Title : My Bestttt
-Babies-
AUTHOR : pikapikabyun (aquariusbaby06)
Cast : Baekhyun and Chanyeol
Length : Chapter
WARNING : PENUH DENGAN KEKONYOLAN DAN FLUFF GAK JELAS. JANGAN DIBACA KALAU ANEH YAAA
Btw di sini Chanyeol lebih tua beberapa bulan dari Baek, tapi tahun lahirnya beda, seperti Chanyeol sama Kyungsoo gitu beda satu bulan beberapa hari tapi beda tahun. Anggep aja Chan lahir tahun 92 Baek lahir 93 okeh sip.
.
Terhitung sudah satu bulan sejak pernikahan mereka berlangsung dan Baekhyun selalu mencari alasan atau topic lain agar Chanyeol lupa akan kegiatan iykwim mereka. Mereka pindah ke rumah baru hasil patungan para orang tua.
Setiap malam, Baekhyu selalu bermanja-manja seperti meminta Chanyeol membacakan dongeng sebelum tidur dan mengelus punggungnya saat tengah mengantuk. Kadang Chanyeol juga membantu Baekhyun mengerjakan tugas kuliahnya yang semakin menumpuk menjelang skripsi. Beberapa dosen memintanya untuk membuat lagu sendiri, untung saja dia punya suami yang pintar membuat lagu.
Sejauh ini, tidak ada perubahan yang signifikan terhadap hubungan mereka. Semuanya berjalan seperti biasa, hanya saja sekarang mereka tinggal berdua di sebuah rumah. Jadi Baekhyun merasa nyaman dengan hubungan pernikahan ini. Pikirnya, menikah tidak terlalu menakutkan. Selama ada Chanyeol, semuanya menjadi beres. Sekarang Chanyeol mempunyai dua jabatan darinya, yaitu sahabat dan suami.
Chanyeol sepertinya juga mengerti akan situasi dirinya yang masih 'kecil' jadi dia tidak menuntut untuk melakukannya. Tapi Baekhyun juga cukup terkejut akan hal itu . Chanyeol sudah mengomporinya dulu jika mereka sudah menikah maka dia akan melakukan itu padanya setiap hari. Tapi nyatanya?
Apa jangan-jangan Chanyeol menahannya selama ini? Apa Chanyeol tidak akan melakukannya sampai dia lulus dulu? Apa Chanyeol akan melakukannya jika dia yang memintanya dulu?
Mungkin saja.
Tapi mana mungkin Baekhyun memintanya duluan, kalau bisa tidak usah melakukannya.
"Hey! Bunny, kenapa melamun? Tugasmu sudah selesai huh?!" Chanyeol memasuki kamar mereka dengan secangkir kopi susu di tangannya. Uap panas mengepul dan membuat kacamatanya mengembun.
Baekhyun menatap suaminya jengah, "Chanyeol, sudah ku katakan jangan memakai kacamata kuda seperti itu. Ganti framenya besok! Kau tampak seperti anak idiot."
Chanyeol tertawa kecil dan meletakkan cangkir kopinya di sebelah buku Baekhyun. Ia menunduk dan memeluk istrinya dari belakang. Mengendus leher mulus itu dan membaui aroma yang membuatnya candu. Baekhyun dibuat merinding karena nafas laki-laki itu.
"Chanyeol minggir, aku harus menyelesaikan dua paragraf lagi." Baekhyun mengerang dan berusaha melepaskan tangan Chanyeol dari lehernya. Dia merasa ada yang tidak beres di sini.
"Baek, masa kau tidak mengerti maksudku? Kau tidak mau mencobanya?"
"M-mencoba apa sih Yeol?"
"Aku tau kau tidak sebodoh itu sayang." Chanyeol mencium beberapa titik sensitif di leher Baekhyun. Dia sudah paham di luar kepala, bagian-bagian mana saja yang akan membuat pria kecilnya mengerang.
Baekhyun benar-benar tidak dapat mengantisipasi hal ini. Chanyeol seperti orang yang kehilangan akalnya. Bahkan tangan pria itu sudah meraba lengannya dengan sangat menggoda.
"C-chan –"
"Baekhh, aku ingin.."
Baekhyun bukan orang bodoh untuk mengartikan 'ingin' yang dimaksud suaminya. Tapi, demi Tuhan Baekhyun belum siap. Membayangkannya membuat tubuhnya seketika menggigil, ditambah dengan Chanyeol yang mulai mengeluarkan lidahnya untuk menari di belakang telinganya. Baekhyun benar-benar bergetar dibuatnya.
"Astaga Yeolhh.."
Tangan Chanyeol sudah berada di pinggangnya untuk membuat Baekhyun berdiri dari kursinya. Lidahnya tidak pernah berhenti untuk mengerjai leher Baekhyun. Chanyeol membawa istrinya menuju ranjang dan menghempaskan tubuh mungil itu dengan perlahan. Baekhyun telah terlentang di atas ranjang dan Chanyeol menindihnya. Bibir pria itu kembali bermain dengan leher Baekhyun, membuatnya mengerang.
"Enghh..." Baekhyun entah mengapa seperti terbuai oleh sentuhan bibir Chanyeol. Kepalanya mendongak dan memberi akses lebih bagi Chanyeol untuk memanjakan lehernya. Jari-jari Baekhyun meremas surai Chanyeol yang berantakan, menekan kepala Chanyeol agar tak menjauhi lehernya.
Suara basah yang dibuat oleh lidah lelaki itu membuat Baekhyun merinding, dan bagian bawahnya terasa sedikit sesak.
"Aahh.. Chanyeolhh kumohon nghh.."
Chanyeol mendongak untuk melihat wajah Baekhyun yang telah merona. Seringaian menghiasi wajah tampan itu, "Mohon apa sayang?" Suara Chanyeol terdengar sangat serak dan berat. Menandakan nafsu yang telah menumpuk dalam dirinya.
"Lepash..Ahh.." Baekhyun mendesah saat tangan-tangan Chanyeol merayap dari bawah kaosnya, menemukan dua tonjolan pink yang telah mengeras dan menekannya dengan lembut. Baekhyun tidak tahan dan akhirnya membuka sendiri kaosnya agar Chanyeol dapat memanjakan nipplenya tanpa henti.
Melihat pemandangan yang sangat membuatnya tegang, Chanyeol tidak menyia-nyiakan itu dan segera meraup nipple kanan Baekhyun dengan rakus. Mengecup sebelum akhirnya menghisap dengan keras hingga pipinya mencekung, mirip seperti bayi kehausan. Lidahnya bermain-main saat mengulum benda lembut istrinya.
"Ahhh.. emhh..!" Tangan kanan Chanyeol yang tidak tinggal diam kembali mencubit sebelum akhirnya menekan kembali nipple kiri Baekhyun. Pria mungil itu tidak menyangka jika akan senikmat ini bila melakukan hal menyenangkan dengan orang yang dicintainya.
"Baekhh.." Chanyeol menghentikan kulumannya pada nipple Baekhyun, menatap wajah istrinya yang telah dikuasai oleh nafsu. "Aku tidak akan berhentihh.."
"Ahh!" Baekhyun mendesah keras hingga memenuhi ruangan saat tangan kiri Chanyeol dengan sengaja memainkan miliknya.
Dan setelah menunggu sampai satu bulan, akhirnya malam itu menjadi malam pertama bagi Chanyeol dan Baekhyun.
.
.
Setelah melalui malam panjang mereka hingga menghabiskan lima ronde, Baekhyun mengeluh selama satu minggu dan tidak mau menyapa Chanyeol dengan ramah. Bagaimana tidak? Selama tiga hari dia susah berjalan dan meninggalkan kuliahnya, hanya karena itu. Baekhyun sampai harus mengerjakan tugas double dari dosennya karena kelamaan sakit.
Dan pagi ini, setelah delapan hari mereka melakukannya, Baekhyun mengeluh pusing dan demam. Chanyeol dibuat panik dan meminta ijin kepada atasannya agar cuti kerja. Baekhyun terlihat sangat menyedihkan di pagi hari saat terbangun dengan keringat sebesar biji jagung dan mengeluh pusing. Ibu Baekhyun sampai harus ikut-ikutan menjaga anaknya yang sakit, karena dia yakin Chanyeol saja tidak cukup untuk merawat si manja Baekhyun saat sedang sakit.
"Gigit ini dan jangan kau lepas sampai eomma kembali ne?" Baekhyun mengangguk lemah. Tubuhnya terbaring tidak berdaya dengan selimut tebal menutupinya.
Ny. Byun keluar dari kamar setelah memastikan Baekhyun menggigit thermometer nya dengan benar. Wanita itu menggeleng saat melihat Baekhyun yang seperti anak kecil.
Baekhyun memejamkan matanya sambil memainkan thermometer dengan lidahnya. Kain yan digunakan ibunya untuk mengompres dahinya sedikit melorot saat Baekhyun memiringkan badan untuk memeluk guling.
"Chanyeol pabo." Igaunya. Jika sudah demam dan pusing, Baekhyun pasti menjadi anak yang suka mengigau tidak jelas.
Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka dan menampilkan Chanyeol dengan bungkusan berisi obat yang baru dibelinya di apotek ujung jalan. Lelaki itu terlihat begitu khawatir dengan istrinya. Chanyeol duduk di pinggir ranjang dan mengecek suhu di dahi Baekhyun.
"Masih panas." Gumamya.
Baekhyun dengan pandangan kosongnya melihat kearah jendela di belakang Chanyeol. Matanya memperhatikan seekor burung yang terbang mengejar burung lainnya.
"Sayang? Apa yang kau lihat hm?" Chanyeol mengikuti arah pandang Baekhyun dan menemukan sepasang burung yang sedang kasmaran. Tangannya mengelus surai Baekhyun dengan sayang.
"Eomma, aku mau burung itu." Baekhyun bergumam dan menunjuk kearah jendela. Berbicara melantur seakan orang yang berada di depannya adalah ibunya.
"Eomma.." Baekhyun mulai merengek tidak jelas. Pandangannya mengabur menatap Chanyeol. "Badanku panas sekali.. Mau pulang.."
Beberapa saat kemudian Ny. Byun dengan semangkuk bubur ayam di tangannya menghampiri anak dan menantunya. Ny. Byun menyerahkan mangkuk itu kepada Chanyeol dan mengambil thermometer yang masih bertengger di mulut anaknya.
"Berapa suhunya eommanim?"
"Tiga puluh delapan. Astaga, kenapa dia bisa demam seperti ini?" Ny. Byun mengganti kain di dahi anaknya dengan yang baru. "Apa perlu kita bawa dia ke dokter?"
Chanyeol mengangguk, "Aku akan suapi dia, lalu kita akan bersiap ke dokter."
"Baiklah."
.
.
Baekhyun mendengar suara asing yang sedang berbicara. Kemudian ada suara ibunya dan suara laki-laki yang familiar di telinganya.
"Berhubung kandungannya masih dini, lebih baik selama dua bulan ini Baekhyun harus istirahat, dia dan janinnya masih lemah sekali."
Baekhyun mengernyitkan dahinya. Siapa yang hamil? Kenapa suara asing itu menyebut namanya segala?
"Saya akan memberi Baekhyun vitamin yang akan membuat tubuhnya bugar. Setiap pagi baiknya dia berjalan-jalan untuk menguatkan kandungannya juga."
"Baiklah dokter, saya mengerti."
Itu suara Chanyeol. Baekhyun hafal di luar kepala.
Setelah itu Baekhyun merasakan tubuhnya terangkat dari ranjang. Kepala dan kakinya ditopang oleh sebuah tangan yang hangat. Baekhyun melenguh sebentar dan ingin membuka matanya, namun pusing yang ia rasakan membuatnya tak mampu hanya untuk membuka mata.
Tubuhnya terasa ringan dalam gendongan itu. Dan akhirnya Baekhyun memilih untuk tidur kembali meredakan pusingnya.
.
.
"Uwaaa appa! Turunkan aku! Pusing appa!"
Baekhyun menatap interaksi antara seorang anak kecil dan suaminya. Mereka terlihat mirip dan akrab, namun Baekhyun tak pernah melihat anak itu sebelumnya.
"Eh itu eomma! Eomma! Selamatkan aku dari appa!"
"Dasar tukang pengadu! "
Baekhyun semakin tak mengerti saat anak itu memanggilnya eomma dan memanggil Chanyeol appa. Memangnya siapa anak itu? Baekhyun mulai mendekati Chanyeol yang sedang menggelitiki anak kecil itu.
"Hahaha! Stop it appa!"
"Siapa suruh mengadu pada eommamu? Hum? Jangan mengadu atau appa tidak akan membelikanmu mainan seperti punya temanmu?"
"Hahaha! Ne, aku janji!"
"Baek? Kenapa diam saja?"
"..."
"Baekhyun?"
"..."
"Sayang.."
"..."
"Bangun sayang, ayo kau harus makan dulu."
Dahinya mengernyit saat mendengar suara Chanyeol yang terdengar dekat di telinganya. Chanyeol mengusap peluh yang menetes dari dahi Baekhyun.
"Ayo makan."
"Yeol?"
"Iya? Ada apa? Apa kau merasa pusing?"
Baekhyun berusaha mendudukkan dirinya dan menatap Chanyeol. Matanya terasa berkunang-kunang. Nafasnya juga terasa panas.
"Aku bermimpi.."
"Mimpi apa?"
Baekhyun beranjak untuk memeluk suaminya erat. Mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh orang yang dicintainya.
"Mimpi aneh. Ada kau, aku dan seorang anak kecil. Umurnya sekitar tiga tahun."
Chanyeol masih setia untuk mengelus surai Baekhyun, "Lalu? Apanya yang aneh?"
"Dia maksudku anak kecil itu, memanggilku eomma dan memanggilmu appa. Aku heran, dia anak siapa?"
Chanyeol diam-diam tersenyum mendengar penuturan polos istrinya. Ternyata sang jabang bayi di dalam sana sudah memberi ibunya sebuah kode.
"Kau tau siapa namanya?"
Baekhyun nampak mengingat-ingat apa saja yang Chanyeol dan anak itu ucapkan di dalam mimpinya.
"Ehm, aku juga tidak yakin."
"Ahh ternyata uri aegi sudah bisa membuat kode ya?" Celetuk Chanyeol. Baekhyun semakin tak mengerti dengan ucapan Chanyeol.
"Uri, aegi?" Tanyanya.
"Ne, dia pintar juga. Seperti appanya yang tampan ini."
Baekhyun semakin tak mengerti dengan ucapan Chanyeol.
"Apa sih maksudnya? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu Yeol."
Chanyeol menghela nafas dan mencium dahi Baekhyun. Matanya terpejam dan bibirnya tersenyum. Baekhyun mendongak menatap wajah Chanyeol. Menunggu penjelasan suaminya.
"Kita akan punya anak sayang."
"Anak? Dari siapa? Maksudmu?"
"Dari kita dong, masa dari tetangga kan tidak lucu Baek!"
"Kau mau mengadopsi anak? Begitu?"
Chanyeol dibuat lelah juga untuk menjelaskannya pada Baekhyun. Dan akhirnya Chanyeol memilih untuk mengelus perut Baekhyun yang masih datar sambil bergumam, "Kau kan sedang mengandung anak kita. Untuk apa mengadopsi anak lagi?"
"APA?!"
Baekhyun berteriak kencang sekali dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah terbaring di ranjang karena pingsan.
.
.
Baekhyun dibuat syok berat karena perkataan Chanyeol. Sang suami sampai harus turun tangan langsung menjadi pembantu dadakan Baekhyun. Di dalam kamar, Baekhyun tak henti-hentinya menatap perutnya yang masih datar. Mengelusnya seakan ia sedang mengelus surai seseorang. Kadang tersenyum mengingat ia bisa memberi Chanyeol seorang anak, kadang juga sedih karena takut akan kesakitan saat mengandung.
"Apa benar kau ada di sana? Kenapa aku tidak merasakan apa-apa?"
"Itu karena dia masih kecil sayangku. Kalau sudah lebih dari lima bulan baru dia bisa mulai menendang." Chanyeol datang menginterupsi monolog Baekhyun. Di tangannya terdapat segelas susu dan obat.
"Apa nanti akan sakit? Kata eomma, saat bayi di dalam perut menendang, itu akan terasa sakit, tapi menyenangkan."
Chanyeol meletakkan susu dan obat di meja nakas lalu menghampiri Baekhyun. Tangan besarnya ikut-ikutan mengelus perut datar Baekhyun.
"Memang sakit, tapi tidak sebanding dengan kebahagiaan seorang ibu saat merasakan pergerakan anaknya pertama kali di dalam sini." Chanyeol tersenyum memandang wajah istrinya, "Kau menyayanginya kan?"
"Tentu saja sayang. Sayang sekali.."
"Jadi kau akan menjaganya untukku?"
Baekhyun menatap mata Chanyeol dalam. Di sana terdapat luapan cinta yang sangat jelas ditunjukkan untuknya. Baekhyun tau Chanyeolnya mencintainya dan pasti mencintai anak mereka juga.
Baekhyun tersenyum dan mengangguk lucu. Menjaga anak mereka? Anaknya dan Chanyeol? Tentu saja Baekhyun ingin.
"Tapi nanti Chanyeol harus menjagaku juga. Mau menuruti apapun yang kumau, bagaimana?"
Chanyeol nampak berpikir kemudian mengangguk, "Setuju! Apapun untuk malaikat yang sedang menjaga malaikatku yang lain."
"Ish! Dasar perayu!"
.
.
Tiga bulan kehamilan
Hampir setiap pagi Baekhyun selalu mengalami morning sickness. Dan itu sudah seperti alarm untuk Chanyeol dalam bangun pagi. Terkadang Chanyeol merasa kasian saat sudah melihat wajah Baekhyun yang memerah karena kebanyakan mual. Lalu laki-laki itu akan merengek dengan mata berkaca-kaca dan berakhir Chanyeol membujuk sang jabang bayi untuk tidak ikutan rewel dan merepotkan ibunya.
Untung saja Baekhyun tidak ngidam yang aneh-aneh. Pernah suatu ketika Chanyeol pulang kerja, Baekhyun menantinya dengan duduk di teras dan memasang wajah memelas. Chanyeol langsung bertanya apa yang terjadi dan Baekhyun bilang ingin jus leci dengan susu coklat –Baekhyun jadi alergi stroberi sejak hamil.
Chanyeol langsung pergi lagi untuk mencari buah leci di supermarket dan susu coklat. Sesampainya di rumah Baekhyun merengek pada Chanyeol saat lelaki itu akan membuatkan jusnya, berkata bahwa dia ingin Paman Kim si penjaga rumah Chanyeol yang membuatnya. Alhasil Chanyeol berlari ke rumahnya untuk memanggil paman Kim dan memintanya membuat jus leci dengan coklat untuk Baekhyun.
Paman Kim hanya menurut karena maklum dengan kondisi Baekhyun yang tengah hamil muda. Baekhyun berseri-seri dan memeluk manja paman Kim saat lidahnya berhasil mencicipi minuman aneh itu.
Dan menurut Chanyeol, itu adalah ngidam Baekhyun yang paling aneh dan merepotkan.
Lalu hari ini, Baekhyun meminta untuk pergi berkuliah lagi setelah hampir dua bulan mendekam di rumah. Ia khawatir tidak bisa lulus tahun ini jika keseringan mengambil cuti kuliah. Chanyeol hanya bisa menuruti dengan syarat pulang pergi harus diantar oleh Chanyeol.
Di perjalanan, Baekhyun seperti merasa déjà vu. Chanyeol memberi banyak wejangan tentang ini dan itu. Chanyeol melarangnya membeli makanan atau minuman di kantin. Chanyeol juga melarangnya untuk berlarian. Chanyeol menyuruhnya duduk diam di dalam kelas menunggu dosen yang akan mengajar.
Baekhyun tak henti-hentinya mengelus perutnya dan berbicara pada sang jabang bayi seperti ; "Lihat uri appa ini aegi-ya, sangat perhatian kepada kita."
"Aku sangat khawatir padamu dan anak kita, Baekkie. Jadi turuti perkataanku saja ya?"
Baekhyun mengangguk, menjawab dengan suara seperti anak kecil, "Ne appa, aku dan eomma akan baik-baik saja. Aku akan menjaga eommaku."
"Anak pintar." Chanyeol menepuk kepala Baekhyun dua kali, "Sudah sampai, ingat kata-kataku ya?"
"Siap kapten!" Baekhyun menyempatkan untuk mencium pipi kanan Chanyeol sebelum turun dari mobil. Dengan langkah kecil-kecil, Baekhyun memasuki kampus. Menyapa semua orang yang dikenalnya tanpa mengurangi senyum di wajahnya yang manis.
"Byun Baekhyun!"
Baekhyun menghentikan langkahnya dan berbalik."Minseok-ah !" Pekiknya.
Seorang laki-laki mungil lainnya berlari menghampiri Baekhyun dan memeluknya erat.
"Ku pikir kau mengeluarkan diri dari kuliah. Kemana saja kau?"
Baekhyun memang tidak mengatakan kepada teman-teman kampusnya jika dia sudah menikah, terlebih sekarang dia sedang berbadan dua.
"Hehehe, sini aku beritau sesuatu." Baekhyun menarik tangan sahabatnya menuju kantin. Di sana masih tergolong sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang sarapan di kantin.
"Ada apa sih?" Tanya Minseok tak sabar.
Baekhyun dan Minseok duduk di meja kantin paling pojok, untuk melancarkan aksi Baekhyun. Baekhyun mendekati telinga Minseok dan mulai berbisik, "Aku hamil!" Pekiknya kecil. Dengan mata melotot Minseok memandang Baekhyun horror.
"APA MAKSUDMU?!"
"SStt!" Baekhyun menutup mulut sahabatnya, "Tenang saja, aku sudah menikah kok."
Minseok melepaskan tangan Baekhyun dengan paksa, "Dengan siapa? Kapan? Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa padaku? Kenapa kau tak mengundangku, Baek?" Minseok dengan wajah memelas mengguncang-guncang tubuh Baekhyun, tapi kemudian tangannya terhenti saat mengingat bahwa Baekhyun sedang hamil.
"Maaf, aku memang merahasiakan pernikahan ini. Dan soal dengan siapa ehmm.." Baekhyun tiba-tiba merona sendiri saat mengingat wajah Chanyeol, "Dengan Chanyeol." Cicitnya.
Minseok kembali melotot, "Sahabatmu?! Si Chanyeol?! Astaga! Sudah kuduga kalian itu ada sesuatunya! Ckckck.."
"Hehehe.." Baekhyun dengan cengirannya memeluk lengan kiri Minseok.
"Tapi Baek, kenapa sampai kau bisa hamil ya? Ini ajaib! Kau istimewa!"
"Ya tentu saja aku istimewa. Kau tau? Saat aku mendengar bahwa aku hamil, awalnya aku tidak percaya tapi setelah Chanyeol meyakinkan aku, aku baru percaya." Ucapnya sambil mengelus perutnya yang sedikit menggembung.
"Aigoo.. Sebentar lagi aku akan punya keponakan." Ucap Minseok berseri-seri.
"Ya, hei junior, ucapkan salam pada Minseok samchon.."
Kedua lelaki imut itu tertawa-tawa tidak jelas sambil mengelus perut buncit Baekhyun.
"Jangan katakan pada siapapun oke? Tentang pernikahan dan kehamilanku."
"Baiklah. Sudah berapa bulan, si Park junior ini?"
"Tiga bulan, menjelang empat. Kata Chanyeol, saat sudah enam bulan, aku harus mengambil cuti kuliah lagi." Ucapnya sedih.
"Yah Baek, kita tidak akan lulus bersama-sama."
"Kau benar, tapi demi junior aku rela deh."
"Aigoo, dimana sisi kekanakanmu? Mentang-mentang sedang hamil dan mau jadi ibu, kau jadi mendadak dewasa." Minseok menoel dagu Baekhyun main-main.
"Yak! Aku ini memang sudah dewasa tau! Cepat punya pacar sana! Biar kau tau rasanya punya anak! Hahaha.."
"Dasar kau ya!"
.
.
Enam bulan kehamilan.
Pagi hari di hari Kamis, Baekhyun bangun dengan badan yang hangat. Wajahnya merah karena demam. Semalam Chanyeol pulang pukul sebelas malam dan saat tidur, Chanyeol lupa mengatur suhu ruangan mereka agar di atas dua puluh derajat. Alhasil, Baekhyun terbangun dengan keadaan menggigil dan badan yang hangat.
Chanyeol menelfon ke perusahaan tempatnya bekerja untuk mengambil cuti dan merawat Baekhyun. Kedua orang tua Baekhyun sedang ke Jepang dan orang tuanya sedang mengunjungi Yoora noona di luar kota.
Chanyeol berkali-kali memukul kepalanya karena lalai untuk menjaga Baekhyun. Karenanya, Baekhyun yang sedang mengandung harus sakit seperti ini. Masalahnya, Baekhyun dalam mode sehat saja susah diatur apalagi dalam mode sakit, susahnya minta dicium.
"Chanyeol, aku mau minum susu." Ucap Baekhyun di ujung panggilan.
"Iya sayang. Aku akan segera kesana." Di dapur, Chanyeol berbicara dengan Baekhyun lewat ponsel. Chanyeol yang mengusulkan itu, karena sangat tidak mungkin saat dirinya memasak di dapur Baekhyun akan berteriak untuk meminta sesuatu. Jadi Chanyeol mengusulkan panggilan jarak dekat lewat ponsel apabila Baekhyun ingin sesuatu.
Chanyeol membuat segelas susu vanilla untuk Baekhyun. Susu biasa, bukan untuk ibu hamil karena Baekhyun pernah mual saat minum susu untuk ibu hamil.
"Chanyeol, setelah ini tolong pijat punggungku ya? Rasanya pegal sekali."
Ponsel yang terapit antara bahu dan telinganya kembali mengeluarkan suara Baekhyun.
"Ya sayang, aku akan datang sebentar lagi." Chanyeol melepaskan celemeknya dan menata semangkuk soup dan segelas susu di atas nampan lalu membawanya ke kamar. Baekhyun terbaring dengan dua bantal yang menyangga punggungnya. Di masing-maisng telinganya terdapat headset yang memutar kumpulan music klasik yang baru di download oleh Chanyeol lusa lalu.
"Sarapan datang~ Ayo makan." Baekhyun melirik nampan yang diletakkan di sampingnya lalu melirik Chanyeol yang juga menatapnya.
"Ada apa?"
"Baunya.."
"Bau apa?"
"Bau soupnya agak aneh."
"Masa?" Chanyeol meraih mangkuk soup itu dan menciumnya. Alisnya menyatu saat tak menemukan bau aneh di sana, "Tidak ada tuh. Baunya enak."
Baekhyun cemberut saat pendapatnya diragukan seperti itu. Chanyeol yang mengerti tabiat istrinya sedang merajuk akhirnya menyerahkan segelas susu kepada makhluk imut itu.
"Minum dulu susunya. Aku akan mendinginkan soupnya."
Baekhyun meraih gelas susunya. Tiga kali tegukan lalu Baekhyun berhenti dan menatap suaminya, "Chanyeol, aku mau ke dokter saja."
"Eh? Tumben mau ke dokter?" Tanya Chanyeol terkejut. Tentu saja, Baekhyun itu termasuk anti ke dokter saat sedang sakit. Nah sekarang justru dia sendiri yang minta ke dokter.
"Aku mau lihat junior. Sudah satu bulan aku tidak melihatnya, ya?" Dengan jurus puppy eyes andalannya Baekhyun memohon. Chanyeol mengerti sekarang jika yang dimaksud dokter di sini adalah dokter kandungan, bukan dokter umum yang menangani sakit demam.
"Araseo, kita akan melihatnya nanti. Sekarang makan soupnya dulu ya?" Bujuk Chanyeol.
Baekhyun dengan cepat menggeleng. "Tidak mau! Baunya aneh Yeol."
"Eih! Tidak kasian sama junior? Dia kelaparan lho."
Baekhyun membuat mimik wajah menyedihkan mengingat junior yang mungkin akan kelaparan jika dia tidak makan.
"Jadi Baek eomma membiarkan aku kelaparan?" Ucap Chanyeol dengan suara layaknya anak kecil yang justru sangat aneh.
"Tidak, aku tidak mau junior kelaparan." Lirih Baekhyun.
"Jadi?"
"Jadi.." Baekhyun menatap soupnya dengan enggan lalu kemudian mengangguk ragu-ragu. "Mau deh."
Chanyeol yang gemas langsung mengacak rambut Baekhyun yang mulai memanjang menutupi dahinya, "Gitu dong. Jangan cemberut, nanti kau semakin jelek. Sudah jelek semakin jelek." Canda Chanyeol.
"Yak! Kau pikir kau tidak jelek juga?! Kau adalah suami terjelek sepanjang masa! Cepat pijat punggungku!"
.
.
"Janinnya baik-baik saja. Dia termasuk janin yang sangat aktif mendengar keluhan Baekhyun kalau dia sering menendang di saat usianya baru enam bulan." Penjelasan Dokter Hwang membuat Chanyeol tersenyum.
"Wah dia sepertiku." Gumamnya bangga.
"Bolehkan aku meminta fotonya Dokter? Aku ingin memiliki fotonya untuk kenang-kenangan." Ucap Baekhyun.
"Tentu saja, aku akan mencetaknya untukmu."
"Terima kasih, ngomong-ngomong bagaimana dengan berat janinku?"
"Dia masih tergolong kecil dan mungil, tapi aktif. Kau harus lebih sering makan makanan bergizi untuknya."
"Dengarkan itu Baek." Sindir Chanyeol sambil terbatuk yang dibuat-buat. Baekhyun yang mendengar itu hanya melengos tidak memperdulikan ucapan suaminya.
"Wah dia sepertiku, kecil tapi aktif." Gumamnya.
"Kecilnya sepertimu, aktifnya sepertiku." Seakan tak puas Chanyeol kembali mengompori Baekhyun dengan kata-katanya.
"Ish! Diam!"
Dokter Hwang yang mendengar pertengkaran sia-sia pasangan itu hanya menggelengkan kepalanya maklum. Selalu seperti itu jika mereka mengunjunginya.
"Sudahlah kalian. Toh memang dia anak kalian kan?" Lerainya. "Kecuali jika dia menjadi pendiam, itu baru patut dicurigai." Semburnya lagi.
Setelah selesai mencetak hasil dari USG Baekhyun, wanita itu menyerahkannya kepada Baekhyun.
"Huwaa, lucunya. Meskipun belum jelas tapi dia sudah terlihat lucu."
Chanyeol tersenyum dan ikut mendekat melihat foto calon anaknya yang masih tampak buram. Tangannya mengelus surai Baekhyun sayang, "Aku jadi tak sabar dengan kelahirannya."
"Aku juga."
.
.
Chanyeol berjalan memasuki gedung SM Entertaiment. Hari ini dia ada meeting untuk membicarakan konsep lagu Boyband terbaru mereka, NCT U. Beberapa hari ini Chanyeol harus dibuat begadang untuk memikirkan bagaimana konsep lagu yang mungkin akan digemari oleh fans dalam sekali dengar.
"Chanyeol-ssi, bagaimana kabar Baekhyun-ssi? Bukankah sekarang sudah memasuki Sembilan bulan?"
"Benar noona, Baekhyun sudah memasuki Sembilan bulan satu minggu lalu. Kabarnya baik-baik saja." Chanyeol membungkuk kepada penyanyi wanita dari SM Entertaiment itu, BoA Kwon.
"Ku pikir kau akan mengambil cuti."
Chanyeol mengedikkan bahunya dan menghela nafas, "Maunya seperti itu, tapi NCT sebentar lagi akan debut dan aku akan sibuk mengurus lagu mereka."
Wanita itu menepuk bahu Chanyeol dengan pandangan prihatin, "Sayang sekali. Habis lagu yang kau ciptakan selalu menghasilkan banyak pemasukan, maka dari itu Sajangnim memintamu untuk mengurus lagu kami."
Chanyeol tertawa setelahnya, "Noona bisa saja. Itu juga tergantung kalian yang menyanyikan lagunya."
Tiba-tiba saja dering ponsel dari saku Chanyeol menghentikan langkah mereka berdua. Chanyeol segera mengangkat panggilan yang ternyata dari Baekhyun itu.
"Yeob –"
"CHANYEOL! Akuhh ugh! Sakitthh.." Rintihan Baekhyun di seberang panggilan membuat Chanyeol mendadak panic bukan main. BoA yang disampingnya pun ikut diserang panic melihat ekspresi Chanyeol yang nampak pucat.
"Ada apa Baek? Katakan yang jelas."
"Akuhh sakit! Chanyeol! Aku.. akan melahirkan ughh! Eomma!"
"APA?!" Chanyeol membulatkan matanya terkejut. BoA di sampingnya ikut terlonjak karena teriakan Chanyeol. Untung saja lorong masih sepi.
"A-aku akan segera kesana sayang, tahan dulu oke? Tarik nafas perlahan.."
"Huuu Haaa huu haaa.." Terdengar Baekhyun yang berusaha mengatur nafasnya yang sudah mulai berat.
"Noona, aku harus pulang dulu. Baekhyun akan melahirkan. Jika noona bertemu dengan sajangnim atau manajer tolong bilang aku mengambil cuti hari ini dan besok." Setelah mengatakan itu Chanyeol berlari keluar gedung tanpa mendengar jawaban dari sang penyanyi terkenal.
Chanyeol menuju mobilnya dengan ponsel yang masih terhubung dengan panggilan Baekhyun.
"Terus seperti itu sayang, jangan panik." Chanyeol meloudspeaker panggilan Baekhyun dan meletakkan ponselnya di dashboard mobil.
"Huu haaa huuu haa Chanyeolhh, cepathh huu.."
"Iya sayang, aku akan segera sampai dalam lima menit. Tahan ya?" Keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya. Dengan tergesa Chanyeol mulai mengendarai mobilnya. Dia berharap saja tidak akan mengalami kecelakaan di perjalanan.
"Chanyeol... Huuu Haaa kapan ugh! Sampaihh? Huhuhu.."
"Seb-sebentar lagi." Saat lampu hijau berganti menjadi lampu merah, Chanyeol dengan segala kenekatannya memilih menerobos lampu merah itu. Matanya sesekali melirik ke spion atas berjaga-jaga barangkali ada mobil polisi yang mengejarnya.
"C-chanyeolhh.. aku mau eomma.."
"I-iya! Aku akan menghubungi eommanim nanti."
"hiiks hiks.."
Dengan semua kecepatannya, Chanyeol telah sampai di kompleks perumahan mereka. Jantungnya berdetak tak karuan menyadari sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Bayangkan, seorang ayah!
"Aku sampai sayang, jangan menangis."
"Huhuhu.."
Sesampainya di depan rumah, Chanyeol langsung memasuki rumahnya dengan berlari. Di sana, di sofa ruang keluarga, Baekhyun bersandar dengan bersimbah keringat di tubuhnya. Wajahnya meringis menahan sakit di perutnya. Terasa seperti dililit paksa.
"Sayang?" Chanyeol menghampiri Baekhyun dan mengusap dahinya yang penuh peluh.
"C-Chan.. hikss.. sakithh, junior nakal bikin eommanya sakit huhuhu.." Baekhyun meremas ponsel di tangannya yang masih terhubung dengan ponsel Chanyeol di mobil.
"Sshh, junior tidak nakal sayang, dia hanya ingin keluar bertemu dengan kita. Kau tidak mau bertemu dengan junior?" Bujuk Chanyeol.
"M-mau.."
"Ayo ke rumah sakit hm? Kau bisa berdiri kan?" Chanyeol berusaha untuk memapah Baekhyun, namun anak itu justru menggeleng dengan wajah menyedihkan.
"Gendong~"
"Baiklah ayo!" Chanyeol mulai menggendong Baekhyun dengan bridal style. Tak dipungkiri tangannya terasa kelu karena berat badan Baekhyun yang bertambah beberapa kilo karena junior. Baekhyun menyembunyikan wajahnya di leher Chanyeol dengan sesekali meringis saat kontraksi itu datang lagi.
"Sabar sayang, kau harus tahan ya?" Saat sampai di depan mobil, Chanyeol bingung bagaimana harus mengendarai mobil sedangkan Baekhyun tidak mau turun dari gendongan Chanyeol. Akhirnya ia melihat ada Paman Kim yang sedang berjaga di rumahnya.
"Paman Kim!" Panggilnya. Pria paruh baya itu menoleh dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia lantas berlari mendekati Chanyeol dan Baekhyun.
"Ada apa ini Chanyeol?"
"P-paman aku butuh batuanmu. T-tolong kendarai mobilku ke rumah sakit Paman, tolong ya?"
"B-baiklah cepat masuk." Chanyeol menyerahkan kunci mobilnya pada Paman Kim dan segera memasuki mobil dengan Baekhyun yang masih di gendongannya.
"Agak cepat ya Paman, Baekhyun sudah mau melahirkan."
"I-iya." Paman Kim dibuat panik karena Chanyeol. Sebisa mungkin ia fokus ke jalanan agar tidak menabrak, tapi itu sangat sulit karena rintihan Baekhyun yang terdengar keras.
Lima menit kemudian dengan dipenuhi rintihan Baekhyun akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Baekhyun biasa cek kehamilan. Di perjalanan tadi, Chanyeol telah menghubungi orang tuanya dan mertuanya tentang Baekhyun yang akan melahirkan. Dia juga menghubungi Dokter Hwang agar wanita itu mempersiapkan proses operasi Baekhyun.
"Suster cepat! Cepat bawa ke Dokter Hwang! Dia akan melahirkan!" Baekhyun meremas tangannya saat di dorong memasuki rumah sakit oleh para suster.
"C-chan! Sakithh!" Air mata Baekhyun kembali keluar merasakan betapa sakit perutnya karena junior yang mendesak ingin keluar. Melihat Baekhyun yang menangis membuat Chanyeol ikut-ikutan menangis. Sayang sekali dia tak bisa menggantikan rasa sakit Baekhyun.
"Aku di sini sayang.. Aku di sini, jangan khawatir."
Di depan ruang operasi telah berdiri Dokter Hwang dengan pakaian biasa. Karena sebenarnya hari ini dia tidak ada jadwal apapun di rumah sakit, tapi karena mendapat panggilan Chanyeol, wanita itu harus terburu-buru ke rumah sakit.
"Tolong Baekhyun, Dokter Hwang. Dia kesakitan."
"Tenang Chanyeol, aku akan mengoperasi Baekhyun, kau tunggu di luar saja." Lalu wanita itu memasuki ruang operasi dengan beberapa suster yang akan membantu. Chanyeol duduk di kursi yang disediakan di sana sambil menunggu orang tua mereka.
"Ku mohon bertahan untuk anak kita Baek."
.
.
Sudah dua puluh menit operasi berlangsung, dan orang tua mereka telah datang sejak lima menit yang lalu. Ny. Byun yang paling cemas karena persalinan anaknya.
"Tenanglah yeobo, Baekhyunie akan baik-baik saja." Ucap Tn. Byun menenangkan istrinya.
"Oeekk! Ooeekk!"
Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi yang sangat nyaring hingga terdengar di lorong ruang operasi. Chanyeol yang awalnya duduk dengan menopang kepalanya langsung terlonjak mendengar suara tangis bayi itu.
"Junior? Anakku?" Lirihnya.
Para ayah seketika menghela nafas lega karena persalinan anak mereka berjalan dengan lancar. Tn. Park menepuk bahu anaknya dan tersenyum bangga.
"Kau jadi seperti appa sekarang, nak."
Chanyeol tak mampu menahan air matanya dan langsung memeluk ayahnya dengan erat. Tak ada yang lebih bahagia di dunia selain kelahiran sang anak.
"Aku jadi appa."
Tn. Park menepuk punggung anaknya berkali-kali, "Jadilah appa yang baik untuk cucuku. Mengerti?" Chanyeol mengangguk dan melepaskan pelukannya lalu beralih ke sang ibu. Wanita itu tersenyum hangat dan memeluknya.
"Uri Chanyeol sekarang sudah jadi orang tua." Chanyeol tertawa kecil.
"Terima kasih karena selama ini eomma ikut menjaga Baekhyun dan junior saat aku bekerja."
"Ucapkan terima kasih juga pada ibu mertua, sayang."
Chanyeol melepas pelukan ibunya dan beralih ke mertuanya. Tn. Byun menepuk pundaknya dan tersenyum teduh, pria itu masih mengenakan seragam kebanggaannya saat kemari.
"Jaga anak dan cucuku huh. Seorang komandan yang memerintahkan dirimu." Candanya.
"Siap laksanakan, Komandan!"
"Chanyeolie.." Panggil Ny. Byun. Chanyeol menoleh dan memeluk ibu dari istrinya itu.
"Terima kasih eommanim menjaga Baekhyun dan junior selama ini. Terima kasih, dan aku janji akan menjadi ayah yang baik bagi junior."
Ny. Byun menyeka air matanya yang mengalir dan tersenyum, "Sama-sama nak."
Dokter Hwang keluar dari ruang operasi lengkap dengan pakaian operasi yang terdapat banyak darah. Chanyeol yang melihat itu sedikit ngilu mengingat itu adalah darah Baekhyun. Wanita itu membuka maskernya dan memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan keringat, namun senyum di wajahnya membuatnya nampak cantik.
"Bagaimana operasinya, Dokter?" Tanya Chanyeol tak sabar.
"Semuanya berjalan dengan lancar. Bayinya adalah laki-laki, beratnya 3,3 kilogram dan panjang 40 centimeter, dia mungil sekali. Dan sangat menggemaskan." Jelas Dokter Hwang.
"Lalu Baekhyun?"
"Baekhyun baik-baik saja. Dia masih tertidur karena obat bius, mungkin akan siuman satu jam lagi. Kami akan memindahkan Baekhyun dan bayinya segera."
"Pindahkan mereka ke ruang VVIP, Dokter. Aku ingin perawatan intens untuk istri dan anakku." Ucap Chanyeol. Dokter Hwang tersenyum menanggapi Chanyeol yang sangat overprotektif.
"Wah, jadi Chanyeol sekarang telah berubah menjadi sangat overprotektif setelah menjadi ayah?" Godanya membuat Chanyeol salah tingkah. "Baiklah jika itu maumu Chanyeol, kami akan pindahkan segera."
"Terima kasih Dokter Hwang, kau menyelamatkan dua orang yang kucintai." Ucap Chanyeol tulus.
"Sama-sama, sudah tugasku menyelamatkan seseorang."
.
.
Chanyeol tak henti-hentinya tersenyum memandangi bayi mungilnya. Setelah masa sulit dimana ia berusaha menggendong anaknya dibantu oleh seorang suster yang seringkali mengingatkannya, akhirnya Chanyeol telah terbiasa menggendong anaknya yang manis. Chanyeol membenarkan perkataan Dokter Hwang yang mengatakan anaknya sangat menggemaskan. Baginya anaknya seribu kali sangat menggemaskan, sangat mungil dan imut, seperti Baekhyun.
Tiba-tiba saja ia teringat masa kecilnya dengan Baekhyun dulu. Sekarang ia tau benar jika alasannya kerap kali mencakar wajah Baekhyun dulu adalah karena Baekhyun kecil sangat menggemaskan. Sampai-sampai Baekhyun takut untuk bermain bersamanya.
"Hei, Little Boy. Ini appa.." Ucapnya kepada sang anak. Chanyeol menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil menepuk-nepuk pelan pantat bayinya. Chanyeol yang tak tahan akhirnya merunduk untuk mencium dahi anaknya lalu menggesekkan hidungnya ke hidung mungil itu. Anaknya nampak terganggu dengan wajah yang merengut lucu, mengingatkannya pada Baekhyun.
"Aigoo, lihatlah dirimu mirip sekali dengan eomma, hm?" Chanyeol melonggarkan kain yang melilit tubuh anaknya agar pergerakkan aktif bayi itu lebih leluasa. Semua yang ada pada anak itu mirip dengan Baekhyun, kecuali matanya yang sedikit lebar sepertinya. Rambutnya pun telah lebat untuk ukuran bayi baru lahir. Chanyeol benar-benar merasa seperti menggendong Baekhyun versi bayi.
"Nghh.."
Suara erangan menyadarkan Chanyeol dari dunianya. Ia mengalihkan perhatian pada Baekhyun di ranjangnya. Mata sipit itu mengerjab kemudian membuka perlahan.
"Oeekk! Ooekk! Ooeekk!" Seakan punya ikatan batin, tangis bayinya pecah begitu saja saat Baekhyun mulai sadar.
"Sst sst sst! Saat eommamu bangun, kau jadi menangis. Ckck, ayo kita temui eomma."
Baekhyun segera mengumpulkan kesadarannya saat mendengar sebuah suara tangis bayi. Matanya mengedar ke penjuru ruangan dan menemukan Chanyeol dengan bayi mungil di tangannya. Chanyeol tersenyum dan duduk di sebuah kursi di sebelah ranjang Baekhyun.
"Chanyeol? Junior?" Tanyanya.
"Ya, sayang. Ini junior, anak kita." Chanyeol perlahan meletakkan anaknya yang sudah tidak menangis ke sebelah tubuh Baekhyun. Namun bukannya memeluk sang bayi, Baekhyun justru terdiam menatap bayi mungil itu. Baekhyun masih tidak percaya jika anak yang ada di sampingnya adalah anak yang selama ini berdiam di dalam perutnya. Tiba-tiba saja air matanya tumpah dan ia menangis layaknya bayi, disusul oleh suara tangis lainnya yang berasal dari bayi mungilnya.
Chanyeol dibuat bingung dengan dua tangis dari dua orang yang mirip di hadapannya.
"Hei hei! Baek, jangan menangis. Junior jadi ikutan nangis."
"Ooeekk! Ooekk!"
"Hiks hiks.."
Chanyeol menggaruk tengkuknya kebingungan. Bagaimana jadi seorang ibu jika Baekhyun saja cengeng seperti bayi.
"Hei, Baek.." Chanyeol menahan kepala Baekhyun agar menatapnya. "Jangan menangis, nanti junior ikut menangis, sayang." Baekhyun yang masih sesenggukan melirik anaknya yang menggeliat tak nyaman dengan tangisan yang keras. Baekhyun perlahan-lahan meredakan tangisnya diikuti oleh anaknya. Bibir mungil itu menguap lalu mengecap. Chanyeol yang melihat anaknya seperti itu hanya menahan geraman karena gemas.
Baekhyun dengan gerakan kaku mulai menggendong anaknya. Chanyeol membantunya menyatukan tangan dengan benar lalu melonggarkan selimut anaknya.
"Dia imut ya?" Ucap Chanyeol.
Baekhyun hanya mengangguk kaku. Matanya tetap melekat pada ekspresi yang ditunjukkan oleh anaknya. Tangannya terangkat untuk menyisir helaian surai anaknya yang hitam. Bibirnya tanpa sadar tersenyum. Membuat Chanyeol ikut tersenyum dan membersihkan sisa air mata di pipi Baekhyun.
"Dia sangat mirip denganmu. Tapi matanya mirip denganku."
"Telinganya juga," Baekhyun membebaskan tangan-tangan mungil anaknya dan menciuminya dengan perasaan gemas. Chanyeol menaruh telunjuknya ke tangan kanan anaknya yang langsung digenggam erat oleh kelima jari mungil itu. Erat sekali sampai Chanyeol tidak percaya dengan kekuatan anaknya yang baru lahir.
Jari-jari Baekhyun mulai menelusuri pipi kemerahan bayi itu. Terasa sangat lembut dan tipis.
"Kau beri nama siapa, Baek?" Tanya Chanyeol. Ia menggerakkan telunjuknya yang sedang digenggam erat oleh anaknya.
"Kau belum memberinya nama?" Tanya balik Baekhyun, Chanyeol menggeleng, "Aku ingin kita berdua yang menamainya, bukan hanya aku."
Baekhyun mulai berpikir nama anaknya. Mengingat nama-nama yang telah direncanakan oleh mereka berdua jauh-jauh hari. Kemudian ingatannya langsung tertuju pada satu nama yang menjadi favoritnya sejak kemarin.
"Bagaimana dengan.. Jiwon?" Tanyanya. "Park Jiwon."
Chanyeol tersenyum menanggapi, "Itu bagus. Nama yang imut seperti orangnya," Baekhyun lantas tersenyum dan mengecup pipi bayinya yang tengah tertidur.
"Jadi, selamat datang di keluarga kami, uri Jiwonie.."
.
.
Sudah satu minggu sejak kelahiran Jiwon dan Baekhyun telah diperbolehkan pulang oleh Dokter Hwang. Dan hari ini, di rumah mereka berdua akan kedatangan banyak tamu dari saudara jauh maupun teman-teman mereka. Chanyeol memang melarang mereka untuk menjenguk Jiwon saat masih di rumah sakit, katanya sih karena Baekhyun masih belum pulih sepenuhnya jadi tidak bisa diganggu.
Kedua ibu mereka yang paling berjasa merawat Jiwon saat Baekhyun masih kesakitan akibat bekas luka operasinya. Lalu Yoora sudah membelikan lima pack besar popok dengan ukuran paling kecil, mengingat keponakannya itu sangat mungil. Baekhyun berulang kali mengucapkan terima kasih pada Yoora.
Siang hari di rumah mereka telah banyak tamu dari kalangan saudara. Mereka benar-benar menganggap Jiwon sebagai anak emas dikarenakan dia lahir langsung dari rahim Baekhyun. Chanyeol sampai harus turun tangan menerima berbagai macam hadiah dari saudaranya, mulai dari pakaian, peralatan bayi, kereta dorong, ranjang bayi, dan susu formula. Dokter Hwang memperbolehkan Jiwon untuk minum susu formula khusus untuk bayi baru lahir. Dan Baekhyun cukup bersyukur karena itu.
Saat sore hari, Sehun dan Jongin datang bersama pasangan mereka. Sehun dan Luhan membawakan mainan mobil-mobilan yang cukup besar untuk ditumpangi anak usia balita sedangkan Jongin dan Kyungsoo membawakan pakaian dan selimut bayi.
"Kau pikir anakku ini lahir langsung jadi balita?" Chanyeol mengomeli Sehun yang datang bersama mobil-mobilannya. Pria itu justru memandang Chanyeol dengan datar seolah tak bersalah, sedangkan Luhan hanya menunduk meminta maaf kepada Baekhyun atas sikap tunangannya yang memang memalukan.
"Aku ini berinvestasi kepada anakmu hyung." Ucapnya tanpa dosa.
"Investasi. Investasi apa? Setidaknya belikan anakku baju atau susu, kau ini benar-benar!"
"Aku yakin itu idemu Sehun -ah.." Tambah Jongin dengan mulut penuh kue. Kyungsoo langsung menyubit pinggangnya.
"Ya investasi. Nanti kalau dia tumbuh besar, kau bisa gunakan mainan itu untuknya sehingga kau tak perlu beli lagi yang seperti itu." Ucap Sehun lagi. Luhan di belakangnya hanya mampu menepuk dahinya atas sikap sang tunangan.
"Sudahlah Yeol, mainannya bagus juga kok. Nanti Jiwon kalau sudah bisa jalan akan aku ajak dia main ini," Baekhyun berusaha melerai pertengkaran kecil itu. Tangannya memaju mundurkan mobil-mobilan dari Sehun.
"Memang bagus, aku membelinya dengan uang tabungan selama satu bulan," Balas Sehun.
"Yak! Memberi ya memberi saja, jangan kau ungkit harganya! Dasar maknae tidak sopan!"
"Sudahlah Yeol," Baekhyun menepuk pundak Chanyeol yang sedang bersungut-sungut.
"Maaf ya, Baekhyun-ssi.." Ucap Luhan merasa tak enak. Baekhyun tersenyum, "Tidak apa-apa. Mereka memang sering membuat keributan, tapi nanti pasti mereka akur lagi. Mereka memang kekanakan."
Chanyeol melotot mendengar perkataan Baekhyun. Enak saja anak itu mengatainya kekanakan, memangnya dia tidak melihat cermin? Orang yang menangis saat melihat bayinya mengatainya kekanakan.
"Iya, kau benar Baekhyun-ssi," Sekarang giliran Sehun yang melotot mendengar ucapan Luhan. Sedangkan Chanyeol menertawakannya. Mereka berdua memang kekanakan.
"Eh ayo Luhan-ssi dan Kyungsoo-ssi, katanya mau lihat Jiwon." Baekhyun mengajak Luhan dan Kyungsoo untuk menemui putranya yang sedang tertidur di ranjang bayi. Selepas perginya para uke, ketiga seme itu mulai berbicara tentang masalah mereka.
"Hey Jongin, kapan kau akan menikahi Kyungsoo? Kau tidak lihat sedari tadi dia sangat iri melihat kedekatanku dengan Baekhyun?" Chanyeol memulai. Sehun mengangguk mengiyakan ucapan Chanyeol seakan mereka tak pernah bertengkar sebelumnya.
"Tenang kawan, aku akan menikahinya setelah orang tuanya pulang dari China. Aku mau melamarnya kemarin hari, tapi dia tak mau dengan alasan ingin aku melamarnya di depan orang tuanya," Jelas Jongin. Matanya menatap punggung Kyungsoo yang sedang menggendong Jiwon dengan senang.
"Lalu bagaimana denganmu huh?!" Tanya balik Jongin kepada Sehun. Yang ditanya hanya tersenyum tipis dan menjawab, "Beberapa bulan lagi aku akan menikah dengannya. orang tua kami sudah setuju. Jadi kalian tinggal terima undangan saja," Jawabnya enteng. Kemudian keduanya menoleh kepada Chanyeol secara bersamaan.
"Apa?" Tanya Chanyeol tak mengerti.
"Kapan kau akan memberi Jiwon adik?" Tanya Jongin enteng dengan seringaian di wajahnya. Sehun tersenyum menggoda lalu bersiul-siul.
"Aku ingin punya dua keponakan darimu, hyung."
"Y-yak! Kalian ini bicara apa?! Jiwon masih satu minggu dan kalian ingin menanyakan tentang adiknya? Luka operasi Baekhyun saja masih belum kering! Kalau kalian ingin, kalian saja yang membuatnya untuk Jiwon. Dia juga perlu sepupu dari samchon-samchon bodohnya," Chanyeol menyeringai.
"Hei siapa yang kau bilang bodoh?!" Teriak Jongin dengan keras.
"SSSTT!" Dan dibalas delikan tajam dari ketiga uke di sana.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul Sembilan malam dan rumahnya telah sepi karena kerabat mereka telah pulang sejak satu jam yang lalu. Chanyeol merebahkan badannya di sofa, menunggu Baekhyun dan ibunya yang sedang memandikan Jiwon dengan air hangat. Chanyeol bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar yang telah didesain seperti kamar bayi. Di sana ada banyak barang-barang hadiah dari tamu-tamu yang datang. Bahkan ada tiga ranjang bayi di sana, satu dari yang dibelinya beberapa bulan yang lalu, satu dari pamannya di Busan, dan satu dari paman Baekhyun di Bucheon.
Ia tersenyum memandang hadiah-hadiah itu. Dia senang karena Jiwon disayangi oleh banyak orang. Dia senang karena Jiwon diperhatikan oleh saudara dan teman-temannya.
Puk!
Chanyeol menoleh saat seseorang menepuk bahunya.
"Eomma, sudah selesai memandikan Jiwon?"
"Sudah." Wanita itu menengok ke balik punggung Chanyeol, "Besok barang-barang itu ditata dengan rapi ya? Eomma tak mau ada ruangan yang berantakan."
Chanyeol mengangguk, "Apa Baekhyun bisa memandikan Jiwon?"
Ny. Park tersenyum, "Untuk pemula, dia termasuk cepat mengerti. Dia terlihat sangat hati-hati dan lembut. Beruntungnya anakmu mempunyai ibu sepertinya."
"Seperti aku yang beruntung punya ibu seperti eommaku ini." Chanyeol memainkan alisnya dengan jenaka. Ny. Park tertawa dan menyubit pelan lengan anaknya.
"Sudah ya, eomma pulang dulu. Eomma sudah mengantuk."
"Baiklah eomma, hati-hati dan selamat tidur eommaku sayang." Chanyeol melayangkan ciuman jauh untuk ibunya yang telah berjalan meninggalkannya. Wanita itu tertawa dengan sikap anaknya yang kekanakan.
Setelah punggung sang ibu menghilang dari pandangannya, Chanyeol segera menuju kamarnya dan Baekhyun. Di sana, Baekhyun sedang memunggunginya dengan Jiwon yang berada di pundak kirinya. Sedang terkantuk-kantuk dengan kepala menyandar ke bahu Baekhyun. Chanyeol mendekati keduanya dengan tersenyum melihat pemandangan indah itu.
"Hei.."
Baekhyun menoleh, "Oh hei.. eommanim sudah pulang?"
"Yeah, kenapa Jiwon belum pakai baju?" ucap Chanyeol saat melihat punggung Jiwon yang masih terbuka. Tangan kanan Baekhyun setia menepuk-nepuk pelan punggung mungil itu agar sang anak tertidur.
"Dia rewel saat aku akan memakaikannya baju. Jadi aku harus membuatnya tidur dulu." Baekhyun membenarkan selimut kecil yang menutupi pantat bayi mungil itu dengan tangan kanannya. Matanya melirik Chanyeol dan tersenyum, "Bukankah kami tampak menggemaskan." Godanya.
"Kami? Kau dan Jiwon?" Tanya Chanyeol dan Baekhyun mengangguk, "Bagian mananya atas dirimu?"
Baekhyun mencibir, "Aku ini menggemaskan. Meskipun Jiwon juga menggemaskan, tapi aku tidak kalah darinya."
Chanyeol berpindah ke belakang Baekhyun untuk melihat wajah anaknya yang sudah tertidur. Wajahnya merunduk untuk mencium dahi sang anak pelan, kemudian menggumam, "Kalian lebih dari sekedar menggemaskan, kau dan Jiwon adalah segala hal baik di dunia ini. Menggemaskan, imut, manis, mempesona, dan lainnya. Dan kalian sukses untuk membuat hatiku meleleh dengan pesona yang ada pada diri kalian."
Baekhyun diam-diam tersenyum dengan pipi merona mendengar perkataan Chanyeol yang terkesan sangat cheesy namun –entahlah, Baekhyun sangat senang dan terharu mendengarnya.
"Aku tau kau sedang merona saat ini sayangku. Tanpa melihat aku pun sudah tau." Chanyeol melengos menuju ranjang dan berbaring di sana dengan kedua tangan di belakang kepalanya. Memandang Baekhyun yang sedang tersipu-sipu.
"Dasar pabo! Sejak kapan kau jadi melankolis begitu huh? Kau tertular Jongin ya?"
"Anggap saja begitu."
"Ah uri Jiwon sudah tidur, ayo pakai baju." Baekhyun meletakkan tubuh anaknya dengan hati-hati ke ranjang. Mulai memakaikan pakaian bayi pada anaknya. Chanyeol yang melihat itu lantas tersenyum, "Kau memang ibu yang baik."
"Tentu saja."
"Aku sangat mencintaimu Baekhyun sayang."
Baekhyun mengerjab, kemudian tersenyum dengan melirik Chanyeol sebentar, "Aku juga mencintaimu."
.
.
.
Chanyeol POV
Sudah enam bulan usia anakku dan dia sudah mulai menunjukkan sifat-sifat kami –tidak bisa diam. Jiwon suka sekali memberontak minta turun jika kugendong atau akan memukul wajahku dengan kepalan tangannya yang mungil. Suaranya sangat nyaring, seperti Baekhyun. Satu-satunya yang aku syukuri adalah anakku itu sangat jarang menangis. Bahkan jika dia mengompol, dia justru akan terkekeh-kekeh sepertiku sambil menatap eommanya. Kata Baekhyun dia sepertiku.
Untuk ukuran bayi dia sangat cepat perkembangannya, salah satu keuntungannya lagi. Pernah suatu hari Baekhyun sedang mandi dan meninggalkan Jiwon dengan mainannya di box bayi, begitu dia memasuki kamar, Baekhyun dibuat terkejut karena Jiwon seperti hendak berdiri dengan memegangi sisi box bayi. Dia seperti bayi yang ada di film The Incredible, kata Baekhyun.
Ibu kami menolak untuk menyewa baby sitter karena menurut mereka sulit untuk mempercayakan bayi enam bulan pada orang asing. Selain itu, mereka juga dengan senang hati bergantian membantu Baekhyun menjaga Jiwon. Lagipula eommanim sudah menduga akan sulit untuk seorang baby sitter menjaga anak kami mengingat Jiwon itu akan terang-terangan menolak kehadiran orang baru di hidupnya.
Dan di hari Minggu ini, aku dan Baekhyun berencana menghabiskan waktu di rumah saja dengan menonton film kartun kesukaan Jiwon.
Baekhyun sedang mandi dan meninggalkan aku berdua dengan anakku. Aku memangkunya sambil mengganti-ganti channel yang sekiranya menarik. Anakku sedang bermain dengan buku bergambar yang dibelikan noona kemarin. Membukanya dengan serampangan lalu berceloteh jika menemukan sebuah gambar menarik.
"Nyaa..Nyaa..!" Celotehnya sambil menyandarkan punggungnya pada perutku. Kaki-kakinya menendang dengan senang dengan tangannya yang memukul buku gambar.
"Ini gajah. Gajahnya besar sekali," Ucapku sambil menunjuk gambar seekor gajah berwarna abu-abu. Jiwon tidak merespon kata-kataku dan malah asyik memukul-mukul bukunya. Aku melihat telapak tangannya yang mungil lalu dengan iseng aku menjajarkan telapak tangan kami.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Baekhyun menginterupsi kegiatanku yang kurang kerjaan. Aku terkekeh dan menunjukkan tanganku dan Jiwon kepadanya yang duduk di hadapan ku.
"Kecil sekali ya? Sepertimu."
Baekhyun mengambil alih Jiwon dari pangkuanku dan mencium pipinya dengan gemas.
"Ughh~ Anak siapa sih?"
"Nyaa~ naa.. naa.." Jiwon memukul wajah Baekhyun dengan senang. Aku mendekat dan menggelitikinya dan dia langsung melompat-lompat girang. Lihat kan? Dia ini ajaib. Masih enam bulan tapi sudah bisa melompat-lompat.
"Jiwonie bau~" ucapku. Aku mengendus tengkuknya dan dengan lucu dia mengangkat kedua bahunya. Dia mirip seperti Baekhyun yang sangat sensitive akan tengkuknya.
"Wah jinjja appa? Padahal aku sudah mandi. Mandinya sama eomma pula. Masa masih bau sih?" Baekhyun menjawab dengan suara layaknya anak kecil. Membuatku tertawa.
Baekhyun membenarkan beanie Jiwon yang berantakan. Baekhyun memang suka mendandani Jiwon layaknya akan bepergian padahal kami hanya di rumah. Katanya sih biar Jiwon selalu tampil keren.
"Maa.. Maa! Jah! Pa..!" Jiwon memberontak di pelukan Baekhyun dan merangkak untuk memungut buku gambarnya dan menunjukkannya pada Baekhyun. Matanya yang bulat seperti bersinar-sinar saat menunjuk gambar gajah di sana.
"Ini gajah, Jiwonie suka gajah?" Tanya Baekhyun. Seakan mengerti apa yang ditanyakan, anakku mengangguk antusias sambil melihat ibunya. Lalu ia meneleng padaku dan tertawa nyaring memperlihatkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi.
"Aaa~ appa gemas sekali denganmu, sayang.." Aku memeluk Jiwon dengan erat sambil menciumi pipinya. Baekhyun ikut-ikutan tertawa dan bergabung denganku memeluk anak kami.
"Eomma sayang sekali denganmu," Gumam Baekhyun sambil mencium pipi Jiwon. Aku tersenyum melihatnya. Senang melihat kedua orang yang kucintai tersenyum satu sama lain.
.
.
Hari ini anakku akan merayakan ulang tahun pertamanya. Baekhyun memintaku untuk membuat pesta ulang tahun untuk Jiwon dan tak ada yang bisa kulakukan selain menuruti keinginannya. Kami hanya akan mengundang sanak saudara, juga teman-teman dekat kami.
Pesta diadakan di halaman belakang rumah kami karena Baekhyun ingin mengusung tema alam. Dia tidak terlalu suka pesta yang di dalam ruangan karena menurutnya itu sudah basi. Aku setuju dengannya. Jadi di pagi hari, rumahku telah ramai oleh orang-orang yang mengurus dekorasi pesta untuk anakku. Banyak sekali pernak pernik rilakuma memenuhi rumahku karena Jiwon sangat menyukai rilakuma, sama sepertiku.
Baekhyun sudah dibuat sibuk untuk mengecek segala hal dan tak jarang dia mengomeli orang-orang dekorasi jika mereka melakukan sedikit kesalahan.
"Sudahlah sayang, jangan mengomeli mereka," Aku berusaha untuk menenangkannya yang akan berjalan ke halaman belakang untuk menaruh balon-balon rilakuma. Aku sampai pusing sendiri melihatnya sedari tadi mondar-mandir. Aku yakin Jiwon yang sedari tadi duduk di kursi tingginya juga ikut pusing melihat ibunya.
Baekhyun menghela nafas, tampak lelah, "Tapi mereka selalu melakukan kesalahan. Aku tidak ingin ada kesalahan di pesta ulang tahun anakku."
"Aku mengerti, tapi apa kau tak lihat anak kita sedari tadi tampak ketakutan saat kau membentak orang-orang itu?" Baekhyun seketika mengalihkan perhatiannya pada Jiwon yang ada di belakangku. Dia langsung menghampiri anak kami dan mencium pipinya sayang.
"Maafkan eomma ya sayang. Eomma tidak akan marah-marah lagi," Jiwon tertawa sambil tangannya menggapai-gapai balon rilakuma yang tadi dibawa Baekhyun.
"Maa.. ma.."
"Mau balon?" Tanya Baekhyun.
"Berikan saja satu untuk Jiwon, masih ada yang lain kan?" Ucapku. Baekhyun segera memberikan satu balon untuk anak kami yang langsung digenggam erat-erat olehnya. Anakku tampak sangat senang.
"Jiwon sudah kau suapi?"
"Sudah,"
"Kalau begitu beri dia stroberi yang sudah aku iris di kulkas ya Yeol. Aku harus mengurus yang lain dulu okay?" Baekhyun mengecup pipiku cepat lalu kembali menuju halaman belakang untuk mengatur dekorasi pesta. Dia memang ingin turun tangan sendiri mengatur dekorasi, tapi tidak mengijinkan aku untuk ikut campur karena menurutnya aku ini sangat kuno dalam merencanakan dekorasi pesta. Jadinya dia menyuruhku untuk mengurus Jiwon –memandikan, memakaikan baju, juga memberinya sarapan. Tentu saja Baekhyun telah menyiapkan baju untuk Jiwon sebelumnya karena aku tidak bisa memadukan baju yang keren untuk anakku.
"Jiwonie, jangan banyak bergerak ya, appa akan mengambilkan stroberi untukmu," Aku membuat gesture makan dan menekankan kata stroberi padanya. Anakku sangat suka yang namanya makan dan stroberi, sama seperti ibunya. Aku sampai heran saat melihatnya pertama kali makan stroberi, Jiwon terlihat tidak terganggu sama sekali dengan rasa asam buah merah itu. Berbeda sekali denganku.
Aku kembali dengan membawa sepiring potongan stroberi dan garpu bayi lalu meletakkannya di hadapan anakku. Aku tau Jiwon tidak senang jika dia memakan stroberi dengan disuapi, dia lebih suka makan sendiri. Maka aku membiarkannya bergelut memakan satu persatu stroberi itu dengan nikmat seakan dunia hanya miliknya dan si stroberi.
Aku duduk di hadapannya sambil menopang kedua sikuku pada meja makan. Memandang anakku yang tidak terganggu sama sekali dengan kebisingan di sekitarnya. Aku jadi ingin merekam kegiatannya makan stroberi, jadi aku mengeluarkan ponsel dan mengarahkannya pada anakku. Merekam semua kegiatannya.
"Hei Jiwonie, sayang.." Aku berusaha menarik perhatiannya, tapi dia hanya melirikku sekilas itupun tanpa minat.
Lihatlah bagaimana jari-jari mungil itu menggenggam garpu dengan erat dan menusuk stroberi dengan tenang. Dia makan layaknya orang dewasa. Aku terkekeh setelah selesai merekamnya dan aku langsung tergerak untuk menguploadnya di akun instagramku. Tak lupa menyertakan akun instagram Baekhyun dalam captionnya.
Beberapa detik kemudian banyak komentar bermunculan dari teman-temanku. Mereka banyak mengatakan jika Jiwon sangat imut dan mirip dengan ku. Tapi tak banyak juga yang mengatakan jika Jiwon menurun pada Baekhyun. Intinya anak kami memiliki gen yang seimbang dari orang tuanya.
"Paa.. appaa!" Aku menoleh pada Jiwon yang selesai menghabiskan buahnya, "Won.. iwon nang! Maa.. maa.."
"Wah pintarnya.." Aku tergerak untuk menggendong buah hatiku yang tertawa girang setelah aku menciuminya dengan ganas.
"Iwon intar paa.." Ia mencoba berbicara padaku. Aku sungguh gemas padanya sehingga aku tak bisa untuk tidak menciumi pipinya yang bulat. Jiwon mengerang saat aku melakukannya dan menunjuk ibunya yang lagi-lagi mengomeli entah siapa di halaman belakang.
"Jiwon mau ke eomma?" Tanyaku dan dia mengangguk. Maka aku berjalan untuk menghampiri Baekhyun.
"Sekarang kerjakan dengan benar. Mengerti?"
"Baik tuan, maafkan saya yang teledor," Seorang wanita berkacamata membungkuk meminta maaf lalu pergi dari hadapan Baekhyun. Aku memeluk pinggang istriku dari belakang dan dia menegang karena terkejut.
"Chanyeol!"
"Kau seperti Ahn seosaengnim, kau tau?" AKu mengejeknya dan Baekhyun membalasnya dengan delikan. Aku sungguh-sungguh mengatakan jika Baekhyun seperti guru olahraga kami sewaktu SMA dulu. Suka marah-marah saat memergoki muridnya pacaran. Dulu kami juga pernah kena dampratnya akibat aku yang kedapatan mencium pipi Baekhyun di koridor. Aku jadi merindukan beliau. Bagaimana reaksinya saat tau aku dan Baekhyun menikah dan kami sudah punya anak?
"Jiwonie sayang.. sini sama eomma," Baekhyun merentangkan tangannya dan Jiwon secara otomatis ikut memajukan tubuhnya ingin melepaskan tubuhnya dari gendonganku. Aku menyerahkan Jiwon ke gendongan Baekhyun dan anak itu melingkarkan tangannya di leher Baekhyun dengan manja. Anak itu mirip ibunya.
"Sudah makan stroberinya?" Tanya Baekhyun kepada Jiwon.
"Ne.. Maa.. mau!" jemarinya menunjuk sebuah balon bulat berwarna merah yang tergantung di sisi pintu, "mau… belii tobeli.." Rupanya dia ingin balon itu karena mirip dengan stroberi.
"Bukan sayaaang, itu bukan stroberi," Aku mencoba memberinya pengertian, tapi yang namanya anak kecil pasti tidak mau mengerti.
"Aniii! Aa.. maa!" Jiwon menjerit dengan suara yang nyaring dan memandang Baekhyun seakan mencari pertolongan. Percayalah dia itu sebenarnya bayi yang licik. Sama seperti ibunya.
"Chanyeol tolong ambilkan balonnya ya?" Baekhyun memintaku dengan jurus puppy eyesnya yang mana aku sama sekali tak mempunyai pilihan lain selain menurutinya. Aku kan memang harus menuruti kemauan Baekhyun dan titisannya –read: anakku.
Aku mencabut balon itu dari tempatnya dan beberapa orang dari dekorasi memandangiku. Aku mengedikkan bahu acuh, "Anakku menginginkan ini, kalian boleh memasang balon yang lain okay?" Setelah aku menyerahkan balon itu kepadanya, Jiwon langsung memeluknya dengan erat meskipun tidak sampai karena tangannya yang pendek sedangkan balon itu cukup besar. Aku berpindah ke belakang punggung Baekhyun untuk menggoda anakku. Dia berkali-kali mengerang protes saat aku menyentuh balonnya.
"Terima kasih sayang," Baekhyun berucap, "Kau memang ayah yang baik untuk Jiwon."
"Tentu saja aku ayah yang baik," Ucapku bangga. "Jadi, kapan kuenya datang?"
"Ah benar juga. Katanya Yoora noona akan mengambilnya dari toko kue."
"AAA! Ppa! Ani..! maa! Appaa hat! Ahat! Maa!" Tuh kan, sedikit sedikit mengadu pada ibunya.
"Huu Jiwon tukang mengadu. Dasar manja!" aku mehrong dan Jiwon seketika cemberut dan menjambak rambut Baekhyun. Mungkin dia ingin Baekhyun membelanya.
"Akh! Jiwon sayang, sakit!" Baekhyun berusaha melepaskan jambakan Jiwon pada rambutnya. Membuatku tertawa, "Chanyeol! Jangan menggoda anakmu!"
"Ahahaha.. baiklah aku kabur!" Aku memilih pergi dari sana ketimbang terkena dua umpatan dari dua orang yang mirip itu. Percaya padaku, kalian tidak akan mau mendengar umpatan dari istri dan anakku.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Pesta ulang tahun anakku berjalan dengan lancar dan malam ini kami –aku, Baekhyun dan kedua orang tua kami mengadakan makan malam di rumahku. Yoora noona tidak ikut karena dia sudah punya janji dengan tunangannya untuk makan malam.
Jiwon duduk di pangkuanku dan Baekhyun menyuapinya dengan bubur dan daging ikan tuna. Kami memang sering memberi ikan-ikan untuk makanannya karena kata banyak orang, ikan sangat baik untuk usia anak satu tahun.
"Wah wah! Aku tidak menyangka uri Baekkie yang manja bisa jadi ibu yang baik ya?" Ibu mertuaku menggoda anaknya. Aku terkekeh dan sedikit banyak juga setuju dengan ucapan beliau. Baekhyun yang manja bisa menangani Jiwon yang manja. Aku bersyukur karena itu.
"Ish! Eomma sudah jangan menggodaku!" Baekhyun cemberut dengan tangannya yang sibuk membersihkan makanan di sekitar bibir anakku.
"Appa.. paa.." Jiwon menarik-narik kaosku untuk menarik perhatianku. Dia menunjuk mulutnya yang penuh dengan makanan padaku.
"Wah pintarnya anak appa.." Pujiku dan dia langsung tersenyum lebar sembari terus mengunyah makanannya. Dia memang suka sekali jika aku memujinya saat makan.
"Kalian memang sudah menjadi orang tua yang baik untuk Jiwonie. Aku bersyukur karena cucuku tidak kekurangan kasih sayang," ucap ayahku. Aku tau mereka berempat ingin yang terbaik untuk Jiwon karena anakku adalah cucu pertama mereka.
"Ini semua juga berkat Baekhyunku yang selalu merawat Jiwonie dengan baik," Ucapku membuat Baekhyun tersipu-sipu. Anak itu masih tidak berubah sejak beberapa tahun yang lalu.
"Chanyeol juga ayah yang baik. Dia selalu menuruti kemauanku dan anak kami," Aku tersenyum jenaka mendengarnya.
"Eih! Kalian kalau sudah seperti itu rasanya seperti dunia milik kalian saja ya? Kami di sini seperti patung saja." Percayalah ibuku itu selalu merusak moment yang indah ini.
"Jadi, kapan Jiwonie mempunyai adik?" Celetuk ayah Baekhyun.
Aku yang sedang memakan anggur seketika tersedak karena bijinya. Kulirik Baekhyun yang sedang merona parah di saat orang tua kami sedang menggodanya. Kupikir-pikir, mungkin lebih baik secepatnya Jiwon punya adik. Yah secepatnya.
.
.
Waktu terasa berjalan begitu cepat saat kau menghabiskannya bersama orang-orang tersayang. Itu memang benar adanya. Tau-tau saja kami sudah merayakan ulang tahun Jiwon yang ketiga. Anakku tumbuh dengan baik, berat tubuhnya ideal untuk anak seusianya dan wajahnya kupikir semakin mirip denganku.
Aku teringat dengan ucapan Sehun dulu jika dia ingin berinvestasi kepada anakku dan yeah, kurasa mobil-mobilan itu cukup berguna di usia Jiwon sekarang. Mungkin aku akan berterima kasih kepadanya nanti.
Ngomong-ngomong, Sehun dan Luhan sudah menikah sejak satu tahun yang lalu, dan lima bulan setelahnya, Luhan dan Sehun mengadopsi seorang bayi lucu yang diberi nama Ziyu. Entah takdir atau apa, Ziyu itu seperti titisannya Luhan. Mereka sangat mirip dan Sehun merasa bahwa dia memiliki dua Luhan.
Lalu Jongin, dia sudah menikah dengan Kyungsoo sejak enam bulan yang lalu, dan sekarang mereka sedang berbulan madu kedua, di Swiss. Itu sepenuhnya ide Jongin. Katanya setelah pulang, mereka akan mengadopsi seorang anak. Dan itu ide Kyungsoo. Dia iri melihat Baekhyun dan Luhan yang selalu bermain dengan anak-anak kami.
Lalu aku, sekarang aku sudah memiliki label perusahaan music sendiri, Ji Entertaiment. Memang masih belum berkembang sebesar SM Entertaiment, tapi aku cukup bangga dengan usahaku. Rencananya, aku akan melejitkan Baekhyun sebagai artis pertamaku. Dia akan menjadi penyanyi solo di bawah naungan label perusahaanku dan dia menyetujuinya. Aku memang berencana hanya menaungi para penyanyi solo, bukan boyband atau girlband seperti label lain. Berbeda itu menyenangkan.
Baekhyun sendiri, dia menjadi ibu yang baik untuk anakku. Dia memang terkadang pergi ke beberapa acara untuk bernyanyi, tapi dia juga tidak melupakan tugasnya sebagai seorang ibu. Dan kabar baiknya, sebenarnya Baekhyun sedang mengandung dua bulan. Baru lusa kemarin kami ke dokter dan kabar gembira itu sungguh membuatku memeluknya sampai dia memekik kesakitan. Tak ada yang lebih membahagiakan selain kabar kehamilannya yang kedua. Aku mengatakannya pada Jiwon dan dia juga mengaku senang akan memiliki seorang adik yang akan dia ajak bermain.
Aku bersikap overprotektif padanya. Bukan apa-apa, di saat usia kandungannya masih sangat muda, Baekhyun mendapat job menyanyi sangat banyak. Mungkin itu diakibatkan karena label ku mendebutkan penyanyi baru yang sangat cantik. Sebenarnya aku agak tidak rela tapi ya, tidak masalah jika tidak sampai melewati batas. Aku akan turun tangan sendiri melindungi Baekhyun dari para sasaeng fans. Sampai-sampai aku membuat project duet antara aku dan Baekhyun agar aku bisa mengawasinya selagi kami berdua bekerja. Bukankah itu terdengar menyenangkan?
Dan karena kami berdua adalah seorang public figure, kami ditawari untuk membintangi sebuah acara yang mana kehidupan keluarga kecil kami akan diliput sewaktu-waktu. Acara yang setiap hari Sabtu pukul lima sore ditayangkan di stasiun televisi, SBS. Acara yang bernama The Fabmily atau singakatan dari Fabulous Family. Aku tidak keberatan, begitu pula dengan Baekhyun dan Jiwon. Dan berakhirlah semua orang bisa melihat bagaimana harmonisnya kehidupan keluarga kecil kami.
Berkat acara ini, Jiwon menjadi salah satu artis cilik paling digemari. Banyak orang mengatakan jika anakku sangat imut dengan telinga peri yang sama sepertiku.
"Annyeong!"
"Annyeong! Eomma dan appa akan mengajak Jiwon pelgi ke lumah sakit untuk melihat adik!"
Aku tertawa melihat anakku yang sibuk menyapa dan membeberkan apa yang akan kami lakukan kepada penonton acara kami. Ada dua cameramen yang bertugas merekam kegiatan kami hari ini. Dan memang kami berencana akan mengecek kandungan Baekhyun ke dokter.
"Jadi ikuti kami terus ya," Ucap Baekhyun. Aku segera menggendong Jiwon dan membuntuti Baekhyun yang berjalan menuju mobil kami. Selama di perjalanan, Jiwon selalu berceloteh tentang betapa senangnya dia akan mempunyai adik. Di episode kali ini memang pertama kalinya kami membahas tentang calon anak kami yang kedua.
Saat sampai di rumah sakit, kami langsung menemui dokter langganan kami saat Baekhyun melakukan check up kandungannya.
"Perkenalkan ini Dokter Hwang," Aku memperkenalkan Dokter Hwang dan dia tersenyum sambil melambai pada kamera, "Dia ini sudah membantu uri Baekhyun sejak kehamilan pertamanya. Dan juga membantunya saat melahirkan uri Jiwonie."
"Dokter Hwang sangat setia padaku lho," Celetuk Baekhyun dan kami tertawa.
"Jadi, kami kesini untuk mengecek janinku. Sampai mana pertumbuhannya menjelang bulan ketiga," Ucap Baekhyun.
"Baiklah, kalau begitu tidurlah di sana lalu aku akan melakukan USG pada kandunganmu," Dokter Hwang menyuruh Baekhyun untuk tidur di ranjang. Jiwon sudah memberontak di gendonganku meminta turun. Dia langsung menghampiri ibunya yang sedang tiduran dengan perutnya yang diolesi entah apa oleh Dokter Hwang.
"Apakah ada pantangan dalam makanan Baekhyun?" Tanyaku.
Dokter Hwang menggeleng, "Tidak ada, mungkin Baekhyun harus menambah nafsu makannya agar janinnya memiliki berat yang ideal. Tidak seperti saat kau mengandung Jiwon, kau susah sekali makan." Jelas Dokter Hwang.
"Jadi apakah calon bayiku memiliki berat yang normal saat ini?" Tanyaku. Dokter Hwang sudah mengarahkan suatu alat USG di perut Baekhyun dan seketika layar computer menampilkan gambar buram yang kuyakini adalah gambar janin kami.
"Jika dilihat di sini, perkembangannya cukup bagus. Dia mendapat asupan yang baik dari Baekhyun. Ukurannya normal untuk usia menjelang tiga bulan."
Aku tidak dapat menahan senyumanku saat melihat gambar di layar USG itu.
"Apakah masih belum ada pergerakan?" Tanya Baekhyun.
"Belum, dia masih dalam masa pembentukan. Biasanya mulai bergerak di bulan keempat."
"Appa! Mana adik?" Anakku memekik dari samping ranjang. Aku menggendongnya dan mengajaknya mendekat ke layar computer. Telunjukku menunjuk gambar buram di sana.
"Itu adikmu. Tapi masih belum jelas, kau bisa melihatnya?" Aku memandang anakku dan dia cemberut. Mungkin dia kesal karena tidak bisa melihat adiknya.
"Aku tidak melihatnya appa! Gambalnya jelek!" Pekiknya. Aku terkekeh canggung lantas mengajaknya menuju salah satu cameramen.
"Katakan apa kau ingin adik laki-laki atau perempuan?" Tanyaku. Jiwon Nampak berpikir kemudian dia memekik, "Aku ingin punya adik pelempuan yang cantik! Cantiknya sepelti eomma!"
"Lalu kau akan mengajaknya apa?"
"Aku akan mengajaknya belmain mobil-mobilan!"
"Hei, masa perempuan kau ajak main mobil-mobilan, Jiwonie?" Celetuk Baekhyun. Dia sudah duduk sambil membenahi bajunya.
"Iya, masa kau akan mengajaknya main mobil? Seharusnya main boneka," tambahku. Jiwon langsung menampilkan ekspresi tidak terimanya. Dia memukul bahuku lantas bibirnya manyun, "Pokoknya mobil-mobilan!"
"Baiklah-baiklah. Asalkan Jiwonie harus menyayangi adik nanti, ya?" Jiwon mengangguk.
"Janji menyayangi adik?"
"Janji appa! Aku sayang adik! Aku sayang adik! Aku sayang adik!" Ucapnya semangat sambil menggoyangkan tubuhnya dalam gendonganku.
Aku tersenyum haru mendengarnya. Anakku yang masih kecil sangat menyayangi adiknya yang bahkan masih belum lahir. Episode hari itu berakhir dengan acara makan malam kami di sebuah restoran Jepang dengan tawa yang berasal dari candaanku dengan Jiwon.
.
.
Hari demi hari berlalu menjadi bulan dan berbulan-bulan berlalu hingga usia kandungan Baekhyun memasuki bulan ke Sembilan satu minggu yang lalu. Dokter Hwang sudah mengatakan jika kemungkinan Baekhyun akan melahirkan adalah Sembilan bulan lebih delapan hari. Tapi kemungkinan manusia bisa saja salah karena tepat satu minggu Baekhyun memasuki usia Sembilan, ia mengeluh perutnya sakit bukan main dan ia merasa akan melahirkan hari ini juga.
Ini hari Selasa dan kami sedang berada di gedung Ji Entertaiment saat Baekhyun mengeluh sakit. Aku panik bukan main dan memutuskan menggendong Baekhyun menuju mobilku dan meminta satpam di depan untuk mengantar kami ke rumah sakit. Aku tidak bisa menyetir di saat seperti ini karena Baekhyun terus-terusan mencengkram lengan kiriku.
Aku sibuk menenangkannya selagi sebelah tanganku menghubungi eomma dan eommanim yang sedang menemani Jiwon di rumah. Ibuku yang paling panik mengetahui menantunya akan segera melahirkan. Berkali-kali aku menuruh Paman Ahn, satpam yang sedang menyetir mobilku untuk cepat dan akhirnya kami sampai di rumah sakit setelah sepuluh menit perjalanan. Aku berterima kasih kepada Paman Ahn dan menyuruhnya kembali ke kantor.
Para suster yang sudah mengenal baik kami berdua langsung membawa Baekhyun ke ruang operasi dan memanggil dokter kandungan yang sedang bertugas. Aku terduduk di ruang tunggu saat Dokter Hwang muncul di hadapanku dan memintaku untuk tenang. Aku sungguh merasa déjà vu dengan ini. Tepat tiga tahun yang lalu aku mengalami hal yang sama. Di tempat yang sama.
Beberapa menit kemudian eomma dan eommanim beserta Jiwon datang bersamaan.
"Baekhyun baru saja masuk?" Tanya eommanim. Aku mengangguk. Jiwon turun dari gendongan neneknya dan mendekat padaku. Aku memeluknya erat.
"Eomma kemana, appa?" Tanyanya.
"Eomma masuk kesana. Eomma mau menjemput adik. Nanti Jiwonie akan bertemu adik." Jawabku sambil menunjuk pintu ruang operasi yang tertutup. Matanya mengikuti arah telunjukku kemudian kembali menatapku. Ada binar kegembiraan yang tergambar di sana. Aku tau dia sungguh tak sabar untuk bertemu adiknya.
"Benalkah? Wah! Aku ingin kesana appa! Aku mau menjemput adik juga," Jiwon merajuk.
"Tidak bisa. Kita tunggu saja di sini biar eomma yang masuk." Akhirnya dia mengangguk lesu dan menyandarkan punggungnya di dadaku. Ia mainkan jari-jariku untuk mengusir kebosanannya. Eomma sedang menghubungi appa yang sedang berada di Jepang dan eommanim sedang membeli minuman untuk Jiwon.
Aku melirik arlojiku dan ini sudah dua puluh lima menit berlalu. Dulu, sekitar dua puluh menit sejak Baekhyun memasuki ruang operasi langsung terdengar suara tangis Jiwon. Tapi ini sudah lebih dari dua puluh menit dan belum terdengar apa-apa. Aku mulai panik dan ibuku berusaha menenangkanku. Jiwon sudah mulai merengek karena bosan menunggu.
"Appa kenapa lama sekali?"
"Sabar ya sayang, sebentar lagi." Seakan manjur, ucapanku memang benar di saat seorang Suster membuka pintu ruang operasi saat itu juga. Aku langsung berdiri dan menghampirinya yang terlihat gusar.
"Ada apa suster?" Tanyaku.
"Tuan, ini aneh. Bayi anda sudah lahir, tetapi dia tidak mau menangis sama sekali. Padahal kami sudah menepuk pantat maupun punggungnya tetapi dia tetap diam." Ucap suster itu dengan gusar. Kami bertiga seketika panik mendengar itu apalagi aku.
"Bo-bolehkah aku masuk? Aku ingin melihat anakku," Ucapku. Suster itu mengangguk dan mempersilakan aku masuk, tapi belum sampai aku melangkah, Jiwon sudah menarik celanaku. Aku menoleh padanya dan wajahnya terlihat seperti hendak menangis.
"Appa mau kemana? Jiwon ikut, appa.." Aku kasian melihatnya. Dia sudah bersabar menunggu selama itu dan sudah seharusnya dia melihat adiknya. Aku menoleh pada suster itu, "Bolehkah aku mengajak anakku?" Pintaku. Suster itu mengangguk setelahnya.
Jiwon segera kugendong setelah aku meminta ijin kepada kedua ibuku. Kami memasuki ruang operasi dan suster tadi memberiku dan Jiwon masing-masing sebuah masker. Di sana aku melihat seseorang terbaring di sebuah ranjang yang dikelilingi oleh sebuah tirai biru. Aku bisa memastikan dari celah kain itu jika dia adalah Baekhyun. Suster itu membawaku ke sisi kiri ruangan dimana terdapat seorang suster menggendong seorang bayi mungil di tangannya. Bayiku sudah bersih dari darah namun masih terlihat merah. Aku sedikit tidak tahan melihatnya maka aku mencari kekuatan dengan mencium pipi Jiwon di gendonganku.
"Jiwonie.." Panggilku padanya dan dia menoleh.
"Mau berjanji pada appa?" Dia mengangguk, "Berjanji pada appa untuk membangunkan adik ya? Bangunkan adik yang sedang tertidur."
"Adik tidur?" tanyanya. Aku mengangguk dan membawanya mendekat pada bayi kami yang sedang digendongan seorang suster. Aku mendudukkan Jiwon pada sebuah kursi di sana sebelum mengambil alih bayiku. Aku melihatnya. Bayiku yang cantik. Dia seorang perempuan, persis seperti harapan Jiwon.
Aku berjongkok di depan Jiwon yang segera ingin melihat adiknya.
"Ini adik," Lirihku, "Bangunkan dia, Jiwonie."
Anak laki-lakiku menatap adiknya dengan takjub. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi merah adiknya. Aku menangis dalam diam agar Jiwon tidak mendengar tangisku. Aku tak ingin dia tau aku sedang menangis. Bayiku tidak bergerak. Dia mengabaikan aku. Mengabaikan sentuhan kakaknya.
"Adik.. annyeong!" Sapa Jiwon. Tangannya meraih tangan kanan adiknya dan menggoyangkannya. Aku tau dia gemas.
"Adik, ini aku. Ayo kita bermain bersama appa. Adik bangun jangan tidur terus."
Aku tetap menangis. Tidak tahan melihat ini. Anak gadisku yang cantik harus bangun bagaimanapun caranya.
"Appa boleh aku menciumnya?" Tanya Jiwon dan aku mengangguk. Jiwon segera memajukan wajahnya dan mencium pipi kanan adiknya. Menciumnya lama sambil memainkan jari-jari kecil milik adiknya. Dia terkekeh dan terus mengecupi pipi merah itu dengan gemas.
Aku melihatnya! Aku melihat bibir mungil itu membuka! Anak gadisku masih hidup!
"Appa! Aku sayang adik!"
"OEEEK! OOEEEK! OOEEK!"
Aku terkejut bukan main saat mendengar bayiku menangis dan segera memeluk kedua anakku dengan bahagia. Aku bahagia sekali. Anakku hidup! Kedua anakku hidup! Jiwon membuat bayiku menangis!
"Terima kasih Tuhan, terima kasih." Lirihku dan aku menciumi pipi Jiwon, dia terkekeh senang, "Terima kasih sayang, kau sudah membangunkan adikmu. Terima kasih." Ucapku.
Jiwon tersenyum padaku lalu beralih pada adiknya yang masih setia menangis.
"Appa! Adik menangis! Aku tidak menyakitinya, kan?"
"Tidak sayang, kau kakak yang baik. Kau tidak menyakitinya. Appa sayang padamu."
Tak ada yang bisa kulakukan pada hari itu selain berterima kasih pada Tuhan. Juga kepada Jiwon yang telah memenuhi janjinya untuk membangunkan adik perempuannya, Park Jihyun.
.
.
.
Seventeen years later
.
Hai namaku Park Jihyun. Mungkin kalian mengenalku berkat kedua orang tuaku. Ngomong-ngomong, hari ini adalah hari yang sangat special karena aku akan merayakan hari ulang tahunku ke tujuh belas. Eomma dan appa yang ingin merayakannya, padahal aku tidak meminta.
Aku mematut diri di depan cermin kamarku. Semuanya sudah siap. Rambut coklatku yang dikuncir –eomma yang menguncirku. Gaun tosca yang dibelikan oleh appa melekat di tubuhku. Flatshoes yang dibelikan oppa dan gelang pemberian –ah mungkin aku tak akan mengatakannya dari siapa kkk~
Aku terlihat cantik. Meskipun aku tidak memakai make up yang banyak, karena aku sedikit alergi dengan make up.
"Jihyunie, ayo keluar. Banyak tamu yang sudah datang!"
Itu suara oppaku, dia sudah menungguku sejak setengah jam yang lalu. Aku segera bergegas menuju pintu kamarku dan membukanya. Jiwon oppa terlihat sangat tampan. Aku sangat sangat sangat menyayanginya. Kupikir, dia mirip seperti appa, terlebih soal matanya. Berbeda dengan mataku yang seperti eomma dan aku cukup bersyukur karena dengan mata ini, aku bisa melancarkan jurus puppy eyes jika appa atau oppa tidak mau memenuhi permintaanku. Ssst, ini eomma yang mengajarkannya.
"Maaf hehehe.." ucapku. Oppa hanya memutar bola mata malas karena kesal menunggu. Aku menggelayut manja di lengan kanannya saat kami berdua berjalan menuruni tangga rumah kami.
"Astaga! Banyak sekali wartawan!" Aku memekik saat melihat banyak sekali para wartawan yang meliput acara ulang tahunku.
"Apa yang kau harapkan dari acara sweet seventeen seorang anak dari keluarga public figure?" Balas Jiwon oppa.
Benar juga. Kami ini termasuk keluarga public figure. Bagaimana tidak? Appa adalah seorang pemilik label perusahaan music terkenal di Korea mengalahkan SM Entertaiment juga seorang composer kondang. Eomma seorang penyanyi solo terkenal sampai seantero Korea. Jiwonie oppa seorang pemain drama dan juga bintang iklan. Sedangkan aku, aku seorang pemain drama. Sudah lima drama yang aku bintangi sejak pertama kali debut. Itu sebabnya aku mengecat rambutku menjadi warna coklat –karena tuntutan pekerjaan. Kami semua di bawah naungan label appa –tentu saja.
Saat aku dan oppa turun, para wartawan langsung mengarahkan kameranya pada kami. Astaga!
"Jihyun-ssi! Apakah tema dari pesta ulang tahunmu kali ini?" Seorang wartawan wanita bertanya padaku.
"Ehm, seperti yang kalian lihat, temanya adalah pesta topeng dengan dresscode black and tosca." Jawabku.
"Apakah kau menyukai warna tosca sampai semua dekorasinya berwarna tosca?" Tanya wartawan yang lain. Aku terkekeh, "ya begitulah, tosca warna yang indah. Ah maaf teman-teman, aku harus menyambut para tamu dahulu." Aku ijin untuk pergi dari sana karena Demi Tuhan, Jiwon oppa terlihat sangat jengah dengan wartawan-wartawan itu. Dia benar-benar lucu!
Aku lihat eomma dan appa di sana sedang menyambut para tamu. Dan aku akan menyambut teman-temanku yang lain. Lenganku masih saja mengapit lengan oppa saat aku menghampiri teman-teman sekolahku.
"Hey, kapan kalian datang?"
"Baru saja. Ah ternyata ada Jiwon oppa di sini." Jung Sora, temanku yang memang fans oppaku ini langsung tersenyum manis saat melihat idolanya.
"Wah oppa tampan sekali," Aku memutar bola mataku lelah. Selalu seperti ini. Aku tau oppaku ini sangat tampan, makanya dia punya banyak fans bahkan dari teman-temanku.
"Beruntung sekali ya, Jihyun punya kakak yang tampan," Tambah Nam Minji. Aku melirik kakakku ini dan dia tampak risih dengan pujian teman-temanku. Aku terkekeh sendiri.
"Ayolah teman-teman. Kalian sudah liat oppaku setiap hari di drama favorit kalian. Haruskah kalian memujinya terus?"
"Tapi Jiwon oppa terlihat sangat tampan jika dilihat secara langsung, benarkan?" Ucap Sora. Dan teman-temanku yang lain mengangguk setuju.
Yah beginilah kehidupan keluarga artis. Merepotkan.
"Ayo anak-anak, nikmati pestanya jangan hanya diam di sini. Dan jangan lupa pakai topeng kalian." Eomma datang untuk menyelamatkan kakakku dari teman-temanku. Dan akhirnya kami memilih untuk menikmati makanan di sana. Jiwon oppa sudah pergi untuk menyapa teman sesama artisnya, dan aku sedang menunggu seseorang.
"Menungguku?"
Aku menoleh untuk mendapati orang yang sudah kutunggu sejak tadi sedang tersenyum dengan topeng di wajahnya.
"Kau mengenaliku?" Tanyaku.
"Tentu saja aku mengenalimu. Masa aku tidak mengenali pacarku sendiri hm? Nyonya Kim?"
Ah sudahkah kukatakan jika aku mempunyai pacar? Dia adalah anak dari Jongin samchon, Kim Taeoh. Dia yang memberiku gelang ini. Oops! Aku keceplosan.
..
..
..
END
.
.
a/n : hufttt, akhirnya ini bisa ending juga HAHAHA. Meskipun endingnya absurd! Anggap aja yang Jihyun POV itu side storynya yaa /digampar/ sorry for typo ._.v jika ada yg tanya Jihyun itu siapa, dia itu Jihyun(?) Anaknya chanbaek adiknya Jiwon dalam imajinasi aku /digampar lagi/
okay sekian cuap-cuapnya semoga memuaskan. Jangan lupa review /mwah
ps: aku gak nonton film cy kok. Gak.
Pss: jiwon ucul ihhhh ily /love/
