Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman – teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.
Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.
.
AoKaga
"Malam Minggu AoKagazone: Rasa"
By : Zokashime
O
o
O
o
O
…
'Zengen wa tekkai suru ze saikou ni moe sou da. Hey! Hey! Istsudemo matteru ze.'
Kagami mengomel sebal beberapa detik sebelum mengangkat telpone dari sahabat sekaligus rivalnya yang bermanik biru tua sama seperti celana dalam yang dipakainya hari ini.
"Apa? lo hobi banget nelponin gue, Aho. Tahu sih kalau gue ngangenin," katanya percaya diri.
Iya, kenapa Kagami bisa bicara seperti itu karena lima menit yang lalu mereka baru saja telponan. Ponsel Kagami masih panas man. Pasalnya, hari ini mereka libur sekolah. Karena itu Aomine maupun Kagami belum bertemu lagi semenjak mereka berpisah pada hari Jum'at yang lalu.
"HAH!?" suara Aomine meninggi. Mendadak Kagami menjauhkan ponsel dari telinga, takutnya nanti, masih muda tapi gendang telinganya sudah tak berfungsi, sayang, kan? "Elo ngangenin, gue nggak salah denger?" Aomine melanjutkan perkataannya setelah berhasil membuat speaker ponsel Kagami cempreng.
"Halah, buktinya lo nelponin gue terus. Lo banyak pulsa? Mau pamer?" Jawab Kagami, gegulingan dikarpet sambil menonton film Doraemon.
"Suka-suka. Gue yang nelpon kenapa lo yang ribet?"
"Sialan, kan gue yang jawabin. Udahlah, pergi sana lo ke neraka. Gue mau lanjut nonton tivi," tutur Kagami tanpa ampun.
"O-oi... bercanda," cegah Aomine secara cepat, agak cemas kalau sampai Kagami serius mengakhiri obrolan. "Baka?"
"Apa?"
"Ke rumah gue sih," kata Aomine memohon. Lalu menenggelamkan kepalanya kedalam bantal. Bosan.
Di rumahnya tidak ada orang lain selain dia. Ayah dan ibunya sedang keluar entah ke mana. Kenapa dia menelpon Kagami, karena memang hanya si rambut merah itu yang bisa menghiburnya.
Tahu, kan? Temannya hanya Kagami seorang. Maksudnya yang selalu ada jika sedang dibutuhkan. Mau menelpon Kuroko, tapi manusia jadi-jadian itu akhir-akhir ini sedang sibuk. Aomine tidak tahu sibuk tentang apa. Lagipula, dia tidak bisa menjahili Kuroko seperti menjahili Kagami.
Bayi biru itu, jika sedang dijahili baik nyata maupun ditelpon pasti tampangnya datar. Memang sih dia sedikit tertawa, tapi tertawanya dengan wajah datar, kalian bisa membayangkan itu.
Malah terlihat seperti psikopat yang membuat Aomine merinding sendiri. Jangan-jangan, karena tidak suka dijahili, Kuroko langsung menghilang menggunakan kekuatan andalannya, dan datang-datang dia sudah menusuk Aomine dengan pisau.
Setelah itu Aomine mati dengan tidak keren. Tolong, dia masih cinta perutnya yang kotal-kotak, jika ia mati siapa yang akan menggantikannya sebagai penyandang lelaki tertampan dan tersexi, iya, kan?
Berbeda halnya dengan Kagami. Mahluk beralis cabang itu jika sedang dijahili pasti darah tingginya naik 98% marah-marah tidak jelas, mengumpat sesuka hati.
Dia tipe orang yang tidak mau kalah, Aomine yakin dia pasti akan membalas kejahilannya, tapi sayang itu tidak mempan terhadapnya. Pada akhirnya dia sendiri yang uring-uringan.
Itu.
Itu yang membuat Aomine terhibur. Itu yang membuat Aomine ketagihan menjahili Kagami. Itu yang membuat Aomine tidak bisa sehari saja tanpa Kagami. Dan itu yang membuat seorang Kagami berharga di mata Aomine, yang selalu membuatnya tersenyum saat mengingat tingkah konyol mereka.
"Males," jawab Kagami singkat seakan dia akan terkena tagihan bengkak jika mengeluarkan banyak kata.
"Gue sendirian di rumah, bodoh."
"Gue nggak peduli, idiot."
"Gue laper."
"Mandilah."
"Makan, bego."
"Udah tahu malah tanya. Elo yang bego."
Ya. Mereka bertengkar via telpon untuk yang kesekian kali. Karena sebelum ini, saat telponan juga mereka hanya bertengkar, mempertahankan argument masing-masing tentang sesuatu yang mereka bahas.
Seperti membahas; kenapa kucing jika sedang kawin tidak pernah mau tahu tempat, atau kenapa nama marga keluarga mereka harus Aomine dan Kagami. Yang sebenarnya argument mereka sama sekali tidak ada yang benar.
"Ayolah, Ka. Ke rumah gue," kata Aomine masih belum menyerah.
"Males, Ao. Gue takut ada hantu."
"WOI INI MASIH JAM EMPAT SORE, SETAN!"
"GUE TAHU SIALAN!"
"Makanya ke rumah gue."
"Lo kayak cewek ya lama-lama. Suka maksa nggak jelas."
"Nanti gue traktir burger, deh."
"Gue nggak mempan lagi disogok. Lagipula, barusan gue makan burger."
"Kok lo nggak bagi gue!"
"Jauh."
"Setidaknya lo bilang. Ao, gue lagi makan burger, nih. Gitu kan bisa."
"Ha? Boleh nggak gue mati duluan. Nanti kalau seandainya lo ikutan mati, gue bangun lagi."
"Janganlah, nanti gue nangis."
"Kayak mata lo punya kantung air mata aja."
"Punyalah karna gue mahluk Tuhan paling tampan."
"…"
"Baka, cepet ke sini."
"Kenapa, enggak lo aja yang ke sini."
"Um…. Itu…."
"Apa? Males, kan?"
Aomine menggeram kesal. Pertengkaran finish. Dia menawarkan sebuah negosiasi yang berbentuk taruhan. Kagami menganga dalam diam dan menjawab taruhan apa?
Aomine mulai membuka musyawarah. "Kita jawab sebuah pertanyaan. Kalau jawaban lo bener, gue yang ke rumah lo," katanya. "Kalau jawaban gue bener, lo yang ke sini, gimana?" Tanyanya meminta persetujuan. Tiba-tiba Kagami mendadak pinter, tidak berpikir lama dia langsung menjawab, "Oke."
Aomine merespon dengan antusias. "Gue mulai pertanyaannya. Setelah gue selesai nyebutin pertanyaannya itu, kita langsung jawab."
"Yosh."
.
.
"Siapa di antara temen kita yang punya rambut pirang, suka bawa lucky item, dan matanya belang, terus dia bisa ngilang?"
"MIDORIMA!" Jawab mereka secara bersamaan.
Hening.
Hening.
.
Tiga detik kemudian suara mereka pecah. Menertawakan jawaban masing-masing yang ternyata sama. "Kenapa lo jawab Midorima, Baka?"
"Karena kita sepakat apa pun pertanyaannya jawabannya Midorima."
Entahlah, kenapa mereka punya pemikiran seperti itu. Awalnya sih gara-gara ujian. Mereka dendam karena tidak dipinjami pensil ajaib oleh Midorima.
Jengkel. Kesal. Lahirlah pernyataan "Baka nanti kalau ada soal isi aja nama Midorima." Kagami dengan bodohnya menurut begitu saja. Alhasil mereka mendapat kelas tambahan.
.
.
Aomine bingung harus bagaimana, karena jawaban mereka sama. Kagami berpikir sejenak, dan tidak ada lima menit dia mendapatkan hasilnya. "Gimana kalau kita ketemu di tengah-tengah, Aho," usulnya. "Titik tengah antara rumah lo dan rumah gue itu stasiun, kan? Nah kita sama-sama ketemu di sana, setelah itu terserah mau ke mana."
Aomine menyetujui usulan Kagami. Dia memuji si mata krimson dengan beribu kata, sampai membuat yang bersangkutan melayang ke atas awan.
Tapi tidak lama kemudian, Aomine minta ditraktir burger. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena telah memuji. Oke, Kagami baru sadar tidak ada dari diri Aomine yang bisa dibanggakan.
Mereka mengucapkan deal dan akan bertemu di stasiun. Sepakat mematikan sambungan telpone karena perlu bersiap. Tapi hal itu tidak terjadi saat suara berat di sebrang sana mengoceh lagi.
"Kita taruhan, siapa yang sampe stasiun duluan, traktir Majiba tiga hari."
"Oke. Siapa takut."
Tuttttttttt... Sambung terputus sempurna.
Kagami bangkit dari tidurannya di depan tivi. Berlari cepat masuk ke dalam kamarnya. Berganti celana dari kolor kejins panjang. Kaos tetap sama. Tidak perlu cuci muka apalagi mandi, karena seingatnya dia sudah mandi tengah hari tadi.
Tidak lupa memakai jaket dan mengantongi dompet. Dia keluar rumah tanpa harus balapan seperti yang selalu dilakukannya jika ada Aomine. Semangat membara, traktir burger tiga hari itu lumayan.
.
.
.
.
Dada Kagami naik turun tidak netral. Udara keluar masuk dengan tempo cepat. Hembus tarik. Hembus tarik. Hembus tarik. Dia mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat berlari dari jalan raya menuju gedung stasiun. Sungguh, tidak ingin kalah dari Aomine. Dan ia percaya Tuhan sedang berpihak kepadanya sekarang.
Bola matanya yang merah tua mengerling ke mana-mana. Memfokuskan untuk mencari tubuh kurang terang berkepala biru. Satu kali pencarian tidak ketemu, Kagami mengembangkan senyum menang sejenak.
Tapi kemudian, matanya bekerja lagi untuk mencari yang kedua kali, siapa tahu Aomine tersembunyi karena kulit gelapnya. Ketiga, keempat, dan terkhir kelima. Kagami pusing. Matanya panas dan berair mencari seorang remaja seumuran dengannya dengan mata tidak berkedip. Siapa yang harus disalahkan dalam hal ini?
Oke. "Gue menang..." Teriaknya semangat, sambil loncat tinggi seperti dia sedang bermain basket. Semua mata tidak ada yang tidak menengok kearahnya, tapi toh namanya juga Kagami. Peduli setan, yang penting ia menang dan makan Majiba gratis.
Makanan itu lebih penting daripada tatapan orang, benar? Bagi kagami.
Kagami melenggang menuju tempat duduk panjang yang sudah disediakan. Dengan senyum sumringah, ia menantikan kedatangan Aomine. Dia akan berteriak di telinga Aomine, supaya mahluk satu itu merasakan puas juga akan kemenangannya.
Bunyi gesekan baja antara rel dan kereta silih berganti. Maaf, Kagami tidak sempat menghitung berapa banyak kereta yang lewat. Tapi yang pasti selama limabelas menit dari ia meletakkan bokongnya sama sekali belum melihat tanda-tanda akan datangnya Aomine.
Waktu berjalan cepat. Saat baru tiba di stasiun ia melihat jam diponselnya masih 05.05 pm dan sekarang ia melihat lagi sudah 05.30 pm.
From: Aho
Lo di mana, sialan. Gue udah di stasiun daritadi. Gue menang.
Sepuluh pesan berderet, sukses terkirim dengan isi kalimat yang sama. Lima menit menunggu balasan, tapi ponselnya tak kunjung bergetar. Kagami gentar dan menekan tombol hijau. Dan sayang tidak dihiraukan, Aomine tidak mengangkat telpone darinya.
"Bangunkan dia kasian."
Kagami mendengar kata-kata itu yang mungkin terbawa angin dan masuk ke dalam telinganya. Dia mencari sumber suara yang kalau tidak salah berasal dari seorang anak SMP. Benar saja, segerombolan manusia sedang berkumpul disatu titik. Entah sedang mengkerubuti apa.
"...coklat.."
Terdengar lagi. Tiba-tiba Kagami langsung terbayang wajah Aomine. "Jangan-jangan... Ahomine..." Jeritnya. Mendekati gerombolan para remaja labil itu untuk meyakinkah diri.
"Aho..." Kagami mempercepat jalannya ketika melihat beberapa helai surai biru dari kejauhan. Aomine memang bego, jangan sampai dia terlindas mobil atau keserempet sepeda anak-anak. "Permisi..." Kata Kagami menerobos gerombolan dengan paksa.
.
.
"Aominee..." Pekiknya.
Dan dia sepeechless saat berhasil masuk dalam lingkaran. Ternyata anak-anak nakal itu sedang mengerjai seekor kecoa dalam rangka April Mop! Ayolah, ada hal yang lebih tidak penting dari itu?
Surai biru yang Kagami lihat ternyata hanya sebuat wig.
Kagami berbalik ketempat semula, duduk sama persis ditempat semula. Dia ditertawakan, ingin marah tapi mereka lebih banyak. Bagaimana kalau dia dikeroyok.
Kagami menyumpah kalau Aomine tidak datang dalam waktu sepuluh menit, ia akan meminta pertanggung jawaban lebih. Memasang tampang merengut dirasa tepat disaat menyebalkan seperti ini.
Dia mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi Aomine sekali lagi. Jika tidak diangkat Kagami akan pulang.
Matahari sudah menguburkan diri sejak lima menit yang lalu. Penerangan digantikan oleh teknologi buatan manusia.
Angin malam musim semi mulai berhembus memperkosa setiap inci kulit madu Kagami, membuat bulu-bulu kecilnya meremang. Dia bergidik, merapatkan jaketnya meminta kehangatan lebih. "Shit!" Umpatnya. Nihil. Telponnya tak diangkat.
Manusia yang berlalu-lalang tak kunjung habis. Dia diam-diam memperhatikan setiap sosok yang lewat. Jadi sebal sendiri melihat mereka yang tertawa-tawa, karena seolah mereka sedang menertawakannya.
Kagami angkat kaki, melenggang pergi. Ingat sumpahnya, jika telpon tak diangkat dia akan pulang. Biarkan Aomine merasakan bagaimana lelahnya menunggu. Satu lagi, Kagami tidak akan menemani insan biru itu selama satu minggu di sekolah. Dia akan pergi sendiri, ke kantin sendiri, belajar sendiri, dan bergurau sendiri(?).
.
.
.
Kagami membawa bungkusan makanan yang dia beli di Konbini sebagai penghibur diri supaya tidak kalut dalam hal memikirkan Aomine yang hampir membuat kepala pusing.
Membuka pintu apartemennya tanpa kasih sayang. Duduk di depan tivi, mulai mengobrak-abrik bungkusan. Lupakan sejenak masalah hidup, mari isi perut. Dia melahap lasagna tanpa ampun, membuat mulutnya penuh. Jauh dari kata santai, dia takut makanannya diambil seseorang.
Tidak ada lima menit bagi Kagami untuk menghabiskan makanannya. Sendawa terbebaskan setelah ia menegak sebotol cola dingin.
Sejatinya, jika perut sudah kenyang pasti akan membuat mata mengantuk. Dengan limbung, Kagami berdiri membawa perutnya yang agak bertambah besar. Ingin menjatuhkan diri di lautan busa. Biarkan malam minggu ini dia habiskan untuk tidur sampai pagi. Tidak ada namanya Aomine Daiki.
.
Ternyata setelah masuk kamar matanya segar kembali, rasa kantuk hilang. Bukan karena dia lapar lagi, atau teringat game yang belum selesai dimenangkan, tapi karena ada kontur bernyawa, berlapis kulit sewarna sawo matang seperti yang dia makan tadi pagi.
Menelungkup menempelkan kulitnya dengan sprai merah-hitam bergambar bola basket milik Kagami. Tanpa baju, tanpa selimut, hanya memakai boxer yang entah sudah berapa lama dipakai karena warnanya sudah memudar.
Celana jins, kaus, jaket hoodie, berikut sepatu berserakan di lantai. Pantas Kagami tidak menyadari jika sudah ada manusia lain yang masuk ke dalam rumahnya, karena Aomine tidak melepas sepatunya di teres.
Panas membara, tumbuh tanduk dikepala. Emosi meluap bak air yang dimasak sampai 100 derajat celcius. Dia lelah menunggu di stasiun sampai malam, tapi Aomine enak-enakan tidur sambil memeluk Niahonya.
Kagami mendekat dengan geram, menyingkirkan Niahonya dan diluncurkan ke belakang. Lama-lama dia emosi juga dengan boneka yang selalu memenuhi tempat tidurnya itu. Dia menyesal telah membeli boneka yang sedemikian besar.
Giginya bergemeretak. Alisnya saling bertautan. Mengumpulkan tenaga dari lasagna yang ia lahap beberapa menit lalu. Energi itu ditransfer dan dipusatkan dikaki, dengan tidak pandang bulu Kagami menendang Aomine sampai tergelepak jatuh dari ranjang sampai berhenti di pojokan.
"GEMPA!" Teriak Aomine, seduktif memegangi pinggangnya yang sakit luar biasa.
"Iya gempa. Makan tuh gempa!" Sahut Kagami. Berkacak pinggang di depan Aomine yang belum sadar sepenuhnya.
"Serius ya, ada gempa, Baka? Pinggang gue sakit banget. Kayaknya tulang gue ngangkat," katanya sambil meringis.
"Bodo amat! Patah aja sekalian," kata Kagami bersungut. "Bangsat lo, gue udah datang ke stasiun, lo malah ke rumah gue duluan. Gue nungguin setan, ini baru pulang."
"Biasa aja ngomongnya, lo ngajak berantem!"
"Nggak sadar diri. Sini gue ladenin. Gue tendang lagi, patah tuh pinggang!"
"Oh, jadi ini perbuatan lo," ucap Aomie dalam, masih dalam posisi duduk karena tidak bisa berdiri.
Mereka bertengkar serius. Bukan berebut omong seperti biasa. Kagami panas, Aomine panas jadilah membara.
"KELUAR LO!" Teriak Aomine pada akhirnya.
"KAMAR GUE!"
"KELUAR KAGAMI!"
Kagami terhentak. Aomine teriak keras dengan wajah marah, mata berkilat, dan menyebut namanya. Itu berarti dia benar-benar serius mengusir Kagami dari kamarnya sendiri.
Kagami lebih baik teriaki bangsat, setan, bodoh, tolol, oleh Aomine daripada harus menyebut namanya. Mungkin karena sudah terbiasa bercanda dengan sebutan seperti itu. Karna saat Aomine menyebut namanya, entah mengapa dia menjadi yang paling asing.
Kagami berbalik. Menutup pintu kayu kamarnya dengan kekuatan penuh, sampai temboknya ikut bergetar. Meninggalkan Aomine yang terkapar di lantai dengan kesakitannya.
Mampus, satu kalimat yang terlontar dipikiran Kagami.
Ah, dia sangat emosi dengan Aomine. Mati sekalian saja manusia satu itu. Heran. Harusnya kan dia yang marah, ini kenapa Aomine yang marah. Karena dia menendang sampai tulangnya mengangkat. Hey! Itu pantas Aomine dapatkan. Manusia itu perlu diberi pelajaran sekali-kali supaya tidak seenaknya mempermainkan orang lain.
Kagami membasuh wajahnya di wastafel dapur. Menghilangkan rasa panas yang membakar. Mengambil minuman dingin dari lemari es. Ditegak sekali habis, dan melempar kalengnya kekotak sampah.
Kagami keluar, berdiri di balkon. Menghirup udara malam, persetan dengan oksigen malam itu tidak sehat untuk tubuh. Masalahnya di dalam, ada aura yang terlalu mencekam.
Menegadahkan kepalanya menatap langit yang penuh dengan bintang. Jangankan langit, jalanan pun penuh dengan bintang.
.
.
Kagami tidak menghitung sudah berapa lama dia berada di luar, lama-lama perutnya mual, kepalanya pusing. Kagami percaya angin malam ternyata memang tidak bagus.
Masuk. Menyalakan tivi. "BANGSAT!" Umpatnya. Saat tivi hidup ternyata chanel itu sedang menanyangkan film horor, dan sialnya pas ketika hantunya keluar. Kagami hampir melempar remote.
Kagami tertawa menonton sebuh komedian. Saat tiba iklan, dia pergi ke dapur untuk membuat makanan. Perutnya tersayang sudah lapar meminta diisi.
Setelah bosan menonton, dia main game. Berteriak gembira jika menang, dan mengumpat stiknya jika kalah. Kagami melakukan apa pun asal tidak membuatnya emosi, hingga tidak sadar dia ketiduran di atas karpet.
.
.
Tepat pukul 11 malam, Kagami terbangun dengan leher yang terasa mau patah karena tidur tidak menggunakan bantal. Musik rock berdentang, teriak-teriak dalam sound system yang ia hidupkan untuk menemaninya main game.
Dia berdiri dengan lunglai, mengucek-ngucek matanya yang kelet akan cairan mata yang sudah berubah menjadi belek. Ingin melanjutkan tidurnya, dia melangkah masuk ke dalam kamar dengan tidak sadar.
Setelah berada di dalam, Kagami membuka matanya lebar-lebar. Dia lupa jika sudah diusir oleh Aomine, saat tak sengaja pandangannya tertuju kepada lelaki yang sedang tidur di lantai, meringkuk seperti anak kucing yang kedinginan.
Kagami menghela napas dalam, sebelum dia putuskan bahwa dirinya mungkin terlalu kasar terhadap Aomine. Menendangnya sampai tak kuat berdiri untuk sekedar pindah ke tempat tidur.
"Ao?" Kagami mencoba membangunkannya dengan cara menggoyang tubuh Aomine.
Badannya panas, batin Kagami. "Aho, bangun," katanya lagi. Tak menunggu untuk direspon, dia langsung menarik tangan Aomine sampai sang empu terbangun.
Aomine berkedip-kedip, menormalkan netranya dengan cahaya lampu listrik. Sedikit-sedikit dia bisa melihat wajah seseorang yang sedang berjongkok di depannya. "Baka, gue dingin..." Tuturnya. Merobohkan diri, Kagami sigap menangkapnya. "Siapa suruh nggak pake baju," sahut Kagami.
"Tadi kan gerah," rengeknya. "Pinggang gue sakit."
Kagami mendekap lebih tubuh yang sedang menggigil itu, merasakan kening panas Aomine dipipinya. "Yaudah ayok pindah. Mau gue gendong?"
Aomine menganggukan kepalanya dan melepaskan pelukan. Kagami mengubah posisi dan memberikan punggungnya. Aomine menyambut, dan mulai menempelkan diri ke punggung Kagami. Dengan sekuat tenaga, Kagami mengangkat tubuh lemas itu. Kemudian mendaratkannya di ranjang.
"Tunggu jangan tidur dulu, gue ambilin baju," kata Kagami.
Dia memunguti baju dan sepatu Aomine untuk ditaruh kekeranjang kotor. Lalu langsung melesat kelemari, mengambil baju dan celana bersih. "Pake," katanya. "Masa harus gue juga yang makein."
"Iya. Gue bisa sendiri," kata Aomine lemas. Mulai memakai training yang diberikan Kagami dengan hati-hati, karena pinggangnya sebentar lagi akan copot. Sesekali dia menggerang. Kagami simpati melihat hasil perbuatannya.
"Maaf, habis gue kesel. Lo juga ditelpon nggak diangkat," kata Kagami yang masih berdiri, memperhatikan Aomine memakai baju.
"Gue tadi udah mau ke stasiun cuma abang supirnya kebablasan. Yaudah gue langsungin aja ke rumah lo. Gue males puter balik, kirain lo masih stay di rumah," jelasnya. "Hp gue ketinggalan, Baka. Gimana gue mau ngangkat. Makanya jadi orang jangan langsung emosian. Tanya dulu kan bisa. Tanggung jawab sama pinggang gue."
"Tsk! Terserah. Yang penting gue menang, traktir Majiba tiga hari," kata Kagami tak mau mengakui kesalahan.
"Iya perut karet," ujar Aomine. Merebahkan tubuhnya. Kagami menarik selimut dan ditutupkan ke tubuh Aomine.
"Gue buatin teh jahe, ya. Lo mau makan enggak? Minum obat," tawar Kagami.
"Mau teh jahe. Tapi nggak mau makan."
"Kenapa? Sakit lo mampus. Nggak naik kelas lo, udah nilai nggak ada yang bagus."
"Diem, Baka. Kayak nilai lo bagus aja," Aomine merengut. Menegakkan tubuhnya lagi, Kemudian menarik bibir bawahnya. "Lihat nih, sakit banget. Kepala sakit. Bibir sakit. Ditambah pinggang gue sakit sekarang," jelas Aomine, memperlihatkan bulatan putih kemerahan yang membuat lapisan dibibir dalam Aomine berlubang.
"Halah, sariawan gitu doang manja!" Ejek Kagami. Entah siapa yang menggerakan tangannya, intinya Kagami menekan sariawan Aomine dengan kuat.
"WOIII... SAKIT SETAN!" Teriak Aomine. Memukul tangan Kagami yang menekan sariawannya. "Perih..." Ucapnya lirih. Matanya berkaca-kaca panas, menahan supaya air matanya tidak jatuh.
Kagami bukannya meminta maaf malah terbahak puas langsung dari dalam hati terdalam. "Sini gue obatin," katanya.
Kagami mendekati wajah Aomine. Menyingkirkan tangan Aomine dari bibirnya yang kesakitan. Digantikan dengan sentuhan lembut dari bibirnya.
Kagami menarik bibir bawah Aomine dengan kedua belahan bibirnya sendiri. Menggerakan lidahnya kelubang kecil sariawan Aomine. Melumat, dan menghisapnya pelan.
"Ah!" Aomine memejamkan matanya merasakan sariawannya yang terasa sakit dan perih.
Kagami menarik bibirnya. Tersenyum lebar pada Aomine. "Udah," katanya. "Bentar lagi juga sembuh kok," jelas Kagami.
Aomine menganga. "Ba-Baka! Tadi itu lo cium gue," seru Aomine. Spontan menutup bibirnya dengan kedua tangan.
"Memang. Kan gue ngobatin lo biar cepet sembuh. Lo yang bilang, cium sahabat itu nggak apa-apa," kata Kagami mengibas-ngibaskan tangannya.
Aomine berpikir sejenak sebelum menjawab, "Oh iya." Merebahkan tubuhnya lagi, ada yang aneh. Ada yang berisik di dalam sana. Bunyinya sampai keotak Aomine, JDAG-JDUG. Ah. Mungkin karena tubuhnya sedang panas. Jadi jantungnya bekerja keras.
Dia melihat Kagami yang menjauhinya, menghilang dibibir pintu. Agak merasa bersalah dengan kelakuannya beberapa jam lalu. Mengusir pemiliknya sendiri. Oh, Aomine malu, menyumputkan kepala birunya di dalam selimut tebal.
.
.
Setengah jam kemudian, Kagami balik dengan membawa nampan berisi makanan. "Bangun dulu, Ao."
Aomine bangun. Kagami mengembangkan senyum. Menyerahkan satu gelas teh jahe kepada Aomine. Menyeruput dengan nikmat.
Setelahnya, Kagami memaksa Aomine untuk memakan bubur yang telah dibuat dari bahan bergizi. Aomine tetap menolak dengan keras, sampai mereka harus berebut omong, bertengkar. Walau tubuh Aomine sedang menggigil dia tetap tidak mau kalah.
"Dua suap juga nggak apa-apa, setan!" Decak Kagami.
"Perih, Baka bagsat."
"Jangan nyebarin viruslah di rumah gue. Makan!"
"ENGGAK!"
"Perlu gitu gue suapin."
Aomine memandang Kagami intens. Pura-pura berpikir serius. Lalu menganggukan kepalanya dengan nista.
"Najis lo! Bilang daritadi kalau mau disuapin, nggak perlu pake berantem, ngantuk gue."
Aomine nyengir kuda. Kagami mulai mengaduk-ngaduk buburnya dan menyuapkan kepada Aomine. Lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai suapan kelima Aomine menggelengkan kepalanya.
"Sariawan doang, badan sampe panas. Alay lo!"
"Puas! Ejek aja terus. Namanya orang sakit mana yang tahu."
Kagami hanya mengendikan bahunya. Memberikan sebutir obat, Aomine langsung meminumnya tanpa komentar.
Setelah semuanya selesai dirapikan. Kagami kembali ke kamar dan mendapati Aomine sudah memejamkan matanya. Dia menguap, melihat waktu sudah pukul satu dini hari. Menelusupkan diri ke dalam selimut di samping Aomine.
"Baka dingin..." Rengek Aomine.
"Bawa tidur."
"Tetep dingin..."
"Ya, terus gue harus gimana."
"Sinian..." Kata Aomine. Menarik Kagami lebih mendekat. Memeluknya erat. "Gini," lanjutnya.
Kagami memeluk balik tubuh Aomine yang semakin panas.
…
O
o
O
o
O
…
Hallo jumpa lagi kita. Wahaaaa.. Update malem banget masalahnya baru kelar. Minggu kemarin nggak bisa update filenya kena virus, padahal udah ngetik capek-capek *hiksssss*.
Oh ya, aku udah mulai sibuk sama tugas nih, jadi kalau jarang update maklumin ya. Tapi selalu diusahain, kok. Di chap ini mungkin ceritanya agak ngaur, ya? Ngetik ngebut sih demi kalian *cieeeee* tolong maklumi juga dan saran diterima.
Satu lagi mungkin banyak typo yang menganggu karena nggak sempet ngedit ulang, kebetulan aku juga lagi sakit kayak Aomine tapi bedanya nggak sariawan/curhat.
.
.
Shina BingungAja: Di chap 10 kemarin Cuma bayangan Aomine, di chap 11 beneran tapi Cuma cium pipi. Dan di chap ini super beneran. Hahahahahha.
Guest: Ini Nana, ya? atau siapa? habisnya yang bales "heboh" aku jahilan Nana. Oke, bingung. Iya mereka pasti jadian kok. Hehehe.
Nam Min Seul: Sumpah, aku ngakak baca komentmu huhu..
Melani: Memang Ahobaka. Pengen miara mereka -_-
AoKagaKuroLovers: Maaf ya membuatmu gegana, nih disuguhin yang beneran.
Rie Lyca: Ok taka apa-apa. Sama-sama, syukur kalau terhibur diriku ikut senang.
Fukuzatsuna Ai: Cinta bodoh, aku suka julukannya.
Shirouta: Hai, Shiro. Ini sebenarnya requesanmu yang Kagami maji tenshi. Hehehe walau nggak sesuai harapan, ya? semoga menikmatinya dan terhibur.
Ryuuki Kiroshi: Salam kenal Ryuuki . Tidak apa-apa santai aja. Thanks rifiuwnya ya. Yaps, diusahain. Jangan bosan, oke.
Nana: Hoho, ini update *cium*. Tadi masih diedit walau mungkin masih banyak yang typo. Atau ceritanya aneh karena ketik ngebut.
LOVE AOKAGA
