
"E-Eliz, kusarankan k-kau jangan memasak makanan untuk Minato-sama. Bisa-bisa dia tidak dapat memenuhi takdirnya" ucap Tieria yang gugup.
"Hm... baiklah, aku tidak akan memasak untuknya." Ucap Elizabeth yang membuat para pendengar lega.
.
Ribbon tersenyum di meja kerjanya sambil melirik layar komputernya. "Heh, menarik." Ucapnya.
~To Be Continue~
Akhirnya bagian ini selesai juga. Terima kasih untuk...
Luciano Fyro: terima kasih atas reviewnya dan jika anda mau ngajarin Fuuka, hati-hati untuk mencicipi masakannya. *Di lempar ke sumur*
IarIz: saya juga berharap Minato tidak jadi kelinci percobaan Fuuka.
Sekian untuk balasan Reviewnya, terima kasih telah membaca cerita GAJE saya.
