Huhuhuu, baru upload subuh-subuh. Bukan Malem Minggu namanya, tapi sayang kalau nggak diupload. Aku sudah berjuang keras membuat ini, disela banyaknya tugas yang membludak tidak tahu diri. Otak ini sungguh diperas sampai rasanya ngebul.

Dibuatnya hari Sabtu sudah sore pula. Dan aku tipe orang yang nulisnya sambil mainan untuk mendapatkan feel, jadinya lama, sambil nonton, mainan hp, atau makan, yang penting mainan. 6k words aja sampe malem baru selesai.

WARNING KERAS! Jangan kaget kalau banyak typo, sungguh tidak di edit, diri ini sudah sangat lelah, percayalah.

Yosh, enjoy!

Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman–teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

.

AoKaga

"Malam Minggu AoKagazone: Perpisahan"

By : Zokashime

O

o

O

o

O

Netra safir itu dibuat bekerja untuk memandang bangunan tinggi bertingkat di hadapannya. Kedua tangan masuk ke dalam saku jaket. Aomine menyungingkan senyum pahit, melenggang masuk lewat gerbang yang terbuka lebar.

Security tersenyum simpul kepadanya, Aomine membalas. Mungkin dia sudah tak asing dengan dirinya yang hampir tak pernah absen yang namanya berkunjung ke salah satu apartemen di sini.

Langkah kaki dipercepat, saraf simpatis mulai bekerja di daerah jantung. Dia berhenti di kamar nomor 105. Tak perlu ketuk pintu, atau menunggu seseorang, dia mengeluarkan gantungan kecil dari saku.

Kunci. Dia memasukkan kelubang kecil sampai pintu bisa terbuka. Masuk tanpa salam karena sudah biasa dan selalu menganggap itu rumahnya, yang mungkin takkan lama lagi.

Aomine masih dalam mode bisunya, tak memanggil nama pemilik apartemen seperti yang biasa dia lakukan. Sepi. Sunyi. Dia tahu di mana sang empu. Masuk ke dalam kamar yang sudah hapal diluar kepala, mulai dari cat tembok, semua isi, sampai bau wanginya.

Aomine menarik bibirnya beberapa senti, memandang kontur yang sedang mendengkur di atas busa berlapis sprai merah. Memandang siluet itu dari jarak dua meter.

Persona indah di hadapannya sedang tertidur pulas, dengan kaus oblong dan celana boxer tanpa selimut. Ujung kausnya menyibak sedikit, memperlihatkan kulit perut dan pusar. Aomine terkekeh dalam hati, si Bakanya serasa sangat sexi.

Ada rasa jahil yang datang ketika itu, ingin rasanya dia menggelitiki perut yang ter-ekspose liar, tapi niatnya diurungkan, karena dia sadar mungkin ini yang terakhir.

Dari rambut yang dark red, ada sedikit hitam di bawahnya. Hahaha, Aomine selalu suka gaya rambut itu, apalagi kalau dia sedang semangat bermain basket dengannya. Rambut yang basah akan keringat, itu menambah daya keren seorang Kagami Taiga, walau hanya menurutnya.

Turun kealis yang bercabang. Sampai sekarang Aomine masih belum paham ada manusia dengan alis yang sebegitu uniknya. Kalau nanti kuliah, saat tugas akhir dia akan mengambil sample Kagami, akan meneliti kelebihan hormon apa anak satu itu.

Bola mata krimson yang biasa melihatnya dengan jeli nan jutek sekarang tertutupi kulit dengan sempurna. Kapan Aomine akan melihat bola mata itu lagi. Mendengus, mungkin itu yang bisa dia lakukan.

Bulu mata yang lumayan lentik. Hidung yang mancung, pipi kenyal yang sewarna madu tanpa noda, bersih. Aomine tersenyum, jantungnya mulai berisik, ingat saat dia mendaratkan bibirnya di sana.

Mulut kecil merah tertutup rapat. Hem. Terngiang umpatan kejam yang selalu dilontarkan kepadanya. Leher yang jenjang, bahu yang lebar. Otot tangan yang terbentuk. Dada yang konstan, naik turun seirama. Tubuh, kakinya, semuanya sempurna, Aomine rasa dia jatuh cinta.

Sedikit demi sedikit Aomine melangkah maju, memperkecil jarak. Duduk di samping pemuda yang asyik bergelut dengan dunia mimpinya. Aomine ingin tahu mimpi apa itu.

Heran, ya? Biasanya Aomine hobi menganggu Kagami yang sedang tertidur pulas. Mencari segala cara supaya manusia itu bangun. Tapi sekarang tangannya tidak sanggup. Biarkan dia tenang, anggap ini yang terakhir.

Aomine masih tidak lepas pandang dari wajah itu. Ah, dia tidak puas. Mendekatkan dirinya ke wajah Kagami, sekarang wajah mereka hanya ada ruang sekitar tiga senti.

Sebegitu dekatnya. Aomine sampai bisa melihat urat pipi Kagami yang biru. Mendengar hembusan napas yang keluar. Aomine agak merasa sesak.

Mengarahkan bibirnya ke bawah sedikit, mengecup lembut bibir yang sedang diam tak bergerak.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Detik-detik. Sampai detik ke enambelas dia menarik jauh bibirnya. Tersenyum lembut, setelahnya.

Ciuman sahabat yang tak akan dia lupakan seumur hidup, rasanya manis. Sumpah, serius, beneran. Senyumnya runtuh, ketika mengingat kalau mungkin ini terkahir kali cium sahabat.

.

.

.

.

Kelopak mata dibuka. Menyembul bola kecil sewarna burung kardinal, berkedip-kedip menyesuaikan dengan pantulan sinar cahaya matahari sore dan udara yang mengandung gas. Telapak tangannya berasa aneh, seperti ada sesuatu di sana. Erat, sampai kesemutan.

Kagami Taiga, si Aho biasa memanggilnya, Baka. Menengok kearah samping dan mendapati seekor berbulu hitam sedang tertidur lelap. Dia mengernyit, aneh. Melihat tangannya yang digenggam erat oleh Aomine.

Oke, sejak kapan Aomine datang dan tidur di sampingnya. Kagami sakit kepala, maklum nyawanya belum terkumpul sepenuhnya jadi agak telat mikir.

Kagami melepaskan genggaman tangan itu yang terasa kaku, lalu menegakkan tubuhnya. "Aho," gumamnya.

Aomine membuka mata mendengar namanya disebut walau dengan suara Kagami yang pelan. Mata biru tua itu, menatap Kagami lekat. "Udah bangun," katanya.

"Lo dari kapan di sini, ha?" tanya Kagami dengan wajah jutek mode on.

"Dari kapan, ya?" pikir Aomine, mengucek matanya yang terasa gatal sambil menguap. "Nggak inget gue, Baka."

Kagami tak menanggapi, bangun tidur langsung dibuat kesal oleh Aomine itu rasanya seperti makan burger hanya satu biji.

"Mau ke mana lo?" tanya Aomine.

"Mau pipis, masa harus bilang-bilang," jawabnya ketus.

Aomine terkekeh dan menjatuhkan diri lagi, mengintip punggung lebar itu dari balik bantal. Mengingat wajah jutek Kagami yang sangat dia hapal jika bangun tidur, membuatnya menenggelamkan diri dalam-dalam.

Aomine berharap dengan sangat, pertemanannya dengan Kagami tak putus sampai di sini. Dia tahu fakta bodoh sebuah pertemanan.

Sekarang mereka memang sangat dekat lebih dari apa pun. Seperti kaka dan adik, saudara, orang yang selalu ada. Pergi bersama, main bersama, melakukan hal konyol bersama. Bisa dibilang melakukan sesuatu tanpa satu sama lain itu seperti tidak hidup.

Dianggap mempunyai hubungan spesial, sudah biasa. Tapi itu hanya berlaku untuk sekarang. Bagaimana kalau mereka berpisah? Apa pertemanan seperti itu masih bisa dilakukan.

Aomine tahu satu hukum alam, dekat karena memang selalu bertemu, dan bertatap muka. Jika sudah berpisah, semua itu tidak ada lagi.

Dengan alasan; pikiran kita sudah tidak sama, teman kita sudah berbeda, kesibukan kita pun sudah jauh berbeda. Aku dengan duniaku, dan kau dengan duniamu.

Sebuah hubungan tak cukup hanya dengan komunikasi, perlu interaksi yang sepadan karena itu yang membuat erat.

Dan Aomine takut akan hal itu.

.

Kagami kembali dengan wajah basah, mencomot tissue untuk mengelap seadanya. "Oi, Aho. Lo tidur lagi?" tanyanya.

"Baka, basket, yok?" ajak Aomine yang langsung terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara Kagami.

"Udah jam lima."

"Halah, sejak kapan lo tahu waktu," protes Aomine. Bangkit dan menuju lemari Kagami, lalu mengacak semua isinya, untuk mencari, "Baka, gue pinjem kolor," katanya dengan santai.

Setelah puas mengacak-acak isi lemari dan mendapatkan barang yang dimaksud, dengan wajah innocentlynya, Aomine berlalu begitu saja melewati Kagami yang panas dan meninggalkan jejak kelakuannya.

Lihat, kan? Aomine memang selalu begitu, padahal isi lemarinya baru ia bereskan sebelum tidur siang tadi, dan sekarang sudah tak berbentuk lagi.

Dengan menggunakan tehnik meteor jump, Kagami berhasil mendaratkan kotak tissue tepat dikepala biru itu. "BERESIN LAGI!" teriak Kagami sekuatnya.

Aomine tidak kaget atau pun mengumpat. Dia hanya mengusap-usap sayang kepalanya, berharap otak kecil yang ada di dalam sana tidak retak. Menoleh kepada Kagami yang mukanya sudah urat semua, menatapnya sedetik dengan datar lalu berbalik lagi.

SUMPAH! Kagami emosi luar biasa. Dia tidak dipedulikan. Tidak. Dipedulikan. Sekali lagi kemarahannya tidak dipedulikan, dan orang itu berlagak seperti salah satu teman yang hobinya cosplay jadi jin.

Oh, ayolah, rasanya Kagami ingin menusuk punggung yang mejauh itu dengan pedang Damocles milik Red King dari tokoh anime K yang sempat ia tonton tadi malam. Ah, pedang itu dilapisi dengan api merah membara dan Kagami yakin akan mematikan. Ya, walau cacat.

Disaat Kagami akan berteriak lagi, supaya Aomine mau mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi mulut yang sudah menganga itu langsung tercekat sempurna, karena melihat Aomine dengan santainya buka-bukaan tanpa peduli jika dia masih ada diruangan ini.

Dengan tidak malunya Aomine telanjang. Holy crap! Semoga Kagami tidak sial malam ini.

Kagami berbalik menuju lemarinya dengan garang. Menatap sebentar barang yang tak karuan, dengan kekesalan penuh makna tangannya mulai mengubrak-ubrik pakaiannya sendiri. "Nih, sekalian aja," gumamnya sambil melempar baju-baju ke lantai. "Makan tuh baju!"

Oke. Aomine speechless. Mendekati mahluk yang sedang ngamuk itu, lalu menempelkan punggung tangannya di kening Kagami. "Lo sehat, Baka?" katanya.

Dan mereka bergulat.

.

.

.

Lelah bergulat, keduanya saling tuduh. Tapi mulai membereskan pakaian yang berserakan di lantai dan ditata lagi ke dalam lemari. Mungkin mereka itu kelebihan hormone, segala sesuatu yang tidak penting dijadikan pekerjaan dua kali.

Kagami mulai bersiap, salin baju yang biasa ia gunakan untuk bermain basket. Sedangkan Aomine, sudah menuggu di teras dan Kagami sudah pasrah jika harus mengunci pintu karena ia kalah balapan. Bagaimana tidak kalah, kalau Aomine sudah siap duluan sedangkan dirinya belum.

Dengan wajah yang ditekuk mirip ulat bulu sedang marah, Kagami mencari sepatunya yang tak kunjung ditemukan. Dan pikirannya hanya satu, pasti ini ulah Ahomine. Dia turun dari apartemennya tanpa alas kaki mengejar Aomine yang sudah berada di bawah.

"Woi, bangsat! Sepatu gue lo umpetin ke mana!?" teriak Kagami setelah berada di halaman apartemennya.

Security yang berjaga hanya tersenyum, dia sudah biasa menonton pertengkaran dua bocah aneh itu. Bahkan, dia lah orangnya yang selalu mendatangi apartemen Kagami bila sudah mendapat laporan, jika kamar nomor 105 membuat keributan.

"Ahomine! Sepatu gue mana!?" ulangnya, karena orang yang diteriaki hanya melihatnya sambil tersenyum-senyum najis.

"Buta, ya?" ucap Aomine. "Tuh, gue kasihin sama bapa-bapak yang suka bersihin selokan, dan gue bilang kalau dijual pasti harganya mahal, dan lo tahu dia seneng banget. Kurang baik apa gue in- SAKIT SETAN!" Teriak Aomine sekerasnya, atau mungkin sampai pita suaranya putus.

Aomine jadi ingat penderitaan SpongeBob yang entah kenapa benda kuning itu mirip dengan Kise. Dia menderita tidak bisa tertawa, karena dibohongi jika pita suaranya putus oleh Squidward.

Kepala Aomine pusing bukan main, ia merintih-rintih. Kalau kalian mau tahu, Kagami memukulnya dengan tongkat keamanan security.

"Mampus lo! Semoga otak lo jadi jenius setelah ini," kata Kagami, memukul sekali lagi kepala biru itu dengan tongkat bapak security sebelum mengembalikannya.

Dia menjauhi Aomine dan mengejar bapak-bapak pembersih selokan yang membawa sepatunya.

Aomine fuck! Itu sepatu kesayangannya. Limited editions. Harus menunggu satu tahun untuk mendapatkan sepatu yang ada tanda tangan asli bintang basket NBA, dan hanya diproduksi di satu negara yaitu, Amerika.

Dengan ngos-ngosan, akhirnya Kagami bisa mengejar bapak-bapak pembersih selokan itu, yang kulang ajar jalannya sangat cepat. Dengan keberanian penuh, Kagami meminta kembali sepatunya, tapi sayang bapak itu menolak.

"Sepatu ini punya saya," kata bapak itu. "Kamu siapa? enak saja mau diambil. Memangnya kamu tidak bisa beli sendiri," katanya, kemudian melengos begitu saja tanpa mempedulikan kebengongan Kagami.

Sialan. Begitu tuh kalau sudah salah gaul. Memang, Aomine itu kadang-kadang mengerikan.

Lihat? Diapakan bapak-bapak polos itu, sampai sikapnya bisa sesongong wajah Aomine. Cukup Aomine satu itu saja sudah membuat Kagami kalang kabut menghadapinya, apalagi ada orang lain yang sama menyebalkan.

Kagami ingatkan, jangan sampai gaul dengan Aomine. Cukup, dirinya saja.

Seingatnya, tidur siang tadi dia mimpi makan burger dengan keju yang meluber, tidak menyangka jika mimpinya membuat sesial ini. Kagami menggeleng kepala, jangan percaya dengan hal yang tak masuk akal, memangnya Midorima, si wortel berjalan itu.

.

["Takao, sepertinya ada yang sedang membicarakanku." Midorima melirik Takao yang sedang anteng menatapnya. "Kau sedang membicarakanku dalam hati, ya?"

"Yah …. Kok Shin-chan tahu, sih!" jawab Takao enteng. "Shi-chan dukun, ya?" katanya, sembari menunjuk-nunjuk wajah Midorima.

"…" Midorima melengos ke samping untuk membenarkan kacamatanya. Melihat itu, Takao tidak sanggup jika tidak bersikap jahil, sampai membuat sang empu merajuk.]

.

Kagami mengejar lagi, mencoba menjelaskan dengan lembut dan pelan apa yang sebenarnya terjadi. Meminta sepatunya dikembalikan dengan sangat. Dia sayang sepatu itu. Tapi karena bapak itu sudah bergaul dengan Aomine, jadinya keras kepala. Akhirnya Kagami harus berdebat, sampai yang lewat di jalan terheran-heran.

Errrr…. Kagami yakin besok ada surat kabar yang memberitakan tentang penganiayaan seorang bapak-bapak oleh siswa SMA.

.

Aomine hanya cekikikan di belakang. Sumpah, puas. Sangat puas. Kapan lagi kan menjahili mahluk merah itu.

Ah, itu. Menjahili Kagami sudah seperti naluri alamiah untuk dirinya. Seperti vitamin untuk anggota tubuhnya. Jikalau sehari saja belum membuat Kagami marah, rasanya Aomine lemas, sungguh. Iya, dia tidak bohong. Kalau dia bohong, biarkan Kagami yang menderita.

Tawanya ludes, terbawa udara yang tak tampak. Seandainya bisa, Aomine ingin menjahili Kagami sampai menangis, untuk yang terakhir kali.

Karena semuanya memang untuk yang terakhir. Dia menegadahkan kepalanya kelangit senja, kemudian menutupnya dengan kedua tangan.

.

Setelah perdebatan panjang nan panas, akhirnya Kagami mendapatkan kembali sepatu kesayangannya itu. Dan dia harus rela dua lembar uangnya menghilang ke tangan orang yang tak dikenal. Kagami memahami arti kata, "Jika kau menginginkan sesuatu, kau juga harus siap kehilangan sesuatu" itu benar adanya.

Dia menengok ke belakang, menatap Aomine dengan dongkol. Yang ditatap hanya nyengir kuda, entahlah Kagami semakin naik pitam melihatnya. Mengacungkan jari tengahnya untuk kemudian melangkah pergi menuju lapangan basket.

Aomine manyun, mengejar Kagami yang sudah jauh di depan sana. "Baka, tungguin!" teriaknya.

Kagami tetap pada pendiriannya. Ia melangkah besar-besar, malas mengakui kalau Aomine itu temannya.

"Oi, tungguin gue kek," kata Aomine, merangkul pundak Kagami bebas.

"Tsk! Nggak usah sok akrab!" sentak Kagami yang masih mangkel. Menyingkirkan tangan jahil itu dari pundaknya. "Pergi jauh-jauh dari hidup gue!"

"Memang gue mau pergi, kok," jawab Aomine luwes.

"Baguslah, dan jangan balik lagi!"

"Iya, gue nggak akan balik lagi," katanya, menghentikan langkah dan membiarkan Kagami berjalan duluan menjauhinya. Menatap seongok mahluk berlapis kulit sewarna madu, membawa bola basket ditangan kirinya. Aomine seperti sedang digigit lebah.

"WOI BALAPAN!" teriak Kagami dari kejauhan.

Aomine mendengar suara Kagami yang agak samar-samar, apalagi banyak kendaraan yang sedang lewat. Tapi melihat gesture di depannya sudah mulai lari, Aomine paham apa yang diteriakkan oleh Kagami.

Tidak mau kalah, Aomine langsung menstranfer energy kekaki, supaya larinya bisa secepat kilat. Walau mungkin mustahil menang, karena Kagami sudah meninggalkannya jauh ke awang-awang. Suatu saat Aomine pasti akan merindukan moment ini, melakukan segalanya dengan balapan.

.

.

.

.

"GUE MENANG …" Kagami loncat-loncat seperti kutu kucing yang nama latinnya Ctenocephalis felix berasal dari ordo Shiponoptera.

Memang, hewan kecil yang punya nama latin cantik itu dan membacanya harus dengan mengeja luar biasa, sepertinya lebih bagus nama tuh hewan daripada nama manusia. Memiliki kaki yang kuat untuk melompat. Jadi, tidak salah otak cerdas Midorima, yang menyebut Kagami kutu loncat.

.

["Takao, berhenti membicarakanku dalam hati." padahal Takao lagi bobok cantik.]

.

"Liciklah! Orang lo duluan yang lari," protes Aomine disela napasnya yang ngos-ngosan.

"Suka-suka guelah," saut Kagami yang masih nari-nari tengah lapangan. "Pulang traktir Majiba 50 biji. Sekalian hukuman buat lo yang udah ngasih sepatu gue ke bapak-bapak," cerocos Kagami semangat.

"Shit! Perut lo ada apanya, sih. Gue do'ain, lo mati keselek," kata Aomine mulai mendrabel bola.

Kagami mulai bersiap, mengambil posisi yang bagus untuk merebut bola dari sang rival. "Biarin aja gue mati, biar nggak ketemu lo lagi."

Aomine menimang-nimang gerakan Kagami, kiri atau kanan. "Lo, seriusan nggak mau ketemu gue lagi." Sttttt….. kanan. Aomine melesat ke kanan, menerobos pertahan Kagami dengan mulus tapi agak sedikit susah(?) "Gue turutin apa mau lo," katanya sebelum memasukkan bola ke ring yang telah tersedia.

Kagami keki, masa belom apa-apa lubangnya sudah jebol(?) dia harus menyiapkan stamina lebih, kalah dari Aomine itu tidak bagus, sama sekali tidak bagus. "Lo ngomong apa barusan?"

Aomine mendrabel bola yang masih sanggup ia kuasai, menatap Kagami tepat dimanik merahnya, apa yang mau lawannya lakukan ini. "Gue mau pergi," katanya. Stttttt … lagi-lagi menerobos pertahan Kagami dengan mudahnya, luwes, seirama, melayang, Aomine memasukkan bolanya dari samping ring. "Arrghhh! Mainnya yang serius kenapa, Baka. Masa mudah banget gue lewatin," cerca Aomine.

Lengah. Kagami merebut bola orange itu dari sadraan Aomine. "Sana pergi jauh-jauh," katanya. Melompat dengan keyakinannya, setinggi kemampuannya, menari di udara, "Sory aja, gue nggak bisa nggak serius kalau ngelawan lo."

Tangannya sudah akan memasukkan bola itu ke dalam ring, tapi ternyata phanter hitam nan cepat itu sudah ada di hadapannya, menahan bolanya, dan berniat untuk memblock.

"Baguslah, karena ini yang terakhir kalinya kita main." Dengan keoptimalan yang tangguh, Aomine berhasil membuang bola dari tangan Kagami.

Mereka saling tatap untuk beberapa detik, mengelap peluh masing-masing. "Maksud lo apa'an yang terakhir kali?" tanya Kagami.

Aomine terbahak keras, Kagami tidak mengerti. Baru kali ini dia melihat Aomine tertawa sampai seperti itu. Maksud Kagami tawanya memang keras, tapi tidak lepas seperti biasnya, ada guratan aneh di wajah di sana. Kagami berharap orang itu tidak menyembunyikan sesuatu darinya.

"Kan, gue mau pergi. Jadi ini yang terkhir kali main sama lo."

Kagami tidak merespon, sepertinya daritadi mereka selalu membahas tentang perpisahan.

Kagami tersenyum simpul, tidak mungkin. Aomine tidak mungkin pergi darinya, Kagami tahu dia tidak bisa jika tidak dengannya. Memangnya Aomine itu punya teman? Tidak.

Ingat, kan? Saat dia di Amerika dua minggu. Aomine selalu menyuruhnya pulang cepat, marah jika tidak dihubungi.

Eh, memangnya dia siapa? pacarnya, kan bukan. Tapi Aomine lebih berharga daripada pacar, walau dia selalu membuat Kagami ingin mati bunuh diri.

Angin malam mulai berhembus, lampu lapangan mulai hidup. Mereka tidak tahu siapa yang menghidupkan, intinya sekarang mereka sedang bersenang-senang. Menikmati setiap gerakan yang tercipta, kecepatan yang mendominasi, peluh yang bercucuran, teriakan yang menggelegar.

Semua itu betapa indah. Sungguh keduanya tidak mau berakhir. Siapa yang menciptakan olahraga sehebat ini, membuat ototnya bangun. Pertarungan dan pertemanan yang luar biasa.

Aomine mengakui jika Kagami itu yang paling terbaik. Semangatnya, ketekunannya, semuanya yang tercipta dari diri Kagami. Meski terkadang dia suka membahayakan diri sendiri, seperti; menjedotkan kepalanya ke ring basket atau kepleset sampai terjengkang.

Tidak ada teman sebodoh Kagami, dan Kagami tidak punya teman sejenius dia. Oh ayolah, dia itu jenius dalam bidang basket.

Aomine beri tahu, jangan suka mengatai diri sendiri yang jelek-jelek, tapi kalau orang lain tidak apa-apa. Karena memang kenyataannya sudah jelek, jadi kita harus membanggakan diri sendiri supaya tidak terlalu miris.

.

.

.

Hem… langit makin gelap, suara jangkrik makin keras, udara semakin dingin. Keduanya memutuskan untuk menyudahi permainan yang tak ada bosannya.

Aomine dan Kagami tiduran di tengah lapangan, merenggangkan otot, menarik napas sebanyak-banyaknya. Merasakan angin malam yang begitu menggelitik. Aomine bergidik ketika ada angin yang membelai kulit pahanya, geli.

Kagami memandang bulan yang sedang asyik mengobrol dengan bintang. Lalu melirik Aomine yang sedang memejamkan mata. Karena sudah merasa agak nyaman, Kagami bangkit.

Perutnya tidak bisa diam, ada pangilan-panggilan yang sangat menggolakkan otaknya untuk segera membeli makan. "Ao, makan, yok?" ajaknya. "Udah jam delapan nih, harusnya gue udah makan dua kali."

Aomine mendengus dan membuka matanya, tidak ingin pulang, tidak ingin waktu berjalan dengan cepat, tidak ingin ada hari esok, yang membuatnya tidak bisa melihat Kagami lagi.

Yang selalu merengek minta pulang kalau perutnya sudah lapar. Yang rela bolos jam pelajaran kalau perutnya sudah berdangdut ria sampai lemas. Yang menerima tantangan apa pun jika sudah menyangkut makanan.

Yang suka cheeseburger, yang suka kare, dan mungkin lama-lama Kagami suka rumput yang ada di semak-semak sana. Aomine selalu mengalahkan Kagami dalam basket, tapi Kagami selalu mengalahkannya dalam balapan, dan makanan.

"Aho, cepetanlah bangun. Lo mau gendong gue kalau nanti gue lemes," oceh Kagami yang sudah berdiri dan sudah menenteng tasnya. Mengulurkan tangan, memberi sambutan kepada Aomine.

Aomine hanya tersenyum, menyambut tangan dingin Kagami. Berdiri dan menabrakan tubuhnya ke dada bidang mahluk merah.

"Aho, berat," kata Kagami, mendorong tubuh yang sok dilemas-lemaskan itu. Supaya apa coba? Kagami gagal paham.

Aomine menepis dorongan Kagami, malah dia melingkarkan kedua tangannya erat. "Baka, kalau gue pergi, siapa yang bakal jadi temen lo?" bisiknya.

"Apa'an sih, lo kesambet, ya?" mencoba mendorong tubuh Aomine tapi tetap saja tidak bisa, Kagami tahu karena dia belum makan.

Aomine tak bergeming, membuat Kagami bingung. Mereka memang sering pelukan, tapi kali ini berbeda. Huh, hari ini memang banyak yang janggal dari Aomine, semuanya berbeda, tapi dia tak paham apa itu.

"Ao, gue laper nih! Pelukannya lanjut di rumah aja," katanya dengan bodoh.

"Tapi gue bisanya di sini, dua menit lagi, 120 detik. Dan 120 detik itu untuk mengganti waktu yang lama."

"Hah? Lo ngomongin apa'an, sih?"

"Diem sih, Baka. Cerewet amat."

Oke. Kesal Kagami mode on. Tanya baik-baik, dan dia malah dibilang cerewet. Kagami tidak suka, itu kan mirip kise. Huh, rasanya sensi kalau inget yang berhubungan dengan Kise. Jangan tanya Kagami, kenapa? Dia juga tidak paham.

.

.

"Ao, udah lebih dari lima menit. 310 detik, dan itu jauh banget sama 120 detik lo," Kata Kagami yang mulai risih sendiri. "GUE LAPER AHOMINE ITEM!" Akhirnya Kagami berteriak dilubang telinga Aomine.

Aomine mendorong Kagami kasar. "SAKIT BANGSAT!" untuk kemudian menendangnya sampai terjengkang. Sungguh kejam.

"Kok, gue yang kena," protes Kagami sembari mengangkat bokongnya dari lantai lapangan. "Bodo ah, gue laper mau nyari makan. Kalau lo mau di sini sampe pagi juga nggak ada yang larang."

"O-ohhhh ….. jadi nggak mau gue traktir, nih …" goda Aomine. "Yaudah, utuh berarti duit gue."

"Tsk!" Kagami berdecak, dan menarik pergelangan tangan Aomine, menggeretnya supaya cepat berjalan. Kagami sayang cacing yang ada diperutnya, kalau dia sakit karena tidak diberi makanan bagaimana? "Traktir gue titik."

"Oke, biasa aja dong, tangan gue putus nih. Siapa yang meluk lo, kalau tangan gue nggak ada."

Kagami diam sejenak, untuk kemudian melepaskan tangan Aomine. Melangkah maju. Aomine mengimbangi dan merangkul pundak itu. "Bercanda."

Mereka jalan berdampingan menuju tempat sacral. Bercanda. Membahas hal yang berkaitan dengan masa lalu. Bagaimana mereka bisa bertemu dan menjadi akrab tak terpisahkan seperti sekarang ini.

Di tengah jalan, Aomine meminta gendong dengan pose bayi baru gede. Kagami malu bukan kepalang, masalahnya banyak orang yang lewat. Merengek, sudah berasa jadi bapak yang jahat kepada anaknya.

"Baka, gendong. Kan gue menang, lo lupa perudang-undangan one-on-one kita," cerocosnya, menggelayuti Kagami sudah seperti cabe-cabean.

"Risih, Ao. Urat malu lo hilang ke mana, sih. Sadar, lo lagi diliatin banyak orang."

"BODO AMAT, POKOKOKNYA GUE MINTA GENDONG," suaranya malah dinaikkan beberapa oktaf. Peduli apa sih manusia-manusia itu, kenal? Kan tidak.

.

"Mama … mama … kaka itu minta gendong sama pacalnya, ya?" kata anak yang sedang digandeng, dilihat dari lagaknya sepertinya baru masuk TK nol kecil.

Aomine menoleh. Kagami tutup muka.

"Sssshhttt! Nggak boleh gitu," nasehat sanga ibu. "Mereka kan laki-laki semua."

Dengan mata yang menelisik, ingin tahu lebih jelas, anak imut itu mengadu tatap dengan Aomine yang geram. Kagami mempercepat langkah, sudah cukup dibuat bego.

"Kok manja gitu sama temennya, aku aja nggak manja sama mama," katanya sarkas.

Oke. Aomine rasanya ingin jungkir balik, salto-salto di jalan raya. Aomine rasa anak itu titisan Akashi yang kecil-kecil sudah suka menyindir orang. Huh, anak zaman sekarang jangan dilawan, entah mengapa pengertahuan tentang dunia gaul lebih terlihat daripada anak remaja.

.

.

.

Mereka sudah masuk pintu Majiba. Aomine uring-uringan sambil memonyongkan mulutnya, masih kesal dengan omongan anak kecil tadi, kan pada akhirnya dia tidak jadi digendong oleh Kagami.

"Siapa yang pesen?" tanya Kagami.

"Elo. Elo yang mau makan."

"Lo nggak makan?"

"Makanlah, enak aja lo makan sendiri," katanya sewot.

Cukup sampai di sini, Kagami tak punya energy untuk berebut omong dengan Aomine. Ia lebih baik cepat pesan makanan, setelah kenyang pulang lalu tidur. Mandi? Apa itu mandi? Tidak. lupakan tentang mandi, karena menurut sains mandi malam itu tidak baik untuk tubuh.

Kagami mengadahkan tanganya. Aomine melengos, pura-pura tidak lihat. "Buruanlah, Aho. Gue bunuh lo."

"Wow! Ngeri."

Kagami mengumpat. Aomine mengeluarkan dompetnya cepat-cepat, kalau wajah Kagami sudah seperti kue lapis itu tandanya tidak baik untuk kesehatan.

Kagami berjalan menuju counter, mengantri dengan pembeli lainnya. Aomine mencari tempat duduk untuk mereka berdua. Melihat jam yang bertengger indah didinding tembok Majiba. Wajahnya kembali lesu, karena waktu sudah menunjukan kurang lebih pukul Sembilan.

Menarik napas dalam, mendaratkan tubuhnya di kursi, memandang Kagami yangs sedang sibuk menyebutkan pesanannya.

Aomine sakit, tapi dia masih ingin tersenyum. Kagami memesan dengan lancar tanpa ada helapan dari pelayan. Yang harus menganga lah, speechless lah, karena pesanan yang begitu membludak. Staf mana yang tak kenal mereka berdua di sini. Bahkan, mereka sering dapat gratisan karena perusahaan mengapresiasi pelanggan setianya.

.

Kagami kembali dengan tumpukan burger di tangan, dibantu oleh dua pelayan lainnya. Aomine yang menghela sekarang. Ternyata Kagami tidak bercanda dengan omongannya yang akan makan 50 burger mala mini. Maa… tak apalah, apa pun akan Aomine lakukan demi….

"Oui, maukan!" kata Kagami dengan mulut yang sudah penuh dengan satu burger.

Aomine berharap Kagami bukan Murasakibara kedua.

Mereka makan dengan khidmat tanpa memperdulikan pandangan orang baru yang mungkin kaget dengan porsi makannya. Balapan, itu tentu sudah hukum perundangan mereka. Suap-suapan, yang membuat para cewek jomlo ngenes dipojokan sana merasa iri.

"Baka, kalau gue nggak ada, siapa yang nemenin lo makan di sini?" tanya Aomine, memandang satu burger terayakinya yang tersisa di dalam piring.

Kagami melepaskan ciumannya dengan botol coca-cola big size, saat suara Aomine masuk ke dalam telinganya. "Apa?" ulang Kagami yang pura-pura tak mendengar.

"Kalau nanti gue udah pergi, siapa yang nemenin lo makan di sini."

Kagami tertawa, ngomog apa temannya itu. "Banyaklah. Lo kira temen gue, elo doang," katanya. "Ada Kuroko, dan yang lainnya, kan?"

"Yah," Aomine menghela napas dalam. "Padahal gue berharap, yang bisa nemenin lo makan di sini gue doang."

Kagami menautkan alisnya. Mendekat dan menatap Aomine dengan jarak yang dekat. Membuat orang-orang shock dibuatnya. "Cemburu, ya?"

"Cemburu?" tanya balik Aomine. Dia menggerakkan bola matanya ke bawah ke atas, berpikir. "Kayaknya iya."

Kagami mencomot burger Aomine yang tinggal satu-satunya dan ditamparkan ke wajah Aomine yang sedag serius. "Makan tuh cemburu!"

"SETAN! MATA GUE!" teriak Aomine, kicep-kicep menahan perih karena saus burger yang masuk ke dalam matanya.

Dan di sebrang kursi orang yang melakukannya tidak merasA bersalah sedikit pun, dia dengan santai menyantap burgernya yang masih tersisa.

Aomine dibantu berjalan oleh security untuk menuju kamar mandi, karena mata yang tidak bisa melihat sangking perihnya. Damn! Kagami. Kalau dia sampai buta bagaimana?

.

Aomine kembali ke meja dengan mata merah. Kagami memandang dalam diam. "Puas udah buat mata gue warnanya sama kayak lo!"

"TSK! MAAF SIH!"

"Baka, lo minta maaf? Apa ngajak gulat!?"

"Mending gue minta maaf, lah elo kalau buat kesalahan nggak pernah minta maaf sama gue."

"Ngapain gue minta maaf, orang gue nggak salah, sih. Yang-"

"Yang bisa memaafkanku hanya diriku sendiri," potong Kagami. "Mau ngomong gitu kan lo."

"BUKAN! Sok tahu." Mengacak rambut Kagami gemas.

.

OoOoOoOoOo

.

Satu jam lebih, mereka habiskan untuk memanjakan perut dan membuat onar yang tak penting. Sekarang mereka dalam perjalanan pulang.

Tidak ada balapan sih sayangnya, karena Kagami tidak kuat dengan perutnya yang membesar. Bisa-bisa apa yang dia makan tadi langsung keluar semua, kan sayang 50 biji burgernya hilang.

Sebelum belok ke apartemen, Kagami mampir ke Konbini sejenak, katanya untuk membeli bahan-bahan makanan yang bisa dijadikan sarapan untuk besok pagi. Aomine sampai capek harus menjawapi pertanyaan Kagami. Bawel seperti emak-emak, kalau sudah berurusan dengan sayuran.

.

Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam aparteman. Kagami sibuk dengan bahan makanannya dan langsung menata ke dalam kulkas.

Aomine merebahkan tubuhnya di sofa, lagi-lagi menemukan jam dinding yang jujur Aomine benci jarum yang bergerak-gerak itu, rasanya ingin mematahkan supaya waktu bisa berhenti.

"Ao, lo nggak mandi?" Tanya Kagami yang sudah salin pakaian dan sudah mencuci wajah.

"Nggak. Lo aja kagak mandi," ocehnya dengan malas. "Ka, ambilin tas gue dong di depan tivi," perintahnya karena kebetulan Kagami sedang berdiri di sana.

Kagami tak membantah, membawakan tas itu ke empunya. Tapi sedikit heran, apa isi tas itu sampai bentuknya menggelembung besar. Setahu Kagami, Aomine itu anti memakai tas berat. "Apaan tuh isinya?"

Aomine mulai menggali tasnya. "Baju-baju lo."

"Hah?" Kagami memperhatikan tangan Aomine yang mengeluarkan semua barangnya dari dalam tas itu.

"Ini semua baju lo yang ada di rumah gue," katanya.

Iya, tidak dijelakan juga Kagami tahu kalau itu bajunya, yang sering ia gunakan untuk salin jika menginap di sana.

Maksudnya apa dibawa semua ke sini. Aomine sudah tidak mau menampung bajunya di sana, begitu? atau bagaimana?

Aomine menggaruk tengkuk, bagaimana cara menjelaskannya kepada Kagami. Susah. Harus mulai dari mana. Harus memakai bahasa yang seperti apa? Aomine bingung, sampai membuat kepalanya sakit.

"Em, Baka," Aomine mengeluarkan berlembar-lembar uang dari dompetnya. "Ini gue bayar semua, uang lo yang pernah gue pake," katanya kaku.

Kagami makin tidak paham. Sudah memutar otaknya pun masih tidak paham. "Maksud lo apa'an sih, Ao. Tiba-tiba semuanya-"

Aomine tertawa menggelegar, membuat Kagami kaget. "Nggak ada maksud. Oh ya, uangnya kurang sih, soalnya lo kan tadi minta traktir."

"HAH!? Jadi lo traktir pake duit yang lo mau bayarin ke gue," protes Kagami. "Malah gue yang traktir lo, idiot!"

Aomine hanya nyengir. Beranjak dari sofa, dan melenggang pergi. Kagami mau mencegahnya, karena banyak uneg-uneg yang membuat kepalanya sakit. Tapi entah mengapa, mulutnya susah berucap.

Aomine masuk kamar mandi, mempertemukan wajahnya dengan sebuah kaca. Melihat dirinya yang begitu jahat. Serius bukan maunya, sesungguhnya dia juga sakit.

Matanya terasa panas, mungkin ada bara yang terselip. Hanya tingal beberapa menit lagi dirinya bisa melihat Kagami, melihat matanya, rambutnya, senyumnya, dan semua yang ada dalam dirinnya.

Dia tahu ini hanya kisah pertemanan, harusnya tak perlu selebay ini, tapi dengan Kagami itu berbeda. Kagami teman yang sangat-sangat berharga untuk dirinya sampai kapan pun.

Dia takut dilupakan, bagaimana kalau mereka tak bisa bertemu lagi, bagaimana kalau mereka sampai putus komunikasi. Bagaimana kalau kagami menemukan teman basket yang lebih baik darinya.

Aomine menghidupkan keran di wastafel. Mulai mencuci wajahnya yang sudah panas tiada tara. Ada Sesuatu yang mengganjal matanya, entah itu apa, yang pasti Aomine tidak akan mengeluarkannya.

Mulai mebasuh, lagi dan lagi sampai tak terasa kalau sebenarnya air mata sudah mengalir bersama air yang dibasukan kewajah.

.

.

Kagami masih menyimpan seribu tanya, apa maksud Aomine membawa bajunya, apa maksud Aomine melunasi semua hutangnya. Ya, walaupun Kagami tak menolak untuk dibayar, tapi Kagami juga tak berharap minta dibayar.

Kagami sudah ikhlas, dia tak pernah menyinggung-nyingung tentang uangnya yang dipakai Aomine, selagi ada Kagami rela berbagi. Dan kadang juga Kagami memakai uang Aomine, kok.

Dering ponsel mengagetkan Kagami akan lamunannya. Pahanya geli sendiri sebab getaran yang ditimbulkan. Tanpa pikir Kagami mencomot ponselnya dari dalam saku, dan sedikit tak percaya jika yang menelponnya itu….

"Hallo, Kagami-kun. Apa Daiki di sana?" tanya seorang perempuan yang Kagami sudah hapal suaranya.

"Iya, Aomine ada di sini," jawabnya.

"Syukurlah, ponselnya tidak aktif ibu hubungi. Ke mana sekarang orangnya?"

"Sepertinya sedang di kamar mandi, bu."

"Oh, yasudah. Ibu titip pesan saja, ya."

"Pesan apa?"

"Tolong sampaikan pada Daiki, cepat pulang, karena satu jam lagi kan mau berangkat."

"Be-berangkat ke mana?" tanya Kagami gagap, dan hatinya mulai tidak menentu.

"Loh, Daiki belum cerita? Bukannya dia kesana untuk pamitan dengan Kagami-kun. Kami kan pindah rumah ke Sapporo, Hokkaido."

Kagami mengepal tangannya. Tidak percaya. Jadi ini jawaban dari semua pemikiran kerasnya terhadap sikap Aomine yang agak aneh minggu ini. Bangsat, Aomine sama sekali tidak cerita, tidak ada omongan sedikit pun dengannya.

"Hallo, Kagami-kun?"

"Ah, ia ma-maaf," Kata Kagami sembari menekan suaranya supaya tidak bergetar. "Bagaimana dengan sekolah Aomine?"

"Ibu sudah mengurus surat pindahnya kemarin-kemarin. Daiki sama sekali tidak cerit-"

Tuttttttt…..

Kagami memutuskan panggilan secara sepihak. Matanya melebar, tubuhnya lemas dan bergetar. Sumpah benci dengan namanya Aomine. Katanya sahabat, masalah sepenting ini Kagami tidak tahu, manalagi keberangkatannya yang tinggal menghitung menit.

Sialan. Yang membuat Kagami sakit hati itu, kenapa dia harus tahu dari orang lain, bukan dari mulut Aomine sendiri. Katanya tidak ada rahasia, semuanya itu bitch! Kagami rasa Aomine bukan teman. Kagami tidak pernah tahu jikalau Aomine sebrengsek ini.

Sesak rasanya, Kagami ingin mengamuk tapi tidak bisa, tubuhnya terlalu lemas.

Satu kenyataan yang harusnya Kagami tidak percayai dari awal, tidak ada namanya sahabat sejati, tidak ada namanya pertemanan yang abadi.

Kagami duduk terbengong disofa, tangannya masih mengepal erat, ponsel jatuh begitu saja. Bukan karena ia lebay, tapi dikhianati teman yang sudah kau anggap seperti saudara sendiri, sudah kau percaya sepenuh hati, itu rasanya lebih sakit daripada dikhinati berapa pun jumlah pacarmu.

Kagami sangat percaya Aomine, sungguh. Kagami percaya kalau mereka akan selalu bersama. Tak masalah, Aomine pindah rumah, kan masih bisa saling berkomunikasi atau sebulan sekali saling mengunjungi. Tapi ternyata begini jalan pikiran Aomine, dia dianggap apa, sih? Batu? Panjangan?

Padahal, Kagami sudah membela Aomine daripada ibunya. Menolak permintaan sang ibunda yang memerintahkan untuk sekolah di Amerika.

Kagami lebih memilih Aomine dan tinggal di Jepang, itu karena apa? Karena ia percaya dengan Aomine. Percaya kalau Aomine akan selalu ada untuknya, percaya kalau semua masalah akan selesai jika ada teman yang menyemangati.

Balasannya apa? dia ditinggalkan sekarang. Tak ada cerita, tak ada basa-basi. Harusnya, Kagami menuruti perkataan sang ibu waktu itu. Memang, penyesalan itu datangnya belakangan.

Sepertinya, Aomine memang meminta bermusuhan.

.

"Baka?" Panggil Aomine. Dia sudah memakai pakaiannya yang semula, sudah rapi. Mendekati Kagami yang sedang tetunduk disofa, matanya menutup. "Ka, lo tidur?" tanyanya.

Tidak ada respon. Aomine menarik alisnya. Menggoyangkan tubuh Kagami yang tak bergeming. Salah satu tangannya mengambil ponsel yang tergeletak di lantai.

"Singkirin tangan lo dari gue," Kata Kagami pelan.

"Hah?"

"Singkirin tangan lo dari gue," ulang Kagami masih dengan nada yang sama.

"Hey, lo kenapa?" tanya Aomine.

Kagami membuka mata, menatap jijik wajah Aomine. "Jangan munafiklah."

"Ha?" Aomine tertawa tak mengerti. "Baka, lo lagi nggak kesambet, kan?"

"Aomine lo denger, kan? Lo masih punya telinga yang berfungsi, kan? Gue bilang singkirin tangan lo."

Aomine menyipit. Ada apa dengan otak temannya satu ini. "A-Aomine," katanya sedikit tak percaya Kagami menyebut namanya seserius itu. "B-Baka, ada yang mau gu-"

.

BUAK!

"NGGK USAH NGOMONG LO BANGSAT!" Kagami memelayangkan kepalannya yang sudah ia tahan sedaritadi.

Sesungguhnya ia tidak ingin memukul Aomine. Tapi apa daya, sakit hatinya lebih dominan daripada akal sehat.

Meninju bagian wajah Aomine kuat. Apa ciri khas orang yang sedang marah. Kesetan. Iya, setan yang lebih unggul, bisa menguatkan, bahkan jiwa yang lemah sekalipun.

Aomine terjengkang, memegangi bibirnya yang mengeluarkan cairan merah. Dan dia mengerti, kalau Kagami sudah tahu semuanya. Memang pantas ia mendapatkan semua ini. apalah arti dirinya yang tak mampu jadi teman yang terbaik untuk Kagami. "Ba-"

"Cukup! Nggak usah ngomong lagi lo sama gue," katanya Kagami dengan suara bergetar. "Memang dari awal lo nggak punya mulut, kan? Kalau punya mulut sih gue rasa lo bakal cerita tentang ini," Katanya sarkas. "Gue kira kita beneran sahabat, tapi ternyata gue Cuma punya bangsat!"

Ah, Aomine sakit mendengar itu dari mulut Kagami. Siapa yang sebenarnya harus disalahkan dalam hal ini. Bukannya ia tak mau cerita, tapi ia tak sanggup. Tak sanggup melihat reaksi Kagami, tak sanggup untuk kehilangan Kagami. "Baka, gue mau pamit …"

.

BUAK!

"SETAN! BANGSAT! LO DENGER NGGAK! JANGAN NGOMONG SAMA GUE!" teriak Kagami sekuatnya, memukul lagi bibir yang sudah berdarah itu, menarik kerah Aomine yang terjunggal.

Meneteskan air matanya di sana, jatuh hangat ke pipi Aomine. Kagami tidak sanggup, dia terlalu marah, tidak bisa menahan emosinya.

Bukan menangis karena apa-apa, tapi Kagami menangis karena dia benar-banar tidak bisa mengendalikan diri dan akhirnya menyakiti teman yang sangat ia percaya. Jauh di dalam hati kecilnya, Kagami masih mempercayai Aomine, maka dari itu dia tidak bisa menahan air mata bersalah karena telah memukulnya.

"Lo sialan, Aho," katanya, mengelap air mata yang tidak mau berhenti jatuh. "Lo ninggalin gue."

Ini kan. Aomine tidak suka ini, Aomine tidak suka Kagami yang berbicara bahwa dia meninggalkannya. Seumur hidup, Aomine baru kali ini merasakan Air mata Kagami, ternyata sangat panas.

Dia juga ingin menangis, tapi bagaimanpun ia harus menahannya. Aomine memeluk pundak yang sedang bergetar di hadapannya, erat. Tidak mengelap air mata Kagami, biarkan saja tumpah, memang seharusnya begitu.

"Maaf, Baka," ucap Aomine lirih.

"Pergi lo," tutur Kagami. "Pergi sekarang juga dari sini."

"Gue harap kita masih bisa jadi temen."

"Pergi."

"Iya, gue bakal pergi, kok." Aomine menarik diri, melepaskan pelukannya terhadap Kagami.

Menatap mata merah Kagami yang masih meneteskan cairan, untuk yang terakhir kali. Aomine berharap Kagami masih sudi untuk melihatnya. Tapi sudah menunggu beberapa detik, mata itu yang Aomine harapkan tidak menatapnya sama sekali.

Aomine menarik napasnya dalam, setelah itu dia mengecup bibir Kagami singkat. Berdiri dengan lunglai, mulai melangkahkan kakinya.

Tangannya sudah mau menarik kenop pintu, Aomine menoleh ke belakang berharap Kagami melihatnya, tapi sayangnya tidak. Kagami tetap dengan posisi yang tadi, Aomine hanya bisa menatap punggungnya.

Menunggu beberapa detik lagi, sungguh untuk yang terakhir, Aomine mohon Kagami mau melihatnya, Aomine mohon dengan sangat.

Sampai detik ke tigapuluh, Aomine sudah menyerah, dia mulai menarik kenop pintu. "Gue pergi," Katanya bergetar.

Dan sampai akhir pun Aomine tidak mendengar suara Kagami apalagi melihatnya walau hanya satu detik.

O

o

O

o

O

Melani: Kagami selalu sabar menghadapi bang Ao. Ohya, ini requesanmu, semoga suka dan berkesan ya. Sesungguhnya saya nggak bisa nulis sedih apalagi sampe mengeluarkan air mata, maaf aja kalau aneh, tapi ini sudah saya usahakan, thanks.

Nana: Hey aku nggak marah kok, malah seneng kalau ada masukan berarti kamu baca serius tulisanku. Hem… gomen kalau ngga dapet feel. Memang seharusnya ciuman itu pakai perasaan sih. Oke ke depannya diperbaiki.

Suira Seans: Hehe, kasian amat bodohnya nggak ketulungan.

AoKagaKuroLover: maniak kiss,ya, kamu. Hehehe. Aku juga kok, wkwkwk.

Sae-chan: Semoga menikmati lanjutannya. Pasti, jangan diragukan lagi mereka itu jodoh sehidup semati.

Ryuuki Kiroshi: Aku juga waktu nulisnya geli sendiri, Ryuuki-chan. Semoga chapter ini berkesan.

Nam Min Seul: Sabar ya *lambai-lambai*

Sakurahikaru16: Wow! Good job too. Semoga chap ini berkesan.

AnnaCitra2748: Wah, memangnya kakanya anti, ya? ganbatte juga.

.

AOKAGA

Regards