Sebuah ruangan tidak terlalu besar, hanya bisa menampung dua manusia. Bentuknya simetris, setengah dindingnya berlapis keramik berwarna biru selaras rambut yang memiliki.

Terdapat banyak barang yang tersemat, membuat ruangan itu semakin terlihat sempit. Seperti: bak untuk menampung air, peralatan untuk membersihkan tubuh, dan satu hal yang terpenting yaitu, kloset.

Di sana di atas kloset, putra dari keluarga Aomine satu-satunya sedang duduk dengan tenang. Kedua sikut tangannya menusuk paha yang telanjang, supaya dia bisa menyangga dagu.

Aomine Daiki merona. Dia senyum-senyum tidak jelas, sesekali menutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Ngngnghhhh…..Ah!" erangnya ketika berusaha mengeluarkan ampas dari dalam perut. "Legaaa…." Katanya.

Setelahnya, dia kembali keaktivitas semula tersenyum dengan penuh khidmat. Minggu kemarin si Baka manis banget. Apalagi dia cemburu sama gue. Aomine tertawa-tawa sendiri dalam pikirannya yang sedang melayang bebas jauh ke cakrawala.

Dia masih memikirkan bagaimana imajinasinya bermain liar, membayangkan bibirnya yang mencium Kagami minggu lalu. "Engggg...ah..." Erangnya lagi disela lamunan.

Aomine meringis. Wajahnya berubah dratis dari senyum merona menjadi datar tak beraturan.

Andaikan saja malam itu, dia punya keberanian lebih, untuk memerawani bibir Kagami, mencuri ciuman pertama Kagami di depan semua orang. Pasti indah.

Huh, dia menarik napas dalam. Kemudian membersihkan diri dari aktivitasnya dengan mimik yang kembali tersenyum-senyum bagaikan gadis sedang kasmaran. Bangkit dan memakai celana, lalu berjalan sedikit ke arah Utara.

Sekarang dia sedang berdiri di depan kaca besar, yang memperlihatkan hampir sebagian dari tubuhnya. Di dalam kaca terlukis wajah yang sama, wajah yang sedang tersenyum lebar dan lues. Dia memandangi diri sendiri, mengagumi kegantengannya. Mengagumi senyum manis yang tercipta di wajahnya. Membayangkan ada Kagami di depan yang membalas senyumannya.

"Hah!" Aomine membuka mulut dengan bloon. Senyum berubah suram. Menyerngit. Menautkan alis tipis birunya. "AAAAAAAA..." Dia berteriak di depan kaca, seakan dirinya adalah hantu. "ASTAGA AOMINE! APA YANG LO PIKIRIN DARITADI!" Jeritnya histeris.

Mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia mencak-mencak di dalam kamar mandi. "Kagami itu laki, dia punya batangan kayak elo. Dari mana masuknya, coba? Pikir!" Omelnya pada diri sendiri.

PAK.

PAK.

Aomine manampari pipinya bulak-balik dengan lembut. "Tuh, kan. Enggak sakit sama sekali, berarti gue lagi mimpi," ujarnya. "Gimana caranya biar gue bangun, mimpi ini aneh."

Aomine tersenyum lebar. Lampu bohlam imajiner timbul di atas kepalanya. Ah, ia sangat cerdas. Memang. Ingat kejadian curi pulsa ibunya. Tidak menunggu detik apalagi menit, dia cepat menghadap tembok. "Satu ... dua ... tiga," hitungnya.

JDUKK!

Aomine mengadu kekuatan dengan sang tembok, dia menjedotkan kepalanya sendiri. Lebih dari kata kuat. "Eh..." Gumamnya. Dia heran kenapa tubuhnya sempoyongan. Pusing. Sakit. Matanya kicep-kicep, banyak bintang bertebaran di atas kepala. Keningnya nyut-nyutan. "Ternyata gue lagi nggak mimpi," gumamnya lagi, sangat pelan.

Bruk! Dan akhirnya dia pingsan.

...

Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.

.

AoKaga

"Malam Minggu AoKagazone: Kemistri"

By : Zokashime

O

o

O

o

O

Perawakan tinggi berkulit warna madu, keluar dari kamar mandinya dengan memakai boxer dan handuk kecil yang tersampir di atas kepala. Mulutnya sibuk bersiul-siul.

Kryuuuukkk!

Uh, spontan Kagami mengusap perutnya yang berbentuk kota-kotak. "Laper..." Cuapnya, dengan sigap ia mengambil baju yang telah di siapkan sebelum mandi. Bola matanya tertuju ke arah jendela, melihat kerlipan lampu-lampu kota yang seperti bintang. Hem, malam minggu yang tak pernah absen dari hidupnya.

Kagami sebenarnya ingin menutup hordeng jendela itu, tapi perutnya yang six pack sama sekali tak bisa diajak bersahabat. Dia berbunyi lagi, dan itu membuat Kagami tak nyaman.

Dengan langkah besar-besar, dia meninggalkan kamar dan menuju dapur, untung saja tadi siang kulkasnya sudah diisi penuh.

Entahlah, sepertinya pengeluaran Kagami untuk menyetok bahan makanan agak meningkat bulan-bulan ini. "Shit!" umpatnya kecil. Menyebut-nyebut bahan makanan kenapa jadi ingat mahluk astral yang tak pernah gagal membuatnya naik darah.

Kagami mulai mengeluarkan bahan-bahan dari lemari es. Wajah madu itu dibentuk menjadi jutek. Mengoceh seorang diri, mengumpat sesuka hati. Aji mumpung karena Aomine tidak bertandang ke rumahnya malam ini.

Tumben sih. Biasanya sebelum matahari tenggelam, siluet hitam tapi manis itu sudah berisik mengganggu Kagami.

Memintanya membuatkan makanan yang banyak, katanya dia butuh energi lebih untuk hidup di malam minggu. Mengajaknya mandi bersama, dan yang ini sangat menjijikan. Mengacak-acak ruangannya sampai terlihat seperti kapal pecah. Hell! Kadang hal yang satu ini membuat Kagami ingin salto dari atap gedung tinggi.

Ke mana dia sekarang?

Tidak menghubunginya sama sekali. Kagami ingin mengirim pesan, tapi buat apa? Tak ada yang penting untuk dibicarakan. Oke. Jadi, arti dari wajah juteknya adalah kesal karena tidak ada Aomine di sini? AH TENTU SAJA TIDAK! SAMA SEKALI TIDAK! Kagami menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.

Ia mengambil pisau tajam yang ada dirak dan mulai memotong bahan yang ada, mulai dari sosis, ayam goreng, bawang dan lain-lainnya. Malam ini, Kagami chef Taiga akan menciptakan nasi goreng terlejat. Dibuat dengan perasaannya yang campur aduk tidak pakai cinta, tapi pakai bayangan wajah Aomine... Cieeee...

'Zengen wa tekkai suru ze saikou ni moe sou da. Hey! Hey! Istsudemo matteru ze.'

Ponselnya berjoget ria di dalam saku celana. Berdering dengan keras, ketika Kagami sedang menumis bumbu. Suara itu. Suara berat kurang ajar itu, membuat Kagami semakin emosi.

Dan sekarang otak kecilnya sedang memutar memori bagaimana Aomine membanggakan suara sexinya dengan sombong. Kagami berjanji, kalau tidak lupa, setelah ini dia akan mengganti nada deringnya. "AHO FUCK!" Umpatnya pedas, sambil memasukkan nasi ke dalam pan dengan kasar.

'Zengen wa tekkai suru ze saikou ni moe sou da. Hey! Hey! Istsudemo matteru ze.'

Lagi-lagi ponselnya berbunyi. "Sial, siapa sih yang telpon," tuturnya. Dia mengecilkan kompor, lalu menyomot ponselnya dengan cepat.

Aho Calling...

Dia harus menghela napas, ketika melihat nama A-H-O terpampang dengan santai dilayar ponselnya. Dengan oga-ogah, tapi sedikit tersenyum, Kagami menekan tombol hijau. "Berisik, setan!" Teriak Kagami tidak ingin didahului oleh suara Aomine.

"Eh ... Kagami-kun, apanya yang setan?"

Kagami kicep. Menelan ludah paksa. Sweatdropped. Tangan gemetar.

"Hallo ... Kagami-kun...?"

Itu bukan suara Aomine.

"Apa kau baik-baik saja?"

Itu suara ...

"Ma-maaf, bu," katanya lembut, menggaruk tengkuknya malu. "A-Aho mana?"

"Ini di samping ibu sedang berbaring. Kamu ke mana saja baru diangkat Kagami-kun,"

"I-itu..."

"Bisa ke sini tidak? Daiki pingsan dari sore belum siuman juga,"

"HAH!? PINGSAN!"

"Iya. Ibu temukan dia pingsan di kamar mandi. Kalau bisa tolong cepat ke sini. Ibu hanya sendiri di rumah, ayahnya sedang pergi keluar kota."

"I-iya, saya ke sana sekarang."

Kagami menekan tombol merah untuk mengakhiri sambungan. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Mematikan kompor, dan membiarkan nasi gorengnya begitu saja. Membiarkan dapurnya yang berantakan tak berwujud.

Dia lari secepat kilat, masuk ke kamar untuk mengambil dompet. Tidak berpikir lama, dia langsung keluar apartemen, mengunci pintu. Bahkan, perutnya terasa sangat kenyang sekarang, tidak merasa lapar sedikit pun.

Dia khawatir, sangat. Apa-apaan sih. Kenapa bisa pingsan? Aomine itu memang idiot, pasti dia melakukan hal yang bodoh, Kagami yakin itu.

Ugh, saat mendengar kata pingsan dada Kagami agak ber-nyut, seperti sedang dikejutkan oleh permainan Hysteria. Sumpah, mending Aomine merusuhi apartemennya daripada pingsan.

.

Kagami sudah berdiri di pinggir jalan raya, tangannya melambai-lambai menyetop taxi yang lewat. Tapi bitch! Tidak ada taxi yang mau berhenti.

"Arrghhh..." Spontan dia menendang aspal. Gelisah. Lalu berlari sekencangnya, sesekali tak sengaja menabrak orang lain yang sedang berjalan santai, tapi Kagami tidak peduli. Ia tidak menoleh untuk sekedar berteriak MAAF! Apalagi harus berhenti. Dia berharap diperempatan sana ada banyak taxi.

Kagami, Aomine hanya pingsan, lho? Bukan mati.

Saat otaknya sedang bermusyawarah, tubuhnya masih berlari secepat yang ia bisa. Kagami berharap Aomine hanya pingsan bukan mati. Tapi Kagami lebih berharap Aomine menyebalkan seperti biasa.

.

OoOoOoOoOo

.

Stttt…

Taxi yang Kagami dapatkan dengan susah payah, sekarang menepi ke punggung jalan. "Kenapa berhenti?" tanya Kagami. Ia menatap punggung Bapak supir dari belakang tidak percaya. Gelisahnya semakin mengakar.

"Maaf tuan, taxinya mogok," jawab bapak supir tak enak hati. Dia turun untuk memeriksa. Kagami tak tinggal diam, dia pun turun untuk meminta kepastian. "Lama tidak? Saya buru-buru."

"Itu…." Bapak supir ragu-ragu untuk menjawab.

Kagami mengacak rambutnya, padahal kurang lebih lima menit lagi untuk sampai ke rumah Aomine, kenapa harus mogok di sini? Ternyata menyakitkan dipermainkan oleh keadaan.

Ia mengeluarkan dompet, dan menarik uang satu lembar. "Ini, ongkosnya," katanya tanpa basa-basi. Setelah uang itu diterima oleh sang supir, Kagami berbalik dan langsung melarikan diri.

"Tuan, kembaliannya!" teriak sang sopir.

"AMBIL SAJA!" balas Kagami tanpa menghentikan larinya.

Ah, matanya panas. Napasnya tak karuan. Semoga Aomine baik-baik saja.

Jujur, walau dia sering mengumpat supaya Aomine cepat mati, tapi jauh di dalam hati kecilnya, Kagami selalu berdoa supaya Aomine selalu sehat. Kalau seandainya harus ada yang menghilang, Kagami berharap itu dia bukan Aomine.

Dia ingin Aomine selalu tersenyum baik bersamanya maupun tidak. Lihat, kan? Aomine pingsan saja, Kagami sekhawatir ini.

Aomine memang menyebalkan dan bebal. Bahkan, lebih menyebalkan dari pemeran wanita yang hidupnya selalu menyusahkan pemeran laki-laki yang kalian kagumi dalam Anime.

Lebih menyebalkan dari downloadan yang ukurannya bergiga-giga, ketika sudah 99 persen ternyata gagal, apalagi kalau kalian sudah menunggu selama berjam-jam.

Lebih menyebalkan dari nilai ulangan Kimia atau Fisika yang hanya dapat nol besar, sedangkan kalian tadi malam sudah belajar sampai muntah-muntah.

Tapi Kagami bahagia memiliki sahabat seperti Aomine.

"Hosh … hosh …" Kagami menarik napas dengan paksa, dadanya naik turun seperti sedang mengerjakan hal yang sangat berat.

Dia menatap rumah yang bercat biru tua di depannya dengan nanar. Emm, dia menghabiskan waktu sejam lebih untuk sampai ke rumah Aomine. Padahal, jika lancar jarak tempuh yang dibutuhkan hanya 20 menit.

Kenapa jika sedang ada masalah serius, keadaan malah sangat hobi membuat semuanya menjadi lebih mendramatisir? Iya, Kagami paham hidup itu memang drama, tapi apa harus sampai membuat kepala hampir pecah karena terlalu lelah berlari.

BRUK!

Kagami langsung masuk dengan menabrak pintu, tanpa permisi atau apa pun. Ia berlari lagi menaiki tangga dan menuju kamar Aomine.

"A-AHO!" katanya saat melihat tubuh kekar sahabat tercintanya berbaring di atas ranjang, dia tidak tega. Aomine seperti tidak bernapas, wajahnya damai dan tenang.

Bola matanya bergulir kearah wanita yang sedang duduk di samping Aomine. Kagami lebih tidak tega, wanita itu sedang menangis meratapi putera satu-satunya.

"Kagami-kun ... hikss …" ucap Ibu Aomine parau. Kagami mendekat, tapi hanya diam saja tidak tahu harus bicara apa. Ulu hatinya sakit. Wajah ibunya langsung terbayang saat memperhatikan Aomine. Matanya terasa panas dan tebal.

"Sudah panggil dokter?" Tanya Kagami memberanikan diri untuk bicara.

"Belum, Kagami-kun. Ibu tidak tega meninggalkan Daiki," jawabnya.

"Yasudah, kalau begitu aku yang akan panggil dokter."

"Tidak, ibu menyuruhmu ke sini untuk menemani Daiki. Biar ibu saja yang pergi. Kami punya dokter langganan, tapi nomornya tak bisa dihubungi. Mungkin harus didatangi ke tempat prakteknya," Jelas ibu Aomine Hikari. Dia bangkit, dan mencium kening Aomine sebelum pergi dari kamar. Kagami mengangguk tanda setuju, dan memandang punggung lelah campur khawatir itu sampai menghilang.

.

.

.

Kagami duduk di samping Aomine. Dia memandangi wajah tak bergerak itu dengan kelat. "Aho, bangun," ucapnya lirih. "Kalau lo bangun nanti gue traktir ke Majiba. Gue buatin makanan yang lo minta, kita main basket sama-sama," lanjutnya. Kagami menarik napas lelah, melihat tubuh itu tak bergerak sama sekali.

Kagami menarik selimut yang agak melorot, menutupi tubuh Aomine. Dia takut sohibnya kedinginan. "Lo pingsan kenapa, sih?" ucapnya lagi. "Lo mau bunuh diri, ya?" dia terdiam sejenak untuk memijit pelipisnya. "Lo emang idiot gue tahu itu, tapi jangan melakukan hal yang nggak berguna, Aho."

Tangan Kagami reflek bergerak ke atas untuk membelai rambut yang sewarna dengan dalamnya lautan. "AHO BANGUN, BANGSAT!" Teriak Kagami jengkel. "LO BENERAN BANGSAT KALAU SAMPE NINGGALIN GUE!" Teriaknya lagi makin keras.

Kagami menyipit, saat tangannya menemukan benjolan agak besar dikening Aomine. Dia memperhatikannya dalam. Benjolan itu berwarna hitam kebiruan.

Heran. Kenapa Aomine hobi membuat wajahnya memar. Tidak adakah hal bodoh lain yang bisa dia lakukan.

Kagami geleng-geleng kepala, ingin menuntut penjelasan secepatnya. Kenapa Aomine bisa pingsan, dan ada memar dikening? Apa mungkin manusia itu sedang melakukan atraksi.

Kagami menyunggingkan senyum terpahitnya. Dia membayangkan Aomine yang selalu jahil tidak bisa diam, sekarang malah kaku tak bergerak sama sekali. "Ao, please bangun. Gue ada di sini, masa lo cuekin," tutur Kagami.

.

Detik sudah berubah menjadi menit, tapi tidak ada tanda-tanda Aomine sadar. Kagami makin kesal, emosi, sedih. Masalahnya dia tidak tahu harus berbuat apa? Hanya memandangi saja, begitu?

Kagami mendengus. Setelah itu mulutnya komat-kamit, berdoa dengan was-was. Dia memejamkan mata, lalu menempelkan telinganya kedada Aomine, untuk mengecek apa jantung Aomine masih berdenyut atau tidak.

"Nggak ada suara detakkannya," ucap Kagami pelan, seperti berbisik. Dia menarik tubuhnya cepat, menatap wajah Aomine tidak percaya.

Tidak.

Tidak.

Mungkin dia salah. Dia memegang kepalanya, dadanya loncat-loncat tidak karuan sampai menghasilkan rasa sakit.

Boleh menangis?

Dia langsung menegadahkan kepalanya ke langit-langit kamar Aomine, supaya tak ada air apapun yang jatuh. "Jangan mati, Aho," ucapnya lirih. Dia bingung sekarang, mana ibu Aomine belum kembali juga. Apa, apa yang harus dilakukannya sekarang.

Jangan ambil dia dari gue. Please!

Kagami kembali menempelkan telinganya, masih tidak percaya jika hanya sekali. Dia memeluk tubuh Aomine yang masih diam tak bergerak.

Satu menit...

Dua menit...

Tiga menit...

Lima menit...

"HEH..." Kagami kaget saat ada tangan besar yang mendorongnya dengan kuat. Dia speechless memandang lelaki yang tadi diam tidak bergerak tiba-tiba bangkit begitu saja.

"BAKA! KAGAMI!" Teriak Aomine keras dengan mata melotot antara kaget tapi bahagia. Dia menarik tubuh Kagami ke dalam pelukannya. "LO MASIH HIDUP!?" Cuapnya lagi tak karuan, membuat Kagami bingung harus menjawab apa.

"LO BAKA, KAN? LO MASIH HIDUP!?" Aomine berteriak lagi, memeluk Kagami sampai tak bisa bernapas.

"..." Kagami shock. Maksudnya apa? Dan dia harus menjawab apa? Dan tolong dia sangat tidak bisa bernapas. Mungkin benar, setelah ini dia tidak akan hidup lagi alias mati karena kekurangan oksigen.

"Baka, kirain lo ninggalin gue. Gue tadi lihat tubuh lo dicincang-cincang, jantung lo dimakan anjing, mata lo dicongkel dan ditusuk-tusuk," cerita Aomine panjang lebar dengan napas menggebu. "Gue bahagia banget lo masih hidup."

"HAH!?" Silahkan pukul Kagami pakai batu, karena dia benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan Aomine.

Aomine melepaskan pelukkannya. Dia menatap Kagami yang sedang terengah-engah memburu oksigen.

"Jangan-jangan gue masih mimpi," gumam Aomine pelan. Dia menggelengkan kepalanya. "Baka, tampar gue..." Perintahnya.

"A-apa? Ma-maksudnya tam-"

"UDAH TAMPAR AJA GUE!" Aomine gemas.

"TAMPAR APA'AN!" Kagami ikutan gemas.

"CEPET!" Teriak Aomine tiga kalilipat lebih keras.

PLAK!

Karena kaget dengan teriakan Aomine yang kerasnya bukan main, tangan Kagami reflek langsung menampar pipi Aomine kuat.

"SAKIT SETAN!" Aomine mengumpat sambil memegangi pipinya yang panas.

"KAN ELO YANG NYURUH BANGSAT!" Balas Kagami tak kalah seram.

"Berarti gue udah bangun. Tadi mimpi gue serem banget Baka. Lo mati ninggalin gue," kata Aomine. Dia masih mengelus-elus pipinya yang panas dan memerah.

"Tunggu-tunggu, ini maksudnya apa'an, sih! Kenapa lo bangun tiba-tiba? Mimpi ... mimpi apa'an? Bukannya lo pingsan?" Tanya Kagami secara bertubi-tubi kepada mahluk di depannya yang sedang meringis kesakitan.

"Siapa yang pingsan, bodoh," Aomine menjitak kepala merah Kagami. "Gue tidur daritadi."

"Ha?"

"Gue tidur, Baka. Gue enggak pingsan."

"Terus? Hah? Maksudnya?"

"Apa'an, sih! Lo mau ngomong apa? Perlu gue cium dulu biar lancar."

"Tsk!" Decak Kagami." Kata ibu tadi, lo ditemuin pingsan di kamar mandi. Terus jantung lo juga udah nggak berdetak."

Aomine menyipit. Kemudian kepalanya bergerak, menoleh kanan kiri. "Oh, iya. Gue sekarang di kamar, ya? Siapa yang pindahin gue."

Kagami greget dan menarik hidung Aomine, sampai empunya berteriak. "SERIUS!"

"Oke-oke. Gue tadi emang pingsan," kata Aomine. Dia meraba-raba keningnya yang lumayan masih sakit. "Gara-gara gue jedotin kepala gue ke tembok, Baka,"

Kagami tidak menjawab, dia hanya memasang tampang deathglare.

"Eggak lama gue sadar, tapi gue ngantuk. Karena males pindah, iya udah lanjut tidur di kamar mandi. Gue salah?"

"AHOMINEEEEEEE..." Kagami naik ke atas ranjang dan menerkam Aomine sampai terjengkang ke belakang. Untung saja alasnya bantal empuk. Kalau lantai beton mungkin kepala Aomine langsung pecah.

Kagami geram, kesal, emosi, sedih, bahagia, senang, semuanya nano-nano. Bahagia yang meluap saat tahu Aomine tidak pingsan, apalagi mati. Tapi sebal juga, mahluk tan di bawahnya ini sudah membuatnya khawatir.

It's okey. Dia tak masalah, bagaimana dengan ibunya yang sudah nangis-nangis, manalagi ayahnya sedang diluar kota. Daiki itu anak tunggal. Tidak bisa membayangkan jika keluarga Aomine kehilangan putera satu-satunya.

Walau adanya Aomine Daiki selalu membuat rugi keluarga, selalu membuat pusing keluarga, tapi dia adalah bukti nyata jalinan cinta orang tuanya.

"Keparat lo, Aho!" Kata Kagami. Dia mencekik leher Aomine tanpa ampun dengan mata yang berkilat masuk zone.

Aomine pasrah di bawah, dia tidak bisa melawan, tenggorokannya sakit. Tapi sakit yang dirasakan tidak sebanding dengan kebahagiaannya, ketika bangun melihat Kagami ada di depan mata. Melihat mata merahnya, rambut merah, tatapan juteknya. Mendengar detakan jantungnya.

Aomine menjadi orang yang paling bersyukur hari ini, karena yang dialami hanya mimpi. Aomine berdoa, semoga Tuhan selalu membuat Kagami tersenyum. Tidak akan pernah terjadi hal seburuk mimpinya.

TIDAK! Jika memang nanti ada salah satu yang harus pergi, Aomine berharap itu dia dan bisa menatap mata merah Kagami untuk yang terakhir kali.

Aomine tersenyum dalam sakitnya cekikan Kagami. Bahkan, ia sampai terbatuk-batuk. Dia tidak tahu apa salahnya, sampai Kagami semenakutkan ini.

Aomine melingkarkan kedua tangannya di punggung Kagami. Menarik siluet madu itu sampai terjatuh menindihnya. Kagami yang terhentak menyudahi cekikkan di leher Aomine. Dia memindahkan tangannya kedada Aomine untuk bertumpu.

Kagami seduktif menggigit bibir bawahnya, saat merasakan dentuman jantung Aomine yang seperti pemburu. Ah, atau itu jantungnya sendiri?

"Kenapa?" Tanya Aomine. Mereka saling tatap tepat dimanik masing-masing. Seperti sedang berkaca satu sama lain. Kedua tangan Aomine masih erat melingkar di tubuh Kagami.

Kagami menarik bibirnya sepersekian senti, menciptakan senyuman paling hangat yang pernah Aomine lihat, sampai mendorong tangannya untuk membawa kepala Kagami lebih mendekat. "Baka, cium sahabat itu boleh enggak, sih?" Tanya Aomine ketika satu centi lagi hidung mancung mereka akan bersentuhan.

Kagami berkedip mendengar pertanyaan tiba-tiba Aomine. Lalu dia bangkit dan menegakkan tubuhnya, satu detik kemudian Aomine menyusul. Akhirnya, sekarang mereka duduk dengan kaki bersila dan saling berhadapan.

"Salah enggak?" Tanya Aomine lagi menuntut jawaban.

"Gue enggak tahu, Ao," jawab Kagami dengan polos, memandang Aomine penuh arti.

Aomine mengedikkan bahunya, dan mendekatkan diri kewajah Kagami.

CUP!

Dia mencium pipi sewarna madu Kagami. Mungkin ada sekitar lima detik bibir Aomine tertempel di sana sebelum akhirnya menarik diri. "Kalau kata gue, boleh aja," jelasnya, sambil neyengir kuda tanpa dosa.

Kagami yang dicium hanya bengong, seperti sedang memandang sesuatu yang mustahil untuk didapatkan. Bahkan, berkedip pun dia susah.

"Oi, Baka," hentak Aomine, menarik hidung Kagami. "Biasa aja, sih. Enggak usah shock, gitu," lanjutnya.

Kagami menepis tangan Aomine dari hidungnya yang terasa mau patah. "Sakit, sialan," dan dia memelayangkan tangannya untuk menjotos kepala Aomine, tapi mahluk dim itu bisa menghindarinya. "Nggak kena...wekkk..." Ejek Aomine sambil menjulurkan lidahnya, dan pergi menjauhi Kagami.

Lihattttt... betapa menyebalkan yang namanya Aomine fucking Daiki itu.

'Zengen wa tekkai suru ze saikou ni moe sou da. Hey! Hey! Istsudemo matteru ze.'

Kagami menghentikan langkahnya untuk mengejar Aomine, saat ponselnya bergoyang dombret. "Hallo..."

"Kagami-kun, bagaimana keadaan Daiki?" Tanya seseorang dari sebrang sana.

"I-itu..." Kagami melirik Aomine yang sedang mencak-mencak mengejeknya. Dia mengangkat jari tengah dan diarahkan kepada dirinya. Sangat tidak sopan.

"Dia baik-baik saja, kan? Dokternya sedang tidak ada ditempat, dia sedang keluar kota."

"Ba-baik. Itu ... sebenarnya Aomine tidak pingsan, dia hanya tertidur pulas, bu," kata Kagami menjelaskan. Dan masih memandang orang yang sangat tidak tahu diri, sudah membuat orang-orang khawatir, bukannya minta maaf dia malah asyik joget-joget.

"Benarkah, Kagami-kun?"

"Ben-"

Tuttttttttttttt... Sambungan terputus begitu saja. Kagami cuek, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

"Aho, tega banget lo sama orang tua," cuap Kagami mendekati Aomine yang sekarang sedang duduk disofa menonton tivi.

"Hah? Salah apa gue?"

Kagami mendaratkan bokongnya, memandang Aomine tidak suka. "Dasar idiot! Lo udah buat ibu lo nangis."

"Masalah pingsan? Kan gue enggak pingsan," jawabnya menyolot. "Kalian aja yang berlebihan. Ibu sih suka nonton drama," katanya. "Lo juga Baka. Lo suka tontonin drama, ya?"

Kagami mengambil remote tivi yang ada dimeja dan dipukulkan kekening Aomine yang benjol.

"AAAA...RRRGGHH... SAKIT BANGSAT!" Erang Aomine.

"Sakit, kan? Kita juga sakit kalau lo sampe kenapa-kenapa, Aho. Kita khawatir sama lo bukan berlebihan atau apa. Kita sayang sama lo, bego..." Jelas Kagami sambil mengertakkan giginya.

"Cieeee... berarti lo sayang sama gue, Baka," tanya Aomine tidak penting sama sekali.

"..."

"Kalau lo sayang, cium gue sekarang," kata Aomine, dia menyodorkan pipinya kehadapan Kagami.

Kagami cepat menghindar, dan menjauhkan pipi Aomine dengan tangannya. "N-A-J-I-S"

"Sial, memangnya gue kotoran, huh," protes Aomine. "Tapi thanks, udah khawatir sama gue," lanjutnya.

"Iya. Tapi nanti minta maaf sama ibu lo."

"Siap. Dan thanks udah sayang sama gue." Aomine menyunggingkan senyum, begitu juga dengan Kagami.

"Terus, apa alasan lo jedotin kepala ketembok? Lo ada masalah?" Tanya Kagami. Matanya lurus ke depan memandang tivi yang menampilkan iklan Oreo.

"Iya, gue banyak masalah," jawabnya. Kagami langsung mengubah posisi dan menghadap Aomine. "Masalah apa?"

"Masalah jatuh cinta."

Kagami bengong, sedetik kemudian dia tertawa menggaung. Apa? Aomine punya masalah jatuh cinta? Tidak salah? Sejak kapan dia mengenal cinta.

Sedangkan Aomine merengut, apa yang salah dengan omongannya? Memang dia tidak mengerti apa itu jatuh cinta, tapi tak seharusnya Kagami tertawa sampai Aomine ingin memakunya ditembok.

"Memang lo tahu, jatuh cinta itu apa?" Tanya Kagami masih dilingkupi rasa geli.

"Sederhana aja. Jatuh cinta itu, ketika gue bahagia ngabisin waktu sama elo," jawab Aomine asal ceplos, tapi terlihat sangat lepas.

Kagami menyipit. Mencoba mencerna kata-kata Aomine. Lima detik kemudian, dia tertawa lagi. Bahkan, makin keras, Aomine saja sampai menutup telinganya.

"Gue juga bahagia ngabisin waktu sama lo," kata Kagami disela tawanya yang belum mereda. "Berarti gue juga jatuh cinta..." Diam sejenak, memikirkan kembali ucapannya. "Tapi kan, Aho. Kita berdua laki-laki."

Aomine menganggukan kepalanya, setuju dengan perkataan Kagami. "Mungkin, jatuh cinta itu sebenarnya enggak dibatasi, Baka."

"Jadi kita berdua jatuh cinta?"

Mereka berdua bengong seketika. Setelah sadar mereka memutar bola matanya, saling tatap lekat, dan akhirnya tertawa bersama. Mereka menyadari bahwa obrolan tadi terlalu bodoh untuk dibahas. Karena sampai kapan pun mereka tidak akan pernah paham apa makna jatuh cinta. Yang mereka paham untuk saat ini hanyalah "Gue bahagia ngabisin waktu sama elo."

.

"DAIKI..." Teriakan seorang wanita dari bawah sana, yang sukses membuat mereka terdiam dari aktivitas menertawakan apa itu jatuh cinta. Dan siap-siap bagi Aomine untuk mendapat pelajaran dari sang ibu.

...

O

o

O

o

O

*Hehehehehe* selamat malam minggu lagi. Entah ya, waktu itu cepet banget berlalunya. Semoga semakin berlalu waktu, cinta kalian ke AoKaga nggak ikutan berlalu. Mereka itu, ya ampun, selalu membuat saya senyum-senyum sendiri. Di kamar mandi, mau tidur, mau makan atau apalah. Cerita tentang mereka itu nggak ada abisnya. Terima kasih AoKaga kalian sudah menjadikanku penulis amatiran wkwkwk... Tapi semoga tulisan saya menghibur, ya. *SMILE*

Maaf curhat/ditendang.

.

.

Shirouta: Santai aja hehe. Pertama, thanks sudah mau review Uta-san. Kedua, thanks juga ya usulannya, saya sangat menghargai apapun bentuk usulan. Cuma maaf, dari awal plotnya memang nggak dibuat serius. Maksudnya, nggak akan ada sedih-sedih yang mendalam. Hehe kalau masalah konsisten sebenarnya nggak tau juga, ya. Ini mungkin karena saya belum masuk masa sibuk, jadi masih bisa santai-santai nulis. Tapi semoga, nanti sesibuk apa pun, saya usahain supaya bisa update tepat waktu.

AoKagaKuroLover: ahaha... AoKaga Kissu memang sesuatu. Ya, mungkin sedikit-sedikit mereka akan maju. Perlahan tapi pasti wkwkwk. Maaf, ya. Chap ini agak pendek, kan kamu suka yang panjang, hihi.

Nana: Heboh banget, ya. Tapi itu hanya bayangan bang Aho ckckckc. Mereka tidak ciuman di depan umum/kaburrr. Tapi chap yang ini seriusan kok, bang Aho cium pipi bang Kaga *goyangdombret* cieee favorite, berharap sih semuanya favorit hahah. Sama-sama nana-chan, seneng kalau readernya terhibur. Thanks semangatnya.

Shina benciAngst: Namanya kereen...

Guest: Silahkan, teriak aja sesuka hati jika itu membuatmu senang nak.

Nam Min Seul: Cieeee... Cuma bayangan bang Ao cieeeee, tapi chap yang ini beneran kok/dilindes.

adesajallahkonslet407: Lanjut setiap malam minggu *tebarpesona* thanks sudah mau baca dan jangan bosen baca, juga jangan bosen rifiuu wkwkwkw.

Who Am I: Iya, makasih semangatnya *akuterharu* kasian yang baperrrr... Gomenlah, kan memang harus begitu. Yap, tenang aja. Kagami selalu yang paling exsis.

Fukuzatsuna Ai: TIDAK! Jangan, mereka belum cukup umur dan belum cukup pengetahuan untuk masuk kamar. Thanks sudah mau mampir.

.

Terima kasih sudah membaca.

Ketemu lagi minggu depan.

Salam AoKaga yeeeeeee.