Persona 3: Petualangan Sang Kakak

Disclaimer: Persona 3 milik Atlus

Warning: OC, OOC dan kemungkinan ada character's dead*Author dibunuh* penuh dengan CrossHover dan GAJE.

Summary: Setelah kejadian di hotel Cinta selesai, Sayu terus memikirkan kejadian dimana dia sadar telah berada di atas tubuh Reizato sampai menjauhi pemuda tersebut. Tapi di sela itu, Mitsuru mulai menjelaskan kejadian sesungguhnya asal mula Dark Hour dan Tartarus terjadi setelah selesai di interogasi oleh Yukari. Apakah yang terjadi pada Reizato?


Beberapa hari berlalu semenjak kejadian yang tidak menyenangkan di hotel bagi yang mengalaminya. Seperti Sayu yang sedikit menjauhi Reizato dan menjadi pendiam sampai dirinya melamuni kejadian kemarin tanpa bertanya pada kakak kandung Yukari tersebut.

"Sayu, kau melamun lagi?" pertanyaan Yoshino telah membuyarkan lamunan adiknya.

"Ah tidak, aku baik-baik saja" ucap Sayu yang tersenyum ke arah kakaknya sambil tetap memegang sebuah pisau yang dipakainya untuk memotong wortel.

"Jika kau melamun saat memasak, bisa-bisa yang kau masak adalah racun" sindir Reizato dengan dinginnya yang langsung saja kepalanya dipukul oleh sang kakak dari gadis sang tunangannya.

"Bicara begitu lagi pada adikku, bukan hanya tangan ini yang berbicara" ancam Yoshino yang menunjukan Pistol Revolver Cerberus milik Vincent Valentine dari FF7.

"Ampun pak..." Reizato bersujud syukur(?) pada Yoshino dan setelah itu kembali memasak makan malam.

"hmhmhm..." Sayu sedikit tertawa ketika melihat hal itu, lalu melanjutkan mengiris wortelnya.

"Oh ya Sayu, memang apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Reizato pada Sayu.

Sayu yang mendengar pertanyaan Reizato tersebut sedikit kaget karena bingung untuk menjelaskannya sampai-sampai jari telunjuknya tidak sengaja terluka oleh pisau, "aduh..." Sayu langsung memasukan jarinya yang terluka ke dalam mulutnya.

"Sayu, apa kau tidak apa-apa? Sini aku lihat." Ketika Reizato mau menyentuh tangan Sayu, Sayu langsung berlari menjauhinya dan menuju kekamarnya tanpa berbicara apapun. "Kenapa dengannya? Apakah ada yang salah denganku?" pikir Reizato.


~Chapter 37: Mari Kita Jujur!~


"Hei kau apakan adikku, hayo ngaku! Apa kau jalan-jalan dengan perempuan lain?" tanya Yoshino sambil menodongkan pistolnya pada Reizato.

"APUN! SUMPAH DIRIKU TIDAK JALAN BARENG CEWEK KECUALI ADIKKU DAN SAYU SEORANG!" teriak Reizato sambil mengangkat kedua tangannya dengan badan yang gemetar ketakutan.

"Kalau begitu cepat kejar dia dan minta maaf!" pintah Yoshino.

"Tapi masakannya?" tanya Reizato dan tiba-tiba terdengar...

Cklik!

Saat Yoshino menarik pelatuk Revolvernya.

"OKE!" Reizato langsung mengejar Sayu.

"Akhirnya, namun ada satu masalah..." Yoshino menoleh ke arah dapur, "aku tidak tahu caranya memasak..." ucapnya yang lemas sambil mengeluarkan air mata tanda penyesalan.

.

Sayu yang berada di dalam kamarnya tengah selesai memberi perban kecil pada jarinya tersebut. Lalu dirinya kembali melamun tentang kejadian kemarin malam dan kemudian memeluk dirinya sendiri. "Apakah benar aku dan Reizato-kun...?" pertanyaan tersebut kembali terlontar di mulutnya.

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan pintu kembali membuyarkan lamunan Sayu. "Siapa?" Sayu segera menuju ke arah pintu.

"Sayu, apa kau baik-baik saja? Ini aku Reizato Takeba, Tadi aku di ancam oleh kakakmu untuk melihat keadaanmu" terdengar suara Reizato di telinga Sayu.

"Rei-kun?" tiba-tiba tangan Sayu yang hampir menyentuh kenot pintu berhenti begitu saja ketika mengetahui bahwa ada Reizato di depan pintu. Sayu lalu bersandar di pintu tanpa membukanya, "Aku baik-baik saja tapi sepertinya aku merasa tidak enak badan untuk memasak, maaf ya Rei-kun." Ujarnya yang berbohong pada Reizato.

"hm... begitu... tidak apa, tapi kau harus banyak istirahat ya." Ucap Reizato, "Oh ya, aku akan mengantarkan makan malam untukmu dan juga akan mengatakannya pada kakakmu untuk merawatmu karena dia dokter." lanjutnya sebelum dirinya pergi.

"Rei-kun, mengenai makan malamnya sepertinya aku tidak selera untuk makan saat ini dan tentang aku sakit tolong jangan katakan pada Nii-chan atau semuanya ya, aku tidak ingin merepotkan mereka." Sela Sayu yang menolak kebaikan Reizato untuknya.

Reizato yang mendengar permintaan Sayu mulai bingung dan heran. Tapi dia menghiraukan pemikiran tersebut untuk tunangannya yang di kira sakit sungguhan, "Baiklah, tapi kau harus banyak-banyak istirahat" ucap Reizato sekali lagi dan setelah itu pergi kembali ke dapur.

Sayu lalu jatuh terduduk dengan masih tetap bersandar di pintu tersebut. Gadis berambut merah mudah dengan mengenakan jepit rabut yang membentuk simbol VI itu memelut kakinya dan mulai gelisah. "Aku bingung... apakah aku dan Rei-kun sudah..." mulutnya langsung tertutup rapat sebelum menyelesaikan kalimatnya dan sebuah bulir air mata perlahan keluar dari matanya dan meluncur jatuh ke lantai.

.

"Mana Sayu?" tanya Yoshino yang bersiap makan malam bersama lainnya di meja makan.

Reizato dengan cepat mencari alasan karena telah berjanji pada Sayu untuk tidak memberitahukan keadaannya yang sekarang. "Dia sedang tidur karena kelelahan katanya" ucapnya.

Yoshino berdiri, "aku akan periksa..." dan berjalan menuju tangga namun di hentikan oleh perkataan Reizato.

"Oh ya, katanya sebelum tidur jangan ada yang ganggu karena dia ingin tidur dengan nyenyak, dan jika ada yang membangunkannya dia mengancam akan kawin lari denganku lalu meninggalkan masalah Dark Hour dan lainnya kepada semuanya." ucap Reizato yang beralasan begitu Mainstream dengan tenangnya sampai semua yang mendengar sweatdrop dan sebagian yang telah berusaha menelan makanannya mulai tersedak karena kaget.

"Apa?" Yoshino yang mendengar hal itu terkejut lalu menutup mulutnya dan kembali berjalan ke meja makan untuk makan.

.

Malam berikutnya semua berkumpul di Command room untuk membicarakan masalah Shadow kemarin.

"Jadi apakah semuanya telah berkumpul?" tanya Ikutsuki.

"Tatsuya telepon dia tidak bisa datang karena sedang membuat laporan untuk di kirimkan ke kantor pusat" ucap Reizato yang tadi selesai menelepon Tatsuya.

"Lalu adik Hiroshi dimana?" tanya Ikutsuki yang menyadari adik Yoshino tidak ada.

"Mengenai itu..." Reizato bingung untuk bagaimana menjelaskan keadaan Sayu, "lebih baik aku panggil" lalu dia akhirnya berdiri dan menuju ke kamar Sayu berada.

"Aku juga ikut, aku khawatir dengannya" Yoshinopun mengikuti Reizato.

Mereka berdua sampai di depan kamar Sayu dan mengetuk pintu kamarnya.

"Sayu apa kau baik-baik saja di dalam sana?" tanya Reizato.

"Aku baik-baik saja..." sebuah jawaban lemah dari gadis yang berada di dalam kamar tersebut dapat di tangkap oleh telinga 2 laki-laki yang ada di depan kamarnya.

"Terdengar dari suaramu sepertinya kau tidak sehat, ada apa? Apa yang terjadi padamu?" Yoshino kini khawatir tentang keadaan Sayu yang tidak dia ketahui.

"Ni-nii-chan? A-aku baik-baik saja, sungguh!" Sayu yang tahu kakaknya juga berada di sana segera menormalkan kembali suaranya.

"Kalau begitu cepat keluar, karena yang lain sedang menunggumu di atas" ujar Yoshino.

"Jika begitu jangan menungguku, karena sepertinya aku sangat lelah dan ingin tidur... hoam..." jelas Sayu yang sepertinya tengah berbohong.

"Ya sudah aku tinggal" ucap Reizato dan diapun mulai meninggalkan tempat tersebut bersama Yoshino tapi suara Sayu telah menghentikannya.

"Tunggu!" teriak Sayu yang menghentikan langkah kaki mereka berdua, "aku ingin berbicara dengan Rei-kun..." ucap Sayu.

"Kalau begitu bicara di sini saja." Saran Yoshino.

"Tidak Nii-chan, ini hanya urusan antara aku dan Reizato-kun saja" ucap Sayu yang memaksa dari dalam kamar.

"Memangnya urusan apa?" tanya Reizato yang juga bingung.

"Sudahlah, Rei-kun masuk saja" Sayu membukakan pintu kamarnya untuk Reizato.

"...A-aku masuk ke-kamarmu? Memangnya boleh?" Reizato semakin bingung.

"Hoi, itu tentu saja tidak boleh! Aku menolak!" ucap Yoshino yang marah.

"Jika Nii-chan tidak mengijinkan, maka aku akan selamanya membenci Nii-chan sampai mati!" ancam Sayu dengan lantang, tegas dan tanpa takut hingga sang kakak yang mendengarnya tersebut menjadi takut.

"...Ba-baiklah, tapi jangan maca-macam di sana!" ucap Yoshino yang memperbolehkan Reizato untuk memasuki kamar Sayu.

"Dan ingat, Nii-chan juga tidak boleh menguping!" lanjut Sayu sekali lagi.

"Oke... aku tunggu di depan Command Room" Yoshino akhirnya pergi dan meninggalkan Reizato yang masuk ke dalam kamar Sayu.

("Sayu... apa yang terjadi denganmu?") batin Reizato yang hatinya berdegup dengan kencang karena masuk ke kamar wanita selain kamar adiknya.

"...Rei-kun, aku ingin bertanya padamu... boleh?" terlihat di mata Reizato, Sayu sedang duduk di atas ranjangnya dengan hanya memakai baju merah mudah berlengan panjang dan rok merah panjang dengan di hiasi oleh wajah yang terlihat gelisah.

"Boleh" ucap Reizato.

"Kalau begitu tutup dulu pintunya, agar tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan ini!" tatapan jengkel di arahkan Sayu ke arah Reizato setelah memberi perintah tersebut.

"Ba-baik" Reizato segera menutup pintu kamar tersebut. ("Sayu sebenarnya ada apa ini?") pikirnya lagi.

"Duduklah di sebelahku...!" Sayu kembali memasang expresi gelisah dan Reizato langsung menuruti perintahnya tanpa pikir panjang. "A-aku... ingin bertanya sesuatu kepadamu." Sayu memalingkan kepalanya, tidak melihat wajah Reizato.

"Jika kau ingin bertanya sebaiknya kau melihat orang yang kau tanyai" ujar Reizato.

"Jangan mengguruiku! Aku tahu hal itu!" bentak Sayu yang kembali memasang wajah jengkel ke arah Reizato.

"Maaf, jadi apa yang ingin kau tanyakan sampai membuatmu seperti ini?" tanya Reizato yang kembali bingung dan ingin mengetahui sesuatu yang telah terjadi pada Sayu.

"I-itu..."pandangan Sayu kini ke bawa, "kemarin di hotel ketika aka sadar dan sudah berada di atas tubuhmu, apa kita sudah melakukan 'hal itu' ketika diriku belum sadar...?" dengan malu-malu Sayu bertanya hal itu kepada Reizato dengan kedua tangan yang mengepal dengan sangat eratnya di atas pahanya.

"Mengenai itu... jujur, yang di maksud melakukan 'hal itu' apa?" tanya Reizato yang bingung dengan perkataan Sayu dan membuat Sayu yang dari tadi tegang hanya bengong melihat tingkah laku laki-laki tersebut.

"K-kau tidak tahu 'itu'?" tanya Sayu yang bertanya lagi.

Reizato tersenyum gugup karena tidak mengerti artinya, "Tidak tahu, kalau boleh tahu artinya 'itu' lagi apa?" tanyanya.

Wajah Sayu sedikit bersemu merah, "Ja-jadi sebelum aku sadar saat itu, a-apa yang terjadi kepada kita berdua di kamar tersebut?" tanyanya.

"Oh mengenai itu..." Reizato menceritakan dimana dirinya dan Sayu sedang main kejar-kejaran.

"Ha-hanya itu?" dengan kaget Sayu tidak percaya.

"Iya, hanya itu dan setelah kupakaikan kau helm yang di suruh oleh Reito... kau sudah sadar." Jelas Reizato yang menjelaskannya.

"Ja-jadi, kita tidak melakukan 'hal itu' serius?" Sayu masih belum percaya.

"Ya, tapi ngomong-ngomong 'hal itu' dan 'itu' maksudnya apa?" tanya Reizato yang masih bingung dengan kalimat tersebut. Tapi sayang, sebuah bantal langsung mendarat tepat di wajahnya sebelum pertanyaanya di jawab.

"KALAU BEGITU CEPAT KELUAR DARI SINI!" teriak Sayu dengan jengkel dan pipi yang bersemu merah sambil melempari Reizato dengan menggunakan bantal dan boneka.

"I-iya!" Reizato langsung keluar dan menutup pintu kamar Sayu kembali. "Haaah... sebenarnya ada apa sih, aku bingung?" gumamnya sambil membenarkan topi bundarnya dan bersandar di pintu tersebut.

"Rei-kun," suara Sayu kembali terdengar di telinga Reizato, "Terimakasih, karena penjelasanmu tadi telah membuat aku jadi lega" kali ini suara riang gembiranya seperti sediakala dapat di dengar.

"Ya, sama-sama... Sayu" dengan senyum yang di hiasinya, Reizato berjalan ke arah tangga untuk menemui Yoshino.

"Hah~ lega rasanya~" Sayu dengan senangnya menjatuhkan diri di atas ranjangnya dan memeluk bantal merah hatinya, "Aku senang sekali..." dan tertidur nyenyak.

.

"Jadi bagaimana keadaannya?" tanya Yoshino yang dari tadi menunggu Reizato di depan Comand Room.

"Dia baik-baik saja" ucap Reizato, "Oh ya lalu kenapa kau ada di sini?" tanyanya.

"Menunggumu, lebih baik kita masuk" akhirnya Yoshino dan Reizato melangkah menuju pintu command room untuk di buka tapi sebelum mereka membuka pintu tersebut, terdengar suara teriakan Yukari.

"JADI SELAMA INI KAU MENYEMBUNYIKAN HAL INI KEPADA KAMI SEMUA, BEGITU? AKU MEMBENCI MITSURU-SENPAI!" Yukari langsung berlari keluar dari Command room dengan wajah kesal yang di penuhi kekecewaan sampai dia tidak sadar bahwa dia telah melewati kakaknya dan terus kembali menuju kamarnya.

"Yukari? Ada apa dengannya?" Reizato lalu menoleh ke dalam Command room. "Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" tanya Reizato pada semua yang ada di dalam tapi tidak ada jawaban satupun, semua terdiam dan hanya expresi wajah terkejutlah yang mereka arahkan kepada Mitsuru kecuali Ikutsuki yang sepertinya sudah tahu dari awal.

"Be-benarkah apa yang kau katakan itu, Mitsuru-senpai?" tanya Junpei ke arah Mitsuru.

"HEY JAWAB! SEBENARNYA APA YANG TERJADI DI SINI?!" tanya Reizato dengan keras sambil memukul ke arah pintu sampai semua melihat ke arahnya.

"WUH! Sepertinya ada rahasia tersebunyi yang telah di sampaikan oleh nyonya Kirijou secara buka-bukaan terhadap anggotanya, atau lebih tepatnya belum terbuka semua... cucu Koetsu Kirijou..." Sebuah senyuman licik menghiasi wajah Yoshino dan berhasil membuat Mitsuru yang terdiam kini terbelalak kaget ketika mendengar dari mulut orang yang pernah menculik Yukari dan adiknya sendiri tersebut.

"A-apa maksudmu, apakah kau tahu mengenai hal ini sebelumnya?" tanya Mitsuru. Tiba-tiba Alis kanan Iktsuki sedikit dinaikan olehnya, tanda bahwa dia mulai heran dengan Yoshino.

"Lockon?" Reizato makin bingung.

"Ah tidak, aku tadi tidak sengaja menguping?" jelas Yoshino yang membuat Mitsuru yang kaget langsung melempari Yoshino dengan batu bata karena jengkel.

"JANGAN MEMBUAT ORANG KAGET DENGAN GAYAMU ITU!" teriak Mitsuru kesal.

"Maaf..." ucap Yoshino dengan kepala yang berdarah.

"Hey, sebenarnya ini ada apa?" teriak Reizato yang masih bingung.

"WOY BERISIK!" teriak Kaito dan Miku yang masih tinggal di asrama tersebut. "Bisakah kau tenang, kami ini sedang tidur karena besok adalah hari terakhir kami di sini" ucap mereka bersamaan.

"Ah maaf, kalau begitu silahkan kalian tidur lagi..." ucap Reizato dengan penuh penyesalan dan mereka berdua akhirnya kembali ke kamar masing-masing untuk tidur. Laki-laki tersebut kemudian kembali menoleh ke dalam Command Room, "Kumohon beritahu aku sebenarnya apa yang terjadi di sini?" tanyanya yang ingin tahu keadaan tersebut.

"Hoam~sepertinya sudah larut malam, lebih baik kalian istirahat untuk ulangan minggu depan" ucapan Ikutsuki memecah ketegangan yang ada di sana. "Termasuk kau juga Mitsuru..." tegurnya kepada Mitsuru.

"Takeba-san, maaf lain kali akan ku ceritakan" Mitsuru dan lainnya langsung pergi dan meninggalkan Reizato yang masih dalam keadaan kebingungan.

"HEY!" namun sayang, tidak ada satupun yang menghiraukan teriakan Reizato. "Jadi inikah gaya kalian? Kamu punya senjata ini saya pakai sekarang buat melawan kamu semua! Buktikan kawan!" teriak Reizato sekali lagi sambil meniru gaya Arya Wiguna yang menginjak lantai sampai jebol. "ini gaya kamukan, begitu? DEMI TUHAN!" Reizato makin emosi dan langsung membanting meja command room dengan sadisnya tanpa ampun.

"Sudah-sudah, bukankah dia sudah bilang bila besok dia akan menjelaskan pada kamu?" ujar Yoshino yang menenangkan Reizato dan akhirnya mereka pergi ke kamar masing-masing.

.

Hari berikutnya adalah hari minggu yang berarti bahwa hari ini adalah hari dimana semua anggota tim SEES untuk bolos sesuka hati mereka. *Author di lempar mesin cuci*

Siangnya Mitsuru memanggil Reizato di Command Room lantai 4 setelah laki-laki tersebut mengantarkan kepergian Miku dan Kaito kembali ke kota asalnya di pagi hari. "Jadi kenapa kau memanggilku, apa ingin membicarakan hal kemarin yang tidak kuketahui?" tanya Reizato.

"Benar, akan kujelaskan kejadian yang kemarin telah terjadi sampai adikmu marah padaku" Mitsuru lalu menceritakan bagaimana dark Hour, Tartarus dan lainnya terjadi akibat ulah dari kakeknya sendiri. "Jadi dengan begini apakah kau marah padaku dan juga dendam kepada seluruh anggota keluarga Kirijou Group yang telah membahayakan nyawamu untuk melakukan hal ini?" tanya Mitsuru kepada Reizato yang telah siap mendapatkan cemohan dan amarah dari laki-laki tersebut karena sudah dia perhitungkan dari awal sebelum dia memanggilnya. "Jika kau ingin melakukan hal tersebut, maka lakukanlah, aku tidak keberatan untuk di benci dan di hina olehmu" lanjut Mitsuru.

"Aku tidak marah, karena aku sudah tahu dari awal" ucap Reizato dengan tenang mengatakan hal tersebut kepada Mitsuru.

"Huh?" Mitsuru yang mendengarnya terkejut. "...Tapi... ini semua adalah kesalahan kakekku sampai merahasiakan informasi ini dari kalian semua dan membuat kalian membahayakan nyawa untuk melenyapkan kesalahan kakekku dan keluargaku ini. Seharusnya... hanya aku dan keluargakulah yang harus menanggung dan menebus dosa ini sendiri" Mitsuru kembali mengatakan hal tersebut.

"Berbicara tentang dosa, memangnya apakah hanya keluargamu saja yang punya Dosa? Tidakkan? Dosa itu setiap manusia pasti punya meski itu kecil atau besar-dosa tetap saja dosa." Ujar Reizato dengan tenang. "Dan jika dosa ini terlalu berat untukmu dan keluargamu jalani sendiri, maka biarkanlah kami untuk ikut menanggung dosa ini bersama denganmu karena kau... adalah teman kami. Dan selama kau punya kami-teman-temanmu yang selalu berada bersamamu, kau tidak akan sendirian ingat itu baik-baik!" dengan lantang, tegas, penuh ke yakinan meski sedikit santai dan Karisma yang tinggi, Reizato mengatakan hal tersebut kepada Mitsuru. "Sekarang, hitung dosa kita bersama!" lanjutnya sambil meniru gaya Kamen Rider W lagi.

"Hm?" Mitsuru yang mendengarnya hanya bisa bengong.

"Jadi, apakah kau mengerti apa yangku bicarakan tadi?" Reizato bertanya kepada Mitsuru dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Meski begitu... aku masih merasa bersalah kepadamu dan semua yang telah mengorbankan nyawanya untuk menghilangkan kejadian Dark Hour dan lainnya." Mitsuru masih merasa bersalah.

"Kalau begitu yang hanya perlu kau lakukan adalah percaya kepada kami semua yang akan selalu bersama denganmu." Reizato lalu berdiri, "Hoam~..." dan menguap. "Sudah ya, aku ingin tidur siang setelah selesai mengatakan semua hal itu padamu" lalu berjalan pergi menuju kepintu tapi setelah itu Mitsuru memanggilnya.

"Takeba-san" Mitsuru memanggil Reizao sehingga laki-laki itu kemudian menoleh ke arahnya.

"Hey, sudahku bilang panggil namaku Reizato" ucap Reizato.

"...Baiklah Reizato-san, aku hanya ingin tanya bagaimana keadaan adikmu?" Tanya Mitsuru yang ingin tahu keadaan Yukari.

"Mengenai itu, sepertinya tidak akan lama lagi dia akan kembali ke dirinya yang dulu" ucap Reizato yang mengira-ngira.

"Kalau begitu terima kasih, kau boleh pergi." Ucap Mitsuru kepada Reizato.

"Jangan lupa untuk nikmati hari minggumu ini." Setelah mengatakan hal tersebut, Reizato pergi dari sana.

"Benar-benar laki-laki yang aneh" Mitsuru mulai tersenyum namun hanya sebentar ketika mengingat perkataan Reizato bahwa dia tahu kejadian Dark Hour adalah kesalahan keluarga Kirijou Group setelah di jelaskan, "tapi tunggu, kenapa dia berkata sudah tahu dari awal? Apa jangan-jangan..." Mitsuru mulai mencurigai Reizato lalu pikiran positif menghampirinya. "...Mungkin Hiroshi-san sudah menceritakannya" pikirnya.

.

Menjelang hari ujian mulai berlangsung, sorenya seluruh tim SEES berkumpul di Ruang Tamu lantai satu. "Kemarin kita telah mengalahkan 2 Shadow secara bergiliran, sungguh melelahkan. Ditambah dengan ulangan nanti. Aku sepertinya stress..." ucap Junpei pada Minato, Minako, Yukari dan Fuuka.

"Ya aku juga, pikiranku rasanya mau pecah" keluh Minako.

"haah... kalian berdua ini..." Yukari menghelah nafas.

"Kenapa kalian tidak meminta liburan ke suatu tempat saja?" ajak Yoshino yang membuat semuanya langsung memandang ke arahnya, "Kenapa? Aku ganteng ya?" tanyanya dengan sombong ketika di pandang semua orang.

"Ide bagus! Tapi apakah Mitsuru-senpai setuju?" tanya Junpei dan semua menoleh ke arah Mitsuru.

"Aku..." Mitsuru merasa bingung untuk menjawabnya.

"Ya, setelah ulangan ini kalian akan pergi berlibur ke Yakhusima selama 3 hari 2 malam" Tiba-tiba Ikutsuki muncul dengan menyampaikan hal tersebut kepada semua orang yang ada di sana.

"Ikutsuki-san!" Mitsuru berteriak sedikit kaget karena perkataan Ikutsuki.

"Benarkah? HORE!" junpei berteriak dengan senang.

"Tidak apakan Mitsuru? Ini supaya yang lainnya tidak stress meski ada ayahmu yang sedang berkerja di sana tapi kita tidak akan mengganggunya, kan?" ujar Ikutsuki, "Apalagi aku juga punya sebuah urusan disana." Lanjutnya.

"...Baiklah, aku mengerti." Mitsuru kemudian berdiri dan meninggalkan suasana yang ramai di sana. Tidak lama kemudian Yukari mengejar Mitsuru sambil berteriak memanggil namanya dan menghentikan langkah gadis anggun berambut merah tersebut.

"Mitsuru-senpai, aku hanya ingin minta maaf atas apa yang terjadi di Command Room kemarin" ucap Yukari. "Jadi, apakah kau mau memaafkanku?" tanyanya.

Mitsuru tersenyum. "Ya, aku memaafkanmu, dan apakah kau mau memaafkanku juga karena telah menyembunyikan informasi ini darimu dan kawan-kawanmu?" tanya Mitsuru.

"Tentu saja, aku memaafkanmu seperti kau memaafkanku tadi. Apalagi sepertinya yang lainnya tidak menganggap hal kemarin sebagai masalah" ucap Yukari.

"Kalau begitu terima kasih Takeba, kau adalah teman yang baik" Mitsuru kemudian menaiki tangga dengan hati yang tenang sama seperti Yukari.

Reizato yang melihat ke arah mereka berduapun ikut tersenyum.

"Hey Rei-kun" Reizato kemudian menoleh ke arah Sayu yang memanggilnya.

"Ada apa?" tanya Reizato.

"Besok, ikut aku untuk membeli pakaian renang ya?" ajak Sayu dengan senyum bahagia.

CTAR!

Tubuh Reizato bagai tersengat petir setelah mendengar ajakan Sayu tersebut. "APA?" teriaknya terkejut karena mungkin besok adalah hari terakhirnya untuk hidup.

~To Be Continue~


Terima kasih untuk yang telah membaca cerita khayalan saya yang satu ini.

Luciano Fyro (CH 36): Terima kasih untuk reviewnya dan sebenarnya saya memang nebak kelamin setiap yang review cerita saya. Tapi saya sekarang tidak memikirkan hal tersebut.

IarIz (Ch 36): Terima kasih atas reviewnya. Sebenarnya Yukari itu lupa kalau punya Skill Charmdi ketika dirinya marah karena ingin menghajar Shadow Arcana Lover dan juga ketika dia khawatir kepada Minato yang tengah di kendalikan oleh Shadow tersebut.

Terima kasih untuk yang mereview dan maaf bila chapter ini ada yang salah. Tapi jangan lupa untuk...

~Review~