Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.
Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.
.
AoKaga
"Malam Minggu AoKagazone : Game"
By : Zokashime
Happy Reading
.
.
.
"Ahh…segar." Kata itu yang pertama kali terucap saat manik crimson keluar dari kamar mandinya. Lalu mengusap kepalanya dengan handuk agar air yang tertinggal disurai merahnya tidak menetes kemana – mana, ganti pakaian sekenanya kemudian ia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.
"Baru jam setengah tujuh ya?" gumamnya. "Hufttt….malam minggu lagi."
Wajahnya berubah seketika dari segar menjadi tak beraturan, mengingat kembali malam minggu yang lalu bersama si Aomine kampret Daiki. Karena idenya yang gila itu mereka pingsan dan sadar – sadar sudah pagi. Yang membuatnya lebih syokh, kenapa Kuroko bisa ikut pingsan bersamanya. "Aomine sialan!" Decaknya. "Untung cuma pingsan, kalau gue mati?"
.
.
'Zengen wa tekkai suru ze saikou ni moe sou da. Hey! Hey! Istsudemo matteru ze.'
.
.
Ia menyipitkan mata, saat suara berat nan sexi itu terdengar dari Hpnya. Ya itu tadi salah satu lirik lagu yang mereka nyanyikan saat ada pengambilan nilai kesenian di sekolahnya.
Saat itu mereka tidak tau harus berbuat apa untuk menyelamatkan nilai keseniannya. Ada yang membuat keterampilan dari bahan bekas, melukis, bermain drama, dan macam – macam. Jadi, mereka memutuskan untuk menyanyikan dan merekam lagu yang berjudul 'Ultimate Zone'. Lirik yang dinyanyikan Kagami di bait pertama dijadikan nada dering oleh Aomine, begitu pula lirik yang dinyanyikan oleh Aomine dijadikan nada dering oleh Kagami.
"APA!" Teriaknya setelah menekan tombol hijau di Hp.
"Oi, biasa aja Baka! Memangnya gue tuli sampe teriak – teriak begitu?" Seseorang disebrang sana protes.
"Habisnya tadi sebelum gue angkat gue punya pirasat buruk kalau lo yang nelpon. Bahkan udah mau gue matiin."
"Terus kenapa diangkat? Ah gue tau lo mau dengerin suara gue yang sexi ini, 'kan?"
"Uwekk! Najis banget!"
Aomine hanya terkekeh mendengar suara muntahan Kagami. "Ka kerumah gue dong sekarang!" Pintanya.
"Hah, mau ngapain?"
"Ayah sama ibu gue nggak ada nih"
"Hubungannya sama gue apa?"
"Temenin gue bodoh. Gue takut sendirian di rumah. Kalau tiba – tiba ada cewek cantik, baju putih dan rambutnya panjang datengan gue," Aomine menarik nafasnya sejenak. "GUE GIMANA BAKAAA….!" teriaknya sampai membuat Kagami kaget.
"Kenapa nggak bersikap kayak minggu yang lalu. SOK BERANI GITU," Suaranya agak ditekan agar sindirannya tersampaikan.
"Oke gue tau gue salah! Gue minta maaf! Lo puas, huh!"
"Lo minta maaf? Apa ngajak berantem, huh!"
"Rrrrrr…..yaudah cepetanlah kerumah gue!"
"Enggak ah, lo aja yang ke Apartemen gue. Gue males keluar, okey."
"Kalau bisa dari siang juga gue udah ada di Apartemen lo kali. Masalahnya, gue disuruh tunggu rumah sama nyonya besar. Gue diancam nggak akan dapet uang jajan kalau nggak mau tunggu rumah. Gimana gue bisa nabung buat beli majalah Mai-chan, Ahhh…" cerocosnya panjang lebar sampai yang mendengarkan rasanya ingin tidur.
"Halah! Nabung pantat lo, beli majalah mesum tetap aja pake duit gue."
"Hehehehe….yang itu kita lupain aja ya Baka. Yaudah cepetan kesini!"
Kagami gregetan ingin memakan Aomine. "Enggak!"
"Lo yakin nggak mau kesini? Gue ada cheeseburger, ibu gue beli banyak banget supaya gue nggak keluar – keluar lagi. Parah emang."
Suara Aomine saat mengatakan cheeseburger adalah hal yang paling indah. "HAH! APA CHEESEBURGER?!" teriaknya histeris.
"Iya cepetan kesini makanya, kalau nggak gue habisin."
"JANGAN OI! Iya gue kesana sekarang. Pokoknya jangan dihabisin ya."
"Oke. Mmmmmuuuaaaccchh"
Tuttttttt…
"i-i-itu..tadi suara apa?" tanyanya sambil memandangi Hp. "…..horor."
Setelah tatap – tatapan dengan Hp, ia langsung mengantongi kedalam sakunya, dan tidak lupa mengambil dompet kemudian bergegas menuju rumah Aomine.
.
.
.
20 menit untuk sampai kerumah Aomine, akhirnya taxi yang ia tumpangi berhenti di sebuah rumah tingkat satu dengan cat berwarna biru tua.
Ting…..tong….
Ting…..tong….
Ia memencet bel berkali – kali tapi masih tidak ada manusia yang membukanya. "Mungkin dia mati," Gumamnya.
Dan ia harus merogoh Hpnya yang sudah damai didalam saku karena getaran yang ditimbulkan.
From : Aho
Baka masuk aja, pintunya nggak dikunci kok.
Dengan cepat ia langsung membuka pintu sesuai instruksi dari Aomine. Saat memasuki ruang tamu raut wajahnya berubah menjadi seekor harimau yang akan menerkam mangsanya. Syokh, marah, bingung apa yang sedang dipikirkan Aomine. Apa Aomine ingin pamer?
Ya tuhan boleh tidak ia dipindahkan saja ke planet Mars. Supaya dia tidak bisa bertemu Aomine lagi, supaya si dekil itu tidak selalu membuatnya marah, sebal, benci dan lain – lain tidak kuat jika harus disebutkan semua.
Ia melihat Aomine mendatanginya. "AOMINE LO_" saat semua amarahnya akan dikeluarkan.
"Iya plis nanti aja marahnya. Mendingan lo langsung kedapur dan makan cheeseburger. oke," Potong Aomine dengan tidak tau diri.
Raut wajah Kagami masih seperti tadi, tapi apa daya. "Cihh! Liat aja lo nanti."
Dan hanya mendapat cengiran kuda dari Aomine, kemudian ia langsung masuk menuju dapur. Benar saja di meja makan banyak sekali cheeseburger, matanya langsung berbinar – binar dan dikelilingi oleh bintang – bintang.
Tanpa pikir ini itu tangan panjangnya mengambil cheeseburger dan dilahapnya tanpa ampun sebagai tanda penghibur diri karena sikap Aomine yang menyebalkan.
Bagaimana tidak menyebalkan. Aomine menelpon dan menyuruhnya untuk datang, alasannya karena dia sendirian, takut hantu dan blablabla. "Cihh!" decak Kagami sambil megunyah makanan.
Tapi ternyata si Aomine itu sedang asyik – asyikan berdua dengan seorang gadis. Gadis yang memang tipenya, dengan dada yang WOW! Sangat besar, dilihat sekilas tubuhnya memang bagus, orang sekarang menyebutnya 'gitar spanyol'. Ia tidak tau dimana Aomine menemukan gadis malang itu.
Terus untuk apa Kagami disuruh kerumahnya jika ia sudah punya teman. Oh hell! Malam ini adalah malam minggu, dan ia harus melihat dengan mata kepala bahwa temannya yang paling kampret itu sedang bermesra – mesraan, sedangkan ia harus menjadi obat nyamuk? Tidak! Tidak bisa dimaafkan kelakuan Aomine.
Tapi yang tidak paling beruntung malam ini adalah gadis itu yang mau – maunya saja di rayu oleh Aomine. "Nasib lo jelek banget mbak. Sabar ya," Gumamnya simpati.
.
.
.
Setelah makan cheeseburger terlewati Kagami masuk kedalam kamar Aomine yang ada dilantai dua tapi itu satu jam yang lalu, dan sekarang sudah pukul 08.00 tepat. Ia haus, Aomine idiot itu tidak menyiapkan minum di kamarnya jadi mau tidak mau ia harus turun dan harus melihat (lagi) si Aho dekil dengan gadis tak beruntung itu.
Ini tidak adil untuknya, Aomine ada yang menghibur sedangkan dirinya dibiarkan sendiri dikamar. Bosan, sangat bosan menunggu Aomine. Ia sudah menonton tivi, ia mencoba melihat majalah mesum milik sohibnya itu, tapi gagal karena kokoronya yang suci tidak kuat melihat wanita dengan berbagai pose sedang mengumbar – ngumbar kepunyaannya.
Setelah mengambil minum dan rencanannya akan kembali lagi kekamar, tetapi rencana itu sirna. Ia berhenti untuk meletakan gelasnya ditangga, berdiri kemudian berbelok arah menuju sofa dimana Aomine dan gadis tak beruntung sedang duduk mengobrol.
.
.
.
.
Slepp…
Aomine dan gadis tak beruntung bengong. Ada sesuatu yang melingkari badannya, dan ternyata Kagami memeluk Aomine dari belakang.
"Oi, mbak nggak beruntung?" Panggilnya. "Mendingan pulang aja deh. Lagian mau – maunya dirayu sama si Aho ini."
Gadis tak beruntung itu syokh tidak tau harus menjawab apa. Sedangkan Aomine memutar bola matanya.
"Sudah jam 8, cewek nggak boleh main malem – malem dirumah cowok."
Gadis tak beruntung langsung berdiri. "Bener apa yang dikatakan Raditya Dika. Cowok itu punya 2 tipe kalok nggak bajingan pasti dia homo."
"HAH!" Aomine dan Kagami langsung teriak histeris mendengarnya, tidak lama gadis tak beruntung itu keluar dari rumah Aomine.
Dan Kagami puas, untuk merayakan kepuasannya ia tertawa dengan lepas. Aomine hanya melihat tajam. Membiarkan Kagami puas tertawa dahulu baru nanti ia akan membunuhnya.
"APA! Liatin gue," sentak Kagami yang tak nyaman dilihat tajam oleh Aomine.
Aomine lebih menajamkankan pandangannya, kemudian jemari tangannya ia angkat dan dilingkarkan dileher Kagami. Ia mencekik Kagami. "BAKA BANGSAT TADI ITU NGGAK LUCU!" teriaknya emosi.
Yang dicekik bukannya takut malah tertawa. Aomine menguatkan cekikakannya.
"Uhuuuk…hukkk…" Kagami terbatuk – batuk.
Aomine tidak perduli ia masih menyekik leher mulus itu. "A-a…omine..gu-gu..ee," sayang ketidakpeduliannya hanya sebatas itu, ia melepaskan cekikannya. "GUE BISA MATI IDIOT!" Semprotnya.
"Lagian lo ngapain sih, ganggu gue."
"Siapa yang ganggu. Gue nggak merasa," Jawabnya sambil mengelus – elus leher yang merah karena cekikan Aomine.
"Oh gitu," pelan
"Iya."
"Oh gitu!" agak keras
"Iya!"
"OH GITU!" Super keras
"IYA!"
Akhirnya mereka lomba keras – kerasan suara, gede- gedean otot lengan, six pack – six pack-an otot perut, sampai ke panjang – panjangan jari tangan.
.
.
.
'Honnou goto yusabutte, kyokugen kakehiki. Junsui na respect, sou sa, yeh, kuraitsuke.'
Dering yang ditimbulkan oleh Hp Aomine membuat pertengkaran selesai.
"Cie…suara gue," Ucap Kagami.
"Cih!" Aomine hanya mendecih dan cepat mengangkat Hpnya.
.
.
.
"Daiki. Posisi dimana?" Ucap seseorang di telephone.
"Oi, Akashi. Gue dirumah, ada apa?"
"Taiga dimana?"
"Ini disamping gue." Sambil melirik Kagami.
"Oke bagus. Sekarang kalian ke villaku. Anak – anak sudah kumpul disini tinggal kalian berdua."
"Hah! Malem – malem begini. Ada Apa'an sih?"
"Kau ini seperti bocah saja, baru juga pukul setengah 9."
"Iya sih. Tapi….."
"Kalian siap – siap saja, supirku sudah dalam perjalanan."
"Oh jadi dijem-"
Tutttt…sambungan terputus.
"Cih! Akashi sialan."
"Ada apa Ao?"
"Nggak tau Akashi nyuruh kita ke villanya. Katanya supirnya udah mau kesini."
"Villa yang didekat pantai?"
"Hooh."
Aomine naik menuju kamarnya untuk mengambil sweater pasti dipantai nanti anginnya sangat kencang, sedangkan Kagami mengekor dibelakangnya.
"Bukannya lo bilang, lo nggak boleh keluar rumah, ya?" tanya Kagami saat Aomine sedang membuka lemari.
"Itu cuma bohongan," Jawabnya Spontan.
"Apa?" Kagami pura – pura tidak mendengar.
"Cuma bohong Ka," Ulangnya. Masih mencari sweater satu lagi untuk Kagami.
"Apa? Coba ulangin sekali lagi."
Setelah mendapatkan keduanya ia balik badan dan menghadap Kagami. "ITU CUMA BOHONGAN BAKA TULI!" teriaknya.
Oh shit! Wajah Kagami berubah 360 derajat dari unyu – unyu menjadi Harimau lapar. Aomine hanya bisa nyengir saat menyadari apa pertanyaan Kagami.
"Eh….hehe" ia menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, mencari cara bagaimana menjelaskannya ke Kagami. "Ah..itu..tadi yang gue_" ia melirik Kagami, kemudian berpikir lagi sepertinya tidak mungkin menjelaskan dengan raut wajah Kagami yang seperti itu, matanya ia fokuskan untuk mencari perlindungan, dan saat ia melihat pintu kamar yang terbuka_
Stttttttttttt…..
Ia melesat dengan cepat sesuai kemampuannya untuk lari dari Kagami.
"OI…. AOMINE KEPARAT MAU LARI KEMANA LO!" Teriaknya sambil mengejar Aomine.
"Aduduhh…ngumpet kemana ya? lari kemana gueeeeeee?" Ucapnya sambil berlari dengan nafas yang terengah – engah.
"AOMINE! JANGAN LARI LO!" Teriak Kagami yang sedang mengejar.
Aomine makin degdegan. Jika Kagami mendapatkannya, apa yang akan terjadi?
Ia menengok kebelakang mengecek apakah Kagami sudah dekat atau belum. "Untung tadi ditangga nggak kepleset, kalau kepleset rusak tubuh sexi ini, terima kasih Tuhan," Ucapnya bersyukur.
Tanpa pikir panjang Aomine langsung lari keluar rumah, dan mendapati mobil jemputan sudah datang.
Bapak supir bingung. "Maaf, apa anda tuan muda Daiki?"
"AOMINE!" panggil Kagami.
Masih waspada terhadap Kagami, ia langsung buka pintu mobil dan masuk. "Iya pak saya Daiki. Pak cepetan pergi, ayo pak cepetan! Cepetan!"
Pak supir masih bingung, bukan masih tapi sangat bingung. Apa benar tuan Akashinya punya teman seperti orang gila.
"AOMINE! KEMANA LO, HUH!" teriaknya lagi.
Panggilan itu membuat Aomine histeris. "PAK!…PAK!...CEPETAN PERGIIIIIII…PAKKKK..." Teriaknya. Membuat si supir kaget dan langsung tacap gas meninggalkan Kagami yang sedang berteriak dan berlari.
"AOMINE….." Panggilnya setelah Aomine naik mobil. "JANGAN TINGGALIN GUE IDIOTTTTTTT!"
.
.
.
.
Aomine mengusap – mengusap dadanya karena telah berhasil kabur dari Kagami. "Ah..untung jantung gue nggak copot," Ucapnya. kemudian menarik nafas dalam – dalam.
.
.
Kagami bertolak pinggang. "Aomine bangsat, keparat, kampret, bodoh, idiot. Liatin aja lo!" ia mengomel – omel kemudian masuk lagi kedalam rumah Aomine.
Kagami sih tidak masalah jika tidak ikut ke villa Akashi, toh dia masih bisa mengerjakan yang lain walaupun agak membosankan, atau dia akan pulang saja ke Apartemennya.
.
.
Setelah menarik nafas berulang sampai tubuhnya stabil. Ia menengok ke samping untuk memberikan sweater kepada orang yang bersangkutan.
Slepp. (menengok)
Kosong. Ia mengangguk - anggukkan kepalanya.
Slepp.
Tidak ada orang yang duduk disampingnya. Ia mengangguk - anggukkan kepalanya (lagi).
Slepp.
Ia menepuk keningnya kencang. "ASTAGA KAGAMI KETINGGALAN!" Teriaknya. "PAK! BERHENTI PAK!" menggoyang – goyangkan pak supir.
"Eh…Ada apa ini den?"
"Udahh… cepetan berhenti!"
Ciitttttt…
Suara decitan ban mobil sangat jelas terdengar saat sang sopir mengerem dengan mendadak.
"Ada apa den? Tadi itu sangat bahaya, untung kita tidak menabrak mobil lain."
"Sudah bapak diam saja," perintah Aomine tidak tau diri.
Bapak supir makin heran tujuh turunan, dan masih tidak percaya tuannya punya teman macam Aomine.
"Teman saya ketinggalan pak."
"Oh begitu. Iy_"
"APA? Bapak hanya jawab 'Oh begitu', saja," potong Aomine dengan memperagakan gaya bapak supir.
Bapak supir mengelus dada. 'sabar – sabar' ucapnya dalam hati 'mungkin anak itu harus segera diperiksakan ke Rumah Sakit Jiwa'. Bagaimana tidak padahal ia belum selesai bicara, tapi Aomine langsung memotongnya dan menuduh ia tidak simpati.
"Bu-bukan begitu maksud saya den. Tadi saya juga bingung, kata tuan Akashi ada 2 orang yang harus dijemput tapi kok yang naik hanya satu."
"Kalau bapak sudah tau kenapa tidak bilang sih!"
"Ya-yakan aden yang nyuruh saya cepet – cepet pergi tadi."
"Tapikan bapak bisa mencegah saya," Ucapnya tidak mau kalah.
"Saya sudah mau berusaha mencegah, tap_"
"Ah….sudahlah semua ini salah bapak. Pokoknya saya nggak mau tau, semua ini salah bapak. Ayok balik lagi kerumah saya."
Bapak supir mendengus, menerima apa yang dikatakan Aomine. Untung anaknya dirumah penurut jika anaknya seperti Aomine mungkin ia sudah mati berdiri. Ia menuruti apa yang dikatakan tuannya. Hah! Tuan? Ia tuan, siapapun teman Akashi adalah tuannya juga.
.
.
.
Tak lama mobil mewah itu sudah ada didepan rumahnya lagi. Aomine turun, dan memerintahkan bapak supir untuk menunggunya sebentar.
Ia sudah menyiapkan segala raga dan jiwanya jika nanti Kagami ngamuk. Jadi, ia berjalan menuju rumahnya dengan mengendap – endap. "Semoga si Baka belum pulang," Ucapnya pelan.
Ia sudah akan menyentuh knop pintu, tapi niat itu ia urungkan. "Tarik nafas dulu deh." Setelah berkata seperti itu ia menarik nafas dalam – dalam dan_
Ceklek…
"Baka?" panggilnya. "Lo belum pulang, 'kan?" masih mengedap – endap dan siaga, tentu saja.
"Hallo….." teriakanya lagi.
Dan Aomine gemetar, tubuhnya sangat panas, keringat mulai bermunculan dengan cepat. Tidak tau harus bagaimana, lari, diam atau melakukan apa?
Yang pasti ia tidak bisa begerak, membeku di ruang tamu, saat Kagami dengan wajah yang sama seperti sebelumnya keluar dengan membawa pisau yang terlihat sangat wow! Mengkilat. Kagami sudah mulai dekat, apa yang harus dilakukannya?
'Ya Tuhan sadarkan Kagami' ia hanya bisa berdoa dalam hati.
Dan akhirnya mau tidak mau Kagami sudah dihadapannya sekarang. Aomine tanpa pikir panjang langsung bersujud dari pada harus kehilangan kepalanya.
"Baka ampun Baka, gue tau gue salah. Plis jangan bunuh gue sekarang," Dengan tangan memohon. "Lihat jiwa ini Baka. Masih ingin bersamamu, masih ingin cari pacar, masih ingin_"
"Lo gila ya? kerumah sakit jiwa sana. Apa perlu gue anterin," Ucap Kagami.
Aomine menegadahkan kepalanya keatas untuk melihat orang yang sedang bicara. "Jadi lo nggak mau bunuh gue."
"Apa'an sih. Gue lagi ngirisin sayuran mau buat makanan."
Kemudian Aomine bangkit dari persujudannya. "Haha… kirain gue mau dibunuh."
"Sini kalau mau dibunuh."
"Et…nggak kok becanda."
Kagami tidak menanggapi dan langsung meninggalkannya begitu saja. "Oi, Baka? Ayo, bapak supirnya udah nunggu tuh," Mengejar Kagami.
"Enggak ah lo aja pergi sendiri."
"Wehh… nggak enak lah sama Akashi udah dijemput juga."
"Bodo amat, nggak enak kasihin kucing!"
Suara Hp Aomine berdering lagi. "Nih 'kan orangnya nelpon lagi."
"Oi, Daiki. Lama sekali sih!"
"Iya – iya sebentar ada kesalahan teknis disini."
"HAH!"
"Iya gue sebentar lagi kesana."
"CEPAT!"
Tutttt…..
"Kebiasaan!" gumamnya.
.
.
"Enggak, gue nggak mau ikut," ucap Kagami.
"Hah! Gue ngomong aja belom."
"Udah sana lo pergi."
"Heh! Ini rumah siapa man?"
Hening.
"Ayolah Baka ikut?"
"Ogah."
"Lo ngambek gara – gara tadi?"
"Enggak! siapa juga yang ngambek."
Aomine menempelkan jari telunjuknya di jidat seperti sedang berpikir. "Oke, nanti dijalan gue traktir deh apa aja yang lo mau."
"Emang lo punya duit?"
"Sialan lo."
Aomine mengeluarkan dompetnya. "Nih. Gue-"
Dengan cepat tangan Kagami mengambil dompet itu. "Oke gue ikut."
Aomine menyesal!
Akashi sudah bertolak pinggang, matanya yang biasa saja kini berubah menjadi dwi warna saat dua orang idiot menampakkan diri. Sedangkan yang lain hanya menonton saja menunggu adegan selanjutnya.
Aomine merasa tak bersalah jadi dia bersikap biasa. "Oke plis Akashi mukamu biasa saja. Merinding melihatnya, sumpah."
"Tidak usah menasehatiku. Kau sangat telat Daiki!"
"Ya ampun cuma telat 30 menit doang kok," Aomine mengibas – ngibaskan tangannya.
"Shintarou. Pinjam samuraimu!"
Dengan cepat Midorima bangkit dan memberikan samurai itu yang merupakan lucky itemnya malam ini.
Aomine dan Kagami membelalakan matanya. Akashi itu jika sudah berurusan dengan benda tajam tidak akan main – main.
Dari pada nyawa melayang sia – sia, mereka bersujud seperti yang Aomine lakukan pada Kagami sebelumnya. Mereka memohon –mohon agar Akashi memaafkannya, bahkan Aomine mencolok matanya sendiri supaya kelihatan menangis. Setelah Akashi marah – marah tidak jelas dan meninggalkannya, Aomine dan Kagami mengelus dada, bersyukur karena nyawanya masih aman.
"Adawww….mata gue sakit Ka."
"Ya lo bego! Mata sendiri di colok."
"Tadinya gue mau nyolok mata lo. Tapi nggak lucu kalau gue yang nangis – nangis lo yang ngeluarin air mata. Iya 'kan? Nggak baik gimana coba gue ini."
Kagami hanya memeloti Aomine, kemudian meninggalkannya.
Akhirnya setelah banyak perjuangan mereka sampai juga di villa keluarga Akashi. Villa yang luar biasa megah. Yang menambah daya tariknya adalah villa itu sangat dekat dengan pantai, bahkan deruan ombaknya sangat jelas terdengar dan lagi pantai itu memiliki pasir yang berwarna hitam. Dengan penerangan yang lebih dari cukup mereka bisa menikmati indahnya suasana pantai seperti siang hari.
"Oi, pesta besar nih," Ucap Aomine sambil mengabil beberapa makanan.
"Kalian telat sih datangnya, tadi makanannya lebih dari ini lo," Takao menimpali.
"Berisik! Takao," Sergah Midorima.
"Malah jika sepi itu tidak seru, Shin-chan."
"Oi…Aominecchi, Kagamicchi makannya pelan – pelan dong."
Mereka berdua tidak menghiraukan protesan tak berguna dari teman – temannya. Jika banyak hidangan yang lezat – lezat jangan hanya diam dipelototi tapi gunakan kesempatan yang ada untuk menghabiskannya. Saat tangan kopi susu itu akan mengambil sosis yang ada didepan murasakibara_
"Jika kalian berani menyentuh sosis itu, akan ku bunuh!" Murasakibara ikut bicara saat makanannya diganggu. Suaranya yang imut – imut malas itu terdengar MENGERIKAN.
Aomine dan Kagami dengan cepat menarik kembali tangannya dan mengarahkan ke makanan lain, sambil makan Aomine melirik Midorima yang sedang diganggu oleh Takao sedari tadi.
"Cie…Cie…Midorima sweaternya samaan sama Takao," goda Aomine.
"Iya. Rambut hijau, sweater hijau, udah kayak ulet daun," Celetuk Kagami kemudian.
Iya begitulah Midorima dan Takao memakai sweater yang sama, dari bentuk, ukuran, warna, gambar, memang karena satu produksi.
"Karena kita kompak. Iyakan Shin-chan?"
Midorima hanya menaikkan kaca matanya yang tidak turun.
Aomine tidak ingin kalah. "Aku juga dengan Kagami kompak kok!"
Kagami mengaguk – agukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Aomine.
"Contohnya?" Kuroko ikut bicara walaupun dengan wajah datar.
"Kau tau 'kan Tetsu minggu yang lalu aku pingsan bareng dengan Kagami," Kuroko yang mendengar masih datar. "Ulangan Fisika dan Matematika kita sama – sama mendapat nilai 30," lanjut Aomine. Kuroko mulai mengerutkan keningnya. "Hari jum'at kemarin kita dihukum berdua karena kita telat satu jam," Kuroko LEBIH mengerutkan keningnya. "Bolos berdua saat pelajaran bahasa inggris," Kuroko mulai memegangi kepalanya. "Membuat Lab. Kimia meledak karena_"
"Cukup Aomine-kun. Kepalaku sakit," Potong Kuroko sambil memegangi kepalanya. "Aku tidak sanggup mendengar tentang semua kebodohanmu dan Kagami-kun."
"HAH! Apa kau bilang?" Aomine tidak terima.
Kemudian Aomine melihat semua teman – temannya. Kise yang sudah guling – guling dipasir karena tidak tahan lagi menahan tawanya, Midorima pingsan dan Takao yang histeris, Akashi yang terlihat sudah menyiapkan samurai untuk memotong kepala Aomine, Murasakibara? Yang ini tidak perduli ia sedang menikmati sosis bakarnya, dan Kagami yang hanya memelototinya saja, rasanya Aomine ingin menyolok mata itu.
"Oi, Baka belain gue dong!"
Kagami tau semua yang dikatakan Aomine memang benar, tapi itu aib. AIB! "Lo bego jangan kelewatan dong!" ucap Kagami pelan. Memang pelan tapi menusuk di jantung Aomine.
"Oh….Neptunus salah gue APAAAAAAA….?" Teriak Aomine.
.
.
.
"hahaha"
Semua diam mendengar ada yang tertawa. Terlebih Midorima yang baru bangun dari pingsannya.
"hahaha"
Kagami dan Aomine pelukan, takut ada hantu laut yang muncul.
"hahaha"
Untuk yang ke tiga kalinya, mereka semua menengok kesumber suara dengan bersamaan. Oh demi celana dalam batman! Yang tertawa adalah Akashi dan itu lebih horor dari pada ketawa hantu manapun.
Aomine mendekatinya dan menempelkan punggung telapak tangan dijidat Akashi.
"Akashi. Lo sehat, 'kan?" Tanyanya.
Akashi dengan cepat menepis tangan Aomine. "Jangan tempelkan lagi tangan kotormu itu di tubuhku, DAIKI!" titah Akashi.
Aomine yang kaget cepat memeluk Kagami. "Lagian lo berani – beraninya sih Aho," Ucap Kagami. Aomine hanya diam tidak menjawab apa – apa karena gemetaran.
Akashi tidak tahan melihat teman – temannya. "Oi, kalian kenapa? Memangnya aku hantu ditatap seperti itu, huh! Menjijikan!"
"Kau lebih mengerikan dari hantu, Akashi-kun," Akhirnya Kuroko jujur.
"Oke terserah kalian. Aku punya ide bagus untuk membuktikan kekompakan kalian, bagaimana?"
Semuanya menutup wajah masing – masing. Ayolah ide bagus menurut Akashi itu sangat mengerikan.
Aomine mendekatkan bibirnya ketelinga Kagami. "Ka? Si pendek itu mau ngapain sih?" bisiknya.
"Gue juga nggak tau, perasaan gue nggak enak."
Akashi yang melihatnya geram. "Daiki! Taiga! Kalian sedang membicarakan apa?"
"Eh….em…ini.." Aomine gelagapan. "Di-dia.." menunjuk Kagami. "Kagami kentut, bau banget deh," Lanjutnya sambil menutup hidung.
Kagami menyatukan alis cabangnya.
"Ooooo….jadi yang bau ini kentutnya Kagamicchi," Timpal Kise.
"JOROK!" ucap Kuroko dan Murasakibara bersamaan.
Midorima hanya melirik Kagami setelahnya langsung tutup hidung.
'Tolong buang Aomine ketengah laut Tuhan' Do'a Kagami malam ini.
"Pfffftttttt…" Takao menahan tawanya. 'Terima kasih Aomine, Kagami kalian telah menyelamatkan hidupku dari Shin-chan, apa jadinya bila dia tau yang kentut itu aku' curhat Takao dalam hatinya
"Sialan lo Aho. Liat pembalasan gue nanti."
Aomine yang mendengar itu hanya menjulurkan lidahnya.
"Oke, jika sudah selesai dengan urusan kalian. Sekarang kita bermain game."
"HAH! MALEM – MALEM BEGINI," Respon mereka semua secara bersamaan.
"Tidak usah seperti bocah manja. Baru juga pukul 11, jangan – jangan kalian ingin cepat pulang dan menyusu dibawah ketek ibu kalian!"
"Pffftttt….emang bisa nyusu dibawah ketek, 'kan bau?" bisik Aomine pada Kagami.
Dan Kagami menonyor kepala Aomine. "Jauh – jauh dari gue!"
.
.
.
"Perhatikan aku! Aku akan menjelaskan gamenya." Titah Akashi.
Dan direspon baik oleh mereka semua karena tidak ingin ada nyawa yang hilang.
"Kita akan bermain game untuk membuktikan kekompakan kalian bersama teman kalian masing – masing. Jadi, game ini berpasangan, terserah kalian ingin berpasangan dengan siapa saja," Akashi menjelaskan dengan seksama. "Sudah dibuat garis start dan garis finishnya kira – kira jaraknya kurang lebih 4 meter. Aku sudah memerintahkan pembantuku untuk menyiapkan tali."
"Tali? Game macam apa?" Ucap Kagami.
"Oke. Apakah sudah mendapatkan pasangan kalian?"
"Aku dengan Kagami," Ucap Aomine. "Aku pastinya dengan Shin-chan," Timpal Takao. "Aku dengan Kurokocchi dong," Kise juga berprtisipasi dengan semangat.
"Dan kau Atsushi?" Tanya Akashi.
"Aku tidak ikut, mau tidur saja," ucapnya malas seperti biasa.
"Tidak boleh! Kalau begitu kau memperhatikan mereka saja."
"Okey."
"Nah talinya sudah datang. Tenang saja tali ini tidak akan menyakiti kaki kalian."
"Tali? Kaki? Game macam apa?" Ucap Kagami (lagi).
"Tali ini fungsinya untuk mengikat kaki kalian bersama pasangan kalian masing – masing. Oh ya, Posisi tubuh kalian saling berhadapan satu sama lain."
"Kita saling berhadapan dengan pasangan kita, lalu kaki kita diikat, berarti yang posisi didepan harus berjalan mundur, begitu maksudnya?" Tanya Kagami.
"Ya tepat sekali. Letak kekompakan kalian akan telihat jika kalian berjalan dengan mulus sampai ke garis finish. Kalian paham?"
Akashi melihat respon teman – temannya dan sepertinya mereka sudah mengerti. "Mana Hp kalian?"
"Hah! Untuk apa?" tanya Kise.
"Oi, Oi tidak serulah jika tidak ada yang ditaruhkan. Hp kalian akan menjadi jaminan, semakin kalian kompak semakin cepat lagi mendapatkan Hp kalian. Jika kalian tidak sampai – sampai kegaris finish Hp kalian akan ku tahan. Ku lihat kalian sudah paham. Atsushi bantu aku mengikat kaki mereka."
"Yo."
.
.
.
"Lo yang posisi didepan ya Ka?" Ucap Aomine.
"Enak aja. Nggak mau."
"Terus siapa?"
"Elo lah masa Akashi!"
Murasakibara datang ditengah perdebatan mereka. "Minechin aku akan mengingat kaki kalian."
"Nanti saja. Kita masih bingung siapa yang posisi didepan," Jawab Aomine.
"Cepat nanti Akachin marah."
"Lo denger 'kan apa yang si besar itu bilang. Udah lo depan aja."
"Nggak mau Aho!"
2 pasangan lain sudah siap digaris start, tinggal pasangan Aomine dan Kagami yang masih berdebat tentang siapa yang didepan.
"Oi, Kalain cepatlah! Gamenya akan ku mulai."
.
.
"Cepet Ka!"
"Ogah!"
Murasakibara bosen melihatnya, ia membalikkan badan dan menemui Akashi sepertinya ia mengadu.
Benar saja tidak lama kemudian Akshi mendekati mereka.
"Apa yang kalian permasalahkan?" Tanya Akashi.
"Kagami nggak mau diposisi depan nih," Jawab Aomine.
"Kenapa harus gue. Lo 'kan juga bisa!"
"Ya tapikan lo juga bisa!"
"ELO!" Kagami menunjuk Aomine.
"ELO!" Aomine tidak mau kalah, sampai melupakan kehadiran Akashi.
"POKOKNYA ELO!"
"NGGAK MAU LO AJA!"
"BODOHHH!"
"IDIOTTTT!"
"TUKANG NGAMBEK!"
"TUKANG NGUTANG!"
"BANGSAT!"
"KAMPRET!"
Dimanapun berada saling berebut omong adalah tradisi sakral bagi Aomine dan Kagami. Akashi yang menyaksikan itu rasanya (absdheukjfbvnghfmdkjfcndjykrufjh) tidak bisa diungkapkan dengan kata – kata.
"Atsushi ambilkan aku samurai Shintarou!"
Saat mendengar Akashi mengatakan 'samurai' seketika itu juga mereka terdiam.
"Kalian mau kubunuh!"
"Eng-eng-….ya enggaklah…hahaha," Jawab Aomine sambil ketawa garing.
"Oke sekarang putuskan."
"LO!" Aomine menyikut Kagami
"LO!" Balas menyikut Aomine.
"STOPPPPP! Aku saja kalau begitu yang memutuskan."
Akashi memandang wajah mereka secara bergantian.
.
.
.
.
"Kau Daiki!"
"HAH! Ta-ta-tapi_"
"Tidak ada protes!"
Aomine melirik Kagami dan mendapatkan juluran lidah sebagai ucapan pembalasan. "Cihh," Decaknya.
.
.
.
"Oke semuanya siap. Urutan nomor satu ada Daiki dan Taiga, kedua ada Tetsuya dan Ryota, dan selanjutnya ada Shintarou dan Kazunari. Setelah aku bilang 'MULAI' kalian langsung berjalan sesuai peraturan.
.
.
"Apa lo liat – liat," Ucap Aomine.
"Gimana nggak liat lo, orang hadep – hadepan. Lo meluk gue biasa aja dong. Takut banget ya kehilangan gue."
Aomine menyerngit. "Najis! Oh ya nanti jangan lupa kaki kanan duluan yang maju."
.
.
"MULAI!" Teriak Akashi tegas.
.
.
"1….2….3….Kanan!" Ucap Aomine memimpin.
Glep.
Mereka bengong mengapa tubuh mereka tidak seimbang. Kagami padahal sudah mengikuti instruksi dari Aomine.
"BAKA! GUE BILANG KANAN DULUAN YANG MAJU," Teriak Aomine
"GUE UDAH MAJUIN KAKI KANAN."
"Terus kenapa kaki gue mundur dua – duanya."
"Mana gue tau."
"Lo salah kali."
"Bener kok kaki kanan gue duluan yang maju."
"Kalau benar kita nggak akan kehilangan keseimbangan."
"Terus salah gue."
"U…..uuuwaaa," mereka berdua hampir jatuh. "Baka peluk gue, jangan lepasin gue kalau nggak kita jatuh."
"Oh….Oke..oke."
Ternyata mereka salah paham dan salah sambung, intinya mereka itu tidak nyambung satu sama lain. Maksud Aomine menyuruh Kagami untuk memajukan kaki kanan duluan bukan hal yang salah, hanya saja penyampaiannya yang kurang baik.
Jika kaki kanan Aomine berarti pasangannya kaki kiri Kagami, tapi sayang Aomine tidak bisa menjelaskannya kepada Kagami, dan yang Kagami tangkap kaki kanan yang dimaksud Aomine adalah kaki kanannya sendiri. Jadi, hasilnya ya seperti ini Aomine sama – sama menggerakkan kedua kakinya dan itu membuat keseimbangan terganggu.
Situasinya masih berpihak kepada pasangan idiot itu, mereka berhasil menyeimbangkan kembali tubuh mereka.
"Oke kita mulai lagi. INGET KAKI KANAN YANG MAJU DULUAN," Aomine mengingatkan dengan sangat jelas.
"Oke."
"Awas lo salah lagi!"
"Apa'an sih gue terus yang disalahin."
"Ya memang lo selalu salah. Lahir aja lo udah salah!"
"Maksud lo apa'an, huh!"
"Itu.." Aomine menunjuk kening Kagami. "Alis aja bisa bercabang," Lanjutnya.
"MATI AJA SANA LO!"
"Nggak ah! Nanti lo kehilangan gue lagi."
.
.
.
"DAIKI! TAIGA! KUBUNUH KALIAN!" Teriak Akashi yang melihat mereka bertengkar.
.
.
"Mampus kita," Ucap Aomine.
"Lo sih_"
"Ah…udah diem aja lo. Kita mulai, inget kanan duluan!"
Kagami tidak mengiraukan.
"1…..2….3…Kanan!"
Glep
Lagi – lagi tubuh mereka tidak seimbang.
"OI, BAKA 'KAN LO SALAH LAGI!" Teriak Aomine.
"ENGGAK GUE NGGAK SALAH!"
"Memang lo majuin kaki apa tadi?"
"Kananlah! Kata lo kanan."
"Nggak mungkin, pasti lo majuin kaki kiri."
"Kanan kok gue berani sumpah."
"Emang kaki kanan lo yang mana?"
"Yang ini," Kagami menunjuk kaki kanannya yang berpasangan dengan kaki kiri Aomine.
Aomine mengangguk. "Iya sih bener itu kaki kanan lo. TAPI KENAPA KITA NGGAK BISA JALAN!" Teriak Aomine.
"MANA GUE TAU!"
"SIAPA SIH YANG SALAH!"
"GUE RASA AKASHI!"
.
.
"OI, kenapa kalian menyebut namaku!" sentak Akashi yang mendengar perdebatan mereka.
Aomine dan Kagami hanya diam tak bergerak. Mereka melihat pasangan lain sudah setengah perjalan, tapi mereka masih disitu – situ saja.
"Oke oke, nggak apa – apa kita pasti bisa. Semangat Baka!"
"Iya Aho, semangat!"
"Kalau gitu kita ganti aja. Kaki kiri yang duluan maju!"
"Oke gue setuju"
"Kita mulai. 1….2….3…..Kiri!"
Glep.
GUBRAK!
Yang ketiga tidak tanggung – tanggung, tidak ada namanya keseimbangan – keseimbangan lagi. Situasi sudah lelah memberi kesempatan kepada mereka. Akhirnya mereka terjatuh dengan posisi Kagami menindih Aomine.
"Auuuu…..Sa…kittttt!" Erang Aomine
"Gue juga."
"Lo enak diatas. Gue ditindihin!"
"Ya mau gimana lagilah."
"Yaudah buruan bangun."
"Gimana caranya?"
"Lo pikirin lah caranya."
"Parah lo. Lo kira gue nggak ngapa – ngapain. Dari tadi gue udah berusaha bangun."
"AUUUUUU…ITU GUE….SAKITTT!"
"HAH!"
"ITU GUE SAKIT! LO TINDIHIN BANGSAT!"
"… 'Itu' apa'an sih, gue nggak ngerti." Jawab Kagami sambil berpikir.
" ITU LO ITU..." Aomine masih teriak – teriak
"Iya gue tau, tapi 'itu' tu 'itu' apa'an! Ngomong yang jelas."
" ITU!" Aomine melihat ketubuh bagian bawah Kagami. "Lo juga punya ko."
Aomine tidak tau harus menjelaskan seperti apa lagi supaya Kagami mengerti. Polos sih polos tapi bukan berarti jadi bloon.
"HAH!" Kagami geleng – geleng makin tidak mengerti. "Gue juga punya?"
"Iya lo juga punya. CEPETAN BANGUN BAKA! ITU GUE UDAH SAKIT BANGET."
"WOI! AOMINE FUCKING DAIKI 'ITU' APA'AN? GUE BILANG GUE UDAH BERUSAHA BANGUN TAPI NGGAK BISA," Kagami emosi.
"Itu loh yang cuma dimiliki laki – laki," Suara Aomine merendah.
"Berarti cewek nggak punya?"
"IYALAH! LO GILA YA."
"HAH! Oh gue ngerti, gue ngerti."
Aomine lega akhirnya Kagami mengerti juga.
"Otot 'kan? Iya 'kan?"
Aomine pura – pura mati.
"Aho lo ngak papakan?"
"Gimana nggak apa – apa 'itu' gue sakit."
"Rrrrrrrrrrr….yasudahlah tunggu sebentar," Kagami masih tidak mengerti dengan 'itu'. "AKASHI TOLONGIN KITA BANGUN DONG 'ITU' NYA SI AHO SAKIT KATANYA."
Akashi bengong , mendengar teriakan Kagami. Cepat turun tangan tidak ingin mendapat resiko.
.
.
.
Setelah masalah 'itu' sakit selesai dan mereka sudah kembali tegak, bersiap – siap untuk mulai permainan lagi. Mereka tidak ingin dikatakan tidak kompak. Yang lebih penting tidak ingin Hp mereka sampai ditahan oleh Akashi.
"Oke kalau gitu lo sekarang yang didepan," Perintah Aomine.
"Yasudah."
"Kaki kiri nggak berhasil juga. Mereka kok bisa cepet banget ya. sekarang kita balik aja lagi pake kanan. Inget ya kaki kanan duluan. Jadi, lo mundurin kaki kanan lo."
"Iya gue ngerti kok."
"Alah ngerti – ngerti buktinya jatuh terus."
"Hum. Terus aja salahin gue."
"Ya memang lo salah."
"Enggak! Gue nggak salah."
.
.
"DAIKI! TAIGA! YA AMPUN KALIAN BERDUA ITU CEPAT MAIN YANG LAIN SUDAH FINISH TINGGAL KALIAN BERDUA!"
"HAH!" teriak mereka bersamaan.
.
.
"OKE. 1…..2…..3….Kanan!"
Glep.
.
.
.
GUBRAK…..
Sekarang Aomine yang menindih Kagami. "KAKI KANAN BEGO!" Suara Aomine pecah.
"GUE UDAH MUNDURIN KAKI KANAN YA! LO YANG SALAH!"
"GUE JUGA MAJUIN KAKI KANAN GUE!" Aomine tidak ingin disalahkan.
Kagami diam seperti sedang berpikir. "Tuh 'kan bener apa yang gue bilang tadi. Ini semua salah Akashi."
"Iya gue sekarang setuju sama lo. Memang semuanya salah Akashi."
"Iya kita udah memakai segala cara tapi tetap jatuh. Akashi memang keterlaluan."
"Akshi sialan emang! Aduh… tapi gimana ini berdirinya."
"Lo rasain 'kan gimana susahnya buat bangun."
"Iya ternyata susah."
"Auuuu… itu gue sakit!" Erang Kagami.
"Hah! Akhirnya lo tau apa maksud dari 'itu'. Sakit 'kan? Gue juga tadi sakit banget tau. Lo nindihinnya gak kira – kira."
"Oh..Jadi maksud lo 'itu' tu paha. Kenapa nggak langsung bilang paha aja sih pake 'itu' ya mana gue tau."
Aomine pura – pura mati.
"Bukan bodoh!"
"Terus?" Tanya Kagami "Ini yang sakit paha gue kok," Lanjutnya.
"Itu yang dideket selangkakan lo. PUAS!"
"Iya paha 'kan deket selangkakan."
Aomine mati beneran.
.
.
.
Mereka semua bosen dan ngantuk melihat 2 orang idiot yang tidak sampai – sampai kegaris finish. Yang dilakukan hanya perang omongan yang tidak jelas. Sekarang sudah pukul 2 pagi, Mereka yang menonton sudah tidak kuat menunggu dan akhirnya meninggalkan Aomine dan Kagami yang sedang khusuk gulat.
"Kalian itu benar – benar kompak," Akashi menggelengkan kepalanya. "Kompak bodohnya."
.
.
.
.
.
.
.
Yosh, gimana?
Malam Minggunya AoKagazone semoga bisa menghibur ya
Gomen, kalau masih ada yang salah kata atau penyusunan kalimat, atau mungkin typo. Sudah diedit sebaik mungkin kok =D
Terima kasih buat reviewnya, minna-san *pelukcium*
Nantikan Malam Minggu AoKagazone selanjutnya *yeyeyeyeye*
