Desclaimer : Kurobas memang tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

Warning : Bahasanya kasar, YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.

.

AoKaga

"Malam Minggu AoKagazone : Flu"

By : Zokashime

Enjoy

.

.

.

.

"Huacchih!"

"Huacchih!"

"Huacchih!"

"Huacc..."

"Kagami bodoh, berisik!" Teriak Aomine, kemudian melempar Kagami dengan bola basket.

"...hih!" Kagami melanjutkan bersinnya. "Ao...s-sakit! (Sroooottttt)" rengek Kagami sambil menarik ingus cair yang hampir saja keluar.

Matahari sudah nyumput ntah ke mana. Kagami dan Aomine kemarin sempat mencari tau kenapa matahari bisa muncul dan pergi, ada siang dan malam.

Disebuah artikel yang mereka baca katanya ; karena, bumi berputar mengelilingi matahari ada juga yang menyebutkan matahari yang mengelilingi bumi.

Aomine dan Kagami pusing. Otaknya tidak sampai untuk berpikir lebih. Mana yang benar?

Karena artikel yang labil itu, mereka berdebat mengutarakan pendapatnya masing - masing yang berakhir dengan saling jotos dan saling tendang. Kejar - kejaran mengelilingi apartemen, sampai didatangi oleh Security karena mendapat laporan dari tetangga sebelah yang merasa terganggu.

Dan hari ini, langit yang tadinya cerah secerah surai Kuroko, digantikan dengan langit yang berwarna gelap, segelap kulit Aomine.

"Kagami, nggak usah ngejek gue," sentaknya. "Gue tau kulit gue nggak secerah elo, gue tau itu, gue vaham, -aww."

Sekarang Aomine yang dilempar bola basket oleh Kagami.

"Siapa juga yang ngejek, perasaan gue diem aja dari tadi," ucapnya membela diri. "Lagian itu bahasa lo kenapa? Paham bukan vaham, Aho."

Aomine terkekeh. "Yo.. Elo nggak gaul Baka, yo," berdiri, dan menunjuk - nunjuk Kagami ala anak reff. "Lo tao enggak, yoyo," badannya sampai di goyang - goyangkan. "kalaou huruv b, p mauvun f sudah mau vunah."

Jijik sumpah. Kagami mohon cabut nyawa Aomine Tuhan, sekarang juga. Kagami tidak tau makan apa Aomine tadi pagi sampai sikapnya begitu absurd.

"Biasa aja Baka, gue nggak suka cara lo natap gue. Memangnya gue eek kucing lo ngeliatnya ampek najis." Aomine kembali duduk di samping Kagami di bawah ring basket.

"Lebih najis daripada eek kuc- (Huaaccih)" harus terhenti karena bersin. Aomine kicep - kicep. "...cing. Ah..ah..." Tepat di depan wajah Aomine, sambil mengap - mengap.

"Bangsat!" Aomine mengusap wajahnya yang penuh semprotan bersin Kagami. "Jorok Baka!"

"Ma-maaf, nggak sengaja."

"One-on-one lagi, yok?"

Aomine semangat tiga kali lipat main one-on-one untuk yang kesekian kalinya.

Yaps. Mereka sekarang sedang ada di lapangan basket dekat rumah Aomine. Sedang melakukan ritual wajib selain mengunjungi Majiba. Dari pukul 03.00 sore sampai sekarang sudah pukul 07.00 malam.

"Ayok, Baka berdiri."

"Gue nggak kuat, Ao."

Teman macam apa, si Ao itu?

Teman macam apa, si Aho itu?

Teman macam apa, si AOMINE FUCKING DAIKI ITU?

Katakan pada Kagami, katakan, tolong siapapun katakan pada Kagami, teman macam apa laki - laki yang sedang mendrible - dribel bola, dihadapannya saat ini.

Ia sedang sakit, seharusnya Aomine tau itu. Katanya teman, katanya sohib, friend, sahabat, atau apalah itu. Tapi Aomine tidak peka sama sekali, malah ngajak bermain lagi. Ia sudah terlihat sangat loyo, berdiripun sudah tidak bisa, kepala nyut - nyutan, jika bisa ia ingin mencopotnya sebentar saja.

"Huachih!" Ia bersin lagi.

"Lo kenapa sih, Baka?" Ia berhenti dari kegiatannya. "Berisik banget, penyebar virus."

Aomine tidak mendapat respon. Dilihatnya Kagami yang sedang memejamkan mata. Aomine mendekatinya.

"Ka? Lo nggak apa - apa?"

"Hnmm."

Aomine mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya kekening Kagami. Merasakan suhu dari tubuh Kagami.

"Lo panas, Baka? Lo sakit, ya?" Aomine glagapan.

'Kemana aja lo baru nyadar, Aho sialan.' Kagami menjawab dalam hati.

"Yaudah, ayok pulang. Lo bisa jalan?"

"Hnmm." Kagami menggeleng.

"Pulang ke rumah gue, ya?"

Kagami mengangguk.

Suhu tubuh Kagami makin naik. Ia juga lebih banyak bersin. Aomine bingung bagaimana membawa Kagami pulang.

Kagami dibantu berdiri, tangan Kagami disangkutkan kebahunya, sedangkan tangannya sendiri melingkar dipinggang kagami, ia memapah Kagami.

"Tahan ya, lo masih kuat, kan?"

Kagami hanya mengangguk - angguk lemas.

.

.

.

Aomine mencoba melangkahkan kakinya. Memapah Kagami yang sempoyongan.

Brukk...

"A..awww," erang Aomine yang tertindih tubuh Kagami. "Baka, lo nggak apa - apa?"

Aomine tidak melihat Kagami meresponnya. Laki - laki yang menindih tubuhnya itu sedang lemas dengan mata tertutup dan ada sedikit cairan yang keluar di sana.

Aomine merasakan suhu tubuh Kagami yang semakin meningkat.

"Oke, Baka bangun dulu," ia mendorong tubuh seberat 82 Kg itu. Dipeluknya erat takut Kagami jatuh lagi. "Gimana, ya?" Gumamnya bingung. Ia melepaskan pelukannya, kemudian membalikkan badan, memberi punggungnya ke Kagami.

Mata Kagami yang merembaskan air mata, membuka sedikit. "A-A-Ao..."

Aomine menoleh. "Iya. Lo masih kuat, kan? Apa mau ke Rumah Sakit?"

Kagami geleng - geleng.

Aomine mendengus. "Yaudah, ayok gue gendong," ia menyodorkan punggungnya. Menarik kedua tangan Kagami untuk dilingkarkan dilehernya. "Pegangan ya."

"Hnmm"

"Ada - ada aja. Ngapa nggak bilang kalau lagi sakit? Kan nggak usah one-on-one. Ehhh...satu..dua.." Mulutnya komat kamit sendiri sambil mengangkat tubuh Kagami di punggungnya. "...tiga.." Ia menarik nafas dalam setelah berhasil berdiri. "Sumpah Baka. Gue tau lo makannya banyak, tapi nggak seberat ini juga kali. Kayaknya gue juga bakal sakit nih sampe rumah, karna gendong harimau yang beratnya nggak kira - kira."

"Ma...af.." Katanya sangat pelan dan lemas, tapi Aomine bisa mendengar itu.

Aomine melangkahkan kakinya pelan - pelan, tidak ingin jatuh lagi. Kagami bukan beban yang ringan, mengendong Kagami itu sesuatu yang Wow! Amazing, ia sampai terhuyung - huyung, keringat membanjiri seluruh tubuhnya seperti saat one-on-one.

Ia sudah di luar lapangan mulai menapakkan kakinya dijalanan hitam. "Selalu deh," dengusnya.

Sumpah demi cangcut Batman, atau kolor ijonya Midorima, Aomine ingin melempari muka - muka orang dijalanan dengan eek sapi, misalnya. Ia tau memang tidak wajar gendong - gendongan dijalanan, tapi ini masalah serius hey! Kagami sedang sakit, sahabatnya tercinta sedang teler dipunggungnya saat ini.

Aomine tidak tega, ingin Kagami sembuh. Jika Kagami sakit, siapa yang akan menjadi bahan jailannya, siapa yang akan mengajaknya tertawa, siapa yang akan meladeninya berebut omong, siapa? Siapa? Yang lebih penting siapa yang akan meminjaminya uang untuk beli majalah Mai-chan, karena Mai-chan juga penting dalam hidupnya.

Akhirnya sampai juga di rumah. Jauh dari mata - mata dan cengiran aneh - aneh. Ia tadi sudah seperti syuting flm gay. Menggendong seseorang laki - laki di tengah keramaian, ditonton oleh orang - orang yang ada disekitarnya. Bahkan ada segerombolan gadis ABG yang jerit - jerit, rasanya ingin membanting Kagami kemulut mereka agar diam.

Oh ya, ada juga yang sampai guling - guling diaspal, Aomine heran, benar - benar heran, hidup di zaman apa sih sekarang? Ketika ada cowok sama cowok jalan bareng, mereka menjerit - jerit, padahalkan cuma jalan bareng, jalan bareng apa salahnya. Ketika ada cowok sama cowok boncengan, diteriakin, ya kali harus boncengan sama mba kun-pipppp-nak yang ada belum sampai rumah udah almarhum dijalan.

Ada yang ngobrol bareng, dijeritin, yang saling liat - liatan dijeritin, pegangan tangan dijeritin, pelukan dijeritin, ciuman di jer- Ah! Yang ini memang patut dijeritin. Tidak tau mengapa Aomine merinding sendiri.

Ia buka pintu dengan perjuangan keras. Menahan Kagami agar tidak jatuh sekaligus membuka pintu yang terkunci. "Ah! Mana di rumah nggak ada siapa - siapa lagi," gumamnya sambil ngos - ngosan.

Aomine membawa Kagami ke kamarnya dilantai 2, tahap ini juga butuh perjuangan karena menuju kamar harus menaiki tangga terlebih dahulu.

"Huh...huh...huh...Wa...waaaw.." Aomine hampir hilang keseimbangan karena kakinya sedikit terpeleset.

Tapi ternyata Tuhan masih sayang mereka berdua. Jika tidak, tadi mereka sudah terjun bebas. Setelah itu mati berdua, dan beberapa hari kemudian, masyarakat dihebohkan oleh ; 'HANTU PASANGAN HOMO PENUNGGU TANGGA' kan tidak lucu.

Setelah sampai di kamar, rencananya ia akan menurunkan Kagami dari punggungnya. "Eh!" Teriak Aomine yang ikut terjatuh dan punggungnya menindih Kagami.

Ia tidak tau mimik wajah Kagami sekarang seperti apa, karena ia tidak bisa melihat, tapi dari responnya seperti kesakitan. Tidak pikir panjang Aomine langsung berguling ke kesamping.

"Oooooouhh.." Kagami berteriak walau lemas karena perutnya disikut oleh Aomine.

Aomine nyengir. "Maaf ya, nggak sengaja."

Kemudian Kagami dibaringkan dikasur. Ditatapnya wajah yang pucat berkeringat, hidung merah, mata sedikit berair, tubuh menggigil.

Aomine mendekat, menempelkan keningnya lagi kekening Kagami. "Wahh...panasnya makin menjadi. Lo sakit apa'an sih, Baka? Flu doang sampe begini parahnya."

Ia melepaskan sepatu yang masih menempel indah dikaki Kagami, kemudian menyelimutinya. Ia menyeringai, "Orang kekar kayak lo, bisa sakit juga, ya?"

Seringaiannya berubah menjadi tertawa kecil ketika melihat, wajah Kagami yang tidak menerima ejekannya, matanya yang berair dan sayu, hidung merah juga berair, dan mulut sedikit mengerucut, ia jarang bisa melihat Kagami seperti ini, ntah mengapa kelihatan manis.

"Minum obat, ya?"

Kagami geleng – geleng"

Aomine menyerngit. "Lo nggak mau sembuh, huh!"

"Sem...buh..kok..nan..ti..ju..ga..."

"Bodo amat, pokoknya lo harus minum obat!"

Kagami geleng - geleng (lagi)

"Ck! Baka. Gue nggak mau cuma gara - gara flu lo masuk rumah sakit," ucapnya. "Mi-num o-bat NGGAK!" Menatap dalam Kagami.

"Iya..."

Aomine tersenyum. Ia pergi ke bawah mencari kotak persediaan obat.

Tidak menunggu lama, Kagami sudah melihat lagi batang hidung laki - laki dekil itu membawa sekotak obat - obatan dan sebuah mangkuk.

"Gue kompres dulu ya, habis itu lo makan, baru minum obat."

Kagami hanya nurut lemas, ragu Aomine melakukan ini semua.

Aomine mencelupkan kain kedalam mangkuk berisi air kompresan. Setelah basah sempurna ia mengangkat kain itu dan ditempelkan (baca:ditutupkan) kewajah Kagami seluruhnya tanpa diperas.

Kan, Kagami pikir juga apa? Ia hanya bisa mengap - mengap dibalik kain kompresan ala Aomine.

Aomine mengangkat kain kompresnya, dan dilihat wajah Kagami yang basah kuyup.

"A-Ao...diot."

Aomine nyengir kuda. "Hehe...yudah nggak usah dikompres, ya?"

Kagami sujud syukur, karena is dekil itu tidak melanjutkan kompresannya, yang ada Kagami tambahn sakit diguyur dengan air kompresan yang dinginnya bukan main.

"Yaudah lo istirahat, gue ambil makan dulu."

Aomine kembali turun, menuju dapur.

"Ah! Masa ibu nggak masak," omelnya. "Kagami makan apa, ya? Orang sakit biasanya makan bubur."

Ia terpikir untuk pergi ke Konbini membeli bubur kemasan, yang tinggal seduh sudah siap untuk di makan.

"Eh, tapi itu nggak bergizi. Kalau Kagami mati gimana?" Ia geleng - geleng. "Yaudah buat bubur sendiri aja." Senyuman mengembang diwajahnya. Sebagai teman yang baik Aomine harus mengerti Kagami.

Ia mengambil beras sedikit, dicuci ; bersih atau tidaknya hanya Tuhan dan Aomine yang tau. Hidupkan kompor, dimasaknya didalam panci diberi air yang banyak, setelah beras berubah menjadi nasi yang benyek dan berair ia tambahkan garam, dan MSG.

Ada sayuran dikulkas ia potong kemudian ia masukkan, ada daging ia cincang - cincang ia masukkan, ada cabe ia masukkan, merica, tomat dan lain - lain yang masih terlihat olehnya ia masukkan saja, jangan - jangan gel pencuci piring ia masukkan juga, atau deterjen, mungkin -_-

Tunggu ajal kematianmu Kagami.

Setelah semuanya beres, dan sukses memberantakkan dapur Aomine kembali ke atas dengan semangkuk bubur paling lezat ditangannya.

Dilihatnya Kagami sudah tidur, mungkin ia kelamaan membuat buburnya. Ia tempelkan keningnya kekening Kagami (lagi).

"Panasnya udah mulai turun," gumamnya. "Baka? Oi, Baka bangun. Makan dulu."

Kagami membuka matanya, kemudian mencoba duduk.

"Nih," meyodorkan bubur. "Cepet makan, udah itu minum obat."

Kagami mengambil buburnya, dan ingatkan Kagami bagaimana caranya bernapas. Ia shock makanan macam apa? Bentuknya, warnanya, sudah bukan bentuk makanan.

"Kok begong, cepet makan."

"Ah..i-itu..a-an-"

"Ngomong apa'an sih, lama - lama kayak orang gagu, lo," omelnya. "Sini gue suapin."

Aomine merampas kembali bubur dari tangan Kagami.

"Nah, AA..."

Kagami bengong. Tidak bisa membuka mulut. Karena mulutnya tau mana makanan mana bukan.

"Buka mulut lo, Baka!"

Kagami masih enggan, malah lebih dirapatkan dan menelan ludah.

"Oi, Baka! Atau mau gue suapin pake mulut."

Kagami hanya kicep - kicep, mencerna omongan Aomine.

"Oke, gue suapin pake mulut ni ya, tapi lo harus makan."

Aomine sudah mau memasukkan makanan ke mulutnya, kemudian_

"Aaa.." Kagami buka mulut.

Aomine tersenyum, menyuapi Kagami.

Kagami lemas, pasrah, jika harus mati sekarang juga sudah ikhlas.

"Ao...pedes!"

"Hah! Enggak kok perasaan lo aja kali."

Aomine meyodorkan lagi sendok kedalam mulut Kagami.

"Ao...getir!"

"..."

"Ao...asin!"

"..."

"Ao...pait!"

"..."

Ao ini, Ao itu, Ao ini itu, Ao itu ini, terus saja sampai mereka menikah lalu mempunyai anak dan hidup bahagia.

"Oke .. Oke stop! Lo berisik, sini gue makan."

Slep.

Aomine memakan sesendok bubur buatannya.

Dan_

Dengan kecepatan panther ia langsung lari ke kamar mandi, muntah - muntah sampai kepalanya pusing.

"Najis! Makanan apa sih itu!" Teriaknya di kamar mandi.

Kagami hanya mendengus dan pasrah, ia merebahkan tubuhnya lagi.

"Baka, minum obta dulu," perintahnya setelah kembali ke kamar.

"Ogah."

"Eh!"

"Nanti gue mati gimana?"

"Hah!"

"Lo, ngomperes nggak bener. Buat bubur nggak bener. Mau ngasih gue obat, jangan - jangan racun tikus lo kasih ke gue."

Aomine merengut, tidak suka Kagami menilainya seperti itu. Ia hanya khawatir apa salahnya? Jika tentang kompres dan bubur ia hanya ingin berguna untuk temannya, jangan salahkan ia jika tidak tau apa - apa, sekali lagi Aomine hanya ingin terlihat berguna dimata Kagami.

Ia tidak menghiraukan Kagami lagi, mengambil handuk dan pergi mandi. Kagami hanya menarik nafas dengan lemas saat melihat wajah Aomine, ia tau jika Aomine sudah diam itu artinya dia ngambek. Ah! Biarkan saja, Kagami ingin istirahat.

.

.

.

.

"Jam berapa, ya?" Gumamnya. Ia membuka mata saat merasa tubuhnya basah dengan keringat. Ia menempelkan punggung tangannya kekening. "Huftt... Panasnya udah turun," dan melihat jam kedinding yang sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari.

Ia menegakkan tubuhnya dan melihat ke samping, hanya ada bantal guling, tidak ada Aomine di sana.

Ia ingat kejadian beberapa jam yang lalu, sepertinya Aomine masih marah sampai tidak mau tidur di sampingnya. Diliriknya karpet depan tivi, ternyata manusia astral ada di sana, sedang tertidur pulas, dengan boxer dan singletnya tanpa selimut. Kagami turun dari ranjang dengan sempoyongan karena kepalanya masih sedikit pusing, mendekati Aomine.

Ia berjongkok di depan tubuh Aomine, manic crimsonnya menelusuri setiap inchi tubuh berkulit tan itu, damai, tenang, dengan nafas yang senanda.

"Ao..hey?" Menggoyangkan tubuh Aomine. "Pindah kekasur, nanti lo sakit."

Aomine tidak bergeming seditpun, memang kebo kalau sudah tidur.

"Aomine? Pindah." Menggoyangkan lebih keras.

"Hnmm!" Risih tidurnya di ganggu.

"Pindah nanti lo sakit."

Aomine membuka matanya, melihat wajah pucat Kagami.

"Ck!" Decaknya masih sebal. Ia berbalik dan memunggungi Kagami.

"Lo masih ngambek?"

"Enggak!"

"Kalau gitu ayok pindah, nanti lo sakit."

"Peduli apa lo, sana pergi gue ngantuk."

"Itu artinya lo masih ngambek. Oke gue minta maaf. Lagian kalau malem pake baju yang bener."

"Ck!"

"Lama banget ngambeknya."

"..."

"Yaudah kalau nggak mau pindah gue juga tidur di sini."

"Serah!"

Aomine agak bergeser menjauh, Kagami merebahkan tubuh disampingnya, tidak dibagi bantal.

"Berisik," decaknya.

Kagami bingung apanya yang berisik, padahal ia sudah diam, adem ayem meskipun dingin dan tidak memakai bantal.

'WOI, BERISIK!' Teriak Aomine dalam hati.

Iya saat ini Aomine merasa ditertawakan ntah oleh siapa, mereka berisik sekali, padahal tidak ada yang lucu. Memang bukan tipenya ngambek - ngambek ala cewek PMS kurang perhatian, tapi omongan Kagami tadi membuat hatinya sakit, sungguh.

Didada Aomine rasanya nyut-nyut-nyut, ia tidak mengerti ada rasa seperti itu, yang ia tau selama ini hanya rasa stowberry, saya melon, apel, dan buah - buahan lainnya. Rasa yang ini, sudah tidak terlihat wujudnya seperti apa, tapi efeknya mampu membuatnya diam seribu bahasa alias NGAM-BEK!

Dua puluh menit berlalu, membuatnya ingin menutup mata lagi, sangat ngantuk.

Tapi laki - laki disampingnya alias yang di punggunginya sangat berisik, serius yang ini nyata.

Kagami sedang menggigil tahap dua.

"Ck!" Aomine berbalik. "Pindah sana kekasur. Gue nggak papa tidur di sini. Nanti lo tambah sakit."

Mereka saling berhadapan. Manic crimson bertemu dengan manic navy blue. "Lo juga pindah."

"Males."

"Yaudah," ucapnya. "Huacchih.." Tepat di wajah Aomine.

"Jorok Baka, sumpah!"

"Ma-af."

"Golongan darah lo, apa?"

"A, lo?"

"Wow! Gue B. Nanti kalau kita punya anak darahnya jadi AB bukan, ya?"

"HA...Huacchih...AH!" Kagami shock.

Aomine menjitak Kagami. "Bisa nggak kalau bersin tutup mulut lo, untung golongan darah kita beda."

"Emang kenapa kalau beda."

"Ya nggak akan nular, bodoh!"

"Sok tau!"

"Taulah. Emang lo bodoh!"

"Halah, lo idiot. Huacchih."

"Bodoh polos pula."

"Huac-"

Aomine langsung membekep mulut Kagami, agar tidak bersin di depan wajahnya.

Kagai memberontak karena saat ingin bersin dibekep, apa yang dirasa?

"Yaudah, ayok pindah," ia membangunkan Kagami. "Kuat nggak? Mau gue gendong lagi. Tapi gendongnya nggak di belakang, gendong depan, ala putri dari kerjaan."

"Aho! Emangnya gue cewek!"

Kagami berdiri dengan sempoyongan dan meninggalkan Aomine. Ia hanya nyengir melihat Kagami dari belakang.

Akhirnya Kagami bisa membuat Aomine kembali seperti semula, ntah mengapa rasanya lega. Mereka tidur bersebelahan dan saling berhadapan seperti sebelumnya.

"Kok, lo bisa sakit, Baka?"

"Iyalah, emang gue robot."

"Badan gede bisa sakit, ya?"

"Idiot!"

"Lo, lucu kalau lagi sakit gini."

"Nggak tau diri! Temen sakit bukannya prihatin malah dibilang lucu."

Aomine terkekeh. "Emang lucu."

"Jadi lo seneng gue sakit."

"Enggaklah! Walaupun lo kalau lagi sakit keliatan imut tapi gue lebih bahagia kalau lo sembuh," ia tersenyum. "Karena nanti nggak ada yang minjemin gue duit,"
ia terbahak - bahak puas. "Becanda, Baka. Lagian kalau lo sakit itu mendokusai. Harus ngompres - ngompres, harus bikinin makanan alhasil kayak tadi," suaranya parau. "Gue sakit hati lo, sama omongan lo yang terakhir." Menatap intens manic crimsons dihadapannya.

Kagami tersenyum. "Sejak kapan ya temen gue satu ini mulai kayak cewek, dikit - dikit ngambekkan," menatap Aomine. "Coba bilang sama gue, sejak kapan? huh! ganti alat kelamin sana."

"Eh! Sejak kapan temen gue merhatiin gue sampe segitunya. Cie..ciee.."

"Apasih Aho! Huacchiih..."

Aomine mendekat ke Kagami. Yang didekati hanya kedip - kedip. Tangan Kagami mau memberontak, tapi tangan Aomine sudah menangkapnya duluan. Kalau sudah begini Kagami bisa apa? Pasrah? Mungkin iya.

Dan Aomine menempelkan keningnya kekening Kagami seperti yang sudah - sudah untuk mengecek suhu tubuh.

Ingatkan Kagami. Siapapun, bagaimana caranya menarik nafas yang baik dan benar. Saat wajah Aomine sangat dekat, bukan dekat lagi bahkan sudah menempel, dan Kagami juga bisa merasakan suhu tubuh Aomine. Kening yang saling menempel, hidung yang saling tabrak, dan bibir yang_

.

.

.

.

Ah! Sudah lupakan. Kemudian Aomine menarik wajahnya. "Badan lo panas lagi, tidur sana."

Kagami tidak menjawab ia langsung membelakangi Aomine dan kerukupan dengan selimut. Memang bukan yang pertama Aomine melakukannya, mungkin yang sudah - sudah Kagami sedang tidak sadar makanya tidak merasakan apa - apa, tapi yang terakhir demi kekuatan zone ia sadar 1000 persen.

.

.

.

.

Hohoho...chap ini merupakan request dari my sohib ; KURO, semoga dirimu menikmatinya.

Si Baka sama si Aho manis banget ya?/gak!

Bodo amat, pokoknya mereka manis banget. Malam ini biarkan dua mahluk bodoh itu tenang tidak mempermalukan diri dikhalayak umum, walaupun di atas, kebodohan Aomine masih ada wkwkwkwk... Apa sih arti AoKaga kalau bukan sifat bodohnya? Iya enggak?/digamparmesra.

Wah, maaf banget minggu kemarin lagi - lagi nggak bisa update :( , padahal dalam perjalanan pulang ke Karawang sempet - sempetin ngetik dihp, eh sampe rumah mau upload laptopnya nggak bisa buka google, yahoo, pokoknya semua pencarian ngak bisa.

Oke udahan curcolnya, sekali lagi gommen ne minna-san.

Untuk minggu depan, kalau ada yang mau request juga mereka ingin seperti apa? Silahkan tulis di kotak yang telah tersedia.

*pelukciumminna-san*