Persona 3: Petualangan Sang Kakak
Disclaimer: Persona 3 milik Atlus
Warning: OC, OOC dan kemungkinan ada character's dead*Author dibunuh* penuh dengan CrossHover dan GAJE.
Summary: kini saatnya bagi sang Stalker muncul, siapakah dia?
Ini adalah hari kedua mereka berada di Yakhusima. Junpei, Minato dan Akihiko tengah berkumpul di pantai untuk menikmati liburan mereka. Mereka bertiga tengah menunggu para perempuan sebelum memulai liburan di pantai. Akihiko yang tidak bersabar segera bertanya kepada Junpei, "Mana para perempuan?".
"Entahlah, mungkin mereka terlambat" jawab Junpei dan setelah itu dia menunjukan sebuah surat yang sepertinya di tulis oleh Fuuka, "Oh ya, aku tadi menemukan surat ini di depan pintu kita dan yang menulisnya adalah Fuuka" ucapnya. "Bagaimana kalau kita baca?" tanyanya dan akhirnya mereka bertiga membaca surat itu.
~Chapter 40: Stalker~
Di tempat lain...
Para Gadis sedang berjalan-jalan di atas jalan setapak untuk menghirup udara segar di dalam hutan dan pergi ke suatu tempat.
"Fuuka, apakah kau sudah mengirim pesan kepada yang lainnya bahwa kita tidak akan pergi ke pantai hari ini?" tanya Yukari yang memastikan .
"Sudah, aku telah menulis surat dan menaruhnya di depan pintu mereka," jelas Fuuka, "Mungkin Junpei-kun dan yang lainnya saat ini sedang membacanya" lanjutnya.
PIP! PIPPP!
Tidak lama kemudian Hp Mitsuru berbunyi. "Halo?" Mitsuru mengangkat Hpnya dan bertanya kepada sang penelepon, "Oh Ikutsuki-san..." sang penelepon adalah Ikutsuki. "apa? Oh baiklah." Mitsuru menutup teleponya setelah mengetahui bahwa ada yang gawat dan diapun menghelah napas.
Yukari, Sayu, Fuuka dan Minako hanya bisa bingung melihat Mitsuru.
"Ada apa Senpai?" tanyak Yukari.
Mitsuru memandang ke semua teman-temannya. "Senjata anti-Shadow yang di kembangkan di laboratorium Kirijou Group menghilang" penjelasannya langsung membuat semua yang mendengarnya kaget bagaikan petir yang menyambar di pagi hari yang damai.
"Apa?"
"Hari ini kita harus mencarinya karena di perkirakan senjata itu masih ada di sekitar sini" jelas Mitsuru.
.
"Hah?" Akihiko kaget setelah membaca surat tersebut. "Ya ampun, mereka ternyata sedang pergi ke suatu tempat" laki-laki petinju berambut abu-abu itupun merasa kecewa berat.
"Jadi apa yang harus kita lakukan di sini?" tanya Junpei dan sebuah jawaban terlintas di dalam pikirannya, "oh... aku tahu apa yang harus kita lakukan di sini" sebuah senyuman nakal dia tunjukan. Minato dan Akihiko yang melihat senyuman tersebut bingung apa yang di pikirkan oleh laki-laki bertopi baseball biru ini.
"Jadi, apa itu? Cepat katakan?" tanya Akihiko.
"Bagaimana kalau kita membuat sebuah permainan?" ajak Junpei yang masih tersenyum nakal dan membuat dua laki-laki yang ada di depannya masih bingung.
"Permainan seperti apa?" tanya Minato yang dari tadi diam.
"Begini..." Junpeipun menjelaskan permainnanya, dimana dia dan lainnya berusaha mengajak satu orang gadis untuk bersedia menemani mereka. "Bagaimana? Kalian setuju?" laki-laki berjenggot itupun menunggu respon mereka.
"Sepertinya menarik juga, sesekali saja kita coba" Akihiko menanggapinya dengan senang. "Bagaimana menurutmu?" laki-laki itupun meminta pendapat Minato.
"Terserah" Minato menjawab seadanya.
"Oke! Ayo kita mulai Operation Baby Hunt!" Teriak Junpei dengan semangat 45.
Di sisi lain...
Reizato, Yoshino dan Tatsuya juga ada di pantai tersebut. Mereka membawa bola voli untuk bermain Voli pantai di sana. Namun sayang, karena Sayu ikut dengan para gadis lain... mereka jadinya kekurangan orang untuk bermain permainan tersebut.
"Argh! bagaimana ini? Kita jadi kekuarangan pemain." Yoshinopun mengeluh, dia kemudian memantul-mantulkan Bola voli tersebut di atas kepalanya bagai pemain sepak bola.
Tatsuya lalu menoleh ke arah Minato, Junpei dan Akihiko yang tidak jauh dari tempat mereka berada. "Bagaimana kalau kita ajak mereka?" ajaknya sambil menunjuk ke arah tiga siswa laki-laki tersebut.
"Hm..." Yoshino berpikir sebentar, "Oke! Reizato, ajak mereka kesini!" pintahnya dengan senang kepada Reizato.
"Kenapa harus ak-"
"Loe mau hidup?" Yoshino langsung menodongkan pistolnya ke wajah Reizato tanpa sempat menyelesaikan perkataannya tersebut.
"Oke-oke-oke!" Reizato langsung berlari ke arah tiga siswa yang ada di sana.
"Phew... hanya di todongin Evoker saja takut" jelas Yoshino sambil memutar-mutar Evoker yang dia pegang itu layaknya mainan sampai membuat Tatsuya yang melihat hal tersebut sweatdrop.
"Hoi," Minato, Junpei dan Akihiko langsung menoleh ke arah Reizato ketika merasa ada yang memanggil mereka. "Kami mau main Voli pantai tapi kekurangan orang, apa kalian mau ikut?" ajak Reizato.
"Maaf Reizato-san, kami sedang sibuk." Ucap Junpei yang tersenyum nakal dan mereka bertigapun pergi.
"Oh baiklah..." Reizato merasa lemas dan diapun menghelah napas karena ajakannya di tolak. Akhirnya Reizato kembali ke Yoshino dan Tatsuya.
"Bagaimana?" tanya Yoshino yang tidak sabar menunggu penjelasan Reizato. Reizato menggeleng dan akhirnya membuat dua orang di depannya menghelah napas tanda kekecewaan.
"Apakah kalian sedang kurang pemain untuk bermain voli pantai?" tiba-tiba seorang laki-laki berkacamata dan berambut ungu setengah panjang bertanya kepada mereka.
"Ka-Kau..." Yoshino yang mengetahui siapa laki-laki tersebut terkejut dan membuat Reizato juga Tatsuya menatap ke arahnya karena bingung, "Tieria? Bagaimana kau ada di sini?".
Laki-laki yang ternyata Tieria Erde sang asisten Igor itu mulai menjelaskan, "diriku ke sini untuk membatu anda melengkapi anggota pemain setelah minta izin pada Igor-sama".
Ketika dirinya menyebut nama Igor, Reizato dan Tatsuya kaget. "Igor? Kau kenal dia?" tanya mereka bersamaan sampai akhirnya Yoshino yang mendengar mereka berdua bertanya tentang Igor juga terkejut.
"Ka-kalian juga kenal dengan kakek tua itu?" tanya Yoshino. Tiba-tiba keadaan berubah menjadi hal yang sangat membingungkan untuk di jelaskan.
"Ehem..." Tieria berdeham untuk memecahkan suasana penuh dengan kebingungan tersebut, "Bagaimana kalau kita berempat segera main Voli pantai dulu darpiada hari libur kalian habis untuk menjelaskan hal itu?" tawarnya yang akhirnya di sepakati oleh tiga laki-laki tersebut dan mereka mulai bermain Voli pantai dua lawan dua.
Tidak lama setelah itu di sisi lain...
"Sial!" umpat Junpei kesal karena dirinya, Minato dan Akihiko gagal untuk mengajak satu gadis di pantai untuk menemani mereka. "kita gagal!" umpatnya lagi.
"Tenanglah, masih ada cewek-cewek lain di dunia ini" hibur Akihiko. "Bahkan cewek jadi-jadian tadi juga masih ada banyak di dunia ini kalau kamu mau." lanjutnya yang membuat Junpei dan Minato sweatdrop.
"Hiks... aku nggak mau cewek jadi-jadian!" Junpei akhirnya menangis. Dia kemudian menoleh ke arah Akihiko dengan tampang marah, "Ini salah Senpai! Seandainya senpai bisa berbicara dengan jelas untuk menghadapi para gadis, pasti hasilnya tidak jadi begini. Dasar Protein Junkie!" Perkataannya membuat Akihiko marah.
"Salahku? Justru itu salahmu, kenapa tampangmu kaya kambing sampai-sampai membuat wanita di dunia ini dan diriku nggak mau sama dirimu?" balas Akihiko yang juga marah.
"Apa?" bentak Junpei, dirinya lalu menoleh ke arah Minato yang hanya terdiam sambil mendengarkan lagu Mp3 miliknya. "Minato, sebenarnya siapa di sini yang salah?" tanyanya.
"Hm?" Minato mematikan Mp3nya dan memasang wajah bingung, "hmm... salah Author yang nulis cerita ini mungkin" ujarnya dan kembali mendengarkan lagunya lagi.
"WOY! ENAK SAJA!" tiba-tiba author muncul di belakang Minato dan berteriak marah padanya, "SAYA DI SINI HANYA MENULIS CERITA MBAK-MAS!" lanjutnya. "Jika kau menyalahkan aku lagi, nanti aku akan pindah ke Fandom Valvrave The Liberator, To Love-Ru, Shingeki no Kyojin, HighSchool DXD, OVJ(?) dan lain-lain untuk tidak melanjutkan cerita ini!" ancam Author yang bersiap membuat cerita untuk Fandom tersebut.
"Jangan begitu Author..." Minato mulai memohon dengan tampangnya yang datar, "Sayakan hanya bercanda." Lanjutnya.
"Ya baiklah, saya maafkan mumpung ini sedang bulan puasa di waktu saya." Ucap Author, "Oke, lanjutkan ceritanya!" Author Sp-Cs langsung kembali ke rumah untuk melanjutkan tidur siangnya. *Author di lempar Mobil 25 Inc(?)*
"Ok, aku tarik kata-kataku tadi," Minato mulai mengulang bagian tadi, "Ini salah Junpei" dan dia kembali mendengarkan musiknya.
"APA?" Junpei tidak menerima atas jawaban Minato, "MIN, KENAPA LOE TEGA SAMA DIRIKU? PADAHAL... kita..." Tiba-tiba perlahan-lahan raut wajah Junpei yang marah tadi berubah menjadi wajah ketika seseorang sedang terhipnotis. "oh... gadis itu manis sekali..." Ucapannya membuat Akihiko dan Minato bingung.
"Hei, apa kau sadar?" Tanya Akihiko yang memastikan. "Hei, apa yang kau... lihat..." tiba-tiba (lagi) dirinya juga memasang wajah orang terhipnotis saat melihat seorang gadis manis, berambut pirang, berbando merah dan memakai Sundress warna biru tengah memandang laut di atas jembatan papan kayu tempat sebagai kapal-kapal kecil berlabuh.
"Baiklah, ini adalah kesempatan terakhir kita," Junpei menjelaskan maksudnya dari balik batu bersama yang lain. "Kita bertiga akan mencoba mengajaknya dan mari kita suit untuk menentukan siapa yang pertama maju" Di mulailah suit gunting, batu dan kertas.
Di awal Minato kalah, babak ke dua Akihiko kalah yang berarti Junpeilah orang pertama yang akan mencoba untuk mengajak gadis tersebut bersamanya.
"Oke semua, doakan aku menang ya~" Junpei maju menghampiri gadis tersebut.
"Ogah!" sahut Akihiko dan Minato.
"Hai~" Junpei memulai percakapan dengan gadis pirang tersebut. Gadis pirang itupun menoleh ke arah Junpei tapi tidak beberapa lama kemudian dia memandang laut kembali. "ehem..." sedikit berdeham, laki-laki bertopi baseball itu bersiap berbicara. "Hari ini cerah banget ya dan pantai ini ramai pengunjung." Ucapnya melihat suasana sekitar.
Gadis itu akhirnya menoleh ke arah Junpei. "Suhu hari ini 37 derajat dan suhu permukaan air laut 35 derajat. Cuaca hari ini di perkirakan cerah" setelah berkata demikian, gadis pirang itu kembali menoleh ke arah laut. Meninggalkan Junpei yang hanya bisa terkejut dengan apa yang di katakan gadis itu. Laki-laki berjanggut sedikit tebal itupun menyerah dan kembali ke teman-temannya.
"Kau berhasil?" tanya Akihiko yang penasaran.
"Tidak, dia bahkan tidak menyebutkan namanya" ucap Junpei.
Akihiko berdiri, "Sekarang giliranku. Doakan ya semoga aku bisa!" dia mulai menghampiri gadis itu.
"Oke!" sahut Junpei dan Minato.
"Ehem..." Akihiko berdeham, bersiap memulai percakapan dengan gadis tersebut. "Bapak kamu tukang bakso ya?" tanyanya dan berhasil membuat gadis pirang itu menoleh, "Soalnya kau telah membaksokan hatiku~" Entah kenapa Akihiko malah menggombal. Gadis pirang itu hanya bingung namun kembali lagi memandang laut. "Lupakan yang tadi, bolehkah aku bertanya kepadamu? Kenapa kau memandang laut?" pertanyaan Akihikopun berhasil membuat sang gadis menoleh ke arahnya untuk menjawab.
"Laut itu aneh, bisa kau jelaskan kenapa laut itu biru dan terasa asin?" tanya Gadis itu. Akihiko berusaha mati-matian mencari jawabannya sampai beberapa menit telah berlalu.
"Waow, senpai lama banget, pasti dia berhasil?" pikir Junpei pada Minato.
Tidak lama kemudian Akihiko kembali dengan lemasnya ke pada mereka. "Hai semua, aku gagal" ucapnya.
"Apa?" mereka berdua kaget.
"Gadis itu mengatakan sesuatu yang tidak ku mengerti" ucap Akihiko.
"Oke Min, sekarang giliranmu dan kau kali ini harus berhasil ya!" Junpei mendorong Minato untuk keluar. "Ayo Min! Semangat!" teriak Junpei.
Minato menghelah napas, "Kenapa aku harus melakukan ini?" dia hari ini sangat malas untuk melakukannya tapi tidak ada pilihan lain, ini hanya untuk menghabiskan sisa liburnya di Yakhusima. Minato dengan perlahan mendekati gadis tersebut. Dia mulai berpikir kata apa yang harus dia katakan pertama kali. Tidak lama kemudian dia sadar harus memilih kata apa yang tepat. "Piye kabare mbak? Kowe nang kene lapo? kok laute di pentengi?" kata dimana bahasa jawa sangat tepat untuk memulai percakapan. *Author di hajar Minato FC*
Gadis itu sepontan menoleh ke arah Minato dengan cepat dan entah apa yang di katakan gadis itu sangat tidak bisa di mengerti oleh Minato bahkan Author karena sangat malas untuk menulis perkataannya. *di lempat sendal satu roda namun yang kena Ariel(?)*
"Apa yang dia katakan?" Junpei dan Akihiko tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Minato dan Gadis tersebut, tapi mereka bisa melihat keadaan Minato hingga terjadi kesalapahaman di mata mereka yang akhirnya mereka mendekati Minato. Tidak lama mereka sampai, Gadis itupun pergi berlari dengan sangat kencang. "Min, kenapa gadis itu lari? Apa kau melakukan sesuatu padanya ya?" tanya Junpei yang memasang wajah marah karena tidak tahu yang terjadi.
"Apapun yang kau lakukan padanya cepat kejar dia dan minta maaflah! Bisa-bisa kita berada dalam masalah!" Pintah Akihiko yang juga marah pada Minato.
"Ta-tapi aku..."
"SUDAH CEPAT!" belum sempat Minato menyelesaikan ucapannya, Junpei dan Akihiko langsung berteriak pada laki-laki berambut biru emo itu dan mendorongnya ke arah dimana gadis itu lari masuk ke hutan. Akhirnya dengan pasrah, Minato mengejar gadis tersebut.
Di sisi lain...
Tieria tengah bersiap melakukan Servis bawah untuk memulai babak ke delapan belas pertandingan Voli pantai mereka dengan kekalahannya yang ke delapan belas kali. "Bersipalah! terima SERAVEESKU!" Tieria akhirnya melakukan Servis bawah itu penuh dengan kekuatan dan teriakan semangat meski salah karena kesal kalah terus sampai akhirnya bola Voli itu terlempar jauh masuk ke dalam hutan.
"NOOOOO! BOLANYA MASUK KE HUTAN!" teriak Yoshino histeris ketika melihat hal itu, sementara Reizato yang berada di sisi Tieria hanya sweatdrop melihat laki-laki berambut ungu panjang dan berkacamata itu merasa sedikit bangga akan servisnya yang indah. "CEPAT! KITA HARUS MENCARI BOLANYA BERSAMA-SAMA! JANGAN SAMPAI HILANG!" pintah Yoshino dan mereka berempat akhirnya mencari bola Voli itu di dalam hutan bersama-sama.
Minato yang masih tengah mengejar gadis itu, sampai di depan sebuah pohon besar di sana. Dia menoleh ke sekitar pohon besar itu untuk mencari keberadaan gadis pirang misterius. Tidak lama kemudian dia merasakan ada yang menstalk dirinya lagi seperti sebelumnya. Di saat bersamaan pula dia berhasil menemukan gadis pirang itu yang bersembunyi di belakang papan dekat pohon besar itu berada. Minato menyadari bahwa yang menstalk dia dan Reizato adalah gadis itu, tapi mengapa?
Minato segera membuyarkan lamunannya dan mendekati gadis itu untuk meminta maaf. Tidak sampai Minato melangkahkan kakinya, gadis itu berlari mendekatinya dan berkata "Aku menemukanmu." Dan membuat remaja berambut biru emo itu bingung bercampur kaget tidak main, siapakah gerangan di depannya? Sebuah pelukan di dapati remaja tersebut dari gadis itu secara tiba-tiba, membuat Minato sesak untuk bernapas. "Aku telah lama menunggumu" lanjut perkaataan gadis misterius tersebut.
Minato berusaha melepaskan pelukannya namun gagal dan tidak lama kemudian, mata remaja itu menangkap sebuah bola Voli dari langit yang akan jatuh tepat mengenai kepala sang gadis. "Awas!" Minato dengan cepat memutar posisi mereka dan akhirnya kepalanyalah yang terbentur bola Voli tersebut dengan sangat keras hingga dirinya dan gadis itu terjatuh ketanah dalam posisi dimana Minato berada di atas tubuh gadis itu dan menabrak tubuh gadis pirang yang berada di bawahnya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Minato yang memandang mata biru mudah gadis itu dengan mata biru tua miliknya. Kini posisi tubuh mereka layaknya seperti If you know what I mean.
"Hoi! Sepertinya jatuhnya tepat di sana!" terdengar teriakan Reizato dari dalam semak-semak.
"R-Reizato-san?" ("jika dia melihat ini pasti dia salah paham!") Minato cepat-cepat berdiri tapi secara spontan tubuhnya kembali di peluk dengan erat oleh gadis misterius itu. ("A-apa yang di lakukan gadis ini?") Minato kembali berusaha melepaskan pelukan gadis itu namun gagal.
"Aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Gadis pirang itu.
"Mi-Minato-kun, k-kau sedang apa di sini? Kok memakai celana renang?" terdengar suara Fuuka di belakangnya dan berhasil membuat remaja berambut biru emo itu mengeluarkan keringat dingin.
"Fuuka apa yang kau lihat?" terdengar juga suara Yukari di belakang Minato.
("Oh tidak!") Minato semakin ketakutan dan tidak lama kemudian dia merasa semua orang sudah berkumpul di sekitarnya dan terkejut melihat keadaannya saat ini.
"Ini bolanya! Aku dapat!" teriak Reizato yang mendapatkan kembali bolanya tapi setelah itu dia jatuhkan ketika melihat Minato tengah berada di atas tubuh seorang gadis. "Ka-ka-ka-a-a-au... GYAAAAA!" dengan segera Reizato menutup matanya dan dirinyapun gemetar ketakutan.
"MINATO-KUN! KAU!" Yukari terdengar marah di telinga Minato.
"Tidak kusangka Nii-sanku..." kini terdengar suara Minako yang kecewa dengan apa yang dia lihat.
"A-Arisato?" Mitsuru tampak terkejut.
"Minato-kun..." Fuuka juga tampak terkejut.
"Oh Shit! Min! Tega sekali kau!" teriak Junpei yang histeris.
"Oh sial... aku iri dengannya! aku tidak bisa sedekat itu dengan gadis!" teriak Akihiko yang begitu iri.
"HEY DENGARKAN AKU DULU! AKU BISA JELASKAN!" teriak Minato pada semua yang salah paham padanya.
"Aku tidak akan melepasmu!" ucapan gadis berambut pirang yang memeluk Minato itu membuat semua orang kembali terkejut
"TATSUYA! ADA PENJAHAT KELAMIN!" teriak Yoshino yang menunjuk ke arah Minato.
"Penjahat itu, mungkin akan di penjara selama 20 tahun!" ucap Tatsuya yang tengah menyiapkan borgolnya.
"Jadi seperti ini cara manusia membuat manusia, menarik." Sahut Tieria yang tengah membenarkan kacamatanya.
"Ih..." Sayu hanya bisa jawdrop melihat keadaan Minato.
"TATAKAE! TATAKAE! TATAKAAEE!" teriak Eren jeager yang entah kenapa berada di sana.
"Watashi wa Tsuyoi..." sahut Mikasa Ackreman yang juga entah kenapa berada di sana.
"RASENGAN!" teriak Naruto yang juga entah kenapa bisa berada di sana.
"DAFUQ! DAFUQ! DAFUQ!" umpat Author yang telah bangun dan berusaha tidak mempercayai dengan apa yang dia lihat.
"Seperti Singa yang menerjang semua rintangan!" teriak Cowboy Junior yang muncul dan nyanyi di sana.
"DEMI TUHAN!" teriak Arya Wiguna yang memukul meja sampai hancur.
"THIS IS SPARTA!" teriak para aktor pemain film 300.
"Cius? Miapa?" tanya para alayer yang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Dia mulai lapar?" tanya komentator.
"Mulai~ lapar~" goda para pemain sepak bola sambil nari-nari.
"DIAM!" teriak kakek tua penonton sepak bola di sana lalu melempari Minato dengan Snickers, tapi sayang tidak berhasil karena yang menangkapnya adalah seorang kiper yang kelaparan dan Snicker itu langsung dia makan.
"SUNGGUH! AKU BISA JELASKAN!" teriak Minato sekali lagi yang sepertinya terpojok dan merasa tersiksa dengan keadaan yang menekannya dari segala arah.
Tiba-tiba Reizato yang menutup mata berhenti gemetar ketakutan karena dia merasa hal tersebut tidak membuat dia takut seperti biasa, "Ini aneh?" tanyanya lalu melihat Minato yang di peluk oleh gadis misterius tapi hal itu tidak membuat dia merinding ketakutan. ("Seharusnya aku takut ketika melihat mereka, tapi kok tidak ya?") pikirnya lalu menatap dalam-dalam ke arah Minato tapi nihil, dia tidak merasa takut gemetaran. Kemudian di lihatnya gadis yang memeluk Minato yang sepertinya sudah dia kenal, ("Entah kenapa aku merasa pernah mengenal gadis itu?") pikirnya lagi dan tiba-tiba kepalanya terasa sedikit sakit untuk mengingatnya, "Aduh, kepalaku!".
"Ah di sini rupanya." Tidak lama itu semua orang menoleh ke arah Ikutsuki yang datang. "Sekarang kita kembali untuk memeriksa sistemmu" laki-laki itupun menghampiri gadis pirang itu dan membantunya berdiri.
"Sistem?" tanya semua orang yang tidak sengaja mendengar kalimat 'sistem' dari mulut laki-laki tua berkacamata berambut coklat gondrong tersebut.
"Ah kalian belum tahu ya?" tanya Ikutsuki pada semua orang di sana. "Android yang mirip dengan manusia ini adalah senjata anti-Shadow yang tengah di kembangkan, Biar ku jelaskan di laboratorium".
.
Sorenya mereka segera pergi ke laboratorium Kirijou yang berada di belakang Villa Mitsuru untuk meminta penjelasan atas apa yang terjadi kepada Minato barusan dari Ikutsuki. Namun mereka menunggu tanpa adanya Reizato, Yoshino dan Tatsuya karena sepertinya para pemuda itu sedang ada panggilan alam alias mengantar Tieria kembali ke Velvet Room. Tidak lama mereka menunggu, akhirnya Ikutsuki datang bersama gadis pirang tadi yang ternyata Android karena tanpa memakai Sundress birunya semua orang dapat melihat tubuh mekanik darinya dengan jelas. Semua kecuali Ikutsuki yang melihat gadis android pirang itu hanya bisa terkejut.
"Perkenalkan semua, senjata Anti-Shadow yang telah di kembangkan Kirijou group Namanya adalah Aigis" Ikutsukipun memperkenalkan Aigis pada semua orang.
"Salam kenal semua Namaku Aigis, senjata Anti-Shadow yang di ciptakan pertama kali oleh Kirijou group" ucap Gadis Android bernama Aigis itu memperkenalkan dirinya layaknya seorang manusia pada semua yang ada di sana.
"Dia ternyata Android?" Junpei merasa kecewa dengan apa yang dia lihat, "Tapi dia sangat manis..." lanjutnya dengan pipi merona merah.
"Trap! Trap everywhere" jelas Akihiko kepada Junpei.
"Waow!" Fuuka mendekati Aigis. Tersirat di wajahnya rasa kagum. "Dia adalah Android sungguhan? Ini menakjubkan!" lanjutnya.
"Tapi, kenapa dia tadi memeluk Minato-kun? Apa dia dulu pernah mengenalnya?" tanya Yukari yang begitu ingin mengetahui hal tersebut.
"Hmm..." Ikutsuki sedikit berpikir, dia sepertinya tidak tahu-menahu akan hal tersebut. "Mungkin itu adalah mimpi yang dia alami ketika tidur panjang selama 10 tahun alias dia tengah mengecek memorynya ketika tertidur" ujarnya.
"Dia bisa bermimpi? Hebat!" puji Fuuka yang semakin kagum.
Aigis kemudian mendekati Minato. "Aku telah menemukanmu, sekarang aku akan melindungimu dimanapun kau berada" ucapnya pada Minato.
Tidak beberapa lama kemudian Reizato, Yoshino dan Tatsuya masuk. "Maaf semua, kami terlambat" merekapun meminta maaf pada semua dan tidak sengaja menoleh ke arah Aigis, "Ga-gadis itu, dia android?" tanya Yoshino yang kaget sama seperti Reizato dan Tatsuya.
"Ya," Ikutsukipun mulai menjelaskan kepada mereka bertiga seperti yang lainnya.
"Hm... menarik" ucap Tatsuya yang memasang expresi terkejut bercampur kagum.
Tidak lama setelah itu Aigis menoleh ke arah Reizato, "Kau..." Reizato merasa heran ketika di tatap oleh Aigis. "Aigis pernah melihatmu, tapi Aigis tidak dapat menemukannya di local memory Aigis" perkataan Aigis membuat semua orang terkejut.
"Sebegitu pasarankah wajahku ini?" tanya Reizato pada semua orang, "Bahkan gadis androidpun pernah melihatku" lanjutnya hingga mereka yang terkejut mendengarnya menjadi sweatdrop.
"Sudah-sudah, bagaimana kalau kita bersenang-senang?" tawar Ikutsuki, "Aigis juga bisa menjadi mesin karaoke dan sudah lama aku tidak bernyanyi" semua mulai menghelah napas ketika mendengarnya.
("Android bernama Aigis ini... kenapa dia pernah melihatku?") Reizato berpikir lalu memandang Aigis sesaat, ("Aku bahkan belum bertemu dengannya. Meskipun begitu... entah kenapa aku merasa juga pernah bertemu dengannya sama seperti Sayu dan Onii-sannya") pikirnya lagi dan sakit kepala ringanpun kembali menyerangnya. ("Sekali lagi sakit kepala menyerangku") gerutunya di dalam pikirannya.
"Rei-kun!" Sayu memanggil nama Reizato dengan pelan hingga membuat laki-laki tersebut terbuyar dari lamunannya.
"Ya?" tanya Reizato yang menoleh ke arah Sayu.
"Ah, tidak..." Sayu memberi senyum ke arah laki-laki itu. Gadis itu hanya memastikan saja keadaan laki-laki tersebut.
.
Hari ketiga di Yakhusima, merupakan hari terakhir mereka untuk berlibur di sini. Kali ini Aigis ikut bersama mereka semua kepantai untuk berlibur dengan Sundress biru yang dia pakai, dan kali ini pula Sayu pertama kalinya mencoba Baju renang yang dia pakai. Sepertinya ini merupakan hari terakhir Reizato untuk hidup.
("Aduh! Aku lupa jika hari ini Sayu akan memakai baju renangnya!") keringat dingin mulai bercucuran dari kepala Reizato, ("Apa yang harus aku lakukan?") tanyanya pada diri sendiri yang berada di pantai bersama yang lain.
"Rei-kun! Coba lihat!" Sayu yang berada di belakang Reizato memanggil nama laki-laki tersebut.
"Ah, aku baru ingat jika belum merapikan barang-barangku!" Reizato berusaha kabur, namun sayang tangannya di tarik oleh sang gadis.
"Bohong! Nii-chan sudah bilang padaku bahwa kau tadi sudah merapikan barang-barangmu!" ucap Sayu yang membuat Reizato tidak dapat kabur. "Sekarang lihat aku! Karena ini hari terakhir kita di sini!" ucapnya dengan tegas pada Reizato.
"B-Baiklah..." Reizato perlahan-lahan membalik tubuhnya ke arah Sayu sambil memejamkan matanya. "Sudah, kau sangat cocok memakainya" pujinya sedemikian walau matanya masih dia tutup.
"Buka matamu! Bodoh!" teriak Sayu yang mulai jengkel dan dengan terpaksa Reizato perlahan-lahan membuka matanya.
Kini yang Terlihat di mata coklat pemuda itu adalah sesosok gadis yang memakai baju renang penutup aurat. Dimana seluruh tubuh kecuali wajahnya yang memakai jilbab telah tertutupi oleh baju renang tersebut. "Ba-baju renang itu!" Reizato tampak terkejut dengan yang gadis itu pakai, "Sejak kapan?" tanyanya.
Sayu memberi senyumnya, "Ya, aku mencoba dan membelinya di toko yang kita datangin kemarin." Jelasnya yang membuat Reizato teringat.
"Jangan-jangan baju-baju renang yang kau coba di sana..."
"Ya," Sayu menghentikan perkataan Reizato yang belum selesai, "baju renang penutup aurat" lanjutnya.
"Subehanallah, maha besar engkau ya Allah" Reizatopun melakukan sujud syukur di sana dan membuat semua orang sweatdrop kembali dengan apa yang dia lakukan.
"Hoi! Kalian berdua, apa mau ikut main Voli pantai? Kami kekurangan dua orang di sini!" teriak Yoshino pada Sayu dan Reizato.
"Iya! Kami akan main! Ayo Rei-kun!"
Reizato akhirnya dapat menikmati akhir libur mereka di Yakhusima bersama dengan yang lainnya.
.
WUSH!
Seorang laki-laki bertopeng Bishido tengah berada di dalam Tartarus,
SLASH!
TRANG!
Dirinya tengah bertarung menghadapi sepuluh Shadow di sana,
BLUUUURRR!
Yang dengan cepat telah dia basmi.
SRET!
Laki-laki itu menyarungkan Katananya kembali, dia tidak lain adalah Mr. Bushido.
Mr. Bushido berlari dengan cepat sambil mengalahkan Shadow-shadow yang menghadangnya. Tidak ada rasa takut di hatinya, hanya rasa haus akan bertarunglah yang dia rasakan. Tangga demi tangga dia naiki dengan cepat bagai mendaki gunung, tidak lama kemudian sampailah dia pada ujung akhir blok yang masih tertutup.
"Jadi hanya sampai di sini?" Laki-laki bertopeng itu membenarkan topengnya, di hadapannya terdapat pagar yang menyegel akhir tujuan Minato dan kawan-kawan yang sesungguhnya. "Sungguh mengecewakan, hm?" dirinya tidak sengaja menemukan sebuah koper perak di sana. Di bukanya koper tersebut yang ternyata berisi kertas. "Oh, potongan Dokumen 10 tahun itu ternyata. Lebih baik aku tinggalkan di sini untuk mereka saja" Laki-laki bertopeng itu berjalan menuju portal di sana agar bisa kembali ke tempat semula dan pulang setelah membiarkan kertas penting itu tetap berada di sana.
~To Be Continue~
Maafkan saya jika ceritanya begitu garing untuk kalian baca, meski begitu terimakasih untuk para review yang telah mereview cerita saya. Terutama untuk Luciano Fyro maaf jika cerita di Chapter 39 telah membuat anda tegang dan maaf lagi jika masih ada Typo, tapi sekarang sudah saya perbaiki. Untuk Juno Espada, salam kenal. Saya juga nunggu-nunggu update cerita ini karena ingin segera menyelesaikannya sebelum lulus SMA.
Terimakasih atas review anda semua. Dan untuk pembaca, jika sudah membaca cerita saya tolong di...
~Review~
