Ah, maaf banget tadi ada kesalahan, entahlah gimana itu susah jelasinnya. yoshaa ... enjoy!
.
Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman–teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.
.
AoKaga
"Malam Minggu AoKagazone: Waktu dan Kita"
By : Zokashime
O
o
O
o
O
…
Lima menit yang lalu, dia baru saja menyaksikan film animasi Doraemon. Sekarang jejarinya sedang berkutat dengan benda hitam panjang. Dia menekan tombolnya keras-keras, kesal sendiri karena tidak ada lagi acara bagus yang dapat disaksikan.
Mengumpat adalah jalan terbaik untuk saat ini, memaki pertelevisian negaranya sendiri merupakan sebuah kepuasan.
Dongkol. Remote tivi dibanting asal. Dia tegakkan tubuhnya, menyender ke tembok putih yang sudah cacat karena dilukis dengan menggunakan pena oleh orang idiot seperjuangannya. Eh, mungkin sekarang bukan seperjuangan lagi. Orang itu sudah tidak ada, mungkin mati terjun ke laut, masuk sumur, atau dimakan hantu, Kagami supah tidak mau tahu.
Televisi sedang berkoar kencang membicarakan ina-inu masalah panggung sandiwara. Sang empu tak peduli, biarkanlah dia mengoceh sendiri sesukanya sampai orang itu bosan dan ganti acara.
Di depan tivi ada tumpukan makanan dan minuman, jika kau lihat sudah seperti gunung. Ada cheeseburger, terayaki, lasagna, nasi goreng yang sudah dingin, atau minuman-minuman yang dapat menurunkan kesehatan tubuh jika dikonsumsi terlalu berlebihan.
Kagami Taiga menyelonjorkan kedua kakinya, alis cabang bertautan menampilkan wajah yang tak begitu bergairah. Bola orange di samping kiri menemaninya dalam diam. Ia mengutuk, entah mengapa pikirannya sangat berisik.
Malam ini malam minggu. Iya, tak perlu dijelaskan Kagami sudah paham diluar kepala, walau otaknya minim dia masih ingat dengan waktu. Tapi ada saatnya ia benci dengan waktu, seperti sekarang ini.
Waktu itu menyebalkan asal kalian tahu. Dia bisa menghapus apa pun dari kalian, menghilangkan, atau mengambil sesuatu yang paling berharga. Kagami tak paham bentuk waktu seperti apa, sampai dia bisa sekejam itu.
Waktu bisa mempermainkan perasaan. Jika dia sedang bahagia waktu sangat cepat berlalu. Tapi jika dia sedang bosan, waktu sangat lambat, lebih lambat dari keong yang dia temukan di kebun sekolahnya minggu yang lalu.
Kagami memukul kepalanya sendiri, berharap kicauan tak jelas di dalam pikirannya dapat mereda.
Waktu telah mengambil seseorang darinya, seseorang yang selalu membuatnya reseh jika sudah tiba malam minggu. Seseorang yang selalu merengek kepadanya jika ada masalah spele seperti salah membeli celana dalam. Seseorang yang selalu dia kagumi di dalam hati walau tak bisa mengungkapkan bagaimana rasa kagum itu sesungguhnya.
Memorinya memutar rol dua minggu lalu yang telah berhasil ia rekam. Bagaimana Aomine meninggalkannya, bagaimana Aomine menghianatinya. Rasa sebal yang tertinggal, entah mengapa tak mau hilang, tapi Kagami juga tak bisa bilang jika ia benci Aomine.
Kita tak bisa menebak waktu. Apa yang tejadi esok, atau sedetik kemudian. Beberapa menit, jam, hari, minggu, bulan, bahkan sampai tahun kita membangun sebuah hubungan, yang katanya tidak akan terpisah oleh apa pun.
Shit! Semua itu salah. Buktinya Kagami sudah lama bersahabat dengan Aomine, mereka bilang akan selalu bersama, selalu bermain basket berdua, atau melakukan hal lainnya. Tapi dengan mudahnya, hanya dengan waktu kurang lebih satu detik Kagami sudah tak bisa melihatnya lagi.
Ingat, waktu itu bisa menghapuskan sesuatu, yang terlebih adalah menghapuskan sebuah ingatan.
Contohnya, hanya dengan waktu dua minggu Aomine berhasil melupakannya. Kenapa Kagami berbicara seperti itu, karena dari kepergiannya sampai sekarang, Kagami sama sekali tak mendapat kabar. Bukannya dia tak menghubungi duluan, kenyataan yang ada nomor Aomine sudah tidak aktif.
Kagami masih tak percaya mengapa Aomine bisa sebangsat itu dengan dirinya. Mungkin lebih baik memang mereka tidak saling omong untuk saat ini. catat satu hal, dia tidak berencana berevolusi menjadi ABG alay, tapi semua ini memang untuk kebaikan mereka.
Kagami tak bisa membenci Aomine bagaimanapun juga, sebesar apa pun kesalahan yang Aomine perbuat, hatinya selalu menolak untuk membenci, walau kenyataan bibirnya bisa berucap. Dan jauh di dalam sana dia memang tak ingin membenci seseorang yang sudah membuat hidupnya ada.
Pertemanan mereka ada, karena satu kehidupan yang sama, yaitu basket. Kagami berterima kasih kepada waktu atas hal ini. Dia menemukan Aomine dari basket, begitupun sebaliknya. Maka dari itu Kagami ingin menjaga persahabatan ini, walau mereka tak saling menghubungi.
Bagaimana kehidupan Aomine tanpa dirinya di sana? Apa dia punya teman yang baik atau buruk? Siapa orang yang bisa bertahan dengan sikap Aomine, Kagami ingin tahu. Karena ia yakin tak ada sesiapa pun yang bisa mengimbangi Aomine selain dirinya.
Lama Kagami mengenal Aomine, jika dia ubah menjadi detik mungkin butuh waktu tujuh hari tujuh malam untuk menghapalnya. Lagipula dia tidak ada waktu untuk melakukan hal aneh semacam itu, apalagi yang berkaitan dengan Matematika, serahkan saja kepada isi kepala Akashi atau Midorima.
Dia mengenali Aomine lebih dari orang tuanya sendiri, mengerti Aomine lebih dari dirinya sendiri, memahami Aomine lebih dari yang lain. Jika di sana Aomine mendapatkan teman yang lebih baik darinya, ia hanya bisa bersyukur.
Manic crimson dibuatnya mengerling ke arah samping, memandang bola basket yang selama ini digunakan untuk one-on-one dengan manusia tak diuntung satu itu.
Mengambilnya dan dibawa kepangkuan. Memandang beberapa detik, sebelum akhirnya dia menyumpahi bola yang tak berdosa. Bola itu seakan-akan sedang menyeringai licik dan songong persis seperti wajah Aomine yang mengejeknya jika dia kalah main basket.
Fuck! Kagami sungguh ingin mengempeskan bola itu dan melenyapkannya dari bumi ini, tapi sayang ia hanya bisa memikirkan daripada melakukannya. Benci. Cepat ia tendang si orange tak bernyawa sampai terpelanting kepojokan dengan sedihnya.
Tingtong... Tingtong….
"A-Aho!" ia berdecak senang disela kekesalannya(?) cepat berdiri dari modenya dan berlari ke arah pintu.
Dengan seringaian yang cukup mengembang, Kagami menarik kenop pintunya…
.
.
"WOOF~WOOF~"
"UWWAAAA…." Kagami berteriak keras, dengan spontan dia langsung menutup pintunya kembali.
Suara itu, suara yang tidak ia sukai. Suara yang selalu ia hindari kapan pun dan di mana pun berada. Jangan bilang Aomine manusia ternista itu berubah menjadi seekor anjing. Kagami geleng-geleng sembari bersembunyi di samping tivi yang masih menyemburkan sinar radiasinya.
"Kagamicchiiii~~" teriak jail Kise setelah berhasil masuk ke dalam apartement Kagami, bola matanya fokus untuk mencari kepala merah bata sembari menimang-nimang Nigou ditangannya.
"WOOF~" Nigou menggonggong girang, ternyata dia menyetujui rencana jahat Kise.
"Oke, mari kita cari dia, Nigoucchi …" ucapnya, melangkahkan kaki lebih lanjut mencari sang sasaran.
Sedangkan Kuroko dengan kepribadiannya masuk dengan sopan, dan membuntut di belakang kedua sahabatnya yang sedang merencanakan niat jail.
"WOOF~~"
"Kagamicchii, di mana kau berada~~"
"WOOF~"
"Kagamicchii~~"
"WOOF~"
"Kagamicchi~~"
"Nigou, Kise-kun tolong hentikan semua itu," papar Kuroko yang telinganya ternodai dengan suara-suara tak guna.
Nigou dan Kise tetap melangkah dengan panggilan-panggilannya tanpa mempedulikan siapa yang sedang berbicara di belakang.
Dan Kuroko bersumpah tidak akan memberi makan Nigou selama satu minggu. Apa-apan dirinya dilupakan. Sejak kapan Nigou akrab dengan Kise? Kuroko berpikir dengan wajah stoiknya. Oh … sepertinya beberapa minggu ini, sejak spon berjalan itu selalu berkunjung ke rumahnya. Kuroko hanya mengehela napas.
Kise dan Nigou tak mengeluarkan suara, mereka mengendap-endap setelah menemukan sembulan kepala berwarna merah di samping televisi. "Kagamichii memang bodoh-ssu," gumam Kise.
Wajah Nigou berubah serius, dia sedang berpikir keras. Teman majikannya satu itu memang sangat bodoh, Nigou baru menyadarinya saat ini. Bersembunyi saja tidak bisa. Masa bersembunyi di tempat yang sangat terbuka. Dia saja bisa bersembunyi rapi, setidaknya di dalam lemari, jika Kuroko sang majikan sudah memerintahkannya untuk mandi.
Keduanya menyeringai, mulai mendekati mahluk yang sedang begetar hebat, peluhnya sudah mengalir, kedua tangannya berada di atas kepala sebagai perlindungan.
"Satu … dua … tiga …" bisik kecil Kise kepada Nigou.
"WOOF~~KAGAMICCHIII~~" teriak mereka bersamaan.
Kagami terperanjat, sampai tumbuhnya bertabrakan dengan tembok. Dia sudah tidak bisa berteriak saking takutnya. Tenggorokannya tercekat kuat, menelan ludah saja tidak sanggup. Kasian.
Sedangkan mereka; seekor dan seorang pelakunya malah asyik tertawa senang, melihat mangsanya sekarat tepat sasaran. Kagami yang melihat itu tidak terima, akan dia mutilasi satu-satu kemudian dijadikan sup keju.
"WOOF~" itu ejekan Nigou kepada Kagami. Dengan telinga dan ekor yang bergoyang-goyang, bahagia luar biasa.
Sialan!
Kise masih dengan kejailannya, menempelkan bulu-bulu Nigou ketubuh Kagami. "Kagamicchii, Nigoucchii itu baik-ssu," katanya. "Jadi tak perlu takut."
"KISE! AKAN KUBUNUH KALIAN!" Kagami dengan sekuat tenaga mengeluarkan suaranya, walau masih bergetar.
Kise hanya cekikikan innocent.
Kuroko di belakang menatap nanar wajah Kagami. Yang matanya sudah memerah bekaca-kaca, tubuh besar yang sudah berkeringat penuh. Oh. Kuroko sangat tidak tega. Karena dia sudah mendapat amanah dari seseorang, mungkin ini saatnya harus turun tangan.
"Kise-kun, hentikan," katanya memberi peringatan. "Atau aku tak mau satu kelompok lagi denganmu jika ada tugas." Konyol!
Kise berbalik menatap seseorang yang baru saja memberinya peringatan dengan cemberut. "Ahh .. Kurokocchi…" rengeknya.
"Nigou, kau tak akan kuberi makan dan tidur di luar." Datar tapi penuh dengan keseriusan.
Nigou langsung mengecilkan mata, membungkam mulut, menurunkan telinganya yang teracung, dan melemaskan ekor. Loncat dari pelukan Kise langsung menggelayuti kaki sang majikan sebagai permintaan maaf.
Kagami mulai bisa menarik napas secara perlahan. Mengatur sirkulasi darah di dalam tubuhnya supaya mendingin. Menatap mahluk-mahluk sialan itu satu persatu kecuali Nigou, sumpah andaikan ada Aomine.
"PULANG SANA KALIAN!" bentak Kagami setelah mendapat pasokan oksigennya yang sempat terisolasi.
"Kagami-kun juga, seharusnya kau malu dengan ototmu itu, dengan anjing saja takut. Payah!" celetuk Kuroko.
"Fffftttttt …." Tawa Kise diam-diam.
Hell! Kagami speechless. Memutar bola matanya dan mengumpat.
Sebenarnya apa yang dikatakan Kuroko tak salah sama sekali, tapi tetap saja yang namanya takut itu, ya takut. Takut. TAKUT. Takut itu tidak berani, ya semacam itulah.
Andaikata, saat masih menjadi janin boleh memilih hal apa yang akan ditakuti, tentu saja Kagami tidak akan memilih apa-apa. Ada saatnya dia memakai otak, kan?
Kagami berdiri jentle. Tidak ada wajah kasah kusuh yang siapa pun melihatnya akan kasian, kecuali Nigou dan Kise, mungkin. "Kalian mau apa ke sini?" tanyanya. Mengambil sekaleng minuman yang tidak dingin lagi, diteguk dengan brutal.
"Mau menemani Kagamicchi," saut Kise seadanya. Duduk di samping Kagami sembari mengemil hidangan yang ada. "Kau kesepian, kan?"
"Tsk, Kise! Jangan dekat-dekatlah," usir Kagami, menendang tubuh sang empu sekuatnya sampai terjungkal. Ah, anggap saja itu sebagai balas dendam.
"Kagamicchi kasar sekali, pantas saja ditinggal Aominecchi."
"Apa maksudmu!" Kagami naik pitam, mana dia menyebut-nyebut nama orang itu.
"Kagami-kun, Kise-kun kalian berisik. Nigou sedang tidur."
Kagami spontan diam. Kalau Nigou bangun akan merepotkan dirinya dan kehidupan yang tentram. "Kuroko, kenapa kau bawa mahluk berisik ini?" tunjuknya kepada Kise.
"Dia menemaniku, Kagami-kun," ucap Kuroko. Kise berangguk-angguk di samping. Sungguh Kagami sangat kesal kalau melihat kepala kuning itu, rasanya ingin menyiram dengan air panas supaya terlarut. "Memangnya kau mau mengantarku pulang malam-malam, bukannya Kagami-kun takut setan." Lanjutnya lagi sembari mengunyah satu cheeseburger.
"Tidak perlu diperjelas, Kuroko sialan!"
"Harusnya Kagamichi itu berterima kasih kepada kita. Takutnya nanti, saking kesepiannya malah mengantung diri. Tidak lucu, kan? Kami mendengar berita, seorang Kagami Taiga telah tew- mphhhhh…"
Tepat sasaran, satu burger masuk ke dalam mulut Kise yang sedang bercerocos tak guna. "Apa? mending kau makan daripada mengoceh. Berisik!" sentak Kagami. "Memangnya siapa sih yang kalian maksud kesepian itu, huh!?"
"Tak usah pura-pura sok tegar, Kagami-kun. Kami tahu-"
"Tahu apa!?" potong Kagami tak sabar.
Mimpi apa semalam, didatangi dua mahluk yang tak jelas. Yang satu berwarna biru suka menghilang tak ketahuan, yang satu berwarna kuning cerewetnya membuat pusing kepala. Untung semua mahluk yang aneh sisanya tak ikutan datang.
Hah, harus bersyukur atau bagaimana, hidupnya penuh dengan manusia-manusia aneh yang sulit untuk dideskripsikan, termasuk orang yang sudah tidak bersamanya.
"… tahu, kalau Kagami-kun sebenarnya sedang sedih karena ditinggalkan oleh Aomine-kun," katanya, tanpa menatap lawan bicara, dia sedang sibuk mengelus-elus perut Nigou.
Kagami menyipit, mencerna suara Kuroko yang baru saja masuk ke dalam telinga lalu diolah di otak. Sedetik kemudian, dia terbahak keras, sampai Nigou terkaget. "HAH! AKU SEDIH KARENA ORANG ITU! TIDAK!" kata Kagami dengan penuh percaya diri, tertawa setan, membusungkan dadanya.
Kuroko hanya berkedip beberapa kali, gagal paham fungsinya Kagami melakukan semua itu untuk apa?
"Ayolah, Kagamicchi. Cukup satu saja orang tsun dihidup kita, kau tak perlu ikut-ikutan, kan?" goda Kise dengan cengirannya yang mengembang.
"Diam Kise! Tak ada yang menyuruhmu bicara." Arrghh, Kagami mohon usir mahluk-mahluk ini.
"Habisnya tiga hari ini kau tidak masuk sekolah-ssu, kami kira kau sudah mati, iya kan, Kurokocchii?"
Kuroko hanya menggerakkan kepalanya sebagai jawaban.
"Hentikan pembicaraan ini." Kagami lelah, sungguh. Dia mengambil bantal yang diduduki Kise, lalu tiduran dan melihat tivi yang sedaritadi masih menyala.
Baru setengah delapan malam, rencananya mau bermain playstation gagal total, itu mengapa dia menyiapkan makanan sebanyak-banyaknya, tidak menyangka saja jika dua cecunguk ini akan datang. Mending kalau tidak membuatnya tambah bosan, membahas tentang kesepian, kesedihan, atau apalah. Kagami tanya, itu semua sejenis nama makanan atau apa? Heran.
"Kagami-kun?" panggil Kuroko.
"Hem," jawab Kagami, menoleh kesumber suara. "Jangan tidurkan hewan yang sok pintar itu didekatku, Kuroko sialan!" pada akhirnya Kagami harus bangun lagi dari posisinya yang sudah nyaman dan sedikit menjauh.
Namanya juga Kuroko, walau stoic begitu, dia tipe manusia keras kepala. Maunya begitu, ya itulah yang akan dilakukannya. Padahal Kagami sudah melarang keras, tapi tetap saja bayi biru itu menidurkan Nigounya di sana, malah dibantal Kagami.
Kagami menghela napas, kenapa hilang satu datangnya seribu.
"Kau merindukan Aomine-kun, kan?" Kuroko sepertinya sangat senang memancing emosi Kagami. Karena terlalu banyak bergaul dengan Kise beginilah jadinya. Ada rasa bahagia saat melihat Kagami yang sedang berada dilingkaran bad mood, dijaili sampai emosi. Ah, ternyata ini yang selalu dirasakan Aomine, Kuroko paham sekarang.
"Sudahlah, Kuroko. Hentikan pembicaraan bodoh yang membahas orang bodoh itu. Aku tidak merindukan siapa pun!"
"Kagamicchi juga bodoh-ssu."
Kagami tak menghiraukan, dia berpindah tempat ke samping Kise untuk menghindari Kuroko dan hewan yang disebutnya sok pintar. Terima saja bila besok telinganya berdenging-denging efek radiasi dari mulut Kise.
"Astaga …. Aku lupa ada siaran menarik malam ini~" Kise berpekik girang bukan kepalang, merebut remote dari tangan Kagami.
Nah, kan. Lihat sendiri, belum ada satu detik Kagami memikirkannya, dia sudah mulai berisik. Makin berisik saat dia menemukan chanel yang dicarinya. Ternyata acara show tentang permodelan.
"Keren, kan? Minggu depan aku pemotretan-ssu. Kalau kalian tertarik, datang, ya."
"Aku sibuk."
"Aku juga, Kise-kun."
Senyuman bagai kembang yang merekah disore hari itu pun lenyap seketika. Kise memonyongkan bibirnya, kesal. Huh, tak ada yang peduli satu pun dengannya. Dia berbalik lagi, menatap layar televisi intens, beberapa menit kemudian tertawa lagi, yah memang begitulah dia.
Kagami sakit mata dengan acara yang Kise tonton. Itu laki-laki atau perempuan, sih? Kenapa mereka cantik-cantik.
Kagami mengalihkan pandangannya dari tivi ke wajah Kise. Kalau dilihat-lihat sih Kise memang cantik ternyata. Ah, Kagami masih tak habis pikir kenapa dia mau masuk dunia permodelan. Memang membuat cantik, tapi ada sesuatu yang aneh, begitu. Kagami susah menjelaskannya.
"Kenapa laki-laki harus berpose seperti itu?" tunjuk Kagami pada salah satu model lelaki yang sedang memamerkan kostum yang digunakannya.
"Ya, memang harus seperti itu, Kagamicchi," jawabnya.
"Seperti itu bagaimana, jelaskan."
"Ah, sudah Kagamicchi berisik. Aku sedang focus."
Demi wajah Aomine yang menyebalkan, Kalau begini caranya Kagami tak usah ditemani.
Dia mendengus, melirik Kuroko yang sedang sibuk dengan ponselnya, mungkin saling kirim pesan dengan pacar. Tapi pikiran itu ia ralat, sangat tidak percaya seorang Kuroko punya pacar. Yang Kagami tahu Kuroko sudah mempunyai bayi. Lihat saja sekarang, dia sedang mengeloni Nigounya.
.
.
Sepuluh menit kemudian, ponsel salah satu dari mereka berbunyi. Kagami sih tidak pusing mengecek, karena nada deringnya masih suara sexi sahabatnya yang telah hilang. Yasudahlah, besok Kagami akan menggantinya, bila terpikir ke arah sana mengapa jadi emosi.
"Kurokocchi, ponselmu, ya?" tanya Kise yang risih akan suara musik yang mengalun merdu itu.
Kuroko tak menjawab, memang dasarnya seperti itu mau bagaimana lagi. Dia merogoh ponsel dari dalam sakunya, dan cepat merespon.
.
"Kagami-kun, ada yang mau bicara denganmu," tutur Kuroko, menyodorkan ponselnya ke Kagami. Kise mulai jail karena acara yang ditontonya sudah tidak jelas. "Siapa-siapa? Aominecchi, ya?" katanya.
Deg. Eh, kok?
Hanya karena Aomine yang menelpon, kenapa jantungnya salah tingkah. Kagami tiba-tiba panas. Bangsat, apa-apaan.
"Kagami-kun, ini," kata Kuroko karena ponselnya belum berpindah tempat. "Aomine-kun, dia ingin berbicara denganmu."
Kagami hanya melengos. Menyingkirkan tangan mungil Kuroko.
Kuroko dan Kise memandang aneh. "Bukannya kau rindu dengan Aominecchi?" katanya, suara itu dibesar-besarkan.
Pletek! Satu jitakan menyatu dengan kepala kuning Kise. "Berisik!"
"Kagami-kun, cepatlah, tak perlu malu."
"Tsk! Kuroko!" decaknya. Masih kuat dengan pendirian yang tak mau berbicara dengan Aomine. Dan tolong jelaskan, kalau memang niat ingin berbicara, harusnya Aomine menelpon keponselnya bukan keponsel Kuroko.
Kuroko gemas sendiri, bagaimana cara mengatasinya, yang jauh di sana kekeh ingin bicara, tapi yang satu tetap tidak mau. Memangnya kalian ini anak kecil, apa? Heran memiliki teman yang sikap bocahnya tidak ketulungan.
Kuroko bangkit dan memperkecil jarak, lalu dengan tidak sabar meletakan ponselnya di telinga Kagami. "Bicaralah!" sentak Kuroko.
"Padahal sebenarnya mengharapakan, sudah ada malah tidak mau," ucap Kise sarkas.
Kagami mengerucut, lagi-lagi menyingkirkan tangan Kuroko yang sudah mau bekerja keras. Tapi sedetik kemudian, "Sini!" menjambret ponsel itu dengan kasar. Berdiri dan melangkah pergi, ia sempatkan untuk menoleh ke belakang. "Diam kalian di situ jangan macam-macam," ancamnya.
Setelah memberi peringatan penting, Kagami melanjutkan langkahnya yang terhenti, menuju tempat di mana dirinya selalu memanjakan diri.
Oke, sekarang apa yang harus dia lakukan. Eh, ini canggung menurutnya. Sudah lama tak berbicara dengan Aomine.
Dia tak mengerti dengan suasana sekarang ini, panas, jantungnya memberontak, entah harus memulai perkataan dari mana. Kagami hanya menatap ponsel Kuroko selama dua menit tanpa melakukan apa pun. Walau samar sebenarnya dia mendengar suara manusia berhallo ria di sebrang sana.
Sialan, apa yang gue pikirin, sih!
Kagami menempelkan ponsel itu ketelinganya. "Hal-"
"Baka bangsat! Lama amat sih ngomongnya!" teriak Aomine, naik darah. "DAN KENAPA NOMOR LO NGGAK AKTIF, SETAN!"
Kagami sama sekali tak diberi waktu untuk menjawab. Err … ini adalah kesan pertama setelah lama tak bicara. Sifat Aomine memang tidak ada yang berubah, bukannya menanyai kabar atau apa, malah berteriak-teriak. Dia kira telinga Kagami tidak sakit.
"Aho sialan, bisa nggak ngomongnya biasa aja. Lo kira gue tuli, huh!?"
"Memang, gue udah halo-halo daritadi lo diem aja. Jangan-jangan lo bukan hanya tuli, tapi juga bisu karena ditinggal sama gue, iya kan? Gimana suara ini masih sexi, kan?"
"Aho, mending lo nggak usah ngomong!" emosi. Iya, emosi. Memang, Aomine adalah satu-satunya manusia yang paling tidak tahu diri, tidak ada yang bisa mengalahkan gelar itu. minta maaf atau apalah, sejelek-jeleknya basa-basi.
"Gue tanya, kenapa nomor lo nggak aktif. Lo mau ngilang dari gue? Emang lo kira gue ninggalin lo itu mau gue. Emang lo kira, kalau kita nggak komunikasi masalah itu bakal selesai. Terserah lo mau maki-maki gue kayak gimanapun, mau bunuh gue sekalian kalau ketemu, tapi jangan putusin komunikasi," ucap Aomine panjang lebar. Dia sedang berdiri di balkon rumahnya yang baru. Menendang pagar besi sekuatnya, sampai terasa nyeri dijempol kaki.
Kagami menganga. "Please, Ao. Kita lagi nggak syuting film drama, kan?"
"Gue serius, ada saatnya hidup kita mendrama,"
Kagami terbahak, itu benar Aomine, kan? kulit perutnya sampai geli, mendengar seorang Aomine Daiki membahas tentang hidup. Entah sudah bergaul dengan siapa dia di sana.
"GUE SERIUS JANGAN KETAWA, BAKA!" sentaknya sebal. Apa salah hidupnya.
Kagami langsung bungkam kala itu.
"Lo beneran mau ngilang dari gue, ya?" kata Aomine.
"Ngilang apaan, sih!" sekarang Kagami yang naik pitam.
Dia tidak mengerti dengan bahasan Aomine. Dan kenapa dia yang dituduh tidak mengaktifkan ponsel, kenapa Aomine yang marah-marah, harusnya kan dia yang marah.
Siapa yang sebenarnya tak menghubungi selama dua minggu. Aomine egois. Lama-lama Kagami laporkan juga masalah ini ke kementrian hak asasi manusia. Supaya si Aho itu tidak selalu mengambil haknya. Haknya sekarang adalah dia yang marah, dan kewajiban Aomine untuk meminta maaf. Bukan malah sebaliknya.
"Buktinya, nomor lo udah nggak aktif."
"AHOMINE SIALAN! YANG NGGAK AKTIF ITU NOMOR LO! YANG NGGAK NGEHUBUNGI ITU ELO!" darah di ubun-ubun Kagami bergolak panas, urat rahang mengencang saking gemasnya. Terus saja, jika ada masalah salahkan dirinya. Kagami tahu Aomine tak pernah salah barang secuilpun.
"Nih, Baka setan. Gue jelasin okey," tuturnya. "Ponsel gue ilang entah ke mana waktu dalam perjalanan pindah. Semua itu ketahuan saat gue mau ngasih kabar ke elo kalau gue udah sampe."
"Halah, kan bisa pinjem ponsel ibu lo." Memangnya Kagami bisa dibohongi dengan mudah.
"Nah, itu dia masalahnya. Ibu sama Ayah gue berantem, gue juga heran mempermasalahin apaan. Padahal, mereka baru sampe dan itu capek banget, sampai pengen gue bekep dua-duanya."
"Durhaka lo! Terus gimana? Keluarga lo bai-baik aja, kan?" Kagami duduk dipinggiran kasurnya, rasa khawatir langsung menjalar masuk ke dalam aliran darah.
"Baik, kok. Besoknya mereka udah saling rayu. Mual gue dengernya,"
Ah, Kagami mengelus dada, lega.
"Ibu gue nggak mau pinjemin ponselnya, katanya takut gue colong lagi pulsanya padahal waktu itu gue cerdas banget, ya, kan?"
"Mati sana."
Aomine terkekeh renyah. "Dan dia nggak percaya ponsel gue ilang, Baka,"
"Mampus!"
"Yaudahlah, akhirnya gue nggak kasih kabar lo. Mau ke telepon umum, kan gue pengen ngobrol lama sama lo, kalau gue dibunuh sama orang yang ngantri, gimana? Memang lo rela gue bener-bener ninggalin lo, huh?"
Hening.
"Dan tiga hari setelah itu gue dapet ponsel baru, tapi ternyata nomor lo nggak aktif. Rasanya, kalau deket gue lempar lo ke laut. Untung kemarin gue nemuin catetan nomor Tetsu. Oh ya, mereka mana? Gue yang suruh mereka dateng supaya temenin elo."
"Emang hidup gue sesedih itu lo tinggal, enggak ya!"
Aomine tak menanggapi elakan Kagami. Dia hanya cekikikan sendiri di sana. Iritasi Kagami mendengarnya.
"Kenapa nomor lo nggak aktif, Baka?"
"Errr …. Ganti kartu," katanya santai. "Habis nomor lo nggak aktif dan nggak hubungin gue, ya gue ganti kartu."
Aomine menghela napas. "Lo sehat, Ka? Lo jadi gila gitu karena gue tinggal. Lo pake nomor baru dan gue pake nomor baru. Setelah itu lo berharap gue ngehubungi elo? Atau lo yang hubungi gue? YA MANA NYAMBUNG BEGO!"
Kagami diam membisu setelah diteriaki. Mengusap kepalanya yang merah, meluangkan waktu untuk berpikir. Dan Kagami baru tersadar, ternyata dia telah salah sangka.
Tapi Kagami tidak akan meminta maaf, enak saja, malaslah. Aomine saja tidak pernah minta maaf, lagipula tetap saja ini semua salah Aomine. Apa pun alasannya semua ini tetap salah Aomine.
Mereka perang mulut. Kagami merasakan Aomine di sini, dan Aomine merasakan Kagami di sana. Tertawa, saling maki, saling tuduh dan segalanya.
Tidak ada masalah lagi di antara mereka. Tidak ada Aomine yang meninggalkan, atau Kagami yang membenci. Kadang hidup memang perlu drama, Kagami setuju dengan perkataan Aomine sekarang.
Pada akhirnya tidak ada kata maaf dari keduanya, tidak ada kata rindu yang tersemat. Tapi mereka sudah memahami kalau mereka memang saling rindu. Tak semua perasaan harus diungkapkan dengan lukisan kata-kata. Cukup dengan "Gue dan lo paham kita"
"Minggu depan kita ketemu, ya?" Kata Aomine dengan suara yang sudah parau karena kantuk yang melanda.
"HAH!?"
"Gue tidur duluan, lagian ini ponsel Tetsu siapa tahu orangnya mau pulang,"
Oh, hell! Kagami melupakan mereka berdua. Serasa ponsel itu miliknya.
"Jangan bolos sekolah lagi, udah baka tambah baka, kapan pinternya," Aomine tak memberi waktu Kagami untuk bicara. "Tunggu gue minggu depan, oke. Emmuuach."
Tutttt… sambungan diputus secara sepihak. Kan, Aomine itu memang suka mau menang sendiri. Dan dia tahu kalau dirinya bolos sekolah. Mulut Kuroko memang kadang mengerikan, tapi terima kasih atas malam ini. Kagami memekarkan senyum yang sudah beberapa hari ini hanya kuncup.
…
O
o
O
o
O
…
Hallo, ketemu lagi kita, sini peluk satu-satu. Itu saya baca rifiu agak seneng gimana gitu. Ya, bukannya seneng lihat kalian menderita, sih. Dan nggak tahu juga kalian beneran baper atau enggak, yang penting saya seneng aja. Soalnya kalau buat cerita sedih itu failed mulu, malah jadinya lucu gitu. Mungkin karena ini AoKaga, ya, jadi saya sendiri juga baper kok hahaha. Nggak rela nyakitin mereka ituuuuu.
Oh ya, bulan lima tanggal sepuluh kan sebentar lagi. AoKaga Days sebentar lagi yeheeeyy. Buat fanfic yang banyak yok untuk hadiah mereka.
Thanks untuk rifiuu, fav, follow, silent reader. Kalian memberi saya semangat untuk melanjutkan cerita ini disela penjara tugas. Terutama untuk Kuro my sohib yang selalu ngoceh minta dilanjutin MMAz secepat mungkin, thanks, love you. Dan semangat, karena kemauan menulismu sudah kembali.
.
.
AoKagaKuroLover: Eh, berarti malam minggu kemarin kecewa dong :((. Syukurlah kalau ikutan nangis/nah. Terima kasih sudah membaca lanjutannya, semoga suka.
Nam Min Seul: ENTAHLAH WOY! Hehe gomen, silahkan minta taggung jawab kepada mereka.
Sae-chan Miyazawa: terharu? Makasih kirain hancur feelnya. Kenapa nggak nangis aja, kan tanggung hahaha. Semoga chap ini menghibur ya.
Suira Seans: Yaampun ditungguin/gegulingan. Terima kasih ya, semoga chap ini berkesan.
Sakurahikaru16: Aku juga sakit kok, hiks. Yeah, good job. Thanks ya, ditunggu rifiunya lagi.
Alfrida21: Enggak kok. Aku tidak sejahat ini dengan mereka, ohoo. Ceritanya tetep berlanjut, kalau udah nemuin tulisan END baru selesai, okey. Jangan bosan membaca, dan ditunggu rifiunya lagi.
Nana: AAA… tidak saya dikatain jahat masaa. Tenang nak tenang, saya juga nggak rela nyakitin mereka, sumpah. Tapi nggak papalah sekali-kali heheh. Aku juga suka karakter bang Ao. Sama-sama maaf sudah membuat kamu mengeluarkan air mata yang tak berdosa itu, oke stop. Thanks, lope lope pokonya.
Haryakei: hehehe kurang tahu.
Ryuuki Kiroshi: Gimana chap yang ini? Semoga terhibur Ryuuki-chan. Ditunggu rifiunya.
Yui Yokoyama: Terima kasih sudah terhibur, ditunggu rifiunya lagi, ya.
Rei-chin: Gimana setelah baca chap ini? minggu depan mereka ketemu kok.
Kuro-kun: Oi, kita satu kosan. Gue di samping lo. Padahal lo maso, seharusnya lo suka angst wkwkwkwk. Proses pembuatan request juga nyusul hahah.
Melani: Hiiii … akhirnya rifiu, akunya juga seneng. Gimana udah baca chap ini?
.
Selamat malam minggu dan salam AOKAGA.
