Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.
Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.
A/N :
Cari tau dulu apa itu pinset, dan bentuknya bagaimana (untuk yang belum tau) agar bisa mengikuti cerita.
Kita anggap Teiko sebagai sekolahan SMA
Dan anggap semuanya masuk kesekolah SMA Teiko
Yosh! Jika sudah mengerti silahkan dilanjut
Enjoy
.
.
AoKaga
"Malam Minggu AoKagazone : Belajar Kencan"
By : Zokashime
.
.
.
.
"Baka….sanaan!" Aomine menendang tubuh Kagami yang sedang tertidur pulas.
"Nghhh…" respon Kagami tanpa bergeser.
Sore itu sekitar pukul 05.30, dua mahluk ciptaan Tadatoshi Fujimaki-sensei sedang asyik tertidur. Mereka tertidur tanpa menggunakan baju ataupun singlet, tapi masih mengunakan kolor, tentu saja.
Apa jadinya mereka tidur bersama tanpa menggunakan pakaian secuilpun, itu akan mengundang tanda tanya besar, bukan?
Kagami tidur terlentang dengan damainya menguasai tempat tidur. Kaki kirinya ia tumpangkan ketubuh Aomine, begitupula dengan tangannya ia tumpangkan kewajah Aomine.
Sedangkan Aomine, ia sudah berada diujung tempat tidur dan sangat risih dengan kaki dan tangan Kagami yang ditumpangkan ditubuhnya.
.
.
.
Brukkk…
Akhirnya Aomine terjatuh dari tempat tidur dengan tidak elitnya. "Uwaaa" sontaknya kaget dan membuka mata yang masih mengantuk. "CK!" decaknya kesal sambil menutup matanya lagi.
Dengan tidak memperdulikan apa – apa, ia kembali naik ketempat tidur disamping kanan Kagami yang kosong. Ia kembali menutup matanya, memuaskan kekantukannya.
Bukk!
Lagi – lagi kaki kanan Kagami mengenai tubuhnya.
"Auwww!" Dengan malas Aomine menyingkirkan kaki itu dari tubuhnya dengan mata yang masih tertutup. "Baka sialan," gumamnya.
Pakk!
Kali ini tangan Kagami sukses mendarat diwajahnya. "Oi, KAGAMI!" Teriaknya. "Sakit bodoh!" mengusir tangan itu.
Aomine terbangun, dan menegakkan tubuhnya. Memandangi laki – laki yang sedang tidur seenaknya sendiri itu. Kekesalan jelas terlukis diwajahnya, rasanya Aomine ingin memites kutu itu.
"Mmm…" geram Kagami, merasa tidurnya terganggu.
Ia menggeser tubuhnya mendekati Aomine lagi, sampai Aomine harus terpepet untuk yang kedua kalinya.
Aomine yang melihat itu merengut, ayolah ia juga masih ngantuk. "Baka. Geser!" Dengan tidak kira – kira ia menendang Kagami. Tapi dengan tendangan sekasar itu Kagami tidak bergeser juga.
Aomine lelah, ia pandangi lagi tubuh Kagami yang tanpa baju itu. Bagaimana caranya agar Kagami mau bergeser. Bibirnya ia tarik keatas, meciptakan seringaian. "Awas lo ya."
Aomine turun dari tempat tidur, dan mendatangi meja Kagami didekat lemari. Ia membuka laci meja itu, mencari – cari sesuatu yang bisa ia gunakan.
"Ah, ini dia ketemu," ucapnya, setelah menemukan alat pencabut bulu ketek. "Dasar! Jaman sudah modern tapi, mencabut bulu ketek saja masih menggunakan pinset," ia menggelengkan kepalanya.
Aomine kembali ketempat tidur, mendekati lelaki dengan surai merah gradasi hitam yang masih tidur terlentang seperti tadi, menguasai tempat tidur, tentu saja.
Seringainnya makin meninggi sambil memandangi pinset yang dipegangnya. "Rasain, lo Baka."
Tanpa berpikir, Aomine mengarahkan pinset itu kesalah satu bagian tubuh Kagami.
.
.
.
.
"AWWWWWWW!" Teriak Kagami kencang sampai terbangun menegakkan tubuhnya.
"AHO!" bentaknya. "Lo apa – apaan sih, sakit bangsat!"
Kagami mengamuk merasakan sakit disalah satu bagian tubuhnya. Si Aomine fucking Daiki itu telah menarik puting dadanya dengan tidak kira – kira, menggunakan pinset.
"Rasain lo," Aomine nyengir, usahanya tidak sia – sia.
Kagami menyerngit, memikirkan betapa bodohnya Aomine itu. "Sial! Lo cuma nyengir aja, huh!"
Aomine tetawa terbahak – bahak. "Muka lo lucu, kalau bangun tidur sambil marah – marah."
"Ck!" Kagami kesal, bukannya minta maaf malah ditertawakan. "Rrrrrr…Lo ngapain sih, sakit stress! kalau infeksi gimana?" tanyanya sambil memegangi putingnya yang merah dan bengkak akibat ulah Aomine.
"Lagian lo tidur seenaknya aja," balas Aomine. "Lo nggak tau, 'kan? Gue sampe jatuh dari ranjang."
"Kok bisa?"
"APA! Kok bisa, kata lo?"
Kagami sekarang yang tertawa terbahak – bahak. "Iya, kok bisa. Lo sampe jatuh."
"Heh! Nggak tau diri lo. Lo makan tempat banyak banget kampret! Mana kaki sama tangan lo nggak mau diem."
"Suka – suka gue lah. Ranjang - ranjang siapa?" ucapnya. "Aduhh…perih," ia memegangi putingnya yang terasa perih. "Aho bangsat!"
"Itu juga suka – suka gue, mau ngapa'in lo gimana aja."
"Iya! Tapi nggak gini juga, woi!"
"Bodo Amat ya!"
"Wah," Kagami menunjuk Aomine. "Lo nafsu ya sama gue."
"What? Najis banget hidup lo Baka!"
"Halah! Ngaku aja lo."
"Gue suka dada gede. Bukan dada datar punya lo," Aomine memandangi dada Kagami. "Tunggu, bahkan datar aja, enggak! Lo mah nggak punya dada."
"IYALAH GUE 'KAN LAKI – LAKI IDIOT!"
"Oh iya, lo laki. Kalau misalnya lo jadi cewek juga kayaknya dada lo datar deh," Aomine meletakan telunjuknya dijidat pura – pura berpikir. "Iya, pasti dada lo datar. Gue nggak akan mau sama lo Baka."
"HAH! Gue juga nggak akan mau sama manusia mesum kayak lo!"
"Lo pasti bakalan nyesel udah ngomong gitu."
"Percaya diri banget hidup lo. Masih banyak laki – laki yang jauh lebih baik dari lo, ya."
"Apa'an sih Baka, lo nanggepinnya serius banget. Memangnya, lo mau jadi cewek?"
Kagami memutar bola matanya, sahabatnya itu benar – benar menyebalkan. "ENGGAKLAH!" teriak Kagami ditelinga Aomine supaya puas.
"Sial!"
"Jangan – jangan lo ketagihan ya?"
"Ketagihan apa'an?"
"Ketagihan hukuman Akashi."
"HAH!"
Memang, Aomine dan Kagami rela dihukum Akashi hanya demi hp. Ingat saat minggu yang lalu di game yang dibuat oleh Akashi. Karena mereka tidak sampai – sampai kegaris finish. Sesuai perjanjian yang telah disepakati hp mereka ditahan oleh Akashi selama satu minggu.
Setelah 3 hari hidup tanpa hp, akhirnya mereka tidak tahan. Hp itu sudah mejadi teman kedua bagi mereka. Bisa menghibur jika sedang bosan, bisa untuk mendengarkan music, bisa untuk browsing, srteaming, chatting dan lain – lain.
Tapi yang paling penting, bagaimana jika orang tua Kagami menghubunginya, ya walaupun ada telephone rumah, tetap saja hp itu barang utama. Sedangkan Aomine, ia bagaikan mati tanpa hp, karena ia tidak bisa mencari info tentang Mai-channya, ataupun mendownload foto – foto terbarunya.
Flashback.
Kamis sore di gym basket SMA Teiko.
Mereka para manusia pelangi, dengan cekatan lari sana – lari sini saling merebutkan satu bola yang berwarna orange. Siapa yang mendapatkan bola dia yang memimpin. Disana, seseorang dengan tinggi 173 cm, bersurai merah marun, berjarsey nomor 4, sedang mengawasi teman – temannya yang berlatih basket.
Shoottt…
Bola masuk kelubang yang berjaring dengan sexinya. Aomine menyeringai mendapati bolanya masuk dengan sempurna.
"Ya, kelompok Daiki menang," koar sang kapten.
"Yosh!" seru Kagami yang satu kelompok dengan Aomine, juga Kuroko.
"Yah….kita kalah-ssu," saut Kise dengan lemas.
"Diam Kise! Kita tidak kalah, nodayo. Hanya saja menurut Oha Asa cancer itu sedang sial hari ini," tegas keren midorima sambil menaikkan kaca matanya seperti biasa.
"Sudahlah, aku tidak perduli, aku mau makan, lapar," ucap si jangkung.
"Oke, latihan hari ini cukup. Kalian boleh pulang."
Mereka semua mendengarkan apa yang dikatakan kaptennya. Tapi tidak langsung pulang, mereka beristirahat dulu, memanjakan sejenak tubuhnya.
"Oi, Akashi. Kau bawa hpku?" Tanya Aomine.
"Ada di tasku."
"Sini kembalikan."
"Kau pikir aku akan mengembalikannya."
"Haruslah!"
"Tidak akan! Kalian tidak ingat kesepakatannya sebelum game dimulai."
"Aominecchi, Kagamicchi sabar ya."
"Ryouta! Siapa yang menyuruhmu ikut bicara!"
"Hidoi-ssu, Akashicchi."
"Persetan tentang kesepakatan itu! aku mau hpku kembali."
"Daiki! Jaga ucapanmu. Baru juga 3 hari, perjanjian kita satu minggu."
"Aku setuju dengan Aomine. Kembalikan hp kami," sahut Kagami.
"Hemm," Akashi bergeram. "Kalian percaya sekali aku akan mengembalikannya."
"Nanti aku akan traktir cheeseburger jika kau mau mengembalikannya, Akashi," tawar Kagami.
"Apa itu? makanan sampah?"
"Kau tidak boleh menghina makanan, nodayo."
"Shintaou, aku sedang tidak berbicara denganmu."
"Rrrrr….yasudah deh apapun akan kami lakukan jika kau kembalikan hpnya."
"Kau kira aku akan termakan omonganmu, Daiki!"
"Ayolah Akashi. jika nanti orang tuaku menghubungi, bagaimana?
"Itu sih deritamu, Taiga."
"Akashi-kun tidak baik mempermainkan orang seperti itu. Kasian jika orang tua Kagami-kun tidak bisa menghubungi," Kuroko angkat bicara.
"CK!" Akashi tidak sudi disalahkan oleh teman – temannya. "Oke, aku akan mengembalikannya.
Semua yang mendengar lega, terutama Kagami dan Aomine, tentu saja.
"Sesuai apa yang aku inginkan."
"Maksudnya?" Tanya Aomine.
"Kau bilang tadi akan melakukan apapun demi hp mu kembali 'kan, Daiki?"
"Iyasih, jadi apa yang kau mau."
Akashi tersenyum iblis. "Buka bajumu."
"HAH! Permintaan macam apa itu."
"Sudah lakukan saja, kau juga Taiga."
"APA! Akau juga?"
"Kau tidak ingin hpmu kembali."
"Ck!"
"Udah buka aja, Baka. Lo nggak mau hp lo balik?"
"Iya – iya gue buka baju."
Mereka mengikuti apa yang diinginkan oleh Akashi demi hpnya kembali. Membuka bajunya dan memperlihatkan otot – otot perut.
"Oi, Aomine kau sexi sekali. Tidak seperti Shin-chan."
"Diam! Takao."
"Daiki, Taiga kalian saling berhadapan."
Aomine dan Kagami bengong, apa yang direncanakan oleh kapten yang rada – rada itu.
Tapi mereka masih saja menuruti.
"APA LO!"
"Apa sih Aho!"
Akashi langsung turun tangan sebelum mereka berebut omong yang tidak jelas, karena itu kan memakan waktu yang lama.
"Kalian kurang dekat."
"HAH!" teriak mereka bersamaan.
Aomine dan Kagami saling mendekat, sehingga jarak mereka hanya 50 cm. Aomine dan Kagami pandang – pandangan.
"Kagami-kun, Aomine-kun, jika akan jatuh cinta jangan disini," celetuk Kuroko.
Aomine sontak menengok kesumber suara. "Kampret kau, Tetsu!"
"Daiki, pencet puting Taiga." Titah Akashi.
Semua yang menonton membelalakan matanya, tak mengerti dengan jalan pikiran Akashi. Aominepun menyipitkan matanya, ia sudah menebak, jika Akashi yang sudah turun tangan.
"Tidak!"
"Kalau tidak mau hpmu kembali yasudah."
"Ck! Tapi ini keinginan macam apa?"
"Kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan pulang."
"Rrrrr….sudahlah!"
"Gue nggak mau! Apa'an sih jijik banget!"
"Udahlah Baka turutin aja, lagian kita sama – sama laki – laki."
"Tapi…."
"Tapi apa?"
"Lo 'kan mesum, Aho."
"Sial! Lo kira gue bakal nafsu sama lo."
"Kalian berisik! Cepat lakukan. Daiki kau pencet puting Taiga, dan Taiga kau pencet Puting Daiki."
Mereka menarik nafas dalam – dalam. Tangan mereka mulai diangkat dan diarahkan kedada satu sama lain.
"Ao, pelan – pelan. Awas lo kalau nggak!"
"Iya tenang aja."
"Oi, cepat mulai." Koar Akashi.
Mereka yang menonton ngeri menyaksikannya. Kise menutup matanya dengan telapak tangan, tapi masih menyisakan lubang.
Midorima dihalangi Takao agar tidak melihat adegan aneh itu. Murasakibara sibuk dengan makanannya seperti biasa, tidak perduli. Sedangkan Kuroko sudah mimisan.
"Aw!" teriak mereka bersamaan saat keduanya memencet puting satu sama lain.
"Sakit Baka!"
"Gue juga sakit!"
"Lo nggak kira – kira."
"Lo juga."
Akhirnya mereka saling membalas pencet – pencetan puting, dihiasi dengan rebutan omongan seperti biasa. Yang menonton lagi – lagi harus melihat kebodohan mereka.
Satu persatu dari mereka meninggalkan gym, begitu pula dengan Akashi. Tapi sebelum pergi ia meletakkan hp keduanya dilantai.
Plashback End.
"Minggir lo, gue mau mandi," ucap Kagami. Kemudian meninggalkan Aomine.
"Baka gue ikut."
"Sakit lo ya!"
"Pelit lo."
"Ya terus harus mandi berdua - duan gitu."
"Ya emang kenapa? Kan kita sama - sama laki i- laki."
"Gue rasa lo memang sakit."
Dengan cepat Kagami masuk kamar mandi dan mengunci rapat - rapat, agar mahluk idiot itu tidak bisa masuk ataupun mengintip seperti yang lalu - lalu.
Aomine kesal, ia kembali ketempat tidur. Mengambil majalahnya yang baru ia beli, dan mulai membacanya.
.
.
.
Matahari sudah menyembunyikan tubuhnya, listrik - listrik dijalan sudah mulai dihidupkan, sekarang sudah menunjukkan pukul 06.00. "Ck! Malam minggu lagi," decak Aomine disela membaca majalahnya.
20 menit dirasa sudah cukup bagi Kagami untuk bergulat dengan air. Ia masuk kamarnya untuk memakai baju.
"Oh, lo masih hidup Ka. Gue kira udah mati."
"Sial!"
"Habis mandi doang lama banget, kayak cewek."
"Udah diem lo. Mending mandi sana!"
"Halloooo... Siapa elo nyuruh - nyuruh gue."
"Masalahnya gue mau ganti baju."
"Ya tinggal ganti."
"Hah! Lo nafsu amat sih sama gue."
"Kalau dada lo gede kayak Mai-chan, gue nafsu."
"Ck!" Kagami kesal, dari pada meladeni Aomine yang tak ada habisnya. Mendingan ia pergi untuk memakai baju.
Setelah selesai salin, Kagami tidak ingin masuk kamar lagi, disana ada manusia astral yang menyebalkan setengah mati. Kagami lebih baik dipindahkan ke planet Mars saja. Ia menuju keruang tivi untuk menonton, siapa tau ada acara bagus dimalam minggu.
Aomine selesai membaca majalah. Kemudian ia lempar majalah itu kesembarang tempat. "Rrrr..." Geramnya bosan. Ia bangun dari tempat tidur dan meninggalkan kamar. Menuju keruang tivi, karena ia tau pasti Kagami ada disana.
"Ka?"
"Apa."
"Ka...Lapar."
"Makanlah."
"Mana? Nggak ada makanan. Memang lo masak?"
"Enggak, bahan - bahanya habis."
"Terus?"
"Ada mie, lo masak aja sendiri."
"Ck! Ogah ah. Masakin dong."
"Males amat. Lo kira gue pembantu lo."
"Jahat lo sama temen sendiri. Lo nggak kasian gue kelaparan."
"Bodo amat. Elo mati pun bodo amat."
Aomine memocongkan mulutnya. Kemudian berjongkok tepat didepan tivi. Membuat siempunya tidak bisa melihat karena terhalangi.
.
.
.
Jdugg!
Satu tendangan mendarat dibokong Aomine yang sedang berjongkok, membuat Aomine tersungkur.
"Hahaha...mampus lo."
"Sopan banget lo Baka!"
"Hellowww.. Yang lahir duluan siapa ya?"
"Halah! Beda 29 hari doang."
"Tetap aja tuaan gue. Lo yang harusnya menghormati gue."
Aomine mencibir. "Sudi ya!"
"Adek sialan!"
"Elo yang adek gue!"
"Udah terima kenyataan kalau gue lahir duluan."
"Nggak mau gue jadi adek lo."
"Siapa juga yang mau jadi kakak lo. Bisa - bisa mati berdiri gue."
Aomine tidak menghiraukan, ia bergeser dan merebahkan tubuhnya. Menjadikan paha Kagami sebagai bantal seperti biasa.
"Kebiasaan!" Kagami menjitak kepala Aomine. "Ini bantal, ah!"
Mau tidak mau, Aomine harus pindah kebantal yang diambilkan oleh Kagami dengan wajah sedikit cemberut.
"Baka...laper loh."
Kagami tidak menghiraukan rengekan Aomine, maniknya intens melihat layar tivi.
"Baka?" Panggilnya lagi, sambil melirik Kagami yang sedang asyik memindah - mindahkan chanel.
Masih tidak dihiraukan. Ia membalik badan menjadi tengkurap, kedua tangan menopang wajahnya dihadapan Kagami. Memperhatikan wajah surai merah gradasi hitam itu dengan seksama. Ia tertawa kecil tidak tau apa yang lucu.
"Ka?" Ucapnya menggoda.
Kagami tetap fokus pada kegiatannya. Tidak memperdulikan rengekan dengan wajah najis didepannya itu.
"...Baka?"
Lama - lama ia risih. Aomine terus memanggilnya seperti orang yang sedang, -sedang apa ya? Sedang ayan, mungkin? Karena Aomine tidak mau diam.
Aomine senyum - senyum, sungguh najis melihatnya. Sesekali memperlihatkan giginya yang putih. Kakinya ia gerakan kebawah keatas persis anak bayi minta diajak main.
Kagami menyipitkan matanya, membuat alis cabangnya bertemu.
"Lo naksir sama gue? Najis banget ngeliat lo senyum - senyum nggak jelas."
Aomine yang mendengar itu malah mengembangkan senyumnya, membuat wajahnya menjadi semanis mungkin.
Kagami yang melihat rasanya ingin muntah, tidak tau apa tujuan Aomine memasang pose seperti itu.
"Aomine lo ngapain sih," sambil mendaratkan remote tivi dikepala Aomine.
"Sakit, bego!" Aomine memegangi kepalanya.
"Iya. Emang lo sakit!"
Aomine kesal. Ia tegakkan tubuhnya, duduk seperti Kagami.
"GUE LAPER KAGAMI BODOH!"
"Hah!" Kagami tidak mengerti, tadi Aomine senyum - senyum manis, sekarang teriak - teriak.
"LAPER!"
"Ya terus?"
"Arrghhh.." Aomine frustasi. Ia merebahkan lagi tubuhnya, ngambek, kesel, emosi dengan Kagami. Ia berpose seperti tadi itu untuk merayu Kagami agar mau membuatkan makanan.
"Ngambek?" Tanya kagami
"Diem lo!" Jawabnya ketus sambil membelakangi Kagami.
"Eh! Gue nggak ngerti maksud lo, Ao."
"Mau makan tau baka," jawabnya lirih.
Kagami tertawa, tanganya masih memindah - mindahkan chanel tivi mencari acara yang bagus. "Nggak lucu, lo ngambek gara - gara pengen makan."
"Ck!" Aomine berbalik. Melihat kegiatan yang Kagami lakukan. "Lo ngapain sih, acaranya dipindah - pindah terus!" Ucapnya sewot. "Lo mau pencet sampe jari lo patah juga acaranya bakal sama, chanelnya 'kan cuma ada 10."
Kagami menyudahi kegiatannya, menganggap omongan sohibnya itu benar. Berhenti dichanel nomor 5, dengan nama chanel xxx.
Ada sebuah acara drama dengan genre anak sekolahan yang sedang jatuh cinta. Bosan sebenarnya, tapi mau diapakan lagi, dengan malas akhirnya mereka menonton juga.
Adegan :
Terlihat dua anak remaja sekitar kelas 2 SMA sedang berjalan bersama. Si laki - laki menggandeng tangan si perempuan dengan sosweet.
Memasuki sebuah kafe ternama, setelah itu mereka memesan makanan dan minuman. Mereka duduk berdekatan dengan mesra, tangan si laki - laki dilingkarkan kepinggang perempuannya.
"Sayang, aku nggak mau kehilangan kamu," ucap sang lelaki.
"Aku juga sayang, aku nggak bisa hidup tanpa kamu," jawab sang perempuan.
"Aku bersyukur punya kamu, sayang."
Cup.
Sang lelaki, mencium bibir perempuanya dengan lembut.
.
.
.
Kagami yang baru saja menyaksikan adegan aneh itu merasa pusing, perutnya mual.
Sedangkan Aomine. "Bodoh banget sih cowoknya! Masa cuma dicium, pegang dong dadanya yang besar itu!" Teriaknya tidak terima.
Kagami yang mendengar itu tambah mual.
Aomine berdiri dan maju kedepan tivi. "Bodoh lo! Otak lo ditaro dimana!" Memaki - maki remaja yang ada didalam tivi dengan kasarnya.
"WOI AHOMINE! LO GILA!" Teriak Kagami dari belakang melihat temannya satu itu. Jika Kagami mempunyai 10 teman yang seperti Aomine ia akan membunuhnya 9.
Aomine kembali keposisi semula setelah puas memaki tivi, ia duduk dihadapan Kagami. "Baka, ayoklah kita nyari pacar," ucapnya.
"Nyari dimana? Diselokan? Dikotak sampah? Atau dilubang semut?"
"Dilubang idung lo! Gue udah tau gimana caranya kencan yang baik dan benar. Lo liat tadi ceweknya sampai klepek - klepek."
"Itukan ditivi, Aho. Dikenyataan nggak ada."
"Sok tau lo!"
Kagami menarik nafasnya. "Terserah lo!"
Aomine mendekatkan wajahnya kewajah Kagami. "Baka, ayok kita pacaran," ucapnya dengan gembira.
"HAH!"
"Pacaran."
"HAH!"
"Pacaran."
"HAH!"
"PACARAN TULI!"
Dengan cepat Kagami bangkit dan melarikan diri kekamar mandi, mualnya semakin menjadi - jadi. "Uwekkk," muntah Kagami kemudian setelah berada dikamar mandi.
Aomine panik dan menyusul Kagami yang sedang muntah - muntah.
"Baka, lo kenapa?" Tanyanya sambil memijit leher Kagami membantu mengeluarkan muntahannya.
"Baka? Lo kenapa? Lo hamil? Gue 'kan belum ngapa-ngapain elo, sumpah!"
Kagami masih muntah - muntah.
"Baka? Lo hamil? Sama siapa? Beneran nih lo hamil?"
Kagami masih fokus muntah.
"Yaampun lo hamil? Serius? Ba-"
Srotttttttt...
Kagami dengan tega menyiram Aomine yang sedang bicara sok panik, menggunakan sowernya. "GUE LAKI BANGSAT! DAN LAKI ITU NGGAK HAMIL!" Bentaknya. Kagami masih menyemprot Aomine sepenuh hati.
"Dingin Baka sialan!"
"Mampus lo!"
Tubuh dim itu basah kuyup. Untung ia belum memakai baju. "Terus lo kenapa muntah - muntah!"
"Gue alergi sama flm anak SMA tadi, ditambah ada homo depan gue!"
"Hah! Homo?"
"Iya, lo homo! Jangan deketin gue!" Kagami menyemprot Aomine (lagi).
"Siapa yang homo?"
Aomine tidak mau kalah, direbutnya sower dengan susah payah dari tangan Kagami, dan sekarang Aomine yang menyiram Kagami tanpa ampun.
"Sial! Gue udah mandi, woi!"
"Itusih derita lo."
Akhirnya mereka saling semprot - semprotan dikamar mandi sampai guling - gulingan, bisa jadi.
"Keluar lo Aho! Gue mau mandi."
"Lo 'kan udah mandi."
"Iya, tapi basah lagi."
"Tinggal ganti baju aja bego. Gue yang mau mandi sekarang."
Belum sempat Kagami menanggapi, ia sudah ditendang Aomine, sampai tersungkur keluar, dan pintu kamar mandi ditutup dengan kasar.
"Sial lo!" Teriaknya, sambil menendang pintu. Apa boleh buat, ia sudah sangat kedinginan. Lalu Meninggalkan kamar mandi dan orang nista yang ada didalamnya.
.
.
.
Setelah salin Kagami naik ketempat tidur, bersembunyi didalam kehangatan badcovernya.
Cklek!
"Kagami handuk." Seseorang menerobos masuk dari kamar mandi.
Kagami shock, sepertinya ia ingin mati saja. Ia tau Aomine memang idiot, tapi tidak mengira jika seidiot ini.
"Aho! Sumpah! Pake handuk bangsat!" Umpat kagami yang tidak tahan melihat Aomine telanjang bulat dihadapannya.
"Nggak ada handuknya, makanya gue masuk aja, gue udah kedinginan."
Aomine mendekati Kagami. "STOP! Jangan deket - deket gue. Handuk ada dilemari. Buruan pake!"
Tidak menghiraukan teriakan histeris Kagami, ia berjalan menuju lemari yang dimaksud.
"Baka? Baju gue mana yang disini?"
"Mana gue tau."
"Lo buang?"
"Kurang kerjaan. Ada kok, mungkin keselip disitu."
Bodo amat, ia sudah mencari tetap tidak ada, jadi ia mengambil baju sekenanya, yang pasti baju Kagami.
Setelah memakai baju, ia berjalan menuju tempat tidur.
"Baka?"
Kagami kaget, tiba - tiba Aomine sudah disampingnya.
"Apa! Lo mau apa! Jangan deket - deket gue."
"Apaan sih! Sensi banget sama gue."
"Lo homo."
"Terus aja tuduh gue homo."
"Yalah, lo tadi ngajak gue pacaran."
Aomine bengong. Sepersekian detik kemudian, ia tertawa. "Oh yang itu. 'Kan gue udah bilang gue mau nyari pacar," ia terdiam sejenak. "Tapi kayaknya gue butuh latihan, mulai dari nembak sampe kencan."
"Terus?"
"Makanya tadi gue nembak lo. Karena cuma ada elo didepan gue," ucapnya. "Nah, karna lo udah gue tembak, jadi sekarang kita kencan."
"HAH! Sudi amat!"
"Ayolah Baka bantuin gue."
"Ogah! Gue 'kan laki, lo ngaco ya."
"Yakan cuma pura - pura, latihan doang kok."
"Ya tetep aja, idiot."
"Jadi, lo nggak mau."
"ENGGAK!"
"Yakin? Kita kencannya di Majiba, lo belum makan, 'kan? Terserah lo mau pesan apa aja, sebagai pacar yang baik jadi gue yang bayarin."
"Nggak usah nyogok gue. Lagian emang lo punya duit."
"Setan! Emang gue sekere itu ya."
"Pikir aja sendiri."
"Gue punya duit, okey. Sekarang tinggal elonya mau apa enggak."
"ENGGAK!"
"Ayolah Baka, please. Bantuin gue," mohonnya sambil bersujud.
"Najis!"
Aomine geram. Kagami begitu menyebalkan, apa susahnya bilang 'iya'. Tapi bukan Aomine namanya jika tidak mempunyai 1001 akal licik nan bodoh.
"Oke. Kalau lo nggak mau. Lo bakal tau akibatnya."
"Apa'an."
Aomine mengambil ponselnya dimeja. Membuka galery dan mencari - cari sesuatu. Setelah ketemu, ia menyeringai. "Liat ini," ucapnya sambil menunjukkan sesuatu kepada Kagami.
Kagami yang melihat itu, frustasi.
"Kalau lo nggak mau. Photo ini bakal gue sebarin ke anak - anak dikelas."
"Shit! Dapet dari mana lo photo itu. Aho mesum!"
"Yang waktu gue ngintipin lo mandi. Kan nggak asyik kalau nggak di abadikan," ucapnya sambil tertawa penuh kemenangan.
"Ck!"
"Gimana?"
"Oke, tapi setelah apalah itu yang lo sebut kencan. Hapus photonya!"
"Siap baby."
Aomine menang, ia akan belajar kencan, dan setelah itu ia akan mencari pacar. Ia tidak ingin kalah dengan remaja dalam drama yang ia tonton. Enak saja dia bisa grepe - grepein perempuan, sedangkan dirinya tidak.
"Yosh, baru jam 08.00. Ayo berangkat sayang."
Dengan cepat Kagami mendaratkan tinjuannya dikepala Aomine. "Bisa nggak biasa aja! Nggak usah panggil sayang juga."
"Kan biar sempurna. Gue nggak mau latihan setengah – setengah, pasti hasilnya juga jelek."
Kagami pura - pura mati. "Beneran ya lo punya duit, gue nggak bawa dompet ni."
"Ia nggak percaya banget sama gue. Udah cepetan udah malem ni."
.
.
.
Dua sejoli yang baru jadian (katanya), dan akan kencan di Majiba. Aomine memakai jins panjang milik Kagami, dengan kaos tanpa lengan kemudian dilapisi dengan jaket.
Sedangkan Kagami memakai jins selutut dengan kaos warna merah. Mereka keluar Apartemen dengan seirama.
Aomine masih tersenyum - senyum bahagia, mengingat situasi dan kondisi, sepertinya rencana yang telah ia susun akan berhasil.
Kagami?
Kagami manyun, kesal, bt, apalagi melihat kawan disampingnya sedang tersenyum - tersenyum sendiri. Bukan apa - apa takutnya Aomine kesambet dan akan merepotkan dirinya.
Dibawah penerangan lampu jalanan, dan disamping kendaraan yang berlalu lalang. klakson yang saling bertautan, menambah irama jalanan malam itu. Dengan santai Mereka berjalan menuju Majiba, menyelusuri jalanan khusus untuk pejalan kaki.
Iya, mereka memutuskan untuk berjalan kaki, karena bagi Aomine itu akan terlihat romantis. Majiba terletak diujung jalan sana, di perempatan setelah jalanan yang mereka lalui.
Ditengah perjalanan, Aomine lebih merapat ke laki - laki surai merah yang sedang berjalan disamping kirinya, sehingga lebih memperpendek jarak diantara mereka.
Ia lirik Kagami yang sedang memperhatikan jalananan dengan tatapan serius. Ia tersenyum geli, melihat wajah itu yang tampak serius dan sangar tapi sebenarnya sangat polos.
Tangan kanannya menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal, -salah tingkah. Seolah jalanan sepi dan hanya milik bedua. Ia dengan berani menempelkan jemarinya ke jemari Kagami, mengaitkannya, agar jemari Kagami terbawa sempurna.
.
.
.
.
PLAK!
"Oh..my," ucap Aomine shock, setelah merasakan kepalanya digeplak dengan sangat kencang oleh Kagami. Sesaat terlintas dipikirannya jika itu merupakan geplakan mesra.
Kagami memperhatikan reaksi dari manusia dim itu, intens. Tidak mengerti tampang apa yang dipasang oleh Aomine. Tambah parah lagi saat Aomine mengubah mimik wajahnya dari shock menjadi senyum - senyum, dan Kagami ngeri, takut pemikiran sebelumnya terjadi.
AOMINE KESURUPAN!
Kagami menjauh sedikit dari Aomine, takut ia diperkosa ditengah jalan oleh hantu yang tidak tau diri.
Tapi Kagami penasaran ia lirik lagi Aomine yang masih tersenyum - senyum, dan ia makin bingung karena mimiknya berubah (lagi) menjadi datar dan kemudian_
"S-Ssssss-sakitttt! Bodoh!" Teriaknya sambil memegangi kepala.
"TELAT WOI!" Kagami kesal memelototi Aomine.
Seberapa lemotnya syaraf - syaraf otak Aomine untuk menerima rangsangan dari luar. Padahal digeplaknya sudah 5 menit yang lalu, tapi teriaknya baru sekarang -_-
"Kasar banget lo jadi pacar. Nggak ada manis - manisnya tau nggak."
"Ada manis – manisnya? Lo kira gue Le Mineral," ucap Kagami dengan menyolot. "Lo ngapain pegang – pegang tangan gue."
"Ya mau gandengan tangan. 'kan biar romantis," ucapnya dengan lumayan kencang. Membuat orang – orang yang sedang berjalan diantara mereka tercengang, terutama pasangan kekasih yang terlihat sedang tidak akur, didepan mereka.
.
.
.
PLAK!
Lagi – lagi Kagami memukul kepala Aomine. "Sial! Jangan kuat – kuat. Lo nggak tau semua orang merhatiin kita sekarang."
Aomine celingukan melihat kanan, kiri, depan, belakang, dan memang semua mata sedang tertuju kepada dirinya.
"CK!" decaknya. "Gue nggak peduli, siapa mereka?"
"Itu 'kan elo. Kalau mau mamerin kehomo-an lo, jangan bawa – bawa gue dong."
Semua orang makin heran.
"Baka gue nggak homo, oke," ucapnya pelan.
"Lo homo," tunjuk Kagami.
"Enggak," memukul bokong Kagami.
"Tuhkan lo Homo," memukul kepala Aomine.
"Au! Enggak bangsat!" Menedang Kagami kuat sampai menabrak pasangan kekasih didepannya.
Dan siapapun akan berhenti setelah merasa tertabrak. Pasangan kekasih itu bengong, sudah dibuat bingung dengan debatan mereka yang tidak penting.
Iya sangat tidak penting, karena bagi orang – orang yang melihat mereka berdua itu pasangan homo tapi saling mengatai homo, sungguh pengungkapan jati diri yang luar biasa.
"Ma-maaf…" ucap Kagami malu. "Ki-kita-"
Aomine Bt kenapa mereka yang harus minta maaf. "Apa lo liat – liat pasangan nggak jelas," potong Aomine tiba – tiba, sambil menunjuk pasangan kekasih yang tak berdosa.
"Lo!" tunjuknya kemudian kepada sang laki – laki. "Muka lo jelek! Nggak enak diliat. Bada lo kurus, pendek," terdiam sebentar, memperhatikan intens laki – laki didepannya yang sedang sesak nafas. "Bibir lo ada kumisnya, pasti cewek lo nggak nyaman waktu ciuman, dan yang terakhir lo hidup lagi," ia menggelengkan kepalanya.
Kagami melebarkan matanya, baru menyadari ucapan yang dilontarkan Aomine begitu kulang ngajar sampai membuat laki – laki itu hampir mati kehabisan nafas.
"Dan lo!" Aomine sekarang menunjuk sang perempuan. Memandangi tubuh perempuan itu dari atas sampai bawah, seksama. "Hem…lumayan," ucapnya. "Lo mau – maunya pacaran sama dia. Mending sama gu-"
.
.
PLAK! PLAK!
"AWW!" teriak Aomine.
Ia mendapat tamparan kanan, kiri dengan sangat kuat dari perempuan itu.
"DASAR PASANGAN HOMO GILA! IDIOT! MATI LO SANA!" ucap perempuan itu, dan membawa kekasihnya pergi.
Aomine kaget sambil memegangi kedua pipinya. Sedangkan Kagami tidak percaya, mata crimsonya hampir keluar, dan mulut yang menganga lebar.
"Dasar mbak – mbak nggak tau diri. Padahal gue cuma ngasih tau," ucapnya tidak terima. Pipinya yang imut nan manis itu harus mendapat tamparan dari seorang perempuan tak dikenal.
"LO SIH BEGO!" Kagami emosi, kemudian meninggalkan Aomine yang masih mempermasalahkan pipinya. Gara – gara kelakuan Aomine ia disumpahin mati hari ini.
"LO KOK NYALAHIN GUE!" Teriaknya. Aomine makin kesal sudah ditampar mbak –mbak, sekarang disalahkan oleh temannya sendiri.
.
.
Aomine melihat punggung Kagami yang mulai terlihat samar – samar. Tapi ia tidak ingin mengerjarnya, ia masih mau berdiri ditempat ini. Ia ngambek Kagami tidak membelanya, dan ketika ia sedang ngomel – ngomel sendiri, tiba – tiba,
"WAAAAA…..SETAN LO!" teriaknya kaget, saat ada tangan seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Lo berhadapan sama perempuan yang lagi marahan sama pacarnya, dan lagi emosi tingkat tinggi, ditambah dia lagi PMS! Kelar hidup lo!" ucap seseorang yang tidak dikenal, yang sudah memperhatikan mereka sedari tadi.
Aomine tidak menjawab, ia masih bingung. Orang itu memakai baju prempuan dan memiliki rambut panjang, tapi saat berbicara suara laki – laki (?). Setelah mengatakan itu kepada Aomine, orang itu pergi begitu saja.
Aomine masih bingung apa maksudnya, maklum syaraf – syaraf di otaknya sangat lama untuk terconection.
Dari pada menunggu otaknya connect, dan itu membuat lama jadi, ia menyimpulkan bahwa yang tadi berbicara dengannya adalah setan beneran. "AAAAAA….." Teriaknya kuat sambil berlari mengejar Kagami. Membuat orang – orang yang sedang berjalan santai ikutan berlari.
Akhirnya setelah melewati beberapa drama, mereka sampai juga ditempat tujuan. Tempat favorite yang wajib dikunjungi tiga kali dalam seminggu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.45, seharusnya mereka sudah tiba pada pukul 08.20 di Majiba, tapi dikarenakan banyaknya drama dalam perjalanan. Jadi, mereka harus merelakan 25 menit waktu kencan mereka dengan sia – sia.
Tanpa buang – buang waktu lagi, Aomine mengambil inisiatif untuk segera memesan makanan. Sebagai pacar yang baik, ia tidak mau kekasihnya kelaparan.
"Sayang? Kok mukamu cemberut sih," ucapnya setelah memperhatikan Kagami yang sedari tadi menekuk wajahnya.
Kagami yang mendengar itu langsung pasang wajah siap siaga, karena banyak mata yang langsung memandang mereka aneh. Kagami menarik nafasnya pelan. "Ah! Lagi – lagi," gumamnya.
"Apaan."
Kagami tidak menghiraukan suara Aomine. Ia sudah lelah, lapar pula.
.
.
.
Beberapa menit kemudian segunung pesanan datang. Dengan mata dan mulut penuh nafsu mereka menyantap makanannya.
Lapar yang tak tertahankan itu, membuat mereka focus kemakanan yang mereka kunyah tanpa memperdulikan satu sama lain sampai makanan ludes.
Kagami menelan kunyahannya yang terakhir, diikuti Aomine yang meletakkan gelasnya setelah air yang ada didalamnya habis sampai tetes terakhir.
"Ah! Kenyangnya," ucap Aomine.
Kemudian ia memandangi Kagami lekat – lekat, ada sesuatu yang mengganggu pandangannya.
"Baka?"
"Hum."
Aomine mengangkat setengah tubuhnya. Setelah itu wajahnya dimajukan kehadapan Kagami yang duduk disebrangnya.
"Lo mau ngapain!"
"Lo diem dulu kenapa?" tangannya mengambil beberapa lembar tissue. Kemudian tissue itu diarahkan kewajah Kagami untuk mengelap saus tomat yang tertinggal dipipinya.
Semua mata tertuju kepada mereka berdua, ada yang baru mau menyantap makanan dan tidak jadi karena ingin menyaksikan pemandangan langka.
Segerombolan anak ABG sudah berteriak – teriak histeris. Banyak orang tua yang menutupi mata anak mereka agar tidak terkontaminasi, dan lain sebagainya.
.
.
.
Kagami hanya kedip – kedip melihat wajah Aomine yang begitu dekat.
"Ada saus dipipi lo," ucap Aomine dan dengan lembut mengelapnya, kemudian ia kembali pada posisi semula.
Sorak ramai terdengar jelas, membuat Kagami malu.
"AHOMINE IDIOT!" Bentaknya.
"Hahahahaha….." Aomine tertawa dengan kuat. "Gimana? Gimana? Latihan gue yang pertama bagus nggak?" ia terdiam sejenak menahan tawanya. "Lo tau Ka, jantung gue hampir copot, takut nggak berhasil."
Kagami menyerngit. "Bagus pala lo!" bentak Kagami. "Dan terima kasih, udah membuat image gue jelek," ucapnya. "Lo nggak liat reaksi orang – orang disini, Aho!"
"Bodo amat ya, emang gue pikirin."
"CK!" decak Kagami.
"Baka gue duduk samping lo, ya?"
"HAH!"
"Gue duduk disamping lo."
Dengan cepat Kagami mengambil sendok garfu dan diarahkan ke Aomine.
"DIEM DITEMPAT! ATAU MATI!" Ancamnya.
Lagi – lagi mereka diperhatikan oleh berpasang – pasang mata. Sebagian heran tadi mereka bermesra – mesraan sekarang malah mau saling membunuh. Pasangan macam apa?
"Sumpah! Gue punya pacar psikopat."
"Hah! Siapa juga yang pacar lo."
"Lahkan, lo udah gue tembak tadi."
"Tembak - tembak pantat lo. Udahlah Aho, nggak usah negomong yang aneh – aneh. Image gue udah cukup ancur. Nggak tau setelah ini masih ada perempuan yang suka sama gue apa enggak?"
Aomine tertawa. "Tenang aja, masih ada gue kok."
Kagami mengarahkan garfunya lagi ke wajah Aomine.
"Oke – oke maaf cuma bercanda," ucap Aomine.
.
.
.
Setelah beberapa menit diam – diaman.
"Baka? Ayok kita serius latihannya," Aomine membuka suara.
"Harus banget ya?"
"Iyalah. Kalau nggak photonya gue sebarin."
"Anak kecil lo!"
Aomine hanya menjulurkan lidahnya. "Oke gue mulai ya."
Kagami tidak menanggapi, tapi tidak membuat Aomine mengurungkan niatnya.
"Sayang? Kamu tau nggak? Aku cinta banget sama kamu," ucap Aomine kuat.
Kelakuan mereka membuat semua mata memperhatikan lagi, dan itu mebuat Kagami ingin pulang.
"Baka jawab."
"Gue harus jawab apa? Lagian lo pelan – pelan dong ngomongnya, malu bangsat!"
"Udah sih nggak usah perduliin orang. Ya jawab apa kek yang romatis."
Kagami mendengus. "Tapi aku nggak cinta kamu."
Semua tertawa mendengar jawaban Kagami.
"Bukan gitu!"
"Gimana?"
"Lo jawab yang sama kayak gue," ucap Aomine menjelakan. "Gue ulangin ya. Sayang? Kamu tau nggak? Aku cinta banget sama kamu."
"Sayang? Kamu tau nggak, aku cinta banget sama kamu," jawab Kagami.
"Bukan gitu baka!"
"Gimana? Kata lo, sama?"
"Arrr…..iya sama maksudnya lo juga cinta gue. Bukan bahasanya yang sama," kesal. "Udahlah lo ulangin lagi ucapan lo tadi."
Kagami menurut. "Sayang? Kamu tau nggak? aku cinta banget sama kamu."
"Yaampun sayang, makasih. Aku terharu dengernya. Aku juga cinta sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu, sayang," Respon Aomine.
Semua orang menganga mendengar ucapan Aomine, sedangkan Kagami ingin muntah.
"Mati aja lo Aho!"
Dan semua orang lebih menganga saat mendengar jawaban yang Kagami ucapkan. Masa pacarnya sudah romantic malah disuruh mati. Mereka menggeleng aneh, pasangan homo macam apa itu?
"BAKA SERIUS!"
"Ya kata – kata lo itu buat gue mau muntah."
"Namanya juga latihan. Gue sebarin nih phot-"
"Oke gue udah tau, nggak usah dilanjutin."
"Oke kita ulangin. Yaampun sayang, makasih. Aku terharu dengernya. Aku juga cinta sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu, sayang."
"Gue harus jawab apa?"
"BAKAGAMI!"
"Santai! Gue nggak tau harus jawab apa?"
Aomine gregetan. "Terserah lo yang penting nyambung."
"Misalnya?"
"Misalnya? Aku juga nggak mau kehilangan kamu sayang. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
"Perasaan itu percakapan di drama yang kita tonton, kan?"
"Iya memang kata – katanya dari acara itu semua."
Kagami menarik nafasnya ringan. Tidak mengerti dengan laki – laki dim dihadapannya, yang begitu ingin mempunyai pacar, sampai harus latihan sekaligus menjatuhkan harga diri.
"Oke – oke, gue ngerti," ucap Kagami.
"Yaampun sayang, makasih. Aku terharu dengernya. Aku juga cinta sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu, sayang," ulang Aomine.
"Aku juga nggak mau kehilangan kamu sayang. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu," ucap Kagami. "Uwekkkk!" lanjutnya. Perutnya sangat mual.
"Jangan pake muntah!"
"Ya gue mual!"
"Dasar bodoh!"
"Lo idiot!"
.
.
Lagi – lagi pertengkaran yang tidak jelas. Saling tendang lewat bawah meja, saling pukul dengan sendok, untung tidak guling – guling di Majiba. Sampai ketika seseorang security akan mendekati meja mereka dengan membawa pentungan karena mereka terlalu berisik.
Dengan sigap dan cepat mereka mengakhiri pertengkaran itu, duduk dengan rapi bak anak SD. Kedua kaki dirapatkan, duduk dengan tegap, kedua tangan ditekuk dan diletakkan diatas meja, dan pandangan lurus kedepan.
Semua pengunjung yang melihat adegan itu sungguh geli luar biasa. Tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh dua remaja itu.
Datang ke Majiba, memesan makanan segunung, makan dengan sadis dan rakus, romantis – romantisan, saling mengungkapkan perasaan dengan bahasa yang alay, setelah itu bertengkar, mempermasalahkan hal yang tidak jelas, dan yang terakhir mereka imut seperti anak SD. Bahkan security yang akan mengusirnya malah ikut tertawa.
.
.
.
10 menit mereka diam seperti patung dan itu membuat otot – otot tubuh mereka keram.
"Udahlah, capek gue," ucap Kagami
"Sama gue juga, Ka."
"Lo sih!"
"Nggak usah mulai! Lo mau diusir? Orang ganteng ini harus diusir dari Majiba, apa kata dunia?"
"Najis!"
"Baka? Gue dari tadi tuh mau nanyaiin sesuatu."
"Tanya apa?"
"Lo tau artinya, PMS?"
Para wanita di Majiba, spontans menengok kesumber suara.
"Hah!"
"Artinya PMS?"
"P-M-S"
"Iya itu. Lo tau artinya apa?"
"Mungkin…." Kagami memikirkan jawabannya. "Para Manusia Srigala."
"HAH! Memang itu artinya?"
Kaum hawa yang mendengarkan dua remaja laki - laki yang sedang membahas PMS itu, tidak bisa menahan tawa.
Aomine dan Kagami heran kenapa semua para perempuan tertawa, memangnya ada yang lucu?
"Mereka nawain apa sih?" tanya Aomine.
"Nggak tau gue juga. Eh, memang lo denger kata PMS dari mana sih?"
"Dari setan."
Kagami kesal, dan menabok Aomine. "Serius bangsat!"
"Iya serius bangsat! Waktu lo ninggalin gue dijalan tadi, ada setan datengin gue dan ngomong kayak gini, 'lo berhadapan sama perempuan yang lagi marahan sama pacarnya, dan lagi emosi tingkat tinggi, ditambah dia lagi PMS! Kelar hidup lo!' gitu katanya."
Kagami yang mendengar itu mengangguk dan merinding. "Hebat ya setan bisa ngomong gitu."
"Mungkin dia setan masa kini."
Kagami menyatukan alis cabangnya, badannya gemetar. "A-A-Aho?"
"Ya. Kok muka lo pucet gitu?"
"A-ada…..i-itu…di-di-…."
"Apa'an sih!"
"Di-di-belakang l-lo…." Tunjuk Kagami.
Aomine menengokkan kepalanya, penasaran ada apa dibelakang sampai membuat Kagami gagap. "Hah!"
Dengan mata yang sedikit lagi hampir loncat dari tempatnya.
"AAAAAAAA…SETAAAAAAAAANNNNN…." Teriak mereka berdua, dengan kecepatan kilat langsung melesat keluar Majiba.
"Oi, Kalian bayar dulu…" teriak sang pelayan.
Tidak mau kalah security yang ada disitu melesat mengejar dua remaja yang belum membayar makanannya.
Seisi Majiba tertawa. Tapi laki – laki yang dikira setan itu bengong. Hellow ia bukan setan, ia hanya sedang cosplay, menjadi Ku*tila**k, dan datang ke Majiba karena kelaparan.
.
.
.
.
.
.
Wkwkwkwk…semoga AoKagazone malam minggu ini menghibur kalian semua para readers yang sangat aku cintai :*
Em…ano…maaf, minggu yang lalu nggak bisa update, karena daku sedang sibuk/ sok sibuk lo.
Beneran kok lagi sibuk/ nggak ada yang tanya.
Ah! Sudahlah kalau begitu, nantikan AoKagazone dimalam minggu selanjutnya :*. Setelah ini mungkin akan terus update karena sibuknya udahan dan memasuki masa libur *horeeeeeeeeee*
Jangan Lupa Terus Semangati Aku Dengan Respon Kalian :*
Oke Bye!
