SECOND BENCH CH 4


.

Sunday, 13th July 2014 (15.02 p.m KST)

"duduk."

Baekhyun sedikit menggaruk belakang rambutnya saat dirinya merasa gugup karena begitu ia bangun dari tidurnya yang tidak disengaja, ibunya langsung menyuruh dirinya untuk duduk dan mungkin mengajaknya membicarakan sesuatu yang penting –karena Baekhyun yakin ibunya tak akan mau berbicara dengannya kecuali untuk dua hal yaitu jika Baekhyun melakukan kesalahan dan sesuatu yang penting– dan Baekhyun sangat yakin bahwa ia tak melakukan suatu kesalahan untuk di waktu yang dekat tadi.

"ada apa bu?" Baekhyun merasa suara yang dikeluarkannya amat kecil seperti berbisik.

"aku akan menikah dengan Jungsoo-"

Baekhyun menahan nafas menanti kelanjutan ucapan ibunya yang sepertinya sengaja wanita itu gantung untuk melihat ekspresi apa yang putranya keluarkan. Baekhyun tetap dengan wajah polosnya tetapi kali ini ia sedikit menahan nafasnya.

"sekitar dua minggu dari sekarang." Taeyeon sedikit menyeringai kala melihat ekspresi anaknya yang terlihat syok. "kenapa? Keberatan Byun Baekhyun?"

Baekhyun hanya menunduk memikirkan berapa lama lagi dua minggu itu jika dimulai dari hari ini. "cepat sekali bu? Apakah paman Park yang memutuskan hal ini?"

"ini keputusan kami berdua Baekhyun. Jangan menolak jika kau masih ingin menyandang status sebagai anakku."

Astaga, mengapa cepat sekali. Bahkan ibu memutuskan ini tanpa sepengetahuan anaknya

Sebenarnya yang masih menjadi masalah dalam hati Baekhyun adalah, ia masih belum bisa memikirkan bagaimana caranya agar ia dapat beradaptasi dengan kehadiran anggota keluarga baru di kehidupannya.

"dan mulai besok hingga hari pernikahanku, aku akan sibuk mengurusi keperluan untuk acara pernikahan ku. Jadi kupikir, kau sudah dewasa dan dapat mengerti kewajibanmu membersihkan rumah jika aku pulang terlambat atau ada urusan mendadak. Karena aku tak mau acara penting ku akan berantakan." Jelas Taeyeon panjang lebar. Wanita itu beranjak dari sofa dan berjalan masuk ke dalam kamarnya

Baekhyun mengusap wajahnya kasar "Ya Tuhan.."

.

.

Tuesday, 15th July 2014 (05.30 a.m KST)

Laki-laki kecil itu segera keluar dari kamar mandi dengan handuk yang berada di pundak kanannya. Bau buah stroberi jelas berasal dari tubuh kecilnya yang sedikit menggigil karena air yang digunakannya mandi terasa sedikit dingin dari biasanya.

Baekhyun menghampiri kalender kecilnya yang tergantung di dinding. Ia mencari bolpoint yang biasanya berada di atas meja yang sekarang menghilang. Baekhyun mencarinya sampai menemukan bolpoint hitam itu jatuh di bawah meja lalu mengambilnya. Baekhyun menyusuri tanggal-tanggal yang telah ia coret. Jarinya terhenti di tanggal 15.

Memang sejak ibunya memberitahu tentang deadline pernikahannya, Baekhyun memiliki kebiasaan baru yaitu mencoret setiap tanggal di hari itu. Baekhyun melakukan hal itu hanya karena sebuah alas an. Ia ingin agar dirinya siap menghadapi keluarga barunya nanti.

Setelah laki-laki kecil itu selesai dengan kegiatannya, ia langsung mengganti pakaiannya dengan seragam sekolahnya. Sebenarnya Baekhyun lelah untuk datang ke sekolah yang bahkan hampir semua temannya enggan untuk bertegur sapa dengannya. Alasan klise seperti 'kau hanya anak miskin Baekhyun, hanya karena kau pintar saja alasan kau berada di sini.'

Baekhyun tau seharusnya ia tak perlu berharap akan memiliki seorang teman yang benar-benar 'teman' karena hal ini selalu ada dalam hidupnya selama riwayat dirinya di sekolah. Baekhyun selalu merasa kesepian sepanjang hidupnya. Ibunya tidak peduli, ia tak memiliki teman, dan yang setia bersamanya selama ini hanya Ayah, Hyung, dan Tuhan. Itu saja.

Baekhyun meringis sedikit meratapi hidupnya yang dirasa penuh dengan tantangan. Baekhyun mendekati cermin dan mulai menyisir rambut coklatnya. Ia tersenyum mengingat bahwa hyungnya juga memiliki warna rambut yang sama dengannya. Tentu saja Baekhyun melihatnya dari foto yang ia punya.

Kemudian laki-laki kecil itu keluar dari kamarnya dan menghampiri meja makan. Di sana sepi, dan itu berarti ibunya telah berangkat untuk mengurus pernikahnnya yang semakin dekat. Baekhyun memilih duduk dan mulai mengolesi roti dengan selai –seperti menu sarapannya yang lalu– dan dirinya baru menyadari bahwa ada secarik kertas di dekat gelas yang ia sangat yakin bahwa itu adalah dari ibunya. Dengan cepat Baekhyun membuka lipatan surat itu dan tulisan ibunya langsung hadir dalam pandangan matanya.

Aku hanya memberitahu mu jika aku akan pulang lebih cepat dari biasanya jadi saat kau pulang sekolah akan lebih baik kau menyayangi tubuh mu dengan cara langsung pulang ke rumah dan bersihkan seluruh rumah. Aku ingin saat kembali rumah telah dalam keadaan bersih. Jangan membantah atau aku akan memukulmu.

Baekhyun mendesah lelah. "astaga ibu, kenapa kau melakukan hal ini padaku?"

.

.

Tuesday 15th 2014 (12.35 p.m KST)

"Hei Baekhyun! Roti isi? Hanya itu saja bekalmu?" Tanya Daehyun, salah satu anak di sekolah Beaekhyun yang selalu usil padanya.

Baekhyun menoleh pada Daehyun dan ketiga temannya yang Baekhyun lupa namanya. "memangnya kenapa? Ada yang salah dengan roti isi?"

"oh tidak. Kupikir kau hari ini tidak membawa bekal karena uang mu habis. Hahaha.." Daehyun dan teman-temannya tertawa melihat Baekhyun yang menunduk. Tanpa ijin dari Baekhyun, Daehyun dan teman-temannya langsung duduk di meja kantin itu mengelilingi Baekhyun.

"kau lupa Daehyun? Bukankah laki-laki miskin ini telah bekerja jadi pembantu di kedai bibi Shin?" salah satu teman Daehyun yang memakan steaknya menambah panas suasana hati baekhyun.

"benar, mungkin dia bekerja agar dapat membeli makanan sehat seperti yang biasa kita konsumsi, bukannya makanan mungkin hampir basi yang sering anak ini bawa."

Baekhyun tetap menunduk dan memakan bekalnya tanpa memerdulikan Daehyun dan teman-temannya yang sengaja duduk di sana hanya untuk mengerjainya.

"hey kenapa diam saja?! Apa kau tuli ha? Kasian sekali, sudah tuli miskin pula hahahaa.." lagi-lagi Daehyun mengejek Baekhyun dengan lebih parah lagi.

"aku tidak tuli dan aku dapat mendengar kalian." Lirih Baekhyun lebih mempercepat makannya.

"kenapa tidak meminta ayahmu untuk membelikan makanan yang lebih bergizi padamu? Apa ayahmu tidak bekerja eoh? Pengangguran dan tidak punya uang? Atau mungkin tidak pernah pulang dan sering minum soju?"

Baekhyun menutup matanya erat. Seketika bayangan makam ayahnya yang setiap minggu ia lihat hadir dalam otaknya. Baekhyun mengeratkan genggaman tangannya.

"oww, atau mungkin kau ikut minum soju seperti ayahmu? Hahaha.. sama saja." Daehyun benar-benar melakukan kejahatan pada laki-laki rapuh itu. Baekhyun meneteskan air matanya.

Baekhyun berdiri dan menggebrak meja kantin yang ia dan Daehyun serta teman-temannya tempati dengan kesabaran yang hilang.

"DASAR BRENGSEK KAU DAEHYUN! AKU TAK TAU BAHKAN KAU AKAN SERENDAH INI DARI PADA DIRIKU! KAU BOLEH SESUKA OTAKMU UNTUK MENJELEKKAN DIRIKU! MENGHINAKU! TERSERAH! TAPI AKU TAK AKAN DIAM SAAT KAU MENGHINA KELUARGA KU TERLEBIH ORANG TUA KU!" Baekhyun menunjuk tepat di muka Daehyun setelah sebelumnya menghapus lelehan air matanya. "APALAGI JIKA KAU MENGHINA AYAHKU. KARENA ASAL KAU TAU-" suara Baekhyun melirih dan tangannya turun tidak menunjuk tepat di depan muka Daehyun lagi. "tidak baik membicarakan orang yang sudah meninggal."

Dengan itu Baekhyun memilih untuk mendorong kursi kantin dan segera pergi dari tempat itu. Sejenak ia melirik ke seluruh penjuru kantin dan ia tak menyangka pembicaraannya dengan Daehyun tadi cukup membuat semua orang termasuk bibi Lee –penjaga kantin paling pojok– melihat ke arahnya.

Baekhyun memilih mengabaikan hal bodoh itu dengan terus berjalan keluar kantin dengan tatapan semua orang mengiringi setiap langkahnya. Baekhyun merasa tak pernah merasa sangat frustasi seperti ini sebelumnya saat di sekolah.

Saat dirinya mulai berjalan menyusuri koridor dengan banyak loker di setiap sisinya, Baekhyun mulai menangis mengingat betapa keterlaluan Daehyun mengatakan hal yang buruk tentang ayahnya saat di kantin tadi. Baekhyun merasa sangat terpukul. Ayah yang selama ini makamnya selalu ia kunjungi setiap minggu, dan dengan mudahnya Daehyun mengatakan bahwa ayahnya suka minum soju dan –apalah itu yang buruk. Baekhyun tak peduli murid-murid di koridor yang menatapnya dengan pandangan antara iba dan tidak mengerti. Karena mungkin mereka berfikir hal ini langka. Baekhyun memang sering mendapat hujatan buruk oleh murid-murid di sekolah ini, tetapi Baekhyun bahkan tak pernah sekalipun menunjukkan air matanya di depan mereka.

Dan apa kali ini? Baekhyun menangis? Dan- astaga! Bahkan sekarang Baekhyun mengeluarkan darah dari hidungnya.

Laki-laki kecil itu berhenti untuk sekedar membersihkan darah di hidungnya meskipun percuma karena darah itu tetap keluar dari hidungnya. Semua murid yang di sana justru hanya diam saja tanpa ada yang berniat menawari Baekhyun tissue atau pergi ke ruang kesehatan.

Baekhyun mempercepat langkahnya menuju sebuah loker bertuliskan namanya dalam huruf hangul di atas. Membukanya dan mengeluarkan sekotak tissue kecil dari dalam loker dan mengambil tiga lembar tissue untuk membersihkan serta menyumbat hidungnya. Setelah menutup kembali loker putih itu, Baekhyun memutuskan untuk berbelok ke arah berlawanan dari kelasnya.

'mungkin membolos di ruang kesehatan sampai pulang tidak masalah, lagipula aku butuh istirahat agar nanti dapat membersihkan rumah saat pulang.' Batinnya.

Baekhyun benar-benar merutuki dirinya yang mudah mimisan hanya karena saat dirinya marah-marah sekaligus banyak pikiran dan mendapat tekanan yang berat pada batinnya, atau mungkin saat dirinya merasa kedinginan. Itulah sebabnya Baekhyun pandai sekali menahan amarah. Ia tak mau saat marah di depan orang yang dimarahinya, justru ia akan mimisan dan pasti akan terlihat lemah tak berguna. Baekhyun yang malang, untung saja saat dirinya menangis mimisan itu tidak keluar.

.

.

Thursday 24th July 2014 (17.15 p.m KST)

Chanyeol melangkah keluar dari kamar dan mengarahkan kakinya ke dapur. Matanya yang bulat berusaha mencari tanda-tanda keberadaan makanan ringan yang biasanya ada di atas kulkas. Chanyeol tak perlu bersusah payah berjinjit atau memakai kursi meja makan untuk mengambil makanan ringan berupa keripik rasa barbeque yang berada di atas kulkas dengan tinggi lima kaki itu.

Begitu mendapatkan apa yang diinginkannya, Chanyeol berjalan menuju ruang tv bermaksud untuk melihat pertandingan balapan motor yang biasanya di gelar di Jepang. Tetapi langkahnya berhenti saat dirinya tak sengaja melihat sebuah kertas persegi berwarna putih gading dengan hiasan banyak bunga berwarnna merah –yang Chanyeol yakin adalah mawar –laki-laki tinggi itu mengambilnya dan menatap datar kertas itu begitu matanya yang tajam membaca tulisan hangul yang ditulis di sana dengan sangat jelas.

Sunday 27th 2014

Wedding Party

Park Jungsoo

And

Kim Taeyeon

.

Happy Wedding

Chanyeol mual membacanya.

"sialan, tiga hari lagi!" tiba-tiba Chanyeol merasa semakin mual saat membaca deadline di dalam undangan paling buruk –menurutnya.

Chanyeol membuang undangan itu pada meja di depannya dan menghembuskan nafasnya kasar.

"aku tak menyangka ayah benar-benar nekat dan tidak memerdulikan ku kali ini. Konyol. Keluarga ku konyol semua, kenapa ini semua terjadi? Astaga aku merasa bodoh!" umpatnya.

Laki-laki tinggi itu memilih untuk duduk dan memulai untuk menonton acara televise daripada memikirkan acara tidak penting yang akan terjadi tiga hari itu. Toh ini semua sudah berjalan jauh jadi dirinya sudah tak bisa lagi untuk memaaksa mundur. Atau kalau dia cukup gila untuk membuat ayahnya menyabut gelar seorang anak dari Presiden Park pemilik yayasan tempat ia bersekolah.

Ugh Chanyeol berjanji jika dirinya telah lulus sekolah –setidaknya lulus kuliah– ia akan mendirikan yayasan sekolah yang akan mengalahkan yayasan sekolah milik ayahnya.

Dengan ekspresi sangat buruk Chanyeol tetap mengunyah makanan ringan di tangannya.

"sial! Kenapa juga ayah memaksa ku untuk menghadiri pernikahan konyolnya?!"

.

.

Sunday July 27th July 2014 (07.05 a.m KST)

"kau mau kemana Chanyeol? Kau tidak lupa dengan hari ini?" Tn. Park menyegah anaknya yang membawa kunci mobil keluar rumah.

Chanyeol berhenti dan berputar untuk melihat ayahnya yang mengenakan jas putih untuk acara pemberkatan di gereja pukul 08.00 nanti.

"menurut ayah apa tujuan ku mengenakan jas yang rapi ini? Apalagi selain menghadiri pernikahan ayah?! Aku hanya ingin menjemput Sehun dan Jongin karena mereka juga akan datang."

Jungsoo tersenyum, "baiklah, hati-hati Chanyeol. Jangan sampai kau terlambat datang ke acara penting ayah, kau mengerti?"

Chanyeol hanya mengangguk malas dan langsung pergi meninggalkan rumah dengan mobilnya untuk menjemput Sehun dan Jongin.

"huh! Takut jika aku kabur, begitu? Takut sekali jika anaknya yang mengecewakan ini tidak datang dalam pernikahan itu?" dalam perjalanan Chanyeol selalu mengumpat tentan sikap ayahnya tadi yang seakan mengira Chanyeol akan kabur dan tak mau menghadiri pernikahannya.

"begitu penting kah kehadiran ku?"

Chanyeol terus saja menggerutu menghabisakan lima belas menit perjalanannya ke rumah Jongin habis dengan sia-sia. Chanyeol turun dari mobil setelah menata rambut merahnya pada kaca spion mobil sebelah kiri. Dengan tegas laki-laki itu berjalan menyusuri jalan setapak yang membuatnya langsung menuju ke pintu besar berwarna putih milik rumah Jongin. Tetapi saat ia baru menginjakkan kakinya pada lantai marmer putih itu, pintu besar di depannya langsung terbuka dan menampilkan Jongin dengan setelan jas warna hitam dan kemeja putihnya.

"heii saudara!" Jongin mendekat. "aku tak akan membuatmu menunggu lama sobat, aku mengerti perasaanmu."

Chanyeol memutar bola matanya jengah, "aku malah berharap kita terlambat ke sana."

Jongin tertawa sembari berjalan di samping Chanyeol untuk keluar dari rumahnya, "ohh ayolah Yeol! Aku tau kau penasaran bukan?" Jongin menggodanya.

"tidak."

"kau tidak penasaran bagaimana orang dewasa akan menikah? Kau harus tau, karena kau akan mengalaminya nanti." Chanyeol tidak menjawab dan menyuruh Jongin untuk masuk ke mobil.

"cepat masuk, kita akan menjemput Sehun."

"ohh astaga baiklah Park Chanyeol.." Jongin menyusul Chanyeol duduk di samping kursi kemudi. "pukul berapa pemberkatannya?"

Chanyeol menghela nafas, "entahlan, pukul delapan mungkin." Sebentar lagi.

.

.

Sunday 27th July 2014 (07.40 a.m KST)

Baekhyun telah berada di depan gereja tempat pemberkatan pernikahan ibunya dengan paman Park. Ia Sedikit tidak nyaman karena setiap orang yang melihatnya aneh, mungkin karena Baekhyun lupa menyisir rambutnya setelah mandi dan berganti baju. Ia tidak mau terlambat melihat ibunya tersenyum bahagia nanti. Meskipun dirinya terlihat berantakan dengan rambutnya.

Baekhyun maju selangkah saat seorang pendeta telah berdiri di depan altar. Ia tersenyum dengan lugu dan memutuskan untuk masuk. Baekhyun memilih untuk duduk di abrisan kursi tiga dari belakang, meskipun tidak menutup kemungkinan ia ingin sekali duduk di barisan paling depan. Tetapi baginya berada di sini melihat ibunya bahagia pun telah membuatnya cukup.

Baekhyun telah siap menerima keluarga barunya nanti whatever happens.

(07.55 a.m KST)

Baekhyun melihat ke arah pandangan orang-orang di gereja itu. Mata kecilnya menatap tiga orang laki-laki seusianya masuk berdampingan. Baekhyun berpikir siapa tiga orang itu? Dan sebelum ia menemukan jawaban, Baekhyun melihat salah satu laki-laki yang paling tinggi, yang sedang menatapnya juga –Baekhyun merasa aneh dengannya.

.

.

.

Tobecontinue


.

a/n : hai ini udah aku panjangin hehe, meskipun masih nanggung karena mereka berdua masih saling pandang doang huhuhu… maaf ya molor haha abis aku baru selesai uas dan baru selesai remed hari ini. Maaf juga kalo kurang ngefeel atau apa ini bikinnya soalnya berhari-hari nyempil di hari uas, I'm sorry.. Aku tau kok kalian semua yang masih sekolah pasti rata-rata baru uas kemarin Senin kan? Hahaha.. yes aku duluan yang selesai hahah /abaikan

oh hampir lupa yang kemarin itu kan tanggalnya hari Minggu tanggal 14, aku salah seharusnya kan tanggal 13. jadi biar lebih jelas aku kasih hari aja ya. maaf kalau ada typo hehe

oiya Alon kemarin seneng bgt ff abalnya direview dengan bagus sama kalian yang mungkin ada yang baca di sini juga. Thanks ya, buat kalian dari Alon. Aku doain uas kalian berhasil yahh okeh, belajar yg serius okeh kawan, jangan mikirin chanbaek yg gak tau malu itu /g

bye~

I say big 'danke' for:

Sunsehunee ; aku adalah aku ; Nenehcabill ; 13613 ; baekhyunniewife ; Guest 1 ; YOONA ; devrina ; Ohmypcy ; Kim Eun Seob ; park chanChan ; Aria Sweden ; kyungexo ; septhaca ; chanbaekyu ;