Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.

.

AoKaga

"Malam Minggu AoKagazone : Ulang Tahun Kuroko"

By : Zokashime

.

.

A/N : Kebetulan ulang tahun Kuroko kemarin jatuh pada malam minggu. Jadi, anggap saja malam minggu sekarang merupakan malam ulang tahun Kuroko.

Happy Reading

.

.

.

Kagami keluar dari kamar mandi berbalut handuk putih kesayangan. Tubuh manly, six pack ; tidak kalah sexi dengan sahabat idiotnya. Rambut merah gradasi hitam yang masih meneteskan sisa air setelah mandi tidak lupa ia gosok dengan handuk kecil.

Berdiri di depan kaca lemari yang setinggi dengannya. Masih mengacak - mengacak rambutnya, setelah dirasa cukup ia mencoba tersenyum sampai menampilkan giginya. Membuka lemari mengambil kemeja lengan panjang berwarna putih, dengan jins hitam panjang, tidak lupa lengan kemejanya ia gulung sampai siku.

Berbagai tipe senyum ia peragakan di depan kaca, menyisir rambutnya kebelakang, memakai minyak rambut. Ia memandangi dirinya sendiri di dalam kaca, dengan senyum pastinya.

Satu menit berlalu, dibenaknya ia berpikir jika ia terlihat sangat handsome, cute, sweet jauh berbeda dengan sohib dekilnya.

Dua menit berlalu, ia mulai menyipitkan matanya.

Dua menit, tiga detik, "Arghhhhhh...najisssss..." Ia teriak histeris. "Gue ngapain sih!" Uring - uringan.

Dengan jari - jari panjangnya ia mengacak rambutnya lagi seperti semula, membuka kemejanya dan dibuang kesembarang arah. Mengambil kaus merah lengan pendek dan tetap dengan jins yang tadi. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.

Yang ia lakukan barusan adalah orang lain bukan dirinya, atau jangan - jangan roh Aomine sudah masuk ke dalam tubuhnya. Sepertinya memang ia terlalu banyak bergaul dengan si Aho itu.

"Lo ngapain, Baka?" Aomine dengan manik navy bluenya mengamati setiap inci ruangan kamar Kagami. Memperhatikan Kagami yang sedari tadi sibuk ngomel dan ganti pakaian.

Sedangkan Kagami terhentak, kaget luar biasa, si Aho itu datang dari mana. "Aho!? L-lo datang dari mana?"

Aomine mengunakan kaos oblong berlapis jaket seperti biasa, diikuti dengan jins panjanganya. Melangkahkan kakinya mendekati Kagami. "Ya dari rumahlah, Baka."

Kagami memasang wajah juteknya seperti biasa. "Bukan itu maksudnya, sial! Lo masuk lewat mana? Seingat gue, pintu gue kunci."

Aomine hanya nyengir.

Kagami yang melihat itu merasakan hal yang tidak beres. "Ditanya itu, jawab! Bukan nyengir Aho!" Duduk diranjangnya, kesal.

"Hahaha..." Tawa Aomine meledak, merasa menang. "Taraaaaa..." Teriaknya dengan absurd, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya dan diperlihatkan di depan wajah Kagami.

"Heh...dapet kunci apartemen gue dari mana?" Kagami berusaha merampas kunci itu tapi dengan cepat tangan Aomine menariknya.

"Baka, denger ya? Gue ini cerdas, oke."

"Najis," Kagami memandang tidak suka. "Dapet dari mana kuncinya, Ao?"

"Gue buat duplikatnya kemaren, hahaha.." Dengan tampang tanpa dosa, ia menjatuhkan tubuhnya di samping Kagami. "Cerdas kan, gue? Jadi kalau nanti ada apa-apa, gue tinggal masuk aja."

Kagami melirik tajam. Cerdas sih cerdas, tapi bilang - bilang dulu sama pemiliknya jangan main asal duplikat. Untung tadi Kagami udah memakai baju, kalau belum? Tiba - tiba Aomine datang. Kagami mohon tuhan hukum si idiot itu.

Karena kesal yang tak tertahankan Kagami menaiki Aomine dan duduk diperutnya, lalu membekap Aomine dengan bantal sampai meronta - ronta. Kagami mendengar permohonan ampun yang merintih, janji tidak akan diulangi lagi, Baka ganteng, Baka manis, Baka sayang gue, dan lain - lain.

Ugh! Aomine memang selalu begini ; selalu membuatnya kesal, selalu membuatnya ingin sekali menghajarnya, dan selalu membuatnya menarik napas dalam, mengampuninya karena Kagami tidak tega.

"Jahat banget lo," gumam Aomine. Setelah bekapannya dilepaskan, Kagami mendengus dan lengah, tidak sadar akan serangan baliknya. Aomine dengan cepat menarik lengan Kagami sampai mereka saling menindih, kemudian digulingkan ke samping. Ah! Berhasil. Sekarang Aomine yang berada di atas Kagami.

Mata mereka bertemu untuk sepersekian detik. Aomine menyeringai, dan Kagami horor. "Aaaaaaaaaa...gue nggak mau diperkosaaaaaaa," teriak Kagami sambil meronta.

Aomine menyerngit, apa maksud teriakan Kagami. "Lo teriak apa tadi?"

"Lepasin gue Aho! Gue nggak mau diperkosa!"

"Hah! Siapa yang mau perkosa?"

"Terus lo mau ngapain?" Tanya Kagami polos.

Aomine makin menyeringai. "Oke. Sini gue perkosa, kalau gitu."

Kagami lebih horor. "Mati lo sana!"

"He...mulai dari mana, ya?" Tangan Aomine sudah memegangi leher Kagami. Wajahnya didekatkan.

"Aaaaaaaaaaaaaa...aup-" Teriak Kagami lagi, kali ini lebih kencang. Telinga Aomine sampai merasa tuli.

"BAKA BERISIK!" Aomine membekap dengan telapak tangannya.

Kagami meronta kuat.

"Oke oke gue lepasin tapi jangan teriak lagi, sakit telinga gue." Aomine tidak berbohong, ia melepaskan bekapannya. Dan geli melihat Kagami yang mengap - mengap karena tidak bisa bernapas.

"Nggak lucu!" Sentak Kagami, kemudian mendorong Aomine dan memisahkan diri.

"Lucu," goda Aomine.

"Enggak!"

"Lucu Baka!"

"Enggak Aho!"

"Lucuuuuu."

"Enggakkkkkk."

"Pokoknya lucu."

"Bodo amat. Nggak lucu!"

"Cium nih," Aomine mendekatkan wajahnya.

"Mau...-" Balas Kagami.

Aomine menarik kepalanya cepat, horor. Siapa laki - laki di depannya saat ini. Kagami, kah?

Tidak! Bukan! Kagami tidak akan menjawab begitu, jika itu Kagami pasti dia akan menuduhnya homo, gay, atau semacamlah. Hah? Homo dan gay itu sama aja. Tapi bagi Aomine itu TIDAK SAMA! Dan jangan protes. Ia menatap intens manik krimson itu, dan dengan kekuatan panthernya_

.

.

.

PLAK! PLAK!

Aomine menampar kuat pipi kanan dan kiri Kagami, dan berteriak, "Keluar dari tubuh Kagami gue, setan sialan!"

Kepala Kagami pusing, pipinya berasa bengkak dan perih akibat tamparan keras Aomine. Yang menamparnya hanya melempar senyum seakan tidak mempunyai dosa.

"Baka? Lo udah sadar? Setannya udah keluar belum?"

"SETAN PANTAT LO! SAKIT BANGSAT! LO KIRA PIPI GUE PAPAN LO PUKUL SEKUAT ITU!" Teriak Kagami tiga kali lipat lebih keras daripada seorang rock sedang menjerit dengan toa. Aomine yang mendengar langsung mencelat kepojokan. Barang - barang pecah berantakan. Apartemen Kagami belah jadi dua.

Hahaha...nggak gitu juga kali. Intinya Kagami emosi tingkat internasional.

"Bisa nggak sih, nggak usah teriak - teriak! Lo kira ini hutan," protes Aomine, masih belum sadar atas kelakuannya.

"AHO!"

"Tuhkan teriak lagi. Kan gue tanya baik - baik, setannya udah keluar belum?"

"Siapa sih yang kerasukan setan, huh!?"

"Elo. Masa gue mau cium, lo mau?"

"Hah!"

"Iya. Yang tadi waktu gue bilang 'cium nih' dan lo jawab 'mau', kan horor. Hayoo?" Ia menggoda Kagami. "Jangan - jangan lo jadi homo, ya?"

Sumpah Kagami ingin menyumpal mulut Aomine dengan semen. "Apa'an sih, makanya orang ngomong jangan dipotong dulu, jawaban gue itu 'mau muntah' Aho kampret!"

Aomine yang mendengar penjelasan Kagami hanya nyengir seperti biasa, tanpa permintaan maaf.

"Lagian, konyol banget cowok sama cowok ciuman," lanjut Kagami. Dilihatnya Aomine hanya mengangguk. "Dan denger, gue nggak jadi TRAKTIR LO MAKAN DI MAJIBA!" Tegasnya, kemudian meninggalkan Aomine dengan beribu macam perotesannya, mulai dari : lo parah, Baka. Baka, lo jahat. Baka, ini nggak adil. Baka, lo ngingkarin janji, dan lain - lain sampai telinga Kagami panas, Aomine sudah seperti emak - emak kekurangan uang belanja.

Kemarin sore, mereka melakukan kegiatan ritual di lapangan basket dekat rumah Aomine. Semua pasti sudah paham apa kegiatan ritual itu. Mereka taruhan seperti biasa, yang kalah akan mentraktir makan sampai puas di Majiba.

Kagami sedang tidak beruntung sore itu, ia kalah telak dari Aomine, dan ia harus bisa merelakan uangnya hangus terkuras untuk mentraktir si manusia astral bin menyebalkan besok. Eh! Malam ini Tuhan berbaik hati, karena Aomine menamparnya dengan tidak kira - kira, jadi Kagami gunakan kesempatan ini untuk membatalkan, ia bersyukur walau pipinya yang jadi korban.

"Baka, gue minta maaf deh. Tapi jangan batalin traktirannya, yayayaya," mohonnya kepada Kagami yang sedang menegak minuman dingin di dapur.

"Ada maunya baru mintaa maaf."

"Kan tadi gue takut lo kenapa - kenapa," ia membela diri. "Gue sahabat yang baik, kan? Menyadarkan teman dari-"

"Bukan nyadarin! Lo nyiksa gue."

"Ah...Baka?" Rengeknya lagi, sambil memperhatikan Kagami.

"Apa liat - liat."

"Mau minumnya, lo pelit banget nggak bagi - bagi."

"Mau?" Tanya Kagami, ia langsung menyodorkan kaleng minumannya. "Nih, ambil semuanya," Kagami langsung berlari dengan cepat.

"BAKAAAAA!" Teriak Aomine.

Klontrang...

Kaleng minuman itu dibanting kesembarang tempat. Aomine geram. Kagami menyebalkan, masa ia diberi kaleng yang sudah kosong. Itu tidak sopan, kan? Ia tidak terima, Kagami harus diberi pelajaran.

Ia meyusul Kagami, berlari mencari mahluk merah itu, bersembunyi di mana dia?

Aomine melihat sembulan surai merah bata dibalik sofa. Ia menyeringai, mahluk bodoh itu tidak pandai bersembunyi. Dengan perlahan ia mendekati sofa itu dari belakang. Dan_

Grap...

"Di sini lo rupanya, Bakagami!"

Kagami yang kaget karena ditemukan langsung memelayangkan bantal yang ia bawa sebagai senjata.

Buk!

"Mampus lo, hahaha," Kagami menang, dan lepas dari Aomine.

Aomine tidak menyerah ia mengejar Kagami, dan mereka akhirnya kejar - kejaran di dalam apartemen seperti minggu - minggu yang lalu.

Aomine maupun Kagami tidak perduli jika mereka terlihat seperti anak kecil, yang mereka tau mereka bisa bahagia, bisa tertawa bersama. Inilah mereka dengan kehidupannya, disaat seumuran mereka harus merasakan galau karena cinta, menangis, bahkan ada yang bunuh diri dan masalah remaja lainnya. Mereka fine, mereka enjoy dengan hidup mereka yang sekarang. Mereka bahkan tidak ingin menjadi besar, menjadi dewasa, memikirkan hal yang lebih rumit dari sekedar main one-on-one, atau balapan makan di Majiba.

Jika sudah dewasa pasti mereka akan berpisah karena jalan mereka tidak akan selalu sama melihat masa depan, atau Kagami yang pulang ke Amrik dan tidak akan pernah kembali, sedangkan Aomine yang dipusingkan dengan segala kasus di kota yang dipimpinnya karena ia punya impian menjadi polisi. Mereka tidak ingin seperti itu, mereka mohon biarkan mereka seperti ini setiap saat, mereka mohon agar waktu tidak berjalan dengan cepat.

Sampai suara hp salah satu dari mereka berbunyi dengan keras. Mereka berdua berhenti berlari dengan napas yang tidak seimbang. Tangan panjang dim itu merogoh saku jinsnya.

"Hall-"

"Daiki kau di mana? Bersama Taiga, kan? Jika iya cepat langsung ke rumah Tetsuya, kami semua sudah berkumpul. Cepat!"

"I-iy-"

Tutttttt...

"Dasar iblis kecil tidak tau diri!" Decaknya kesal.

Kagami hanya tertawa melihat raut wajah Aomine yang sangat kesal.

"Nggak usah ketawa!" Melirik Kagami. "Baka, buruan siap - siap. Kita berangkat ke rumah Tetsu, udah jam delapan nih."

"Berangkat sekarang?"

"Enggak, nanti! Kalau lo udah punya anak, ya iyalah, pake tanya lagi."

Kagami cemberut, melangkah menuju kamar untuk mengambil dompet, dan kado yang telah ia siapkan kemarin bersama Aomine, walau kebanyakan ia yang kerja sedangkan Aomine bersantai sambil ngemil.

"Ka?"

Kagami berhenti dan menoleh saat suara berat milik sohibnya memanggil. "Hem."

"Jangan lupa pake jaket tebel. Gue nggak mau lo sakit kayak minggu lalu, ya." Ia tersenyum. "Gue tunggu di luar, sambil cegat taxi."

Kagami membalas senyumnya. "Iya, Ao."

Cieee...Aomine perhatian. Hem, kadang sohib terabsurd, menyebalkan, tidak tau diri, suka bertingkah tanpa dosa itu, bisa perhatian juga ya. Kagami hanya bisa terus tersenyum sampai tidak sadar jika ia sudah ada di luar dan di depan taxi yang Aomine cegat.

"Lo kenapa senyum - senyum? Ada yang rasukin lagi. Mau gue tampar ronde 2?" Goda Aomine yang tidak tahan melihat senyum sok manis Kagami.

Mendengar hal itu Kagami langsung kembali kewajah juteknya. Benar - benar menyebalkan! Aomine hanya tertawa geli, mereka masuk ke dalam taxi dengan pertengkaran kecil, membuat bapak supir gemes melihatnya.

.

.

.

.

Menghabiskan waktu 20 menit untuk mereka tiba di depan rumah Kuroko. Kagami turun duluan dan langsung berlari, ia memanfaatkan waktu yang ada. "Pak. Si jelek item berkepala biru yang bayar," menjauh sambil lambai - lambai tangan.

Sedangkan Aomine masih di dalam taxi, memancarkan aura hitam pekat, dengan otot wajah sudah keluar kemana - kemana. Ah! Kagami akhir - akhir ini sangat menyebalkan, harusnya ia saja yang mendapat predikat orang paling menyebalkan. "Awas lo Baka!" Geramnya.

Ia mengerucutkan bibirnya, jengkel : pertama, Kagami meninggalkan kado yang besarnya tidak kira - kira, malah pergi duluan tanpa dosa. Dan ia terpaksa harus membawanya. Apa kata kolor ijo Midorima? Atau celana dalam Kuroko yang imut, jika manusia paling ter-sexi di dunia harus keluar dari taxi dengan menenteng - nenteng kado. Ia tidak bisa membayangkan reputasinya akan hancur. Memang punya reputasi?

Kedua, yang bayar taxi ia semua, Kagami tidak mau bagi dua, padahal didompet isinya tinggal selembar, Kagami tega.

Ketiga, apa - apaan si jelek item berkepala biru? CHIKUSO! Ia berkaca dispions taxi sebelum mengeluarkan uang. "Gue nggak jelek, kok. Gue ini sexi huhu.." gumamnya. Lalu menengok ke bapak supir yang sedang mendelikkan mata. "Iya, kan pak?" Tanyanya sambil memberi uang.

Bapak supir tidak menjawab, dia langsung menutup kaca mobil dan menggas taxinya dengan kekuatan ekstra. Sumpah! Atas nama perut kotak - kotaknya, ia doakan bapak tadi putus dengan istrinya agar sama - sama mempunyai gelar jomlo.

.

.

"Maaf telat," kata Kagami setelah masuk ke rumah Kuroko. Menyapa semua teman - temannya yang sudah berkumpul.

"Tidak apa – apa, Kagami-kun," jawab Kuroko. Maniknya mencari sesuatu. "Aomine-kun, mana?"

"Ah...dia masih dilu-"

"BAKAAAAAAA...MATI LO!" Teriak Aomine memasuki rumah Kuroko dengan berlari. Kagami panik dan mencari tempat persembunyian yang aman. Semua yang ada menghela napas, melihat kelakuan mereka berdua. Akashi sudah bersiap - siap mengeluarkan mata dwi warnanya kalau - kalau mereka membuat ulah.

"Hai, semua," sapa Aomine, disela matanya yang beringas mencari sosok kekar bermanik krimson. Memberikan kotak besar kepada Kuroko sebagai hadiahnya, dan ia harus tertawa karena kotak itu bahkan lebih besar dari Kuroko. "Semoga kau cepat tumbuh, ya Tetsu. Supaya tidak kalah dengan kotak ini," ia nyengir kuda. "Oh ya, Tetsu. Mana Kagami?"

"Dibalik meja ini, Aomine-kun," Kuroko dengan wajah tripleknya menunjuk meja di sampingnya yang penuh dengan makanan.

Kagami yang mendengar, mengumpat sebanyak apapun ternyata dia salah orang untuk dimintai amanah. Aomine menyeringai penuh kemenangan. Semua yang menonton lagi - lagi harus menghela napas, dan memegang jidatnya masing - masing lalu geleng - geleng kepala, melihat Kuroko yang terlalu jujur.

"Oi, Kurokocchi. Seharusnya kau tidak usah memberi tau-ssu."

"Aku hanya bersikap jujur, Kise-kun."

Aomine menjulurkan lidah kepada Kise. "Aominecchi menyebalkan-ssu!" Rengeknya. "Midorimacchi, kau harus menghukum Aominecchi."

"Aku tidak terlibat dengan urusan kalian," menaikkan kacamatanya cool.

Aomine lagi - lagi menjulurkan lidahnya merasa menang dua kali lipat.

"Daiki! Sekali lagi kau julurkan lidahmu akan ku potong dengan gunting ini," Akashi turun tangan.

"Membosankan!" Aomine melirik Akashi. "Aku tidak suka matamu yang berbeda itu Akashi, kau terlihat seperti anak kucing yang malang."

Kacamata Midorima pecah seketika. Akashi memandang Aomine tajam. "Daiki!"

Aomine kalang kabut, padahal ia hanya bercanda kok. "Bakaaaaa..." Ia berlari menyusul Kagami untuk bersembunyi dibalik meja. Setelah bertemu, Aomine langsung memeluk Kagami. "Baka, Akashi ngeri banget."

"Bodo amat! Lagian ini kenapa sih peluk - peluk."

Aomine melepaskan pelukkannya, dan meyeringai tajam di depan wajah Kagami. Kagami panas dingin mengerti apa artinya itu.

"BA-KA?" Aomine memegang pundak Kagami.

"Ampun," ucap Kagami, mencari aman. Masalahnya ini di rumah Kuroko. Kalau saja di rumahnya pasti sudah dihajar mahluk astral di depannya itu.

"Apa?"

"Oke. Gue minta maaf, tapi jangan di sini. Rumah orang, Aho!"

"Bodo amat. Emangnya gue peduli, lagian orang tua sama neneknya Tetsu lagi nggak di rumah," ia nyengir lebar. Menurunkan kedua tangan kepinggang Kagami.

"Hahaha...Ahomine! Ampun." Kagami teriak - teriak geli. Karena Aomine menggelitikinya tiada henti. "Mampus lo baka, rasain," gumamnya sambil turun naik mengitik - ngitik pinggang Kagami. "Cari masalah sih," Lanjutnya.

"Hahahaha...Aho, sumpah ampun, berhenti nggak!" Sesekali jika ada kesempatan Kagami juga mengitik - ngitik Aomine.

Mereka semua penasaran, apa yang sedang dilakukan oleh 2 orang yang mempunyai predikat masing - masing ; satunya bodoh dan satunya idiot, pasangan yang sempurna. Surai - surai pelangi yang ada ditambah penampakan Takao dan Himuro, berjalan menuju meja untuk melihat secara langsung pertunjukannya.

"Ao! Udah!" Teriak Kagami lagi.

"Haha...apa? Apa?" Aomine malah mengejek Kagami.

Mereka semua yang melihat hanya bisa diam dan tutup mata. Tidak tau dapat kutukan dari mana, sampai mereka mempunyai dua teman yang benar - benar aneh, dan menggelikkan.

Kagami malu menjadi pertontonan gratis. Tapi Aomine malah senang - senang saja.

Ah! Ia kesal. "AHOMINE!" Teriaknya keras dan menendang lelaki di depannya. Aomine kesakitan dan tidak terima, tidak mau kalah, ia menerkam Kagami lagi, karena badan mereka sama - sama besar sampai menyenggol meja.

BRUKKK! KLONTRANG!

Mereka berdua tertimpa piring - piring berisi kue. Meja itu terguling, menjatuhkan semua makanan yang ada di atasnya. Aomine maupun Kagami menghentikan kegiatannya dan meratapi dengan sok shock. Yang lain sedang berdiri membelalakkan matanya, diikuti dengan aura pelangi disekitarnya. Menatap mereka berdua dengan tatapan membunuh. Aomine dan Kagami bergidik.

Kuroko kelihatan sedih walau dengan wajah datar. Murasakibara dilihat dari tatapannya berkata, 'Mati kau, karena menyia - nyiakan makanan!' Takao dan Himuro hanya membulatkan mulut. Kise menatap mereka dengan wajah sedih, sedangkan Midorima dan Akashi sedang kolaborasi, karena malam ini Lucky Itemnya tali tambang, jadi mereka berkerja sama untuk mengikat dua cecunguk itu, lalu digantung di atas api.

Tapi ada satu hal yang membuat mereka semua lega, untung saja, sekali lagi UNTUNG SAJA! Meja yang terbalik hanya berisi makanan - makan kering. Bukan makanan berkuah atau minuman dan gelas - gelas, sedikit terselamatkan.

"Lo sih" Senggol Aomine sambil berbisik.

"Hah! Kok gue. Siapa yang mulai."

"Elo Baka."

"Enak aja, yang ngitik - ngitik gue, elo duluan."

"Tapikan yang buat masalah elo duluan."

"Gue nggak buat masalah."

"Buat!"

"Enggak!"

"BUAT!"

"ENGGAK!"

Dan dari berbisik - bisik pelan karena takut oleh mereka yang sedang mengintimidasi, menjadi saling meneriaki seolah - olah mereka sedang berada di apartemen Kagami atau rumah Aomine.

"Daiki! Taiga!" Bentak Akashi keras, yang sudah gemas melihat kelakuan mereka. "Berdiri kalian!" Titahnya.

Aomine dan Kagami menganga. Dengan cepat mereka berdiri. Mereka tidak ingin mati sekarang. Mereka masih ingin main berdua dan bersenang - senang. Mereka masih ingin saling sayang.

"Baris kalian!" Akashi memberi perintah lagi. "Kalian juga baris di depan mereka," menunjuk kawanan pelanginya.

Sekarang baru jam setengah 10, masih ada waktu beberapa jam, menunggu tengah malam. Waktu ini Akashi gunakan untuk menghukum dua cecunguk menyebalkan.

Aomine dan Kagami baris bersebelahan. Kepala mereka menunduk, mereka tau sudah salah. Kedua kaki dirapatkan tidak ada celah sedikitpun. Kagami mengaitkan kedua telapak tangannya dan diletakkan di depan tubuh. Sedangkan Aomine meletakkan tangannya kebelakang.

"Daiki, tanganmu di depan seperti Taiga," ucap sang pemimpin penghukuman.

Aomine kaget, dengan cepat mengubah posisi tangannya. Kagami sebenarnya geli ingin menertawakan Aomine, tetapi ia tahan, ia masih berkeinginan untuk hidup.

"Kalian ini selalu saja membuat onar!" Akashi mulai berpidato. "Kalian tau itu tidak baik!"

"Iya kami tau," jawab Aomine dan Kagami bersamaan.

"Kalian sadar kalian salah!"

"Aku tidak salah!" Ucap mereka bersamaan lagi, tapi kali ini Aomine menunjuk Kagami, dan Kagami menunjuk Aomine. "Dia yang mulai," lanjut mereka.

"Enak aja! Lo yang salah Baka!"

"Lo Aho!"

"Ngaku aja."

"Nggak mau, ya!"

"DIAMMMM...!" Ugh. Kepala Akashi sakit. Mengapa Tadatoshi Fujimaki-sensei mau repot - repot menciptakan mereka. Sungguh tidak bisa dimengerti.

Kagami dan Aomine diam mematung seperti semula. Dalam pikiran masing - masing masih bersih keras bahwa dirinya tidak bersalah.

"Kalian tau, kalian sudah membuat pesta Tetsuya berantakan!"

Oooooooo...begitulah respon penonton seandainya mereka sedang dalam drama komedi.

Aomine menyikut Kagami, memberi isyarat agar melihat kepadanya. "Baka, gimana ini?" bisiknya.

"Nggak tau, Ao. Minta maaf aja yok sama Kuroko."

"Ide bagus."

"Kuroko," kata Kagami langsung. "Tetsu," disambung oleh Aomine. "Kami minta maaf. Tidak apa - apa, kan? Jangan marah," ucap mereka bersamaan, sepertinya predikat mereka berubah setelah ini menjadi 'Tim Paduan Suara'.

Kuroko tertawa dengan langkanya, sudah 17 tahun ia menyandang sebagai pemilik wajah terdatar, penghargaan apapun sudah ia dapatkan, jika tidak percaya silahkan masuk ke kamarnya. Menahan tawa selama bertahun - tahun pegal juga. Biar saja penghargaan tahun ini diambil oleh Mayuzumi-san. Lirik Akashi. Waaaaaaa...wajah mungilnya merah, karena nama kekasihnya disebut - sebut. Cieee - cieee Kressss! Gunting melayang.

"Iya. Kagami-kun, Aominen-kun tidak apa - apa."

Mendengar hal itu Kagami dan Aomine langsung jingkrak dan pelukan. Yang menonton lagi - lagi harus menggelengkan kepala, menyadari jika Kuroko terlalu baik.

"Tapi Tetsu, lebih baik kau tidak usah tertawa, tetaplah dengan wajah datarmu, karena kau telihat mengerikan," celetuk Aomine setelah sesi jingkrak - jingkrakkan.

"Heem, aku setuju dengan Aomine," sambung Kagami.

Kuroko dengan cepat berubah kembali kewujud aslinya dan menatap Aomine dan Kagami dengan kilatan. "Aomine-kun dan Kagami-kun aku tidak jadi memaafkan kalian."

Ctarrrrrr!

Aomine dan Kagami pura - pura mati karena mereka salah ngomong lagi.

Akashi tertawa penuh dengan kemenangan luar biasa. "Oke kalian akan ku hukum," Akashi melirik teman - temannya yang akan membantu. "Kalian akan dihukum oleh mereka. Ah. maksudnya mereka akan memerintahkan kalian sesuatu dan kalian harus mengikutinya. Paham?"

"Paham."

"Oh ya. Takao dan Himuro kalian tidak usah ikut dalam hal ini, serahkan saja kepada pasangan kalian,"

Hah? Pasangan? Ngaco nih Akashi.

Takao dan Himuro dengan santainya duduk di kursi, mereka sih tak masalah.

"Mulai dari Shintarou, berikan hukumannya kepada mereka."

"Em. Akashi sebenarnya aku sudah bilang dari awal jika aku tidak terlibat dengan hal tidak penting semacam ini," dengan coolnya Midorima langsung pergi dan duduk di samping Takao.

Kagami dan Aomine mengelus dada.

"He...kau tidak bisa jauh dariku ya, Shin-chan."

"Diam, Takao!"

"Hah? Oke. Atsushi giliranmu," Akashi melanjutkan.

"Aku juga tidak mau ikutan Akachin, aku lapar. Aku ngantuk. Murochin? Pulang saja yok?"

Kagami dan Aomine sujud syukur.

Kepala Akashi benar - benar sakit tingkat dewa. "Oke kau duduk saja, tapi jangan pulang."

"Giliranku...yeyeyey...giliranku..." Kise teriak - teriak gembira.

"Iya, Ryouta giliranmu. Kau mau memberi hukuman, apa?"

"Aku mau Kagamicchi dan Aominecchi, berdansa. Ya. Berdansa."

"Kalian dengar itu, kan?"

Kagami dan Aomine, keselek biji kedondong. "Da-dansa? Nggak salah nih, Kise," Aomine protes.

"Aominecchi tidak ada yang salah," ia tertawa riang. "Kalau kenapa Aominecchi lahir, baru itu salah."

"Gue setuju sama lo, kise," dukung Kagami.

Aomine meninju Kagami kecil, cemberut. "Belain gue kek, Baka."

"Males."

"Daiki, Taiga, cepat berdansa!" Akashi kembali mendeklarasikan suaranya.

"Aku tidak bisa berdansa," jawab ketus Aomine.

"Aku juga, Akashi," Kagami mendukung.

"Tidak mau tau alasan kalian," Akashi mendelik. "Kise hidupkan musiknya."

"Perintah diterima, Akashicchi," dengan semangat, si surai pirang itu berlari keperangkat musik yang telah disiapkan sebelumnya.

Musik dansa mengalun dengan tenang dan damai. Akashi kembali kekursi untuk memberi ruangan kepada Aomine dan Kagami. Sedangkan Kagami dan Aomine harus dibengongkan ; dari mana mereka mendapatkan musik dansa? Dan bagaimana mereka berdansa?

"Mulaiii..." Takao berteriak.

"Semangat Taiga," sang kaka mengeluarkan suara.

"Ao, gimana?"

"Nggak tau."

"Daiki, mulai!" Teriak Akashi yang semakin gemas.

Aomine menghela napas, Daiki, Daiki, dan Daiki. Dasar iblis merah. Sudah, dia sudah lelah, dia akan mengikuti apa yang teman - temannya mau.

Kagami yang berdiri polos, dengan kebingungannya malah terlihat imut, Aomine akui itu. Musik yang mengalun semakin panjang membuat ia tersadar, tidak pikir panjang, tangan dimnya meraih tangan panjang lelaki di depannya.

"Apa'an?" Kagami kaget.

"Udah ikutin aja apa yang mereka mau."

"Emang lo bisa dansa?"

"Enggak sih."

Kerena keterbatasan pengetahuan, mereka sama - sama tidak tau bagaimana caranya berdansa. Ah, tapi mereka akan melakukannya tenang saja. Aomine menggandeng tangan Kagami, dan memberinya isyarat. Kagami dengan polos mengikutinya.

Musik masih mengalun dengan santai. "1...2...3.." Ucap Aomine memimpin. Dan akhirnya mereka bergerak, Aomine maju, dan Kagami mundur. Mereka hanya bergandengan tangan dengan bersebelahan bukannya berhadapan, maju mundur, kiri kanan dengan absurd.

Semua yang menonton tidak bisa menahan tawa. Kise dan Takao yang notabene manusia paling berisik tertawa dengan keras sampai guling - gulingan dilantai. Midorima pun sampai menyungingkan senyum sedikit, cuma sepersekian detik, dia kembali lagi kewajah awal takut ke-cool-annya hilang. Akashi makin sakit kepala. "Ryouta, ajari mereka."

"Hahaha...siap - siap."

Aomine dan Kagami sudah merasa pasti mereka sedang menertawakannya.

"Puas lo nawain kita!" Bentak Aomine saat Kise datang.

"Aominecchi lucu, benar - benar tidak tau caranya berdansa, ya-ssu?"

"Kan aku sudah bilang dari kemarin."

Kise berpikir. "Ha? Perasaanku baru beberapa menit yang lalu, bukan kemarin-ssu," dan ternyata Kise ikutan bodoh.

"Terserah bodoh! Terus untuk apa kau ke sini, kami sudah boleh duduk."

"Neyney.." Kise mengacungkan jari telunjuknya. "Aku diberi tugas untuk mengajari kalian cara berdansa."

"Ha? Kau bisa, Kise?" Tanya Kagami.

"Jangan salah, aku ini terkenal-ssu."

Pletak. Satu jitakan mendarat dikepala kuning Kise. "Tidak ada hubungannya!" Aomine geram.

"Ryouta cepat..."

"Nah, kalian dengarkan si pendek itu."

"What? Si pendek? Gue bilangin lo Kise, sumpah," ancam Aomine.

"Jangan-ssu. Aku keceplosan."

"Akashiii...?" Panggil Aomine.

"Aominecchi, hidoi-ssu."

"Ryouta cepat! Sebentar lagi jam 11, kita belum menyiapkan kue."

"Oke. Oke." Kise memberi tanda kepada Akashi, "Hehe...gomen Aominecchi aku menang-ssu."

"Ck!"

"Oke caranya begini. Kalian harus berhadapan satu sama lain-ssu," ia menarik Aomine dan Kagami menjadi saling berhadapan. "Kurang dekat, mepet lagi sampai dada kalian bertemu," protes Kise.

"Ha? Sama kayak pelukan maksudnya," tanya Aomine.

"Bisa dibilang begitu. Terserah bagaimana Aominecchi mengartikannya-ssu," jawab Kise, dan mereka menuruti. "Sekarang tangan kanan Aominecchi diletakkan dipundak kiri Kagamicchi, -ah iya seperti itu. Lalu tangan kiri dilingkarkan dipinggang Kagamicchi, -yaya seperti itu bagus," ia tersenyum geli. "Nah untuk Kagamicchi juga lakukan hal yang sama, kebalikannya, -oke sempurna. Oh, ya satu lagi. Wajah kalian harus selaras, jadi kalian harus saling menatap satu sama lain-"

"Apa lo liat - liat, Baka!"

"Lo juga liatin gue."

"Aaaa...kalian nanti saja bertengkarnya, please. Untuk kakinya, kalian tentukan siapa yang maju dan siapa yang mundur. Oke, musiknya akan diputar, dan selamat berdansa," Kise kembali kekursi dengan raut muka sumringah.

Musik sudah dilantunkan lagi. "Lo maju Baka, gue mundur, ya?"

"Iya."

"Tu, wa, ga..."

Mereka mulai berdansa sesuai dengan perjanjian awal, Kagami maju dan Aomine mundur. Sangat selaras, mereka menikmatinya. Yang menontonpun sampai tidak berkedip. Kagami dan Aomine tak menyangka bisa melakukannya, mereka terbawa oleh indah alunan musik. Tidak hanya mundur tapi mereka juga melakukan gerakan kanan kiri.

Mata mereka saling menatap seolah - seolah sedang berkaca satu sama lain. Aomine menyunggingkan senyum, dan dibalas oleh Kagami. Kise dan Takao lagi - lagi berteriak histeris. Mereka mengabaikan teriakan tidak penting itu.

99 detik berlalu. Didetik ke-100 Aomine menarik pinggang Kagami agar lebih dekat. Kagami mengikuti alur. Aomine mencoba memeluk Kagami, dan ternyata dibalas oleh Kagami. Kagami meletakkan kepalanya dipundak Aomine, begitu juga sebaliknya dengan Aomine. Mereka masih bergerak mengikuti alunan musik.

"Baka?" Bisik Aomine ditelinga Kagami. Tidak ada yang bisa mendengar kecuali mereka berdua.

"Hem."

"Lo, imut."

Kagami tidak terima dan mencubit pinggang Aomine. "Emang gue cewek!"

"-Aww, bercanda. Nggak pake cubit. Gue gigit nih telinga lo."

"Gue juga bisa gigit. Apa lo, huh?"

"Akhirnya kita ngelakuin hal aneh ini ya, Baka."

"Heem. Semuanya salah Akashi."

"Iya. Apa maunya iblis merah pendek itu."

"Nggak taulah, seenaknya main perintah aja."

"Baka, gue punya ide?"

"Apa'an?"

"Kita santet yok, si Akashi itu?"

"HAH!" Kali ini Kagami berteriak sangat kencang, sampai telinga Aomine terngiang, juga mereka yang sedang menonton sampai kaget.

"SAKIT BODOH!" Aomine balas meneriaki Kagami.

"NGGAK SENGAJA!" Balas Kagami lagi.

Dan akhirnya mereka teriak - teriakan, lantang - lantangan suara, saling jotos dan saling tendang.

Ingatkan bagaimana kami semua harus menghela napas melihat dua mahluk ter..ter..terbodoh, teridiot, terabsurd, terkulang ajar, ter-semuanya. Lagi - lagi mereka bertengkar dengan caranya.

DOR!

Akashi menembakkan pistol siaga satu untuk memisahkan mereka. Dengan segala upaya akhirnya mereka terpisah dengan basah kuyup. Ralat bukan pistol siaga satu, tapi pistol air yang dengan tepat diarahkan kewajah mereka. Kagami dan Aomine bersumpah, nanti pulang langsung pergi kerumah mbah dukun.

Ugh. Setelah kekacauan yang dibuat Aomine dan Kagami, sekarang mereka semua menyiapkan acara utama, yaitu acara peniupan lilin.

.

.

.

.

Pukul 24.58. Kuroko sudah bersiap di tengah dan dikelilingi oleh para pengeran tampan untuk meniup lilin. Kise dan Takao memegang terompet. Akashi menjadi pemandu acara yang selalu setia di samping Kuroko (gue bilangin bang Mayu, lo nanti) haha abaikan.

Midorima BT karena Takao terlalu bersemangat, padahal tahun lalu dihari ulang tahunnya, Takao lupa. Aku bukannya lupa Shin-chan, kan aku mau memberimu surprise bela Takao di dalam pikirannya.

Murasakibara sudah menyiapkan piring paling besar, agar nanti saat Kuroko membagikan kue ia dapat yang paling banyak, dengan pendaping setianya yang selalu mengingatkan 'Atsushi jangan makan yang manis terlalu banyak, nanti kena diabetes'.

Si Baka sama si Aho mana? Kemana mereka? Mereka tidak terlihat. Wah jangan - jangan Akashi sudah mengusirnya, mungkin mereka sedang pergi kerumah mbah dukun.

Tidak! Tidak!

Ternyata mereka sedang bergulat di belakang tanpa ada yang mengetahuinya, mereka sedang saling tidih dan saling jewer melanjutkan sesi yang terpotong karena Akashi menembakkan pistol air.

Teng! Tong!

Dentangan keras berasal dari jam dinding Kuroko, itu artinya sekarang tepat pukul 00.00. Kagami dan Aomine bangun dari gulatnya untuk menyaksikan teman termungilnya meniup lilin. Lagu selamat ulang tahun menggema diruangan. Saat masuk kalimat 'Tiup Lilinnya' Kuroko meniup habis lilin itu.

"Yeeee...Tanjoubi Omedetou Kuroko," ucap mereka bersamaan.

Sesi tiup lilin dan bagi kue sudah selesai. Mereka berpesta ria, menghabiskan waktu sampai pagi. Pada pukul enam pagi semuanya pulang, dan Kuroko bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan melalui teman - temannya.

Dengan semangat Kuroko kembali keruangan yang seperti kapal pecah. Kok semangat? Karena Kuroko akan membuka hadiah dari sahabatnya yang besarnya mengalahkan tubuhnya sendiri.

Kuroko dengan cepat membongkar kotak itu, ternyata di dalam kotak, masih ada kotak, ia buka lagi, masih ada kotak, ia buka lagi sampai kotak ke-5. Ah, ia lelah, tapi penasaran karena kotak masih besar, ia buka lagi dan berharap hadiahnya sudah muncul.

Deng.

Dan ternyata benar isinya ada kain bekas, gabus, kertas - kertas sobekan, dan macam - macam hanya sebagai pemberat. Setelah diacak - acak akhirnya ia menemukan hadiahnya dan seketika itu juga ia sesak napas dan pingsan mendadak. Isinya adalah pil suplemen agar cepat tinggi sebanyak 4 tablet. Disana ada surat yang berbunyi :

Kuroko maafkan aku, ya. Ini semua si brengsek itu yang memaksanya.

Tertanda

Kagami Taiga

.

.

.

.

*hihihi* Waktu mereka dansa sama saling mengelitiki ntah kenapa saya senyum – senyum sendiri. Ada yang sama? kalau nggak saya bunuh/dibunuhduluan.

Mau bales Rifiuuuu chap yang lalu, boleh?

Kuro : Aku kangen wkwkwk. Aku nggak punya kawan, selalu di dalem kamar.

Nana : Nana-chan maaf kalau PHP-in kamu, aku mah begini orangnya/digaplok. Hehe bukan maksud begitu kok, beneran kemarin itu udah diketik cuma ada kesalahan teknis/alesan. Um, makasih ya sarannya, boleh juga kayak minum pil kb. Emangnya gitu ya minum pil kb kalau lupa harus minum dobel, baru tau hikshiks. Jadian? Belum terpikir sih. Nikmatin dulu aja kedekatan mereka, nanti ada kejutan huhu.

AokagaKuroLover : Si dia ini memang suka yang panjang – panjang ya/kayaknya ambigu banget. Nih dikasih panjang AokagaKuroLover, kalau masih kurang panjang, bunuh saja jiwa ini.

Nam Min Seul : Kisunya nanti kalau mereka sudah halal haha. Thanks rifiunya Nam-san.

WhoAmI : I don't know. 'Hantu Pasangan Homo Penunggu Tangga' kayaknya lucu sih. Sankyuu atas rifiunya ;)

Sekali lagi sankyuu rifiu, fav, foll, sini pelukan bareng. Ketemu lagi minggu depan, bye :*