Hallo, selamat malam. Akhirnya, MMAz bisa update lagi menemani malam Minggu kalian cieeee… maaf, yang udah minta dilanjutin baru sempet buat sekarang *huuuuu.
….
Kurobas tetap miliknya Tadatoshi Fujimaki Sensei, tapi kekonyolan Ahomine sama Bakagami dan teman–teman yang lain adalah milik kita bersama wkwkwk.
"Malam Minggu AoKagazone: AKIKO"
By : Zokashime
Warn: Bahasanya kasar! YAOI, OOC/Typo bisa jadi, konyol, nggak jelas, humor garing, dan banyak lagi :D. DLDR!
Note: OC untuk karakter tertentu.
Yosh! Semoga menghibur and happy reading.
…
"Kagami Cuma miliknya, apalagi mereka sudah, katakanlah jadian. Tapi malam ini, seseorang datang mengganggu. "Baka, jangan hamil, ya."/"Hah""
.
Dia menguap lebar-lebar. Matanya masih tertutup sempurna, berusaha turun dari tempat tidur yang masih ingin ia tinggali beberapa jam lagi, jika saja keringat menyebalkan tidak datang menyerang tubuhnya. Panas.
Bruk! Ia tersungkur ke lantai dengan kaki yang masih tertinggal di atas ranjang, serasa tangan-tangan selimut itu tidak membiarkannya pergi. "Sialan!" umpatnya kesal. Walau dia mencintai tempat tidur dan segala isinya, tapi dia tidak suka jika diperlakukan seperti ini. Sama sekali tidak suka!
Dia bangkit berdiri, wajahnya yang cemberut menjadi perhiasan kala itu. Mengucek mata yang masih terasa lengket oleh kantuk, berjalan sempoyongan sembari mengusap perutnya yang terekspos tanpa baju.
Ah, tidur siang di saat musim panas ternyata banyak menguras energy. Buktinya, saat ini tubuhnya sangat lemas, tenggorokkannya sakit karena kehausan, belum lagi perutnya menangis meminta diisi.
Padahal, ia hanya tidur siang selama empat jam setengah, tidak kurang tidak lebih. Percayalah.
Dengan perjuangan mempertaruhkan hidup dan mati, sampailah ia di dapur. Cepat-cepat memeluk seseorang yang sedang sibuk memotong sayuran, dari belakang ia berkata manja, "Baka, gue jatuh dari ranjang."
Kagami, pihak yang terpeluk merasa risih. "Tsk, Aho! Ngapain sih peluk-peluk. Lo nggak liat gue lagi mau masak," bentaknya, tanpa memperdulikan pengaduan manja dari Aomine.
Wajahnya semakin suram, Aomine merasa terjahati. Melepaskan pelukannya dan duduk di kursi. Memandang Kagami jengkel yang sok sibuk dengan para sayuran itu. Uh, merasa seperti sedang diduakan, serius. "Baka, gue haus," tuturnya.
Kagami pura-pura tak mendengar dan hanya mengedutkan alisnya. Kadang, apa yang keluar dari mulut Aomine itu tidak berguna dan hanya membuatnya dongkol. Dia melanjutkan pekerjaannya, membersihkan paha ayam yang baru saja dikeluarkan dari kulkas.
"Baka, lo dengerin gue nggak, sih!" Aomine semakin kesal. "OI, BAKAGAMI!" Akhirnya berteriak juga, takut si Bakanya tuli efek musim panas.
"IYA, AHOMINE GUE DENGER, SIALAN!" Kagami balas berteriak, sama-sama kesal.
"GUE HAUS!"
"MINUM!"
"MANA AIRNYA?!"
Kagami menarik napasnya dalam, tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Aomine yang baru bangun tidur memang kadang lebih menyebalkan tujuh kali lipat dari biasanya.
Menurunkan sedikit ego, ia berkata lembut, "Carilah sendiri, Aho. Gue kan lagi sibuk, nyiapin makan buat cacing yang ada di perut lo," katanya. Walaupun berbicara lembut, kenyataannya Kagami tidak bisa menahan otot-otot lehernya.
"Nggak ada, udah gue cari ke mana-mana," jawab Aomine dengan tampang meyakinkan. "Cepetan, Baka. Gue haus, nih." Beracting pura-pura tidak berdaya.
Wajah Kagami sudah dipenuhi dengan perempatan, ia menarik pintu kulkas dan mengeluarkan botol besar. Menuangkan air dingin itu ke dalam gelas, dan menyodorkannya kepada manusia yang suka beralasan, padahal dia malas.
Memelototi Aomine yang sedang tersenyum-senyum najis sembari menegak minumnya. "Nggak usah liat-liat gue lo," katanya sewot.
Aomine hanya menjulurkan lidahnya senang, dia menang hari ini. Tertawa-tawa sendiri tanpa menghiraukan Kagami yang sudah mengeluarkan aura hitam di hadapannya.
Hubungan mereka memang sudah maju satu tingkat dari persahabatan. Apalah itu namanya, Aomine bahkan tak bisa mendeskripsikannya secara lisan.
Dia tidak mempedulikan dan tak pernah mau peduli tentang tanggal, bulan, tahun berapa mereka menjalin hubungan. Tidak mengerti tentang mengucapkan dan memberi hadiah ketika anniversary setiap minggu atau setiap bulannya.
Dan dia hanya mengernyit, ketika mahluk yang merupakan ibu keduanya mengirimi pesan dengan kalimat, "Cieeee … Cieeee … Dai-chan dan Kagamin … cieeee. Pasti hari ini sedang bahagia, ya? Selamat anniversary yang ke dua bulan. *bermacam-macam emot bertebaran*"
Aomine membalas dengan polosnya, "Anniversary itu apa?"
Di rumah, Momoi Satsuki kesal dan membanting ponselnya.
Tidak selalu mencium Kagami di pagi hari saat ia terbangun dari tidurnya, walaupun mereka sudah tinggal bersama dan tidur seranjang. Aomine harus menyiapkan mental terlebih dahulu jika merencanakan hal semacam itu, karena yang ada Kagami akan menonjok bibirnya sampai terlepas.
Tidak ada cerita membangunkan selembut kain sutra. Yang Aomine rasakan setiap pagi, malah tubuhnya yang sakit, lantaran Kagami menendangnya sampai terjatuh dari ranjang jika ia tidak bangun-bangun, atau menggeretnya dengan paksa ke kamar mandi dan diguyur air dingin. Kejam.
Tidak juga selalu terlihat romantic setiap hari, justru yang ada mereka selalu bertengkar membahas yang tidak penting.
Bukannya mengerjakan tugas Matematika, tapi sibuk memperdebatkan tentang kucing kawin di tengah jalan, dan pada akhirnya mereka harus dihukum bersama di bawah tiang bendera. Atau diusir dari ruangan Lab. Kimia, karena hampir saja terjadi kebakaran.
Mereka hanyalah dua lelaki yang tercipta dengan otot dan otak bodohnya. Tidak sempat memikirkan hal-hal yang tidak bisa mereka nalar dan logika.
Walaupun ada satu hari di mana mereka hilang ingatan dan melakukan 'ini' 'itu' dengan bringas dan brutal, tidak tahu itu pakai cinta atau tidak. Intinya mereka saling menguntungkan satu sama lain dalam hal 'pelepasan' yang memang kewajiban lelaki dan baik untuk kesehatan. Mereka tahu itu, dari buku yang diberikan seseorang.
Tapi terkadang, Aomine geram dengan Kagami jika sedang melakukan 'itu' sebab macan satu itu tidak pernah mau anteng, mulutnya selalu saja protes, sakitlah, gelilah, inilah, itulah. Bahkan, Aomine pernah kena tinjuan S*aita*ma akibat ia tidak segaja menggigit 'itu' Kagami terlalu keras, saking gemasnya.
Huh, Salahkan Akashi yang memberinya buku panduan untuk melakukan game-game laknat tersebut, yang membuat mereka tidak bisa berkata bohong jika mereka kadang ketagihan. Hukum alamnya yang tak bisa mereka bantah, hubungan antara lelaki adalah hanya untuk kepuasan fisik selain karena cinta.
.
Tidak sadar, Aomine sudah menghabiskan minum satu botol besar sampai perutnya terasa berat penuh air. Dia melirik Kagami yang sedang serius menggoreng paha ayam, kemudian menangkup dagu tidak sabar menunggu semua makanan matang.
Menguap lagi, rasanya ia ingin kembali ke kamar saja, pasti Kagami akan memanggilnya jika sudah mau makan. Tapi Dewa tak memberkatinya, saat dia sudah mau melangkah, kolornya ditarik dari belakang. "Mau ke mana lo, huh?" Kagami mendelik.
"Mau tidur."
"Nggak ada tidur," ucapnya. Menarik Aomine dan diletakkan di sampingnya menghadap sesuatu yang menumpuk. "Cuci piring!" memerintah, singkat, jelas, padat.
"Au, au, au," Aomine berbalik dan memegangi kepalanya. "Kepala gue sakit, Baka. Aduduh…"
Sayangnya tangan Kagami panjang untuk meraih tubuh Aomine dan dia tidak akan tejebak dengan alasan yang super bodoh. Kadang orang bodoh paham dengan kebodohan teman bodohnya(?). "Alesan lo nggak lucu, Aho," death glare. "Cuci. Atau. Nggak. Makan!"
Aomine merengut, ancaman Kagami tidak sexi sama sekali. Masalahnya kalau bukan Kagami yang memberi makan, siapa lagi. Kalau dia tiba-tiba mati karena kelaparan, itu lebih tidak sexi. Dengan berat hati dan harus mengorbankan harga diri, akhirnya ia mencuci piring.
"Aho, pelan-pelan, bisa-bisa pecah semua. Lo mau makan pakai daun?" omel Kagami dengan mata memancarkan leser.
Salah lagi. Apa-apa salah. Selalu salah. Aomine mengutuk Kagami dalam hati dengan mulut yang berkumat-kamit. Dan Kagami tersenyum menang, mereka 1 sama.
.
Tiga puluh menit berlalu. Aomine membilas piringnya yang terakhir. Sedangkan Kagami sudah siap di meja makan bersama segunung makanan yang ia masak, bahkan ia sedang mengunyah ayam goreng tanpa merasa blas kasihan kepada Aomine.
"Curang makan duluan. Istri durhaka lo, suami disuruh nyunyi piring, dia makan sendiri," Aomine merajuk.
"Suami nggak berguna lo, nyuci piring aja sampe setengah jam," Kagami membalas, tidak ingin kalah dan tidak ingin disalahkan sendiri.
"Katanya suruh pelan-pelan. Suami memang selalu disalahkan," balas Aomine, kali ini dengan wajah serius mirip bapak-bapak rumahtangga sungguhan.
Kagami tertawa, dan menarik Aomine duduk di sampingnya. "Cerewet. Cepet makan, atau gue habisin."
Aomine sigap membawa semua makanan ke dalam pelukannya dan dijaga ketat supaya Kagami tak bisa mengambilnya kembali, yang akhirnya menimbulkan peperangan perihal perebutan makanan. Jika Negara punya perebutan kebudayaan, mereka kenapa tidak?
"Aho, jangan serakah!" teriak Kagami geram.
"Kertas, batu, gunting, yang kalah nggak makan," seringai Aomine.
"Enak banget hidup-"
Tingtong…..
Kagami mengurungkan niatan untuk menerkam Aomine dan menghentikan ocehannya saat bel berbunyi beberapa kali. "Siapa, sih," gumamnya. Kendati begitu, ia tetap pergi untuk melihat siapa gerangan tamu yang datang di hari yang mulai gelap.
Aomine menguntit dari belakang sembari membawa piring ayam gorengnya dan masih belum menggunakan baju. Dia juga harus tahu siapa yang datang ke sini, karena bagaimanapun apartemen Kagami apartemennya juga, dan apa yang dimiliki Kagami menjadi miliknya juga.
Tingtong….
"Iya, sabar," Kagami sedikit berlari dan membuka pintu dengan cepat.
Terlihatlah tiga manusia, Kagami menatap tanpa ekspresi. Satu sangat tinggi, satu rata-rata, dan satu sangat pendek. Bukan pendek karena ia tidak tumbuh tapi karena dia masih anak-anak, kira-kira umurnya tujuh tahun.
Aomine melihatnya seperti satu keluarga kecil yang bahagia, tapi entah mengapa ia tidak suka dengan cara anak kecil itu menatap dirinya, jadi Aomine menatapnya balik tidak mau kalah.
"Taiga, kau lama sekali," dialog pembukaan yang terlontar dari mulut salah satu tamunya membuat Kagami mengerjap.
"Tatsuya, mau apa?" Tanya Kagami langsung pada poinnya. "Itu," tunjuknya pada anak kecil yang sedang sibuk perang tatapan dengan Aomine. "….anak siapa?"
Si tinggi yang tidak lain adalah Murasakibara melemparkan pandangan malas kepada Himuro. "Muro-chin cepat, kita sudah hampir telat, nih," katanya memperingati.
Himuro hanya tersenyum ala biasanya. "Sebentar, Atsushi," katanya, dan dia memandang Kagami lagi. "Taiga, aku boleh minta tolong?"
"Apa? Kau rapi sekali, mau ke mana?"
Aomine di belakang sedang pamer paha ayam goreng pada si bocah. Dia berharap anak itu menginginkannya, lalu dengan bangga dia tidak akan memberinya sedikit pun dan anak itu pun menangis. Seketika dia menyeringai.
Si bocah kesal, dia membalas dengan mencibir. "Siapa juga yang mau ayam goreng punya oom," membuang muka.
What the hell! Oom?
Mendengar itu, Kagami melirik ke belakang dan melihat wajah kesal Aomine yang semakin menjadi. Kagami sedikit tertawa, entah megapa itu lucu.
Himuro melepaskan gandengan tangan anak kecil itu. "Masih kenal dia, Taiga. Sepupuku yang tinggal di Akita, saat itu umurnya masih enam tahun, ingat?"
Kagami sedikit berpikir, walau sebenarnya tidak. Tetiba dia menunjuk anak kecil itu dengan bahagia dan mata yang berbinar. "Ohhhhhh, aku ingat, aku ingat," katanya semangat. "Akiko, kan?" Kagami langsung merendahkan tubuh dan mengangkat telapak tangannya untuk meminta tos pada anak itu. "Hey, apa kabar?"
Aomine menyaksikan itu semua dengan sangat bosan.
Akiko membalas tos, tak kalah semangat seperti halnya Kagami. "Baik, kakak Tai," katanya sembari tersenyum, "Kakak Tai sendiri bagaimana?"
Murasakibara tak peduli, Himuro tertawa, Kagami datar, dan Aomine, "Boleh juga dipanggil Tai," gumamnya.
Kagami menyikut perut Aomine gondok. "Eh, itu. Boleh panggil kakak saja tidak usah pakai Tai," katanya. "Nanti kakak kasih ice cream."
Akiko menjawab dengan mantap, "Oke, kakak."
"Nah, begini, Taiga. Aku dan Atsushi ada urusan dan tidak diperbolehkan membawa anak kecil. Akiko sedang berlibur di sini karena sekolahnya libur. Kau tidak keberatan, kan, jika aku menitipkannya di sini, besok pagi aku jemput," jelas Himuro.
Tanpa berpikir panjang Kagami mengangguk antusias, karena dia tak akan menolak apalagi dimintai tolong oleh saudaranya sendiri, lagipula dia juga rindu dengan Akiko.
Lelaki kecil dengan rambut hitam seperti Himuro, dan mata coklat yang indah. Akiko juga suka bola basket karena dia dan Himuro telah mengenalkannya. Ah, Kagami yakin besar nanti anak itu akan menjadi pemain basket yang pro.
Adanya kehadiran Akiko, Kagami berharap, malam Minggunya kali ini akan ramai dan menyenangkan. Tidak hanya melihat wajah mengesalkan Aomine lagi, lagi Aomine. Kadang suasana baru sangat dibutuhkan.
"Aomine, bagaimana? Tak keberatan juga, kan?" Tanya Himuro khawatir karena wajah Aomine tidak terlihat senang.
Modal wajah kecutnya, dia berkata, "Aku kebe-"
"Tidak, kok," cela Kagami cepat sembari menghalangi Aomine. "Tenang saja, dia tidak akan keberatan. Iya, kan, Aho?"
"Tapi, kan … kita mau keluar malem ini, Baka."
"Kita pergi bareng-bareng."
"Serius tidak apa, Taiga?"
"Tidak apa, jangan khawatir. Aku akan menjaga Akiko," katanya, membawa Akiko ke dalam gandengannya.
"Oke, Aku dan Atsushi pamit, ya. Akiko jangan nakal," mengusap kepala Akiko lembut.
Akiko hanya mengangguk.
Setelah kepergian Himuro dan Murasakibara, Kagami mengandeng Akiko dan dibawa masuk.
Aomine menutup pintu kasar. Tidak suka, sama sekali tidak suka Kagaminya dikuasai. Tidak suka, malam minggunya yang harusnya hanya berdua saja tiba-tiba menjadi bertiga.
Harusnya perhatian Kagami hanya miliknya, sekarang jadi terbagi. Aomine memang tidak romantic dan tidak suka ribet, tapi kalau masalah Kagami lebih memilih sibuk dengan yang lain ketimbang dirinya, itu lain cerita.
Akiko tertawa-tawa ceria dengan Kagami. Sebelum memasuki dapur, Akiko menoleh ke belakang menatap Aomine dengan tatapan mengejek seolah berkata, "Aku menang." Dan dia menjulurkan lidahnya dengan mata yang dilebar-lebarkan.
Demi celana dalam yang tertukar, Aomine mengeluarkan asap panas di kepala. Jengkel, rasanya ingin merebus anak kecil itu di air Sulfur. Dia mempercepat langkahnya dengan brutal dan dengan sengaja menabrak Akiko, untung saja digandeng Kagami kalau tidak sudah terjungkal.
"Aho, jalan pelan-pelan," Kagami angkat bicara.
"Aku tidak apa-apa, kakak," jawab kalem Akiko.
Aomine tidak mengindahkan ocehan Kagami dan langsung meletakan piring ayam goreng di meja makan. "Gue nggak jadi makan," Katanya sewot.
"Kenapa?"
"Nggak napsu. Lo makan aja bareng temen baru lo itu!" sentaknya dan Aomine pergi dari ruangan.
Kagami mengedikkan bahu, dan Akiko tertawa. Dia duduk di kursi, mencomot udang goreng crispy. "Kaka, udangnya enak," tutur Akiko, mengambil lagi tanpa malu-malu.
"Ya, makan yang banyak," Kagami membuka kulkas dan mengambil sesuatu yang telah dijanjikan. "Ini, ice creamnya," menyodorkan ke hadapan Akiko.
Aomine yang belum jauh dari dapur, sengaja ia berjalan lambat berharap Kagami membela dan memanggilnya kembali, tapi kenyataannya tidak.
Saat ia mendengar tentang ice cream, ia langsung masuk ke dapur. Tanpa aba-aba merampas ice cream dari tangan Akiko dengan kasar. "Ice cream gue," katanya, lalu berbalik begitu saja dan keluar dari ruangan dengan sungguhan.
Kagami belum berkedip sejak kejadian yang tak diduganya, kenapa Aomine begitu kekanakan. Mana ice creamnya tinggal satu, memang sih ice cream itu favorite Aomine tapi tidak menyangka saja jika Aomine akan melakukan hal semacam yang tak dia mengerti.
Kagami memandang Akiko yang hanya tersenyum. "Maaf, ya, Akiko," mengusap kepalanya. "Kita makan saja, oke."
"Oke."
Mereka santai makan bersama dalam satu meja dan melupakan Aomine yang sedang ngambek diluar sana. Mengobrol banyak, Akiko juga sangat cerewet, menceritakan kesehariannya di sekolah dan gadis yang ia taksir.
Kagami menganga mendengarnya, di sana ia agak sedikit berpikir, anak kecil ini dewasa juga, baru kelas satu SD sudah menaksir gadis. Kalau diingat lagi, saat dia sedang seumurnya, yang ia lakukan hanyalah menarik-narik ingus, belum tahu apa itu menaksir seorang gadis.
Lalu, pada saat sudah agak besar dia malah jatuh cinta pada bola basket dan makin lupa dengan namanya gadis gadisan. Bahkan, sampai saat ini, dari kulit yang lembek menjadi sebuah otot-otot masih belum mengerti tentang gadis atau apa pun itu.
Mungkin itu juga yang menjadikannya bisa bersama dengan Aomine, karena memang dari kecil ia tidak paham wanita. Kemudian Kagami menggelengkan kepalanya kuat-kuat jika semua yang ia pikirkan tak ada hubungannya dengan Aomine.
"Kakak, kenapa?" Tanya Akiko.
"Tidak apa-apa, kok," ia tersenyum. "Lanjutkan ceritanya, jangan lupa sembari makan, ya," kemudian melirik pintu yang berdiri di hadapannya. "Aho, lo beneran nggak mau makan. Habis nanti makanannya…" teriak Kagami sekeras mungkin dari dapur, takutnya manusia ababil itu sedang mengurung diri di kamar.
.
"Abisin aja!" decak Aomine, uratnya sudah keluar. Dia melempar bungkus ice cream yang telah ludes itu ke depan tivi. Kesal dengan teriakan Kagami yang seolah menertawakannya, juga dengan sekelilingnya yang mulai berisik ikut tertawa.
Tatapan yang penuh dendam itu ia layangkan kelayar tivi yang sedang menayangkan acara membosankan. Makin emosi, Aomine mengomeli tivi yang tak bersalah dan dimatikan begitu saja, lalu frustasi ia berguling-guling bak anak kecil yang ingin makan permen namun tidak boleh.
Mengumpat banyak-banyak dan menyalahkan Himuro yang telah menitipkan anak sialan itu di sini. Ia berdoa dalam hati yang teguh supaya acara yang Himuro datangi tidak lancar, membayangkan jika sesuatu seperti angin puyuh datang menyerang. Kemudian dia tertawa dengan nistanya.
"Kakak, Aku mau mandi," pinta cempreng Akiko pada Kagami saat mereka sudah memasuki ruang tivi di mana Aomine sedang tertawa sambil guling-guling.
"Aho, lo kenapa?" Tanya Kagami yang keheranan.
Aomine langsung berwajah datar saat menatap Kagami dan Akiko bergantian.
"Iya, Aho, lo kenapa?" kali ini Akiko yang bertanya mengikuti cara berbicara Kagami barusan.
Aomine mendelik. "Nggak usah ikut-ikutan," katanya cuek. Berbalik membelakangi Kagami dan Akiko.
Kagami terkekeh, lalu menaiki Aomine yang sedang tiduran dan memeluknya. "Lo kenapa, hh?" tanyanya, tapi tanganya bergerak menarik bibir Aomine yang sudah memonyong.
Aomine pihak yang merasa tersakiti merasa harus melindungi diri dengan menepis tangan Kagami, dan menghukumnya dengan ciuman tepat di bibir.
Akiko bingung dengan apa yang dilihatnya secara live, datar dia mengajukan pertanyaan, "Kalian sedang apa?"
Kagami menahan napas mendengar suara itu. Cepat melepaskan diri dari Aomine, berdiri dengan gugup juga malu setengah mati, mengutuk dalam hati jika dia telah melupakan kehadiran seseorang yang lainnya.
Aomine malah makin kesal karena ritualnya terganggu.
"A…itu…anu…." Kata Kagami gugup. "Lupakan yang Akiko lihat tadi, ya. Karena tidak sehat untuk kesehatan."
Akiko mengangguk paham atau memaksa untuk paham, entahlah. "Kenapa muka kakak merah?" tanyanya berlanjut.
Kagami tertawa dengan paksa dan mengalihkan pembicaraan. "Sekarang kita mandi. Tadi mau mandi, kan?"
Di mana pun anak kecil selalu teralih dengan hal yang lebih baru dan yang pertama ia inginkan. "Iya, aku belum mandi. Karena ka Muro tadi buru-buru," ucapnya semangat sembari melepas baju.
"Yosh, kita mandi sama-sama." Akhirnya ia bisa bernapas lega.
Aomine menegakkan tubuhnya. "Gue juga mau mandi." Tak mau kalah dengan si bocah, dia pergi duluan ke kamar mandi. Di susul Kagami dan Akiko.
"Kakak, masa mandinya bertiga," menatap punggung Aomine sebal.
"Bisa, kok, kamar mandinya luas," jawab Kagami seadanya.
Mereka bertiga sudah berada di kamar mandi, Kagami mulai melepas kaosnya dan menyisahkan boxer saja. Aomine sudah mulai membasahi dirinya dengan air dari sower, sedangkan Akiko mengambil air dari bak yang sudah tersedia.
Kagami memandikan Akiko duluan, dia berniat mandi jika Aomine dan Akiko sudah selesai. Membaluri Akiko dengan sabun, dia terlihat seperti emak-emak rumah tangga yang sangat pro.
"Kakak, aku mau pakai shampoo yang warna biru," ucapnya sembari menunjuk benda yang dimaksud.
"Ambil sana," perintah Kagami, karena shampoo itu jauh dari jangkauannya.
Cekatan, Akiko mengambil shampoo yang ia inginkan. Tapi saat akan kembali ke Kagami, Akiko dicegat Aomine dengan tatapan gahar. Ia merasa tidak rela jika harus berbagi shampoo dengan anak kecil menyebalkan itu. Maka dengan kekuatan penuh Aomine merebut shampoo favoritenya.
Kali ini Akiko tak mau mengalah lagi. Tadi ice creamnya dirampas sekarang shampoo yang diinginkannya juga, jadi ia mempertahankan apa yang telah diperjuangkannya tak kalah gahar. "Lepas, Aho!" teriaknya.
Akiko bingung memanggil Aomine itu bagaimana? Karena ia tidak tahu namanya. Kalau dipanggil oom nanti dia marah, jadi Akiko memakai kecerdasannya memanggil Aomine dengan sebutan Aho sama persis dengan yang Kagami ucapkan. Akiko hanya berpikir mungkin nama oom hitam itu, Aho.
"Gue bilang, jangan panggil gue aho anak kecil sialan," Aomine memperingatinya tegas. "Lepasin shampoo gue!"
"Nggak mau, aku mau pakai shampoo ini, Aho sialan!" balasnya karena sudah terlalu sebal.
"LEPAS!"
"NGGAK MAU!"
Begitu, akhirnya mereka rebutan shampoo. Aomine dengan sifat yang tak mau kalah dengan siapa pun, baik itu anak kecil atau siapalah yang berani menganggu privasinya. Walaupun terlihat bodoh sedunia akan apa yang ia lakukan.
Kagami hanya memandang datar pertunjukan paling paling idiot di depannya. Dia harus melakukan apa? Menasehati Aomine pun tak akan didengarkan, menyuruh Akiko memakai shampoonya juga tak akan mau.
Kagami memang menginginkan suasana malam Minggu yang berbeda tapi tidak begini juga, malah membuatnya sakit kepala. Pada akhirnya dia mandi saja duluan, dan membiarkan dua bocahnya bertengkar hebat.
.
"Lepas shampoo gue, lo iri kan karena di rumah lo nggak ada shampoo kayak gini."
"Nanti aku beli."
"Yaudah lepasin kalau gitu."
"Nggak mau!" Akiko menggigit tangan Aomine dengan taringnya yang tajam, membuat Aomine sakit tertahan dan reflek memukul kepala bocah itu. Sungguh hanya kelepasan dan tidak sengaja, bukan ingin melakukan kekerasan. Aomine membuat Akiko menangis.
Kagami yang hampir selesai mandi langsung teralihkan dengan tangisan Akiko yang semakin membesar. "Ahomine! Lo apa-apan, sih!" bentak Kagami, membela Akiko. "Sumpah, dia Cuma anak kecil lho, Aho. Apa salahnya ngalah!"
"Omelin aja gue. Salahin aja gue."
"Ya, emang lo salah, Ahomine." Kagami merebut shampoo dari tangan Aomine dan memberikannya kepada Akiko, kemudian bocah itu langsung terdiam. Di saat Kagami tidak sedang memperhatikan, Akiko menjulurkan lidahnya pada Aomine, lagi-lagi dia menang.
"Sialan lo!"
Setelah pertengkaran yang tak penting, mereka keluar kamar mandi bersama-sama. Kagami duluan masuk kamar dan memakai pakaian dengan cepat, kemudian menemui Akiko lagi di ruang tamu yang ternyata belum mengenakan pakaian. "Akiko, tidak bawa baju ganti?"
"Tidak. Tapi baju yang tadi masih bersih, kok. Aku ganti saat mau pergi."
"Sekarang mana bajunya?"
"Di ruang tv."
Kagami melangkah pergi, mengambil baju itu. Kemudian dia mendengar teriakan dari kamar, "Bakaaaaa… celana dalem gue di mana?"
Ia mendengus. "Di lemari, Aho. Cari aja."
"Nggak adaaa…"
Kagami malas menjawabi dan megabaikan teriakan demi teriakan Aomine. Dia mengurusi adiknya yang belum memakai baju.
"Baka, celana dalem gue nggak ada." kali ini Aomine langsung ngomong di hadapan Kagami yang sedang memakaikan Akiko celana.
"Ada di lemari. Makanya nyarinya yang bener. Dicari bukan dipelototin doang, Aho."
Aomine berdecak tak sabar, menarik tangan Kagami dan menggeretnya ke kamar. "Nggak ada, serius."
"Awas kalau ada. Lo mau gue apain!"
"Nggak ada." Aomine tetap pada pendapatnya.
Kepala Kagami makin nyut-nyutan, membuka lemari pakaian yang sudah acak-acakan macam wajahnya sekarang ini. "Gimana mau ketemu, kalau berantakan kayak gini," decaknya. "Nanti gue beliin lemari satu lagi buat pakaian lo, biar nggak acak-acakan setiap saat. Lemari lo sendiri sih bodo amat mau berantakan juga." Kagami mendumel dengan urat yang tertahan ingin menonjok Aomine sekali hentak. Namun, walaupun begitu dengan rela ia mencarikan Aomine celana dalam.
Lima menit dengan isi lemari yang berantakan, Kagami menarik napasnya ringan. Ia menemukan apa yang sedang dicarinya, berbalik menatap seseorang yang tengah senyum-senyum. "Nih!" jutek ia memberikannya.
"Pakein," rengek Aomine manja. Siapa sangka orang yang ditakuti seantero perbasketan plus karena sikap dinginnya menjadi berubah seratus delapan puluh ketika bersama macan.
"Pakein," ulangnya.
Kagami yang hanya berdiri tegap pura-pura tidak mendengar, nyatanya goyah juga. "NAJIS AHOMINE!" melempar celana dalam tepat di muka Aomine.
Uh, Aomine gemas, yakinlah. Menarik pinggang Kagami yang akan meninggalkan kamar dan dilemparkannya ke ranjang. Persetan dengan celana dalam, tanpanya malah lebih seru.
"OI, AHO!" Kagami berteriak ketika Aomine sudah berada di atasnya. "Handuk lo copot, bego!"
Mata Aomine langsung tertuju kepada apa yang Kagami ucapkan. "Oh, iya, ya." Membuang handuk itu kelantai. "Gimana kalau gini?"
"AHOM-"
"Ka…." Tertahan, Akiko berkedip-berkedip, "….kak?"
"UWAAAAAA!" mata Kagami loncat jendela, tapi tubuhnya masih saja di bawah Aomine. Apa dia lupa atau memang ingin, terkadang ada sesuatu yang tak bisa dipahami dari orang-orang seperti mereka.
Akiko mendekati ranjang, berwajah polos menarik Kagami yang tak tahu harus berbuat apa dan keluar dari kurungan Aomine. "Pakai celana, Aho. Kau ini sudah besar juga tidak tahu malu, apalagi punyamu besar," katanya tegas ala anak kecil, tanpa dosa memerintah Aomine yang speechless. Dan dia membawa Kagami yang kaku menghilang.
.
"Kakak? Tadi kalian sedang apa?" tanyanya masih penasaran.
"Eh….itu…olah.." Kagami berpikir keras mencari kata-kata yang tepat. "…oh, ya. Itu tadi olahraga malam. Heem, olahraga malam, namanya."
"Oh," Akiko mengangguk. "Jadi, kalau orang sudah dewasa, olahraganya seperti tadi?"
"Iya. Kalau Akiko sudah dewasa nanti, Akiko boleh mencobanya," jawab Kagami yakin.
"Heem, akan kucoba bersama temanku."
Selanjutnya mereka tertawa bersama.
Aomine datang tak ingin kalah, tentunya. Dia mengalihkan perhatian Kagami hanya kepadanya, walau harus bertengkar dengan boneka santet hidup itu. Dia berdoa semoga hanya malam ini saja Kagaminya terbagi. Mungkin suatu saat ia harus menyewa Ghoul atau Kabane untuk berjaga-jaga di waktu seperti ini.
Untuk menghabiskan waktu yang tersisa, sembari menunggu tengah malam tiba. Mereka pergi ke Konbini membeli segala sesuatu yang diinginkan. Meski sebenarnya, Kagami sangat lelah dan ingin tidur, tapi tak bisa menolak permintaan Aomine yang berlomba dengan Akiko.
Dan hampir saja masuk kantor polisi, akibat si kepala biru yang isinya hanya angin lalu itu menghilangkan seorang anak kecil di suatu tempat, kasarnya dia meninggalkan Akiko di sana supaya tersesat dan tidak ada lagi di antara ia dan Kagami. Bahagia.
Tapi Kagami, tidak akan mungkin hanya diam saja, sebab anak itu adalah tanggung jawabnya. Ia juga tak bisa marah dengan Aomine, entah mengapa? Tolong jelaskan padanya. Hanya bisa menarik napas dalam, lalu menghebuskannya sekuat tenaga.
Mengorbankan waktu malamnya untuk mencari Akiko di tengah keramain. Di saat itu, Aomine merasa sangat bersalah dan ikut mencari, meski tak ada kata maaf keluar dari mulutnya.
Dua jam kemudian, mereka mendengar informasi kalau Akiko ditemukan dan bersama polisi, dan dia harus merelakkan lagi waktu satu jamnya untuk mendengarkan ceramah yang sangat membosankan. Untung tidak dikurung.
.
Pukul sebelas malam, mereka sudah kembali lagi ke apartemen. Kagami menyelonjorkan kakinya yang terasa sangat pegal. Mengurusi dua bocah bukanlah hal yang gampang, apalagi ia hanya seorang remaja SMA.
Akiko meletakkan kepalanya di paha kanan Kagami. Ia mengucek matanya yang sudah pedas, dan sangat lelah. Sudah hampir menangis saat ia hilang arah di kota yang tak ia kenal. Untung saja ia bertemu lagi dengan kakak, dan mengutuk Aomine yang meninggalkannya. Besok ia akan menceritakan dengan semangat kepada ka Muro kejahatan yang telah oom hitam itu perbuat padanya. Lihat saja!
Aomine tetap Aomine, tak akan berubah menjadi malaikat. Ia juga meletakkan kepalanya di paha Kagami. Sudah berusaha untuk anteng, tapi tangannya tidak mau. Dia mendorong kepala Akiko supaya jatuh dari paha Kagami.
Akiko jelas saja tidak suka, dan membalas mendorong kepala Aomine. Mereka saling dorong-dorongan kepala dan membuat Kagami murka.
Kagami mencengkram kedua pergelangan tangan mereka dan berteriak, "KALIAN KALAU MAU BERTENGKAR PERGI SANA KELUARRRR!"
Aomine dan Akiko menciut. Mereka diam seketika, tak berani menatap orang yang barusan membentaknya. Mereka dengan anteng tiduran, sampai tak terasa Kagami melihat keduanya sudah menutup mata, dan mengelus surai mereka bersamaan.
.
.
Pukul tiga pagi, Aomine membuka matanya. Dirabanya seseorang yang ia cari, namun nihil. Ia hanya menemukan Akiko yang tertidur lelap di sampingnya dengan bantal dan selimut yang terbagi dua.
Ia bangun mencari Kagami. "Baka?" panggilnya, menyimpang ke dapur telebih dahulu untuk minum, ternyata di dapur juga tidak ada. "Baka, lo di mana?"
Berjalan ke kamar, di sanalah ia menemukan malaikatnya, sedang tertidur terlentang tanpa selimut. Dengan senyum ia mendekat dan segera naik keranjang, tidur di sampingnya. Tangan merangkul, kaki menaiki perut. "Baka.." gumamnya, sembari mendusel-duselkan kepalanya ke dada bidang Kagami.
"Hem," Kagami menyaut dan memeluk balik seseorang di sampingnya. "Sumpah, malem ini lo nyebelin banget, Aho."
"Maaf," katanya tulus. "Baka, jangan hamil, ya."
"Hah,"
"Gue nggak mau punya anak. Pasti nanti lo perhatiannya Cuma sama dia."
Kagami terkekeh dengan mata terpejam. "Konyol, gue kan laki, masa hamil."
"Em."
"AUUU…. AHO SAKIT, KAMPRET!" teriak Kagami, tak lupa meraba dadanya sendiri. "LO NGAPAIN GIGIT PUTTING GUE!"
"Habisnya putting lo keras, gemes kan gue jadinya. Apalagi dia nyentuh bibir gue," jawabnya enteng, memeluk erat Kagami.
"AOMINEEEE MATI SANAAA!"
….
O
o
O
o
O
Terima Kasih sudah membaca, ditunggu umpan baliknya :)). Dan selamat malam Minggu beserta segala macam aktivitas di dalamnya.
Maaf, nggak bisa bales review yang chap lalu. Intinya, kalian bahagia mereka jadian dan minta dilanjut, ini sudah dilanjut dan semoga menghibur.
Next chap: Tentang ulang tahun Kagami ala MMAz.
SALAM AOKAGA
ZOKA
