Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.
Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.
.
AoKaga
"Malam Minggu AoKagazone : Valentine's Party"
By : Zokashime
O
o
O
o
O
Si navy sedang berdiri dengan napas yang terengah. Ia menggunakan bajunya untuk mengusap peluh yang mengucur deras sampai memperlihatkan ABSnya, mengerucut kesal melihat si krimson sedang menari - nari di tengah lapangan.
"Hahaha...gue menang, Aho," seru si krimson dengan riang gembira ala Kise. "Traktir. Majiba. Gendong sampe rumah," ucapnya lagi.
Aomine makin kesal, banyak perempatan imajiner yang sudah menutupi wajahnya.
Kagami masih menari - menari, "Gue menang, gue menang, gue men, -awwww" ia mengaduh saat kepalanya dicium bola orange. Kemudian melirik orang yang melakukannya. "Gue tau lo kalah, Aho. Tapi jangan marah - marah, dong. Sakit idiot!"
"Baka..." Ia berlari menerkam Kagami. "Lo itu kalau menang suka sombong nggak jelas. Kesel gue ngeliatnya," ocehnya sambil melilitkan tangan dileher Kagami. "Baru juga menang beberapa kali, huh!"
"Yang penting hari ini gue menang, oke. Besok Majiba."
"Ck!" Ia menjegal Kagami sampai terjatuh, sedangkan Kagami reflek menarik bajunya, dan alhasil mereka terjatuh berjamaah.
Musim dingin di bulan Februari ini tidak menghalangi mereka untuk melaksanakan ritual kewajiban. Banyak cara yang dilakukan oleh kedua mahluk itu, salah satunya menyewa lapangan indoor yang berada dekat dengan rumah Aomine. Walau lagi - lagi yang paling banyak mengeluarkan uang harus Kagami juga.
Ugh. Tapi tak apa, ia rela demi menyalurkan hobinya apalagi lawannya si Aomine idiot Daiki, mereka memang sahabat tapi jika sedang bermain basket mereka adalah rival.
"Eh...kalian! Jangan berkelahi di sini!" Teriak bapak penjaga indoor sambil membawa pentungan hansip.
Sayang, mereka tak menghiraukannya. Bapak itu sudah koar - koar sampai suara habis. Gemas bin kesal, bapak itu berjalan dan mendekati mereka, "KALIAN JANGAN BERTENGKAR!" Teriaknya kuat sambil mengacungkan tongkat hansip.
Mereka yang mendengar hanya bisa sweatdrop, diam - diam berdiri dan kemudian kabur. "Lari...Bakaaa.."
Setelah berada di luar dengan aman, mereka berhenti untuk menarik napas. "Lo sih!" Si navy lagi - lagi membentak.
"Gue aja terus yang disalahin! Minggu kemarin juga gue yang disalahin, kemarin, kemarin, kemarin, Kema...mmmphhh."
Aomine membekap mulut Kagami yang sedang mengoceh. "Udah, Baka. Berisik, oke," kemudian melepaskannya.
"Fueeehhhhh...asin!" Kagami muntah - muntah mual. "Aho! Jorok, tangan lo kan keringet semua, habis megang bola lagi."
"Hehehe...memang iya. Enak, nggak?" Dengan wajah tanpa dosa ia pergi meninggalkan Kagami yang masih mengomel.
"Eh! Lo mau ke mana, Ao?"
"Pulanglah. Kalau lo mau nginep di sini juga nggak apa - apa."
Kagami berlari kecil mengejar Aomine. "Tunggu sial!" Cegahnya. "Oh….jadi lo mau melanggar undang - undang yang baru kita sepakatin."
Aomine nyengir, tidak lupa menggaruk tengkuknya. "Heheh..lupa Baka."
"Halah! Alesan. Cepet gendong gue, atau lo mau kena hukuman."
"Ck! Iya - iya ntah kenapa lo hari ini bawel banget," Aomine memberikan tasnya kepada Kagami, mengingat ia tidak ingin dihukum. Kemudian ia berjongkok. "Cepet naik. Gue udah laper nih."
Tanpa kata Kagami langsung naik kepunggung Aomine. Sedangkan Aomine harus berusaha dengan keras menggendong manusia harimau itu dengan berat yang bukan main.
Hari ini tanggal 13 Februari 20xx. Mereka mendeklarasikan undang - undang per-one-on-one-an baru, ini merupakan perundang - undangan mereka yang ke-8 dengan pasal 31 ayat 2 yang berbunyi : bahwasanya, yang kalah dalam ritual wajib ; one-one-one selain mentraktir makan di Majiba sepuasnya, juga menggendong yang menang sampai tiba di rumah dengan selamat.
Barang siapa yang melanggar akan dihukum, dengan hukuman sebagai berikut : pertama, harus mentraktir selama satu bulan penuh. Kedua, harus melayani yang menang dengan baik selama satu bulan penuh juga.
"Baka, diet kenapa? Berat banget, sumpah."
"Emang gue cewek, huh! Bentar - bentar diet."
"Heem, Satsuki juga suka diet - diet," jawabnya, sambil terengah. "Inget waktu lo sakit. Digendong, mata berair, hidung berair, ngomong cuma angguk - angguk, hahaha..." ejeknya dibarengi dengan tertawa yang pecah.
Kagami yang sedang digendong hanya manyun, "Kalau gue, inget orang dekil yang ngambek cuma gara - gara gue salah ngomong," balasnya tak mau kalah.
Mereka ejek - ejekkan mengungkit masa yang sudah - sudah, sama - sama keras kepala dan tidak ada yang ingin mengalah, sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah.
"Ehhh...kalian kenapa malam - malam gendong - gendongan seperti itu," jerit wanita beranak tunggal yang kebetulan ada di luar, pulang dari Konbini. "Kalau jatuh, bagaimana?"
Aomine menurunkan Kagami. "Si Baka manja bu, sini - situ aja minta digendong," jawab Aomine sambil terkekeh.
"Enak aja!" Semprotnya. "Aho, kalah main basket bu," ia membela diri.
"Kalian ini tidak ada bosan - bosannya dengan basket, ya."
Mereka hanya cengar - cengir tidak tau mau menjawab apa.
"Yasudah. Kalian cepat mandi sana. Ibu siapkan makan malam."
"Ayam teriyaki?" Tanya Aomine.
"Tidak Daiki. Ibu masak yang lain."
"Mmpusss lo," ucap Kagami sambil menyibir ke arah Aomine.
"Nih! Mampus," ia yang kesal langsung menjitak kepala Kagami dan dengan cepat langsung lari ke dalam rumah.
"Aho!" Teriak Kagami yang mengejar Aomine masuk.
Wanita yang bernama Aomine Hikari itu hanya bisa geleng - geleng kepala dan menarik napas. Mereka berdua merupakan anak - anak kesayangannya. Walaupun mereka sudah duduk dikelas 2 SMA, baginya tetaplah anak - anak.
Ia bahagia putranya mendapat sahabat yang begitu baik. Sekarang ia tidak khawatir jika si dekilnya tidak pulang ke rumah, karena ia tau Aomine mempunyai rumah kedua, rumah Kagami. Kagami sudah dianggap seperti anaknya sendiri, terbukti dengan Kagami yang memanggilnya 'ibu', dan dengan Baka-Aho, ia sudah tau panggilan akrab mereka. Ia hanya tertawa geli. Ah, biarkan saja mereka mau melakukan apa, yang penting masih positif dan tidak keluar batas.
OoOoOoOoOo
"Ao, handuk gue mana?" Tanya Kagami yang sudah membuka lemari Aomine.
"Ada kok di situ, kan lo yang nyimpen," jawabnya santai sambil main game dihp.
"Mana? Enggak ada."
"Yaudah kalau nggak ada berarti di kamar mandi."
"Ha? Lo pake handuk gue lagi?" Ia berbalik dan memasang wajah death glare.
Aomine yang merasakan ada aura aneh langsung menghentikan aktivitasnya. "Hehehe...nggak sengaja, Baka."
"Lo punya handuk sendiri, kan? Kenapa handuk gue dipake terus!"
"Santai sih, Baka. Kitakan udah kayak sodara, sahabatan udah lama. Barang lo itu, ya barang gue juga, dan-"
"Dan barang gue, ya tetap barang gue, Baka," potong Kagami. "Itukan yang mau lo omongin, huh!?"
"Yaps. Tepat, hehe."
"Hapal gue," mendelik dan langsung masuk kamar mandi.
Ya. Kagami meninggalkan sebagian barang - barangnya di rumah Aomine. Seperti ; handuk, baju, sikat gigi, dan keperluan lainnya. Supaya jika sedang menginap tidak repot - repot membawa dari rumah. Begitu pula dengan Aomine, tapi dia kebanyakan minjamnya.
.
"Baka..." Aomine dengan tidak pedulinya masuk kamar mandi.
Kagami yang sedang sabunan hanya bisa speechless. Apa - apaan masuk kamar mandi tanpa permisi. "Ahomine!" Ia langsung berbalik membelakangi Aomine. Ma-masalahnya di-dia cuma memakai basahan celana dalam batman. Oke.
"Hahaha...biasa aja kali. Lagian pintunya nggak dikunci. Kita mandi bareng..."
Tidak tau apa yang harus Kagami lakukan. Sesama lelaki mandi berduaan memangnya normal? Sepertinya nanti Kagami harus membawa Aomine ke rumah sakit jiwa.
"Oi, Baka. Lo sabunan mulu dari tadi. Kapan bilasnya?"
"L-lo...ngadep sana."
"Ha? Memang kenapa?"
"Udah ngadep sana, ma-mata gue perihh..." Dengan mata tertutup dan kicep - kicep, ia berbalik mencari air. Sebodo amat, sama adanya Aomine yang terpenting ia butuh air sekarang. "Ao, airrr..."
"Ha...yaya...ini." Dengan cepat Aomine mengguyur wajah Kagami. "Masih perih?"
"Iya. Lagi."
"Lagian sih sama - sama laki - laki harus malu," ocehnya sambil mengguyuri wajah Kagami berulang - ulang.
"Ck! Enak lo pake kolor. Gue?"
"Yaampun gitu doang dipermasalahin. Gue malah mau telanjang."
"NGGAK USAH!" Teriak Kagami cepat.
"Ha? Yaudah sini gue mandiin."
"Enggak! Gue bisa mandi sendiri."
Karena sudah terlanjur akhirnya mereka, lebih tepatnya Kagami menerima keadaan dengan lapang dada. Mereka mandi berbarengan. Aomine minta digosok punggungnya, dan Kagami menolak, masih trauma dengan kejadian waktu ia menggosok punggung Hyuuga-senpai dengan sikat lantai.
"Baka?"
"Hum."
"Itu...kok 'Punya' lo kecil, ya?" Tunjuk Aomine ke adik Kagami.
"Hah! Aho! L-lo ngeliatin apa?"
"Hahaha...'Punya' lo kecil," ia malah tertawa sepuasnya.
Kagami mengeluarkan perempatan imajiner sebanyak - banyaknya. "Emang 'punya' lo gede?"
"Mau liat?" Tawar Aomine dengan bangga.
"Enggak makasih!" Kagami mengambil handuk setelah membilas bersih tubuhnya, lalu pergi dari kamar mandi laknat itu.
Tidak lama disusul Aomine. Mereka ganti pakaian sekenanya. "Baka, jam berapa?"
"Setengah delapan."
"Daikiii...ajak Kagami-kun makan," koar sang ibu dari balik pintu.
"Oke. Sebentar lagi," jawabnya. "Baka, emang lo suka makan?" Lanjutnya setelah melirik Kagami.
"Enggak!"
"Upsss. Salah tanya orang,"
Kagami tidak menanggapinya. Biarkan saja si Aho brengsek itu ngoceh sendiri.
"Balapan sampe ruang makan," Aomine malanjutkan dan membuka pintu kamar, kemudian ia mengambil ancang - ancang.
"Oke, siapa takut," jawab Kagami mengambil ancang - ancang di samping Aomine.
"Satu...dua..."
Wosshhh...Kagami lari duluan sebelum Aomine selesai menghitung. "Woi, Baka! Nggak asyik, lo!" Kejar Aomine.
Ucapan Aomine hanya terdengar samar ditelinga Kagami, ia tak menghiraukan dan lanjut berlari. Sttttttt...ia mengerem ketika sudah sampai dimeja makan, dan beberapa detik kemudian ditabrak Aomine.
"Awwww..." Erang mereka bersamaan.
"Sakit Idiot!"
"Lo berhenti disitu"
Ibu Aomine Hikari hanya bisa geleng – geleng untuk kesekian kali. "Kalian ini."
"Baka ngajak balapan, bu."
"Enak aja! Lo yang ngajak balapan."
"Lo yang lari duluan. Licik, huh!"
"Suka - suka."
"Sudah cepat makan, nanti keburu dingin," sang ibu memerintahkan.
Setelah saling tatap tidak suka mereka manarik kursi dan duduk bersebelahan. Mengambil piring dan nasi juga lauk yang banyak.
Mereka sempat berebut lauk seperti biasa, sepertinya kurang etis jika sedang melakukan sesuatu tanpa bertengkar. Dalam sesi makanpun ada saja yang harus dipermasalahkan ; lauknya inilah, lauknya itulah, gelas minumnya tertukarlah, saling colong lauklah.
Dan di sini ibunda Hikari harus turun tangan, membagi lauk sama rata, gelas minum yang dipisah jauh, tapi urusan saling colong lauk ia tobat. Biarkan sajalah mereka mau bagaimana, toh mereka sudah pada besar. Mending dia masuk kamar dan menelpon sang suami yang sedang di luar kota.
OoOoOoOoOo
Mereka tepar dikarpet di dalam kamar setelah sesi makan yang mengasyikan. Aomine maupun Kagami mengelus - elus perutnya yang agak buncit.
"Malem minggu, ya?" Kagami memulai dialog.
"Heem...bosen gue malem mingguan sama lo terus."
"Ha? Memang lo pikir gue nggak bosen."
"Alahhh...bukannya lo seneng, ya."
"Najis Ao!"
"Hahaha...main PS, yok?"
"Ayok aja."
"Gue kebawah dulu ngambil camilan. Lo siapin kaset gamenya."
Kagami tidak menjawab dan Aomine bangkit dari zona teparannya untuk pergi mengambil camilan. Belum juga ia melangkahkan kakinya_
"Daiiiiii...channnnn..." gadis surai baby pink menyembul dari balik pintu dengan berteriak, dan menabrak Aomine. "Aku rinduuuuu..."
"Oi, Satsuki! Aku tidak bisa bernapas."
"Aku merindukanmu."
"Iya tapi lepas dulu pelukanmu, aku tidak bisa bernapas, oi."
Momoi melepaskan pelukannya dan tersenyum renyah. "Kau makin hitam, Dai-chan, haha. Suka tidak pakai baju sih."
"Berisik, Satsuki. Mau apa ke sini? Malam - malam lagi."
"Mau bertemu kau dan oba-san, tidak boleh?"
"Ha? Dari seringaianmu sih ada yang lain."
Momoi melirik lelaki yang sedang sibuk dengan kaset game. "Eh...ada Kagamin juga."
Kagami menoleh. "Yo. Momoi."
"Kalian makin akrab, yah."
"Kita ini pasangan sejati, man..." Jawab Aomine. "Iya nggak, Baka?"
"Enggak!"
"Ck!"
Momoi hanya terkekeh, ya dia tau persahabatan mereka dimulai saat mereka bertemu dibasket. Sama - sama mencintai basket, sama - sama seorang cahaya, sama - sama bodoh. Yang terpenting Kagami sudah mengembalikan Aomine seperti semula, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada itu.
"Yosh, karena kalian ada di sini. Kita pergi Sekarang," si baby pink berkoar.
"Pergi ke mana?" Lagi - lagi mereka membuat paduan suara.
"Ke acara valentine's party di sekolah, yiuhuuu.."
"Valentine? Memang ini tanggal berapa?" Tanya Aomine.
"13 Dai-chan."
"Setau gue valentine tanggal 14, iya nggak sih Baka?"
"Ntah."
"Memang tanggal 14. Tapi Osis dan para senpai mengadakannya malam ini, karena besoknya bisa istirahat, Dai-chan. Lagipula ini malam minggu jadi lebih asyik."
"Tapikan kita tidak punya pasangan," celetuk Kagami.
"Kan ada gue, Baka."
"Ogah!"
"Tidak perlu bawa pasangan jika tidak punya, hahah. Kita happy - happy saja. Tets-kun juga datang."
Dengan segala pertimbangan akhirnya mereka memutuskan untuk ikut Momoi ke acara Valentine's Party. Mengenakan baju seadanya yang mereka pakai, tapi tidak lupa dilapisi jaket dan sal.
30 menit kemudian mereka tiba dilokasi. Halaman sekolah ramai dengan manusia - manusia berpasangan yang mulai memasuki aula di mana party diadakan. Begitupula dengan Aomine, Momoi maupun Kagami.
"Wow! Dadanya," kesan pertama Aomine saat berada di dalam ruangan.
Kagami yang mendengar hanya menyerngit, ia sudah mafhum dengan penyakit temannya itu.
"Tets-kunnnn..." Momoi yang notabene agresif terhadap Kuroko langsung memeluknya erat.
"Momoi-san, kapan datang?"
"Baru saja, dengan kedua manusia aneh."
"Aomine-kun dan Kagami-kun."
"Heem.." Momoi melirik Aomine yang sedang mengganggu gadis - gadis dan Kagami yang berkomat kamit mengumpat.
.
"Baka, mau tau nggak? Gimana caranya kenalan sama cewek?"
"Ha, gue nggak percaya sama lo. Apapun yang lo omongin nggak ada yang bener."
"Fine. Gue buktiin nih, ya."
Mereka berjalan selaras mencari gadis cantik untuk diajak kenalan. Setelah cukup berkeliling mereka berhenti, dan tidak lama kemudian ada seorang gadis cantik berjalan di depan mereka. tangan tan panjang itu dengan cepat meraba bokong sang cewek, "Hai..." Ucapnya.
Gadis itu kaget, menengok dan langsung menampar pipi putih tak bersalah. "Nggak sopan lo ya!"
Aomine jaw drop, sedangkan Kagami berteriak. "A'aawww...Oi, bukan gue mbak!"
"Anak kelas berapa lo, huh!?" Bentak sang kaka alumni.
"Du-dua," jawab Kagami sekenanya.
"Masih bocah! Kelakuan udah nggak bener."
"Bukan gue-"
"Tukang ngeles lagi!" Semprotnya untuk yang terakhir, karena setelah itu ia langsung pergi.
Aomine hanya bisa terkekeh, melihat wajah merah Kagami yang terkena tamparan kemudian dibentak – bentak dan diomeli oleh kaka alumni sadis.
Uhg. Kagami kesal luar biasa, orang yang membuat masalah bukannya ngaku salah malah menertawakannya. Pipinya perih, ntah terbuat dari apa tangan mbak tadi, mungkin telapak tangannya parutan kelapa.
Aomine masih tertawa, sekarang volumenya naik semakin besar. "Kasiannya hidup lo, Baka."
"PUAS LO!" Bentaknya. Ia merengut saking kesalnya. Kemudian meninggalkan Aomine yang masih tertawa.
"Baka, mau ke mana?"
"Nggak usah deket - deket gue!"
Aomine memutar bola mata. "Ngambek?"
"IYA!"
"Maaf. Kalau nggak deket lo, gue sama siapa?"
"Terserah!" Meninggalkan Aomine untuk yang kedua kali. Ia mendekati Kuroko dan yang lain.
Aomine hanya bisa memandang punggung besar Kagami dengan lesu, tidak menyangka ia akan membuatnya marah. Dan ini perdana.
"Kagami-kun, kau kena tampar, ya?" Baby blue angkat bicara.
"Heem. Gara - gara manusia sialan itu!"
"Eh, kemana Aomine-kunnya?"
"Mana kutau."
"Kalian bertengkar?"
"Biar tau rasa dia," ucapnya santai sambil mengambil makanan yang telah tersedia. Kuroko hanya mengangguk mengerti.
.
Acara dimulai, musik berdentang dengan seirama. Dipembukaan ada dance yang merupakan persembahan dari anak - anak kelas satu. Kemudian disusul dengan permainan biola oleh sang Akashi Seijuuro, semuanya bersorai - bersorai gembira.
Aomine berdiri sendirian di tengah keramaian itu, tidak tau akan melakukan apa tanpa si bodohnya. Ia menggaruk - garuk kepalanya. Acara masih berlangsung dengan berbagai macam penampilan. Ia melirik Kagami yang sedang bercandaan dengan yang lain, ketawa ketiwi tanpa memperdulikannya.
Ia ingin minta maaf tapi tidak tau bagaimana caranya meminta maaf. Sudah dibilangkan, ini perdana baginya. Dengan gontai ia mencoba mendekati rombongan Kagami. "Baka?" Panggilnya dengan wajah sok suram setelah berada di samping kagami.
Kagami pura - pura tidak mendengar, ia malah menghindari Aomine dan tanpa sengaja menyusup diantara Midorima dan Takao.
Si lumut menaikkan kacamatanya dan menyipit. Apa - apaan main nyusup tanpa permisi, dan memisahkannya dengan...dengan...ah! Sudahlah lupakan. Sedangkan Takao kepo. Ia perhatikan wajah Kagami kemudain Aomine, Kagami kemudian Aomine lagi. Setelah mendapat pencerahan ia ngakak bukan kepalang, membuat si calon dokter tampan masa depan itu mengerutkan kening.
"Hahaha...wajah kalian kenapa?" Tanya Takao.
Kagami yang merasa ditanya menjawab, "Tidak apa - apa."
Takao lebih mengeraskan tertawanya. "Yakin?"
Kagami tidak menjawab, ternyata ia baru sadar menyusup ditempat yang salah. Manusia dengan model rambut aneh itu sangat berisik, tanya ini dan itu. Ia pindah lagi, sekarang ke samping Himuro. Sedangkan Takao mendapat ocehan dari Midorima.
Aomine hanya bisa memperhatikan saja. Panggilannya tadi tidak dijawab. Sebegitu marahnya kah Kagami? Ah! Perduli setanlah.
Terserah mau marah atau tidak. Ia sudah meminta maaf. Mending ia mencari gadis sexi untuk diajak kenalan, siapa tau lama - lama bisa diajak kencan, dan dia akan membuktikan pada Kagami jika ia bisa.
Manik navynya mengintari seluruh ruangan mencari gadis yang paling sexi dan berdada besar, mau juniornya, seniornya atau alumni sekalipun tidak masalah.
Sssttttt...insting panthernya menangkap sinyal - sinyal gadis cantik. Wow! Ia jaw drop. Memiliki tinggi yang sama dengannya, dadanya tidak beda jauh dengan Mai-chan, kulitnya putih mulus ala susu murni, rambutnya coklat bergelombang, sempurna. Gadis itu sedang berbincang dengan temannya. Ia dengan percaya diri penuh, mendekati untuk berkenalan.
"Hai..." Sapanya. "Nona cantik, boleh kenalan?"
Dua gadis itu menoleh, begitu juga dengan Kagami yang mendengar suara berat berkata 'nona cantik'.
"Wow! Boleh, boleh."
"Aomine Daiki," ucapnya tegas. "Nama nona siapa?"
"O..nama yang bagus," ia tertawa. "Kau tampan."
Mata Aomine langsung berkilat. "Terima Kasih."
"Hey...menurutmu bagaimana?" Sikut si gadis bohay kepada temannya.
Temannya langsung memandang Aomine dari kepala hingga kaki. Diperhatikan lekat - lekat sampai tidak ada celah yang terlewat. Aomine bergidik sendiri.
"Ne...bagaimana?"
"Ya. Di homo."
"Ha?" Ia hanya bisa menganga lebar. Kesimpulan macam apa itu. Kenalan baik - baik malah disangka homo. Ia rasanya ingin salto kemudian nari silento.
Kagami ingin tertawa, sumpah. Sttttt...niat tertawanya diurungkan karena ia mengingat sedang ngambek kepada Aomine. Gengsilah. Dan Kuroko mengedikkan bahu melihat dua sahabatnya seperti ABG labil yang baru pertama kali punya pacar.
.
"Seme atau uke?"
"Menurutku sih seme."
"Ha? Apalagi itu seme uke," kata Aomine menimpali.
"Anak kecil tidak perlu tau..." Ucap sang gadis sexi yang dibarengi dengan cekikikan, dan meninggalkan Aomine.
"Ck! Gue sumpahin dada lo kempes, mbak!" Teriak Aomine. Mbak gadis berhenti dan menoleh death glare. Aomine panas dingin dan lari dengan cepat. "Bakaaaaaaaa..." Ia bersembunyi dibalik punggung Kagami.
"Ck!" Kagami berdecak dan menghindar (lagi)
Aomine mengerucut dan kesal, ia mendaratkan bokongnya dan mengambil beberapa makanan, kemudian dilahap dengan sadis.
.
"Perhatiannya, minna-san," koar Momoi di panggung. "Aku sebagai salah satu panitia bagian acara Valentine's Party malam ini akan menjelaskan sebuah permainan ungkapan perasaan."
"Heee...dia panitia," gumam Aomine sambil mengunyah.
"Kami sudah menyiapkan gulungan kertas kecil yang berisi nomor sebanyak kalian diruangan ini. Jadi, nanti kalian akan dibagikan gulungan kertas itu."
Semua bersorai - sorai gembira dan antusias. "Oke tenang dulu. Yang akan memainkan ungkapan perasaan ini adalah yang nomornya dipanggil setelah kami mendapat hasil kocokannya. Nah, nanti kalian naik ke panggung, ungkapkan perasaan kalian kepada kekasih atau orang tersayang. Terserah kalian dengan cara apa saja, bebas."
"HuuUuuuuu..." Mereka semua bersorai kembali.
"Tapi minna-san tidak semuanya maju. Kami hanya akan menampilkan tiga orang saja. Jadi, semoga kalian beruntung."
OoOoOoOoOo
Tim panitia mulai membagikan gulungan kertas setelah momoi turun dari panggung. Semuanya terbagi dengan rata dan disambut dengan antusias yang luar biasa. Tapi tidak bagi Aomine dan Kagami. Permainan macam apa? Mengungkapkan perasaan. Ah! Mereka tidak punya pacar ataupun gebetan.
"Kagami-kun, dapat nomor berapa?"
"5. Kau?"
"Aku 11."
.
"Neeee...Aominecchi, kau mendapat nomor berapa-ssu? Aku dapat nomor 7."
"Mana kutau."
"Ha? Memangnya tidak dibuka?"
"Tidak."
"Ck! Sini aku saja yang buka," Kise mengambil gulungan kertas dari tangan Aomine dan membukanya. "Uoooo...Aominecchi mendapat nomor 10."
"Berisik Kise!"
Kise menarik napasnya. "Ya ya...Aominecchi semoga beruntung."
"Aku tidak minat."
.
"Oke, mari kita mulai permainannya," kata momoi memimpin. "Kita kocok sama - sama siapa yang akan beruntung untuk naik ke panggung ini, -oke ini dia sudah kita dapatkan. Untuk yang pertama selamat kepada nomor ke-14 dan silahkan naik."
Seorang laki - laki imut sepertinya anak kelas 1 dengan berani ia langsung menaiki panggung dengan membawa setangkai mawar merah menyala. Ia mendapat tepukan tangan dari sana - sini. Kemudian memulai aktraksinya dengan membacakan puisi ciptaannya sendiri untuk sang kekasih yang menonton, setelah itu menjeputnya dan diberi bunga. Sosweet….teriak mereka semua bersamaan.
"Cih! Sosweet dari sisi mananya?" Dumel Aomine.
"Tidak boleh begitu Aominecchi. Dia sudah berusaha. Kau iri, ya...hahaha."
Aomine hanya mendengus dan melirik Kagami yang sedang ayik dengan Kuroko.
"Semoga setelah ini aku-ssu. Aominecchi doakan aku."
"Ha? Kau mau mengungkapkan untuk siapa?"
"Himitsu, ne.."
.
"Oke, peserta kita yang kedua adalah nomor 2. Wow! Dua dan dua semoga beruntung, silahkan naik."
.
"Aominecchi, kau tidak mendoakanku-ssu," Kise kejet - kejet.
Aomine hanya menjulurkan lidah dan tertawa sepuasnya.
Kali ini pesertanya adalah senior. Dia membawa pasangannya untuk berdansa di atas panggung. Semua yang melihat terharu dan ikut - ikut berdansa. Terkecuali para rombongan pelangi karena tidak ada pasangan, dan juga Kagami maupun Aomine yang terkekeh diam - diam mengingat malam minggu yang lalu.
.
"Oke - oke kita sampai pada peserta ketiga sekaligus terakhir, siapakah yang akan beruntung? -yapsss...jatuh pada nomor 10..."
.
"Uwoooo...Aominecchi itu kan nomormu."
"Ha?"
"Arrrghhh...kau beruntung sekali."
.
"Siapa yang merasa nomor 10 silahkan naik ke panggung," momoi berintruksi lagi.
"Aominecchi...Aominecchi..." Teriak Kise.
"Siapa?"
"Aominecchi..."
"Hoooo...Dai-chan," gumamnya dari atas panggung. "Ya. Peserta kita yang ketiga adalah Aomine Daiki."
"Oi, Satsuki boleh digantikan saja...!" Teriaknya. "Kau saja yang maju Kise."
"Tidak boleh! Cepat maju."
"Maju...maju...maju...maju..." Teriak yang lain memberi semangat.
Kagami hanya memicing, apa yang akan dilakukan si Aho di atas panggung, kemudian tertawa di dalam hati, 'Mpusss lo Aho!'
.
.
"Arghh," geramnya. Ia dengan malas - malas maju naik ke atas panggung. Sedangkan Kagami di belakang sedang menertawakan dan mengumpat.
"Neee..Dai-chan, kau akan mengungkapkan apa?"
"Berisik Satsuki. Aku mau turun saja."
"Tidak bisa! Lakukan apa saja."
"Aku tidak bisa apa - apa."
"Masaa.. Daiki yang kuanggap hebat ciut begitu saja, tidak malu dengan Kagamin."
Aomine merenung sampai 2 menit, yang menonton sudah bersorai - sorai tidak sabaran. Aomine akhirnya risih juga. "Oke. Ada gitar?"
"Kyaaaaa...ada - ada. Gitar - gitar." Pinta Momoi pada panitia perlengkapan. "Nih…Dai-chan. Selamat mengungkapkan perasaan..hihi."
Kagami dengan tidak sadar ikut antusias melihat Aomine yang memegang gitar .
"Gue di sini nggak punya kekasih ataupun orang tersayang," katanya berpidato. "Tapi gue punya si Baka, sahabat gue," Ia melirik Kagami yang sedang melihat kearahnya juga. "Gue nggak sayang dia, atau apapun, tapi dia berharga dan segalanya buat gue."
Semua orang yang mendengar menganga, ngomong apa si dekil itu. Kagami diam tak berekspresi, tertular Kuroko karena berjam - jam bercandaan dengannya.
"Tapi, tadi gue buat kesalahan, dan sekarang dia ngambek dipojokan," masih melihat Kagami, dan Kagami mendelik. "Eh...enggak kok. Intinya gue di sini mau nyanyi buat si Baka gue, sebagai permintaan maaf," Ia tersenyum kearah Kagami. "Itu...kalau bahasa inggris gue jelek jangan diketawain, ya." Sekarang Kagami yang tersenyum geli.
Jrengg….
Say it once, tell me twice
Are you certain I'm alright?
Just a sign, to remind me tomorrow's worth the fight
Ever changing the storyline that keeps me alive
Jrengg….
So make a wish, and say….
Give me life, give me love
Scarlet angel from above (Aomine menatap Kagami tepat dimaniknya yang merah dan tersenyum lepas, Kagami membalasnya tanpa sadar)
Not so low, not so high
Keep it perfectly disguised
Every changing the storyline that keeps me alive
Jrengg….
Take another look
Take a look around
It's you and me
It's here and now
As you sparkle in the sky
I'll catch you while I can
Cause all we are is all I am
I just want you to see
What I've always believed
You are…
The miracle in me
Jrengg….
Baka, You are….
The miracle in me
"Dai-chan….." Momoi menitikkan air mata bahagia.
Semua berteriak dan bertepuk tangan. Kise kejet – kejet dilantai, Kuroko memeluk Midorima yang kemudian dihujat oleh Takao. Himuro menelpon Murasakibara yang sedang ada di luar kota mengingatkan, 'Atsushi jangan makan jajanan sembarangan'.
Sedangkan sang penanggung jawab acara, Akashi Seijuuro nyumput dipojokan mengecek hpnya berharap ada pesan dari seseorang, dan ia tersenyum kecil saat yang diharapkannya tidak mengecewakan.
From : *******
Jangan tidur terlalu malam.
.
Yang bersangkutan, Kagami Taiga hanya mengumpat dan tertawa, "Bahasa Inggris lo ancur abis, Aho! Sumpah!" Teriaknya.
"Lo pasti lagi nawain gue, kan?" kata Aomine yang masih di atas panggung. "Baka, lo bisa nggak majuan dikit." perintahnya. Kagami menengok kearah suara yang menggema, siapapun akan mendengar karena si Aho itu menggunakan mix.
Kagami maju setelah didorong oleh Kuroko dan Takao. "Gue tadi nemu sesuatu disofa," lanjut Aomine, dibarengi dengan mengeluarkan sesuatu yang ia ucapkan, dari dalam saku. "Hehehe….gue nemu ini," ia menunjukkan satu permen lollipop rasa coklat. "Buat lo," kemudian melemparkan tepat kearah Kagami dan ditangkap dengan baik.
"Thanks, Ao," ucapnya seperti berbisik, tidak ada sesiapapun yang bisa mendengar.
.
.
"Shin-chan? Kau kenapa?" tanya Takao yang melihat Midorima menunduk dengan wajah yang suram dan merengut, perduli setan dengan ke-coolannya.
"Lucky Itemku," rengeknya sambil menunjuk lollipop yang sudah dipecah menjadi dua oleh Kagami untuk berbagi dengan Aomine.
Takao jaw drop, itu permen lollipop ia yang mencari sampai kakinya mau patah demi Shin-chan. Ah, ya permen lollipop biasa memang banyak tapi permen lollipop dengan model molekul senyawa H2O itu beda cerita. "Sudahlah tak apa, Shin-chan. Nanti aku carikan yang baru, ya," hiburnya kepada Midorima.
O
o
O
o
O
o
Nggak tega sama Midorin sebenernya, maafkan daku/dibunuhTakao.
Selamat tanggal 14 bagi yang merayakan dan mempunyai pasangan/nahlo. Semoga mereka semua bahagia dan juga kita semua, intinya jangan lupa bahagia .
Lagu di atas judulnya Miracle punyanya Shinedown
Nam Min Seul : Halalnya? Kapan ya? mungkin melewati beberapa rintangan dulu. Tenang nanti mereka kalau udah halal kissunya banyakksss. Itu jam, ya? kan AoKaga nggak mau waktu berakhir, jadi nggak ada batas waktu/hahahahngeles.
AoKagaKuroLover : Masih berlanjut, rencananya sampe mereka nikah/ehkeceplosan. So, jangan bosen buat bacanya ya AoKaKuroLover.
Nana : Jika kamu terhibur aku merasa sangat bahagia/eaaaaa. Makasih semangatnya Nana. Request-nya diusahain ya .
Terima kasih sudah membaca (y).
