Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki-sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.

.

"Malam Minggu AoKagazone : AoKaga"

By : Zokashime

O

o

O

o

O

Malam ini, tepatnya pada pukul 07.30, remaja belasan tahun itu sedang berdiri di depan pintu apartemen bernomor 105. Membawa barang yang begitu banyak, juga sangat besar.

Kemudian, tangan putih panjangnya membuka pintu yang terkunci. Blam! Indra penciumannya menghirup aroma dari rumah yang sudah dua minggu ia tinggalkan. Bola mata krimsonnya menelisik keseluruh ruangan, tidak ada yang berubah sama sekali sejak terakhir ia meninggalkannya, masih tertata rapi. Ia menyerngit dan berpikir.

Kenapa? Bukannya itu bagus.

Tidak! Menurutnya ini tidak bagus. Itu berarti selama ia pergi, sahabatnya sama sekali tidak mengunjungi apartemennya. Lagipula, si idiot itu sudah tahu, jika ia akan tiba malam ini, karena memang sudah diberitahu jauh–jauh hari. Ia mendengus sambil memasukkan barang-barangnya.

Pikirnya, ia akan mendapat sambutan dari sahabatnya yang menyebalkan itu, tapi ternyata tidak, ntah mengapa ada sedikit rasa kecewa atau mungkin lebih dari sedikit. Bibir merahnya naik beberapa senti, mengerucut.

Ugh. Tidak perlu disambut dengan pesta kembang api atau ruangan yang dihias penuh dengan balon berwarna–warni lengkap dengan kuenya, karena memang ia sedang tidak berulang tahun sekarang. Tidak perlu yang seperti itu, sungguh. Yang ia inginkan hanya…. Saat ia membuka pintu ada yang menyambutnya dan mengatakan "Selamat datang" itu saja.

Errrrr…mengapa ia mendadak jadi melankolis begini?

Yang harus kalian tahu, di sini, di negeri terbitnya matahari ini, ia hanya mempunyai satu orang yang benar–benar dekat dengannya. Satu orang yang bisa membuatnya tertawa sekaligus jengkel tingkat dewa. Hanya satu orang, ia hanya mempunyai seorang Ahomine. Dan, si idiot itu adalah alasan mengapa ia mau kembali lagi ke Jepang.

Hem... Melihat dari segi fisik juga materi seharusnya, ia mempunyai seorang kekasih. Tapi apa daya, tidak ada wanita yang bisa membuatnya jatuh hati.

Jika hanya bermain–main supaya kekinian, maaf saja, ia bukan tipe laki–laki yang bisa mempermainkan perasaan seorang wanita, karena ia tahu, ia terlahir dari sosok seorang wanita yang menurutnya itu sungguh luar biasa. Wajar, 'kan? Jika ia menjadi dramatisir begini. Karena pikirnya, jika ia disambut berarti ia ditunggu.

Dengan gontai, ia melangkah memasuki kamar meninggalkan barang bawaanya diruang tamu. Ah, lelah sekali. Badannya terasa sangat remuk, lebih baik bermain basket setiap hari tanpa henti daripada melakukan perjalanan jarak jauh.

Menjatuhkan tubuhnya di atas busa empuk, dengan kaki yang masih terbungkus sempurna oleh sepatu berwarna merah biru. Merogoh alat komunikasi yang semakin hari semakin canggih. Errrr… Hanya ada layar yang polos tanpa arti. Padahal, berharap ada pesan dari mahluk dekil itu.

Yosha! Ia bukanlah tipe orang yang mempersulit keadaan. Jika memang tidak ada pesan, apa salahnya menghubungi duluan. Yang ia tahu, jadi orang tsunderima itu sangat menyiksa. Kenapa bisa begitu? Kau pikir, sudah berapa lama ia mengenal Midorima dan ke-tsunderan-nya.

Mengetik nomor yang sudah hapal di luar kepala, lalu menekan tombol hijau. Beberapa detik kemudian terdengar nada sambung. Sejatinya, jika sudah terdengar nada sambung harusnya ada suara di sebrang sana, tetapi ini tidak ada sampai panggilan berakhir. "Sial, nggak diangkat," decak Kagami. Ia kembali meletakkan hpnya ditelinga, mencoba lagi.

"Hallo…" jawab seseorang dibelahan dunia lain. Ah, akhirnya diangkat juga. Tapi, tuggu dulu, ia tak mengenal suara ini. Sejak kapan, Aomine berubah gender? Apa karena ia meninggalkannya terlalu lama. Hey! Hanya dua minggu dan itu artinya hanya 14 hari.

"Hallo….Kagamin?"

"Ha-haloo. Ini siapa?"

"Moo…..Kagamin jahat tidak mengenaliku."

"Hah?"

"Momoi…Momoi Satsuki," jelasnya.

"O-oh, Momoi. Aomine mana? Dia denganmu?"

"Iya. Ini di sampingku sedang cemberut, jelek sekali," ucap momoi sambil tertawa ceria.

"Aku mau bicara dengannya, boleh?"

(Nee…Dai-chan, Kagamin mau bicara / tidak mau!) begitulah yang Kagami dengar.

"Kagamin….Dai-channya tidak mau…"

"Yasudah, aku tutup ya, telponenya," ucapnya, kemudian menekan tombol merah.

Kagami menghela napas, ada apalagi dengan Aomine kampret itu. Harusnya senang, ia sudah kembali sekarang. Bukankah minggu lalu, Aomine memintanya pulang cepat? Sudah pulang malah dicueki, atau mungkin, ia sudah punya teman malam minggunya.

Huh, walau sudah bersahabat lama, kadang ada saatnya ia tidak mengerti dengan sikap Aomine. Kagami bangkit, daripada memikirkan mahluk menyebalkan itu, mending ia mandi.

.

OoOoOoOoOo

.

Kagami sedang mondar mandir sendiri di dalam kamarnya, seperti orang yang terlilit banyak hutang. Tapi ternyata, ia hanya sedang bingung, apa ia pergi ke rumah Aomine atau tidak. Sudah pukul 09.30 sekarang, lelah sebenarnya, tapi ia tidak bisa tidur. Oh, iya. Aomine 'kan sedang malam mingguan dengan Momoi, kalau dia ganggu bagaimana?

Errrrr…. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, ia mengambil hp lagi untuk kemudian menelpon Aomine. Dan clik!

.

"Hall-"

"Ada apa lo nelpon gue!?" suara berat itu memotong perkataannya.

"Ha? Lo kenapa? Gue udah di apartemen nih. Lo nggak ke sini, Ao?"

"Mau ngapain gue ke sana," balas Aomine malas.

"Yaudah, gue ke rumah lo, ya."

"Ngga usah!" seru Aomine kuat.

Kagami menyerngit, salah apa lagi dia. Sahabat macam apa sih, Aomine itu? selalu bersikap kekanakan. Akhir–akhir ini, tidak tahu mengapa Aomine selalu PMS. Apa karena ia tinggalkan ke Amrik. Hah!? Sungguh kekanakan sekali, benar–benar membuatnya sakit kepala, dasar sahabat idiot. "Bangsat, lo kenapa sih! Gue capek tau, Ao."

"Ya, terus apa hubungannya sama gue. Capek tinggal istirahat."

"Lo marah sama gue, huh!?"

Hening.

Hening.

"WOI SETAN! SIALAN! JAWAB KALAU DITANYA. TERSERAH LO DEH!"

Clik! Sambungan diputus secara sepihak. Sekarang kepala Kagami benar–benar sakit.

Ia menggenggam hpnya erat, menahan amarah, supaya benda itu tidak menjadi sasaran pelampiasannya. Kali ini, Aomine memang cari masalah, jangan salahkan ia, jika ke depannya hubungan mereka tidak seakrab biasanya.

Ia akan berusaha untuk tidur. Persetan dengan manusia bernama Aomine. Baru saja, ia akan melangkahkan kaki menuju tempat tidur, tiba–tiba_

.

.

SLEP!

GELAP!

"Uuwaaaaa…" Teriaknya spontan. "Sial! Kenapa disaat seperti ini listrik harus mati. Arrghhh!" geramnya.

Tubuhnya sudah merinding sana sini, keringat panas dingin melanda. Ia benci terlahir dengan takut hantu dan gelap. Sudah dipusingkan oleh sikap Aomine, lelah, dan sekarang hal yang paling ia benci membuat penderitaannya makin sempurna, rasanya ingin menangis.

.

"AAAAAAAA….." teriaknya. "# !$^^% !#%%&&^% " tidak tahu bicara apa, intinya ia kumat kamit membaca doa. "Jangan bunuh gue, jangan bunuh gue, jangan bunuh gue…." Ucapnya berulang-ulang, sambil menutup mata saat ada yang memeluknya dari belakang. "Jangan bun-"

"Sstttttt…. Berisik, Baka," bisiknya.

Apa? Baka? Di dunia ini yang memanggilnya Baka hanya satu orang. Dia, "A-Aomine!" Pekiknya.

"Iya, ini gue," jawab Aomine santai. Kemudian, memutar tubuh Kagami supaya menghadap kepadanya. Meraupnya erat. Mereka berpelukan dalam gelap. "Selamat datang, Baka," bisiknya lagi lembut.

"Gu-gue pulang," jawabnya, dan membalas pelukan Aomine. "Kok, lo ada di sini? Bukannya, lo marah sama gue?"

"Gue udah di sini dari lo nelpon, hehe..." Lebih mengeratkan pelukannya. Jujur, ia sangat merindukan sosok laki-laki yang berada didekapannya saat ini.

"Ha!? Terus Momoi mana?"

"Di rumahnyalah."

"Nggak ngerti gue," Pekik Kagami.

"Sebenarnya, gue udah mau ke sini dari jam tujuh. Cuma, Satsuki mendadak minta dianterin belanja sampe nangis-nangis, gue nggak tega, 'kan?" Jelasnya. "Hp gue dipegang Satsuki. Makanya, dia yang angkat telpon dari lo. Yaudah, sekalian aja gue jailin, hahah.." Ia tertawa lepas. "Dan, waktu lo nelpon yang kedua, gue udah di depan pintu. Gue 'kan punya kunci sendiri, jadi gue bebas masuk kapan aja."

"Nggak lucu!" Bentak Kagami. "Terus, mau sampe kapan pelukan kayak gini? Mana gelap banget. L-lo beneran Aomine fucking Daiki, 'kan? Jangan - jangan lo setan, ya?"

"APA? SETAN!? Mana setan, mana setan," jawab Aomine gelagapan. "AAAAAA... Bakaaaaa... Kok gelap!" Teriak Aomine, sampai telinga Kagami hampir tuli. "Ini kenapa gelap!?" Sekarang, ia yang gemetar panas dingin.

Kagami speechless. Bunuh saja dia, Bunuh! dan buang kerawa-rawa. "Emang dari tadi 'kan udah gelap, Aho!" Di mana pikiran Aomine yang tidak menyadari dengan kegelapan ini.

"Kok, lo nggak kasih tau gue, kalau gelapnya udah dari tadi."

"Ha!?" Kagami memeking. "Nanti kita ke dokter mata, ya? Atau ke dokter jiwa sekalian."

Kagami melepaskan pelukan Aomine. Sepertinya, ada yang salah dengan semua ini. Ia memperhatikan kamar mandi secara intens. Iya, matanya tidak salah. Hey, asal tahu saja. Matanya sehat, karena ia selalu rutin mengkonsumsi sayur bervitamin A.

"Ao?"

"Hem."

"Kayaknya, ada yang salah deh. Kamar mandi terang, kok. Kenapa kamar gelap? Berarti nggak mati listrik, 'kan?" Jelasnya. Ia baru menyadari hal itu. Huh, segitu takutnya kah ia dengan gelap, sampai tidak dapat memperhatikan sekitar.

"Oh, iya. Gue inget. Gue yang matiin lampunya diem-diem," jawabnya bodoh.

"AHOMINE!" Teriak Kagami lepas, dari hati yang paling dalam. Tolong bunuh ia sekarang juga. Lalu, menuju saklar yang sudah ia hapal letaknya.

Slep! Terang!

Manik krimson bertemu dengan navy blue, mereka saling menatap. Kemudian, Aomine menjulurkan lidahnya. Kagami membalas dengan tersenyum, rasa kesalnya hilang begitu saja. Mereka saling mendekat dan berjabat tangan gentle, lalu sekali lagi berpelukan, dan saling mengacak surai satu sama lain.

"Gue kangen sama lo, bodoh," Ucap Aomine gemas, menarik hidung Kagami. "Jangan tinggalin gue lagi."

"Gue juga kangen, idiot. Siapa juga yang ninggalin lo, woi! Gue kan pulang sementara."

"Tapi lama."

"14 hari doang."

"Bagi gue berpuluh-puluh tahun."

"Ahahaha...Alay lo! Makin dekil aja," ledek Kagami disela canda tawanya.

"Sial!" Umpatnya, lalu menjitak Kagami sayang.

"Ck! Sakit woi!" Kagami tidak terima dan membalas. Dibalas lagi oleh Aomine.

Akhirnya, setelah dua minggu tidak bertemu fisik, sekarang mereka bergulat; saling tindih, jotos, jitak, tendang, jewer, apalah itu, sampai keduanya berantakan. Ini cara mereka melepaskan rindu satu sama lain.

.

OoOoOoOoOo

.

Sudah hampir mau satu jam mereka bergulat, tapi belum ada rasa lelah. Kaki Aomine melingkar, mengunci tubuh Kagami di atasnya. Ia menyeringai, mencium aroma kemenangan.

Kagami sungguh tidak tahan dengan seringaian yang diciptakan oleh si Aho itu. Huh, jangan sombong dulu kau Ahomine, bukan Kagami Taiga namanya, jika harus menyerah. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat, mengincar pipi tan itu. "Mati lo!" umpatnya. Kemudian, mengambil ancang–ancang untuk meninju. "Aho...!"

Aomine mengerjap, memejamkan mata. Sepertinya, kali ini Kagami serius. Ia tadi melihat ada kilatan dibola mata crimson itu. "AAAAA..." teriaknya kuat.

.

.

.

Kagami kicep, memperhatikan mahluk yang sedang berteriak dengan mata tertutup di bawahnya. "Ao?" panggilnya cepat, karena risih dengan teriakan Aomine.

"Ha, kok nggak sakit," ia membuka matanya. "Bukannya, lo tadi mau ninju gue?"

"Iya, tapi nggak jadi," ia memperhatikan wajah Aomine dengan seksama.

Setelah itu, ia melepaskan diri dari kuncian Aomine yang melonggar, lalu berdiri dan menjulurkan tangan membantu sang rival untuk bangun. Aomine menerimanya dengan tandatanya besar. Mereka duduk disofa, menarik oksigen sebanyak–banyaknya.

"Ao, lo habis berantem?" tanyanya, menghadap lawan bicara.

"Hah!?" Aomine sungguh tidak mengerti dengan pertanyaan Kagami. "Iya. Berantemnya 'kan, sama lo."

"Bukan itu maksud gue. Berantem sama orang lain gitu?"

Aomine tidak merespon. Butuh waktu loading yang lama untuknya, supaya bisa mengerti pertanyaan Kagami.

"Kenapa pipi lo memar?" Kagami bicara lagi. "Karna itu gue nggak jadi ninju lo," jelasnya. Walaupun terlihat dominan digelapnya, sebagai sahabat yang baik Kagami tahu, pipi Aomine baik–baik saja atau tidak.

"O-ohhh...ini," jawab Aomine, cepat meraba bagian yang memarnya.

"Iya. Keliatannya sakit banget, agak bengkak lagi."

"Hahaha...manja banget lo! Gue aja yang punya memarnya nggak ngerasain sakit," tawanya percaya diri.

Kagami menyerngit. "Oh, ya. Kalau gitu gue uji," ucapnya semangat, kemudian PAK!

"BANGSAT!" pekik Aomine, setelah menerima tamparan kuat dari Kagami.

Kagami hanya terkekeh. "Sakit, nggak? Itu buat gantiin tinjuan gue yang nggak jadi, karena gue salah udah khawatirin elo."

Aomine tidak merespon sama sekali, ia mengelus–elus pipinya yang malang. Kagami sialan! Si bodoh itu menamparnya dengan sepenuh hati. Perkataan yang ia ungkapkan, memang tidak sepenuhnya benar. Ya, sangat sakit, tapi ia tidak ingin terlihat lemah, hanya karena pipinya yang memar. Dan, ia tidak berharap dapat tambahan, sungguh.

Manusia dim itu masih mengelus–elus pipinya, rasanya nyut–nyutan panas dingin. Air asin mulai merembas dikedua matanya. Ia memalingkan wajah dari tatapan Kagami. Laki–laki juga bisa menangis, jika matanya dicolok. Hal itu sudah biasa. Jika, mendapat tamparan dahsyat disaat pipinya sedang bengkak dan memar, bagaimana? Sepertinya sudah biasa juga.

Kagami geli sendiri melihat sohibnya, dan sekilas mata Aomine terlihat sangat merah, sebelum ia memalingkan wajahnya. Ugh, salah siapa bertingkah sok kuat. Ia berdiri dan meninggalkan Aomine.

.

.

.

Beberapa menit kemudian. Kagami kembali dengan membawa mangkuk berisi air hangat, dan meletakkannya di depan seseorang yang sedang ngambek.

Kagami hanya senyum–senyum sendiri. Ia membuka lemari, mencari kain lembut yang bisa digunakan. Setelah mendapatkannya, ia kembali duduk di samping Aomine, melipat kain lembut itu menjadi lebih kecil.

"Sini, gue kompres dulu," ucap Kagami.

Tidak menunggu lama, Aomine langsung meresponnya dengan mata merah. "Ck!" decaknya.

"Awasinlah tangan lo, gimana gue mau ngompres." Ia melihat Aomine melepaskan tangannya dengan enggan. Lalu, ia mencelupkan kain itu ke dalam air hangat, agak diperas. Tangan kirinya menarik kepala Aomine, supaya lebih mendekat, tangan kananya menempelkan kain kompresan itu dipipi yang memar.

"Oi, sakit!" pekik Aomine.

"Katanya nggak manja, kena kompresan doang sakit."

"Cih!"

"Mengakui sakit itu, bukan berarti kita lemah 'kan, Ao," ucapnya sok bijak. "Kalau nggak diobatin, terus tambah parah, gimana? Siapa yang repot? Gue juga yang repot. Lo 'kan nyebelin."

"Tapikan, cuma memar."

"Gue nggak suka lo ngeremehin penyakit!"

"Iya, Baka sayang.." jawabnya tebar pesona.

"Najis! Terus kenapa bisa memar begini?

"Godain istri orang," ucapnya sangat innocently

"WHAT!?" teriak Kagami syokh, dan reflek menekan kuat pipi Aomine.

"SAKIT BODOH!" balas Aomine, menyingkirkan tangan Kagami dari pipinya. "Apalah what–whatan. Gue tau lo dari Amrik tapi nggak usah bawa–bawa bahasa an-."

"Lo kurang kerjaan godain istri orang, huh!?"

"Heh! Mana gue tahu, dia udah punya suami. Dia cantik, sumpah. Dadanya itu Baka..." ucapnya berapi–api, sambil memasang berbagai tipe wajah mesum. "Beusaaaaaarrrrrr...banget. Iya, besar banget kayak bola basket. Sayang banget lo nggak ngeliat, Baka. Itu surga dunia man..." menunjuk–nunjuk Kagami. "Yaampun Baka, pokoknya besar banget, banget, sayang lo nggak ngeliat, pokoknya sayang banget lo nggak ngeliat, kenapa lo nggak ngeliat!" ocehnya berulang–ulang.

Kagami hanya speechless, mendengarkan curhatan sohibnya. Tidak tahu sudah keberapa kali Aomine bicara 'sayang lo nggak ngeliat' rasanya, ia ingin mengundang Hulk untuk membanting–banting tubuh Aomine, lalu tidak lupa mengundang Thor supaya memalu kepalanya agar sehat kembali.

"Sayang bang-...mmphh.."

Kali ini, ia membekap mulut Aomine dengan kain kompresannya. "Diem nggak lo! Bosen gue dengernya. Pertanyaan gue itu cuma satu, kenapa pipi lo bisa memar? Bukan dadanya inilah itulah, dan blablablaaaa."

"Fuaaah...ah..ah" reaksinya saat berhasil lepas dari bekapan Kagami. "Makanya dengerin dulu."

"Elo yang kebanyakan bacot, Aho!"

"Oke. Tadi pagi, gue bolos sekolah karena males mandi. Dan, ternyata di rumah malah bosen, lo sih perginya lama banget,"

"Kenapa jadi nyalahin gue."

"Gue keluar dan ketemulah nona berdada besar. Niatnya, cuma pengen kenalan, tapi nggak tahu kenapa? Tangan gue, bukannya jabat tangan nona itu malah megang dadanya,"

"Mesum sih lo!"

"Setelah itu, gue ditinju sama om–om tinggi, besar, tegap, berotot, mana brewokan lagi, gue nggak tahu dia datangnya dari mana, dan gue pingsan Ba-"

"Bhahaha..." Tawa Kagami meledak puas dan semangat. Ia sampai memegangi perutnya untuk menahan sakit, akibat tawanya yang berlebihan. Aomine hanya memasang tatapan death glare di sana.

.

OoOoOoOoOo

.

Mereka masih di dalam kamar, masih berada ditempat yang sebelumnya. Kagami masih tidak percaya, tentang Aomine yang menggoda istri om–om ganas, dan sangat geli ketika mendengar ia ditonjok hingga pingsan.

Hanya tidak menyangka, jika ia meninggalkan Aomine akan berdampak separah ini. Mereka saling bertukar cerita, tertawa, kemudian berebut omongan, bertengkar. Walau, yang paling banyak cerita kali ini adalah Aomine.

"Jadi gimana, ibu lo udah sembuh, Baka?" Tanya Aomine.

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Aomine, Kagami langsung diam seribu bahasa. Ia tertunduk dan lesu. Aomine terhentak, apa dia salah bertanya disaat seperti ini. Sepertinya tidak, baginya sekaranglah waktu yang tepat, untuk Kagami bercerita kepadanya.

Ia hanya ingin, Kagami tidak menyembunyikan secuilpun masalah darinya. Beban Kagami bebannya juga, masalah Kagami masalahnya juga, begitupun sebaliknya. Ia hanya ingin berguna, untuk orang yang sangat berharga.

"Baka, cerita sama gue," menatap Kagami yang masih menunduk.

"I-ibu..."

"Iya. Ibu lo sakit apa?" Tanyanya lagi.

"S-sakit..."

"Baka, gue benci banget kalau lagi ngomong lo malingin muka," ucap tegas Aomine. "Kita sahabat udah lama, ya. Dan, lo nggak biasanya kayak gini," ia melirik Kagami yang malah kembali tak bergeming. "Baka, liat gue!" bentaknya. Ia menarik wajah Kagami yang menunduk, supaya menatapnya. Mata itu, yang biasanya mengeluarkan kilatan sebal terhadapnya, berubah menjadi sayu, lembab.

Ia mendengus, menarik tubuh mahluk di depannya, lalu dibawa ke dalam pelukan. "Jangan nangis. Emang lo nggak malu, sama wajah sangar lo itu, sama otot – otot lo juga, huh?" ucapnya sambil tertawa kecil, beharap Kagami dapat terhibur. "Gue nggak punya permen, nih. Cup...cup...cup..." lanjutnya sambil mengelus–elus rambut Kagami.

"Ao! Arrrghhh... Emangnya gue anak kecil, dicup–cup begitu!" bentaknya, dan melepaskan diri dari pelukan Aomine. "Lagian, gue nggak nangis! Mata gue merah karna kelilipan!" semprotnya.

Aomine hanya terkekeh. "Hey! Sadar diri bro. Lo memang masih kecil, ya. Masih SMA, taunya cuma makan, tidur, sama main basket," menarik hidung Kagami gemas.

"Halah! Jangan sok tua lo, yang lahir duluan memangnya siapa, huh?" suaranya mirip bencong, yang kadang Kagami dan Aomine temukan dipengkolan. Itu efek, karena si Aho belum melepaskan tangannya dari hidung Kagami.

"Gue suka lo yang selalu sewot kayak gini daripada nunduk diem macam orang mati," sambil mengeratkan tarikan hidung terhadap Kagami. Empunya hanya bisa mengap–mengap, karena susahnya bernapas dengan mulut. "Oke. Gue bakal lepasin tapi cerita, ya."

Kagami hanya mengangguk. Ia menghirup napas dalam, setelah Aomine melepaskannya. "Ibu mengidap penyakit tumor payudara parah," menarik napas lebih dalam. "Dokter nggak tahu lagi harus gimana buat nyembuhin penyakit ibu. Sebenarnya, gue masih pengen di sana, tapi ayah nyuruh gue pulang ke sini, buat sekolah. Kalau nggak inget sama lo, mungkin gue nggak akan pulang lagi ke sini,"

Aomine ikut menarik napasnya, ntahlah, rasanya sakit saat Kagami mengucapkan itu semua.

"Sekarang masih menjalani perawatan terbaik. Gue yakin ibu pasti sembuh. Iya 'kan, Ao?"

Aomine tersenyum renyah. "Pasti. Gue selalu berdoa yang terbaik," suportnya. Melirik Kagami yang tersenyum juga. "Yoshaaaa... Ngomong–ngmong, mana oleh-oleh buat gue, huh!?" Tanyanya, dan ia harus bengong ketika Kagami tidak meresponnya, malah langsung pergi begitu saja keluar dari kamar. Apa dia salah bicara?

Aomine mengejar Kagami yang menuju ruang tamu. "Baka, gue salah ngomong, ya? Tapikan lo tadi senyum. Oi, Baka!"

"Nih, oleh–oleh." Kagami melempar Aomine dengan bungkusan nan besar. Bahkan, si idiot itu tidak bisa menangkapnya, yang alhasil terjengkang kebelakang.

"Pinggang gue...!" erang Aomine, sambil memeluk bungkusan besar itu. "Apa'an nih, besar banget," Ia melirik Kagami hanya tersenyum mencurigakan. "Bom ya, Baka? Bilang sama gue, lo mau bunuh gue."

"Buka dulu baru protes, sial!"

Aomine mengangguk. Dengan semangat 105, iya mendedel bungkusan super besar itu. Dan OH! WOW! Ntah harus berkata apa? Ternyata isinya 2 boneka; ada harimau dan panther, keduanya sangat besar. Bahkan, sampai menyamai tubuhnya sendiri. Aomine menyipit, di mana Kagami mendapatkan boneka sebesar ini.

"Ini besar banget, Baka. Nyuri di mana lo?"

"Enak aja nyuri! Emangnya elo, pulsa aja nyuri sama ibu sendiri," protesnya, sambil mendekati Aomine dan sama–sama duduk dilantai. "Ini, gue beli pake uang sendiri, hasil kerja sama ayah gue."

"Ha? Kerja apaan?"

"Kerja di kantor ayah gue, jadi office boy. Hahha.."

"Serius?"

"Bercanda..." lanjutnya. "Waktu lagi nyari makanan, gue ngeliat panther ini dipajang dikaca. Gue langsung ketawa, mukanya mirip banget 'kan sama elo. Sinis, galak, sok–sokan, songong, sombong, bengis. Tapi, lincah, kuat, cepat, terlebih lagi warnanya gelap."

"Gelap?" Tanyanya. "Ck! Gue nggak segelap dia," protes Aomine, dibarengi dengan meninju-ninju wajah boneka panther besar berwarna hitam tersebut. "Apa lo liat-liat, boneka jelek!" Bentaknya kepada boneka yang tak berdosa.

"Itu buat lo, dan ini punya gue," Kagami memeluk boneka harimaunya.

"Hah? Nggak ah! Itu punya gue, dan yang ini baru punya lo," cerocosnya, kemudian Aomine merebut boneka harimau dari pelukan Kagami, dan menggantinya dengan panther.

"Lo nggak suka sama bangsa lo?" Tanya Kagami heran.

"Bukannya nggak suka," ia memperhatikan wajah harimau yang dipegangnya. "Boneka ini juga mirip lo. Keliatannya aja garang, tapi sebenernya manis," tawanya meledak. "Jadi, ini milik gue. Itu punya lo, TITIK!"

Kagami hanya bisa mendengus. Ya. Baginya mau yang manapun sama saja, masih sama-sama boneka. Aomine membawa tigernya masuk ke dalam kamar, begitupula dengan Kagami.

"Karna Tetsu punya anjing yang namanya Nigou," ucapnya. "Dan Harimau ini mirip elo, Baka," tunjuknya kepada Kagami. "Jadi gue udah ngambil keputusan kalau dia namanya Nibaka, hehehe..."

Kagami hanya bisa bengong, rasanya ingin menendang wajah gelap itu. "Yaudah, yang ini namanya Niaho," jawabnya polos.

Hem... Dua mahluk langka itu, sungguh tidak kreatif sama sekali. Ya, sudahlah. Biarkan mereka bahagia dengan mainan barunya. Yang terpenting malam ini, Aomine senang Kagaminya sudah kembali.

.

OoOoOoOoOo

.

Pukul 09.30 sudah berlalu, sekarang digantikan oleh pukul 01.00 dini hari. Ugh, cepat sekali, bukan? Tapi walau begitu, mereka masih saling bercengkrama, membahas sesuatu yang menurut orang sehat sangat tidak penting sama sekali.

Misalnya; kenapa Kagami rambutnya berwarna merah bata sedangkan ia berwarna biru tua. Kagami menjawab, karena kita terlahir dari ibu yang berbeda. Kenapa ibu kita harus berbeda. Karena nenek kita yang berbeda. Kenapa nenek kita berbeda juga. Begitulah seterusnya jawaban mereka, tidak bermutu sama sekali.

Atau, mereka mempertanyakan tentang iklan yang mereka tonton; memangnya benar suara ulat itu, pucuk–pucuk–pucuk. Selama hidup di dunia yang penuh dengan sandiwara ini, mereka sama sekali belum pernah menemukan ulat yang berbunyi seperti itu, dan akhirnya mereka protes, jika pembuat iklan itu sangat bodoh.

Setelah puas dengan adu mulut dan argument masing–masing, sesekali mereka saling lempar bola basket, bermain PS, bermain ular tangga, dan semacamnya.

"Gue ngantuk, Ao. Tidur yok?" ajaknya. Ia berdiri dan membawa Niaho menuju tempat tidur, meninggalkan Aomine yang masih mengoceh karena ia kalah bermain ular tangga.

"Baka, belum selesai," ucapnya lantang dengan suara berat nan sexi.

"Gue capek, lo main sendiri aja."

"Ha? Gimana bisa, main sendiri?"

Kagami tidak merespon. Ia sudah masuk ke dalam selimutnya dengan memeluk Niaho. Boneka itu, sekarang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ia menggeliat, sangat lelah. Tidak menyangka, jika menghabiskan waktu bersama si Aho, itu dapat merusak kesehatan tubuh.

Di sana, Aomine masih asyik bermain ular tangga sendiri, itu berkat ide dari sohib terbaiknnya. Ia berkicau, jika dadunya mengeluarkan nilai kecil. Berteriak dan loncat-loncat saat menang, dan membentur–benturkan kepalanya ketembok saat kalah.

"BERISIK!" Teriak Kagami kuat, sambil melempar Aomine dengan jam bekernya, tapi sayang, tidak tepat sasaran.

"Apasih, Baka!" bentaknya.

"Berisik setan!"

"Yaudah, sana pergi," jawabnya santai.

"Hah!?" mulutnya terbuka lebar. Kirim ia ke Amrik lagi, ya Tuhan. Salah satu, dari 1001 sifat Aomine yang menyebalkan adalah ketidak-tauan-dirinya.

Kryuuukk…..

Suara apa itu? Yang pasti bukan suara Mukkun, yang sedang ngemil keripik. Tapi, suara perut si manusia dim di sana yang sedang sibuk dengan ular tangganya.

"Baka, lapar.." rengeknya. Ia melempar mainan ular tangga laknat itu jauh–jauh. Ia pastikan, ini yang terkahir bermain dengan mainan tak bermutu itu, karena banyakan kalah daripada menangnya. "Baka, lapar loh..." Ucapnya lagi, karena tidak mendapat respon.

Uh. Ia melangkah menuju Kagami yang sedang kerukuban selimut. "Baka?" Panggilnya, menarik selimut yang ternyata sangat erat. Karena Aomine dengan keras kepalanya dan Kagami yang tidak pernah mau kalah. Akhirnya, mereka tarik-tarikan selimut dengan absurd.

"Baka bangun, bikinin makanan..."

Salah dua sifat Aomine adalah sebagai seorang pengganggu, yang sering membuat kepala Kagami sakit. Ia akan memberi penghargaan setingkat nobel, jika ada ilmuan yang menemukan obat penenang untuk mahluk pengganggu itu.

"BAKAAAA..." Aomine gemas, dengan lantang ia berteriak, memanfaatkan suaranya supaya Kagami merespon. "Baka laperrrrr..."

"Mati lo sana...!" Kagami bangun menegakkan tubuhnya dan menendang manusia sialan itu dari ranjang.

"Laper..." ucapnya parau, sambil tergeletak dilantai efek tendangan super dari Kagami.

Kagami yang mendengar menarik napas dalam. Meyakinkan dirinya untuk tidak marah-marah dan berteriak kepada Aomine, karna ia tidak ingin menjadi cepat tua. Lagipula, badannya sakit semua dan sangat lemas. "Gue 'kan beli makanan banyak, Ao. Pizza, burger terayaki, kesukaan elo. Burger keju, ayam terayaki, keripik udang dan cemilan yang lainnya," katanya, dengan nada serendah mungkin. "Ya, tinggal dimakan. Apa susahnya sih. Apa masih kurang? Atau harus gue suapin. Gue ngantuk, capek, sialan."

"Nggak mau makan itu..." Jawabnya dengan nada ngambek ala anak kucing.

"Mau makan apa? Semen atau bata? Gue nggak punya. Mending tidur, udah jam dua nih."

"Tapi gue lapar, Baka!"

Sungguh anak manusia paling vswhjytewh. Kagami ingin tahu, ngidam apa ibu Aomine saat mengandungnya.

Ia melirik makanan yang masih menumpuk di atas karpet. Jika dipikir lagi. Sejak kapan, Aomine tidak suka makan? Sejak kapan, ada tumpukan makanan selama berjam-jam. Normalnya, jika ada tumpukan makanan seperti itu, sepuluh menit kemudian pasti sudah ludes beserta bungkus-bungkusnya. Ini, sejak ia datang dan sekarang sudah jam dua, makanan itu malah terlihat menyedihkan karna dicueki.

Kagami turun dari ranjang dengan setengah sadar. Ngantuk, lelah, tapi harus mengurusi bayi bajang satu itu. Ia mengambil kotak burger terayaki yang berisi lima buah. Membawanya ke hadapan Aomine yang sedang duduk dilantai. "Tuh makan, Aho. Kalau nggak mau juga, pulang lo sana!"

"Udah malem, banyak setan di luar," jawabnya cepat. "Kan udah dibilang nggak mau makan ini. Maunya makan masakan, elo."

Tidak tahu lagi, Kagami harus berekspresi seperti apa sekarang. Sahabatnya ini, benar-benar merepotkan tingkat tak tertandingi. "Udah malem. Besok gue masakin, sekarang makan aja yang ada."

"Sekarang Baka!" Bentaknya. "Tau nggak? Gue rela nggak makan dari pagi, karna pengen makan masakan lo."

"Ya, itu sih salah lo. Siapa suruh nggak makan dari pagi. Emang aho, ya."

"Pokoknya masakin sekarang!"

"Ogah, gue mau tidur. Lagian, nggak ada bahan yang bisa dimasak," tegasnya kemudian naik keranjang lagi.

"Uso tsuki!"

"Yaudah, sana cari sendiri!"

Aomine berdiri cepat dengan penuh emosi. Melangkahkan kakinya ke dapur. Kagami sama sekali tidak bisa diandalkan. Memang dia kira, hanya dia yang bisa masak, jangan berlagak sombong.

Aomine ganteng Daiki, putra tunggal Aomine Hikari. Bukannya tidak bisa masak, ia hanya malas, karena itu adalah pekerjaan wanita. Tapi, kali ini ia harus membuktikan kepada manusia yang sok-sokan di dalam.

.

.

.

.

Sepuluh menit berlalu. Kagami masih belum melihat pemuda biru tua itu. Apa dia mati di dapur? Atau dibawa hantu? Itu yang dipikirkankannya.

Tidak perduli sih sebenarnya, hanya saja ia tidak bisa memejamkan mata. Jadi, penasaran apa yang sedang dikerjakan mahluk aho itu di dapur. Perasaan Kagami mulai tidak menentu.

Hidung mancungnya bergerak-gerak, seperti sedang memastikan sesuatu. "Bau apa in-"

"KEBAKARANNNN..." Teriak Aomine dari dapur. Kagami yang mendengar langsung loncat dari tempat tidur. Harusnya, ia tidak membiarkan Aomine berurusan dengan dapur. Dengan wajah panik dan jantung yang dagdigdug, Kagami berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa.

.

"AHO!" Panggilnya kencang, saat sudah tiba diruangan dapur. Ia melotot, sungguh tidak dapat dipercaya. Panci gosong yang sedang mengepulkan asap dan api di atasnya.

Ia melirik Aomine yang sedang panik ketakutan. Emosi, segera Kagami mematikan kompor yang dihidupkan dengan full. "Lo ngapain sih! Kalau kebakaran beneran gimana!?" Teriaknya sekaligus membentak Aomine. Ia mengangkat panci gosong berasap itu. "Jangan main-main deh!"

"Salah gue, huh!?"

"Iyahlah, bangsat! Lo kira salah siapa lagi."

"Tadi aja, gue minta buatin makanan lo nggak mau! Sekarang gue buat sendiri lo marah - marah."

"Ya, jelas marahlah! Lo mau gedung ini kebakaran. Nggak usah betingkah gegabah!"

Aomine menautkan kedua alisnya, tidak suka dengan perkataan Kagami, yang seolah-olah semua ini salahnya. "TERSERAH! GUE MAU PULANG!" Ia melangkahkan kakinya keluar, sambil membanting pintu dapur. Kagami harus terperanjat saking kerasnya.

Ah, Kagami mendengus lega. Untung hanya pancinya yang gosong, bukan apartemennya. Tapi, jika ia tadi terlambat sedetik saja, ntahlah! Sulit dibayangkan.

.

.

.

Dua puluh menit sudah, Kagami kerkutat di dapur. Ia putuskan kembali kekamar sekarang, karena pekerjaannya sudah selesai. Ditemani oleh sebuah mangkuk yang berukuran sedang ditangannya.

Ia menyeringai tipis, saat sudah berada di dalam kamar. "Katanya mau pulang. Kenapa masih di sini?" Tanya Kagami kepada pemuda gelap yang sedang memainkan hpnya disofa. Sungguh menggelikan.

"Takut ada yang culik," jawabnya ketus.

Melihat Aomine ngambek, termasuk dalam hal paling menyebalkan bagi Kagami. Ia maju mendekati si Ahonya. Kemudian, meletakkan mangkuk tepat di hadapannya. "Nih, gue masakin," ucap Kagami. "Tapi cuma mie instan. Tinggal itu satu-satunya yang ada dikulkas," jelasnya. "Dimakan. Gue udah masak capek-capek."

"Iya."

"Jangan berisik lagi, gue mau tidur, nih. Kalau udah makannya, lo juga tidur."

"Iya, Baka sayang..." Cengirnya dengan tidak tau diri. "Mmmuaachh..."

Kagami menyeka keringatnya dan menarik napas ringan. Akhirnya, ia bisa tidur sekarang. Melirik Aomine sekilas yang sedang menyerudup mie instannya ganas.

.

.

.

"Kenyang," gumam Aomine yang menyisakan mangkuk super bersih. Mungkin Kagami tidak harus menyucinya lagi.

Mangkuknya diletakkan dimeja begitu saja. Tidak mau mengembalikan ke dapur, katanya, takut diculik. Ia menegak segelas air mineral, lalu ke kamar mandi mencuci tangan, untuk kemudian naik ketempat tidur.

"Baka, mau nyium bibir lo dong," ucapnya manja.

Kagami yang menutup mata, tapi sebenarnya belum tidur, sangat jelas mendengar apa yang diucapkan mahluk di sampingnya. "LO TADI BILANG APA!?" Teriaknya. Ia bangun dan melotot kepada Aomine.

"Hah!? Katanya tadi tid-"

"LO TADI BILANG APA!?" Potongnya, tanpa memberikan kesempatan kepada Aomine untuk bicara.

"Apaan sih! Geer banget hidup lo. Gue mau cium bibir Baka gue," katanya, sambil mencium bibir boneka harimau. "Dan bukan bibir lo!"

"Kan namanya Nibaka bukan Baka, baka!" Protesnya. Kemudian, menendang Aomine dengan sekuat tenaga, sampai terjatuh dari ranjang.

Mereka putuskan untung bertengakar serius kali ini.

O

o

O

o

O

Ada kok, laki - laki yang punya boneka. Contohnya: sepupuku, dia koleksi boneka monyet, beruang, harimau dll. Yang terpenting, mereka nggak mainan boneka barbie *hahahahahaha*

Malam ini khusus mereka berdua *ckckck*. Buat Kuro yang aku cinta, requesanmu minggu depan, ya. Kalau ada yang mau kasih ide untuk episode - episode berikutnya juga boleh hehe.

.

.

suira seans: Ciyee... Berkembang kirain berbunga/plak. Iya, sedikit - sedikit sudah naik level. Terima kasih sudah membaca dan rifiu *peluk*. Jangan lupa nanti rifiu lagi ya/digiles.

melani. : Mereka memang suka membuat kita tidak tahan (ngiler). Eto...memang beda. Tapi anggap aja sama melani-chan hahah.

Nana: Kan emang jones bang Aho, plus maso dia *hahahahaha*. Kamu brutalpun terlihat manis kok, kata bang Aho ke Kagami. Oke. Fighting juga buat nana-chan yang bacanya.

AoKagaKuroLover: Sudah kubalas ya *senyum*

Nam Min Seul: Ih...harus sabar. Kata bang Ao, orang sabar itu dadanya besar/nahlo. Mereka belum siap lahir batin perlu latihan dan bimbingan/salahsambung.

Who Am I: Biasa pencinta bahasa kasar/eh. Syukurlah kalau suka biar aku tidak sia - sia menulis wkwkwkwk. Sankyuu semangatnya.

Cinta Killua: Thanks sudah membaca dan rifiuu. Eto..permintaannya, gimana ya? kan ini AoKaga. Boleh kok req lagi tapi berhubungan sama AoKaga, ya. Misal : AoKaga piknik sama anggota GoM.

*pelukcium* buat kalian semua, yang udah rifiu, fav, foll, silent reader. Jangan bosen baca ya, dengan humor yang kritis ini, karna memang aku bukan sule/dibekep.

Selamat malam minggu. Jangan bersedih hati buat yang tak punya pasangan. Ada bang Ao dan bang Kaga untuk kalian. Oke udahan!