SECOND BENCH CH 2
.
.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Baekhyun merasa ibunya benar-benar jahat dan mulai untuk mengkhianati ayah kandungnya yang telah meninggal dunia. Mungkin Baekhyun masih menyimpan rasa bersalah –meski ia sendiri tidak tau apa salahnya– kepada ayah dan kakak laki-lakinya, tetapi Baekhyun benar-benar tidak rela jika laki-laki paruh baya yang dikenalkan oleh ibunya bernama Park Jungsoo itu menggantikan posisi ayah kandungnya. Sekalipun ia berfikir bahwa Park Jungsoo adalah orang yang baik.
"calon ayah?" Baekhyun bertanya sekali lagi berharap bahwa ibunya hanya salah bicara atau apapun itu, meski ia sangat yakin jika telinganya benar-benar berfungsi dengan baik tadi.
"iya. Park Jungsoo akan menikah dengan ibu, kau harus menerimanya Baekhyun." Ucap Taeyeon dengan nada sarat akan ancaman kepada anak semata wayangnya.
Baekhyun tidak sadar jika air mata mulai muncul di pelupuk matanya yang kecil. Rasanya perih dan sedikit buram. Tiba-tiba saja ia ingin tidur terlelap di ranjangnya. Dan pada akhirnya Baekhyun meminta izin kepada ibunya dan 'calon ayahnya' dengan sopan agar ia boleh tidur di kamarnya dan sebisa mungkin mengabaikan tajam Taeyeon yang seperti mengantarkan bom ke kepalanya yang pening.
"maafkan Baekhyun. Dia memang seperti itu, selalu tak menghargai orang asing di sekitarnya. Padahal aku sudah berkali-kali memberitaunya agar bersikap sopan kepada orang lain." Taeyeon menjelaskan kepada Jungsoo dan hanya dibalas senyum maklum dari lelaki itu, tanpa mengetahui jika wanita di depannya baru saja mengatakan fitnah kepada anak kandungnya sendiri.
"tidak masalah, mungkin dia hanya syok dengan berita ini. Sama seperti putraku." Balasnya.
.
Lelaki kecil itu memandang kosong hamparan langit kelam malam itu. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu. Yang mampu membuatnya kembali pening dan rasa mual menyeruak tiba-tiba di dalam lambungnya.
"Ya Tuhan, aku tak bisa menerima laki-laki itu sebagai ayahku. Bagaimana jika ayah tak suka di surga? Bagaimana jika hyung tak suka di surga?" sebenarnya Baekhyun bimbang dengan pikirannya. Di satu sisi, ia ingin mempunyai ayah yang dapat membuat hidupnya beserta ibunya membaik dan di sisi yang lain ia tak mau seorang pun menggantikan posisi almarhum ayahnya di keluarganya. "tapi ibu terlihat sangat bahagia dengan laki-laki itu, aku harus apa? Aku hanya ingin ibu bahagia." Baekhyun memejamkan mata dan mengusap kasar wajahnya. Ia lelah dan malas memikirkan hal ini sekarang. Maka ia memutuskan untuk tidur dan mengabaikan fakta jika calon ayahnya atau Park Jungsoo belum pulang dan masih berbincang dengan ibunya.
.
Sinar matahari pagi ini sangat mengganggu tidur laki-laki mungil itu.. Baekhyun menggeliat sebentar di atas ranjangnya dan menguap lebar. Ia merasa tidurnya semalam sangat tidak efektif, badannya masih terasa pegal dan otaknya masih belum bersih dari masalah kemarin. Setelah mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya, Baekhyun memutuskan untuk keluar dari kamar dan bermaksud mencuci mukanya yang terlihat sangat payah dan lelah. Sesaat setelah ia menutup pintu kamarnya, Taeyeon keluar dari pintu kamar di sebelahnya dengan mengenakan pakaian rapi dan tas coklat kecil di genggaman tangannya.
"akhirnya kau bangun juga Baekhyun. Bagaimana tidurmu?" meskipun katanya terlihat perhatian, namun ibunya mengucapkan kalimat tersebut dengan nada dingin yang sering ditujukkan untuknya.
"beruntunglah kau karena aku tak membahas sikap tidak sopanmu kemarin malam kepada calon ayahmu. Moodku sedang baik pagi ini jadi jangan mencoba untuk merusaknya." Ucap wanita itu sembari memakai jam tangan kecilnya. Baekhyun hanya memerhatikan dan berusaha mengingat sejak kapan ibunya mempunyai jam tangan ber merk sama seperti milik Soojung, teman sekelasnya yang sangat modis itu.
"sarapanmu ada di meja makan. Jangan lupa membereskan rumah dan jangan mencoba untuk mengabaikan aku jika kau tak mau aku memukulmu lagi seperti yang kemarin." Baru saja Taeyeon akan berjalan, Baekhyun menahannya dan segera bertanya tentang hal yang sejak semalam berputar mengganjal di pikirannya dan berhasil membuatnya pening. "apa ibu benar-benar akan menikah dengan paman Park?"
Wanita itu meliriknya tajam. "tentu saja! Kau tak suka?! Seharusnya kau senang Baekhyun! Karena asal kau tau, sejak aku bersamanya, aku selalu merasa bahagia. Kau perlu juga tau bahwa sejak suamiku meninggal, aku tak pernah bahagia dan ini semua karena mu!" Baekhyun menunduk. "anggap saja kau menebus kesalahanmu dengan menerima Jungsoo dengan baik sebagai ayahmu! Kau memang tidak tau diri!" Taeyeon mengibaskan rambut di sebelah bahu kanannya. "bersihkan rumah! Aku akan menemui calon suamiku!"
Kemudian wanita itu pergi meninggalkan Baekhyun yang berdiridi depan pintu kamarnya dan sedang memikirkan perkataan ibunya barusan.
"akankah aku menerima ini semua? Apakah aku siap?"
.
Baekhyun telah menyelesaikan tugasnya membersihkan rumah sejak dua puluh menit yang lalu dan sarapan dengan hanya roti isi selai stroberi seperti biasanya. Dan di Minggu pagi ini ia berencana untuk pergi ke gereja tua favoritnya untuk berdoa, setelah itu mengunjungi makam ayah dan kakaknya. Maka dari itu setelah selesai sarapan dengan roti isi, Baekhyun segera membersihkan dirinya dan berpakaian yang terbaik seperti saat ia ke gereja biasanya. Laki-laki kecil itu dengan sangat rapi menyisir rambutnya dan menambahkan parfum pada kaos putih bergambar bendera Jerman yang sedang ia kenakan sekarang. Ia memandangi pantulan dirinya pada cermin dan berusaha memperbaiki penampilannya agar terlihat sempurna, Baekhyun beranggapan bahwa Tuhan senang melihat seseorang yang berpenampilan rapi jika sedang berdoa kepada-Nya dan tidak menutup kemungkinan jika doanya akan dikabulkan dengan cepat oleh Tuhan. Setelah dirasa selesai, baekhyun segera meninggalkan rumahnya dan tidak lupa sebelumnya mengunci pintu utama lalu meletakkan kunci di tempat biasanya –di bawah pot bunga–, setelah itu ia segera mengeluarkan sepeda warna hitam miliknya dari gudang di sebelah rumahnya. Setelah selesai mengecek kemungkinan bannya akan kempis atau apapun yang menyangkut kerusakan sepedanya, Baekhyun segera menaiki sepeda itu menuju gereja.
Baekhyun sangat senang naik sepeda di pagi hari seperti ini, karena dengan begitu, dirinya dapat dengan puas menikmati udara sejuk yang menyapa wajah manisnya. Butuh sekitar lima belas menit bagi Baekhyun untuk sampai di gereja dengan mengendarai sepeda kebanggaannya.
Setelah turun dan meletakkan sepedanya pada batang pohon oak di samping gereja, Baekhyun dengan langkah riangnya memasuki gereja yang memang selalu sepi jemaat meskipun di hari Minggu seperti ini sekalipun. Karena siapa juga orang aneh yang mau berdoa di gereja tua seperti ini setelah banyak didirikan gereja yang lebih mewah dan bersih di pertengahan kota. Bukan di tempat jarang pemukiman seperti ini. Kecuali Baekhyun yang memang aneh. Baginya, gereja tua yang sepi justru mampu membuatnya terasa lebih dekat dengan Tuhan. Selalu itu yang Baekhyun pegang teguh selama ini.
Baekhyun berhenti melangkah saat menyadari ada seorang laki-laki tua ber uban sedang duduk di tempat biasanya ia duduk. Baekhyun tidak mempermasalahkan hal ini, toh siapapun berhak untuk duduk di tempat favoritnya –barisan bangku kedua dari depan– karena gereja ini milik semua orang, meskipun Baekhyun sempat terkejut karena biasanya saat hari Minggu ia berdoa, gereja ini selalu tidak ada orang, dengan kata lain hanya dirinya yang berada di gereja itu untuk beribadah.
Baekhyun memilih untuk duduk di barisan bangku keempat. Ia sengaja memberi satu jarak barisan bangku dengan laki-laki tua itu, agar saat ia berdoa laki-laki tua itu tak mendengarnya –karena Baekhyun terbiasa berdoa dengan berbicara.
Baekhyun menutup mata dan menyatukan kedua tangannya di depan dada, berusaha dekat dengan Tuhan nya, berusaha menceritakan masalahnya kepada Tuhan, mencoba mencari masalah yang selalu mengganjal hatinya sejak semalam.
Ya.
Baekhyun telah menemukan jawabannya dan ia ingin Tuhan mendengar jawabannya.
Baekhyun menarik nafas pelan dan mengeluarkannya dengan sama pelannya.
"Ya Tuhan, aku datang lagi, aku ingin bercerita Tuhan.. ibu akan menikah lagi dengan paman Park. Aku berat menerimanya Tuhan, tetapi kata ibu, aku dapat menebus kesalahanku pada ibu jika menerima paman Park menjadi ayah ku yang baru." Baekhyun menelan ludahnya karena merasa tenggorokannya kering.
"aku tak tau apa kesalahanku pada ibu. Tapi jika memang aku bersalah, aku ingin menebus kesalahanku pada ibu, aku ingin ibu bahagia dan ibu bahagia jika ia menikah dengan paman Park." Baekhyun merasakan jika suaranya telah bergetar.
"aku mencintai ibu, aku menyayanginya, aku ingin yang terbaik untuknya, aku ingin ibu bahagia meskipun hal itu dapat membuatku sekarat sekalipun, aku tak perduli, asalkan ibu merasa bahagia. Hanya ia yang kumiliki Ya Tuhan, dan aku akan melakukan apapun untuknya, termasuk menerima paman Park menjadi ayahku." Satu tetes air mata jatuh dari matanya yang sekarang memerah.
"aku paham jika Kau pasti bosan mendengar ini tetapi aku sungguh menyayangi ibu meskipun ia selalu bersikap kasar padaku."
Baekhyun mengais nafas sebanyak mungkin, "aku menyayangi ibu, tetapi kenapa ibu membenciku?"
Matanya benar-benar terasa perih untuk saat ini. Angin yang masuk melalui jendela gereja menerbangkan helai rambutnya dan menutupi sebagian matanya yang tertutup rapat.
"bolehkah aku meminta Tuhan? Aku meminta agar ibu juga menyayangiku." Baekhyun berbicara dengan diiringi beberapa isakan yang keluar dari bibirnya.
"aku ingin seperti Daehyun yang ditemani ibunya saat ia mengikuti kontes menyanyi…" Baekhyun mengulum bibir bawahnya sejenak.
"aku ingin seperti Naeun yang mendapat tepuk tangan paling keras dari ibunya saat selesai menari ballet.." satu tetes air mata jatuh dari dagunya.
"aku juga ingin sekali seperti Sehun, saat ia baru belajar memakai sepeda dan terjatuh, selalu ada bibi Oh yang membantunya berdiri-" Baekhyun menghentikan bicaranya hanya untuk menghapus air mata di pipi kanannya, "bahkan saat aku kecil dulu, ibu tak pernah mau tau aku belajar bersepeda atau tidak. Yang ia tau saat aku pulang dengan luka-luka di lutut ku dan ibu marah padaku." Baekhyun mengingat dengan baik bagaimana kenangan masa kecilnya yang teramat menyedihkan.
Genggaman tangannya mengerat.
"aku juga ingin seperti teman-teman yang mendapat usapan sayang saat penerimaan rapor akhir semester karena nilaiku yang naik, bukannya ibu yang tak peduli dan langsung pulang meninggalkan ku sendirian di sekolah."
Baekhyun menggigit ujung lidahnya menahan suara tangisnya yang akan keluar.
"terlebih aku ingin ibu memanggilku dengan panggilan sayang, bukan nama lengkap atau hanya sebutan 'kau'."
Perlahan Baekhyun membuka matanya dan menatap lukisan bunda Maria yang sedang menggendong seorang bayi tertawa di depan altar. "aku lebih menginginkan ibu memerhatikanku."
"hanya ibu yang aku miliki, meskipun ia tak menginginkanku di dunia ini sekalipun, aku tetap ingin bersamanya.."
Wajah Baekhyun memerah, "tapi aku yakin ibu menginginkanku karena ibu telah melahirkan aku di dunia ini dengan susah payah, aku yakin ibu pasti akan menyayangiku suatu saat nanti." Baekhyun tersenyum dan menghapus semua air matanya. "ayah dan hyung juga akan menyayangiku pasti." Baekhyun mendongak, "Ya Tuhan, sampaikan maafku pada ayah karena aku mau menggantikannya dalam hidupku, tapi sampaikan juga padanya jika aku akan selalu menyayanginya."
Baekhyun bernafas dalam, "dengan doaku yang tulus, kabulkan doaku Ya Tuhan, amin."
Baekhyun kemudian melepaskan genggaman kedua tangannya dan menatap heran kepada laki-laki tua tadi di depannya. Laki-laki tua itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda pergerakkan. Ini aneh, terlebih seingat Baekhyun, laki-laki tua itu selalu menatap salib di depan altar sejak ia masuk di gereja ini. Baekhyun meraba pipinya dan mengusap matanya yang merah dan lebih kecil dari biasanya, dengan sangat pelan, Baekhyun mendorong dirinya untuk berdiri dari deretan kursi yang ia duduki dan bergerak dengan maksud mengambil dua buah tangkai mawar putih di sudut ruangan untuk ia letakkan di makam ayah dan kakaknya nanti. Selalu seperti itu.
Baekhyun berhenti setelah akan memulai berjalan, ia menyadari jika mau tidak mau sebentar lagi ia akan melewati laki-laki tua –aneh dan misterius– itu dan akan mengetahui apa yang dilakukannya sedari tadi dengan hanya memandangi salib di depannya.
Baekhyun sempat berfikir dan bertanya pada dirinya sendiri apakah pak tua itu sedang berdoa dengan cara memandangi salib itu, mungkin saja atau laki-laki itu hanya sedang melamun. Ahh Baekhyun merasa bodoh hanya dengan memikirkan apa yang laki-laki tua itu lakukan.
Maka ia berjalan dengan rileks dan pelan di sepanjang altar berlantai kayu coklat halus yang sedikit berdebu itu. Langkahnya semakin dekat membawa tubuh kecilnya untuk menepis meter jarak antara dirinya dengan laki-laki tua itu.
Baekhyun memang berfikir ia bodoh memikirkan apa yang sedang laki-laki tua itu lakukan tapi ia juga tak mau munafik untuk tidak mengakui jika jantungnya berdetak kencang kala mendekati laki-laki yang memiliki banyak uban itu, dengan kata lain sederhana, Baekhyun penasaran tingkat paling berat.
Jantungnya bertalu-talu memikirkan kemungkinan terburuk seperti mungkin saja laki-laki tua itu berwajah menyeramkan yang berjiwa psikopat dan setelah ia melewatinya, tiba-tiba ia merasakan sebuah benda tajam menusuk menyentuh tulang belakangnya. Mengerikan sekali memang. Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat.
Kemudian sekali lagi dengan langkah perlahan Baekhyun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi. Terus berjalan dan berusaha mengabaikan laki-laki tua itu. Tetapi tetap saja dengan tanpa sadar kedua kakinya berhenti tepat sejajar dengan deretan kursi di mana laki-laki tua itu duduk.
Baekhyun merutuki sifatnya yang gampang terpengaruh dan mudah penasaran datang di saat seperti ini. Baekhyun benar-benar tak dapat menahan matanya untuk tidak melirik bagaimana rupa laki-laki tua yang misterius itu. Ia gelisah menggigit bibir bawahnya. Satu butir keringat keluar dari pori-pori pelipisnya.
Tetapi entah ini rencana Tuhan atau memang laki-laki tua itu sengaja menunduk dalam tepat saat Baekhyun akan melihat rupanya, Baekhyun gemas. Ia menggeram kecil dengan perbuatan lelaki itu. Baekhyun mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya dan mulai melanjutkan langkahnya.
Dengan sekuat tenaga ia berusaha mengabaikan fakta jika di dalam gereja ini ada manusia aneh selain dirinya. Namun setelah lima langkah Baekhyun berjalan, ia seperti mendengar seseorang berbicara dengan suara yang cukup membuat korden gereja melambai-lambai tertiup angin sejuk. Darahnya berdesir dan ia merasa kakinya seperti terikat dengan beban lima puluh kilogram
"Tuhan akan mengirimkan malaikat untukmu Baekhyun."
Suaranya antara lembut dan tegas –sedikit serak. Baekhyun bingung menjelaskannya.
Dengan cepat Baekhyun memutar tubuhnya dan rasa terkejut langsung hadir dalam dirinya. Jantungnya berdegup kencang sekali dan darahnya berdesir seperti membelai tengkuknya. Matanya seperti mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tau apa itu.
Entahlah.
Ini membingungkan.
Sungguh
Baekhyun ingin pingsan saat menyadari ia seorang diri di dalam gereja ini.
.
.
.
"ayah akan menikah lagi Chanyeol. Kau pasti sudah tau bukan? Apakah kau keberatan?"
Dengan sedikit mengabaikan aliran darahnya yang mengalir menuju wajahnya yang menjadi merah menahan amarah. "tidak." Balasnya cepat
"kau yakin?" Tanya ayahnya sekali lagi kepada Chanyeol yang mulai berdiri meninggalkan meja makan menyisakan tidak sampai setengah menu sarapannya pagi ini. "aku selesai." Chanyeol mendorong kursinya dengan kaki dan berlalu menuju kamar.
Jungsoo yang melihat anaknya akan pergi ke kamar segera berdiri dan menahan lengan putranya sedikit keras.
"apa lagi yah?!" Chanyeol bertanya dengan sedikit keras melepaskan cengkraman tangan ayahnya. "lepaskan aku! Aku ingin pergi."
"kau keberatan dengan keputusanku Chanyeol." Itu sebuah pernyataan yang dilontarkan Jungsoo. Ia berusaha melihat mimic muka anaknya dari samping tetapi Chanyeol malah memalingkan mukanya ke arah berlawanan. Chanyeol diam tak menjawab. "mengaku lah Chanyeol." Ucap ayahnya lembut.
"lalu aku harus mengaku dan menerima kenyataan bahwa pasti pengakuanku tak akan kau perdulikan. Aku telah muak ayah. Jadi aku memutuskan untuk tetap berada di belakangmu tanpa tau arah mana yang akan kau pilih. Aku menyerah."
Jungsoo melepaskan cengkramanya tetapi Chanyeol masih berdiam diri di depan pintu kamarnya.
"aku akan menerima pernikahan ayah-" Chanyeol melirik ayahnya yang ada di balik punggungnya tanpa ingin memutar tubuhnya.
"tetapi jangan paksa aku untuk bersikap baik kepada calon ibuku nanti."
.
.
.
Tobecontinue
.
a/n : haiiii readers… wah update deh akhirnya hehehe maaf lama bgt yah abis tau sendiri kurkul '13 kek gmn yahkan?
Btw keren gak ada unsure mistisnya tadi si kakek kakek di gereja? Hahaha aku bikin itu memper-memper dikit ama pengalaman aku langsung lho hahaha tapi bedanya yang aku temuin gak pake ngomong dan yang aku liat bukan kakek tapi orang pake jubah item gt hahaha ah sudahlah… btw ini kurang panjang ya? Maaf deh hehe, ini masih belum angst lho tapi si CY uda nongol yeay ^^
Yaudah review lagi yaw please… makasi yg uda review / fav / follow. Itu bikin aku semangat lagi :D
I say big 'Danke Schoon' to (from 1st chapter)
Beng beng max ; soshialisasi ; jinyeoley ; ChanBaekLuv ; devrina ; otomeharu 22 ; DahsyatNyaff ; bh36x ; 13613 ; guest 1 ; guest 2 ; azizozo ; sunsehunee ; chanbaekssi ; ; special bubble ; Kim Eun Seob ; YOONA ; dims ; aku adalah aku ; guest 3 ..
Makasi dan maaf yg review dr chap 1 baru aku tulis h3h3
Review lagi yaw =D dadahh
