Title : My Bestttt

-teenhood 2-

AUTHOR : pikapikabyun (aquariusbaby06)

Cast : Baekhyun and Chanyeol

Length : Chapter

WARNING : PENUH DENGAN KEKONYOLAN DAN FLUFF GAK JELAS. JANGAN DIBACA KALAU ANEH YAAA

Btw di sini Chanyeol lebih tua beberapa bulan dari Baek, tapi tahun lahirnya beda, seperti Chanyeol sama Kyungsoo gitu beda satu bulan beberapa hari tapi beda tahun. Anggep aja Chan lahir tahun 92 Baek lahir 93 okeh sip.

.

January 2010

.

Dua lapis jaket tebal menutupi tubuh mungil lelaki yang sedang kesusahan menggeret kopernya. Berulang kali kepulan asap dari nafasnya terlihat saat ia menghembuskan nafas. Salju di bulan Januari ini memang belum reda dan terkadang tetes-tetes salju masih berjatuhan meski tidak sebanyak bulan Desember. Seperti malam ini, Byun Baekhyun harus rela menggeret kopernya pukul setengah delapan malam ke rumah Chanyeol karena baru sepuluh menit yang lalu orang tuanya berangkat ke bandara untuk pergi mengunjungi kakeknya yang ada di Bucheon.

Baekhyun merengek selama dua puluh lima menit kepada ibunya agar ia juga diajak untuk mengunjungi kakeknya yang sedang sakit di sana, namun kali ini Ny. Byun tidak ingin Baekhyun ikut dan meninggalkan sekolahnya selama beberapa hari. Dan karena Ny. Byun tidak tega membiarkan Baekhyun yang manja sendirian di rumah, maka berakhirlah ia berada di depan pagar rumah Chanyeol menunggu Kim ahjussi membukakan pagar dan membantunya membawa koper besar berisi keperluannya selama satu minggu di rumah Chanyeol.

"Kau tampak pucat nak, ayo cepat masuk dan minum coklat panas di dalam." Kim ahjussi mengambil alih koper dari tangan Baekhyun. Lelaki mungil itu mengucapkan terima kasih dan berjalan mulai memasuki lebih dalam halaman rumah keluarga Park. Sesampainya ia di depan pintu, Baekhyun kembali berterima kasih kepada pria yang hampir setengah abad itu dan mulai membuka pintu di depannya tanpa mengetuk pintu.

"Kenapa sepi sekali? Apa Chanyeol tidak di rumah?" gumamnya seorang diri. Ruang tamu keluarga Park gelap dan satu-satunya cahaya yang ada hanyalah berasal dari ruang tengah. Terdengar samar-samar suara televisi dan Baekhyun mulai berjalan lebih dalam menuju ruang tengah. Baekhyun mendapati televisi yang menyala namun tak ada orang yang ada di sana. Baekhyun mulai takut. "Chanyeol?"

Tiba-tiba saja muncul Chanyeol di balik sofa dan membuat Baekhyun terperanjat memekik kecil dibuatnya. "Kau membuatku terkejut Chanyeol!"

Lelaki yang disalahkan mengangkat alisnya heran.

"Kukira televisi ini menyala sendiri tanpa ada yang melihatnya, ternyata kau sedang tiduran di sofa." Baekhyun mendekati Chanyeol dan duduk di sebelahnya. Merasa ditatap, Baekhyun menatap Chanyeol. "Ada apa?"

"Kenapa kau di sini?" Chanyeol melirik koper Baekhyun yang ada di dekat kaki lelaki mungil itu. "Kau kabur dari rumah?"

Baekhyun menghela nafas. "Apa eomma tidak memberi tahu?" Chanyeol menggeleng sebagai jawabannya. "Eomma dan Appa pergi ke Bucheon untuk menjenguk kakek yang sedang sakit, mereka tidak mau mengajakku dan eomma ingin aku tinggal di sini selama mereka belum pulang." Baekhyun meletakkan punggungnya pada sandaran sofa dan cemberut.

Chanyeol tersenyum dan merangkul pundak Baekhyun. "Tidak apa-apa, kau akan bersamaku. Bukankah kau senang heum?" Chanyeol menggoda Baekhyun dan memainkan alisnya dengan jenaka. Baekhyun yang kesal langsung mencubit pinggang Chanyeol.

"Chanyeol, aku ingin coklat panas."

"Aku akan membuat satu untukmu. Lepas jaketmu dan hidupkan penghangat ruangannya."

Chanyeol beranjak ke dapur untuk membuat coklat panas untuk Baekhyun dan dirinya. Lelaki yang lebih kecil mulai membuka kedua jaketnya dan menghidupkan penghangat ruangan dengan menggunakan remote control. Beberapa menit kemudian Chanyeol kembali dengan dua gelas coklat panas di tangannya. Ia mengajak Baekhyun untuk ke kamarnya setelah sebelumnya menyuruh lelaki itu untuk mematikan televisi.

"Kemana eommanim, aboji, dan Yoora noona?" Baekhyun duduk di karpet bulu di kamar itu dan Chanyeol meletakkan segelas coklat panas itu di depan Baekhyun. "Appa dan Eomma sedang menghadiri acara pernikahan anak teman Appa dan Yoora noona sedang mengadakan pajama party di rumah temannya."

Chanyeol meletakkan koper Baekhyun di dekat lemari bajunya. "Mau main play station? Kau belum pernah mengalahkan aku dalam permainan sepak bola ngomong-ngomong."

Baekhyun mencibir. Coklat panasnya ia tiup dan menimbulkan kepulan asap yang membuat wajahnya menghangat. "Aku tahu kau selalu melakukan kecurangan, jadi aku tidak mau. Aku hanya seorang pemain yang bersih ngomong-ngomong." Ia menirukan logat Chanyeol berbicara.

Televisi slim di kamar itu menyala menampilkan tayangan drama dengan pemain utama Kim Soohyun. Baekhyun berbinar menatap actor idolanya itu. Menurutnya, Kim Soohyun itu benar-benar lelaki yang sangat tampan dan selalu memiliki pesona yang menguar. Baekhyun iri dengan itu semua. Dan ia sangat ingin menjadi seperti Kim Soohyun.

Lelaki yang lebih tinggi tertawa mengejek. "Jangan bermimpi. Kau tidak pantas menjadi sepertinya, tinggi kalian saja beda." Chanyeol yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mengejek Baekhyun saat melihat lelaki itu menatap Kim Soohyun di televisi tanpa berkedip. Dia tahu betul bahwa Baekhyun terobsesi menjadi seperti Kim Soohyun yang sangat tampan dan memiliki banyak penggemar para gadis.

Sebuah handuk Chanyeol lemparkan ke arah Baekhyun membuat lelaki kecil itu menggerutu. "Cepat mandi, sudah kusiapkan air hangat dan ganti pakaianmu menjadi lebih hangat. Aku tak mau kau demam karena dingin."

"Dasar pemaksa." Baekhyun bangkit menuju kopernya untuk mengambil piyama dan memasuki kamar mandi dengan tidak berhenti mengomel tentang betapa kelakuan Chanyeol tidak ada halus-halusnya sedikitpun padanya.

Chanyeol tidak memperdulikan omelan Baekhyun dan memilih mengganti channel televisi.

Beberapa menit menunggu Baekhyun mandi sungguh terasa lama bagi Chanyeol. Suara nyaring Baekhyun terdengar dari dalam kamar mandi sedang melantunkan lagu I Got A Boy dari Girlband Girls Generation. Chanyeol yang sedang bermain game di ponselnya sampai harus berkali-kali mengalami game over karena suara nyaring itu.

"Astaga dia benar-benar parah." Gumam Chanyeol. Di menit ke empat belas Baekhyun keluar dengan sebuah setelan piyama doraemon di tubuhnya. Chanyeol hampir saja membuka mulutnya lebar-lebar saat menyadari bahwa Baekhyun beribu kali sangat imut dan menggemaskan dengan piyama doraemon itu. Oh lihatlah sebuah kantung putih doraemon yang ada di depan perutnya serta sebuah topi bertelinga kucing itu melekat di tubuh kecilnya.

Rasanya Chanyeol ingin mencakar Baekhyun saat ini juga.

Baekhyun dengan menggaruk rambutnya menyerahkan handuk yang tadi ia kenakan pada Chanyeol.

"Apa kau sudah makan malam?" Tanya Chanyeol sambil meletakkan handuk itu di gantungan kamar mandi.

"Sudah. Eomma membuatkanku omelet dengan brokoli tadi dan itu sangat membuatku kenyang."

Chanyeol mengacak rambut Baekhyun dengan gemas. "Kau tampak masih kedinginan, butuh pelukan?"

"Uhm.." Baekhyun mengangguk. Ia mulai memeluk tubuh hangat Chanyeol dengan erat. Lelaki yang lebih tinggi terkekeh. "Manja sekali."

Baekhyun yang mendengar itu justru semakin menyusupkan wajahnya ke dada Chanyeol. "Biar saja."

"Kalau mengantuk tidur saja. Jangan lupa habiskan coklat panasmu." Chanyeol melepaskan pelukannya dan menyerahkan segelas coklat panas Baekhyun yang tinggal setengah kepada Baekhyun. Lelaki itu menuntun Baekhyun untuk berbaring di ranjangnya.

Ia usap dahi Baekhyun untuk menyingkirkan poni hitamnya sedangkan lelaki mungil itu masih menikmati coklat panasnya. "Masih kedinginan?"

Baekhyun menggeleng dan tersenyum manis.

"Chanyeol kan selalu membuatku hangat." Suaranya terdengar manja.

"Dasar perayu yang handal." Chanyeol mendorong dahi Baekhyun pelan dengan menggunakan telunjuknya. "Cepat tidur! Aku tidak ingin terlambat hanya karena kau susah bangun besok pagi."

"Baiklah tuan cerewet. Kau semakin terlihat mirip appa." Baekhyun menyerahkan cangkir coklat panasnya yang telah kosong pada Chanyeol kemudian merebahkan dirinya di ranjang Chanyeol. Lelaki yang lebih tinggi ikut menyusup ke dalam selimut dan berbaring di sebelahnya.

"Mau kunyanyikan sebuah lagu untuk pengantar tidur?" tawar Chanyeol dengan seringai jahil. Baekhyun dengan cepat menggeleng.

Hell! Siapa yang ingin mendengar suara sumbang Chanyeol saat akan tidur? Dia tidak mau mimpi buruk nanti malam.

"Tidak mau! Nanti aku jadi tidak bisa bobok tenang lagi."

"Ah! Jadi kau mengejek ku begitu?" tangan Chanyeol sudah bersiap untuk menggelitiki Baekhyun namun dengan cepat Baekhyun menangkisnya dan tertawa keras.

"Itu sungguhan Chanyeol! Suaramu itu buruk sekali Hatchii!" Baekhyun bersin di akhir kalimatnya membuat Chanyeol gemas bukan main. Karena sesungguhnya saat Baekhyun bersin itu ia terlihat seperti anak kecil.

Ia raih tangan kanan Baekhyun dari dalam selimut dan mengusap-usapkan pada pipinya dengan gemas.

"Ughh Baekkie ku imut sekali sih?"

Si pemilik tangan terkekeh. "Aku memang imut." Percaya dirinya.

"Jangan terlalu imut ne?"

"Waeyo?"

"Kau hanya boleh berlaku imut padaku?"

"Tidak mau."

"Kau harus."

"Tidak mau."

"Harus Baek."

"Tidak mau Chan."

"Kenapa tidak mau?"

"Nanti aku kalah imut dengan yang lain dan aku tidak mau."

"Tapi kau kan milikku."

"Tidak, kata siapa?"

"Kataku."

"Tidak."

"Iya."

"Tidak."

"Iya Baek."

"Tidak Chan Hatchii!"

"Tuh kan bersin lagi. Makanya jangan menyangkal jika kau milikku. Terima atau tidak terima kau tetap milikku dan tidak ada yang boleh dekat denganmu kecuali aku dan keluarga kita."

Baekhyun cemberut. "Aishh pemaksa." Gumamnya namun Chanyeol masih dapat mendengar hal itu.

"Pemaksa tapi kau mencintai si pemaksa ini bukan?" semburat merah menjalar ke pipi Baekhyun sampai ke kedua telinganya. Chanyeol benar-benar senang sekali menggoda kekasih hatinya yang imut itu.

"Itu karena kau pemaksa."

"Dan si pemaksa ini melakukan itu karena mencintai si cantik ini." Chanyeol terkekeh.

"Diam Chanyeol! Sudah cukup! Sejak kapan kau menjadi sangat menyebalkan?!" ia dorong dahi Chanyeol dengan telunjuknya. Yang lebih tinggi tertawa kecil dan kembali memeluk Baekhyun sangat erat dan membungkus tubuh mereka dengan selimut hingga nampak seperti gundukan selimut di atas ranjang.

"Hahaha rasakan pelukan mautku."

Baekhyun tertawa keras sekali karena merasa geli dengan tangan Chanyeol yang menggelitiki pinggangnya.

"Chanyeol hentikan! Aku mau tidur! Minggir kau!" Baekhyun mengeluarkan jurus cubitan mautnya yang sungguh menjadi cubitan tersakit bagi Chanyeol kedua setelah cubitan kakaknya. Bagaimana tidak? Baekhyun menggunakan ujung kukunya untuk mencubit Chanyeol, bahkan Chanyeol pernah mendapat warna ungu kecil di paha kirinya akibat bekas cubitan Baekhyun.

"Baiklah baik, sekarang tidur dan jangan mencubitku seperti tadi Baek, itu sungguh sakit asal kau tahu?"

Baekhyun menirukan ucapan Chanyeol tanpa suara sambil membenahi selimutnya. Ia tarik selimut itu hingga tersisa sedikit untuk Chanyeol. Jika dalam komik, mungkin muncul sebuah perempatan di dahi si tinggi itu.

"Oke! Tidak masalah!" Chanyeol menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan sengit dan masam. "Biar kuperjelas, INI KAMARKU, INI RANJANGKU, dan otomatis SEMUA yang ada di kamarKU adalah milikKU."

Terdengar sebuah dengkuran kecil di sampingnya. Chanyeol mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya di depan wajah Baekhyun yang membelakanginya.

"Huh dasar anak manja." Lelaki itu kembali membenarkan selimut yang membungkus tubuh Baekhyun dan mematikan lampu sebelum menyusul Baekhyun ke alam mimpi dan memeluknya dari belakang dengan erat. "Selamat malam."

.

"Makan yang banyak Baekkie. Biar cepat besar ne?" Ny. Park tersenyum sambil menambahkan beberapa lauk ke piring Baekhyun. Baekhyun dengan matanya yang berbinar lucu mengangguk semangat. Jarang-jarang dia disuruh makan banyak, biasanya eommanya justru mengurangi lauknya dengan alasan tubuhnya semakin tumbuh ke samping.

"Sudahlah eomma, tidakkah eomma lihat Baekhyun semakin gendut?" Chanyeol mencegah tangan ibunya yang ingin menambah lagi lauk ke piring Baekhyun. Baekhyun yang merasa dihina gendut tidak terima tentu saja.

"Aku tidak gendut! Beratku masih sama seperti bulan lalu! Jangan sok tau!"

"Sudah sudah, lanjutkan sarapan kalian. Nanti terlambat ke sekolah." Tn. Park menengahi pertengkaran kecil itu.

Waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi saat mereka menyelesaikan sarapan. Chanyeol hendak membuka pintu mobilnya untuk Baekhyun sebelum kakaknya menghadang mereka berdua.

"Ada apa noona?" Tanya Baekhyun.

"Apa Baekkie tidak mau berangkat sekolah bersama noona? Kebetulan mobil noona sudah diperbaiki. Bagaimana? Mobil noona lebih bagus lho daripada punya Chanyeol." Ucap gadis itu. Yoora tersenyum untuk merayu Baekhyun. Jika dalam sebuah komik, mungkin di dahi Chanyeol terdapat perempatan imajiner. Dia tidak habis pikir, kenapa kakaknya terkesan sangat terobsesi kepada Bakehyun, tidak jauh beda dengan ibunya.

"Wah memangnya Baekkie boleh?" Baekhyun mulai berseri-seri. Siapa yang tidak senang berangkat bersama noona cantiknya Chanyeol? Lagipula Baekhyun memang dari dulu sangat menyukai mobil gadis itu.

"Tentu saja! Ayo sama noona saja. Biar Chanyeol berangkat sendiri."

"Baiklah aku ikut noona." Baekhyun menoleh kepada Chanyeol dan menatapnya dengan puppy eyes seakan meminta ijin. Chanyeol menghela nafas sebelum mengelus puncak kepala Baekhyun. "Geurae, jangan merengek pada noona."

Baekhyun tersenyum sangat lebar dan mengangguk dengan semangat. Ia langsung menarik tangan sang kakak untuk menuju mobilnya.

"Noona hati-hati, ya!" Ucap Chanyeol. Sang kakak hanya membuat gesture 'ok' dengan jarinya.

Di perjalanan menuju sekolah, Baekhyun bercerita panjang lebar tentang apapun yang diketahuinya. Ia bahkan merengek kepada Yoora saat perempuan itu berkata jika temannya ada yang bisa membuat cake stroberi, seakan melupakan pesan Chanyeol tadi.

"Tenang saja, noona akan meminta teman noona untuk membuat cake khusus untukmu."

"Wahh noona baik sekali."

Saat mobil kakak Chanyeol itu mulai memasuki halaman sekolah, Baekhyun dapat melihat dua orang yang salah satunya sangat familiar di matanya. Mereka berdiri di samping sebuah mobil yang tadi pagi hendak ia naiki. Baekhyun menajamkan penglihatannya agar jelas melihat apa yang dilakukan kedua orang itu.

"Hey bukankah itu adikku? Siapa gadis itu?" Ucapan Yoora cukup menguatkan dugaan Baekhyun.

"Noona, aku turun dulu ya. Sampai jumpa!" Baekhyun langsung melesat turun dari mobil tanpa menunggu kalimat Yoora. Dia hanya ingin cepat masuk ke kelas melewati dua orang bodoh yang sedang menjadi tontonan di halaman sekolah.

Sayang sekali remaja tinggi itu tidak menyadari gadis di depannya tengah menyeringai menatap punggung remaja mungil yang berlari menjauh.

'Dasar hoobae bodoh.'

.

Chanyeol berjalan menyusuri koridor. Istirahat makan siang ini ia ingin makan bersama Baekhyun. Sejak pagi ia tidak menemukan teman mungilnya itu.

"Permisi, apakah Baekhyun ada di kelas?" Chanyeol menghampiri seorang laki-laki dengan kawat gigi yang sedang membaca buku di bangku kelas paling depan. Sejauh ia memandang ke kelas, tidak menemukan keberadaan Baekhyun.

"Dia pergi saat bel berbunyi. Mungkin dia ke kantin."

"Baiklah terima kasih."

Chanyeol menghela nafas. Tidak biasanya mendapati Baekhyun seperti ini. Biasanya anak itu akan menunggunya saat akan ke kantin. Jadi Chanyeol memutuskan untuk menyusul Baekhyun ke kantin. Memang sepertinya benar anak itu ke kantin lebih dulu.

Saat memasuki kantin, Chanyeol mengedarkan pandangannya demi mencari Baekhyun. Sedikit sulit untuk menemukan anak sekecil itu, namun Chanyeol dapat langsung menangkap keganjalan saat tiga orang laki-laki mengerubungi satu titik. Chanyeol segera mendekat dan mendengar sebuah suara cempreng yang familiar.

"Biarkan aku lewat! Kau tidak dengar?!"

"Ow ow! Lihatlah hoobae kita yang manis sedang kesal! Wajahnya manis sekali. Pantas Chanyeol betah bersamanya." Salah satu di antara mereka memegang dagu lelaki mungil yang sedang terkepung itu. Chanyeol dapat melihat ketiga anak itu. Anak kelas sebelah yang suka sekali membuat onar. Daehyun, Yongguk, dan Taecyeon.

"Bolehkah aku meminta ini?" Daehyun mengambil beberapa kentang goring di tangan Baekhyun.

"Yak! Jangan! Itu punyaku!"

"Jangan galak-galak cantik."

"Hey Bung! Bisa kalian minggir?" Chanyeol segera membentengi tubuh Baekhyun di balik punggungnya. Membuat ketiga orang di sana tertawa.

"Wow! Bodyguardnya datang." Taecyeon mendecih.

"Ayolah Chanyeol. Tidak bisakah kau berbagi pada kami? Kami juga ingin bersamanya." Daehyun menatap Baekhyun dengan nakal.

"Sudah cukup. Sebaiknya kalian pergi. Aku tidak ingin ada keributan di sini." Chanyeol berusaha memberi pengertian pada mereka.

"Baiklah. Kali ini kami mengalah padamu. Tapi lain kali kami ingin bermain dengannya hahaha.." Daehyun dan teman-temannya akhirnya pergi meninggalkan mereka. Setelah memastikan kondisinya aman, Chanyeol berbalik untuk menatap Baekhyun yang menatapnya kesal.

"Tidak usah membantuku!"

"Ap-"

"Lebih baik kau urusi saja kekasihmu yang cantik itu. Biarkan aku menghadapi mereka sendiri!" Baekhyun melangkah pergi melewati Chanyeol begitu saja. Chanyeol yang tidak mengerti pun mengejar Baekhyun dan menahan tangannya.

"Apa maksudmu?"

"Tanyakan pada dirimu sendiri!" Baekhyun membentak.

"Aku tidak mengerti Baek. Apa maksudmu? Aku tidak punya kekasih."

"Oh ya?! Lantas siapa perempuan genit yang menggandeng tanganmu tadi pagi?! Siapa hah?! Pembantumu?!"

"Maksudmu Seulgi? Dia hanya temanku."

"Teman?! Jadi kau memperlakukan temanmu seperti itu?" Baekhyun berteriak. Tidak peduli bahwa mereka sedang berada di sisi kantin.

"Apa yang terjadi padamu? Kami hanya teman Baekhyun."

"Aku tidak suka Chanyeol menggandeng tangan orang lain selain tanganku! Aku tidak suka Chanyeol tersenyum untuk orang lain selain diriku! Aku tidak suka Chanyeol dekat-dekat dengan mereka semua!"

"Memangnya kau siapa? Berhak mengatur Chanyeol?" Sebuah suara perempuan menginterupsi perdebatan mereka. Baekhyun memicingkan matanya menatap gadis itu. Gadis yang sama seperti yang tadi pagi.

"Jadi kau perempuan genit tidak tau malu menggandeng seorang lelaki? Dimana harga dirimu sebagai seorang perempuan?!"

"Baekhyun! Jangan kau berbicara seperti itu!" Chanyeol tanpa sadar membentak. Baekhyun terkejut tentu saja. Dia tidak pernah mendapat bentakan dari Chanyeol dan kali ini Chanyeol membentaknya demi seorang gadis.

"Bela terus kekasihmu! Jangan bicara padaku selamanya! Dasar Park Chanyeol bodoh!" Baekhyun tau dia sangat kekanakan dengan berteriak dan berlari menjauh seperti ini. Tapi dia tidak ingin berbicara dengan Chanyeol.

.

Sepulang sekolah, Chanyeol mencari Baekhyun ke kelasnya dan ingin meminta maaf pada anak itu. Namun yang ia dapati adalah Baekhyun yang telah pulang dengan naik bus. Chanyeol merasa sangat bersalah. Dan dengan itu ia langsung pulang dan mengabaikan panggilan Seulgi yang memintanya menemani ke perpurtakaan. Lupakan gadis yang menjadi alasan aku dan Baekhyun bertengkar, batinnya.

Saat memasuki rumah, ia tau Baekhyun telah pulang karena melihat sepatu anak itu di depan. chanyeol menuju kamarnya, namun ternyata terkunci. Chanyeol menghela nafas. Ia tau Baekhyun pasti berada di dalam dan menangis.

"Baekhyun. Biarkan aku masuk."

"…"

"Baek, aku ingin meminta maaf. Aku salah."

"…"

Beberapa saat kemudia sebuah suara kunci yang terbuka mengejutkan Chanyeol. Baekhyun membuka pintu kamarnya, namun hendak pergi dari sana. Chanyeol segera mencegah dengan mencekal tangan itu.

"Lepaskan tanganku!" Baekhyun berteriak. Namun Chanyeol menolak untuk menurut dan lebih memilih memasuki kamar dengan menyeret tangan Baekhyun. Tak lupa pula ia mengunci pintu kamarnya.

Chanyeol membawa Baekhyun untuk bersandar pada pintu di belakangnya dan mengurungnya dengan kedua tangan. Menatap yang lebih kecil dengan intens.

"Mianhae mianhae mianhae mianhae mian-"

"Cukup!"

"Maafkan aku sayang, aku memang salah. Aku tidak bermaksud membentakmu di depan umum seperti itu. Aku salah jadi aku minta maaf."

Baekhyun menatap Chanyeol masih dengan kesal. Namun tak dipungkiri hatinya menghangat mendengar pengakuan Chanyeol.

"Aku benci pada Chanyeol!"

"Aku tau."

"Benci sekali!"

"Aku tau."

"Benci benci benci benci benci!"

"Benci lah aku sebanyak itu karena aku tau benci mu itu adalah cintamu padaku." Chanyeol tersenyum di akhir kalimatnya. Baekhyun cemberut dengan pipi memerah.

"Aku benci kau Park Chanyeol yang paling bodoh jelek dan idiot!" Baekhyun tersenyum setelahnya dan langsung memeluk lelaki di depannya.

"Aku juga mencintaimu Park Baekhyun yang paling pintar cantik dan manis." Chanyeol membalas pelukan itu. Mencium aroma wangi dari surai hitam teman hidupnya. "Mau cium~"

"Shireo! Enak saja!" Baekhyun menolak walaupun akhirnya ia mendongak untuk mencium bibir Chanyeol dengan dalam. Chanyeol menyeringai tampan dan membalas pagutan Baekhyun tak kalah dalam. Membawa tangan-tangannya untuk mengelus punggung Baekhyun di balik kaos putih yang dikenakannya.

"Emmph-"

Chanyeol melepaskan pagutan mereka tanpa menjauhkan dahinya yang masih menempel pada dahi Baekhyun. Menatap mata puppy yang juga sedang menatapnya.

"Jangan mendesah seperti itu, Park Baekhyun. Kita bahkan belum lulus sekolah."

"Yak! Dasar mesum! Cium saja sana gadis impianmu!"

"Baiklah aku akan mencium Seulgi besok di gudang sekolah."

Baekhyun mengerang kesal sebelum membungkam bibir Chanyeol dengan ciumannya yang terburu-buru. Chanyeol tertawa dalam hati dan mulai menggelitik pinggang Baekhyun yang masih menikmati ciumannya sendiri. Membuat pria mungil itu melepas tautan bibir mereka dan tertawa dengan keras. Berlari mengelilingi kamar untuk menghindari gelitikan Chanyeol.

.

.

.

.

Tobecontinue.

.

.

Okay ini mungkin chapter yang menurutku tidak memuaskan sama sekali. Aku buat chap ini kepotong-potong di antara waktu luang jadinya kurang ngefeel, semoga aja gak ngecewain banget ya. Maaf juga kalo typo banyak, jariku gak selangsing punya mamih baek:'(

Anyway, baca fanfic ku di cic challenge ya, judulnya Promise Me then I'll promise you. Jangan lupa fav dan review ya wkwk

Last, Happy Birthday buat mamih ku cayang yang ke dua lima. Makin cans ya mih, makin awet sama papih semoga cepet confirm ya,- luv ur daughter/?