Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.

.

AoKaga

"Malam Minggu AoKagazone : Cemburu"

By : Zokashime

O

o

O

o

O

Aomine dan Kagami hanya berkedip-kedip, duduk disebuah bangku panjang di aula sekolahnya. Menopang dagu, bola matanya bergulir ke kanan ke kiri mengikuti gerak teman-temannya yang berlagak sok sibuk menata ruangan untuk acara nanti malam.

Ada yang menyapu dan mengepel. Di sebelah sana, ada yang sedang rapat kecil, membicarakan makanan apa yang akan disuguhkan. Ada juga yang membuat dekorasi, dan lain sebagainya.

Keduanya menghela napas tidak mengerti. Kenapa sore ini mereka ada di sini, di sekolahnya? Harusnya mereka makan burger di Majiba sambil balapan. Bagian terpahitnya, kenapa mereka harus menjadi anggota kepanitiaan acara? Kenapa semua orang sok sibuk dengan kegiatannya? Padahal itu kan melelahkan.

Aomine dan Kagami pun yang hanya duduk diam, menonton, merasa sangat lelah, apalagi harus ikutan bekerja. Dan satu lagi, kenapa OSIS harus repot-repot membuat pesta penyambutan musim semi? Apa pentingnya, coba?

Mending bermain basket, atau bermain PS, bisa juga bermain ular tangga, mungkin bermain petak umpet, lebih seru lagi bermain kucing duduk. Masih banyak kan yang bisa dilakukan daripada harus menghias ruangan yang luasnya kurang ajar keterlaluan.

Sang ketua OSIS, Akashi Seijuurou sangat semangat berkoar-koar, memberi intruksi kepada yang lain agar bekerja serius. Para pelangi pun ikut bekerja dengan antusias.

"Oi, Daiki, Taiga. Jangan hanya pacaran saja di sana," ujar Akashi. "Bukankah, masih banyak waktu untuk berduaan di rumah?"

Yayayaya... Mereka adalah trending topik minggu ini yang berada diurutan paling atas di antara gosip-gosip lainnya. Mengalahkan; gosip yang datang dari sensei ganteng pengajar Ilmu Matematika kelas tiga yang katanya menghamili anak kelas satu. Ada lagi, dua pasangan sejoli yang ketahuan melakukan yang iya-iya di dalam toilet.

Midorima dengan lucky itemnya yang bisa berjalan(?). Kuroko yang semakin mempunyai kemampuan menjadi hantu. Mata Akashi yang belang seperti mata kucing tetangga kelas sebelah.

Intinya, Aomine dan Kagami yang dituduh homoan dan sekarang digosipkan memang sudah pacaran. Itu karena Kise dan Kuroko, yang melaporkan pengamatan mereka minggu lalu. Jadilah, satu sekolahan menilai mereka sebagai pasangan kekasih, manalagi mereka selalu terlihat bersama-sama dan melakukan segalanya dengan akrab.

Uh, bagi Aomine dan Kagami sih tak masalah. Minggu lalu mereka sudah rapat berdua membicarakan tentang masalah ini sampai keakarnya. Dan mereka memutuskan untuk menerima apa adanya.

Menerima tuduhan semua teman-temannya, menerima pandangan aneh dari teman-teman perempuannya. Toh, kenyataannya memang tidak benar sama sekali, hidup mereka masih normal, senormal paranormal.

Mereka enjoy diteriaki jika sedang berjalan bersama, mereka juga biasa saja saat salah satu dari mereka ada yang memeluknya. Walau Kagami agak jijik saat di mana Aomine memanggilnya dengan, "Sayang" lalu ia meneriaki Aomine dan mengumpatnya, "Setan lo! Mati sekarang juga!"

.

"Daiki, Taiga, kalian masih santai di situ," kata Akashi geram, saat ia kembali ternyata duo sejoli itu masih duduk berdua dengan tangan masih memangku dagu.

"Tsk! Akashi. Aku mau pulang saja boleh tidak," Aomine menyauti diikuti dengan anggukan dari Kagami.

"Boleh,"

Keduanya membelalakan mata, entah kenapa Akashi seperti Malaikat yang baru turun dari langit ketujuh dengan cahaya merah kuning emas disekelilingnya.

"Serius?" Kata Aomine antuasias.

"Ya, kapan aku tidak serius, Daiki," katanya berkilat. "Tapi bisakah kau ambilkan aku pisau dulu sebelum pulang," lanjutnya.

"Oke," jawab Aomine semangat. Ia berjalan menjauhi Akashi. Di tengah perjalanan, ia dipertemukan dengan gadis yang sedang membawa alat-alat memasak. Kemudian dengan cepat tanpa babibu, ia merampas pisaunya dan dibawa kehadapan Akashi. "Nih, pisaunya," ucap Aomine sambil tersenyum, senang karena sebentar lagi akan pulang.

"Terima kasih, Daiki,"

"Sama-sama."

"Sekarang boleh aku memotong kepala kalian, setelah itu silahkan pulang," kata Akashi menyeringai. Mengelus-elus pisau yang tajam mengkilat itu.

"HAH?" Teriak Aomine dan Kagami. Mereka salah persepsi, harusnya sudah sadar dari awal, jika Akashi adalah iblis merah yang tak akan pernah jadi Malaikat. Dan satu hal yang perlu diingat, Akashi yang terlihat baik lebih seram daripada Akashi biasanya.

"Kalian takut? Tinggalkan kepala kalian di sin-"

"AMPUN!" Seru mereka bersamaan dengan tubuh sudah gemetar, keringat berceceran. "Kita akan kerja kok, sumpah," ucapnya meyakinkan Akashi dengan jari membentuk huruf V dan nyengir dengan paksanya.

"Akashicchi, ada apa-ssu?" Kise datang entah dari mana dan mengagetkan mereka bertiga. Agaknya dia sudah tertular hawa Kuroko, mungkin karena kebanyakan bergaul dengan mahluk suka hilang-timbul itu. "Aominecchi, antar aku beli perlengkapan, yok?" Lanjutnya.

"Ha...perlengkapan, ah..." Ia melirik Akashi yang sedang membalik-balikan pisaunya. "Okey, berangkat sekarang?" Katanya, masih sayang nyawa, dan ingin hidup lebih lama dengan Kagami.

"Iya, ayok," Kise meraup tangan Aomine dan manariknya cepat. Lalu meninggalkan Akashi dan Kagami yang masih berdiri dengan aura yang agak aneh. "Kagamicchi, pacarmu kupinjam dulu ya..." Teriaknya setelah agak jauh, dan melambai-lambaikan tangan ceria.

"Bawa sana. Bila perlu nggak usah dikembaliin," gumam Kagami kesal. Ia juga meninggalkan Akashi dengan pisaunya tanpa sepatah katapun. Meluncur menuju ke arah di mana Kuroko sedang menata panggung. "Kuroko, ada yang bisa aku bantu," tuturnya.

"Ah, ya. Kebetulan Kagami-kun datang, tolong angkat pot-pot bunga besar itu," tunjuknya ke arah pot bunga yang berjejer indah di depan pintu masuk, yang besarnya membuat Kagami ingin mengurungkan niatan untuk membantu. "Bawa dan letakkan di sini," lanjut Kuroko.

"Oke," jawab Kagami agak malas. Ia berjalan ke arah tujuan dengan gontai dan wajah ditekuk, mirip seperti muka Garfield yang sedang cemburu kepada Odie.

.

Hari ini, tepatnya pukul setengah lima sore. Anak-anak sekolah menengah Teiko sedang bekerja bergotong royong untuk acara nanti malam, yang akan dibuka pukul delapan. Tidak ada yang tidak bekerja sekarang, di mana yang memimpinnya seorang Akashi Seijuurou.

Melaksanakan tugasnya masing-masing. Panitia konsumsi ada di dapur sekolah untuk menyiapkan makanan. Panitia acara ada diruang rapat untuk membicarakan kegiatan apa yang akan diikutsertakan dalam acara nanti malam. Panitia perlengkapan, mencari perlengkapan yang kurang. Dan panitia kebersihan harus menyiapkan ruangan yang bersih bebas dari kotoran maupun debu, dan sebagaimana seterusnya.

.

OoOoOoOoOo

.

Kagami mengatur napasnya sedemikian rupa supaya tidak terlalu ngos-ngosan, punggung tangannya mengelap butiran keringat yang ke luar dari pori-pori kulit. Ternyata punya tubuh besar agak menyusahkan dalam hal begini. Mengangkat pot bunga besar yang terbuat dari bebatuan sungai. Sekarang, dia sedang membawa pot yang terakhir dari 7 pot bunga yang ada.

"Kuroko, ah..." Katanya sambil terengah. Ia menjatuhkan diri dan duduk di lantai aula, kedua tangannya digunakan untuk menyangga tubuh. "Aku sudah selesai," lanjutnya lagi. Merubuhkan badan dan tergeletak begitu saja. Memandang Kuroko yang sedang menghias panggung dari arah bawah dengan keadaan tidurannya.

Aomine dan Kise datang dari balik pintu, membawa gulungan kabel dan segala alat panggung lainnya.

"Baka, lo ngapain tiduran di lantai?" Tanya Aomine sambil berlalu melangkahi tubuh Kagami dengan songongnya.

Kagami bangun, menegakkan tubuhnya. Ia melihat Aomine yang membawa sebotol minuman dingin. Ludahnya terasa pahit dan kental, ditelanpun susah. Ia kehausan, daritadi tidak ada yang memberinya minum. Berdiri dan mendekati Aomine didekat mulut panggung. "Ao, bagi minumnya dong?" Katanya cepat dengan wajah sudah pucat karena dehidrasi.

"Ha?" Respon Aomine. Ia pura-pura tidak mendengar ucapan Kagami. Sifat jahilnya tumbuh begitu saja saat melihat wajah Kagami yang sok dipucat-pucatkan.

"Minum. Gue mau minum," ulang Kagami sambil menelan ludahnya dengan paksa. Tangannya digerakkan untuk merampas minuman dari tangan Aomine, tetapi mahluk dim itu meresponnya lebih cepat, dia menghindari samberan tangan Kagami.

"Aho... gue mau min-"

"Aominecchi, sini minumanku," kata Kise yang datang dari arah berlawanan dengan Kagami. Ia merampas minumannya dari tangan Aomine dengan mudah. Kemudian, memasukkan ujung botol kemulut yang sudah menganga lebar. Gluk! Gluk! Begitulah suaranya. Kise meminumnya dengan semangat dan brutal tanpa memperdulikan orang lain yang sangat membutuhkan air itu.

Kagami melongo dan menelan ludah sakit melihat Kise menghabiskan minuman itu. Ia mengelap keringatnya frustasi, wajahnya kecewa. Tak berpikir lama, membalikkan badannya untuk melangkah pergi, kalau saja tangan Aomine tidak meyambar pergelangan tangannya dan membuatnya berhenti.

"Hey, mau ke mana?" Tanya Aomine dari belakang.

Kagami tidak berbalik, rasanya kesal dan emosi mendengar suara Aomine. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Aomine dengan kuat, tidak perduli jika orang di belakangnya merasa kesakitan. "Nggak usah pegang-pegang gue!" Katanya. Setelah itu ia langsung melangkahkan kaki besarnya yang terbalut sepatu sport dengan rapi.

Aomine memandangnya tak percaya. Ia menatap punggung kekar itu semakin menjauh, lalu kemudian hilang dari pintu. "Kenapa dia," gumamnya seperti berbisik.

"Kagamicchi, kenapa-ssu?" Tanya Kise yang berdiri di samping Aomine.

Aomine tak menjawab, ia hanya mengedikkan bahunya cepat. Lalu naik ke atas panggung merusuhi Kuroko yang sedang bekerja.

"Aomine-kun, jangan diacak-acak lagi," protes Kuroko saat melihat Aomine mengubrak-abrik alat-alat musik yang sudah tertata dengan baik. "Aku tidak selesai-selesai kalau begini caranya."

Yang diprotes tidak bergeming, menganggap suara Kuroko hanya bayangan halus seperti kepribadiannya. Ia malah semakin bersemangat, memukul-mukul drum dengan stik yang ada, segalanya ia coba.

"Aomine-kun, nanti Akashi-kun murka lho," Kuroko berucap lagi.

"Biar saja," jawabnya sambil memetik senar gitar dengan asal. "Tetsu, tadi Kagami kerja apa?"

"Mengangkat pot-pot ini," jawab Kuroko apa adanya sambil memegang pot bunga yang sudah berjejer rapi di pinggiran panggung.

Aomine mengangguk-anggukan kepalanya tanpa menjawab. Kemudian, bola matanya yang biru tua melihat rambut merah elegan berjalan menuju panggung dengan kilatan mata membunuh. Aomine sesak napas, lalu turun dari panggung dengan meloncat asal, untung saja tidak tersandung kabel-kabel. "Tetsu, aku pergi dulu ya..." Teriaknya berpamitan.

.

.

.

Aomine menarik napasnya dalam setelah ke luar dari ruangan aula, karena menghindari Akashi. Ia takut nyawanya hilang dengan sia-sia, kan masih sayang Kagami. Abaikan.

Huh, tidak di dalam tidak di luar semua orang memang sedang sibuk. Tapi, tidak bagi laki-laki bersurai merah bata yang sedang bersantai, memanjakan tubuhnya di bawah pohon sakura yang sedang mekar indah.

Mentransfer bau wanginya sampai menyeruak masuk ke dalam hidung siapapun yang lewat dan memandangnya. Warna merah muda alaminya memberi kedamaian yang tiada tara. Apalagi, disinari oleh matahari sore yang berwarna keemasan.

Angin yang bersemilir menyibakkan rambut merah Kagami kala itu. Dia menyandarkan punggungnya kepohon sakura. Memejamkan mata, seakan sedang menikmati setiap hembusan napas yang ditarik. Salah satu tangannya menggenggam botol minuman yang tinggal setengah.

Aomine tersenyum simpul, sahabatnya terlihat sangat bersinar, itu kelihatannya sangat manis. Aomine memajukan langkahnya dengan sangat hati-hati tidak ingin keberadaannya diketaui oleh Kagami.

Tap! Tap! Ia mengendap-endap seperti maling di siang bolong. Menyelinap dan bergerak ke belakang Kagami.

Setelah rencananya berjalan sempurna, dan ia sudah berada tepat di belakang Kagami. Ia mulai menggerakkan kedua tangannya, menutupi kedua mata Kagami. "Tebak siapa gue," katanya sambil terbahak bodoh. Ia merasakan Kagami yang tersegak kaget akibat ulahnya.

Dasar idiot, siapa pun bakal tahu kalau bersuara kayak gitu. Oceh Kagami dalam pikirannya.

Kagami menyingkirkan kedua tangan Aomine dari matanya. "Apa'an sih!" Katanya.

Aomine menyerngit tajam. Lalu bergulir kehadapan Kagami. "Lo kenapa, Ka? Sensi amat sama gue," tanya Aomine.

Kagami tidak menjawabnya, ia menegak minum yang masih tersisa dibotol yang dipegang. Wajah yang sewarna madu itu ditekuk berlipat-lipat, seakan tidak ingin ada Aomine di hadapannya sekarang.

"Oi, Baka. Gue ini lagi ngomong sama lo, ya. Bukan sama batu," tutur Aomine sarkas.

"Pergilah sana," usir Kagami. Ia sama sekali tidak menatap mata lawan bicaranya. Entahlah, intinya saat ini ia sebal melihat muka itu.

"What? Gara-gara minum tadi?"

"Bukan."

"Terus?"

"Gara-gara muka lo yang absurd itu."

Aomine tertawa keras, menarik hidung Kagami gemas. Lalu, mendaratkan bokongnya di samping Kagami. "Maaf, ya. Muka gue itu ganteng bukan absurd," cuapnya sambil menyodorkan jari kelingking, dan disambut dengan jari kelingking Kagami. "Pulang, yok?"

"Mau di bunuh Akashi, huh!?" Semprot Kagami.

Aomine lagi-lagi harus menghela napas sebagai jawabannya.

"Aominecchi... Rupanya kau di sini-ssu," teriak Kise sambil berlari. "Temani aku lagi, ya," lanjutnya. Menarik Aomine dari dudukannya dan langsung membawa pergi begitu saja.

Kagami speechless. Rasanya agak aneh saat melihat Aomine dan Kise selalu bersama. Mungkin. Mungkin karena Aomine sahabat satu-satunya.

.

OoOoOoOoOo

.

Sudah pukul tujuh malam sekarang, satu jam lagi acara akan dimulai. Semuanya sudah tertata dengan rapi, mulai dari hal kecil sampai hal terbesarnya.

Orang-orang juga sudah rapi, memakai pakaian terbaikknya. Tamu-tamu mulai berdatangan, para sensei, para alumni, maupun sekolah lain yang diundang. Semuanya bersuka ria, tertawa bersama dan menikmati waktu yang ada.

Kagami berdiri di pojokan Utara aula, memakai baju seadanya. Tiga ratus enam puluh derajat berwajah bosan. Banyak kerutan yang tercipta disekitar wajah, alis cabangnya saling bertautan. Tidak ada teman bicara sama sekali.

Aomine yang notabene selalu bersamanya sekarang tidak. Dia lebih memilih Kise. Lihat saja sekarang Keselatan, mereka sedang berbincang disofa. Aomine tertawa bebas di sana, tangan Kise merangkul pundaknya, mereka sangat akrab.

Tidak masalah sih bagi Kagami, Aomine mau berteman dengan siapa pun. Sama sekali tidak ada hak untuk melarang, tapi rasanya Kagami ingin makan orang, sungguh.

Kuroko sedang sibuk menemani Akashi menyambut para tamu juga sensei. Midorima malah sudah di atas panggung, karena pembukaan nanti ia akan menampilkan permainan pianonya.

Boleh Kagami pulang saja, toh di sini juga ia tak melakukan apapun. Ia sadar akan kebodohannya, makanya jadi tak berguna.

"Taiga?"

"Taiga...?"

"...ga... Taiga?"

"Hey, Taiga!"

Kagami terperanjat kaget saat ada tangan orang lain yang menepuk pundaknya kuat, sampai ia meringis kesakitan. "Ta-Tatsuya..." Katanya.

"Apa yang sedang kau lamunkan. Aku panggil sampai tidak mendengar," tutur Himuro. Mata yang tidak tertutupi oleh poninya menatap Kagami intens.

"Tidak.. Tidak.. Tidak ada apa-apa. Aku tidak melamun," jawab Kagami agak bingung.

Himuro menyerngit, kemudian matanya bergulir untuk mencari penampakan seseorang yang biasanya selalu bersama dengan saudaranya ini. "Aomine, ke mana?" Tanyanya.

"Itu," tunjuk Kagami dengan tatapan mata. Himuro mengikuti ke mana arah mata Kagami. Setelah ketemu, ternyata di sana Aomine sedang berbincang dengan yang lainnya.

"Kalian sedang bertengkar?" Tanya Himuro, dengan mata yang tak lepas memandang Aomine dan Kise yang sedang tertawa ceria.

"Tidaklah. Apa-apaan bertengkar segala, memangnya anak SD," jelasnya, tapi dengan wajah ingin memakan Aomine.

Himuro agak geli, mendengar penjelasan saudaranya ini. Apa-apaan dengan wajahnya itu. "Oh, ya. Masa baru pacaran satu minggu sudah direbut orang lain," goda Himuro.

"Tsk! Diamlah Tatsuya," decak Kagami. "Kalau kau mau tahu, aku ini tidak pacaran dengannya. Kalian ini kenapa senang menggosip sih!" Jelasnya. "Lagipula, kami berdua ini laki-laki, mana bisa menjalin hubungan."

"Seriously, Taiga. Aku ini hanya bercanda," tutur Himuro.

"Muro-chin?" Panggil Murasakibara. "Aku mencarimu ke mana-mana..." Tidak melanjutkan. Ia terdiam sejenak untuk memandangi Kagami yang sedang berdiri di samping Himuro. "Ada Kaga-chin, ya. Aku boleh bawa Muro-chin pergi tidak?" Lanjutnya.

Himuro hanya tersenyum. "Taiga, aku pergi dulu, ya," ucapnya.

"Silahkan."

Kagami memandangi kepergian dua manusia beda tinggi yang tidak kira-kira, malah terlihat seperti ayah dan anak. Kemudian, kakinya melangkah menuju di mana Aomine berada.

Ia binggung sendiri, sebenarnya daritadi apa sih yang dikesalkan, toh sesungguhnya memang tidak ada kata pacaran antara ia dan Aomine.

Hanya bohongan.

Hanya rekayasa teman-temannya.

Kenapa harus kesal, jika Aomine dekat dengan yang lain.

Ingat. Hanya sahabat kan, Kagami.

.

.

"Ao?" Panggil Kagami. "Temenin gue ke luar, yok."

"Ha? Apa?"

Kagami menyipit, ajakannya hanya dijawab 'Ha? Apa?' Mending kalau sambil melihat kearahnya, ini tidak. Aomine masih saja sibuk mengobrol dengan Kise, sampai ia dianggap tidak ada.

Oh. Menyebalkan sekali.

"Iya, tadi yang Aominecchi ceritakan itu benar, kan? Terus apa yang kau lakukan selanjutnya-ssu?"

"Aku larilah, bodoh," jawab Aomine. Tawanya meledak, lalu diikuti oleh tawa Kise.

Oh. Yang tadi itu jawapin, Kise. Kirain jawapin gue.

Kagami ikut tertawa miris. Entah menertawakan dirinya sendiri, entah obrolan Aomine dan Kise yang tidak ia ketahui. Jantungnya terasa aneh. Mungkin karena dicueki. Ugh, baru kali ini ia tidak dihiraukan oleh Aomine.

"Bangsat!" Kata Kagami kelepasan dengan suara keras dan lantang, sampai semua mata teralihkan kepadanya. "Ma-maaf," lanjutnya. Setelah semua kembali seperti semula, bola matanya bertemu dengan bola mata Aomine yang sedang menatapnya tidak suka. Rasanya Kagami ingin menyolok mata itu dengan besi panas.

"Jaga omongan lo, Kagami. Ini ditempat ramai, kan," oceh Aomine. "Lagian lo dari mana aja baru keliatan."

Kagami hanya melongo, tidak percaya dengan kata-kata yang ke luar dari mulut Aomine. Bukankah mereka berdua sering mengatakan kata-kata seperti itu, mau di manapun, tidak memandang tempat.

Lalu apa maksudnya dengan panggilan 'Kagami' bukankah Aomine memanggilnya Baka. Bukan tidak suka, atau apalah. Hanya ia tidak terbiasa Aomine memanggilnya seperti itu.

Dan satu lagi, tolong, ia kan sudah ada di sini daritadi. Bahkan, sudah mengajak ngobrol, dianya saja yang terlalu sibuk. Kagami gagal paham. Apa mungkin otak Aomine hilang dimakan rayap.

"Oi, Kagami. Gue lagi ngomong sama lo, bukan sam-"

"Bukan sama batu, iya kan?" Potong Kagami cepat.

"Lo kenapa?"

"Elo yang kenapa?"

"Ha? Gue biasa aja," jawab Aomine santai. "Kenapa apanya?"

Kagami tidak menjawab. Tubuhnya tiba-tiba panas dan bergetar, darah bergolak diubun-ubun. Kagami emosi, ingin menonjok hidung Aomine kalau saja tidak sedang ditempat ramai. Untuk menghindari itu semua mending ia duduk. Menarik napas sedalam-dalamnya, dan buang hal-hal yang membuatnya menjadi negatif.

"Ryouta?" Panggil Akashi.

"Ada apa Akashicchi?"

"Bisa ambilkan microphone lagi diruangan peralatan," titah Akashi.

"Ah, ya. Aku ambil sekarang," Kise cepat melangkahkan kakinya untuk memenuhi perintah Akashi.

"Aku ikut," ucap Aomine yang sukses menghentikan langkah Kise. Kise berbalik dan merekahkan senyuman, menyambut Aomine dengan uluran tangannya. Aomine membalas senyuman itu. Kemudian mereka pergi berdua. Tangan Aomine mengelus surai pirang Kise dengan lembut.

Kagami tidak berkedip menonton pemandangan yang menurutnya begitu, begitu tidak biasa. Agak terkesan manis, mungkin romantis. Walau Kagami tidak tahu apa itu romantis.

Baru kali ini ia melihat tangan besar Aomine mengelus kepala orang lain selembut itu. Ia yang sahabatnya dari zaman kapan, tak pernah diperlakukan seperti itu. Mungkin pernah, tapi itu hanya mengacak bukan mengelusnya lembut.

.

.

Beberapa menit kemudian, Aomine dan Kise sudah kembali lagi ke aula, membawa peralatan yang dibutuhkan oleh Akashi. Kagami masih duduk ditempatnya semula, tidak lama Aomine menyusul duduk di sampingnya, dan Kise di samping Aomine.

"Baka?" Panggil Aomine.

Kagami hanya terdiam, pura-pura tidak mendengar. Ia mengalihkan pandangannya, memperhatikan ke arah panggung, karena acara sudah akan dimulai. Akashi sudah berdiri dengan tegapnya di sana, memberi salam penghormatan kepada semua para tamu yang datang.

.

"Ka... Baka?" Panggil Aomine sekali lagi. Ia mengikuti ke mana arah pandangan Kagami. Oh... Ternyata sedang memperhatikan Akashi berpidato. Tangan Aomine bergerak meraih kedua pipi Kagami, dibawa kehadapannya supaya bisa saling tatap. "Baka sayang, gue manggil lo daritadi," lanjut Aomine.

"Lepaslah!" Kagami memberontak, dan menjauhkan pipinya dari tangan Aomine. "Urusin aja temen baru lo."

"Temen ba-"

"Aominecchi, A..." Sambar Kise sambil menyodorkan makanan kemulut Aomine. Mau tidak mau Aomine harus memakannya karena makanan itu sudah menyentuh bibir.

Kagami mengerucut, sangat sebal bin kesal. Jadi, Aomine menyuruhnya menengok supaya ia bisa memamerkan kemesraan.

Hell! ya. Sebodo amat, mau lo jungkir balik dari Kyoto ke Tokyo juga gue nggak peduli. Aho sialan, Aho bangsat, Aho setan. Nyebur lo ke laut!

"Kagamicchi mau kusuapi juga," tawar Kise, karena prihatin melihat mata Kagami yang agak berkaca-kaca.

"Enggak!" Jawab Kagami, ia mengalihkan pandangannya ketempat lain, supaya tidak menatap mata Aomine.

"Yaudah kalau nggak mau. Kise suapi aku saja," cuap Aomine dengan senang hati.

.

.

.

Acara pembukaan berjalan dengan lancar. Kagami memperhatikan itu semua. Mulai dari pidato Akashi, pidato sensei, sampai permainan piano Midorima. Ia menghela napas panjang, ingin pulang, ingin memanjakan tubuhnya di atas busa empuk.

Di sini hanya diam seorang diri, tanpa teman, tanpa siapa pun. Semuanya menyebalkan. Membosankan. Ia terasa hidup dalam kelam. "Huaamm..." Ia menguap sangat lebar, untung saja tidak menyedot semua yang ada di ruangan ramai ini.

Matanya berkunang-kunang, tinggal 5 watt, sangat ngantuk. Melirik ke samping ternyata kosong, tidak ada Kise ataupun Aomine, semua pergi meninggalkannya.

Yang lain sibuk masing-masing dengan temannya. Hanya Kagami yang tidak punya teman. Apa salahnya, sih? Mau berteman dengan yang lain takut mengganggu, lagipula tak tahu harus berbuat apa? Kagami tidak pandai bicara, jika bukan dengan orang yang memang sudah dikenalnya lama.

Ya. Malam ini, ia benar-benar sendiri.

Kagami bangkit dari zona duduknya. Mungkin ia harus mencuci wajah supaya bisa segar kembali. Ia berjalan dengan mata kicep-kicep setengah menutup setengah tidak. Kantuk ini memang benar-benar merepotkan.

.

.

Akhirnya, setelah lelah menyusuri lorong sekolahan, ia menemukan toilet juga. Dengan buru-buru ia langsung masuk.

Wow!

Wow!

Wow!

Kagami hanya mematung. Tubuhnya berdiri tegap, kedua tangannya tepat di sisi masing-masing. Ia tidak menganga sebagaimana orang kaget. Ia juga tidak membulatkan mata terkejut. Ia hanya menatap nanar ke arah dua mahluk laki-laki di depannya yang sedang bercumbu, begitulah pikiran Kagami.

Kise duduk di wastafel, ada Aomine di depannya. Bibir Aomine menempel di mata Kise.

"Lagi," kata Kise. Aomine mengangguk dan mendekatkan bibirnya lagi, tangannya meraup rambut kuning Kise. Mereka terlihat...

Entahlah, mungkin Kagami salah lihat. Mungkin itu bukan Aomine. Tapi siapa lagi yang mempunyai surai biru navy di sekolah ini.

Tiba-tiba lutut Kagami lesu. Ia membalikkan badan untuk kembali ke aula atau mungkin langsung pulang saja. Persetan dengan Akashi yang akan ngamuk hari Senin nanti. Ada rasa tidak rela, teman dekatnya bergaul dengan orang lain.

Oh hey, Kagami. Memang Aomine siapamu? Cuma sekedar sahabat, kan? Tidak usah besikap egois, siapa pun ingin punya teman lebih dari satu. Memangnya hidup Aomine harus selalu bersama denganmu. Lagipula, apa pentingnya dirimu baginya.

Kagami bermusyawarah sendiri dalam pikirannya yang berkelumit. Iya, benar. Teman Aomine bukan hanya dirinya seorang.

Mungkin selama ini, Aomine memang punya hubungan lain dengan Kise. Tidak semua pribadi Aomine, ia harus tahu.

Tapi kan mereka sudah berjanji tidak akan menyimpan rahasia-rahasiaan. Oh ayolah, namanya juga manusia. Manusia itu berjanji hanya untuk sekedar hal formalitas, selebihnya ditepati atau tidak itu masalah belakangan.

Setelah agak lama, Kagami mengurungkan niatnya untuk kembali ke aula, ia berbalik lagi menuju wastafel di mana ada Aomine dan Kise sedang... Itulah tak perlu dijelaskan, Kagami sudah cukup tahu. Jadi, sekarang pura-pura buta dan pura-pura tuli saja.

"Jadi, Aominecchi dan Kagamicchi itu tidak pacaran-ssu?"

"Tidaklah, bodoh. Kami berdua ini kan laki-laki. Kalian saja yang senang menggosip."

Ingat. Kagami. Pura-pura. Tuli.

"Sorry ganggu. Gue mau cuci muka," kata Kagami memberanikan diri mengganggu aktivitas dua sejoli biru-kuning.

"Eh... Kagamicchi," kata Kise agak terkejut sambil mengelus-elus matanya.

"Baka, dari kapan di sini?" Tanya Aomine dengan santainya.

Kagami tidak tahan ingin menjedotkan kepala biru itu ketembok sekarang juga, supaya otak koclak bin idiot Aomine bisa jalan lagi, agar dapat merasakan kehadiran orang lain.

"Nggak apa-apa lanjutin aja, gue cuma mau cuci muka sebentar," balas Kagami.

"Lanjutin apa?" Tanya Aomine.

Heh! Orang ini memang benar-benar minta dibunuh.

"Terserah mau lanjutin apa aja, pake tanya lagi!" ucapnya geram. Ia membasuh wajahnya, ingin pergi dari ruangan ini secepatnya.

Setelah dirasa segar, Kagami mematikan keran airnya, dan ketika berbalik sudah tidak ada sesiapapun, hanya ada dia seorang. Ia mendengus, untuk kemudian melangkah pergi.

.

.

.

"BHUAAAA..." Teriak Aomine saat Kagami sudah ke luar dari pintu Toilet. Niatnya sih untuk mengagetkan si mata krimson itu. Tapi...

BUAK!

Kagami reflek menendang Aomine dengan sekuat tenaga menggunakan kaki yang terbungkus sepatu basketnya. Sumpah, ia kaget bukan main, dan ia mengira yang tadi mengagetnya adalah hantu. Jadi bukan salahnya kan jika Aomine sampai terpelanting.

"Bangsat lo Baka!" Erang Aomine sambil memegangi perutnya yang agak mual karena terlalu sakit.

Kagami tidak perduli. Sekali lagi itu bukan salahnya. Ia memandang Aomine dengan cuek, masih kesal dengan sikap Aomine kepadanya malam ini. Terserah. Aomine kan sudah punya teman baru atau pacar baru, yang manapun itu ia tidak ingin tahu, jadi untuk apa menolongnya. Kagami meninggalkan Aomine begitu saja.

.

OoOoOoOoOo

.

Sekarang sudah pukul sepuluh malam, acara sudah ditutup limabelas menit yang lalu. Para tamu sudah pulang usai makan-makan.

Aomine sibuk membawa piring besar berisi makanan. Matanya mengerling ke mana-mana, mencari sosok mahluk berkepala merah bata.

Pasalnya, setelah mengagetkan Kagami di toilet dan malah kena tendang super, sejak saat itu Kagami sama sekali tidak mau berbicara kepadanya. Ia sudah mengajak bicara, tapi Kagami selalu menghindar. Ia juga sudah minta maaf tapi sama sekali tidak dihiraukan.

Aomine bingung, masa hanya karena dikagetkan Kagami sampai semarah itu dengannya. Jika dibandingkan dengan kelakuan-kelakuannya tempo hari kan lebih parah.

Anehnya, Kagami selalu memasang wajah sebal saat tidak sengaja bertatapan dengannya. Mungkin Aomine hanya bisa mengedikkan bahu, dan bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan wajahnya? Saat itu juga ia langsung pergi ke toilet untuk berkaca, takut-takut ada kotoran kucing yang nempel.

"Oi, mata empat, lihat Kagami tidak?" tanya Aomine kepada Midorima yang sedang melahap makanan disalah satu meja bersama dengan Takao dan yang lainnya.

"Shin-chan tidak melihatnya, Aomine," jawab Takao mewakili Midorima yang sedang kesal karena dipanggil mata empat.

"Ke mana manusia bodoh itu," gumamnya. Aomine melangkahkan kakinya menuju meja yang berisikan Kuroko dan Kise yang juga sedang menikmati hidangan.

"Ada apa Aomine-kun," ucap Kuroko. Risih melihat wajah temannya yang agak hitam itu kebingungan.

"Tetsu, lihat Kagami tidak?"

"Kagami-kun, aku tidak lihat," jawab Kuroko datar.

"Kise..."

"Aku tidak lihat Aominecchi. Mungkin di luar sedang mencari angin."

Aomine mengangguk, meletakkan piring makanannya di meja Kise dan Kuroko. Sebodo amat, ia sudah tidak ada nafsu untuk makan. Ia mengambil hp di dalam sakunya, bingung dan was-was takut terjadi sesuatu dengan si Bakanya. Apa salahnya, ya? Tolong, beri tahu Aomine ada apa dengan Kagami.

Ia mengetik nomor Kagami dengan cepat, dan meletakkan hpnya di telinga. Sayang, yang mengangkat bukan suara manly, tapi suara merdu nona cantik dari saluran operator. Itu artinya nomor Kagami tidak aktif. "Fuck," umpatnya.

"Tidak tersambung, Aominecchi?"

"Iya," jawab Aomine sambil menunduk karena sedang mengetik pesan singkat.

"Itu Kagami-kun," kata Kuroko, sambil menunjuk ke arah pintu masuk.

Aomine langsung menegakkan kepalanya saat itu juga dan melihat ke arah yang ditunjuk Kuroko. Entahlah, harus berekspresi seperti apa saat melihat orang yang dikhawatirkan malah sedang berpelukan dengan wanita.

"Kagamicchi bersama Mako-chan!" hertak Kise di samping Aomine.

"Diamlah Kise, jangan berteriak, aku juga tahu," cuap Aomine.

.

.

.

"Kagami...Kagami..." Ucap perempuan yang sedang Kagami peluk supaya tidak jatuh. "A-aku... Suk...ah... Pa-padamu..." Katanya lagi sambil terendat.

"Ya ya..." Jawab Kagami lelah.

Semua mata yang masih belum meninggalkan ruangan itu tertuju kepada Kagami dan perempuan yang menggelayutinya. Kagami panas dingin, keringat mengucur ditubuhnya.

Bola mata krimsonnya bergulir keseluruh tatapan orang-orang, dan saat menemukan sosok tinggi berkulit dim yang juga menatapnya aneh bersama dengan teman barunya. Begitulah menurut Kagami saat menatap Kise.

Lihat, kan? Mana perduli Aomine kepadanya sekarang. Mereka malah menonton dengan asyiknya saat ia kesulitan begini. Hell. Baru kali ini Kagami mengurusi wanita mabuk berat. Sialnya malam ini, sudah tak punya teman malah mendapat beban.

"Ka...ga...mi..." Kata gadis bernama Mako Ayumi itu.

"Ya. Bertahanlah, aku akan mencari tempat duduk," jawab Kagami sambil memeluk tubuh lemas itu dan menggeretnya.

Gadis itu memberontak, tanda menolak. Sekarang ia berdiri tegap dengan wajah dan mata merah. Kagami kaget saat gadis itu mengeratkan pelukannya. Bukan apa-apa sih, hanya saja sekarang mereka sedang mejadi tontonan orang-orang, karena berada di tengah-tengah ruangan.

Mako Ayumi berjinjit, karena lelaki dalam pelukannya itu terlalu tinggi, lalu dengan perlahan menarik kepala Kagami dan dibawa mendekat kewajahnya. Ia ingin mencium bibir Kagami penuh.

"Ma-Mako... Kita sedang dilihat banyak orang," tolak Kagami.

Tapi ternyata wanita yang mabuk lebih kuat dan menakutkan. Jika saja Kagami tega dengan wanita, ia sudah membuangnya keselokan sejak tadi. Mako Ayumi semakin mendekat, bibir merah merekahnya sangat jelas terlihat oleh Kagami. Dan saat bibir itu akan menempel...

.

.

BUK!

Ada tangan seseorang yang meninju pipi gadis manis yang sedang mabuk itu dengan kuat, sampai terjatuh dan pingsan. Kagami membelalakan matanya tidak percaya.

"AOMINE!" Teriak Kagami lantang. "LO APA-APAAN!"

"Lo yang apa-apaan. Gue khawatir nyariin, dan lo asyik di sini peluk-pelukkan!" Teriak Aomine tak kalah lantang.

Semuanya tegang melihat dua orang yang saling memanas. Gadis yang pingsan karena ditinju Aomine itu diamankan oleh teman-temanya. Takut terinjak, jika Aomine dan Kagami memutuskan berkelahi.

"Ha!? Tapi yang lo tinju itu perempuan, bangsat! Punya pikiran sedikit kenapa!"

"Bodo amat! Mau perempuan mau laki-laki, yang jelas dia tadi mau nyium lo."

"Apa urusan lo, ha? Terserah gue kan kalau mau ciuman, sibuk amat hidup lo! Gue juga nggak sibuk kok waktu lo cium Kise!" Teriak Kagami.

Kise yang namanya ikut andil dalam peperangan panas itu langsung terkejut, Kuroko menatapnya penuh tandatanya.

"APA!? Siapa juga yang cium Kise, mata dia tadi kelilipan terus minta tiupin" Balas Aomine. "Lo kenapa sih, Ka?" Katanya pelan. "Menghindar dari gue, lo malu karena kita dianggap homo sama orang-orang."

"Sadar ngapa sih, setan!" Teriak Kagami masih emosi level 5. "Lo yang duain gue sama Kise. Lo yang ninggalin gue sendiri, sampe gue nggak punya temen. Lo yang cuekin gueeeeee... Mati sana dimakan kutu busuk!"

Aomine tertawa lepas mendengar ocehan Kagami yang polos apa adanya. Semua orang dalam ruangan juga ikut tertawa melihat pasangan konyol yang sedang naik daun itu.

"Seriuslah, Baka. Lo cemburu sama gue..." Goda Aomine degan seringaian tajam.

"GILA!" Teriak Kagami dengan sewot, dan mengalihkan pandangannya dari Aomine.

Ugh. Ayolah, Aomine gemas sendiri melihat Kagami yang salah tingkah dengan wajahnya yang merah sampai leher.

Saat ia melihat Kagami akan melangkah pergi, dengan cepat naluri alami memerintahkan tangannya untuk segera mencegah. Aomine menarik tangan Kagami kuat sampai mahluk krimson itu berada dipelukannya.

Kagami terhentak bingung, tubuhnya ikut begitu saja saat tangannya ditarik. Otaknya penuh dengan sesuatu yang tak bisa dimengerti. Ia melihat senyuman Aomine yang merekah bagai bunga sakura di luar sana.

Semuanya mendadak kosong. Orang-orang yang ada diruangan ini hilang begitu saja. Tidak ada suara apapun lagi, terkecuali suara deruan napasnya dan napas Aomine. Harum. Wangi. Iya, napas mereka berdua wangi seperti wangi bunga sakura yang ia hirup sore tadi.

Aomine berharap waktu bisa berhenti untuk sebentar saja. Karena, orang yang ia klaim sebagai sahabat sehidup semati sedang menatap matanya begitu dalam.

Entah angin apa? Atau iblis apa? Yang mendorong Aomine untuk mendekatkan wajahnya kehadapan Kagami. Ia menutup matanya pelan dan tersenyum, lalu mencium lembut bibir madu Kagami penuh perasaan.

Tidak memikirkan seberapa banyak pasang mata yang menonton. Apa teriakan? Tidak. Aomine maupun Kagami sama sekali tidak mendengar dan tidak tahu dengan teriakan apapun. Yang mereka tahu, dalam gelapnya mata yang tertutup ada dua cahaya yang bersinar; biru dan merah.

O

o

O

o

O

AAAAAAAAAAAAAAAA…..sudah hentikan!

.

Suira Seans: Syukurlah. Sama-sama *Smilelebar*

Nana: Udah dibuatin reqnya, semoga suka, ya. Mereka belum jadian, masih dalam tahap membangun perasaan/ngomongapacoba.

Mavro fos: iyah ke mana aja. Heem. Mereka emang hvmv, kan nggak habis pikir. Merestuin, bahkan satu sekolahan haha.

AoKagaKuroLover: Gomen AoKagaKuroLover :( pokoknya gomen aja, jangan tanya kenapa? Sejauh ini sih masih AoKaga ya, tapi ngga tau juga, lihat aja nanti.

Nam Min Seul: Stttt... Jangan keras-keras nanti pada denger. Iyah kapan mereka sadarnya. Kayaknya masih membangun perasaan yang ada.

.

.

Semoga terhibur. Dan terima kasih sudah membaca.

Salam AoKaga.