Persona 3: Petualangan Sang Kakak

Disclaimer: Persona 3 milik Atlus

Warning: OC, OOC dan kemungkinan ada character's dead*Author dibunuh* penuh dengan CrossHover dan GAJE.

Summary: Kesedihan mendalam dapat di rasakan oleh Reizato setelah selesai mendengar penjelasan rekaman ayahnya tersebut. Lalu apakah yang akan dirinya lakukan sekarang?


Sayu berjalan menuju ruangan kamar laki-laki untuk menemui Reizato. Diapun mengetuk pintunya dan berkata, "Rei-kun bolehkah aku masuk?" namun sayangnya tidak ada jawaban. Sayu membuka pintu tersebut dengan perlahan sambil mengintip. "Rei-kun, apa kau ada di dalam?" tapi tidak ada keberadaan tunangannya di sana. Gadis itupun masuk dan melihat keadaan kamar para laki-laki tersebut untuk mencari keberadaan Reizato tapi sia-sia, Reizato tidak berada di sana. "Kemana dia?" Sayu akhirnya pergi dan mencari Reizato di luar Villa dengan pikiran bahwa laki-laki tersebut tengah menyusul Minato yang sedang mengejar Yukari.

Setelah berada di luar Villa, Sayu tidak sengaja menemukan jejak kaki sepatu Reizato di sana. Di ikutinya jejak itu hingga menuju sebuah tebing curam di dekat laut dan diapun berhasil menemukan Laki-laki yang dia cari. Reizato duduk dengan santainya di ujung tebing curam sambil menatap bintang di langit. Pandangan laki-laki itu terlihat dingin, karena hatinya telah tersakiti oleh Rekaman Video yang dia lihat.

"Reizato-kun," Sayu memanggil nama laki-laki tersebut sambil tetap memegang topi bundar miliknya. Dia makin khawatir dengan keadaan Reizato.


~Chapter 39: Living With Determination~


Reizato sedikit menoleh ke arah Sayu ketika namanya di sebut dan setelah itu kembali menatap bintang di atas langit dengan wajahnya yang dingin. "Apa yang kau lakukan di sini?" Reizato mengatakan pertanyaan tersebut dengan dingin.

"...Untuk melihat keadaanmu" Jawab Sayu. Matanya menangkap sesosok laki-laki yang terpuruk.

Reizato memandang ke bawah, dilihatnya air laut sedikit tenang yang menabrak batu karang di bawahnya. "Terima kasih... tapi aku baik-baik saja karena diriku sedang memandang bintang yang ada di langit" ucapnya kemudian. Dirinya berusaha tidak membuat orang lain khawatir akan keadaannya, tapi sepertinya gagal... karena perasaannya kacau sama yang di alami oleh Yukari saat ini.

"Aku tidak percaya jika sekarang kau dalam keadaan baik-baik saja" Ucapan Sayu membuat Reizato yang mendengarnya hanya terdiam. "Aku mencemaskanmu, kau tahu?" Dia berjalan mendekati Reizato dan duduk di sebelahnya meski dia tahu bahwa bisa-bisa saja tebing yang dia duduki bersama Reizato sewaktu-waktu runtuh dan menewaskan mereka bersama. Tapi dia tidak peduli akan hal tersebut karena sementara waktu dirinya ingin menemani Reizato yang sedang terluka batinnya.

"Kenapa kau begitu mencemaskanku? Aku tidak perlu di cemaskan," Reizato mengalihkan pandangannya dari Sayu dan sedikit menggeserkan tubuhnya untuk menjaga jarak antara dirinya dan gadis tersebut. "Lebih baik kau kembali, mereka pasti mengkhawatirkanmu" lanjutnya.

"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu, Bodoh!" Sayu menggembungkan pipinya.

"Hahahaha!" Reizato tertawa dengan sarkastik dan memandang ke arah Sayu yang bingung, "Aku memang bodoh." Dirinya kemudian memandang bintang di langit lagi. "Selama 4 tahun... aku pergi dari rumah meninggalkan Imouto bersama Oka-san untuk mencari kebenaran di balik kematian Otou-sanku" lalu mengepalkan tangannya dengan erat, "Bukankah itu adalah tidakan terbodohku?" tanyanya kemudian. Air matanya mulai membasahi pipinya. "Aku memang bodoh..." perasaannya benar-benar tersakiti dan diapun mulai menangis, meski wajahnya masih terlihat dingin.

"Jika kau bodoh berarti aku juga bodoh!" Teriakan Sayu membuat Reizato menoleh ke arahnya. "Bukankah kau tahu bahwa aku... a-aku... AKU BEGITU SANGAT MENYUKAIMU! BODOH!" Pipi Sayu bersemu merah setelah mengatakan hal itu, tangannya semakin erat menggenggam topi bundar laki-laki tersebut.

"...Sa-Sayu" Reizato hanya bisa membelalakan matanya yang berair ketika mendengar hal tersebut, namun kembali memandang laut di bawahnya. "Aku tahu hal itu, lalu untuk apa kau mengatakan hal tersebut saat ini?" ucapnya demikian. Bagaikan seseorang yang telah kehilangan cahayanya lagi.

"Apakah menurutmu berteriak dan menangis di dalam hati dapat menyelesaikan masalah?" Pertanyaan yang di lontarkan Sayu membuat Reizato termenung sesaat.

Reizato kembali menatap bintang lagi. "Jika berteriak, menangis. Dapat menyelesaikan masalah, akan aku lakukan" ucapnya demikian. Tiba-tiba kedua tangan Sayu langsung menarik kepala Reizato dan memendamkannya lembut di dalam dadanya. Laki-laki itupun terkejut ketika terhimpit oleh dada sang gadis, "Sa-sa-hmph!".

"Kalau begitu lakukanlah, berteriaklah dan menangis sesuka hatimu di sini." Sayu semakin erat memeluk kepala Reizato. "Karena, aku akan selalu berada di sisimu" dan semakin erat hingga seluruh wajah laki-laki tersebut terbenam di belahan dadanya. Reizato akhirnya berteriak dan menangis di sana sesuka hatinya dengan tubuh yang gemetar makin kencang karena hal tersebut, Dia berusaha melepaskan diri namun gagal karena pelukan Sayu yang begitu erat membuat dia tidak berdaya. Beberapa menit kemudian Reizato berhasil lepas dan mulai mengambil napas sejenak. "Bagaimana? Apakah kau merasa baik sekarang?" Gadis itupun tersenyum dan menunnggu respon Reizato.

"BAIK APANYA? KAU INGIN AKU MATI?!" Reizato berteriak marah ke arah Sayu dengan pipi bersemu merah.

"Tapi bukankah Rei-kun bilang 'jika berteriak dan menangis dapat menyelesaikan masalah. Akanku lakukan.' Bukankah begitu?" Sayu mengulang perkataan Reizato barusan.

"Aku memang bilang begitu, tapi tidak sampai untuk melakukannya di tempat itu, Bodoh!" bentak Reizato sambil menunjuk dada Sayu.

Sayu berdiri dan membersihkan roknya. "Jadi apakah perasaanmu sudah lebih baik sekarang?" dia melepas senyumannya lagi ke arah Reizato.

Reizato hanya bisa mengalihkan pandangannya dari senyuman tersebut. "Sudah" ucapnya demikian dan berdiri, "Terimakasih." Lanjutnya.

Sayu kemudian menyerahkan topi milik Reizato. "Ini topimu," Reizato lalu mengambilnya dan memakainya kembali. "Ayo Rei-kun, kita kembali" ajaknya.

"Ya..." Reizato menerima ajakannya.

"Reizato Takeba," tiba-tiba Yoshino datang di hadapan mereka. "Aku mau berbicara denganmu sekarang!" Laki-laki itu entah kenapa ingin berbicara dengan Reizato untuk saat ini.

"Nii-chan?" Sayu mulai bingung kenapa kakaknya ada di sini.

Reizato yang juga bingung itupun menerima permintaan Yoshino, "Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya.

Yoshino yang dengan tampang seriusnya memulai pembicaraan. "Apa benar, Otou-sanmulah yang telah membuat Dark hour dan Tartarus ada, Reizato?" terdengar dari nadanya sedikit ingin mengetahui hal tersebut. Laki-laki itu sepertinya ingin melakukan sesuatu.

Reizato dengan expresi wajah tenangnya menatap mata Yoshino. "Jika dia mengakui kesalahannya melalui rekaman tersebut, Aku tidak bisa berkata apapun lagi" katanya demikian.

"Dan kau tahu itu?" Yoshino bertanya kembali.

"Sepertinya tidak," Reizato memegang kepalanya dan menggelengkannya sedikit, dia berusaha untuk mengingat sesuatu tapi gagal. "Karena setelah kejadian Otou-sanku meninggal... sebagian ingatanku menghilang" lanjutnya. Reizato yang mulai bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan Yoshino, bertanya, "Lockon, sebenarnya kenapa kau bertanya tentang hal tersebut?".

Yoshino mulai menghelah napas dan memejamkan matanya. "10 tahun yang lalu Otou-san dan Oka-san kami... mati terbunuh secara tidak langsung oleh Otou-sanmu. Itu terjadi setelah mereka mengajak kami untuk masuk ke sebuah gedung dimana waktu kita pertama kali bertemu denganmu," jelasnya sambil mengingat-ingat sesuatu. "Namun... Sayu yang berada di sana tidak ingat hal itu dan yang salah di sini bukanlah tuhan atau takdir, yang salah adalah penelitian yang di lakukan mereka di dalam gedung tersebut" lanjutnya, Laki-laki itu menundukan kepala. "Tapi entah kenapa penelitian itu harus di lakukan sampai membuat adanya Dark Hour dan Tartarus di dunia ini." Yoshino mengepalkan tangannya, "Aku tahu hal itu".

"Benarkah?" Reizato hanya bisa terkejut mendengar penjelasan Yoshino. Sementara Sayu yang mendengar kalimat dimana ayah dan ibunya mati terbunuh secara tidak langsung di tangan Ayah Reizato hanya bisa Shock dan rasanya ingin tidak mempercayai hal tersebut. "...Jadi, begitu." Reizato sedikit memperhatikan Sayu yang Shock dan tidak lama kemudian memandang kembali Yoshino.

"Aku tahu kau yang berada di sana juga sama seperti kami, tidak tahu-menahu apapun" Yoshino kembali memandang Reizato. "Dan kau yang mengalaminya telah kehilangan ingatanmu tidak seperti kami. Tapi akhirnya kami di seret ke dunia tidak adil ini dan kehilangan sebagian keluarga kami!" terdengar nada kesal yang di tahan dari setiap ucapannya," ...kami kehilangan mereka." Lanjutnya lagi.

"Apa itu yang membuatmu menjadi Persona-user?" Reizatopun akhirnya bertanya.

"Ya itu benar. Aku tahu sekarang, Aku berjalan mencari jawaban" jawab Yoshino yang menjawab pertanyaan Reizato. "Aku sekarang mencari cara agar Dark Hour dan Tartarus lenyap di dunia ini sehingga tidak ada lagi korban berjatuhan. Kalau aku punya kekuatan Luar biasa pasti aku bisa menyelamatkan orang-orang dan melenyapkan Dark Hour juga Tartarus segera" penjelasan Yoshino membuat Reizato termenung.

"Persona Gear" gumam Reizato.

"Aku tidak akan berhenti sampai Dark Hour dan Tartarus lenyap dari dunia ini sehingga dunia ini bisa berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya" ucap Yoshino kepada Reizato. "Tapi sebelum itu terjadi, ada sesuatu yang harus aku lakukan." Yoshino kemudian mengeluarkan pistol dan langsung menondongkannya ke kepala Reizato. Sayu yang melihatnya kaget sementara Reizato hanya terlihat tenang-tenang saja.

"NII-CHAN!" Sayu berteriak ke arah kakaknya.

Yoshino tidak menghiraukan teriakan Sayu. "Reizato. Aku benar-benar ingin menembakmu sekarang" katanya kepada Reizato dengan tetap menodongkan pistolnya. "Biarkan aku membalaskan dendam kedua orang tua kami" Lanjutnya dengan nada sedikit berbisik. "Biarkan aku menyelesaikan semuanya ini" Yoshino mulai menarik pelatuk pistol tersebut.

"HENTIKAN!" Sayu berada di antara mereka untuk menghentikan kakaknya tapi...

Klek!

DHOR!

Yoshino sengaja melesetkan tembakannya hingga membuat lubang pohon di belakang Reizato dan memotong sedikit helai rambutnya yang kena. "NII-CHAN!" Sayu kini menatap marah ke arah kakanya. "Aku tidak akan membiarkanmu menembak Rei-kun karena aku begitu menyukainya meski secara tidak langsung Otou-sannya telah membunuh keluarga kita tapi aku telah memaafkannya, jadi hentikan!" pintah Sayu namun tidak di hiraukan oleh kakaknya meski kini mata dan pipinya berlinang air mata karena sedih melihat ini terjadi.

Reizato menutup matanya. "Ah... aku ingat dulu Otou-sanku pernah berkata carilah teman sebanyak mungkin. Dan aku telah melakukannya. Selama 4 tahun terakhir ini, aku pergi dari rumah untuk mencari kebenaran di balik kematian Otou-sanku. Meninggalkan Imouto dan Oka-san sendiri di rumah. Namun di tengah perjalanan... aku menemukan yang di maksud oleh Otou-sanku. Setiap kali aku meninggalkan mereka, aku menemukan teman baru lagi. Itulah yang membuatku tidak putus asa untuk mencari kebenaran di balik kematiannya selama 4 tahun terakhir ini." ucapnya seraya membuka matanya dan maju di depan Sayu, tidak memperdulikan keberadaan gadis tersebut di sana. "Tapi... setelah melihat rekaman Video itu, aku rasa tidak bisa untuk mempercayainya." Perkataan Reizato membuat Yoshino heran.

"Jadi itu bukan salah Otou-sanmu?" Yoshino semakin menggenggam erat pistolnya dan ingin menembak Reizato lagi.

"Hentikan!" Sayu kembali berada di depan Reizato.

"Perasaanku mengatakan padaku untuk tidak mempercayai rekaman tersebut" jelas Reizato yang kembali berada di depan Sayu.

"Jelaskan kenapa?" tanya Yoshino.

"Karena, aku percaya. Jika yang di katakan otou-san melalui rekaman tersebut bukanlah yang dia ingin katakan seperti sebelumnya" penjelasan Reizato kini membuat Yoshino dan Sayu semakin bingung.

"Kalau begitu, Reizato! Aku ingin menanyakan yang ini" Yoshino berpikir sebentar. "Apa yang ingin kau lakukan dengan kekuatan Persona?" tanyanya.

Reizato dengan tenang menjawab, "Menghapuskan kekacauan dunia".

"Kau tak akan bisa melakukannya kalau aku menembakmu" jelas Yoshino yang masih tetap menodongkan pistol ke arah Reizato.

"Aku tidak peduli" ucap Reizato dengan tenang. "Kau yang lebih bisa melakukannya di banding aku" lanjutnya. "Gantikan aku mengubah dunia yang kacau ini" lanjutnya lagi. Reizato melepaskan topinya, "Tapi selama aku masih hidup, aku yang akan terus berjuang" wajah Reizato terlihat sedikit serius. "Bukan sebagai Kamen Rider..." wajahnya kini semakin serius, "Tapi sebagai Manusia biasa Persona-Meister, Reizato Takeba." Ucapnya dengan penuh keyakinan dan keberaninan.

"Persona-meister?" sebuah kebingungan muncul di benak Yoshino.

"Itu benar," Reizato kembali memakai topinya, "Ore ga Joka".

Yoshino hanya terdiam ketika mendengar perkataan Reizato. "heh, hahahaha!" tidak lama kemudian dia tertawa dan berhenti menodongkan pistol ke arah Reizato. "Ini sangat gila, aku jadi tidak ingin menembakmu lagi." Lalu menyimpan pistolnya. "Kau benar-benar penggila Gundam." Pujinya.

"Terima kasih" Entah kenapa Reizato malah berterima kasih dan membuat Yoshino berhenti tertawa untuk memasang expresi bingung di wajahnya. Terlihat senyuman terukir di wajah Reizato, "Itu pujian yang besar." Lanjutnya.

Yoshino kembali terdiam sejenak kemudian kembali tertawa lagi, "HAHAHAHAHAHA!" Dia kali ini benar-benar tidak bisa menahan tawanya. Sayu yang melihat hal itu hanya sweatdrop karena tidak tahu ada apa dengan kakaknya.

.

"Jadi, ini manusia?" Tieria yang melihat keadaan di sana melalui bola kaca Igor bersama kakek tua tersebut bernapas lega setelah melihat ketegangan yang terjadi di sana.

.

Tidak lama kemudian Tatsuya berhasil menemukan Yoshino saat dirinya di tinggal jauh oleh laki-laki tersebut di dalam hutan. Di ikuti dengan Junpei, Yukari dan Minato yang tidak sengaja mendengar suara tembakan.

"Kami cepat-cepat datang kesini karena mendengar suara tembakan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tatsuya yang berusaha mengambil napas.

"Ah kami tadi main petasan yang suaranya hampir mirip seperti suara tembakan, mau ikut main?" Yoshino menunjukan petasan yang dia simpan di sakunya dan menawarkannya pada yang lain.

"Ternyata hanya petasan, syukurlah. Aku kira akan terjadi sesuatu kepada Nii-san" ujar Yukari.

"Lalu lubang di pohon itu apa?" tanya Minato yang menunjuk sebuah lubang peluru di pohon yang di buat oleh Yoshino.

"Oh, itu lubang yang aku buat karena main petasan tadi dengan ini" Yoshino langsung menunjukan pistol yang dia pakai untuk menembak Reizato. Semua yang melihatnya kaget tidak main.

"PISTOL? KAU MEMBAWA PISTOL?" teriak semua orang kecuali sang penembak dan dua saksi di tempat kejadian tersebut.

"Eits, ini pistol mainan yang aku pakai buat main petasan." Yoshino lalu menunjukan cara mainnya, "Caranya begini dan tembak!" lalu menembakannya ke tanah hingga membuat suara tembakan itu terdengar lagi.

"Ja-jadi, itu hanya pistol mainan?" Sayu tidak percaya dengan apa yang dia alami barusan.

"Benar, memangnya kau kira Nii-chan akan membawa pistol sungguhan untuk berlibur di Yakhusima. Memangnya buat apa?" tanya Yoshino yang menyimpan kembali petasan dan pistol tersebut.

"Ta-tapi Rei-kun..." Sayu menoleh ke arah Reizato yang memandang bintang.

Reizato yang merasa di pandang Sayupun bertanya padanya, "Kenapa kau memandangku?"

"Jadi tampangmu tenang-tenang selama ini karena kau tahu jika yang di pegang Onii-chan adalah pistol mainan?" tanya Sayu yang ingin mendapat jawaban dari Reizato.

"Iya" jawab Reizato.

"Sejak kapan?" tanya Sayu lagi.

"Sejak aku tidak sengaja melihat benda tersebut di balik tas kakakmu saat berada di kapal" jelas Reizato.

"Jadi... selama ini... usahaku..." Pipi Sayu merona merah ketika dia mengingat saat dimana dia melindungi Reizato barusan.

"Hehehehe..." Yoshino tertawa, "Tadi itu so sweat banget loh" pujinya.

"Nii-chan..." Sayu tersenyum dan perlahan mendekati Yoshino.

"Lebih baik kita pulang yuk, tidak lama lagi Dark Hour" Yoshino akhirnya kabur.

"NII-CHAN! BERHENTI!" Sayu langsung mengejar Yoshino, bersama yang lainnya untuk kembali ke Villa Mitsuru.

"Hm?" Reizato menoleh ke arah sekitarnya. Dia merasa ada seseorang yang memandangnya tajam secara sembunyi-sembunyi.

"kenapa Reizato-san?" tanya Minato yang bingung dengan tingkah Reizato.

"Aku sepertinya merasa ada yang sedang memandangku secara sembunyi-sembunyi lagi di sekitar sini" ujar laki-laki berambut coklat susu berantakan tersebut.

"Sama denganku, aku juga merasa ada yang memandangku secara sembunyi-sembunyi sejak berada di pantai" perkataan Minato membuat Reizato sedikit terkejut.

"Kalau begitu, sebaiknya kita harus berhati-hati" Reizatopun menyarankan, "Kita tidak tahu siapa yang menstalk kita. Semoga bukan Yandere atau sejenisnya" perkataannya membuat Minato merinding ketakutan.

"Aku juga berharap bukan yang begituan, lebih baik kita pergi" akhirnya mereka berdua berlari menyusul yang lainnya.

.

Di balik semak-semak nampak dua buah bola mata berwarna biru di sana. "Aku telah menemukanmu." lalu kedua mata itu tidak nampak lagi di sana.

~To Be Continue~


Padahal mereka sedang liburan tapi kok ada ketegangannya? Apalagi pistolnya ternyata pistol mainan, benar-benar ketipu. Maaf ya untuk bagian cerita yang aneh ini bagi para pembaca untuk di baca Terimakasih untuk

di baca. Terimakasih Reviewnya bagi para pembaca yang telah ikhlas telah mereview cerita saya, Saya sampai terharu dengan review kalian bahkan hampir Review ke seratus nih. Terima kasih KagaHinaSato dan maaf ya, soalnya Reizatonya tadi tengah di hangalin Yoshino, jadinya nggak bisa lihat momen MinaYuka. Untuk Luciano Fyro juga terima kasih atas ketelitiannya dan sudah saya perbaiki.

Oh ya, Author Sp-Cs mengucapkan Selamat menunaikan Ibadah Puasa 1434 Hijriyah untuk yang menunaikan. Mohon maaf lahir dan batin. Juga semoga puasa kalian bulan ini PENUH!

Dan yang sudah membaca tapi belum mereview, jangan lupa untuk...

~Review~