Title : My Bestttt

-adulthood 2-

AUTHOR : pikapikabyun (aquariusbaby06)

Cast : Baekhyun and Chanyeol

Length : Chapter

WARNING : PENUH DENGAN KEKONYOLAN DAN FLUFF GAK JELAS. JANGAN DIBACA KALAU ANEH YAAA

Btw di sini Chanyeol lebih tua beberapa bulan dari Baek, tapi tahun lahirnya beda, seperti Chanyeol sama Kyungsoo gitu beda satu bulan beberapa hari tapi beda tahun. Anggep aja Chan lahir tahun 92 Baek lahir 93 okeh sip.

.

May 2015

.

Di pertengahan musim semi, Chanyeol akhirnya menggelar kelulusannya sebagai mahasiswa berprestasi dengan meraih peringkat kedua paralel. Sebuah prestasi membanggakan bagi keluarga Park mengetahui anak-anak mereka menjadi orang yang sukses. Yoora yang menjadi reporter terkenal, dan Chanyeol sebagai pencipta lagu dari artis-artis papan atas. Bahkan di semester keenam, Chanyeol telah mendapatkan kontrak dari perusahaan industry music untuk menjadi composer tetap mereka.

Namun di hari bahagia ini, ada saja yang bersedih dan menampilkan raut muka menyedihkan. Dia adalah Byun Baekhyun. Di usianya yang telah mencapai kepala dua, masih saja memiliki sifat bak anak sekolah dasar.

Baekhyun mencak-mencak di pagi hari, mengatakan ia ingin putus kuliah saja karena Chanyeol telah lulus lebih dulu darinya. Bersikukuh tidak ingin hadir di acara wisuda Chanyeol karena alasan tidak suka saat teman-teman wanita Chanyeol minta foto bersama untuk kenang-kenangan. Dan karena iming-iming nonton film bersama Chanyeol keesokan harinya, Baekhyun akhirnya luluh juga.

Chanyeol di sisi aula sedang tertawa bersama teman-temannya, dan di sini Baekhyun bersama Ny. Park sedang cemberut total. Ny. Park yang melihat 'calon' menantunya hanya menghela nafas. Tangannya ia bawa untuk mengelus surai Baekhyun. Baekhyun mengerjab dengan sedih sambil menatapnya layaknya anak anjing terbuang.

"Nanti kau juga kedapatan jatah berfoto dengan Chanyeol-mu." Ucap Ny. Park menenangkan. Baekhyun hanya mengangguk lucu seraya mengalihkan pandangannya pada Chanyeol lagi.

Chanyeol terlihat sangat menikmati waktu berguraunya bersama teman-teman hingga melupakan keberadaan Baekhyun di pinggir aula. Laki-laki itu terlihat sangat mempesona dengan balutan pakaian khas wisuda berwarna biru tua dan topi toga.

"Hey Chanyeol, lihatlah 'anak anjing'mu di sana. Sepertinya dia sedang cemburu pada kami." Ucap Victoria. Chanyeol mengikuti arah telunjuk gadis blasteran itu yang mengarah pada Baekhyun dan ibunya.

"Aku ke sana dulu okay?" Chanyeol pamit kepada teman-temannya dan segera menghampiri Baekhyun yang semakin cemberut melihat kedatangan Chanyeol. Lelaki tinggi itu menatap ibunya untuk meminta penjelasan atas sikap Baekhyun.

Ny. Park berbisik, "Dia cemburu pada teman-temanmu yang minta foto denganmu tadi." Setelahnya Chanyeol terkekeh. Ia membawa tubuh Baekhyun dalam pelukannya. Namun Baekhyun hanya diam tak membalas.

"Mau berfoto bersama?" Tawar Chanyeol.

"..."

"Mau tidak? Ku hitung sampai tiga jika tidak mau ya sudah."

"..."

"Satu.."

"..." Baekhyun hanya diam membuat Chanyeol tersenyum gemas. Anak itu benar-benar sangat kekanakan. Tapi justru itu yang membuatnya sayang terhadap Baekhyun.

"Dua.."

"..."

"Dua setengah.."

"..."

"Ti..."

"Ng..." Baekhyun mendengking layaknya anak anjing sungguhan. Ia mendongak menatap Chanyeol dan mengangguk ragu-ragu.

Chanyeol segera membawa Baekhyun ke taman dan tak lupa meminta ibunya untuk memotret mereka menggunakan kamera Polaroid.

"Foto yang bagus eomma. Aku ingin terlihat serasi dengan Baekhyun-ku."

"Ishh kalian benar-benar membuat eomma iri." Ny. Park menggerutu. Meskipun begitu tetap tersenyum dan mulai mengarahkan kamera kepada Chanyeol yang memeluk pundak Baekhyun dan Baekhyun yang melingkarkan tangannya ke pinggang Chanyeol.

Ckrek!

"Lagi." Seru Chanyeol. Kali ini ia berpose memeluk Baekhyun dari belakang. Menempelkan pipinya pada pipi si kecil dan membuat Baekhyun tertawa.

"Chanyeol malu! Nanti dilihat orang!"

"Siapa yang lihat? Di sini hanya ada aku dan kau."

Ny. Park berdecak, "Hey hey! Jadi eomma ini kalian anggap apa? Hantu?"

"Ah eomma mengganggu kemesraanku dengan Baekhyun saja. Cepat foto kami lagi eomma." Suruh Chanyeol seenaknya. Ny. Park mencibir kelakuan anaknya.

Ckrek!

"Sudah."

"Eomma masuk dulu saja." Usir Chanyeol tidak tau diri. "Aku mau berduaan dengan Baekhyun dulu." Chanyeol memeluk Baekhyun dengan posesif, "Ah mana kamera dan foto kami?" Ny. Park menyodorkan kamera dan kedua foto Chanyeol dan Baekhyun.

"Kalau begitu eomma masuk dulu. Jangan bertindak macam-macam kalian. Ini masih di muka umum." Peringat Ny. Park. Kedua anak itu hanya mengangguk patuh.

Baekhyun meraih foto mereka dan tertawa melihat ekspresinya yang terlihat sangat memalukan. Chanyeol yang masih setia memeluk Baekhyun dari belakang iseng untuk menciumi pipi kiri Baekhyun yang seperti pipi bayi. Chanyeol memakaikan topi toganya pada Baekhyun.

"Ayo foto lagi." Ajaknya. Baekhyun langsung mengarahkan kamera Polaroid kearah mereka.

"Kimchii.."

"Kimchi.."

Cup!

Ckrek!

Chanyeol terkekeh kecil dan mengambil alih kamera di tangan Baekhyun yang masih terkejut karena Chanyeol yang mengecup ujung bibirnya.

"Wah Baek! Wajah terkejutmu lucu sekali. Menggemaskan~"

Pipi Baekhyun merona parah. Tangannya langsung mencubit perut Chanyeol.

"Chanyeol pabo! Wajahku pasti jelek sekali!"

"Tidak kok, kau terlihat sangat manis dan imut." Chanyeol menyodorkan foto mereka. Baekhyun merona parah saat melihat foto di mana Chanyeol yang mencium ujung bibirnya.

"Baek.." Chanyeol mencium leher Baekhyun dan mengeratkan pelukannya.

"Hmm?" Baekhyun hanya bergumam sambil melihat hasil jepretan foto mereka.

"Ayo menikah."

"Apa?"

.

.

Tn. Park memijat hidungnya lelah. Di makan malam kali ini, anak bungsunya mengucapkan permintaan yang amat sangat mengejutkan –tidak juga sih. Mereka sudah bisa menebak jika ini akan terjadi, hanya saja mereka tidak menyangka jika Chanyeol secepat ini.

Baru tadi pagi dia terbebas dari status pelajar, tapi sudah main melamar anak orang.

"Aku sudah bisa mencari uang sendiri, appa. Jadi Baekhyun tidak akan kelaparan."

"Baekhyunie beruntung punya suami sepertimu, adikku sayang."

Yoora adalah satu-satunya anggota keluarga Park yang antusias mendengar kabar –mengejutkan- gembira ini. Dia bahkan telah mengusulkan tempat bulan madu terindah pada Chanyeol.

"Pikirkan ini baik-baik sayang, karena ini mencangkup kehidupan masa depan kalian. Baekhyun juga belum lulus kuliah."

"Baekhyun telah menyetujuinya eomma. Dia tidak keberatan menikah di saat masih kuliah." Chanyeol tetap kekeuh dengan pendiriannya. Pikirnya, sudah cukup menunggu persahabatan mereka setelah sekian lama. Sekarang saatnya mengubah status dari sahabat menjadi suami-istri.

"Apa kau yakin ingin bekerja di SM entertainment? Apa gaji yang ditawarkan mereka sudah cukup untuk menghidupi Baekhyun?"

Chanyeol mengangguk mantab. Memang beberapa hari yang lalu, Chanyeol mendapat sebuah panggilan khusus dari staff perusahaan music nomor satu di Korea, SM Entertaiment. Mereka juga telah meminta Chanyeol untuk bekerja pada mereka dan tak lupa ditawarkan gaji yang sangat mencukupi.

Tn. Park menghela nafas. Percuma saja menghalangi Chanyeol, anak itu keras kepala dan selalu memegang teguh pendiriannya.

"Baiklah, besok kita akan ke rumah Tn. Byun untuk membicarakan ini." Ucapan final dari sang ayah membuat Chanyeol tersenyum lebar.

.

.

Baekhyun melenguh kecil dalam tidurnya saat merasakan sebuah pergerakan kecil di ranjangnya. Mulutnya terbuka sangat lebar saat menguap. Samar-samar terdengar suara seperti orang yang sedang menahan tawanya. Baekhyun menggesek-gesek kakinya pada sprei sebelum meregangkan kedua tangannya ke atas.

Cup!

Dahinya yang tertutup rambut mengerut merasakan sebuah sentuhan kecil tadi di pipinya. Matanya masih setia terpejam, namun di detik kedua langsung terbuka begitu menyadari sesuatu bahwa ia tidak sendiri di ranjangnya.

Baekhyun menoleh ke samping kiri dan menemukan Chanyeol dengan cengirannya. Benar-benar pemandangan aneh di pagi ini.

"Selamat pagi~"

Bukannya membalas sapaan si tinggi, Baekhyun justru memeluk pinggang Chanyeol dan menjadikan laki-laki itu sebagai gulingnya.

"Eih! Suka sekali memelukku."

Tidak mendengar sahutan apapun, Chanyeol menyingkirkan poni Baekhyun agar dapat melihat wajah sahabat manisnya dengan jelas. Mata sipit itu masih terpejam erat seolah kehadiran Chanyeol tidak mengganggu tidurnya sama sekali.

Chanyeol mencium dahi si kecil dengan sayang. Kemudian balas memeluk tubuh kecil itu.

"Sudah pukul tujuh. Tidak mau bangun nih? Katanya mau nonton Frozen?"

"Mau."

"Ya sudah ayo bangun."

Baekhyun menggeliat. Bibirnya mengerucut sebal, "Bagaimana? Apa eommanim dan aboeji mau?"

"Mau kok. Malah Yoora noona sangat senang."

"Lalu, kapan Chanyeolie mau bicara pada eomma dan appa?"

"Tenang saja. Nanti kau hanya tinggal dandan cantik saat di altar." Chanyeol memainkan kedua alisnya main-main.

"PABO!"

.

Flashback

Saat Chanyeol sedang berusaha melamar Baekhyun di taman kampus.

"Ayo menikah."

"Apa?" Baekhyun melepaskan pelukan Chanyeol dan menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol. alisnya terangkat sebelah.

"Ayo kita menikah. Kau mau tidak menikah denganku?" Ucap Chanyeol. Suaranya terdengar seperti menawarkan sesuatu.

"Menikah? Memangnya kau sudah bekerja? Main menikahiku, nanti aku makan apa? Masa kau membelikan aku makanan dari uang aboeji?"

"Jangan meremehkan aku. Kau hanya tidak tau saja kemarin aku ditawarkan pekerjaan oleh SM Entertaiment. Bahkan dengan gajiku satu tahun, aku bisa membelikanmu rumah dan mobil." Chanyeol berkata dengan bangga. Tangannya terlipat di depan dada dengan gaya angkuh.

"Huh?! Yang benar? Lalu, bagaimana dengan orang tua kita?"

Chanyeol terlihat berpikir sebentar, kemudian tersenyum, "Tenang saja, nanti malam aku akan bicara pada eomma dan appa."

"Lalu eomma dan appaku bagaimana?"

"Setelah appa dan eommaku setuju, pasti eommanim dan aboeji juga setuju. Jadi kau tenang saja." Chanyeol mengelus pipi Baekhyun. Senyumnya tak pernah luntur jika sudah memandang wajah Baekhyun. "Jadi kau mau tidak nih menikah denganku? Kalau kau tidak mau, mungkin aku akan melamar Vic-"

"Mau! Aku mau kok. Kata siapa aku tidak mau. Bahkan jika kita menikah sekarang aku siap."

Chanyeol menyeringai, "Wah, jadi kau sudah siap untuk ku masuki ya?"

"Dasar Park Chanyeol MESUM!" Baekhyun segera mendorong tubuh Chanyeol menjauh dan berbalik untuk meninggalkan Chanyeol yang tertawa senang.

"Hey! Park Baekhyun! Tunggu! Aku mau memberimu cincin!"

.

"Pabo begini tapi kau cinta." Chanyeol meraih jari tangan Baekhyun. Telunjuknya mengusap sebuah cincin perak yang melingkar manis di jari manis Baekhyun.

.

.

Seperti rencana Tn. Park sekeluarga tadi malam, sekarang keluarga Park sedang mengunjungi rumah Baekhyun. Orang tua Baekhyun menyambut hangat kehadiran keluarga yang telah mereka anggap sebagai saudara itu.

"Maafkan kami jika siang-siang seperti ini mengunjungi rumah kalian." Ucap Tn. Park.

"Tidak apa-apa, Jiyong-ah. Nanti juga sekalian kita makan siang bersama. Sudah lama kita tidak berbincang seperti ini. Kesibukan selalu menyita waktu." Balas Tn. Byun.

Mereka –termasuk Chanyeol dan Baekhyun. Yoora tidak ikut karena ada live siang ini –duduk mengitari meja ruang tamu. Chanyeol duduk berhadapan dengan Baekhyun. Anak itu dari tadi tidak bisa mengkondisikan matanya untuk tidak menatap kearah Baekhyun demi kesopanan. Tapi yang namanya Chanyeol, anak itu mana sopan dari dulu.

Tn. Park satu-satunya yang sadar akan kelakuan anaknya yang bar-bar dalam memandangi Baekhyun. Dan karena itu beliau terbatuk keras seraya menatap Chanyeol dengan pandangan menusuk.

"Jadi, ada yang ingin kami bicarakan serius." Ny. Park memulai setelah ibu Baekhyun menghidangkan minuman.

"Oh ya? Apa itu Dara?" Tanya wanita paruh baya itu tertarik.

"Kemarin malam, uri Chanyeol mengatakan sesuatu. Awalnya kami juga terkejut mendengar permintaannya, tapi setelah melihat keyakinannya, akhirnya kami bisa berakhir di sini sekarang." Chanyeol menghela nafas mendengar perkataan ibunya yang menurutnya sangat basa-basi. Dia ingin to the point. Mengatakan seperti 'Chanyeol ingin menikahi anak kalian. Jadi kalian setuju atau tidak. Tapi mau tidak mau kalian harus setuju karena Baekhyun kalian mencintai Chanyeol kami.'

Tapi yang namanya anak kecil sepertinya harus mengikuti yang namanya tata krama dalam melamar calon istri.

Sepasang suami istri Byun diam untuk mendengar kelanjutan cerita Ny. Park.

"Chanyeol mengatakan bahwa dia ingin menikahi Baekhyun."

Chanyeol melirik kearah sepasang Byun itu. Sang suami yang membulatkan matanya dan sang istri membuka mulutnya lebar. Diam-diam Chanyeol berdoa dalam hati semoga setelah ini mereka tersenyum dan meng-iya-kan lamarannya.

"Menikahi uri Baekkie?" Tanya Ny. Byun.

"Memangnya Chanyeol sudah kerja apa?" Itu pertanyaan Tn. Byun. Pertanyaan yang sudah Chanyeol duga akan muncul kembali. Sepertinya para ayah selalu menanyakan hal itu. Mentang-mentang mereka mempunyai pekerjaan yang sangat mapan.

Chanyeol menggerutu dalam hati.

"Aku akan bekerja di SM Entertaiment aboeji. Mereka mengatakan akan memberiku gaji yang hampir sama seperti gaji appa. Jadi eommanim dan aboeji tidak perlu khawatir Baekhyun akan makan apa. Aku sudah mempersiapkan kehidupannya bersamaku sebaik mungkin." Chanyeol berkata layaknya seorang pria sejati. Jika sudah seperti ini, Chanyeol terlihat seperti pria berusia tiga puluh tahun. Sifatnya maksudnya, bukan fisiknya. Yah meskipun suara menjadi pengecualian.

Baekhyun memandang Chanyeol dengan mata berbinar-binar. Tidak mengetahui jika orang tuanya saat ini sedang memandangnya aneh.

"Baekhyunie?" Sapa ibunya. Baekhyun menoleh, "Ya?"

"Apa kau ingin menikah dengan Chanyeol dalam waktu dekat?" Tanya Ny. Byun.

Baekhyun mengangguk.

"Bagaimana dengan kuliahmu? Kau tidak keberatan?"

Baekhyun menggeleng, "Tidak eomma, lagipula aku akan lulus dua semester lagi."

"Kau yakin nak? Apa kau tidak merasa terlalu muda untuk menikah?" Kali ini ayahnya yang bertanya. Bukannya tidak setuju anaknya menikah dengan Chanyeol. Hanya saja, Tn. Byun ingin anaknya mempunyai kehidupan keluarga yang diharapkannya. Beliau ingin anak satu-satunya bahagia dan Tn. Byun tau jika dengan Chanyeol maka anaknya akan bahagia.

"Aku yakin appa. Aku suka pada Chanyeolie." Ucapnya malu-malu. Chanyeol tersenyum main-main saat mendengarnya. Baekhyun nya benar-benar menggemaskan. Andai tidak ada para orang tua di sini, ia pasti akan menerjang Baekhyun dengan ciuman mautnya.

Tn. Byun dan Tn. Park sama-sama menghela nafas. Memang anak-anak mereka ini sama keras kepalanya. Mungkin karena terlalu lama bersama, jadi sifat mereka pun mirip. Sedangkan para ibu tersenyum senang. Akhirnya anak-anak mereka menikah dan mereka menjadi keluarga besar nantinya.

"Ah memang Chanyeol dan Baekhyun sudah berjodoh sejak kacil ya?" Ucap Ny. Park.

"Benar. Mereka bahkan terlihat seperti sudah menikah sejak kecil." Sambung Ny. Byun.

Kedua wanita itu sangat antusias dengan pernikahan ini.

"Jadi, karena keduanya sudah setuju. Kita tinggal menentukan waktu pernikahannya." Tn. Byun mengangguk menyetujui perkataan istrinya.

"Benar."

"Bolehkah aku mengusulkan sesuatu?" Suara Chanyeol terdengar di antara mereka. Semua pasang mata tertuju pada laki-laki tinggi itu.

"Apa itu nak?" Tanya ibunya.

"Aku mengusulkan pernikahan kami mungkin dua atau tiga bulan lagi. Dan dengan tenggang waktu beberapa minggu kita bisa mempersiapkan pernikahanku." Chanyeol terlihat menggebu-gebu saat mengatakannya. Dia terlihat menjadi satu-satunya yang ingin pernikahan ini diselenggarakan. Mungkin perasaannya pada Baekhyun sudah tak muat tertampung lagi dan akhirnya meledak seperti ini.

"Aku boleh usul?" Suara Baekhyun mencicit.

Semua pasang mata kini beralih padanya.

"Aku setuju jika tiga bulan lagi. Karena saat itu menjelang musim gugur. Aku ingin tema pernikahan musim gugur." Baekhyun berucap dengan wajah berseri-seri.

"Geurae, aku akan memenuhi itu sayang." Keempat orang tua di sana seperti hendak muntah mendengar perkataan tak bermutu Chanyeol. Beda lagi dengan Baekhyun yang justru tersenyum dengan rona merah di pipinya. Bagi Chanyeol, apapun permintaan Baekhyun tentang pernikahan mereka akan dia sanggupi, kecuali satu yaitu membatalkan pernikahan.

"Terima kasih Chanyeolie."

Mereke berempat seperti melihat drama korea di sini. Di depan mata mereka langsung.

"Ekhem!" Tn. Park berdehem untuk menyadarkan kedua sejoli itu bahwa masih ada mereka di sini.

"Jadi pernikahan di bulan Agustus?"

"Benar."

"Ah tunggu! Aku punya ide!" Ny. Byun berseru. "Apa kalian tau rumah di depan rumah kita? Rumah Tn. Lee yang dihuni anaknya bersama istrinya. Mereka akan menjual rumah itu."

"Lalu?" Tanya Ny. Park tidak sabar.

"Lalu, aku usul bagaimana jika kita berempat patungan untuk membeli rumah itu untuk rumah Chanyeolie dan Bakehyunie saat mereka menikah nanti? Apa kalian setuju?" Bagaimana pun, wanita itu tidak akan bisa jauh dari Baekhyun karena Baekhyun adalah anak satu-satunya yang suka ia manjakan. Jika Baekhyun tinggal jauh bersama Chanyeol, nanti siapa yang akan menemaninya, begitu pemikirannya.

"Tunggu-tunggu." Sela Chanyeol, sepertinya ia hendak protes, "Aku tidak setuju jika kalian yang membeli rumah itu. Aku ingin membeli rumahku dengan Baekhyun menggunakan uangku sendiri, bukannya uang kalian. Memangnya aku tidak bisa menjadi suami yang baik?" Chanyeol mengerucutkan bibirnya yang sama sekali tidak pantas.

"Jadi kau yang akan membeli rumah itu?" Tanya Tn. Park, Chanyeol mengangguk.

"Tapi Chanyeolie, eommanim setuju jika kau ingin membeli dengan uangmu sendiri. Tapi pasti itu akan sangat lama untuk kau mengumpulkan uang. Jadi lebih baik pakai uang kami dulu dan kau bisa menggantinya nanti. Eommanim tidak ingin rumah itu dibeli oleh orang lain." Ny. Park menjelaskan dan diangguki oleh semua orang tua di sana.

Chanyeol menghela nafas, "Arraseo, aku akan menggantinya nanti."

"Itu baru anak appa yang bertanggung jawab." Tn. Park menepuk punggung anaknya bangga. Ia tidak menyangka jika Chanyeol berubah menjadi pria sejati jika menyangkut masa depannya dengan Baekhyun.

"Jadi, mulai minggu depan kalian akan fitting baju. Masalah tempat pernikahan akan kami yang urus." Ucapan final dari Tn. Byun membuat Chanyeol serta Baekhyun tersenyum.

"Terima kasih appa." Baekhyun memeluk ayahnya dengan erat. "Kau akan selalu jadi yang terbaik."

"Hey bagaimana denganku Baek? Apa aku tidak yang terbaik?"

"Kau yang terbaik, tapi setelah appa!" Baekhyun mehrong. Semua yang ada di sana tertawa kecuali Chanyeol.

.

.

Satu bulan kemudian.

Hari ini adalah hari di mana Chanyeol dan Baekhyun akan fitting baju pernikahan. Seorang designer kenalan Ny. Byun yang merancang baju pernikahan mereka.

Awalnya Chanyeol merekomendasikan Baekhyun untuk memakai gaun pernikahan layaknya seorang perempuan, tapi setelah itu Baekhyun mengancam akan membatalkan pernikahan mereka jika Chanyeol berani bicara seperti itu lagi.

Jadilah sekarang seorang wanita muda penjaga butik membawa Baekhyun dan Chanyeol untuk melihat baju pernikahan untuk Baekhyun. Baekhyun berdecak kagum saat melihat sebuah setelah tuxedo berwarna putih dengan kerah hitam yang akan dikenakannya. Chanyeol hanya terbengong melihat pakaian itu. Pikirannya mulai melayang tentang bagaimana manisnya seorang Byun Baekhyun yang mengenakan setelan itu di altar.

"Aku harus mengenakan kemeja hitam atau putih, Chanyeol?"

"..."

Merasa tidak ada jawaban, Baekhyun menoleh kearah Chanyeol yang sedang memelototi tuxedonya.

"Chanyeol?" Baekhyun mengguncang bahu laki-laki itu.

"Eh iya?"

"Kenapa? Kau tidak suka dengan setelan tuxedo ini?" Tanya Baekhyun. Chanyeol cepat-cepat menggeleng, "Tidak kok! Justru aku suka dengan ini." Chanyeol meraba tekstur kain yang digunakan jas mahal itu.

"Lalu, kenapa kau melotot sambil melihatnya seperti itu?"

"Tidak apa-apa sayang, aku hanya sedang membayangkan apa kiranya dasi kupu-kupu yang cocok untuk itu."

Baekhyun mengangguk mengerti, "Aku harus pakai kemeja hitam atau putih?"

"Putih saja. Karena aku yang memakai tuxedo hitam. Lagipula sudah ada corak hitam di bagian lehernya. Kupikir itu sudah menunjukkan bahwa kita sepasang. Bukankah di bagian kerah milkku nanti juga bercorak putih?" Chanyeol bertanya pada si wanita penjaga butik.

"Benar. Jadi akan terlihat jika kalian saling melengkapi satu sama lain dalam soal pakaian." Chanyeol mengangguk setuju.

"Sebaiknya kau coba tuxedomu, Baek." Saran Chanyeol. Wanita itu melepas pakaian mahal milik Baekhyun dari manekin dan menyerahkannya pada Baekhyun. Chanyeol segera mendorong punggung mungil itu untuk memasuki ruang ganti. Chanyeol benar-benar penasaran bagaimana rupa Baekhyun saat mengenakan pakaian mahal itu.

Selang lima menit, pintu bercat putih itu terbuka dan menampilkan Baekhyun lengkap dengan kemeja putih dan tuxedo putihnya, minus dasi kupu-kupu. Jika dalam drama, Chanyeol menatap Baekhyun dari kakinya, perlahan lantas naik ke tubuhnya, dan terakhir ke wajahnya yang manis bukan main. Di imajiner Chanyeol, tubuh Baekhyun dikelilingi oleh warna soft pink dan taburan bunga-bunga putih, rambut coklatnya berterbangan terkena angin, dan Baekhyun sedang tersenyum manis sambil melambaikan tangan padanya.

Padahal..

"Yak! Pabo Chanyeol! Aku bertanya sedari tadi kenapa tidak menjawabku huh?! Kau tuli?!" Dengan wajah tertekuk Baekhyun bersungut-sungut seperti akan mengeluarkan asap dari hidung dan telinganya.

Chanyeol layaknya idiot berkedip tiga kali. Ah jadi itu tadi hanya bayangan.

"I-iya sayang kau tampak..." Chanyeol menggantungkan kalimatnya membuat Baekhyun mendelik tajam, "Tampak gendut maksudmu?!"

Chanyeol dengan cepat menggeleng, "T-tidak sayang, maksudku kau tampak ehmm.." Chanyeol melirik kesana-kemari memastikan tidak ada yang mendengar, "Seksi." Cicitnya di ujung kalimat.

"Seksi?"

"Iya seksi. Aku jadi berkhayal yang tidak tidak jika kau memakai itu. Aku membayangkan setelah acara pesta pernikahan kita, aku menarikmu ke kamar dan segera melucuti pakaian itu."

Pipi Baekhyun sontak memerah. Laki-laki tinggi itu benar-benar mesum.

"Dasar mesum! Cepat sana ganti kau yang mencoba pakaianmu!" Baekhyun mendorong Chanyeol dengan susah payah. Chanyeol hanya tersenyum menggoda calon istrinya.

"Nona, tolong untuk tuxedo Chanyeol." Ucap Baekhyun pada wanita tadi.

"Mari ikut saya." Kemudian Chanyeol dan Baekhyun –yang masih mengenakan baju pernikahannya –mengikuti wanita itu menuju sebuah etalase berisi manekin yang mengenakan setelan jas yang mirip seperti miliknya, hanya warnanya saja yang berbeda. Milik Chanyeol berwarna hitam.

Wanita itu mengeluarkan tuxedo Chanyeol dan menyerahkan pada pemiliknya untuk segera dicoba. Sekarang gentian Baekhyun yang mendorong Chanyeol dengan antusias menuju ruang ganti.

Tak lama kemudian Chanyeol keluar dengan memakai tuxedo hitamnya. Baekhyun membulatkan mata melihat pemandangan di mana Chanyeol terlihat sangat-sangat-sangat-super-duper tampan.

"Woahh." Kemudian berdecak. Baekhyun mendekat kearah Chanyeol sambil tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari pakaian yang dikenakan Chanyeol.

"Tuxedo ini keren sekali." Ucapnya riang. Chanyeol yang awalnya percaya jika Baekhyun akan memuji diirnya, justru jawdrop mendengar penuturan kekasihnya.

"Hanya tuxedo nya? Bagaimana dengan yang memakai?"

"Kau tampak bagus." Baekhyun berucap tanpa melihat kearah Chanyeol. Tangannya meraba-raba tekstur jas hitam itu.

Kemudian Baekhyun mendongak menatap Chanyeol dengan mata puppy yang menyedihkan. Chanyeol mengangkat sebelah alisnya.

"Chanyeolie, aku mau tuxedo ku warna hitam saja. Aku tidak mau warna putih."

"A-apa? Tapi Baek, jika kita memakai tuxedo dengan warna sama, lantas bagaimana para tamu membedakan kita mana yang di bawah dan mana yang di atas?" Chanyeol tampak serius saat mengucapkan itu. Baginya itu adalah ide yang buruk. Baekhyun sudah cukup manis mengenakan jas putihnya, lantas kenapa anak itu minta ganti? Bukankah dari awal dia yang mengusulkan jas yang dikenakannya berwarna putih?

Baekhyun cemberut setelahnya. Ia membalikkan badannya membelakangi Chanyeol dan berjalan menjauh dengan kepala menunduk. Kemudian duduk di sebuah sofa di sudut ruangan dan matanya tampak berkaca-kaca.

Chanyeol menghela nafas. Baekhyun tampak sangat menyedihkan jika sedang merajuk seperti itu. Kepalanya menunduk dalam dan tangannya saling tertaut.

Mau tidak mau Chanyeol harus menuruti kemauan Baekhyun, bukankah dia rela mengabulkan apapun permintaan Baekhyun di acara pernikahan mereka? Chanyeol sudah berjanji akan hal itu. Kecuali jika Baekhyun ingin membatalkan pernikahan mereka.

Baekhyun tetap menunduk saat Chanyeol duduk di sampingnya. Chanyeol meraih telapak tangan kanan Baekhyun dan meletakkannya di pipinya.

"Baiklah, kau akan menggunakan tuxedo warna hitam." Baekhyun seketika mendongak menatap Chanyeol, meskipun wajahnya masih murung. Chanyeol membawa jari-jarinya untuk mengusap pipi calon istrinya, "Dengan satu syarat. Kau harus menggunakan kemeja putih. Bagaimana?"

Baekhyun terdiam sejenak sebelum mengangguk setuju. Ia memeluk Chanyeol dengan erat. Bibirnya tersenyum mendapati bahwa laki-laki sabar yang dipeluknya adalah calon suaminya.

"Terima kasih, Chanyeolie. Aku mencintaimu."

"Aku lebih mencintaimu, sayang."

.

.

Dua bulan kemudian

Hari ini adalah kali kedua untuk Baekhyun mengecek kembali tuxedonya yang sempat diganti. Kedua orang tuanya awalnya menolak dengan ide Baekhyun, tapi berkat Chanyeol yang memberi pengertian pada calon mertuanya akhirnya kedua orang tua Baekhyun menyetujuinya.

Kali ini kedua ibu mereka ikut untuk melihat tuxedo Baekhyun. Chanyeol yang mengusulkan itu agar tidak ada kesalahan apapun dalam pakaian Baekhyun.

"Coba pakai dulu, jika rasanya kebesaran akan dikecilkan sayang." Ny. Byun berucap pada anaknya saat Baekhyun merengek jika tuxedo nya terlihat kebesaran. Akhirnya anak itu menurut dan segera berganti. Dua menit kemudian Baekhyun keluar dengan tuxedo hitam impiannya namun memang benar terlihat kebesaran.

"Bagian lengannya yang kebesaran. Mungkin kau bisa mengecilkannya sedikit." Usul Ny. Byun yang sedang berbicara pada si pembuat tuxedo Baekhyun. Wanita itu mengangguk.

"Sedikit? Ini terlalu besar eomma. Tidakkah eomma lihat ini?" Baekhyun menyentuh bagian lengannya yang longgar.

"Jangan terlalu banyak mengecilkan. Nanti jika ternyata kau bertambah gemuk bagaimana?"

"Tapi eomma.."

"Eommanim benar Baekhyunie. Lagipula jika kebesaran kau akan terlihat imut di mataku." Chanyeol mengelus pundak Baekhyun untuk menenangkannya. Baekhyun itu jika menyangkut soal baju pernikahannya akan menjadi sangat cerewet. Lebih cerewet dari biasanya maksudnya.

Baekhyun merengut. Tapi pada akhirnya dia setuju dan menyerahkan tuxedonya pada si wanita penjahit.

"Lalu setelah ini kita akan memantau bagaimana persiapan tempat resepsi." Ucap Ny. Park.

"Bagaimana dengan undangan pernikahannya eomma?" Tanya Chanyeol.

"Undangan untuk kerabat di Jepang sudah dikirim. Yang di China masih dalam perjalanan. Dan yang untuk di Korea masih perlu didata nama-nama kerabat kita."

"Lalu bagaimana dengan makanannya?" Tanya Baekhyun antusias. Ny. Byun memukul lengan anaknya pelan, "Kau ini makanan saja yang dipikirkan. Jangan makan terlalu banyak agar kau tidak mejadi gendut."

"Aishh!"

"Tidak apa jika dia gendut. Dia akan terlihat semakin seksi di mataku." Chanyeol mengerling dengan jenaka. Membuat pipi si kecil merona. Hanya dengan gombalan murahan tapi mampu membuat Baekhyun tersipu.

"Diam Chanyeol!"

Ketiga orang di sana tertawa kecuali Baekhyun yang menjadi objek tertawa.

.

.

Malam ini adalah malam terakhir Baekhyun menjadi seorang single karena besok dia akan resmi menjadi seorang istri dari sahabatnya sendiri. Baekhyun tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun selama hidupnya, dan tiba-tiba saja besok dia akan menikah. Ini benar-benar hal yang mengejutkan baginya. Karena dulu dia tidak pernah terikat –well sebenarnya Chanyeol itu terkadang mengikatnya juga layaknya seorang pacar –tapi besok dia akan terikat secara permanen pada orang yang sama.

Mungkin hubungan mereka tidak jauh berubah karena sebelum menikah pun mereka kerap kali melakukan hal-hal layaknya sepasang suami istri. Yang berubah mungkin hanya soal status, komitmen, dan ya ehm- iykwim.

Dan yang paling terbaru bagi mereka mungkin soal iykwim itu. Karena selama ini mereka sama sekali belum pernah mencoba hal itu. Semuanya telah mereka coba layaknya suami istri, hanya soal iykwim-lah yang belum.

Baekhyun mendadak menjadi insomnia mengingat hari besarnya besok. Padahal biasanya dia akan terlelap di menit kedua setelah berbaring, tapi ini berbeda. Ini kasus yang besar.

Baekhyun tiba-tiba menjadi sangat paranoid.

Dia takut untuk menjadi seorang istri. Dia tidak tau apa yang baiknya dilakukan oleh seorang istri. Dia sangat manja pada eommanya dan tiba-tiba saja dia harus berpisah dari eommanya –meskipun rumah mereka hanya berjarak beberapa meter nantinya. Bagaimana jika Chanyeol tidak mau memanjakannya seperti eommanya? Seharusnya Baekhyun tidak perlu merasa takut akan hal itu kan? Selama bertahun-tahun Chanyeol sudah sangat lebih banyak memanjakannya, jadi untuk apa dia meragukan sikap Chanyeol terhadapnya. Tapi entahlah, Baekhyun hanya merasa paranoid.

"Bagaimana jika sikap Chanyeol berubah saat kami menikah? Bagaimana jika ternyata –" Baekhyun menelan ludahnya gugup. " –bagaimana jika akhirnya Chanyeol tidak menyukaiku begitu melihat tubuhku? Bagaimana jika dia akhirnya selingkuh?"

Kemudian ia menggeleng, "Tidak tidak. Selama ini Chanyeol selalu memandangku, jadi tidak mungkin dia selingkuh. Tapi soal tubuhku.."

Mengingat hal iykiwm kembali membuat Baekhyun paranoid. Dia tidak tau caranya melakukan iykwim dan dia takut tidak membuat Chanyeol puas. Baekhyun benar-benar menyesal tidak pernah menghabiskan masa lajangnya untuk menonton film iykwim. Sekali-kali perlu bukan menonton film seperti itu untuk pengalaman dan pembelajaran. Sekarang bagaimana dia sekarang? Tidak mungkin kan jika dia dan Chanyeol tidak melakukan iykwim setelah menikah? Bahkan dia sangat yakin Chanyeol akan mengajaknya melakukan iykwim di saat malam pertama mereka. Chanyeol kan mesum.

"Ah jinjja ottoke?! Eomma!"

.

.

Ny. Byun mengetuk pintu kamar Baekhyun di pukul enam pagi. Hari ini adalah hari pernikahan anak itu, tapi kenapa dia tidak bangun pagi untuk persiapan? Yah meskipun pemberkatan akan dilakukan pukul sebelas, tapi ada baiknya bersiap lebih awal kan?

"Baekhyun? Bangun sayang."

"Eomma.." Suara rengekan Baekhyun terdengar dari dalam. Ny. Byun mengernyit. Ada apa dengan anak itu?

"Buka pintunya Baekkie, eomma mau masuk." Ny. Byun merayu anaknya.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan menampilkan Baekhyun dengan wajah dan rambut kusut serta balutan selimut di tubuhnya.

"Ada apa sayang?"

Baekhyun memeluk ibunya erat. Tiba-tiba matanya mengeluarkan air mata. Isakan terdengar begitu menyedihkan keluar dari bibirnya.

tersenyum lembut dan membalas pelukan anaknya. Mengelus punggung kecil itu dengan sayang. Ia tau apa yang dirasakan Baekhyun sekarang karena dulu ia pernah merasakannya juga. Hal itu memang wajar terjadi pada calon mempelai wanita, tapi anaknya ini kan laki-laki. Laki-laki dengan hormon seperti wanita maksudnya.

"Ada apa? Ceritakan pada eomma." Baekhyun mengangguk. Dan berakhirlah mereka berdua duduk bersandar pada ranjang dengan Baekhyun yang tidak melepaskan pelukannya sedikitpun dari ibunya.

"Eomma, aku tidak siap." Adunya.

"Kenapa tidak siap? Bukankah kau menginginkan ini sejak beberapa bulan yang lalu?"

"Aku tidak mau. Nanti jika aku menikah, aku akan jauh dari eomma. Eomma tidak akan menyiapkan bekalku lagi, aku harus bagaimana? Chanyeol pasti tidak mau melakukan itu untukku."

"Eii, kata siapa? Chanyeol menyayangimu, bukankah kau lihat matanya? Dia selalu manatapmu dengan sayang. Jika dia tidak bersedia melakukan itu untukmu, lantas apa tujuannya menikahimu Baekkie?" Ny. Byun mengelus surai anaknya yang lembut. Baekhyun kembali terisak.

"Tapi nanti –huks! A-aku jarang bertemu eomma. Nan..nanti bagaimana jika aku tidak bisa menjadi pasangan yang baik –huks untuk Chanyeol? Lalu nanti dia tidak menyukaiku bagaimana?"

Ny. Byun tersenyum, pikirannya melayang pada beberapa tahun silam, di saat ia akan menikah dengan ayah Baekhyun. Kasus mereka sama persis

"Eomma juga pernah memikirkan itu saat akan menikah dengan appa. Tapi lihat, itu tidak terbukti kan? Appa sering bilang jika eomma itu tidak seberapa cantik, masakan eomma juga terkadang tidak enak, eomma suka marah pada appa, tapi appa tidak pernah tidak menyukai eomma. Kami sudah berjanji pada Tuhan, jadi kami akan selalu bersama sampai kapanpun."

"T-tapi, itukan appa. Appa memang pria yang baik, tapi jika Chan-chanyeol?"

"Sstt, bukankah dulu Baekkie pernah cerita pada eomma jika kau sangat menyukai Chanyeol karena dia baik dan mainannya bagus-bagus?"

Baekhyun mendongak menatap ibunya dengan wajah yang basah, "Itu kan saat aku kecil."

"Lalu apa bedanya dengan sekarang, toh kalian tetap orang yang sama. Tidak berubah." Ny. Byun menyingkirkan helaian anak rambut yang menempel di dahi anaknya karena keringat, "Jika Baekkie sudah berbicara seperti itu, berarti Chanyeol memang seperti itu. Hanya kau yang bisa menilai Chanyeol, sayang. Bukan eomma."

Baekhyun terdiam beberapa detik, tapi kemudian kembali merengek, "Lalu eomma, bagaimana dengan –" Baekhyun memutus kalimatnya. Haruskah ia menceritakan tentang kebimbangannya soal melakukan iykwim dengan Chanyeol nanti?

"Dengan?" Tanya wanita itu.

"Dengan malam pertama." Suaranya mengecil di ujung kalimat. Tapi Ny. Byun dapat dengan jelas mendengar itu. Kemudian Ny. Byun tertawa. Anaknya itu ternyata masih polos, lucu sekali.

"Ada apa dengan malam pertama hmm?"

Baekhyun tampak ragu, namun akhirnya berucap juga, "Aku takut melakukannya eomma. Aku tidak siap."

"Tidak siap?"

"Iya, maukah eomma mengatakan pada Chanyeol agar tidak melakukannya dalam waktu dekat? Aku tidak siap eomma, kumohon.." Dengan mata puppy andalannya Baekhyun berkata. Wajahnya benar-benar menyedihkan membuat Ny. Byun tidak tega untuk melepaskan anaknya menikah.

"Baiklah. Tapi kau juga tidak boleh memaksa Chanyeol untuk tidak melakukannya sayang. Jika kalian sudah menikah, hal itu sudah wajar dilakukan. Chanyeol pasti akan mengerti untuk satu atau dua kali, tapi dia tetap laki-laki, jika kau mengerti maksud eomma." Ny. Byun tidak bisa menahan senyumnya saat mengatakan itu. Tapi sepertinya perkataan sang ibu justru membuat Baekhyun makin diserang panik.

"Ya! Apa maksud eomma?! Memangnya aku bukan laki-laki?"

"Oke, eomma ralat. Dia tetap seorang suami, jadi kau mengerti maksud eomma."

Baekhyun merengut. Mengingat posisinya sebagai istri sangat membebani pikirannya. Istri sama dengan dimasuki dan itu yang membuatnya parno. Dia tidak siap dimasuki.

"Eomma aku tidak mau menikah sekarang."

"Jadi kau mau membatalkan pernikahanmu?"

Baekhyun ragu. Dia tidak ingin menikah hari ini, tapi dia juga tidak mau membatalkannya.

"Jadi tidak?" Tanya Ny. Byun memandang wajah anaknya yang bingung. Dia jadi gemas sendiri. Tidak menyangka anaknya yang manja –yang ia rasa baru kemarin lepas dari popok –sudah akan menikah saja hari ini.

"Baiklah kalau tidak jadi, eomma akan menelfon Chanyeol agar –"

"J-JADI! Jadi eomma!"

"Baiklah ayo kita bersiap."

"T-tapi –" Sayang sekali Baekhyun tak bisa kabur karena tangannya telah ditarik oleh Ny. Byun menuju kamar mandi.

Di hari terakhir sebelum anaknya diminta orang lain, Ny. Byun memandikan Baekhyun pagi itu dengan mata yang berkaca-kaca. Senyumnya tak pernah luntur melihat Baekhyun tertawa kegelian karena tangannya yang setia menggosok punggung Baekhyun dengan spons. Anaknya yang telah tumbuh dewasa, di matanya akan tetap menjadi Baekkie kecil yang suka mengadu saat calon suaminya mengambil permennya dengan paksa. Mereka akan tetap menjadi Baekkie dan Channie kecil di matanya.

Eomma harap kau bahagia bersama Chanyeol, sayang.

.

.

Pukul sebelas kurang sepuluh menit, Tn. Byun memasuki sebuah ruangan yang menjadi tempat bersiap anaknya. Pria paruh baya itu menggunakan seragam kebesarannya sebagai inspektur kepolisian. Dia ingin terlihat gagah saat melepas putranya untuk orang lain.

Bibirnya tersenyum mendapati istri dan anaknya sedang berpelukan erat. Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca melihat itu. Sebentar lagi anaknya akan tinggal bersama suaminya, bukan dengannya lagi.

"Baekhyunie, hanya memeluk eomma saja?"

Baekhyun melepas pelukannya dan berlari menuju ayahnya. Memeluk pria yang selalu memanjakannya itu dengan erat.

"Aku sayang appa. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi appa di hatiku sebagai pria yang sangat kusayangi."

"Bahkan Chanyeol?" Goda Tn. Byun. Baekhyun mengangguk, "Bahkan Chanyeol. Dia nomor dua, dan appa nomor satu."

Tn. Byun mencium rambut anaknya lama. Matanya mengeluarkan air mata mengingat sebentar lagi dia tidak harus bertanggung jawab atas anaknya lagi, melainkan ia serahkan pada Chanyeol.

"Appa menyayangimu nak. Kau akan tetap jadi anak appa apapun yang terjadi. Katakan pada appa jika Chanyeol membuat mu menangis lagi okay? Appa akan menembaknya seperti permintaanmu dulu saat kecil." Tn. Byun dan Baekhyun tertawa mengingatnya.

"Jangan tembak Chanyeol. Aku mencintainya."

"Bagus. Berjanjilah pada appa jika kau akan bahagia. Berjanjilah dengan sungguh-sungguh karena kau sedang berjanji di depan seorang inspektur polisi."

Baekhyun membuat gestur hormat dengan tangannya, "Siap Komandan!"

"Baiklah sekarang waktunya kalian berjalan di altar." Ucap Ny. Byun.

Baekhyun segera menggandeng tangan ayahnya. Genggamannya mengerat saat perlahan mereka berjalan memasuki altar.

Setiap langkah yang dipijaknya membuat degup jantungnya semakin cepat. Ibunya telah memasuki ruang pemberkatan, hanya tersisa ia dan sang ayah yang semakin dekat dengan pintu masuk gereja.

Dan langkah mereka berhenti saat dua orang penjaga membuka pintu putih tulang itu dan menampilkan apa yang ada di dalam sana. Semua pasang mata para tamu menatapnya dengan terpesona. Alunan musik pengiring mulai terdengar. Genggamannya mengerat pada tangan sang ayah.

Tn. Byun tau bahwa anaknya sedang gugup. "Tersenyum Baekhyunie." Ucapnya.

Mereka mulai kembali berjalan memasuki gereja. Baekhyun mulai memberanikan dirinya untuk melihat ke depan. Melihat di mana Chanyeol sedang berdiri sambil menatapnya tanpa berkedip. Ingin rasanya Baekhyun mengubur dirinya hidup-hidup saking malunya. Chanyeol melihatnya seperti seorang maniak.

Dan tinggal tiga langkah menuju tempatnya, Chanyeol mengulurkan tangan kanannya untuk Baekhyun. Tn. Byun menyerahkan tangan kiri Baekhyun pada calon menantunya. Dapat dirasakan oleh keduanya bahwa tangan mereka sama-sama terasa dingin. Baekhyun terkekeh.

"Jaga anakku Park Chanyeol, atau aku akan menembakmu." Canda Tn. Byun.

"Appa!" Baekhyun mencicit.

"Siap Komandan!" Jawab Chanyeol tanpa ragu.

Tn. Byun segera melangkah pergi setelah menepuk pundak Chanyeol dan duduk di sebelah istrinya. Melihat bagaimana kedua mempelai yang saat ini saling melempar pandangan penuh cinta.

Setelah seorang pastur menjalankan beberapa hal yang harus dilakukan sebelum pemberkatan, akhirnya acara inti pun dimulai.

"Untuk mempelai istri, Byun Baekhyun apakah anda akan bersedia menerima Park Chanyeol sebagai suami, mencintainya dalam suka atau duka, dalam sehat atau sakit, dan selalu menjaga perasaan cinta kalian sampai maut memisahkan?"

"Ya saya bersedia."

"Untuk mempelai suami, Park Chanyeol apakah anda akan bersedia menerima Byun Baekhyun sebagai istri, mencintainya dalam suka atau duka, dalam sehat atau sakit, dan selalu menjaga perasaan cinta kalian sampai maut memisahkan?"

"Ya saya bersedia."

"Dengan berjanji di hadapan Tuhan, Park Chanyeol dan Byun Baekhyun telah sah menjadi suami istri. Dan dipersilakan untuk sang suami mencium istrinya."

Saat sang Pastur menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun melihat Chanyeol yang sedang memandangnya juga. Mereka tersenyum satu sama lain. Suara riuh para tamu menggema, namun terdengar sunyi di telinga mereka berdua.

Chanyeol mendekat untuk meraih wajah istrinya. Sedikit menundukkan kepalanya. Jantung Baekhyun telah bertalu-talu menunggu Chanyeol mencium bibirnya. Namun setelah beberapa detik ia memejamkan mata menunggu, yang ia rasakan justru sebuah kecupan hangat yang mendarat di dahinya. Chanyeol menciumnya di dahi, dan Baekhyun bersumpah bahwa ciuman Chanyeol kali ini lebih banyak memiliki makna cinta di dalamnya. Meskipun bukan ciuman di bibir, namun Baekhyun dapat rasakan perasaan cinta Chanyeol yang besar untuknya.

Selama beberapa detik Chanyeol tidak melepaskan ciumannya. Baekhyun tersenyum dan meneteskan air matanya dengan perasaan bahagia, dan ia juga merasakan setetes air mata jatuh di dahinya. Chanyeol-nya juga menangis bahagia.

Suara sorakan di dalam gereja terasa sangat jauh saat Chanyeol mulai melepaskan ciumannya. Dahi mereka menempel. Dan Chanyeol serta Baekhyun hanya merasa seperti berdua saja di dalam gereja. Tanpa siapapun yang mengganggu mereka.

"Aku mencintaimu Baekhyunie."

"Aku juga mencintaimu Chanyeolie."

.

.

Resepsi pernikahan dilakukan di sebuah hutan kecil yang dekat dengan gereja. Kedua keluarga sepakat untuk mengabulkan keinginan Baekhyun untuk melaksanakan pernikahan dengan tema yang jauh dari hiruk pikuk kebisingan kota. Mereka memilih gereja di sebuah pedesaan dan untuk resepsi diadakan seperti pesta kebun. Nuansa musim gugur sangat kental di dekorasi pesta kebun itu, persis seperti harapan Baekhyun.

Tidak banyak tamu yang diundang di siang hari, hanya teman dan saudara dari kedua mempelai. Dan untuk tamu dari kalangan kolega orang tua mereka akan diadakan nanti malam di sebuah hotel. Chanyeol memang sengaja memisahkan waktu antara tamu resmi –kolega orang tua dan mertuanya –dan tamu tidak resmi –saudara dan teman-teman mereka.

Hutan yang dipilih sebagai tempat resepsi didesain sangat nyaman dan Baekhyun tidak berhenti bergumam tentang betapa kerennya dekorasi untuk pernikahannya.

Beberapa teman sekolah Chanyeol, seperti Sehun dan Jongin datang bersama pasangan mereka. Sehun membawa tunangannya yang berasal dari China dan Jongin membawa pacarnya –yang katanya akan menjadi pacar terakhir sekaligus istrinya.

"Tidak kusangka kau menikah muda Park. Kukira kau akan menjadi perjaka tua mengingat kau tidak pernah berpacaran." Jongin berucap sembarangan. Di mulutnya terdapat sepotong kue kering yang disajikan di sana. Chanyeol melirik Baekhyun yang sedang berkenalan dengan pacar Jongin.

"Aku tidak berpacaran karena aku tahu akan menikahi Baekhyun nantinya."

"Jadi kau memang ingin menikahi sahabatmu sendiri? Kau benar-benar pria setia, kawan!" Jongin menepuk pundak Chanyeol. "Aku bangga padamu." Ucapnya sok bijak.

Chanyeol menyingkirkan tangan Jongin dari pundaknya, "Apa kau serius dengan pacarmu itu? Siapa namanya?"

"Kim Kyungsoo. Dan ya aku serius dengannya. Aku akan melamarnya minggu depan."

Chanyeol menyipitkan matanya curiga, tapi kemudian membuat ekspresi 'masa bodoh' di wajahnya. Kemudian pandangan mereka berdua beralih pada sahabat mereka, Oh Sehun. Pria dingin itu sedang tersenyum bodoh menatapi tunangannya. Cinta benar-benar membuat Sehun sangat out of character.

"Kupikir Sehun akan menjadi perjaka tua sepertimu, mengingat sifatnya yang sok dingin itu. Ternyata, ckck."

Chanyeol melirik Jongin, "Kapan mereka bertunangan?"

"Dua hari yang lalu."

"Yang benar?! Sialan dia! Tidak memberitauku."

Jongin mendekat pada Chanyeol dan berbisik, "Dia takut kau akan merebut tunangannya, katanya sih begitu. Tapi Luhan memang sangat cantik, lebih cantik dia daripada istrimu, bung!"

Chanyeol menendang kaki Jongin dengan sadis, "Baekhyun memang tidak cantik, tapi dia sangat manis dan memukau di mataku."

"Ahh benar-benar." Jongin melipat kedua tangannya di depan dada dan menggeleng prihatin, "Apa rencana mu untuk malam pertama nanti?" Tanyanya santai.

Chanyeol yang sedang meminum jus jeruk lantas tersedak dan terbatuk-batuk. Tangannya segera memukul belakang kepala Jongin.

"Aishh! Kau suka sekali menyiksaku." Keluhnya.

"Jangan bicara yang aneh-aneh Jongin! Baekhyun masih kecil, aku akan menyesuaikan diriku padanya. Tidak sepertimu! Aku yakin kau dan pacarmu sudah melakukannya. Iya kan?"

"Belum, tapi mungkin akan aku pertimbangkan."

"Dasar mesum!"

.

.

Acara resepsi pada malam hari lancar seperti yang keluarga besar itu rencanakan. Dan saat ini, Baekhyun serta Chanyeol sedang duduk di kursi penumpang mobil mereka yang dihias dengan pita dan bunga –khas mobil pengantin. Sebenarnya Tn. Byun menyarankan agar malam ini mereka menginap di hotel seperti saudara mereka, namun Baekhyun menolak, ia memilih saran Ny. Park untuk pulang ke rumah Chanyeol dan tidur di kamar Chanyeol daripada di kamar hotel. Baekhyun kan susah tidur kalau tidak berada di kamarnya atau kamar Chanyeol.

Bahkan Baekhyun telah terlelap dengan kepala bersandar di bahu kiri Chanyeol. Meskipun hanya tersenyum dan menyapa para tamu, namun Chanyeol tidak menyangka bisa membuat tubuhnya lelah seperti ini. Kakinya terasa kram.

Baekhyun sejak satu jam yang lalu sudah merengek minta pulang, tidak peduli beberapa tamu yang sedang memperhatikan anak itu. Baekhyun benar-benar seperti anak kecil. Chanyeol merasa dirinya seperti sedang menikahi anak sekolah dasar.

Tangannya terangkat untuk memeluk Baekhyun dari samping. Wajahnya sedikit menunduk untuk melihat wajah terlelap istrinya. Bibir tipis itu terbuka dan sedikit mengeluarkan air liur. Anak itu benar-benar kelelahan. Chanyeol menahan tawa melihatnya. Andai saja ponselnya masih nyala, dia pasti akan memotret Baekhyun saat ini dan menjadikan foto itu sebagai senjatanya.

Mobil putih itu memasuki pekarangan rumah keluarga Park. Mobil sang ayah belum ada dan itu berarti orang tuanya masih sibuk berbincang dengan teman koleganya.

Chanyeol membuka pintu mobil setelah sebelumnya menyandarkan tubuh Baekhyun. Anak itu mengerang karena merasa terganggu.

"Biar paman bantu, Chanyeol." Ujar Kim ahjussi.

"Terima kasih ahjussi, tolong tutup pintunya." Chanyeol menggendong Baekhyun di depan dadanya. Baekhyun kembali mengerang dan menggeliat tak nyaman. Chanyeol berhenti dan menatap wajah pulas istrinya, lalu kembali berjalan saat Baekhyun merasa nyaman kembali.

Rumah tampak gelap dan sunyi. Saat memasuki kamar, Chanyeol menyalakan lampu dengan menggunakan dahinya. Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, pantas saja Baekhyun sudah sangat mengantuk tadi. Dibaringkannya tubuh kecil itu di atas ranjangnya dan Chanyeol mulai melepas sepatu serta tuxedo Baekhyun.

Bibirnya tersenyum melihat wajah polos Baekhyun saat tidur. Tidak menyangka jika lelaki manis di depannya telah resmi menjadi istrinya. Chanyeol memakaikan selimut sampai batas dada dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Beberapa menit kemudian, saat Chanyeol keluar dari kamar mandi, ia dibuat terkejut karena Baekhyun telah duduk di ranjangnya dengan keadaan bugar dan sebuah monopoli di hadapannya. Senyumnya mengembang, sambil menggenggam beberapa dolar uang mainan ia berujar, "Chanyeol ayo main monopoli. Aku baru tau kau mempunyai ini!"

Chanyeol tersenyum sama lebarnya, kemudian mengangguk. "Ayo! Aku mendapat itu dari Jongin saat ulang tahunku ke tujuh belas."

Dan untuk pertama kalinya, sepasang pengantin baru menghabiskan malam pertama mereka dengan bermain hingga pukul dua pagi.

Bermain monopoli maksudnya.

"Yang punya rumah sedikit harus mencium yang punya banyak rumah. Bagaimana?"

"Setuju! Aku akan mengalahkanmu Dobi!"

.

.

.

.

Tobecontinue.

.

.

.

A/N : Chap depan adalah final yey! Dan karena pada minta mpreg, okay aku bakal bikin Baekkie jadi hamil hahaaha /digampar Baekkie/ ini udah panjang kan? Panjang dong. Untuk proses pernikahannya maaf kalau ada yang salah, namanya juga fanfic /dilempar/

Review ya... sorry for typo hahaha

Ps : baca ff aku di fwc cic ya. Judulnya Promise Me then I'll Promise You hehehe /nyengir/