Second Bench CH 6
.
Jongin dan Baekhyun membulatkan matanya.
Jika Jongin mulai berpikir seperti 'jadi Baekhyun akan menjadi adik tiri Chanyeol?'
Maka Baekhyun berpikir. 'Hyung berkata apa tadi?'
"kau anak dari Kim Taeyeon itu, bukan?" Chanyeol memicingkan matanya.
Baekhyun hanya mengangguk ketakutan. Tak pernah ada di benaknya jika seorang kakak akan bersikap mengancam adiknya seperti ini.
"sudah aku duga."
Chanyeol maju satu langkah dan Baekhyun ikut memundurkan satu langkahnya. Terus seperti itu hingga Baekhyun merasakan punggungnya menempel pada dinding dan sebagian pigura besar yang tadi ia lihat.
Melihat hal itu, Chanyeol tetap membuat kaki panjangnya untuk terus menuju lelaki kecil di depannya. Hingga Baekhyun dapat merasakan hawa panas dari tubuh kakaknya.
Chanyeol menggunakan tangan kanannya untuk bersandar tepat di sebelah kiri kepala Baekhyun.
"apakah aku perlu memberitahu mu bahwa aku tak suka dengan pernikahan ayahku ini? Aku tak pernah menyukai hal ini." Chanyeol sedikit merendahkan suaranya. Mungkin Jongin dan Sehun tau bahwa Chanyeol sedang dalam mode 'panas' dan tidak dapat dingin di waktu cepat.
Yang paling khawatir adalah Jongin. Lelaki itu kasihan dengan teman barunya yang telah terjebak dengan sahabatnya di waktu yang tidak tepat. Ia hanya kasihan dengan Baekhyun yang terlihat rapuh sekali saat ini. Baekhyun yang terlihat menyedihkan. Baekhyun yang terlihat takut dengan Chanyeol.
Baekhyun yang sama sekali tidak berani untuk menatap mata hyung di depannya.
"aku tidak suka dengan pernikahan ayahku ini Byun! Jadi-" Chanyeol lebih mendekatkan dirinya pada lelaki di depannya. "jangan pernah kau berani menganggap aku sebagai saudaramu! Kau pikir siapa dirimu? Berani memanggilku hyung? Aku tak pernah memiliki adik sepanjang hidup ku."
Chanyeol terdiam untuk melihat reaksi apa yang di berikan padanya. Kemudian ia berbicara dengan sangat pelan, tetapi Baekhyun yang tepat ada di dekatnya mampu mendengar ucapan apa yang dilontarkan oleh kakaknya. Dan Baekhyun tak mengerti akan maksudnya.
"kau anak dari wanita yang tak tau diri."
Jongin dan Sehun yang berdiri jauh dari Chanyeol dan Baekhyun hanya terdiam.
Sebenarnya Jongin ingin sekali menolong Baekhyun –yang saat ini terlihat menatap ke arah sepatunya– hanya saja ia masih terlalu sadar untuk tidak membuat Chanyeol marah dan memukulnya. Apalagi sepertinya ini menyangkut ibu tiri sahabatnya. Jongin tidak ingin ikut campur meskipun hatinya ingin sekali melakukan itu.
"kenapa kau hanya diam?" Tanya Chanyeol pelan.
Baekhyun tak menjawab. Ia hanya mampu menunduk menatap sepatu pemberian ayah barunya, Park Jungsoo.
"KENAPA HANYA DIAM?!"
Baekhyun tersentak saat mendengar Chanyeol membentaknya.
Baekhyun sedikit merasakan tubuhnya bergetar dan punggungnya semakin menempel pada dinding.
"maaf." Cicitnya dengan meremas bagian bawah jas hitam yang ia kenakan. Baekhyun benar-benar merasa takut dan hanya kata maaf yang dapat keluar dari bibirnya.
Chanyeol tertawa mengejek tanpa menjauhkan dirinya dari laki-laki di hadapannya.
"bodoh! Jangan harap aku mau menganggapmu saudara." Lelaki berambut merah itu menanti apa yang akan dikeluarkan Baekhyun setelah ia mengucapkan hal menyakitkan –bagi Baekhyun– tadi.
"m-maaf hyung."
"jangan panggil aku 'hyung', bodoh. Apa kau tidak dengar tadi?" desisnya. Chanyeol benar-benar kesal dengan laki-laki di depannya.
"m-maaf, tetapi ayah memintaku untuk memanggilmu hyung. Aku tak mungkin menolak keinginannya."
Chanyeol mendengus.
Ayahnya berulah kembali.
'apa tidak cukup bagi ayah untuk aku menghadiri pernikahannya yang konyol tadi?' batinnya.
Chanyeol menatap tajam mata Baekhyun.
"aku yakin ayah akan memihakmu sepenuhnya daripada aku." Chanyeol meletakkan telunjuk kanannya pada dahi Baekhyun dan mendorongnya sedikit keras.
Dengan itu Chanyeol menarik tubuhnya menjauh dari tubuh mungil Baekhyun dan berbalik. Mengajak kedua temannya untuk meninggalkan Baekhyun.
Baekhyun menghela nafasnya yang sejak tadi seperti terikat oleh seluruh suara hyungnya. Punggungnya terasa lentur tiba-tiba saat ia sudah tidak berada dalam kungkungan lengan hyungnya yang terlihat menakutkan tadi. Sedikit melupakan apa yang dilakukan kakaknya sebelum menjauh darinya.
Ia dapat melihat Jongin yang berbicara sebentar dengan hyungnya di anak tangga pertama. Kemudian yang ia tahu Jongin menghampirinya seraya berkata.
"kau tenang saja, aku akan membuat hyung mu menerima dirimu okay? Tetapi aku tidak tau dengan ibu mu." Jongin mengendikkan bahunya. Baekhyun tersenyum.
"Jongin hyung baik sekali."
"hyung?" Jongin sedikit tak mengerti saat Baekhyun memanggilnya 'hyung'.
Baekhyun tertawa kecil menunjukkan giginya yang kecil. "kau teman Chanyeol hyung, bukan?"
Jongin mengangguk samar. "sahabat." Koreksinya.
"ah iya sahabat. Dan itu berarti kau juga lebih tua dari ku." Jawab Baekhyun masih dengan senyuman.
"berapa umurmu?" Tanya Jongin dengan mata memicing. Baekhyun tertawa kecil lagi melihat ekspresi Jongin. "tujuh belas."
"baiklah, panggil aku 'hyung' karena umurku delapan belas." Jongin terkekeh. "tapi meski aku lebih tua darimu, aku akan tetap membantumu." Lanjutnya.
"terima kasih Jongin hyung." Baekhyun membungkuk sedikit sebagai tanda hormat dan terima kasih pada Jongin.
"you're welcome, itulah teman." Jongin melihat ke arah tangga dan melanjutkan, "aku harus kembali sebelum hyung mu curiga. Aku tadi beralasan untuk minum. Kalau begitu aku kembali ya?"
Baekhyun hanya mengangguk dan melihat punggung temannya menjauh darinya.
Ngomong-ngomong tentang hyung barunya, Baekhyun belum tau namanya. Dari tadi Jongin juga hanya menyebut 'hyung mu'.
Dan tiba-tiba ia teringat sesuatu.
'bukankah ia yang ada di foto besar itu?'
Baekhyun berbalik untuk menatap kembali foto berukuran tinggi 120 cm dan lebar 90 cm yang berbingkai sebuah pigura berwarna cream dengan ukiran di setiap sisinya itu.
'benar. Laki-laki yang ada di dalam foto itu adalah hyung.' Batinnya.
Baekhyun mengarahkan bola matanya untuk melihat sederet tulisan yang ditulis menggunakan cat emas dengan model font latin dan berbahasa Inggris.
Park Chanyeol
Son of Pres. Park Jungsoo
Heir of Dongtan Global School
Baekhyun membaca tulisan itu berkali-kali.
Jadi nama hyungnya adalah Park Chanyeol? Dan ia adalah pewaris sekolah Dongtan Global High School yang terkenal itu? Dan pemimpin yang sekarang adalah ayah barunya.
Tiba-tiba Baekhyun merasa kecil di sini. Ia yang awalnya hanya seorang anak miskin sekarang menjadi anggota keluarga dari keluarga kaya di Korea Selatan.
"Tuan Muda Baekhyun."
Baekhyun benar-benar terkejut dengan suara mirip ibu-ibu yang memanggilnya dengan panggilan aneh –yang mulai hari ini akan menjadi panggilan untuknya– dan berasal dari belakang punggungnya.
Sebelum berbalik Baekhyun sempat bergumam 'ya' dan mengarahkan pandangannya ke arah tulisan lain yang ada di pojok kiri bawah foto hyungnya. Sebuah tanggal yang Baekhyun yakin adalah tanggal pengambilan potret foto itu.
March 18th 2014
Baru sebentar foto itu diambil. Pantas saja wajahnya belum berubah.
"apakah ini hyung ku?" Baekhyun menoleh dan bertanya pada maid setengah baya itu. Dan beliau mengangguk dengan senyuman.
Baekhyun ikut mengangguk setelahnya.
"Tuan besar menyuruh saya untuk mengantar anda ke kamar baru anda sekarang. Tadi beliau juga sudah telfon bahwa barang-barang Tuan muda akan segera sampai." Wanita itu sedikit membungkuk saat selesai bicara. Dan Baekhyun sama sekali tak mengerti maksud dari wanita itu.
"Tuan Muda siapa? Chanyeol hyung?" Tanya Baekhyun dengan sedikit menyipitkan matanya dan maju dua langkah mendekati wanita itu.
Maid itu hanya terkekeh melihat tingkah laku Tuan muda barunya yang begitu polos dan menggemaskan.
"bukan. Yang saya maksud adalah Tuan Muda Baekhyun, yaitu anda."
"oh, jadi ayah menyuruh bibi untuk menunjukkan kamar ku?" ucap Baekhyun dengan raut semangat yang lucu.
"ya, kalau begitu anda dapat ikut saya sekarang. Panggil saya bibi Nam, Tuan Muda." Baekhyun dengan canggung tersenyum dan mengikuti wanita itu untuk menuju ke lantai dua.
Dan ia dapat melihat tiga pintu di sana.
"pintu yang di pojok adalah kamar mandi di lantai dua. Lalu ini adalah kamar Tuan Muda Chanyeol. Dan ini adalah kamar Tuan Muda Baekhyun." Jelas bibi Nam.
Baekhyun tampak berpikir sejenak, "kamar ku ada di depan kamar Chanyeol hyung?"
Dan bibi Nam hanya mengangguk menanggapinya.
"sekarang Tuan Muda dapat masuk dan melihat kamar anda. Jika anda tidak suka dengan kamarnya, anda dapat memilih kamar lain yang masih kosong." Ucap bibi Nam dengan senyuman yang terlihat mulai keriput di kedua pipinya.
Baekhyun dengan cepat menggeleng, "tidak bibi! Bagiku ini sudah lebih dari cukup. Kalau begitu aku masuk dulu ya?"
Bibi Nam mengangguk dan meninggalkan Baekhyun yang terdiam di depan pintu kamarnya.
'astaga, di depan kamarku adalah kamar Chanyeol hyung'
Baekhyun tersenyum dan memasuki kamar barunya. Baru saja ia menutup pintu, matanya telah membulat melihat kamar barunya yang tampak seperti kamar istana.
"ini kamarku?" ucapnya tidak percaya.
Baekhyun mulai berjalan untuk melihat kamarnya yang luas dan mewah.
"seperti kamar yang ada di istana Inggris. Aku pernah melihat seperti ini di film." Baekhyun tetap berbicara sendiri dan menyentuh berbagai barang mewah di kamar barunya.
"cat dindingnya warna biru! Dan semuanya serba biru, aku suka ini!"
Ia melihat ranjang besar di depan matanya. Baekhyun tak dapat menahan dirinya untuk membuat tubuhnya jatuh tepat di atas ranjang yang terlapisi sprei biru bermotif kotak-kotak putih. Dan lagi-lagi matanya membulat.
"wow! Ini empuk sekali! Beda dengan ranjang ku yang lama." Baekhyun memeluk guling barunya dan membuat dirinya terpental-pental kecil di atas ranjangnya.
Dan gerakannya terhenti saat melihat Chanyeol ada di ambang pintu. Berdiri diam seperti patung dan menatap Baekhyun tajam.
Baekhyun bersumpah dapat merasakan jantungnya yang berdetak kencang saat melihat Chanyeol menutup pintu kamarnya dan mendekati ranjangnya.
.
.
.
.
.
Deg
Deg
Deg
.
"senang dengan apa yang kau punya saat ini?"
Baekhyun beringsut mundur dan menjauh dari Chanyeol yang sudah berdiri tepat di sisi lain ranjangnya. Menatapnya dengan pandangan yang tajam dan seolah dapat melubangi kepala Baekhyun.
"apa yang hy-" Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat.
"apa yang kau lakukan di sini?" Baekhyun tidak yakin jika Chanyeol akan menjawabnya karena ia dengan jelas melihat lelaki tinggi itu mendekati ranjangnya dan berusaha mendekat ke arahnya. Baekhyun tidak bodoh hanya untuk diam saja di saat ia tau sesuatu yang 'berbahaya' sedang mendekat padanya. Dan ia memilih untuk menggeser duduknya ke belakang sedangkan ia sendiri tidak tau pasti slebar apa ranjang barunya, maka baekhyun akan meraba ranjang di belakangnya dan mulai mundur dengan posisi duduknya.
"kau tidak tau rasa hatiku saat mengetahui bahwa ibu kandungku telah meninggalkan anak tunggalnya!" Chanyeol berteriak tiba-tiba dan hal itu mampu membuat Baekhyun berjengit terkejut.
Baehyun tidak tau mengapa saat itu tangan yang menjadi penopang di belakang tubuhnya terasa bergetar.
"aku membencinya!" bentak lelaki tinggi itu sekali lagi.
Baekhyun juga tidak tau mengapa matanya memburam dan terasa perih. Dan ia benar-benar membenci fakta bahwa dirinya akan menangis jika melihat seseorang mengeluarkan emosinya dengan jelas di hadapannya. Entah itu menangis, marah, atau tertawa. Baekhyun akan tetap menangis.
"and I hate you." Bisik Chanyeol sebelum beranjak dari ranjang Baekhyun dan keluar dari kamarnya..
Baekhyun dapat merasakan aliran dingin melewati pipinya. "hiks ibu, apakah Chanyeol hyung berkata bahwa ia membenci ibunya dan diriku? Kenapa aku?" lirihnya dengan aliran air mata yang ada di pipinya.
Cepat-cepat ia menidurkan dirinya di atas ranjang itu dan membiarkan air matanya terus mengalir.
"seharusnya hyung tidak boleh membenci ibunya. Seharusnya ia menyayangi ibunya. Seperti aku menyayangi ibuku."
.
.
.
Sunday 27th July 2014 (19.10 p.m KST)
Malam ini adalah malam untuk pertama kalinya Baekhyun merasakan bagaimana makan malam hangat bersama keluarga. Meskipun yang membuatnya hangat adalah candaan yang keluar dari ucapan ayahnya, Park Jungsoo. Sepertinya ia akan menyayangi ayah tirinya seperti ia menyayangi ibunya.
Baekhyun sedikit melirik ibunya yang terlihat tenang menikmati menu masakan Perancis yang disajikan maid bagian dapur. Tanpa ia sadar hal itu membuat senyuman terkembang di bibir tipisnya.
"ah iya Baekhyun. Ayah akan mengatakan hal penting padamu." Ucap Jungsoo setelah mengahabiskan pudding sebagai dessert makan malam hari itu.
"ada apa ayah?" Tanya baekhyun dengan penasaran.
"ayah telah membicarakan ini dengan kakakmu tadi siang, sebenarnya ayah juga akan mengatakan tadi siang, tetapi saat ayah melihatmu tidur nyenyak di kamar baru mu, ayah tidak berani untuk membuat dirimu terjaga."
Chanyeol diam dan ia mulai mengerti di mana arah pembicaraan ayahnya. Maka diam-diam Chanyeol menyumpit sedikit spaghetti –menu makan malamnya– demi lebih jeli mendengar apa yang akan ayahnya ucapkan di depan Baekhyun. Meskipun Chanyeol tetap bertahan dengan ekspresi tidak pedulinya seperti yang ia tunjukkan tadi siang saat ayahnya menyampaikan hal yang sama –mungkin– seperti mala mini.
Toh mau hal itu terjadi atau tidak hal itu akan tetap terjadi, mengerti bagaimana posisi ayahnya. Jadi ia memilih tidak peduli.
'masa bodoh dengan ini.' Batin laki-laki tinggi itu.
Chanyeol diam saat merasa ayahnya diam lebih dari lima detik. Maka ia menoleh dan mendapati tatapan ayahnya yang mengarah padanya. Chanyeol terdiam juga menatap ayahnya kemudian mengangkat bahunya tak peduli dan kembali focus dengan makanannya.
"ayah akan memwariskan yayasan sekolah milik ayah padamu dan kepada kakak mu. Jadi ayah akan membagi dua untuk kalian."
Baekhyun tentu saja terkejut. Dia bukan siapa-siapa pada awalnya, tetapi karena sang ibu menikah dengan Tuan Park –seorang Presiden dari Dongtan yang mewah– dirinya menjadi salah satu pewaris dari sekolah elite itu.
"dan besok kau akan mulai masuk sekolah di sana. Kau bisa meminjam seragam milik Chanyeol karena ayah belum membelinya untukmu, apa kau dapat mengendarai mobil? Karena ayah membelikanmu sebuah mobil untuk kau kendarai jika pergi ke sekolah."
Taeyeon terbatuk kecil setelah menelan makannnya, maka ia segera meneguk air minum dan menatap tak percaya pada suaminya.
"kau memberi Baekhyun mobil?!" tanyanya dengan nada tak percaya.
"ya, apakah ada masalah yeobo?" jawab Jungsoo kepada istrinya.
Baekhyun jelas dapat merasakan hyung di sampingnya memutar bola matanya kesal tepat saat ayahnya memanggil ibunya dengan sebutan 'yeobo'.
"tetapi ia tak dapat mengendarai mobil. Baekhyun tak bisa." Sanggah Taeyeon.
Ayah mereka terlihat sedang berfikir dengan tangan yang masih mengapit sumpitnya.
"kalau begitu kau harus mengikuti kursus mengemudi, Baekhyun." Ucap ayahnya. "karena ayah telah mempersiapkan mobil itu sebagai hadiah untukmu. Bukankah terlihat tak adil jika ayah hanya memberikannya pada kakakmu sedangkan kau adalah anak ayah juga, bukan?" lanjutnya dengan tersenyum kepada Baekhyun. Sepertinya laki-laki paruh baya itu tak mengetahui bahwa salah satu anaknya merasakan cemburu sangat besar.
"Baekhyun tak boleh mengendarai mobil sendiri ayah. Dia belum legal di Negara." Chanyeol benar-benar memilih cara kekanakan dengan sedikit menghalangi Baekhyun untuk memiliki mobil baru yang diberikan oleh ayah mereka secara 'cepat' dan 'mudah'.
'masa bodoh. Ayah benar-benar tak adil. Bahkan dia memberi ku mobil empat bulan setelah aku legal oleh Negara.' Kata hatinya.
"tetapi tidak masalah bukan, jika Baekyun kursus mengemudi?" sanggah ayahnya. Tuan Park terlihat mengerutkan alisnya saat melihat tingkah anaknya yang sedikit 'cildish' menurutnya.
Baekhyun hanya diam tak mengerti, ia bisa apa jika berhadapan dengan opini kakak dan ayahnya yang terlihat sedikit panas. Sempat Baekhyun berfikir apakah seperti ini jika kakak kandungnya dan ayah kandungnya berkumpul dalam satu meja makan dengan kehadiran dirinya beserta ibunya, tentu saja saat mereka dalam keadaan umur seperti sekarang.
Chanyeol terlihat sangat keberatan dengan keputusan ayahnya. Kursus mengemudi?
'bahkan dulu ayah tidak peduli aku dapat menyetir mobil atau tidak.'
"mengapa ayah melakukan ini untuk Baekhyun?" Chanyeol sudah tidak tahan dengan semua perhatian ayahnya yang diberikan pada Baekhyun. Anak kandung melawan anak tiri sungguh tak masuk akal bagi pemikiran Chanyeol.
Tuan Park hanya diam menatap putra kandungnya yang juga menatapnya. Baekhyun melirik reaksi ibunya yang sungguh tak masuk akal.
Taeyeon hanya diam sembari tetap menikmati makan malamnya seakan tak ada seorang pun yang hadir dalam meja makan panas itu.
"Baekhyun butuh hal itu untuk keperluannya pergi ke sekolah, ayah tahu betul kau tak akan mau memberikan tumpangan pada orang lain kecuali hanya anak dari keluarga Kim dan keluarga Oh yang boleh menumpang pada mobil kebanggaanmu itu." Jelas Jungsoo kepada anaknya.
Chanyeol membisu dan sedikit melirik Baekhyun di sampingnya.
"betul pernyataan ayah? Tak mungkin kau mengijinkan Baekhyun menyentuh mobil putihmu. Jadi ini keputusan ayah."
Baekhyun mendongak dan berkata, "aku tak perlu menggunakan mobil ayah. Aku bisa naik bus atau berjalan." Baekhyun memilin kain di pangkuannya.
Jungsoo tertawa yang membuat Chanyeol mengernyit. Jarang sekali ia melihat ayahnya tertawa selepas itu. Jika bukan karena Baekhyun.
"Are you kidding me? Kau tau Baekhyun, di komplek ini jarang kau menemukan bus. Kau harus berjalan sekitar lima belas menit baru mencapai halte terdekat. Jadi turuti saja saran ayah. Ini juga baik untukmu."
'dan buruk untukku' batin Chanyeol.
.
.
.
Monday 28th 2014 (07.10 a.m KST)
"untuk hari ini ayah yang mengantarmu ke sekolah. Ngomong-ngomong, seragam Chanyeol tampak besar di tubuhmu nak." Ayahnya tertawa melihat penampilan Baekhyun yang lucu.
Baekhyun mendengus malu, "sudahlah ayah, ini juga sementara untuk Baekhyun. Jadi tak masalah."
Ayahnya mengusap sayang rambut Baekhyun dengan satu tangannya. Sedangkan pandangan ayahnya tetap tertuju pada jalanan ramai. "ayah akan menemui kepala sekolah nanti, dan menyuruhnya untuk memanggil ketua organisasi siswa untuk mengantarmu melihat seisi sekolah."
Kedua alis laki-laki mungil itu menyatu tanda tak mengerti.
Mengerti akan respon diam anak tirinya yang menatap kepadanya, Jungsoo kembali mengambil alih bicara sebelum Baekhyun bertanya.
"kau harus tahu isi salah satu sekolah dari grup yayasan ayah, yang akan kau ambil alih nantinya bersama kakakmu Baekhyun."
Baekhyun hanya mengangguk sebelum bertanya sesuatu yang sangat jelas jawabanyya.
"mengapa bukan Chanyeol hyung saja yang membantuku?"
Jungsoo membersihkan tenggorokannya sebelum menjawab pertanyaan anaknya yang polos itu dengan sabar, "Chanyeol ada di kelas akhir, dia akan sibuk di kelas, Baekhyun."
Sebenarnya itu alibi yang paling masuk akal mengingat hal yang anak tingginya ucapkan saat lelaki paruh baya itu memintanya menemani adik tirinya untuk melihat isi sekolah barunya.
'aku bukan tour guide.'
Jadi tak mungkin ia memaksa anak kandungnya yang keras kepala itu.
Jungsoo tersenyum getir mengingatnya, dengan cepat ia mengalihkan pembicaraan sebelum Baekhyun menaruh curiga dengan lamunannya.
"tetapi jika kau belum mengenal seorang pun, kau bisa mengajak Chanyeol untuk makan siang bersama di kantin, ayah akan mencoba berbicara dengannya. Kau jangan khawatir oke?"
Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia berharap hyung nya itu mau menemani hari-hari baru di sekolahnya.
"sudah sampai nak." Suara ayahnya membuat Baekhyun mengalihkan pandangannya ke jendela mobil di sampingnya. Melihat betapa banyak mobil yang mengantar murid-murid di sekolah barunya.
'wah mewah sekali sekolah ini.' Batinnya dengan menatap gedung sekolahnya.
"ini milikmu Baekhyun."
Baekhyun menoleh untuk mendapat senyuman hangat ayahnya.
"jangan merasa asing dengan sekolah yang akan kau kelola nantinya. Belajar dengan baik dan buat ayahmu ini bangga, right?" ucapan Tuan Park dibalas anggukan oleh anaknya. Baekhyun dengan cepat memeluk erat ayah tirinya. Hatinya tak dapat ia pungkiri merasa amat hangat.
Ia merasa lengkap. Meskipun Chanyeol hyung belum menerimanya.
"thank you daddy, thank you to be my father."
.
.
.
Monday 28th July 2014 (08.05 a.m KST)
Baekhyun hanya diam tak mengerti apa yang dibicarakan antara ayahnya dan kepala sekolah barunya –Kepala sekolah Son.
"tolong Tuan Son, karena Baekhyun ini anaknya sangat pemalu, aku yakin anakmu pasti dapat membuatnya merasa nyaman." Ucap ayahnya.
Kepala sekolah Son mengangguk, "aku akan menelponnya, aku akan menyuruhnya untuk kemari."
Baekhyun hanya diam dan memerhatikan sepatu barunya, ia suka dengan sepatu pemberian ayahnya.
"dia akan kemari sebentar lagi." Ucapan kepala sekolah Son menyadarkan baekhyun akan lamunannya, ia sedang berfikir kiranya siapa yang akan datang kemari menemui mereka?
Selang beberapa menit mendengar percakapan ayah dan kepala sekolahnya, suara ketukan pintu terdengar dan jawaban 'masuk' dari kepala sekolah membuatnya dapat melihat seorang gadis cantik yang memiliki rambut panjang yang indah.
Baekhyun sedikit terpana melihat senyuman gadis itu yang ditujukkan untuknya.
Gadis itu membungkuk sopan, "hai semuanya, nama saya Son Naeun. Saya yang akan membantu Baekhyun-ssi untuk melihat seisi sekolah ini."
Bahkan Baekhyun merasa suara gadis itu lembut sekali.
"Son Naeun adalah anak saya Tuan Park, dia juga ketua organisasi siswa di sini dan akan mengantar Baekhyun, anak Anda." Jelas kepala sekolah.
Baekhyun tersenyum mendengarnya.
"Naeun-ssi, tolong bantu anak saya, buat dia nyaman dan tidak merasa asing." Pinta Tuan Park.
Gadis cantik itu mengangguk dengan senyuman di wajahnya, "tentu saja Direktur Park. Ayo Baekhyun-ssi."
Baekhyun menatap ayahnya ragu. Tuan Park yang mengerti mengelus rambut anak tirinya.
"ikut dan dengarkan apa yang Naeun ucapkan, baekhyun. Kau mengerti?"
"aku pergi dulu ayah."
Baekhyun berdiri dan melangkah menuju gadis ketua organisasi dan mereka melangkah meninggalkan ruangan setelah sebelumnya member I salam untuk kepala sekolah dan direktur di sana.
.
Sebenarnya Baekhyun benar merasa canggung dengan hal ini. Ia jelas menyukai Naeun karena gadis itu sungguh cantik sekali. Suaranya juga lembut saat menjelaskan berbagai sudut sekolah mereka. Dan akan menjadi canggung saat Naeun mengajaknya untuk istirahat di kantin.
Bukan yang menjadi canggung adalah pembicaraan mereka tentang rumus fisika yang membingungkan, tetapi tatapan mata hyung nya yang sedang menatap mereka dalam diam dari tengah meja kantin. Tentu saja ia sendirian. Chanyeol sendirian dalam meninggalkan mata pelajaran pertama dengan sengaja. Entah apa yang ada di pikiran kakaknya di saat ia menginjak tahun terakhir sekolahnya, ia malah memilih membolos demi menatapnya –mungkin– dan menyesap cappuccino. Di pagi hari seperti ini.
Dan akan menjadi canggung lagi saat Chanyeol membuat gerakan agar Baekhyun menghampirinya. Baekhyun meminta izin sebentar kepada Naeun dan segera menghampiri kakaknya.
"ada apa?"
"follow me." Chanyeol langsung saja membawa Baekhyun pergi dari kantin dan mengajaknya untuk masuk ke dalam gedung lapangan voly yang kebetulan sepi sekali.
Baekhyun memandang sekeliling dengan ekspresi mengingat, "untuk apa hy-"
"jangan panggil aku 'hyung'!" sela Chanyeol tanpa membalikkan tubuhnya pada Baekhyun.
"ada apa Chanyeol memanggilku dan membawa kita kemari? Apa ada yang Chanyeol katakana padaku sekarang?" tak dapat berbohong bahwa mata Baekhyun terlihat was-was akan apa yang mungkin Chanyeol lakukan padanya.
"untuk apa kau bersama dengan Son Naeun? Kau tahu dia adalah seorang ketua organisasi siswa?!"
Lelaki kecil itu bingung akan apa yang kakaknya ucapkan. Maksudnya, hey! Chanyeol adalah seseorang yang mungkin tak menginginkan kehadirannya, tetapi sekarang mengapa terkesan sekali bahwa Chanyeol –kakaknya– seperti menaruh perhatian kepadanya? Apakah ia boleh untuk mulai berharap jika kakaknya menerima kehadiran dirinya sebagai seorang adik?
Seulas senyum Baekhyun keluarkan dengan tanpa beban.
Tak tahu jika Chanyeol di balik sana terlihat menunggu jawaban Baekhyun dengan amarah yang entah mengapa selalu hadir jika Baekhyun ada di sekitarnya. Dengan tidak sabar Chanyeol membalikkan badannya untuk berhadapan dengan baekhyun.
Langkah kaki panjang itu bergerak mendekati Baekhyun dengan pandangan datar.
"apakah menurutmu Son Naeun cantik?"
Baekhyun diam. Perlahan senyumnya memudar.
"dia cantik, bukan?"
"yes, I think." Baekhyun sungguh butuh kekuatan lebih untuk menatap bola mata Chanyeol. Matanya sungguh tajam dengan menyiratkan banyak arti di dalamnya. Ia bungkam setelahnya.
"ouh, do you like her?"
"yes I think so."
Chanyeol menunjukkan senyuman mengejek –atau entahlah seperti seringai di mata Baekhyun.
"what would you do, if I say that, I like Son naeun too?"
Entah mengapa setiap kata yang keluar dari bibir kakaknya terasa seperti perlahan membakar tulang kakinya. Baekhyun bingung harus menjawab apa pada pertanyaan Chanyeol.
"aku-aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan."
Chanyeol perlahan maju semakin dekat dengan posisi mereka, "jangan dekat dengan Son Naeun, kau akan menyesal jika tak mendengar ucapanku, stupid boy!"
Baekhyun hanya dapat menelan ludahnya, sedangkan matanya telah terkunci dengan bola mata Chanyeol yang menatapnya tajam sejak tadi.
"entah mengapa, aku selalu tak suka memandang wajahmu. Jadi sebaiknya kau menjauh dariku dan dari gadis itu.." suara Chanyeol yang berbisik padanya begitu rendah dan membuat Baekhyun merinding karenanya.
"aku membenci semua ini!" Chanyeol mengambil dua langkah ke belakang seraya berkata lirih.
"she's bitch and her bitch too."
"siapa yang kau maksud, Chanyeol?" Tanya Baekhyun. Jujur ia merasa takut dengan kata-kata itu.
Laki-laki tinggi itu membawa tubuhnya segera pergi dari hadapan Baekhyun meninggalkan sebuah pertanyaan menggantung dari Baekhyun. Ia butuh jawaban dari kakaknya.
Baekhyun takut jika yang Chanyeol maksud adalah dirinya, tetapi bukankah dia berucap 'she' tadi? Dan itu berarti yang dimaksud Chanyeol adalah seorang perempuan.
"siapa perempuan yang ia maksud?" gumamnya dengan pandangan kosong.
BRAAKK!
Baekhyun menoleh untuk mendapati pintu gedung lapangan voly yang tertutup dengan keras dan disengaja oleh kakaknya.
Baekhyun sedih sekali.
.
.
.
Monday 28th 2014 (19.25 p.m KST)
"bibi Nam, ayah dan ibu ada di mana? Rumah sepi sekali?"
Wanita tua itu tersenyum hangat melihat penampilan Baekhyun yang sepertinya baru saja terjaga dari tidur singkatnya.
"Tuan besar dan Nyonya pergi untuk menemui saudara di Busan. Mungkin beliau akan kembali pagi buta."
"bersama Chanyeol hyung?"
Wanita tua itu dengan pelan menjawab, "tuan muda Chanyeol belum pulang."
Baekhyun hanya mengangguk mengerti.
"bolehkan saya kembali untuk membuang sampah di dapur tuan muda?" ucap bibi Nam lembut.
"ah tentu saja bibi, maaf karena Baekhyun mengganggu bibi."
"tidak masalah." Dan kata terakhir dari bibi Nam yang meninggalkannya sendirian di depan televisi dengan layar yang lebar dan menempel pada dinding ruang keluarga itu.
"mencariku?"
Baekhyun menoleh.
"aku akan menyuruh bibi Nam untuk tidur di rumah belakang, jadi kita dapat berdua di rumah ini."
"Chanyeol hyung."
.
.
.
Tobecontinue
.
a/n : hai… hehehe yes I know, aku emang telat bgt update nya karena beberapa alasan. Pertama karena aku mengalami sakit yang lumayan lama dari akhir November to sekarang udah lumayan baik, so aku mengalami block writer hihi. Kedua karena tugas sekolah, heran sama ketua yayasan yg mewajibkan setiap guru sering2 beri tugas derita sekolah swasta /yah curcol/ -_-
dan aku selipin curhatan aku di atas hahaha~ tentang Baekhyun yang ditentang Chanyeol buat mengemudi -_- pengennya sih ini aku panjangin lagi tapi ada yg minta update kemarin hihihi aku jd ngerasa gantungin kalian jadi ya aku potong sampai sini.
Udah panjang gak sih? Tapi menurut aku panjang loh 14 page. Dan ini belum ada sama sekali sad moment antara Chanbaek huehe..
Makasi buat : dandelionleon (makasii ya uda nyadarin/? Buat update ff abal ini) ; Byun Byun ; ChanBaekLuv ; Dandelion99 ; FriederichOfficial ; xiubaekhan ; dims ; chanbaekyu ; Keepbeef Chiken Chubu ; bapexo ; ; devrina ; melizwufan ; farfaridah16 ; Nenehcabill ; winter park chanChan ; otomeharu22 ; Kim Eun Seob ; Rnine21 ; Ohmypcy ; ; nn ; sunsehunee
See you~
