OEMGE(?) Cieee … akhirnya bisa update lebih awal. Yoshaaa .. Enjoy!

.

Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman–teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.

.

AoKaga

"Malam Minggu AoKagazone: Lebih dari Sekedar Sahabat"

By : Zokashime

O

o

O

o

O

Saling berlomba memasok oksigen. Itu yang dilakukan kedelapan pemuda di dalam ruangan gym. Mereka baru saja melakukan aktivitas rebutan bola orange, dengan formasi four-one-four. Kemenangan diraih oleh kelompok Akashi dengan nilai hanya selisih satu point.

Jarsey basah dengan keringat, wajah memerah karena banyak energy yang terpakai. Kedelepannya lempoh di lantai dengan kaki yang terselonjor.

"Tadi itu sama sekali tidak adil tahu," kata seseorang dengan rambut hitam legam belah tengah. Takao Kazunari yang notabene berisik memulai sanggahannya dengan wajah yang tak sedap.

"Takao, berisik. Aku lelah, nanodayo," timpal Midorima di sampingnya.

"Shin-chan, tak membelaku?"

Diam, tak ada lagi suara yang keluar dari mulut manusia berkepala hijau itu. Takao hanya merengut. "Oi, Kuroko, Kagami, dan Himuro. Apa kalian tak merasa dicurangi?"

"Ah, lagipula kita tak jauh beda dengan mereka; kelompok Akashi, Midorima, Kise, dan Atsushi," timpal si mata satu. "Skor kita hanya beda satu point."

"Hah!? Tap-" Takao tidak melanjutkan perkataan, kala mulut yang merupakan satu-satunya aset untuk berbicara disumpal dengan satu botol minuman ion. Untung saja dia tidak tersedak dan memuncratkan cairan itu ke wajah orang yang melakukannya.

"Ah, Shin-chan~~"

"Minum itu, daripada kau mengoceh yang tidak penting," tegas, jelas, padat.

"Ya, aku tahu. Tapi bisakah lain kali, kalau mau menyuapiku konfirmasi dulu, jangan seperti tadi, kalau aku tersedak kemudian mati, bagaimana? Siapa yang akan menemanimu mencari lucky item, hayo?"

Midorima lagi-lagi tak menjawab, alasannya karena dia sedang menegak botol minuman. Walau begitu jari kirinya tak lupa untuk menaikkan kacamata yang sama sekali tidak melorot.

Entah mengapa Akashi geli melihat itu semua.

"Kurokocchi~~ kau kenapa-ssu?" ucap Kise khawatir saat melihat temannya berbaring tak sadarkan diri. "Oi, bangun Kurokocchi~~"

"Aku hanya lelah Kise-kun," jawab Kuroko parau. "Melawanmu, Akashi-kun, Midorima-kun, dan Murasakibara-kun."

"Mau aku pijiti," tawarnya antusias.

"Nanti saja di rumah."

"Wey, aku boleh berkunjung ke sana," teriaknya dengan girang seperti anak anjing yang diberi tulang. "Oke," katanya.

Setiap kali berkumpul, Akashi selalu menyaksikan drama-drama seperti ini, entah itu Midorima dan peliharaannya, Kuroko dan childish Kise, atau Murasakibara dengan Himuro yang selalu menasehati supaya tidak makan manis atau makanan instan terlalu banyak.

Ini belum seberapa, biasanya, kehebohan yang terjadi selalu didominasi oleh pasangan bodoh yang akhir-akir ini lenyap. Dari berebut omong hal yang spele sampai pada gulat yang sangat susah untuk dipisahkan.

Akashi kadang berpikir, mengapa mereka berdua itu selalu saja bisa membuat hal yang kecil menjadi seru, tertawa dengan gembira tanpa ada beban.

Ketika dia mendapat kabar, jika Aomine pindah dari sekolah ini, ada rasa aneh yang tersirat saat melihat raut wajah Kagami. Raut wajah yang tak pernah Akashi lihat selama dua tahun. Murung, tak ada gairah hidup. Apa sesakit itu jika ditinggal sahabat?

Kagami sering membolos sekolah. Akashi sampai dipanggil oleh bagian kesiswaan hanya untuk menanyakan perihal kehadiran Kagami akhir-akhir ini. Dia menjawab seadanya tanpa melebihkan atau mengurangi fakta yang ada, itu dilakukan sebagai tanggung jawabnya terhadap tugas yang dieban selaku ketua kelas sekaligus OSIS. Dia juga sampai harus berbaik hati tidak menghukum Kagami, karena selalu bolos berlatih basket.

Tapi sore ini, ada hal yang berbeda dari Kagami. Dia terlihat semangat dalam bermain basket, tidak peduli dengan bagian kelompok yang menurut Takao tidak adil.

Kelompok Kagami terdiri dari Kuroko, Takao dan Himuro. Akashi hanya tidak menyangka, dengan semangat yang membara itu kelompoknya hampir saja dikalahkan. Lihat, hasilnya hanya berbeda satu poin. Akashi melihat seperti ada Aomine di samping Kagami.

"Ekhem…" dehem Akashi kuat, sampai semuanya menoleh. Tapi tidak dengan pemuda bersurai merah gradasi hitam yang sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri.

Keenam pemuda yang menoleh menyadari apa artinya deheman Akashi, setelah melihat orang yang dimaksud sedang senyam-senyum sendiri bak orang gila.

"Kagami-kun?"

"Kagamicchi?"

"Kagami?"

"Kaga-chin?"

"Taiga?"

Kagami melongo sesaat, setelah suara-suara itu masuk ke dalam telinganya dengan sempurna. Dan tidak mengerti dengan tatapan teman-temannya, yang seolah-olah dia sudah menghabiskan pasokan minuman.

Padahal, dari selesai bermain basket sampai sekarang, dia sama sekali belum menegak air setetes pun. Bahkan, minuman ion yang merupakan bagiannya masih perawan dengan segel yang utuh.

Kise mendekat dan menempelkan punggung tangan ke kening Kagami. "Kagamicchii, sehat?" tanyanya innocent.

"Tsk, Kise!" decak Kagami, menyingkirkan tangan itu dari keningnya. "Tentu saja aku sehat, memangnya kau," gerutunya.

"Taiga, kau sedang kasmaran, ya?" kali ini Himuro yang berstatus sebagai abang bagi Kagami, tidak tinggal diam melihat adiknya berprilaku aneh.

"Tatsuya, kau juga. Tak usah ikut-ikut merekalah."

"Kagami-kun, kenapa senyum-senyum sendiri? Padahal, kita sedang kelelahan."

"Err … itu … memang, iya?" tanyanya dengan polos.

Semua yang ada hanya menaikkan alisnya masing-masing. Mereka rasa Kagami memang sudah gila, dia tidak menyadari apa yang dilakukannya.

Takao berdiri cepat dari samping Midorima, dia mencium bau sesuatu yang mencurigakan. Dengan seringaian yang terpatri indah di wajahnya, ia mengendap-endap kearah belakang Kagami.

Kise ikut-ikut bangkit dan menjauh dari mereka semua, sepertinya ia dan Takao sudah bertelepati. Itu mugkin, karena mereka berdua memiliki jiwa dasar yang sama, berisik dan suka jail.

"Taiga, kau tidak haus. Aku sudah menyentok minuman itu untuk diminum bukan dibiarkan dan akhirnya kebuang!" ceramah Akashi.

Oh, ada apa dengan teman-temanya ini, sih. Sepertinya dia sama sekali tak membuat onar hari ini. Mengapa semuanya serba salah, diam salah, berisik salah. Apa coba maunya?

Lagipula, seseorang yang biasanya selalu membuat onar tidak ada di sini sekarang, harusnya senang kalau ia bersikap kalem. "Iya, aku juga tahu, Akashi. Nanti kuminum."

Grep!

.

"Yuhuyyyy ….. dapat!" seru Takao dengan girang, setelah ia berhasil merampas ponsel yang sedaritadi Kagami mainkan sampai terlihat seperti orang gila. "Kise, tangkap!" perintahnya.

"Aku siap!" Kise yang sudah memposisikan diri dengan strategis, menangkap ponsel itu dengan mulus.

"TAKAO, KISE! KEMBALIKAN PONSELKU, SIALAN!" Kagami geram dan bangkit dari duduknya.

Takao yang merasa terancam segera berlari menuju Kise berdiri. Sisanya menonton dengan asyik, menyaksikan dua pemuda usil dan satu mangsanya yang polos.

Tawa dua persona yang telah diracang dengan kelebihan suara menggaung diudara. Merasa menang dari Kagami dan akan melanjutkan misi yang selanjutnya. Kagami mengejar, tapi mereka berdua lebih mendominasi karena bekerja sama.

"O-oohhh … Aomine yang membuat Kagami seperti ini," celetuk Takao dengan suara yang dibesar-besarkan supaya semuanya mendengar.

"BANGSAT, TAK USAH DIBACA, TAKAO!" Teriak Kagami.

"Baka, gue udah berangkat. Nanti malem sekitar jam delapan gue sampe, tungguin gue, ya." Kise dan Takao membaca pesan di ponsel Kagami, sudah seperti membaca UUD saat upacara bendera. Setelahnya mereka berdua terbahak guling-guling.

"Ohhhhh….." jawab serempak mereka yang menonton.

Kagami hanya diam di tengah-tengah, antara Takao, Kise dan mereka yang sedang asyik menonton sembari senyum mengejek. Bagaimana tidak geram, kalau kau diperlakukan sperti itu? Kagami malu.

"Cie … Kagamicchi mau kencan, ajak kita dong~~"

"KISE~~~ SEKALI LAGI KAU BERBICARA KUPATAHKAN TULANG LEHERMU!" Kagami murka.

"Ah, Kagami marah, nih," timpal Takao dengan ledakan tawanya.

Sialan, Kagami akan melenyapkan dua pemuda itu bagaimanapun caranya. Dia akan merangcang bom dan meledakkan di wajah mereka berdua tanpa ampun.

["Ao, hati-hati."

"Iya, Ka."

"Lo udah di mana, Aho?"

"Aelah, belum jauh dari rumah. Sabar dong, kangen banget, ya, sama gue."

"ENGGAK! Nanti mau ke apartemen gue dulu, apa langsung ketemu di Majiba?"

"Gimana nanti deh, gue kabarin lagi."]

Takao dan Kise cekikikan senang, setelah membaca pesan Kagami dan Aomine. "Hahahaha~ Kagami bisa tsunder juga seperti Shin-chan ternyata," seru Takao, melirik empunya dengan jail.

"Iya, apa susahnya tinggal jawab KANGEN~~suwit~" Kise bersiul-siul.

"BAKAO! LIHAT NANTI KAU!" Ancam Midorima.

Kagami lelah menimpali, menghela napas panjang untuk menenangkan diri. Dia melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan angka enam, dua jam lagi Aomine sampai, sedangkan dirinya belum bersiap, membersihkan apartemen, membuatkan makanan kesukaan Aomine atau setidaknya mandi. "Kalau kalian sudah puas, kembalikan ponselku. Aku mau pulang sudah mulai malam," ucap Kagami mendektai Takao dan Kise.

"Cie … bersiap untuk ketemu Aominecchi, ya?"

"IYA KISE! PUAS!"

"Puas, hihihi," seru Kise, melemparkan ponsel berwarna merah tua kepemiliknya.

Kagami menangkap dengan mulus, dan langsung mengantonginya. Melangkah menunju di mana tasnya berada, lalu ke luar dari gym itu setelah berpamitan.

.

OoOoOoOoOo

.

"Tsk!" Kagami berdecak. Masih sebal dengan apa yang telah dilakukan kedua manusia lebih suara itu, untung saja tadi dirinya bisa menahan emosi, bagaimana kalau tidak. Kagami tidak ingin ada pertumpahan darah di sana.

Kaki yang masih terbalut sepatu sportnya, menendang kerikil yang bergelimpangan di jalanan. Mengutuk, kalau hari ini benar-benar memalukan.

Siapa yang patut disalahkan? Dia rasa Aomine. Karena orang itu, dirinya senyum-senyum tak sadar diri, dan mengakibatkan semua ini terjadi.

Ponselnya bergoyang dombret dengan asyik di dalam saku. Kagami berencana untuk merogohnya, tapi urung setelah ia pikir itu tak penting. Dia masih menyusuri jalanan dengan angin malam yang bersemilir agak kuat. Tubuh sekal itu dibuat merinding dini akibat perbuatan angin yang tak tahu diri.

Lima menit kemudian, ponselnya berdering kembali, memekak telinga siapa pun yang mendengar. Dengan kesadaran penuh, Kagami merogoh dan mengangkatnya. "Apa nelpon-nelpon!" sentaknya.

"Oi, Baka. Ini gue," seru seseorang yang tak terima dibentak.

"Tahu."

"Terus?"

"Kesel!"

"Sama gue?"

"Iya."

"Apa salah gue, oi!"

"Banyak!"

Tutt … sambungan diputus secara sepihak.

Kagami menaiki bus yang sudah menunggu di halte. Butuh waktu duapuluh menit untuk sampai ke rumahnya. Duduk dipojokan belakang, bola matanya teralih ke jalan yang terlewati. Satu tangan menumpu dagu, ia tersenyum simpul.

Selama tiga minggu, dia ditinggalkan. Ah, terlalu lebay, bukan? Padahal, dia paham Aomine tidak bermaksud demikian. Ia juga paham semua itu bukan salah Aomine, bukan kemauan orang itu, tapi sekuat apa pun dirinya menyangkal, tetap saja ia beranggapan bahwa telah ditinggalkan.

Salahkan Aomine yang tidak mau jujur terhadapnya saat itu. Kagami tahu, Aomine tak pergi jauh, hanya beda provinsi dan udara yang dihirup. Tak pergi keluar negeri ataupun keluar angkasa. Masih bisa melihat bulan dan bintang yang sama, jika malam sudah tiba.

Uh, apa artinya, jika hanya bisa melihat malam yang sama tapi tak bisa melihat wajahnya.

21 hari, ia hidup seorang diri. Bukan karena ia tak mempunyai teman lain selain Aomine, tapi baginya, waktu yang dijalani bersama pemuda dim itu menjadi lebih berarti. Tidak hanya tentang basket, atau melakukan kekonyolan bersama. Tapi hal kecil, seperti makan mie instan berdua.

504 jam, ia tak pernah bisa melihat. Melihat bagaimana Aomine tertawa, karena orang itu berhasil menjailinya sampai ia harus naik darah.

Kagami tak bisa melihat senyumannya yang sok dibuat cool. Tak bisa melihat seringaian liciknya, ketika dia menang one-on-one. Tak bisa melihat, betapa bahagianya pemilik manik sewarna batu sapphire itu, hanya karena ia buatkan segelas susu coklat.

30240 menit, ia selalu memikirkannya. Memikirkan bagaimana kehidupan Aomine yang baru di sana, tanpa dirinya.

Apa dia akan dilupakan begitu saja, atau diingat tapi saling mengacuhkan. Apa Aomine akan bahagia jika tidak dengannya. Iya, pikirannya selalu begitu, negative. Tak pernah bisa berpikir jernih seperti kebanyakan orang lain. Pikiran itu menjadi beban.

1814400 detik, ia selalu merindukannya. Jangan tertawa pada kenyataan. Inilah adanya, setiap detik yang berdentang, Kagami selalu merindukan sosok itu. Bagaimana dia bisa membenci, jika satu fakta terpahitnya adalah hal yang berharga.

Kagami tak mengerti dari semua uraian itu, otaknya penuh dengan nama Aomine. Orang itu sudah mengambil alih, bukan lagi dia yang mengendalikan tapi seseorang.

Apa dia sebegitu cintanya, dengan persona yang tercipta indah dibalut kover deragem, mata tipis yang dihuni oleh bola berlapis lazuli di dalamnya, terang kala malam tiba.

Malam ini, malam yang ia tunggu selama jutaan detik yang terlewat. Malam minggu yang akan terasa hangat lagi setelah melihatnya.

.

.

.

Kagami memasuki gerbang apartemennya. Security yang berjaga tertawa geli, entah mengapa pemudanya terlihat seperti emak-emak yang baru saja pulang dari pasar.

Kagami mendengus menyadari itu, dengan risih ia cepat berlari. Tangan kiri maupun tangan kanan tak ada yang tak bekerja, mereka ditugaskan empunya untuk membawa beban berat. Bungkusan-bungkusan menggayot lemah karena massa yang berlebihan.

Iya, sebelum menuju apartemennya, Kagami menyempatkan diri untuk pergi ke konbini. Membeli segala sesuatu yang mulai habis, terutama membeli bahan makanan untuk Aomine, tamunya yang akan datang malam ini.

Kagami mempercepat langkah, saat mengingat jam yang terpasang di dinding konbini sudah menunjukkan angka tujuh. Satu jam lagi Aomine akan segera tiba, ia tak tahu apa orang itu mau mampir ke apartemennya dulu atau langsung bertemu di suatu tempat. Intinya Kagami harus bersiap.

Em … dirinya jadi geli sendiri dengan tingkah yang tak masuk akal ini, padahal yang akan datang hanya seorang Aomine. Orang yang paling menyebalkan baginya. Orang yang telah membuatnya mengeluarkan air mata tiga minggu yang lalu.

Kagami menaruh belanjaannya yang menggunung di depan pintu. Dengan cepat tangannya mengubek tas untuk menemukan sebuah kunci. "Ini dia," katanya, setelah menemukan apa yang dicari.

Anak kunci masuk lubang, Kagami memutar dua kali. Pintu terbuka. Tak menungga ita-itu, dia langsung membawa masuk belanjaannya di ruangan yang masih gelap karena lampu listrik belum dihidupkan.

Agak takut-takut, Kagami menelusuri apartemennya sendiri untuk menemukan sang saklar. "Tsk, mana sih saklar ini," ocehnya tak sabar sembari meraba-raba tubuh tembok.

.

.

"Tebak siapa gue?" sexi, berat, dan dalam.

Jantung Kagami hampir copot saat ada tangan menutupi kedua matannya, dan dia hampir berteriak kesetan jikalau orang itu tidak mengeluarkan suara. "A-aho," gumamnya.

Sekarang jantungnya bukan hanya copot, tapi dia sudah lari-lari ditempat. Jdag-jdug tak karuan membuatnya susah untuk menarik napas. Darah dipompa maraton dengan ekstra, sehingga tubuhnya terasa panas, apalagi dibagian wajah.

Tangan itu sangat dingin, Kagami merasakan karena orang itu masih menutupi kedua matanya. Aroma mint bercampur buah blackcurrant, menyeruak masuk ke dalam indra penciuman. Bagaimana Kagami bisa melupakan bau itu, kalau shampo yang Aomine pakai merupakan rekomendesi darinya.

Lemas, tangannya dibiarkan menggantung lepas dari tubuh tembok. Ia bingung, mungkin jaringan di dalam tubuhnya sudah rusak terbakar.

Aomine hanya tersenyum dalam gelapnya ruangan dan panasnya suhu tubuh Kagami. Ah, betapa ia merindukan sosok di depannya sekarang ini, yang membuat hidupnya tak tenang saat ia tinggalkan.

Tetiba matanya perih dan panasnya sama seperti suhu tubuh Kagami. Aomine membalik tubuh itu supaya menghadap kepadanya, lalu tangannya meraba tembok mencari saklar.

Plip! Terang.

Manik se-sexi batu spinel blue bertubrukan dengan batu seindah red garnet, mereka diam membeku, hanya saling tatap tanpa kedip. Jantung keduanya berpacu seperti kuda yang sedang mengikuti kompetisi.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik masih sama, saling pandang. Apa artinya semua itu, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

.

.

-sampai satu menit berlalu.

"Baka, sampe kapan kita lomba nggak ngedipin mata kayak gini," ucap Aomine. "Ma-mata gue udah perih, sumpah." Pada akhirnya Aomine mengedipkan mata lebih dulu, dan keluarlah cairan bening yang sudah terkumpul. "SIALAN, MATA GUE PERIHHHH!" teriaknya, bercucuran air mata.

Kagami tertawa puas. "Aho, lo kalah!" serunya, padahal tak jauh beda dengan Aomine, dia pun mengeluarkan air mata.

"Tapi kan lo juga nangis!"

"Tapi yang kedip duluan kan elo!"

"Lah, perih tahu!"

"Sama gue juga perih. Bodo amat, Aho. Pokonya lo kalah dan harus dihukum."

Ya, begitulah mereka, bukan menangis karena lama menahan rindu, tapi menangis karena hal yang konyol. Namun, inilah yang mereka rindukan sebenarnya. Membuat hal konyol menjadi lebih seru dan tentu tidak bisa dilakukan oleh orang-orang pintar.

Mereka bergulat menuangkan segalanya tanpa melalui mulut. Saling jitak, tendang, dan jambak. Sampai pada Kagami yang di atas dan Aomine yang di bawah. Diam, tak bergerak, tetap pada posisi itu.

Satu tangan dilingkarkan pada pinggang Kagami, sedangkan tangan lainnya melingkar melalui pundak. Dia memeluknya erat. "Sebentar aja," bisik Aomine tepat di telinga Kagami.

Kagami merasakan panas napas Aomine yang masuk ke dalam lubang pendengarannya. Tubuh lemas, tangannya masuk menelusup ke dalam leher Aomine. Dia membenamkan kepalanya di sana.

Hangat, ketika tangan besar Aomine mengusap surainya, dan nyaman ketika Aomine memeluknya lebih erat. Kagami tak mau ini berakhir. Ia tak mau ditinggalkan lagi. Mohon dengan sangat, waktu jangan ambil lagi dia darinya.

"Ka?"

"Hem."

"Lo nggak makan, ya?"

"Hah!?"

"Badan lo kurusan gini."

"Makan kok."

"Apaan. Enteng begin-"

Bagaimana bisa Aomine melanjutkan perkataannya, kalau mulutnya ditutup oleh bibir Kagami. Hanya sebatas ciuman menempelkan bibir, Kagami tak melakukan gerak apa pun selama beberapa detik, sampai dia menariknya kembali, dan mengembangkan senyum kepada Aomine. "Makasih udah datang malem ini," katanya. "Gue nggak tahu kapan lagi kita bisa ketemu."

Arrrrggghhhhhh …. Kagami yang seperti itu kenapa lebih terlihat manis di mata Aomine. Kapan lagi, Kagami bisa berbicara seperti itu. Aomine reflek menarik hidung Kagami sampai empunya menggerang kesakitan, menciumnya sekilas, dan memeluknya. "Baka, lo bau. Lo belum mandi, ya?"

Perempatan imajiner langsung tumbuh di kepala Kagami saat itu juga. "IYALAH! LO NGGAK LIHAT GUE MASIH PAKE JARSEY, HAH!?" teriak Kagami keras. Aomine hanya terpejam, takutnya ludah Kagami yang ke mana-mana itu masuk ke dalam matanya.

Kagami bangkit dari sesi peluk-pelukan bersama Aomine, dengan wajah yang jutek, tak ada imut-imutnya seperti tadi, berkacak pinggang di hadapan Aomine yang masih tiduran.

Aomine hanya terkekeh geli, ternyata Kagami yang seperti ini lebih manis seratus persen daripada yang tadi, lihat wajahnya yang berkerut, matanya yang menatap tajam, bibirnya yang maju karena kesal. Ah, andaikan ia siap kamera atau ponsel, pasti sudah Aomine foto.

"Bangun!" bentak Kagami pada Aomine sembari mengulurkan tangannya.

Aomine mengernyit. "Banguninnya nggak pake bentak juga kali," tapi tetap menerima uluran yang sudah ada. "HAP!" seru Aomine dan sukses ditarik Kagami.

Kagami merapikan belanjaannya yang sudah tercueki, karena adanya Aomine. Memboyongnya ke dapur dan diikuti Aomine di belakang tanpa membantu. Bodolah, Kagami tidak menyuruhnya, jadi buat apa berbaik hati menawarkan diri.

Kagami menata semua bahan makanan ke dalam kulkas. "Ao, katanya lo sampenya jam delapan? Kenapa jam tujuh udah ada di apartemen gue, huh?"

"Jam lo aja kali yang salah, orang gue sampe udah jam delapan," jawabnya enteng, menangkap minuman dingin yang dilempar Kagami. "Makasih," lanjutnya.

"Hah? Memang, iya?" tidak percaya begitu saja, Kagami mencari ponselnya untuk melihat jam. "Sekarang baru jam delapan kurang sepuluh menit, Ao," serunya meminta penjelasan.

"Udah gue bilang, itu salah."

Kagami berlari ke ruang tamunya untuk melihat jam dinding yang ada. "Sama," gumamnya. "Aho, bangsat! Lo ngerjain gue," teriak Kagami dari ruang tamu dan melangkah besar-besar menuju dapur. "Sama, sialan!"

"Yaudah kalau sama, kan itu tadi logika gue," Aomine menjulurkan lidahnya senang. Akhirnya setelah sekian lama, dia bisa menjaili Kagami dengan caranya.

"Tsk!" Kagami melempar mahluk dim itu dengan kaleng minumannya. "Mau makan apa?"

"Nggak mau makan di sini. Gue mau ngajak lo ke suatu tempat, kita makan diluar aja, ya, sana mandi?" perintahnya, sembari mendorong tubuh Kagami masuk ke dalam kamar mandi.

"Ao, handuk gue di kamar."

"Oke, lo mandi aja. Nanti gue ambilin handuknya."

"Awas bohong," Kagami memberikan jari tengahnya pada Aomine. Entah mengapa itu menggelikan.

Aomine melangkah pergi dari dapur, menuju kamar Kagami yang tak mungkin lupa letaknya. Baunya pun ia masih hapal, masih terngiang jelas di dalam kepala. Aomine rindu, sangat rindu tempat ini dan segala isinya. Mulai dari ruang tamu, ruang tivi, dapur, kamar atau pun kamar mandinya.

Aomine rindu dengan tempat tidur besar yang dilengkapi spray merah, tak tahan, ia menjatuhkan diri di atas sana. Menghirup bau Kagami yang tertinggal. Aomine menenggelamkan kepalanya ke dalam badcover.

Kenapa bisa tiga minggu yang lalu ia meninggalkan Kagami. Sampai ia harus melihat bagaimana Kagami meneteskan air matanya. Bukan hanya Kagami yang tersiksa, sejujurnya dirinya lebih tersiksa kalau mau itung-itungan.

Setelah dia sampai di sana, di rumah yang baru, hal pertama yang ia pikirkan adalah bagaimana ia tanpa Kagami. Apa yang harus ia lakukan tanpa mahluk merah itu, apakah akan seperti biasa atau malah sebaliknya. Akankah masih bisa tertawa riang?

Satu hal yang tak pernah lepas dari pikiran Aomine saat itu, ia takut, sangat amat takut Kagami membencinya. Terutama saat terakhir, Kagami sama sekali tak ingin melihatnya walau itu untuk yang terakhir kali. Bagaimana kalau hal itu benar terjadi, yang terakhir kali. Aomine pastikan ia bakal membenci dirinya sendiri sampai kapan pun.

Lebih-lebih lagi setelah ia kehilangan ponselnya. Ingin rasanya ia menghubungi Kagami segera, dan berkata, "Gue mau pulang lagi, gue nggak betah di sini. Gue mau tinggal sama lo." Tapi sayang, keadaan tak mendukung sama sekali.

Makin parah, ayah ibunya bertengkar tentang hal yang tak jelas, sedangkan mereka baru saja tiba. Kalau tak memandang orang tua, mungkin Aomine sudah membunuh mereka berdua.

Tetapi lagi-lagi yang diingatnya adalah Kagami. Ingat saat anak itu akan menangis karena ibunya yang sedang sakit. Mungkin Aomine akan merasakan sedih ketika nanti ibunya kesakitan.

Aomine kira, cekcok orang tuanya akan berlangsung lama, ia cukup besyukur setelah satu hari semuanya kembali normal. Esoknya, ia masuk ke sekolah baru, mengenal dunia baru, dan teman-teman baru, tapi semua itu tak bertahan sampai tiga jam. Aomine bosan, bolos dan langsung pulang ke rumah.

Sampai rumah, ia disuguhi oleh ocehan ibunya, dari ia pulang, malamnya, sampai besok pagi lagi, ibunya masih saja mengoceh membuat telinga Aomine penging.

Itu alasan yang benar, kenapa Aomine tak meminjam ponsel ibunya untuk menghubungi Kagami, bukan karena ibunya yang takut dibohongi lagi seperti yang ia bilang pada Kagami minggu kemarin, tapi karena hubungan dengan ibunya sedang tidak baik.

Karena tak henti-henti disuguhi ocehan, lama-lama Aomine geram. Malah ia semakin egan yang namanya pergi ke sekolah.

Dengan modalkan bola basket, ia pergi dari rumah tanpa pamit dan tidak pulang selama tiga malam. Ia mencari uang sendiri untuk makan dan membeli ponsel baru sehingga bisa menghubungi Kagami. Uang itu didapat dari hasil taruhan bermain basket dengan atlit-atlit yang ada di daerahnya.

Dia kecewa luar biasa saat sudah mendapat ponsel baru, tapi nomor yang ia hubungi tidak aktif. Bahkan, kata operator nomor yang ia tuju sudah tidak digunakan. Apa salahnya? Kenapa ingin hidup damai bersama teman saja susah.

Selama tiga minggu itu, Aomine sama sekali tidak berangkat ke sekolah. Bukan tidak berangkat, melainkan ia memutuskan untuk tidak bersekolah lagi.

Sekarang, ia sangat bersyukur kepada sang Tuhan. Dipertemukan lagi dengan orang yang membuat hidupnya semangat adalah sebuah anugrah, Aomine janji akan selalu menjaga hubungan ini dengan baik.

.

.

"SIALAN, HANDUKNYA MANA, AHOOOO!"

JDER!

Aomine sampai jatuh dari ranjang saat mendengar teriakan Kagami yang begitu menggelegar. "Mampus gue!" cepat amankan nyawa sebelum semua yang tak diinginkan terjadi. Dia berlari menuju kamar mandi segera dengan membawa handuk Kagami. "Oi, Baka. Ini handuknya."

Kagami membuka pintu kamar mandi sedikit, mengintip. "Lama, lo ngapain, sih!" gerutunya.

Aomine hanya nyengir kuda. "Inilah buru, gue dobrak juga pintunya. Keburu malem nih."

"Tsk! Padahal lo yang lama, gue nungguin sampe badan gue kering lagi."

"Nggak usah ngomel, Baka. Gue cium nih."

Kagami tak menghiraukan dan langsung menyambar handuk yang dibawakan oleh Aomine. Setelah rapi, dia ke luar dari kamar mandi dengan wajah tak enak dipandang. Sumpah, Aomine ingin perkosa mahluk itu.

.

OoOoOoOoOo

.

Keduanya sudah rapi dan harum, meski mereka kehilangan waktu beberapa menit hanya untuk membahas kaus kaki yang akan dipakai.

Aomine berlari dari kamar dengan kecepatan yang dimilikinya, Kagami lengah sampai ia harus dikunci dari luar. "Ao, bukalah!" terdengar erangan dari dalam dan tendangan pintu yang nyaring.

Aomine yang keras kepala mana mau merasa bersalah, malah dia tertawa sesuka hati. Kagami memang rindu dengan kelakuan Aomine, tapi kesal juga kalau sudah keterlaluan.

"Salah siapa lembek banget!" ejeknya.

"Hah!? Lo gila, ya, mana gue tau kalau mau balapan. Ao, nggak usah becandalah udah malem, bukannya kita mau pergi."

"Ada satu syarat," katanya, terkikik girang. "Gendong gue sampe bawah."

"Arrgghh, lo yang ngajak pergi, lo juga yang banyak maunya," Kagami uring-uringan di dalam. "Yaudah kalau nggak jadi pergi, gue tidur!"

Oke, Aomine kalah kali ini, cepat tanpa banyak tanya dia membuka pintu dengan sekuat tenaga.

.

JDUAK!

Dan ternyata Kagami belum beranjak dari balik pintu.

"SETAN, BANGSAT, SAKIT KEPARAT!" erang Kagami yang sudah terjublak ke lantai, sembari memegangi kening yang terasa panas dan nyut-nyutan. Jikalau kepalanya tak ada tengkorak yang sekeras batu mungkin otaknya sudah bececeran ke mana-mana.

Aomine nyengir, kemudian tertawa. Nyengir kemudian tertawa. Hanya itu yang dilakukannya tanpa ada kata maaf. Demi apa, Kagami ingin memasukkan kepala itu ke dalam kloset.

"Tsk, sakit," gumamnya pelan.

Aomine yang masih memainkan mulut, berjongkok, membuat setara dengan Kagami. Dia singkirkan tangan Kagami dari keningnya, senyum sesaat. Tak lama, kedua tangannya menyibakkan rambut merah bata ke belakang supaya kening yang tersakiti itu terekpose sempurna. "Mana yang sakit?" tanyanya. "Oh, ini dia," saat melihat ada lingkaran kemerahan yang lumayan agak besar. Aomine mencium sepenuh hati di daerah yang sakit. "Oke, udah sembuh."

Kagami hanya berkedip-kedip, sepertinya memang sembuh. Dia tak lagi merasakan nyeri yang nyut-nyutan. Entahlah, nyeri itu hilang karena ciuman dari Aomine, apa jantungnya yang berlari cepat sehingga otaknya jadi tak focus. "Ao?"

"Hem, masih sakit?"

Kagami geleng-geleng. "Tap-"

"Baka, balapan!"

Kagami tak mau kalah kali ini, segera ia bangkit dan berlari mengejar Aomine yang sudah di depan. "Ah, gue duluan!"

"Gue duluan, Baka!"

Mereka empit-empitan di bibir pintu. Saling tarik karena tak ingin ada yang kalah, kaki keduanya sudah saling silang tak karuan.

"Ada apa?" tanya security yang kebetulan lewat di depan kamar Kagami.

Hiap! Keduanya speechless, diam tak berkutik dengan posisi saling peluk. Security itu terlihat menyipitkan matanya.

Tameng melemah, Kagami dengan sigap ke luar terlebih dahulu, berlari dan meninggalkan Aomine yang masih berdiri di sana.

"Oi, sialan! Tunggu, Baka," teriaknya sembari mengunci pintu, melirik security yang masih bengong kebingungan. "Gara-gara bapak, sih!" gerutu Aomine, sebelum akhirnya ia melarikan diri.

APA SALAHNYA!

.

.

.

Mereka turun dari bus dan menuju stasiun. Masalah uang jalan, Aomine yang menanggung semuanya. Kagami sih tak masalah, yang penting ia bahagia malam ini.

"Ao, kita mau ke mana sebenernya?" tanya Kagami yang sudah menapakkan kaki di gedung antrian kartu.

"Cerewet. Lo tunggu di sana," kata Aomine menunjuk kearah pintu masuk. "Gue yang antri."

Kagami hanya mengedikkan bahunya dan berjalan sesuai perintah Aomine. Ia memperhatikan orang-orang yang beralalu-lalang. Berbagai bentuk wajah ada di sini, mulai dari yang lelah sampai bahagia luar biasa, ada yang kecil dan yang besar, begitulah seterusnya.

Bola matanya bergulir kearah pemuda tinggi yang sedang mengantri untuk membeli kartu. Kagami tersenyum.

Badannya yang tegap, dengan mimik wajah yang serius, entah kenapa itu sangat lucu. Orang yang biasanya tak mau melakukan sesuatu, malam ini kenapa jadi lebih dewasa. Ah, Kagami tak tahu makna dewasa yang sebenarnya, tapi tiga minggu tak melihat sosok itu, dia sama sekali tak ingin mengalihkan pandangannya.

.

"Bakaaaaaaaa … gue segitu gantengnya, ya, mata lo sampe merah liatin gue," goda Aomine yang heran melihat Kagaminya hanya diam mematung.

"Tsk! Mata gue dari lahir udah merah!" protesnya, tentu saja.

Aomine menjulurkan lidahnya. Mengandeng tangan Kagami erat dan dibawa masuk ke gendung tunggu datangnya kereta. "Lo pernah naik kereta?" tanya Aomine

"Pernah, Cuma nggak sering."

"Oh, tetep di samping gue, nanti lo ilang lagi. Stasiun ini yang paling sibuk, jadi kalau nanti sempit-sempitan jangan heran."

Kagami mengangguk polos. Tak lama kereta yang mereka tunggu sampai juga. Aomine lagi-lagi menggandeng tangannya erat, dan masuk ke dalam gerombolan manusia yang beraneka ragam. Kagami baru menyadari, sebanyak ini manusia yang hidup di kotanya. Hebat.

"Ka, lo bisa napas?" tutur Aomine yang berada di belakang Kagami.

"Bisalah, emangnya gue selemah itu!" Kagami menjawab nyolot.

Aomine terkekeh geli. "Gue Cuma khawatir sama lo, bego," katanya sembari mengacak surai pemuda di hadapannya.

Sebodo amat, di dalam kereta seramai dan sesempit apa, mereka tetap mereka, yang selalu bercanda tanpa mempedulikan sekitar. Toh mereka pikir, orang-orang sekitar sibuk dengan urusannya masing-masing, jadi buat apa mengurusi orang lain.

.

Duapuluh menit di dalam kereta, Kagami mulai lelah. Pertama, ia belum makan malam, lalu berdiri di kereta, diinjak-injak oleh orang yang ke luar-masuk, dorong sana, dorong sini sampai pusing.

Kagami ingin tahu kapasitas kereta ini seberapa? Sampai bernapas saja harus berebut oksigen dengan orang yang banyaknya sudah seperti satu Tokyo.

"Ao?" panggilnya. Bingung, saat ia menoleh, presensi orang yang ia panggil tidak ada. "Tsk!" ia berdecak kesal. Disaat seperti ini, kenapa Aomine meninggalkannya seorang diri, bukannya takut,bukan. Tapi Kagami tak nyaman berada diperkumpulan orang-orang tak dikenal.

"Ciee … nyariin gue," ucap Aomine saat memandang wajah bingung Kagami.

"Dari mana?"

"Gue tadi nyariin tempat duduk buat lo, tapi nggak ada. Tahan, bentar lagi kita sampe, kok," tuturnya sembari menyambar pergelangan tangan Kagami dan dibawa maju ke gerbong depan. Dan Aomine lega, ketika mendapat informasi bahwa lokasi yang akan dituju sudah sampai.

Kereta berhenti sempurna, mereka turun dengan selamat, tak terkecuali dengan orang lain sampai kereta terlihat longgar. "Orang-orang turun di sini juga," kata Kagami yang mengikuti langkah Aomine di sampingnya.

"Mugkin tujuan mereka sama kayak kita."

"Memang mau ke mana, sih?" sebal lama-lama.

Aomine tak menjawab, yang ada langkahnya yang semakin cepat. Kagami menggerutu di belakang. Sifat menyebalkan Aomine memang tidak ada tandingannya.

.

.

.

Lima menit mereka berjalan kaki tanpa bicara, sampai pada akhirnya Aomine menghentikan langkah kaki di depan gerbang bertulisakan 'Festival Puncak Musim Semi'. "Tara … ini dia," ucap Aomine gembira, menyunggingkan senyum terbaiknya di depan Kagami.

"Ya ampun, Aho. Lo ngajak gue keluar malem-malem, dingin, jauh, laper, Cuma mau keacara festival?"

Aomine berbalik, menatap Kagami sejenak. "Memang lo kira mau ke mana? Ke hotel? Ya, nggak mungkin lah."

Sukses, kaki Kagami menancap di bokong Aomine yang menyebalkan. "Ya, nggak hotel juga!"

"Cerewetnya Baka gue malem ini," katanya. Ia mencopot jaket, kemudian memakaikannya pada Kagami yang sudah terlihat pucat, entah karena lapar atau memang dingin, salah siapa pergi jauh hanya menggunakan kaus lengan pendek.

"Banyak moment yang nggak kita lakuin selama tiga minggu, apa salahnya kalau malam ini kita senang-senang membalas yang terlewat, nggak hanya basket dan Majiba atau main PS di rumah," ucap Aomine serius. "Nggak tahu … kapan lagi gue bisa ketemu lo, kita manfaatin waktu yang tersisa malam ini. Mungkin besok, besok, dan seterusnya kita nggak akan bisa tatap muka. Nggak mungkin kan gue tiap hari bisa nemuin lo."

Kagami tertawa keras, sudah ia bilang jika Aomine sedang serius itu menakutkan tapi imut. "Gue nggak tahu lo ngomong apa tadi," katanya. Menarik tangan Aomine dan menyeretnya masuk ke dalam festival. Dan Aho, gue memang nggak pernah mau tahu soal itu.

Festival yang luar biasa. Aomine dan Kagami sampai terpana dibuatnya, luas dan elegan. Semuanya ada, mulai dari pertunjukan tradisional sampai pada modern. Makanan local maupun internasional. Semuanya dikemas secara apik nan menawan.

Konsep yang dipakai tidak monoton dan menghibur. Taka ayal, jika seluruh manusia dari penjuru Jepang berpartisipasi untuk meramaikan. Banyaknya pengunjung dan musik yang berdentum kelewat keras, membuat mereka harus menaikkan oktaf suara jika sedang berbicara.

Mereka bergandengan tangan ditengah ramainya pengunjung, saling menjaga satu sama lain, kalau sampai terpisah dilokasi seluas ini, entahlah apa yang akan terjadi.

Tak menghiraukan lirikan mata-mata aneh disekitar. Err .. dan lagi siapa yang akan memperhatikan mereka berdua, sudah bisa menjaga keseimbangan tubuh pun harusnya bersyukur.

"Aho, mau ice cream."

"Hah?"

"Mau ice cream!"

"Apa, lo ngomong apa'an, sih!"

"GUE MAU ICE CREAM, TULI!"

"HAH!?"

Kagami menghela napas dalam, sedalam mata Aomine yang berwarna biru. Mendekatkan wajahnya ke telinga orang yang dimaksud. "M-A-U I-C-E C-R-E-A-M!"

Aomine mengangguk dan merengkuh leher jenjang Kagami. "Nanti kita beli, tapi lo makan dulu. Sakit baru tahu rasa lo. Belum tentu gue ada di samping lo waktu sakit, jadi nggak usah banyak tingkah!" tegas.

Kagami bisa apa, bila Aominenya sudah begitu, melawan pun tak akan menang, jadi menurut saja. Karena setelah makan, ia boleh membeli apa pun yang diinginkan dan semua itu yang membayar Aomine. Setan apa yang merasuki Aomine malam ini, Kagami tak tahu. Intinya mereka bisa tersenyum bersama, itu menyenangkan.

.

.

Empatpuluh lima menit mereka habiskan untuk makan. Bukan lama dalam mengunyah, tapi lama dalam mencari stand mana yang tidak ramai dan tidak perlu mengantri.

Sulit rasanya untuk percaya jika seorang Kagami Taiga makan dengan waktu lama. Karena bagi Aomine mulut Kagami sudah seperti mesin penggilingan. Heran deh kenapa anak ini bisa kurus hanya dalam waktu tiga minggu.

"Ao, ayo beli ice cream."

Aomine hanya mendengus dan mengikuti ke mana tangan Kagami membawanya. Tak terbayang waktu yang diperlukan untuk mencari penjual ice cream dikerumunan sepadat ini.

"Ao, cepetan, itu standnya," tutur Kagami yang sudah tak sabar karena makin lama antriannya makin panjang.

"Oi, sabarlah. Lo kira jalan sepi bisa langsung lari. Banyak dede bayi nih," protes Aomine.

.

Sekarang mereka sedang mengantri, dan semuanya notabene anak-anak. Yang remaja bangkotan hanya mereka berdua. Ah, mereka mana peduli apalagi kalau hasrat bisa terpenuhi.

Mereka datang ke sini bukan mau berburu makanan mahal atau sejenisnya, tapi makanan yang menurut orang pintar tidak layak dikonsumsi oleh orang dewasa.

Menunggu limabelas menit, akhirnya mereka dilayani. "Ao, mau rasa apa?"

"Silahkan, dicicipi dulu juga boleh," kata sang pelayan.

Kagami mengambil sendok yang masih terbungkus rapi. Membukanya dan mencolek ice cream berwarna navy blue, membawa sendok itu dan mendarat di mulut Aomine. "Enak, nggak?"

"Lumayan, yaudah gue itu aja," ucap Aomine.

"Gue mau tiga," celetuk Kagami cepat.

"Ya, terserah lo," mengusap surai merah Kagami.

Ugh, wajah sang pelayan memerah padam, entah kenapa dia yang malu. Padahal, orang yang melakukannya biasa saja. Dengan tangan agak gemetar, pelayan itu cepat membuatkan pesanan dua pemuda yang dia notice aneh.

.

.

Tak lama untuk mereka menghabiskan ice creamnya. Dan Kagami selalu memasang mata berkilat, jika menemukan makanan yang enak. Aomine mafhum. Tak apalah, memang tujuannya ke sini untuk itu, untuk menyenangkan Kagami.

Karena masih banyak waktu yang tersisa sampai besok pagi, apa salahnya menghabiskan makanan di sini.

"Baka, nyari coklat, yok?"

"Coklat? Bukannya lo nggak terlalu suka manis?"

"Ya, nyari yang drak lah, bodoh." Tak menunggu Kagami untuk menjawab. Aomine dengan caranya sudah membawa Kagami ke dalam lautan manusia. Menggandengnya erat, seakan Kagami adalah sebuah balon yang jika dilepaskan akan melayang terbawa angin.

"Ao, nanti beli kembang gula, ya."

"Iya, terserah lo deh. Mau beli sama orangnya juga, gue mampu kok bayarinnya," jawabnya songong.

Gregetan dengan tingkat kesombongan yang dimiliki Aominenya, Kagami tak segan menggigit pundak berlapis kain hitam itu. Aomine mengerang, "SAAKIT! JANGAN BILANG LO BERUBAH JADI VAMPIR."

"Vampir itu gigitnya di leher, bukan di pundak," protes Kagami.

"Yaudah, kapan-kapan gue mau jadi vampir, kalau gitu."

Di dalam perjalan mencari stand coklat, sempat-sempatnya mereka berdebat tentang siapa yang pantas menjadi vampire dan bisa menggigit leher mangsanya. Tidak penting, kan? Memang.

.

Aomine melahap coklatnya dengan brutal, setelah lelah mengatri panjang. Kagami melihat itu tidak percaya. "Ao, pelan-pelan makannya, keselek mampus lo!"

"Terus?"

"Tsk!"

Acuh dengan decakan yang diberikan Kagami, Aomine melanjutkan perhatiannya dengan sang makanan.

Kagami makin risih dibuatnya, dan lagi itu, "Aho, diem sebentar," katanya. Dia mendekati Aomine sampai wajah mereka hanya menyisakan jarak yang minim. Aomine tak berkedip kala tangan madu Kagami mengusap bibirnya lembut, entah apa yang disingkirkan oleh jari-jari tersebut, Aomine tak mampu berpikir. "Makan itu yang bener, coklat lo blepotan ke mana-mana," omelnya. "Nggak malu sama anak kec-"

Menggantung diudara, Kagami tak sanggup melanjutkan perkataan, saat semua pasang mata menatapnya intens tanpa berkedip.

.

.

.

Kagami mengumpat, uring-uringan sendiri atas kejadian yang beberapa menit telah terjadi. Dia malu luar biasa. Dan lagi Aomine selalu menertawakannya, tak ada rasa prihatin sedikitpun yang terlukis di wajah tan itu.

Aomine bersikap biasa. Memang tak ada yang harus dibuat malu dari hal tadi, dia membujuk Kagami yang masih uring-uringan dengan mengajaknya membeli beberapa makanan.

Tak perlu menunggu lama, Kagami sudah kembali ceria seperti semula. Mereka memborong kembang gula, tepatnya sih Kagami. Aomine mengikuti ke mana Kagami pergi dengan suka cita. Rasanya seperti sedang menjaga anak kecil yang hiperaktivnya keterlaluan. Kesana, kesini, kesitu.

Selain berburu makanan, mereka juga memasuki wahana permainan. Dari permainan anak kecil sampai orang dewasa.

Permainan yang mempunyai uji mental ketinggian, itu pun tak ketinggalan. Walaupun jika sedang berada paling puncak, mereka menjerit bersama sembari berpelukan. Ditertawakan anak kecil sudah biasa, awalnya Aomine dongkol dan akan menggantung anak-anak tersebut.

Satu hal yang membuat Kagami tak mengerti dengan jiwa Aomine. Dia sangat menikmati permainan tangkap ebi bersama anak-anak kecil lainnya. Di sini Kagami sudah seperti menjadi Ayah yang sedang membawa anaknya rekreasi.

.

Itu yang mereka lakukan untuk menghabiskan waktu beberapa jam. Sampai pada Aomine harus merajuk kepada Kagami hanya karena anak kecil.

"Baka, udah tinggalin aja anak itu," kata Aomine, menunjuk anak yang mungkin usianya baru tiga tahun, dia menangis tersedu-sedu karena kehilangan sang mama.

"Kasian, Aho. Dia nyariin mamanya. Kita bawa dia ke bagian informasi biar diumumin."

"Memang lo tahu lokasinya di mana?"

"Enggak."

Pletak! Satu jitakan mendarat di kepala Kagami, sang empu hanya mengaduh kesakitan.

"Ayo, kita cari mama," kata Kagami membujuk anak itu supaya tidak menangis lagi. menggandeng tangannya yang mungil.

Belum juga berjalan, Aomine sudah memutuskan gandengan tangan Kagami dengan anak itu. "Oke, gue dilupain!" celetuknya, memandang anak itu garang. Pada akhirnya dia membuat tangisan yang semakin menjadi.

"AHO! APA-APAAN SIH!" bentak Kagami kesal, mengelus kepala anak itu lembut dan membujuknya lagi supaya diam.

"Lo kan Cuma punya gue, ngapain ngurusin anak kecil!"

"Please, Ao," dengus Kagami. "Masa lo lebih anak kecil daripada anak kecil."

"BODO AMAT!"

Kagami harus apa, sepertinya dia hanya bisa menghela napas. "Oke, udah. Gue nggak mau debat sama lo, mending waktunya kita gunain buat nyari ibunya anak ini," tuturnya selembut mungkin. Kagami melangkah lagi, tangan kiri menggandeng anak kecil dan tangan kanannya menggandeng Aomine. Keluarga yang bahagia. Salah.

Aomine memonyongkan mulutnya. Walau ia juga digandeng, tetap saja tidak rela tangan Kagami yang lain mengandeng mahluk asing. Errr … Aomine tidak ingin ada pengganggu, mau itu anak kecil, bayi, atau apa pun. Dia egois, memang. Egois kalau sudah menyangkut Kagami. Dia tak mau bagi-bagi si Bakanya seperti silverqueen chunky bar, serius.

Setelah setengah jam mengelilingi lokasi festival yang besarnya keterlaluan. Kagami menghela napas panjang, sepanjang apa pun untuk melepas rasa lelah. Sudah kaki pegal karena tidak henti-hentinya berjalan. Ditambah dua anak kecil yang menguras tenaga.

Hampir saja akan menonjok wajah Aomine yang selalu memprotes dirinya tentang anak kecil yang ia temukan. Yang membuatnya speechless adalah saat dia mengendong anak itu, dengan cepat tangan Aomine menurunkannya lagi, katanya tak boleh ada orang lain yang digendong olehnya.

Astaga, hanya anak kecil. Tapi sekarang, anak itu sudah Kagami serahkan kepada security yang berjaga, dan dia berharap tidak akan ada lagi masalah dengan Aominenya.

"Udah ngambeknya!" bentak Kagami sebal melihat wajah Aomine yang ditekuk.

"Tadinya mau gue lempar ke kolam anak itu," gumamnya.

"Iya," jawab Kagami lelah. "Cari tempat duduk, yok?" menggeret Aomine yang masih sebal akan hal yang baru saja terjadi.

Kagami tersenyum simpul. Apa-apaan sikap Aomine itu. "Ah….." helanya. Akhirnya ia bisa mengistirahatkan bokongnya juga kaki yang sudah pegal disebuah bangku panjang. Aomine ikut duduk di sampingnya dengan wajah yang masih ingin disiram air panas. Kagami membuka jaket, ternyata lama-lama panas juga. "Ao, kalau lo masih ngambek gue tendang, nih."

"Enggak." Ketus.

"Nanti gue buatin telur dadar rasa ebi, deh."

"Serius?"

"Heem."

.

JDUARRRRRRR!

JDUARRRRRRR!

JDUARRRRRRR!

Jam satu malam dini hari, kembang api dilayangkan keudara bebas. Memberikan efek yang berwarna bagi legamnya langit malam. Berwarna-warni, indah, dan nyaring. Aomine tahu, walau tak melihatnya secara langsung, karena dia sudah melihat di manik Kagami yang tak berkedip. Mungkin dia terkesan akan indahnya dentuman kembang api itu.

JDUARRRRRRR!

JDUARRRRRRR!

Semua insan bersorak ramai, memekak telinga. Musik berdentuman tak kalah keras. Aomine mengambil jaketnya yang tersampir di bahu bangku.

JDUARRRRRRR!

Membawa kepala merah yang masih terpana dengan indahnya kembang api. Aomine pun mencemburui akan hal itu. Tak rela atensi Kagami hanya tertuju ke sana, Aomine menutupnya dengan sang jaket.

Sekarang, mereka berdua ada di dalam jaket, dengan suara bising di luar sana. Membawa bibir berlapis madu yang sedikit basah oleh ludah sang pemilik. Aomine melihat bola kristal sewarna batu garnet merah menghilang tak kala sang empu memejamkan mata. Dengan itu tanpa banyak spekulasi, Aomine merenggutnya dengan lembut. Lama. Ah, mereka sudah tak mengindahkan waktu.

JDUARRRRRRR!

"Ka, lo lebih dari sekedar sahabat."

O

o

O

o

O

Haryakei: Ciee yang seneng. Memang kemarin enak bacanya, perasaan lagi ancur. Ini panjang? Pengen muntah, nggak? Hahah :))

Akashi Shimazaki: Heem, kamaren ada kesalahan, gomen :))

Nana: Wahaha, oke oke. Wew, iyakah, aku juga sebenarnya merasakan apa yang kamu rasakan, e cieeee/digampar. Kapan AoKaga jadian? Simpulkan sendiri setelah baca chap ini wkwkwkwk. :))

Suira Seans: Hehe biasalah. Heem mereka memang jail, aku juga suka adegan itu, ditunggu rifiunya, makasih udah membaca :))

Melani: Memang sudah baka lahir batin. Gimana lanjutannya? :))

AoKagaKuroLovers: Eh …. Iyakah? Aku Zoka, bukan Kuro, okey. Kalau berkenan baca profil, ya/maksa. Gimana chap lanjutannya? :))

Maji D'Tenshi: Eh, ternyata dan ternyata dirimu yang suka rifiu pake nama Who am I, right? Makasih rifiunya, ya. :))

AnnaCitra2748: Wow, ngeri dong. Asupan apa tuh? Uang jajan atau apa? Ya ampun maaf kalau telah membangkitkan masa kelammu/dilindes. Ditunggu rifiunya lagi :))

.

.

KECUP TJINTA AOKAGA

REGARDS,

ZOKA