"Sial!" umpat manusia berkepala biru tua sebiru bola matanya. Mulutnya menegak minuman kaleng dengan brutal.

Pasalnya, saat menuju apartemen Kagami, ia melihat ada selembar uang yang tergeletak sedih di jalanan.

Kalian tahu? Ia adalah manusia ganteng yang sangat baik hati. Jadi, daripada uang itu sedih dan sakit, karena tidak dihiraukan oleh para manusia yang lewat, mending ia pungut. Dan lihat hasilnya, ada 5 kaleng minuman dingin di depannya saat ini. "Semua ini gara-gara lo, Baka!" Sergahnya. Ia melempar kaleng minuman yang telah ludes isinya dan sukses mendarat dikening Kagami.

"Shit!" Kagami memekik, sambil mengelus keningnya sayang. "Jangan Cuma salahin gue. Elonya aja yang ceroboh," jelasnya membela diri. Melempar kaleng seperti yang dilakukan Aomine terhadapnya. Bedanya, kaleng yang ia lempar masih berisi. Layaknya mengshoot bola basket kering yang telah dikehendaki, begitupun dengan kaleng itu yang tepat mengenai sasaran dan mengguyur empunya.

"Baka...!" jerit Aomine yang mendapati wajah dan bajunya basah.

"Rasain lo!" balas Kagami puas. "Lagian, kalau lo memang nggak ngerasa, ya udah sih santai," lanjutnya.

"Santai pantat monyet! Malulah gue."

"Bukannya, lo udah biasa malu-maluin diri sendiri."

"O...ooh. Cari lapangan yok, Baka?" Ajaknya dengan wajah kesal penuh dengan perempatan imajiner.

"Mau ngapain?"

"KITA BERANTEM!" ucapnya dengan pelapalan yang menekan. Tidak menunggu lama, ia langsung menerkam mahluk yang ada di hadapannya. Tidak memberi sedikitpun kesempatan bagi Kagami untuk bersiap.

O

...

Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki-sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman–teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.

..

AoKaga

"Malam Minggu AoKagazone : Double Date"

By : Zokashime

.

A/N: OC untuk pasangan date AoKaga.

Enjoy

o

O

o

O

Pemilik mutlak kulit dim nan eksotis dengan tinggi 192 cm, tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Mau tahu alasannya?

Karena, ia menghindari omelan sang ibu yang tidak ada habis-habisnya seperti mercon berjalan. Sungguh, itu bukan salahnya. Ia hanya sekedar iseng mencicipi adonan kue yang ada di dapur. Dan setelah dicicipi, menurutnya kurang manis. Sebagai anak tunggal yang berbakti, ia siap membantu dan dapat diandalakan.

Tapi, sayangnya ia salah ambil, bukannya gula yang dimasukkan melainkan garam. Mending hanya sedikit, ia memasukkan satu gelas. Sudah dibilang! Jangan menyalahkannya. Itu salah ibu, karena tidak memberi tanda yang mana gula dan yang mana garam.

Ia menapakkan kakinya dilantai tiga, di mana kelasnya berada. Berjalan sangat santai dan penuh kepercayaan diri tinggi, karena ia ganteng, tentu saja. Tasnya disangkutkan dibahu sebelah kiri, kedua tangannya masuk kedalam saku celana. Mulutnya sibuk bersiul-siul.

.

.

Setelah agak lama, ia menyerngit. Heran. Kenapa para manusia disepanjang lorong kelas menatapnya aneh. Melihatnya dari bawah sampai atas, kemudian berbisik-bisik. Oh, Kami-sama, apakah ia seganteng itu sampai semuanya jatuh cinta. Tolonglah, jangan melihatnya seperti itu, membuat ia tersipu malu juga bangga.

"Ohayou..." ucapnya memberi salam saat sudah masuk diruang kelas. Dan, ini adalah salam perdana selama dua tahun ia bersekolah di SMA Teikou tercinta. Oh, ayolah. Memberi salam disetiap pagi itu merepotkan dan tidak penting. Hari ini, ia melakukannya hanya untuk mengapresiasi, mereka-mereka yang mengagumi kegantengannya.

Dan, ia harus lebih berbangga diri, ketika teman-teman pelanginya menatap sama seperti orang-orang yang lain. Sayang, Kagami belum tiba. Ia harus memamerkan semuanya kan. "Eh, memang aku seganteng itu, ya?" Tanyanya penuh dengan ambisi.

"Daiki, kau sakit," kata sang ketua kelas, Akashi Seijuuro-sama. Entah itu pertanyaan atau pernyataan. "Nanti kucarikan dokter dari luar negeri yang sangat handal," lanjutnya dengan tegas, sembari melipatkan kedua tangan di depan dada dan menatap Aomine intens.

"Hah!?" Aomine tidak mengerti.

"Aomine-kun, aku prihatin padamu," (srotttttt) setelahnya Kuroko menghisap vanilla milkshake yang sudah tercueki karena kedatangan Aomine.

"Tetsu! Wajahmu masih datar, sedatar dada Bakagami. Lalu, di mana prihatinnyaaaaa...?" ia naik darah. Teman yang satu ini memang sulit dimengerti.

"APA DADA!?" teriak anak-anak satu kelas. Telinga Aomine sampai berdenging.

"Kalian ini ken..."

"Hiks..." si surai kuning maju sambil nangis bombai, sampai Aomine tidak dapat melanjutkan perkataannya. Lalu ia menepuk-nepuk pundak Aomine. "Aku tidak menyangka Aominecchi menjadi seperti ini. Semoga kau bisa kembali ke jalan yang benar-ssu," doanya dengan tulus.

"Kejalan yang benar? Memangnya aku nyasar?" Sumpah demi cangcut batman, dan mata belang Akashi. Ia benar-benar gagal paham dengan semua yang diucapkan teman-temannya, dan mengapa pula orang-orang sekelas menatapnya begitu mengintimidasi. "Kalian salah sarapan, ya?"

"Bukannya aku perduli padamu, Aomine," kata master tsunderima-sama, sambil menaikkan kacamatanya dengan cool. "Hanya saja, apa enaknya menjadi homo, nanodayo," to the point!

"HAH!? HOMOO...!" Teriak Aomine sampai mulutnya membulat, monyong.

Ia shock.

Teori mana yang dipelajari oleh teman-temannya, sampai mereka menarik kesimpulan bahwa ia homo. Jadi, semua tatapan orang-orang di sekolah ini bukan karena kegantengannya, melainkan mereka mengiranya homo. Bitch! Ia tidak terima sama sekali.

"Mine-chin, homo itu tidak baik lho untuk kesehatan. Mending makan snack," ucapnya dengan tidak tahu diri.

"Diam, kau bayi titan!" Aomine geram.

Dan, sekarang ia harus dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan aneh teman-teman sekelasnya. Inilah, itulah semua pertanyaannya tidak bermanfaat dan tidak bisa dimengerti. Ia dihakimi, disudutkan, dibuli, apalah salahnya. "Arrrggghhh... Kalian ini kenapa sih!" berontaknya geram. "Dari mana kalian mengambil kesimpulan, kalau aku ini homo, huh!?"

"Daiki, tak usah acting yang memalukan begitu," Kata Akashi sarkas.

"Acting apa? Acting apa?" Aomine meminta penjelasan. "Kalau aku pintar acting, mungkin aku sudah jadi artis papan atas sekarang," lanjutnya. Kan gue ganteng, sexi lagi...hahaha

"Aomine-kun, apakah Kagami-kun tahu, jika kau homo," Tanya Kuroko santai. Aomine menyerngit. "Aku kasihan padanya. Kagami-kun memang malang." (Srotttttttt)

Kedua alis Aomine kedut-kedut emosi. "Tetsuuuu... AKU TIDAK HOMO!" Slep! Kemudian merampas minuman Kuroko, lalu membuangnya keluar jendela. "Itu hukuman, jika kau terlalu mengesalkan!"

Manusia baby blue itu hanya bisa meratapi nasibnya. Menatap cup milkshake dengan mata berkaca-kaca, sungguh tak rela, sangat tak rela. "Aomine-kun! Mulai sekarang aku tidak akan menyontekkanmu lagi pelajaran," Katanya dengan tatapan membunuh.

MAMPUS! Aomine sedang mengubur dirinya sendiri sekarang. Kenapa ia bertindak begitu bodoh. Padahal, ia bisa naik kelas, itu karena bantuan Kuroko. Hanya mahluk halus itu yang bisa dimintai contekan.

Karena, jika minta contekan kepada Midorima, pasti yang ada ia malah diceramahi, "Hidup itu harus berusaha, nanodayo. Karena, Tuhan menyukai orang-orang yang berusaha." Jika sudah begitu mungkin ia hanya mengorek telinganya. Apalagi, dengan Akashi. Ia belum bicara saja sudah mau dibunuh. Kadang Aomine berpikir, kenapa mahluk seseram Akashi harus lahir, atau mungkin ia salah cetak.

Sudahlah! Masalah dengan Kuroko bisa ia urus nanti. Yang terpenting sekarang, apa-apaan dengan tatapan yang makin mengintimidasi ini. "GUE BUKAN HOMO!" Teriaknya.

"Aominecchi, lihat ini-ssu," ucapnya. Kise mendekatkan layar hpnya didahapan Aomine.

[Aomine Daiki-ganth

Gue sekarang homo. Semoga kalian bisa terima gue. Foto di bawah ini hanya sebagai pemanis.

(Foto: Dua orang laki-laki tanpa sehelai benangpun, sedang berpelukan mesra sambil ciuman bibir panas. Dan, tangan lelaki yang lebih tinggi meremas-remas pantat lelaki yag lebih pendek)

9 hours ago. 100+ likes. 99 comments]

.

Aomine jawdroped. Jika dia sekarang ada di film kartun mungkin kepalanya sudah copot dan menggelinding.

"Daiki, kau tidak bisa ngelak sekarang."

Suara barinton Akashi menyadarkan dari mode shocknya. Aomine menepuk jidat histeris. "ASTAGA!" pekiknya. "Hp gue kan ketinggalan di rumah si Baka." Sialan! Lo Baka. Bajak Fb gue segitu bejatnya!

"Hpku ketinggalan di rumah Kagami. Jadi, yang buat status itu bukan aku," jelasnya.

Nihil! Penjelasannya nihil. Teman-temannya tidak ada yang percaya satupun, malah ia lebih disudutkan karena telah menuduh orang lain.

Shit! Si Baka ke mana sih. Jam segini belum nongol. Liatin aja lo, bodohhhh...

"Percayalah! Kagami yang bajak hpku," katanya menjelaskan lagi.

Tidak lama. Indra penciumannya menangkap bau seseorang yang sudah sangat ia kenal. Ia membalik badan, dan matanya berkilat saat melihat rambut merah gelap menyembul dibibir pintu. "BAKAAA..." Teriaknya emosi tingkat zone.

Ia berlari untuk menerkam mangsa yang sedang mendekatkan diri. "U-u-uwaaaaa..." Aomine menjerit saat ada yang menjegal kakinya. Bukan apa-apa, hanya saja tubuhnya sekarang menjadi tidak seimbang, dan di depannya ada Kagami yang makin mendekat. Itu artinya-

Dug!

Aomine menabrak Kagami dengan kuat, sampai keduanya terjengkang. Jika nanti ia menindih Kagami itu sudah pasti. Lebih parahnya, bibir mereka... Bibir mereka... sedikit lagi bersentuhan. Menempel. Menyatu.

Semua penghuni kelas menganga, menyaksikan slowmotion terjatuhnya Aomine dan Kagami, yang pastinya akan diakhiri dengan saling cium.

"AAAAA..." teriak Aomine dan Kagami bersamaan.

.

.

.

Bruk! Mereka mendarat sempurna.

Semua tutup mata.

Chu~ Aomine mencium

Chu~ Kagami mencium

Keduanya membelalak.

"Bangsat!" Aomine mengumpat, saat sadar bibirnya mencium sebuah penghampus papan tulis yang hitam karena tinta. Sedangkan Kagami mencium alasnya, walau begitu lumayan sakit karena tertekan oleh Aomine.

"HAHAHA..." tawa orang-orang satu kelas, saat melihat bibir Aomine berwarna hitam penuh kotoran tinta. Jangankan orang-orang, Kagami pun menertawakannya setelah mereka bangkit.

Aomine mengerucut, sebal. Sekarang, bola mata birunya melirik Takao yang sedang tertawa lebih heboh dari siapapun. Dan, ia tau siapa yang sudah menjegal kakinya tadi. Takao Kazunari kampret! Ia ingatkan jangan dekat-dekat dengan manusia yang punya model rambut macam om-om itu. Sudah jail, berisik, jelek lagi. Jauh bedalah sama gue!

"Siapa yang menaruh penghampus itu," Tanya Aomine.

Kuroko mengangkat tanganya tinggi. "Aku, Aomine-kun,"

"Tets-"

"Akashi yang menyuruhnya."

"Oh... Jadi kau lebih baik berciuman dengan bibir Taiga, begitu? Daiki?"

"B-bukan... Be-begitu juga..." katanya gagap, lalu melirik Kagami. "Mana hp gue?" menjulurkan tangan kepada Kagami.

"Di rumahlah."

"Kenapa nggak dibawa, sialan!"

"Males amat. Berat, Ao."

"Ha? Berat?" memandang Kagami sinis. "Lo ngapain bajak-bajak Fb gue, huh!?"

"Si-siapa juga yang bajak," jawab Kagami sambil menggaruk pipinya yang tak gatal dan mengalihkan tatapan Aomine.

"Kise mana hpmu, dan buka statusku tadi," perintah Aomine.

"Ini Aominecchi. Awas rusak-ssu," ia menyodorkan hpnya kepada Aomine dengan was-was takut dibanting.

"Liat ini, Baka!" tutur Aomine. "Yang mau gue Tanya, dari mana lo dapet gambar nista ini," tunjuknya kepada foto yang diupload di Fb.

"Um... Anu..."

"Kagami-kun... Ternyata..."

Sekarang tatapan intimidasi itu berbalik kepada Kagami. "A-apa? Kalian menatapku seperti itu."

"Lo yang upload ini di Fb gue, karena lo nggak berani kalau upload di Fb lo sendiri," crocos Aomine. "Jadi, sebenernya lo homo, Baka?"

"Hah?" apa-apan sih. Niatnya mau mempermalukan Aomine, kenapa dia juga ikutan kena. Aomine itu memang pembawa sial, harusnya Kagami paham itu.

Karena sama-sama tidak mau mengalah, akhirmya, mereka saling menuduh satu sama lain. Saling mengumpat, dan mengejek, tidak memperdulikan berapa banyak pasang mata yang menonton mereka.

"...berisik sekali ne..." (crausss) "Aku tahu kalian pasangan homo, jadi jangan saling menuduh begitu," lanjut Murasakibara.

Kagami dan Aomine langsung kicep.

Orang-orang di kelas menganggukan kepalanya antusias, menganggap bahwa perkataan Mursakibara benar adanya.

Kagami dan Aomine panas dingin. Saat mata-mata itu kembali menatap mereka dengan panas. Sekarang, bukan hanya Aomine atau Kagami seorang, tapi mereka berdua. "APA?" Kata Aomine dan Kagami berjamaah.

"Aomine-kun dan Kagami-kun tidak pernah pisah."

Memang, karena kita sahabat sehidup semati kan.

"Kalian juga sering tidur bersama-ssu. Bahkan, tadi Aominecchi menyebut-nyebut dada Kagamicchi. Jangan-jangan..."

Tidur bersama kan biasa. Itu karena Tetsu menyebalkan.

"Mine-chin dan Kaga-chin juga sering peluk-pelukan."

Ah, itu juga biasa, namanya juga sahabat.

"Apa yang sudah kalian perbuat selama ini."

Main basket. Itu pasti.

"Daiki, Taiga, apakah kalian sudah saling menusuk."

Wow! Prontal sekali Akashi ini. Tepuk tangan.

"HAH!?" Semua orang di dalam kelas berteriak dan menganga karena tidak mengerti dengan pembicaraan Akashi.

"Akashi-kun, maksudnya seperti menusuk milkshake."

"Bukan! Tapi menusuk pantat, Tetsuya."

"Menusuk pantat," refleks Kuroko meraba bokongnya kalem. "Dengan apa?"

Semuanya speechless.

"Tentu saja dengan gunting tajam."

"Pasti rasanya sakit, Aka-chin..."

"Mungkin. Mana kutahu."

"Akashi, kenapa k-kau bisa tahu, nanodayo."

"Karna aku jenius," singkat, padat, jelas. Akashi kemudian meninggalkan kelas. Sudahlah, ia tak mau ikut campur. Mengurusi dua mahluk idiot itu sungguh menguras tenaga untuk hal yang tidak penting. Midorima pun mengikuti jejak Akashi, di belakangnya ada Takao yang setia.

"Aomine-kun, Kagami-kun, homo."

"Kuroko jangan bicara sembarangan! Itu aku hanya iseng membajak Fb si dekil ini," menatap Aomine sebal.

"Kami masih tidak percaya-ssu."

"Oke. Aku akan buktikan pada kalian," Aomine menyaut. "Aku dan Kagami akan kencan dengan wanita malam minggu nanti."

Kagami menganga, rasanya ingin menyobek mulut Aomine yang asal ngomong itu. Mau nyari perempuan di mana coba. Punya kenalan saja tidak. "Aho! Cari perempuan di mana?"

"Ini di kelas banyak," Aomine melirik bangga, dan ternyata teman-teman perempuannya malah pura-pura tidak mendengar. "Tsk!" Decaknya.

"Apa lo!"

"Kuterima pembuktian kalian. Masalah wanita tak usah khawatir, karena fansku ada yang ingin kenalan dengan kalian berdua. Mereka manis-manis ssu."

"Denger, Baka. Orang ganteng itu pasti banyak yang mau kenalan," tebar pesona.

Kagami pura-pura mati.

"Aku dan Kise-kun akan mengawasi kalian?"

"DEAL!" Mereka berempat menyetujui rencana di atas ruang hampa.

.

Setelah pulang sekolah, Kise dan Kuroko mengajak Aomine dan Kagami untuk berkenalan dengan gadis yang telah dibicarakan sebelumnya.

Aomine meminta Kise untuk membawa gadis-gadis itu ke atas atap. Awalnya, ada perdebatan panjang, masa iya mengajak wanita kenalan di atas atap. Tapi, pada akhirnya Kise dan Kuroko harus mengalah, karena Aomine mengancam akan loncat dari atas gedung sekolah. Padahal, Kagami setuju jika si idiot itu loncat.

"Ao, lo kenapa pucet?" Tanya Kagami, saat para gadis itu sudah menyembulkan surainya.

"Eng-Enggak... Enggak. Siapa juga yang pucet. Helow, gue ganteng, Baka," jawab Aomine dengan suara sekaku kayu balok dan berdiri setegap tiang listrik.

Demi apa... Demi apa... G-gue mau kenalan sama cewe secara resmi. Dan, ini yang pertama kalinya dalam hidup gueee... Aomine mencak-mencak dalam pikirannya.

"Iki-chan, Mako-chan, perkenalkan ini Aominecchi dan Kagamicchi-ssu. Ya, walaupun kalian sudah tau sih, hehe," kata Kise ceria.

Wow! Aomine menganga, maniknya meneliti 5 cm di bawah dagu dari salah satu gadis itu.

Dadanya...

Pletak!

Satu jitakan nan kuat mendarat dikepala Aomine. "Liatin apa lo, huh!?" Bisik Kagami, tapi sangat jelas untuk Aomine.

Cepat Aomine mengulurkan tangan yang kaku. "A-Aomine Daiki," katanya tanpa basa-basi.

"Aku sudah tahu," kata gadis itu tersenyum lembut. "Aku, Iki Mayori, senang bertemu dengan Mine-kun," tuturnya.

Gadis cantik dari kelas sebelah. Tinggi 175 cm. Memiliki surai sebahu belah tengah berwarna coklat terang, bulu mata lentik. Bola mata berwarna coklat juga, tapi lebih terang dari rambutnya. Kulit putih bening. Dada datar, sedatar wajah Kuroko.

Pokonya tubuhnya rata dari atas sampai bawah, tak berbentuk sama sekali. Itu hal yang paling mengecewakan bagi Aomine. Kenapa harus dia yang mendapatkan gadis rata itu, atau jangan-jangan dia pria yang sedang menyamar. Demi kulit seksehnya, mending Aomine pilih Kagami kemana-mana, walau kekar begitu pantat Kagami berisi lho.

Maksudnya? Lupakan.

"H-hai. Kagami Taiga," mengulurkan tangan santai, tapi wajah merah sampai daun telinga. Aomine geli melihatnya, sampai ingin menjedotkan kepala merah itu ketembok.

"Mako Ayumi," katanya malu-malu. 11-12 dengan wajah Kagami.

Gadis imut dengan lesung pipit dikedua pipinya. Tinggi 178 cm. Surai berwarna hitam legam, panjang sampai mendekati pinggang dan berponi. Bola mata hitam kebiru-biruan. Kulit putih natural. Yang terpenting memiliki dada lebih ekstra daripada gadis satunya.

Setelah perkenalan dramatis, mereka saling tukar nomor hp, pin, atau email.

.

OoOoOoOoOo

.

Itu sudah empat hari yang lalu sejak insiden bajak hp. Dituduh homo. Dan pada akhirnya malam ini, mereka harus menepati janji untuk berkencan, bukti kepada Kise dan Kuroko maupun yang lainnya bahwa mereka NO HOMO!

Ada bahagianya sih. Karena, malam ini malam minggu perdana mereka bersama dengan seoarang wanita. Melupakan sejenak bagaimana malam minggu yang lalu-lalu, penuh dengan keabsurdan, banyak memalukan diri sendiri, dan berakhir dengan pertengkaran tak guna.

.

.

"Nggak mau tahu, gue pinjemin kemeja," Aomine uring-uringan dan melepas kemejanya yang ternodai karena Kagami.

"Lap aja pake tissu, Ao," saran Kagami. Ia sedang sibuk menata rambutnya supaya terlihat dewasa(?).

"Masa iya. Gue pake baju yang ada bercak-bercak nodanya," gumamnya. Ia berjalan dan membuka lemari Kagami. Mengacak-acak seluruh isinya. Melemparnya kesembarang arah. Bahkan, satu lemari diturunkan semua kelantai.

"ASTAGA... AHOMINE...!" Teriak sang empu. Mirip emak-emak yang celana dalemnya dicolong orang. "Nggak gitu juga. Gue capek beresin, seenak jidat lo aja ngacak-ngacak," omelnya. Tangan besarnya mengacak rambut yang sudah dimodifikasi, ia frustasi dengan kelakuan Aomine yang semakin lama semakin membuatnya hipertensi.

"Salah siapa?"

"Elo bangsat!"

Mungkin, ini sudah yang ke-99 kalinya mereka bertengkar, dari Aomine datang pukul lima sore sampai sudah mau pukul delapan malam.

Kagami tidak perduli dengan kemeja licin yang disetrika dengan menggunkan cairan bunga 7 warna. Mau kusut, mua sobek, mau apapun itu, sebodo amat. Yang penting kepuasannya menghajar Aomine, karena telah mengubrak-abrik lemarinya itu yang utama.

Saat di tengah-tengah mereka saling jambak, hp keduanya berdering dengan keras. Mereka berdua cangah dengan tidak etisnya, dan, "KENCAN!" Serunya bersamaan. Lalu mengambil hp masing-masing.

From: Kise

Kalian di mana-ssu? Mereka sudah nunggu di cafe Carge Families. Cepat datang! Jangan lama! Aku juga dalam perjalanan bersama Kurokocchi. Selamat berjuang *emotcium*

.

"Gimana, gue nggak ada kemeja, Baka," serunya. "Punya lo nggak ada yang cocok."

"Entah. Kemeja gue juga udah ringsek kayak muka lo."

"GARA-GARA LO SIH!" Mereka berteriak dan saling tunjuk.

Jarum panjang yang sudah semakin dekat keangka delapan. Para gadis cantik sudah menunggu. Kise dan Kuroko dalam perjalan. Walhasil, mereka memakai baju seadanya, kaus lengan pendek dilapisi jaket hoodie dan sepatu basket. Keluar apartemen balapan, karena yang terakhir keluar akan bertugas mengunci pintu.

Selepasnya, mereka berdiri dipinggir jalan raya untuk menyetop taxi.

"Tunggu dulu!" Kata Aomine serius.

"Apalagi!"

"Ka?"

"..."

"Ka...?"

"..."

"Oi, Bakagamii tuli!" Hentaknya ditelinga Kagami.

"Apasih tinggal ngomong. Nggak usah berbelit-belit."

"I-tu... " Aomine menggaruk tengkuknya. Mengalihkan pandangan. "Minjem duit," ucapnya malu-malu kucing.

"HAH!?"

"Ayolah.. Gue nggak ada duit, serius..."

"..."

"Ka?"

"Hidup lo itu, ya! Lo, kasih makan anak orang hasil pinjeman. Dikencan perdana lo. Nggak habis pikir gue."

Aomine memocongkan bibirnya. "Nanti gue ganti..."

"..."

"Ka... Baka?"

"Taxi..." Panggil Kagami. Setelah taxi berhenti, ia masuk dengan sejahtera, saat Aomine akan masuk juga, Kagami menutup pintunya. "Jalan pak."

Bapak supir mengangguk, dan taxi kembali berjalan meninggalkan Aomine yang terbengong. Kagami puas hati.

"Bangsat," pekiknya. "Baka... Tungguin gueeee... Gue belum masuk kan!" Aomine berlari mengejar taxi itu dengan kecepatan yang ia punya.

Kagami menontonya dari dalam mobil dengan ketawa nista. "Rasain lo, Aho."

.

.

Makin lama lari Aomine semakin pelan. Makin lama Aomine semakin tidak kelihatan. Makin lama Aomine semakin, "Pak, berhenti," kata Kagami cepat.

"Ya. Ada apa?"

"Bisa mundur 200 meter dari sini."

"Maaf tuan, tidak bisa. Itu melanggar aturan."

Kagami mendengus. Lama-lama ia tidak tega dengan si kulit dim itu. Padahal, rencananya ia akan meninggalkan Aomine sampai tujuan. Ia keluar dan membayar taxi, lalu berlari menggunakan jalan khusus pejalan kaki, menyusul sahabatnya, ia khawatir Aomine bunuh diri di tengah jalan.

.

"Huh... Hah... Huh... Hah..." Kagami ngos-ngosan sampai tujuan. Ia mengelus dadanya lega. Aomine ternyata tidak bernekat bunuh diri, tapi malah berjongkok sambil mengukir jalan aspal dengan jari tangannya.

"Ao...ah..." Panggilnya disisa engosannya.

Aomine memutar badan, memunggungi Kagami. "Ngapain lo balik lagi. Tinggalin aja gue. Nggak guna ini, kan?"

Kagami terbahak. "Nggak usah ngambek. Berdiri. Lo nggak malu diliatin anak kecil."

"Bodo amat."

Kagami melangkah ke hadapan Aomine. Mengulurkan tangannya. "Bangun..."

Aomine menepis tangan Kagami acuh. "Mati sana!"

"Serius? Nanti kangen sama gue. Katanya, nggak mau gue tinggalin lagi," goda Kagami.

"Waktu itu khilaf."

"Lucu, ya? Buruan bangun, itu ada taxi, Ao."

From: Kise

Oi, buruan! Kalian di mana. Masa membuat cewek menunggu (n).

From: Kuroko

Kalian tega!

From: Mako Ayumi

Kagami, kau di mana?

.

"Buruan Aho. Ngambeknya simpen dulu. Udah pada nunggu kita nih. -Taxi..." Seru Kagami. "Iya. Gue pinjemin duit. Kalau nggak mau, gue tinggal."

"Hahaha... Serius?" sorak Aomine semangat. Ia cepat berdiri tanpa menghiraukan uluran tangan Kagami. "Ngapa nggak daritadi, malu-maluin gue aja," protesnya. Untuk kemudian Aomine masuk ke dalam taxi.

Kagami me-nye-sal, harusnya ia tinggalkan saja mahluk Aho itu. Sekarang, ia harus apa? Marah balik?

.

OoOoOoOoOo

.

Cafe Carge Families adalah cafe terkenal abad ini. Memperkerjakan koki terhandal langsung dari Prancis. Dekorasi elegan, interior maupun eksteriornya. Cafe itu milik keluarga teman seperjuangan Kagami dan Aomine, Murasakibara Atsushi.

Memerlukan waktu sekitar 30 menit dari apartement Kagami, dan sangat berbeda dengan Majiba tempat sacral mereka berdua. Walau begitu, Majiba tetap nomor satu dihati keduanya, karena tidak jauh, tak harus naik taxi, yang terpenting mereka bisa balapan sampai tujuan.

.

Dua mahluk tanpa cela yang ditata rapi oleh sang penciptanya, keluar dari taxi bersamaan. Jangan pikirkan ongkos, karena itu sudah ditanggung Kagami.

"Gimana, gue masih ganteng, kan?" kata Aomine, sambil merapikan jaketnya.

"Nggak denger, telinga gue ketinggalan di rumah," jawab Kagami enggan, meninggalkan Aomine.

From: Kise

Telat! Cepat menuju meja nomor 20. Aku dan Kurokocchi akan mengawasi kalian-ssu. . ahahaha.

Dengan cepat sesuai perintah yang tertulis, mereka menuju kemeja nomor 20 dengan santai, karena sudah latihan selama tiga hari. Dua gadis cantik berambut coklat dan hitam sedang asyik mengobrol.

"Maaf telat," Kata Kagami.

"Tidak apa, Kagami," jawab Mako Ayumi dengan senyum lembut, rambutnya melayang-layang indah. "Duduklah," lanjutnya lagi sambil menunjuk sofa disebelahnya.

"Yo." sapa Aomine langsung duduk disebelah Iki Mayori.

"Y-Yo.. juga Mine-kun," sapa balik Iki Mayori dengan kaku.

.

Kise dan Kuroko bengong dari tempat persembunyiannya. Sejak kapan, menyapa seorang gadis di malam kencan dengan 'Yo'.

Setiap pasangan duduk saling bersebelahan, dan berhadapan dengan pasangan lain. Kagami mempersilahkan untuk melihat-lihat buku menu dan mulai memesan sesuatu supaya mengobrolnya lebih asyik.

"Huaa... Ada cheseeburger di sini," pekik Kagami senang.

"Iya, Baka. Ada burger terayaki juga, ada ayam terayaki saus udang. Gue mau ini..." Aomine ikut histeris.

Semuanya menoleh heran, terutama gadi-gadis di samping mereka. Maksudnya apa, mereka malah heboh berdua.

.

Kuroko tepuk jidat. Kise tahan napas, karena ingin berteriak tapi takut digampar security.

Kagami memanggil pelayan tanpa menghiraukan sesiapapun, setelah pelayan itu datang ia mulai memesan, "Aku 20 cheeseburger, 3 porsi beef bourguinon, 2 porsi cok au vin, 2 cup besar coca cola, satu gelas creme brulee. Itu saja," katanya.

Pelayannya bingung, 'itu saja' tapi sebanyak ini. Mako dan Iki sweatdroped. Menelan ludah duluan saat mendengar pesanan Kagami.

"Aku 20 burger terayaki, 5 ayam terayaki saus udang, aku juga mau 2 porsi beef bourguinon, 2 cup besar coca cola, satu lagi segelas chocolate mousse."

Pelayannya mencatat dengan tangan gemetar, para gadis hampir kehilangan napas. Kise misuh-misuh, karena gemas dengan kelakuan Aomine dan Kagami. Kuroko ikut berpikir keras sampai salah mengambil minum.

Aomine dan Kagami sadar, saat dua gadis memandanginya dengan tatapan aneh.

"Hehe..." Mereka nyengir bersamaan, sambil malu-malu mita digorok pake gergaji. Kemudian kaki saling menendang di bawah meja, saling menyalahkan maksudnya.

"I-itu... Kalian mau pesan apa, pelayannya sudah menunggu," kata Kagami.

Mako maupun Iki langsung tersadar. "Ah... I-iya. Aku pesan grill atlantic salmon dan caramel mochacino," tutur Iki cepat.

"Hanya itu nona?"

"Ya."

"Hanya itu?"

"Ya."

"Hanya it-"

"Aku poulet vol au vent, dan minumnya cafe crème," potong Mako agar pelayan itu tidak hanya menanyakan hal yang tidak penting. Mungkin dia bingung karena 2 teman lelakinya memesan sangat banyak.

"Bailkah. Tunggu sebentar. Kami akan membuatkan pesanan tuan dan nona," ucap sang pelayan.

Sebelum pesanan datang, mereka mencoba berbincang-bincang. Membicarakan apa saja yang penting tidak diam, mulai dari sekolah sampai ke hal pribadi.

Kuroko dan Kise damai mengawasi. Mereka menyimpulkan baru 5 persen yang menunjukkan jika Aomine dan Kagami tidak homo.

.

20 menit kemudian, pesanan yang segunung itu datang dengan mulus dan mendarat dimeja mereka tanpa cacat.

"Itadakimassu..." Doa mereka bersama.

Aomine dan Kagami bingung, mana duluan yang harus dihabiskan. "Kita balapan untuk 5 burger pertama, Baka," Aomine mencuap.

"Oke dalam waktu satu menit," Kagami menyanggupi cepat.

"Siapa takut..."

Mako dan Iki jawdroped, sebenernya ini kencan atau lomba makan? Boleh mereka pulang duluan?

.

Kise gigit jari. "Kurokocchi, mereka itu bodoh, ya?"

"Sudah tau masih tanya, apa Kise-kun juga bodoh?" Jawab Kuroko kalem.

"Hidoi-ssu. Apa kita datangi saja meja mereka?"

"Jangan dulu Kise-kun."

.

"Aum.. Aum... Gue menang," ucap Kagami bangga. Menegak colanya untuk melancarkan kunyahan terakhir masuk dalam kerongkongan.

"Sial, mulut lo mesin giling, ya, Baka?"

Slep!

Kagami tidak menghiraukan. Ia mengambil lima buah burger terayaki milik Aomine. "Buat gue."

"Hah!? Apa-apaan, lo kan ada.." Protes Aomine ketir.

"Gue kan menang."

"Ya, tapikan nggak ada perjanjian sebelumnya, yang menang harus ngambil milik yang kalah."

"Nggak perlu perjanjian kan, biasanya aja gitu."

"Ah! Nggak boleh," Aomine mengambil burgernya lagi dipiring Kagami.

"Nggak bisalah!" Merebut burger dari tangan Aomine.

Ugh. Mereka memperebutkan burger sampai penyet berantakan. Iki dan Mako speecheless. Haruskan mereka melerai atau tidak.

"Ka-kalian... Aomine, Kagami," si gadis rambut hitam mencoba berbicara. Berpuluh pasang mata memperhatikan mereka dengan tidak percayanya.

Aomine dan Kagami yang merasa ditatap aneh segera menyadari perbuatannya, dan memandang burger yang sudah penyet tak beraturan. Dengan segera, mereka berdua izin ke toilet untuk membersihkan tangan.

Saat ditoilet, mereka dikagetkan dengan suara Kuroko yang raganya tidak terlihat. Mereka menjerit dan berpelukan erat. Merasa diabaikan, Kuroko memukul dua mahluk Aho itu dengan sepatunya, lalu menceramahinya. Jangan membuat inilah, itulah, beginilah, begitulah, entahlah, Kuroko cerewet sekali, Aomine dan Kagami ingin memasukkannya kedalam karung lalu dibuang ke jamban.

"Kise mana?" Tanya Kagami.

"Mencari rumah sakit."

"Ha!? Kenapa? Dia sakit?" Aomine menyembur.

"Dia tidak sengaja mencolok matanya dengan garpu karena gemas dengan kalian,"

Aomine dan kagami menautkan kedua alisnya, heran.

"Sudah cepat kembali, dan jangan buat gadis menunggu."

Aomine dan Kagami menurut mereka kembali kemeja dengan sedikit berlari.

Para gadis menyambutnya dengan senyum manis. Mengajak mereka ngobrol dan menikmati makanan yang tertunda.

"Kagami," panggil Mako, sambil meyodorkan sendok yang berisi makanan. "A..." lanjutnya.

"A-aku harus buka mulut?" Tanyanya bodoh.

"Tentu saja, karena aku akan menyuapimu, kan?"

Blush! Kagami memerah, seperti bunglon sedang beradaptasi dengan lingkungannya. "A..." Kagami memajukan wajanya, dan membuka mulut lebar menyambut makanan yang disodorkan gadisnya, "Aum... E-enak."

.

Kuroko mengangguk-angguk. Kise tersenyum walau matanya diperban. "Lanjutkan Kagamicchi. Seperti itulah-ssu..."

Mereka sudah sedikit naik level, menjadi 15 persen tidak homo.

.

Aomine memperhatikan pasangan dihadapannya yang sok-sok romantis, entah mengapa tiba-tiba ia mual. Apalagi, melihat Kagami dengan wajah merahnya. Ah, Aomine baper. Kagami menyebalkan, kenapa harus semerah itu hanya karena disuapi seoarang gadis.

Kagami menghadap sang gadis, mengangkat sendok untuk menyuapinya juga. Mako Ayumi dengan senang hati menerima, ia membuka mulutnya anggun, mau menyantapnya. Tapi sebelum itu ada tangan dim yang meraup pergelangan tangan Kagami, dan membawa sendok itu kemulutnya. "Aummm..." Kunyah Aomine sambil nyengir. "Enak. Lagi, Ka.."

Mako kicep, i-itu kan...

"AHOMINE!" Pekik Kagami, sebal.

"Apa'an sih..."

"Bukan buat elo."

"Pokoknya lo nggak boleh nyuapin orang lain!"

"Hah!? Memangnya siapa elo."

"Gue, sahabat elo."

Kagami tidak paham, apa maksud Aomine. Ia telah menggagalkan moment terpenting dalam hidup Kagami. Moment yang belum tentu ia dapatkan lagi setelah ini.

.

"Kise-kun sepertinya kita turunkan."

"Iya. Manjadi 10 persen. Berarti 90 persen mereka homo."

.

"Mine-kun mau disuapi juga?" Tanya Iki Mayori dengan sigap. "Sini aku suapi, kalau gitu."

"Tidak usah," jawab Aomine. "Aku saja yang menyuapimu. Tapi tidak pakai sendok."

"Lalu?"

"Pakai bibir," Aomine menjilat bibirnya seduktif. Kemudian memajukan wajahnya untuk lebih dekat dengan gadis di sampingnya. Gadis berbola mata coklat itu hanya mematung tidak bisa menghindar... Bibir coklat Aomine semakin mendekat..

CU...

.

"Nggak boleh!" Kagami menarik kepala Aomine dan dibawa kehadapannya. Menangkup pipi Aomine dengan kedua telapak tangannya, sampai bibir Aomine monyong.

"Baka..."

"Nggak boleh!"

"Kenapa?"

"Jangan di sini, keliatan sama gue!"

"Terus, kalau lo nggak liat, boleh?"

"Nggak jugalah!"

.

"Kurokocchi, 95 persen mereka homo."

"Kise-kun benar."

.

Haruskah, Iki dan Mako bersikap biasa? Tidak! Mereka SAKIT HATI! Melihat pasangan mereka malah sedang romatisan dengan sahabatnya, tertawa, bercanda, bertengkar tapi itu malah membuatnya semakin dekat. Suap-suapan dan rebutan makanan, sampai yang di sampingnya sama sekali tidak dianggap. Apa lelaki jika sudah bersahabat seperti ini?

.

"Baka, satu tambah satu?" Aomine mengajukan pertanyaan antusias.

"Dualah. Nenek-nenek pikun juga tahu, Ao." Jawab kagami sambil melahap makanan yang masih tersisa

"Salah...hahaha," tawa Aomine menggelegar. "Sebelas dong, memang lo ditakdirin untuk baka ternyata."

"Ha!? Terori dari mana, satu tambah satu sebelas."

"Kan gue nggak bilang ada sama dengannya..."

Kagami berpikir keras sampai kepalanya sakit, kemudian ia mengangguk supaya cepat.

"Lo kalah. A..." Aomine membuka mulutnya minta disuapi. Kagami pun menyuapinya dengan santai.

Kalian anggap apa yang di samping? Penonton?

"Sekarang gue," kata si krimson. "Ada anak ayam 10, masuk sumur satu tinggal berapa?"

"Sembilan... Pertanyaan lo nggak bermutu, Baka."

"Dasar aho. Ya, habislah. Kan masuk semua ke satu sumur. Sumurnya yang sa-"

"Eghem... Eghem.." Mako pura-pura batuk. "Kagami, Aomine, boleh kita pulang sekarang." Sakit hati adek bang, adek tuh nggak bisa diginiin.

Aomine dan Kagami melongo. "Ma-mau pulang," kata Kagami. "Perlu kami antar?"

"Tidak perlu. Kise-chan dan Kuro-chan yang akan mengantar, karena dia yang menyuruh kami pulang."

.

"Mereka 99 persen homo," ucap Kise dan Kuroko bersamaan.

O

o

O

o

O

Requesan untuk Kuro digabung sama Suira Seans, semoga kalian sukalah yaa….. buat yang lain juga semoga terhibur malam minggunya yang selalu turun hujan. Nggak bisa kencan, ya? Kasian/nggaktahudiri. Jangan sedih ada aku yang menghibur bersama actor-aktor keceh tercinta.

.

.

OMAKE

Aomine dan Kagami sudah kembali ke apartemen. Mereka tidak perduli tentang penilaian yang diberikan Kise juga Kuroko. Biarlah orang lain menganggapnya homo, atau apapun itu, yang terpenting kenyataannya tidak begitu.

Mereka terkapar dilantai dengan napas ngos-ngosan, karena mereka balapan dari Carge Families sampai apartemen. Entah kejutan atau kutukan, di tengah jalan mereka dikejar anjing, kemudian Aomine terjungkal karena tersandung batu.

Merasa sudah agak tenang, Kagami bangkit lalu menjulurkan tangannya membantu Aomine berdiri. Si navy blue menyambut kulit madu itu, Kagami menariknya kuat…

Mereka sudah setara sekarang, tapi Kagami masih saja menggenggam tangan Aomine. Mereka saling tatap untuk sepersekian detik.

Slep!

Aomine gemas, kemudian menarik Kagami ke dalam pelukannya. "Ka?" ucapnya setengah berbisik.

Kagami membalas pelukan Aomine sambil tersenyum. "Ya, Ao?"

"Cewek itu ngeribetin, ya?"

"Mungkin."

"Harus kencan, pura-pura sok manis, nggak bisa jadi diri sendiri,"

"Ngomong apa sih, lo."

"Kalau gitu, gue nggak mau punya cewek, Ka."

"Terus?"

"Maunya punya lo aja. Karna gue bisa bertingkah apa adanya."

"Iya, Ao. Gue udah punya lo dari dulu."

Mereka saling mengeratkan pelukan satu sama lain.

.

.

.

Suira Seans: Sudah dibuat ya reqnya Suira-chan, semoga suka.

Nam Min Seul: Bang Ahomah gitu orangnya. Malu-malu kunzeng.

Nana: Cie blushing. Karena bang Ao sudah dilatih untuk berbuat begitu/hah? Requesanmu minggu depan ya nana-chan. Strong diamah, apasih yang nggak buat Bang Baka.

Aomine Taiga: Guling-guling itu sejenis pasangan hvmv kah/ditabok. Hehe... masa iya, gomen atuh ya. Terlahir dengan baka atau bakat tuh, kayaknya beda tipis ya, hahhaha

Melani: Saya malah ngeri kalau bang Ao mode dewasa. Karena pasti dia pikirannya dewasa juga, 21 tahun keatas/ngok

Hour-SeiraMili12-Glass: Yeah. Lanjutkan. Sankyuu rifiunya dan sudah membaca.

Takukai: Bahaha... emang nggak berani kenapa? Tapi, thanks sudah mau rifiuu. Syukurlah kalau terhibur, aku bahagia jadinya bisa menghibur orang lain/aha. Kalau udah jadian Bang Baka bisa-bisa kena diabetes tingkat zone ya.

Who Am I: Artinya Bang Baka sudah putus asa, tidak bisa mengungkapkan kelakuan bang Ao dengan kata-kata lagi/APASIH! Sindikat perjualan manusia aja kagak mau nyulik. Hanya hati bang Baka yang mau nyulik/eaaaaa.

Hisakiri: Thanks senpai, udah sempetin baca. WtN the best/ngingggg. Aku juga sampe jatuh cinta.

.

.

Terima kasih sudah membaca.

Regards