"Ada yang mau bertanya tentang materi yang baru saja saya jelaskan?" Tanya sensei yang kacamatanya sudah melorot. Midorima Shintarou gatal melihatnya, dia sampai berulang-ulang membenarkan kacamatanya sendiri.

"Saya, sensei..." Kata salah satu murid, mengangkat telunjuknya ke atas.

Murid lain langsung menengok secara bersamaan ke arah yang bersangkutan. Rasa tidak percaya saat suara berat dan dalam itu merespon dengan cepat. Padahal, waktu sensei menjelaskan dia asyik-asyikkan tidur.

"Ya, Aomine-kun?"

"Apa laki-laki bisa terangsang oleh jenisnya sendiri?" Kata Aomine semangat, dia senyum-senyum tanpa dosa berharap pertanyaan yang menurutnya paling pas akan mendapat jawaban yang memuaskan.

"Maksudmu ... lelaki dengan lelaki?" Tanya ulang sensei supaya lebih jelas.

"Iya."

"Cieeee... Suittt... Suitttt..." Tiba-tiba kelas menjadi ramai, memberikan apresiasi kepada Aomine dan seseorang yang duduk di sampingnya. Karena yang mereka tahu dua sejoli itu adalah pasangan hangat yang sedang diperbincangkan abad ini, kalau kalian masih ingat tentang mereka yang dituduh homoan.

What the fuck! Kagami memelototi Aomine tajam.

Jeritan dari para gadis mengembang penuh, mendominasi keadaan dalam kelas. Sensei Biologi yang usianya sudah rentan sampai menutup telinga, kerutan lelah tercipta dikeningnya yang keriput.

Aomine sendiri merasa ikut kebingungan. Apa yang salah dari pertanyaannya?

Seingatnya, materi yang dibahas oleh senseinya beberapa menit yang lalu adalah mengenai Sistem Reproduksi Manusia. Sang empu itu menjelaskan bagaimana susunan alat reproduksi laki-laki dan wanita, sehingga jika keduanya berhubungan intim akan menghasilkan suatu keturunan.

Kenapa mereka bisa berhubungan? Karena ada rangsangan yang ditimbulkan oleh hormon seks yang ada dalam tubuh.

Saat tidur-tiduran Aomine berpikir, errr... Sebenarnya hanya penasaran, lelaki dan perempuan saja bisa saling merangsang. Bagaimana jika lelaki dengan lelaki? Jangan salah paham! Dirinya hanya ingin tahu.

Apa salah jika bertanya? Kata pepatah; malu bertanya sesat di jalan. Ah, tutupi muka, Aomine malu sendiri. Jangan ada yang bertanya, kenapa ia begitu cerdas hari ini. Jika karena ia sarapan susu dan semangkuk sereal tadi pagi, jawaban itu adalah bohong. Bahkan, ia telat bangun. Tidak sempat mandi dan hampir salah pakai seragam.

.

Akashi turun tangan. Matanya mulai hidup menjelajahi isi kelas, dia memberi tekanan ekstra supaya suasana kembali damai.

Tidak usah menunggu menit, di detik ketiga usahanya telah berhasil. Tidak ada lagi gadis yang koar-koar, malah mereka sedang bersimpuh seperti tikus kedinginan.

Tidak ada lagi lelaki yang berisik, karena memang dari awal mereka tidak berisik(?). Setelah itu Akashi mempersilahkan sensei untuk menjawab pertanyaan tidak bermutu Aomine.

"Em ... itu …" Kata sensei, dia tidak melanjutkan kata-katanya. Sepertinya otaknya masih berbelit untuk mendapat jawaban yang benar supaya anak muridnya tidak salah paham. Dia menaikkan kacamatanya yang hampir mau jatuh.

Midorima mengelus dada lega. Hampir saja bokongnya terangkat untuk maju ke depan kemudian membetulkan kacamata sensei itu. Ah, bukannya dia peduli atau apa, hanya saja mengganggu eksistensinya sebagai golongan berkacamata.

Sensei itu berdiri dari kursinya, berjalan sedikit kearah meja siswa. "Aomine-kun, saya rasa laki-laki tidak akan terangsang oleh sesamanya, karena hormon mereka sama. Kenapa pasangan beda jenis bisa terangsang? Itu karena hormon mereka yang berbeda kemudian mereka saling melengkapi, saling menarik satu sama lain. Paham?" Jelas sensei dengan pajang lebar, menatap wajah Aomine dengan teliti dan mata yang dibesar-besarkan.

Aomine mengangguk-agukkan kepalanya sudah seperti orang yang pro. "Bagaimana kalau tidak usah pakai hormon. Pakai cinta kan bisa. Lagipula, saya tidak paham apa itu hor- Awwww... Sakit Baka!" Pekik Aomine, memegangi kepalanya yang serasa benjol karena ditimpuk dengan tempat pensil yang terbuat dari bahan Almunium.

"Lo bisa diem, nggak!" Sentak Kagami.

"Kagamicchi, kotak pensilku," sergah Kise sembari cemberut, dia berjalan mendekati meja Aomine dan mengambil tempat pensilnya yang tergeletak tak sadarkan diri(?).

"Kagami-kun, tidak boleh melakukan kekerasan terhadap temanmu sendiri!" Nasehat sensei.

"HUUUU... KAGAMIII..." Teman-temannya sekelas bersorak ria menyalahkannya, dan yang paling jelas terdengar adalah suara Aomine. Kagami berharap ada dewa lewat dan langsung membawanya terbang.

"Sudah cukup berguraunya!" Titah sang sensei yang sedikit merasa kesal. "Ada tugas untuk kalian, kerjakan, buat sebuah makalah, dan minggu depan presentasi," lanjutnya.

Para siswa mulai berbisik-bisik, mengomel sendiri, mengeluarkan notebook untuk mencatat tugas yang diberikan.

"Meja bagian kanan, silahkan buat sebuah makalah tentang sistem reproduksi wanita, dan meja bagian kiri tentang sistem reproduksi pria," katanya. "Kerjakan bersama dengan teman di samping kalian masing-masing."

Para siswa mulai menolehkan kepala, mencari tahu siapa sosok yang akan menjadi teman kelompoknya.

"Baka, kita dapet yang sistem reproduksi pria," kata Aomine semangat tingkat tinggi. Sedangkan yang diajak bicara hanya menyangga dagunnya tak peduli.

"Untuk Aomine-kun dan Kagami-kun, kalian jangan bekerja sama."

Suara sensei yang terkoar mampu mengheningkan suasana kelas dari heboh yang melanda.

"Akashi-kun, kuharap kau mau bekerja sama dengan Kagami-kun, dan Midorima-kun kau bekerja sama dengan Aomine-kun," katanya. "Tolong bimbing mereka yang benar."

Midorima dan Akashi diam membatu, membentuk wajahnya sama seperti Kuroko, datar.

Kagami menegakkan tubuh, telingannya berdiri. Berharap sensei tadi salah bicara, apa jadinya dia bekerja sama dengan Akashi. Please! Dia masih sayang burger. Bagaimana kalau nanti perutnya didedel oleh Akashi dengan gunting sakti, lalu Akashi mengambil semua burger yang telah dimakan olehnya. Kagami tidak bisa membayangkan!

Kagami melirik kawan sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Aomine. Dia sedang jatuh pandang dengan Midorima yang berada dimeja kedua paling depan.

"Sensei, kita itu jangan dipisahkan," koar Aomine pada akhirnya. "Nanti kita bisa mati."

"Ha?" Mata kanan sensei berkedut.

"Kita itu seperti hormon yang saling melengkapi, dan saling menarik satu sama lain. Kalau seandainya memakai perbandingan; saya hormon laki-laki, dan Kagami hormon perempuannya. Kita saling membutuhkan.. " Jelas Aomine.

Semua murid tidak ada yang tidak terbahak termasuk Kuroko dan Midorima. Walaupun tertawa mereka tidak sampai dua detik.

Sensei Jawdropped.

Kagami membenturkan kepalanya ke meja, entah dari mana Aomine mendapat kata-kata tak berguna itu. Dia memang ingin diselamatkan, tapi bukan begitu juga caranya. Apa-apaan, dengan sebutan kalau dirinya sama dengan hormon perempuan. Ya, meski dia suka masak, bukan berarti laki-laki pintar masak enak sepertinya punya hormon perempuan.

Kagami, tadi itu hanya sebagai perandaian, lho? Terserah! Dia tetap tidak terima.

.

Waktu masih berjalan tanpa kendali. Ketika Kagami masih larut dalam lamunannya, tentang hukuman apa yang akan dia berikan terhadap Aomine. Dan di sana Aomine sedang berdebat panas dengan sensei Biologinya. Dia masih mempertahankan pendapatnya, jika dia dan Kagami tidak boleh dipisahkan.

Kalian tahu, Aomine itu type manusia keras kepala. Dia tidak akan kalah hanya karena orang yang diladeninya sudah renta usia. Tidak pandang bulu, mau dengan bayi sekalipun Aomine harus bisa mempertahankan argumentnya.

Akashi tidak berani melerai, karena ia sudah sakit kepala duluan. Sepuluh menit hilang untuk mengeluarkan jutaan huruf yang terangkai. Lama-lama sensei sakit jantung, daripada dia pulang langsung masuk rumah sakit, akhirnya dia mengalah. Mungkin dia ditakdirkan untuk itu, dan andaikata Aomine dan Kagami mendapat nilai kecil, dia tinggal menambahkan kata TIDAK dibelakang kata LULUS!

Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman–teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.

.

AoKaga

"Malam Minggu AoKagazone: Ahomine"

By : Zokashime

O

o

O

o

O

Buku berserakan di mana-mana; mulai dari buku paket, buku catatan, buku khusus tentang reproduksi manusia, dan buku yang gambarnya Mai-chan dengan dada yang super pun ada. Katanya sih supaya Aomine bisa semangat mengerjakan tugas.

Iya, Kagami dan Aomine sedang sesi pusing-pusingan di hari Sabtu sorenya yang biasa mereka habiskan untuk bermain basket, atau main game. Mereka sedang mengerjakan tugas dari sensei Biologinya yang memerintahkan untuk membuat makalah tentang Sistem Reproduksi Pria.

Semua ini memang gara-gara Aomine. Dia terikat janji dengan sensei saat perdebatan panas minggu lalu. Bahwasanya, jika mereka dijadikan satu kelompok, Aomine berjanji akan membuat makalahnya sebaik mungkin, dan maju pertama saat presentasi.

Sok-sokan, kan? Memang. Kagami jengkel sampai sekarang. Jadinya mereka harus benar-benar serius mengerjakan tugas laknat ini. Konsekuensinya jika tidak bagus, mereka tidak akan diluluskan sampai akhir pada mata pelajaran Biologi.

Entah mengapa Aomine itu hobi menyusahkan diri sendiri, pikiran Kagami habis untuk mengerti itu.

Lihat, kan sekarang? Sok sibuk. Presentasi hari Senin pagi, tapi satu kalimatpun belum tertulis dimakalah. Belum lagi membuat powerpointnya. Paham saja tidak tentang materinya, bagaimana mau mengerjakan. Walau buku berserakan, sudah dipelajari sampai otak rasanya mau keluar tetap saja buntu.

Kagami membalik lembaran berikutnya dari buku paket Biologi yang dia baca dengan mata yang sudah merem melek. Begitu pula dengan Aomine yang sedang mempelajari materi-materi dari internet sebagai tambahan.

Poni rambut mereka dijepit ke belakang supaya tidak mengganggu. Mereka mendapatkan jepitan itu setelah Aomine mengacak-acak alat kosmetik ibunya.

"Udahan yo Aho, gue mau muntah rasanya," kata Kagami membanting buku paketan kekepala Aomine.

"Sakit bangsat!" decak Aomine. "Lo mau nggak lulus, ha?"

"Lagian lo ngapain sih sok-sokan buat perjanjian, udah tahu punya otak pas-pasan. Mending pas-pasan, inimah di bawah pas-pasan."

"Diem lo, bacot aja. Harusnya lo berterima kasih sama gue, karena gue, kita nggak jadi dipisahin," cuap Aomine gantian melempar Kagami dengan buku.

"Tau gini mending gue sama Akashi."

"SANA PERGI!" bentak Aomine.

"LO KOK BENTAK GUE!"

Oke, mungkin karena sering bertengkar, jadi masalah apa pun, seserius apa pun, memang harus diselingi dengan perdebatan yang hanya akan membuang energy menurut orang pintar.

Mereka bergulat guling-guling di atas serakan buku-buku. Kaki Aomine dikemaluan Kagami, dan kaki Kagami dikemaluan Aomine. Mereka saling injak-menginjak titit. Teriak-teriak bersama, merasakan sakit bersama.

Setelah puas saling menginjak titit, mereka saling jambak-jambakan, entah mengapa terlihat seperti dua anak perempaun yang sedang memperebutkan pacar. Setengah jam berlalu hanya untuk saling menyiksa diri.

.

"CAPEKKKK!" kata keduanya ngos-ngosan. Mengatur napas masing-masing.

"Sakit banget, Baka," kata Aomine mengusap-usap kemaluannya. "Lo kasar banget nginjeknya, kalau anu gue rusak, terus gue nggak punya anak gimana, huh?" tanyanya sembari menjitak kepala Kagami.

"Lo kira punya gue nggak sakit!" balas Kagami dengan wajah sangar. "Gue rasa bengkak, nih."

"Bengkak? Mana lihat!"

Kagami mengaplok kepala Aomine kuat. "Lo punya sendiri, nggak usah liat-liat punya gue!"

"Pelit amat!"

Kagami tidak menghiraukan ocehan Aomine yang tak berguna. Dia kembali membuka buku dan mulai membaca-baca. Aomine mengikutinya dengan membaca buku khusus Reproduksi Manusia. Kagami sampai terperanjat saat lelaki di sampingnya tertawa dengan tidak kira-kira.

"HAHAHA…. Ternyata jelek banget gambar alat kelamin laki-laki di sini," oceh Aomine. "Gue rasa yang buat bukunya nggak bisa gambar. Masa penisnya kecil banget."

"Ya, namanya juga gambar di buku. Masa iya harus nyamain gede kayak dikenyataan," cerca Kagami.

"Mungkin punya lo juga gedenya Cuma segini," kata Aomine, menunjukkan gambar susunan reproduksi pria kepada Kagami.

"Enak aja! Emangnya gue anak 10 tahun," protes Kagami tidak terima. "Punya gue gede, punya lo kali yang kecil."

"Gede dari mana?" tanya Kagami sambil melirik anu Kagami. "Keliatan gede aja enggak! Punya gue sih jelas gede."

Kagami menendang wajah Aomine sampai empunya terjengkang. "NGGAK DILIATIN JUGA KALI AHOMINE BANGSAT!"

Kembali lagi kesesi berdebat, kali ini mereka memperdebatkan tentang anu mereka yang katanya gede. Tidak ada yang mau mengalah walau sampai Akashi jadi tinggi atau Murasakibara jadi cebol.

Aomine manarik-narik kolor Kagami dengan paksa. Sementara Kagami dengan perjuangan penuh mempertahankannya.

Kagami itu labil, menurut Aomine. Dia jadi kesal. Katanya punya dia besar, tapi giliran Aomine mau lihat tidak boleh. Padahal, Aomine juga mau menunjukkan kepunyaannya jika Kagami mau memberi tahukan duluan miliknya. Kalau hanya Aomine yang memperlihatkan itu kan tidak adil.

"NAJISS! Siapa juga yang mau lihat punya lo, setan!" teriak Kagami yang masih mempertahankan kolornya, berasa mau diperkosa.

"Emang kenapa sih? Kan sama-sama laki."

"Lepasin gue, Aho tolol!" Gemas, Kagami memukul kepala Aomine dengan gelas beling yang beberapa jam lalu dibuat untuk minum.

"Auuu…" erang Aomine mengusap pucuk kepalanya sayang. Dia menjauh dari Kagami, takutnya sebentar lagi piring yang akan dipukulkan kekepalanya.

"Udahlah Aho, jangan buang waktu terus. Ayo kita kerjain makalahnya, buka laptop lo."

Aomine menurut mengambil laptopnya cepat dan menghidupkannya. Membuka aplikasi words yang telah tersedia. "Apa yang mau di ketik?" tanya Aomine.

"Oke, dikte ya."

"Alat kelamin laki-laki menghasilkan gamet jantan (spermatozoa). Alat kelamin laki-laki itu di bagi menjadi dua; luar dan dalam. Yang luar itu dinamakan penis yang fungsinya sebagai alat kopulasi (persetubuhan) dan bla bla bla….."

Begitulah pada akhirnya, Kagami yang mendikte dan Aomine yang mengetik. Atau gantian, Aomine yang mendikte dan Kagami yang mengetik. Bedanya Aomine banyak tanya dan banyak omong itu artinya banyak yang di bahas.

"Oooohhhh… yang dua telur di bawah penis lo itu namanya testis, Baka."

"Gue? Punya lo ada."

"Ya iyalah. Masa gue nggak punya, nanti gue nggak bisa menghasilkan sperma."

"Yaudahlah cepetan diktein apa yang harus gue ketik, sialan. Gue capek nih mau istirahat."

"Yaudah sih tinggal istirahat dulu."

Kagami menghela napas lelah. Aomine kadang-kadang memang minta di bunuh. Dia menyimpan words yang sudah berhasil diketik dan menjauhkan laptop itu darinya, kemudian merubuhkan diri, berbaring. Mencari ponselnya untuk bermain game.

.

"Baka, kalau lo udah gede mau punya anak?" kata Aomine yang tiduran di samping Kagami setelah lelah memahami tentang apa itu Vesikulas seminalis, Kelenjar prostat dan teman-temannya.

Kagami sukses menghentikan permainan gamenya dan menoleh ke arah Aomine yang sedang nyengir. Kagami menutup wajah jelek Aomine dengan tangannya. "Kalau uda gede? Lo kira gue sekarang masih kecil, gitu?"

"Iya. Sekarang memang lo masih kecil, punya pacar aja enggak."

"Oh. Jadi kalau belum punya pacar itu namanya masih kecil, ya?"

"Iya," kata Aomine singkat sembari menyingkirkan telapak tangan Kagami dari wajahnya.

"Yaudah pacar gue kan elo," ceplos Kagami.

"Kalau kita pacaran, terus nanti nikah. Lo nggak akan bisa punya anaklah."

"Songong! Siapa juga yang mau nikah sama elo," jawab Kagami. "Gue mau nikah sama cewek cantik, nanti anak gue cowok biar bisa main basket.

"Jadi lo mau ninggalin gue sama cabe-cabean, Baka."

Kagami terbahak tidak kuat menahan geli. Apa coba masih SMA sudah membahas tentang anak. Yang Kagami tahu sekarang hanya tentang basket, jadi saat membicarakan diluar dari itu rasanya geli sendiri.

"Baka?" panggil Aomine.

"Hem," jawab Kagami, menoleh dan menatap yang memanggilnya lekat-lekat.

"Emuuacchh….." Aomine berhasil menempelkan bibirnya kebibir Kagami, singkat. Dan dia tersenyum lebar seakan baru saja mendapatkan sesuatu yang paling berharga.

Kagami masih menatap Aomine bingung, entah sepertinya ada yang loncat-loncat di dalam sana.

.

Brak!

"Dai-channnnnnnn….." Teriak cempreng Momoi Satsuki yang datang-datang mendobrak pintu kamar. Aomine dan Kagami langsung menegakkan badan saking kagetnya.

"Satsuki, bisa kan tidak teriak," kata Aomine kesal.

"Heheheh…. maaf," cengir Satsuki. "Ada Kagamin, kalian sedang malam mingguan, ya?"

"Palamu malam mingguan, tidak lihat kita sedang mengerjakan tugas."

Satsuki memutar kepalanya, menelisik seluruh ruangan kamar Aomine dengan seksama, kemudian dia menganguk-angguk. Agak sedikit heran sih. Eeee... Tumben saja begitu lho. Biasanya duo idiot itu tahunya kalau tidak basket ya makan, atau mempermalukan diri ditempat ramai.

"Memang sedang mengerjakan tugas apa?" Tanya Satsuki berharap rasa penasarannya terjawab.

"Tugas Biologi," jawab Kagami. "Tentang sistem reproduksi."

"O... Kelas kalian Biologinya baru sampai situ, aku sudah lewat dong," katanya sembari mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang.

"Jadi sudah selesai buat makalah?" Tanya Aomine antusias.

Satsuki mengangguk.

"Mana lihat,"

"Tuh di laptop," tunjuk Satsuki ke arah tasnya yang penuh dengan bulu-bulu. "Dai-chan, aku ke sini mau minta diantarkan kesuatu tempat, lho."

Aomine membongkar tas Satsuki dengan cepat. Mengeluarkan laptop sewarna dengan rambut pemiliknya. "Kesuatu tempat ke mana? Ke kuburan? Nggak mau udah malem."

"Siapa yang mau ke kuburan sih. Adalah pokoknya, antar saja."

"Nantilah aku masih mau mengerjakan tugas dulu."

Sastuki sedikit cemberut mendengar jawaban dari sahabat kecilnya. "Aku numpang mandi ya, Dai-chan."

Aomine tidak merespon karena terlalu sibuk mencari makalah yang dimaksud. Satsuki pergi begitu saja walau belum mendapat izin, toh dia sudah biasa di sini. Sering nginap, makan, mandi apa pun sudah seperti rumah sendiri.

.

"Ketemu," gumam Aomine gembira. "Ada vidionya. Baka, lihat ini," kata Aomine membawa laptop pink itu ke hadapan Kagami.

Mereka melihat vidio yang menjelaskan tentang bagaimana hormon-hormon bekerja di dalam sistem reproduksi laki-laki. Mulai dari terangsang sampai mengeluarkan suatu cairan. Aomine tertawa sampai guling-guling, Kagami hanya bengong keheranan, apanya yang lucu dari vidio ini. Ada saat di mana Aomine kehabisan obat.

"Pindahin Baka, vidionya," kata Aomine.

"Yaudah sana pindahin, kan lo yang tahu."

"Mana FD?"

"Nggak bawa. Lo nggak punya?"

"Ada. Tapi entah udah ke mana," katanya. Aomine lagi-lagi mengacak isi tas Satsuki. Tidak lama untuknya menemukan sebuah FD yang warnanya sama saja, pink. Dan dilengkapi dengan gantungan Hello Kitty. "Untung kulit lo nggak keikutin pink," seru Aomine. Kemudian menyambungkan ke laptop.

DAN OH WOW!

Aomine tidak berkedip, mulut menganga. Kagami speechless. Mereka menemukan sesuatu di dalam FD itu.

"Baka, mereka lagi ngapain?" Tanya Aomine menunjuk gambar sesama lelaki sedang saling tindih dengan memperlihatkan kepunyaannya.

"Lagi..." Kagami tidak melanjutkan perkataannya, dia biarkan menggantung di udara. Matanya yang merah bata terlalu sibuk memperhatikan gambar-gambar yang ada dilayar laptop.

Tangan Aomine gatal, membuka folder vidio dan memplay satu file yang berjudul threesome. Aomine dan Kagami dengan wajah datar tak berkedip memandang tiga laki-laki bule sedang Ah! Ah! Ah!

Saat adegan saling tusuk Aomine dan Kagami berpandangan meminta penjelasan, dan keduanya geleng kepala.

.

"Dai-chann..." Panggil Satsuki dari luar yang suaranya sudah mau dekat.

Keduanya gelagapan.

"Matiin, Baka!" Perintah Aomine gemetaran.

"I-iya." Kagami mengarahkan kursornya untuk mematikan vidio itu. "Enggak bisaaaa... Laptopnya macet... Laptopnya macet...!"

.

"Lalalalala..." Satsuki bernyanyi-nyanyi riang gembira.

"Ah! Ah! Ah!" Suara vidio.

"Su-Suaranya kecilin suaranya..." Kata Aomine

"Gimana kursornya aja nggak mau jalan, lo jangan buat panik dong, bego," omel Kagami yang tangannya sudah ikut gemetaran. "Gimana ini..."

"Arrrrghhhh sinii..." Rebut Aomine.

"Hem...hem...hem..." Satsuki semakin dekat.

"Ah! Ah! Ah!"

"Ambil bantal Baka, ambil bantal,"

"Buat apa?"

"Buat tutupin laptopnya, biar suara apalah itu nggak kedengeran lagi."

"Rusaklah laptopnya..."

Dengan panik yang semakin menguar, takut ketahuan Satsuki. Keduanya mengumpat laptop yang tak bisa diandalkan saat-saat genting seperti ini.

Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya kursornya mau berjalan lagi. Hentakkan kaki Satsuki sudah semakin dekat, sepertinya dia sudah mau masuk kamar. Aomine dan Kagami bingung harus melakukan apa.

"EJECT BAKAGAMI...!"

"IYAAAA...!"

"Sini gue ajalah, lama lo..." Dengan kesok tahuan Aomine ditambah kepanikan yang melanda dia berhasil mengeluarkan FD itu dari laptop.

"HAH ITU BUKAN LO EJECT TAPI LO FORM-"

"Dai-chan, Kagamin, kalian kenapa?" Tanya Satsuki dengan rambut basahnya yang dilap pakai handuk kecil.

Keduanya nyengir kuda. Membuat Satsuki keheranan. Dan bodohnya Aomine yang masih memegang FD itu.

"I-itu FDku kan, ya?" Tunjuk Satsuki ke tangan Aomine.

Aomine kaget dan langsung melempar FD itu ke belakang. Satsuki semakin heran. Dia berjalan ke arah belakang mengambil FD dengan gantungan Hello Kittynya yang tergeletak kasian. Aomine dan Kagami saling sikut.

"Kalian ... Tidak membuka FDku, kan?" Tanya Satsuki ragu.

Aomine dan Kagami duduk menunduk. Diam seribu bahasa. Entah apa yang ditakuti dari Satsuki, intinya mereka panas dingin.

Satsuki menatap keduanya bergantian dengan intens, diambilnya laptop pink yang masih menyala dari tumpukan buku yang berserakan. Mencolokan FDnya untuk mengecek sesuatu. Dan jangan tunggu menit, didetik itu juga satsuki, "AAAAAAA..." Jeritnya. "HILANG!" Katanya.

Aomine bengong, sedangkan Kagami tertunduk lesu.

"Kalian apakan FDnya, hah?" Satsuki misoh-misoh seperti ulat bulu kepanasan.

"I-itu tadi..."

"Lo format tadi bego, bukan lo eject," bisik Kagami ke Aomine.

"WAAAA... FITNAH LO BAKA!"

Rasanya Kagami ingin menyumpel mulut Aomine dengan celana dalam para lelaki yang ada dalam vidio tadi, serius.

"Nggak ada isinya! Dai-chaannn! Kau apakan FDku..." Suara Satsuki mulai parau.

"A-aku eject kok tadi,"

"Tapi tidak ada, kau format ya?"

"Si Baka... Si Baka..."

"Kok lo nyalahin gue, kan elo yang format!"

Satsuki menatap Aomine tajam untuk kemudian langsung menangis kejer-kejer.

"Mampus kita!" Kata Aomine menepuk jidatnya.

"Kami minta maaf okey, tidak sengaja Satsuki."

"ENGGAK!" Katanya dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.

"Nanti kita download lagi deh."

"Nggak ada di internet..."

Aomine dan Kagami bingung dan saling menyalahkan, sedangkan Satsuki makin mengencangkan tangisannya. Aomine mencoba membujuk dengan segala macam cara tapi Satsuki masih tidak mau diam.

Kagami diperintahkan untuk membeli permen, dengan sigap ia langsung berlari dan membeli permen sebanyak-banyaknya. Setelah itu diberikan kepada Satsuki. Yang pada akhirnya, bukannya Satsuki diam malah tambah menangis karena merasa terejek anak kecil.

Kagami masak nasi goreng dengan telur mata sapi. Dikreasi sedemikian rupa sebagai permintaan maaf. Tapi sayang Satsuki masih tetap tidak mau. Nasi goreng itu habis di makan Aomine dengan songongnya, Kagami tidak dibagi. Aomine semakin pusing, Satsuki memang susah didiamkan jika sudah menangis. Mamanya ngidam apa, sih?

"Satsuki, udah nangisnya," Kata Aomine. "Kita bakal ngelakuin apa pun deh, tapi udahan nangisnya, berisik."

Satsuki makin guling-guling. Aomine terkena sikutan Kagami. "Iya, kami minta maaf, kami akan melakukan apa pun," kata Kagami ikut membujuk.

"Apa pun... Hiks..."

"Ya, apa pun."

"Dai-chann juga.."

Aomine mengangguk lemah. Satsuki menyeka air matanya, perlahan dia tersenyum lebih tepatnya menyeringai. Kagami langsung ngeri melihatnya.

"Janji?" Kata Satsuki.

"Iya, janji, sumpah," jawab Aomine.

"Oke."

Satsuki menari-menari tidak jelas. Bernyanyi riang gembira dan mengambil kameranya dari dalam tas.

Aomine dan Kagami yang duduk dikarpet hanya memperhatikan, ada apa dengan otak gadis berdada wow itu.

"Satsuki, bukannya tadi mau dianter ke suatu tempat?" Tanya Aomine.

"Nggak jadi, kayaknya yang ini lebih seru. Dai-chan dan Kagamin akan menjadi modelku malam ini."

Aomine merasakan hawa tidak enak. "Model?"

"Iya, model. Kalian tadi sudah bersumpah, kan? Karena kalian sudah menghilangkan fileku yang sangat berharga, jadi aku akan menjadikan kalian model..." Satsuki tidak melanjutkan perkataannya dia menyeringai tajam menatap Aomine dan Kagami bergantian. Keduanya merinding.

.

Kamera sudah siap. Langkah pertama yang dilakukan Satsuki adalah memerintahkan Aomine dan Kagami untuk berpelukan. Mereka sih sudah biasa berpelukan jadi ya tak masalah. Ketika mereka sedang berpelukan Satsuki dengan indahnya memotret dari segala arah. Kagami risih, sumpah.

"Ao, peluknya nggak kenceng juga kali," protes Kagami.

Setelah pelukan sambil berdiri, Satsuki memerintahkan pelukan sambil duduk.

"Dai-chan, kakinya selonjoran aja. Nah, begitu. Kagamin duduk dipaha Dai-chan."

Kagami begong tak mengerti.

"Kagamin cepat duduk dipaha, Daiichan."

"Cepetlah Baka, biar selesai."

"Apa sih! Lo itu daritadi nafsu banget," kata Kagami. Dengan kasar dia mendaratkan pantatnya dipaha Aomine.

"Pelan-pelan woi! Patah tulang paha gue,"

"Bodo amat!"

Aomine menatap Kagami yang mempunyai posisi lebih tinggi darinya. Menarik kedua tangan Kagami untuk dilingkarkan kelehernya. Satsuki mulai memotret. Begitu selanjutnya, macam-macam pelukan diperagakan. Tulang Kagami agaknya mau patah.

Selanjutnya Satsuki memerintahkan mereka berdua untuk membuka baju. Awalnya mereka menolak, tapi satsuki mengancam akan menangis lagi. Mereka terpaksa buka baju. Berdiri sejajar dan Satsuki memotret.

.

Dua jam Aomine dan Kagami menjadi model dadakan Satsuki. Sekarang mereka tepar di atas kasur. Setelah mendapat foto yang diinginkan, Satsuki langsung pamit begitu saja. Katanya sudah malam, jadi dia harus pulang.

.

"Semua ini memang gara-gara lo, Aho," kata Kagami uring-uringan.

"Kok gue, sih!"

"Iyalah, pertama lo udah buat perjanjian sama sensei itu, dan apa sekarang? Makalah aja belum jadi, karena lo format file tuh si Momoi. Difoto-foto nggak jelas, suruh pose ini itu, kalau fotonya kesebar, gimana?"

"Kita bunuh Satsuki kalau dia berani nyebarin foto kita."

"Halah."

Ugh, mimpi apa Kagami semalam sampai harus jadi model aneh-aneh Satsuki. Rasanya gondok. Kesal terhadap diri sendiri juga Aomine. Dalangnya memang Aomine, Aomine, dan Aomine.

Aomine memutar bola mata, sedari tadi Kagami berisik. Mengomel sendiri, menyalahkannya. Kalau sudah terjadi itu ya sudah, tak perlu diungkit. Dia juga lelah kok, bukan hanya Kagami seorang.

Aomine berbalik menghadap Kagami yang sedang mengoceh ala emak-emak kekurangan duit belanja, atau emak-emak yang marah karena celana dalemnya lupa tidak ke angkat.

"DIEM NGGAK LO, BERISIK!" Kata Aomine menyumpal mulut Kagami dengan bibirnya.

O

o

O

o

O

Selamat malam minggu. Selamat bersenang-senang untuk yang diapelin sama doi. Selamat bersedih untuk yang jomlo *hahahahahanggkasadardiri*. Dan selamat berpusing ria untuk yang tetap mengerjakan tugas walau malem minggu *palainihampirmeledak*

Semoga terhibur, ya.

.

.

AoKaga Riren gurenshin LOVERS: Nah, ini udah greget belum? Kissunya ada kok wkwkwk. Semoga terhibur, ya.

Nana: Nggak jadi bikin AoKaganya jadian hahahaha *canda*. Wah, aku cinta ff ini nggak bakal discount kok. Kalau double chap kayaknya mah nggak bisa deh, heheh maaf ya. mungkin nanti kalau nggak sempet updet fanfictnya dipanjangin aja, okey.

Melani: Iya mereka memang ngangenin, sampe kebawa mimpi.

Nam Min Seul: Hahah sariawan membawa berkah. Sakit mah iya.

AoKagaKuroLover: Yaudah nanti setiap chap Kissu aja deh, hahahh

AnnaCitra2748: Hallo salam kenal juga Anna. Yeyeyeyey AoKaga shipper lagi. Hehe mungkin bener terlalu cepet, soalnya kemarin ngetiknya cepet-cepet dan lagi sakit pula. Ohya? Mari sebarkan virus-virus AoKaga. Thanks ya rifiunya, jangan bosen baca lho, ditunggu rifiunya lagi hehe.

Ryuuki Kiroshi: chapter ini wow engggak? Hahah. Makasih ya Ryuuki.

Sakurahikaru16: Gimana lanjutannya?

Fukuzatsuna Ai: Aomine memang sesat hihihi.

.

Salam Couple Idiot's