Selamat malam minggu, minna. Apa kabar kalian di sana? Sorry baru up! Lagi. Hiyuhhhh, tak perlu di jelaskan pasti kalian sudah tahu. AKU KANGEN AOKAGA, SANGAT-SANGAT. Tiga minggu nggak mikirin mereka itu buat sakit sariawan(?). Update malem, karena cerita baru dibuat sore-sore, semoga nggak ngebosenin. Yoshaaaa, enjoy!
.
….
Desclaimer : Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman–teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.
Warning : Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D.
.
AoKaga
"Malam Minggu AoKagazone: Surprise"
By : Zokashime
O
o
O
o
O
…
"Kuroko, Kise, aku pulang duluan, ya," ucap Kagami sembari mengambil tasnya dari pinggiran lapangan. Tak menghiraukan napas yang tersendat, atau peluh yang tergelincir jatuh dari pelipisnya.
"Oi, Kagamicchi. Kau tidak istirahat dulu-ssu," tutur Kise yang sedang merebahkan diri di tengah lapangan bersama Kuroko.
"Tidak, aku ada kerjaan." Padahal ulah mereka, tsk!
Mereka baru saja bermain basket di lapangan sacral. Lapangan itu biasa Kagami gunakan bersama teman hitamnya yang sekarang terpisah oleh ruang dan waktu.
Kagami berjalan ke luar lapangan sambil menyesap minuman yang ia bawa. Cairan bening segar itu dirampas hati-hati dari wadahnya membasahi kerongkongan kering seperti di padang gurun. Sungguh ia tak ingin menyia-nyiakan air yang begitu nikmat, tak akan ia biarkan lolos barang setetes pun dari mulutnya.
Karena ia tahu, betapa tersiksanya kehidupan Oscar di padang pasir. Kadal kecil yang berjuang keras hanya untuk mendapatkan setetes air, jangan lupakan saingan bodoh dengan teman-temannya.
Mending kalau pada akhirnya berhasil, ini yang Kagami tonton dari awal sampai tamat tidak pernah namanya berhasil. Rasanya ingin mengambil kadal itu dari tivi lalu ia lemparkan ke dalam bak yang penuh air.
Setelah terkuras habis, ia membuang botol itu ke dalam kotak sampah ala shoot Midorima. "YEAH!" Teriaknya girang ketika aksinya berhasil.
Dia melanjutkan langkah, menguap-nguap tak jelas menjadi hiasan perjalan sore menuju apartemennya. "Sialan, badan gue sakit semua," gumamnya.
Ah, sebenarnya Kagami ingin bermalas-malasan hari ini dan sumpah tidak ingin ke luar kamar sedikit pun, tetapi kedua bakteri itu datang ke apartemennya secara tiba-tiba, lalu dengan tidak sopan menggeretnya ke lapangan basket sampai sore.
.
.
.
Kagami berhenti di depan pintu apartemennya, mematung dengan pandangan lurus satu titik. Entahlah apa maksudnya.
Setelah satu menit berlalu dia meletakkan bola dan tasnya ke lantai, lalu berbalik arah seratus depalanpuluh derajat. "Pergi ajalah," katanya. Tapi saat akan melangkahkan kaki, ia berpikir lagi bahwa apa pun keadaanya, itu adalah tanggung jawab sebagai pemilik apartemen.
Kagami menghirup napas banyak-banyak tanda frustasi, mengambil kunci dari dalam tasnya dengan lemas tanpa nyawa. Ia berharap setelah pintunya terbuka ada keajaiban datang yang bisa membuatnya untuk besikap segar seperti kemarin-kemarin-kemarin.
.
.
BLAM!
"ARRGGHHHH!" Kagami menggeram hebat, dileparnya bola basket ketumpukan sampah yang sudah berbau tak sedap. Tidak dapat dipercaya, teman-teman anehnya itu benar-benar menyebalkan.
Pasalnya, semalam apartemen Kagami digunakan sebagai tempat pesta oleh teman-temannya yang berjiwa di atas normal dengan yang lain.
Errrr …. padahal hanya pesta makanan, minuman, nonton DVD, main game, dan melakukan permainan memanggil arwah paling mengerikan. Ugh, untuk bagian ini Kagami tidak ikut-ikutan, dia memilih mengunci diri di kamar, masuk ke dalam selimut tebal dan telponan dengan Aomine.
Hanya dengan kegiatan di atas, apartemennya sudah di sulap menjadi tempat pembuangan sampah. Heran, sebenarnya apa yang mereka lakukan semalaman. Iya, Kagami bertanya seperti itu karena tidak ikut dalam pesta, ia ketiduran setelah asyik bertelponan dengan sahabatnya yang jauh di sana.
Dipandang sampai mata mengeluarkan darah pun, apartemennya tidak mungkin menjadi seperti semula jika tidak dibersihkan.
Bungkus makanan di mana-mana, sisa-sisa makanan yang cepat membusuk, kumbangan sisa minuman di lantai, tembok kotor, gelas dan piring berpencar satu-satu sampai ada yang dipojokan ruangan, sofa sudah jungkir sana-jungkir sini, tivi yang tadinya ada di atas sekarang ada di bawah, hordeng jendela copot, dan lain sebagainya. Kagami sudah tidak kuat bila menyebutkan satu per satu.
Ada serangan nuklirkah semalam, atau ada apa sebenarnya?
Itu yang membuatnya malas ke luar kamar dan pulang lebih awal dari bermain basket dengan Kuroko dan Kise, karena Kagami punya pekerjaan membersihkan apartemen akibat ulah teman-temanya yang sangat chikuso.
Dan dari jawaban yang dikatakan Kuroko, sih, yang merencanakan pesta itu adalah Midorima. Teman hijau yang tak pernah Kagami paham prilakunya sampai sekarang. Eh, dia horor seketika.
"Mau gimana lagi," ucapnya lelah. Dengan besar hati Kagami mulai memunguti sampah-sampah sampai tak tersisa, merapikan sofa dan yang lainnya, memasukkan hordeng kotor ke dalam bak cucian.
"Ah, siapa, sih!" decaknya emosi saat mendengar ponselnya yang selalu berdering sedaritadi, Kagami seperti sedang diteror.
Dia mengabaikan kain pel yang sudah meneteskan air akibat di keluarkan dari ember. Sekarang atensinya teralih kepada ponsel yang sumpah Kagami ingin banting sekarang juga.
From: Aho
KALAU LO SEKALI LAGI NGGAK ANGKAT TELPON GUE. GUE SANTET DARI SINI, BAKA SIALAN!
.
'Zengen wa tekkai suru ze saikou ni moe sou da. Hey! Hey! Istsudemo matteru ze.'
Kagami membebaskan karbondioksida dari tubuhnya. "MAU NGAPA!?"
"Kok, lo yang marah, sih! Harusnya gue lah yang marah, gue udah nelpon berpuluh-puluh kali nggak lo angkat!"
"Gue lagi beresin rumah, ini mau ngepel. Nanti gue telpon balik deh," Kagami mengalah kali ini, tenaganya sudah habis, lagipula pasti tak akan menang kalau harus meladeni Aomine berdebat.
"Ciee .. mau malem mingguan, ya, sama siapa? Cantik apa ganteng yang ngapel? Gue pasti dilupain," goda Aomine sembari cekikikan. Kalau dekat pasti sudah Kagami tendang ke langit ketujuh.
"Udahlah, nanti gue telpone lagi."
"Nggak mau, gue mau ngobrol sekarang!"
"Gue lagi kerja, lo nggak ada kerjaan apa?"
"Nggak ada, hari ini libur kerja. Kapan-kapan aja beresin rumahnya, temenin gue dulu," pinta Aomine dengan manja.
"Gue tinggal ngepel, Aho. Habis ngepel gue mandi, baru telpon lo, bentar doang."
"Yaudah ngepel sambil telponan."
"NGGAK BISA, UDAH NANTI GUE TELPON BALIK TITIK!"
Tutttttt ….
Diputus secara sepihak merupakan langkah yang benar menurutnya saat ini. Aomine tidak pernah berubah sedikit pun, kalau maunya itu ya harus dituruti, tapi bagaimana lagi Kagami juga punya tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Lagi-lagi duapuluh satu hari waktunya terlewat tanpa Aomine. Kagami bisa melewati ini sekarang, mungkin karena sudah terbiasa. Mereka tak pernah putus komunikasi, selalu menceritakan hal-hal yang baru dilakukan.
Walau Kagami hanya bisa berhubungan, jikalau Aomine menghubunginya duluan. Ya, Kagami tahu Aomine sekarang sibuk dengan pekerjaannya sebagai host. Dia mengorbankan malam harinya yang berharga untuk uang.
Kalau membayangkan posisi Aomine yang sekarang, entah mengapa Kagami emosi sendiri. Aomine itu bodoh, keras kepala, tidak bisa diatur, dan tak pernah mau mendengarkan omongan orang lain.
Kagami sudah menyuruhnya untuk kembali ke sekolah, tapi jawabannya, "Hahahaha, sekolah itu nggak asyik kalau nggak ada elo." Apa-apaan sih, setidaknya kita masih bisa berkomunikasi walau jauh.
Kagami ingin dia tak mengorbankan waktunya yang berharga hanya karena tak ada dirinya, dia juga tak tahu permasalahan yang sebenarnya,untuk hal ini Aomine selalu menutupi dari dirinya.
.
.
.
"Yosha, selesai juga," tutur Kagami, akhirnya ia bisa menghirup udara segar. Semuanya sudah kinclong tak ada debu yang tertinggal.
Dia mengambil handuk bersiap untuk mandi. Mengabaikan perutnya yang sudah berbunyi-bunyi sedaritadi. Bayangkan saja dia membereskan apartemennya selama empat jam, bagaimana tak kehabisan energy.
Air keluar dari shower membasahi tubuhnya yang sekal karena otot yang terbentuk. Ia memandangi dirinya sendiri yang terpantul dalam kaca.
Rindu saat mandi bersama dengan manusia astral satu itu, biasanya mereka besar-besaran otot, dan saling sexi-sexian tubuh. Bisa menghabiskan waktu berjam-jam kalau sudah mandi bersama dengan Aomine. Kapan mereka bisa seperti itu lagi, Kagami berharap.
.
"Segernya, habis ini mau makan banyak," gumamnya dengan tersenyum. Ia menyambar handuk, dan segera membalut diri. Cepat-cepat ke luar dari kamar mandi yang banyak mengeluarkan hawa negative.
Uh, lapar yang dirasakan sampai ingin muntah.
"UWAAAAAAAAAA!" Kagami histeris dini. Kepalanya langsung pening karena terlalu shock, untung tidak terjengkang ke belakang, karena terpeleset air yang menetes dari tubuhnya sendiri.
Dia tak bisa berkata-berkata dengan apa yang terjadi disegala penjuru ruangan. Padahal, beberapa menit lalu, ruangannya sudah seperti ruangan istana, tapi sekarang, "AAAAAAA~~~~!"
"BAKA, KENAPAAAA?"
Seseorang berlari cepat dari kamar dengan hanya menggunakan boxer tanpa atasan, karena terburu-buru mendengar teriakan yang menggelegar seakan dirinya mau oleng.
Kulit gelap exotis yang terekspose sempurna memperlihatkan ABS yang semakin sexi, surai biru gelap, manic kecil yang terkaget, mulut menganga sedikit, harusnya Kagami mengenali siapa dia.
"WOY, SIAPA ELO!?" bentak Kagami sembari mengeluarkan urat-urat lehernya.
Manusia yang dibentak hanya memiringkan wajahnya tak mengerti. "Gue?" katanya, menunjuk dirinya sendiri.
"IYA, ELO SIAPA!? DAN KENAPA ADA DI APARTEMEN GUE," Kagami masih berkoar ganas. "Dan lo tadi ke luar dari mana?" sambungnya pelan.
"Tsk! Baka, ini gue," tutur Aomine greget. "Pala lo kesamber petir, ya?"
"Hah?" Kagami hanya berkedip-berkedip, mendekati Aomine dan mengamatinya secara seksama. "Kok, lo mirip Aomine, sih?" tanyanya tolol.
What the hell. "MEMANG GUE AOMINE, SETAN!" kali ini Aomine yang berteriak.
"Hah!?"
Aomine bingung dengan wajah Kagami yang dhsgbfkdsj tak bisa dijelaskan. Entah, makan apa selama beberapa minggu ini.
Kalau Aomine boleh menebak, Kagami pasti makan angin, makanya otaknya kosong jadi lemot. Jelas-jelas ini dirinya masih ditanya siapa? Aomine sakit hati. Jangan sampai hanya karena tak bersama lagi, Kagami melupakan wajahnya yang ganteng ini.
"Baka?"
"SIAPA ELO?"
"GUE AOMINE DAIKI, MASA DEPAN LO, TOLOL!" setelah berteriak kencang, Aomine menggigit hidung Kagami tak segan-segan. Sumpah, gemasnya bukan main, kalau ada gergaji senjata milik Grell Sutcliff Aomine sudah memotong-motong tubuh Kagami.
"SAAAKITTTT, AHO BANGSAT!" Kagami mendorong tubuh Aomine sampai terlepas. Lalu ia dengan cepat mengusap hidungnya yang nyut-nyutan. Aomine fuck itu menancapkan taringnya kuat, Kagami berdoa supaya tak ada racun yang tersebar.
"Nah, gitu dong. Aho ganteng ini sekarang ada di hadapan elo," Kata Aomine percaya diri sembari melebarkan senyumnya.
Kagami masih merajuk tak karuan. "Habis lo datang-datang nongol, perasaan beberapa jam lalu baru telpone gue. Lo tuh selalu begitu, nggak pernah bilang kalau mau ke sini, lo belajar jadi setan? Biar gue takut, gitu?"
Aomine hanya memutar bola matanya yang sewarna batu lazuli, tak paham dengan yang dikatakan Kagami barusan. "Lah, ini rumah gue," katanya. " Kenapa gue harus bilang kalau mau dateng, iya, kan?"
"Terserah lo. Yang. Mau. Gue. Tanya." Kagami memasang deathglare yang paling mengerikan seantero jagat raya, mengintimidasi mahluk di depannya dengan tajam. Membuat bulu kuduk Aomine berdiri ingin berlari. "LO YANG UDAH NGACAK-NGACAK RUANGAN APARTEMEN GUE!?"
Aomine sampai penging mendengar teriakan Kagami yang luar biasa itu, matanya yang merah semakin merah mengeluarkan kilat kemarahan. Aomine mundur satu langkah, siapa tahu bisa melarikan diri.
"AHOMINE?"
"IYA, MEMANG GUE YANG NGACAK-NGACAK. KENAPA, HAH!?" Aomine berkacak pinggang tak ingin kalah.
"SIALAN! LO NGGAK TAU GUE BERESIN SELAMA EMPAT JAM!"
"Bodo amat, salah siapa gue nggak dipeduliin. Lo lebih milih ngepel dan berduaan sama ruangan ini daripada telponan sama gue, terus salah gue kalau gue bales dendam sama nih ruangan yang udah ngerebut elo!" dengan wajah yang sangat-sangat biasa dan cool, Aomine meninggalkan Kagami yang berwajah aneh tak punya ekspresi, dia masuk ke kamar dengan bangga diri.
Kagami berharap ini hanya mimpi. Untuk memastikan, dia juga ikut masuk ke dalam kamarnya. Memfokuskan netranya pada satu titik, memandang Aomine yang sedang berdiri membelakanginya. Kagami punya rencana bagus.
.
SSSTTTTT!
"Ngak kena, nggak kena, wekkk," Aomine menjulurkan lidahnya. "Lo mau nendang gue, kan tadi, ngaku?"
"Arrgghhh, Aho. Lo itu datang-datang udah nyebelin, beresinlah ruangannya, gue capek."
Aomine hanya tersenyum-senyum nista.
"Kalau lo buat masalah lagi, gue nggak akan ngasih makan!"
Lagi-lagi Aomine hanya senyum-senyum lebih nista.
"Kalau lo nggak mau beresin, pulang aja sana!"
Senyumnya makin parah dan makin nista. Kagami jadi bingung.
"LO DENGERIN GUE NGGAK, SIH!"
Aomine mengangguk-angguk. "Dengerin-dengerin. Tapi, Tuan Bakagami Taiga," ada jeda sedikit, membuat Kagami makin jengkel. "Kalau mau ngomel-ngomel, setidaknya tutupin dulu harta berharganya," Katanya menaik turunkan kedua alisnya. "Kan, sayang kalau ada yang ngerampok," ucapnya dengan lembut dan kedipan satu mata.
Izinkan Kagami untuk muntah.
"HUWAAAAA~~~ DASAR OTAK MESUM!" teriak Kagami saat menyadari kalau dirinya ternyata telanjang bulat. Handuknya terlepas saat akan mendendang Aomine tadi, tapi kekesalan membuatnya tak sadarkan diri.
Cepat ia balut lagi hartanya yang paling berharga itu, dan pastikan Aomine tidak akan selamat malam ini.
Wajah merah padam karena menahan malu. Tak berani mentap Aomine sedikit pun. Ah, dia berharap ada tempat yang bisa mengulang waktu. Sekarang pun Kagami akan pindah ke sana.
"Ciee … yang 'itunya' udah agak besaran," goda Aomine yang membuat Kagami semakin memerah.
"SHUT UP!"
"Baka, gue jijik ngeliat lo yang malu-malu najis gitu," celetuk Aomine.
"A-O-M-I-N-"
"Selamatkan diriiiii~~~" Aomine ngacir ke luar kamar dengan menjinjing kausnya.
"…nee…" Kagami menghela napas tak mengerti, selalu saja orang itu membuatnya tak bisa paham.
Kapan terakhir kali dia berteriak-teriak seperti ini, kapan terakhir kali dia pening dan ingin pingsan karena kelakuan Aomine. Kagami tak mampu menanyakan pada waktu.
Sekarang dia merasa sangat segar. Rasanya darah yang tersendat dalam tubuh, mengalir kembali dengan deras tanpa halangan. Memompo ke bagian wajah yang membuatnya menciptakan satu ulas senyum tulus.
.
.
.
Aomine berdiri di balkon, memandang bintang jalanan yang kerlap-kerlip. Menyambut angin malam yang menggoda kulitnya sexi. Ia bergidik, cepat memakai kaus yang sedaritadi meyampir di pundak.
Semerbak bau nyanyian alam, masuk ke dalam hidung tanpa permisi. Campur-campur, seperti perasaannya saat ini. Bau bahan bakar dari jalanan tak kalah mengusik, tapi dia tetap menikmati puisi semesta yang tersembah.
Lupakan dengan menegadahkan kepala ke langit luas, memandang lurus pun Aomine sudah bisa menikmati pemandangan alam yang tak pernah ada duanya. Warna langit itu senanda dengan maniknya, ia sudah paham.
Aomine punya sahabat, begitu pun langit. Sahabat langit bisa berupa matahari, bintang, bulan, atau yang lainnya. Mereka berkesinambungan, bergantian memerankan tugas, langit sebagai cakrawala yang selalu menonjolkan peranan sahabat-sahabatnya.
Bedanya Aomine dengan langit, itu adalah, jika langit mempunyai banyak sahabat, Aomine hanya punya satu. Jika semua sahabat langit dapat memancarkan sinar, Aomine hanya punya satu yang bersinar. Jika yang paling mencolok bagi langit itu sinar matahari, maka bagi Aomine itu Kagami.
Kagami itu malaikat bermata merah. Punya emosi yang tak bisa dikontrol, dan suka makan banyak. Oh ya, satu lagi, dia sangat cinta bola basket. Tugas Aomine di sini hanya sebagai penggoda, dan juga pelindung. Kalau Kagami merupakan penyelamat hidupnya, maka Aomine bisa menjadi pelindung hidupnya.
Aomine enggan melepas senyumnya saat ini. Boleh ia berkata kalau ia sangat bahagia jika berada di dalam rumah yang ia klaim sebagai miliknya.
Ah, hidup itu sebenarnya sederhana. Hanya saja diri kita yang suka melebih-lebihkan sesuatu, hingga membuat kita berpikir jikalau hidup itu rumit, banyak masalah, ini dan itu.
Bila kau ada masalah, pikirkan dengan baik seperti kau bermain game favorite yang paling susah. Asumsikan cara apa dan bagaimana yang bisa membuatmu menyelesaikan tahap demi tahap. Jika sedikit saja kau salah berspekulasi maka jawabannya adalah game over.
Bodoh bukan, orang yang seperti itu? Aomine termasuk salah satunya. Salah satu orang yang selalu melebihkan masalah. Dia tahu dia keras kepala, dia tahu dia egois. Dia tipe manusia yang tidak suka diperintah apalagi digurui, yah itulah faktanya bergolongan darah B.
Sudahlah, sekarang Aomine sudah tahu jawabannya. Dia sudah meminta maaf kepada sang bunda karena menolak dan membantah usahanya.
Aomine menolak sekolah di sekolah barunya, alasannya karena tak ada Kagami di sana, alasan lain karena takut ia mendapatkan teman baru dan melupakan Kagami, dan karena itu pun Kagami mulai melupakannya.
Rasanya ingin menangis. Miris. Padahal, pada kenyataannya tak serumit itu.
Karena menolak sekolah, ibunya murka dan menantang Aomine untuk membiayai hidupnya sendiri. Ingat, pada dasarnya Aomine itu tidak suka direndahkan.
Dengan kesombongannya dia mencari kerja, yang pada akhirnya bekerja sebegai host.
Ya, dia modal tampang. Tak salah jika memanfaatkan salah satu dari tubuhnya. Tapi, sekarang dia sadar, bekerja itu ternyata capek dan membuatnya kurang tidur, tak bisa bermain basket. Aomine ingin hari-hari yang dulu, selalu melakukan hal tak penting bersama Kagaminya.
.
"Mau sampe kapan lo berdiri di sana, Aho," tutur Kagami di belakang. "Kalau sampe kesurupan, liatin aja, gue langsung tendang lo, dan lo jungkir balik ke bawah," lanjutnya sambil tertawa-tawa puas.
Aomine berbalik menatap lawan bicaranya tanpa ekspresi. Kagami kesal, masa sudah tertawa-tawa Aomine hanya biasa saja. Err .. ada air raksa? Kalau ada, Kagami minta untuk menyiram wajah menyebalkan itu.
Aomine berjalan mendekat, sebenarnya perutnya geli menahan tawa. Lihat wajah itu, yang penuh dengan bakso urat, menggemaskan.
.
CUP!
Aomine mencium sekilas bibir monyong Kagami yang tanpa pertahanan. "Kena," nyengir kuda. Lalu dia meletakkan satu tangannya di bahu kanan Kagami. "Jangan sok jadi psikopat, nggak pantes sama muka," ejeknya. Setelah itu Aomine berlari kencang takutnya ia digorok.
Kagami mengikuti di belakang tanpa banyak bicara atau mengancam, dia memegangi bibirnya. Berpikir sejenak, mereka sama-sama laki-laki, tapi sering melakukan ciuman.
Kata Aomine yang mereka lakukan itu ciuman sahabat, tapi akhir-akhir ini perasaan Kagami saat mendapat ciuman Aomine itu berbeda. Uh, nanti Kagami tanyakan saja pada orangnya.
"Baka, Lapaaarrrrr…"
"Bakaaaaaaa….."
"Laparrrrrr…."
"Laparrrrrrr…. laparrrrrr… laparrrrrr…."
"Makan… makan…. makan…"
"Baka, lap- mmppuuahh. Uhuk-uhukk.."
Kagami menyumpal mulut Aomine dengan lap meja. "BERISIK! Nggak lihat apa gue udah di sini nyiapin makan."
"Tapi nggak pake lap meja juga, bodoh!"
"Terus?"
"Pake bibir, hehe," ekspresi wajah yang takbisa dideskripsikan.
"Bibir, ya?"
"Iya."
"Sinilah deket gue."
Aomine dengan semangatnya mendekati Kagami dari sebrang meja. Dia duduk di samping Kagami yang tersenyum, dan mulai mendekatkan wajahnya, begitupun dengan Kagami. Aomine mulai memejamkan mata, Kagami menyeringai.
.
.
Sloott!
"AAAAUUUUUU!" BRUK! Aomine terjengkang kebelakang dengan kepala menyentuh lantai dan kaki tersangkut di kursi. "PANASSS, BANGSAT!"
Kagami mengembangkan seringaiannya lebih tajam. "Makan tuh bibir," katanya. Dia merasa puas karena sudah menyiram bibir Aomine dengan kuah sup panas. Haruskah dia menari ala Kutikula.
.
Aomine manyun di sebrang meja, tidak mau dekat-dekat dengan Kagami. Bibirnya bengkak parah, orang itu memang tidak punya perasaan.
Shit!
"Itadakimasu," Kagami mengucapkan doa, dan mulai mengisi perutnya yang sudah asam lambung.
Aomine hanya diam tak bergeming, tak mengindahkan hidangan nan lezat di depan matanya. Dia melipat kedua tangannya di atas meja, menumpu kepalanya di sana. Memandang malas mulut Kagami yang sedang sibuk dengan makanannya.
Huh, lagi-lagi sesuatu yang tak bernyawa mengambil atensi Kagami darinya.
"Tadi minta makan, sekarang udah ada makanan didiemin," gerutu Kagami setelah menegak air segelas.
"Tsk! Sakit tahu bibirnya," kata Aomine malas.
"Manja lo itu, Aho. Buruan makan, sup-nya dingin nggak enak."
"Suapin," mohonnya manja.
"Najis, makan sendirilah."
Aomine kembali meratapi nasib bibirnya yang nyut-nyutan, Kagami tak tahu apa kalau benar-benar sakit. Katanya Maji tenshi, mana jiwa Maji tenshi itu. Aomine ingin tahu, sepertinya jika dengannya Kagami tak pernah bersikap Maji tenshi.
Kagami masih berselencar dengan kesibukan sendiri. Dia sudah menghabiskan empat mangkuk sup, tiga tumpukan nasi, juga limabelas potong daging, lainnya dan lainnya.
Tapi tenang, penunggu dalam perutnya masih mampu menampung banyak. Jadi tak masalah bagi Kagami jikalau Aomine tak mau makan, malah jatahnya tambah banyak.
"Baka, suapin," rengek Aomine lagi, karena merasa perutnya berdendang-dendang.
"Makan sendiri, males amat!"
"Tanggung jawablah, siapa yang udah nyakitin bibir gue."
"Apa hubungan, Aho. Nyuapkan pake tangan."
Aomine berdiri membawa nampan makanannya dan duduk di samping Kagami yang baru saja menghabiskan mangkuk sup kelima. "Suapin," tuturnya, menyodorkan makanannya ke hadapan Kagami.
Kagami hanya memutar bola matanya malas, sangat malas malah. Apa susahnya makan sendiri, heran. Dia menatap manic Aomine yang sendu, entah kenapa lucu. Wajah memohon itu sangat menggelitik pemandangan.
Kagami mengambil ponsel dari dalam sakunya. "Ao, jangan berubah mimic wajahnya," katanya. Cepat-cepat dia membuka aplikasi kamera, dan cekrek, tersimpan. "Muka lo, hahahaha," Kagami tertawa sangat puas.
"Puas, kan, sekarang suapin, a…."
Yaps, mau bagaimana lagi. Kagami tidak bisa menolak permohonan Aomine dengan wajah najisnya itu, suapan per suapan masuk ke dalam mulut Aomine yang terbuka lebar.
"Dari Hokkaido jam berapa, Aho?" tanya Kagami sembari memasukkan suapan yang entah sudah keberapa.
"Jaum limauumm," katanya tak jelas.
"Hah!?" Kagami memukul kepala Aomine dengan sumpit. Walau begitu dia tahu maksudnya "Bohong banget hidup lo, masa ia Cuma dua jam."
"Bener kok. Minum, Baka."
Kagami menuangkan segelas minuman dingin ke dalam gelas. "Nih," katanya.
"Minuminlah~~"
Oke, Kagami tidak bisa protes. Ia sudah lelah dan ingin tidur, supaya adegan ini tidak terlalu lama mending dipercepat tak usah banyak membantah.
Dengan senang hati dan ikhlas lahir batin Kagami menyuapi Aomine sampai habis.
Dan harus kalian tahu, menyuapi Aomine itu ternyata lebih melelahkan daripada menyuapi bayi sungguhan. Kalau tidak sesuai dengan kapasitas mulutnya, pasti menolak minta dikurangi, kalau sedikit pasti menolak supaya ditambah.
Jikalau banyak tulang, dituntut untuk membuangnya terlebih dahulu. Tidak suka sayuran ini dan itu, untung saja Kagami tidak diperintah untuk mengunyahkan makanannya, kalau itu sampai terjadi mending ditelan sendiri. Kagami berdoa, semoga anaknya kelak tidak serewel ayahnya. CIEEEEEE/jingkrakjingkrak
.
.
Mereka sudah menyelesaikan makan malam. Cukup dibuat naik darah lagi ketika Aomine memintanya untuk membuatnya susu hangat. Awalnya Kagami tidak menghiraukan, tapi dia tak tega ketika melihat Aomine murung di pojokan kamar mandi.
"Ka, ke bioskop, yok?"
"Mau ngapain?" Bruk! Dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk dan menggeliat-geliat seperti belatung.
"Tidur. Ya, nontonlah," jawab nyolot Aomine.
"Capek, Ao. Ada tivi kan di luar kalau mau nonton."
"Mau yang layar gede."
"Minggu depan aja, jangan sekarang, mending sini tidur."
Aomine menurut, meletakan gelas susunya yang tingal setengah di atas meja. Dia membaringkan diri di samping Kagami. "Peluk," katanya manja.
Kagami baru saja mau membuka mulut untuk membentak Aomine, tapi lagi-lagi wajah itu yang tak bisa membuatnya menolak. Dia merapatkan diri, dan memeluk si Ahonya erat. Aomine menyambutnya bahagia, dan membalas pelukannya.
"Ka?"
"Hmm."
"Enggak." Aomine menenggelamkan kepalanya di dada Kagami. Ah, otaknya tak karuan, banyak suara berisik di sana. Aomine ingin berteriak lantang, kalau rasa nyaman ini tak ingin berakhir.
Aomine sadar kalau dia menyayangi Kagami lebih dari namanya sahabat, ingin memiliki Kagami lebih dari sekedar status.
Rasa berlebihan ini sudah ia sadari sejak meninggalkan Kagami pindah. Satsuki bilang ini cinta. Tapi dia tak paham cinta, mendeskripsikan saja butuh tenaga ekstra.
Dia sudah mencari tahu artinya cinta dari banyak referensi, percayalah Aomine menjadi rajin membaca hanya karena masalah ini, tapi sampai sekarang pun Aomine belum paham dengan makna beratus alinea yang tercipta, berjuta kata yang terurai, dan beribu huruf yang terlukis.
Setelah itu kepalanya menjadi sakit tak tertahankan, sepertinya Aomine lebih baik mempelajari ilmu Kimia yang jelas banyak rumus walau tak tahu wujudnya seperti apa, daripada cinta, arrrghhhh… apalah itu?
Jika pada faktanya dia dan Kagami adalah laki-laki, Aomine tak ambil pusing. Karena laki-laki juga merupakan insane yang membutuhkan cinta, baik dari perempuan maupun laki-laki. BEBAS!
"HUAAAAA!" Aomine menjerit keras sampai terbangun, membuat Kagami kaget juga kesal karena telinganya sakit. "Apa sih, Aho!"
Aomine hanya nyengir kuda tak karuan, Kagami memiringkan kepalanya tak paham. "Baka?"
"O-oi…. Aho!" Kagami memberontak ketika dirinya dipeluk brutal dan dijatuhkan. Tubuh Aomine yang berat berada di atasnya sempurna. Wangi shampo yang selalu Kagami rindukan, menguar masuk ke dalam indra penciuman ketika rambut halus Aomine menyapu hidungnya.
Aomine mangangkat kepala, memandang batu garnet yang merupakan mataharinya. Menelisik intens tak ada yang lepas dari pandangan. Dia mengulas senyum.
"A-Aho?"
"Baka, gue baru sadar kalau lo seberharga ini," katanya.
"Hah?"
Aomine hanya mengembangkan senyuman paling bahagia dari siapa pun orang di dunia. Dia membawa dirinya memasuki daerah lawan, mengambil sesuatu yang menjadi miliknya di sana. Merenggutnya lembut karena tak ingin miliknya cacat.
Aomine, sampai kapan pun selalu menyukai daerah yang berbau madu.
Dia menjilatinya dengan hati-hati, tak membiarkan setitik madu lolos dari mulutnya. Kenyal, dan sexi. Memerah dan bengkak.
Kagami menghindar. "Cukup!" katanya. Dia terlihat memasok oksigen banyak-banyak.
"Kenapa?"
"Entahlah."
"Lo nggak suka? Sorry."
"Bukan itu, Aho."
"Terus?"
"Errr …."
"Apa'an?"
"I-itu…"
"Ngomong, nggak! Kalau nggak gue cium lagi, nih."
"C-ciuman s-sama elo itu, j-jantung g-gue sakit, kepala g-gue pusing," katanya terbata-bata dan mengalihkan pandang dengan Aomine. SUMPAH! Ingin rasanya Kagami memotong lidah. Dia ngomong apaan sih. Tidak bermutu.
"Sejak kapan?"
"Dari dulu."
"Sama gue juga," Aomine menegakan tubuhnya begitupun dengan Kagami. "Baka, apa kita kena penyakit jantung."
"HAH!? Ngeri amat. Yaudah kita nggak usah ciuman lagi."
"Tapi kan itu enak."
"I-iya, sih."
Keduanya sweatdrop.
Aomine mengambil ponsel di sakunya, dan menekan tombol hijau. Terdengar suara sambung ketika ponselnya diaktifkan dalam mode speaker.
"DAI-CHANNNNNNNNN." Teriak seseorang dari sebrang sana. Aomine dan Kagami sampai menutup telinga.
"Oi, Satsuki. Biasa aja udah malem teriak-teriak."
"Dai-chan, ada apa? Tumben sekali menelponeku."
"Eum … mau tanya."
"Tanya apa, tanya apa?" Satsuki sangat antusias.
"Gini, aku ciuman-"
"HAH!"
"DENGAR DULU!"
"Iya, iya."
"Aku ciuman, tapi setiap ciuman jantungku sakit, dan kepalaku pusing. Apa itu sakit jantung?"
Hening.
Hening.
"Oi, Satsuki, jawab!"
"Iya, kau sakit jantung, Dai-chan."
"AAAAAAAAA…" Kagami dan Aomine berteriak jamaah. Kemudian mereka berpandangan horor.
Satsuki di sebrang sana tertawa guling-guling. Entah, temannya itu tak pernah berubah.
"KAU SENANG, YA, AKU SAKIT JANTUNG!"
"Habisnya kau lucu."
"TSK!"
"I-itu bukan sakit jantung, Idiot!"
"Terus?"
"Dengan siapa kau ciuman?"
"Kagami."
PLAK!
"Sakit, Baka!" Aomine mengusap kepalanya yang mendapat pukulan ekstra dari Kagami. Kan memang benar kalau dia ciuman dengan Kagami, memang ada yang lain.
Kagami speechless.
Hening.
Hening.
Hening.
"Hallo, Satsuki. Hallo…"
Rasanya Satsuki ingin mencak-mencak naik tower dan minum rondap. Setelah itu ngambang di sungai dengan tenang. Sungguh berita ini tidak sehat untuk jantung dan tubuhnya.
"SATSUKI!"
"IYAAAA! Apa Kagamin juga merasakan sakit sepertimu?"
"Iya, katanya sangat sakit."
"Yasudah, kalian pacaran sajalah."
"HAH!?" lagi-lagi Aomine dan Kagami berjamaah.
"ITU BUKAN SAKIT JANTUNG BODOH, TOLOL! KALIAN ITU SALING SUKA, SAYANG, CINTA. AH, ENTAHLAH POKOKNYA ITU! INTINYA KALIAN ITU BERHARGA SATU SAMA LAIN. SEKARANG KALIAN DI MANA BIAR KUBUNUH SATU-SATU."
Tutttttt ….
Aomine mematikan sambungan, Satsukinya sangat horor.
"Oh, cinta itu kalau ciuman bisa bikin jantung sakit," ujar Aomine kemudian. "Baka, gue cinta sama lo, ayok kita saling memiliki. Lo sakit jantung, kan?"
"Saling memiliki?"
"Iya, jangan nolak gue pokoknya kita saling memiliki titik."
"B-bukannya kita udah saling memiliki dari dulu."
Aomine menggigit hidung Kagami gemas, melanjutkan aktivitas yang tertunda.
.
.
"Gue, mau ke luar bentar, ya, lo tungguin di sini," ujar Aomine, loncat dari ranjang dan langsung melesat. Kagami hanya mengedikkan bahu.
Drtttttttt… Drttttt…
Kagami mengambil poselnya yang bergetar dari atas meja. Tak menyangka kalau yang menelpon itu adalah, "Halo, bu."
"Apa Daiki, di sana? Bagaimana kabarnya, Kagami-kun?"
"Iya, dia ada di sini, apa dia nggak pamit. Saya kabar baik."
"Syukurlah. Pamit kok, malah ibu yang menyuruhnya untuk ke sana. Tolong urus dan jaga dia ya, Kagami-kun. Katanya dia ingin sekolah dengan Kagami-kun di sana."
.
"TARAAAAAAAA.." Aomine berteriak histeris dan gembira dengan membawa koper besar.
Kagami berkaca-kaca. Matanya panas, ingin menangis saking senangnya. Aomine tak akan jauh lagi dengannya. Tak perlu memakai ponsel untuk berbicara, tak perlu menunggu banyak detik yang terlewat untuk bertemu.
Dia mengalihkan pandangannya ke ponsel, baru sadar kalau ternyata dia tadi masih telponan dengan ibu Aomine. Dan ketika akan berbicara ternyata sudah tak ada suara. Kagami tak mengindahkan, dia lempar ponselnya ke atas kasur.
"Tolong urus kekasih lo yang paling ganteng ini," tutur Aomine cengengesan.
"OGAH! Ja-jadi lo mau sekolah lagi dan tinggal sama gue," Tanya Kagami masih minim percaya.
"Iya."
Kagami mendekati Aomine yang masih di bibir pintu, tangannya agak terbuka menginginkan sesuatu. Tapi semua itu urung, entah kenapa. "AWAS LO NGEREPOTIN GUE!" koarnya.
Aomine mengernyit, bukan karena ancaman yang dilontarkan Kagami, tapi, "Kok lo nggak jadi peluk gue, sih!"
"Emang siapa yang mau peluk elo!" balas Kagami sembari berbalik badan.
"Tsk!" Aomine gemas dan memeluk Kagami dari arah belakang. "Cie … ada yang tsun, nih. Kebanyakan gaul sama Midorima ya selama gue tinggal," goda Aomine sembari menggigit telinga Kagami pelan, lalu meninggalkannya begitu saja.
"AHOMINEEEEEEE!"
Cinta itu bebas, tak menuntut untuk dipahami atau dimengerti, tinggal bagaimana kau mengartikannya. Setidaknya itulah yang Aomine paham dari Kagami.
…..
O
o
O
o
O
…
Bentar lagi puasa, yeheyyyy. Selamat menyambut bulan ramadhan bagi yang menjalankan. Fic ini nggak tau dilanjut setelah puasa atau masih seperti biasa, lihat saja nanti.
Semoga ficnya tadi menghibur, ya, ditunggu lho responnya :)) maaf kalau cara nembak Aomine ke Kagami itu aneh, habis aku nggak tahu gimana cara mengungkapkan yang romantis.
Selamat untuk AOKAGA YANG UDAH JADIAN. Nantikan malam pertama mereka wkwkwkwk.
.
.
Haryakei: Ciee … yang senyum-senyum nggak jelas. Awas lo kerasukan.
AoKagaKuroLover: Makasih :)), sudah dilanjut nih, maaf ya baru update. Semoga terhibur. Aku baca inbokmu lho, tersanjung Kuro Zoka dirindukan/nangis.
Nana: Gomen baru update, baru ada waktu, Nana. TUH AOKAGA UDAH JADIAN, APA PERASAAN CUCU MASA DEPAN?
Nam Min Seul: Wakakaaaa … selalu ada ciuman di sana.
Vergissco: Harusnya sebelum aku buat cerita kemarin kamu mengajukan diri dulu, supaya jadi anak kecil yang digandenga Kagami(?). udah dilanjut, semoga menghibur, ya. Terima kasih.
Ryuuki Kiroshi: Wahaha nggak sadar kalau Kagami banyak dijahatin. Iyah, bingung gajah gitu bisa kurus, Aomine sampe sakit mikirinnya/nggak. Aomine tetap sekolah, kok. Semoga chap ini menghibur, ya. Terima Kasih.
Rena Shimazaki: Sudah dilanjut, semoga menghibur dan suka ya, Rena.
Melani: kirain aku aja yang merasa hidup bang Ao kelam. Hahah dewasa tapi aho, bolehlah ya. Sorry baru update lagi, taulah. Jiaah yang malam minggunya hampa tanpa Aokaga.
AnnaCitra2748: owh, baca dj. Yaya, masih di bawah umur memang harus diawasi. Jangan kena diabetes itu mengerikan wkwkwk.
Fukuzatsuna Ai: Memang nembak secara nggak langsung, Cuma bang gami nggak pernah peka. Tolong jedotin palanya ke aspal panas.
Maji Tenshi 10: Menemukan selembar kertas lecek – aku suka-suka. Wahaha yang sering di omelin emak, emang enak wkwkwk, bandel sih, ya. semoga lanjutannya menghibur.
AliceShotacon4Ever: Aneh kan ceritnya, ya, hahhahah. Heem hewan-hewan itu terlalu cute. Semoga chap ini menghibur ya, ditunggu rifiunya lagi dan terima kasih.
.
.
SALAM AOKAGA
REGARDS,
ZOKA
